Tren Penelitian Sains dan Penelitian Pendidikan Sains

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. martabat manusia secara holistik. Hal ini dapat dilihat dari filosofi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. pendidikan (educational research and development) meliputi tahapan define,

KEGIATAN LABORATORIUM BERBASIS INKUIRI PADA KONTEKS MATERI SEL AKI UNTUK MENINGKATKAN LITERASI SAINS SISWA SMA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan model penelitian dan pengembangan

Pendekatan Pembelajaran Metacognitive Scaffolding dengan Memanfaatkan Multimedia Interaktif untuk Meningkatkan Literasi Matematis Siswa SMA

PENERAPAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU MENGGUNAKAN MODEL WEBBED UNTUK MENINGKATKAN LITERASI SAINS SISWA PADA TEMA KALOR DAN PERUBAHAN SUHU

BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran sains di Indonesia dewasa ini kurang berhasil meningkatkan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. peningkatan penguasaan konsep dan keterampilan generik sains pada

2015 PEMBELAJARAN IPA TERPADU TIPE WEBBED TEMA TEKANAN UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS DAN PENGUASAAN KONSEP SISWA SMP

METODE PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. A. Model Pengembangan. Model pengembangan yang dipakai adalah modal Four-D yang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. pengembangan pendidikan (Educational Research and Development) yang

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. sebenarnya (Suryabrata, 2005 : 38). Dalam penelitian ini peneliti ingin

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Ismail, 2016

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) saat ini menjadi

ABSTRAK KATA PENGANTAR HALAMAN PERSEMBAHAN UCAPAN TERIMA KASIH DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) IPA TERPADU BERBASIS MODEL CONNECTED TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIII MTs N YOGYAKARTA II

Mukti Herdiana, Eko Setyadi Kurniawan, Ashari

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DISERTAI DENGAN KEGIATAN DEMONSTRASI TERHADAP PRESTASI BELAJAR ASAM, BASA, DAN GARAM

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Abdul Latip, 2015

Universitas Pendidikan Indonesia, Indonesia Jl. Dr. Setiabudhi No. 299 Bandung

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL INKUIRI TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA SUB POKOK BAHASAN CERMIN DATAR

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

DAFTAR ISI BAB II PEMBELAJARAN IPA TERPADU MODEL CONNECTED, PENGUASAAN KONSEP KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN, DAN SIKAP ILMIAH SISWA...

BAB I PENDAHULUAN. Ilmu pengetahuan alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen kuasi

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan bertujuan untuk mempersiapkan seseorang menjadi manusia

III. METODE PENELITIAN

PENGEMBANGAN MODUL IPA TERPADU TEMA PEMANASAN GLOBAL BERBASIS KOMIK DI SMPN 4 DELANGGU

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuasi eksperimen (quasi

BAB III METODE PENELITIAN

MEMBANGUN LITERASI SAINS SISWA PADA KONSEP ASAM BASA MELALUI PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Skor Maksimal Internasional

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu (Quasi Experimental

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. 2015/2016, dengan pokok bahasan Lingkaran. eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted

BAB III METODE PENELITIAN. Berpikir kritis mencakup sejumlah keterampilan kognitif dan disposisi

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan untuk menyelidiki peningkatan pembelajaran

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Dengan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode Weak experiment yang digunakan untuk

KOMPARASI MODEL PEMBELAJARAN TWO STAY TWO STRAY DAN THINK PAIR SHARE UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMK

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan adalah metode quasi eksperimen

Tersedia online di EDUSAINS Website: EDUSAINS, 8 (1), 2016, 90-97

BAB III METODE PENELITIAN. Keterampilan laboratorium dan kemampuan generik sains sangat penting

BAB III METODE PENELITIAN. 1. Pendekatan Penelitian dan Metode Penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif,

: Perlakuan (Pembelajaran dengan model pembelajaran M-APOS),

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi-eksperiment dengan

BAB III. Metodologi Penelitian. Contextual Teaching and Learning (CTL). Metode penelitian yang

Meningkatkan Kemandirian Belajar Siswa Melalui Pembelajaran dengan Pendekatan Metakognitif Berbasis Soft Skill

BAB I PENDAHULUAN. siswa Indonesia mampu hidup menapak di buminya sendiri.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN A.

