KEDUDUKAN AGAMA DALAM MASYARAKAT INDUSTRIAL

dokumen-dokumen yang mirip
PERMASALAHAN UMUM YANG DIHADAPI PESANTREN

PERSPEKTIF PEMBARUAN PEMIKIRAN DALAM ISLAM

KEPERCAYAAN VERSUS PENGETAHUAN

KESINAMBuNGAN BUDAYA

Mengapa Sosialisme? Albert Einstein

PERANAN AGAMA DALAM KEHIDUPAN MODERN

SEKOLAH AGAMA Oleh Nurcholish Madjid

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI

MATERI INISIASI KEEMPAT: BIROKRASI ORGANISASI

BAB IV INTERPRETASI TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM MENENTUKAN PENDIDIKAN ANAK. dibahas dengan menggunakan perspektif teori pengambilan keputusan.

EMPAT BELAS ABAD PELAKSANAAN CETAK-BIRU TUHAN

BAB 1 PENDAHULUAN. dapat menghabiskan waktu berhari-hari bahkan berbulan-bulan kini tidak

BAB V PENUTUP V. 1. KESIMPULAN

MASYARAKAT INDUSTRI DAN PROSES DEHUMANISASI

Sumbangan Pembaruan Islam kepada Pembangunan

Strategi dan kiat-kiat untuk menuju kesuksesan!

DALAM PERUBAHAN GLOBAL

ekonomi Kelas X KONSEP ILMU EKONOMI KTSP & K-13 A. KEBUTUHAN MANUSIA Tujuan Pembelajaran

Kesalehan Ayub (Ayub 1-2) Ev. Bakti Anugrah, M.A.

Negara Jangan Cuci Tangan

KEPRIHATINAN. Suatu Jalan Menuju Keadilan Sosial. Oleh Nurcholish Madjid. Value Judgement Penggunaan Kekayaan

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM YOGYAKARTA

SURAT KEPERCAYAAN GELANGGANG SENIMAN MERDEKA INDONESIA

Amatilah citta kita. Jika kita benar-benar percaya

CITA-CITA KEADILAN SOSIAL DALAM ISLAM 1

Motif Ekstrinsik. Motif yang timbul dari rangsangan luar. Contoh : pemberian hadiah jika seseorang dapat menyelesaikan tugas dengan baik.

Korea Selatan: Pembangunan dan Kesiapan Mental

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki

B. TOPIK PENDEKATAN SOSIOLOGI TERHADAP AGAMA

MASALAH EKONOMI DALAM KAITANNYA DENGAN KEBUTUHAN, KELANGKAAN, DAN SISTEM EKONOMI

PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA

TENTANG MITOS. Oleh Nurcholish Madjid. The Compact Edition of the Oxford English Dictionary (Oxford University Press, 1971), s.v. Myth dan Mythos.

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Potensi ruang angkasa untuk kehidupan manusia mulai dikembangkan

"Berusaha... bekerja dengan tanganmu. " Powerpoint Templates Page 1

EKSISTENSIALISME (1) Eksistensialisme:

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sempurna, ada sebagian orang yang secara fisik mengalami kecacatan. Diperkirakan

ILMU SOSIAL Oleh Nurcholish Madjid

BAB I PENDAHULUAN. Kinerja karyawan merupakan hasil dari kegiatan yang dilaksanakan. Kinerja timbul

Hidup dibawah Masa Paus Terakhir: 12 Fakta Yang Harus Anda Ketahui

Mengatasi Prasangka dan Selalu Memikirkan Diri Sendiri (bagian pertama)

Kebutuhan Dasar Manusia Menurut Abraham Maslow Abraham Maslow membagi kebutuhan dasar manusia ke dalam lima tingkat berikut: 1. Kebutuhan fisiologis

Bab I. Konsep Kemiskinan dan Pengertian Kemiskinan. A. Konsep Kemiskinan

Gagasan tentang Tuhan yang dibentuk oleh sekelompok manusia pada satu generasi bisa saja menjadi tidak bermakna bagi generasi lain.

