Modul 12. (No. ICOPIM: 5-505)

dokumen-dokumen yang mirip
2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

Modul 4 SIRKUMSISI PADA PHIMOSIS (No. ICOPIM: 5-640)

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

Modul 26 PENUTUPAN STOMA (TUTUP KOLOSTOMI / ILEOSTOMI) ( No. ICOPIM 5-465)

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

Modul 23 ORCHIDOPEXI/ORCHIDOTOMI PADA UNDESCENSUS TESTIS (UDT) (No. ICOPIM: 5-624, 5-620)

Modul 34 EKSISI LUAS TUMOR DINDING ABDOMEN PADA TUMOR DESMOID & DINDING ABDOMEN YANG LAIN (No. ICOPIM: 5-542)

Modul 26 DETORSI TESTIS DAN ORCHIDOPEXI (No. ICOPIM: 5-634)

Modul 20 RESEKSI/ EKSISI ANEURISMA PERIFER (No. ICOPIM: 5-382)

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

( No. ICOPIM : )

Modul 11. (No. ICOPIM: 5-467)

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

Modul 36. ( No. ICOPIM 5-545)

Modul 3. (No. ICOPIM: 5-530)

PADA PERFORASI USUS (No. ICOPIM: 5-454)

Modul 11 BEDAH TKV FIKSASI INTERNAL IGA ( KLIPING KOSTA ) (ICOPIM 5-790, 792)

Modul 13 OPERASI REPAIR HERNIA DIAFRAGMATIKA TRAUMATIKA (No. ICOPIM: 5-537)

Modul 9. (No. ICOPIM: 5-461)

REPAIR PERFORASI SEDERHANA (No. ICOPIM: 5-467)

(No. ICOPIM: 5-491, 5-884)

Modul 1 BIOPSI INSISIONAL DAN EKSISIONAL ( NO.ICOPIM : 1-501,502,599 )

Modul 16 EKSISI TELEANGIEKTASIS (ICOPIM 5-387)

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

Modul 2 (ICOPIM 8-835)

Modul 18 Bedah TKV EKSISI HEMANGIOMA (ICOPIM 5-884)

Modul 24 REPOSISI (MILKING) PADA INVAGINASI SALURAN PENCERNAAN (No. ICOPIM: 5-458)

Modul 1 EKSISI TUMOR JARINGAN LUNAK KEPALA LEHER (ICOPIM )

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

EKSTRAKSI CORPUS ALIENUM DI KEPALA DAN LEHER (ICOPIM 5-119)

Modul 9. (No. ICOPIM: 5-894)

Modul 29 Bedah Digestif DRAINASE ABSES APENDIK ( No. ICOPIM 5-471)

Modul 31. ( No. ICOPIM 5-485)

Modul 7 EKSKOKLEASI KISTA RAHANG (ICOPIM 5-243)

Modul 13. (No. ICOPIM: 5-520)

Modul 2 (ICOPIM 5-311)

Modul 6 NEFROSTOMI & DRAINASE PIONEPHROSIS (No. ICOPIM: 5-550)

GASTROSTOMI TEMPORER ( No. ICOPIM 5-431)

Modul 5. (No. ICOPIM: 5-530)

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

Modul 19 Bedah Digestif GASTROENTEROSTOMI PINTAS (BY PASS) ( No. ICOPIM 5-442)

Modul 4. (No. ICOPIM: 5-493)

Modul 12 EKSISI DAN MARSUPIALISASI RANULA (ICOPIM 5-501)

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

Modul 22 SIGMOIDEKTOMI, RESEKSI ANTERIOR, LOW RESEKSI ANTERIOR (No. ICOPIM: 5-455)

Modul 17 BEDAH TKV DEBRIDEMENT DAN AMPUTASI EKTRIMITAS KARENA GANGRENE (ICOPIM 5-847)

(Partial Gastrectomy dengan anastomosis jejujum) (No. ICOPIM 5-437)

