dokumen-dokumen yang mirip
PEMBERIAN PUPUK NPK MUTIARA TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KARET (Hevea brasilliensis L) ASAL STUM MATA TIDUR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA

Oleh WAWAN SETIAWAN NIM

ABSTRAK. Bibit Tanaman Karet (Havea brasiliensis) (dibawah bimbingan Yuanita, SP). Samarinda dari tanggal 20 Desember 2007 sampai 20 Pebuari 2008.

PENGARUH KOMPOSISI MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis)

III. BAHAN DAN METODE

PEMBUATAN BAHAN TANAM UNGGUL KAKAO HIBRIDA F1

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate,

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO

BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR

II. TINJAUAN PUSTAKA A.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BUDIDAYA KELAPA SAWIT

II. TINJAUAN PUSTAKA. A.Kelas Kesesuaian Lahan dan Syarat Tumbuh Tanaman Karet

ABSTRAK. data. Penelitian ini dilaksanakan di areal persemaian Politeknik Pertanian Negeri

TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Ekologi Tanaman Tebu

TEKNIS BUDIDAYA TEMBAKAU

II. TINJAUAN PUSTAKA. Jagung manis termasuk dalam golongan famili graminae dengan nama latin Zea

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Kelapa Sawit

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Taksonomi Tanaman Karet Sistem klasifikasi, kedudukan tanaman karet sebagai berikut :

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ordo: Polypetales, Famili: Leguminosea (Papilionaceae), Genus:

PELAKSANAAN PENELITIAN. dan produksi kacang hijau, dan kedua produksi kecambah kacang hijau.

Cara Menanam Tomat Dalam Polybag

II. TINJAUAN PUSTAKA. Subhan dkk. (2005) menyatakan bahwa pertumbuhan vegetatif dan generatif pada

Peluang Usaha Budidaya Cabai?

Seleksi Biji untuk Batang Bawah Tanaman Karet Oleh : Elly Sarnis Pukesmawati, SP., MP Widyaiswara Muda Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Jambi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam :

TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Tanaman Teh Morfologi Tanaman Teh Syarat Tumbuh

PENGARUH PEMBERIAN MULSA ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TOMAT

TINJAUAN PUSTAKA. Species: Allium ascalonicum L. (Rahayu dan Berlian, 1999). Bawang merah memiliki batang sejati atau disebut discus yang bentuknya

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman karet (Hevea Brasiliensis) merupakan tanaman perkebunan yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kelapa sawit termasuk sebagai tanaman monokotil, mempunyai akar serabut.

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA FIKIR. Ikatan Geografi Indonesia (IGI) dalam Nursid Sumaatmadja, 1997:11).

Teknik Budidaya Kubis Dataran Rendah. Untuk membudidayakan tanaman kubis diperlukan suatu tinjauan syarat

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

I. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat Dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2016 Agustus 2016 yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Caulifloris. Adapun sistimatika tanaman kakao menurut (Hadi, 2004) sebagai

BAB I PENDAHULUAN. untuk melakukan peremajaan, dan penanaman ulang. Namun, petani lebih tertarik BAB II TUJUAN

BUDIDAYA CENGKEH SECARA MUDAH OLEH HARI SUBAGYO BP3K DOKO

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan bulan

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Bawang Merah. rumpun, tingginya dapat mencapai cm, Bawang Merah memiliki jenis akar

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Tanaman. Sistem perakaran tanaman bawang merah adalah akar serabut dengan

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Produktivitas Tahun Luas Area (ha) Produksi (ton) (ton/ha)

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No.1 Medan Estate, Kecamatan

BAB III BAHAN DAN METODE. Medan Area yang berlokasi di Jalan Kolam No. 1 Medan Estate, Kecamatan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. dalam buku Steenis (2003), taksonomi dari tanaman tebu adalah Kingdom :

III. MATERI DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE. Universitas Lampung pada titik koordinat LS dan BT

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan gambut Desa Rimbo Panjang

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan pada bulan Sebtember - Desember

III. METODE PENELITIAN. Serdang Bedagai dengan ketinggian tempat kira-kira 14 m dari permukaan laut, topografi datar

III. MATERI DAN METODE

III. METODE PENELITIAN. Kecamatan Medan Percut Sei Tuan dengan ketinggian tempat kira-kira 12 m dpl,

BAB III METODE PENELITIAN. dilakukan dengan memberi perlakuan (treatment) terhadap objek. penelitian serta adanya kontrol penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)

m. BAHAN DAN METODE Penelitian ini telah dilaksanakan di kebun percobaan Fakuteis Pertanian

II. TINJAUAN PUSTAKA. Gladiol (Gladiolus hybridus) berasal dari bahasa latin Gladius yang berarti

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman mentimun papasan (Coccinia gandis) merupakan salah satu angggota

III. METODOLOGI TUGAS AKHIR (TA)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

III. MATERI DAN METODE

I. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung.

