BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
|
|
|
- Hendra Tedja
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan menjadi aspek yang paling berpengaruh dalam upaya membentuk generasi bangsa yang siap menghadapi masalah-masalah di era globalisasi. Namun, kualitas pendidikan di Indonesia ternyata masih termasuk dalam kategori rendah. Hal ini terungkap melalui hasil survei Program for International Student Assessment (PISA) yang diadakan oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). PISA mengukur kecakapan anak-anak usia 15 tahun dalam mengimplementasikan masalah-masalah di kehidupan nyata. Hasil PISA 2012 menempatkan Indonesia pada peringkat 64 dari 65 negara yang berpartisipasi dalam tes tersebut. Rata-rata skor matematika anakanak Indonesia adalah 375, rata-rata skor untuk sains adalah 382 dan rata-rata skor membaca adalah 396. Padahal, rata-rata skor OECD secara berurutan adalah 494, 501 dan 496 (OECD, 2014:19). Selain survey PISA, masih ada survey Trends in Mathematics and Science Study (TIMSS) yang diadakan oleh International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA) yang juga menunjukkan kemampuan menalar para pelajar Indonesia pada bidang sains atau IPA masih rendah. TIMSS melakukan penilaian terhadap prestasi siswa dari berbagai negara dalam bidang matematika dan sains yang meliputi biologi, kimia, fisika, dan ilmu bumi. Aspek domain kognitif yang dinilai dalam TIMSS meliputi kemampuan pengetahuan (knowing), penerapan (applying), dan penalaran (reasoning). Berdasarkan laporan hasil TIMSS dalam TIMSS 2011 International Result in Science, Indonesia menempati peringkat 40 dari 45 peserta pada kategori domain kognitif sains bagi siswa 8 th grade yang berada pada rentang usia 13 hingga 16 tahun atau setara dengan siswa kelas VIII SMP (Martin, Mullis, Foy & Stanco, 2012). Hasil TIMSS 2011 pada bidang Fisika menunjukkan Indonesia memperoleh nilai 397 dimana nilai ini berada di bawah nilai rata-rata internasional yaitu 500. Berdasarkan data prosentase rata-rata jawaban benar 1
2 2 untuk konten sains dan domain kognitif khususnya Fisika, prosentase jawaban benar pada soal pemahaman selalu lebih tinggi dibandingkan dengan prosentase jawaban benar pada soal penerapan dan penalaran. Artinya, kemampuan penerapan dan penalaran siswa Indonesia lebih rendah dari kemampuan pemahaman. Pencapaian nilai siswa Indonesia di bawah nilai rata-rata pada survey PISA dan TIMSS mengindikasikan adanya masalah pada kemampuan membaca, kemampuan literasi sains, serta kemampuan menalar siswa. Apabila dianalisis lebih lanjut, hasil PISA 2012 menunjukkan adanya korelasi antara kemampuan membaca dengan kemampuan literasi sains siswa. Nilai koefisien korelasi yang dihasilkan antara kedua kemampuan tersebut sebesar 0,978 yang mengartikan bahwa apabila siswa memiliki kemampuan membaca yang rendah maka kemampuan literasi sains yang dimiliki juga rendah. Rendahnya kemampuan membaca siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya kondisi bahan ajar. Seperti yang disarikan dari penelitian Pratama (2011) yang menyatakan bahwa kerumitan bahan ajar yang disampaikan semakin membuat siswa lemah dan malas dalam membaca pembelajaran IPA. Salah satu bahan ajar yang dapat dikembangkan dalam bentuk yang lebih sederhana baik dari segi penyampaian materi maupun penggunaan bahasa serta dapat dirancang dengan tampilan yang menarik adalah modul. Keunggulan modul sebagai bahan ajar antara lain dapat dipelajari di berbagai tempat, mandiri atau tidak harus dipelajari secara berkelompok, serta dapat dipelajari secara fleksibel (Sungkono, 2003). Modul dapat dikembangkan sendiri oleh guru sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Guru sebagai unsur pendidikan yang terlibat langsung dalam pembelajaran di kelas dituntut untuk memiliki kompetensi dalam menggunakan dan mengembangkan bahan ajar. Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 10 ayat 1 dikemukakan bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogic, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Salah satu kompetensi paedagogik guru adalah guru mampu menggunakan media pembelajaran commit dan to sumber user belajar yang relevan dengan
