BAB I PENDAHULUAN. garam-garam organik yang di sekresikan oleh kedua kelenjar payudara ibu, serta

dokumen-dokumen yang mirip
HUBUNGAN PERAN KELOMPOK PENDUKUNG IBU DENGAN KEBERHASILAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GAMBIRSARI SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. jumlah angka kematian bayi (AKB) di Indonesia sebanyak 25 kematian

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang penelitian. Air susu ibu (ASI) adalah cairan hasil sekresi kelenjar payudara ibu, yang

BAB 1 PENDAHULUAN. pertama. Pemberian ASI secara eksklusif pada bayi penting untuk. meningkatkan kelangsungan hidup dan kualitas bayi.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Air Susu Ibu (ASI) merupakan satu-satunya makanan yang sempurna dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. rendah. Berdasarkan Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI)

BAB I PENDAHULUAN. angka kesakitan dan kematian anak, United Nation Children Fund (UNICEF) dan

BAB I PENDAHULUAN. target Millenium Depelopment Goals (MDGs) Dimana angka kematian bayi

BAB I PENDAHULUAN. penuhi. Alasan yang menerangkan pernyataan tersebut adalah ASI merupakan

BAB 1 PENDAHULUAN. anak yang kemudian diterapkan diseluruh belahan dunia yang berisi tentang

BAB I PENDAHULUAN. protein, laktosa, dan garam-garam organik yang disekresikan oleh kelenjar mamae

BAB I PENDAHULUAN. hanya sekitar 36% selama periode Berdasarkan hasil Riskesdas. Provinsi Maluku sebesar 25,2% (Balitbangkes, 2013).

UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Anak merupakan generasi penerus bangsa untuk melanjutkan

BAB I PENDAHULUAN. kebiasaan yang merugikan kesehatan. Hal-hal ini secara langsung menjadi. anak usia dibawah 2 tahun (Depkes RI, 2009)

BAB I PENDAHULUAN. Selain itu, ASI juga dapat melindungi kesehatan Ibu mengurangi

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia tercatat angka kematian bayi masih sangat tinggi yaitu 2%

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit diare merupakan salah satu penyebab morbiditas dan. Secara nasional, target Sustainable Development Goals (SDGs) untuk

BAB I PENDAHULUAN. Program Millenium Development Goals (MDG s) yang terdiri dari delapan

UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Di Indonesia diare merupakan penyebab kematian utama pada bayi dan anak.

BAB I PENDAHULUAN. sampai dengan 2010 bahwa kejadian diare pada bayi terus meningkat dan

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal serta melindungi anak dari

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat penting diperhatikan oleh ibu. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) padabayi

BAB 1 PENDAHULUAN. Pemberian ASI (Air Susu Ibu) secara eksklusif sampai usia 6 bulan pertama

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan dan pertumbuhan, juga mengandung sel-sel darah putih, antibodi,

BAB I PENDAHULUAN. ini terjadi terutama di negara berkembang. Diantara kematian pada anak-anak

BAB I PENDAHULUAN. terbaik yang bersifat alamiah. Menurut World Health Organization (WHO),

BAB I PENDAHULUAN. sebagai makanan utama bayi. Pada awal kehidupan, seorang bayi sangat

EFEKTIFITAS PERAN KELOMPOK PENDUKUNG IBU TERHADAP PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI 0-6 BULAN DI PUSKESMAS PANDAK I BANTUL YOGYAKARTA 2011

BAB I PENDAHULUAN. kematian bayi mencapai 36 per kelahiran (SDKI, 2007). menyusui dengan program pemberian ASI eksklusif on demand yang

BAB I PENDAHULUAN. dilanjutkan dengan makanan pendamping sampai usia 2 tahun. American

BAB I PENDAHULUAN. dinilai memberikan hasil yang lebih baik. Keputusan Menteri Kesehatan. eksklusif pada bayi sampai usia 6 bulan (Riksani, 2012).

BAB I PENDAHULUAN. tujuan tersebut yaitu dengan pemberian Air Susu Ibu (ASI) sampai bayi

BAB I PENDAHULUAN. Air Susu Ibu (ASI) adalah cairan dari hasil sekresi kelenjar payudara ibu.

