BAB V ANALISI DATA DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. A. Data Masukan

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

BAB III LANDASAN TEORI

BAB IV HASIL DAN ANALISIS

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI. yang mempegaruhi simpang tak bersinyal adalah sebagai berikut.

BAB 4 PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN

ANALISA KINERJA SIMPANG TIDAK BERSINYAL DI RUAS JALAN S.PARMAN DAN JALAN DI.PANJAITAN

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kuantitatif yang menerangkan kondisi operasional fasilitas simpang dan secara

Dari gambar 4.1 maka didapat lebar pendekat sebagai berikut;

BAB III LANDASAN TEORI Kondisi geometri dan kondisi lingkungan. memberikan informasi lebar jalan, lebar bahu, dan lebar median serta

BAB IV ANALISIS DATA. Data simpang yang dimaksud adalah hasil survey volume simpang tiga

DAFTAR ISI. Judul. Lembar Pengesahan. Lembar Persetujuan ABSTRAK ABSTRACT KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN

Gambar 2.1 Rambu yield

TINJAUAN KINERJA PERSIMPANGAN PRIORITAS KAMPUNG KALAWI KOTA PADANG (Studi Kasus: Simpang Tiga Kampung Kalawi)

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP ) Mata Kuliah : Rekayasa Lalulintas Kode : CES 5353 Semester : V Waktu : 1 x 2 x 50 menit Pertemuan : 7 (Tujuh)

IV. ANALISA DATA BAB IV ANALISIS DATA. 4.1 Geometri Simpang. A B C D. Gambar 4.1 Geometri Jl. Sompok Baru IV - 1.

Simpang Tak Bersinyal Notasi, istilah dan definisi khusus untuk simpang tak bersinyal di bawah ini :

EVALUASI KINERJA SIMPANG TIGA TAK BERSINYAL DENGAN METODE MKJI 1997 (Studi Kasus Simpang Tiga Jalan Ketileng Raya-Semarang Selatan)

BAB 4 PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN

UNSIGNALIZED INTERSECTION

BAB III LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. saling berpotongan, masalah yang ada pada tiap persimpangan adalah kapasitas jalan dan

Kata kunci : Tingkat Kinerja, Manajemen Simpang Tak Bersinyal.

DAFTAR ISI. Halaman HALAMAN JUDUL LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR PERSETUJUAN HALAMAN PERSEMBAHAN ABSTRAK ABSTRACT KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. LEMBAR PENGESAHAN... ii. LEMBAR PERSEMBAHAN... iii. KATA PENGANTAR... iv. DAFTAR ISI... v. DAFTAR TABEL...

JURNAL EVALUASI KINERJA SIMPANG TAK BERSINYAL PADA SIMPANG TIGA JALAN CIPTOMANGUNKUSUMO JALAN PELITA KOTA SAMARINDA.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SIMPANG TANPA APILL. Mata Kuliah Teknik Lalu Lintas Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, FT UGM

BAB IV HASIL DAN ANALISA. kondisi geometrik jalan secara langsung. Data geometrik ruas jalan Kalimalang. a. Sistem jaringan jalan : Kolektor sekunder

BAB 3 METODOLOGI. Tahapan pengerjaan Tugas Akhir secara ringkas dapat dilihat dalam bentuk flow chart 3.1 dibawah ini : Mulai

BAB IV METODE PENELITIAN. A. Tahapan Penelitian. Mulai. Studi Pustaka. Observasi awal. Proposal disetujui. Ya Survei Pendahuluan

BAB III LANDASAN TEORI. A. Simpang Jalan Tak Bersinyal

KAJIAN KINERJA SIMPANG TAK BERSINYAL DI KAWASAN PASAR TANAH MERAH BANGKALAN UNTUK PENGAMBILAN KEPUTUSAN RENCANA SIMPANG TAK SEBIDANG

PENGENDALIAN LALU LINTAS 4 LENGAN PADA PERSIMPANGAN JL. RE. MARTADINATA JL. JERANDING DAN PERSIMPANGAN JL. RE. MARTADINATA JL. HARUNA KOTA PONTIANAK

KINERJA SIMPANG LIMA TAK BERSINYAL JL. TRUNOJOYO, BANDUNG FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA MARANATHA BANDUNG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TUGAS AKHIR. ANALISA KARAKTERISTIK KONFLIK LALU LINTAS PADA SIMPANG TAK BERSINYAL TIGA KAKI (studi kasus pada Jalan RC Veteran)

