BAB II LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODOLOGI PERANCANGAN

PREDIKSI SHRINKAGE UNTUK MENGHINDARI CACAT PRODUK PADA PLASTIC INJECTION

MICROCELLULAR INJECTION MOLDING SEBAGAI ALTERNATIF DALAM PEMBUATAN PRODUK PLASTIK

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Plastik merupakan bahan baku yang berkembang saat ini. Penggunaan material plastik sebagai bahan dasar pembuatan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perkembangan dunia industri saat ini diikuti oleh pembaruan penggunaan

BAB IV HASIL PERANCANGAN DAN PEMBAHASAN

Tugas Akhir. Perancangan Cetakan Bagasi Sepeda Motor (Honda) Untuk Proses Injection Molding. Oleh : FIRMAN WAHYUDI

BAB I PENDAHULUAN. Didalam proses pencetakan produk plastik dapat digambarkan adalah adanya sejumlah

LOGO PERENCANAAN DAN ESTIMASI BIAYA PRODUKSI CETAKAN LID

BAB III RANCANGAN MOLDING DAN PROSES TRIAL NEW MOLD

BAB IV ANALISA HASIL PERANCANGAN CETAKAN INJEKSI

BAB I PENDAHULUAN. Penggunaan material plastik sebagai bahan komponen kendaraan. bermotor, peralatan listrik, peralatan rumah tangga, dan berbagai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

STUDI PENYUSUTAN PRODUK HASIL INJEKSI PLASTIK DENGAN SALURAN PENDINGIN LURUS DAN TANPA SALURAN PENDINGIN

PROSES PEMBUATAN BOTOL MILKY DI PT. LURINA PLASTIK INDUSTRIES, CIKARANG

BAB IV HASIL PERANCANGAN DAN PEMBAHASAN

PENGARUH PROSES PENDINGINAN TERHADAP SHINKAGE DAN DIMENSI PRODUK TS PLUG 1 BERBAHAN PVC PADA INJECTION MOLDING

PROSES PEMBUATAN PRODUK BERBAHAN PLASTIK DENGAN JENIS MATERIAL HDPE UNTUK TUTUP GALON AIR MINERAL DI PT. DYNAPLAST

PROSES PEMBUATAN CAPS SUNSILK 60 ml MENGGUNAKAN INJECTION MOLDING PADA PT. DYNAPLAST.TBK : DWI CAHYO PRABOWO NPM :

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Shrinkage pada Plastik Bushing dengan Variabel Temperatur Injeksi Plastik

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

PENGARUH PARAMETER WAKTU TAHAN TERHADAP CACAT WARPAGE DARI PRODUK INJECTION MOLDING

BAB I PENDAHULUAN. semakin berkembang pesat, baik dalam dunia perekonomian, pendidikan, pembangunan, perindustrian, dan lain sebagainya.

BAB II DASAR TEORI 2.1. Tinjau Pustaka

ANALISIS PENGARUH PARAMETER PROSES TERHADAP SHRINKAGE PADA GELAS PLASTIK DENGAN SOFTWARE MOLDFLOW PLASTIC INSIGHT 5

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisa Variasi Tekanan dan Temperatur Untuk Produk Fishing Lure

BAB III METODOLOGI PERANCANGAN

BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN

Studi Pengaruh Ukuran Shap Corner Terhadap Cacat Sink Mark dan Mampu Alir

BAB IV HASIL PERANCANGAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PERANCANGAN. base gantungan baju multifungsi adalah sebagai berikut :

BAB III PROSES PERANCANGAN

b. Tipe tiga plat ( three plate single / multi cavity)

ABSTRACT

Studi Pengaruh Kemiringan Dinding Mangkok Terhadap Tekanan Injeksi dan Filling Clamp Force

BAB IIIPROSES PEMBUATAN MOLD GRAB RAIL K15A PROSES PEMBUATAN MOLD GRAB RAIL K15A

TUGAS AKHIR PENGARUH SISTEM PENDINGINAN LURUS DAN CONFORMAL TERHADAP PENYUSUTAN DIMENSI HASIL PADA MESIN INJEKSI PLASTIK

BAB III METODOLOGI PERANCANGAN

BAB 3 Metodologi Penelitian

Minimalisasi Cacat dengan Pengaturan Tekanan Terhadap Kualitas Produk pada Proses Injection Molding dengan Menggunakan Simulasi

