I. PENDAHULUAN 927, ,10

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I. PENDAHULUAN A.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia menjadi komoditas pangan yang dapat mempengaruhi kebijakan politik

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah, BULOG tetap melakukan kegiatan menjaga Harga Dasar. Tugas pokok BULOG sesuai Keputusan Presiden (Keppres) No 50 tahun

Andalan Ketahanan Pangan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara agraris di dunia, dimana sektor

BAB I PENDAHULUAN I-1

I. PENDAHULUAN. Pangan merupakan kebutuhan dasar utama bagi manusia yang harus dipenuhi

BAB I PENDAHULUAN. Pangan merupakan kebutuhan dasar utama bagi manusia yang harus

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I. PENDAHULUAN. berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG PENYALURAN CADANGAN PANGAN POKOK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang di olah

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG KEBIJAKAN PENGADAAN GABAH/BERAS DAN PENYALURAN BERAS OLEH PEMERINTAH

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

22/02/2017. Outline SURVEI KONSUMSI PANGAN. Manfaat survei konsumsi pangan. Metode Survei Konsumsi Pangan. Tujuan Survei Konsumsi Pangan

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG KEBIJAKAN PENGADAAN GABAH/BERAS DAN PENYALURAN BERAS OLEH PEMERINTAH

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DAFTAR ISI.. DAFTAR GAMBAR.. DAFTAR LAMPIRAN.

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan pembangunan pertanian periode dilaksanakan melalui tiga

BAB I PENDAHULUAN. Pertanian merupakan salah satu sektor utama di negara ini. Sektor tersebut

BAB I PENDAHULUAN I - 1

I. PENDAHULUAN Latar Belakang. Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang paling asasi.

KEBERADAAN BULOG DI MASA KRISIS

BAB III PROFIL PERUSAHAAN

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG KEBIJAKAN PERBERASAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Data Kandungan Nutrisi Serealia per 100 Gram

PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN NOMOR 016 TAHUN 2016

Oleh : Sri Emilia Mudiyanti Kepala Sub Divisi Regional Kedu Magelang, 20 Maret 2018

BAB I PENDAHULUAN. yang cocok digunakan untuk pertanian. Sedangkan berdasarkan letak astronominya,

BAB II PROFIL PERUSAHAAN

Regulasi Penugasan Pemerintah kepada Perum BULOG 1

I. PENDAHULUAN. komponen dasar dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG KEBIJAKAN PERBERASAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB V. PENUTUP. ketentuan peraturan Pemerintah (buffer stock policy) untuk pemenuhan kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. permasalahan ekonomi dan industri yang saling bersingungan satu sama lain.

BAB I PENDAHULUAN. usaha logistik/pergudangan, survei dan pemberantasan hama, penyediaan karung

PENDAHULUAN. setelah beras. Jagung juga berperan sebagai bahan baku industri pangan dan

Boks 2. Pembentukan Harga dan Rantai Distribusi Beras di Kota Palangka Raya

BAB II PROFIL PERUSAHAAN/INSTANSI. Mei 1967 berdasarkan keputusan presidium kabinet No.114/U/Kep/5/1967, dengan tujuan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Bentuk, Bidang, dan Perkembangan Usaha. BULOG Sebelum menjadi PERUM. ayam pada Hari Raya, Natal/Tahun Baru.

Gubernur Jawa Barat PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PENYALURAN CADANGAN PANGAN POKOK DAERAH

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat dan perekonomian di Indonesia. Perum BULOG Divisi Regional Sumbar adalah salah satu perusahaan

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 7 TAHUN 2017 TENTANG PENYEDIAAN DAN PENYALURAN CADANGAN PANGAN POKOK DAERAH

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. berusaha membangun dalam segala bidang aspek seperti politik, sosial,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) : MEWUJUDKAN JAWA TIMUR LEBIH SEJAHTERA, BERDAYA SAING MELALUI KETAHANAN PANGAN YANG BERKELANJUTAN

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) Divisi ton beras dari petani nasional khususnya petani di wilayah Jawa

BAB I PENDAHULUAN. Kansil (2001) pengertian perusahaan adalah setiap bentuk badan usaha yang

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Perkembangan Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha pada Tahun * (Miliar Rupiah)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 22 TAHUN 2016 TENTANG PENYEDIAAN DAN PENYALURAN CADANGAN PANGAN POKOK DAERAH

Standar Pelayanan Minimal

KOMPOSISI KONSUMSI ENERGI DAN PROTEIN YANG DIANJURKAN

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG KEBIJAKAN PERBERASAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

