LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL II

dokumen-dokumen yang mirip
LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I : SETTING TIME BAHAN CETAK ALGINAT BERDASARKAN VARIASI SUHU AIR (REVISI)

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I. : Recovery from Deformation Material Cetak Alginat

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I : Recovery From Deformation Material Cetak Alginat

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL II (Revisi)

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I

Manipulasi Bahan Cetak Alginat

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh rasio w/p terhadap

BAB I PENDAHULUAN. mudah dalam proses pencampuran dan manipulasi, alat yang digunakan minimal,

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL 1

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I. : Setting Time Bahan Cetak Alginat Berdasarkan Variasi Suhu Air

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL II

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL 2

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL. Tgl. Praktikum : 12 Desember : Helal Soekartono, drg., M.Kes

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga BAB I PENDAHULUAN. Pemilihan semen gigi yang baik ini bertujuan untuk memperbaiki susunan gigi sekaligus

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Semen ionomer kaca banyak dipilih untuk perawatan restoratif terutama

PERGESERAN KESETIMBANGAN KIMIA BERBASIS MATERIAL LOKAL

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. berdasarkan pada cara bahan tersebut mengeras. Istilah ireversibel menunjukkan bahwa

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis dari penelitian ini adalah eksperimental laboratori.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. jaringan lunak dalam rongga mulut secara detail. Menurut Craig dkk (2004)

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL 1. Penyusun:

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. bahan restorasi yang cepat dan mudah untuk diaplikasikan, dapat melekat dengan

PERUBAHAN BERAT HASIL CETAKAN BAHAN CETAK ALGINAT TIPE NORMAL SETTING YANG BERBEDA PADA MENIT-MENIT AWAL IMBIBISI

3 Universitas Indonesia

Soraya D.P. Rezky dkk.: Perendaman semen ionomer kaca konvensional dalam kefir 55

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Semen Ionomer Kaca Modifikasi Resin (SIKMR) ionomer kaca. Waktu kerja yang singkat dan waktu pengerasan yang lama pada

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. mahkota (crown) dan jembatan (bridge). Mahkota dapat terbuat dari berbagai

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

I. Pendahuluan. A. Latar Belakang. terhadap restorasi estetik semakin banyak. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk

Metodologi Penelitian

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM ANORGANIK PERCOBAAN 1 TOPIK : SINTESIS DAN KARAKTERISTIK NATRIUM TIOSULFAT

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI ORGANIK DAN FISIK FA2212

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil preparasi bahan baku larutan MgO, larutan NH 4 H 2 PO 4, dan larutan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. langsung pada kavitas gigi dalam sekali kunjungan. Restorasi tidak langsung

BAB 1 PENDAHULUAN. rumput laut tertentu yang bernama Brown Algae bisa menghasilkan suatu ekstrak lendir,

BAB V METODOLOGI. 5.1 Alat yang digunakan: Tabel 3. Alat yang digunakan pada penelitian

LAPORAN INSTRUMEN DASAR PENGENALAN ALAT PH METER

BAB III METODE PENELITIAN

ASIDI-ALKALIMETRI PENETAPAN KADAR ASAM SALISILAT

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

PENENTUAN WAKTU AKHIR SINERESIS PADA BEBERAPA BAHAN CETAK ALGINAT

BAB 5 HASIL PENELITIAN

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I

Laboratorium Kimia SMA... Praktikum II Kelas XI IPA Semester I Tahun Pelajaran.../...

PENGARUH UJI TEMPERATUR AIR PENCAMPUR TERHADAP SETTING TIME BAHAN CETAK ALGINAT DENGAN PENAMBAHAN PATI GARUT (Maranta arundinaceae L.

III. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat Dan Waktu Penelitian. Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian dilakukan selama

BAB I PENDAHULUAN. ultrasonik digunakan sebagai dasar ultrasonic scaler (Newman dkk.,


PENYISIHAN KESADAHAN dengan METODE PENUKAR ION

BAB III METODE PENELITIAN. 3 bulan. Tempat pelaksanaan penelitian ini dilakukan di Program Teknik Mesin,

Laporan Praktikum Kimia Laju Reaksi

III. REAKSI KIMIA. Jenis kelima adalah reaksi penetralan, merupakan reaksi asam dengan basa membentuk garam dan air.

Untuk mengetahui cara/metode yang benar untuk memisahkan (mengisolasi) DNA dari buah-buahan

BAB V METODOLOGI. Alat yang digunakan pada praktikum penelitian, meliputi alat autoklaf

BAB III METODE PENELITIAN. bulan agustus tahun 2011 sampai bulan Januari tahun Tempat penelitian

I. PENDAHULUAN. kedokteran gigi sejak awal abad 19 ( Florez, dkk.,2011). Prosedur ini semakin

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Karies merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi yang disebabkan

PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

3 Metodologi Penelitian

: Kirana patrolina sihombing

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dalam bidang kedokteran gigi semakin beragam dan pesat. Terdapat berbagai jenis

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Latar Belakang Masalah Perubahan dimensi pada cetakan gigi dan mulut biasanya

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Juni 2012.

ELEKTROLISIS AIR (ELS)

BAB III METODE PENELITIAN. selulosa Nata de Cassava terhadap pereaksi asetat anhidrida yaitu 1:4 dan 1:8

Penelitian ini akan dilakukan dengan dua tahap, yaitu : Tahap I: Tahap perlakuan awal (pretreatment step)

Sintesis Nanopartikel ZnO dengan Metode Kopresipitasi

II. PEMILIHAN DAN URAIAN PROSES

: Kirana patrolina sihombing

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. fungsional gigi dapat menyebabkan migrasi (tipping, rotasi, dan ekstrusi),

BAB III UJI MATERIAL

BAB 3 METODE PENELITIAN. 3.1 Alat Alat Adapun alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah: Alat-alat Gelas.

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS BRAWIJAYA 1

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris murni. b. Semen ionomer kaca tipe 1 (Fuji I, GC, Japan)

PENGARUH PELAPISAN BAHAN TAMBAL GLASS IONOMER DENGAN VARNISH DAN COCOA BUTTER TERHADAP DAYA SERAP SALIVA BUATAN SECARA IN VITRO

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari hingga Mei 2012 di Laboratorium. Fisika Material, Laboratorium Kimia Bio Massa,

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

KELARUTAN SEBAGAI FUNGSI TEMPERATUR

PENGARUH DERAJAT KEASAMAN (ph) AIR PENCAMPUR TERHADAP SETTING TIME BAHAN CETAK ALGINAT DENGAN PENAMBAHAN PATI GARUT (Marantha arundineceae L)

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Bab IV Hasil dan Pembahasan

VII. TEKNIK PENCETAKAN

BAB V METODOLOGI. Pada tahap ini, dilakukan pengupasan kulit biji dibersihkan, penghancuran biji karet kemudian

BAB III METODE PENELITIAN MULAI PERSIAPAN ALAT & BAHAN PENYUSUN BETON ANALISA BAHAN PENYUSUN BETON

LAPORAN PRAKTIKUM 03 ph METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Optimasi pembuatan mikrokapsul alginat kosong sebagai uji

LAPORAN PRAKTIKUM ph METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. permukaan koronal mahkota klinis gigi asli, yang dapat memperbaiki morfologi,

LAMPIRAN A PROSEDUR ANALISIS

MODUL I Pembuatan Larutan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pengembangan prosedur praktikum hukum kekekalan massa yang efektif

Transkripsi:

