BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. 2009, World Health Organization (WHO) mencatat negara Indonesia sebagai

BAB I PENDAHULUAN. virus dengue yang ditularkan dari gigitan nyamuk Aedes aegypti sebagai

Nizwardi Azkha, SKM,MPPM,MPd,MSi

BAB I PENDAHULUAN. gigitan nyamuk dari genus aedes misalnya Aedes aegypti atau Aedes albovictus.

BAB I PENDAHULUAN. Bupati dalam melaksanakan kewenangan otonomi. Dengan itu DKK. Sukoharjo menetapkan visi Masyarakat Sukoharjo Sehat Mandiri dan

BAB I PENDAHULUAN. yang masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan snyamuk dari genus Aedes,

KERANGKA ACUAN PROGRAM P2 DBD

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENGENDALIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI KELURAHAN SENDANGMULYO KECAMATAN TEMBALANG KOTA SEMARANG FKM UNDIP

BAB 1 PENDAHULUAN. Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan salah satu masalah

BAB I LATAR BELAKANG

BAB V GAMBARAN UMUM. Rencana Strategis Kota Pekanbaru mempunyai Visi. Terwujudnya Pekanbaru Sebagai Pusat Perdagangan Dan Jasa, Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Tujuan pembangunan berkelanjutan 2030/Suistainable Development Goals (SDGs)

BAB I PENDAHULUAN. tropis. Pandangan ini berubah sejak timbulnya wabah demam dengue di

INFORMASI UMUM DEMAM BERDARAH DENGUE

5. TINGKAT PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP PEMBERANTASAN PENYAKIT DBD (Studi Kasus Kabupaten Indramayu)

LAPORAN KAJIAN EVALUASI PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH NO. 5 TAHUN 2010 TENTANG PENGENDALIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DIKOTA SEMARANG

BAB 1 PENDAHULUAN. Menurut Kementerian Kesehatan RI (2010), program pencegahan dan

MARI BERANTISIPASI DBD MENGGUNAKAN KELAMBU AIR

BAB I PENDAHULUAN. dengue, yang ditularkan oleh nyamuk. Penyakit ini ditemukan di daerah

SARANG NYAMUK DALAM UPAYA PENCEGAHAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DI DESA KLIWONAN MASARAN SRAGEN

BAB 1 PENDAHULUAN. tahun 2009, World Health Organization (WHO) mencatat negara Indonesia sebagai

PEMERINTAH KOTA TEGAL DINAS KESEHATAN UPTD PUSKESMAS TEGAL TIMUR Jln. Flores No. 35 Telp. : ( 0283 ) Tegal

BAB 1 PENDAHULUAN. mengalami kemajuan yang cukup bermakna ditunjukan dengan adanya penurunan

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai risiko tinggi tertular Demam Dengue (DD). Setiap tahunnya

BAB I PENDAHULUAN. dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk demam berdarah (Aedes

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

SKRIPSI. Skripsi Ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan Masyarakat. Disusun Oleh AGUS SAMSUDRAJAT J

BAB 1 PENDAHULUAN. anak-anak.penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sampai saat ini masih

SKRIPSI PERBEDAAN PENGETAHUAN DAN SIKAP JUMANTIK KECIL SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN PELATIHAN PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI MIN KETITANG

BAB 1 : PENDAHULUAN. Berdarah Dengue (DBD). Jumlah penderita dan luas daerah penyebarannya

BAB 8 KESIMPULAN DAN SARAN

UNGGULAN UTAMA RW SIAGA KESEHATAN

BAB 1 PENDAHULUAN. dan di 436 kabupaten/kota dari 497 kabupaten/kota sebesar 88%. Angka kesakitan

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. umum dari kalimat tersebut jelas bahwa seluruh bangsa Indonesia berhak untuk

BAB I PENDAHULUAN. setiap tahunnya. Salah satunya Negara Indonesia yang jumlah kasus Demam

PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan. keluarga dengan melaksanakan pembangunan yang berwawasan kesehatan,

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG PENGENDALIAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE

GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA

PEDOMAN WAWANCARA. Lampiran 1. Pedoman Wawancara

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan daerah tropis yang banyak berkembang nyamuk Aedes. kepadatan penduduk (Kementerian Kesehatan RI, 2010).

