JURNAL HUTAN LESTARI (2015) Vol. 3 (1) : 30 34

dokumen-dokumen yang mirip
I. PENDAHULUAN. paling tinggi di dunia. Menurut World Wildlife Fund (2007), keanekaragaman

JURNAL HUTAN LESTARI (2015) Vol. 3 (1) : 15 20

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

KEANEKARAGAMAN JENIS KANTONG SEMAR (Nepenthes SPP) DALAM KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG SEMAHUNG DESA SAHAM KECAMATAN SENGAH TEMILA KABUPATEN LANDAK

KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG AMBAWANG KECAMATAN KUBU KABUPATEN KUBU RAYA

BAB III METODE PENELITIAN. Jawa Timur, dilaksanakan pada bulan November sampai dengan bulan Desember

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Youth Camp Tahura WAR pada bulan Maret sampai

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2015 di Repong Damar Pekon

Keywords: Herpetofauna, species diversity, TNBBBR

KEANEKARAGAMAN ORDO ANURA DI KAWASAN KAMPUS UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU. A. Nola 1, Titrawani 2, Yusfiati 2

KEPADATAN INDIVIDU KLAMPIAU (Hylobates muelleri) DI JALUR INTERPRETASI BUKIT BAKA DALAM KAWASAN TAMAN NASIONAL BUKIT BAKA BUKIT RAYA KABUPATEN MELAWI

I. PENDAHULUAN. Kawasan lahan basah Bujung Raman yang terletak di Kampung Bujung Dewa

III. METODE PENELITIAN

KEANEKARAGAMAN HERPETOFAUNA DI KAWASAN TAMBLING WILDLIFE NATURE CONSERVATION (TWNC) TAMAN NASIONAL BUKIT BARISAN SELATAN (TNBBS) PESISIR BARAT LAMPUNG

METODE KERJA. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan bulan Agustus 2014,

STUDI KEANEKARAGAMAN JENIS KANTONG SEMAR

3. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2015 di Hutan Mangrove KPHL Gunung

3. METODOLOGI PENELITIAN. Rajawali Kecamatan Bandar Surabaya Kabupaten Lampung Tengah.

Keanekaragaman Jenis dan Pola Distribusi Nepenthes spp di Gunung Semahung Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak

III. METODE PENELITIAN

Keywords : Diversity in Cikaweni PPKAB Bodogol, Dominance, Inventory, Herpetofauna, VES with Time Search methods

METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian

III. METODE PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Amfibi merupakan salah satu komponen penyusun ekosistem yang memiliki

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Maret 2012 di Rawa Bujung Raman

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan September 2014 di Kawasan Budidaya

I. PENDAHULUAN. liar di alam, termasuk jenis primata. Antara tahun 1995 sampai dengan tahun

Achmad Barru Rosadi, Adeng Slamet, dan Kodri Madang Universitas Sriwijaya

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan April 2014 di Desa Kibang Pacing. Kecamatan Menggala Timur Kabupaten Tulang Bawang.

I. PENDAHULUAN. Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang kaya dengan

JUMLAH INDIVIDU DAN KELOMPOK BEKANTAN (Nasalis larvatus, Wurmb) Di TAMAN NASIONAL DANAU SENTARUM KABUPATEN KAPUAS HULU

KEANEKARAGAMAN JENIS AMFIBI (ORDO ANURA) DI KAWASAN TAMAN WISATA ALAM SURANADI - LOMBOK BARAT*

KEANEKARAGAMAN JENIS TUPAI (TUPAIIDAE) DI DALAM KAWASAN HUTAN TEMBAWANG DESA SOMPAK KECAMATAN SOMPAK KABUPATEN LANDAK

STUDI KARAKTERISTIK KUBANGAN BADAK JAWA (Rhinoceros sondaicus Desmarest 1822) DI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON

IDENTIFIKASI JENIS KANTONG SEMAR (NEPENTHES SPP) DALAM KAWASAN TAMAN WISATA ALAM GUNUNG ASUANSANG KECAMATAN PALOH KABUPATEN SAMBAS

1. PENDAHULUAN. Indonesia (Sujatnika, Jepson, Soeharto, Crosby, dan Mardiastuti, 1995). terluas di Asia (Howe, Claridge, Hughes, dan Zuwendra, 1991).