III.TATA CARA PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA. sebagai berikut : Divisio : Spermatophyta; Subdivisio : Angiospermae; Class :

MATERI DAN METODE. Riau Jalan H.R Subrantas Km 15 Simpang Baru Panam. Penelitian ini berlangsung

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada di lahan sawah milik warga di Desa Candimas

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat. Bahan dan Alat

BAB III METODOLOGI DAN PELAKSANAAN PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA. A. Limbah Cair Industri Tempe. pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karna tidak

Teknik Budidaya Tanaman Pepaya Ramah Lingkungan Berbasis Teknologi Bio~FOB

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Cabai (Capsicum sp ) merupakan tanaman semusim, dan salah satu jenis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

III. TATA LAKSANA TUGAS AKHIR

BAB III TATA PELAKSANAAN TUGAS AKHIR A. Tempat Pelaksanaan Tugas akhir Pelaksanaan Tugas Akhir dilaksanakan pada lahan yang bertempat pada Di Dusun

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dileksanakan dari bulan Juni sampai September 2013, lahan

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan Januari sampai Maret B. Penyiapan Bahan Bio-slurry

I. TATA CARA PENELITIAN. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten

TINJAUAN PUSTAKA. dikembangkan sehingga sampai sekarang asia merupakan sumber karet alam.

BAHAN DAN METODE. PBSI Medan Estate Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang.

III. MATERI DAN METODE. HR. Soebrantas KM 15 Panam, Pekanbaru. Penelitian ini dilakukan mulai bulan Mei

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BUDIDAYA CABAI KERITING DALAM POT. Oleh: YULFINA HAYATI

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP)

Menurut van Steenis (2003), sistematika dari kacang tanah dalam. taksonomi termasuk kelas Dicotyledoneae; ordo Leguminales; famili

BISNIS BUDIDAYA KARET

BAHAN DAN METODE. Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: cangkul, parang, ajir,

TINJAUAN PUSTAKA. musim gugur mencapai jumlah minimum (Basuki dan Tjasadihardja, 1995).

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE. laut, dengan topografi datar. Penelitian dilakukan mulai bulan Mei 2015 sampai

MATERI DAN METODE. Pekanbaru. Penelitian ini dilaksanakan selama 5 bulan dimulai dari bulan Juni sampai

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Dulomo Utara, Kecamatan Kota

Transkripsi:

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejak berabad-abad yang lalu karet telah dikenal dan digunakan secara tradisional oleh penduduk asli didaerah asalnya yakni Brazil, Amerika Serikat akan tetapi meskipun telah dikenali penggunaannya oleh Colombus dalam pelayarannya ke Amerika Selatan pada akhir abad ke-15 dan oleh penjajah-penjajah berikutnya pada awal abad ke-16, sampai saat ini tanaman karet belum mendapat perhatian orang-orang Eropa. Setelah De La Condamine mengirim contoh bahan elastis yang aneh yaitu Caoutchue dari Perancis pada tahun 1876, Hendry A, Wichan memasukkan biji karet yang lain dari Amerika Selatan ke Ceylon ( Srilanka) Malaya dan beberapa bibit kekebun percobaan pertanian di bogor sangat memuaskan. Penggunaan karet saat ini semakin meningkat sejalan dengan peningkatan pembangunan. Karet merupakan kebutuhan yang sangat diperlukan seiring dengan bertambah majunya ilmu pengetahuan dan teknologi. B. Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk Decanter Solit yang sesuai bagi pertumbuhan bibit tanaman karet. C. Hipotesis Semakin tinggi dosis Decanter Solit yang di berikan dapat mempercepat pertumbuhan bibit tanaman karet.