BAB I PENDAHULUAN. Injection molding adalah proses pembentukan plastik dengan. cara melelehkan material plastik yang kemudian diinjeksikan ke

BAB IV STANDART OPERASI PROSEDUR

SKRIPSI PERANCANGAN MOULD PLASTIK BOX TEMPAT KERTAS UKURAN FOLIO DENGAN SISTEM INJEKSI BERBAHAN BAKU POLYPROPYLENE MENGGUNAKAN APLIKASI CAD/CAM

PERANCANGAN INJECTION MOLDING DENGAN SISTEM THREE PLATE MOLD PADA PRODUK GLOVE BOX

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

Disusun Oleh : ALI KHAERUL MUFID

KAJIAN PENGARUH KETEBALAN PADA KUALITAS DAN MAMPU BENTUK DENGAN MENGGUNAKAN SIMULASI PADA PROSES INJECTION MOLDING (STUDI KASUS: MODEL GELAS)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Karet merupakan bahan atau material yang tidak bisa dipisahkan. dari kehidupan manusia, sebagai bahan yang sangat mudah didapat,

LAMPIRAN 1. = 82 mm. = 157,86 mm = 8,6 mm. = 158,5 mm (1 0,004)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

DESAIN DAN OPTIMASI INJECTION MOLD SISTEM SLIDER PADA PRODUK PREFORM STICK T15

PERENCANAAN SISTEM PENDINGINAN CETAKAN PLASTIK HOLDER PULLEY PERUSAHAAN MANUFAKTUR Yunus Yakub 1) dan Madinah 2) 1) & 2)

Simulasi dan Studi Eksperimental Proses Injeksi Plastik Berpendingin Konvensional

Desain dan Pembuatan Cetakan Sistem Injeksi untuk Cetakan Plastik Adonan Donat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENGARUH SUHU, TEKANAN DAN WAKTU PENDINGINAN TERHADAP CACAT WARPAGE PRODUK BERBAHAN PLASTIK

RANCANGAN DESAIN MOLD PRODUK KNOB REGULATOR KOMPOR GAS PADA PROSES INJECTION MOLDING *

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB II LANDASAN TEORI. Secara umum pengertian injection molding adalah proses pembentukan

OPTIMASI CACAT SHRINKAGE PRODUK CHAMOMILE 120 ML PADA PROSES INJECTION MOLDING DENGAN METODE RESPON SURFACE

ANALISIS PENYUSUTAN DIMENSI PRODUK INJECTION MOLDING DENGAN BENTUK ACETABULAR CUP UNTUK SAMBUNGAN HIP PADA MANUSIA

Pengaruh Pendinginan Dalam Proses Injection Molding Pembuatan Acetabular Cup Pada Sambungan Hip

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dunia industri semakin maju sejalan dengan laju

BAB III PROSES DESIGN MOLDING PLASTIK DAN JENIS-JENIS CACAT PADA PRODUK INJECTION MOLDING

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

MATERIAL PLASTIK DAN PROSESNYA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PENGUJI HALAMAN PERSEMBAHAN HALAMAN MOTTO KATA PENGANTAR

BAB III METODOLOGI PERANCANGAN

BAB III METODE PENELITIAN

Proses Pembuatan Botol Surgery 200 ml Dengan Mesin Autom Blow Molding. Disusun Oleh: Nama : M.Candra Sadam NPM :

BAB V ANALISA PEMBAHASAN

ANALISIS AKURASI DIMENSI HASIL PROSES VACUUM THERMOFORMING DENGAN VARIASI KETINGGIAN MOLD ALUMINUM

Predi Arif Nugroho, Danar Susilo Wijayanto dan Budi Harjanto

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA

BAB II LANDASAN TEORI. dengan cara menyuntikkan cairan plastik panas kedalam rongga cetakan. Cetakan tersebut

INJECTION MOULDING. Gb. Mesin Injeksi. Gambar. Skema proses injection moulding

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

PERANCANGAN CETAKAN SAFETY GLASSES FRAME DENGAN MEMODIFIKASI CETAKAN TIDAK TERPAKAI DI POLITEKNIK MANUFAKTUR ASTRA

ANALISA PENGARUH PARAMETER TEKANAN TERHADAP CACAT WARPAGE DARI PRODUK INJECTION MOLDING BERBAHAN POLYPROPYLENE

BAB I PENDAHULUAN. peraturan pemerintah No. 70 tahun 2009 tentang konservasi energi.