PENERAPAN MEDIA PEMBELAJARAN DIGITAL BOOK DENGAN KVISOFT FLIPBOOK MAKER

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Bandarlampung. Populasi dalam

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TPS TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA

(Artikel) Oleh KHOIRUNNISA

2015 PENERAPAN LEVELS OF INQUIRY UNTUK MENINGKATKAN LITERASI SAINS PESERTA DIDIK SMP PADA TEMA LIMBAH DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN TREFFINGER TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMP

PENGARUH PEMBELAJARAN STRATEGI REACT TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN MAHASISWA PGSD TENTANG KONEKSI MATEMATIS

BAB I Pendahuluan. Internasional pada hasil studi PISA oleh OECD (Organization for

PENERAPAN GEOGEBRA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA UNIVERSITAS SURYAKANCANA

Muhamad Soeleman Universitas Suryakancana Cianjur

PEMBELAJARAN BERBASIS VIRTUAL LABORATORY UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP PADA MATERI LISTRIK DINAMIS

PERANCANGAN PEMBELAJARAN LITERASI SAINS BERBASIS INKUIRI PADA KEGIATAN LABORATORIUM

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR SAINS MENGGUNAKAN PA BERBASIS SCIENTIFIC APPROACH DENGAN PA KONVENSIONAL

Perangkat Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Mendukung Kemampuan Literasi Matematika Siswa Kelas VIII

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN SCIENCE ENVIRONMENT TECHNOLOGY AND SOCIETY (SETS) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN SIKAP ILMIAH

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Erie Syaadah, 2013

III. METODOLOGI PENELITIAN. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XI IPA SMA Negeri I Natar

Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako (JPFT) Vol. 3 No. 3 ISSN Kata Kunci : Guided Inquiry dengan Teknik Think Pair Share, Hasil Belajar [1]

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

J. Pijar MIPA, Vol. XI No.2, September 2016: ISSN (Cetak) ISSN (Online)

Transkripsi:

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN SAINS Pengembangan Model dan Perangkat Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Magister Pendidikan Sains dan Doktor Pendidikan IPA FKIP UNS Surakarta, 19 November 2015 MAKALAH PENDAMPING Tren Penelitian Sains dan Penelitian Pendidikan Sains ISSN: 2407-4659 EFEKTIVITAS SOFTWARE PEMBELAJARAN IPA TERPADU MODEL CONNECTED UNTUK MENINGKATKAN LITERASI SAINS SISWA PADA ASPEK KONTEN DAN KONTEKS TEMA ROKOK DAN KESEHATAN Asniar 1, Anna Permanasari 1, Ahmad Mudzakir 1 1 SPS Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung Email korespondensi : niarktp@gmail.com Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk berupa software pembelajaran dan menguji efektivitasnya dalam peningkatan hasil belajar siswa pada aspek konten dan konteks pada tema rokok dan kesehatan melalui software pembelajaran IPA terpadu model connected. Metode penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan tahapan define, design, dan develop. Pada tahap define dilakukan analisis pendahuluan dan wawancara terhadap guru mata pelajaran IPA dan laboran laboratorium komputer, pada tahap design dilakukan analisis wacana, peta konsekuensi pembelajaran, story board dan pemproduksian software. Uji coba software pada tahap develop dilakukan dengan quasy eksperiment dengan bentuk pretest-postest control group design. Instrumen penelitian berupa lembar tes literasi sains dalam bentuk soal pilihan ganda, angket, LKS, lembar observasi, dan pedoman wawancara. Berdasarkan data nilai pretes dan postes dihitung nilai N-Gain (%) kemudian dianalisis secara statistik. Terhadap data tersebut juga dilakukan uji signifikansi pada taraf kepercayaan 95% dengan uji z untuk data postes dan N-Gain, serta uji U-Mann Whitney untuk data pretes. Hasil uji coba menunjukkan literasi sains secara keseluruhan untuk kedua kelas mengalami peningkatan. Kemampuan awal kedua kelas tidak berbeda secara signifikan. Setelah perlakuan, diperoleh dari hasil postes dan N-Gain bahwa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol terdapat perbedaan yang signifikan. Pada aspek konten terjadi peningkatan sebesar 50,8% untuk kelas eksperimen dan Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS) 2015 515