PERIKARDIOSENTESIS TERBUKA Bedah TKV (ICOPIM 5-371)

Modul 32. (No. ICOPIM: 5-511)

Modul 11. (No. ICOPIM: 5-871)

Modul 4 Bedah TKV PEMASANGAN PIPA INTRATORAKAL ATAU WATER SEAL DRAINASE ( WSD ) ( ICOPIM 8-740)

Modul 10 EKSISI KISTA BRANKIALIS (ICOPIM 5-291)

Modul 18 DISEKSI SUBMANDIBULA (ICOPIM 5-262)

Modul 30 Bedah Digestif ABDOMINAL PERINEAL RESECTION OPERASI MILES ( No. ICOPIM 5-484)

Modul 1 PEMASANGAN KATETER VENA SENTRAL (KTS) ( No. ICOPIM : )

Modul 17 (ICOPIM 5-251)

Modul 9 REKONSTRUKSI VASKULAR PERIFER (TRAUMA) (ICOPIM 5-380)

Modul 4 SISTOSTOMI & PUNKSI BULI-BULI (No. ICOPIM: 5-572)

MODUL 14 (ICOPIM 5-384)

Modul 33. (No. ICOPIM 5-511)

Modul 11 (ICOPIM 5-311)

APENDEKTOMI TERBUKA (No. ICOPIM: 5-470)

APENDEKTOMI TERBUKA (No. ICOPIM: 5-470)

MODUL PULMONOLOGI DAN KEDOKTERAN RESPIRASI BATUK DARAH. Oleh

Modul 25 EKSISI LUAS KANKER KULIT (KEPALA LEHER) (ICOPIM 5-899)

Modul 6 OPERASI A-V SHUNT (BRECIA CIMINO) (ICOPIM 5-392)

Modul 3 LOBEKTOMI TOTAL / SUBTOTAL KELENJAR TIROID (ICOPIM 5-061)

TERAPI INHALASI MODUL PULMONOLOGI DAN KEDOKTERAN RESPIRASI. : Prosedur Tidakan pada Kelainan Paru. I. Waktu. Mengembangkan kompetensi.

BAB II PELAYANAN BEDAH OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

OMPHALOMESENTERIKUS REMNANT

1 Tumbuh Kembang Anak

10 Usaha Kesehatan Sekolah Dan Remaja

15 Gangguan Perilaku Pada Anak: Temper Tantrum

Modul 15 Bedah KL TIROIDEKTOMI SUBTOTAL (ICOPIM 5-062)

Perawat instrument (Scrub Nurse) dan perawat sirkuler di kamar operasi.

BAB I PENDAHULUAN. ditemukan dalam masyarakat, terutama pada wanita dan usia lanjut. Walaupun penyakit ini

UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS KEDOKTERAN SILABUS

68 Gagal Ginjal Kronik (GGK)

BAB I PENDAHULUAN. lokasinya dan kapsulnya yang tipis Glisson capsule. Cedera organ hepar

PELAYANAN BEDAH DAN ANESTESI

BAB I PENDAHULUAN. Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10 cm

195 Batu Saluran Kemih

PELAYANAN BEDAH DAN ANESTESI (PAB)

16 Gangguan Perilaku Pada Anak: Encopresis

BAB 1 PENDAHULUAN. Apendisitis akut merupakan penyebab akut abdomen yang paling sering memerlukan

BAB I PENDAHULUAN. yang terjadi pada usus kecil yang disebabkan oleh kuman Salmonella Typhi.

