ANALISIS SAMBUNGAN PAKU

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III LANDASAN TEORI. Kayu memiliki berat jenis yang berbeda-beda berkisar antara

Pertemuan IV,V,VI,VII II. Sambungan dan Alat-Alat Penyambung Kayu

A. IDEALISASI STRUKTUR RANGKA ATAP (TRUSS)

A. IDEALISASI STRUKTUR RANGKA ATAP (TRUSS)

ANALISIS SAMBUNGAN PAKU

V. BATANG TEKAN. I. Gaya tekan kritis. column), maka serat-serat kayu pada penampang kolom akan gagal

I. Perencanaan batang tarik

PERBANDINGAN PERENCANAAN SAMBUNGAN KAYU DENGAN BAUT DAN PAKU BERDASARKAN PKKI 1961 NI-5 DAN SNI 7973:2013

Sambungan diperlukan jika

a home base to excellence Mata Kuliah : Perancangan Struktur Baja Kode : TSP 306 Sambungan Baut Pertemuan - 12

KAJIAN KOEFISIEN PASAK DAN TEGANGAN IZIN PADA PASAK CINCIN BERDASARKAN REVISI PKKI NI DENGAN CARA EXPERIMENTAL TUGAS AKHIR

Soal 2. b) Beban hidup : beban merata, w L = 45 kn/m beban terpusat, P L3 = 135 kn P1 P2 P3. B C D 3,8 m 3,8 m 3,8 m 3,8 m

VI. BATANG LENTUR. I. Perencanaan batang lentur

LANDASAN TEORI. Katungau Kalimantan Barat, seorang perencana merasa yakin bahwa dengan

d b = Diameter nominal batang tulangan, kawat atau strand prategang D = Beban mati atau momen dan gaya dalam yang berhubungan dengan beban mati e = Ek

Pertemuan IX : SAMBUNGAN BAUT (Bolt Connection)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

KAJIAN SAMBUNGAN BATANG TEKAN DAN MOMEN LENTUR LAMINATED VENEER LUMBER (LVL) KAYU SENGON (PARASERIANTHES FALCATARIA) DENGAN ALAT PENGENCANG PAKU

PENGENALAN ALAT SAMBUNG KAYU

PLATE GIRDER A. Pengertian Pelat Girder

Penyelesaian : Penentuan beban kerja (Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1983) : Penutup atap (genteng) = 50 kg/m2

III. BATANG TARIK. A. Elemen Batang Tarik Batang tarik adalah elemen batang pada struktur yang menerima gaya aksial tarik murni.

a home base to excellence Mata Kuliah : Perancangan Struktur Baja Kode : TSP 306 Batang Tarik Pertemuan - 2

2- ELEMEN STRUKTUR KOMPOSIT

BAB III LANDASAN TEORI. dasar ke permukaan tanah untuk suatu situs, maka situs tersebut harus

BAB III LANDASAN TEORI. untuk bangunan gedung (SNI ) dan tata cara perencanaan gempa

Struktur Baja 2. Kolom

BAB III LANDASAN TEORI. Bangunan Gedung SNI pasal

Komponen Struktur Tarik

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat

ANALISIS BALOK BERSUSUN DARI KAYU LAPIS DENGAN MENGGUNAKAN PAKU SEBAGAI SHEAR CONNECTOR (EKSPERIMENTAL) TUGAS AKHIR

PLATE GIRDER A. Pengertian Pelat Girder

BAB 1 PENDAHULUAN...1

BAHAN KULIAH STRUKTUR BAJA 1. Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik dan Informatika Undiknas University

BAB III LANDASAN TEORI. A. Pembebanan Pada Pelat Lantai

BAB 2 DASAR TEORI Dasar Perencanaan Jenis Pembebanan

PERENCANAAN JEMBATAN RANGKA BAJA SUNGAI AMPEL KABUPATEN PEKALONGAN

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Rangka kuda-kuda baja ringan

STRUKTUR BAJA 1 KONSTRUKSI BAJA 1

DAFTAR NOTASI BAB I β adalah faktor yang didefinisikan dalam SNI ps f c adalah kuat tekan beton yang diisyaratkan f y

KAJIAN PEMANFAATAN KABEL PADA PERANCANGAN JEMBATAN RANGKA BATANG KAYU

MODUL 6. S e s i 5 Struktur Jembatan Komposit STRUKTUR BAJA II. Dosen Pengasuh : Ir. Thamrin Nasution