ANALISIS KINERJA PERSIMPANGAN MENGGUNAKAN METODE MKJI 1997 (Studi Kasus : Persimpangan Jalan Sisingamangaraja Dengan Jalan Ujong Beurasok - Meulaboh)

BAB III LANDASAN TEORI

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5.1 Kondisi Lingkungan Jalan Simpang Bersinyal Gejayan KODE PENDEKAT

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

DAFTAR ISI. i ii iii iv v. vii. x xii xiv xv xviii xix vii

ANALISIS KINERJA SIMPANG TIGA PADA JALAN KOMYOS SUDARSO JALAN UMUTHALIB KOTA PONTIANAK

BAB II LANDASAN TEORI. bertemu dan lintasan arus kendaraan berpotongan. Lalu lintas pada masingmasing

REKAYASA TRANSPORTASI LANJUT UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA

Bundaran Boulevard Kelapa Gading mempunyai empat lengan masing-masing lengan adalah

TINJAUAN PUSTAKA. Kinerja atau tingkat pelayanan jalan menurut US-HCM adalah ukuran. Kinerja ruas jalan pada umumnya dapat dinyatakan dalam kecepatan,

BAB 3 METODOLOGI Metode Pengamatan

Pristiwa Sugiharti 1, Wahyu Widodo 2. 2 Staff Pengajar Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta

DAFTAR ISTILAH DAN DEFINISI

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. 5.1 Ruas Jalan A. Data Umum, Kondisi Geometrik, Gambar dan Detail Ukuran

BAB IV METODE PENELITIAN. Mulai. Lokasi Penelitian. Pengumpulan Data

ANALISA A KINERJA SIMPANG DAN RUAS JALAN AKIBAT PEMBANGUNAN RUMAH SAKIT ROYAL DI KAWASAN RUNGKUT INDUSTRI SURABAYA

BAB III LANDASAN TEORI

ANALISIS LALU LINTAS SIMPANG TIGA TAK BERSINYAL (STUDI KASUS PADA PERTIGAAN JALAN AHMAD YANI, KUPANG NUSA TENGGARA TIMUR) Laporan Tugas Akhir

BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISA

PERTEMUAN KE-8 UJIAN TENGAH SEMESTER

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL PERSETUJUAN PENGESAHAN ABSTRAK ABSTRACT KATA PENGANTAR

PERHITUNGAN KINERJA BAGIAN JALINAN AKIBAT PEMBALIKAN ARUS LALU LINTAS ( Studi Kasus JL. Kom. Yos Sudarso JL. Kalilarangan Surakarta ) Naskah Publikasi

BAB IV PEMBAHASAN. arus dan komposisi lalu lintas. Kedua data tersebut merupakan data primer

PERENCANAAN LAMPU PENGATUR LALU LINTAS PADA PERSIMPANGAN JALAN SULTAN HASANUDIN DAN JALAN ARI LASUT MENGGUNAKAN METODE MKJI

Jom FTEKNIK Volume 3 No.2 Oktober

HALAMAN PERSEMBAHAN... vi. DAFTAR ISI... vii

Kajian Kinerja Persimpangan Jalan Harapan Jalan Sam Ratulangi Menurut MKJI 1997

ANALISIS KINERJA SIMPANG TAK BERSINYAL (Studi Kasus: Jalan Anyelir Jalan Akasia Jalan Hayam Wuruk)

EVALUASI KINERJA SIMPANG HOLIS SOEKARNO HATTA, BANDUNG

BAB V ANALISIS DATA 5.1 UMUM

DAMPAK LALU LINTAS AKIBAT PEMBANGUNAN APARTEMEN BALI KUTA RESIDENCE (BKR) Di KUTA, BALI

BABffl LANDASAN TEORI

DAFTAR ISI JUDUL LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR PERSETUJUAN ABSTRAK ABSTRACT KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN

STUDI KINERJA SIMPANG TAK BERSINYAL YANG TIDAK SEBIDANG DI KOTA MAKASSAR: STUDI KASUS SIMPANG JALAN URIP SUMOHARJO-JALAN LEIMENA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sebagai pertemuan dari jalan-jalan yang terlibat pada sistem jaringan jalan

KINERJA PERSIMPANGAN TAK BERSINYAL PADA PERSIMPANGAN JALAN DOTULOLONG LASUT JALAN SUDIRMAN JALAN SARAPUNG JALAN SUDIRMAN KOTA MANADO

MANAJEMEN LALU LINTAS SIMPANG SURAPATI SENTOT ALIBASA DAN SEKITARNYA

ANALISIS SIMPANG TAK BERSINYAL DENGAN BUNDARAN (Studi Kasus Simpang Gladak Surakarta)

WEAVING SECTION. Definisi dan Istilah 5/11/2012. Civil Engineering Diploma Program Vocational School Gadjah Mada University. Nursyamsu Hidayat, Ph.D.

