BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
ABSTRAK. Kata kunci : WTO (World Trade Organization), Kebijakan Pertanian Indonesia, Kemudahan akses pasar, Liberalisasi, Rezim internasional.

Latar Belakang dan Sejarah Terbentuknya. WORLD TRADE ORGANIZATION (WTO) Bagian Pertama. Fungsi WTO. Tujuan WTO 4/22/2015

BAB I PENDAHULUAN. World Trade Organization (WTO) secara resmi berdiri pada. tanggal 1 Januari 1995 dengan disepakatinya Agreement the World

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sektor pertanian saat ini telah mengalami perubahan

Bab 5 Bisnis Global P E R T E M U A N 5

hambatan sehingga setiap komoditi dapat memiliki kesempatan bersaing yang sama. Pemberian akses pasar untuk produk-produk susu merupakan konsekuensi l

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai salah satu negara yang telah menjadi anggota World Trade

Bab 5 Bisnis Global 10/2/2017 1

MULTILATERAL TRADE (WTO), FREE TRADE AREA DI TINGKAT REGIONAL (AFTA) ATAU FREE TRADE AGREEMENT BILATERAL

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. membuat perubahan dalam segala hal, khususnya dalam hal perdagangan. Era

Isu Prioritas - Standar (SNI)

BAB I PENDAHULUAN. terhadap negara lainnya merupakan salah satu faktor penyebab semakin maraknya

Sambutan oleh: Ibu Shinta Widjaja Kamdani Ketua Komite Tetap Kerjasama Perdagangan Internasional Kadin Indonesia

Bab I Pendahuluan 1. Latar Belakang

Artikel 22 ayat 1, DSU Agreement.

BAHAN KULIAH HUKUM PERNIAGAAN/PERDAGANGAN INTERNASIONAL MATCH DAY 7 WORLD TRADE ORGANIZATION (WTO)

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam memenuhi kebutuhan pangan

RESUME. Liberalisasi produk pertanian komoditas padi dan. biji-bijian nonpadi di Indonesia bermula dari

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. utama yang dilakukan negara untuk menjalin kerjasama perdagangan. Hal ini

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

ERD GANGAN INTERNA INTERN SIONA SION L

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang

BAB III PENUTUP. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakefektifan penyelesaian sengketa

SISTEM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Pengantar Hukum WTO. Peter Van den Bossche, Daniar Natakusumah dan Joseph Wira Koesnaidi 1

MEKANISME PENYELESAIAN SENGKETA PERDAGANGAN INTERNASIONAL MELALUI DISPUTE SETTLEMENT BODY (DSB) WORLD TRADE ORGANIZATION

DAFTAR ISI. Halaman Judul... i. Halaman Persetujuan Pembimbing... ii. Halaman Pengesahan Skripsi... iii. Halaman Pernyataan... iv

I. PENDAHULUAN , , , , ,4 10,13

1 BAB V: PENUTUP. 5.1 Kesimpulan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Tinbergen (1954), integrasi ekonomi merupakan penciptaan struktur

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan internasional. Dalam situasi globalisasi ekonomi, tidak ada satupun

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Liberalisasi perdagangan mulai berkembang dari pemikiran Adam Smith

BAB I PENDAHULUAN. World Trade Organization (WTO) saat ini merupakan satu satunya organisasi

2 masing-masing negara masih berhak untuk menentukan sendiri hambatan bagi negara non anggota. 1 Sebagai negara dalam kawasan Asia Tenggara tentunya p

Key Words: Indications, Practice of Dumping, Laws

PERDAGANGAN INTERNASIONAL DAN INVESTASI

PUSAT KEPATUHAN, KERJASAMA DAN INFORMASI PERKARANTINAAN

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... 1 LEMBAR PENGESAHAN 2 LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN TESIS.. 3 KATA PENGANTAR. 4 ABSTRACK... 7 INTISARI 8 DAFTAR ISI...

