BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan Post

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium dengan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian analitik eksperimental dengan Post Test

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan Post

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan Post

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan Post

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan Post

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan Post Test

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan lanjutan dari penelitian yang dilakukan oleh dr.

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. pendekatan Pre test - Post Test Only Control Group Design. Perlakuan hewan coba dilakukan di animal house Fakultas Kedokteran

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian post test only controlled group design. Universitas Lampung dalam periode Oktober November 2014.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan bersifat eksperimental dengan rancangan penelitian

III. METODE PENELITIAN. menggunakan hewan coba berupa tikus putih galur Sprague dawley dengan

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. pendekatan Post Test Only Control Group Design dan metode Rancangan

METODOLOGI PENELITIAN. pendekatan Post Test Only Control Group Design. Penelitian ini

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini memiliki ruang lingkup pada ilmu Farmakologi dan Biokimia.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan bersifat eksperimental dengan rancangan penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian menggunakan rancangan eksperimental dengan Post Test Only

III. METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratorium dan menggunakan

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratorium. Penelitian ini

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian eksperimental laboratorium

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan Post Test Only

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian di bidang Gizi dan Biokimia.

BAB III METODE PENELITIAN. Pada penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan pola post testonly

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, yaitu suatu metode

BAB III METODE PENELITIAN. laboratorik dengan rancangan penelitian pretest and posttest with control

III. METODE PENELITIAN. menggunakan metode rancangan acak terkontrol dengan pola Post Test-Only

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Rancangan penelitian dalam penelitian ini menggunakan rancangan

BAB III METODE PENELITIAN. terkontrol. Menggunakan 25 ekor tikus putih ( Rattus norvegicus) jantan

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah eskperimental

III. METODE PENELITIAN. Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian laboratorium

METODE PENELITIAN. menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan menggunakan pola

BAB III METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan ini merupakan suatu penelitian eksperimental

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah true experimental dengan pre-post test with

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan hewan coba berupa tikus putih betina galur Sprague dawley.

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN. Disiplin ilmu dalam penelitian ini adalah ilmu Biokimia dan Farmakologi.

METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan Post Test

BAB III METODE PENELITIAN. dengan rancangan eksperimental dengan randomized pre post test control

BAB III METODE PENELITIAN. eskperimental laboratorik dengan rancangan pre test and post test with control

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. : Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu (LPPT) Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

METODE PENELITIAN. Lengkap (RAL) dengan 4 (empat) kelompok yang terdiri dari 1 kelompok kontrol

III.METODE PENELITIAN. menggunakan post test only controlled group design. Pada penelitian ini 25

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian eksperimental murni dengan rancangan post test control group

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni dengan post

BAB 3 METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan eksperimental murni, dengan rancanganpost-test control

BAB III METODE PENELITIAN. dibagi menjadi kelompok kontrol dan perlakuan lalu dibandingkan kerusakan

III. METODE PENELITIAN. Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian

III. METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental menggunakan post test only

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian dengan rancangan eksperimental dengan (Post Test Only

BAB 4 METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian di bidang Biokimia. pembuatan pakan. Analisis kadar malondialdehida serum dilakukan di

METODE PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan ini merupakan suatu penelitian eksperimental

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini mencakup bidang Ilmu Kedokteran khususnya ilmu Biokimia dan Farmakologi.

BAB 4 METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. rancangan post test and controlled group design terhadap hewan uji. Postest untuk

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN. test design. Pretest adalah pengukuran kadar kolesterol total darah

BAB III METODE PENELITIAN. Acak Lengkap (RAL) dan pendekatan Post Test Control Group Design,

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik yang

BAB 4 METODE PENELITIAN

BAB III BAHAN DAN CARA KERJA. Departemen Farmasi FMIPA UI dari Januari 2008 hingga Mei 2008.

BAB III METODE PENELITIAN. Acak Lengkap dengan pendekatan Post Test Only Control Group Design.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Parasitologi FK UNDIP

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang pengaruh pemberian ekstrak etanol daun sirsak (Annona

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan metode

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian di bidang Biokimia, Farmakologi.

METODOLOGI PENELITIAN. Penlitian ini merupakan penelitian penelitian eksperimental dengan rancangan

BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam perlakuan dan empat ulangan.

