BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

pengolahan, kecuali pengeringan. Standarisasi simplisia dibutuhkan karena kandungan kimia tanaman obat sangat bervariasi tergantung banyak faktor

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

semua masalah kesehatan dapat diatasi oleh pelayanan pengobatan modern (BPOM, 2005). Tumbuhan obat Indonesia atau yang saat ini lebih dikenal dengan

BAB I PENDAHULUAN. masing-masing.dari sekian banyaknya tanaman tersebut, tidak sedikit yang dapat

BAB I PENDAHULUAN. tanaman sebagai upaya penyembuhan jauh sebelum obat-obatan modern yang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. mengidap penyakit ini, baik kaya, miskin, muda, ataupun tua (Hembing, 2004).

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang penelitian

Penetapan Kadar Sari

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan hayati terbesar di

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Ekstraksi dan Penapisan Fitokimia

Penyakit diabetes mellitus digolongkan menjadi dua yaitu diabetes tipe I dan diabetes tipe II, yang mana pada dasarnya diabetes tipe I disebabkan

penglihatan (Sutedjo, 2010). Penyakit ini juga dapat memberikan komplikasi yang mematikan, seperti serangan jantung, stroke, kegagalan ginjal,

kurang menyenangkan, meskipun begitu masyarakat percaya bahwa tanaman tersebut sangat berkhasiat dalam menyembuhkan penyakit; selain itu tanaman ini

BAB I PENDAHULUAN. tumbuhan, hewan, mineral, sediaan sarian (galenika) atau campuran dari bahanbahan

BAB I PENDAHULUAN. DM tipe 1 (kurangnya sekresi insulin) dan tipe 2 (gabungan antara resistensi

BAB I PENDAHULUAN. Pemanfaatan bahan alam sebagai obat tradisional akhir-akhir ini sangat

BAB I PENDAHULUAN. Penggunaan tanaman obat dan rempah telah berlangsung sangat lama

putih, pare, kacang panjang serta belimbing wuluh (Ruslianti, 2008). Dalam penelitian ini akan digunakan tanaman alpukat (Persea americana Mill.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. berbagai masalah kesehatan. Hal ini cukup menguntungkan karena bahan

KARAKTERISASI SIMPLISIA DAN EKSTRAK ETANOL DAUN BERTONI (Stevia rebaudiana) DARI TIGA TEMPAT TUMBUH

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Ekstrak memberikan rendemen sebesar 27,13% (Tabel 3).

BAB I PENDAHULUAN. pergeseran pola konsumsi pangan. Seiring dengan kemajuan zaman dan perbaikan

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat Indonesia telah menggunakan tumbuhan obat atau bahan

serta peningkatan jumlah dan jenis penyakit. Tumbuhan sebagai sumber senyawa bioaktif alami merupakan bahan baku yang potensial yang menunjang usaha

Lampiran 1. Identifikasi sampel

diteliti untuk melihat kandungan kimia dan khasiat dari tanaman tersebut. Tanaman yang digunakan sebagai antidiabetes diantaranya daun tapak dara

DAFTAR ISI. repository.unisba.ac.id

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini, berbagai macam penyakit degeneratif semakin berkembang pesat dikalangan masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN. (Cyclea barbata Meer), cincau hitam (Mesona palustris), cincau minyak

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan yang optimal dan untuk mengatasi berbagai penyakit secara alami.

BAB I PENDAHULUAN. Sejak zaman nenek moyang sampai sekarang, masyarakat banyak

BAB I PENDAHULUAN. Keseimbangan dalam fisiologi sangat penting bagi semua mekanisme

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Eva Anriani Lubis, 2013

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

IDENTIFIKASI FITOKIMIA DAN EVALUASI TOKSISITAS EKSTRAK KULIT BUAH LANGSAT (Lansium domesticum var. langsat)

BAB I PENDAHULUAN. Obat tradisional telah dikenal dan banyak digunakan secara turun. temurun oleh masyarakat. Penggunaan obat tradisional dalam upaya

Kotamadya Surabaya, di Jawa Timur, dan di seluruh Indonesia diperhitungkan sebesar Rp. 1,5 milyar per hari.

