Standar Praktik Fisioterapi

dokumen-dokumen yang mirip
PANDUAN PELAKSANAAN MANAJER PELAYANAN PASIEN RUMAH SAKIT (HOSPITAL CASE MANAGER)

ETIKA KEPERAWATAN YUNIAR MANSYE SOELI

PEDOMAN MANAJER PELAYANAN PASIEN RUMAH SAKIT (CASE MANAGER)

Perawat adalah seseorang yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan kewenangan untuk memberikan asuhan keperawatan pada orang lain berdasarkan ilmu

STANDAR PRAKTIK FISIOTERAPI

Etika Profesional Komputer

SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK PURI BETIK HATI NOMOR: 070/KEP/DIR/RSIA-PBH/IX/2015

HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN, PERAWAT, RUMAH SAKIT DASAR HUKUM

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT BERSALIN ASIH NOMOR : 096/SK-Dir/RSB-A/II/2016

STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Katalog dalam terbitan. Departemen Kesehatan Rl Indonesia. Departemen Kesehatan. Direktorat Jederal

PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN. Yang bertandatangan dibawah ini saya Mamik Setyaningrum mahasiswi program

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS

KONSEP-KONSEP PENTING KESETARAAN DI TEMPAT KERJA. - Sustaining Competitive and Responsible Enterprises

Manajemen Asuhan Keperawatan. RAHMAD GURUSINGA, Ns., M.Kep.-

PANDUAN PENOLAKAN PELAYANAN ATAU PENGOBATAN RSIA NUN SURABAYA 1. LATAR BELAKANG

2. Konsep dan prinsip

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. adalah proses komunikasi interprofesional dan pembuatan keputusan yang

BAB 6 ETIKA DAN METODA PENELITIAN DALAM PENDIDIKAN

R-188 REKOMENDASI AGEN PENEMPATAN KERJA SWASTA, 1997

PEMERINTAH KOTA PAYAKUMBUH PUSKESMAS LAMPASI. KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS LAMPASI NO. 445/ /SK-C/Pusk-LPS/I/2016

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH HAJI MAKASSAR

Kode Etik Bisnis Pemasok Smiths

PEDOMAN PELAYANAN KEDOKTERAN DAN KEPERAWATAN

2. Pertanyaan Mengenai Persepsi terhadap Kode Etik Akuntan

A. Definisi Etika Penelitian B. Prinsip Prinsip Etika Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. keadaan secara objektif (Setiadi, 2013). Deskripsi peristiwa dilakukan secara

Prinsip Tempat Kerja yang Saling Menghormati

Administrative Policy Bahasa Indonesian translation from English original

BAB II TINJAUAN TEORITIS

U/ meningkatkan hak pasien di rs, harus dimulai dgn mendefinisikan hak tersebut, kemudian mendidik pasien dan staf tentang hak tersebut.

Menjalankan Nilai-Nilai Kami, Setiap Hari

SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR Nomor:000/SK/RSMH/I/2016

Standar Perilaku Supplier Accenture Standar Perilaku Supplier

Lampiran 6 LEMBAR PERSETUJUAN

KODE ETIK PT DUTA INTIDAYA, TBK.

PANDUAN PELAYANAN PASIEN DENGAN ALAT PENGIKAT (RESTRAINT) RUMAH SAKIT UMUM BUNDA THAMRIN MEDAN

PERATURAN INTERNAL STAF MEDIS KLINIK PRATAMA TABITA PENDAHULUAN

2017, No tentang Kode Etik Pegawai Badan Keamanan Laut; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembara

BAB III METODE PENELITIAN

1. Mempraktikkan kesadaran budaya dalam praktikkerja. 2. Menerima keragaman budaya sebagai dasar hubungan kerja profesional yang efektif

Hubungan Kemitraan Antara Pasien dan Dokter. Indah Suksmaningsih Konsil Kedokteran Indonesia (KKI)

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan

1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN. tentang diagnosa, melakukan kerjasama dalam asuhan kesehatan, saling

I.Pengertian II. Tujuan III. Ruang Lingkup IV. Prinsip

PERTEMUAN 10 ETIKA PENELITIAN

TUGAS INDIVIDU MONITORING DAN EVALUASI KINERJA

Dokumen yang dibutuhkan 1. Data Cakupan

PERAN PERAWAT HOME CARE. Disampaikan oleh Djati Santosa.