MAKALAH Hukum Kepegawaian

BAB IV ANALISIS APLIKASI KONESP EKSISTENSI PROFETIK KUNTOWIJOYO. Dunia yang senantiasa berkembang, berkonsekuensi pada perubahan realitas,

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. generasi penerus bangsa, sehingga setiap anak berhak atas kelangsungan. memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Perpajakan I. Modul ke: 01FEB. Pengantar Perpajakan. Fakultas. Dra. Muti ah, M.Si. Program Studi AKUNTANSI

RESPONS - DESEMBER 2009

BAB II LANDASAN TEORI

Pijar-Pijar Gagasan Soekarno

TEORI KONFLIK DAN INTEGRASI SOSIAL

PEMIKIRAN EKONOMI PANCASILA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1954 TENTANG PERJANJIAN PERBURUHAN ANTARA SERIKAT BURUH DAN MAJIKAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Bagian Produksi Pada Perusahaan Rokok

TECHNICAL MEETING LOMBA CERDAS CERMAT 2018

ISLAM DAN GLOBALISASI

I. PENDAHULUAN. Peradaban manusia dewasa ini telah memasuki jaman teknologi, suatu jaman di

SAINS, ISLAM, DAN REVOLUSI ILMIAH

Keterangan Pers Bersama Presiden RI dan Presiden Korsel, Seoul, 16 Mei 2016 Senin, 16 Mei 2016

I. PENDAHULUAN. UUD 1945 pasal 31 menyatakan bahwa setiap warga Negara berhak mendapat

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan IPTEK sekarang ini telah memberikan dampak positif. kemampuan untuk mendapatkan, memilih, dan mengolah informasi.

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Terciptanya budaya feodalisme dapat terjadi apabila masyarakat selalu

TANGGUNG JAWAB SOSIAL MAHASISWA

CARA BELAJAR DI PERGURUAN TINGGI. Aty Nurdiana

BAB I PENDAHULUAN. oleh setiap individu dalam setiap jenjang pendidikan yang dilalui.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Jadi masih mengandung kemiskinan dimana-mana, baik di kota maupun di desa.

BAB I PENDAHULUAN. dan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan keagamaan, kepercayaan kepada leluhur

BAB I PENDAHULUAN. atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga

Kepemimpinan. Triwahyono SE.MM. Modul ke: Fakultas EKONOMI. Program Studi Manajemen.

POLITIK HUKUM BAB IV NEGARA DAN POLITIK HUKUM. OLEH: PROF.DR.GUNARTO,SH.SE.A,kt.MH

Revelation 11, Study No. 39 in Indonesian Language. Seri Kitab Wahyu pasal 11, Pembahasan No. 39, oleh Chris McCann

TANTANGAN UMAT BERAGAMA PADA ABAD MODERN

BAB IV ANALISIS PERSEPSI MAHASISWA FAKULTAS DAKWAH IAIN WALISONGO SEMARANG TENTANG BLOG SEBAGAI MEDIA DAKWAH

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Psikologi Dunia Kerja Sifat Kodrati Manusia & Pengaruh Teknologi Industri Modern

BAB I PENDAHULUAN. Kehidupan manusia yang semakin modern, menuntut masyarakat untuk mengikuti

BAB I PENDAHULUAN. Ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang seiring dengan

DAFTAR ISI ii. KATA PENGANTAR.i

III KERANGKA PEMIKIRAN

MASALAH POKOK ILMU EKONOMI

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. bersosialisasi dan sebagainya. Setiap orang dianggap mampu untuk menjaga

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan di sekolah, potensi individu/siswa yang belum berkembang

POTENSI USAHA KERAJINAN TUMANG BOYOLALI SEBAGAI PENDEKATAN PEMBANGUNAN PEDESAAN YANG BERTUMPU PADA KEGIATAN USAHA KECIL

TIGA GELOMBANG ALVIN TOFFLER

DEKLARASI BERSAMA TENTANG KEMITRAAN STRATEGIS ANTARA PERANCIS DAN INDONESIA

IDENTITAS NASIONAL. Mengetahui identitas nasional dan pluralitas bangsa Indonesia RINA KURNIAWATI, SHI, MH. Modul ke: Fakultas FAKULTAS.

