ISSN J Ked Gi, Vol. 4, No. 3, Juli 2013:

dokumen-dokumen yang mirip
PERAWATANORTODONTIK KANINUS KIRI MAKSILA IMPAKSI DI DAERAH PALATALDENGAN ALAT CEKATTEKNIK BEGG

BAB I PENDAHULUAN. secara langsung maupun tidak langsung pada pasien. 1. indeks kepala dan indeks wajah. Indeks kepala mengklasifikasian bentuk kepala

Hubungan antara derajat konveksitas profil jaringan keras dan jaringan lunak wajah pada suku Bugis dan Makassar

ABSTRAK. Kata kunci: analisis Bolton, rasio keseluruhan, rasio anterior, suku Tionghoa, suku Papua

Kata kunci : palatum, maloklusi Angle, indeks tinggi palatum

I. Nama mata kuliah : Ortodonsia. II. Kode/SKS : KGO 1/2. III. Prasarat : Anatomi IV. V. Deskripsi Mata Kuliah. VI. Tujuan Pembelajaran

Kata kunci: lebar mesiodistal gigi, indeks Bolton, maloklusi kelas I Angle, overjet, overbite, spacing, crowding

RPKPS (Rencana Program dan Kegiatan Pembelajaran Semester) ASUHAN KEPERAWATAN ORTODONSIA I Semester V/ 1 SKS (1-0)/KKG 5313

BAB 3 METODE PENELITIAN

Perawatan Ortodonti pada Geligi Campuran. Abstrak

PERBEDAAN LEBAR LENGKUNG GIGI PADA MALOKLUSI KLASIFIKASI ANGLE DI SMPN I SALATIGA JAWA TENGAH

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

DAFTAR ISI. LEMBAR PERSETUJUAN... ii. SURAT PERNYATAAN... iii. SURAT PERSETUJUAN PERBAIKAN... iv

BAB 1 PENDAHULUAN. Ukuran lebar mesiodistal gigi bervariasi antara satu individu dengan

BAHAN AJAR Pertemuan ke 9

PERUBAHAN KONVEKSITAS SKELETAL WAJAH SETELAH RETRAKSI ANTERIOR DENGAN PENCABUTAN EMPAT PREMOLAR PERTAMA T E S I S MARTHA

Howes Analysis Measurement of Rumah Sakit Gigi dan Mulut Maranatha Bandung Patients

The Prevalence and Treatment Success of Removable Orthodontic Appliance with Anterior Crossbite Cases in RSGMP UMY

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

PERANAN DOKTER GIGI UMUM DI BIDANG ORTODONTI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. displasia dan skeletal displasia. Dental displasia adalah maloklusi yang disebabkan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Ortodonsia merupakan bagian dari Ilmu Kedokteran Gigi yang

I. PENDAHULUAN. A.Latar Belakang Masalah. Ilmu Ortodonti menurut American Association of Orthodontics adalah

ABSTRAK. Calvin Kurnia, 2011 Pembimbing I : drg. Susiana, Sp.Ort Pembimbing II: dr. Winsa Husin, M.Sc, M.Kes

KARAKTERISTIK PROFIL JARINGAN LUNAK PADA PENDERITA OBSTRUKSI SALURAN NAPAS ATAS DENGAN KEBIASAAN BERNAPAS MELALUI MULUT

HUBUNGAN ANTARA KEDALAMAN SINUS FRONTALIS DAN MATURASI TULANG TANGAN

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. Fenomena yang sering ditemukan di Kedokteran Gigi Anak (KGA) pada anak

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Eksperimental kuasi dengan desain one group pre dan post. Tempat : Klinik Ortodonti RSGMP FKG USU

PERBANDINGAN RERATA BESARAN LEEWAY SPACE SUKU BANJAR DENGAN RERATA LEEWAY SPACE MENURUT PROFFIT

PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dentofasial termasuk maloklusi untuk mendapatkan oklusi yang sehat, seimbang,

ABSTRAK KORELASI ANTARA BENTUK WAJAH DAN BENTUK GIGI INSISIVUS SENTRAL MAKSILA PADA ETNIS TIONGHOA USIA TAHUN

ABSTRAK. Kata kunci: Arch Length Discrepancy (ALD), indeks Howes, indeks Pont, Model studi

