STUDI KASUS PADAA Ny. "U" UMUR 75 TAHUN YANG MENGALAMI MASALAH KEPERAWATAN GANGGUAN MOBILITAS FISIK DENGAN DIAGNOSA MEDIS CEREBRO VASCULAR ACCIDENT DI RUANG SEDAP MALAM RSUD GAMBIRAN KOTA KEDIRI KARYA TULIS ILMIAH Oleh: JERICO PUTRA PRATAMA NPM: 12.2.05.01.0018 PRGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI 2015 1
LEMBAR PERSETUJUAN Judul KTI : STUDI KASUS PADA Ny. "U" UMUR 75 TAHUN YANG MENGALAMI MASALAH KEPERAWATAN GANGGUAN MOBILITAS FISIK DENGAN DIAGNOSA MEDIS CEREBRO VASCULAR ACCIDENT DI RUANG SEDAP MALAM RSUD GAMBIRAN KOTA KEDIRI Disusun Oleh : JERICO PUTRA PRATAMA Telah disetujui oleh Tim Pembimbing untuk diujikan di hadapan Dewan Penguji Ujian Hasil Karya Tulis Ilmiah pada tanggal : Agustus 2015 Pembimbing I Pembimbing II Norma Risnasari,S.Kep.,Ns Ns.M.Mudzakkir,M.Kep Mengetahui Ketua Program Studi Diploma III Keperawatan Ns.M.Mudzakkir,M.Kep 2
3
STUDI KASUS PADAA Ny. "U" UMUR 75 TAHUN YANG MENGALAMI MASALAH KEPERAWATAN GANGGUAN MOBILITAS FISIK DENGAN DIAGNOSA MEDIS CEREBRO VASCULAR ACCIDENT DI RUANG SEDAP MALAMM RSUD GAMBIRAN KOTA KEDIRI NAMA : JERICO PUTRA PRATAMA NPM : 12.2.05.01.0018 FAK-PRODI : FAKULTAS ILMU KESEHATAN PRODI D II KEPERAWATAN EMAIL : jericookgmail.com DOSEN PEMBIMBING 1 : NORMA RISNASARI, S.KEP., NS DOSEN PEMBIMBING 2 : NS.M. MUDZAKKIR, M.KEP. UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI 4
ABSTRAK Studi Kasus Pada Ny. U 75 Tahun Yang Mengalami Masalah Keperawatan Gangguan Mobilitas Fisik Dengan Diagnosa Medis Cerebro Vascular Accident Di Ruang Sedap Malam RSUD Gambiran Kota Kedirii Jerico Putra Pratama (2015). Pembimbing1 : Norma Risnasari, S.Kep., Ns Pembimbing 2 : Ns.M. Mudzakkir, M.kep. CVA adalah salah satu keadaan yang timbul karena terjadi gangguan peredaran darah diotak yang menyebabkan terjadinya kematian jaringan otak sehingga mengakibatkan seseorang menderita kelumpuhan atau kematian.(smeltzer, 2002) Tujuan umum penulisan ini adalah menggambarkan asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami masalah keperawatan gangguan mobilitas fisik dengan diagnosa medis CVA di Ruang Sedap Malam RSUD Gambiran Kota Kediri. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan studikasus yaitu metodee ilmiah yang bersifat mengumpulkan data, menganalisis data dan menarik kesimpulan data. Asuhan keperawatan tersebut meliputi pengkajian, penegakan diagnose, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Berdasarkan studikasus pada Ny. U diagnosa yang muncul pada kasus CVA antara lain gangguan mobilitas fisik. Tindakan yang dilakukan : mengukur tanda-tanda vital pasien, mengukur fungsi motorik dan sensorik, melakukan latihan pergerakan sendi (ROM). Setelah dilakukan tiga hari perawatan kondisi pasien mulai membaik, dengan analisa masalah teratasi dan intervensi di hentikan. Gangguan mobilitas fisik disebabkan oleh kelemahan fisik jika tidak segera ditangani pasien akan mengalami kelumpuhan. Upaya memperbaiki intoleransi aktivitas dapat tercapai dengan perawat melakukan implementasi sesuai dengan intervensi yang dibuat. Dibutuhkan juga bantuan keluarga untuk membatu kebeutuhan pasien sehari-hari seperti melakukan latihan gerak sendi (ROM). Kata Kunci : CVA, Fisik. Gangguan Mobilitas JERICO PUTRA PRATAMA 12.2.05.01.0018 5
I. Latar Belakang Cerebro Vascular Accident (CVA) adalah gangguan fungsi otak yang terjadi dengan cepat dan berlangsungg lebih dari 24 jam karena gangguan suplai darah ke otak. Dalam jaringan otak, kekurangan aliran darah menyebabkan serangkaian reaksi bio-kimia yang dapat merusak atau mematikan sel-sel otak. Dahulu penyakit CVA hanya dialami oleh orang-orang yang berusia lanjut karena proses penuaan menyebabkan pembuluh darah mengeras dan menyempit (arteriosclerosis) namun di era modern ini kecenderungan CVA mengancam usia produktif karena kurangnya perhatian pada pola makan. Makanan dengan kandungan kolesterol tinggi dapat memicu penumpukan endapan lemak pada pembuluh darah menuju keotak sehingga terjadi penyempitan sehingga pasokan darah dan oksigen berkurang dan hal ini juga memungkinkan terjadinya pecah pembuluh darah karena penyempitan pembuluh darah menyebabkan jantung memompa darah lebih cepat. 