BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Behavior dalam Pandangan Nitze tentang Perspektif Tuan dan Buruh Sosiologi perilaku memusatkan perhatian pada hubungan antara pengaruh perilaku seorang aktor terhadap lingkungan dan dampak lingkungan terhadap aktor. Sosiologi perilaku memusatkan perhatian pada hubungan antara sejarah reaksi lingkungan atau akibat dan sifat perilaku kini. Aktor dipandang sebagai manusia yang mempunyai tujuan atau mempunyai maksud. Artinya aktor mempunyai tujuan dan tindakannya tertuju pada upaya untuk mencapai tujuan itu. Aktor pun dipandang mempunyai pilihan (atau nilah, keperluan). Dalam mengejar tujuan tertentu, aktor tentu memperhatikan biaya tindakan berikutnya yang sangat menarik yang tak jadi dilakukan itu. Seorang aktor mungkin memilih untuk tidak mengejar yang bernilai sangat tinggi bila sumber dayanya tak memadai, bila peluang untuk mencapai tujuan itu mengancam peluangnya untuk mencapai tujuan berikutnya yang sangat bernilai. Dalam mencapai suatu tujuan, seseorang mempunyai 2 nilai, antara lain: 1. Nilai yang menghasilkan daya (cost social). 2. Nilai yang berguna untuk memenuhi kebutuhan ekonomi (cost benevit). Kondisi yang terjadi dalam lingkungan kerja terkait dengan dua aktor yaitu tuan dan buruh. Tuan atau majikan pemilik modal (uang dan perusahaan) yang membutuhkan buruh untuk bekerja, serta memberikan upah kepada buruh untuk
mencapai tujuan dan keuntungan yang maksimal, sedangkan buruh memiliki modal (keahlian dan tenaga) untuk bekerja dalam memenuhi kebutuhan ekonomi. Dengan terjadinya ketergantungan ini, maka tuan dan buruh saling melakukan perilaku untuk mencapai tujuannya masing-masing dalam lingkungan kerja perusahaan. Teori Nitze mengenai tuan dan buruh masih berjalan dalam lingkungan kerja hingga sekarang. Tuan sebagai pemilik modal, dan buruh sebagai seseorang yang memiliki tenaga untuk bekerja atas dasar kekuasaan tuan. Perilaku yang dilakukan tuan dan buruh dilakukan karena adanya kepentingan dari keduanya untuk mencapai tujuan dalam memenuhi kebutuhan hidup tuan dan buruh. Tuan yang memiliki kekuasaan untuk menetukan apa-apa saja yang harus dikerjakan buruh demi mencapai keuntungan perusahaan, dan buruh melakukan pekerjaan karena kepentingan kebutuhan perekonomian. 2.2 Ketimpangan Gender Secara biologis laki-laki dan perempuan memang berbeda, tetapi semestinya perbedaan ini tidak dijadikan alasan untuk memberikan perlakuan berbeda-beda di antara keduanya. Realita kehidupan di masyarakat pada umumnya, tampak posisi perempuan tidak sebaik posisi laki-laki. Hal itu disebabkan oleh adanya ideologi gender yang meletakkan peran laki-laki dan perempuan secara berbeda-beda yang didasarkan pada pemahaman perbedaan biologis dan fisiologis dari laki-laki dan perempuan dalam menentukan peran-peran mereka dan hal ini juga masih sangat dipengaruhi oleh faktor sosial budaya. Ketimpangan gender ini melahirkan ketidak adilan gender, maka dari itu bentuk-bentuk yang dapat diamati adalah munculnya
gejala-gejala ketertinggalan, subordinasi, marjinalisasi, streotipe dan diskriminasi. Bentuk-bentuk ini sangat terkait dengan kondisi lingkungan kerja bagi buruh perempuan, yaitu terdiri dari : 2.2.1 Masyarakat dalam Sistem Patriarki Rueda mengatakan bahwa patriarki adalah penyebab penindasan terhadap perempuan (2007: 120). Masyarakat yang menganut sistem patriarki meletakkan lakilaki pada posisi dan kekuasaan yang dominan dibandingkan perempuan. Laki-laki dianggap memiliki kekuatan lebih dibandingkan perempuan. Kehidupan di masyarakat yang memandang perempuan sebagai seorang yang lemah dan tidak berdaya. Menurut Masudi seperti yang dikutip Faturochman, sejarah masyarakat patriarki sejak awal membentuk peradaban manusia yang menganggap bahwa lakilaki lebih kuat dibandingkan perempuan baik dalam kehidupan pribadi, masyarakat dan bernegara. Perempuan dalam masyarakat patriarki diletakkan pada posisi inferior. Mereka biasanya tidak mempunyai peran penting dalam masyarakat dan menjadi kaum marginal. Secara hakekat, perempuan tidak diciptakan sebagai makhluk inferior tetapi ia menjadi inferior karena struktur kekuasaan dalam masyarakat berada di tangan laki-laki. Masyarakat melihat segala hal termasuk perempuan, dengan sudut pandang laki-laki. Ketika hak-hak perempuan untuk memperoleh kesetaraan peran dalam keluarga maupun dalam masyarakat tidak dijamin maka terjadi tindak kekerasan terhadap perempuan oleh laki-laki.