POPULASI BEKANTAN Nasalis larvatus, WURM DI KAWASAN HUTAN SUNGAI KEPULUK DESA PEMATANG GADUNG KABUPATEN KETAPANG KALIMANTAN BARAT

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

INVENTARISASI DAN ANALISIS HABITAT TUMBUHAN LANGKA SALO

LAPORAN PENGAMATAN AKTIVITAS HARIAN DAN WAKTU AKTIF BUNGLON (Bronchochela sp.) Oleh :

I. PENDAHULUAN. Salah satu primata arboreal pemakan daun yang di temukan di Sumatera adalah

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di kawasan hutan mangrove Desa Margasari

LAPORAN GROUP PROJECT RESEARCH

KEANEKARAGAMAN JENIS KANTONG SEMAR (Nepenthes spp) KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG AMBAWANG DESA KAMPUNG BARU KECAMATAN KUBU KABUPATEN KUBU RAYA

I. PENDAHULUAN. Siamang (Hylobates syndactylus) merupakan salah satu jenis primata penghuni

KEANEKARAGAMAN JENIS MERANTI (SHORE SPP) PADA KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG AMBAWANG KABUPATEN KUBU RAYA PROPINSI KALIMANTAN BARAT

BAB IV METODE PENELITIAN

METODOLOGI. Lokasi dan Waktu

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... LEMBAR PENGESAHAN... PERNYATAAN ORISINALITAS KARYA DAN LAPORAN... PERNYATAAN PUBLIKASI LAPORAN PENELITIAN...

MONITORING LINGKUNGAN

JENIS-JENIS KADAL (LACERTILIA) DI KAWASAN KAMPUS UNIVERSITAS ANDALAS LIMAU MANIH PADANG SKRIPSI SARJANA BIOLOGI OLEH HERLINA B.P.

III. METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN

Prosiding Seminar Nasional Biotik 2017 ISBN:

Keanekaragaman Herpetofauna di Lahan Reklamasi Tambang Batubara PT Singlurus Pratama, Kalimantan Timur

Profil Keanekaragaman Hayati dan Perubahan Tutupan Lahan Gunung Aseupan Banten BAB II METODE

I. PENDAHULUAN. Burung merupakan salah satu jenis satwa liar yang banyak dimanfaatkan oleh

KEANEKARAGAMAN JENIS BAMBU DI HUTAN KOTA KELURAHAN BUNUT KABUPATEN SANGGAU Bamboo Species Diversity In The Forest City Bunut Sanggau District

METODE CEPAT PENENTUAN KERAGAMAN, KEPADATAN DAN KELIMPAHAN JENIS KODOK

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deskriptif, yang. sensus atau dengan menggunakan sampel (Nazir,1999).

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

JENIS-JENIS KATAK (AMPHIBI: ANURA) DI DESA KEPENUHAN HULU KECAMATAN KEPENUHAN HULU KABUPATEN ROKAN HULU PROVINSI RIAU

Gambar 2.1. Peta Lokasi Penelitian

Jenis Satwa Liar dan Pemanfaatnya Di Pasar Beriman, Kota Tomohon, Sulawesi Utara

Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga BAB I PENDAHULUAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2017 s/d bulan Februari 2017

IV. METODE PENELITIAN

Keragaman Jenis Kadal Sub Ordo Sauria pada Tiga Tipe Hutan di Kecamatan Sungai Ambawang

I. PENDAHULUAN. (Sujatnika, Joseph, Soehartono, Crosby, dan Mardiastuti, 1995). Kekayaan jenis

BAB III METODE PENELITIAN

DIREKTORAT JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM

PENDAHULUAN. Perdagangan satwa liar mungkin terdengar asing bagi kita. Kita mungkin

PERSEBARAN DAN KEANEKARAGAMAN HERPETOFAUNA DALAM MENDUKUNG KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI KAMPUS SEKARAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN. ditemukan di Indonesia dan 24 spesies diantaranya endemik di Indonesia (Unggar,

BAB I PENDAHULUAN. Jawa Tengah tepatnya di kabupaten Karanganyar. Secara geografis terletak

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

STRUKTUR KOMUNITAS LAMUN (Seagrass) DI PERAIRAN PANTAI KAMPUNG ISENEBUAI DAN YARIARI DISTRIK RUMBERPON KABUPATEN TELUK WONDAMA