BAB 1 PENDAHULUAN. Colostrum merupakan bagian dari ASI yang penting untuk diberikan pada

BAB I PENDAHULUAN. KADARZI adalah suatu gerakan yang berhubungan dengan program. Kesehatan Keluarga dan Gizi (KKG), yang merupakan bagian dari Usaha

BAB I PENDAHULUAN. harus diperhatikan oleh ibu. Salah satu pemenuhan kebutuhan gizi bayi ialah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Eksklusif dan praktik menyusui selama 2 tahun. Pemberian ASI Eksklusif merupakan

BAB I PENDAHULUAN. mengandung zat gizi yang paling sesuai dengan kebutuhan bayi dan

BAB I PENDAHULUAN. dan menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita. World Health

PENGARUH IMPLEMENTASI 10 LANGKAH MENUJU KEBERHASILAN MENYUSUI TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DALAM PEMBERIAN ASI PADA BAYI USIA 0-3 BULAN

BAB I. A. Latar Belakang. Dalam Al-Qur an terkandung segala bentuk tata kehidupan, mulai dari. Qur an surat Al- Baqarah dan surat Yunus yang artinya :

BAB I PENDAHULUAN. bermanfaat sebagai makanan bayi (Maryunani, 2012). diberikan sampai usia bayi 2 tahun atau lebih (Wiji, 2013).

HUBUNGAN PEMBERIAN AIR SUSU IBU (ASI) EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BAYI UMUR 0-6 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GADANG HANYAR

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Air susu Ibu (ASI) merupakan pemberian air susu kepada bayi yang langsung

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Air Susu Ibu (ASI) adalah cairan hasil sekresi kelenjar payudara ibu.

BAB I PENDAHULUAN. terhadap tumbuh kembang anak. Selain menguntungkan bayi, pemberian ASI eksklusif juga menguntungkan ibu, yaitu dapat

BAB I PENDAHULUAN. Kementerian Kesehatan RI, World Health Organization (WHO) dan

BAB I PENDAHULUAN. penyebab kematian bayi terbanyak adalah diare (31,4%) dan pneumonia

BAB 1 PENDAHULUAN. pencapaian tumbuh kembang bayi tidak optimal. utama kematian bayi dan balita adalah diare dan pneumonia dan lebih dari 50%

I. PENDAHULUAN. Masalah kesehatan anak merupakan salah satu masalah utama dalam bidang

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 : PENDAHULUAN. sedini mungkin, bahkan sejak masih dalam kandungan. Usaha untuk mencapai

BAB I PENDAHULUAN. kesakitan dan kamatian ibu dan bayi. menurut World Health Organization

BAB I PENDAHULUAN. sering dijumpai pada anak-anak maupun orang dewasa di negara

HUBUNGAN KETERTARIKAN IKLAN SUSU FORMULA DENGAN PEMBERIAN ASI EKKSLUSIF DI POSYANDU DESA KEMUDO PRAMBANAN KLATEN

BAB I PENDAHULUAN. protein, laktosa dan garam-garam organik yang disekresi oleh kedua belah

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Bayi merupakan kelompok umur yang paling rentan terkena penyakit kekurangan

BAB 1 PENDAHULUAN. Berdasarkan data dari United Nations Children's Fund (UNICEF) pada tahun

BAB 1 PENDAHULUAN. anak di negara sedang berkembang. Menurut WHO (2009) diare adalah suatu keadaan

HUBUNGAN ANTARA SIKAP IBU DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDAWUNG II SRAGEN

BAB I PENDAHULUAN. digantikan oleh apapun juga. Pemberian ASI ikut memegang peranan dalam

Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Status gizi merupakan indikator dalam menentukan derajat kesehatan bayi dan

HUBUNGAN PERAN KELOMPOK PENDUKUNG IBU DENGAN KEBERHASILAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GAMBIRSARI SURAKARTA

BAB 1 PENDAHULUAN. Latar belakang. Air susu ibu (ASI) merupakan air susu yang berasal dari payudara ibu. Di

BAB I PENDAHULUAN. otak dimulai dalam kandungan sampai dengan usia 7 tahun (Menteri Negara

BAB I PENDAHULUAN. Organization (WHO) merekomendasikan untuk pemberian ASI eksklusif

BAB 1 PENDAHULUAN. World Health Organization (WHO) tahun 2013 diare. merupakan penyebab mortalitas kedua pada anak usia

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu tujuan Pembangunan Milenium atau Millenium Development Goals

Disusun Oleh: Wiwiningsih

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH. Indonesia masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. World Health Organization (WHO)/United Nations International

BAB I PENDAHULUAN. bagi bayi, ibu maupun lingkungan. Bayi yang diberikan ASI eksklusif akan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Jurnal Keperawatan, Volume X, No. 1, April 2014 ISSN

