MODUL MENINGIOMA SUPRATENTORIAL 1. DEFINISI Meningioma adalah tumor meningen di susunan saraf pusat yang berasal dari neuroektoderm, yaitu muncul dari sel-sel meningoendotelial yang banyak terkonsentrasi di vili arachnoid. Ini menjadi alasan timbulnya meningioma di sekitar sinus dural. Pertumbuhannya lamban dan umumnya benigna. 2. WAKTU PENDIDIKAN TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM MAGISTER (beban dihitung dengan SKS) >=40SKS Program Magister Neurologi Tesis Program Profesi Bedah Saraf Pogram Bedah Dasar Program Bedah Saraf PROGRAM Dasar KEPROFESIAN (beban dihitung berdasarkan kompetensi) GOLONGAN PENYAKIT & LOKALISASI KONGENITAL ICD 10 - Bab XVII INFEKSI ICD 10 - Bab I Kranial Spinal Kranium NEOPLASMA ICD 10 - Bab II Supratentorial Infratentorial Spinal Saraf Tepi TRAUMA ICD 10 - Bab XIX DEGENERASI ICD 10 - Bab VI & XIII VASKULER ICD 10 - Bab IX FUNGSIONAL ICD 10 - Bab VI & XXI Kranial Spinal Saraf Tepi Spinal Saraf Tepi Intrakranial Spinal Pendidikan spesialisasi bedah saraf terdiri dari 3 tahap, yaitu : 1. Tahap Pengayaan (tahap I): 1
a. Lama pendidikan 5 semester yaitu semester 1 sampai semester 5, peserta didik diberi ilmu-ilmu dasar maupun bedah saraf dasar. Dalam tahap ini dapat dipergunakan untuk mengambil program magister. b. Peserta didik dalam tahap ini disebut Residen I, yaitu di akhir masa pendidikan tahap I residen baru mencapai Kompetensi tingkat I. Residen sudah harus mengenal kelainan bedah saraf, khususnya semua jenis neoplasma dan 10 jenis kasus penyakit terbanyak. 2. Tahap Magang (tahap II) : a. Lama pendidikan 4 semester, yaitu dari semester 6 s/d 9. Peserta didik mulai dilatih melakukan tindakan bedah saraf. b. Peserta didik dalam tahap ini disebut Residen II, yaitu di akhir masa pendidikan tahap II residen telah mencapai Kompetensi tingkat II. Residen sudah harus mampu menangani secara mandiri kasus-kasus meningioma supratentorial, minimal 4 kasus. 3. Tahap Mandiri (tahap III) : a. Lama pendidikan 2 semester, yaitu dari semester 10 s/d 11. Peserta didik menyelesaikan pendidikan sampai kompetensi bedah saraf dasar. b. Peserta didik dalam tahap ini disebut Residen III, yaitu di akhir masa pendidikan tahap III residen telah mencapai kompetensi tingkat III. Residen sudah harus mampu menangani kasus meningioma supratentorial yang tergolong kompetensi bedah saraf dasar, minimal 4 kasus. Kompetensi bedah saraf dasar : 1. Semua jenis penyakit yang diajarkan dalam masa pendidikan sampai mencapai tingkat mandiri (residen boleh mengerjakan operasi sendiri, dengan tetap dalam pengawasan konsulen) 2. Teknik operasi yang diajarkan sebagai target akhir pendidikan adalah terbatas pada tindakan operasi konvensional yang termasuk dalam Indeks Kesulitan 1 dan 2; teknik operasi sulit yang membutuhkan kemampuan motoris lebih tinggi dan/ataupun membutuhkan alat-alat operasi canggih, termasuk dalam Indeks Kesulitan 3 dan 4, diajarkan hanya maksimal sampai tingkat magang. Tindakan operasi dalam kelompok ini merupakan kelanjutan pendidikan yang masuk dalam CPD. JENIS PENYAKIT ICD 10 TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 G M G M G P NEOPLASMA Kranium Granuloma eosinofilik D 76.0 3 5 Plasmositoma C 90.2 Osteoma D 16 Fibrous dysplasia M 85.0 Hamartoma Q 85.9 Tumor metastatik C 79.5 2 2 Neurofibrosarkoma /osteosarkoma C41.0 Supratentorial Glioma C 71.9 Glioma simpel 3 3 Glioma kompleks 3 3 Ependimoma M 93.92 2 IK 1 IK 2 IK 3 IK 4 2