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I. PENDAHULUAN. beragam dari gunung hingga pantai, hutan sampai sabana, dan lainnya,

POTENSI KEANEKARAGAMAN JENIS MAMALIA DALAM RANGKA MENUNJANG PENGEMBANGAN EKOWISATA DI TAMAN NASIONAL BUKIT BAKA BUKIT RAYA

BAB III METODE PENELITIAN

BUKU CERITA DAN MEWARNAI PONGKI YANG LUCU

BIRD PREFERENCE HABITATS AROUND SERAYU DAM BANYUMAS CENTRAL JAVA

3 METODE PENELITIAN. Waktu dan Lokasi

BAB III METODE PENELITIAN. adalah suatu penelitian untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara

BAB I PENDAHULUAN. Dalam artikel Konflik Manusia Satwa Liar, Mengapa Terjadi? yang ditulis

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai Desember 2013.

III. METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo pada bulan September-Oktober 2012.

IV. METODE PENELITIAN

Asrianny, Arghatama Djuan. Laboratorium Konservasi Biologi dan Ekowisata Unhas. Abstrak

MONITORING LINGKUNGAN

BAB III METODE PENELITIAN

Kata kunci : Burung, Pulau Serangan, habitat

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Maret

I. PENDAHULUAN. memiliki keanekaragaman spesies tertinggi di dunia, jumlahnya lebih dari

Transkripsi:

KEANEKARAGAMAN JENIS REPTIL ORDO SQUAMATA DIKAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG SEMAHUNG DESA SEBATIH KECAMATAN SENGAH TEMILAKABUPATEN LANDAK The Diversity of Squamates Semahung MountainProtected Forest in Sebatih Village of Sengah Temila Sub-District in Landak District Syaiful Amri, Bachrun Nurdjali, Sarma Siahaan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Jalan Imam Bonjol 78124 Email : samri85@yahoo.com ABSTRACT Reptiles are one species of fauna mostly found in West Kalimantan. This research aims to investigate kinds of squamates living in the area of Semahung mountain protected forest in Sebatih village in Sengah Temila sub-district in Landak district. Thhe research took place from February 14th to March 1st 2014 using visual encounter survey (VES). The status squamates found based on the red list of IUCN (International Unio for Conservation of Nature and Natural Resources) comprises ten least concern squamates, two near threatened squamates and two not evaluated squamates. There are forteen species of squamates from five families. Based on Percent Similary value evaluation, the highest abundance is from Scincidae family that is Eutropis rudis of 37%. The highest diversity value is on aquatic habitat of e =0,8019. Of two habitats (aquatict and terrestrial) of squamates, the similary index of two habitats is 0,4, meaning that there are 40% of those species living in those habitats are similar species and 60% of those are different. It is because the two habitats have the similar altitude. Eutropis rudis have the highest meeting probability of 0,486 individual/hour. They are mostly seen in terrestrial habitat. Keywords: Squamates, species diversity, Semahung Mountain PENDAHULUAN Borneo adalah nama Kalimantan secara keseluruhan yang merupakan pelabuhan keanekaragaman hayati endemik termasuk didalamnya amfibi dan reptil (Rhett A.Butler. 2008). Menurut WWF Tahun 2007 (World Wildlife Fund), Pulau ini diperkirakan memiliki setidaknya 222 spesies Mamalia (44 darinya khas), 420 Burung yang menetap (37 khas), 100 Amfhibi dan Reptilia, 349 ikan (19 khas). Kawasan Hutan Lindung Gunung Semahung Desa Sebatih Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak, memiliki luas areal 2.812 hektar dan merupakam tipe pegunungan dataran rendah yang ketinggiannya 695 meter di atas permukaan laut. Sebagai salah satu kawasan konservasi di Kalimantan Barat kawasan ini memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya perlindungan dan pelestarian satwa liar. Reptil adalah salah satu fauna yang banyak terdapat di wilayah Kalimantan Barat. Eksploitasi reptil yang berlebihan dan tidak terkontrol akan menimbulkan ancaman terhadap kelestarian satwa tersebut. Konversi hutan menjadi lahan perkebunan, lahan pertanian dan kegiatan penebangan hutan berperan besar terhadap hilangnya habitat satwa liar. Perubahan kondisi habitat seperti itu akan berpengaruh terhadap keanekaragaman satwa liar yang terdapat didalamnya. Perkembangan informasi penunjang khususnya mengenai data keberadaan jenis jenis Reptil Ordo Squamata yang terdapat dikawasan Hutan Lindung Gunung Semahung belum ada dilakukan, sehingga perlunya dilakukan 30