Dalam sistem patriarki laki-laki memiliki kuasa penuh terhadap perempuan. Kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan terlebih lagi dalam budaya, keadaan ketimpangan, asimetris dan subordinatif terhadap perempuan tampak sangat jelas. Kondisi seperti itu yang membuat proses marjinalisasi terhadap perempuan terjadi pada gilirannya perempuan kehilangan otonomi atas dirinya. Eksploitasi serta kekerasan terjadi terhadap perempuan, baik di wilayah domestik maupun publik. Bagi masyarakat tradisional patriarki dipandang sebagai hal yang tidak perlu dipermasalahkan, karena hal tersebut selalu dikaitkan dengan kodrat dan kekuasaan yang tidak dapat dipungkiri oleh masyarakat. Laki-laki yang memiliki kekuasaan yang membuat perempuan memiliki status lebih rendah dari laki-laki dalam masyarakat. 2.2.2 Subordinasi Subordinasi adalah keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utam dibandingkan jenis kelamin lainnya. Berbicara pada konteks subordinasi tentu hal ini tidak lepas dari pembicaraan hubungan kekuasaan antara kelompok superior dengan kelompok yang tersubordinasi. Hubungan ini melukiskan hubungan tuan dan bawahan, dimana sang tuan melakukan eksploitasi. Ada pandangan kedudukan perempuan lebih rendah dari laki-laki. Pada konteks fenomena buruh pabrik ini adanya anggapan bahwa perempuan itu tidak rasional, emosional dan lemah sehingga menempatkan perempuan pada posisi yang kurang penting. Laki-laki dibangun sebagai tuan telah mengakibatkan pandangan bahwa relasinya adalah sebagai budak. Sistem kapitalisasi memperkuat pandangan tersebut. Nilai-nilai yang
berlaku di masyarakat, telah memisahkan dan memilah-milah peran-peran gender, laki-laki dan perempuan. Perempuan dianggap bertanggung jawab dan memiliki peran dalam urusan domestik atau reproduksi, sementara laki-laki dalam urusan publik atau produksi. Buruh pabrik kelas yang tersubordinasi dari para pemilik pabrik /majikan merupakan pandangan yang dikotomis. Elizabet Florence (1992) menamakan struktur ini hirarki yaitu sistem dominasi dan subordinasi sosial, ekonomi, politik, budaya yang didasarkan pada kekuasaan tuan/majikan. Dalam konteks fenomena buruh perempuan di pabrik, maka kita dapat melihat bahwa pemilik modal adalah sebagai kelompok yang mendominasi, karena memiliki sarana produksi. Buruh perempuan di pabrik sebagai pihak yang tersubordinasi yang tetap pasrah pada kondisi yang diciptakan karena mereka tidak mempunyai akses dan kontrol ekonomi. 2.2.3 Marginalisasi Berbicara pada konteks marginalisasi yang terjadi pada perempuan, pada konteks buruh perempuan, maka buruh perempuan diasosiasikan penempatannya pada pekerjaan-pekerjaan yang marginal. Ideologi dalam memandang perempuan sangat berpengaruh pada kondisi marginalisasi perempuan dalam konteks buruh perempuan di pabrik. Pekerjaan pekerjaan marginal yang dikerjakan oleh perempuan dapat dilihat sebagai akibat proses identifikasi perempuan terhadap apa-apa yang sesuai dengan streotipe keperempuanannya yang telah dikonstruksikan secara sosial. Marginalisasi adalah sebuah konsep yang penting untuk memahami hubungan antara industrialisasi dengan pekerjaan perempuan. Marginalisasi merupakan