REVISI LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL II Topik : SEMEN SENG FOSFAT Kelompok : B10 Tgl. Praktikum : 12 November 2014 Pembimbing : Titien Hary Agustantina, drg., M.Kes No. Nama NIM 1 ZULFA F PRANADWISTA 021311133105 2 DEA AISYAH 021311133107 3 MEIDIANA ADININGSIH 021311133108 4 DINDA KHAIRUNNISA R 021311133109 5 JERRY SAIFUDIN 021311133110 DEPARTEMEN MATERIAL KEDOKTERAN GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS AIRLANGGA 2014 0

1. TUJUAN 1.1. Dapat memanipulasi semen seng fosfat yang digunakan untuk basis dan luting dengan cara yang tepat. 1.2. Dapat mengamati perbedaan konsistensi antara semen seng fosfat sebagai basis dan luting. 1.3. Dapat mengamati perbedaan setting time antara semen seng fosfat sebagai basis dan luting. 2. CARA KERJA 2.1. Bahan a. Bubuk dan cairan semen seng fosfat b. Vaselin a b 2.2 Alat : Gambar 2.1. Bahan-bahan yang diperlukan untuk praktikum. a. semen seng fosfat b.vaselin a. Glass slab (kaca tebal) b. Kaca tipis c. Spatula semen d. Stopwatch e. Cetakan sampel f. Celluloid strip g. Plastik filling instrument h. Kuas kecil i. Timbangan digital 1

j. Jarum Gillmore k. Pisau malam e h j c f a b d g i Gambar 2.2. Alat alat yang digunakan untuk praktikum. a. jarum Gillmore, b. kaca tebal, c. timbangan digital, d. kaca tipis, e. cetakan, f. stopwatch, g. kuas, h. plastic filling instrument i. pisau malam, j. spatula semen. 2.3 Cara kerja: a. Alat dan bahan disiapkan. b. Cetakan disiapkan dengan sisi dalam cetakan diolesi dengan vaselin menggunakan kuas, dialasi dengan celluloid strip dan diletakkan di atas kaca tipis. c. Bubuk semen seng fosfat diambil dan ditimbang di atas timbangan digital, dicatat sebagai berat awal bubuk. Bubuk semen diambil 1 sendok takar, berat diukur kembali sebagai berat akhir bubuk. Berat akhir dan berat awal bubuk diambil selisihnya sebagai berat bubuk yang digunakan. d. Semen yang sudah ditakar, diletakkan di atas glass lab dan dibagi menjadi 3 bagian. e. Botol cairan diambil dan di timbang di atas timbangan digital, dicatat sebagai berat awal cairan. Cairan ditetesken secara vertikal di atas glass slab tanpa tekanan. Botol cairan ditimbang kembali untuk mendapatkan berat akhir cairan. Berat akhir dan berat awal cairan diambil selisihnya sebagai berat cairan yang digunakan. f. Jumlah cairan yang digunakan untuk semen seng fosfat sebagai luting adalah sebanyak 3 tetes, sedangkan sbagai basis sebanyak 2 tetes. g. Bubuk bagian pertama dicampur dengan cairan menggunakan spatula selama 10 detik, waktu mulai pengadukan bubuk dan cairan dicatat. Semen diaduk dengan dengan gerakan memutar dan menekan spatula pada 2