STUDI PERILAKU TEKUK TORSI LATERAL PADA BALOK BAJA BANGUNAN GEDUNG DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ABAQUS 6.7. Oleh : RACHMAWATY ASRI ( )

Gambar 5.1. Proses perancangan

PERHITUNGAN IKATAN ANGIN (TIE ROD BRACING )

Spesifikasi desain untuk konstruksi kayu

Integrity, Professionalism, & Entrepreneurship. Mata Kuliah : Perancangan Struktur Baja Kode : CIV 303. Sambungan Baut.

PERHITUNGAN TUMPUAN (BEARING ) 1. DATA TUMPUAN. M u = Nmm BASE PLATE DAN ANGKUR ht a L J

DAFTAR NOTASI. = Luas efektif bidang geser dalam hubungan balok-kolom (mm²) = Luas penampang tiang pancang (mm²)

BAB III LANDASAN TEORI Klasifikasi Kayu Kayu Bangunan dibagi dalam 3 (tiga) golongan pemakaian yaitu :

BAB III PEMODELAN STRUKTUR

Desain Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa

ABSTRAK. Kata Kunci : Gedung Parkir, Struktur Baja, Dek Baja Gelombang

sejauh mungkin dari sumbu netral. Ini berarti bahwa momen inersianya

Henny Uliani NRP : Pembimbing Utama : Daud R. Wiyono, Ir., M.Sc Pembimbing Pendamping : Noek Sulandari, Ir., M.Sc

Spesifikasi desain untuk konstruksi kayu

Aplikasi EYM Model Pada Analisis Tahanan Lateral Sambungan Sistim Morisco-Mardjono: Sambungan Tiga Komponen Bambu Dengan Material Pengisi Rongga

X. TEGANGAN GESER Pengertian Tegangan Geser Prinsip Tegangan Geser. [Tegangan Geser]

DAFTAR NOTASI. A cp. = Luas yang dibatasi oleh keliling luar penampang beton, mm² = Luas efektif bidang geser dalam hubungan balokkolom

PERENCANAAN RANGKA ATAP BAJA RINGAN BERDASARKAN SNI 7971 : 2013 IMMANIAR F. SINAGA. Ir. Sanci Barus, M.T.

SAMBUNGAN BATANG TEKAN DAN MOMEN LENTUR LAMINATED VENEER LUMBER (LVL) KAYU SENGON (Paraserianthes falcataria) DENGAN ALAT PENGENCANG BAUT

MODUL 6. S e s i 5 Struktur Jembatan Komposit STRUKTUR BAJA II. Dosen Pengasuh : Ir. Thamrin Nasution

Beberapa hal yang dapat diperoleh dari perhitungan analisis sambungan tiang

PERHITUNGAN PANJANG BATANG

Nessa Valiantine Diredja 1 dan Yosafat Aji Pranata 2

Torsi sekeliling A dari kedua sayap adalah sama dengan torsi yang ditimbulkan oleh beban Q y yang melalui shear centre, maka:

DAFTAR NOTASI. xxvii. A cp

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN

PERHITUNGAN BALOK DENGAN PENGAKU BADAN

BAB III METODE PERANCANGAN JEMBATAN RANGKA BAJA KERETA API. melakukan penelitian berdasarkan pemikiran:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

STRUKTUR JEMBATAN BAJA KOMPOSIT

VII. KOLOM Definisi Kolom Rumus Euler untuk Kolom. P n. [Kolom]

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. gedung dalam menahan beban-beban yang bekerja pada struktur tersebut. Dalam. harus diperhitungkan adalah sebagai berikut :

BAB III METODOLOGI PERANCANGAN. Untuk mempermudah perancangan Tugas Akhir, maka dibuat suatu alur

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERHITUNGAN TUMPUAN (BEARING )

PERENCANAAN JEMBATAN KALI TUNTANG DESA PILANGWETAN KABUPATEN GROBOGAN

5- STRUKTUR LENTUR (BALOK)

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BANK MANDIRI JL. NGESREP TIMUR V / 98 SEMARANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

D = Beban mati atau momen dan gaya dalam yang berhubungan dengan beban mati e = Eksentrisitas dari pembebanan tekan pada kolom atau telapak pondasi