3 3 karakteristik peserta didik dan mata pelajaran yang diampu untuk mencapai tujuan pembelajaran secara utuh. Namun, pada kenyataannya masih banyak guru yang belum menguasai kompetensi mengembangkan bahan ajar, sehingga dalam proses pembelajaran masih banyak yang bersifat konvensional (Sungkono, 2003:1). Bahan ajar yang dikembangkan oleh guru hendaknya tidak hanya mampu menarik minat baca dalam pembelajaran IPA, melainkan juga memuat kegiatan yang mampu mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Hal ini sejalan dengan tujuan pembelajaran IPA yang dituangkan dalam standar isi SMP yang menyatakan bahwa pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup (BSNP, 2006:149). Namun, tujuan ini belum sepenuhnya tercapai karena kemampuan berpikir siswa pada tahap penerapan dan penalaran masih rendah. Rendahnya kemampuan penalaran mengindikasikan rendahnya keterampilan berpikir tingkat tinggi (high order thinking skill - HOTS). Hal ini dikarenakan aspek pemahaman dan penerapan termasuk dalam keterampilan berpikir dasar. Sedangkan aspek penalaran termasuk dalam keterampilan berpikir tingkat tinggi. Berpikir tingkat tinggi terjadi ketika seseorang mengambil informasi baru dan informasi yang telah tersimpan dalam memori dan saling terhubungkan, menata kembali dan memperluas informasi ini untuk mencapai tujuan atau menemukan jawaban yang mungkin dalam situasi yang membingungkan (Winarno, 2014:36). Keterampilan berpikir tingkat tinggi mempengaruhi prestasi belajar siswa, karena peserta didik yang memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi akan mampu belajar dan mengimprovisasi kinerjanya serta mengurangi kelemahannya (Heong, dkk, 2011). Keterampilan berpikir pada tingkat yang lebih tinggi (menganalisis, mengevaluasi, mencipta) tidak dapat diperoleh secara langsung sehingga perlu dilatih melalui kegiatan pembelajaran. Menumbuhkan HOTS dapat dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung serta dalam kegiatan evaluasi pembelajaran. HOTS dapat dipadukan dengan bermacam-macam pendekatan pembelajaran, salah satunya adalah commit pendekatan to user saintifik. Penelitian Majid (2015)
4 4 menyimpulkan bahwa pendekatan saintifik efektif terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Pembelajaran dapat dimulai dengan mengajak siswa untuk melakukan pengamatan untuk merangsang munculnya pertanyaan dan rasa ingin tahu siswa. Kualitas pertanyaan dari siswa akan menunjukkan tingkat kemampuan berpikir kritis yang dimilikinya. Kemampuan berpikir kritis merupakan bagian dari kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kemampuan berpikir kritis tidak hanya diperlihatkan oleh kualitas pertanyaan, tetapi juga dapat dilihat dari kemampuan siswa untuk menyampaikan argumen, mengamati, menjawab pertanyaan, membuat kesimpulan serta melaporkan hasil observasi (Ennis dalam Devi, 2011:4). Astika, Suma & Suastra (2013:3) dalam penelitiannya menyebutkan rendahnya berpikir kritis siswa terlihat dalam perilaku siswa yaitu rasa ingin tahu dalam mencari informasi masih rendah, siswa pasif dan hanya guru yang memberi informasi, siswa malu bertanya dan tidak berani mengungkapkan pendapat. Oleh karena itu, siswa perlu dilatih untuk melatih kemampuan berpikir kritisnya melalui pembelajaran yang berbasis keterampilan berpikir tingkat tinggi yang dimuat dalam bentuk modul. Penelitian yang dilakukan oleh Winarno (2013) menghasilkan kesimpulan bahwa modul pembelajaran IPA berbasis keterampilan berpikir tingkat tinggi telah mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Tema yang diangkat dalam modul ini adalah sistem penglihatan manusia. Pemilihan tema didasarkan pada hasil ujian nasional di kabupaten Sragen tahun 2014 yang menunjukkan SKL pada materi pemahaman konsep serta penerapan optik dalam produk kehidupan sehari-hari masih rendah. Padahal, sistem penglihatan manusia yang menjadi bagian dari materi ini sangat berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari mengingat mata merupakan salah satu panca indera. Selain itu, tema tersebut dipilih karena terdapat beberapa konsep yang bersifat abstrak, misalnya konsep sifat konvergen dan divergen lensa serta konsep pembentukan bayangan pada mata. Kesulitan siswa untuk memahami konsep tersebut diharapkan dapat terbantu melalui kegiatan pembelajaran menggunakan percobaan sederhana dan analisis gambar sebagai bagian dari pembelajaran berbasis HOTS.
