BPS PROVINSI LAMPUNG No. 07/01/18/TH.VII, 2 Januari 2015 ANGKA KEMISKINAN LAMPUNG SEPTEMBER 2014 Angka kemiskinan Lampung pada September 2014 sedikit mengalami penurunan dibanding Maret 2014 yakni dari 14,28 persen menjadi 14,21 persen. Secara absolut jumlah penduduk miskin sedikit bertambah menjadi 1.143,93 ribu orang dibandingkan dengan Maret 2014 yang sebesar 1.142,92 ribu orang. Selama periode Maret 2014 September 2014, penduduk miskin di daerah perkotaan berkurang sekitar 6,43 ribu orang, sementara di daerah perdesaan bertambah 7,44 ribu orang. Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2014 sebesar 11,08 persen, turun menjadi 10,68 persen pada September 2014, sedangkan penduduk miskin di daerah perdesaan mengalami kenaikan dari 15,41 persen menjadi 15,46 persen pada periode yang sama. Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan. Pada September 2014, sumbangan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan sebesar 75,77 persen dan sumbangan komoditi Non Makanan sebesar 24,23 persen. Komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, tempe, dan gula pasir. Sedangkan, komodoti yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perdesaan adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, gula pasir, dan tempe. Komoditi bukan makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan adalah perumahan, listrik, pakaian jadi anak-anak, bensin, dan pendidikan, sedangkan di daerah perdesaan adalah perumahan, bensin, pakaian jadi anak-anak, listrik dan pakaian jadi perempuan dewasa. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P 1) maupun Indeks Keparahan Kemiskinan (P 2) menunjukkan kecenderungan memburuk pada semester terakhir. Indeks Kedalaman Kemiskinan sebesar 2,296 lebih tinggi dibanding kondisi Maret 2014 sebesar 2,229. Sedangkan Indeks Keparahan Kemiskinan meningkat dari 0,531 menjadi 0,561 pada periode yang sama. Distribusi pengeluaran secara umum menunjukkan bahwa ketimpangan pengeluaran di Lampung semakin mengecil (semakin merata) ditunjukkan Gini Rasio September 2013-September 2014 yang menurun dari 0,3474 menjadi 0,3312. Ketimpangan pengeluaran nasional memiliki tren yang justru meningkat. Dari hasil survei menunjukkan bahwa distribusi raskin masih Lampung belum tepat sasaran. Raskin yang sebenarnya ditujukan untuk sekitar 574 ribu rumahtangga level ekonomi terbawah, kenyataannya dibagikan untuk 1,36 juta rumah pada semua level ekonomi. Jumlah beras yang diterima tidak lagi sesuai ketentuan 15 kg tetapi rata-rata hanya 5,63 kg per bulan. 1 Berita Resmi Statistik No.07/01/18/TH.VII, 2 Januari 2015
1. PERKEMBANGAN PENDUDUK MISKIN DI LAMPUNG Angka kemiskinan Provinsi Lampung kembali mengalami penurunan pada September 2014 ini. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) terbaru diketahui angka kemiskinan Lampung sebesar 14,21 persen atau sebanyak 1.143,93 ribu jiwa (lihat Tabel 1). Dibandingkan Maret 2014, telah terjadi pengurangan jumlah penduduk miskin sekitar 1,02 ribu jiwa atau 0,07 persen. Angka kemiskinan Lampung saat ini masih lebih tinggi dibandingkan dengan angka nasional yang sebesar 10,96 persen. Penurunan angka kemiskinan yang dialami Provinsi Lampung merupakan lanjutan dari tren yang terjadi sejak 2009 dengan rata-rata penurunan angka kemiskinan pertahun sekitar 1,19 persen. Penurunan ini juga sejalan dengan tren perkembangan tingkat kemiskinan pada tingkat nasional tetapi dengan tingkat kecepatan penurunan yang lebih cepat di Provinsi Lampung. Hal ini terlihat dari gap antara grafik angka kemiskinan nasional dengan Lampung yang semakin sempit, bahkan di Maret 2014 semakin lebih sempit lagi dikarenakan angka kemiskinan nasional yang sedikit meningkat dari semester sebelumnya. 