KEBIJAKAN PERBERASAN DAN STABILISASI HARGA

DATA STATISTIK KETAHANAN PANGAN TAHUN 2014

BAB II PERUM BULOG DIVRE SUMUT

KAJIAN HARGA PEMBELIAN PEMERINTAH (HPP) GABAH-BERAS : Kasus Propinsi Jawa Barat

ANALISIS TATANIAGA BERAS

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam memenuhi kebutuhan pangan

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

KAJIAN PENURUNAN KUALITAS GABAH-BERAS DILUAR KUALITAS PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN. pangan dan rempah yang beraneka ragam. Berbagai jenis tanaman pangan yaitu

SOSIALISASI PENGELOLAAN DAN PENYALURAN CADANGAN PANGAN PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2018

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi yang dominan, baik

BUPATI TAPIN PERATURAN BUPATI TAPIN NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN CADANGAN PANGAN PEMERINTAH KABUPATEN TAPIN

2 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Ketahanan Pangan dan Gizi adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan

BAB II PERUM BULOG SUBDIVRE PEMATANGSIANTAR. A. Sejarah Kantor Perum Bulog SubDivre Pematangsiantar

Aspek Distribusi pada Ketahanan Pangan Masyarakat di Kabupaten Tapin

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. pangan. Perum BULOG berkantor pusat di Jakarta, memiliki 26 Divisi

PERAN PERUM BULOG SUBDIVRE KEDIRI DALAM MENJAGA STABILITAS HARGA BERAS MELALUI PENGADAAN BERAS TESIS. Diajukan Oleh :

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Selama beberapa dekade terakhir sektor pertanian masih menjadi tumpuan

MANAJEMEN KETAHANAN PANGAN ERA OTONOMI DAERAH DAN PERUM BULOG 1)

Transkripsi:

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kebutuhan hidup yang terpenting bagi manusia setelah udara dan air adalah kebutuhan akan pangan. Pangan merupakan suatu kebutuhan pokok bagi manusia agar dapat melangsungkan kehidupannya. Bagi masyarakat Indonesia, kebutuhan pangan pokok yang harus tersedia setiap harinya adalah beras. Beras merupakan hasil pengolahan dari padi dan merupakan sumber karbohidrat tertinggi dibandingkan dengan jenis pangan yang lainnya, yaitu mencapai 360 kalori atau setara 78,9 gram, maka tidak heran jika beras merupakan komoditas yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia sebagai makanan pokok (Sediaoetama, 2006). Tabel 1.1 Rata-rata Konsumsi Kalori (KKal) per Kapita Sehari Menurut Kelompok Makanan tahun 2008 2013 Komoditi 2008 2009 2010 Padi-padian 968,48 939,9 9 927,0 5 919,10 2011 2012 2013 Maret Sept Maret Sept Maret Sept 893,3 0 894,9 2 886,8 4 876,5 8 869,36 Umbi-umbian 52,75 39,97 37,05 43,49 36,02 31,05 32,27 31,09 35,04 Ikan 47,64 43,52 45,34 47,83 45,61 45,19 47,26 44,09 45,45 Daging 38,60 35,72 41,14 44,71 44,19 52,52 61,62 39,96 38,47 Telur dan susu 53,60 51,59 56,20 55,97 52,21 48,89 50,25 53,50 53,19 Sayur-sayuran 45,46 38,95 38,72 37,40 37,52 37,54 37,90 34,96 36,71 Kacangkacangan 60,58 55,94 56,19 54,17 50,67 52,54 55,12 51,53 46,80 Buah-buahan 48,01 39,04 40,91 39,44 33,89 37,11 35,12 35,65 30,39 Minyak dan 228,3 233,3 229,8 238,2 242,8 227,9 lemak 239,30 5 9 232,03 6 5 8 9 231,08 Sumber : BPS, 2013. Guna menjamin agar kebutuhan pangan terkendali dan kontinuitas keseimbangan kebutuhan pangan masyarakat tercapai, maka pemerintah telah menugaskan BULOG untuk mengatur dan mengendalikan pangan yang berkecukupan bagi seluruh masyarakat melalui Kepres RI No. 50 tahun 1995, dan Surat Keputusan Kabulog No. 567/KA/11/1995 sampai No. 571/KA/11/1995, tercakup didalamnya juga mengenai tugas maupun peran BULOG sebagai lembaga yang bertanggungjawab di bidang logistik terutama perberasan. Adapun peran Bulog adalah untuk mewujudkan dan memantapkan ketahanan pangan, baik dalam skala rumah tangga maupun nasional. Sedangkan tugas pokok yang dibebankan oleh pemerintah kepada Bulog yaitu meliputi 3 point penting : 1