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP ) Mata Kuliah : Rekayasa Lalulintas Kode : CES 5353 Semester : V Waktu : 1 x 2 x 50 menit Pertemuan : 6 (Enam)

ANALISIS KINERJA SIMPANG TAK BERSINYAL (Studi Kasus : Simpang Jalan Kemuda 3 Jalan Padma Jalan Seroja Jalan Kemuda)

ANALISIS KINERJA SIMPANG TIGA TAK BERSINYAL (Studi Kasus Simpang Lamlo Kabupaten Pidie)

BAB III LANDASAN TEORI. lebih sub-pendekat. Hal ini terjadi jika gerakan belok-kanan dan/atau belok-kiri

EVALUASI KINERJA SIMPANG BERSINYAL (Studi Kasus Simpang Bangak di Kabupaten Boyolali)

MANAJEMEN LALU LINTAS AKIBAT BEROPERASINYA TERMINAL PESAPEN SURABAYA

MANAJEMEN LALU LINTAS AKIBAT BEROPERASINYA TERMINAL TIPE C KENDUNG BENOWO SURABAYA

EVALUASI DAN PERENCANAAN LAMPU LALU LINTAS KATAMSO PAHLAWAN

KINERJA SIMPANG TAK BERSINYAL PADA JALAN SINDANG SIRNA-BUNGUR BANDUNG

BAB III LANDASAN TEORI

PERENCANAAN LAMPU PENGATUR LALU LINTAS PADA PERSIMPANGAN JALAN HARAPAN DAN JALAN SAM RATULANGI

BAB V ANALISIS DATA 5.1 ANALISIS AWAL TANPA PENANGANAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

EVALUASI KINERJA DAN ALTERNATIF PENANGANAN SIMPANG PADA JALAN YA M SABRAN JALAN PANGLIMA AIM KOTA PONTIANAK

Mulai. Studi pustaka. Observasi awal. Proposal disetujui. Survei pendahuluan. Pelaksanaan survei dan pengumpulan data Rekapitulasi data

MANAJEMEN LALU LINTAS DI SEKITAR JALAN RAYA ABEPURA DI JAYAPURA

Transkripsi:

BAB V ANALISI DATA DAN PEMBAHASAN A. Analisis Kondisi Eksisting 1. Data Masukan a. Kondisi Geometrik Data eksisting geometrik simpang Seropadan dapat dilihat pada Tabel 5.1 dan Gambar 5.1 Tabel 5.1 Kondisi Geometrik Simpang Pendekat Utara Selatan Timur Marka Ada Ada Tidak ada Gambar 5.1 Kondisi Geometrik Simpang 39

40 b. Kondisi Lalu Lintas Kondisi arus lalu lintas dapat dilihat pada Lampiran. Kondisi arus lalu lintas simpang hari Senin dan Sabtu pukul 06.00-08.00, 12.00-14.00, 16.00-18.00 WIB dapat dilihat pada Gambar 5.2 Gambar 5.1 Grafik Kondisi arus lalu lintas simpang pada hari senin dan sabtu Dari fluktuasi data diatas diketahui volume lalu lintas terpuncak terjadi pada pukul 06.30-07.30 WIB dengan jumlah total kendaraan 8818 kend/jam. c. Kondisi Linkungan Kondisi linkungan di Simpang Soropadan dapat dilihat pada Tabel 5.2 Tabel 5.2 Kondisi Lingkungan Pendekat Tipe Tata Guna Lahan Utara (notasi B) Comersial Pertokoan, Perkantoran, Rumah makan Selatan (notasi D) Comersial Pertokoan, Perkantoran, Rumah makan Timur (notasi C) Comersial Pertokoan, Rumah