27,9% pada kelas kontrol. Pada aspek konteks terjadi peningkatan sebesar 47,2% untuk kelas eksperimen dan 31,4% kelas kontrol. Kata kunci : Software Pembelajaran, Research and Development (R&D), Literasi Sains I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Mewujudkan tujuan pendidikan sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia salah satunya dapat dicapai dengan pembelajaran sains atau Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang bermakna. IPA adalah salah satu rumpun disiplin ilmu yang memiliki tujuan untuk meningkatkan ketiga dimensi kemanusiaan paling elementer yaitu afektif, kognitif, dan psikomotor. Agar pembelajaran IPA ini lebih bermakna serta dapat berguna dalam meningkatkan kualitas SDM, maka perlu diciptakan pembelajaran IPA yang membuat siswa dapat mengaplikasikan ilmunya dalam menghadapi permasalahan di kehidupan sehari-hari. Dalam kata lain, dengan pembelajaran ini siswa menjadi melek sains atau memiliki literasi sains yaitu mampu mengaitkan dan menggunakan konsep sains dalam kehidupan sehari-hari. Selain dalam pembelajarannya, untuk dapat memperbaiki sistem pendidikan nasional sehingga dapat meningkatkan kualitas SDM perlu dievaluasi hasil pencapaian proses belajar siswa dan dibandingkan dengan standar internasional. Oleh karena itu perlu diketahui bagaimanakah literasi sains siswa di Indonesia jika dibandingkan dengan standar internasional. PISA OECD (Programme for International Student Assesment Organisation for Economic Co-Operation and Development) merupakan salah satu bentuk studi lintas negara yang memonitor dari sudut capaian peserta didik. Literasi sains dianggap suatu hasil belajar kunci dalam pendidikan pada usia 15 tahun bagi semua siswa, apakah akan meneruskan mempelajari sains atau tidak setelah itu. Skor literasi sains siswa Indonesia berturut-turut adalah 393, 395 untuk tahun 2003 dan 2006. Skor literasi sains siswa Indonesia pada PISA 2009 adalah 383, dengan rerata skor dari negara OECD adalah 501 (OECD, 2009). Pada tahun 2012 Indonesia menempati posisi ke 64 dari total 65 negara yang berpartisipasi dalam tes PISA dengan skor rata-rata 382 (OECD, 2012). Menurut analisis yang dilakukan OECD, skor literasi sains dalam rentang antara 335 409 poin termasuk dalam kategori kecakapan level 1 atau lebih rendah dari itu. Kecakapan siswa pada level ini memiliki pengetahuan sains yang terbatas dan hanya bisa diterapkan pada beberapa situasi saja. Siswa pada level ini dapat memberikan penjelasan ilmiah yang mudah dan mengikuti bukti-bukti yang diberikan secara eksplisit (OECD, 2009). Depdiknas (2005) mengungkapkan bahwa lemahnya kemampuan literasi sains siswa disebabkan karena seluruh tema dan persoalan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pada berbagai jenis objek dan tingkat organisasi tidak dikaji secara utuh dan terpadu. Pelaksanaan pendidikan IPA di Indonesia pada tingkat SMP/MTs masih mengajarkan IPA sebagai mata pelajaran yang 516 Pengembangan Model dan Perangkat Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi

terpisah (kimia, fisika, biologi) sehingga menyebabkan siswa tidak bisa menghubungkan kaitan antara mata pelajaran tersebut. Disamping itu siswa menjadi kurang bisa mengaplikasikan materi pelajaran ke dalam lingkungannya karena seolah-olah semuanya tidak saling berkaitan. Banyak guru SMP/MTs yang belum begitu paham mengenai pembelajaran IPA yang terhubung dan masih memberikan pelajaran IPA secara parsial serta tidak menyampaikan keterkaitan antara mata pelajaran-mata pelajaran tersebut (Retmana, 2010). Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses pembelajaran. Pengembangan komputer sebagai media pembelajaran telah lama dilakukan. Berbagai kelebihan yang dimiliki komputer membuat komputer merupakan media yang menarik untuk digunakan dan dikembangkan (Suwondo, 2008). Teknologi informasi dalam pendidikan diaplikasikan dalam bentuk multimedia yang berbentuk perangkat lunak (software), yang memberikan fasilitas kepada siswa untuk mempelajari suatu materi. Penggunaan aplikasi software pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar akan meningkatkan efisiensi, motivasi, serta memfasilitasi belajar aktif, belajar eksperimental, konsisten dengan belajar yang berpusat pada siswa, dan memandu pebelajar untuk lebih baik. Software pembelajaran memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan, karena dapat digunakan untuk mengatasi perbedaan individual, mengajarkan konsep, melaksanakan perhitungan dan menstimulus belajar siswa. Selain itu software pembelajaran memberi bantuan tidak saja kepada siswa yang tergolong fast learner dan slow learner, melainkan juga pada siswa dengan kategori underchiever, melalui beragam bantuan dan tantangan yang bersifat repetitif, eksploratif dan pengayaan (enrichement) yang dinamis. 1.2.Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah penggunaan software pembelajaran IPA Terpadu berdasarkan model connected dapat meningkatkan literasi sains pada aspek konten dan konteks siswa kelas VIII pada tema rokok dan kesehatan? 1.3.Tujuan a. Menghasilkan software pembelajaran IPA terpadu berdasarkan model connected pada tema rokok dan kesehatan untuk siswa SMP kelas VIII b. Mendapatkan informasi berkaitan dengan peningkatan literasi sains siswa pada aspek konten dan konteks kelas VIII pada tema rokok dan kesehatan yang diajar dengan software pembelajaran IPA terpadu berdasarkan model connected c. Mendapatkan informasi berkaitan dengan peningkatan literasi sains siswa pada aspek konten dan konteks kelas VIII pada tema rokok dan kesehatan yang diajar dengan media cetak pada pembelajaran IPA terpadu berdasarkan model connected Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS) 2015 517

