BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. jenuh air atau bidang luncur. (Paimin, dkk. 2009) Sutikno, dkk. (2002) dalam Rudiyanto (2010) mengatakan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Longsoran translasi adalah ber-geraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.

TANAH LONGSOR; merupakan salah satu bentuk gerakan tanah, suatu produk dari proses gangguan keseimbangan lereng yang menyebabkan bergeraknya massa

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif

I. Pendahuluan Tanah longsor merupakan sebuah bencana alam, yaitu bergeraknya sebuah massa tanah dan/atau batuan menuruni lereng akibat adanya gaya

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah

BAB I PENDAHULUAN. atau Badan Nasional Penanggulangan Bencana (2016), bencana tanah longsor

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. atau menurunnya kekuatan geser suatu massa tanah. Dengan kata lain, kekuatan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan uraian-uraian yang telah penulis kemukakan pada bab

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. rendah (Dibyosaputro Dalam Bayu Septianto S U. 2008). Longsorlahan

BAB I PENDAHULUAN. yaitu Sub DAS Kayangan. Sub DAS (Daerah Aliran Sungai) Kayangan

BENCANA GERAKAN TANAH DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Bencana Longsor yang Berulang dan Mitigasi yang Belum Berhasil di Jabodetabek

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bencana alam sebagai salah satu fenomena alam dapat terjadi setiap saat,

BAB I PENDAHULUAN. utama dunia yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia dan lempeng. Indonesia juga merupakan negara yang kaya akan hasil alam.

Gambar 1.1 Wilayah cilongok terkena longsor (Antaranews.com, 26 november 2016)

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PERSETUJUAN... KATA PENGANTAR... PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL...

I. PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Menurut Baldiviezo et al. (2003 dalam Purnomo, 2012) kelerengan dan penutup lahan memiliki peran dalam tanah longsor,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I-1

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Menurut seorang ilmuwan kuno yang bernama Eratosthenes Geografi berasal

PENDAHULUAN. menggunakan Analisis Tidak Langsung berdasarkan SNI Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah

BAB I PENDAHULUAN. tindakan dalam mengurangi dampak yang ditimbulkan akibat suatu bencana.

MITIGASI BENCANA ALAM II. Tujuan Pembelajaran

TUGAS UTS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PEMETAAN DAERAH RAWAN BANJIR DI SAMARINDA

PEMETAAN DAERAH RAWAN LONGSOR LAHAN DI KECAMATAN DAU, KABUPATEN MALANG DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN GEOMORFOLOGI

BAB I PENDAHULUAN. Secara umum kondisi geologi menyimpan potensi kebencanaan yang dapat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. adalah perbandingan relatif pasir, debu dan tanah lempung. Laju dan berapa jauh

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR. pengetahuan yang mencitrakan, menerangkan sifat-sifat bumi,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV STUDI LONGSORAN

Faktor penyebab banjir oleh Sutopo (1999) dalam Ramdan (2004) dibedakan menjadi persoalan banjir yang ditimbulkan oleh kondisi dan peristiwa alam

BAB I PENDAHULUAN. merupakan bencana banjir dan longsor (Fadli, 2009). Indonesia yang berada di

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanah longsor merupakan bencana yang sering terjadi di Indonesia. Selama periode telah terjadi 850

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

penyediaan prasarana dan sarana pengelolaan sampah (pasal 6 huruf d).

BAB III METODE PENELITIAN

WORKSHOP PENANGANAN BENCANA GERAKAN TANAH

BAB III METODE PENELITIAN

Analisis Kesesuaian Lahan untuk Lokasi Permukiman Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul

BAB I PENDAHULUAN. lempeng tektonik besar yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Daerah

BAB I PENDAHULUAN. dikarenakan adanya kondisi geologi Indonesia yang berupa bagian dari rangkaian

L O N G S O R BUDHI KUSWAN SUSILO

LANDSLIDE OCCURRENCE, 2004 STRATEGI MITIGASI DAN SIFAT GERAKAN TANAH PENYEBAB BENCANA DI INDONESIA. BENCANA GERAKAN TANAH 2005 dan 2006

ANALISIS DAERAH RAWAN LONGSOR UNTUK PENATAAN PENGGUNAAN LAHAN

BAB III METODE PENELITIAN. adanya dan mengungkapkan fakta-fakta yang ada, walaupun kadang-kadang

TANAH / PEDOSFER. OLEH : SOFIA ZAHRO, S.Pd

KAJIAN KEMAMPUAN LAHAN DI KECAMATAN SLOGOHIMO KABUPATEN WONOGIRI

BAB II KAJIAN TEORI. Menurut Arsyad (dalam Ahmad Denil Efendi 1989 : 27) Mengemukakan bahwa tanah

I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN I-1

BAB I PENDAHULUAN. pesat pada dua dekade belakangan ini. Pesatnya pembangunan di Indonesia berkaitan

BAB II FAKTOR PENENTU KEPEKAAN TANAH TERHADAP LONGSOR DAN EROSI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. arah bawah (downward) atau ke arah luar (outward) lereng. Material pembentuk

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

GERAKAN TANAH DI KAMPUNG BOJONGSARI, DESA SEDAPAINGAN, KECAMATAN PANAWANGAN, KABUPATEN CIAMIS, JAWA BARAT

BAB I PENDAHULUAN. Bencana geologi merupakan bencana yang terjadi secara alamiah akibat

BAB I PENDAHULUAN. kecepatan infiltrasi. Kecepatan infiltrasi sangat dipengaruhi oleh kondisi

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1. Jumlah Penduduk Kabupaten Bantul

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. dan melakukan segala aktivitasnnya. Permukiman berada dimanapun di

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Batasan Longsor 2.2 Jenis Longsor

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Metode Analisis Kestabilan Lereng Cara Yang Dipakai Untuk Menambah Kestabilan Lereng Lingkup Daerah Penelitian...