41 2. Kapasitas a. Lebar Pendekat ( W ) Dari hasil pengukuran geometrik simpang maka lebar pendekat dihitung dengan menggunakan Persamaan 3.2 sampai dengan Persamaan 3.4. Hasil perhitungan lebar pendekat simpang dirangkum pada Tabel 5.3 Tabel 5.3 Lebar Pendekat ( W ) Jalan Minor Lebar Pndekat ( m ) Jalan Utama Lebar Wa (m) Wc (m) Wac (m) Wb (m) Wd (m) Wbd (m) W1(m) 0 3,52 1,76 6,85 6,65 6,75 3,425 b. Jumlah Lajur Penentuan jumlah lajur berdasarkan dari hasil rata-rata lebar pendekat (W1). Jumlah lajur di Simpang Soropadan dapat dilihat pada 5.4 Tabel 5.4 Jumlah Lajur Pendekat Lebar pendekat Jumlah Lajur Jalan Minor ( Wac ) 1,76 (< 5,5) 2 Jalan Utama ( Wbd ) 6,75 ( 5,5) 4 c. Tipe Simpang ( IT ) Berdasrkan Tabel 5.5 tipe simpang Soropadan memiliki tipe 324 penentuan simpang tersebut dijelaskan pada Tabel 5.5

42 Tabel 5.5 Tipe Simpang Jumlah Lengan Jumlah Lajur Jalan Minor Jalan Utama Tipe Simpang 3 2 4 324 d. Kapasitas Dasar (Co) Dari Tabel 5.5 diketahui bahwa simpang Jalan Affandi Jalan Kaliwaru Raya termasuk tipe simpang 324. Berdasrkan Tabel 3.5 tipe simpang 324 di tetapkan memiliki kapasitas sebesar 3200 smp/jam. e. Faktor Penyesuaian Lebar Pendekat ( FW) Faktor penyesuaian lebar pendekat ( Fw) untuk tipe simpang 324 dihitung menggunakan persamaan 3.8. Hasil perhitungan faktor penyesuaian lebar pendekat (Fw) adalah sebagai berikut : IT 324, atau 344 : Fw = 0,62 + 0,0646 W1 Fw = 0,62 + 0,0646 3,425 Fw = 0,841 f. Faktor Penyesuaian Median Jalan Utama Dari Tabel 5.1 diketahui bahwa simpang Soropadan, memiliki median jalan selebar 75 cm. Berdasrkan Tabel 3.6 jika wilayah kajian memiliki lebar median < 3m termasuk dalam median sempit dengan Fm = 1,05 g. Faktor Penyesuaian Ukuran Kota ( Fcs ) Jumlah penduduk di Kabupaten Sleman berdasrkan hasil sensus penduduk Tahun 2015 diketahui` berjumlah 1.167.481 jiwa ( Sumber : BPS kabupaten Sleman )

43 h. Faktor Penyesuaian Tipe Lingkungan Jalan, Hambatan Samping, dan kendaraan tak bermotor ( F RSU ) 1. Tipe Lingkugan Tipe lingkungan disekitar wilayah kajian termasuk dalam lingkungan komersial. Tipe lingkungan tersebut didasarkan oleh aktifitas disekitar daerah kajian terdapat pertokoan, rumah makan, dan pemukiman. 2. Kelas Hambatan Samping Kelas hambatan samping di simpang Soropadan diketahui memiliki tipe simpang komersial dengan kelas hambatan samping rendah. Hasil analisis hambatan samping didapat sebesar 0,002. Berdasarkan Tabel 3.8 dengan kelas tipe komersial rendah di dapat nilai rasio kendaraan tak bermotor sebesar 0,95 dan kemudian ditulis pada kolom 24 Lampiran i. Faktor Penyesuaian Belok Kiri ( F LT ) Hasil perhitungan F LT dapat dilihaat pada formulir U-SIG II kolom ke 25 di lampiran V. Contoh perhitungan untuk mengetahui nilai F LT pada hari Senin periode 06.30-07.30 WIB adalah sebagai berikut : F LT = 0,84 + 1,61 P LT = 0,84 + 1,61 0,381 = 1,453 F LT = Faktor penyesuaian belok kiri P LT = Rasio kendaraan belok kiri ( Lampiran V, USIG-I baris ke 24 kolom 12) j. Faktor Penyesuaian Belok Kanan (F RT ) Hasil perhitungan F RT dapat dilihat pada formulir USIG-II kolom ke 26 di Lampiran V. Contoh perhitungan adalah sebagai berikut : F RT = 1,09 0,922 P RT