11 BAB II LANDASAN TEORI

PENGARUH VARIASI KANDUNGAN CaCO 3 TERHADAP KUAT TARIK POLYPROPYLENE

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Tinjauan Pustaka

81 Jurnal Teknik Mesin (JTM): Vol. 04, No. 3, Oktober 2015

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Lapisan Antara (Asphalt Concrete-Binder Course) Salah satu produk campuran aspal yang kini banyak digunakan oleh

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KOMPARASI PARAMETER INJEKSI OPTIMUM PADA LDPE RECYCLED DAN VIRGIN MATERIAL

SIMULASI ALIRAN FLUIDA PADA DESAIN MOLD SEBAGAI SOLUSI VISUALISASI NYATA DALAM DESAIN INJECTION MOLD Studi Kasus: Perancangan Mold Piring

Pengaruh Temperatur Media Pendingin dan Circle Time terhadap Defect Crack Line pada Produk SP 04 Haemonetics

DESAIN DAN OPTIMASI INJECTION MOLD DENGAN SISTEM SLIDER PADA PRODUK HARDCASE HANDPHONE

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II DASAR TEORI 2.1. Kajian Pustaka

PERANCANGAN RUNNER PADA MOLD BASE PRODUK PHR-11 UNTUK MENGURANGI JUMLAH MATERIAL TERBUANG

Transkripsi:

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Proses Injection Molding Injection molding dapat membuat part yang memiliki bentuk yang kompleks dengan permukaan yang cukup baik. Variasi bentuk yang sangat banyak yang dapat dibuat dengan injection molding menjadikan alasan metode ini banyak digunakan untuk proses pembentukan plastik. Kunci sukses dalam injection molding adalah a. kemampuan mesin meleburkan dan menginjeksikan plastik, b. jenis plastik yang sesuai dengan part yang dibuat, c. mold yang baik, d. operasi yang baik untuk menghasilkan cycle time yang efisien. Faktor utama yang mempengaruhi biaya yaitu jenis material dan mold cycle. Tipe material umumnya disesuaikan dengan kebutuhan part yang dibuat, oleh karena itu efek pengurangan biaya tergantung pada mold cycle. Mold cycle juga sangat tergantung pada desain mold dan parameter dari proses Teknik Mesin Universitas Mercu Buana Page 7

manufaktur.peralatan untuk injection mold terbagi menjadi 3 fungsi utama: a. Injection, b. mold, c. clamping. Dari ketiga peralaan tersebut yang sering berubah adalah mold, karena bentuk mold disesuaikan dengan part yang akan dibuat. Suatu desain moldyang kurang baik dapat menghasilkan produk yang tidak baik pula, sedangkan desain mold yang baik dapat menghasilkan produk yang baik. Pada mold sendiri juga terdiri dari beberapa bagian yaitu a. Runner, b. Gate, c. Cavity, d. Mold base, e. Sprue, f. Guide pin, dan g. Guide hole. Dalam desain mold penempatan dari hal-hal di atas sangat berpengaruh terhadap suatu hasil produk dari mold tersebut. Untuk meminimalisasi kesalahan pada desain mold, digunakan software untuk menganalisa lokasi penempatan gate yang paling optimal, lokasi penempatan injection, kemungkinan terjadi air traps pada desain yang dirancang, aliran fluida plastik, prediksi terhadap kualitas produk dan sebagainya, sehingga desain yang dibuat dapat menjadi optimal dan kemungkinan terjadi kegagalan produk setelah mold dibuat sangat minimal. Teknik Mesin Universitas Mercu Buana Page 8