BAB V ARAHAN RELOKASI

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. berpotensi rawan terhadap bencana longsoranlahan. Bencana longsorlahan akan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pengantar Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. atau tandus (Vera Sadarviana, 2008). Longsorlahan (landslides) merupakan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempengan dunia yaitu Eurasia,

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Identifikasi Daerah Rawan Longsor

BAB I PENDAHULUAN. alam tidak dapat ditentang begitu pula dengan bencana (Nandi, 2007)

BAB VII PENATAAN RUANG KAWASAN RAWAN LETUSAN GUNUNG BERAPI DAN KAWASAN RAWAN GEMPA BUMI [14]

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. memiliki kerentanan longsor yang cukup besar. Meningkatnya intensitas hujan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Longsorlahan (landslide) beberapa daerah di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti faktor batuan/struktur geologi, bentuklahan, penggunaan lahan, kemiringan lereng, curah hujan, dan aktivitas manusia. Longsorlahan merupakan salah satu proses bergeraknya massa tanah yang disebabkan oleh pengaruh gravitasi, sudut kemiringan lereng, dan curah hujan sebagai faktor pemicu. Longsorlahan biasanya berupa luncuran tanah, yang umumnya bergantung dari kemiringan lereng yang ada di suatu daerah. Rayapan tanah juga sebagai salah satu tanda awal kemungkinan akan terjadinya longsorlahan (Nugroho, 2012) SubDAS Kodil merupakan salah satu daerah yang terkenal dengan kejadian longsorlahan. Kejadian longsorlahan yang ada di SubDAS Kodil dipengaruhi oleh proses bentuklahan, dimana bentuklahan asal proses denudasional merupakan salah satu bentuklahan yang mempengaruhi terjadinya longsorlahan. Proses denudasional yang terjadi menyebabkan tanah yang berkembang di daerah ini menjadi sangat labil, terutama apabila tanah tersebut berada pada kemiringan lereng yang cukup curam dan memiliki keadaan struktur batuan yang kurang kompak, sehingga apabila di daerah tersebut sewaktu-waktu terjadi hujan dengan intensitas yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya longsorlahan (Nugroho, 2012) Kejadian longsorlahan di SubDAS Kodil ini menimbulkan berbagai dampak dan juga korban jiwa. Dampak yang ditimbulkan oleh kejadian longsorlahan salah satunya berasal dari kerugian material yang disebabkan rusaknya rumah tinggal, fasilitas umum seperti gedung pemerintah, jalan raya, sumber air, serta terganggunya aktivitas kegiatan ekonomi masyarakat. Menurut Harian Suara Merdeka tanggal 3 Januari 2012, longsorlahan yang terjadi di Kabupaten Purworejo terus meluas, dimana di Kecamatan Bruno memiliki catatan 1

kejadian longsorlahan terbanyak yang menurut pendataan didapatkan sebanyak 20 titik longsorlahan dengan total kerugian yang ditimbulkan Rp 104.000.000,00. Di Kecamatan Gebang juga terjadi tanah retak di Desa Tlogosono yang menyebabkan rumah rusak total dan tidak layak huni karena tembok dan pondasi pecah. Di Kecamatan Kaligesing dilaporkan kejadian longsorlahan menutup akses jalan utama Desa Samowono-Ngadirejo, sehingga hanya dapat dilalui oleh kendaraan roda dua, sedangkan di Kecamatan Pituruh, longsorlahan yang terjadi menimpa rumah warga. Kejadian Longsorlahan pada tahun 2009 juga pernah terjadi di Kecamatan Purworejo, Desa Cepedak dan Giyombong, dimana kejadian ini mengakibatkan 37 rumah rusak, sembilan rumah roboh, dan Desa Giyombong yang berpenduduk 285 kepala keluarga (KK) terisolir karena akses jalan tertutup longsorlahan. Di Desa Giyombong, longsorlahan juga mengakibatkan robohnya tiang-tiang listrik dan memutus saluran pipa yang dipasang oleh warga dari sumber air di perbukitan menuju ke desa mereka, sehingga membuat listrik padam dan seluruh warga kesulitan air bersih (Liputan6.com, 18 Januari 2012). Beberapa daerah yang rawan longsorlahan di Purworejo ini antara lain Kecamatan Bagelen, Kecamatan Kaligesing, Kecamatan Loano, Kecamatan Bener, Kecamatan Kemiri, Kecamatan Bruno, dan Kecamatan Pituruh (Hardoyo dalam Harian Suara Merdeka, 4 Maret 2012), Kecamatan Loano dan Bener wilayahnya termasuk kedalam SubDas Kodil. Longsorlahan yang terjadi di SubDas Kodil ini berdampak bagi masyarakat dan infrastruktur penunjang yang berfungsi untuk mendukung pembangunan masyarakat lokal, seperti rusaknya tempat tinggal yang merugikan harta benda serta material, dan juga putusnya jalur akses ke daerah-daerah lain yang dapat menyebabkan terbatasnya mobilitas dan kegiatan masyarakat yang ada di daerah tersebut. Purworejo merupakan salah satu daerah dengan lokasi yang vital, karena merupakan salah satu daerah yang berhubungan dengan kota penting. Purworejo merupakan daerah yang terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, serta penghubung antara Kabupaten Purworejo dengan Kabupaten Wonosobo yang memiliki Objek Wisata Dataran Tinggi Dieng. 2