44 = 1,09 0,922 0,738 = 0,409 F RT P RT : Faktor penyesuaian belok kanan : Rasio kendaraan dilapangan ( Lampiran V, USIG-1 ke 23 kolom 11) k. Faktor Penyesuaian Rasio Jalan Minor ( F MI ) Hasil F MI dapat dilihat pada formulir USIG II kolom ke 27 di Lampiran V. Contoh perhitungan untuk hari senin periode 06.30-07.30 WIB adalah sebagai berikut : F MI = 16,6 P 4 MI 33,3 P 3 MI + 25,3 P 2 MI 8,6 P MI + 1,95 = 16,6 0,035 4 33,3 035 3 + 25,3 035 2 8,6 035+ 1,95 = 1,676 PMI : Rasio arus jalan minor terhadap arus persimpangan total ( formulir USIG-I baris ke 24 kolom ke 10 di Lampiran V ) l. Kapasitas (Co) Hasil perhitungan dapat dilihat pada formulir USIG-II. Contoh perhitungan untuk hari senin periode 06.30-07.30 WIB adalah sebagai berikut : C = Co F W F M F CS F RSU F LT F RT F MI = 3200 0,841 1,05 1 0,95 1,453 0,409 1,676 = 2677,045 smp/jam

45 3. Perilaku Lalu Lintas a. Derajat Kejenuhan ( DS ) Hasil perhitungan untuk menghitung derajat kejenuhan (DS) dapat dilihat pada Lampiran V formulir USIG-II. Contoh perhitungan untuk hari Senin periode 06.30-07.30 WIB adalah sebagai berikut : DS = Q TOT / C DS = 5191,1 / 2677,045 DS = 1,939 DS : Derajat Kejenuhan Qtot : Arus kend bermotor total ( USIG-II kolom ke 30 di lampiran V) C : Kapasitas ( USIG-II kolom ke 28 di Lampiran V ) b. Tundaan 1. Tundaan lalu lintass simpang ( DT 1 ) Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran V formulir USIG-II. Contoh perhitungan untuk hari Senin periode 06.30-07.30 WIB adalah sebagai berikut : Untuk DS > 0,8 DT1 = 1,0504/(0,2742-0,2042 DS) (1-DS) 2 = 1,0504/(0,2742-0,2042 1,939 ) (1-1,939 ) 2 = - 6,74805 ( data yang di masukan dalam tabel menggunakan nilai maksimum = 30 detik/smp) 2. Tundaan Lalu Lintas Jalan Utama (DT MA ) Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran V formulir USIG-II. Contoh perhitungan untuk hari Senin periode 06.30-07.30 WIB adalah sebagai berikut : Untuk DS > 0,8 DT MA = 1,05034/(0,346-0,246 DS )-(1-DS) 1,8

46 = 1,05034/(0,346-0,246 1,939 )-(1-1,939 ) 1,8 = -6,32608 ( data yang dimasukan dalam tabel menggunakan nilai maksimum = 25 ) detik / smp) 3. Tundaan Lalu Lintas Jalan Minor (DT MI ) Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran V formulir USIG-II. Contoh perhitungan untuk hari Senin periode 06.30-07.30 WIB adalah sebagai berikut : DT MI = Qtot D T1 QMA DT MA /Q MI = 5191,1 30-5007,8 22/ 183,3 = 248,561 detik/smp QMA : Arus total jalan utama ( USIG-I baris ke 10 kolom ke 10, Lampiran V ) QMI : Arus total jalan minor ( USIG 1 baris ke 19 kolom ke 10, Lampiran V ) 4. Tundaan Geometrik Simpang ( DG ) Hasil dapat dilihat pada formulir USIG-II kolom ke 35 di Lampiran V. Berdasarkan ketentuan untuk DS 1,0 maka nilai DG = 4. 5. Tundaan Simpang (D) Hasil perhitungan dapat diliat padaformulir USIG-II kolom ke 36 di Lampiran V. Contoh perhitungan untuk hari Senin peeriode 06.30-07.30 WIB adalah sebagai berikut : D = DG + DTI = 4 + 30 = 34 detik/smp c. Peluang Antrian ( QP )