BAB 1 PENDAHULUAN. Menuju era industrialisasi, bangsa Indonesia membulatkan tekadnya. yang menjadi prasyarat berkembangnya budaya ilmu pengetahuan dan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

RINGKASAN PERMOHONAN Perkara Nomor 21/PUU-XII/2014 Penyidikan, Proses Penahanan, dan Pemeriksaan Perkara

Transkripsi:

KEDUDUKAN AGAMA DALAM MASYARAKAT INDUSTRIAL KEDUDUKAN AGAMA DALAM MASYARAKAT INDUSTRIAL Oleh Nurcholish Madjid Manusia yang Terbebaskan dan yang Terasingkan Pertama-tama kita bicarakan pengertian tentang manusia (konsep antropologis). Khususnya yang bersangkutan dengan cita-cita tentang manusia. Bagaimanakah gambaran tentang seorang manusia ideal, dan bagaimana pula gambaran tentang seorang manusia yang tidak dikehendaki? Gambaran tentang seorang manusia yang diidam-idamkan ialah sebut saja seorang manusia yang terbebaskan (the liberated man). Mungkin akan dikatakan bahwa seorang manusia yang bebas ialah dia yang pemurah dan tak berkeinginan-keinginan; dia adalah juga seorang yang kreatif, yang mampu menyatakan diri dan bakat-bakatnya dalam suatu tindakan penciptaan tanpa paksaan, baik dalam pekerjaan berupa kerajinan tangan, kegiatan intelektual maupun seni, atau dalam hubungan-hubungan dan persahabatannya dengan orang lain. Seorang manusia yang bebas mampu secara sepenuhnya merasakan kesendiriannya dan kemasyarakatannya dalam waktu yang sama. Dia adalah seorang pribadi tanpa berhala-berhala, dogma-dogma, prasangka-prasangka, ataupun pikiran-pikiran a priori. Dia bersikap toleran, disemangati oleh rasa yang mendalam akan keadilan dan persamaan, dan menyadari dirinya sebagai seorang manusia individual dan manusia universal sekaligus. 1

NURCHOLISH MADJID Sedangkan gambaran tentang manusia yang tidak dikehendaki, tentu saja kebalikan dari yang tersebut itu semua. Kita sebut saja sesuai dengan istilah yang sekarang umum dipakai manusia terasingkan (the alienated man). Kemungkinan alienasi terdapat jika seseorang baik secara aktif maupun pasif mencari hubungan dengan alam dan dunia obyektif di sekelilingnya sebagai tujuan hidup dalam rangka mengenal dirinya sendiri. Para ahli antropologi budaya modern menerangkan betapa proses imperatif pengenalan diri sendiri secara bersinambungan itu berakar dalam sifat alamiah manusia. Seorang yang mengalami alienasi tidak sanggup berpikir dan berbuat sendiri; dia senantiasa merujuk kepada tujuan-tujuan hidupnya dari dunia obyektif ini: kekayaan, kesenangan, simbolsimbol prestise ataupun sesuatu yang tidak terlampaui materiil tetapi dijadikan sesuatu yang mutlak. Hidupnya dihabiskan dalam berkeinginan, berpengharapan, berputus asa, memuja dan merendahkan atau menghina. Seorang yang mengalami keterasingan selalu tegang, siap tempur dan kasar, tidak sanggup hidup, baik dalam suatu dialog dengan orang-orang lain ataupun dalam suatu kedamaian terhadap diri sendiri. Pengaruh Antropologis Industrialisasi Uraian di atas mungkin tidak perlu seluruhnya diambil secara serius, karena menggambarkan keadaan-keadaan yang ekstrem. Tetapi hal itu diperlukan untuk menyamakan referensi tentang masalah kemanusiaan (antropologis) sebelum memasuki sesuatu yang lebih praktis. Tidak dapat diingkari bahwa perkembangan teknologi telah menciptakan kemungkinan bagi perbaikan dalam tingkat hidup sejumlah besar manusia, mengangkat dari penderitaan fisik, membebaskan dari kerja berat dan memperpanjang umur. Seseorang yang lapar, kedinginan, atau sakit tidak dapat memiliki dirinya sendiri. Dari segi ini maka teknologi merupakan pembebas. 2