5 5 Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di SMP N 2 Sragen melalui kegiatan analisis kebutuhan diperoleh data 77,8% tidak memiliki sumber belajar cetak lain selain buku teks IPA yang disediakan oleh sekolah. Padahal, 100% guru membutuhkan bahan ajar tambahan karena merasa buku teks yang disediakan sekolah memuat materi yang kurang lengkap. Kebutuhan siswa akan bahan ajar IPA berbasis keterampilan berpikir tingkat tinggi juga terungkap melalui analisis kebutuhan. Hasil wawancara dengan siswa menunjukkan kurangnya kegiatan eksperimen dan diskusi karena guru hanya menjelaskan dan memberi pertanyaan. Selain itu, berdasarkan angket sebanyak 33% siswa merasa kesulitan dalam melakukan analisis data. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi alternatif untuk mengatasi masalah kebutuhan siswa dan guru terhadap bahan ajar IPA salah satunya dengan pembuatan modul pembelajaran berbasis HOTS. Berdasarkan beberapa masalah-masalah yang telah dikemukakan sebelumnya maka dilakukan penelitian dengan judul Pengembangan Modul Pembelajaran IPA berbasis High Order Thinking Skill (HOTS) untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas VIII SMP/MTs B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang masalah, rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana karakteristik modul pembelajaran IPA berbasis High Order Thinking Skill (HOTS) yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis? 2. Bagaimana kelayakan modul pembelajaran IPA berbasis High Order Thinking Skill (HOTS) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis? 3. Bagaimana efektifitas modul pembelajaran IPA Terpadu berbasis High Order Thinking Skill dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SMP kelas VIII SMP/MTs?
6 6 C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mendeskripsikan karakteristik modul pembelajaran IPA berbasis High Order Thinking Skill (HOTS) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis 2. Memperoleh modul pembelajaran IPA berbasis High Order Thinking Skill (HOTS) yang telah memenuhi kriteria layak 3. Mendeskripsikan peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VIII SMP N 2 Sragen setelah melakukan pembelajaran IPA menggunakan modul pembelajaran IPA berbasis High Order Thinking Skill (HOTS) D. Pentingnya Pengembangan Penelitian yang akan dilaksanakan diharapkan mampu memberi manfaat sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis a. Dapat menghasilkan pola pembelajaran yang sistematis berbasis high order thinking skill (HOTS) b. Dapat menghasilkan modul pembelajaran IPA yang menambah referensi keilmuan c. Dapat mengetahui secara optimal pencapaian kemampuan berpikir kritis siswa dengan menggunakan pembelajaran berbasis HOTS 2. Manfaat Praktis Bagi sekolah Sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun strategi pembelajaran pada mata pelajaran IPA Terpadu di SMP/MTs Bagi guru a. Untuk memudahkan guru dalam menanamkan konsep sains dan aplikasinya sehingga dapat memberi perbaikan dari sistem pembelajaran b. Menambah kajian bagi guru mengenai pentingnya mengembangkan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa c. Menambah wawasan guru mengenai pentingnya melatihkan kemampuan berpikir tingkat tinggi pada commit siswa to user
7 7 d. Menambah kajian guru mengenai kemampuan berpikir kritis siswa 3. Bagi siswa a. Menambah pengalaman siswa dalam pembelajaran IPA dan mendapatkan suasana belajar yang berbeda menggunakan modul b. Melatih siswa untuk berpikir pada tingkatan yang lebih tinggi melalui kegiatan pembelajaran pada modul c. Menambah wawasan siswa melalui informasi yang disampaikan dalam modul d. Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa E. Spesifikasi Produk yang Dikembangkan Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini memliki spesifikasi sebagai berikut: 1. Modul dicetak dengan ukuran kertas A4 (21 29,7 cm), desain full colour, sampul depan bergambar sebuah mata dengan warna dominan putih magenta 2. Modul pembelajaran IPA berbasis High Order Thinking Skill (HOTS) disusun berdasarkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) untuk kelas VIII SMP/MTs dengan tema sistem penglihatan manusia 3. Modul pembelajaran IPA disusun berdasarkan pendekatan saintifik dengan tahapan dimulai dari mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menganalisis, serta mengomunikasikan. 4. Modul pembelajaran IPA berbasis High Order Thinking Skill (HOTS) dilengkapi dengan halaman identitas modul, standar kompetensi dan komtensi dasar pada KTSP, deskripsi kegiatan modul, petunjuk penggunaan modul, daftar isi, kegiatan belajar sesuai tahapan saintifik, uraian materi, tugas individu, rubrik tahukah kamu, rangkuman materi, latihan soal, soal evaluasi, glosarium, daftar pustaka, dan materi pengayaan.