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Salah satu jenis maloklusi yang sering dikeluhkan oleh pasien-pasien

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sejak tahun 1922 radiografi sefalometri telah diperkenalkan oleh Pacini dan

BAB 2 MALOKLUSI KLAS III. hubungan lengkung rahang dari model studi. Menurut Angle, oklusi Klas I terjadi

PERUBAHAN INDEKS TINGGI WAJAH PADA PERAWATAN ORTODONTI MALOKLUSI KLAS I DENGAN PENCABUTAN EMPAT GIGI PREMOLAR PERTAMA

Shendy Dianastesi 1, TitaRatya Utari 2 ¹Mahasiswa Program Studi Kedokteran Gigi, ²Dosen Program Studi Pendidikan Dokter Gigi

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Desain penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan retrospective

CROSSBITE ANTERIOR DAN CROSSBITE POSTERIOR

Perawatan Maloklusi Kelas III Skeletal dengan Penggunaan Chin Cap pada Pasien Usia Pertumbuhan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. terdiri dari berbagai macam penyebab dan salah satunya karena hasil dari suatu. pertumbuhan dan perkembangan yang abnormal.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

PERUBAHAN JARINGAN LUNAK BIBIR ATAS SETELAH RETRAKSI GIGI ANTERIOR MAKSILA DITINJAU DARI RADIOGRAFI SEFALOMETRI LATERAL

BAB 1 PENDAHULUAN. menghasilkan bentuk wajah yang harmonis jika belum memperhatikan posisi jaringan

BAB I PENDAHULUAN. permukaan oklusal gigi geligi rahang bawah pada saat rahang atas dan rahang

UNIVERSITAS INDONESIA

Korelasi antara lebar mesiodistal gigi dengan kecembungan profil jaringan lunak wajah orang Bugis-Makassar

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAHAN AJAR Pertemuan ke 6

PERBEDAAN POLA DAN UKURAN RUGE PALATAL RAS DEUTRO MELAYU DENGAN RAS AUSTRALOID LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH

Universitas Gadjah Mada 1

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perawatan ortodontik bertujuan memperbaiki fungsi oklusi dan estetika

BAB 4 METODE PENELITIAN. 4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan studi observasional analitik potong lintang (crosssectional).

BUKU AJAR PETUNJUK SEMINAR ORTODONSIA IV KGO IV. Penanggungjawab Mata Kuliah drg. Wayan Ardhana, MS., Sp.Ort

Perubahan Posisi Mandibula pada Perawatan Kamuflase Maloklusi Kelas III Skeletal

PREVALENSI ASIMETRI FUNGSIONAL PADA MURID SD DAN SLTP TARSISIUS VIRETA TANGERANG USIA 9 16 TAHUN

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. hubungan yang ideal yang dapat menyebabkan ketidakpuasan baik secara estetik

PANJANG MAKSILA DAN MANDIBULA PADA ANAK USIA TAHUN (KAJIAN SEFALOMETRI LATERAL) Marianti Enikawati, Hendrarlin Soenawan, Margaretha Suharsini

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. gigi-gigi dengan wajah (Waldman, 1982). Moseling dan Woods (2004),

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dengan estetis yang baik dan kestabilan hasil perawatan (Graber dkk., 2012).

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

ANALISA PROFIL JARINGAN LUNAK MENURUT METODE HOLDAWAY PADA MAHASISWA FKG USU SUKU DEUTRO MELAYU

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

LEBAR MESIODISTAL GIGI PERMANEN RAHANG ATAS DAN RAHANG BAWAH PADA MAHASISWA MALAYSIA DI FKG USU

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. cepat berkembang. Masyarakat makin menyadari kebutuhan pelayanan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. rumit pada tubuh manusia. Sendi ini dapat melakukan 2 gerakan, yaitu gerakan

Distribusi Frekuensi Maloklusi Pasien Klinik Spesialis Ortodonti RSKGM FKG UI Periode

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERBEDAAN RASIO D2:D4 ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN USU. Oleh : RATNA MARIANA TAMBA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan serangkaian pulau besar-kecil dengan lingkungan

I.PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah. Secara umum bentuk wajah (facial) dipengaruhi oleh bentuk kepala, jenis kelamin

DETEKSI DINI KETIDAKSEIMBANGAN OTOT OROFASIAL PADA ANAK. Risti Saptarini Primarti * Bagian Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Unpad