BAB 1 PENDAHULUAN. kebutuhan yang terus meningkat dari pasien. Berbagai permasalahan bertambah

SURAT KEPUTUSAN PEMIMPIN BLUD RSUD PROVINSI KEPULAUAN RIAU TANJUNGPINANG NOMOR : / SK-RSUD PROV / X / 2016 T E N T A N G

PIAGAM PEMBELIAN BERKELANJUTAN

Harkristuti Harkrisnowo KepalaBPSDM Kementerian Hukum & HAM PUSANEV_BPHN

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa. sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR M.HH-16.KP TAHUN 2011 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI PEMASYARAKATAN

2011, No Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas

BAB I PENDAHULUAN. yang memproses penyembuhan pasien agar menjadi sehat seperti sediakala.

SEKSI 100 A. PRINSIP-PRINSIP DASAR ETIKA PROFESI

PERAN DAN FUNGSI PERAWAT GAWAT DARURAT

GOOD MEDICAL PRACTICE

PANDUAN PENILAIAN KINERJA STAF MEDIS RUMAH SAKIT QIM

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia Nomer 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, menyebutkan bahwa kesehatan merupakan hak asasi setiap manusia dan

KASYFI HARTATI Disampaikan pada ASM 2014

- 1 - PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PELAYANAN BAGI PENYANDANG DISABILITAS

APLIKASI SIKAP PROFESIONAL TENAGA GIZI DI BIDANG ASUHAN GIZI DAN DIETETIC. Miranti Gutawa Sumapradja RSUP dr Hasan Sadikin Bandung

PANDUAN HAK PASIEN DAN KELUARGA RS X TAHUN 2015 JL.

15B. Catatan Sementara NASKAH REKOMENDASI TENTANG PEKERJAAN YANG LAYAK BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA. Konferensi Perburuhan Internasional

PANDUAN INFORMED CONSENT

Universitas Indonesia

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI BADAN NARKOTIKA NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Komunikasi Dokter dengan Sejawat Pertumbuhan pengetahuan ilmiah yang berkembang pesat disertai aplikasi klinisnya membuat pengobatan menjadi

DIMENSI ETIK DALAM PERAN BIDAN. OLEH HJ. DJUMIATI, SKM, MKes

ETIKA PENELITIAN. Metode Penelitian Kuantitatif Bidang Kesmavet

Panduan Identifikasi Pasien

KUESIONER PENELITIAN. Nomor Responden :... Tanggal : Nama Responden :... Ruang : Perempuan. 2. DIII Keperawatan 3. SPK. 2.

R201 Rekomendasi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Rangga, 2011

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB I DEFINISI A. DEFINISI

BAB II ISI A. Pengertian

Contoh Panduan KORPS MARINIR RUMKITAL MARINIR CILANDAK PANDUAN. RUMKITAL MARINIR CILANDAK JAKARTA 2016 DAFTAR ISI

PT. AR. MUHAMAD RUMAH SAKIT AR. BUNDA JL. ANGKATAN 45 KEL. GUNUNG IBUL TELP. (0713) FAX. (0713) PRABUMULIH SUM - SEL 31121

LAMPIRAN PERATURAN DIREKTUR RS (...) NOMOR :002/RSTAB/PER-DIR/VII/2017 TENTANG PANDUAN EVALUASI STAF MEDIS DOKTER BAB I DEFINISI

PT INDO KORDSA Tbk. PIAGAM AUDIT INTERNAL

ETHICS, MULTICULTURAL COMPETENCE, AND WELLNESS LIA AULIA FACHRIAL, M.SI

KODE ETIK PSIKOLOGI. Mistety Oktaviana, M.Psi., Psikolog. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi PSIKOLOGI.

PERAN PERAWAT DALAM PELAKSANAAN DIET PASIEN

KODE ETIK GLOBAL PERFORMANCE OPTICS

Prinsip Dasar Peran Pengacara

KONSEP UMUM MANAJEMEN. Sumijatun September 2008

LAMPIRAN 1 INSTRUMEN PENELITIAN

PERATURAN LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG KODE ETIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Stop Eksploitasi pada Pekerja kelapa sawit. Panduan untuk kebun

LAMPIRAN 1 INSTRUMEN PENELITIAN

Dari uraian diatas kelompok merasa tertarik untuk menguraikan konsep penanganan masalah bioetik disertai dngan studi kasus. B.

GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR: 30 TAHUN 2017 TENTANG

Pedoman Pelaksanaan Persetujuan Tindakan Kedokteran (Informed Consent)

Transkripsi:

Standar Praktik Fisioterapi Standard of Physiotherapy Practice Dalam pelayanan jasa fisioterapi akan memiliki ruang abu-abu antara individu fisioterapis lainnya. Untuk mencegah hal tersebut perlu adanya standar yang membentuk karakter dan aura lingkungan kerja yang sama antar fsioterapis dan staf lainnya. Maka dari itu standar ini menjadi acuan layanan ARA Physiotherapy yang harus dipahami dan dipraktikkan dengan baik. 20 September 2015

PENGANTAR Apa saja standar praktik fisioterapi di ARA Physiotherapy? Standar layanan ARA Physiotherapy mengacu pada Permenkes 80 tahun 2013 tentang penyelenggaraan pekerjaan dan praktik fisioterapis. Standar ini memudahkan kita untuk bekerja sebagai fisoterapis di ARA Physioterapy agar dapat memberikan layanan yang baik kepada pasien dan rekan kerja, memiliki kualitas tinggi, da mampu meningkatkan standar layanan di kemudian hari. Ada tiga kategori standar layanan ARA Physiotherapy, sebagai berikut: Hak dan kebutuhan pasien Lingkungan praktik Kualitas fisioterapis Mengapa standar ARA Physiotherapy sangat diperlukan? Standar ARA Physiotherapy menjadi dasar layanan klinis dan operasional praktik agar menjadikan fisioterapis yang berpengalaman dan memiliki profesionalitas yang tinggi. Ditujukan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas penanganan muskuloskeletal dan cedera olahraga di ARA Physiotherapy. Saran dan Kritik Klien (Feedback Client) Saran dan kritik atau komplain dari pasien sangat dibutuhkan oleh ARA physiotherapy. Hal ini menjadi tolak ukur keberhasilan dan kepercayaan ARA Physiotherapy terhadap publik. Selain itu pula, kualitas layanan ARA Physiotherapy diuji langsung oleh publik baik dari segi fasilitas dan kuaitas resource yang dimiliki. Tidak hanya terhadap publik, melainkan juga kepada stakeholder ARA Physiotherapy yang membantu dalam proses pendirian. Bagaimana standar praktik fisioterapis dapat distandarisasikan? Seperti kita ketahui bahwa kemampuan masingmasing fisioterapis berbeda baik dari segi keahlian, komunikasi, semangat, dan sisi keamanan pasien. Hal tersebut justru memicu semangat ARA Physiotherapy untuk menciptakan fisioterapis yang memiliki standar kualitas yang sama dengan lingkungan kerja yang memadai bagi fisioterapis. Standar praktik ini ditujukan agar klien dapat merasakan kualitas yang sama pada masing-masing fisioterapis. Apa tolak ukur fisioterapis agar memiliki standar yang sama? Untuk mencapai kualitas yang sama antara individu fisioterapis. ARA Physiotherapy memasukkan nilainilai paraktik fisioterapi dalam jobdesk masingmasing fisioterapi. Penilaian akan diberikan oleh tim independen secara blinded tanpa diketahui siapa yang menilai. Emudian akan di evaluasikan oleh manajemen dan kepada fisioterapis. Abdurrasyid, SSt. Ft, M. Fis Direktur ARA Physiotheraapy