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU BERSALIN DENGAN PELAKSANAAN INISIASI MENYUSUI DINI DIKAMAR BERSALIN PUSKESMAS PUTRI AYU KOTA JAMBI TAHUN 2013

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam rangka mengurangi mortalitas dan morbiditas anak, Word

HUBUNGAN SIKAP IBU DENGAN STATUS GIZI BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SAWAH LEBAR KOTA BENGKULU

BAB I PENDAHULUAN. menyelamatkan kehidupan seorang anak, tetapi kurang dari setengah anak di

BAB I PENDAHULUAN. manusia (SDM) yang sehat dan berkualitas. Upaya dari United Nation untuk

BAB I PENDAHULUAN. kelahiran hidup, sesuai dengan target pencapaian Sustainable Development

BAB I PENDAHULUAN. Menyusui merupakan cara alami memberi makan bayi. Sejak terjadinya pembuahan, tubuh ibu mempersiapkan diri untuk

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN PENDIDIKAN IBU DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI KELURAHAN PURWOSARI KECAMATAN LAWEYAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas

BAB I PENDAHULUAN. Fund, dan Departemen Kesehatan Republik Indonesia melalui SK Menkes. No. 450/MENKES/SK/IV/2004 tanggal 7 April 2004 telah

BAB 5 HASIL PENELITIAN. 5.1 Gambaran Umum Pemberian ASI Eksklusif Di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit diare masih sering menimbulkan KLB (Kejadian Luar Biasa)

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat penting diperhatikan oleh ibu. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada bayi

BAB I PENDAHULUAN. bahwa terdapat perbedaan yang mencolok Angka Kematian Balita (AKB)

BAB I PENDAHULUAN. lapangan kerja pada undang-undang yang mengatur tentang ibu menyusui.

BAB I PENDAHULUAN. Masa balita merupakan kelompok umur yang rawan gizi dan rawan

BAB I PENDAHULUAN. kematian di negara berkembang bagi bayi (18%), yang artinya lebih dari

PENGARUH PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF TERHADAP BERAT BADAN BAYI UMUR 4 6 BULAN (Di Wilayah Kerja Puskesmas Plumpang Kabupaten Tuban)

BAB I PENDAHULUAN. yaitu 98 kematian per kelahiran hidup. Tingginya angka kematian bayi

HUBUNGAN PERAN BIDAN DAN DUKUNGAN SUAMI DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS COLOMADU 1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. obstetrik dan ginekologi di suatu wilayah adalah dengan melihat Angka

BAB I PENDAHULUAN. Masalah gizi khususnya balita stunting dapat menghambat proses

BAB I PENDAHULUAN. dari usia neonatal dini terjadi pada hari pertama (Komalasari, 2007).

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air Susu Ibu (ASI) merupakan emulsi lemak dalam larutan protein, laktose dan garam-garam organik yang di sekresikan oleh kedua kelenjar payudara ibu, serta makanan yang ideal untuk masa pertumbuhan bayi. ASI mengandung zat kekebalan, zat anti infeksi, immunoglobulin A,dan laktoferin (Mansyur, 2014). Sedangkan ASI Eksklusif merupakan pemberian ASI saja pada bayi selama 6 bulan, tanpa adanya tambahan makanan lain. Pemberian ASI eksklusif pada bayi dilakukan untuk mewujudkan program MDG s dalam rangka menurunkan angka kesakitan dan kematian pada bayi dan balita (Nugroho, 2011). World Health Organization (WHO) dan United Nation Children Fund (UNICEF) telah merekomendasikan program ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan. Hal ini sejalan dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.450/Menkes/IV/2004 yang menetapkan bahwa ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi, untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal ASI perlu diberikan selama 6 bulan dan dilanjutkan sampai anak berusia 2 tahun. Promosi pelaksanaan program ASI eksklusif dilakukan secara terpadu pada masyarakat setelah adanya Peraturan Pemerintah Nomor 33 tentang Pemberian ASI eksklusif (KemenKes, 2015). 1