glass lab sambil dilakukan spreading. Bubuk bagian kedua ditambahkan dan diaduk dengan cara yang sama, demikian seterusnya pada bagian ketiga dilakukan pengadukan selama kurang lebih 40 detik hingga homogen (bubuk dan cairan telah tercampur dengan sempurna). h. Campuran bubuk dan cairan yang telah homogen dilakukan spreading yang lebih pada glass lab. i. Campuran antara bubuk dan cairan yang dikumpulkan menjadi satu. j. Konsistensi semen seng fosfat yang telah diaduk dilakukan pengujian. Konsistensi semen seng fosfat sebagai luting dapat diketahui dengan spatula diletakkan miring 45 o terhadap glass slab dan adonan semen ditarik keatas dengan ketinggian kurang lebih 2 cm, ketika semen ikut terangkat tanpa terputus maka konsistensi untuk luting sudah didapatkan. Konsistensi semen seng fosfat sebagai basis tercapai apabila adonan dapat dibentuk menjadi bola / bulatan dan tidak melekat pada glass lab. k. Adonan semen dimasukkan ke dalam cetakan sampel yang telah disiapkan dengan bantuan plastic filling instrument hingga penuh. l. Permukaan adonan semen seng fosfat dilapisi dengan celluloid strip dan kaca tipis. m. Cetakan sampel yang telah dilapisi oleh celluloid strip dan kaca tipis ditekan dengan telunjuk. n. Kaca tipis dilepaskan dari permukaan dan ditunggu hingga celluloid strip sudah dapat dilepas. o. Jika celluloid strip sudah dapat dilepas, jarum Gillmore ditekan pada permukaan adonan semen seng fosfat dengan interval 5 detik ketika mendekati setting time (ketika dilakukan penekanan awal bekas tekanan sudah hampir hilang). Bekas tekanan jarum Gillmore tidak boleh ditempat yang sama. p. Uji setting time dilakukan hingga tidak ada bekas cekungan dari jarum Gillmore. 3

BASIS LUTING 3. HASIL PRAKTIKUM Tabel 3.1. Setting time semen seng fosfat yang dimanipulasi sebagai basis. BUBUK CAIRAN Berat Berat Berat Berat awal akhir Selisih awal akhir Selisih (gram) (gram) (gram) (gram) 58,76 5847 0,29 24,22 24,07 0,15 58,03 57,75 0,28 23,96 23,85 0,11 57,41 57,12 0,29 23,66 23,53 0,13 RATA-RATA 0,287 0,13 setting time 8 menit 45 detik 10 menit 35 detik 9 menit 55 detik 9 menit 45 detik Tabel 3.2. Setting time semen seng fosfat yang dimanipulasi sebagai luting. BUBUK CAIRAN Berat Berat Berat Berat setting time Selisih Selisih awal akhir awal akhir (menit:detik) (gram) (gram) (gram) (gram) (gram) (gram) 59,03 58,76 0,27 24,41 24,22 0,19 18 menit 25 detik 57,75 57,41 0,34 23,85 23,66 0,19 18 menit 50 detik RATA-RATA 0,305 0,19 18 menit 37 detik 4. PEMBAHASAN Semen Seng fosfat merupakan semen yang memiliki sejarah paling panjang, sehingga material ini memiliki aplikasi yang paling luas. Mulai dari semen sebagai luting, cavitas liner dan basis untuk melindungi pulpa dari stimulus mekanik, termal, maupun elektrik suatu restorasi (O Brien 2002, p 136). 4

Semen seng fosfat terdiri dari bubuk putih yang dicampurkan dengan cairan. Bubuk semen ini paling banyak mengandung zinc oksida dengan 10% magnesium oksida, dan cairannya merupakan asam phosporic encer dengan konsentrasi 45-64% ( Van Nort 2002, p. 260) Magnesium oksida yang terdapat didalam bubuk semen seng fosfat membantu mempertahankan warna putih dari semen. Keuntungan lainnya adalah membuat proses pulverisation zinc oksida menjadi lebih mudah, dan juga meningkatkan compressive strenght dari semen. Oksida lain seperti sillika dan aluminium ditambahkan dengan jumlah yang lebih kecil sekitar 5% untuk meningkatkan sifat mekanik dari material, dan memberikan berbagai tingkat warna. Terkadang ada juga beberapa pabrik yang memberikan flouride yang memiliki berbagai keuntungan (Van Nort 2002, p. 260). Cairan dari semen seng fosfat memiliki sifat buffer dengan kombinasi dari oksida yang terkandung di dalam bubuk dengan magnesium hidroksida yang berperan untuk membentuk phosphate pada cairan. (Van Nort 2002, p. 260). Saat bubuk dan cairan semen seng fosfat dicampur, asam fosfat melarutkan partikel zinc oxide pada area superfisial. Zinc oxide yang bercampur degnan asam fosfat menghasilkan suatu reaksi asam basa sehingga terbentuk asam seng fosfat [Zn(H 2 PO 4 ) 2 ]. ZnO + 2 H 3 PO 4 Zn(H 2 PO 4 ) 2 + H 2 O Kemudian diikuti oleh reaksi yang kedua, yaitu reaksi antara partikel zinc oxide dengan produk reaksi yang pertama, yaitu asam seng fosfat sehingga menghasilkan senyawa seng fosfat yang terhidrasi. Reaksi ini merupakan reaksi eksotermis. ZnO + Zn(H 2 PO 4 ) 2 + 2H 2 O Zn 3 (PO 4 ) 2.4H 2 O (Hopeit) Senyawa ini hampir tidak larut dan terkristalisasi untuk membentuk matriks fosfat yang mengikat partikel zinc oxide yang tidak bereaksi. Adanya aluminium dalam material diperkirakan dapat mencegah terjadinya proses kristalisasi, sehingga menghasilkan matriks yang seperti kaca, yaitu berupa gel 5