KEDUDUKAN AGAMA DALAM MASYARAKAT INDUSTRIAL Dan teknologi itu merupakan tulang punggung masyarakat industrial. Banyak ahli ekonomi berpendapat bahwa teknologi membangkitkan kecerdasan, dan merangsang inisiatif dan kreati vitas. Itu adalah pendapat ekonom-ekonom Prancis, Georges Fourestie dan Lou Armand. Para ekonom itu bahkan berpendapat bahwa kaum pekerja, setelah mengalami perkembangan terus-menerus dari sektor pertanian ke sektor industri dengan teknologinya yang maju (dinamakan sektor-sektor primer dan sekunder), akan selanjutnya berkembang ke sektor ketiga (tertier) berupa pelayanan-pelayanan (services) yang bersifat pribadi. Sebagai contoh, otomatisasi (automation) akan memerlukan hanya sedikit pekerja dan teknisi, tetapi permintaan akan perias rambut, pencuci pakaian dan pelicinannya, pelukis, tukang reparasi, dokter gigi, dokter umum, guru, pegawai-pegawai bank, asuransi dan sebagainya akan bertambah. Karena permintaan akan barang-barang konsumsi tidak dapat tumbuh tanpa batas maka suatu titik kejenuhan akan segera tercapai, dan manusia akan menuntut lebih banyak kebutuhan di luar bahan makanan dan alat-alat rumah tangga, berupa hasil-hasil karya seni. Berkat sifat kerja dalam sektot tertier dan berkat penyebaran universal kebudayaan, manusia akan mampu sepenuhnya berkembang sebagai individu yang bebas. Apalagi industri beserta teknologinya akan meyumbang bagi perwujudan hubungan-hubungan sosial yang lebih bersahabat menuju kepada keadilan dan persamaan sosial. Setidak-tidaknya itulah yang diharpkan menjadi masa depan industri dan teknologi. Jika semuanya itu benar maka industrialisasi akan memengaruhi manusia dalam suatu nilai yang positif. Nehru mengatakan bahwa sistem kasta (faktor dehumanisasi terkuat di India) mustahil bertahan dalam kereta api atau pada ban berjalan di suatu pabrik. Dan Lenin mengatakan bahwa sosialisme (humanisme) akan terwujud melalui perlistrikan serta industri pada umumnya. Tetapi kita hanya harus menengok ke sekeliling kita (dalam arti global atau dunia) untuk mendapatkan bahwa zaman emas itu 3

