IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang, Propinsi Jawa Barat, tepatnya di Desa Karanglayung dan Desa Narimbang. Secara geografis Kabupaten Sumedang terletak pada posisi 107 21-108 21 Bujur Timur dan 6 44-70 83 Lintang Selatan. Luas wilayah Kabupaten Sumedang ± 152220 Ha dengan ketinggian antara 20 sampai dengan lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut (dpl). Daerah yang ditumbuhi oleh tanaman salak memiliki ketinggian tempat sekitar 25 500 m dpl (Dinas Pertanian Kabupaten Sumedang, 2007). Dilihat dari ketinggian tempatnya lokasi kebun sudah dianggap layak untuk ditanami salak. Kondisi curah hujan di lokasi kebun salak cukup tinggi yang mengakibatkan ketersediaan air tanah berlimpah dan iklim di lokasi tersebut tergolong agak basah. Penghasilan utama daerah Sumedang disumbang oleh sektor pertanian, selain tanaman pangan Sumedang juga unggul di sektor buah-buahan. Buah-buahan yang menjadi unggulan Kabupaten Sumedang diantaranya salak bongkok, sawo, pisang, melinjo, nangka dan masih banyak lagi. 4.2. Karakteristik Sifat Kimia Tanah di Kebun Salak Lokal Sumedang Dari ketiga lokasi (Tabel 4) tampak bahwa nilai ph tanah di lokasi 2 lebih tinggi jika dibandingkan dengan lokasi 1 dan lokasi 3. Nilai C-organik dari ketiga lokasi menunjukan bahwa nilai C-organik di lokasi 2 lebih tinggi. Tingginya nilai C-organik di lokasi 2 diduga berasal dari tumpukan serasah daun tanaman salaknya dan dari daun tanaman lain (tanaman melinjo dan bambu) yang ada di sekitar lokasi kebun.
17. Karakteristik Sifat Kimia Tanah. karakteristik Lokasi 1 Lokasi 2 Lokasi 3 ph H 2 O 6.10 6.40 5.72 ph KCl 4.65 5.50 4.55 C-Organik (%) 1.89 2.73 1.27 N-Total (%) 0.19 0.27 0.19 P tersedia (ppm) 2.65 2.34 7.16 Basa dapat dipertukarkan (me/100g) Ca 4.11 7.29 4.09 Mg 2.88 3.92 2.13 K 0.48 1.86 1.03 Na 0.22 0.54 0.11 Unsur Mikro (ppm) Fe 0.17 0.10 0.38 Mn 2.15 2.31 3.08 Zn 0.29 0.18 0.62 Cu 0.34 0.16 0.31 Al dd (me/100g) Tu Tu Tu KTK (me/100g) 14.41 18.19 11.47 KB (%) 53.37 74.82 64.17 Keterangan : Lokasi 1= kebun salak asam;lokasi 2=kebun salak sepat ;Lokasi 3=kebun salak manis Di lokasi 1 dan lokasi 3 nilai N-totalnya sama, dan nilai N-total di lokasi 2 lebih tinggi jika dibandingkan dengan lokasi 1 dan lokasi 3. Tingginya nilai N- total di lokasi 2 diakibatkan oleh kandungan bahan organik tinggi yang berasal dari tumpukan serasah tanaman salak dan daun tanaman di sekitar kebun salak.