Secara umum, banyak bangunan tempat tinggal yang dibangun dengan memotong lereng. Kondisi ini yang mengakibatkan adanya perubahan kestabilan lereng. Banyak kejadian longsorlahan yang disebabkan karena adanya pemotongan lereng yang digunakan untuk membangun tempat tinggal warga. Hal tersebut yang menyebabkan pentingnya pemetaan kerawanan longsorlahan di SubDAS Kodil, Provinsi Jawa Tengah serta estimasi nilai ekonomi properti dampak kejadian longsorlahan. 1.2 Permasalahan Penelitan Daerah di SubDAS Kodil merupakan daerah yang rawan longsorlahan, seperti Kecamatan Kepil, Loano, Wonosobo, dan Salaman. Longsorlahan yang terjadi di daerah tersebut mengakibatkan kerugian material ekonomi karena mengenai dan merusak rumah penduduk serta memutus jalur akses dari satu daerah ke daerah lain yang menghambat aksesibilitas masyarakat. Dengan melakukan pemetaan daerah rawan longsorlahan di SubDAS Kodil, dapat dilakukan estimasi nilai ekonomi properti terutama di daerah rawan longsorlahan sangat tinggi, sehingga dengan estimasi tersebut dapat diprediksi besar kerugian yang ditimbulkan dari kejadian longsorlahan. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka disusun 4 (empat) pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1. faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya longsorlahan di SubDAS Kodil, Provinsi Jawa Tengah? 2. jenis longsorlahan apa yang dominan terjadi di SubDAS Kodil, Provinsi Jawa Tengah? 3. bagaimana distribusi spasial dari kejadian longsorlahan di SubDAS Kodil, Provinsi Jawa Tengah? 4. berapa besar estimasi nilai ekonomi properti dampak kejadian longsorlahan? 3

1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian Studi Kerawanan dan Estimasi Nilai Ekonomi Properti Dampak Longsorlahan adalah: 1. mempelajari faktor penyebab longsorlahan di daerah kajian 2. mengetahui jenis longsorlahan yang dominan di daerah kajian 3. mempelajari distribusi spasial dari kejadian longsorlahan di daerah kajian 4. menghitung estimasi nilai ekonomi properti yang terkena dampak kejadian longsorlahan di daerah kajian 1.4 Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari adanya penelitian tentang kerawanan longsorlahan dan estimasi nilai ekonomi properti di SubDAS Kodil, Provinsi Jawa Tengah adalah: 1. referensi yang dapat digunakan dalam penelitian-penelitian selanjutnya, baik dalam penelitian tentang studi kerawanan longsorlahan maupun tentang estimasi nilai ekonomi properti yang berkaitan dengan kejadian longsorlahan. 2. salah satu acuan yang digunakan dalam menentukan kebijakan rencana tata ruang wilayah, serta perencanaan pembangunan dengan mulai melibatkan faktor kejadian longsorlahan dan daerah rawan longsorlahan sebagai salah satu parameter didalamnya. 4

1.5 Tinjauan Pustaka 1.5.1 Longsorlahan Longsorlahan merupakan salah satu masalah yang terus menerus terjadi pada daerah-daerah dengan topografi perbukitan, terutama ketika musim penghujan datang, sebagian besar tanah dapat berpindah dari tempat asalnya menuruni lereng hingga menyapu semua yang dilewatinya, yang termasuk beberapa bangunan dan tempat fasilitas publik sehingga mengalami kerugian (Samra and Sharma, 2002). Longsorlahan merupakan kejadian geomorfik yang berkembang di daerah perbukitan dan pegunungan yang memiliki pengaruh kuat terhadap ekonomi, sosial, dan geomorfologikal (Knapen, et. al., 2006). Longsorlahan merupakan gerakan dari material tanah dan organik yang disebabkan oleh kondisi kemiringan lereng, dapat dipicu oleh intensitas hujan dan pengaruh dari penggunaan lahan (Highland and Bobrowsky, 2008). Longsorlahan dapat diklasifikasikan beberapa tipe, dalam hal ini tipe gerakan longsorlahan dan tipe material yang terlibat di dalamnya. Tipe longsorlahan menurut gerakannya menjelaskan tentang bagaimana tipe longsorlahan yang dapat terlihat kenampakannya di lapangan, seperti Luncuran (slides), Pencaran (spreads), atau Aliran (flows). Sedangkan tipe longsorlahan menurut gerakan dan material yang terlibat didalamnya adalah aliran runtuhan longsor (Highland and Bobrowsky, 2008). Tabel 1.1 Tipe Gerakan dan Material Longsorlahan Tipe Gerakan Tipe Material Kasar (Coarse) Halus (Fine) Luncuran (Slides) Rotasional Translasional Luncuran Runtuhan Luncuran Tanah Pencaran (Spreads) Pencaran Runtuhan Pencaran Tanah Aliran (Flows) Aliran Runtuhan Aliran Tanah Rayapan Tanah Kompleks Kombinasi dua atau lebih tipe gerakan (Sumber: Varnes, D.J., 1978) 5