Berdasarkan profil kesehatan Indonesia tahun 2014, cakupan ASI eksklusif di Indonesia masih dibawah target cakupan nasional yaitu 80%. Persentase pemberian ASI eksklusif tertinggi terdapat di Nusa Tenggara Barat 79,74%, Jawa Tengah sebesar 67,90%, dan cakupan ASI eksklusif terendah terdapat di Maluku 25,21%. Sedangkan menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2013 cakupan ASI eksklusif tertinggi juga terdapat di Nusa Tenggara Barat 79,70% dan Jawa Tengah 58,40%. Hal ini menunjukkan bahwa cakupan pemberian ASI eksklusif di provinsi Jawa Tengah masih sangat rendah (KemenKes, 2015) Di Kota Surakarta, rata-rata cakupan pemberian ASI eksklusif pada tahun 2013 sebesar 55,7%. Angka cakupan pemberian ASI eksklusif tertinggi terdapat di wilayah kerja Puskesmas Gajahan 80% dan cakupan terendah terdapat di 5 wilayah kerja Puskesmas kota Surakarta yaitu Puskesmas Gilingan 50%, Puskesmas Purwosari 45,4%, Puskesmas Purwodiningratan 43,2%, Puskesmas Pucangsawit 43,1%, dan Puskesmas Gambirsari 41,7%. Untuk meningkatkan cakupan ASI eksklusif di Indonesia, Departemen Kesehatan RI menetapkan program Sepuluh Langkah Keberhasilan Menyusui sesuai dengan Permenag Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No.03 tahun 2010 diantaranya menetapkan kebijakan tentang menyusui, meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan, menjelaskan pada semua ibu hamil tentang manajemen laktasi, membantu ibu menyusui bayinya, memperlihatkan cara menyusui yang benar, tidak memberikan makanan tambahan, melaksanakan rawat gabung, mendukung pemberian ASI tanpa dijadwal, tidak memberikan kempeng dan membentuk kelompok pendukung ibu menyusui (Astuti, 2014). 2

Kelompok Pendukung (KP) Ibu merupakan suatu kelompok yang dibentuk oleh fasilitas pelayanan kesehatan dan masyarakat untuk mendukung ibu hamil, ibu yang baru saja melahirkan dan ibu menyusui. Pembentukan KP Ibu di Surakarta merupakan replikasi dari program Kelompok Pendukung Ibu Menyusui Pemerintah Kabupaten Bantul yang didukung oleh Mercy Corps. Hasil Penelitian di kecamatan Banguntapan, Bantul merupakan percontohan pertama kali diterapkannya Kelompok Pendukung Ibu. KP Ibu mampu meningkatkan cakupan ASI eksklusif sebanyak 8% dalam 1 tahun (Dinkes Surakarta, 2010). Adanya KP ibu dapat meningkatan cakupan ASI eksklusif di Kabupaten Bantul secara signifikan, yakni 30% pada tahun 2009 dan 50% pada tahun 2010. Sedangkan di Surakarta pada tahun 2009, data dari DKK menunjukkan cakupan ASI eksklusif masih rendah yaitu 30,6% dan terdapat 60 kasus kematian bayi pada tahun yang sama (Dinkes Surakarta, 2010). Penelitian Ichsan, dkk (2014), menunjukkan bahwa ibu yang mengikuti program KP ibu memiliki pengetahuan dan sikap yang lebih tinggi dari pada yang tidak mengikuti KP Ibu (p=0,004 dan p=0,001). Sehingga, dapat diartikan bahwa KP ibu efektif dalam mengubah pemahaman ibu menyusui. Hasil penelitian Susilo (2011), menyimpulkan bahwa kelompok pendukung ibu dalam mensukseskan praktek menyusui (pemberian ASI) sangat bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan ibu tentang ASI pada responden berpendidikan rendah, tidak bekerja dan yang mendapatkan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Sedangkan penelitian yang dilakukan di daerah Banguntapan Bantul menunjukkan bahwa Kelompok Pendukung Ibu memiliki dampak meningkatkan proporsi ASI eksklusif 3

di semua kelompok usia. Responden yang mengikuti KP ibu lebih dari 3 kali memiliki peluang 2 kali lipat dalam pemberian ASI. Sedangkan Ibu yang mengikuti KP 1-3 kali belum cukup untuk merubah perilaku menyusui (Laksmi, 2012). Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan November 2015, di kota Surakarta terdapat 91 Kelompok Pendukung Ibu dan KP ibu terbanyak terdapat di puskesmas Gambirsari dengan jumlah 12 Kelompok Pendukung Ibu. Puskesmas Gambirsari terletak di kecamatan Banjarsari dengan wilayah kerja 33 RW. Hanya 12 RW yang memiliki Kelompok Pendukung Ibu, setiap kelompok (KP Ibu) memiliki anggota 8-10 orang yang terdiri dari ibu hamil dan ibu menyusui. Setiap KP ibu mendapatkan dana subsidi dari Puskesmas sebesar 600.000 rupiah. Dan berdasarkan buku register KP ibu, paling banyak ibu mengikuti KP ibu hingga 5 kali pertemuan saja. Berdasarkan latar belakang diatas, yaitu beberapa penelitian menunjukkan bahwa KP Ibu berperan dan efektif dalam meningkatkan cakupan ASI eksklusif. Akan tetapi di Puskesmas Gambirsari yang sudah memiliki cukup banyak program KP Ibu (12 KP), namun data dari Dinkes Surakarta masih menunjukkan angka cakupan Asi eksklusif yang rendah, pada tahun 2012 cakupan ASI eksklusif di Puskesmas Gambirsari sebesar 46% sedangkan pada tahun 2013 mengalami penurunan yakni 41,7%. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Hubungan Peran Kelompok Pendukung Ibu dengan Keberhasilan Pemberian ASI eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Gambirsari Surakarta,. 4