NURCHOLISH MADJID rasanya justru semakin jauh. Apakah sebenarnya yang diberikan oleh peradaban industri dan teknologi kepada umat manusia pada abad ke-20 ini? Kota-kota yang berkembang dengan udara yang dikotori, usaha-usaha bisnis yang luas serta pembagian-pembagian pemerintahan yang tak kenal pribadi (impersonal), pers, radio, dan televisi yang mengeksploitasi sentimen-sentimen manusia yang paling rendah dan kebutuhan-kebutuhan publik yang paling kasar, dan jumlah amat besar dana yang dipergunakan untuk membiayai peperangan yang mengerikan; di mana-mana terdapat penderita penyakit mental yang menyedihkan dan bertambah-tambah, serta terdapat kecenderungan umum mundurnya demokrasi berhadapan dengan totalitarianisme dan kediktatoran. Wajah yang menakutkan dan mengancam inilah yang disajikan oleh dunia industri, teknologi, dan ilmu pengetahuan kita akhir-akhir ini. Maka kita berhak untuk bertnya, mengapa justru industrialisasi yang mampu membebaskan manusia dan mendobrak temboktembok penghalang di dunia ini, juga menimbulkan keadaan sebaliknya, yaitu alienasi manusia? Peranan Agama Alienasi ditimbulkan oleh masyarakat industrial dikarenakan sifat dasar masyarakat itu sendiri. Secara ringkas dapat diterangkan sebagai berikut: motivasi terkuat sistem kerja dalam masyarakat industrial ialah peningkatan produksi dan keuntungan setinggitingginya (profi t making). Hal itu menuntut adanya efi siensi sejauh mungkin. Efisiensi itu didapatkan dengan menggunakan sistem kerja yang birokratis (Weber: cara pembukuan adalah faktor terpenting masyarakat industri), di mana hubungan menjadi zaklijk dan fungsional, jadi tak kenal pribadi atau impersonal. Dalam proses selanjutnya depersonalization itu adalah juga berarti dehumanization, yaitu alienasi seseorang dari diri dan kemanusiaannya sendiri. 4

KEDUDUKAN AGAMA DALAM MASYARAKAT INDUSTRIAL Sekarang apakah yang diperlukan oleh masyarakat industrial yang melahirkan alienasi itu? Yang jelas, mengembalikan jalannya jarum jam adalah sesuatu yang tak mungkin. Industrialisasi merupakan proses sejarah. Bukan karena suatu determinasi sosial dan historis, tetapi agaknya itulah yang menjadi ketetapan hati semua bangsa di dunia. Tapi manusia memerlukan sesuatu yang sekurang-kurangnya mempunyai efek pengerem kecenderungan dan sifat dasar masyarakat industrial tadi. Manusia memerlukan sesuatu yang dapat secara pasti memberikan jawab atas pertanyaan: apa sebenarnya tujuan hidup manusia di dunia ini? Mungkin sesuatu itu ialah agama. Harus disebutkan mungkin, karena memang keraguan segera timbul jika melihat kenyataan-kenyataan yang hidup di dalam masyarakat. Skeptisisme itu sepenuhnya beralasan, karena memang senantiasa ada jurang lebar ataupun sempit antara ajaran dan kenyatan. Maka yang dimaksudkan dengan agama di sini ialah dalam bentuknya yang mendalam dan universal (keagamaan an sich), bukan yang ada secara sosiologis. Dengan menyadari kesulitan yang amat besar untuk menegaskan tentang apa yang dimaksudkan dengan agama murni, namun kira nya beberapa hal di bawah ini dapat dijadikan pangkal tolak pene laahan dan perenungan lebih lanjut: 1. Kebutuhan atau kepercayaan kepada Tuhan dengan segala atributnya. 2. Hubungan yang personal dan intim dengan Tuhan. 3. Doktrin tentang fungsi sosial harta kekayaan: tujuan hidup bukanlah pada terkumpulnya kekayaan itu tetapi pada cara peng gunaannya untuk sesama manusia. 4. Pengakuan yang pasti akan adanya hal-hal yang tidak dapat didekati secara empiris atau induktif, melainkan dengan cara deduktif atau percaya. 5. Kepercayaan akan adanya kehidupan lain sesudah kehidupan historis (dunia) ini yang lebih tinggi nilainya. 5

NURCHOLISH MADJID Penutup Dengan asumsi bahwa kita semua telah mengetahui tentang doktrin atau ajaran-ajaran agama, sekalipun pokok-pokoknya saja, maka uraian ini lebih menekankan kepada arti penting (signifi cance) ajaran-ajaran itu di dalam masyarakat, khususnya masyarakat industrial, dengan terlebih dahulu mencari pengertian tentang sifatsifat dan akibat-akibat masyarakat industrial itu yang mengandung nilai kemanusiaan, positif maupun negatif. [ ] 6