JENIS PENYAKIT ICD 10 TAHAP I TAHAP II TAHAP III IK 1 IK 2 IK 3 IK 4 Pleksus papiloma C 71.9 2 Meningioma (simpel) C 70 4 4 Meningioma (kompleks) 3 Pituitary adenoma /t. sella (simpel) D 26.7 Pituitary adenoma/t. sella (kompleks) 2 Kraniofaringioma D.35.3 2 Pinealoma /t. korpus pineal C 75.3, D 35.4 2 Tumor metastatik (simpel) C 79.5 2 1 Tumor metastatik (kompleks) C 79.5 2 Angioma (simpel) D 18.0 2 1 Angioma (kompleks) D 18.0 2 Infratentorial Glioma Simpel C 71.9 2 1 Kompleks C 71.9 2 Acoustic neuroma D 33.3 2 Meningioma (simpel) C 70 2 2 Meningioma (kompleks) C 70 2 Medulloblastoma C 71.6 2 Kolesteatoma H 71 1 Ependimoma M 9392, C 71.9 1 Pleksus papiloma C 71.9 1 Angioma (simpel) D.18.5 2 1 Angioma (kompleks) D 18.5 2 Tumor Spinal... Glioma D 33.4 2 Meningioma D 32.1 2 1 Ependimoma D 33.4 2 Schwannoma D 36.1 2 2 Angioma D 18.5 1 Tumor Saraf Tepi... Schwannoma D 36.1 1 1 KETERANGAN Tingkat Pengayaan. Dalam periode ini, tingkat kognisi harus dapat mencapai 6 (K6) Tingkap Magang. Dalam periode ini, di samping K6, Psikomotor harus mencapai 2 (P2) dan Afektif mencapai 3 (A3) Tingkat Mandiri. Semua Kategori Bloom harus mencapai maksimal, K6, P5, A5 S : Semester G : Magang M : Mandiri K : Kognitif : A : Afektif P : Psikomotor 3 2 3. TUJUAN UMUM Setelah menyelesaikan modul meningioma supratentorial peserta didik diharapkan mampu mengenali meningioma supratentorial, mampu mengobati meningioma supratentorial yang diajarkan sampai level mandiri serta mampu mengatasi kegawatan akut meningioma supratentorial. 4. TUJUAN KHUSUS 1. Mampu menerangkan insidens, patogenesis, dan mikrobiologi dari meningioma supratentorial. 2. Mengetahui neuroanatomi, dan neurofisiologi susunan saraf dan pembungkusnya. 3
3. Mengetahui dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi, patologi dan mikrobiologi) dalam menegakkan diagnosis meningioma supratentorial. 4. Mengetahui pengobatan pada berbagai jenis meningioma supratentorial. 5. Mampu menentukan perubahan neurofisiologi yang disebabkan oleh meningioma supratentorial. 6. Mampu menentukan lokasi meningioma supratentorial. 7. Mampu melakukan pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan diagnosis meningioma supratentorial. 8. Mampu menegakkan diagnosis banding dari meningioma supratentorial. 9. Mampu melakukan pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dalam menegakkan diagnosis meningioma supratentorial. 10. Mampu melakukan pengobatan medikamentosa pada meningioma supratentorial. 11. Mampu melakukan tindakan operasi pada meningioma supratentorial. 12. Mampu melakukan tindakan pertolongan pertama pada kasus kegawatan akut meningioma supratentorial. 13. Mengenali penyulit tindakan bedah pada kasus meningioma supratentorial. 14. Mengetahui tindak lanjut yang diperlukan 15. Mampu memberi informed consent 5. STRATEGI PEMBELAJARAN a Pengajaran dan Kuliah Pengantar Kuliah tatap muka, 50 menit b Tinjauan Pustaka Presentasi ilmu dasar: 1 kali tiap submodul penyakit Telaah kepustakaan, 1 kali Presentasi kasus: 1 kali tiap jenis submodul penyakit Presentasi kasus, 1 kali b Diskusi Kelompok d e 2 x 50 menit diskusi kasus tiap submodul penyakit menyangkut diagnosis, operasi dan penyulit Bed-side Teaching Bed-side teaching minimum 3 kali setiap submodul penyakit Bimbingan Operasi Operasi magang Diskusi kasus, 2 x 50 menit Ronde diikuti bed-side teaching memenuhi minimal 4 kasus meningioma supratentorial sebagai prasyarat untuk instruksi/evaluasi operasi sampai dinyatakan lulus Operasi mandiri melakukan operasi mendiri minimal 4 kasus meningioma supratentorial sebagai prasyarat untuk maju ke ujian kompetensi tingkat nasional 4