penelitian untuk menunjang pengetahuan mengenai keberadaan satwa liar ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Jenis Reptil dari Ordo Squamata yang ada di kawasan Hutan Lindung Gunung Semahung dan manfaat dari penelitian ini untuk memberikan informasi tentang keanekaragaman jenisjenis reptil yang ada di kawasan Hutan Lindung Gunung Semahung sehingga dapat dijadikan dasar dalam upaya pelestarian satwa liar di areal tersebut. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di kawasan Hutan Lindung Gunung Semahung Desa Sebatih Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak Kalimantan Barat, mulai dari tanggal 12 Februari 2014 sampai dengan tanggal 1 Maret 2014. Peralatan yang digunakan dalam kegiatan pengamatan dan pengidentifikasian jenis reptil antara lain :Peta kawasan penelitian, Kompas, GPS( Global Position System ), Meteran, Tali raffia, Headlam/senter dan baterai, Spidol permanen, Jam, Alat tulis dan Tally Sheet, Buku Poket Lizards of Borneo dan Snakes of Borneo, Kaliver, Tongkat jaring penangkap, tongkat berjerat, tongkat berkait, Alat suntik, dan baki/baskom plastik, Termometer, Higrometer, Kamera, Kaca pembesar, Parang, Sarung tangan karet, sepatu boot, mantel/jas hujan. Bahan Penelitian yang digunakan Kantong plastik, Kertas lebel, Kapas dan tissue, Alkohol 70%. Prosedur penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Visual Encounter Survey (VES) atau Survey Perjumpaan Visual (Heyer dkk. 1994). Metode ini dikombinasikan dengan metode jalur (transek sampling) (Kusrini, 2009). Jumlah jalur yang dibuat sebanyak 6 jalur, yang terdiri dari 3 jalur akuatik (jalur 1, 2, 3 jalur air) dan 3 jalur teresterial (jalur 4, 5, 6 jalur darat). Peletakan jalur akuatik dibuat dengan menyusuri Sungai Gunung Semahung dari hilir sampai hulu sungai dengan lebar jalur 5 meter dari tepi sungai ke darat dan panjang jalur 200 meter. Sedangkan untuk habitat teresterial (daratan) jalur dibuat sepanjang 600 m (disesuaikan dengan keadaan tempat) dengan lebar jalur 5 meter ke kiri dan 5 meter ke kanan mengikuti jalan setapak yang telah ada. Setiap 20 meter pada jalur dilakukan penandaan dengan menggunakan pita warna untuk memudahkan dalam penghitungan jarak jalur yang dibuat. Pengamatan dilakukan pada siang dan malam hari. Pengamatan siang hari dimulai pada pagi menjelang siang hari yaitu antara 06.00 13.00 WIB. Setelah itu dilanjutkan pada malam hari dimulai pada pukul 18.00 22.00 WIB. Analisis Data Analisis data yang digunakan untuk penelitian reptil ordo squamata ini adalah : Analisis Habitat, Deskripsi Jenis Reptil, Indeks Kelimpahan Relatif, Indeks Keanekaragaman Jenis, Indeks Kemerataan Jenis, Indeks Kesamaan Jenis, Peluang Perjumpaan. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Habitat Berdasarkan hasil pengukuran selama di lapangan diperoleh kisaran suhu udara 27 0 C 28 0 C, suhu air 22 0 C 24 0 C, kelembaban udara antara 79 0 C 31