8 8 F. Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan Asumsi dalam penelitian pengembangan ini antara lain; 1) guru sudah mengetahui tahapan pembelajaran IPA berdasarkan pendekatan saintifik dengan benar sehingga keberhasilan proses pembelajaran semata-mata dihasilkan dari modul yang disusun peneliti. 2) alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan yang termuat dalam modul telah tersedia di sekolah dan mudah diperoleh di daerah sehingga proses pembelajaran dapat berjalan optimal; 3) guru telah memahami tingkat kemampuan berpikir siswa sehingga dapat memonitor perkembangan kemampuan berpikir siswa selama pembelajaran dengan baik. Keterbatasan pengembangan modul pembelajaran IPA berbasis high order thinking skill (HOTS) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada materi sistem penglihatan manusia ini antara lain; 1) keterbatasan laboratorium yang sedang digunakan untuk rangkaian ujian siswa kelas IX sehingga percobaan dilakukan di dalam kelas dengan menyusun ulang tempat duduk siswa; 2) keterbatasan waktu yang diberikan oleh sekolah untuk melakukan penelitian sehingga beberapa kegiatan pembelajaran dilakukan menggunakan jam pelajaran guru mata pelajaran lain; 3) keterbatasan dalam penyusunan instrumen tes yaitu masih terdapat beberapa kekurangan pada tata bahasa, keterangan gambar dan kesalahan pengetikan item soal. G. Definisi Istilah Penelitian pengembangan (Research and Development) atau disebut juga penelitian R&D merupakan penelitian yang dilakukan untuk menghasilkan suatu produk serta mengetahui keefektifan penggunaan produk tersebut. Alur penelitian pengembangan yang dilakukan mengacu pada model pengembangan 4-D yang terdiri dari tahap design (pendefinisan), define (perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebaran). Modul merupakan salah satu bahan ajar dan sumber belajar yang disusun sesuai kebutuhan siswa baik dari segi materi, metode, dan evaluasi. Modul dapat digunakan siswa secara mandiri sehingga membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Modul yang dikembangkan merupakan modul pembelajaran IPA
9 9 dengan tema sistem penglihatan manusia. Modul diuji kelayakan dari aspek materi, bahasa, penyajian, dan kegrafisan. Pembelajaran berbasis high order thinking skills (HOTS) merupakan pembelajaran yang menekankan pada berkembangnya kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang meliputi kemampuan menganalisis, mengevalusi, dan mencipta. Pembelajaran berbasis HOTS bukan merupakan pembelajaran yang memiliki sintaks sehingga dalam penerapannya dituangkan melalui tahap-tahap pendekatan saintifik yang terdiri dari mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengomunikasikan. Kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan untuk mencari tahu atau mengevaluasi dari berbagai sisi segala sesuatu yang mendasari informasi yang telah diterima. Hal ini dilakukan untuk menambah keyakinan aan kebenaran informasi tersebut. Menurut Ennis, terdapat 12 indikator kemampuan berpikir kritis, antara lain kemampuan memfokuskan pertanyaan, mengevaluasi argumen, bertanya dan menjawab pertanyaan, menyesuaikan informasi dengan sumber, mengamati dan melaporkan hasil observasi, keterampilan mempertimbangkan kesimpulan, melakukan generalisasi, melakukan evaluasi, mengartikan istilah, membuat definisi, menentukan suatu tindakan, serta berinteraksi dengan orang lain dan berkomunikasi.
PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN IPA BERBASIS HIGH ORDER THINKING SKILL (HOTS) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS VIII SMP/MTs
PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN IPA BERBASIS HIGH ORDER THINKING SKILL (HOTS) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS VIII SMP/MTs Emi Rofiah 1, Nonoh Siti Aminah 2, Widha Sunarno 3 1
BAB I Pendahuluan. Internasional pada hasil studi PISA oleh OECD (Organization for
BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang Permasalahan Kemampuan IPA peserta didik Indonesia dapat dilihat secara Internasional pada hasil studi PISA oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan yang berkualitas sangat diperlukan untuk mendukung terciptanya manusia yang cerdas serta mampu berpikir kritis di era globalisasi. Salah satunya dengan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuka batas antar negara. Persaingan hidup pun semakin ketat. Hanya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan sangat berperan penting dalam kemajuan teknologi dan informasi di era globalisasi ini. Setiap negara berlomba-lomba dalam kemajuan teknologi
tingkatan yakni C1, C2, C3 yang termasuk dalam Lower Order Thinking dan C4, C5, C6 termasuk dalam Higher Order Thinking Skills.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan proses yang harus dilalui manusia untuk mengembangkan potensinya menjadi individu yang berkualitas. Pengembangan potensi tersebut harus dilalui
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan dapat diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Erie Syaadah, 2013
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kemampuan berpikir siswa pada usia SMP cenderung masih berada pada tahapan kongkrit. Hal ini diungkapkan berdasarkan hasil pengamatan dalam pembelajaran IPA yang
I. PENDAHULUAN. Pendidikan mempunyai arti penting dalam kehidupan. Melalui pendidikan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan mempunyai arti penting dalam kehidupan. Melalui pendidikan diharapkan akan lahir sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu membangun kehidupan masyarakat
I. PENDAHULUAN. Pendidikan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan dan mengembangkan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Melalui pendidikan, manusia dapat mengembangkan potensi yang dimiliki
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tiara Nurhada,2013
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan yang paling penting dan meresap di sekolah adalah mengajarkan siswa untuk berpikir. Semua pelajaran sekolah harus terbagi dalam mencapai tujuan ini
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah Matematika merupakan salah satu bagian penting dari pendidikan manusia, karena matematika relevan dengan berbagai cabang ilmu yang kita temui dalam kehidupan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Literasi sains merupakan salah satu ranah studi Programme for Internasional Student Assessment (PISA). Pada periode-periode awal penyelenggaraan, literasi sains belum
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu tujuan negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945. Pendidikan adalah salah satu upaya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Program pendidikan nasional diharapkan mampu melahirkan generasi dengan sumber daya manusia yang unggul dalam menghadapi tantangan jaman di masa kini dan di
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan mempunyai pengaruh yang sangat penting bagi pembentukan kepribadian manusia. Pada dasarnya pendidikan merupakan interaksi antara pendidik dengan
I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu hal penting dalam kehidupan karena dapat
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu hal penting dalam kehidupan karena dapat menentukan maju mundurnya suatu bangsa. Ihsan (2011: 2) menyatakan bahwa pendidikan bagi kehidupan
BAB I PENDAHULUAN. perkembangan sains dan teknologi adalah suatu keniscayaan. Fisika adalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Fisika adalah pondasi penting dalam pengembangan sains dan teknologi. Tanpa adanya pondasi fisika yang kuat, keruntuhan akan perkembangan sains dan teknologi
I. PENDAHULUAN. bahwa pendidikan merupakan kunci kemajuan suatu bangsa. Pendidikan juga
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan sarana terpenting untuk mewujudkan kemajuan bangsa dan negara. Hal ini sesuai dengan pendapat Joesoef (2011) yang menyatakan bahwa pendidikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Keterampilan proses sains adalah keterampilan yang diperlukan untuk memperoleh, mengembangkan, dan menerapkan konsep-konsep, prinsip-prinsip, hukum-hukum,
Pengembangan Modul Pembelajaran Berbasis Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi
SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN FISIKA III 2017 "Etnosains dan Peranannya Dalam Menguatkan Karakter Bangsa" Program Studi Pendidikan Fisika, FKIP, UNIVERSITAS PGRI Madiun Madiun, 15 Juli 2017 102 Makalah Pendamping
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia dan tidak bisa terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan merupakan suatu hal yang memiliki
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan proses dimana seseorang memperoleh
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan proses dimana seseorang memperoleh pengetahuan (Knowledge acquisition), mengembangkan kemampuan/ keterampilan (Skills development), sikap
BAB I PENDAHULUAN. bidang sains berada pada posisi ke-35 dari 49 negera peserta. dalam bidang sains berada pada urutan ke-53 dari 57 negara peserta.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Secara umum dapat dipahami bahwa rendahnya mutu Sumber Daya Manusia (SDM) bangsa Indonesia saat ini adalah akibat rendahnya mutu pendidikan (Tjalla, 2007).
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan ilmu universal yang memiliki peran penting yang mendasari perkembangan teknologi modern dalam berbagai disiplin ilmu dalam bidang kehidupan.