I.PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Nesturkh (1982) mengemukakan, manusia di dunia dibagi menjadi

ABSTRAK GAMBARAN MALOKLUSI PADA SISWA SISWI SDK 6 BPK PENABUR KELOMPOK USIA TAHUN BERDASARKAN KLASIFIKASI ANGLE DAN KLASIFIKASI PROFFIT-ACKERMAN

PERAWATAN MALOKLUSI KELAS II KELETAL DENGAN KOMBINASI AKTIVATOR - HEADGEAR

Rasio lebar mesiodistal gigi Bolton pada geligi berjejal dan geligi normal

PERUBAHAN DIMENSI VERTIKAL PADA PERAWATAN ORTODONTI DENGAN PENCABUTAN EMPAT GIGI PREMOLAR PERTAMA PADA MALOKLUSI KLAS I

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Lengkung gigi terdiri dari superior dan inferior dimana masing-masing

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. dari struktur wajah, rahang dan gigi, serta pengaruhnya terhadap oklusi gigi geligi

Gambar 1. Anatomi Palatum 12

I. Nama mata kuliah : Ortodonsia III. II. Kode/SKS : KGO III / I. III. Prasarat : Ortodonsia II. IV. Status Mata Kuliah : Wajib Program studi

Volume 46, Number 4, December 2013

BAB 1 PENDAHULUAN. pertumbuhan dan perkembangan wajah dan gigi-geligi, serta diagnosis,

Volume 46, Number 4, December 2013

Analisis Model Studi, Sumber Informasi Penting bagi Diagnosis Ortodonti. Analisis model studi merupakan salah satu sumber informasi penting untuk

PENGGUNAAN PEER ASSESMENT RATING INDEX PADA EVALUASI HASIL PERAWATAN ORTODONTIK DENGAN TEKNIK BEGG

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

PERBEDAAN LEBAR LENGKUNG GIGI PADA MALOKLUSI KLASIFIKASI ANGLE DI SMPN I SALATIGA JAWA TENGAH

PENGENALAN SEFALOMETRI RADIOGRAFIK

PERBANDINGAN CANTING DENTOALVEOLAR PADA MALOKLUSI KLAS I, II DAN III DENGAN MENGGUNAKAN RADIOGRAFI PANORAMIK TESIS ANDRES

Gambaran maloklusi dan kebutuhan perawatan ortodonti pada anak usia 9-11 tahun (Studi pendahuluan di SD At-Taufiq, Cempaka Putih, Jakarta)

Hubungan tweed triangle dan posisi bibir terhadap garis estetik (Relationship between tweed triangle and the lips position to esthetic line)

HUBUNGAN SUDUT INTERINSISAL DENGAN PROFIL JARINGAN LUNAK WAJAH MENURUT ANALISIS RICKETTS PADA MAHASISWA SUKU BATAK FKG DAN FT USU

Transkripsi:

PERBANDINGAN UKURAN LINIER DAN LUAS KRANIOFASIAL ANTARA SISI KANAN DAN SISI KIRI PADA LAKI LAKI DAN PEREMPUAN JAWA DENGAN SEFALOGRAM POSTERO-ANTERIOR METODE GRUMMONS Sari Kurniawati*, Darmawan Sutantyo**, Cendrawasih Andusyana Farmasyanti** *Program Studi Orthodonsia **Bagian Ortodonsia Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ABSTRAK Ukuran linier dan luas kraniofasial penting dalam diagnosis dan rencana perawatan ortodontik sebagai salah satu penentu nilai keindahan muka, yang berbeda pada masing-masing ras dan erat kaitannya dengan faktor genetik dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan ukuran linier dan luas kraniofasial sisi kanan dan sisi kiri pada laki-laki dan perempuan Jawa. Penelitian dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dari komite etik untuk pengambilan sefalogram posteroanterior dari 30 laki-laki dan 30 perempuan, usia 18-30 tahun, memenuhi kriteria subjek dan telah menandatangani informed consent. Titik-titik referensi yang digunakan adalah ZA (Zygomaticus Arc), J (Titik Jugal) dan Ag (Antegonion) pada tiap sisi yang ditarik tegak lurus dengan garis MSR (Midsagittal Reference) sebagai garis referensi median line untuk mendapatkan ukuran linier dan luas kraniofasial sisi kanan dan kiri. Hasil penelitian dengan analisis paired t-test menunjukkan ukuran linier dan luas maksila dan mandibula sisi kanan lebih besar daripada sisi kiri pada laki-laki Jawa (p<0.05), sedangkan pada kranial tidak terdapat perbedaan, demikian pula pada kranial, maksila dan mandibula perempuan Jawa (p>0.05). Perbedaan terjadi kemungkinan akibat pengaruh genetik dan lingkungan budaya orang Jawa yang lebih sering menggunakan sisi kanan sehingga mempengaruhi aktivitas otot dan perkembangan tulang kraniofasial, namun hal tersebut masih perlu penelitian lebih lanjut. Kesimpulan: ukuran linier dan luas kraniofasial sisi kanan lebih besar daripada sisi kiri hanya terdapat pada maksila dan mandibula laki-laki Jawa. Kata kunci: Linier kraniofasial, Luas kraniofasial, Jawa ABSTRACT Linear and width craniofacial size important in orthodontic diagnosis and treatment planning as one of beauty value of the face determinants, were influenced by gender and associated with genetic and environmental factors. Craniofacial size also have different values in each race. This study aimed to identify linear and width craniofacial size differences in the right side and the left side of the Javanese. The study was conducted after obtaining approval from the ethics committee for taking the postero-anterior cephalometry radiograph of 30 males and 30 females, aged 18-30 years, Angle Class I relationship, a state full of teeth, normal size, absent or mild crowding level and signed informed consent. Reference points used is ZA (Zygomaticus Arc), J (Jugal Point) and Ag (Antegonion), in each side, drawn perpendicular to MSR (midsagittal Reference) as the reference for the median line to gain linear and width craniofacial size (cranial, maxillary and mandibular) on the right and left side. The results that analyzed using paired t-test showed that significant differences occurred between the right and left side on the linear and width size of maxillary and mandibular Javanese males (p<0.05), while non-significant difference occured in linear and width cranial size in males, as well as the linear and width cranial, maxillary and mandibular size in females (p>0.05). The differences occurred due to the possibility of genetic influence and environmental that Javanese culture is more often used the right side as a form of politeness, affected muscle activity and craniofacial bone development, but it still needs further research. Conclusion: the right side of linear and width craniofacial size greater than the left side only in the maxilla and mandible of Java males. Keywords: Craniofacial linear, Craniofacial width, Javanese 193