1. Hak dan Kebutuhan Pasien 1.1 Menghormati hak dan martabat pasien Klien menerima layanan dengan rasa hormat dan tidak diskriminasi atas dasar usia, jenis kelamin, etnis, keyakinan, preferensi seksual atau status kesehatan. Menghormati Pasien/Klien Klien memiliki hak untuk diperlakukan dengan cara menghormati idividualitas mereka. Baik klien, keluarga dan pengasuh harus diperlakukan dengan sopan dari segi komunikasi, pemeriksaan, dan penanganan Dalam praktik, fisioterapis harus memberikan pertimbangan khusus atas hubungan yang terjalin antara klien dengan fisioterapis saat proses penanganan berlangsung. Hal tersebut dapat ditunjukkan salah satunya dengan rasa hormat terhadap jadwal penanganan (appointment) yang telah dijanjikan keduanya, dan persetujuan pasien terhadap program yang akan dilakukan. Staf fisioterapis harus memiliki kemampuan interperssonal yang baik untuk bekerja dengan klien dan keluarganya dengan rasa hormat. Tanggung jawab pasien/klien Untuk mendapatkan hasil terbaik dalam program fisioterapi, fisioterais perlu berbagi informasi secara terbuka terkait dengan permasalahan yang dialami pasien/klien. Klien juga memperlakukan fisoterapis dengan hormat terkait dnegaan jadwal & biaya penanganan yang telah ditentukan dan mengkomunikasikan yang diperlukan, harapan fisioterapis terhadap pemulihan klien. Anti Diskriminasi Tidak boleh meghina, berprasangka, berpernyataan yang merugikan pasien. Hak Pasien/klien Pasien memiliki hak untuk mengetahui kualifikasi fisioterapis yang akan menangani mereka. Baik memilih, menolak dan mencari pendapat fisioterapis lain. Fisioterapis harus mencatat informasi dan menjelaskan kepada pasien terkait dengan penanganan yang akan mereka terima. Hak Fisioterapis Fisioterapis berhak menolak pasien dengan alasan yang dapat diterima akal dan tidak diskriminatif. Serta berhak menghentikan penanganan jika klien berperilaku mengancam kekerasan atau tindakan pelecehan seksual. Atau bisa saja disebabkan oleh gangguan dari penanganan yang sedang diberikan. Informasi Klien/Pasien Dalam melakukan praktik, fisioterapis harus membuatkan informasi tertulis baik hasil pemeriksaan, penanganan dan evaluasi. Hal ini ditujukan untuk dapat memberikan penjelasan/argumen pada komplain yag dihadapi, memberikan pendapat terbaik, dan menghentikan penanganan. Berkomunikasi Dengan Klien dan Kolega Fisioterapis harus mampu berkomunikasi dengan klien/pasien ke segala usia dan tingkatan. Komunikasi merupakan faktor terpenting dalam menyalurkan kualitas layanan ARA Physiotherapy. Sesama fsisioterapis harus mampu berkomunikasi ilmiah dan memberikan pendapat terbaik untuk kemajuan pribadi dan ARA Physiotherapy. Fisioterapis dilarang mendiskriminasikan pasien baik dari segi usia, jenis kelamin, etnis, keyakinan, dan status kesehatan.

1.2 Kerahasiaan (Privacy) Klien/pasien memiliki hak untuk menjaga privasi individual mereka baik pribadi dan kondisi kesehatan. Kebijakan ini harus diterapkan seluruh staf ARA Physiotherapy. Mengidentifikasi kebutuhan privasi klien/pasien Setiap klien sangat memiliki kepribadian yang unik dari segi kesopanan, keakraban dan tata cara penanganan. Sebagai contoh klien orang tua yang memiliki problem muskuloskeletal berbeda dengan atlit muda yang mengalami cedera olahraga dan atlit yang memiliki antusias tinggi terhadap dirinya dan ada juga atlit yang memiliki pengalaman cedera yang buruk. Dalam hal ini staf ARA Physiotherapy tidak boleh stereotipe dan mengeneralisasikan seluruh pasien. Pandangan Visual Jika pasien perlu membuka pakaian untuk intervensi tertentu, fisioterapis harus menjelaskannya terebih dahulu alasan harus melepaskan baju. Fisioterapis harus menyediakan ruangan tertutup atau pakaian khusus jika diperlukan. Hal ini ditujukan untuk menjaga martabat klien. Seluruh pejelasan dan persetujuan harus terdokumentasi dan ditandatangani oleh pasien yang menyatakan setuju untuk dilakukan penanganan berdasarkan intruksi fisioterapis. Jika penanganan ini bagian dari penelitian, fisioterapis dan klien harus saling menyetujui ketentuan yang akan diberikan dan resiko yang mugkin akan didapati. 1.4 Layanan berpusat pada pasien (Client centred care) Klien harus mendapatkan penanganaan yang sudah terencana oleh fisioterapis dan disetujui oleh klien. Pencapaian hasil akhir proram ini harus dikomunikasikan dan klien berperan aktif dalam melakukan proram. Fisioterapis tidak boleh memberikan program pasif. Fisioterapis juga perlu mengetahui harapan akhir dari pasien terhadap hasil akhir penanganan yang akan diberikan. Fisioterapis dan klien harus memiliki harapan yang sama dan satu tujuan (visi). Fisioterapis perlu membentuk kolaborasi dengan pasien agar goal program tercapai dengan baik. Baik dari segi peningkatan fungsional dan partisipasi pasien terhadap olahraga dan lingkungannya. Jika pasien memerlukan bantuan fisioterapis, mintalah fisioterapis yang berjenis kelamin sama, jika tidak ada, temani dengan orang ketiga. Privasi Suara Ada beberapa pasien yang tidak ingin di dengarkan orang lain saat berkonsultasi atau diskussi dengan fisioterapis. Fisioterapis harus meyediakan ruangan khusus untuk berdiskusi. 1.3 Penjelasan dan Persetujuan (Informed Consent) Fisioterapis harus menjelaskan hasil pemeriksaan dan rencana penanganan. Selain itu pasien juga perlu memahami resiko dan manfaat dari program tersebut.