93 Meningitis Tuberkulosa

VENTRICULO PERITONEAL SHUNTING (VPS) : PERBANDINGAN ANTARA VPS TERPANDU LAPAROSKOPI & VPS DENGAN TEKNIK BEDAH TERBUKA KONVENSIONAL

PEDOMAN WAWANCARA ANALISIS KELENGKAPAN PENGISIAN BERKAS REKAM MEDIS RAWAT INAP DI RSU HAJI MEDAN TAHUN

BAB 1 PENDAHULUAN. kemajuan kesehatan suatu negara. Menurunkan angka kematian bayi dari 34

Sem 9 G M Q 79.3 K6 K6 K6 K6 P5.A3 P5.A3 P5.A3 P5.A5 P5.A5 P5.A Sem 3. Sem 5. Sem 4

Modul 15 LAPAROTOMI DAN TORAKO-LAPAROTOMI ( No. ICOPIM 5-541)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Mortalitas pascaoperasi (postoperative mortality) adalah kematian yang

Fistula Urethra Batasan Gambaran Klinis Diagnosa Penatalaksanaan

Instruksi Kerja OvarioHisterectomy

PYLORUS STENOSIS HYPERTROPHY

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Sdr. A DENGAN POST APPENDIKTOMI HARI KE II DI RUANG CEMPAKA RSUD PANDANARAN BOYOLALI

Transkripsi:

Modul 12 Bedah Digestif PENANGGULANGAN CEDERA HEPAR (. ICOPIM: 5-505) 1. TUJUAN 1.1. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti sesi ini peserta didik memahami dan mengerti tentang anatomi, topografi dari hepar, memahami diagnosa dan pengelolaan trauma hepar, cara-cara work up penderita trauma hepar dan tindakan operatif yang sesuai beserta dengan perawatan pasca operasi. 1.2. Tujuan Pembelajaran khusus Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan mempunyai kemampuan untuk : 1. Mampu menjelaskan anatomi, topografi dari hepar 2. Mampu menjelaskan etiologi trauma hepar 3. Mampu menjelaskan gambaran klinis,terapi trauma hepar 4. Mampu menjelaskan pemeriksaan penunjang diagnosis seperti DPL, CT Scan dan USG Abdomen 5. Mampu menjelaskan terapi dan tehnik operasi pada trauma hepar 6. Mampu menjelaskan penanganan komplikasi operasi yang meliputi gangguan hemodinamik dan elektrolit 7. Mampu melakukan work up penderita trauma hepar yang meliputi anamnesa pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang 8. Mampu melakukan tindakan pembedahan pada trauma hepar maupun perawatan non-bedah 9. Mampu merawat penderita trauma hepar pra operatif dan pascaoperasi maupun non-operatif serta mampu mengatasi komplikasi yang terjadi 2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN 1. Anatomi, topografi dari trauma hepar 2. Etiologi, macam, diagnosis dan rencana pengelolaan trauma hepar 3. Tehnik operasi trauma hepar dan komplikasinya 4. Work up penderita trauma hepar operatif maupun non-operatif 5. Perawatan penderita trauma hepar pra operatif dan pasca operasi maupun non-operatif 3. WAKTU METODE A. Proses pembelajaran dilaksanakan melalui metode: 1) small group discussion 2) peer assisted learning (PAL) 3) bedside teaching 4) task-based medical education B. Peserta didik paling tidak sudah harus mempelajari: 1) bahan acuan (references) 2) ilmu dasar yang berkaitan dengan topik pembelajaran 3) ilmu klinis dasar C. Penuntun belajar (learning guide) terlampir D. Tempat belajar (training setting): bangsal bedah, kamar operasi, bangsal perawatan pasca operasi. 4. MEDIA 1. Workshop / Pelatihan 2. Belajar mandiri 3. Kuliah 4. Group diskusi 5. Visite, bed site teaching 6. Bimbingan Operasi dan asistensi 7. Kasus morbiditas dan mortalitas 1