BAB I PENDAHULUAN. berbagai masalah seperti tidak dapat melanjutkan studi, tidak dapat menyelesaikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Mutu pendidikan yang baik dicerminkan oleh lulusan yang memiliki kompetensi yang baik. Mutu pendidikan yang rendah dapat menimbulkan berbagai masalah seperti
I. PENDAHULUAN. kehidupan. Setyawati (2013:1) menyatakan bahwa peningkatan kualitas
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan di era globalisasi saat ini merupakan suatu tantangan setiap bangsa untuk menciptakan generasi yang dapat memperkuat landasan segala sektor kehidupan. Setyawati
I. PENDAHULUAN. sains siswa adalah Trends in International Mathematics Science Study
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu studi internasional yang mengukur tingkat pencapaian kemampuan sains siswa adalah Trends in International Mathematics Science Study (TIMSS) yang dikoordinasikan
Indonesia Kirim Guru ke Korea untuk Pelajari HOTS
Indonesia Kirim Guru ke Korea untuk Pelajari HOTS Kurniasih Budi Kompas.com - Senin, 23 April 2018 Ilustrasi.(www.shutterstock.com) JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam Program for International Students Asessment
BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kualitas sumber daya manusia bagi suatu bangsa. Dengan adanya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu pengetahuan dan teknologi sangat berperan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia bagi suatu bangsa. Dengan adanya peningkatan sumber daya
BAB I PENDAHULUAN. daya manusianya (SDM) dan kualitas pendidikannya. Tingkat pendidikan di
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kualitas suatu bangsa salah satunya ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya (SDM) dan kualitas pendidikannya. Tingkat pendidikan di Indonesia masih tergolong
BAB I PENDAHULUAN. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang penting dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang penting dalam pendidikan. Sebagai bukti, pelajaran matematika diajarkan disemua jenjang pendidikan mulai
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah penalaran Nurbaiti Widyasari, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pengambilan keputusan terhadap masalah yang dihadapi oleh seseorang dalam kehidupan sehari-hari tentu tidak terlepas dari aspek-aspek yang mempengaruhinya. Keputusan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan ratunya ilmu (Mathematics is the Queen of the Sciences), maksudnya yaitu matematika itu tidak bergantung pada bidang studi lain. Matematika
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal (1) pendidikan itu sendiri merupakan usaha sadar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pelaksanaan pendidikan dalam suatu negara harus diawasi dan dievaluasi untuk mengetahui tingkat keberhasilan sistem pendidikan yang digunakan. Berhasil tidaknya
BAB I PENDAHULUAN. Di era global ini, tantangan dunia pendidikan begitu besar, hal ini yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di era global ini, tantangan dunia pendidikan begitu besar, hal ini yang mendorong para peserta didik untuk mendapatkan prestasi terbaik. Pendidikan di Indonesia
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Jika ditelisik pencapaian prestasi belajar IPA (biologi) siswa Indonesia menurun. Siswa Indonesia masih dominan dalam level rendah, atau lebih pada kemampuan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu Fisika adalah ilmu yang mempelajari gejala alam dan dijelaskan ke dalam bahasa matematika. Karakteristik ilmu fisika seperti Ilmu Pengetahuan Alam lainnya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan Badan Nasional Standar Pendidikan (BSNP) merumuskan 16
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Badan Nasional Standar Pendidikan (BSNP) merumuskan 16 prinsip pembelajaran yang harus dipenuhi dalam proses pendidikan abad ke 21 yaitu (1) dari berpusat
Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika. Vol 02 No 01 Tahun 2013, 20-25
Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika. Vol 02 No 01 Tahun 2013, 20-25 ANALISIS PERBANDINGAN LEVEL KOGNITIF DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DALAM STANDAR ISI (SI), SOAL UJIAN NASIONAL (UN), SOAL (TRENDS IN INTERNATIONAL
BAB I PENDAHULUAN. keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Setiap orang membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Undang- Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan
BAB I PENDAHULUAN. knowledge, dan science and interaction with technology and society. Oleh
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sekolah merupakan tempat berlangsungnya proses pendidikan secara formal. Di sekolah anak-anak mendapatkan pengetahuan yang dapat dijadikan sebagai bekal untuk masa depannya.