B. Rumusan Masalah Rumusan masalah penelitian ini adalah Bagaimana peran kelompok pendukung ibu dengan keberhasilan pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja puskesmas Gambirsari Surakarta?. C. Tujuan 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui peran kelompok pendukung ibu dengan keberhasilan pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja Puskesmas 2. Tujuan Khusus a. Mendeskripsikan karakteristik responden di wilayah kerja Puskesmas b. Untuk mengetahui peran kelompok pendukung ibu di wilayah kerja Puskesmas c. Untuk mengetahui keberhasilan pemberian ASI di wilayah kerja Puskesmas d. Untuk menganalisis hubungan peran kelompok pendukung ibu dengan keputusan ibu untuk menyusui di wilayah kerja Puskesmas Gambirsari Surakarta. e. Untuk menganalisis hubungan keputusan ibu untuk menyusui dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas 5

f. Untuk menganalisis hubungan peran kelompok pendukung ibu dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas C. Manfaat Penelitian 1. Bagi Masyarakat Manfaat penelitian bagi masyarakat khususnya di wilayah kerja Puskesmas Gambirsari adalah untuk lebih memberikan dukungan kepada ibu melalui kelompok pendukung ibu dengan tujuan agar cakupan keberhasilan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Gambirsari sesuai dengan target cakupan ASI eksklusif yang ditetapkan secara Nasional. 2. Bagi Instansi Kesehatan Manfaat penelitian bagi Puskesmas Gambirsari adalah sebagai bahan masukan untuk tenaga kesehatan atau fasilitator KP ibu dalam upaya peningkatan pembinaan kelompok pendukung ibu di wilayah kerja puskesmas 3. Bidang Peneliti lain Sebagai tambahan referensi ilmiah yang dapat bermanfaat untuk perkembangan ilmu kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan ASI. D. Keaslian Penelitian 1. Judul Jurnal : Efektifitas Peran Kelompok Pendukung Ibu Terhadap Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Pandak Bantul yang diteliti oleh Nila Prawesti dan 6

Sulistyaningsih. Hasil Penelitiannya adalah Peran KP ibu efektif terhadap pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dengan jumlah sampel 54 orang, hasil uji chi square 6,771 dan nilai p sebesar 0,034 (p< 0,05). 2. Judul Jurnal : Keefektifan Program Kelompok Pendukung Ibu Dalam Mengubah Perilaku Ibu Menyusui yang diteliti oleh Burhanudin Ichsan, Harsono Salimo dan Soebijanto. Penelitian ini mengunakan rancangan cross sectional dengan menggunakan uji chi square untuk analisis data serta jumlah sampel sebesar 84 orang. Hasil penelitiannya adalah Ibu yang mengikuti program KP ibu memiliki pengetahuan dan sikap yang lebih tinggi secara bermakna dibanding ibu yang tidak mengikuti (p= 0,04 dan p = 0,001). 3. Judul Jurnal : Hubungan Kelompok Pendukung Ibu Terhadap Perubahan Perilaku Menyusui yang diteliti oleh Triasthra Laksmi. Penelitian ini dilakukan di kecamatan Banguntapan, kabupaten Bantul. Rancangan Studi menggunakan desain cross sectional. Jumlah sampel 57 responden. Hasil penelitiannya yaitu KP-Ibu dapat meningkatkan perilaku pemberian ASI. Responden yang mengikuti kegiatan KP ibu lebih dari 3 kali memiliki peluang untuk memberikan ASI eksklusif hampir dua kali lipat dibandingkan yang tidak mengikuti KP Ibu (PORadj=1,87, CI=95% 1,02-3,43). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu tempat penelitian, waktu penelitian, variabel penelitian dan jumlah sampel penelitian. 7