18 Analisis di lokasi 3 nilai P tersedia lebih tinggi dari lokasi 1 dan lokasi 2. Tingginya nilai P tersedia di lokasi 3 disebabkan oleh tingginya bahan mineral yang mengandung fosfor di tanah tersebut dan tingkat pelapukannya. Selain itu, yang mempengaruhi tingginya nilai P di lokasi 3 disebabkan oleh nilai ph. Nilai ph tanah semakin rendah maka absorpsi bentuk H 2 PO - 4 akan meningkat. Hasil analisis KTK tanah dari ketiga lokasi menunjukan bahwa di lokasi 2 nilainya lebih tinggi jika dibandingkan dengan lokasi 1 dan lokasi 3. Tingginya nilai KTK di lokasi 2 dipengaruhi oleh ph tanah dan bahan organik (serasah daun tanaman) di sekitar lokasi 2. Hasil analisis Kejenuhan basa di tiga lokasi juga menunjukan bahwa di lokasi 2 lebih tinggi dari lokasi 1 dan lokasi 3. Dari ketiga lokasi menunjukan bahwa di lokasi 2 nilai Ca dd, Mg dd, K dd, dan Na dd lebih tinggi dari lokasi 1 dan lokasi 3. Tingginya nilai Ca dd, Mg dd, K dd, dan Na dd di lokasi 2 diduga berasal dari penambahan bahan organik yang berasal dari serasah daun tanaman yang berada di sekitar lokasi 2. Nilai Fe di lokasi 3 lebih tinggi dari lokasi 1 dan lokasi 2. Kandungan Fe pada tanah di lokasi 3 jauh lebih tinggi dibandingkan kandungan Fe pada lokasi 1 dan lokasi 2, hal ini diakibatkan oleh tanah di lokasi 3 mempunyai nilai ph paling rendah sehingga kandungan Fe paling tinggi. Nilai Mn dan Zn dari ketiga lokasi menunjakan bahwa di lokasi 3 lebih tinggi dari lokasi 1 dan lokasi 2. Sedangkan untuk nilai Cu di lokasi 1 lebih tinggi dari lokasi 2 dan lokasi 3. 4.3. Kandungan Hara Tanaman Salak Lokal Sumedang dan Salak pondoh Solihin (2001) menjelaskan untuk mengetahui unsur-unsur hara yang paling berperan terhadap mutu dan hasil tanaman salak serta status hara maka diperlukan suatu pendekatan melalui status hara di daun, hal ini merupakan cara yang tepat karena status hara daun mencerminkan status hara tanah yang tersedia bagi tanaman.
19 Tabel 5. Kadar Hara Daun Tanaman Salak Sumedang Lokasi N P K Na Ca Mg Fe Mn Cu Zn. (%).. (ppm). 1 1.74 0.083 1.49 0.5 1.46 0.44 199,66 25.72 10,6 6,97 2 1.96 0.078 1.73 0.59 1.71 0.59 163.38 12,98 11,52 9,91 3 2.13 0.10 2.85 0.98 0.50 0.49 272.92 40,08 11,64 9,24 4 1.86 0.11 2.51 1.46 0.76 0.59 273,9 35,22 51,7 10,3 Keterangan:Lokasi 1=salak asam;lokasi 2=salak sepat;lokasi 3=salak manis(agak);lokasi4=salak manis(dekat kandang kambing). Dari hasil analisis daun yang disajikan pada Tabel 5 terlihat bahwa kandungan fosfor dan nitrogen di ke empat lokasi hampir sama. Nilai K, Na, Fe dan Mn di lokasi 3 dan lokasi 4 lebih tinggi dari lokasi 1 dan lokasi 2. Nilai kalsium di lokasi 1 dan lokasi 2 lebih tinggi dari lokasi 3 dan lokasi 4. Nilai kandungan Cu dan Zn antar lokasi tidak berbeda jauh. Hasil penelitian diatas dapat diasumsikan bahwa yang mempengaruhi perbedaan rasa salak lokal di Kabupaten Sumedang dari segi kebutuhan hara tanaman adalah kandungan K, Na, Fe dan Mn. Ke empat unsur hara tersebut yang paling terlihat jelas pengaruhnya terhadap rasa salak lokal Sumedang adalah kalium, dimana tanaman salak yang memiliki rasa manis respon terhadap penyerapan K lebih tinggi. Mengel dan Kirby (1982) menjelaskan bahwa respon pengambilan K oleh tanaman tergantung pada level N. Hal ini terbukti pada tanaman salak manis pengambilan K lebih tinggi dan pengambilan N rendah. Selain itu, fungsi dari kalium sendiri yaitu berpengaruh pada aktivitas fotosintesis, sebagai aktivator enzim dalam produksi ATP. Asumsi tingginya kandungan kalium pada salak lokal Sumedang yang memiliki rasa manis ditunjang oleh hasil penelitian Erna (2003) bahwa pada tanaman pepaya yang diberi pupuk KCl dengan dosis yang tinggi dapat meningkatkan rasa manis pada buah pepaya. Selain itu ditunjang pula oleh beberapa penelitian pada tanaman kelapa menunjukan bahwa pemupukan kalium menghasilkan respon yang paling bagus bila dibandingkan dengan pemupukan nitrogen dan fosfor (Uexkull, 1960; Ng dan Thong, 1985).