30% penderita CVA mengalami kesulitan bicara, menelan, membedakan kanan dan kiri. CVA tak lagi hanya menyerang kelompok lansia, namun kini cenderung menyerang generasi muda yang masih produktif. ( Smeltzer, 2002) Berdasarkan data Di Amerika Serikat pada tahun 2012 CVA menjadi penyebab kematian ketiga terbanyak yaitu sekitar 162.672 orang. Jumlah tersebut setara dengan 1 diantara 15 kematian di Amerika Serikat. Mengacu kepada laporan American Heart Assocation, sekitar 700.000 Orang di Amerika Serikat terserang CVA setiap tahunnya. Dari jumlah ini, 500.000 diantaranya menderita serangan CVA yang berulang. Saat ini ada 4 juta orang di Amerika Serikat yang hidup dalam keterbatasan fisik akibat CVA, dan 15-30 % diantaranya menderita cacat menetap (Center Disease Control And Prevention, 2009). Di Indonesia, 8 dari 1000 orang terkena CVA. CVA merupakan penyebab utama kematian pada semua umur, dengan proporsi 15,4%. Setiap 7 orang yang meninggal di Indonesia, 1 diantaranya karena CVA (Depkes,2013). Menurut WHO (2011), Indonesia telah menempati peringkat ke-97 dunia untuk jumlah penderita CVA terbanyak dengan jumlah angka kematian mencapai 138.268 orang atau 9,70% dari total kematian yang terjadi pada tahun 2011.Pada tahun 2012 menjadi 715 orang dimana bila di rata ratakan terdapat 60 kasus perbulan. Dinas kesehatan jawa timur tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi CVA di jawa timur mencapai 10.696 kasus. Sedangkan data pasien CVA yang rawat inap di RSUD Gambiran Kediri di ruang Sedap Malam menunjukkan pada tahun 2012 terdapat 175 orang, tahun 2013 terdapat 78 orang, tahun 2014 sampai bulan november terdapat 45 orang. (Rekam Medis RSUD Gambiran Kediri). 6
CVA merupakan gangguan fungsi otak yang sifatnya mendadak disebabkan gangguan aliran darah otak dengan penyebab antara lain Trombosit Embolisme cerebral Iskemia selain itu CVA juga mudah menyerang penderita penyakit jantung, penyakit cairan darah, kolesterol tinggi, kegemukan, suka merokok, minum alkohol, kurang bergerak, emosional, maupun faktor keturunan. Serangan CVA pada seseorang dapat dikenali antara lain seperti tiba-tiba lemah dan kesemutan satu sisi tubuh, pandangan gelap, bila melihat ada bayangan tiba-tiba tidak dapat atau lancar berbicara pelo, mulut jadi mengot tiba-tiba perasaan akan jatuh pada saat berjalan, kadang-kadang disertai pusing terasa berputar, mual dan muntah, sakit kepala atau kesadaran tiba-tiba menurun. Jika individu sampai terserang CVA, penderita terancam kehilangan waktu produktifnya (Siregar,2004). Salah satu dampak seseorang yang mengalami CVA adalah kelumpuhan (hemiplegia) yaitu cacat yang paling umum terjadi setelah seseorang mengalami CVA. Bila CVA menyerang otak kanan, kelumpuhan terjadi pada bagian kiri tubuh atau sebaliknya ( saling silang ), termasuk tenggorokan dan lidah. fungsi otak yang rusak tidak dapat membaik sepenuhnya. Jika CVA tidak segera ditangani maka CVA dapat menimbulkan kehilangan motorik, kehilangan komunikasi, gangguan perfusi, kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologik, disfungsi kandung kemih, sedangkan komplikasi dari CVA adalah hipoksia serebral, aliran darah serebral, dan embolisme serebral (Junaidi, 2011). Pencegahan dari CVA diantaranya hindari merokok, kopi, dan alkohol, mencegah kegemukan, membatasi intake garam bagi penderita hipertensi, membatasi makanan berkolesterol dan lemak, diet dengan gizi seimbang, dan olahraga teratur (batticaca, 2008). Sedangkan peran perawat adalah sebagai pemberi asuhan keperawatan, perawat memberikan perawatan dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosis keperawatan agar bisa direncanakan dan dilaksanakan tindakan yang tepat dan sesuai dengan tingkat kebutuhan dasar manusia, kemudian dapat dievaluasi tingkat perkembangannya. Dalam menekan angka CVA berulang, hal-ha yang perlu di perhatikan antara lain : mengetahui faktor resiko, memodifikasi gaya hidup, menjalani terapi yang diperlukan, melakukan pemeriksaan yang dapat memberikan informasi optimal faktor resiko yang dimiliki seseorang untuk terjadinya CVA ataupun CVA berulang. Selain itu juga bisa dengan cara mengatur pola hidup seperti berolahraga secara teratur, pola makan yang sehat. 7