Tipe Gerakan Luncuran (Slides) Luncuran merupakan tipe longsorlahan yang paling umum terjadi. Tipe longsorlahan ini bergerak berputar menuruni lereng dengan membawa material tanah. Tipe longsorlahan ini bergerak dari keadaan tanah yang lemah dan membawa semua material yang ada, tergantung dari seberapa besar gaya gravitasi yang mempengaruhi lereng atau daerah lokasi longsorlahan. Luncuran dibagi menjadi 2 (dua) jenis yaitu, Luncuran Rotasional dan Translasional (Varnes, 1978). Luncuran rotasional merupakan tipe gerakan luncuran yang membentuk sendok (spoon-shaped), dimana jika luncuran ini bergerak secara paralel, dinamakan Translasional (slump). Gambar 1.1 Tipe Gerakan Luncuran Rotasional (Sumber: USGS, 2004) Luncuran translasional merupakan tipe gerakan luncuran yang terjadi karena adanya material yang lepas dan terkontrol oleh faktor geologi seperti sesar, patahan, serta kontak antara tanah dan batuan. Tipe luncuran ini bergerak menurun, berbeda dengan luncuran rotasional, tipe luncuran ini pergerakannya tidak membentuk sendok, tetapi membentuk bidang gelincir (Highland and Bobrowsky, 2008). 6

Gambar 1.2 Tipe Gerakan Luncuran Translasional (Sumber: USGS, 2004) Tipe Gerakan Aliran (Flows) Aliran tipe longsor yang bergerak secara terus menerus sampai tenaga pembawa material tanah habis, pada umumnya curah hujan atau aliran air. Tipe gerakan aliran dapat dibagi menjadi tipe Aliran Runtuhan (Debris Flow), Runtuhan Longsor (Debris Avalanche). Aliran runtuhan merupakan aliran pergerakan massa tanah, dan beberapa material yang sangat cepat, berkombinasi dengan air untuk menuruni lereng (Highland and Bobrowsky, 2008). Runtuhan longsor merupakan tipe yang memiliki daerah cakupan lebih besar, lebih cepat dibandingkan dengan Aliran runtuhan. Tipe ini seringkali terjadi ketika lereng yang tidak stabil runtuh (collapse), selain didorong oleh air, tipe ini juga dapat terjadi apabila ada tenaga pendorong berupa salju dan es. (A) (B) Gambar 1.3 Tipe Aliran Runtuhan (A) dan Runtuhan Longsor (B) (Sumber: USGS, 2004) 7

Tipe Gerakan Pencaran (Spreads) Pencaran adalah tipe gerakan yang terjadi karena adanya kombinasi antara massa tanah dan batuan yang padu di bagian permukaan tetapi tidak didukung oleh material yang berada di lapisan bawah permukaan yang lebih lemah, sehingga menimbulkan gerakan merayap (creep) serta penurunan muka tanah/terban (subsidence) (Highland and Bobrwosky, 2008). Gambar 1.4 Salah satu tipe gerakan Spread, Rayapan (Creep) (Sumber: USGS, 2004) Kejadian longsorlahan disebabkan 2 (dua) faktor utama yang berperan, yaitu faktor alam dan faktor aktifitas/ulah manusia, terkadang longsorlahan terjadi karena kombinasi kedua faktor tersebut. Faktor alam penyebab longsorlahan sangat berpengaruh dari keadaan kemiringan lereng, morfologi atau bentuk daerah, jenis tanah, kandungan geologi, dan pelapukan yang terjadi di suatu daerah (Highland and Bobrowsky, 2008; Kusky, 2008). 8

Hubungan longsorlahan dengan air Lereng dan tanah yang jenuh terhadap air merupakan faktor alam dalam kejadian longsorlahan. Tingkat kejenuhan dapat terjadi karena adanya curah hujan dengan intensitas tinggi, perubahan tinggi muka airtanah, aliran limpasan permukaan (overland flow) dan perubahan tinggi air permukaan yang bersumber dari sungai, bendungan, ataupun danau. Kejadian longsorlahan yang memiliki asosiasi dengan air permukaan menimbulkan sedimentasi pada bendungan, menutup saluran air dan sungai, mengurangi kapasitas penampungan waduk, serta menyebabkan aliran lumpur (mudflow) (Highland and Bobrowsky, 2008; Kusky, 2008). Hubungan longsorlahan dengan aktivitas manusia Pertumbuhan penduduk yang meningkat terus menerus menyebabkan manusia membutuhkan lahan untuk mendirikan tempat tinggal, dan melakukan kegiatan untuk mata pencahariannya. Merubah pola aliran drainase, kestabilan lereng, dan penggunaan lahan merupakan beberapa aktivitas manusia yang mendorong terjadinya longsorlahan (Turner and Schuster, 1996; Highland and Bobrowsky, 2008). 1.5.2 Karakteristik tanah Tanah merupakan akumulasi tubuh alam bebas yang menduduki sebagian besar permukaan bumi, dan memiliki sifat-sifat sebagai akibat dari pengaruh iklim dan jazad hidup yang mempengaruhi terhadap bahan induk, dalam keadaan tertentu selama jangka waktu tertentu (Jamulya dan Worosuprojo, 1993). Tanah merupakan tubuh alam yang terbentuk dari faktor iklim yang terjadi di masing-masing zona iklim, yang menentukan pembentukan jenis tanah yang susunan genesisnya dinyatakan oleh penampang yang disebut profil tanah (King, 2009). Dalam penelitian ini, penentuan kedalaman solum tanah yang diukur mulai dari Horizon O (organik) sampai Horizon C (material induk), tidak sampai pada batuan dasar (bedrock). 9

Parameter Kedalaman solum tanah yang diukur dalam penelitian hanya Horizon O sampai Horizon C. Gambar 1.5 Profil Tanah (Sumber: King, 2009) Syarat awal dari pembentukan tanah adalah tersedianya bahan asal atau batuan induk, dan adanya faktor-faktor lain yang mempengaruhi bahan asal tersebut, yaitu : S = f (C, O, P, R, T). (1) S = Soil (tanah) f = factor (faktor) C = Climate (iklim) O = Organism (Organisme) P = Parent Material (Bahan Induk) R = Relief (Topografi) T = Time (Waktu) (Jamulya dan Worosuprojo, 1993) 10