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Sejarah Tanaman Karet Tanaman karet di Indonesia pernah mencapai puncaknya pada periode sebelum perang dunia dua hingga tahun 1956. pada masa itu, Indonesia menjadi penghasil karet terbesar didunia. Komoditi ini pernah begitu diandalkan sebagai penopang perekonomian Negara. Tanaman karet sendiri mulai dikenal di Indonesia sejak jaman penjajahan belanda. Awalnya, karet ditanam di Kebun Raya Bogor sebagai tanaman baru untuk dikoleksi. Selanjutnya karet dikembangkan menjadi tanaman perkebunan dan tersebar di beberapa daerah (Setjamidjaja, 1993). Indonesia merupakan Negara agraris, artinya pertanian mememegang peranan penting dari keseluruham perekonomian nasional. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya penduduk atau tenaga kerja yang hidup dan bekerja pada sektor pertanian (Mubyarto, 1994). Salah satu aspek yang paling penting dalam pembangunan pertanian adalah bagaimana caranya meningkatkan secara kontinue produksi usaha tani yang senantiasa menguntungkan, sehingga kesejateran petani maupun masyarakat luas terus meningkat ( Soekrtawi, 1986). Tanaman perkebunan merupakan komoditas yang mempunyai nilai komoditas tinggi. Apabila dikelola dengan baik dapat dimanfaatkan sebagai pemasuk devisa Negara. Telah banyak usaha pemerintah untuk meningkatkan

produksi sub sektor perkebunan, diantaranya adalah intensifikasi, ektensifikasi, deversivikasi dan rehabilitasi ( Sutedjo, 1989). B. Taksonomi dan Morfologi 1. Taksonomi tanaman karet Menurut Tim Penulis PS ( 1999). Dalam sistematika tumbuhan, kedudukan tanaman karet di klasifikasikan sebagai berikut : Divisio Sub Divisi Kelas Ordo Famili Genus Species : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotiledonae : Euphorbiales : Euphorbiaceae : Hevea : Hevea Brasilliensis 2. Morfologi tanaman karet Tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Tinggi pohion dewasa mencapai 15-25 m. Batng tanaman biasanya lurus dan mempunyai percabanagan tinggi diatasnya. Batng tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks. a. Daun Karet Karet terdiri dari tangkai daun utama dan tangkai anak daun. Panjang tangkai anak daun mencapai 3-10 cm dan pada ujungnya terdapat kelenjar. Biasanya ada tiga anak daun yang terdapat pada sehelai daun karet. Anak daun membentuk ellips, memnjang

dengan unung meruncing, tepinya rata dan gundul serta tidak tajam. b. Bunga Karet Bunga karet terdiri dari bunga jantan dan bunga betina yang terdapat dalam malai payung tambahan yang jarang. Pangkal tenda bunga berbentuk lonceng. Pada ujungnya terdapat lima tajuk yang sempit, panjang tenda bunga 4-8 mm. Bunga betina berambut vilt, ukuranya sedikit lebih besar dsri ysng jantan dan mengandung bakal buah yang beruang tiga. Kepala putik yang akan dibuahai dalam posisi duduk juga berjumlah tiga buah. c. Buah Karet Buah karet memiliki ruang yang jelas. Masing-masing ruang berbentuk setengah bola. Jumlah ruang biasanya tiga, kadangkadang sampai enam ruang, garis tengah buah 3-5 cm. Bila buah sudah masak, maka akan pecah sendirinya. Pemecahan terjadi dengan kuat menurut ruang-ruangnya. Pemecahan biji ini berhubungan dengan pengembangbiakan tanaman karet secara alami. d. Biji Karet Biji karet terdapat dalam ruang buah. Jadi, jumlah biji biasanya tiga kadang enam, sesuai dengan jumlah ruang. Ukuran buju besar dengan kulit keras, warna coklat kehitaman dengan

bercak-bercak berpola yang khas. Biji yang sering menjadi mainan anak-anak ini sebenarnya berbahaya karena mengandung racun. e. Akar Karet Sesuai dengan sifat dikotilnya, akar tanaman karet merupakan akar tunggang. Akar ini mampu menopang batang tanaman yang tumbuh tinggi dan besar. (Setjamidjaja, 1993). C. Syarat Tumbuh 1. Iklim Tanaman karet adalah tanaman daerah tropis. Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zona antara 15 º LS dan 15 º LU. Bila tanaman diluar zona tersebut, pertumbuhanya agak lambat sehingga memulai produksi lebih lambat. a. Curah hujan Curah hujan tahunan yang cocok untuk tanaman karet tidak kurang dari 2000 mm/tahun, optimal antara 2500-4000 mm/ tahun yang terbagi dalam 100-150 hari hujan, pembagian hujan dan waktu jatuhnya hujan rata-rata setahunya mempengaruhi produksi, daerah yang sering mengalami hujan pada pagi hari produksinya akan kurang. Keadaan iklim di Indonesia yang cocok untuk tanaman karet adalah daerah-daerah Indonesia bagian barat, yaitu sumatra, jawa dan kalimatan sebab iklimya lebih basah.