DAFTAR NOTASI. = Luas yang dibatasi oleh keliling luar penampang beton, mm² = Luas efektif bidang geser dalam hubungan balokkolom

BAB III LANDASAN TEORI. A. Pembebanan

BAB III ESTIMASI DIMENSI ELEMEN STRUKTUR

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RUSUNAWA UNIMUS

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR KONSTRUKSI BAJA GEDUNG DENGAN PERBESARAN KOLOM

PENGGAMBARAN DIAGRAM INTERAKSI KOLOM BAJA BERDASARKAN TATA CARA PERENCANAAN STRUKTUR BAJA UNTUK BANGUNAN GEDUNG (SNI ) MENGGUNAKAN MATLAB

Integrity, Professionalism, & Entrepreneurship. Mata Kuliah : Perancangan Struktur Baja Kode : CIV 303. Balok Lentur.

PREDIKSI KEKUATAN LATERAL PANEL KAYU

L p. L r. L x L y L n. M c. M p. M g. M pr. M n M nc. M nx M ny M lx M ly M tx. xxi

KONSEP PERENCANAAN STRUKTUR BAJA WEEK 2

= keliling dari pelat dan pondasi DAFTAR NOTASI. = tinggi balok tegangan beton persegi ekivalen. = luas penampang bruto dari beton

dengan ukuran batang 4/6 cm dan panjang batang (L) menyesuaikan dengan jarak klos. Sedangkan klos menggunakan ukuran 4/6 cm dan L = 10 cm skala penuh

PERHITUNGAN GORDING DAN SAGROD

MODUL 3 STRUKTUR BAJA 1. Batang Tarik (Tension Member)

Dimana : g = berat jenis kayu kering udara

penelitian dalam rangka mencari jawaban atas permasalahan penelitian yang

Transkripsi:

ANALISIS SAMBUNGAN PAKU 4 Alat sambung paku masih sering dijumpai pada struktur atap, dinding, atau pada struktur rangka rumah. Tebal kayu yang disambung biasanya tidak terlalu tebal berkisar antara 20 mm sampai dengan 40 mm. Paku bulat merupakan jenis paku yang lebih mudah diperoleh dari pada paku ulir. Paku ulir (deformed nail) memiliki koefisien gesekan yang lebih besar dari pada paku bulat sehingga tahanan cabutnya lebih tinggi. Tahanan lateral sambungan dengan alat sambung paku dihitung berdasarkan ketentuan-ketentuan yang ada pada SNI-5 Tata cara perencanaan konstruksi kayu (2002). I. Tahanan lateral acuan Tahanan lateral acuan dari suatu sambungan yang menggunakan paku baja satu irisan yang dibebani secara tegak lurus terhadap sumbu alat pengencang dan dipasang tegak lurus sumbu komponen struktur, diambil sebagai nilai terkecil dari nilai-nilai yang dihitung menggunakan semua persamaan pada Tabel 7 dan dikalikan dengan jumlah alat pengencang (n f ). Untuk sambungan yang terdiri atas tiga komponen sambungan dengan dua irisan, tahanan lateral acuan

42 Dasar-Dasar Perencanaan Sambungan Kayu diambil sebesar dua kali tahanan lateral acuan satu irisan yang terkecil. Tabel 7. Tahanan lateral acuan satu paku (Z) pada sambungan dengan satu irisan yang menyambung dua komponen Moda kelelehan Tahanan lateral (Z) I s III m Z 3,3Dt s F es Z K D 3,3k 1 DpF em dengan: K 1 2R D e k 1 2 1 R 1 e 2 F yb 1 2 R e D 2 3F p 2 III s Z 3,3k 2 Dt s F em dengan: K D 2 R e em IV Catatan: k 2 1 Z 2 1 R e 2 F yb 1 2 R e D 2 R e 3F t 2 3,3D 2 F 2Fem yb K D 3 1 R e em s 16 = kedalaman penetrasi efektif batang alat pengencang pada komponen pemegang (lihat Gambar 20) K D = 2,2 : untuk D 4,3 mm = 0,38D+0,56: untuk 4,3 mm D 6,4 mm = 3,0 : untuk D 6,4 mm