47 Hasil perhitungan dapat diliat pada dformulir USIG-II kolom ke 36 di Lampiran V. Contoh perhitungan untuk hari senin peeriode 06.30-07.30 WIB adalah sebagai berikut : QP % batas bawah = 9,02 DS + 20,66 DS 2 + 1,49 DS 3 = 9,02 1,939 + 20,66 1,93 2 + 1,49 1,939 3 = 411,459 % QP % batas atas = 47,71 DS + 24,68 DS 2 + 56,47 DS 3 = 47,71 1,939 + 24,68 1,939 2 + 56,47 1,939 3 = 171,662% d. Penilaian Perilaku Lalu Lintas Hasil analisis menunjukan bahwa derajat kejenuhan pada hari Senin pada periode 06.30-07.30 WIB merupakan jam puncak. Volume kendaraan tertinggi terjadi pada hari Senin sebesar 5191,1 smp/jam. Derajat kejenuhan jam puncak pagi untuk hari senin mencapai 1,939. Hal ini tentu tidak memenuhi dari batas diijinkan secara empiris MKJI 1997 yaitu 0,80. Nilai derajat kejenuhan yang tinggi berdampak pada nilai dari tundaan di persimpangan. Hal ini terjadi jika kendaraan terhenti karena antrian dipersimpangan sampai kendaraan itu keluar dari persimpangan karena adanya pengaruh kapasitas persimpangan yang sudah tidak memadai, sehingga menyebabkan kendaraan saling mengunci dan pengendara ssaling bergerak mencari celah untuk dilewati. Dari hasil analisis untuk jam puncak hari Senin meniai peluang antrian batas atas dan batas bawah adalah 411,6% dan batas atas adalah 171,7%. Hasil analisis perilaku lalu lintas menunjukan bahwa diperlukan beberapa penanganan yang dapat memperbaiki dari kinerja simpang kajian.

48 B. Analisis Kondisi Tahun 2022 1. Data Masukan a. Kondisi Geometrik Data geometrik simpang Soropadan pada tahun 2022 sama seperti data kondisi eksisting. b. Kondisi Lalu Lintas Kondisi lalu lintas simpang Soropadan pada tahun 2022 dapat dilihat pada Lampiran VI Formulir USIG-I c. Kondisi Lingkungan Kondisi lingkungan di Simpang Soropadan pada tahun 2022 dikategorikan komersial. 2. Kapasitas a. Untuk nilai Lebar Pendekat, Jumlah Lajur, dan Tipe Simpang pada tahun 2022 menggunakan nilai dari kondisi eksisting b. Kapasitas Dasar (Co) Dari Tabel 5.5 diketahui bahwa simpang Jalan Affandi Jalan Kaliwaru Raya termasuk tipe simpang 324. Berdasrkan Tabel 3.5 tipe simpang 324 di tetapkan memiliki kapasitas sebesar 3200 smp/jam. c. Faktor Penyesuaian Lebar Pendekat ( FW) Faktor penyesuaian lebar pendekat ( Fw) untuk tipe simpang 324 dihitung menggunakan persamaan 3.8. Hasil perhitungan faktor penyesuaian lebar pendekat (Fw) adalah sebagai berikut : IT 324, atau 344 : Fw = 0,62 + 0,0646 W1 Fw = 0,62 + 0,0646 3,425 Fw = 0,841

49 d. Faktor Penyesuaian Median Jalan Utama Dari Tabel 5.1 diketahui bahwa simpang Seropadan, memiliki median jalan selebar 75 cm. Berdasrkan Tabel 3.6 jika wilayah kajian memiliki lebar median < 3m termasuk dalam median sempit dengan Fm = 1,05 e. Faktor Penyesuaian Ukuran Kota ( Fcs ) Jumlah penduduk di Kbupaten Sleman berdasrkan hasil sensus penduduk Tahun 2015 diketahui berjumlah 1.167.481 jiwa ( Sumber : BPS kabupaten Sleman ) f. Faktor Penyesuaian Tipe Lingkungan Jalan, Hambatan Samping, dan kendaraan tak bermotor ( F RSU ) 1. Tipe Lingkugan Tipe lingkungan disekitar wilayah kajian termasuk dala lingkungan komersial. Tipe lingkungan tersebut didasrkan oleh aktifitas disekitar daerah kajian terdapat pertokoan, rumah makan, dan pemukiman. 2. Kelas Hambatan Samping Kelas hambatan samping di simpang Soropadan diketahui memiliki tipe simpang komersial dengan kelas hambatan samping rendah. Hasil analisis hambatan samping didapat sebesar 0,002. Berdasarkan Tabel 3.8 dengan kelas tipe komersial rendah di dapat nilai rasio kendaraan tak bermotor sebesar 0,95 dan kemudian ditulis pada kolom 24 Lampiran i. Faktor Penyesuaian Belok Kiri ( F LT ) Hasil perhitungan F LT dapat dilihaat pada formulir U-SIG II kolom ke 25 di lempira V. Contoh perhitungan untuk mengetahui nilai F LT pada hari Senin periode 06.30-07.30 WIB tahun 2022 adalah sebagai berikut : F LT = 0,84 + 1,61 P LT = 0,84 + 1,61 0,424 = 1,523