1.4.Manfaat a. Bagi Siswa 1. Meningkatkan motivasi siswa dalam belajar, siswa dapat memperoleh hasil belajar yang optimal melalui proses pembelajaran yang bermakna bagi siswa. 2. Meningkatkan kesadaran siswa terhadap masalah yang berhubungan dengan kesehatan, khususnya dampak dari merokok dalam jangka panjang. b. Bagi Guru Menjadi alternatif dalam menerapkan pembelajaran IPA terpadu serta mengefektifkan waktu pembelajaran. c. Bagi Peneliti Lain Hasil penelitian dapat dijadikan masukkan dan bahan pertimbangan untuk penelitian sejenis dengan menggunakan model pembelajaran dan konsep yang berbeda. II. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R & D)dengan tahapan define, design, develop dan analisis. Software diteliti efektifitasnya terhadap literasi sains dengan menggunakan quasy eksperiment dengan bentuk pretest-postest control group design (Frankel dan Wallen, 2007). Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII di salah satu SMP Negeri di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Penentuan sampel dilakukan secara purposive sampling untuk memperoleh satu kelas eksperimen (32 siswa) dan satu kelas kontrol (34 siswa). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas LKS, tes pilihan ganda, lembar observasi, angket dan pedoman wawancara. Aspek literasi sains yang diukur meliputi aspek konten dan konteks. Aspek konten meliputi: 1) Sistem pernapasan manusia, 2) Kapasitas vital paru-paru, dan 3) Zat adiktif. Aspek konteks meliputi: 1) Organ pernapasan, 2) Inspirasi dan ekspirasi, 3) Kapasitas vital paru-paru, 4) Hari tanpa tembakau sedunia, 5) Bayi prematur, 6) Rokok, 7) Rokok tembakau, 8) Penanda nikotin, dan 9) Tar dan nikotin. Teknik analisis data dilakukan dengan uji perbedaan dua rerata menggunakan uji z untuk data yang berdistribusi normal dan homogen, sedangkan jika data tidak berdistribusi normal dilakukan uji U Mann Whitney. Uji homogenitas menggunakan Kolmogorov Smirnov. III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada kelas eksperimen digunakan software pembelajaran yang dipakai pada tahap elaborasi sebagai media dalam penyampaian materi pada tema rokok dan kesehatan. Untuk menjalankan software ini diperlukan komputer dengan spesifikasi umum Windows XP, RAM 256, Pentium 4. Karakteristik software yang dihasilkan antara lain: 1) Mudah dioperasikan, 2) Konsepkonsep yang abstrak dan memerlukan penjelasan proses disajikan dengan animasi, dan 3) Dapat digunakan untuk pembelajaran mandiri. Dari hasil 518 Pengembangan Model dan Perangkat Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi

angket diketahui perolehan persentase terbesar (sangat baik) adalah pada pernyataan mengenai kemenarikan software dan kemudahan bahasa yang digunakan yaitu sebesar 71,9%. Peningkatan penguasaan literasi sains siswa pada aspek konten dan konteks terutama diperlihatkan dalam bentuk normalisasi gain (%). Secara umum siswa mengalami peningkatan sebesar 60,8% yang menunjukkan peningkatan dengan kategori tinggi pada kelas eksperimen dan 32,6% untuk kelas kontrol yang menunjukkan peningkatan hasil belajar dengan kategori rendah. Kemampuan kedua kelas yang didapat dari pretes dan postes terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dengan uji Kolmogorov-Smirnov menggunakan SPSS 17.0. Setelah uji normalitas kemudian dilakukan uji homogenitas menggunakan uji Levene. Hasil uji normalitas dan homogenitas dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2 di bawah ini. Tabel 1. Hasil Uji Normalitas pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Pretes (%) Postes (%) N-Gain (%) Eks Kontrol Eks Kontrol Eks Kontrol P-value/Sig 0,200 0,018 0,200 0,187 0,200 0,200 Kesimpulan Normal Tidak normal Normal Normal Normal Normal Tabel 2. Hasil Uji Homogenitas pada Pretes, Postes dan N-Gain Pretes Postes N-Gain P-Value/Sig 0,323 0,572 0,822 Kesimpulan Homogen Homogen Homogen Hasil pretes pada kelas eksperimen dengan kelas kontrol dilakukan uji nonparametrik, yaitu uji U Mann Whitney karena hasil pretes pada kelas kontrol tidak terdistribusi normal. Sedangkan untuk postes dan N-Gain dilakukan uji z karena semua data terdistribusi normal. Hasil uji tersebut dapat dilihat pada Tabel 3 di bawah ini. Tabel 3. Hasil Uji Perbedaaan Rerata Pretes Postes N-Gain P-Value/Sig 0,349 0,000 0,000 Kesimpulan Tidak berbeda signifikan Berbeda signifikan Berbeda signifikan Secara keseluruhan terjadi peningkatan hasil belajar pada aspek literasi sains baik pada kelas eksperimen maupun pada kelas kontrol. Peningkatan pada aspek-aspek literasi sains dimungkinkan karena pembelajaran untuk kedua kelas dapat mendorong siswa mengkonstruksi dan membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Holbrook (2005) bahwa sains akan mudah dipelajari ketika yang dipelajari Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS) 2015 519