2.2 Polypropylene Polypropylene (PP) adalah sebuah polimer termoplastik yang dibuat oleh industri kimia dan digunakan dalam berbagai aplikasi, di antaranya pengemasan, tekstil (contohnya tali, pakaian dalam termal, dan karpet), alat tulis, berbagai tipe wadah terpakaikan ulang serta bagian plastik, perlengkapan labolatorium, pengeras suara, komponen otomotif, dan uang kertas polimer (Hartono, 2012). Polypropylene merupakan polimer kristalin yang dihasilkan dari proses polimerisasi gas propilena. Polipropilena mempunyai specific gravity rendah dibandingkan dengan jenis plastik lain. Sebagai perbandingan terlihat pada Tabel 2.1. Tabel 2.1 Perbandingan specific gravity dari berbagai material plastik Sifat-sifat polyprophylene (PP) serupa dengan sifat-sifat polyethylene (PE) dimana masa jenisnya rendah (0,90-0,92) dan termasuk kelompok yang paling ringan diantara bahan polymer, dan dapat terbakar kalau dinyalakan. Teknik Mesin Universitas Mercu Buana Page 9

Polypropylene mempunyai titik leleh yang cukup tinggi (190⁰ C - 200⁰ C), sedangkan titik kristalisasinya antara 130⁰C 135⁰C. Untuk temperatur proses polypropylene rata-rata 200⁰C 300⁰C. Polypropylene mempunyai ketahanan terhadap bahan kimia (Chemical Resistance) yang tinggi, tetapi ketahanan pukul (impact strength) nya rendah (Imam, 2005). Sifat-sifat yang lain dari polypropylene antara lain sebagai berikut : a. lebih tahan panas b. keras, flexible, dapat tembus cahaya c. ketahanan kimianya bagus Polypropylena dapat diproses dengan berbagai macam metode, antara lain injection moulding, ekstrusi dan blow moulding. Injection moulding menghasilkan produk-produk dalam bentuk profil diantaranya filter udara yamaha Mio. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah penyusutannya besar, bila pendinganan mold tidak bagus akan timbul regangan.untuk pencetakan produk yang membutuhkan kepresisian, dilakukan kontrol temperatur karena mudah timbul sink mark ataupun void, injection pressure disetting lebih tinggi. Biasanya temperatur mold berkisar 40⁰ C - 60⁰ C, injection pressure standarnya adalah 800 1200 kgf/cm², tetapi lebih baik dengan pressure tinggi selama tidak timbul flash. Tabel 2.2 Sifat 1 temperatur kering tekanan injeksi Teknik Mesin Universitas Mercu Buana Page 10

Tabel 2.3 Sifat 2 rasio pengembangan berat jenis Tabel 2.4 Sifat 3 kekuatan tarikan kekuatan kejutan/impact 2.3. Mold Unit Molding unit adalah bagian yang berfungsi untuk membentuk benda yang akan dicetak. Gambar 2.1 menunjukkan bagian-bagian mold standar, molding unit memiliki bagian utama yaitu : Gambar 2.1 Mold standar (http://www.oke.or.id) Teknik Mesin Universitas Mercu Buana Page 11

2.4 Three Plate Standart Mold Structure 10 11 14 12 13 1 2 4 3 5 6 7 8 9 Gambar 2.2 Moulding (filter udara mio soul) 3 dimensi Adapun namaa dari part Mold diatas adalah sebagai berikut : 1. Upper Base Plate 2. Sprue Block A 3. Sprue Block B 4. Cavity Block 5. Moving Block 6. Insert Moving Block 7. Lower Base Plate 8. Lower Ejector Plate 9. Upper Ejector Plate 10. Insert Cavity Block 11. Insert Rib Cavity 12. Insert Rib Moving Teknik Mesin Universitas Mercu Buana Page 12

13. Insert Moving Block 14. Centering a. Sprue dan Runner System Sprue adalah bagian yang menerima plastik dari nozzle lalu oleh runner akan dimasukkan ke dalam cavity mold. Biasanya berbentuk taper (kerucut) karena dikeluarkan dari sprue bushing. Bentuk kerucut ini dibuat dengan tujuan agar pada saat pembukaan cetakan, sisa material dapat terbawa oleh benda sehingga tidak menghambat proses injeksi berikutnya. Sprue bukan merupakan bagian dari produk molding dan akan dibuang pada finishing produk. b. Cavity Side/ Mold Cavity Cavity side/mold cavity yaitu bagian yang membentuk plastik yang dicetak, cavity side terletak pada stationary plate, yaitu plate yang tidak bergerak saat dilakukan ejecting. Penentuan banyaknya cavity merupakan penentuan jumlah maksimal cavity berdasarkan kapasitas maksimal penyuntikan yang dapat dilakukan oleh mesin injeksi plastik berdasarkan berat runner dan produk. Rumus mencari banyaknya jumlah cavity dapat dilihat pada rumus dibawah ini. Qty of cavity =,...(1) Dimana Qty of cavity adalah Banyaknya cavity maksimal yang diizinkan, Sw adalah Short capacity dari mesin produksi (gram), Wm adalah Weight of molding adalah berat produk berikut runner dan gate (gram). Teknik Mesin Universitas Mercu Buana Page 13