5. ALAT BANTU PEMBELAJARAN Internet, telekonferens, dll. 6. EVALUASI 8. Continuing Profesional Development=Pengembangan Profesi Bedah Berkelanjutan (P2B2) 1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre-test terdiri atas: Anatomi dan fisiologi hepar Penegakan Diagnosis Terapi (tehnik operasi atau non-operatif) Komplikasi dan penanganannya Follow up 2. Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian. 3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam bentuk role-play dengan temantemannya (peer assisted learning) atau kepada SP (standardized patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (peer assisted evaluation). Setelah dianggap memadai, melalui metoda bedside teaching di bawah pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada nodel anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut: Perlu perbaikan: pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak dilaksanakan Cukup: pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien Baik: pelaksanaan benar dan baik (efisien) 4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan. 5. Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun belajar 6. Pendidik/fasilitas: Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form (terlampir) Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi Kriteria penilaian keseluruhan: cakap/ tidak cakap/ lalai. 7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education) 8. Pencapaian pembelajaran: Pre test Isi pre test Anatomi dan fisiologi hepar Diagnosis Terapi (Tehnik operasi atau non-operatif) Komplikasi dan penanggulangannya Follow up Bentuk pre test 2

MCQ, Essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan Buku acuan untuk pre test 1. Buku teks ilmu bedah Schwarzt 2. Buku teks ilmu bedah rton 3. Buku teks Abdominal operation Maingot,s Bentuk Ujian / test latihan Ujian OSCA (K, P, A), dilakukan pada tahapan bedah dasar oleh Kolegium I. Bedah. Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing senter pendidikan. Ujian akhir kognitif nasional, dilakukan pada akhir tahapan bedah lanjut (jaga II) oleh Kolegium I. Bedah. Ujian akhir profesi nasional (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium I. Bedah 7. REFERENSI 1. Buku teks ilmu bedah Schwarzt 2. Buku teks ilmu bedah rton 3. Buku teks Abdominal operation Maingot,s 8. URAIAN: PENANGGULANGAN TRAUMA HEPAR 8.1. Introduksi a. Defenisi Penanganan trauma hepar dengan tindakan non operatif atau operatif. b. Ruang lingkup Trauma pada abdomen yang mencederai hepar, syok dan peritonitis memerlukan pemeriksaan untuk menegakkan diagnosa serta tindakan yang cepat. Dalam kaitan penegakan diagnosa dan pengobatan diperlukan beberapa disiplin ilmu seperti anastesi, dan radiologi. c. Indikasi operasi - Trauma hepar dengan syok - Trauma hepar dengan peritonitis - Trauma hepar dengan hematom yang meluas - Trauma hepar dengan penanganan konservatif gagal - Trauma hepar dengan cedera lain intra abdominal d. Diagnosis banding - Perdarahan intraabdominal disebabkan cedera organ selain hepar e. Pemeriksaan penunjang - USG Abdomen - CT Scan - DPL Setelah memahami,menguasai dan mengerjakan modul ini maka diharapkan seorang dokter ahli bedah mempunyai kompetensi melakukan perawatan non-operatif maupun tindakan operasi trauma hepar serta penerapannya dapat dikerjakan di RS Pendidikan dan RS jaringan Pendidikan 8.2. Kompetensi terkait dengan modul/ List of skill Tahapan Bedah Dasar (semester I - III ) Persiapan pra oprasi Ο Anamnese Ο Pemeriksaan fisik Ο Pemeriksan penunjang Ο Informed consent Assisten 2, assisten 1 pada saat operasi atau non-operatif Follow up dan rehabilitasi 3

Tahapan bedah lanjut ( smstr IV VII ) dan chief residen ( smstr VIII IX ) Persiapan pra operasi o Anamnese o Pemeriksaan fisik o Pemeriksaan penunjang o Informed consent Melakukan perawatan non-operatif Melakukan Operasi (Bimbingan Mandiri ) o Penanggulangan komplikasi o Follow up dan rehabilitasi 4