b. Tinggi tempat Tanaman karet tumbuh optimal didaerah dataran rendah, yakni ketinggian sampai 200 mdpl. Makin tinggi letak tempat, pertumbuhan makin lambat dan produksi lebih rendah. Ketingian lebih dari 600 mdpl tidak cocok lagi untuk tanaman karet. c. Angin Angin juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman karet. Angin yang kencang pada musim-musim tertentu dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman karet yang berasal dari klon-klon tertentu yang peka terhadap angin kencang 2. Tanah Tanaman karet dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, baik pada tanah pulkanik maupun pulkanis tua, aluvial dan bahkan tanah gambut. Dengan kandungan ph 3,8-8,0, sedangkan ph tanah dibawah 3,0 atau diatas 8,0 menyebabkan pertumbuhan tanaman yang terhambat. sifatsifat tanah yang cocok untuk tanman karet adalah sebagai berikut : a. Solum cukup dalam, sampai 100 m atau lebih, tidak terdapat batubatuan. b. Aerasi dan drainase baik c. Remah, porus dan dapat menahan air d. Tekstur terdiri dari 35% liat dan 30% pasir e. Tidak bergambut dan jika ada tidak lebih tebal dari 30 cm f. Kandungan unsur hara cukup dan tidak kekurangan unsur mikro.

g. Kemiringan tidak lebih dari 16 % h. ph 4,5-6,5 i. Permukaan air tanah tidak kurang dari 100 cm (Setyadmidjaja, 1993) D. Pembibitan Tanaman Karet 1. Pengumpulan Biji Untuk mengumpulkan biji, terlebih dahulu kebun harus dibersihkan dari gulma. Penyiangan gulma bisa dilakukan secara mekanis maupun secara kimiawi, paling lambat 1 bulan sebelum biji berjatuhan. Dua hari sebelum pengumpulan biji yang sebenarnya dilakukan, pengumpul harus melakukan pemungutan biji pendahuluan. Hal ini dianggap perlu karena biji hasil pungutan pendahuluan tidak bisa diketahui dengan pasti sejak kapan biji itu jatuh. Buji hasil pungutan pendahuluan jangan dipakai sebagai bibit. Pengumpulan biji dalam satu areal paling lambat dua hari sekali. Biji dari setiap pengumpulan ditakar lalu diserahkan kepada petugas yang menampung keseluruhan biji. Setelah biji terkumpul, dilakukan pengambilan contoh menurut kesegaranya. 2. Seleksi Biji Menurut Tim Penulis PS ( 1999). Pemilihan biji yang baik berdasarkan atas penilaian kemurnian klon, ukuran biji dari masing-masing klon, kementalan kesegaran biji dan daya kecambah biji. Cara yang paling sederhana dan paling tua, yang dianggap baik untuk menilai biji karet adalah dengan cara membelah. Pelaksanan penilain kesegaran ini cukup

dengan mengambil contoh 100 biji karet dari setiap 200 liter biji lalu dipecah dengan palu atau batu. Penilaian kesegaran ditentukan atas dasar warna penampakan dan keadan belahan biji seperti dibawah ini : a. Biji yang baik adalah biji yang tampak mengkilat kulit luarnya. b. Belahan biji karet yang masih berwarna putih murni sampai kekuningkuningan dinilai baik. c. Sedangkan belahan yang sudah berwarna kekuningan berminyak atau kuning kecoklatan sampai hitam dan keriput dinilai kurang baik atau jelek. Dari kereteria diatas disimpulkan, biji yang baik adalah biji yang persentase baiknya mencapai minimum 80 % sedangakan kurang dari 80 % merupakan biji yang jelek. persentase baik merupakan biji yang memiliki kesegaran dan bisa dipertanggungjawabkan. 3. Persemayan Tanaman Karet a. Persemaian Lapangan 1) Syarat lokasi persemayan Lokasi persemaian lapangan harus datar hingga populasi tanaman persatuan luas bisa lebih banyak. Tanah yang dipilih yaitu subur, bukan tanah bekas terserang penyakit, dan kebersihan arealnya harus diperhatikan. Tekstur remah gembur, berhumus, dan kadar bahan organiknya tinggi. Dekat dengan rencana peremajaan tanaman dan sumber air. Luasannya cukup