6. PERSIAPAN SESI 1. Materi kuliah pengantar berupa kisi-kisi materi yang harus dipelajari dalam mencapai kompetensi, mencakup a. Insidens, patogenesis, dan sitogenesis meningioma supratentorial b. Neuroanatomi, dan neurofisiologisusunan saraf dan pembungkusnya. c. Dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dan patologi anatomi dalam menegakkan meningioma supratentorial d. Pengobatan berbagai jenis meningioma supratentorial e. pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan diagnosis meningioma supratentorial f. Diagnosis banding meningioma supratentorial g. Pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dalam menegakkan meningioma supratentorial h. Pengobatan medikamentosa meningioma supratentorial i. Tindakan operasi meningioma supratentorial j. Penyulit tindakan bedah pada kasus meningioma supratentorial k. Kegawatdaruratan meningioma supratentorial l. Tindak lanjut yang diperlukan m. Informed consent 2. Audio visual 3. Lampu baca x ray 7. REFERENSI a.osborn AG, Blasser SI, Salzman KL, Katzman GL, Provenzale J, Castillo M, et all. Osborn Diagnostic Imaging. Canada : Amirsys/Elsevier. 1 st ed. 2004 b.wilkins RH, Rengachary SS. Neurosurgery. USA : Mc Graw-Hill. 2 nd Ed. 1996 c. Rengachary SS, Wilkins RH. Principles of Neurosurgery. London : Mosby. 1994 d.winn HR. Youman s Neurological Surgery. 5 th ed. USA : Saunders. 1994 8. KOMPETENSI a. b c JENIS KOMPETENSI Mampu menerangkan insidens, patogenesis, dan sitogenesis meningioma supratentorial Mengetahui neuroanatomi, dan neurofisiologi susunan saraf dan pembungkusnya. Mengetahui dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dan patologi anatomi dalam menegakkan meningioma supratentorial d Mengetahui pengobatan berbagai jenis meningioma supratentorial 6 e Mampu menentukan perubahan neurofisiologi karena meningioma supratentorial Tingkat Kompetensi K P A TAHAP 6 P E N 6 G A Y 6 A A N 6 2 3 M A G f Mampu menentukan lokasi meningioma supratentorial 6 2 3 5
g Mampu melakukan pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan diagnosis meningioma supratentorial 6 2 3 h Mampu mengetahui diagnosis banding meningioma supratentorial 6 2 3 i Mampu melakukan tindakan operasi meningioma supratentorial 6 2 3 j k l m Mampu melakukan pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dalam menegakkan meningioma supratentorial Mampu melakukan pengobatan medikamentosa terhadap meningioma supratentorial Mampu mengatasi tindakan pertolongan pertama pada meningioma supratentorial Mengenali penyulit tindakan bedah pada kasus meningioma supratentorial 6 5 5 6 5 5 6 5 5 6 5 5 n Mengetahui tindak lanjut yang diperlukan 6 5 5 o Mampu memberi informed consent 6 5 5 A N G M A N D I R I 9. GAMBARAN UMUM Meningioma adalah tumor meningen di susunan saraf pusat yang berasal dari neuroektoderm, yaitu muncul dari sel-sel meningoendotelial yang banyak terkonsentrasi di vili arachnoid. Hal ini menjelaskan mengapa meningioma timbul disekitar sinus dural. Pertumbuhannya lamban dan umumnya benigna. Insidensnya 10%-15% total tumor otak. Rasio penderita antara pria dan wanita adalah 1 : 2. Timbul pada kelompok usia 40 60 tahun sedangkan penulis lain menyatakan antara sekitar usia 60 70 tahun; puncak insiden pada usia 45 tahun. Umumnya tumor tumbuh soliter tapi dapat pula multiple walaupun persentasinya sangat kecil yaitu 8%. Meningioma multiple sering pada Neurofibromatosis tipe 2. Sudah sejak lama meningioma dikenal sebagai lesi yang dapat diatasi dengan baik melalui operasi. 