aluminofosfat. Keberadaan magnesium juga dapat menunda berlangsungnya proses kristalisasi. (Van Noort 2013, p. 217) Dalam literatur lain (Anusavice 2013, p. 316) menyebutkan bahwa partikel zinc oxide yang tersisa atau tidak larut dalam asam fosfat bereaksi dengan aluminium fosfat sehingga membentuk gel seng aluminofosfat. Semen yang telah setting mengandung partikel zinc oxide yang tidak bereaksi terbungkus di dalam matriks seng aluminofosfat. Reaksi eksotermik yang timbul setelah bubuk dan cairan semen seng fosfat dicampur memberikan kerugian berupa working time yang singkat. Untuk mengatasi kerugian tersebut, dapat disiasati dengan cara sebagai berikut: (Craig 2002, pp. 596-7). 1. Menggunakan glass slab yang dingin atau tebal Pada glass slab yang tebal atau dingin, memungkinkan untuk menyerap panas lebih banyak dari pada glass lab yang tipis. Penggunaan glass slab dingin dapat memperpanjang working time dan memperpendek setting time. 2. Menggunakan teknik spreading Teknik spreading pada saat pengadukan juga dapat mengurangi reaksi eksotermis, karena dengan cara tersebut bidang pengadukan akan lebih luas, sehingga panas yang dapat diserap oleh glass slab akan lebih banyak. 3. Membagi bubuk menjadi beberapa bagian Pembagian bubuk menjadi beberapa bagian menyebabkan reaksi eksotermik yang dihasilkan akan bertahap dan sedikit demi sedikit, sehingga panas yang dihasilkan tidak terlalu banyak. Keuntungan lain dari membagi bubuk menjadi bagian-bagian kecil adalah mendapatkan konsistensi yang diinginkan. Pada manipulasi semen seng fosfat rasio bubuk dan cairan tergantung pada aplikasinya. Jika digunakan untuk basis membutuhkan konsistensi putty like dengan rasio bubuk dan cairan yang digunakan adalah 3,5:1. Sedangkan untuk lutting ditambahkan cairan. Rasio bubuk dan cairan yang lebih rendah bermanfaat untuk mendapatkan sifat flow yang lebih baik sehingga terjadi seating yang benar. (McCabe 2008, p. 273). 6