20 Tabel 6. Kadar Hara Daun Tanaman Salak Pondoh Lokasi N P K Na Ca Mg Fe Mn Cu Zn. (%).. (ppm). 1 2.15 0.10 1.57 0.72 1.67 1.29 620.63 173.68 53.13 84.93 2 2.23 0.11 1.34 0.62 1.42 1.59 584.67 163.97 59.33 91.28 Keterangan: Lokasi 1= salak Pondoh Hitam; Lokasi 2= salak Pondoh Kuning. Tabel 6 menunjukan kandungan hara dari daun salak pondoh dengan varietas pondoh hitam dan pondoh kuning. Perbedaan yang paling mencolok antara salak pondoh hitam dan salak pondoh kuning dilihat dari segi ukuran buah, bentuk dan rasa. Salak pondoh kuning memiliki rasa agak sepat walaupun sedikit jika dibandingkan dengan salak pondoh hitam yang memiliki rasa manis tanpa ada sedikit sepat. Hasil dari analisis terhadap daun tanaman salak pondoh kuning dan salak pondoh hitam perbandingan nilai kandungan hara yang terdapat di kedua varietas salak tersebut tidak berbeda jauh (Tabel 6). Tabel 7. Rasio Ca/K Daun Tanaman Salak Sumedang dan Salak Pondoh Lokasi Ca K Ca/K...(%)......(%)... 1 1.46 1.49 0.98 2 1.71 1.73 0.99 3 0.50 2.85 0.18 4 0.76 2.51 0.30 Salak pondoh hitam 1.67 1.57 1.06 Salak pondoh kuning 1.42 1.34 1.05 Keterangan:Lokasi 1=salak asam;lokasi 2=salak sepat;lokasi 3=salak manis(agak);lokasi4=salak manis(dekat kandang kambing). Tabel 7 menunjukan rasio Ca/K pada daun salak Sumedang yang berasa manis ( 0.18 % dan 0.30 %) lebih rendah dibandingkan dengan rasio Ca/K daun
21 salak yang berasa asam dan sepat ( 0.99 % dan 0.98 %). Tingginya rasio Ca/K pada salak asam dan sepat mengakibatkan rendahnya jumlah kalium yang dijerap oleh tanaman. Sedangkan pada salak manis rendahnya rasio Ca/K mengakibatkan tingginya jumlah kalium yang dijerap oleh tanaman. Faktor lain yang mempengaruhi terhadap rasa manis pada salak pondoh jika dibandingkan dengan salak Sumedang adalah pemberian sulfur. Sulfur yang berada di daerah perkebunan salak pondoh berasal dari hasil erupsi gunung merapi sedangkan di kebun salak lokal Sumedang tidak terjadi erupsi, karena tidak terjadi erupsi maka kandungan sulfur di tanahnya rendah. Tingginya kandungan sulfur di kebun salak pondoh mengakibatkan rasa buahnya manis. Oleh karena itu, pada salak lokal Sumedang jika menginginkan buahnya berasa manis sama seperti salak pondoh maka perlu ditambahkan sulfur. Penambahan sulfur pada salak lokal Sumedang bisa dilakukan dengan cara penyiraman tanaman menggunakan air yang mengandung sulfur dan pada saat pemupukan dilakukan penaburan sulfur pada masing-masing tanaman. Selain kebutuhan hara, aspek budidaya pada salak lokal Sumedang perlu diperhatikan karena, faktor budidaya sedikitnya dapat berpengaruh terhadap produktivitas dan kualitas salak lokal Sumedang. Solihin (2001) melaporkan bahwa tahap awal dari penanaman tanaman salak pondoh adalah pengolahan dan pembongkaran tanah, penanaman, pengairan, pengaturan jarak tanam, pemupukan dan pengendalian hama penyakit, penyiangan/pemangkasan pelepah daun, penyerbukan, pencangkokan dan panen. Pengolahan tanah dan pembongkaran tanah berfungsi untuk membalikan unsur-unsur hara dan supaya tanah menjadi gembur, pengaturan jarak tanam untuk menghindari persaingan dalam pengambilan unsur hara di tanah, pemupukan dan pengendalian hama penyakit untuk memberikan kebutuhan hara tanaman dan mengantisipasi hama penyakit yang mengganggu tanaman salak, dan penyiangan berfungsi untuk mengatur iklim mikro dengan cara melakukan pemangkasan pada pelepah daun tua.