Gambar 1.6 Proporsi komponen tanah (Sumber: White, 2006) Pembentukan tanah didominasi oleh faktor iklim yang sangat berkaitan dengan pelapukan. Komponen tanah terdiri dari mineral (40-60%), air (20-50%), udara (10-25%), dan bahan yang disajikan pada Gambar 1.6. Karakteristik tanah dipengaruhi oleh komponen, komposisi, dan ciri-ciri dari tanah (Jamulya dan Worosuprojo, 1993). Warna, tekstur, agregat, Ph, permeabilitas dan porositas, serta drainase merupakan bagian dari karakteristik tanah (King, 2009). Tekstur tanah merupakan karakteristik tanah yang terdiri dari 3 (tiga) fraksi tanah utama, yaitu pasir, debu, dan lempung (Sumner, 2000). Perbedaan tekstur akan menyebabkan perbedaan karakteristik fisik yang menyebabkan perbedaan ukuran produktivitas tanahnya (King, 2009; White, 2006). Tekstur tanah pada umumnya diklasifikasikan dengan menggunakan segitiga tektur tanah (Gambar 1.7). Gambar 1.7 Segitiga Tekstur (Sumber: Hodgson, 1974) Tekstur tanah yang sebagian besar terdiri dari pasir memiliki karakter mudah meresapkan air dan memiliki tingkat kesuburan yang 11

rendah, sedangkan tekstur tanah berupa lempung memiliki drainase yang buruk, yang menyebabkan air mudah tergenang di bagian permukaannya (King, 2009). Tekstur tanah yang terdiri dari pasiran dan lempung merupakan tekstur tanah yang dapat mengakibatkan kejadian longsorlahan, karena menyebabkan tanah menjadi labil (Sharma, et. al., 2012). Keadaan tekstur tanah sangat berkaitan dengan karakteristik permeabilitas tanah. Permeabilitas tanah merupakan cepat lambatnya air yang meresap masuk ke dalam tanah baik melalui pori-pori makro maupun pori-pori mikro, baik kearah horizontal maupun kearah dalam keadaaan jenuh (Jamulya dan Worosuprojo, 1993). Kejadian longsorlahan menurut Sharma, et. al. (2012) berkaitan dengan karakteristik tanah, terutama tekstur tanah dan permeabilitas tanah, selain faktor-faktor penyebab longsorlahan yang lain, seperti kemiringan lereng, penggunaan lahan, dan kedalaman solum tanah. 1.5.3 Kerawanan longsorlahan Kondisi rawan bencana merupakan kondisi karakteristik geologis, biologis, hidrologis, klimatologis, geografis, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah, meredam, mencapai kesiapan, dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu (UU No 24 tahun 2007). Kerawanan longsorlahan dapat diartikan sebagai kemungkinan terjadinya longsorlahan pada daerah yang memiliki faktor dan kondisi lingkungan tertentu, terdiri dari faktor geolingkungan, lereng, litologi, dan penggunaan lahan (Alleoti and Chowdhury, 1999; Magliulo, 2009). Melakukan studi daerah rawan longsorlahan sebelum penaksiran longsorlahan sangat penting dalam menentukan perencanaan yang tepat, manajemen bencana, dan mitigasi bencana. Adanya studi dan pemetaan kerawanan longsorlahan akan mengurangi kerugian atau kehilangan yang terjadi (Chacon, et. al., 1996). 12

Kerawanan longsorlahan merupakan topik utama yang banyak dikaji, hal ini dikarenakan dua faktor utama, yaitu meningkatnya kesadaran akan dampak pada sosio-ekonomi yang ditimbulkan dari kejadian longsorlahan dan meningkatnya tekanan perkembangan penduduk serta kegiatan urbanisasi terhadap lingkungan (Aleotti and Chowdhury, 1999). Respon awal untuk melakukan analisis kerawanan longsorlahan adalah dengan menentukan daerah mana saja yang cenderung memiliki lereng yang tidak stabil dan menghitung luas daerah tersebut. Analisis kerawanan longsorlahan juga mempertimbangkan daerah-daerah yang terkena dampak dari kejadian longsorlahan (Corominas, et. al., 2003). 1.5.4 Nilai ekonomi properti Indonesia memiliki potensi kekayaan alam yang sangat melimpah, tetapi juga menyimpan dan memiliki potensi serta kerawanan dari beragam bencana alam. Begitu besarnya potensi bencana alam yang ada di Indonesia menyebabkan munculnya keterkaitan antara bencana alam dengan kerugian harta benda, terutama dengan berlangsungnya sistem otonomi daerah yang menyebabkan masing-masing daerah memilik tanggung jawab dan wewenang lebih besar dalam memanfaatkan, mengatur, dan menggali sumber-sumber potensi yang ada di daerahnya masing-masing. Kejadian bencana alam berpengaruh terhadap kerugian yang ditimbulkan, karena memicu adanya kerusakan dan kehilangan potensi-potensi sumberdaya yang ada (Ida, 1988). Ancaman terhadap potensi sumberdaya ekonomi dapat dilihat dari komponen ekonomi yang termasuk di dalamnya, permukiman, jalan dan prasarana telekomunikasi, bangunan pemerintahan, utilitas bawah tanah, pipa air, pipa gas, dan pipa kabel, serta memutus kegiatan ekonomi karena sumber kegiatan ekonomi terkena dampak dari kejadian longsorlahan (Nishio, 1999). Aspek-aspek yang berkaitan dengan komponen ekonomi dapat dilakukan dengan pendekatan ekonomi, seperti pendekatan data makro dan data mikro. Pendekatan data makro meliputi estimasi biaya 13