86 0 C. Data ph air dari pengukuran di habitat akuatik diperoleh kisaran ph 5,5 yang menunjukkan bahwa kondisi air hampir netral. Cuaca selama pengamatan cerah meskipun terkadang mendung dan bahkan juga hujan pada pagi, dan sore menjelang malam. Komposisi jenis reptil ordo Squamata Jumlah seluruh reptil yang ditemukan pada lokasi pengamatan di Kawasan Hutan Lindung Gunung Semahung sebanyak 14 jenis dari 5 famili yakni Gekkonidae (3 jenis), Scincidae (4 jenis), Agamidae (3 jenis), Crotalidae (1 jenis), Colubridae (2 jenis), Eublepharidae (1 jenis). Dari jumlah jenis reptil ordo squamata yang ditemukan untuk status konservasinya dalam daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) dengan status LC (Least Concern) 10 jenis, NT (Near Threatened) 2 jenis dan NE (Not Evaluated) 2 jenis. Berikut ini adalah tabel daftar jenis reptil ordo squamata yang ditemukan di Kawasan Hutan Lindung Gunung Semahung dan beserta status konservasinya. Tabel 7. Jenis Reptil Ordo Squamata dan Status Konservasinya (List of Types Squamates and Status Conservation) No Nama jenis Family Jalur Jumlah Pengamatan individu T A IUCN 1 Aeuluroscalabotes felinus Eublepharidae 2 Ѵ LC 2 Cnemaspis kendallii Gekkonidae 8 Ѵ LC 3 Cyrtodactylus consobrinus Gekkonidae 2 Ѵ LC 4 Cyrtodactylus malayanus Gekkonidae 5 Ѵ NT 5 Apterygodon vittatum Scincidae 1 Ѵ LC 6 Eutropis multifasciata Scincidae 3 Ѵ LC 7 Eutropis rudis Scincidae 35 Ѵ Ѵ LC 8 Tropidophorus beccarii Scincidae 21 Ѵ LC 9 Bronchocela cristatella Agamidae 2 Ѵ Ѵ NE 10 Draco quinquefasciatus Agamidae 7 Ѵ Ѵ NE 11 Phoxophrys nigrilabris Agamidae 1 Ѵ LC 12 Tropidolaemus subannulatus Crotalidae 5 Ѵ Ѵ LC 13 Dendrelaphis caudolineatus Colubridae 2 Ѵ NT 14 Xenochrophis trianguligerus Colubridae 1 Ѵ LC Total 95 Keterangan : LC : Least Concern (beresiko rendah) NT : Near Threatned (terancam punah) NE : Not Evaluated ( tidak di evaluasi) T : Teresterial A : Akuatik Besarnya jumlah jenis reptil yang ditemukan dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya; effort (usaha) yang dilakukan dalam pencarian satwa reptil. Penghitungan effort biasanya berdasarkan lamanya waktu pencarian di lapangan dan luasan areal yang disurvei (Kusrini et al, 2007). 32

Indeks Kelimpahan Relatif Hasil analisis nilai Percent Similary untuk kelimpahan jenis reptil ordo Squamata diperoleh nilai kelimpahan jenis tertinggi yaitu jenis Eutropis rudis sebesar 37%, jenis ini paling banyak ditemukan di jalur habitat teresterial. Tropidophorus beccarii menempati urutan kedua dengan nilai persentase kelimpahan relatif 22% dan kelimpahan relatif ketiga Cnemaspis kendallii dengan nilai sebesar 8,4%. Kelimpahan relatif paling rendah jenis Apterygodon vittatum, Phoxophrys nigrilabris dan Xenochrophis trianguligerus dengan persentase masingmasing sebesar 1,1%. Persentase kelimpahan relatif pada kelas reptil ordo Squamata yaitu famili Scincidae memiliki nilai kelimpahan relatif tertinggi 29%, kelimpahan relatif kedua pada famili Gekkonidae dan Agamidae sebesar 21% kelimpahan relatif ketiga yaitu famili Colobridae sebesar 14% selanjutnya kelimpahan relatif keempat dan merupakan kelimpahan relatif terendah famili Crotalidae dan Eublepharidae masingmasing sebesar 7,1%. Indeks Keanekaragamman Jenis Nilai indeks keanekaragaman jenis reptil ordo squamata tidak berbeda jauh, untuk nilai tertinggi terdapat pada habitat akuatik dengan nilai H =0,765 dan terendah pada habitat teresterial dengan nilai H =0,631. Nilai keanekaragaman jenis reptil Ordo Squamata dilokasi penelitian terbilang rendah, karena tidak dapat mencapai indeks 1,5. Menurut Margalef (1972) dalam Magurran (1988) menyatakan bahwa tingkat keanekaragaman jenis yang tertinggi ditunjukan dengan nilai Indeks Shannon-Wiener lebih dari 3,5, tergolong sedang dengan nilai indeks 1,5 3,5 dan tergolong rendah dengan nilai indeks kurang dari 1,5. Indeks Kemerataan Jenis Nilai indeks kemerataan jenis Reptil ordo Squamata pada type habitat tidak jauh berbeda untuk nilai tertinggi terdapat pada habitat akuatik dengan nilai e = 0,801 dan terendah pada habitat teresterial dengan nilai e = 0,661. Nilai e dikatakan semakin merata apabila mendekati 1 dan dikatakan tidak merata jika mendekati 0. Indeks Kesamaan Jenis Nilai indeks kesamaan jenis Reptil ordo Squamata di kawasan Hutan Lindung Gunung Semahung yaitu habitat akuatik dan teresterial diperoleh nilai S=0,4. Artinya kurang lebih 40% jenis Reptil ordo Squamata dikedua habitat tersebut adalah sama dan 60% jenis Reptil ordo Squamata dikedua habitat tersebut tidak sama. Hal ini disebabkan karena kedua habitat mempunyai ketinggian yang tidak sama. Letak geografis dapat menentukan jumlah jenis penghuninya (Alikodra, 2002 dalam Darmawan, 2008). Peluang Perjumpaan Peluang perjumpaan terbesar dimiliki oleh jenis Eutropis rudis sebesar 0,486 individu/jam, jenis ini paling banyak dijumpai di habitat teresterial. Jenis lain dengan peluang perjumpaan terbesar kedua Tropidophorus beccarii sebesar 0,292 individu/jam, jenis ini termasuk jenis yang spesialis karena hanya ada di habitat akuatik. Reptil ordo Squamata biasanya menggunakan berbagai mikrohabitat dan substrat sehingga sesuai kemampuannya tersebut dikelompokan 34