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu yang mempelajari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu yang mempelajari mengenai alam dan fenomena alam yang terjadi, yang berhubungan dengan benda hidup maupun benda tak
BAB I PENDAHULUAN. dalam pengembangan kurikulum matematika pada dasarnya digunakan. sebagai tolok ukur dalam upaya pengembangan aspek pengetahuan dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Standar kompetensi dan kompetensi dasar matematika yang disusun dalam pengembangan kurikulum matematika pada dasarnya digunakan sebagai tolok ukur dalam upaya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu masalah pendidikan di Indonesia adalah siswa Indonesia belum dapat bersaing dengan siswa negara lain. Padahal tuntutan persaingan dalam bidang pendidikan
I. PENDAHULUAN. karena melalui pendidikan diharapkan akan lahir sumber daya manusia yang berkualitas
1 I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan suatu bangsa, karena melalui pendidikan diharapkan akan lahir sumber daya manusia yang berkualitas dan
BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1. Perolehan Skor Rata-Rata Siswa Indonesia Untuk Sains
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Seiring dengan adanya upaya peningkatan mutu pendidikan maka evaluasi terhadap segala aspek yang berhubungan dengan kualitas pendidikan terus dilakukan. Hal
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ujian Nasional merupakan salah satu standar kelulusan bagi siswa yang duduk di bangku sekolah, dimana tes tersebut dilakukan secara nasional pada jenjang pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. pada dasarnya menggunakan prinsip-prinsip matematika. Oleh karena itu,
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern dewasa ini, tidak terlepas dari peran matematika sebagai ilmu universal. Aplikasi konsep matematika dari yang
BAB I PENDAHULUAN. diarahkan kepada tabiat manusia dan kepada sesamanya (Fa turrahman dkk,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan kebutuhan semua manusia di dunia ini, baik anakanak dan orang dewasa, bahkan para orang tua juga masih membutuhkannya. Pendidikan dapat membuat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Ika Citra Wulandari, 2015
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang banyak digunakan dan dimanfaatkan untuk menyelesaikan permasalahan pada hampir semua mata pelajaran yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Yossy Intan Vhalind, 2014
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dalam usaha pencapaian tujuan pendidikan, kurikulum dalam pendidikan formal mempunyai peran yang sangat strategis. Kurikulum memiliki kedudukan dan posisi
I. PENDAHULUAN. pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu aspek kehidupan yang penting
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kemajuan suatu bangsa tidak terlepas dari aspek pendidikan sehingga sangat wajar jika pemerintah harus memberikan perhatian yang serius terhadap dunia pendidikan. Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan (Syah, 2008). Pendidikan formal
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi siswa agar dapat menyesuaikan diri sebaik mungkin terhadap lingkungannya, dengan demikian akan menimbulkan
BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran sains di Indonesia dewasa ini kurang berhasil meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran sains di Indonesia dewasa ini kurang berhasil meningkatkan kemampuan literasi sains siswa, uraian tersebut berdasarkan pada informasi diagnostik
BAB I PENDAHULUAN. penyelenggaraan pendidikan. Kurikulum digunakan sebagai acuan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Kurikulum digunakan sebagai acuan penyelenggaraan pendidikan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan pembangunan negara saat ini tidak terlepas dari mutu SDM-nya. Salah satu hal yang sangat berpengaruh dalam meningkatkan mutu SDM adalah pendidikan.
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menunjukkan bahwa ilmu
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menunjukkan bahwa ilmu Pengetahuan Alam (IPA) bukan hanya sebagai kumpulan pengetahuan berupa fakta-fakta, konsep-konsep
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Salah satu tujuan negara dalam isi pembukaan UUD 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mencapai tujuan tersebut, jalan yang harus ditempuh adalah
BAB I PENDAHULUAN. belajar dengan berbagai metode, sehingga peserta didik dapat melakukan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran merupakan setiap upaya yang dilakukan seseorang untuk menciptakan kegiatan belajar. Upaya-upaya tersebut meliputi penyampaian ilmu pengetahuan,
BAB I PENDAHULUAN. Untuk mengajarkan sains, guru harus memahami tentang sains. pengetahuan dan suatu proses. Batang tubuh adalah produk dari pemecahan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Untuk mengajarkan sains, guru harus memahami tentang sains. Menurut Trowbridge et.al (1973) : Sains adalah batang tubuh dari pengetahuan dan suatu proses. Batang
BAB I PENDAHULUAN. martabat manusia secara holistik. Hal ini dapat dilihat dari filosofi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik. Hal ini dapat dilihat dari filosofi pendidikan yang intinya untuk
PENERAPAN PEMBELAJARAN OSBORN BERBANTUAN WINGEOM UNTUK MENINGKATKAN SIKAP KREATIF DAN BERPIKIR KRITIS MATERI KUBUS DAN BALOK SKRIPSI