50 F LT = Faktor penyesuaian belok kiri P LT = Rasio kendaraan belok kiri ( Lampiran V, USIG-I baris ke 24 kolom 12) j. Faktor Penyesuaian Belok Kanan (F RT ) Hasil perhitungan F RT dapat dilihat pada formulir USIG-II kolom ke 26 di Lampiran V. Contoh perhitungan adalah sebagai berikut : F RT = 1,09 0,922 P RT = 1,09 0,922 0,741 = 0,406 F RT P RT : Faktor penyesuaian belok kanan : Rasio kendaraan dilapangan ( Lampiran V, USIG-1 ke 23 kolom 11) k. Faktor Penyesuaian Rasio Jalan Minor ( F MI ) Hasil F MI dapat dilihat pada formulir USIG II kolom ke 27 di Lampiran V. Contoh perhitungan untuk hari Senin periode 06.30-07.30 WIB tahun 2022 adalah sebagai berikut : F MI = 16,6 P 4 MI 33,3 P 3 MI + 25,3 P 2 MI 8,6 P MI + 1,95 = 16,6 0,034 4 33,3 0,034 4 3 + 25,3 0,034 4 2 8,6 0,034 4 + 1,95 = 1,685 PMI : Rasio arus jalan minor terhadap arus persimpangan total ( formulir USIG-I baris ke 24 kolom ke 10 di Lampiran V )

51 l. Kapasitas (Co) Hasil perhitungan dapat dilihat pada formulir USIG-II. Contoh perhitungan untuk hari Senin periode 06.30-07.30 WIB adalah sebagai berikut : C = Co F W F M F CS F RSU F LT F RT F MI = 3200 0,841 1,05 1 0,95 1,523 0,406 1,685 = 2800,785 smp/jam a. Perilaku Lalu Lintas b. Derajat Kejenuhan ( DS ) Hasil perhitungan untuk menghitung derajat kejenuhan (DS) dapat dilihat pada Lampiran V formulir USIG-II. Contoh perhitungan untuk hari Senin periode 06.30-07.30 WIB adalah sebagai berikut : DS = Q TOT / C DS = 10376,4 / 2800,785 DS = 3,704 DS : Derajat Kejenuhan Qtot : Arus kend bermotor total ( USIG-II kolom ke 30 di lampiran V) C : Kapasitas ( USIG-II kolom ke 28 di Lampiran V ) c. Tundaan 1. Tundaan lalu lintass simpang ( DT 1 ) Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran V formulir USIG-II. Contoh perhitungan untuk hari Senin periode 06.30-07.30 WIB adalah sebagai berikut : Untuk DS > 0,8 DT1 = 1,0504/(0,2742-0,2042 DS) (1-DS) 2 = 1,0504/(0,2742-0,2042 3,704 ) (1-3,704 ) 2

52 = 3.323 detik/smp ( data yang di masukan dalam tabel menggunakan nilai maksimum = 30 detik/smp) 2. Tundaan Lalu Lintas Jalan Utama (DT MA ) Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran V formulir USIG-II. Contoh perhitungan untuk hari Senin periode 06.30-07.30 WIB adalah sebagai berikut : Untuk DS > 0,8 DT MA = 1,05034/(0,346-0,246 DS )-(1-DS) 1,8 = 1,05034/(0,346-0,246 3,704 )-(1-3,704 ) 1,8 = 3.011 detik/smp ( data yang di masukan dalam tabel menggunakan nilai maksimum = 25 detik/smp) 3. Tundaan Lalu Lintas Jalan Minor (DT MI ) Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran V formulir USIG-II. Contoh perhitungan untuk hari Senin periode 06.30-07.30 WIB adalah sebagai berikut : DT MI = Qtot D T1 QMA DT MA /Q MI = 10376,4 30-353,1 25 / 10023,3 = 6,056 detik/smp QMA : Arus total jalan utama ( USIG-I baris ke 10 kolom ke 10, Lampiran V ) QMI : Arus total jalan minor ( USIG 1 baris ke 19 kolom ke 10, Lampiran V ) 4. Tundaan Geometrik Simpang ( DG ) Hasil dapat dilihat pada formulir USIG-II kolom ke 35 di Lampiran V. Berdasarkan ketentuan untuk DS 1,0 maka nilai DG = 4.