BAB I PENDAHULUAN. antara lain jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka. Jamu sebagai obat bahan alam,

BAB I PENDAHULUAN. terdiri dari kolesterol total, trigliserida (TG), Low Density Lipoprotein (LDL) dan

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN

dan minyak atsiri (Sholikhah, 2006). Saponin mempunyai efek sebagai mukolitik (Gunawan dan Mulyani, 2004), sehingga daun sirih merah kemungkinan bisa

ABSTRAK ABSTRACT KATA PENGANTAR

Berdasarkan data yang diterbitkan dalam jurnal Diabetes Care oleh

BAB I PENDAHULUAN. yang mengandung purin juga bisa menghasilkan asam urat. Oleh karena itulah

BAB I PENDAHULUAN UKDW. meliputi empat fase, yakni : fase inflamasi, fase destruktif, fase proliferasi dan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. pembuluh darah, trombosit dan faktor pembekuan darah (Dewoto, 2007). dengan demikian dapat menghentikan perdarahan (Tan, 2007).

TANAMAN BERKHASIAT OBAT. By : Fitri Rahma Yenti, S.Farm, Apt

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

UKDW BAB I PENDAHULUAN

Bab IV Hasil dan Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN. fast food atau makanan cepat saji. Makanan ini telah populer di masyarakat karena

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. hal dasar dalam kehidupan untuk menunjang semua aktivitas mahkluk hidup. Kesehatan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

sistemik seperti steroid dan fenotiazin serta dapat disebabkan karena radiasi (Olver and Cassidy,2011). Pengobatan penyakit katarak pada saat ini

Kolesterol selain diperoleh dari makanan, juga diproduksi di hati dari lemak jenuh. Jadi, penurunan kadar kolesterol serum dapat dicapai dengan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Adella Anfidina Putri, 2013

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Hipertensi adalah penyakit kardiovaskuler degeneratif kronis. Hipertensi

I PENDAHULUAN. masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Patah tulang (Euphorbia tirucalli L.) adalah salah satu jenis tanaman

HASIL DAN PEMBAHASAN. Nilai Karbohidrat dan Kalori Ransum, Madu dan Kayu Manis

hepatotoksisitas bila digunakan secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama atau tidak sesuai aturan, misalnya asetosal dan paracetamol

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. mellitus meluas pada suatu kumpulan aspek gejala yang timbul pada seseorang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Diabetes adalah kelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan kondisi hiperglikemik yang berhubungan dengan

BAB I PENDAHULUAN. kadar HDL dalam darah (Linn et al., 2009). Dislipidemia sebagian besar (hingga

menurut World Health Organization (WHO), sekitar 65% dari penduduk negara maju dan 80% dari penduduk negara berkembang telah menggunakan obat herbal

BAB I PENDAHULUAN. supaya tidak terserang oleh penyakit (Baratawidjaja, 2000). keganasan terutama yang melibatkan sistem limfatik (Widianto, 1987).

BAB I PENDAHULUAN. sebagai salah satu alternatif pengobatan (Rochani, 2009). Selain harganya

Lampiran 1 Rekomendasi persetujuan etik penelitian kesehatan

ABSTRAK ABSTRACT KATA PENGANTAR

BAB I PENDAHULUAN. terutama di masyarakat kota-kota besar di Indonesia menjadi penyebab

BAB I PENDAHULUAN. Asam urat merupakan senyawa kimia hasil akhir dari metabolisme nucleic

I. PENDAHULUAN. Peternakan broiler merupakan salah satu sektor usaha peternakan yang

pudica L.) pada bagian herba yaitu insomnia (susah tidur), radang mata akut, radang lambung, radang usus, batu saluran kencing, panas tinggi pada

Daun Yakon dan Diabetes Mellitus

Negara Indonesia yang kaya akan berbagai macam jenis tanaman, oleh karena itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan pelayanan

Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. konsumsi minuman ini. Secara nasional, prevalensi penduduk laki-laki yang

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. faktor seperti radiasi, senyawa kimia tertentu, dan virus. Faktor-faktor