N-Gain (%) tersebut masuk akal dalam pandangan siswa dan berkaitan dengan kehidupan manusia. Pengelompokan siswa pada pembelajaran ini dilakukan agar siswa dapat saling membantu dalam mempelajari serta menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru (diskusi). Hal ini sesuai dengan pendapat Poedjiadi (Suanda, 2010) yang menyatakan bahwa kegiatan pembelajaran dengan desain kelompok menyediakan kesempatan yang baik dalam pengembangan model strategi berpikir efektif. Perbedaan hasil belajar yang terjadi antara kelas eksperimen dan kelas kontrol terletak pada penggunaan media yang diberikan pada kedua kelas. Pada kelas eksperimen penyampaian materi dilakukan dengan media elektronik berupa software pembelajaran sedangkan pada kelas kontrol diberikan dengan media cetak. Hal ini terjadi karena dengan bantuan komputer pembelajaran dapat diulang-ulang, konsep-konsep bisa disimulasikan, tampilannya dapat dibuat menarik dan dengan navigasi yang baik dapat dipelajari secara individual dengan urutan materi sesuai dengan kehendak siswa (Jacob, 1992 dalam Munir, 2001). Persentase peningkatan hasil belajar setiap aspek pada kelas eksperimen dan kelas kontrol yang diperoleh diperlihatkan pada Gambar 1 di bawah ini. 60 50 40 30 20 10 0 50.8 47.2 27.9 31.4 Konten Konteks Aspek Literasi Sains Eksperimen Kontrol Gambar 1. Peningkatan Hasil Belajar pada Aspek Konten dan Konteks Peningkatan terbesar pada aspek konten terjadi pada sistem pernapasan manusia dan zat adiktif sebesar 61,6% untuk kelas eksperimen yang tergolong kategori tinggi, dan 40,2% untuk kelas kontrol yang terjadi pada kapasitas vital paru-paru kategori sedang. Peningkatan hasil belajar pada aspek konten dapat dilihat juga pada Gambar 2 di bawah ini. 520 Pengembangan Model dan Perangkat Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi

Rata-rata N-Gain(%) 70 60 61.6 61.6 50 40 30 20 10 12.6 29.2 40.2 30.8 Eksperimen Kontrol 0 Sistem Pernapasan Manusia Kapasitas Vital Paruparu Konten Zat Adiktif Gambar.2 Peningkatan Hasil Belajar Siswa pada Aspek Konten Terjadinya peningkatan yang signifikan pada konten sistem pernapasan manusia untuk kelas eksperimen dikarenakan pada konten tersebut banyak memuat hal-hal yang abstrak, seperti proses difusi oksigen dan karbondioksida dalam darah, proses pernapasan dada dan perut, inspirasi dan ekspirasi, dan hal-hal tersebut bisa disajikan kepada siswa melalui software pembelajaran berupa animasi sehingga siswa bisa membayangkan proses yang terjadi dengan bantuan media tersebut. Pada konten kapasitas paru-paru peningkatan hasil belajar tertinggi diperoleh pada kelas kontrol dengan selisih 11%, hal itu terjadi karena pada konten tersebut berhubungan dengan perhitungan angka matematika yang membutuhkan pemahaman dan aplikasi nyata sehingga dapat disimpulkan untuk konten kapasitas vital paru-paru software yang digunakan tidak bisa mencukupi kebutuhan tersebut. Selain itu juga diperkuat dengan hasil wawancara siswa bahwa pertanyaan yang berhubungan dengan kapasitas paru-paru, berupa hitungan membuat mereka bingung karena pada software yang diberikan tidak ada contoh soal yang berkaitan dengan perhitungan seperti itu. Pada aspek konteks terjadi peningkatan untuk semua konteks, baik pada kelas eksperimen maupun pada kelas kontrol. Peningkatan tertinggi sebagian besar diperoleh pada kelas eksperimen kecuali pada konteks kapasitas paru-paru dan rokok tembakau. Hasil peningkatan aspek konteks berdasarkan N-Gain(%) untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada Gambar 3 di bawah ini. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS) 2015 521