8.3. Algoritma dan Prosedur Algoritma BLUNT ABDOMINAL TRAUMA Peritonitis/ Overt Haemoperitoneum Ruptured Diaphragm, Evisceration Expl. Lap Hemodinamically stable Hemodinamically Unstable Suggesting Hemorrhage Reriable PE? US DPL - Abdomen Tenderness - Multi rib Fract. - Abd. Wall Contusion - Equivocal Findings? Free Fluid Identified? US DPL US DPL Free Fluid Identified? - Iration of gross Blood - RBC > 100 K/ mm 3 - WBC > 500/ mm 3 - Particulate matter - Bile Admid Serial PE CT Scan Expl. Lap Consider Expl. Lap Solid Visceral Injury? Consider n Operative Managemen Solid Visceral Injury? Consider Expl. Lap - Continue Resuscitation - Evaluate other potential source of shock - Repeat US - DPL - Continue Resuscitation - Evaluate other potential source of shock - Repeat US 5

8.4. Teknik Operasi Penanggulangan Trauma hepar n Operatif: Trauma hepar dengan hemodinamik stabil dan tidak ada tanda pendarahan serta defans muscular dilakukan perawatan non-operatif dengan observasi ketat selama minimal 3 x 24 jam. Harus dilakukan pemeriksaan CT Scan serial, USG maupun Hb serial. Penanggulangan Trauma hepar secara operatif: Secara singkat tehnik operasi pada trauma hepar dapat dijelaskan sebagai berikut.setelah penderita diberi narkose dengan endotracheal lapangan operasi didesinfeksi dengan larutan desinfektan dan dipersempit dengan linen steril.dilakukan incisi midline, darah dan bekuan darah segera dievacuasi.lakukan packing pada masing masing quadrant abdomen untuk hemostasis dan memberikan kesempatan kepada anastesi untuk melakukan resusitasi intra operatif. Pada trauma hepar yang berat lakukan kontrol perdarahan dengan menekan secara langsung pada hepar dan packing dapat ditinggalkan dalam abdomen dan diangkat sesudah 48 sampai 72 jam. Perdarahan yang sudah berhenti begitu cavum abdomen dibuka tidak perlu dilakukan tindakan penjahitan Memobilisasi hepar Pada trauma hepar yang tidak jelas sumber perdarahan hepar dapat dimobilisasi dengan memotong ligamentum inferior dan anterior dilanjutkan dengan memotong ligamentum falciforme.untuk mobilisasi lebih luas dapat dipotong ligamentum triangular sinistra dan dekstra. Pringle Maneuver Untuk mencegah perdarahan hebat pada trauma hepar dan memudahkan tindakan pada parenchym hepar, aliran darah ke hepar dapat dihentikan dengan melakukan manuver prengle yakni dengan menutup triad portal di ergumentur hepatoduodenale dengan vascular clamp dan dibuka setiap 15-20 menit pada foramen winslow. Dengan vascular clamp pada hepatoduodenale ligament dan dibuka setiap 15 sampai 20 menit. Penjahitan Hepar Hepar dapat dijahit dengan chromic 2.0 dengan menggunakan jarum hepar yang panjang dan ini direkomendasikan pada cedera parenchym hepar yang berat.jahitan secara matrass menyilang permukaan hepar yang cedera dan jangan terlalu tegang karena dapat merobek hepar. Hepatoraphy dan finger fracture tehnik Perdarahan persisten dari trauma hepar dapat dilakukan hepatoraphy untuk mengkontrol perdarahan.lakukan Pringle Maneuver dan parencym hepar diincisi dengan electrocauter.pembuluh darah dan bile duct diligasi.hindarkan cedera dari ductus hepaticus kanan dan kiri. Lepaskan klem perlahan lahan dan apabila masih ada perdarahan ligasi kembali.permukaan luka dijahit tanpa meninggalkan dead space. Bila ada dead space biarkan luka terbuka dan dilakukan omental patch. Reseksi Hepar Reseksi Hepar pada trauma hepar sangat jarang dilakukan. Reseksi hepar diindikasikan pada trauma hepar dengan kerusakan parenchym hepar yang sangat berat,perdarahan yang sangat sulit diatasi dengan berbagai maneuver dan hpotensi.kerusakan bilateral dari hepar dapat dilakukan total reseksi dan dilakukan hepar transplantasi. Prehepatic Packing Tehnik prehepatic packing diindikasikan pada trauma hepar dengan coagulopathy akibat tansfusi, trauma hepar bilobar dengan perdarahan yang tidak dapat dikontrol, subkapsular hematom yang meluas dan rupture dan hypothermia. Packing dapat berupa kasa tebal yang luas diletakkan langsung pada permukaan anterior dan posterior hepar dan cavum abdomen ditutup.pengangkatan packing dilakukan 24 48 jam kemudian. Cavum abdomen dicuci dan dipasang drain intra peritonial. 6