PENERAPAN PEMBELAJARAN OSBORN BERBANTUAN WINGEOM UNTUK MENINGKATKAN SIKAP KREATIF DAN BERPIKIR KRITIS MATERI KUBUS DAN BALOK SKRIPSI Oleh Eka Fatma 342012002124 JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN
BAB I PENDAHULUAN. digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.c.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Matematika merupakan ilmu penting sebagai dasar dalam berbagai bidang terutama IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) sehingga matematika harus dipelajari serta dipahami
I. PENDAHULUAN. berperan penting dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini, perkembangan zaman serta ilmu pengetahuan dan teknologi sangat berperan penting dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Tanpa disadari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam menghadapi era globalisasi, diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang handal yang memiliki pemikiran kritis, sistematis, logis, dan kreatif serta berkemauan
BAB III METODE PENELITIAN. IPA Terpadu Model Webbed dengan Pendekatan Inquiry pada Tema. Hujan Asam bagi Lingkungan sebagai Upaya Meningkatkan Science
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini berjudul Pengembangan Perangkat Pembelajaran IPA Terpadu Model Webbed dengan Pendekatan Inquiry pada Tema Hujan Asam bagi Lingkungan sebagai
BAB I PENDAHULUAN. memiliki kemampuan atau skill yang dapat mendorongnya untuk maju dan terus
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Memasuki abad ke 21 persaingan dan tantangan di semua aspek kehidupan semakin besar. Teknologi yang semakin maju dan pasar bebas yang semakin pesat berkembang mendorong
BAB I PENDAHULUAN. Mata pelajaran Fisika sebagai bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Mata pelajaran Fisika sebagai bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu-ilmu dasar (basic science) yang perlu diberikan pada siswa. Hal ini tak lepas dari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan bagian penting dalam kehidupan seseorang. Melalui pendidikan seseorang akan memiliki pengetahuan yang lebih baik serta dapat bertingkah
I. PENDAHULUAN. Pada era global yang ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada era global yang ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini, setiap orang dapat dengan mudah mengakses dan mendapatkan bermacam-macam
BAB I PENDAHULUAN. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu pengetahuan yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya
BAB I PENDAHULUAN. berorientasi pada kecakapan hidup (life skill oriented), kecakapan berpikir,
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan sarana penting untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia dalam menjamin kelangsungan pembangunan suatu bangsa. Pendidikan yang
BAB I PENDAHULUAN. Trends In International Mathematics And Science Study (TIMSS)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hasil survey dari Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa rata-rata skor prestasi literasi matematika Indonesia pada tahun 2000 berada
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan menjadi salah satu fokus dalam penyelenggaraan negara. Menurut
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk membangun bangsa. Pendidikan menjadi salah satu fokus dalam penyelenggaraan negara. Menurut Puspendik (2012: 2), kualitas
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Gina Gusliana, 2014
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kualitas sumber daya suatu bangsa dapat dilihat dari kualitas pendidikan, yaitu dalam pembelajaran. Kualitas pembelajaran salah satunya berkaitan dengan kualitas
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu studi internasional untuk mengevaluasi pendidikan khusus hasil belajar peserta didik berusia 14 tahun pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP) yang diikuti
mengembangkan kemampuan baik kognitif, keterampilan (skill), serta sikap sosialnya terhadap manusia lain, lingkungan dan teknologi. Ace Suryadi (2014:
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kemajuan di abad 21 menjadikan manusia dituntut untuk semakin mengembangkan kemampuan baik kognitif, keterampilan (skill), serta sikap sosialnya terhadap manusia lain,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan peserta anak didik pada masa kini tidak hanya mementingkan pada aspek pengetahuannya, melainkan juga pada aspek sikap dan keterampilannya. Khususnya pada
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan suatu bangsa. Dengan landasan pemikiran tersebut, pendidikan nasional
I. PENDAHULUAN. menjadi kebutuhan mendasar yang diperlukan oleh setiap manusia. Menurut UU
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan dunia saat ini tidak bisa terlepas dari pendidikan. Pendidikan merupakan hal yang sangat fundamental bagi kemajuan suatu bangsa sehingga menjadi kebutuhan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan merupakan kebutuhan pokok bagi bangsa yang ingin maju karena pendidikan adalah investasi jangka panjang yang menentukan kualitas suatu bangsa. Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia secara global dan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia secara global dan kompetitif memerlukan generasi yang memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, memanfaatkan