PERLINDUNGAN INDUSTRI DALAM NEGERI MELALUI TINDAKAN SAFEGUARD WORLD TRADE ORGANIZATION

BAB I PENDAHULUAN. setiap negara bertujuan agar posisi ekonomi negara tersebut di pasar internasional

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan resiprokal antara dua mitra dagang atau lebih. RTA mencakup

BAB I PENDAHULUAN tahun sebelum Masehi dengan menggunakan transportasi air. 1 Sedangkan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

III KERANGKA PEMIKIRAN

PRINSIP-PRINSIP PERDAGANGAN DUNIA (GATT/WTO)

SEKOLAH PASCASARJANA USU MEDAN 2009

untuk memastikan agar liberalisasi tetap menjamin kesejahteraan sektor swasta. Hasil dari interaksi tersebut adalah rekomendasi sektor swasta yang

ASEAN FREE TRADE AREA (AFTA) Lola Liestiandi & Primadona Dutika B.

Bagian Pertama: PENDEKATAN EKONOMI POLITIK INTERNASIONAL

I. PENDAHULUAN. hambatan lain, yang di masa lalu membatasi perdagangan internasional, akan

BAB 4 PENUTUP. 4.1 Kesimpulan

UNIT PENYEDIA INFORMASI: Direktorat Perundingan Multilateral, Direktorat Perundingan Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan RI

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

MODEL KEPEMIMPINAN DAN PROFIL PEMIMPIN AGRIBISNIS

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB V KESIMPULAN. masyarakat internasional yaitu isu ekonomi perdagangan. Seiring dengan

BAB I PENDAHULUAN. sehingga perdagangan antar negara menjadi berkembang pesat dan tidak hanya

I. PENDAHULUAN. penting dalam perekonomian nasional. Ditinjau dari kontribusinya terhadap

PETUNJUK PELAKSANAAN KERJA SAMA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN LUAR NEGERI

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini perkembangan perekonomian yang sangat pesat telah. mengarah kepada terbentuknya ekonomi global. Ekonomi global mulai

I. PENDAHULUAN. Industri TPT merupakan penyumbang terbesar dalam perolehan devisa

KEBIJAKAN EKONOMI DAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN. 1. Dalam periode September Oktober 2009 terbukti telah terjadi

Conduct dan prosedur penyelesaian sengketa. GATT terbentuk di Geneva pada tahun 1947

Dr Erwidodo Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Badan Litbang Pertanian. Workshop Pra-Konferensi PERHEPI Bogor, 27 Agustus 2014

Pedoman Standardisasi Nasional Nomor 301 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) secara Wajib

87 gugatan terhadap Pasal 2.1 TBT Agreement. Hanya saja, DSB bersikeras menolak untuk memenangkan gugatan kedua Indonesia yakni Pasal 2.2 TBT Agreemen

TUGAS MATA KULIAH HUKUM EKONOMI INTERNASIONAL. Posisi Indonesia dan Perkembangan Perundingan WTO (Doha Development Agenda) APRILIA GAYATRI

HUKUM PERDAGANGAN BEBAS MULTILATERAL Perdagangan Internasional Dan Lingkungan Hidup

UNIVERSITAS INDONESIA

BAB I. A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. 1 Sambutan Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Ahmad Dimyati pada acara ulang tahun

Sessi. Dosen Pembina:

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 102 TAHUN 2000 TENTANG STANDARDISASI NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. Integrasi ekonomi merupakan kebijakan perdagangan internasional yang dilakukan

KAJIAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL DALAM PERSPEKTIF PERDAGANGAN BEBAS REGIONAL DAN GLOBAL

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

MEDIA ECONOMICS Media massa adalah institusi ekonomi yang berkaitan dengan produksi dan penyebab isi media yang ditargetkan pada khalayak atau konsume

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 102 TAHUN 2000 TENTANG STANDARDISASI NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BADAN STANDARDISASI NASIONAL. SNI. Pemberlakuan. Pedoman.