a. Menjaga harga pembelian pemerintah (HPP). b. Mengelola cadangan beras pemerintah (CBP). c. Menyalurkan beras bersubsidi bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah dan rawan pangan serta penyaluran beras untuk menanggulangi keadaan darurat dan bencana. Dalam melaksanakan tugas-tugas tersebut, secara operasional Perum Bulog melakukan kegiatan pengadaan beras dalam negeri. Pengadaan gabah/beras oleh Bulog dibedakan dalam tiga kelompok, yaitu pengadaan beras lokal, pengadaan beras regional, dan pengadaan beras khusus. Pengadaan beras lokal adalah pengadaan beras dalam negeri yang dilaksanakan oleh Perum Bulog di Divre/Subdivre/kansilog yang berasal dari wilayah kerja Divre tetapi diluar wilayah kerja Subdivre/kansilog pelaksana berdasarkan ketentuan Inpres RI tentang kebijakan perberasan yang berlaku, dengan tambahan insentif angkutan. Pengadaan beras regional adalah pengadaan beras dalam negeri berdasarkan ketentuan Inpres perberasan, yang berasal dari luar wilayah kerja divre pelaksana yang dilaksanakan oleh subdivre/kansilog dengan tambahan insentif angkutan. Adapun pengadaan beras khusus adalah pengadaan gabah dan atau beras dalam negeri yang dilaksanakan oleh Perum Bulog di divre/subdivre/kansilog berdasarkan ketentuan Inpres RI tentang perberasan dengan tambahan harga pembelian di atas HPP. Di dalam proses pengadaan beras dalam negeri tersebut, Perum BULOG memiliki 3 saluran pengadaan, yaitu melalui MITRA kerja, Satuan Tugas (SATGAS), dan Unit Bisnis Pengelolaan Gabah Beras (UB.PGB). MITRA kerja pengadaan dalam negeri adalah badan usaha dan atau badan hukum yang bergerak dibidang industri perberasan yang memiliki dan atau menguasai sarana penggilingan sesuai yang dipersyaratkan dan melakukan kerjasama dengan Perum Bulog dalam hal pembelian, pengolahan, dan pemasaran gabah/beras. SATGAS pengadaan dalam negeri adalah satuan kerja yang dibentuk oleh Kadivre/Kasubdivre untuk melakukan pembelian gabah/beras dalam negeri berdasarkan ketentuan HPP dalam rangka mendukung kewajaran harga gabah/beras bagi produsen maupun pemenuhan kebutuhan persediaan sesuai kebijakan Direksi Perum Bulog. UB.PGB adalah unit usaha yang mendukung pelaksanaan kegiatan pelayanan publik dan pengembangan usaha Perum Bulog. 2

Secara umum tujuan dari pengadaan yang dilakukan adalah dititikberatkan pada persediaan beras untuk memenuhi kebutuhan penyaluran disamping hal tersebut juga nantinya akan berdampak pada kestabilan harga baik di tingkat produsen maupun konsumen, tetapi yang menjadi pertimbangan adalah seperti halnya komoditas pertanian lainnya, beras memiliki karakteristik tersendiri. Hal ini yang mendorong perlunya penanganan proses pengadaan dan distribusi yang tepat. Berdasarkan data yang tertera pada tabel 2 terlihat bahwa total persediaan akhir Perum Bulog Divre DIY cenderung fluktuaktif dari tahun ke tahun terhitung sejak tahun 2008 sampai dengan 2012. Tentunya jika hal ini dibiarkan secara terus menerus, maka tidak menutup kemungkinan bahwa peluang adanya hambatan dalam penyaluran beras di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dapat terjadi terutama ketika stok beras gudang BULOG sangat minim. Begitu pula sebaliknya jika stok yang dimiliki terlalu berlebih maka dapat menimbulkan masalah dalam penyimpanannya dan itu akan mempengaruhi peningkatan biaya penyimpanan. Tentunya hal-hal semacam ini dapat dipertimbangkan oleh suatu perusahaan dalam menjalankan usahanya termasuk Perum BULOG. Tabel 1.2. Persediaan, Pengadaan dan Penyaluran Beras Perum Bulog Divre D.I.Yogyakarta (ton) Uraian 2008 2009 2010 2011 2012 persediaan awal 14.838, 67 12.339, 28 20.141,6 4 5.960,18 5.187,26 24.209,7 39.212,8 70.837,1 Pemasukan 54.966,59 56.927,69 6 5 5 proses ulang - - - - pindahan daerah - - - - koperasi - - - - persediaan yang dikuasai 69.805,25 69.266,97 44.351,4 0 45.173,0 3 - penyaluran 57.465,97 49.125,33 38.391,2 2 39.985,7 8 56.408,1 8 persediaan akhir 12.339,29 20.141,64 5.960,18 5.187,25 19.616,2 3 Sumber : BPS, 2013 Perum BULOG Divisi Regional (Divre) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang mempunyai tanggung jawab dalam menangani pengadaan serta penyaluran komoditas 3