Sari K., dkk. : Perbandingan Ukuran Linier dan Luas Kraniofasial PENDAHULUAN Keseimbangan dan keserasian wajah berdasarkan ukuran linier dan luas kraniofasial antara sisi kanan dan sisi kiri penting dalam diagnosis dan rencana perawatan ortodontik, khususnya pada kasus bedah ortognatik, serta dipengaruhi oleh faktor genetik dan erat kaitannya dengan lingkungan 1-6. Penentuan keserasian dan keseimbangan wajah pada perawatan ortodontik berdasarkan ras Kaukasoid sebagai standar kurang tepat jika diterapkan pada ras lain karena perbedaan kecenderungan untuk memiliki pola bentuk kepala dan wajah 3,7,8. Populasi Jawa termasuk kelompok subras Deutero Melayu dan merupakan salah satu populasi terbesar di Pulau Jawa mempunyai ciri-ciri ragawi yang khas 9. Pemeriksaan skeletal kraniofasial untuk mengetahui ukuran linier dan luas kraniofasial dapat didiagnosis dengan lebih baik menggunakan sefalometri postero-anterior 5,10. Metode Grummons 11, merupakan salah satu metode analisis yang mudah dan sederhana dalam menentukan proporsi dan kesimetrian kraniofasial sehingga sangat tepat digunakan seorang klinisi untuk dapat mempercepat kinerjanya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: 1. Perbedaan ukuran linier dan luas kraniofasial sisi kanan dan sisi kiri pada laki-laki Jawa; 2. Perbedaan ukuran linier dan luas kraniofasial sisi kanan dan sisi kiri pada perempuan Jawa. Bahan penelitian adalah sefalogram digital postero-anterior dari 30 laki-laki dan 30 perempuan, diukur sesuai metode Grummons menggunakan program DBSWIN 4.5.1. Penentuan titik referensi dan pengukuran pada file sefalogram digital dilakukan oleh operator yang sama, dilakukan satu kali oleh satu operator. Bidang dan titik referensi yang digunakan adalah 11,13 : 1. Titik Cg (Crista galli); 2. Titik ANS (Anterior Nasal Spine); 3. Titik ZA (Zygomaticus Arc); 4. Titik J (titik Jugal); 5. Titik Ag (Antegonion); 6. Garis MSR (Garis Midsagittal Reference). Gambar 1. Cara Pengukuran Linier Sefalometri Postero-Anterior dalam Penelitian 11 Keterangan gambar : 1a. Ukuran Linier Kranial Kanan; 1b. Ukuran Linier Kranial Kiri; 2a. Ukuran Linier Maksila Kanan; 2b. Ukuran Linier Maksila Kiri; 3a. Ukuran Linier Mandibula Kanan; 3b. Ukuran Linier Mandibula Kiri. METODE PENELITIAN Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan ethical clearance dari Komisi Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, Unit Etika dan Advokasi Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada. Subjek penelitian adalah orang Jawa asli 2 keturunan, usia 18 30 tahun, muka seimbang dan harmonis, relasi Molar Kelas I Angle, keadaan gigi gigi lengkap dengan bentuk dan ukuran normal, tingkat keberjejalan gigi-geligi berdasarkan metode Tooth Size Arch Length Discrepancy (TSALD) ringan atau tidak berjejal 12, belum pernah dan tidak sedang menjalani perawatan ortodontik dan ortognatik, tidak pernah mempunyai kebiasaan buruk yang berkaitan dengan asimetri wajah dan telah menandatangani informed consent. Gambar 2. Cara Pengukuran Luas Sefalometri Postero-Anterior dalam Penelitian 11 Keterangan gambar : 1a. Luas Kranial Kanan; 1b. Luas Kranial Kiri; 2a. Luas Maksila Kanan; 2b. Luas Maksila Kiri; 3a. Luas Mandibula Kanan; 3b. Luas Mandibula Kiri. Data hasil pengukuran yang telah dikelompokkan sebelumnya dianalisis menggunakan uji normalitas data (Shapiro-Wilk test) untuk mengetahui normalitas distribusi data, kemudian dilakukan uji student paired t-test untuk 194

mengetahui perbedaan ukuran linier dan luas laki-laki dan perempuan Jawa. HASIL PENELITIAN Hasil uji Shapiro-Wilk test menunjukkan distribusi data normal. Ukuran linier dan luas kranial kanan dan kiri pada laki-laki Jawa tidak berbeda bermakna (p>0,05), sedangkan pada maksila dan mandibula didapatkan perbedaan yang bermakna (p<0,05) dengan rerata ukuran sisi kanan lebih besar daripada sisi kiri (tabel 1 dan 2). Ukuran linier dan luas kraniofasial kanan dan kiri pada perempuan Jawa tidak berbeda bermakna (p>0,05) pada kranial, maksila maupun mandibula, dengan ukuran sisi kanan lebih besar daripada sisi kiri (tabel 1 dan 2). PEMBAHASAN Ukuran linier dan luas kraniofasial pada laki-laki Jawa terlihat bahwa ukuran kranial sisi kanan dan sisi kiri tidak berbeda bermakna (p>0,05), sedangkan pada maksila dan mandibula terdapat perbedaan yang bermakna (p<0,05). Ukuran pada maksila dan mandibula yang terlihat bermakna, dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Genetik berperan penting dalam pembentukan tulang dan memainkan peranan penting dalam menentukan dominasi sisi yang aktif dari tubuh secara umum yang mempengaruhi pula ukuran kraniofasialnya, sehingga terjadi perbeda-an ukuran kraniofasial antara kanan dan kiri 14,15,16. Faktor lingkungan, meliputi aktivitas otot, berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial. Anderson 17 mengatakan bahwa dalam aktivitas pengunyahan, otot pengunyahan merupakan faktor penting untuk mempertahankan oklusi. Perlekatan otot mayor yang terdapat pada maksila dan mandibula tersebut menyebabkan ukuran linier dan luas pada maksila dan mandibula antara sisi kanan dan sisi kiri berbeda. Hukum Wolff mengatakan jika beban pada tulang berkurang, tidak ada stimulus untuk renovasi lanjutan yang diperlukan untuk remodeling tulang. Perkembangan tulang karena pembesaran otot juga dikaitkan dengan kekuatan ekspansif dari sutura, kartilago dan jaringan tulang baru yang dihasilkan 15. Rerata ukuran linier dan luas sisi kanan lebih besar daripada sisi kiri. Fenomena tersebut terjadi akibat perbedaan aktivitas otot pada masing-masing sisi. Aktivitas otot berhubungan erat dengan budaya orang Jawa yang cenderung melakukan sebagian besar aktivitasnya pada sisi kanan 6,14,18. Tabel 1. Rerata dan Simpangan Baku (SB) dalam milimeter (mm) Ukuran Linier Kraniofasial pada 30 Laki-laki dan 30 Perempuan Jawa Keterangan : * : Nilai p bermakna (pd 0.05) Tabel 2. Rerata dan Simpangan Baku (SB) dalam millimeter persegi (mm 2 )Ukuran Luas Kraniofasial pada 30 Laki-laki dan 30 Perempuan Jawa Keterangan : * : Nilai p bermakna (pd 0.05) 195