BAB IV METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan metode

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. dengan rancangan post test only control group design. Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Hewan Coba Fakultas Kedokteran

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian di bidang farmakologi.

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Acak Lengkap (RAL) dan dengan pendekatan Post Test Only Control Group

Gambar 6. Desain Penelitian

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. kategori. Dan pada penelitian ini digunakan 3 sampel. pengukuran kadar

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Jenis Penelitian. eksperimen Posttest-Only Control Design, yaitu dengan melakukan observasi

BAB IV METODE PENELITIAN. Tempat : Penelitian dilakukan di Laboratorium Biologi Universitas. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian di bidang Farmakologi, Farmasi, dan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. design. Posttest untuk menganalisis perubahan jumlah sel piramid pada

BAB III METODE PENELITIAN

Transkripsi:

24 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan Post Test Only Control Group Design. Pengambilan data dilakukan hanya pada saat akhir penelitian setelah dilakukannya perlakuan dengan membandingkan hasil pada kelompok yang diberi perlakuan dengan kelompok yang tidak diberi perlakuan. 3.2 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di Laboratorium Biokimia dan Biologi Molekuler Fakultas Kedokteran Universitas Lampung selama 4 bulan, yakni terhitung dari bulan September hingga Desember 2015. 3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi Populasi dari penelitian ini adalah tikus Rattus norvegicus berusia 6-7 minggu dengan berat antara 100-200 gr. Sampel adalah jaringan ginjal (renal) tikus populasi yang telah diberikan amoksisilin dosis toksik.

25 3.3.2 Kriteria Inklusi a. Tikus putih jantan Rattus norvegicus galur Sprague Dawley. b. Sehat (gerak aktif, rambut tidak kusam, rontok, atau botak). c. Memiliki berat badan 100-200 gr. d. Berusia sekitar 6-7 minggu. 3.3.2 Kriteria Ekslusi a. Tikus mati sebelum mendapat perlakuan. 3.3.3 Kriteria Drop Out a. Tikus mati setelah mendapat perlakuan. b. Tikus tampak sakit setelah mendapat perlakuan. 3.3.4 Besar sampel Pada uji eksperimental rancangan acak lengkap, besar sampel penelitian yang digunakan ditentukan dengan menggunakan rumus Federer (Ratya, 2014). (t)(n-1) 15 dengan (t) adalah jumlah kelompok perlakuan dan (n) adalah jumlah ulangan pada masing-masing kelompok.

26 (t)(n-1) 15 (9)(n-1) 15 9n 9 15 9n 24 n 2,67 n 3 Dari perhitungan di atas, dibutuhkan jumlah sampel minimal sebanyak 3 ekor tikus untuk tiap kelompok. Jumlah tersebut ditambah dengan jumlah perkiraan drop out, yakni 10%, maka jumlah sampel yang dibutuhkan adalah 4 ekor tikus untuk tiap kelompok. Oleh karena itu, penelitian ini akan membutuhkan 36 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague Dawley yang terbagi dalam 9 kelompok (masing-masing kelompok terdiri dari 4 ekor), yaitu:. a. Kelompok kontrol negatif (Kn) : tikus diberi aquades 1 ml dengan frekuensi 3 selama 14 hari secara peroral menggunakan sonde lambung. b. Kelompok kontrol positif A (KA) : tikus diberi aquades 1 ml dengan frekuensi 3 selama 11 hari, kemudian diberi amoksisilin generik berlogo A dosis 10,71 mg/kg BB tikus dalam 1 ml akuades dengan frekuensi 3 selama 3 hari berikutnya secara peroral menggunakan sonde lambung. c. Kelompok kontrol positif B (KB) : tikus diberi aquades 1 ml dengan frekuensi 3 selama 11 hari, kemudian diberi