10. CONTOH KASUS Contoh kasus dibuat sesuai dengan jenis penyakit pada submodul. 11. TUJUAN PEMBELAJARAN Proses, materi dan metode pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana kelainan meningioma supratentorial. 12. METODE Metode Pembelajaran 1. Tinjauan Pustaka 2. Diskusi Kelompok 3. Bed side teaching 4. Tindakan Operasi Mandiri a. Peserta didik harus terlebih dahulu melakukan asistensi operasi (magang) sampai mencapai jumlah yang ditentukan, dan kemudian 6
melakukan instruksi pada spesialis pembimbing. Setelah dinyatakan lulus instruksi, baru diijinkan melakukan operasi mandiri. b. Operasi mandiri oleh asisten harus selalu ada spesialis supervisor yang akan menilai keseluruhan aspek yang harus dilakukan oleh asisten terhadap pasien secara mandiri. c. Residen yang memiliki level tertinggi dalam suatu operasi harus membuat laporan operasi dengan berpedoman pada daftar tilik, selanjutnya konsulen/supervisor operasi ini akan memeriksa laporan operasi sesuai daftar tilik dan memberi nilai berdasarkan kelengkapan yang ditetapkan daam daftar tilik. Metode Diagnostik 1. Pemeriksaan klinis neurologik 2. Alat bantu diagnostik a. Pemeriksaan X ray, b. EMG / EEG c. Alat neuroradiologi lain : CT Scan, MRI, MRS, Angiografi 3. Metode diagnostik yang diajarkan mencakup metode diagnostik konvensional sesuai ketersediaannya di daerah perifer, tidak semata-mata berorientasi pada alat-alat dianostik canggih. 13. RANGKUMAN Meningioma adalah tumor meningen di susunan saraf pusat yang berasal dari neuroektoderm, yaitu muncul dari sel-sel meningoendotelial yang banyak terkonsentrasi di vili arachnoid. Hal ini menjelaskan mengapa meningioma timbul disekitar sinus dural. Pertumbuhannya lamban dan umumnya benigna. Insidensnya 10%-15% total tumor otak. Rasio penderita antara pria dan wanita adalah 1 : 2. Timbul pada kelompok usia 40 60 tahun sedangkan penulis lain menyatakan antara sekitar usia 60 70 tahun; puncak insiden pada usia 45 tahun. Umumnya tumor tumbuh soliter tapi dapat pula multiple walaupun persentasinya sangat kecil yaitu 8%. Meningioma multiple sering pada Neurofibromatosis tipe 2. Sudah sejak lama meningioma dikenal sebagai lesi yang dapat diatasi dengan baik melalui operasi. 14. EVALUASI Organisasi Evaluasi 1. Evaluasi dilaksanakan di IPDS Bedah Saraf 2. Evaluasi dilakukan minimal oleh Pembimbing di IPDS Bedah Saraf 3. Evaluasi untuk peserta PPDS Bedah Saraf dilakukan sbb a. Untuk penguasaan ilmu dasar (pengayaan) dilakukan pada akhir setiap semester b. Kemampuan menegakkan diagnosis c. Untuk penguasaan kasus dan teknis operasi dilakukan pada setiap akan dilakukan tindakan / operasi. 4. Untuk dokter spesialis bedah lain yang akan mengambil modul-modul bedah saraf tertentu untuk kepentingan penigkatan kompetensi dalam program CPD, waktu disesuaikan pada kodisi yang ada dari modul ini, dengan evaluasi dan tahap penguasaan materi yang dievaluasi sama ketentuan yang berlaku. 7