Sari K., dkk. : Perbandingan Ukuran Linier dan Luas Kraniofasial Tekanan otot-otot dari tubuh akan ditransmisikan ke otot-otot mastikasi seperti mengunyah dan mengayun, sehingga pertumbuhan tubuh secara umum akan berefek pada pertumbuhan kraniofasial (muscle chain) 19. Ukuran kraniofasial yang lebih besar pada sisi kanan pada penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Chebib dan Chamma 20 pada ras Kaukasoid dewasa didapatkan sisi kiri yang lebih besar daripada sisi kanan ditemukan secara bermakna, sedangkan Basyouni 21 menemukan tidak ada perbedaan yang signifikan antara sisi kiri dan sisi kanan pada ras Kaukasoid saat masa pertumbuhan. Perbedaan tersebut berkaitan dengan aktivitas otot orang kulit putih dan hispanik yang lazim beraktivitas dengan tangan kiri, meskipun seiring dengan waktu, cara kerja dengan kedua sisi telah banyak digunakan sehingga mempengaruhi ukuran kraniofasial yang lebih besar pada sisi kiri atau tidak terdapat perbedaan ukuran kanan dan kiri 16. Hasil uji statistik pada perempuan Jawa menunjukkan ukuran linier dan luas kraniofasial terlihat tidak ada perbedaan antara sisi kanan dan sisi kiri (p>0,05) pada ketiga indikator yaitu kranial, maksila maupun mandibula. Hasil tersebut dimungkinkan karena frekuensi aktivitas saat masa tumbuh kembang berbeda antara laki-laki dan perempuan Jawa. Laki-laki Jawa cenderung untuk melakukan aktivitas yang lebih berat daripada perempuan Jawa 18, namun dalam penelitian ini kedua hal tersebut tidak dikendalikan sehingga sulit untuk memastikan etiologi yang tepat untuk perbedaaan besar ukuran linier dan luas kraniofasial pada laki-laki dan perempuan Jawa. Penelitian ini mempunyai kesulitan dalam mendapatkan subjek yang sesuai dengan kriteria penelitian. Besar sampel menggambarkan tingkat keyakinan 75% dari besar populasi Jawa, menunjukkan bahwa kesimpulan penelitian belum dapat mewakili keseluruhan populasi, apabila diinginkan untuk dapat mewakili populasi Jawa, penelitian harus dilakukan dengan besar sampel sebesar 377 orang 22. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Ukuran linier kraniofasial sisi kanan lebih besar daripada sisi kiri pada maksila dan mandibula laki-laki Jawa. 2. Tidak terdapat perbedaan ukuran linier perempuan Jawa baik pada kranial, maksila dan mandibula. 3. Ukuran luas kraniofasial sisi kanan lebih besar daripada sisi kiri pada maksila dan mandibula laki-laki Jawa. 4. Tidak terdapat perbedaan ukuran luas perempuan Jawa baik pada kranial, maksila dan mandibula. SARAN 1. Perlu penelitian lebih lanjut dengan melibatkan sisi aktif dan kebiasaan mengunyah satu sisi sebagai variabel terkendali, sehingga dapat diketahui hubungannya terhadap perbedaan pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial. 2. Perlu penelitian lebih lanjut dengan melibatkan tingkatan usia sebagai variabel pengaruh, sehingga dapat diketahui pengaruhnya terhadap perbedaan pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial. 3. Perlu penelitian lebih lanjut dengan jumlah subjek yang lebih besar untuk mendapatkan hasil dengan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi sehingga dapat dijadikan standar ukuran normal. DAFTAR PUSTAKA 1. Garner LD. Soft Tissue Changes Concurrent with Orthodontic Tooth Movement. Am J Orthod. 1974;66:357-77. 2. Mundiyah-Mokhtar. Penuntun Kuliah Orthodonti. Bagian Orthodonti Kedokteran Gigi USU Medan. 1974. p.34. 3. Hamilah-Koesoemahardja. Studi Sefalometri Profil Jaringan Lunak Pada Mahasiswa FKG Usaki Keturunan Deutero Melayu. Kumpulan Laporan Penelitian. Universitas Trisakti. Jakarta. 1989. p.1-23 4. Zylinski CG. Nanda RS. Kapita S. Analysis of Soft Tissue Facial Profile in White Males. Am. J. Orthod. Dentofac. Orthop. 1992;101:514-8. 5. Kumar TN. An Assessment of Facial Asymetry in Chennai City Population A Posteroanterior Cephalometric Study. Dissertation. Department of Orthodontics. Saveetha Dental College and 196