pemeliharaan dan rehabilitasi dari potensi kejadian longsorlahan yang dapat terjadi di daerah rawan longsorlahan, serta evaluasi terhadap dampak properti akibat degradasi lingkungan. Pendekatan dengan menggunakan data mikro dilakukan dengan cara diskusi pada level rumah tangga, terutama dalam hal persepsi masyarakat terhadap perubahan lingkungan yang terjadi (Hayase and Masumoto, 1998). Perubahan lingkungan dan konversi lahan yang terjadi memiliki peran serta dalam faktor pendorong dan mempercepat terjadinya longsorlahan di suatu daerah. Konversi lahan pertanian menjadi lahan nonpertanian telah lama berlangsung dan cenderung terus meningkat dari waktu ke waktu (Ida, 1988). Dengan semakin menurunnya kualitas sumberdaya alam seperti lahan, air, udara dan keanekaragaman hayati akan mempengaruhi dari nilai ekonomi suatu daerah. Peranan multifungsi sumberdaya nilai ekonomi yang terkandung di suatu lahan terbentuk berdasarkan kegiatan ekonomi eksternal dan mempunyai ciri sebagai barang properti (public goods). Jika fungsi sumberdaya nilai ekonomi properti tergantung pada mekanisme pasar, efisiensi alokasi sumberdaya dipengaruhi oleh kegagalan pasar sehingga tidak berperan secara tepat, yang kedepannya memerlukan intervensi kebijakan dari pemerintah agar tetap dapat memelihara peranan multifungsi sumberdaya ekonomi (Yoshinaga, 1998). 1.5.5 Penelitian sebelumnya Penelitian yang mengangkat tema studi kerawanan longsorlahan memang telah banyak dilakukan sebelumnya, tetapi penelitian yang mengangkat tema Studi kerawanan dan estimasi nilai ekonomi properti dampak longsorlahan dalam satu kajian sementara ini masih belum dapat ditemukan. Beberapa penelitian yang dianggap mendekati subjek penelitian ini secara singkat dapat dilihat pada Tabel 2 dan dideskripsikan sebagai berikut: Penelitian yang dilakukan oleh Sulistyo (2012) mengangkat judul aplikasi sistem informasi geografis untuk zonasi kerawanan longsor di 14

Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah dengan tujuan mengetahui peranan sistem informasi geografis dengan menggunakan software Arcgis 9.3 dalam melakukan pengolahan dan identifikasi daerah yang rawan mengalami longsor, serta mengetahui distribusi daerah yang rawan akan longsor di Kabupaten Purworejo. Penelitian ini menggunakan metode pengharkatan dengan memasukkan parameter penggunaan lahan, jenis tanah, kemiringan lereng, curah hujan, dan tekstur tanah; membuat model builder kerawanan longsor dengan cara mengoverlay seluruh parameter, sehingga menghasilkan Peta Zonasi Kerawanan Longsor Kabupaten Purworejo skala 1 : 250.000. Penelitian tentang studi kerawanan longsor berikutnya dilakukan oleh Maritimo (2011) yang berjudul Kerawanan Longsor di Sepanjang jalur jalan provinsi, kabupaten, dan jalan di Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari berbagai bentuklahan di Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo; mempelajari tingkat kerawanan longsor di sepanjang jalur jalan provinsi, kabupaten dan jalan di setiap bentuklahan di Kecamatan Kalibawang; mengetahui tipe-tipe longsor yang terjadi pada lereng kiri dan kanan jalan provinsi, kabupaten, dan jalan yang ada di Kecamatan Kalibawang. Metode yang digunakan untuk memetakan kerawanan longsor didasarkan pada pengharkatan dan pembobotan dari parameter penyebab (kemiringan lereng), pemicu dinamik (curah hujan, penggunaan lahan), dan pemicu statis (kedalaman pelapukan, solum tanah, permeabilitas, tektur tanah), sehingga menghasilkan peta kerawanan longsor di sepanjang jalur jalan provinsi, kabupaten, dan jalan dengan 3 (tiga) klas kerawanan, klas tinggi, sedang, dan rendah; serta peta persebaran titik longsor pada tiap klas lereng. Penelitian yang dilakukan Hadmoko, et.al. (2010) tentang Penilaian Bahaya dan Resiko Longsorlahan dan aplikasi dalam manajemen resiko dan perencanaan penggunaan lahan di Bagian Timur Pegunungan Menoreh, Provinsi Yogyakarta, Indonesia (Landslide hazard and risk 15