2) Pengolahan lahan persemaian Sebaiknya pengolahan dilakukan dengan traktor. Tanah bagian atas jangan sampai terbalik dengan bagian bawahnya. Setelah tanah bersih dan rata dibuat selokan pembuangan air yang terdiri dari selokan primer dan sekunder. Selokan primer lebih besar dan lebih dalam dari pada selokan sekunder dangan ukuran 40 50 cm lebarnya dan dalamnya 30 40 cm. Sedangkan selokan sekunder lebarnya 30 cm dan dalamnya 25 cm. 3) Penanaman kecambah Kecamabah ditanam dengan tombak lurus kedalam tanah, lalu tanahnya ditekan agar rapat kembali. Akar tombak yang tumbuh panjang sebaiknya dibuat lubang terlebih dahulu. Jarak tanam untuk keperluan bibit setum tinggi 60 x 90 cm sedangkan untuk setum rendah 60 x 60 cm. b. Persemayan Kantong Plastik/Polibag 1) Syarat persemaian Lokasi harus dekat dengan air, dekat dengan lokasi peremajaan tanaman. Kalau perlu kantong plastik diletakkan diareal peremajaan. Media tanam harus menggunakan tanah subur dan humus yang diambil dari ketebalan 0 15 cm, tanah tidak boleh dicampur dengan pasir, pupuk kandang dan lain lain. Tanah hendaknya bertekstur galuh berat dan berstruktur sempurna.

2) Pengisian tanah kepolybag dan peletakan dilokasi pembibitan Tanah dimasukan kedalam polybag yang berukuran 25 x 56 cm yang menampung media seberat 9 kg. Bagian kantong bawah polybag lubangi. Setelah polybag terisi diletakan ditempat teduh tetapi tidak gelap dan terkena sinar matahari pagi dan sore. Sebelum polybag diletakan tanah hasur di gali dengan kedalaman 20 cm, setelah polybag diletakan tanah diuruk kembali hingga hanya 5 cm polybag yang muncul kepermukaan. Jarak polybag antar barisan 30 cm dalam barisan 20 cm dan setiap dua baris polybag dibuat jalan selebar 75 cm. (Tim Penulis PS. 1999). E. Decanter Solid Decanter solid adalah limbah padat berupa lumpur hasil proses pengolahan CPO (satu ton decanter solid basah setara dengan 0,85 ton decanter solid kering), dengan kandungan 17 kg Urea, 3 kg TSP, 8 kg MOP dan 8 kg Kiserit. (PPKS Medan 2005). F. Manfaat pupuk Decanter Solit Manfaat utama yang dapat dipetik dari pembuatan pupuk dalam usaha mencapai nir limbah (zero waste) adalah : dapat mengatasi pencemaran lingkungan, memberi nilai tambah ekonomis dengan mengurangi biaya pembelian pupuk, utamanya sumber kalium sehingga dapat mereduksi pemakaiaan sebagian pupuk anorganik

disamping juga akan memperbaiki struktur tanah sehingga akan memperbaki tingkat unsur hara oleh tanaman. Kandungan unsur hara tinggi, mengurangi biaya retribusi air limbah yang cukup mahal, selain itu decanter solit juga dapat mendukung program pemberdayaan masyarakat sekitar perusahaan dalm program community development dan bisa meningkatkan citra yang baik bagi perusahaan yang akan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap perusahaan (Sugeng Kamtoyo, 2004).

III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Tempat penelitian direncanakan di areal Persemaian Politeknik Negeri Samarinda dan dilaksanakan kurang lebih tiga setengah bulan, terhitung dari pertengahan bulan April 2008 sampai akhir bulan Juli 2008. B. Alat dan Bahan Adapun alat yang digunakan dalam peneliitian ini yaitu: Cangkul, parang, alat tulis, kamera, meteran, label pelastik, polybag yang berukuran 40 x 50 cm dengan ketebalan 0,12 mm, gembor dan mikrokaliver. Bahan yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu: bibit tanaman karet yang sudah siap di pindahkan di main-nursery, pupuk Decanter Solit, air dan top soil. C. Prosedur Penelitian 1. Penyiapan tempat persemaian dan bibit a. Penyiapan Areal Areal yang di gunakan dalalm penelitian ini memiliki pencahayaan yang optimal, dekat dengan sumber air, jauh dari gangguan hama dan penyakit serta mudah di awasi. Areal kemudian dibersihkan dan tanahnya diratakan agar mempermudah proses penyusunan polybag. b. Pengisian Polybag Tanah yang di gunakan untuk mengisi polybag dalam penelitian ini adalah top soil yang di haluskan dan dibersihkan dari sisa-sisa