Penentuan banyaknya cavity ini akan mempengaruhi desain terhadap jumlah cavity yang akan diterapkan pada desain mold. c. Core Side Core side merupakan bagian yang ikut memberikan bentuk plastik yang dicetak. Core side terletak pada moving plate yang dihubungkan dengan ejector sehingga ikut bergerak saat dilakukan ejecting. d. Ejector System Ejector adalah bagian yang berfungsi untuk melepas produk dari cavity mold. Bagian-bagian dari ejector adalah ejector plate,ejector pin, return pin, ejector rod, ejector guide pin dan ejector stopper. Gambar 2.3 Mekanisme pengeluaran produk (ejection) Saat ejector plate telah naik penuh, loose core harus sudah bergeser kesisi dalam sampai ke posisi produk lepas. Pada penanganan under cut yang menggunakan loose core perlu memperhatikan berikut. Bila loose core tidak bergeser kesisi dalam sampai pada posisi produk terlepas maka produk tidak bisa dilepas. Teknik Mesin Universitas Mercu Buana Page 14

Jarak pergeserannya A + B +3 ~ 5 mm...(2) Kemudian bila stroke dari ejector produk adalah h, maka sudut kemiringan slide rod α adalah : α = (A/h) tan ¹...(3) e. Gate Gate yaitu bagian yang langsung berhubungan dengan benda kerja, sebagai tempat mulainya penyemprotan/injeksi atau masuknya material ke dalam cavity. f. Insert Bagian pembentukan/cetak pada mold. Part ini berbentuk persegi maupun bulat yang telah dibentuk sebelumnya dan ditanam pada mold. Pada waktu proses pekerjaan berlangsung insert bersentuhan/bergesekan langsung dengan aliran plastik cair yang panas. Untuk menahan agar tidak cepat aus, maka untuk material insert saja banyak yang menggunakan material berkualitas tinggi.insert yang dipasang pada cavity disebut cavity insert, sementara yang dipasang di core dinamakan core insert. Gambar 2.4 Insert Teknik Mesin Universitas Mercu Buana Page 15

g. Coolant Channel Coolant channel yaitu bagian yang berfungsi sebagai pendingin cetakan untuk mempercepat proses pengerasan material plastik. 2.4.1 Clamping Force Clamping force adalah tonase yang diperlukan untuk menjaga agar kondisi mold tetap tertutup rapat selama proses produksi (injection atau blowing), dan menahan tekanan material pada total material yang diproyeksikan pada seluruh permukaan cavity dan core pada saat injeksi, pemampatan atau pembentukan. Rumus mencari clamping force dapat dilihat rumus dibawah ini. Clamping force =...(4) Tekanan yang diizinkan merupakan tekanan yang diizinkan dalam bahan cetakan mold dengan satuan kg/mm sedangkan clamping force dengan satuan ton. 2.4.2 Penyusutan Shrinkage 1. Teori Penyusutan Penyusutan merupakan suatu kondisi penyimpangan (deviation) pada pembentukan plastik, perencana harus selalu memperhitungkan adanya penyusutan material setelah material atau (benda kerja) terbentuk. Hal ini disebabkan karena adanya perlakuan panas disertai dengan penekanan. Sehingga akan mengalami perubahan dimensi jika dibandingkan dengan ukuran pada mold, maka ukuran produknya akan berbeda, yaitu ukuran luar Teknik Mesin Universitas Mercu Buana Page 16