Working time seng fosfat umumnya 60-90 detik, dalam rentang waktu tersebut cukup untuk menghasilkan campuran seng fosfat yang baik (Craig 2002, p. 597). Pada manipulasi semen seng fosfat sebagai luting, didapatkan setting time selama 18 menit 25 detik dengan bubuk 0,27 gram dan cairan 0,19 gram pada percobaan pertama dan 18 menit 50 detik dengan bubuk 0,34 gram dan cairan 0,19 gram pada percobaan kedua. Konsistensi yang dihasilkan cukup encer. Sedangkan pada manipulasi semen seng fosfat sebagai basis didapatkan setting time selama 8 menit 45 detik dengan bubuk 0,29 gram dan cairan 0,15 gram pada percobaan pertama, 10 menit 35 detik dengan bubuk 0,28 gram dan cairan 0,11 gram pada percobaan kedua, dan 9 menit 55 detik dengan bubuk 0,29 gram dan cairan 0,13 gram pada percobaan kedua. Konsistensi yang dihasilkan cukup padat sehingga dapat dibentuk menjadi bola. Setting time yang didapatkan pada percobaan yang telah dilakukan sangat menunjukkan bahwa setting time semen seng fosfat sebagai luting lebih lama dari pada sebagai basis. Perbedaan setting time ini disebabkan karena terdapat perbedaan pada rasio bubuk dan cairan yang dugunakan. Rasio bubuk dan cairan yang digunakan pada manipulasi semen seng fosfat sebagai luting lebih kecil dari pada sebagai basis. Atau dalam arti jumlah cairan yang digunakan pada manipulasi sebagai luting lebih banyak dari pada basis. Pada manipulasi seng fosfat sebagai luting diperlukan hasil campuran yang tipis, sehingga diperlukan rasio bubuk dan cairan yang lebih kecil untuk menghasilkan konsistensi yang lebih encer. Rasio bubuk dan cairan yang lebih kecil dapat memperpanjang setting dan working time. (Anusavice 2013, p. 317) Hal ini disebabkan karena partikel zinc oxide yang digunakan dalam reaksi menjadi lebih banyak, sehingga pembentukan matrik yang menyelubungi partikel sisa zinc oxide semakin cepat. (Cirns 2004, p: 195) 7

5. SIMPULAN Berdasarkan hasil praktikum dan pembahasan yang telah dilakukan, didapatkan kesimpulan sebagai berikut : Semen seng fosfat yang diaplikasikan sebagai basis memiliki konsistensi yang lebih kental dari pada sebagai luting. Semen seng fosfat yang diaplikasikan sebagai basis memiliki etting time yang lebih cepat dari pada sebagai luting. 8

DAFTAR PUSTAKA Anusavice K. J. 2013. Philip s Science of Dental Materials. 12 th ed. St Louis : Elsevier Saunders. pp: 316-317. Cairns D. 2004. Intisari Kimia Farmasi. 2 nd ed. EGC. p: 195. Craig, Robert and John M. Power. 2002. Restorative Dental Material. Ed. 11th. Missouri: Mosby Inc. pp. 596-597. McCabe, JF dan Walls, Angus WG. 2008. Applied Dental Materials. 9 th ed. Victoria : Blackwell Science publ, Inc. p. 273. O Brien W.J. 2002. Dental Material and Their Selection. 3 rd ed. Michigan. Quintessence Publishing Co Inc. p. 136. Van Noort R. 2013. Introduction to Dental Materials. 4 th ed. Elsevier. p: 217. Van Noort. 2002. Introduction to Dental Materials. 2 nd ed. Mosby Elsevier. p.260. 9

LAMPIRAN O Brien W.J. 2002. Dental Material and Their Selection. 3rd ed. Michigan. Quintessence Publishing Co Inc. pp. 232. McCabe, JF dan Walls, Angus WG. 2008. Applied Dental Materials. 9 th ed. Victoria : Blackwell Science publ, Inc. p. 273. 10

Cairns D. 2004. Intisari Kimia Farmasi. 2 nd ed. EGC. p: 195. 11

Van Noort R. 2013. Introduction to Dental Materials. 4 th ed. Elsevier. p: 217. 12

Van Noort. 2002. Introduction to Dental Materials. 2 nd ed. Mosby Elsevier. p.260. 13

14

15