Tahap Evaluasi 5. Evaluasi tahap pengayaan dilakukan setelah peseta didik menyelesaikan aspek kognitif di tahap pengayaan. 6. Evaluasi tahap magang dilakukan setelah peserta didik melakukan sejumlah tindakan operasi Sebagai Asisten I sebagai prasyarat evaluasi sesuai dengan jenis penyakit pada submodul 7. Evaluasi tahap mandiri dilakukan setelah peserta didik melakukan sejumlah tindakan operasi mandiri sebagai prasyarat evaluasi sesuai dengan jenis penyakit pada submodul Metode dan Materi Evaluasi 1. Ujian Tulis dan Lisan 2. Kemampuan menegakkan diagnosis di poliklinik maupun ruang rawat 3. Penilaian kemampuan melakukan tindakan 4. Penilaian kemampuan penanganan penderita secara menyeluruh Hasil Penilaian IPDS 1. Penyelesaian modul harus dapat dicapai dalam kurun waktu yang telah ditetapkan 2. Penilaian disesuaikan dengan kompetensi akhir yang harus dicapai pada setiap sum modul ( pengayaan, magang, mandiri ) 3. Kegagalan dalam 1 aspek harus diulang dalam masa selama stase di Bagian/Departemen Bedah Saraf. 15. INSTRUMEN PENILAIAN 1 Kemampuan informed consent Instruksi & Bimbingan 2 Penilaian Ilmiah a. Teori & Penyakit Diskusi dan Ujian b. Instrument & Penyakit Diskusi dan Ujian 3 Penilaian Kecakapan Poliklinik, Bedside teaching & Kamar Operasi 4 Penilaian Rehabilitasi Instruksi & Bimbingan 16. PENUNTUN BELAJAR 1. Kisi-kisi materi dan buku referensi 2. Kisi-kisi materi Neoplasma susunan saraf : a. Insidens, patogenesis, dan sitogenesis meningioma supratentorial susunan saraf b. Neuroanatomi, dan neurofisiologi susunan saraf dan pembungkusnya. c. Dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi)dan patologi anatomi dalam menegakkan meningioma supratentorial susunan saraf pusat d. Pengobatan berbagai jenis meningioma supratentorial susunan saraf e. Perubahan neurofisiologikarena meningioma supratentorial susunan saraf f. Lokasi meningioma supratentorial susunan saraf g. Pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan diagnosis meningioma supratentorial susunan saraf h. Diagnosis banding meningioma supratentorial susunan saraf 8
i. Pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dalam menegakkan meningioma supratentorial susunan saraf j. Pengobatan medikamentosa meningioma supratentorial susunan saraf k. Tindakan operasi meningioma supratentorial susunan saraf l. Penyulit tindakan bedah pada kasus meningioma supratentorial susunan saraf m. Tindak lanjut yang diperlukan n. Informed consent 17. DAFTAR TILIK RINCIAN DAFTAR TILIK Menentukan indikasi bedah saraf 1 Uraian atau keluhan tentang gejala utama 2 Cara datang (sendiri/rujukan) Kelengkapan riwayat penyakit 1 2 Alasan pertama kali (bila pernah berobat) dan sekarang membawa ke dokter Edit Pengobatan dan tindakan yang pernah diberikan(tempat, waktu, oleh, siapa), serta hasilnya Deskripsi keadaan kulit 1 Bekas luka operasi (bila pernah operasi) dan lokalisasi 2 Daerah yang akan dioperasi Deskripsi kelainan saraf yang dijumpai Pemeriksaan penunjang 1 X-Ray, CT scan, MRI 2 Laboratorium darah Hasil konsultasi persiapan operasi Catatan status gizi Obat-obatan yang masih diberikan Inform consent 1 Kelainan yang dijumpai 2 Apa yang dilakukan, lama perawatan, biaya yang dibutuhkan 3 Peraturan rumah sakit untuk pasien maupun keluarga / penunggu 4 Prognose penyakit dan apa yang perlu dilakukan setelah pulang Surat pengantar rawat inap 1 Lampiran daftar tilik 2 Instruksi untuk perawat 3 Nama konsulen dan asisten ADA TA TL L 9