Rata-rata N-Gain(%) 80 60 40 20 0 76.6 63 54.2 58.3 56.3 40.2 41.18 48.53 35.29 29.2 28.2 28.2 31.2 21.57 25 18.14 23.53 29.4 A B C D E F G H I Konteks Eksperimen A = Organ pernapasan B = Inspirasi dan ekspirasi C = Kapasitas Paru-paru D = Hari tanpa tembakau sedunia E = Bayi prematur F = Rokok G = Rokok tembakau H = Penanda nikotin I = Tar dan nikotin Kontrol Gambar. 3 Peningkatan Hasil Belajar Siswa pada Aspek Konteks Pada aspek konteks terjadi peningkatan yang signifikan untuk kelas eksperimen pada konteks organ pernapasan dan inspirasi dan ekspirasi. Hal tersebut karena pada kelas eksperimen yang menggunakan software pembelajaran siswa bisa memvisualisasikan proses inspirasi dan ekspirasi serta mengetahui organ-organ pernapasan yang terdapat di dalam tubuh dengan bantuan software pembelajaran, baik itu berupa gambar maupun animasi. Pada konteks kapasitas paru-paru di mana pada kelas eksperimen peningkatan secara rata-rata yang diperoleh lebih kecil daripada kelas kontrol, hal tersebut karena pada software yang digunakan pada kelas eksperimen tidak mencakup perhitungan contoh untuk perhitungan yang diperlukan. IV. SIMPULAN, SARAN, DAN REKOMENDASI Karakteristik software yang dihasilkan pada penelitian ini antara lain: menyajikan konsep terpadu dalam tema rokok dan kesehatan, menyajikan dampak negatif yang ditimbulkan rokok terhadap kesehatan, memvisualisasikan organ-organ pernapasan dan proses pernapasan, berorientasi pada konteks nyata yang terjadi dalam kehidupan di sekitar siswa, dan mengembangkan pembelajaran mandiri Pembelajaran IPA terpadu model connected menggunakan software pembelajaran dapat meningkatkan literasi sains siswa pada aspek konten dan konteks. Berdasarkan uji signifikansi diketahui bahwa peningkatan kelas eksperimen berbeda signifikan dibandingkan kelas kontrol. 522 Pengembangan Model dan Perangkat Pembelajaran untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi

V. DAFTAR PUSTAKA Depdiknas. (2005). Materi Latihan Terintegrasi: Ilmu Pengetahuan Alam Biologi. Jakarta: Depdiknas. Fraenkel, J. R. & Wallen, N. E. (2007). How To Design And Evaluate Research In Education, 6 th Edition. Singapore: McGrawHill. Holbrook, J. (2005). Making Chemistry Teaching Relevant. Chemical Education International. 6(1), 1-12. Munir. (2001). Aplikasi Teknologi Multimedia dalam Proses Belajar Mengajar. Mimbar Pendidikan: UPI Press. OECD. (2009). PISA 2009 Assesment Framework: Key Competencies in Reading, Mathematics, and Science. Retmana, L. R. (2010). Pembelajaran Berbasis Multimedia Interaktif untuk Meningkatkan Kemampuan Literasi Sains Siswa SMP. Tesis S2 UPI Bandung: Tidak diterbitkan. Suanda, D. (2010). Pembelajaran IPA Terpadu dengan Multimedia pada Tema Pencemaran Lingkungan untuk Meningkatkan Literasi Sains Siswa SMP. Tesis S2 UPI Bandung. Suwondo. (2008). Model Pembelajaran Multimedia Interaktif Gelombang Elektromagnetik untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep dan Keterampilan Berpikir Rasional Siswa. Tesis S2 UPI Bandung: Tidak diterbitkan. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS) 2015 523