pembatasan yang dilakukan pihak perusahaan yang meminggirkan buruh perempuan dan mengakibatkan kemiskinan bagi kehidupan buruh sebagai perempuan dalam lingkungan kerja. Marginalisasi dalam arti luas dapat didefenisikan sebagai proses perubahan hubungan kekuasaan antar manusia. Didasari atau tidak marginalisasi pada buruh perempuan ini tidak saja terjadi di pabrik dengan sentuhan kapitalisme modern, tetapi terjadi juga dalam lingkup keluarga, masyarakat, kultur bahkan negara. Marginalisasi berlangsung selama dan setelah masa penjajahan yang mencerminkan ideologi gender yang diperkuat nilai-nilai patriarkhi. Sebagaimana kutipan dari Saptari menurut Alison Scott, seorang ahli sosiologi Inggris melihat berbagai bentuk marginalisasi dalam empat bentuk yaitu: (1) Proses pengucilan, perempuan dikucilkan dari kerja upahan atau jenis kerja tertentu, (2) Proses pergeseran perempuan ke pinggiran (margins) dari pasar tenaga kerja, berupa kecenderungan bekerja pada jenis pekerjaan yang memiliki hidup yang tidak stabil, upahnya rendah, dinilai tidak atau kurang terampil, (3) Proses feminisasi atau segregasi, pemusatan perempuan pada jenis pekerjaan tertentu (feminisasi pekerjaan), atau pemisahan yang sematamata dilakukan oleh perempuan saja atau laki-laki saja. (4) Proses ketimpangan ekonomi yang mulai meningkat yang merujuk di antaranya perbedaan upah. Marginalisasi ini merupakan proses pemiskinan perempuan terutama pada masyarakat lapisan bawah yang kesejahteraan keluarga mereka sangat memprihatinkan. Marginalisasi perempuan tidak saja terjadi di tempat pekerjaan akan tetapi juga dapat terjadi dalam rumah tangga, masyarakat, kultur, dan bahkan negara.
2.4.2 Streotipe Secara umum streotipe adalah pelabelan atau ciri-ciri penandaan terhadap suatu kelompok tertentu. Streotipe merupakan pelabelan atau penandaan yang sering kali bersifat negatif, secara umum selalu melahirkan ketidakadilan pada salah satu jenis kelamin tertentu. Pada kenyataannya stereotipe selalu merugikan dan menimbulkan diskriminasi. Salah satu jenis stereotipe itu adalah yang bersumber dari pandangan gender. Banyak sekali ketidakadilan terhadap jenis kelamin tertentu, umumnya perempuan, yang bersumber dari penandaan (stereotype) yang dilekatkan pada mereka. Stereotipe ini berakibat wajar sekali jika pendidikan kaum perempuan dinomorduakan. Demikian pula perempuan adalah jenis manusia yang lemah fisik maupun intektualnya sehingga tidak layak untuk menjadi pemimpin. Perempuan sarat dengan keterbatasan, tidak sebagaimana laki-laki. Aktivitas laki-laki lebih leluasa, bebas, lebih berkualitas, dan produktif. Misalnya laki-laki dianggap sebagai pencari nafkah utama, perempuan hanya dinilai sebagai suplemen yang selalu berada dibawah status laki-laki, karena itu perempuan dalam sistem penggajian atau upah dapat diberikan upah dan posisi kerja yang lebih rendah dari laki-laki. 2.4.3 Diskriminasi Diskriminasi terhadap perempuan ini berakar dari budaya patriarki yang disosialisasikan melalui pendidikan di rumah. Di sektor publik, negara mengukuhkan nilai-nilai gender dan ideologi dalam keluarga yang bias gender itu ke dalam kebijakan, peraturan hukum, dan program-program yang bias gender. Salah satu
bentuk diskriminasi di pasar kerja yang banyak mendapat sorotan adalah diskriminasi upah menurut jenis kelamin. Perusahaan dianggap melakukan pembedaan upah tanpa kriteria obyektif atau terkait dengan kinerja buruh. Diskriminasi pekerjaan tidak mengenal pembedaan upah antara laki-laki dan perempuan untuk pekerjaan sama, tetapi membatasi akses perempuan pada pekerjaan tertentu, lebih spesifik lagi, perempuan hanya diberi akses untuk pekerjaan marginal yang upahnya lebih rendah ataupun tidak adanya peningkatan kerja bagi buruh perempuan tersebut di lingkungan kerja. Akibat budaya patriarkat, maka lahir berbagai bentuk diskriminasi terhadap buruh perempuan. Diskriminasi atas perempuan tidak hanya pada kesempatan pekerjaan saja namun juga pada hal apapun khususnya dalam hal peningkatan karier dan dunia politik. 