2. Lingkungan Kerja 2.1 Fasilitas Peralatan Seluruh staf ARA Physiotherapy diwajibkan untuk merawat peralatan dan fasilitas lainnya. Hal ini ditujukan untuk meminimalisir kerusakan alat yang akan berdampak menurunnya kualitas pelayanan ARA Phsiotherapy. Kebersihan Seluruh staf ARA Physiotherapy diwajibkan untuk menjaga kebersihan lingkungan kerja baik dari sampah dan debu yang melekat pada fasilitas ARA Physiotherapy. Hal ini akan mengganggu aura dan semangat pasien serta fisioterapis saat bekerja. Alat Listrik Seluruh staf ARA Physiotherapy wajib menjaga peralatan yang menggunakan listrik dan merawat sumber listrik untuk mencegah terjadinya kebakaran. Jika hal ini terjadi akan mengganggu kinerja ARA Physotherapy dan layanan kepada pasien. 2.2 Semangat Positif Seluruh staf ARA Physiotherapy harus membentuk aura positif baik kepada klien maupun kolega. Hal ini bertujuan agar pergerakan ARA Physiotherapy berjalan dengan cepat dan mengurangi konfilk internal. Semangat positif ini akan memberikan dampak pemulihan terhadap pasien yang sedang mengikuti program fisioterapis. Fisioterapis yang sedang menangani pasien harus mampu berkomunikasi positif dan memotivasi pasien. 3. Kualitas Fisioterapis 3.1 Praktik Klinis Protokol dan Evidence Base Practice Fisioterapis di ARA Physiotherapy harus memiliki kemampuan pemeriksaan, penanganan, dan evaluasi yang sangat baik. Selain kemampuan dasar tersebut, fisioterapis harus mampu menggunakan protokol yang telah disusun ARA Physiotherapy sebagai panduan penanganan dan harus mampu mencari danmenggunakan panduan tambahan melalui jurnal dan publikasi online lainnya. Adapun jurnal tersebut : Cochrane Databe PEDro British Journal Sport Medicine(BJSM) Journal of Sport Physcal Therapy (JOSPT) dan lain-lain Melalui pencarian jurnal online tersebut diharapkan fisioterapis mampu mengkombinasikan protokol dengan hasi penelitian. 3.2 Tolak ukur (Outcome Measures) Sebagai fisioterapis profesional harus bisa mengukur dan membaca data hasil pengukuran. Hal ini ditujukan untuk mengambil keputusan berlanjut atau tidaknya program fisioterapi dna berhasil atau tidaknya program fisioterapi. Pengukuran harus dilakukan dengan sistematis, baik dari segi anatomi, fungsi, dan partisipasi. Serta menggunakan alat ukur yang relaibilitas, validitas, dan sesntifitas baik. 3.3 Pengaturan waktu Fisioterapis harus mampu mengatur jam perjanjian pasien dan memastikan mereka datang tepat waktu dan selesai tepat waktu pula. Adapun waktu maksimal yang diberikan ARA Physiotherapy untuk 1 pasien selama 2 jam dan waktu minimum 1 jam. Jika ingin menangani pasien dalam waktu bersamaan, usahakan diberikan perbedaan waktu 15-30 menit.

Sumber Pustaka Australian Physiotherapy Association (APA). 2011. Standards for Physiotherapy Practices 8 th edition. Australia. APA. Permenkes 80. 2013. Penyelenggaraan Pekerjaan. dan Praktik Fisioterapis. Jakarta. Menteri Kesehatan Reublik Indonesia.