Admission 1 Kelengkapan administrasi 2 Kelengkapan dokumen sesuai daftar tilik poliklinik * Status poliklinik * Hasil pemeriksaan neuroradiologi * Hasil pemeriksaan laboratorium * Hasil konsultasi persiapan operasi Buat status Medical Record Cek ulang hasil pemeriksaan di poliklinik 1 Riwayat penyakit 2 Deskripsi keadaan kulit 3 Hasil pemeriksaan klinis neurologis 4 Status gizi Buat rencana perawatan 1 Instruksi perawatan dan pengobatan Persiapan Operasi 1 Assesment rencana tindakan, operator dan asisten 2 Persiapan alat 3 Konsul toleransi operasi 4 Buat daftar operasi Pra bedah 1 Konsul anestesi 2 Asisten lapor pada operator 3 Persiapan menjelang operasi * Pasang infuse * Cukur gundul * Cuci daerah yang akan dioperasi dengan sabun * Puasa * Klisma menjelang ke kamar operasi * Cek kelengkapan status * Cek dokumen pendukung * Sediakan alat Kamar operasi 1 Dokumen yang disertakan bersama pasien 2 Keadaan pasien * Terpasang infuse * Cukur gundul 10
3 Persiapan pasien 4 Dilakukan narkose umum 5 Dipasang kateter 6 Posisi pasien diatur sesuai standard 7 Persiapan daerah operasi * Cuci ulang dengan sabun * Dibuat marking * Dilakukan tindakan a dan antiseptik * Dilakukan penyuntikan anestesi lokal 8 Dipasang plat diatermi 9 Persiapan alat Tindakan operasi 1 Memasang Head Frame Dan Navigasi Intra Operatif 2 Insisi kulit kepala 3 Kraniotomi dan drilling tulang 4 Gantung duramater 5 Membuka Duramater 6 Identifikasi tumor 7 Removal Tumor secara makroskopis dan mikroskopis 8 Ambil spesimen tumor untuk pemeriksaan histopatologis 9 Hemostasis 10 Tutup Dura, duraraph, duraplasy 11 Pasang drain bila perlu 12 Fiksasi tulang 13 Jahit otot, Fasia dan kulit 14 Dressing luka 12 Jumlah perdarahan tercatat 13 Jumlah urin tercatat 14 Jumlah kassa yang dipakai tercatat 15 Jumlah dan jenis instrumen sesuai prosedur Pasca Bedah 1 Dokumentasi * Status dan hasil pemeriksaan penunjang dari OK diterima lengkap * Laporan operasi * Laporan Anestesi 11
2 Catatan perawatan * Pemantauan luka operasi * Pemantauan efek samping * Pemantauan KU rutin * Catatan pengobatan Pemulangan 1 Catatan keadaan pasien 2 Inform concernt pada yang merawat 3 Jadwal kontrol dan konsultasi 4 Kelengkapan status dan diagnosis 5 Catatan administrasi & keuangan 18. MATERI BAKU Definisi Meningioma adalah tumor meningen di susunan saraf pusat yang berasal dari neuroektoderm, yaitu muncul dari sel-sel meningoendotelial yang banyak terkonsentrasi di vili arachnoid. Hal ini menjelaskan mengapa meningioma timbul disekitar sinus dural. Pertumbuhannya lamban dan umumnya benigna. Epidemiologi adalah 1 : 2. Timbul pada kelompok usia 40 60 tahun sedangkan penulis lain menyatakan antara sekitar usia 60 70 tahun; puncak insiden pada usia 45 tahun. Umumnya tumor tumbuh soliter tapi dapat pula multiple walaupun persentasinya sangat kecil yaitu 8%. Meningioma multiple sering pada Neurofibromatosis tipe 2. Gejala Klinis Secara umum, karakteristik tumor otak adalah sebagai berikut: 1. Gangguan fungsi mental 2. Nyeri kepala 3. Tekanan intrakranial 4. Kejang 5. Sindrom klinis berdasarkan lokasi GANGGUAN FUNGSI MENTAL Gejala berupa perubahan perilaku sehari-hari seperti emosi yang labil, gangguan inisiatif dan spontanitas, atau apatis. Penderita mengalami penurunan kualitas dan kuantitas pikiran, aksi dan reaksi. Keadaan tersebut dikenal sebagai mental