Hospitals. Chennai. 2005. diunduh dari http://www. mudin.net. pada tanggal 20 Juni 2010. 6. Proffit WR. Fields JrP W. Sarver DM. Contemporary Orthodontics. 4 ed. St Louis. The CV Mosby Company. 2007. p.18-104. 197-9. 7. Foster TD. A Textbook of Orthodontic. Blackwell Scientific Publication. Oxford. 1975. p.1-20. 8. Sushner N. A Photographic Study of The Soft Tissue Profile of Negro Population. Am. J. Orthod. 1974;72:353-85. 9. Sukadana AA. Dasar-dasar Antropologi Fisik dan Phylogenesis Khusus untuk Ilmu Kedoktran Gigi di Indonesia. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga. Surabaya. 1979. p.8-9. 10. Jacobson A. Radiographic Cephalometry: from Basic to Videoimaging. Quintessence Publishing Co. Chicago, 1995. p.44-5. 11. Athanasiou AE. Orthodotic Cephalometry. Morby- Wolfe. London. 1995. p.141-59. 12. Bishara SE. Textbook of Orthodontics. Saunders Elsevier. Philadelphia. 2001. p.134-6. 13. Grummons D. Maxillary Asymmetry and Frontal Analysis. Clinical Impressions. 1999;8(3):2-9. 14. Linden FPGM. Facial Growth and Facial Orthopedics. Quintessence Publishhing Co Ltd. Chicago. 1986. p.17-37, 69-73, 192-4. 15. Enlow DP. Facial Growth 3 rd ed. WB Saunders Company. Philadhelphia. 1990. p.6-55, 110-233, 349-56. 16. McManus IC. The History and Geography of Human Handedness. Cambridge University Press. 2009. p.37-58. diunduh dari http://.www.ucl.uk/ medical-education/publications pada tanggal 21 Maret 2013. 17. Anderson GM. Practical Orthodontics 9 th ed. The CV Mosby Co. St Louis. 1960. p.145-165. 18. Geertz P. Keluarga Jawa, terj. The Javanese Family oleh Hersri Grafiti Pers. PT Temprint. Jakarta. 1983. p.105-29. 19. M a n f r e d i n i D. C u r r e n t C o n c e p t s o n Temporomandibular Disorders. Quintessence Publishing Co Ltd. Germany. 2010. p.284-8. 20. Chebib FS. Chamma AM. Indices of Craniofacial Asymmetry. Angle Orthod. 1981;51(3). p.214-25. 21. Basyouni AA. Clinical Application Forms for Postero-Anterior Cephalometric Analysis. The Saudi Dental Journal. 1997;9(2). diunduh dari http://www.sdsjournal.org pada tanggal 18 Juni 2010. 22. Dahlan MS. Besar Sampel dan Cara Pengambilan Sampel dalam Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Salemba Medika. Jakarta. 2010. p.19-70. 197