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan Studi Kasus Pada Pasien Dengan Diagnosa Medis CVA di Ruang Sedap Malam RSUD Gambiran Kota Kediri. II. Pengumpulan Data Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan proses pengumpulan karakteristikk subjek yang diperlukan dalam suatu penelitian (Nursalam,2008). Teknik pengumpulan data menggunakan : 1. Wawancara Wawancara adalah menanyakan atau tanya jawab yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi pasien dan merupakan suatu komunikasi yang direncanakan. 2. Riwayat Kesehatan Keperawatan Riwayat kesehatan keperawatan adalah data yang dikumpulkan tentang tingkat kesejahteraan pasien (saat ini dan masa lalu), riwayat keluarga, perubahan dalam pola kehidupan, riwayat sosial-budaya, kesehatan spiritual, dan reaksi mental serta emosi terhadap penyakit. 3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik adalah mengukur tanda-tanda vital dan pengukuran lainya serta pemeriksaan semua bagian tubuh dengan menggunakan teknik inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. 4. Sumber data Sumber data dapat diperoleh dari pasien,keluarga dan orang terdekat, anggota tim perawatan kesehatan, catatan medis, catatan lain (seperti pendidikan, wajib militer, dan catatan pekerjaan yang dapat mengandung informasi perawatan kesehatan yang berkaitan), tinjauan literature dan pengalaman perawat (Potter & Perry, 2004). III. HASIL DAN KESIMPULAN A. Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan. Pengkajian ini harus dilakukan secara komprehensif terkait dengan aspek biologis, psikologis, social, maupun spiritual pasien. Tujuan pengkajian adalah untuk mengumpulkan informasi tentang pasien, dan membuat perumusan masalah yang di alami pasien. Pasien datang ke IGD pada tanggal 06 Juli 2015 pukul 10.00 WIB pasien muntah badan terasa lemas seluruh badan tidak bisa di gerakkan dan tidak sadarkan diri. Adapun hasil dari pengkajian pada tanggal 07 Juli 2015 adalah Pasien mengatakan pusing, badan sulit bergerak dan badannya lemas. keadaan umum lemah Pasien hanya bisa berbaring BAB dan BAK menggunakan pampers Makan dan minum dengan bantuan, Kulitnya keriput dan kering, 8
warna kulit pucat, turgor kulit baik, tidak ada edema, pasien hanya berbaring ditempat tidur. Pada tinjauan pustaka menurut Mansjoer (2008), CVA adalah sindrom klinis yang awal timbulnya mendadak, progresif cepat, berupa deficit neurologis fokal dan atau global, yang berlangsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian, dan semata-mata disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak non traumatik. Orang yang mengidap penyakit CVA biasanya menunjukkan gejala-gejala atau tanda-tanda diantaranya kelumpuha nwajah atau anggota badan (biasanya hemiparese) yang timbul mendadak, gangguan sensibilitas pada satu atau lebih anggota badan (gangguan hemisensorik), perubahan mendadak status mental (konfusi, delirium, letargi, stupor, atau koma), afasia (bicara tidak lancar, kurangnya ucapan, atau kesulitan memahami ucapan) disartria (bicara pelo atau cadel), gangguan penglihatan (hemianopia atau monokuler) atau diplopia, ataksia (trunkal atau anggota badan), vertigo, mual dan muntah, atau nyeri kepala. Terdapat kesenjangan antara hasil pengkajian secara langsungg dengan teori tentang CVA, penulis hanya menemukan sebagian kejadian yang disebutkan pada teori. Dalam tahap ini penulis mendapatkan fakta bahwa tidak semua gejala dari CVA yang ada dalam teori dapat ditemukan secara langsung pada pasien dengan CVA, begitupun sebaliknya gejala yang tidak ada dalam teori namun dapat ditemukan secara langsung pada pasien CVA. B. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah cara mengidentifikasi, memfokuskan, dan mengatasi kebutuhan spesifik pasien serta respon terhadap masalah actual, resiko tinggi ataupun potensial. Menurut Batticaca (2008), diagnosa yang mungkin muncul diantaranya : Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese, gangguann rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan luka post trauma, gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan sirkulasi darah otak, gangguan eliminasi alvi (konstipasi) berhubungan dengan imobilisasi, intake cairan yang tidak adekuat, resiko gangguan nutrisii berhubungan dengan kelemahan otot mengunyah dan menelan, resiko gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan tirah baring lama, resiko ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan penurunan refluks batuk dan menelan, gangguan eliminasi uri (inkontinensia uri) yang berhubungan dengan penurunan sensasi, disfungsi kognitif, ketidakmampuan untuk berkomunikasi. 9
Pada kasus Ny. U diagnosa yang muncul adalah Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese, Perfusi jaringan serebral tidak efektif berhubungan dengan suplai darah ke jaringann serebral tidak adekuat dan Deficit perawatan diri berhubungan dengan hemiparese. Sedangkan diagnosa dengan Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese, gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan luka post trauma, gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan sirkulasii darah otak, gangguan eliminasi alvi (konstipasi) berhubungan dengan imobilisasi, intake cairan yang tidak adekuat, resiko gangguan nutrisi berhubungan dengan kelemahan otot mengunyah dan menelan, resiko gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan tirah baring lama, resiko ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan penurunan refluks batuk dan menelan, gangguan eliminas iuri (inkontinensia uri) yang berhubungan dengan penurunan sensasi, disfungsi kognitif, ketidakmampuan untuk berkomunikasi, karena tidak ada data-data subyektif maupun data objektif yang ditemukan dalam NY. U yang cukup mendukung diagnosa tersebut. Penulis memprioritaskan diagnose Gangguan mobilitas fisik pada urutan pertama karena apabila masalah tidak segera ditangani maka semua kebutuhan pasien akan selalu memerlukan bantuan dari keluarga atau orang lain. C. Rencana Tindakan Rencana keperawatan secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu dokumentasi tulisan tangan dalam menyelesaikan masalah, tujuan, dan intervensi keperawatan (Nursalam, 2008). Pada dianosa Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese. Intervensi yang penulis susuna ntara lain : 1). Kaji tanda-tanda vital pasien 2).Kaji fungsi motorik dan sensorik dengan mengobserva-si setiap ekstremitas secara terpisah terhadap kekuatan dan gerakan normal, respons terhadap rangsang. 3).Ubah posisi pasien setiap 2 jam. Intervensi menurut Tarwoto, dkk (2007) antara lain : 1) Kaji kemampuan motorik rasional mengidentifikasi kekuatan otot, kelemahan motorik, 2) Ajarkan pasien untuk melakukan ROM 4x per hari bila mungkin rasional meningkatkan massa tonus, kekuatan otot, perbaikan fungsi jantung dan pernapasan, 3) Lakukan masage pada daerah tertekan rasional membantu memperlancar sirkulasi darah, 4) Konsultasikan dengan ahli fisioterapi rasional mengembangkann program khusus, 5) Kolaborasi dalam penggunaan tempat tidur anti dekubitus rasional menurunkan tekanan pada tulang. Kekuatan dari intervensi keperawatan yang dibuat penulis yaitu, bahwa intervensi tersebut semua tersusun berdasarkan keadaan pasien padasaat itu. 10