benda kerja akan lebih kecil dibanding cavity (cetakan bawah). Arah penyusutan material yang menuju ke sebuah titik referensi di dalam benda kerja, artinya tidak boleh mengambil bidang atau garis yang ada di dalam benda kerja. Untuk mengamati arah penyusutan ini lebih jelas, kita perhatikan dua gambar ilustrasi pada gambar 2.4 dibawah ini : Gambar 2.5. Arah penyusutan (Moerbani, 1999) Gambar A. Menunjukkan tafsiran arah penyusutan yang salah, karena pada kenyataannya hasil lubang pada benda kerja bukannya bertambah besar seperti gambar, tetapi justru menjadi lebih kecil. Jadi referensi pengamatan bukannya merupakan sebuah garis atau bidang didalam benda kerja tersebut. Gambar B. Menunjukkan tafsiran arah penyusutan yang benar, yaitu bahwa semua titik yang ada pada benda kerja akan menyusut menuju ke titik referensi P. Jadi hasil lubang pada benda kerja juga akan menyusut lebih kecil kearah titik P. 2. Penyusutan ( Srinkage ) Perhitungan penyusutan merupakan hal yang sangat penting, karena kesalahan pada perhitungan awal penyusutan akan berdampak pada produk hasil dari injeksi, berikut merupakan rumus perhitungan penyusutan (shrinkage) Teknik Mesin Universitas Mercu Buana Page 17

berdasarkan actual hasil pengerjaan : General Recommendation General Formula 1.0-2.5 % = α x L0 = α x T0 Range Recommendation Actual Recommendation 0.75-1.5 % width : 1.5 height : 1.5 Long : 0.75 Gambar 2.5. Tabel Penyusutan Biasanya kita harus membedakan antara penyusutan aksial, yang mana terjadi dalam arah aliran plastik dan penyusutan radial yang mana alirannya tegak lurus menuju aliran, dapat lihat pada Gambar 2.5. Perbedaan dua arah ini perlu dipertimbangkan karena keduanya dapat menyebabkan cacat penyusutan. Gambar 2.6. Penyusutan aksial dan radial dalam arah aliran plastik (Virasantoto, 2008) Oleh karena itu, di dalam perancangan injection molding, setiap ukuran cetakan benda kerja harus dibuat lebih besar dari benda sesungguhnya yang akan dibuat dengan cara mengalikan ukuran benda sesungguhnya dengan Teknik Mesin Universitas Mercu Buana Page 18

faktor penyusutan agar diperoleh benda kerja yang sesuai dengan yang diharapkan. Pengambilan nilai faktor penyusutan disesuaikan dengan material plastik yang akan dibuat disesuaikan dengan nilai penyusutan dalam tabel Shrinkage. 2.4.3 Variable Injeksi dan Penyusutan Penyusutan terjadi berdasarkan variable-variable di bawah ini : a. Bahan Plastik : perbedaan material mempunyai perbedaan nilai perluasan luas, tetapi bahan yang struktur kimia dan fisikanya sama mempunyai nilai perluasan luas yang lebih spesifik dan itu berpengaruh terhadap penyusutan. b. Geometri Produk : ini berlaku untuk jenis dari ketebalan dinding (dimensi) dan bentuk dari permukaan, kerangka, dan lain-lain. c. Desain Mold : seorang perencana harus selalu memperhitungkan akan adanya penyusutan material setelah material produk/benda kerja membeku dan keluar dari rongga cetakannya. Hal ini terjadi karena adanya perubahan fase dari material cair menjadi material padat, di pastikan mengalami perubahan volume. d. Kondisi Mold : itu termasuk pengaturan mesin, temperatur pendinginan cetakan, kelembaban plastik, waktu injeksi, besarnya penekanan, lingkungan sekitar (pabrik) dan lain-lain. e. Type Mesin Mold : ini termasuk kecepatan injeksi, tekanan injeksi, waktu injeksi, pengaturan tekanan pengaturan membuka dan menutup mold. Teknik Mesin Universitas Mercu Buana Page 19

f. Kondisi Mesin injeksi dan Mold : mesin boleh diabaikan tetapi pengaturan mesin harus bisa dipertanggung jawabkan atau periksa katub (valve), dan lain-lain. Pada tabel 2..6 adalah tabel penyusutan untuk beberapa macam bahan. Tabel 2.6. Nilai penyusutan.( Virasantoto, 2008) Teknik Mesin Universitas Mercu Buana Page 20