27 amoksisilin generik bermerek B dosis 10,71 mg/kg BB tikus dalam 1 ml akuades dengan frekuensi 3 selama 3 hari berikutnya secara peroral menggunakan sonde lambung. d. Kelompok perlakuan 1 (A1) : tikus diberi amoksisilin generik berlogo A dosis 102,8 mg/kg BB tikus dalam 1 ml akuades dengan frekuensi 3 selama 14 hari secara peroral menggunakan sonde lambung. a. Kelompok perlakuan 2 (A2) : tikus diberi amoksisilin generik berlogo A dosis 205,6 mg/kg BB tikus dalam 1 ml akuades dengan frekuensi 3 selama 14 hari secara peroral menggunakan sonde lambung. b. Kelompok perlakuan 3 (A3) : tikus diberi amoksisilin generik berlogo A dosis 411,2 mg/kg BB tikus dalam 1 ml akuades dengan frekuensi 3 selama 14 hari secara peroral menggunakan sonde lambung. c. Kelompok perlakuan 4 (B1) : tikus diberi amoksisilin generik bermerek B dosis 102,8 mg/kg BB tikus dalam 1 ml akuades dengan frekuensi 3 selama 14 hari secara peroral menggunakan sonde lambung. d. Kelompok perlakuan 5 (B2) : tikus diberi amoksisilin generik bermerek B dosis 205,6 mg/kg BB tikus dalam 1 ml akuades dengan frekuensi 3 selama 14 hari secara peroral menggunakan sonde lambung.

28 e. Kelompok perlakuan 6 (B3) : tikus diberi amoksisilin generik bermerek B dosis 411,2 mg/kg BB tikus dalam 1 ml akuades dengan frekuensi 3 selama 14 hari secara peroral menggunakan sonde lambung. 3.4 Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional 3.4.1 Variabel Penelitian a. Variabel terikat : kadar MDA jaringan renal tikus b. Variabel bebas : dosis toksik amoksisilin generik berlogo dan amoksisilin generik bermerek. 3.4.2 Definisi Operasional Untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan penelitian dan penelitian tidak menjadi terlalu luas maka dibuat definisi operasional (tabel 1) sebagai berikut.

29 Tabel 1. Definsi Operasional Variabel Definisi Skala Dosis toksik amoksisilin generik berlogo Jumlah amoksisilin generik berlogo yang diharapkan menimbulkan suatu efek yang tidak diinginkan berupa stress oksidatif pada jaringan renal tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague Dawley. Dosis yang digunakan adalah sebagai berikut: a. Kelompok KA : 10,71 mg/kg BB 3 b. Kelompok A1 : 102,8 mg/kg BB 3 c. Kelompok A2 : 205,6 mg/kg BB 3 d. Kelompok A3 : 411,2 mg/kg BB 3 Numerik Dosis toksik amoksisilin generik bermerek Jumlah amoksisilin generik bermerek yang diharapkan menimbulkan efek toksik stress oksidatif pada jaringan renal tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague Dawley. Dosis yang digunakan adalah sebagai berikut: e. Kelompok KB : 10,71 mg/kg BB 3 a. Kelompok B1 : 102,8 mg/kg BB 3 b. Kelompok B2 : 205,6 mg/kg BB 3 c. Kelompok B3 : 411,2 mg/kg BB 3 Kadar MDA Jumlah biomarker stress oksidatif malondialdehid (MDA) jaringan renal tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague Dawley. Kadar MDA tiap kelompok diukur dan dibandingkan satu sama lain dengan kadar kelompok kontrol negatif sebagai patokan. Numerik Numerik 3.5 Alat dan Bahan Penelitian 3.5.1 Alat Penelitian Alat yang digunakan berupa kandang, tempat minum dan makan, timbangan digital, sonde lambung berujung nasogastric tube (NGT), alat-alat bedah minor, blender, rotary evaporator, kertas saring, tips ph meter, tabung Erlenmeyer 500 ml, tabung penyimpanan, upright