BAB 1 PENDAHULUAN. perdagangan semakin tinggi. Maka dengan ini upaya untuk mengantisipasi hal

II. TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gambar 1. Luasan lahan perkebunan kakao dan jumlah yang menghasilkan (TM) tahun

BAB VI DAMPAK ASEAN PLUS THREE FREE TRADE AREA TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

ekonomi KTSP & K-13 PERDAGANGAN INTERNASIONAL K e l a s A. Konsep Dasar Tujuan Pembelajaran

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Bersamaan dengan adanya globalisasi dunia, batas antar negara semakin memudar. Karena secara tidak langsung dengan adanya globalisasi, perlahan-lahan dunia terpaksa menggunakan sistem yang sama, baik dari sisi ekonomi, politik maupun budaya. Khususnya dalam bidang ekonomi, globalisasi diidentikkan dengan penggunaan sistem liberal yang menuntut dihapuskannya hambatan-hambatan dalam interaksi ekonomi. Hambatan-hambatan tersebut berupa penghilangan proteksi nasional dan hambatan regional, yang mengarah pada perdagangan global. Hal ini tentu sangat berpengaruh pada kepentingan ekonomi setiap negara karena menjadi terfragmentasi dan bahkan terkadang timbul berbagai resistensi terhadap tren ekonomi global ini. Di Jepang terjadi perubahan dalam struktur ekonomi, dimana para aktor yang berkecimpung dalam ekonomi harus mengadaptasi pandangan global tersebut dalam merencanakan dan menjalankan strategi ekonominya. Hasilnya, perlindungan nasional terhadap perdagangan dan kepentingan industri semakin sulit dilakukan mengingat tingkat kompetisi dan komunikasi global, serta perdagangan bebas yang semakin membesar. Oleh karena itu, dilaksanakan beberapa restrukturisasi kebijakan ekonomi di tingkat domestik dan internasional untuk mengatasi goncangan ekonomi akibat perdagangan bebas. Pengadaptasian lingkungan global oleh Jepang dalam kebijakan ekonomi domestik dan internasional telah berhasil dilakukan. Jepang dapat mengikuti ritme dan menunggangi liberalisasi ekonomi dunia, bahkan Jepang dapat menjadi salah satu negara yang memimpin perdagangan bebas tersebut. Akan tetapi, bagaimanapun pemerintah Jepang harus tetap cermat dan selektif dalam membuat kebijakan mengenai sektor mana saja yang dapat diliberalisasi serta mana yang harus diproteksi. Dalam konteks penelitian ini, sektor yang paling dilindungi oleh Jepang adalah sektor agrikultur. Kebijakan ini menimbulkan banyak tentangan dari berbagai negara di dunia yang menginginkan Jepang menghilangkan proteksinya. Tekanan internasional ( 外圧, red: 1

gaiatsu) tersebut paling dirasakan saat Putaran Uruguay tahun 1993 yang mengagendakan liberalisasi perdagangan produk pertanian dan perdagangan jasa. 1 Dengan logika ini, Jepang sebagai anggota WTO semestinya patuh kepada aturan-aturan WTO yang merujuk kepada sistem perdagangan internasional yang liberalis. Artinya, pola-pola kebijakan yang kontraproduktif seperti penerapan kuota impor atau tarif yang begitu tinggi- atas semangat liberalisasi tidak dapat dilakukan oleh Jepang. Melihat masih adanya kebijakan proteksi yang diterapkan Jepang pada masa liberalisasi ekonomi ini, menunjukkan bahwa Jepang belum sepenuhnya menjadi negara liberalis dan masih menjadi negara merkantilis yang memperjuangkan dan melindungi kepentingan nasionalnya. Sebagai ilustrasi dan studi kasus dalam penelitian ini, di tahun 2004 Jepang mendapati gugatan Korea Selatan dalam panel World Trade Organization (WTO). Dalam gugatan ini Korea Selatan berpandangan bahwa Jepang telah melakukan aksi pembatasan kuota impor besar-besaran pada komoditas rumput laut merah (nori). Menurut Korea Selatan, Jepang hanya memberikan kuota sebanyak 240 juta lembar per tahun, yang sedangkan potensi pasar nori Jepang ditaksir mencapai 10 miliar lembar per tahun. Dari angka diatas, terlihat bahwa Jepang begitu memproteksi pasar domestiknya dan hanya membuka sekitar 2,4% dari total pasar norinya kepada Korea Selatan. Dalam gugatannya, Korea Selatan mengguggat Jepang dengan tiga dasar pelanggaran perdagangan, yaitu: pelanggaran atas artikel X.3 dan XI dari General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) tahun 1994, pelanggaran atas artikel 4.2 dari Agreement on Agriculture (AoA), dan pelanggaran artikel 1.2 dari Agreement on Import Licensing Procedures. 2 Alih-alih Jepang mendapatkan sanksi WTO dengan harus membuka pasar norinya dengan luas akibat pembatasan kuota impornya, dalam kasus ini Jepang justru terkesan dapat terbebas dari gugatan Korea Selatan. Dalam sengketa ini, sebagai penyelesaian, disepakati bahwa Jepang akan membuka pasarnya lebih lebar bagi Korea Selatan, dimana Jepang akan membuka kuota impornya sebesar 340 juta lembar per tahun atau 3,4% dari total potensi 1 P. Francks, J. Boestel, dan C. H. Kim, Agriculture and Economic Development in East Asia: From Growth to Protectionism in Japan, Korea and Taiwan, ESRC Pacific Asia Programme, Routledge: London and New York, 1999, p. 96-97. 2 World Trade Organization, Japan Import Quotas on Dried Laver and Seasoned Laver, Dispute Settlement: Dispute DS323 (daring), February 2010, <http://www.wto.org/english/tratop_e /dispu_e/ cases_e/ds323_e.htm>, diakses pada 23 September 2014. 2