lagi dalam habitat spesialists dan nonspesialists (Mistar, 2003). Setiap jenis mempunyai peluang yang sama dalam setiap perjumpaanya. Selain mengetahui kebiasaan hidupnya, penting juga memprediksikan jenis yang dijumpai berdasarkan makro habitatnya yaitu akuatik, teresterial, fossorial atau arboreal (Mistar, 2003). PENUTUP Kesimpulan Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan Keanekaragaman Jenis reptil ordo Squamata di kawasan Hutan Lindung Gunung Semahung termasuk rendah, dan untuk nilai Indeks Keanekaragaman tertinggi terdapat di habitat akuatik dengan nilai H =0,765 dan terendah terdapat pada habitat teresterial sebesar H =0,631. Saran Perlu dilakukan pengelolaan dan perlindungan terhadap jenis reptil ordo Squamata untuk tetap menjaga kelestariannya. Studi lanjutan mengenai keanekaragaman jenis reptil ordo Squamata dikawasan hutan lindung gunung semahung perlu dilakukan karena kemungkinan ditemukan jenis-jenis baru melihat ekosistem hutan lindung gunung semahung masih sangat baik. DAFTAR PUSTAKA Darmawan B. 2008. Keanekaragaman Amfibi di berbagai Tipe Habitat; Studi Kasus di Eks-HPTI PT. Rimba Karya Indah Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Skripsi Fakultas Kehutanan Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Heyer WR, Donnelly MA, McDiarmid RV, Hayek LA & Foster MS.(eds). 1994. Measuring and Monitoring Biological Diversity. Standar Methods for Amphibians. Smithsonian Institution Press, Washington DC. Kusrini, M.D. 2009. Pedoman Penelitian dan Survei Amfibi di Alam. Fakultas Kehutanan IPB, Bogor. Kusrini MD, Endarwin W, UI-Hasanah A, Yazid M. 2007. Metode Pengamatan Herpetofauna di Taman Nasional Batimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Modul Pelatihan. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB, Bogor. Magurran AE. 1988. Ecological Diversity and Its Measurement. New Jersey: Princeton University Press. Mistar. 2003. Panduan Lapangan Amfibi Kawasan Ekosistem Leuser. Perpustakaan Nasional. Jakarta. Rhett A. Butler. 2008. Borneo: Profil Lingkungan. (On-line) http://world. mongabay.com/ indonesian/borneo. html diakses 2 Sept 2013. WWF Indonesia. 2007. Kehutanan. (Online) http://www.wwf.or.id/ tentang_wwf/upaya_kami/forest_ spesies/tentang_forest_spesies/ke hutanan/ diakses 21 Okt 2013. 35