30 freezer -80 o C Kaltis, lemari es ± 4 o C, gelas ukur 100 ml, micropestle, centrifuge Eppendorf 5417R, tabung Eppendorf ukuran 1,5 ml, waterbath dan spektrofotometer. 3.5.2 Bahan Penelitian Bahan yang digunakan untuk penelitian ini adalah amoksisilin generik berlogo, amoksisilin generik bermerek, jaringan renal tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague Dawley yang diletakkan di freezer suhu -80 o C, ketamine-xylazine, akuades, larutan Phosphate Buffer Saline (PBS) 0,1 M dengan ph 7,4, TCA (trichloroasetatic acid) 20%, larutan TBA (tiobarbiturat acid) 0,67%, dan larutan standar TEP (tetraethoxypropane) 1:80.000. 3.6 Prosedur Penelitian Penelitian diawali dengan uji pendahuluan yang bertujuan untuk mengukur apakah dosis maksimum yang digunakan memberikan kerusakan yang bermakna dan dapat digunakan sebagai dosis toksik. Amoksisilin diberikan dengan menggunakan prinsip 1-2-4 kali dosis maksimum selama 14 hari,yakni 102,8 mg/kg BB, 205, 6 mg/kg BB, dan 411,2 mg/kg BB. Hasil yang diharapkan adalah adanya hasil yang bermakna dari variasi dosis tersebut yang dapat dijadikan sebagai acuan dosis toksik untuk penelitian selanjutnya. Apabila dosis maksimum menunjukan kerusakan yang bermakna, maka penelitian dilanjutkan dengan menggunakan prinsip 1-2-4 kali dosis toksik tikus dengan populasi tikus yang sama dan pengulangan

31 sesuai rumus Federer. Apabila tidak terdapat kerusakan yang bermakna, maka 2 kali dosis maksimum akan dibuat menjadi 3 variasi kembali menggunakan prinsip 1-2-4 dengan pengulangan sesuai dengan rumus Frederer dengan mengikuti prosedur dibawah ini (Arome dan Chinedu, 2014). 3.6.1 Aklimatisasi dan Pemeliharaan Hewan Coba Aklimatisasi hewan coba tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley yang berusia 6-7 minggu dengan berat antara 100-200 gr selama 7 hari untuk beradaptasi di tempat pemeliharaan yang baru dengan menyeragamkan cara hidup dan makanannya sebelum dilakukan percobaan. Tikus ditempatkan dalam kandang plastik dengan tutup terbuat dari kawat ram dan dialasi sekam, makanan tikus berupa pelet. Pemberian makanan dan minuman diberikan ad libitum. Lingkungan kandang dibuat agar tidak lembab, suhu kandang dijaga sekitar 25 0 C, dan ada pertukaran gelap dan terang setiap 12 jam. Masing-masing kelompok tikus diletakkan dalam kandang tersendiri dan dijaga sedemikian rupa sehingga tidak saling berinteraksi. Kesehatan tikus dipantau setiap hari. Berat badan tikus ditimbang setiap minggu sampai tikus diterminasi (Ratya, 2014). 3.6.2 Persiapan Penelitian Pada penelitian ini, penulis menggunakan 2 jenis obat amoksisilin yang didapat di apotek di Bandar Lampung. Amoksisilin generik dan bermerek yang dipilih secara acak. Dosis amoksisilin yang digunakan

32 merupakan dosis maksimum untuk manusia yaitu 1000 mg dengan frekuensi 3 yang dikonversi menjadi dosis tikus menggunakan rumus BSA (Body Suraface Area) sebagai berikut. HED (mg/kg) = dosis hewan coba x km hewan coba km manusia Human Equivalent Dose (HED) merupakan dosis yang digunakan pada manusia. Satuan yang digunakan dalam HED berupa mg/kg BB. Dosis amoksisilin yang digunakan sebesar 1000 mg dan dikonversi dalam bentuk mg/kg BB. Berat badan yang digunakan sebagai pembagi merupakan berat badan rata-rata manusia yang digunakan dalam konversi HED, yaitu 60 Kg sehingga jumlah HED amoksisilin sebesar: HED (mg/kg) = dosis obat / berat badan (Shaw et al., 2007). HED (mg/kg) = 1000/60 HED (mg/kg) = 100/6 HED (mg/kg) = 16,67 HED yang didapat akan dikonversikan ke dosis hewan coba menggunakan rumus BSA. Rumus BSA menggunakan Km yang berperan sebagai konstanta. Besar Km manusia dewasa normal adalah 37 dan Km hewan coba (tikus) sebesar 6 sehingga didapat dosis hewan coba sebesar: HED (mg/kg) = dosis hewan coba x km hewan coba km manusia Dosis hewan coba = 16,67 x 37 6 Dosis hewan coba = 102,79 mg/kg (Shaw et al., 2007).