pasar Jepang. Namun, dari kesepakatan ini, Korea Selatan nampak tetap tidak puas, karena bagaimanapun pasar yang dibuka oleh Jepang untuk Korea Selatan masih tidak sebanding dengan potensi pasar nori yang dimiliki Jepang secara domestik. Walaupun menemui ketidak puasan, Jepang akhirnya dapat tetap bertahan dengan memberlakukan kuota impor kepada Korea Selatan dengan pengawasan dari WTO. Sehingga dalam hal ini terlihat bagaimana Jepang dapat tetap menggunakan kebijakan yang sesungguhnya melanggar aturan WTO dalam relasi perdagangan internasionalnya dengan Korea Selatan. Dalam kasus tersebut nampaknya Jepang telah cukup sukses melaksanakan dua kepentingannya, yaitu memanfaatkan sistem perdagangan internasional untuk keuntungan yang sebesarnya (liberalis), dan di sisi lain melindungi sektor pertaniannya dari serbuan produk asing serta mengintervensi ekonomi dalam tataran kebijakan (merkantilis). Fenomena tersebut terlihat menarik mengingat Jepang nampak cerdik dalam mengatur strategi ekonomi politik internasionalnya sehingga Jepang dapat meraih dua kepentingannya, internasional dan domestik. Berawal dari kasus inilah, bagaimana Jepang dapat tetap memberlakukan kuota impor yang terbatas kepada Korea Selatan walaupun telah melewati panel DSM WTO, penelitian ini menarik untuk dibahas. Diharapkan apabila judul ini diteliti lebih lanjut dengan belajar dari bentuk kebijakan dan strategi yang digunakan oleh pemerintah Jepang yang telah berhasil memenangkan kepentingan nasional dan melangkahi norma internasional di saat yang bersamaan, kemudian penelitian ini dapat dijadikan rekomendasi kebijakan bagi Indonesia. II. Rumusan Masalah Dengan latar belakang sedemikian rupa, maka dapat ditarik rumusan masalah, yaitu : Bagaimana strategi pemerintah Jepang dalam mempertemukan tuntutan domestik dan tuntutan internasional dalam gugatan sengketa dagang nori Korea Selatan? III. Landasan Konseptual a. Two-level Games Seringkali teori ini dipakai untuk menjelaskan bagaimana suatu negosiasi traktat atau perjanjian internasional dapat berhasil dilakukan dengan melihat interaksi domestik dan internasional secara bersamaan. Secara sederhana, two-level games theory menjelaskan 3