25,00 Angka Kemiskinan Provinsi Lampung dan Nasional, 2009-2014 20,00 15,00 20,22 18,94 16,93 16,57 16,18 15,65 10,00 14,15 13,33 14,86 14,39 14,28 14,21 12,49 12,36 11,96 11,66 11,36 11,46 11,25 10,96 5,00 0,00 Mar 2009 Mar 2010 Mar 2011 Sep 2011 Mar 2012 Sep 2012 Mar 2013 Sep 2013 Mar 2014 Sep 2014 Kota+Desa, Lampung Nasional Berdasarkan daerah tempat tinggal, penduduk miskin terkonsentrasi di perdesaan dengan tingkat kemiskinan sebesar 15,46 persen. Cukup jauh terpaut dengan kemiskinan di perkotaan yang 10,68 persen. Dari sisi jumlah penduduk miskin juga terdapat beda yang signifikan yakni 224,21 ribu jiwa di perkotaan dengan 919,73 ribu jiwa di daerah perdesaan. Penurunan tingkat kemiskinan selama periode Maret 2014-September 2014, lebih signifikan terjadi di daerah urban (perkotaan) yang berkurang 0,40 persen (6,4 ribu jiwa), sedangkan di daerah rural (perdesaan) justru mengalami kenaikan 0,05 persen (7,4 ribu jiwa). Berarti pada periode ini laju peningkatan kesejahteraan penduduk miskin lebih cepat terjadi di perkotaan dibanding di perdesaan. 2 Berita Resmi Statistik No.07/01/18/TH.VII, 2 Januari 2015
Tabel 1. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Provinsi Lampung Menurut Daerah, 2010-2014 Tahun Jumlah Penduduk Miskin (Ribu) Persentase Penduduk Miskin Kota Desa Kota+Desa Kota Desa Kota+Desa 2010 (Maret) 301,73 1 178,20 1 479,93 14,30 20,65 18,94 2011 (Maret) 243,61 1 064,09 1 307,70 12,27 18,54 16,93 2011 (Sept) 226,09 1 062,48 1 288,58 11,32 18,39 16,57 2012 (Maret) 241,10 1 023,39 1 264,48 12,00 17,63 16,18 2012 (Sept) 240,11 990,05 1 230,16 11,88 16,96 15,65 2013 (Maret) 235,47 939,88 1 175,35 11,59 15,99 14,86 2013 (Sept) 224,81 919,95 1 144,76 10,89 15,62 14,39 2014 (Maret) 230,63 912,28 1 142,92 11,08 15,41 14,28 2014 (Sept) 224,21 919,73 1 143,93 10,68 15,46 14,21 2. PERGESERAN GARIS KEMISKINAN Besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh Garis Kemiskinan, karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan. Semakin tinggi Garis Kemiskinan, semakin banyak penduduk yang tergolong sebagai penduduk miskin jika tidak terjadi peningkatan pendapatan. Tabel 2. Garis Kemiskinan dan Perubahannya Menurut Daerah, Maret - September 2014 Garis Kemiskinan (Rp/Kapita/Bln) Penduduk Miskin Daerah/Tahun Jumlah % Makanan Bukan Makanan Total (000 jiwa) (1) (2) (3) (4) (5) (6) Perkotaan Maret 2014 238 575 98 353 336 927 230,63 11,08 September 2014 248 489 101 535 350 024 224,21 10,68 Perubahan (%) 4,16 3,24 3,89-6,43-0,39 Perdesaan Maret 2014 230 820 65 111 295 931 912,28 15,41 September 2014 239 134 68 684 307 818 919,73 15,46 Perubahan (%) 3,60 5,49 4,02 7,44 0,05 Kota+Desa Maret 2014 232 838 73 762 306 600 1 142,92 14,28 September 2014 241 573 77 249 318 822 1 143,93 14,21 Perubahan (%) 3,75 4,73 3,99-1,02-0,07 Sumber: Diolah dari data Susenas Maret 2014 dan September 2014 3 Berita Resmi Statistik No.07/01/18/TH.VII, 2 Januari 2015