R e = F em / F es BAB 4 Analisis Sambungan Paku 43 F e = kuat tumpu kayu = 114,45G 1,84 (N/mm 2 ) dimana G adalah berat jenis kayu kering oven F yb = kuat lentur paku (lihat Tabel 9) Nilai kuat tumpu kayu untuk beberapa nilai berat jenis dapat dilihat pada Tabel 8. Semakin besar nilai berat jenis suatu kayu, maka semakin besar pula nilai kuat tumpunya. Umumnya alat sambung paku digunakan pada kayu dengan berat jenis tidak tinggi mengingat mudahnya paku untuk tekuk (buckling). Tekuk pada paku juga disebabkan oleh tingginya nilai banding antara panjang dan diameter paku (angka kelangsingan) sebagai ciri khas alat sambung paku. Tabel 8. Kuat tumpu paku F e untuk berbagai nilai berat jenis kayu Berat jenis kayu G 0,40 0,45 0,50 0,55 0,60 0,65 0,70 Nilai F e (N/mm 2 ) 21,21 26,35 31,98 38,11 44,73 51,83 59,40 Nilai kuat lentur paku dapat diperoleh dari supplier atau distributor paku. Pengujian kuat lentur paku dilakukan dengan metode three-point bending test seperti pada ASTM F1575-03. Untuk jenis paku bulat pada umumnya, kuat lentur paku dapat dilihat pada Tabel 9 (ASCE, 1997). Kuat lentur paku menurun dengan semakin dengan meningkatnya diameter paku. Jenis paku lainnya

seperti paku baja

44 Dasar-Dasar Perencanaan Sambungan Kayu (hardened steel nails) memiliki kuat lentur yang lebih tinggi dari pada nilai di Tabel 9. Dimensi paku yang meliputi diameter dan panjang dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 9. Kuat lentur paku untuk berbagai diameter paku bulat Diameter paku Kuat lentur paku F yb 3,6 mm 689 N/mm 2 3,6 mm < D 4,7 mm 620 N/mm 2 4,7 mm < D 5,9 mm 552 N/mm 2 5,9 mm < D 7,1 mmm 483 N/mm 2 7,1 mm < D 8,3 mm 414N/mm 2 D > 8,3 mm 310 N/mm 2 Tabel 10. Berbagai ukuran diameter dan panjang paku Jenis paku Diameter (mm) Panjang (mm) CN50 2,8 51 CN65 3,1 63 CN75 3,4 76 CN90 3,8 89 CN100 4,2 102 CN110 5,2 114 BAB 4 Analisis Sambungan Paku 45

II. Tahanan cabut paku Selain menahan gaya lateral, alat sambung paku juga dimungkinkan untuk menerima gaya aksial cabut seperti pada Gambar 20. Tahanan cabut paku tidak boleh diperhitungkan untuk alat sambung paku yang ditanam ke dalam serat ujung. Tahan cabut acuan pada sambungan satu paku dengan batang paku ditanam pada sisi kayu adalah Z w = 31,6DpG 2,5 (N) dimana D adalah diameter paku, p adalah kedalaman penetrasi kayu dan G adalah berat jenis kayu kering. 700 600 500 Douglas fir cabut (N) Tahanan 400 300 200 Tsugi 100 0 0 1 2 3 4 5 Slip Gambar 20. Pengujain tahanan cabut paku dan grafik hasil pengujian

46 Dasar-Dasar Perencanaan Sambungan Kayu III. Geometrik sambungan paku Spasi dalam satu baris ( a ). Pada semua arah garis kerja beban lateral terhadap arah serat kayu, spasi minimum antar alat pengencang dalam suatu baris diambil sebesar 10 D bila digunakan pelat sisi dari kayu dan minimal 7 D untuk pelat sisi dari baja. Spasi antar baris ( b ). Pada semua arah garis kerja beban lateral terhadap arah serat kayu, spasi minimum antar baris adalah 5 D. e (a) b c a (b) a : spasi dalam satu baris b d b : spasi antar baris a c : jarak ujung e d : jarak tepi dengan beban e : jarak tepi tanpa beban e c Gambar 21. Geometrik sambungan paku: (a) sambungan horisontal, dan (b) sambungan vertikal Jarak ujung ( c ). Jarak minimum dari ujung komponen struktur ke pusat alat pengencang terdekat diambil sebagai berikut: 1. untuk beban tarik lateral 15 D untuk pelat sisi dari kayu,