33 Dosis yang digunakan dalam penelitian ini sebesar 102,79 mg/kg. Dibulatkan menjadi 102,8 mg/kg BB. Dosis tikus, dibuat menjadi 3 variasi dosis menggunakan prinsip 1-2-4 sehingga didapatkan dosis sebesar: 102,8 mg/kg BB tikus, 205,6 mg/kg BB tikus dan 411,2 mg/kg BB tikus. 3.6.3 Induksi Kerusakan Ginjal dengan Amoksisilin Setelah 1 minggu aklimatisasi hewan coba atau tikus putih, tikus diberikan amoksisilin dengan dengan sesuai dengan variasi dosis baik amoksisilin generik maupun bermerek dengan dosis 102,8 mg/kg BB tikus, 205,6 mg/kg BB dan 411,2 mg/kg BB tikus per kali pemberian setiap hari selama 14 hari pada kelompok perlakuan. Masing-masing kelompok diberikan amoksisilin secara peroral menggunakan sonde lambung. Hal tersebut bertujuan agar amoksisilin yang diberikan melalui fase absorbsi, distribusi, metabolisme dan eliminasi secara normal. Selama induksi penelitian ini menerapkan prinsip etika penelitian yang meliputi 5F yaitu freedom of hunger and thrist, freedom of discomfort, freedom of pain, freedom to express natural behaviour dan freedom of distress. 3.6.4 Terminasi Hewan Coba Terminasi tikus dilakukan setelah perlakuan selama 14 hari. Tikus diterminasi dengan anastesi terlebih dahulu menggunakan ketamine:xylazine dosis 75-100mg/kg : 5-10 mg/kg (perbandingan 10:1) secara IP, kemudian di euthanasia dengan metode cervical

34 dislocation dan dilakukan laparotomi untuk mengambil organ ginjal (Ratya, 2014; Leary et al, 2013). 3.6.5 Penyimpanan Organ Berat ginjal masing-masing tikus ditimbang dan dicatat kemudian ginjal ditempatkan ke dalam wadah steril pada suhu -4ºC selama 1 hari. Setelah itu, suhu diturunkan hingga mencapai -80ºC. Organ ginjal tikus disimpan di dalam freezer sampai dilakukan pembuatan homogenat. Sebelum dilakukan prosedur pembuatan homogenat, pertama-tama naikkan suhu freezer yang berisi organ ginjal yang akan diteliti dari suhu -80ºC sampai dengan suhu -4ºC selama 1 hari. Setelah itu, timbang kembali organ ginjal tersebut (Susantiningsih, 2014). 3.6.6 Pembuatan Homogenat Jaringan Ginjal Jaringan renal diambil sebanyak 100 mg jaringan renal lalu ditambahkan dengan larutan PBS 0,1 M ph 7,4 sebanyak 0,5 ml, haluskan dengan mesin vortex dan micropestle. Kemudian tambahkan 0,5 ml PBS 0,1 M ph 7,4 sampai volume mencapai 1 ml. Setelah itu disentrifugasi menggunakan kecepatan 5000 rpm selama 10 menit. Pindahkan supernatan ke test tube kosong dan simpan pada suhu - 20ºC (Susantiningsih, 2014). 3.6.7 Pemeriksaan Kadar MDA Pengukuran kadar MDA dilakukan dengan mereaksikan MDA dengan larutan TBA (tiobarbiturat acid) sehingga terbentuk senyawa

35 berwarna yang memberikan serapan maksimal pada panjang gelombang 530 nm. Pembuatan larutan standar dilakukan dengan pengenceran TEP (tetraethoxypropane) 1:80.000 dengan akuades sebanyak 400 µl lalu ditambahkan larutan TCA (trichloroasetatic acid) 20% sebanyak 200 µl. Campuran kemudian divortex hingga homogen dan disentrifugasi dengan kecepatan 3500 rpm selama 10 menit. Supernatan diambil dan ditambahkan larutan TBA 0,67% sebanyak 400 µl, kemudian diinkubasi pada penangas air 95 o C selama 10 menit, lalu dinginkan hingga suhu ruang selama 5 menit. Pembacaan dilakukan dengan menggunakan spektofotometer pada serapan panjang gelombang 530 nm (Susantiningsih, 2014). Selanjutnya dilakukan pengujian kadar MDA pada supernatan jaringan ginjal. Sebanyak 200 µl supernatan jaringan ginjal ditambahkan akuades 200 µl dan larutan TCA 20% sebanyak 200 µl. Campuran divortex hingga homogen dan disentrifugasi dengan kecepatan 3500 rpm selama 10 menit. Supernatan diambil dan ditambahkan 400 µl larutan TBA 0,67%, lalu diinkubasi pada penangas air 95 o C selama 10 menit, kemudian dinginkan hingga suhu ruang selama 5 menit. Baca serapan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 530 nm (Susantiningsih, 2014). Seluruh sampel diukur dengan prinsip triplo (tiga kali pengukuran) untuk menghindari kesalahan dalam penghitungan.