Selama periode Maret 2014 September 2014, garis kemiskinan naik Rp. 12.222,- atau 3,99 persen, yaitu dari Rp 306.600,- per kapita per bulan menjadi Rp 318.822,- per kapita per bulan. Terjadinya peningkatan nilai Garis Kemiskinan, mengakibatkan di perdesaan tingkat kemiskinan meningkat. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat pendapatan sebagian penduduk miskin khususnya mereka yang berada di sekitar garis kemiskinan tidak mampu mengimbangi tingginya kenaikan harga. Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM), terlihat bahwa peranan komoditi makanan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan). Pada bulan Maret 2014 yang lalu sumbangan GKM terhadap GK sebesar 75,94 persen. Sedangkan pada bulan September 2014, peranannya sedikit mengalami penurunan menjadi 75,77 persen. Dengan kata lain peningkatan Garis Kemiskinan Maret ke September 2014 lebih dipicu karena kenaikan harga yang lebih tinggi pada komoditi non makanan dibandingkan komoditi makanan. Komoditi makanan yang memberi sumbangan terbesar pada Garis Kemiskinan adalah beras baik di perkotaan maupun di perdesaan yaitu masing-masing sebesar 17,14 persen dan 24,34 persen. Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar ke dua kepada Garis Kemiskinan baik di perkotaan maupun perdesaan, masing-masing sebesar 8,39 persen di daerah perkotaan dan 5,17 persen di perdesaan. Komoditi bukan makanan yang memberi sumbangan besar untuk Garis Kemiskinan adalah biaya perumahan yaitu 21,17 persen di perkotaan dan 24,41 persen di perdesaan. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Daftar Komoditi yang Memberi Pengaruh Besar pada Kenaikan Garis Kemiskinan, September 2014 Komoditi Kota Komoditi Desa (1) (2) (3) (4) Makanan (% terhadap GKM) (% terhadap GKM) Beras 17,14 Beras 24,34 Rokok kretek filter 8,39 Rokok kretek filter 5,17 Telur ayam ras 3,23 Telur ayam ras 2,92 Tempe 2,35 Gula pasir 2,91 Gula pasir 2,33 Tempe 2,23 Mie instan 1,95 Mie instan 1,79 Kopi 1,31 Bawang merah 1,62 Bawang merah 1,30 Cabe rawit 1,62 Tahu 1,21 Kopi 1,53 Bukan Makanan (% terhadap (% terhadap GKNM) GKNM) Perumahan 21,17 Perumahan 24,41 Listrik 10,65 Bensin 10,93 Pakaian jadi anak-anak 10,58 Pakaian jadi anak-anak 9,47 Bensin 8,04 Listrik 8,45 Pendidikan 7,21 Pakaian jadi perempuan dewasa 7,43 Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) September 2014 4 Berita Resmi Statistik No.07/01/18/TH.VII, 2 Januari 2015
3. INDEKS KEDALAMAN KEMISKINAN DAN INDEKS KEPARAHAN KEMISKINAN Persoalan kemiskinan bukan hanya sekadar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan. Selain upaya memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan penanggulangan kemiskinan juga terkait dengan bagaimana mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan. Pada periode Maret 2014 - September 2014, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) naik dari 2,229 pada Maret 2014 menjadi 2,296 pada Maret 2014. Hal ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin sedikit menjauhi garis kemiskinan. Demikian pula dengan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) naik dari 0,531 pada Maret 2014 menjadi 0,561 pada September 2014. Hal ini mengindikasikan bahwa variasi pengeluaran diantara penduduk miskin semakin besar. Dengan kata lain ketimpangan pengeluaran penduduk miskin semakin melebar. Tabel 4. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P 1 ) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P 2 ) di Lampung Menurut Daerah, Maret 2014 September 2014 Tahun Kota Desa Kota + Desa Indeks Kedalaman Kemiskinan (P 1 ) (1) (2) (3) (4) Maret 2014 1,847 2,364 2,229 September 2014 1,902 2,435 2,296 Indeks Keparahan Kemiskinan (P 2 ) Maret 2014 0,437 0,564 0,531 September 2014 0,514 0,578 0,561 Sumber: Diolah dari data Susenas September 2013 dan Maret 2014 Apabila dibandingkan antara daerah perkotaan dan perdesaan, nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P 1 ) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P 2 ) di daerah perdesaan lebih tinggi dibandingkan dengan di perkotaan. Pada September 2014, nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P 1 ) untuk perkotaan hanya 1,902 sementara di daerah perdesaan mencapai 2,435. Nilai Indeks Keparahan Kemiskinan (P 2 ) untuk perkotaan hanya 0,514 sementara di daerah perdesaan mencapai 0,578. Dapat disimpulkan bahwa kesenjangan penduduk miskin perdesaan lebih tinggi dibanding penduduk miskin perkotaan demikian pula dengan ketimpangan penduduk miskin perdesaan juga lebih tinggi dibanding penduduk perkotaan. 4. DISTRIBUSI PENGELUARAN Hasil Susenas selain dapat digunakan untuk menghitung perkembangan tingkat kemiskinan secara lebih luas dapat digunakan untuk menganalisis ketimpangan pendapatan secara tahunan melalui pendekatan distribusi pengeluaran penduduknya. Menggunakan Kriteria Bank Dunia dan penghitungan Gini Rasio diperoleh angka untuk Lampung adalah seperti disajikan pada tabel berikut ; 5 Berita Resmi Statistik No.07/01/18/TH.VII, 2 Januari 2015
Tabel 5. Distribusi Pengeluaran Penduduk menurut Kriteria Bank Dunia dan Gini Rasio Lampung dan Nasional, September 2013 September 2014 Kriteria Bank Dunia September 2014 Gini Rasio Indikator Lampung Nasional (1) (2) (3) 40% bawah 20,75 16,48 40 % tengah 37,22 34,83 20% atas 42,03 48,69 September 2013 0,3474 0,4059 September 2014 0,3312 0,4141 Sumber: Diolah dari data Susenas September 2013 dan September 2014 Dari Tabel 5 menunjukkan secara umum distribusi pengeluaran di Lampung lebih merata dibandingkan nasional baik dari Kriteria Bank Dunia maupun besaran Gini Rasio. Pada lapisan 40% penduduk ekonomi terbawah ternyata memiliki share distribusi pengeluaran sebesar 20,75 persen. Sedangkan pada tingkat nasional pada kelompok penduduk pada level ekonomi yang sama hanya memiliki share 16,48 persen. Dan pada penduduk high class (20% teratas) share distribusi pengeluaran nasional sangat dominan yakni 48,69 persen sedangkan di Lampung 42,03 persen. Menurut Kriteria Bank Dunia Share distribusi pengeluaran 12 persen ke bawah pada level penduduk 40% terbawah menunjukkan ketimpangan tinggi. Ketimpangan pengeluaran yang lebih rendah di Lampung dibandingkan nasional juga ditunjukkan dengan Gini Rasio dimana pada September 2014 angka Lampung sebesar 0,3312, sementara angka nasional sebesar 0,4141. Gini Rasio memiliki range nilai antara 0 sampai dengan 1, dimana 0 merupakan distribusi teoritis pemerataan sempurna dan 1 menggambarkan ketimpangan sempurna. Atau semakin besar Gini Rasio menunjukkan ketimpangan yang semakin tinggi. Perkembangan antar waktu pada periode September 2013-September 2014 menunjukkan ketimpangan pengeluaran yang semakin rendah (semakin merata) di Lampung dan berbanding terbalik dengan kondisi nasional yang ketimpangannya semakin tinggi. 5. EVALUASI PENERIMA RASKIN Susenas walaupun didesain untuk penghitungan kemiskinan makro tetapi pada 2014 juga memuat pertanyaan yang ditujukan untuk mengevaluasi penerima raskin pada kurun waktu 3 bulan sebelum survei. Dari hasil survei menunjukkan bahwa raskin di Lampung yang besaran pagunya ditujukan untuk sekitar 574 ribu rumahtangga ternyata dinikmati oleh 1,36 juta rumah tangga. Dengan kondisi ini maka jumlah raskin yang diterima pun menjadi berkurang, tidak lagi 15 kg per bulan sebagaimana ketentuan. Bahkan distribusi penerima raskin mencakup rumah tangga yang berada pada level yang tidak miskin. 6 Berita Resmi Statistik No.07/01/18/TH.VII, 2 Januari 2015