bahwa dalam pembuatan kebijakan decision-maker bermain dalam dua level: domestik dan internasional. Dalam konteks ini, keduanya tidak bisa dipisahkan, keduanya memiliki potensi untuk mempengaruhi dan dipengaruhi. Sebagai ilustrasi, bahwa pola atau kepentingan domestik seringkali dapat menentukan keberhasilan sebuah negosiasi, dan mungkin juga, di sisi yang lain, disetujuinya sebuah perjanjian internasional akan memberikan reaksi yang dapat mendorong atau menghambat terlaksananya perjanjian tersebut. Artinya, decisionmaker diharuskan untuk berdiri dalam posisi yang memenangkan keduanya, atau dikenal sebagai win-set. Namun di sisi lain, teori ini tak hanya dapat menjelaskan tentang keberhasilan atau kegagalan sebuah negosiasi perjanjian atau traktat internasional, teori ini juga dapat dikembangkan pada hubungan luar negeri suatu negara yang memang memiliki basis kepentingan domestik yang cukup kuat. Putnam menjelaskan bahwa dalam level nasional, kelompok-kelompok domestik berusaha mengejar kepentingannya dengan menekan pemerintah agar mengadopsi kebijakan yang diharapkan, di saat yang sama politisi mencari kekuasaan dengan membentuk koalisi dengan kelompok tersebut. Dalam level internasional, pemerintah nasional berusaha memaksimalisasi kemampuan nasionalnya untuk memuaskan tekanan domestik, sembari meminimalisasi konsekuensi merugikan dari praktik pembangunan luar negeri. 3 Dari kacamata ini, kita dapat melihat usaha proteksionisme Jepang dilakukan dengan asas two-level game. Dalam hal ini pemerintah Jepang memiliki kepentingan untuk memproteksi produk agrikultur domestiknya. Dapat pula dilihat dalam tataran domestik, terdapat tekanan dari kalangan petani ataupun masyarakat secara luas untuk melakukan perlindungan terhadap produk nasional Jepang. 4 Segala hal yang terjadi dalam tataran domestik yang berbentuk sebagai tuntutan disebut sebagai domestic preferential, dimana preferensi tersebut nantinya akan dijabarkan dengan tuntutan petani, tuntutan kelompokkelompok penekan, serta posisi pemerintah Jepang dalam kasus sengketa diatas. Dalam hal ini, pemerintah Jepang memandang perlindungan terhadap produksinya sebagai sebuah kepentingan politik dan ekonomi bagi Jepang. Namun di saat yang sama, dalam level 3 R. D. Putnam, Diplomacy and Domestic Politics: the Logic of Two-level Games, International Organization, vol. 42. No. 3, 1988, p. 434. 4 J. Soble, Japan s Farmers Dig in Against Trade Deal, Financial Times (daring), 18 Maret 2013, <http://www.ft.com/cms/s/0/b44ae458-8fa0-11e2-9239-00144feabdc0.html#axzz3engehpud>, diakses pada 23 September 2014. 4

internasional, Jepang tidak bisa dengan seenaknya memberlakukan aksi proteksi dengan menggunakan praktik impor kuota atau pembatasan tarif karena melanggar peraturan perdagangan bebas. Oleh karena itu, dalam konteks penelitian ini, Jepang memperoleh winset dengan melakukan strategi-strategi khusus yang dilakukan dalam proses negosiasi secara multilateral hingga kemudian berubah menjadi negosiasi bilateral. Dalam penelitian ini, penulis melihat adanya aksi strategis dari pemerintah Jepang yang dapat mengamankan kepentingan domestiknya untuk melindungi petani dan kepentingan internasionalnya untuk memberlakukan proteksi secara legal. b. Disguised Protectionism Konsep disguised protectionism atau proteksionisme terselubung dalam penelitian ini berguna sebagai perspektif dalam melihat aksi strategis Jepang dalam usaha perlindungannya terhadap produk agrikultur domestiknya. Secara mendasar, aksi proteksionisme merupakan bentuk aksi kebijakan perdagangan yang berttujuan untuk lebih memberikan akses competitive advantage kepada pasar domestik dibandingkan dengan pasar asing. Regulasi proteksionisme didefinisikan sebagai penggunaan regulasi kebijakan yang bertujuan untuk mendiskriminasi produk ataupun firma asing sehingga tidak diperbolehkan masuk secara sah dengan peraturan yang ada. 5 Dalam prakteknya, proteksionisme dapat dilihat sebagai aksi yang membatasi perdagangan antarnegara melalui cara tata niaga, pemberlakuan tariff bea masuk impor (tariff protection), jalan pembatasan kuota (non-tariff protection), sistem kenaikan tariff dan aturan berbagai upaya menekan impor bahkan larangan impor. Namun, dalam konteks penelitian ini, konsep proteksionisme yang dirujuk bukanlah sekedar konsep proteksionisme tradisional seperti contoh diatas, namun dalam penelitian ini konsep proteksionisme difokuskan pada aksi disguised protectionism. Konsep disguised protectionism digunakan sebagai alat bantu untuk melihat proses bargaining Jepang dalam level internasional yang terlihat dalam kebijakan domestik dan negosiasi sidang panel sengketa dagang komoditas nori ini. Berdasarkan GATT/WTO aksi-aksi proteksionisme tradisional seperti diatas merupakan bentuk pelanggaran yang jelas dalam norma perdagangan internasional. Dalam konteks ini, konsep disguised protectionism 5 K. Watson dan S. James, Regulatory Protectionism: A Hidden Threat to Free Trade, Policy Analysis, no. 723, April 2013, p. 2. 5