assessment and their application in risk management and landuse planning in eastern flank of Menoreh Mountains, Yogyakarta Province, Indonesia) ini bertujuan untuk membuat peta bahaya longsorlahan dan peta resiko longsorlahan; menerapkan manajemen resiko bencana longsorlahan dan perencanaan penggunaan lahan; melakukan tindakan pencegahan dan perlindungan terhadap masyarakat yang tinggal di daerah bahaya longsorlahan; melakukan penilaian resiko longsorlahan terhadap rumah penduduk. Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan penelitian adalah dengan melakukan skoring dan bobot pada parameter bahaya longsorlahan (bentuklahan, kemiringan lereng, geologi, tanah, dan landuse); pemetaan bahaya longsorlahan berdasarkan nilai Landslide Hazard Index (LHI) dengan pembagian klas menggunakan kelas interval; penentuan penilaian resiko bahaya longsorlahan terhadap perumahan penduduk menggunakan metode semi-kualitatif, sehingga menghasilkan peta bahaya longsorlahan, peta resiko longsorlahan, rekomendasi rencana penggunaan lahan berdasarkan informasi bahaya longsorlahan, dan upaya program pencegahan perlindungan terhadap masyarakat yang tinggal di daerah bahaya longsorlahan. Membandingkan dari ketiga penelitian sebelumnya dengan penelitian Studi Kerawanan dan Estimasi Nilai Ekonomi Dampak Longsorlahan di SubDAS Kodil, Provinsi Jawa Tengah memiliki tujuan, parameter yang disertakan dalam metode analisis, dan hasil akhir penelitian yang berbeda. Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah mengestimasi dampak dari kejadian longsorlahan terhadap nilai ekonomi; mengetahui faktor yang menyebabkan longsorlahan; mengetahui jenis longsorlahan dominan; mempelajari distribusi spasial dari kejadian longsorlahan; mengevaluasi hasil estimasi nilai ekonomi longsorlahan. Metode yang digunakan dalam menentukan daerah rawan longsorlahan adalah dengan menggunakan skor dari parameter kedalaman solum tanah, tekstur tanah, kemiringan lereng, permeabilitas, proporsi material batuan permukaan, penggunaan lahan untuk mendapatkan Nilai 16

Stabilitas Tanah dan didistribusikan dalam kelas kerawanan longsorlahan menggunakan metode interval teratur. Estimasi nilai ekonomi dilakukan pada landuse permukiman yang termasuk kelas kerawanan longsorlahan sangat tinggi menggunakan metode purposive sampling, dengan melakukan wawancara kepada warga yang tinggal di daerah tersebut. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah peta kerawanan longsorlahan yang berada di SubDAS Kodil, Provinsi Jawa Tengah dalam 5 (lima) kelas kerawanan longsorlahan, dan hasil perhitungan estimasi nilai ekonomi pada penggunaan lahan (landuse) permukiman yang ada di kelas kerawanan sangat tinggi. Tabel 1.2 menjelaskan perbandingan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang peneliti lakukan. 17

Tabel 1.2 Perbandingan Penelitian Sebelumnya dengan Penelitian yang dilakukan Peneliti No Nama Judul Tujuan Metode Hasil 1 Sulistyo (2012) Aplikasi Sistem Informasi Geografis untuk Zonasi Kerawanan Longsor Kabupaten Purworejo Provinsi Jawa Tengah (Tugas Akhir) 1. Mengetahui peranan sistem informasi geografis dengan menggunakan software Arcgis 9.3 dalam melakukan pengolahan dan identifikasi daerah yang rawan mengalami longsor 2. Mengetahui distribusi daerah yang rawan akan longsor di kabupaten purworejo 1. Membuat pemetaan kerawanan longsor dengan menggunakan arcgis dengan mempertimbangkan perngharkatan penggunaan lahan, jenis tanah, kemiringan lereng, curah hujan, tekstur tanah 2. membuat model builder kerawanan longsordengan cara mengoverlay seluruh parameter Peta zonasi kerawanan longsor Kabupaten Purworejo skala 1:250.000 2 Maritimo (2011) Kerawanan longsor di sepanjang jalur jalan provinsi, kabupaten, dan jalan di kecamatan kalibawang, kabupaten kulonprogo (Skripsi) 1. Mempelajari berbagai bentuklahan di kecamatan kalibawang kabupaten kulonprogo, DIY 2. Mempelajari tingkat kerawanan longsor di sepanjang jalur jalan provinsi, kabupaten, Membuat pemetaan kerawanan longsor berdasarkan pengharkatan dan pembobotan dari parameter penyebab (kemiringan lereng), pemicu dinamik (curah hujan, penggunaan lahan), dan pemicu statis (kedalaman 1. Peta kerawanan longsor di sepanjang jalur jalan dengan pembagian kedalam 3 (tiga) kelas kerawanan (tinggi, sedang, rendah) 2. Peta persebaran titik longsor pada tiap kelas lereng 18

Lanjutan Tabel 1.2 3 Hadmoko, Lavigne, Sartohadi, Hadi, dan Winaryo (2008) Landslide hazard and risk assessment and their application in risk management and landuse planning in eastern flank of Menoreh Mountains, Yogyakarta Province, Indonesia (Jurnal) dan jalan di setiap bentuklahan di kecamatan kalibawang 3. Mengetahui tipe-tipe longsor yang terjadi pada lereng di kiri dan kanan jalan provinsi, kabupaten, dan jalan yang ada di kecamatan kalibawang 1. Membuat peta bahaya longsor dan peta resiko longsor 2. Menerapkan managemen resiko bencana longsor dan perencanaan penggunaan lahan 3. Melakukan tindakan pencegahan dan perlindungan terhadap masyarakat yang tinggal di daerah bahaya longsor 4. Melakukan penilaian resiko longsorlahan terhadap rumah penduduk pelapukan, solum tanah, permeabilitas, dan tekstur tanah) 1. Melakukan skoring dan bobot pada parameter bahaya longsor 2. Membuat peta bahaya longsor berdasarkan nilai dari Landslide Hazard Index (LHI) dengan menggunakan pembagian kelas metode interval 3. Menggunakan metode semi-kualitatif dalam menentukan penilaian resiko dari bahaya longsor terhadap rumah penduduk 1. Peta Bahaya Longsor 2. Peta Resiko Longsor 3. Rekomendasi rencana penggunaan lahan berdasarkan informasi bahaya longsor 4. Upaya dan Program pencegahan dan perlindungan terhadap masyarakat yang tinggal di daerah bahaya longsor 19