36 3.7 Diagram Alir Aklimatisasi hewan coba selama 7 hari Persiapan penelitian Perlakuan selama 14 hari Akuades 3 sebanyak 1 cc Kn (14 hari) KA (11 hari) KB (11 hari) Amoksisilin generik berlogo 3 Amoksisilin generik bermerek 3 KA 10,7 (3 hari) A1 102,8 (14 hari) A2 205,6 (14 hari) A3 411,2 (14 hari) KB 10,7 (3 hari) B1 102,8 (14 hari) B2 205,6 (14 hari) B3 411,2 (14 hari) Terminasi hewan coba pada hari ke-15 Pengambilan jaringan renal Pembuatan homogenat Penghitungan kadar MDA renal Gambar 6. Diagram Alir Penelitian

37 3.8 Pengolahan dan Analisis Data Analisis statistik pada penelitian ini menggunakan analisis univariat pada suatu program statistik untuk menilai normalitas dan homogenitas data dan juga menggunakan analisis bivariat untuk menilai tingkat perbedaan antara variabel independen dan dependen. a. Analisis univariat dilakukan untuk menilai apakah data yang didapat memiliki distribusi normal atau tidak. Analisis univariat yang digunakan adalah uji normalitas Shapiro-Wilk dikarenakan jumlah sampel kurang dari 50. b. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji parametrik One Way ANOVA apabila varians data berdistribusi normal dan homogen. Namum, apabila distribusi data tidak normal dan tidak homogen dilanjutkan dengan analisis non-parametrik Kruskal-Wallis. c. Jika pada uji One Way ANOVA memberikan hasil p<0,05 (hipotesis dianggap diterima), akan dilakukan dengan analisis post-hoc LSD untuk menilai kebermaknaan antar kelompok. Apabila pada uji Kruskal-Wallis menunjukan kebermaknaan, dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. 3.9 Etika Penelitian Ethical clearance penelitian ini akan didapat dari Komisi Etika Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dan akan mengajukan etical approval ke Komisi Etika Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.

38 Dalam penelitian ini tetep mengindahkan etika penelitian dalam terminasi tikus. Teriminasi yang dilakukan menggunakan prinsip 5F yaitu freedom of hunger and thrist, freedom of discomfort, freedom of pain, freedom to express natural behaviour dan freedom of distress. Pada proses penelitian penulis juga memperhatikan Protokol 3R sebagai dasar etika dalam penelitian yang meliputi: 1. Replacement (menggantikan), ialah keperluan untuk membuktikan suatu hipotesis, bila diperlukan penggunaan hewan coba maka menggunakan hewan yang paling rendah tingkatannya dan tidak dapat digantikan oleh makhluk hidup lain seperti sel atau biakan jaringan. 2. Reduction (pengurangan), ialah mengembangkan strategi penggunaan hewan dalam jumlah yang lebih sedikit untuk menghasilkan data yang optimal yang diharapkan dari penelitian. Prinsip ini juga meliputi memaksimalkan informasi yang diperoleh dari suatu percobaan tanpa menambah jumlah hewan atau jumlah perlakuan (rasa kesakitan yang ditimbulkan oleh tindakan penelitian) sehingga manfaat yang diperoleh dapat dimaksimalkan tanpa menambah penderitaan dan jumlah hewan coba. Dalam penelitian ini sampel dihitung berdasarkan rumus Federer, yaitu t(n-1) 15, dengan n adalah jumlah hewan yang diperlukan dan t adalah jumlah kelompok perlakuan. 3. Refinfement (memperhalus), ialah upaya melakukan modifikasi di dalam manajemen pemeliharaan atau prosedur tindakan penelitian sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan hewan atau mengurangi atau menghilangkan rasa sakit dan stress pada hewan coba.