didefinisikan sebagai sebuah aksi proteksi terselubung oleh negara yang berpedoman pada aturan-aturan perdagangan internasional, dimana dalam usaha untuk memproteksi pasarnya, negara berlindung atas alasan kesehatan, lingkungan, dan perlindungan pasar domestik. 6 Aksi proteksi ini seringkali didasarkan oleh beberapa aturan didalam GATT/WTO, seperti: Artikel XX GATT/WTO, Technical Barriers to Trade Agreement (TBT), dan Sanitary and Phytosanitary Measures Agreement (SPS) yang menjelaskan secara implisit bahwa negaranegara anggota WTO diperbolehkan untuk melakukan proteksi apabila ditujukan untuk melindungi kehidupan manusia (masyarakat), hewan, dan tumbuhan 7 Dalam prakteknya pada kasus diatas, Jepang dapat terlihat menggunakan aksi disguised protectionism dalam usaha proteksinya pada produk nori kepada Korea Selatan. Jepang menggunakan alasan perlindungan kepada produsen lokal yang tertuang pada Artikel XX GATT 1994. Berangkat dari alasan itulah, kemudian Jepang dapat terkesan lepas dari sanksi-sanksi yang memberatkan dari WTO, dan hanya merekomendasikan Jepang untuk sedikit leluasa membuka pasar norinya. Berangkat dari pandangan tersebut, sebuah aksi proteksi yang berkedok legitimasi legal yang termaktub dalam perjanjian perdagangan internasional merupakan cara pandang atas bagaimana melihat strategi dari aksi proteksionisme agrikultur Jepang, terutama komoditas nori yang disengketakan. IV. Argumen Utama Pertama, secara domestik pemerintah Jepang memiliki policy discretion yang begitu sempit untuk membuka liberalisasi pasar nori domestik. Hal ini didasarkan oleh banyaknya kebijakan pemerintah yang mendukung konsumsi nori domestik, tekanan produsen nori lokal yang meminta untuk diproteksi dari persaingan asing, dan adanya tekanan dari konsumen untuk tetap mengonsumsi nori lokal Jepang karena higienitas dan kualitasnya. Keleluasaan yang begitu sempit ini yang kemudian membuat domestic preferential Jepang berposisi untuk tetap memproteksi pasar nori yang ada. Berangkat dari hal inilah, dalam spektrum international bargaining Jepang harus dapat tetap memproteksi produk lokalnya. Dalam persidangan panel, pemerintah Jepang menggunakan Artikel XI:2(c)(i) untuk memandulkan 6 R. K. Gupta, Non-Tariffs Barriers or Disguised Protectionism, CUTS International Briefing Paper No.2/1997, <http://www.cuts-international.org/1997-2.htm#meaning OF NON-TARIFF>, diakses pada 23 September 2014. 7 World Trade Organization, Understanding the WTO: The Agreement. Standards and Safety. (daring) <http://www.wto.org/english/thewto_e/whatis_e/tif_e/agrm4_e.htm>, diakses pada 15 September 2014 6