2.3 Hak-hak Buruh Secara Umum di Indonesia Hak adalah sesuatu yang harus diterima setelah menjalankan suatu kewajiban, sedangkan kewajiban adalah sesuatu yang perlu dilakukan sebelum menuntut hak. Seorang buruh mempunyai beberapa hak dan kewajiban dalam lingkungan kerja. Perusahaan memberikan beberapa syarat atas apa saja yang nantinya menjadi hak dan kewajiban bagi buruh, atas dasar undang-undang ketenaga kerjaan yang telah ditetapkan pemerintah. Dengan diadakannya perjanjian kerja antar majikan dan buruh, itu akan menimbulkan suatu hak bagi buruh yang akan bekerja di perusahaan sesuai dengan undang-undang ketenaga kerjaan.
Hak-hak yang diterima buruh hendaknya sesuai dengan kontribusinya ke perusahaan. Buruh yang berprestasi diberi haknya berupa bonus atau penghargaan yang membuat karyawan terpacu untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kinerjanya. Dengan begitu tercipta hubungan timbak balik yang baik antara perusahaan dan buruh. Tidak adanya pembedaan hak-hak antara buruh laki-laki dan perempuan dalam perusahaan yang sesuai dengan undang-undang tenaga kerja. Adapun hak-hak buruh berdasarkan undang-undang ketenaga kerjaan, yaitu: 2.3.1 Hak-hak Buruh Berdasarkan UU No 13 Tahun 2003 1. Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha (Pasal 6). 2. Setiap tenaga kerja berhak untuk memperoleh dan/atau meningkatkan dan/atau mengembangkan kompetensi kerja sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya melalui pelatihan kerja. (Pasal 11). 3. Tenaga kerja berhak memperoleh pengakuan kompetensi kerja setelah mengikuti pelatihan kerja yang di selenggarakan lembaga pelatihan kerja pemerintah, lembaga pelatihan kerja swasta, atau pelatihan di tempat kerja. Pasal 18 ayat (1). 4. Pasal 23, tenaga kerja yang telah mengikuti program pemagangan berhak atas pengakuan kualifikasi kompetensi kerja dari perusahaan atau lembaga sertifikasi. 5. Pasal 31, setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk memilih, mendapatkan, atau pindah pekerjaan dan memperoleh penghasilan yang layak di dalam atau di luar negeri.
6. Pasal 82, pekerja/buruh perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1,5 (satu setengah) bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 (satu setengah) bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan. Pekerja/buruh perempuan yang mengalami keguguran kandungan berhak memperoleh istirahat 1,5 (satu setengah) bulan atau sesuai dengan surat keterangan dokter kandungan atau bidan. 7. Pasal 84, setiap pekerja/buruh yang menggunakan hak waktu istirahat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (2) huruf b, c, dan d, Pasal 80, dan Pasal 82 berhak mendapat upah penuh. 8. Pasal 86, setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas : a. keselamatan dan kesehatan kerja b. moral dan kesusilaan, dan c. perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama. 9. Pasal 88 ayat (1), setiap pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. 10. Pasal 99 ayat (1), setiap pekerja/buruh dan keluarganya berhak untuk memperoleh jaminan sosial tenaga kerja. 11. Pasal 104 ayat (1), setiap pekerja/buruh berhak membentuk dan menjadi anggota serikat pekerja/serikat buruh.