perakaran, daun dan ranting tanaman. Hingga 3 cm dari permukaan polybag. Polybag yang telah di isi dengan tanah tadi kemudian disusun pada areal yang telah dipilih dengan jarak 70 x 70 cm dan dilakukan penyiraman pagi dan sore. Penyapihan Bibit c. Penanaman Bibit Tanaman Karet Setelah polybag yang sudah disiapkan tadi disiram kurang lebih 7 10 hari, tanah yang ditengah-tengah polybag di lubangi menggunakan kayu tumpul, kemidian bibit yang sudah disapih dimasukan kedalam lubang kayu, kemudian tanahnya dirapatkan kembali. 2. Perlakuan Perlakuan pemberian pupuk Decanter Solit dilakukan sesuai dosis masing-masing perlakuan dengan waktu yang telah ditentukan yaitu setiap 20 hari sekali dengan tiga taraf perlakuan dalam penelitian ini yaitu: dengan perlakuan pemberian pupuk Decanter Solit 10 gr/polybag untuk (K 1 ), perlakuan pemberian pupuk Decanter Solit 20 gr/polybag untuk(k 2 ) dan perlakuan pemberian pupuk Decanter Solit 30 gr/polybag untuk (K 3 ). 3. Pemeliharaan a. Penyiraman Penyiraman bibit dilakukan dua kali sehari pagi dan sore hari. Bila hujan turun dan membasahi bibit maka tidak dilakukan penyiraman. b. Penyiangan

Dalam penelitian ini penyiangan gulma dilakukan secara manual disekitar dan di dalam polybag dengan interval dua minggu sekali. c. Konsolidasi Bibit Kegiatan konsolidasi bibit dilakukan dengan menambah tanah yang kurang pada polybag dengan interval satu kali sebulan dan menegakkan polybag yang miring. d. Pengendalian Hama dan Penyakit Pengendalian hama dan penyakit pada bibit tanaman karet dilakukan dengan menggunakan pestisida dan untuk mengatasi penyakit bibit tanaman karet, apabila penyakit ringan pemberantasanya dilakukan dengan penyemrotan Festisida. Namun jika seranganya berat bibit yang terserang penyakit disingkirkan dan dimusnahkan. D. Pengolahan Data Perlakuan dari penelitian ini terdiri dari tiga perlakuan dan sepuluh ulangan, perlakuannya adalah : K 1 = diberi pupuk Decanter Solit sebanyak 10 gr/polybag. K 2 = diberi pupuk Decanter Solit sebanyak 20 gr/polybag. K 3 = diberi pupuk Decanter Solit sebanyak 30 gr/polybag. Adapun yang diamati dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Tingi tanaman (cm) Diukur dari pangkal tiap-tiap batang tanaman yang diberi tanda hingga ujung daun tertingi.

2. Diameter batang (cm) Diukur dari diameter bagian batang paling yang telah ditandai. 3. Jumlah daun (helai) Dengan menghitung jumlah daun pada tiap tangkai daun. Pengambilan data melalui pengukuran masing-masing parameter dilakukan sebanyak tiga kali yaitu: a. Pertama saat bibit berumur 30 hari setelah tanam. b. Kedua pada saat bibit berumur 40 hari setelah tanam. c. Ketiga Pada saat bibit berumur 50 hari setelah tanam. Menurut Nugroho (1985) untuk mengetahui parameter yang diamati dari penelitian ini adalah dengan menggunakan rataan hitung sederhana. x = x n x? x n = rata-rata hitung = banyaknya data = variasi yang diteliti? = jumlah

DAFTAR PUSTAKA Mubyarto. 1994. Pengantar Ekonomi Pertanian. LP3ES. Jakarta Nugroho. 1985. Dasar-dasar statistik. Penebar Swadaya. Jakarta Setyadmidjaja. 1993. Karet Budidaya Dan Pengolahannya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Soekrtawi. 1989. Prinsip Dasar Manajemen Pasar Hasil Pertanaian Rajawali Jakarta. Sutedjo. 1989. Hama Tanaman Keras Dan Cara Pemberantasanya. Bina Aksara. Jakarta. Tim penulis PS. 1999. KARET. Strategi Pemasaran Tahun 2000. Budidaya Dan Pengolahan.