Penulis berpendapat bahwa tidak semua tindakan keperawatan yang ada pada tinjauan teori dapat diterapkan pada kasus ini, hal ini dikarenakan tindakan keperawatan disesuaikan dengan keadaan pasien dan rumah sakit. D. Implementasi Implementasi atau pelaksanaan merupakan realisasi dari rencana tindakan yang telah disesuaikan dengan diagnosa keperawatan yang telah dirumuskan pada diagnose Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese. Pada tanggal 07 Juli 2015 ; Jam 09.00 WIB Mengobservasi tanda tanda vital pasien TD : 104/85 mmhg, Nadi : 82 x/mnt, Suhu : 36,5 C, RR : 20x/mnt. Mengobservasi fungsi motorik dan sensorik dengan mengobservasi setiap ekstremitas secara terpisah terhadap kekuatan dan gerakan normal, respon terhadap rangsang. Respon tindakan : objektif Reflek fisiologis : Biceps (+) / (+), triceps (+) / (+), aschiless (+) / (+), patella (+) / (+), Reflek patologis : Babinsky (-), chadak (-), brudzinsky (-), gonda (-). Kekuatan dari implementasi ini adalah saat penulis melakukan tindakan keperawatan, pasien menerima tindakan keperawatan yang dilakukan penulis dan keluarga pasien dapat diajak bekerja sama dalam membantu proses penyembuhan pasien serta mendampingi pasien setiap kali dilakukan tindakan keperawatan. E. Evaluasi Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan keberhasilan dari diagnosa keperawatan, rencana intervensi dan implementasinya. Tahap evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor apa yang terjadi selama tahap pengkajian, analisa, perencanaan, dan implementasi intervensi (Nursalam, 2008). Evaluasi adalah sebagian yang direncanakan, dan perbandingann yang sistematik pada status kesehatan pasien. Dengan mengukur perkembangan pasien dalam mencapai suatu tujuan, maka perawat bisa menentukan efektifitas tindakan keperawatan (Handayaningsih, 2007). Langkah terakhir dari proses keperawatan yang dilakukan pada Ny. U dengan masalah utama gangguan sistem persyarafan (CVA) adalah dengann melakukan evaluasi dengan cara membandingkan data yang ada di kriteria hasil dengan data dievaluasi (subyektif, obyektif, assesment/analisa, planning). Evaluasi penulis lakukan sejak tanggal 07-09 Juli 2015 dengann hasil evaluasi pada diagnosa keperawatan; Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diperoleh hasil: subyektif : pasien mengatakan sudah dapat bergerak dan 11
beraktifitas dengan bantuan keluarga, obyektif :Keadaan umumm pasien baik, dapat melakukan aktivitas secara mandiri seperti ke kamar mandi, makan dan minum, kekuatan otot yaitu: semua ekstremitas dapat bergerak dengan bebas. Assesment/Analisa : masalah teratasi. Planing: intervensi dihentikan. Untuk discharge planing pasien dapat melakukan latihan gerakan sendi secara mandiri dalam pengawasan keluarga, melakukan aktivitas sesuai kemampuan dan kebutuhan, menjaga kesehan tubuh dengan berolahraga secara teratur di pagi hari. 12
DAFTAR PUSTAKA Batticaca, fransisca B. (2008). Asuhan Keperawatan Klien dengan GangguanSistem Persyarafan. Jakarta: Salemba Medika. Junaidi.(2011). AplikasiPemeriksaan Stroke. Jakarta: Mitracedikia press Kusuma dan Nurafif. (2012). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Nanda NIC- NOC. Yogyakarta: Media Hardy. Mubarak. (2008). Sistempergerakanmobilisasifisik.Jakarta: Salemba Medika. Muttaqin, Arif. (2008). Buku Ajar: Asuhan Keperawatan Klien dangangangguan Sistem Persyarafan. Jakarta: Salemba Medika. Mitayani. (2011). Pengertian implementasi dalam keperawatan, www.pembelajaran.com, diunduh tanggal 19 agustus jam 13.00 WIB. Mansjoer. (2007). Buku Ajar: Asuhan Keperawatan Klien dangan Gangguan Sistem Persyarafan. Jakarta: Salemba Medika. Perry dan Potter. (2008). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguann Sistem Persyarafan. Jakarta: Salemba Medika. Smeltzer dan Bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol 3. Jakarta: EGC. Saryono. (2008). Metodologi Mitra Cendikia Press. Keperawatan Kesehatan: Penuntun Praktis Bagi Pemula. Jakarta: Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima Medika. 13
14