10 D untuk pelat sisi dari baja, dan BAB 4 Analisis Sambungan Paku 47 2. untuk beban tekan lateral 10 D untuk pelat sisi dari kayu, 5 D untuk pelat sisi dari baja. Jarak tepi (jarak tepi dengan beban, d, dan jarak tepi tanpa beban, e ). Jarak minimum dari tepi komponen struktur ke pusat alat pengencang terdekat diambil sebesar: 5 D pada tepi yang tidak dibebani, 10 D pada tepi yang dibebani. IV. Faktor koreksi sambungan paku (b) 1. Kedalaman penetrasi C d p p (a) 4D v p p Gambar 22. Sambungan pak dua irisan (a) dan u satu irisan (b)

48 Dasar-Dasar Perencanaan Sambungan Kayu Tahanan lateral acuan dikalikan 3. dengan faktor kedalaman Sambungan paku miring C tn penetrasi (p), sebagaimana Unuk kondisi tertentu, dinyatakan berikut ini. Untuk: p 12D, penempatan paku pada kayu harus dilakukan secara miring maka (tidak tegak lurus) seperti 6D p 12D, p 6D, pada Gambar 24. Pada sambungan 2. Serat ujung C eg seperti ini, tahanan lateral acuan harus dikalikan dengan Tahanan lateral acuan harus dikalikan dengan faktor serat ujung, C eg = 0,67, untuk alat pengencang yang ditanamkan ke dalam serat ujung kayu. faktor paku miring, sebesar 0,83. C tn, Paku Paku Batang pemegang Gambar 23. Sambungan paku pada serat ujung kayu

BAB 4 Analisis Sambungan Paku 49 Kayu samping Paku miring Kayu utama Gambar 24. Sambungan paku miring 4. Sambungan diafragma C di Faktor koreksi ini hanya berlaku untuk sambungan rangka kayu dengan plywood seperti pada struktur diafragma atau shear wall (dinding geser). Nilai faktor koreksi ini umumnya lebih besar dari pada 1,00. IV. Contoh analisis sambungan paku Contoh 1 Rencanakan sambungan perpanjangan seperti gambar di bawah ini dengan menggunakan alat sambung paku. Kayu penyusun sambungan memiliki berat jenis 0,5. Asumsikan nilai ( ) sebesar 0,8.

50 Dasar-Dasar Perencanaan Sambungan Kayu 10 kn 2,5/12 5/12 20 kn 10 kn 2,5/12 Gambar contoh soal 1 (tampak atas) Penyelesaian Dicoba paku CN100 (diameter 4,2 mm dan panjang 102 mm). Menghitung tahanan lateral acuan satu paku (Z) Diameter paku ( D ) = 4,2 mm Kuat lentur paku ( F yb ) = 620 N/mm 2 Kuat samping dan kayu utama dianggap memiliki berat jenis yang sama yaitu 0,5, maka F es = F em = 31,98 N/mm 2 dan R e 1,00. Tebal kayu samping ( t s ) = 25 mm Penetrasi pada komponen pemegang ( p ) p = 102 mm 25 mm 50 mm = 27 mm K D = 2,2 (untuk paku dengan diameter < 4,3 mm) Tahanan lateral acuan ( Z ) satu irisan Moda kelelehan I s

3,3Dt s F es = 3,3x4,2x25x31,98 = 10074 N Z K D 2,2

BAB 4 Analisis Sambungan Paku 51

Moda kelelehan III m k 12 1 R 1 e 2 F yb 1 2R D 2 3F em e p2 2x620x 1 2x1 4,2 2 = 1,22 = 1 2 1 1 3x31,98x27 2 Z 3,3k 1 DpF em = 3,3x1,22x4,2x27x31,98 = 4432 N K D 1 2R e 2,2 1 2x1 Moda kelelehan III s k 2 1 2 1 R 2F yb 1 2R e D 2 R e 3F t 2 e em s = 1 2 1 1 2x620 1 2x1 4,2 2 = 1,26 Z 1 3x31,98x25 2 3,3k 2 Dt s F em = 3,3x1,26x4,2x25x31,98 = 4221 N K 2 R 2,2 2 1 D e Moda kelelehan IV 3,3D 2 F 2Fem yb = 3,3x 4,2 2 2x31,98x620 = 4302 N Z K 3 1 R 2,2 3 1 1 D e