12. Pasal 137, mogok kerja sebagai hak dasar pekerja/buruh dan serikat pekerja/serikat buruh dilakukan secara sah, tertib, dan damai sebagai akibat gagalnya perundingan. 2.3.2 Kewajiban Buruh Berdasarkan UU No 13 Tahun 2003 Pasal 9 Kewajiban Melaksanakan Tugas 1. Melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. 2. Bekerja dengan jujur, tertib, cermat dan bersemangat untuk kepentingan perusahaan. 3. Memelihara dan meningkatkan keutuhan, kekompakan, persatuan dan kesatuan sesame karyawan perusahaan. 4. Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik. 5. Menggunakan dan memelihara barang-barang milik perusahaan dengan sebaik-baiknya. 6. Membimbing bawahannya dalam melaksanakan tugasnya. 7. Menjadi dan memberikan contoh serta teladan yang baik terhadap bawahannya. 8. Mendorong bawahannya untuk meningkatkan prestasi kerjanya. 9. Memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan kariernya. 2.4 Teori Fenomenologi Pandangan Alfred Schutz melihat apa yang terjadi dalam kesadaran manusia dalam melihat realita sosial. Dalam sosiologi fenomenologi, manusia dianggap
sebagai stock knowledge yang didalamnya manusia dijadikan objek kesadaran (intersubjektif) dan memahaminya dalam kehidupan sosial. Cara orang memahami kesadaran orang lain, sementara mereka hidup dalam aliran kesadaran mereka sendiri. Dalam dunia intersubjektif ini, orang menciptakan realita sosial dan dipaksa oleh kehidupan sosial yang telah ada dan sudah menjadi struktural kultural ciptaan mereka. Secara keselurahan, Schutz memusatkan perhatian pada hubungan dialektika antara cara individu membangun realitas sosial dan realitas kultural yang mereka warisi dari para pendahulu mereka dalam dunia sosial. Fenomenologi yang menekankan masyarakat dalam membangun interaksi sosial, memandang makna dari interaksi sosial dari kenyataan sosial yang dianggap penting, menangkap makna yang ada pada tindakan aktor yang memiliki tindakan dan tujuan yang berubah-ubah (George Ritzer:2004). Dalam penjelasan ini, dunia yang dialami manusia dikembangkan dari kultur yang diciptakan laki-laki dan mengasumsikan pria sebagai subjek, yakni sebagai kesadaran diri dalam dunia yang dilihat dan didefenisi. Perbedaan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan sebagian berasal dari fakta konstruksi sosial yang meminggirkan perempuan. Buruh yang tidak mendapatkan peningkatan jenjang karir, cuti haid, hamil dan dilarang menikah termasuk dalam realita sosial yang terjadi dilingkungan kerja perusahaan. Interaksi yang terjadi antara buruh dan pemilik perusahaan berdasarkan atas kekuasaan dan kepentingan. Keputusan dari pemilik perusahaan yang dijalankan oleh buruh dalam lingkungan kerja, buruh hanya menjalankan apa yang menjadi
tugasnya sebagai buruh karena kepentingan kebutuhan hidup. Bekerja dengan baik untuk perusahaan dan juga bertahan kerja meskipun pemilik perusahaan bertindak semaunya tanpa memikirkan batas kemampuan buruh untuk bekerja. Buruh dan pihak perusahaan sadar baik atau tidak pekerjaan yang dijalani karena telah menjadi kebudayaan tersendiri dalam lingkungan kerja. Buruh tetap bekerja dan menjalankan perjanjian kerja meskipun perjanjian tersebut tidak sesuai dengan undang-undang tenaga kerja, karena buruh memiliki tujuan dalam mencapai kehidupan sosial ekonomi. Pemilik perusahaan yang memiliki tindakan untuk menetukan apa yang harus dikerjakan buruh untuk mencapai tujuannya dalam perusahaan. Interaksi yang dilakukan seperti ini yang sudah menjadi kebiasaan buruh dan pihak perusahaan dalam pencapaian kebutuhan.