astenia sebagian ahli menyebut dengan istilah psikomotor astenia. NYERI KEPALA DAN TEKANAN TINGGI INTRAKRANIAL Nyeri kepala cendurung persisten dan progresif insensitas dan durasinya. Penderita terbangun dari tidurnya karena nyeri kepala. Nyeri kepala lebih berat pada saat bangun tidur, menghilang beberapa saat setelah duduk atau berdiri. Pada awalnya responsif dengan analgetik ringan hingga lama-lama nyeri kepala makin berat. Nyeri kepala timbul karena tekenan tumor, secara langsung atau tidak langsung, terhadap arteri 12
serebal ( terutama arteri di basis kranii ), sinus venosus, duramater, dan saraf cranial ( terutama nervus trigeminus ). Nyeri kepala yang disertai mual dan muntah adalah akibat tekanan tinggi intrakranial atau karena distorsi area trigger kemoreseptor batang otak di venterikel keempat. Muntah bersifat persisten atau proyektil. Muntah bukan karena gangguan sistem pencernaan. Bila keluhan nyeri kepala dengan mual / muntah juga disertai dengan keluhan dizzinnes, vertigo,penurunan pendengaran dan tinitus, maka proses tekanan tinggi intrakranial sudah menekan pons. Episode paroksismal nyeri kepala merupakan pertanda tekanan tinggi intrakranial yang tidak menyenangkan bagi penderita. Selama episode paroksismal nyeri kepala, nyeri kepala timbul tiba-tiba disertai muntah, visus gelap, dan penurunan kesadaran. Episode ini hanya berlangsung beberapa menit. Dengan semakin meningkatnya tekanan tinggi intakanial, terutama pada anak-anak, maka muncul refleks Cushing, yaitu hipertensi arterial dan bradikardia. KEJANG Kejang yang onsetnya pertama kali pada usia dewasa harus dicurigai sebagai gejala tumor. Yang menimbulkan kejang umumnya terletak di korteks. SINDROM KLINIS BERDASARKAN LOKASI Lobus Frontal. Gejala yang timbul adalah parese wajah dan ekstremitas kontralateral lesi, disfasia motorik ( hamisfer dominan ), gangguan perilaku dan intelektual, frontal ataksia, inkontinensia urin et alvi, demensia, adversif konjugasi kepala dan mata ke arah lesi, munculnya refleks primitif. Lobus parietal. Gejala yang timbul adalah gangguan sensoris ( melokalisir raba, diskriminasi dua titik, gerakan pasif, posisi ), kuadranopia homonim bawah, sindrom Gerstmann di girus angularis hemisfer dominan ( disorientasi kanan - kiri, agnosia jari, akalkulia,agrafia), astereognosia. Pada hemisfer nondominan gejala yang timbul adalah anosognosia, apraksia, grafestesi, apraksia konstruksional. Lobus Temporal. Gejala yang muncul adalah disfasia sensorik, kuandranopia homonim atas, amusia, gangguan belajar dan memori, gangguan perilaku agresif dan antisosial, bangkitan parsial kompleks. Lobus Oksipital. Gejala yang muncul adalah kuadranopia homonim. Meningioma tumbuh di parasagital ( 20, 8 % ), konveksitas otak ( 15,2 %), tuberk ulum sela (12,8%), sphenoidal ridge ( 11,9%), olfactory groove ( 9,8%), falx ( 8 %), ventr i- kel lateral (4,2%), tentorial ( 3,6%), fossa media ( 3 %), orbital ( 1,2%), spinal ( 1,2 % ), intrasylvian (0,3%), ekstrakalvarial ( 0,3 % ), multipel ( 0,9 % ). KARAKTERISTIK KLINIS KHUSUS BERDASARKAN LOKASI Meningioma Parasagital Falx. Hiperostasis sering dijumpai. Tumor dapat mengenai sinus sagitalis dan venae kortikal, konsekuensinya reseksi total tumor sering tidak dapat dilakukan dan kemungkinan rekuren akibat fragmen residual tumor adalah tinggi. Konveksitas Otak. Massa tumor biasanya di sekitar sutura koronal. Sering muncul epilepsi dan gejala fokal. Pengangkatan tumor dapat dilakukan dengan memuaskan. Sphenoid Ridge. Meningioma sphenoid ridge di bagi menjadi dua katagori,yaitu sphenoid ridge bagian luar dan sphenoid ridge bagian dalam. Sphenoid ridge baaian luar ( tipe pterional ) sering berupa meningioma enplaque atau globoid. Gambaran klinis berupa hiperostosis, eksofthalmus unilateral, gangguan gerak bola mata bila tumor mendesak fisura orbita superior. Tumor relatif mudah diangkat. 13