52 Dasar-Dasar Perencanaan Sambungan Kayu Tahanan lateral acuan (N) Moda kelelehan 10074 I s 4432 III m 4221 III s 4302 IV Tahanan lateral acuan untuk dua irisan, Z = 2 x 4221 = 8442 N Menghitung tahanan lateral acuan terkoreksi ( Z ' ) Nilai koreksi penetrasi ( C d ) 16= 27 mm > 6D (6 x 4,2 = 25,2 mm) 1< 12D (12 x 4,2 = 50,4 mm), maka: p 27 C d = = = 0,536 12D 12x4,2 Z ' C d Z ( C di, C eg, dan C tn tidak diperhitungkan) Z ' 0,536x8442 Z ' = 4525 N Menghitung tahanan lateral ijin satu paku ( Z u ) Z u z Z ' Z u 0,8x0,65x4525

Z u = 2353 N BAB 4 Analisis Sambungan Paku 53 Menghitung jumlah paku ( n f ) n f = P 20000 = = 8,5 paku Z u 2353 (dipasang sebanyak 10 paku seperti gambar di bawah) 3 2x2,5/12 6 5/12 3 C L 7,5 6x5 7,5 Satuan dalam cm Ketentuan penempatan alat sambung paku: Spasi dalam satu baris ( a ) Jarak antar baris ( b ) Jarak ujung ( c ) Jarak tepi tidak dibebani ( e ) 1= 42 mm 50 mm 2= 21 mm 30 mm 3= 63 mm 75 mm 4= 21 mm 30 mm jenis kayu Contoh 2 adalah 0,55 dan Hitunglah P yangfaktor waktu diijinkan darisebesar 1,00. sambungan satu irisan di bawah ini, jika paku yang dipergunakan P 5/12 adalah CN75, berat

54 Dasar-Dasar Perencanaan Sambungan Kayu Penyelesaian Menghitung tahanan lateral acuan satu baut Z Paku CN75 memiliki diameter 3,4 mm dan panjang 76 mm Kuat lentur paku F yb = 689 N/mm 2 Kuat tumpu kayu; F F = 38,11 N/mm 2 dan R 1,00 es em e Tebal kayu penyambung (tebal kayu terkecil) = 30 mm Kedalaman penetrasi p = 76 mm - 30 mm = 46 mm K D = 2,2 (diameter paku < 4,3 mm) Tahanan lateral acuan (N) Moda kelelehan 5831 I s 3126 III m 2163 III s 1622 IV Menghitung tahanan lateral acuan terkoreksi Z ' Nilai koreksi penetrasi C d P = 46 mm > 12D (12x3,4 = 40,8 mm) C d 1,00 Z ' C d Z Z ' 1,00x1622 1622 N BAB 4 Analisis Sambungan Paku 55

Menghitung gaya tarik maksimum sambungan P P n f z Z ' P 12x1,00x0,65x1622 16 12651 N Gaya tarik P maksimum adalah 12,6 kn Contoh 3 Tampak samping P Tampak atas 5/12 2x3/12 2x3 4 Ga H mb ar it con toh u soaln 3 gl 2 4x3 Satuan dalam cm gaya tarik P dari sambungan ah buhul di atas yang tersusun be dari kayu dengan berat jenis sa 0,6 dan paku CN65. rn Asumsikan nilai faktor ya waktu sebesar 0,8.

56 Dasar-Dasar Perencanaan Sambungan Kayu Penyelesaian Menghitung tahanan lateral acuan satu baut Z satu irisan Paku CN65 memiliki diameter = 3,1 mm dan panjang = 63 mm Kuat lentur paku F yb 689 N / mm 2 Kuat tumpu kayu; F F = 44,73 N/mm 2 dan R es em e 1,00 Tebal kayu samping t s = 30 mm Kedalaman penetrasi p = 63 mm 30 mm = 33 mm Kontrol overlapping (v) v = 2 x (p -0,5t m ) = 2 x (33-25) = 16 mm > 4D (4x3,1 = 12,4 mm) K D = 2,2 (diameter paku < 4,3 mm) Tahanan lateral acuan (N) Moda kelelehan 6240 I s 2441 III m 2248 III s 1461 IV Karena penempatan paku pada dua sisi, maka tahanan lateral acuan: Z = 2 x 1461 N = 2921 N Menghitung tahanan lateral acuan terkoreksi Z ' Nilai koreksi penetrasi C d 16= 33 mm > 6D (6 x 3,1= 18,6 mm) 1< 12D (12 x 3,1 = 37,2 mm), maka: BAB 4 Analisis 57