53 5. Tundaan Simpang (D) Hasil perhitungan dapat diliat pada formulir USIG-II kolom ke 36 di Lampiran V. Contoh perhitungan untuk hari Senin periode 06.30-07.30 WIB adalah sebagai berikut : D = DG + DTI = 4 + 30 = 34 detik/smp d. Peluang Antrian ( QP ) Hasil perhitungan dapat diliat padaformulir USIG-II kolom ke 36 di Lampiran V. Contoh perhitungan untuk hari Senin periode 06.30-07.30 WIB adalah sebagai berikut : QP % batas bawah = 9,02 DS + 20,66 DS 2 + 1,49 DS 3 = 9,02 3,704 + 20,66 3,704 2 + 1,49 1,3,704 3 = 2709,7 % QP % batas atas = 47,71 DS + 24,68 DS 2 + 56,47 DS 3 = 47,71 3,704 + 24,68 3,704 2 + 56,47 3,704 3 = 850,4% e. Penilaian Perilaku Lalu Lintas Hasil analisis kondisi tahun 2022 menunjukan bahwa derajat kejenuhan pada hari Senin pada periode 06.30-07.30 WIB merupakan jam puncak. Volume kendaraan tertinggi terjadi pada hari Senin sebesar 10376,4 smp/jam. Derajat kejenuhan jam puncak pagi untuk hari senin mencapai 3,704. Hal ini tentu tidak memenuhi dari batas dijinkan secara empiris MKJI 1997 yaitu 0,80. Nilai derajat kejenuhan yang tinggi berdampak pada nilai dari tundaan di persimpangan. Hal ini terjadi jika kendaraan terhenti karena antrian dipersimpangan sampai kendaraan itu keluar dari persimpangan karena adanya pengaruh kapasitas persimpangan yang sudah tidak memadai, sehingga menyebabkan kendaraan saling mengunci dan pengendara ssaling bergerak mencari celah untuk dilewati. Dari hasil analisis untuk jam puncak

54 hari Senin meniai peluang antrian batas atas dan batas bawah adalah 2709,7% dan batas atas adalah 850,4%. Hasil analisis perilaku lalu lintas menunjukan bahwa diperlukan beberapa penanganan yang dapat memperbaiki dari kinerja simpang kajian. C. Alternatif Solusi Persimpangan 1. Perbaikan Simpang Dengan Alternatif 1 Hasil analisis perhiungan perbaikan simpang tahun 2022 dengan alternative 1 dapat dilihat pada formulir USIG-II Lampiran V pilihan ke-2. Alternatif 1 yakni dengan cara pemasangan portal di jalan utama pada jam sibuk sehingga kendaraan dari arah selatan dilarang belok kekanan, dari arah utara tidak boleh putar balik dan dari jalan minor tidak boleh belok kanan ke utara. Dari hasil analisis di dapat bahwa kapasitas meningkat menjadi 14649,092 smp/jam. Nilai derajat kejenuhan mengalami penurunan yakni menjadi 0,684 sehingga sudah memenuhi persaratan 2. Perbaikan Simpang Dengan Alternatif 2 Hasil analisis tahun 2022 dengan alternative 2 dapat dilihat pada formulir USIG-II Lampiran V pilihan ke-4. Alternatif 2 yakni dengan cara pelebaran jalan dan pemasangan portal seperti pada alternative 1 dengan Wc = 4,5 m, Wb = 7,85 m, Wd = 7,65 m. Hasil dari analisis dengan alternative ini didapat bahwa kapasitas naik menjadi 15436,62 smp/jam. Nilai derajat keejenuhan mengalami penurunan menjadi 0,64. Hasil analisis alternative 2 menunjukan bahwa penggabungan dengan alternative 1 memeuhi batas standar MKJI 1997 yakni < 0,8 Tabel 5.6 Perbandingan Kondisi Simpang Tingkat Pelayanan Kondisi Derajat Kejenuhan Tundaan Simpang Saat ini (Eksisting) 1,939 34 Kurang Tahun 2022 ( Do Nothing) 3,704 34 Kurang

55 Solusi 1 (Do Something) 0,684 9,858 Baik Solusi 2 (Do Something) 0,649 9,795 Baik