Dari Tabel 6 terlihat bahwa 84,41 persen rumahtangga pada Kuintail 1 menerima raskin. Kuintail 1 adalah 1/5 proporsi dari seluruh rumah tangga di Lampung yang berada di posisi level ekonomi terbawah. Sebagian besar dari mereka adalah berstatus rumahtangga miskin. Raskin ditujukan untuk rumahtangga yang berada di 25 persen terbawah. Dengan kata lain seharusnya pada Kuintail 1 seluruh rumah tangga menerima raskin. Faktanya pada seluruh level ekonomi sebagian rumah tangga menerima raskin dengan pola semakin tinggi Kuintail semakin sedikit persentase rumah tangga yang menerima raskin. Tetapi yang cukup memprihatinkan adalah pada Kuintail 5 atau level ekonomi tertinggi ada 32,83 persen yang menerima raskin. Akibat dari sistem pembagian pemerataan ini maka jumlah raskin yang diterima juga tidak sesuai ketentuan. Pada kuintail 1 yang seharusnya dalam kurun 3 bulan menerima 45 kg beras terpaksa hanya mendapatkan rata-rata 17 kg. Tabel 6. Distribusi Pengeluaran Rumah Tangga menurut Penerimaan Raskin di Lampung, September 2014 Distribusi Rumah Tangga % Rumahtangga yang Menerima Raskin Rata-rata jumlah raskin yang diterima dalam kurun 3 bulan (kg) (1) (2) (3) Kuintail 1 (20% Rumah Tangga Terbawah 1) 84,41 17,00 Kuintail 2 (20% Rumah Tangga Terbawah 2) 77,16 16,54 Kuintail 3 (20% Rumah Tangga Menengah) 72,97 17,06 Kuintail 4 (20% Rumah Tangga Teratas 2) 57,25 17,80 Kuintail 5 (20% Rumah Tangga Teratas 1) 32,83 15,50 Total (Jumlah Ruta 2,088 juta) 64,93 16,89 Sumber: Diolah dari data Susenas September 2014 Catatan: Jumlah Penerima Raskin sesuai Pagu sekitar 574 ribu rumah tangga 7 Berita Resmi Statistik No.07/01/18/TH.VII, 2 Januari 2015
PENJELASAN TEKNIS DAN SUMBER DATA Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Dengan pendekatan ini, dapat dihitung Headcount Index, yaitu persentase penduduk miskin terhadap total penduduk. Metode yang digunakan adalah menghitung Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua komponen yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan- Makanan (GKBM). Penghitungan Garis Kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki ratarata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan. Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kkalori per kapita perhari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dll). Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar nonmakanan diwakili oleh 36 jenis komoditi. Sumber data utama yang dipakai untuk menghitung tingkat kemiskinan tahun 2012 adalah data SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional). Jumlah sampel sebesar ± 2.330 rumah tangga dimaksudkan supaya data kemiskinan dapat disajikan sampai tingkat provinsi. Sebagai informasi tambahan, juga digunakan hasil survei SPKKD (Survei Paket Komoditi Kebutuhan Dasar), yang dipakai untuk memperkirakan proporsi dari pengeluaran masing-masing komoditi pokok bukan makanan.. 8 Berita Resmi Statistik No.07/01/18/TH.VII, 2 Januari 2015
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI LAMPUNG Informasi lebih lanjut hubungi: Mukhamad Mukhanif, M.Si Kepala Bidang Statistik Sosial Telepon: 482909, Pesawat 132 Jl. Basuki Rahmat No. 54 Teluk Betung Bandar Lampung 35215 Telepon (0721) 482909, 484329; Faksimili (0721) 484329 Email: bps1800@bps.go.id Website: lampung.bps.go.id