Sambungan Paku C d = maka C d 37 33,2 0,89 p = 33 = 0,89 12D 37,2 Z ' C d Z 0,89x2921 N 2599 N Menghitung gaya tarik maksimum sambungan P P n f z Z ' P 9x0,8x0,65x2599 12163 N Gaya tarik P maksimum adalah 12 kn Contoh 4 2/12 20 kn 5/12 5/12 20 kn 2/12 Gambar contoh soal 4 (tampak atas) Rencanakan sambungan perpanjangan seperti gambar di atas dengan menggunakan alat sambung paku CN65. Kayu penyusun sambungan memiliki berat jenis 0,5. Asumsikan nilai sebesar 1,00.

58 Dasar-Dasar Perencanaan Sambungan Kayu Penyelesaian Menghitung tahanan lateral acuan satu baut Z satu irisan Paku CN65 memiliki diameter = 3,1 dan panjang 63 mm. Kuat lentur paku F yb 689 N / mm 2 Kuat tumpu kayu; F es F em 31,98 N / mm 2 dan R e 1,00 Kedalaman penetrasi p = 63 mm 20 mm = 43 mm Kontrol overlapping (v) v = 2 x (p -0,5t m ) = 36 mm > 4D (4x3,1 = 12,4 mm) K D = 2,2 (diameter paku < 4,3 mm) Tahanan lateral acuan (N) Moda kelelehan 2249 III m 1233 III s 1235 IV Karena penempatan paku pada dua sisi, maka tahanan lateral acuan: Z = 2 x 1233 N = 2466 N Menghitung nilai koreksi penetrasi C d P = 46 mm > 12D (12x3,4 = 40,8 mm) C d 1,00 Menghitung tahanan lateral acuan terkoreksi Z ' Z ' C d Z 1,00x2466 2466 N BAB 4 Analisis Sambungan Paku 59

Menghitung jumlah paku n f P 20000 12,5 15 paku z Z ' 1,00x0,65x2466 C L 2x2,5/12 4x3 5/12 7,5 6x5 7,5 Satuan dalam cm Tampak depan (separuh bentang) Contoh 5 20 kn Satuan dalam mm 40/150 30 kn 45 2x25/150 25 40 25 Gambar contoh 5 Rencanakan sambungan seperti gambar di atas dengan menggunakan

alat sambung paku CN50. Kayu penyusun sambungan memiliki berat jenis 0,5. Asumsikan = 1,0, C eg = 1,0, dan C tn = 1,0.

60 Dasar-Dasar Perencanaan Sambungan Kayu Penyelesaian Menghitung tahanan lateral acuan satu baut Z satu irisan Diameter paku = 2,8 mm dan panjang paku = 51 mm Kuat lentur paku F yb = 689 N/mm 2 Kuat tumpu kayu untuk berat jenis 0,5: F es = F em = 31,98 N/mm 2, R e 1,00 Tebal kayu: t s = 25 mm, dan t m = 50 mm Kedalaman penetrasi p = 51 mm 25 mm = 26 mm Kontrol overlapping (v) v = 2 x (p -0,5t m ) = 12 mm > 4D (4x2,8 = 11,2 mm) K D = 2,2 (diameter paku < 4,3 mm) Tahanan lateral acuan (N) Moda kelelehan 1305 III m 1266 III s 1008 IV Karena penempatan paku pada dua sisi, maka tahanan lateral acuan: Z = 2 x 1008 N = 2016 N Menghitung nilai koreksi penetrasi ( C d ) P = 26 mm > 6D (6x2,8 = 16,8 mm) < 12D (12x2,8 = 33,6 mm)

BAB 4 Analisis Sambungan Paku 61 Cd 12 p D 33 26,6 = 0,77 Tahanan lateral terkoreksi ( Z ' ) Z ' = C d Z = 0,77 x 2016 = 1552 N Menghitung jumlah paku n f n f P 20000 = 19,8 20 paku z Z ' 1,00x0,65x1552 Satuan dalam mm 40/150 5xa a = (150/cos45 o )/5 30 4x25 2x25/150 20 45