BAB I PENDAHULUAN. Obat-obat modern walaupun telah mendominasi dalam pelayanan

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah suatu negara yang kaya akan sumber daya alam yang melimpah dan merupakan sumber penghasil berbagai jenis plasma nutfah berkualitas dunia dikarenakan banyaknya jenis-jenis endemik, langka dan unik yang ditemukan di wilayah ini. Plasma nutfah sangat potensial untuk dikembangkan bagi kesejahteraan masyarakat, salah satunya dapat digunakan sebagai bahan herbal. Diperkirakan hutan Indonesia menyimpan potensi tumbuhan obat sebanyak 30.000 jenis dari total 40.000 jenis tumbuhan di dunia dan sebanyak 940 jenis diantaranya telah dinyatakan berkhasiat sebagai obat (Nugroho, 2010). Pemanfaatan tumbuhan obat telah dipraktekkan sejak lama oleh para leluhur yang kemudian berkembang dan menghasilkan sebuah kearifan lokal. Kearifan tersebut muncul dalam bentuk budaya pemanfaatan nilai dan khasiat dari tumbuhan obat, dimana tradisi ini dapat dijumpai dibeberapa negara antara lain Cina dan Korea. Masyarakat Cina dan Korea sangat gemar mengkomsumsi bahan herbal seperti ginseng sebagai obat dan minuman tradisional. Di Indonesia kebiasaan mengkonsumsi obat tradisional telah lama dikembangkan dalam bentuk jamu-jamuan yang dipopulerkan oleh masyarakat Jawa. Kondisi yang sama juga ditemukan di ujung timur Indonesia, dimana masyarakat Papua terbiasa mengkonsumsi buah merah yang terbukti sebagai obat yang sangat mujarab. Pemanfaatan dan pengelolaan plasma nutfah oleh masyarakat tradisional pada umumnya didasarkan pada akumulasi pengetahuan lokal dan kebijakan yang telah dipatuhi sebagai tradisi dan hukum adat yang diwariskan secara turun 1

temurun. Oleh karena itu, tidaklah bijaksana apabila pengobatan penyakit dan pemeliharaan kesehatan dengan pemanfaatan tumbuhan obat tidak diupayakan untuk dikembangkan bagi kepentingan masyarakat dan bangsa (Sutrisno dan Silitonga, 2004). Kebijaksanaan Obat Nasional (2006) menyatakan bahwa obat merupakan salah satu komponen yang tak tergantikan dalam pelayanan kesehatan. Obat adalah bahan atau paduan bahan-bahan yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi termasuk produk biologi. Obat tradisional yang terbukti berkhasiat dikembangkan dan digunakan dalam upaya kesehatan. Dalam rangka memacu perkembangan obat tradisional tersebut, pemerintah menetapkan bahwa fitofarmaka dapat digunakan dalam sistem pengobatan formal bersama-sama dengan obat kimia. Untuk mencapai hal tersebut maka perlu dilakukan standarisasi. Standarisasi merupakan serangkaian parameter, prosedur dan cara pengukuran yang hasilnya merupakan unsur-unsur terkait seperti paradigma mutu yang memenuhi standar dan jaminan stabilitas produk. Persyaratan mutu simplisia dan ekstrak sejumlah tanaman tertera dalam buku Farmakope Herbal Indonesia (FHI), Ekstrak Farmakope Indonesia, atau Materia Medika Indonesia. Persyaratan mutu bahan baku berupa simplisia maupun ekstrak tersebut terdiri dari berbagai parameter standar umum (non spesifik) dan parameter standar khusus (spesifik). Pemerintah melakukan fungsi pembinaan dan pengawasan serta melindungi konsumen untuk tegaknya trilogi mutu-keamanan-manfaat. Pengertian standarisasi juga berarti proses menjamin bahwa produk akhir (obat atau produk ekstrak) mempunyai nilai parameter tertentu yang konstan dan ditetapkan (dirancang dalam formula) terlebih dahulu. Standarisasi dilakukan sebagai upaya untuk memelihara 2