beras untuk wilayah DIY dan sekitarnya tidaklah mudah, karena seperti produk pertanian lainnya beras memiliki sifat yang mudah rusak dan musiman, sehingga diperlukan managemen persediaan yang tepat untuk meminimalisir kerusakan atau penurunan mutu akibat penyimpanan yang terlalu lama, serta untuk menghindari terlambatnya distribusi beras ke masyarakat akibat ketiadaan stok di gudang. Secara teoritis, managemen persediaan memiliki sasaran untuk mengatur berapa banyak item yang harus disediakan, kapan dan berapa banyak pembelian harus dilakukan. Cukup sederhana, tetapi dalam penerapannya, menjaga persediaan merupakan masalah yang rumit. Sistim persediaan dapat diartikan sebagai serangkaian kebijakan dan pengendalian yang memantau jumlah dan tingkat persediaan agar dapat menentukan tingkat persediaan yang harus dijaga, kapan persediaan harus tersedia dan berapa besar order yang harus dilakukan. Tujuan dari sistim ini yaitu untuk menetapkan dan menjamin tersedianya sumber daya yang tepat, dalam kuantitas yang tepat, dan pada waktu yang tepat. Persediaan merupakan faktor yang memicu peningkatan biaya dalam sistim manufaktur maupun non manufaktur. Meskipun demikian, persediaan tetap diperlukan karena kondisi nyata dari kebutuhan (permintaan) dapat bersifat tidak pasti. Menetapkan jumlah yang terlalu banyak akan mengakibatkan pemborosan biaya penyimpanan, sedangkan menetapkan jumlah persediaan yang terlalu sedikit bagi Perum Bulog juga akan berakibat fatal karena kegiatan penyaluran beras mengalami hambatan. Penyimpanan persediaan beras dalam waktu yang lama akan mengakibatkan terjadinya susut mutu maupun susut jumlah dan akibatnya, Perum BULOG akan menanggung biaya operasionalnya. Untuk menerapkan manajemen persediaan yang baik diperlukan suatu perencanaan yang baik pula sehingga efisiensi persediaan dapat tercapai. Perencanaan persediaan merupakan langkah awal bagi suatu perusahaan dalam menentukan pelaksanaan pembelian dan penjualan sehingga perencanaan menjadi dasar pengendalian kebutuhan persediaan. Terutama untuk komoditas pertanian yang memiliki beragam karakteristik diantaranya : (i) sifatnya yang musiman, (ii) mudah rusak/ busuk, serta (iii) memerlukan tempat yang luas (rowa), berdasarkan karakteristik tersebut maka penting dilakukan penelitian terkait persediaan beras di Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Yogyakarta guna mendorong kegiatan 4

perusahaan kearah yang lebih efisien, terutama dari segi kuantitas sehingga meminimalkan biaya persediaan. 2. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : a. Berapa jumlah pengadaan optimal setara beras Perum BULOG Dive D.I.Yogyakarta perbulan tahun 2012, 2013 dan 2014 yang dapat menjamin stok dan meminimalkan biaya persediaan? b. Berapa nilai efisiensi biaya persediaan beras Perum BULOG Divre D.I.Yogyakarta perbulan pada tahun 2012, 2013, dan 2014 dilihat dari besarnya biaya persediaan yang aktual dengan biaya persediaan yang optimal? 3. Tujuan dan Kegunaan Tujuan dari penelitian mengenai Manajemen Persediaan Beras Perum Bulog Divre Daerah Istimewa Yogyakarta adalah : a. Untuk mengetahui jumlah pengadaan optimal setara beras bagi Perum BULOG Divre D.I.Yogyakarta perbulan tahun 2012, 2013, dan 2014 yang dapat menjamin stok dan meminimalkan biaya persediaan b. Untuk mengetahui nilai efisiensi biaya persediaan beras Perum BULOG Divre D.I.Yogyakarta per bulan pada tahun 2012, 2013, dan 2014 dilihat dari besarnya biaya persediaan yang aktual dan biaya persediaan yang optimal. Kegunaan dari penelitian ini adalah : a. Bagi perusahaan yang bersangkutan, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan manajemen persediaan baik dalam menentukan 5

besarnya kuatum pengadaan setara beras yang ekonomis maupun waktu pengadaan yang ekonomis. b. Bagi mahasiswa, penelitian ini dilakukan untuk memahami masalah yang timbul dalam praktek persediaan sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan dan perbandingan antara teori dan praktek. c. Bagi mahasiswa, penelitian ini dilakukan untuk menambah pengetahuan dan pengalaman dilapangan serta memenuhi syarat memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. 6