8.5. Komplikasi operasi Komplikasi pada trauma hepar dapat berupa gangguan pembekuan darah hepar, terjadinya penurunan trombosit, perdarahan pasca operasi, hyperpyrexia, abses intra abdominal, fistula biliari fistula dan kegagalan fungsi hati. Dapat terjadi hemobilia atau bile duct stenosis. 8.6. Mortalitas Mortalitas pada trauma hepar 10-15 %. Mortalitas rate pada kasus trauma tumpul adalah 31 %. 8.7. Perawatan Pasca Bedah - Penderita dirawat di ICU atau ruang perawatan akut - Bedrest, pasang NGI dan kateter usus - Diet per oral diberikan bila saluran pencernaan telah berfungsi 8.8. Follow-up - Bila cedera hepar cukup signifikan dan dilakukan non operatif managemen: Bedrest 2-3 hari Follow-up CT-scan hari 5-7 pasca trauma, kemudian 1 bulan berikutnya 8.9. Kata Kunci: Trauma tumpul abdomen, cedera hepar, non operatif managemen, operatif managemen. 9. DAFTAR CEK PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR OPERASI Daftar cek penuntun belajar prosedur operasi PERSIAPAN PRE OPERASI 1 Informed consent 2 Laboratorium 3 Pemeriksaan tambahan 4 Antibiotik propilaksis 5 Cairan dan Darah 6 Peralatan dan instrumen operasi khusus ANASTESI 1 Narcose dengan general anesthesia, regional, lokal PERSIAPAN LOKAL DAERAH OPERASI 1 Penderita diatur dalam posisi terlentang sesuai dengan letak kelainan 2 Lakukan desinfeksi dan tindakan asepsis / antisepsis pada daerah operasi. 3 Lapangan pembedahan dipersempit dengan linen steril. TINDAKAN OPERASI 1 Insisi kulit sesuai dengan indikasi operasi 2 Selanjutnya irisan diperdalam menurut jenis operasi tersebut diatas 3 Prosedur operasi sesuai kaidah bedah digestif PERAWATAN PASCA BEDAH 1 Komplikasi dan penanganannya 2 Pengawasan terhadap ABC 3 Perawatan luka operasi Sudah dikerjakan Belum dikerjakan Catatan: Sudah / Belum dikerjakan beri tanda 7

10. DAFTAR TILIK Berikan tanda dalam kotak yang tersedia bila keterampilan/tugas telah dikerjakan dengan memuaskan (1); tidak memuaskan (2) dan tidak diamati (3) 1. Memuaskan Langkah/ tugas dikerjakan sesuai dengan prosedur standar atau penuntun 2. Tidak memuaskan Tidak mampu untuk mengerjakan langkah/ tugas sesuai dengan prosedur standar atau penuntun 3. Tidak diamati Langkah, tugas atau ketrampilan tidak dilakukan oleh peserta latih selama penilaian oleh pelatih Nama peserta didik Nama pasien Tanggal Rekam Medis 1 Persiapan Pre-Operasi DAFTAR TILIK Kegiatan / langkah klinik Penilaian 1 2 3 2 Anestesi 3 Tindakan Medik/ Operasi 4 Perawatan Pasca Operasi & Follow-up Peserta dinyatakan : Layak Tidak layak melakukan prosedur Tanda tangan pelatih Tanda tangan dan nama terang 8