keseragaman mutu, keamanan serta khasiat sehingga dapat lebih meningkatkan kepercayaan terhadap manfaat obat bahan alam tersebut (BPOM, 2005). Salah satu tanaman yang biasa digunakan di dalam masyarakat sebagai pengobatan tradisional adalah Binahong (Anredera cardifolia). Tanaman binahong termasuk suku Basellaceae dan merupakan tanaman asli Amerika Selatan dan merupakan tumbuhan menjalar, yang bisa mencapai panjang 5 m dan umurnya bisa belasan tahun. Tanaman ini tumbuh baik di cuaca tropis dan subtropis (Mardiana, 2012). Kandungan tanaman binahong belum banyak diketahui. Namun berdasarkan manfaat dan efek farmakologisnya jika dikonsumsi, binahong diduga memiliki kandungan antioksidan dan antivirus yang cukup tinggi. Manoi (2009) menyebutkan bahwa beberapa penyakit yang dapat disembuhkan dengan menggunakan tanaman ini adalah : diabetes, kerusakan ginjal, pembengkakan jantung, tifus, stroke, wasir, rematik, kolesterol, radang usus, sembelit, sesak napas, sariawan berat, pusing-pusing, sakit perut, maag, asam urat, keputihan dan pembengkakan hati. Tanaman binahong juga dapat digunakan untuk melancarkan dan menormalkan peredaran dan tekanan darah, menyembuhkan luka, menurunkan panas tinggi, pemulihan pasca operasi, pemulihan pasca melahirkan, menyuburkan kandungan dan meningkatkan vitalitas dan daya tahan tubuh. Berdasarkan penelitian Sukandar, Qowiyyah dan Larasari (2011) tentang efek ekstrak metanol daun binahong (Anredera cardifolia) terhadap gula darah pada mencit yang diinduksi aloksan 70 mg/kgbb didapatkan dosis ekstrak metanol daun binahong 50 mg/kgbb, 100 mg/kgbb dan 200 mg/kgbb dapat menurunkan kadar glukosa darah pada mencit. Hasil analisa statistik menunjukan presentase penurunan kadar glukosa darah pada mencit berbeda bermakna (P<0,05) pada dosis 50 mg/kgbb dan 200 mg/kgbb dan 3

pada dosis 100 mg/kgbb terjadi penurunan kadar glukosa darah tidak berbeda bermakna (P>0,05) dibandingkan dengan kontrol positif setelah pemberian ekstrak metanol pada hari ke-7 dan hari ke-14. Presentase penurunan kadar glukosa darah pada mencit pada hari ke-7 dan hari ke-14 untuk kontrol positif adalah 9% dan 7,94%. Glibenklamid 0,65 mg/kgbb digunakan sebagai pembanding dan diperoleh presentase penurunannya 72,61% dan 76,30% sedangkan untuk ekstrak binahong dosis 50 mg/kgbb presentase penurunannya 61,02% dan 75,64%, ekstrak binahong 100 mg/kgbb 23,68% dan 49,62% dan ekstrak binahong 200 mg/kgbb diperoleh presentase penurunan kadar gula darahnya sebesar 60,68% dan 66,61%. Dari hasil pengamatan imunohistokimia yang dilakukan oleh Sukandar, Qowiyyah dan Larasari (2011) menunjukan bahwa sel beta pankreas rusak dan pankreas mengecil sejalan dengan peningkatan kadar glukosa darah, namun, dengan pemberian ekstrak metanol daun binahong 50 mg/kgbb dan 200 mg/kgbb terjadi peningkatan jumlah sel dan dapat memperbaiki kerusakan sel beta pankreas akibat pemberian aloksan. Penelitian lainnya dengan menggunakan ekstrak binahong menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun binahong yang diperoleh dengan cara maserasi dengan dosis 1,8 g/kgbb dapat menurunkan kadar glukosa pada tikus yang diinduksi sukrosa 5,625 g/kgbb. Hewan uji dibagi secara acak di dalam 3 kelompok yaitu kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif dan kelompok perlakuan. Data diperoleh dari pemeriksaan kadar gula darah pada menit ke 15, 30, 60 dan 120 setelah diberi perlakuan. Hasil analisa statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol negatif dan kelompok perlakuan, kelompok kontrol negatif dan kelompok kontrol positif, tetapi tidak menunjukan perbedaan yang signifikan antar kelompok perlakuan dan kelompok kontrol positif (Makalalag, Wullur dan Wiyono, 2013). 4