Lanjutan Tabel 1.2 4 Mahendra (2014) (Sumber: Hasil Telaah Pustaka) Studi kerawanan dan estimasi nilai ekonomi dampak longsorlahan di SubDAS Kodil, Provinsi Jawa Tengah 1. Mengetahui parameter Nilai Stabilitas Tanah yang menyebabkan longsorlahan di daerah kajian 2. Mengetahui jenis longsorlahan yang dominan di daerah kajian 3. Mempelajari distribusi spasial dari kejadian longsorlahan di daerah kajian 4. Menghitung estimasi nilai ekonomi properti dampak longsorlahan di daerah kajian 1. Pembuatan peta kerawanan longsorlahan menggunakan skoring parameter kedalaman solum tanah, tekstur tanah, kemiringan lereng, permeabilitas, proporsi material batuan permukaan, dan penggunaan lahan untuk mengetahui skor Nilai Stabilitas Tanah 2. Penghitungan nilai estimasi ekonomi melalui wawancara penduduk dan kuisioner menggunakan metode purposive sampling 1. Parameter dominan Nilai Stabilitas Tanah yang menyebabkan longsorlahan 2. Jenis longsorlahan dominan yang terjadi 3. Distribusi persebaran jenis longsorlahan di daerah kajian 4. Hasil estimasi nilai ekonomi pada landuse permukiman di kelas kerawanan longsorlahan sangat tinggi dan tinggi (sampel Desa Margoyoso). 20

1.6 Kerangka Pemikiran Lereng merupakan faktor utama yang berperan terhadap terjadinya longsorlahan, selain faktor curah hujan yang bersifat sebagai pemicu, batuan lapuk, dan penggunaan lahan, hal ini disebabkan karena longsorlahan erat kaitannya dengan gaya gravitasi yang bekerja dalam perpindahan tanah menuju bagian bawah suatu lereng. Pertumbuhan penduduk yang meningkat terusmenerus menyebabkan tingginya tekanan terhadap lahan untuk digunakan sebagai tempat tinggal (permukiman) dan lahan untuk kegiatan perekonomian, sehingga banyak yang tidak memperdulikan aspek fisik dan lingkungan termasuk lereng dan karakteristik tanah ketika mendirikan tempat tinggal. Selain itu kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah baik dalam undang-undah maupun peraturan serta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) sering tidak sampai ke masyarakat karena kurangnya sosialisasi yang dilakukan. Banyaknya pembangunan yang dilakukan di lereng bukit yang tidak memeperhitungkan faktor lingkungan menyebabkan banyak kejadian longsorlahan yang merusak dan mengenai bangunan tempat tinggal, lahan pertanian, dan mengganggu akesibilitas jalan. Pembuatan peta kerawanan longsorlahan dan perkiraan kerugian ekonomi yang dihasilkan dari daerah rawan longsorlahan sekiranya dapat meminimalisir kerugian yang lebih besar dari kejadian longsorlahan berikutnya, selain itu juga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan RTRW yang diterapkan, tentunya hal tersebut harus didukung dengan sosialisasi yang tepat ke masyarakat. Skema kerangka pemikiran dapat dilihat pada Gambar 1.8. 21

Bentuklahan Lereng Karakteristik Tanah Penggunaan Lahan Pertumbuhan Penduduk Tekanan Lahan Keterbatasan Lahan Hujan sebagai Pemicu Longsorlahan Aspek Fisik dan Lingkungan Aspek Manusia Mempercepat Kejadian Longsorlahan Longsorlahan yang menimpa bangunan tempat tinggal, lahan pertanian, dan memutus aksesibilitas jalan Perkiraan kerugian ekonomi yang ditimbulkan dari kejadian longsorlahan Studi Kerawanan dan Estimasi Nilai ekonomi properti dampak Longsorlahan di SubDAS Kodil, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah Gambar 1.8 Skema Kerangka Pemikiran 22

1.7 Batasan Operasional Karakteristik tanah, ciri khas tanah yang mampu mempengaruhi komponen dan komposisi tanah yang terdiri dari warna tanah, tekstur tanah, agregat tanah, permeabilitas, porositas, drainase, dan Ph (Jamulya dan Worosuprojo, 1993). Kerawanan, kondisi atau karakteristik secara geologis, biologis, hidrologis, klimatologis, geografis, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu (UU nomor 24 tahun 2007). Kerawanan longsorlahan, suatu prakiraan akan terjadinya longsorlahan pada daerah yang memiliki faktor dan kondisi tertentu, terdiri dari faktor fisik lingkungan, lereng, litologi, dan penggunaan lahan (Alleoti and Chowdhury, 1999). Nilai ekonomi properti, prakiraan besaran harga atau nilai (dalam bentuk nominal uang) yang diberikan pada suatu barang yang menimbulkan kerugian terutama pada permukiman atau bangunan, termasuk nilai fisik bangunan dan barang kepemilikan berupa barang elektronik serta kendaraan atau moda transportasi (Nishio, 1999). Permeabilitas, cepat lambatnya air yang meresap masuk kedalam tanah, baik melalui pori makro maupun mikro, kearah vertical maupun horizontal, pada kondisi jenuh (Jamulya dan Worosuprojo, 1993). Tanah, akumulasi tubuh alam bebas yang terbentuk akibat dari pengaruh iklim, bahan induk, dalam keadaan tertentu selama jangka waktu tertentu (King, 2009). Longsorlahan, proses dimana material tanah yang terangkut menuruni lereng karena dipengaruhi gaya gravitasi (Varnes, D.J., 1978). Tekstur tanah, salah satu karakteristik tanah yang terdiri dari tiga komponen mineral tanah utama, pasir, debu, dan lempung, ataupun campuran dari ketiganya (Sumner, 2000). 23