tuduhan-tuduhan Korea Selatan. Di saat yang bersamaan, pada spektrum domestik Jepang secara khusus menggunakan strategi disguised protectionism dengan alasan kemanusiaan atas kehidupan para petani. Strategi ini menekankan pada penggunaan beberapa regulasi seperti Basic Law Agrikultur, Basic Plan Agrikultur, Measures for Stabble Supply of Fishery Products, dan Food Sanitation Law yang berkesuaian dengan SPS Agreement WTO sebagai legitimasi dalam upaya proteksionisme yang melanggar aturan atau norma dagang dalam sistem ekonomi internasional. Dengan menggunakan strategi dengan regulasi ini, Jepang dapat dengan leluasa memproteksi pasar domestiknya tanpa harus melanggar atau dapat dikenai sanksi oleh negara-negara lain. V. Jangkauan Penelitian Tinjauan penelitian ini dibatasi dari tahun 2004 hingga tahun 2006. Tahun 2004 adalah tahun ketika awal mula sengketa terpicu, tahun 2005 merupakan tahun dimana Korea Selatan mengajukan gugatan kepada Jepang dalam panel WTO, sedangkan tahun 2006 merupakan tahun dimana terdapat kesepakatan penyelesaian gugatan produk rumput laut merah diatas. Penekanan penulis membatasi pembahasan dalam salah satu kasus gugatan perdagangan komoditas domestik dikarenakan melalui kasus tersebut ilustrasi strategi proteksionisme Jepang dapat terlihat dengan jelas. VI. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat kualitatif dengan dukungan data kualitatif dan kuantitatif. Dalam proses pengumpulan data, penulis akan menggunakan studi literatur/kajian pustaka. Data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari beberapa situs resmi yang berkaitan dengan peraturan pemerintah Jepang dan data perdagangan agrikultur Jepang seperti situs pemerintah pemerintah Jepang, seperti Ministry of Agriculture, Forestry, and Fisheries (MAFF), Ministry of Finance (MoF), dan Ministry of Economic, Trade and Industries (METI), situs resmi WTO, dan situs lain yang relevan dengan penelitian ini. Data sekunder diperoleh dari buku atau jurnal ilmiah baik berupa media cetak maupun digital. Untuk menganalisis data yang telah diperoleh, penulis akan menggunakan teknik analisis data kualitatif. Teknik ini terdiri dari tiga bagian yang berkesinambungan, yaitu reduksi data, organisasi data, dan interpretasi. Reduksi data meliputi manipulasi, integrasi, 7

transformasi, dan mengambil benang merah dari data serta meringkas, coding, dan kategorisasi. Organisasi data ialah mengumpulkan informasi yang terkait dengan tema, mengategorisasi informasi dalam kelompok yang lebih spesifik, dan menyampaikan hasilnya dalam berbagai bentuk. Sedangkan interpretasi ialah pengambilan keputusan dan mengidentifikasi pola, perkembangan, dan penjelasan. VII. Sistematika Penulisan BAB I berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, landasan konseptual, argumen utama, jangkauan penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan dari penelitian ini. BAB II secara umum akan menjelaskan tentang bagaimana persengketaan ini berawal, berlangsung, dan bagaimana komoditas nori menjadi penting untuk diproteksi bagi pemerintah Jepang. BAB III secara umum akan menjelaskan tentang bagaimana strategi negosiasi Jepang dalam level internasional dengan menggunakan Artikel XI:2(c)(i) GATT 1994 dan kebijakan-kebijakan domestik dengan menggunakan Basic Law Agrikultur, Basic Plan Agrikultur, Measures for Stabble Supply of Fishery Products, dan Food Sanitation Law yang berkesuaian dengan SPS Agreement WTO sehingga Jepang dapat melunakkan tuntutan internasional dan tetap dapat melakukan aksi proteksionisme komoditas nori domestik. BAB IV berisi tentang kesimpulan penelitian yang menjawab rumusan masalah dari penelitian ini 8