Menurut Andrieyani dkk (2015), pemberian ekstrak etanol 70% umbi binahong yang diperoleh dengan metode maserasi dengan dosis 25, 50, 75 mg/kg BB dapat menurunkan kadar glukosa darah serta dapat meningkatkan aktifitas SOD (Superoksida dismutase) jantung tikus berturutturut 5,511 u/ml ; 5,217 u/ml dan 4,942 u/ml dengan dosis terbaik adalah 25 mg/kg BB. Senyawa yang mampu menurunkan kadar gula darah pada tikus diabetes diduga adalah flavonoid dengan mekanisme kerja mengembalikan sensitifitas reseptor insulin pada sel dan sebagai antioksidan yang dapat memperbaiki sel β pankreas yang telah rusak akibat radikal bebas (Saleh, 2012). Melihat besarnya potensi tanaman Anredera cardifolia sebagai tanaman obat, maka pada penelitian ini akan dilakukan standarisasi dari tanaman binahong. Sejauh literatur yang telah dibaca, bahan baku simplisia dan ekstrak daun binahong (Anredera cardifolia) belum pernah dilakukan standarisasi dan belum tercantum dalam monografi terbitan resmi Departemen Kesehatan (Materia Medika Indonesia & Monografi ekstrak tumbuhan obat). Standarisasi ini perlu dilakukan untuk menjaga konsistensi dan keseragaman khasiat dari obat herbal, menjaga senyawa-senyawa aktif selalu konsisten terukur antara perlakuan dan menjaga keamanan stabilitas simplisa, ekstrak/bentuk sediaan terkait dengan efikasi dan keamanan (Saifudin, Rahayu dan Teruna, 2011). Pada penelitian ini, standarisasi dilakukan terhadap tanaman segar, simplisia kering dan ekstrak etanol daun binahong. Tanaman segar dilakukan standarisasi guna untuk mengkarakterisasi dan mengidentifikasi tanaman tersebut agar dapat dibedakan dari tanaman lainnya, sedangkan standarisasi terhadap simplisia dan ekstrak etanol daun binahong bertujuan untuk menetapkan mutu dan keamanan bahan baku simplisia dan ekstrak yang digunakan untuk menunjang kesehatan. Mutu suatu bahan baku simplisia dan 5

ekstrak ditinjau dan dipandang dari senyawa kimia yang terkandung didalamnya seiring dengan paradigma ilmu kedokteran modern bahwa respon biologis yang diakibatkan oleh bahan baku simplisia dan ekstrak pada manusia disebabkan oleh senyawa kimia bukan dari unsur lain seperti bioenergi dan spiritual. Untuk menjamin keseragaman senyawa aktif, keamanan dan kegunaanya maka simplisia dan ekstrak harus memenuhi persyaratan minimal (Ditjen POM RI, 2000). Proses ekstraksi daun binahong diacu dari jurnal penelitian terdahulu dimana menggunakan metode maserasi, selain itu metode ekstraksi maserasi mempunyai beberapa keuntungan yaitu menggunakan pelarut tunggal, prosedur dan peralatan yang digunakan sederhana dan merupakan ekstraksi dingin sehingga bahan alam yang tidak tahan pemanasan tidak mudah terurai. Pelarut yang digunakan pada penelitian ini juga diacu dari penelitian terdahulu yaitu menggunakan pelarut etanol. Pelarut etanol juga mempunyai beberapa kelebihan yaitu merupakan pelarut universal yang mampu melarutkan senyawa metabolit sekunder, mudah diperoleh karena harganya murah, tidak berbahaya dan memiliki kemampuan menyari dengan polaritas yang lebar mulai dari senyawa nonpolar sampai dengan polar (Saifudin, Rahayu dan Teruna, 2011). Vanhaelen et al (1991) mengatakan bahwa penentuan parameter standarisasi tidak dapat hanya ditentukan dari satu titik lokasi saja. Hal tersebut dikarenakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi mutu simplisia dan metabolit sekunder yang dihasilkan. Faktor-faktor tersebut antara lain waktu panen yang erat hubungannya dengan pembentukan senyawa aktif di dalam bagian tanaman yang akan dipanen, lokasi tempat tumbuh, unsur hara, ketinggian, kelembaban udara, ph, kualitas tanah, suhu, dan intensitas cahaya, sehingga sampel daun binahong yang digunakan pada penelitian ini diambil dari tiga lokasi yang memiliki letak geografis yang berbeda yaitu 6