Sphenoid ridge bagian dalam ( tipe klinoidal ) merusak atau menimbulkan hiperostosis pada klinoid anterior atau pada Sphenoid wing. Gambaran klinis berupa gangguan visus unilateral dan atrofi optik primer akibat penekanan nervus optikus, eksoftalmus unilateral, gangguan lapang pandang, dan gangguan gerak bola mata. Penekanan tumor terhadap nervus trigeminal cabang oftalmikus menyebabkan hipestesi regio oftalmika. Pengangkatan tumor sulit karena tumor dapat mengenai arteri karotis interna dengan segala konsekuensi yang mengikutinya. Olfactory Groove. Tumor ini muncul dari regio etmoidal dan kribriform. Klinis yang di timbulkan yaitu hiperostosis, demensia dan anosmia. Penekanan tumor ke nervus optikus dan kiasma optikus menyebabkan gangguan visus. Infrasella. Hemianopia bitemporal asimetris muncul pada awal penyakit, Sulit mempertahankan / mengembalikan penglihatan penderita menjadi nomal kembali karena sulitnya operasi pengangkatan tumor, sebab meningioma infraselar dan nervus optikus sangatlah berdekatan. Perluasan tumor ke hipofise menyebabkan diabetes insipidus. Fossa posterior. Tumor ini tumbuh dari posterior os petrosus, klivus, dibawah tentorium, foramen magnum, cerebelopontine angle atau dari konveksitas hemisfer serebelum. Menginioma foramen magnum menimbulkan gejala sindrom nyeri oksipito servikal dan ganngguan medula spinalis atas. Operasi pengangkatan tumor di fossa posterior sulit di lakukan dan resiko tinggi komplikasi ke nervus cranial dan arteri vertebral. Selama beberapa tahun meningioma fossa posterior tidak menunjukan gejala klinis yang jelas bahkan kadang walaupun tumor sudah membesar dan meluas. Gejala yang muncul yaitu cerebelopontine angle syndrome. 14
Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis dan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan radiologi, angiografi dan biopsi. Pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan antara lain CT Scan dan MRI. Angiografi bertujuan menentukan feeding artery glioma dan melakukan embolisasi sebelum dioperasi. Biopsi bertujuan menentukan histologi dan derajat keganasan meningioma. Tatalaksana Meningioma dapat ditatalaksana dengan modalitas operasi, radiasi dan kemoterapi. Meskipun demikian, operasi masih merupakan terapi definitif untuk meningioma. 19. ALGORITME 20. KEPUSTAKAAN a.osborn AG, Blasser SI, Salzman KL, Katzman GL, Provenzale J, Castillo M, et all. Osborn Diagnostic Imaging. Canada : Amirsys/Elsevier. 1 st ed. 2004 b.wilkins RH, Rengachary SS. Neurosurgery. USA : Mc Graw-Hill. 2 nd Ed. 1996 c. Rengachary SS, Wilkins RH. Principles of Neurosurgery. London : Mosby. 1994 15
d.winn HR. Youman s Neurological Surgery. 5 th ed. USA : Saunders. 1994 21. PRESENTASI Materi presentasi menggunakan materi dalam bentuk Power Point sesuai dengan materi modul meningioma supratentorial. 22. MODEL Model pembelajaran dapat menggunakan diseksi kadaver. 16