pertama dari Balittro Bogor yang terletak pada ketinggian 400 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan suhu rata-rata 26 0 C, rata-rata min 21 0 C, kelembaban udara sekitar 70% dan curah hujan 3.500 4000 mm per-tahun, yang kedua dari Balai Materia Medika Batu yang terletak pada ketinggian ± 875 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan suhu rata-rata 20-25 0 C, kelembaban udara sekitar 80 % dan curah hujan 3.073 mm per-tahun dan yang ketiga dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu (B 2P 2TOOT) yang terletak pada ketinggian 1200 meter diatas permukaan laut (dpl) dengan suhu rata-rata 22-31 0 C dan rata-rata curah hujan 256,10 mm per- tahun. Sampel daun binahong yang diambil dari tiga lokasi yang berbeda tersebut dilakukan standarisasi terhadap simplisia dan ekstrak yang meliputi parameter spesifik (identitas, organoleptis, pengamatan makroskopis dan mikroskopis, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, skrining fitokimia, penetapan profil kromatogram, penetapan spektrum IR, dan penetapan kadar khusus ekstrak etanol untuk senyawa metabolit sekunder fenol, flavonoid dan alkaloid) dan parameter non spesifik (kadar air, susut pengeringan, bobot jenis (khusus ekstrak), kadar abu, kadar abu larut air dan kadar abu tidak larut asam). Data yang diperoleh diharapkan dapat menjadi acuan parameter standarisasi dalam penggunaan dan pengembangan obat tradisional dari bahan baku daun binahong. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diungkapkan, dapat dirumuskan permasalahannya adalah sebagai berikut : a. Bagaimana profil karakteristik makroskopik dan mikroskopik dari daun segar tanaman binahong (Anredera cardifolia)? 7

b. Bagaimana profil parameter kualitas dari simplisia daun binahong (Anredera cardifolia) yang diperoleh dari tiga daerah berbeda? c. Bagaimana profil parameter kualitas dari ekstrak etanol daun binahong (Anredera cardifolia) yang diperoleh dari tiga daerah berbeda? d. Bagaimana kadar fenol, flavonoid dan alkaloid dari ekstrak etanol daun binahong (Anredera cardifolia) yang diperoleh dari tiga daerah berbeda? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan permasalahan diatas maka tujuan dari penelitian ini antara lain: a. Menetapkan profil karakteristik makroskopik dan mikroskopik dari daun segar tanaman binahong (Anredera cardifolia). b. Menetapkan profil parameter kualitas dari simplisia daun binahong (Anredera cardifolia) yang diperoleh dari tiga daerah berbeda. c. Menetapkan profil parameter kualitas dari ekstrak etanol daun binahong (Anredera cardifolia) yang diperoleh dari tiga daerah berbeda. d. Menentukan kadar fenol, flavonoid dan alkaloid dari ekstrak etanol daun binahong (Anredera cardifolia) yang diperoleh dari tiga daerah yang berbeda. 1.4 Manfaat Penelitian Hasil penelitian standarisasi daun binahong (Anredera cardifolia) ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang parameter standar simplisia dan ekstrak etanol daun binahong yang dapat digunakan sebagai bahan baku obat tradisional, sehingga dapat dikembangkan lebih jauh menjadi bahan baku obat herbal terstandar (OHT) atau fitofarmaka dan dapat 8

menjadi acuan dalam pengembangan obat tradisional dari bahan baku daun binahong (Anredera cardifolia). 9