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II DESKRIPSI DINAS KESEHATAN KABUPATEN BANTUL. 1. Sejarah Perkembangan Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul

WALI KOTA PALU PROVINSI SULAWESI TENGAH

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 : PENDAHULUAN. yang akan memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial ekonomis.

BAB I. dalam kurun waktu yang relatif singkat. Penyakit menular umumnya bersifat akut

EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN PANDAN WANGI (Pandanus amaryllifolius Roxb.) DALAM MEMBUNUH LARVA Aedes aegypti

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat Indonesia, disamping mulai meningkatnya masalah

BUPATI LUWU UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN

BAB I PENDAHULUAN. harus dipenuhi oleh setiap bangsa dan negara. Termasuk kewajiban negara untuk

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN PERILAKU PSN DENGAN KEBERADAAN JENTIK Aedes aegypti DI DESA NGESREP KECAMATAN NGEMPLAK KABUPATEN BOYOLALI

BAB I PENDAHULUAN juta orang saat ini diseluruh dunia. Serta diperkirakan sekitar

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever

BAB I PENDAHULUAN. dan tantangan yang muncul sebagai akibat terjadinya perubahan sosial ekonomi dan

BUPATI PAKPAK BHARAT PROVINSI SUMATERA UTARA

BAB I PENDAHULUAN. berbahaya ini cenderung menurun bersamaan dengan terus membaiknya

4. HASIL PENELITIAN. Pengetahuan ibu..., Niluh A., FK UI., Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. selalu diusahakan peningkatannya secara terus menerus. Menurut UU No.36 Tahun 2009 tentang kesehatan, dalam pasal 152

BAB I PENDAHULUAN. Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi

VII. PERUMUSAN STRATEGI DAN PROGRAM PROMOSI KESEHATAN DI DESA JEBED SELATAN

PENINGKATKAN KEMANDIRIAN DASA WISMA KELURAHAN SEKARAN DALAM PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH DENGUE

I. Pendahuluan Pada awal tahun 2004 kita dikejutkan kembali dengan merebaknya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), dengan jumlah kasus yang cukup

BAB I PENDAHULUAN. Posyandu diselenggarakan untuk kepentingan masyarakat sehingga

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN A.

EVALUASI PEMERIKSAAN JENTIK BERKALA RUMAH WARGA DI WILAYAH PUSKESMAS TANAH KALIKEDINDING SURABAYA

BAB 1 PENDAHULUAN. Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue, ditularkan

Unnes Journal of Public Health

BAB 1 PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat di Indonesia dan bahkan di Asia Tenggara. World Health

Seminar Nasional Mewujudkan Kemandirian Kesehatan Masyarakat Berbasis Preventif dan Promotif ISBN:

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes Volume VIII Nomor 1, Januari 2017 ISSN (p) -- ISSN (e)

UPAYA MENCEGAH DEMAM BERDARAH DENGAN ANGKA BEBAS JENTIK BAGI KADER KESEHATAN KELURAHAN PANDAN WANGI KOTA MALANG

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorhagic Fever

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever

BAB I PENDAHULUAN. kejadian luar biasa dengan kematian yang besar. Di Indonesia nyamuk penular


BAB I PENDAHULUAN. Tenggara. Terdapat empat jenis virus dengue, masing-masing dapat. DBD, baik ringan maupun fatal ( Depkes, 2013).

BAB I : PENDAHULUAN. menular yang disebabkan oleh virus dengue, virus ini ditularkan melalui

masyarakat, bangsa dan negara yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dalam lingkungan sehat, berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), mempunyai

PEDOMAN WAWANCARA (Kepala Puskesmas Kecamatan Tanah Abang)

Transkripsi:

157 BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN 8.1. Kesimpulan 1. Kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD) dengan metode COMBI di laksanakan untuk pertama kalinya di Kota Pekanbaru dengan wilyah percontohan Kelurahan Sidomulyo Timur. Kegiatan PSN COMBI dilaksanakan dalam bentuk kegiatan 3 M Plus terhadap kontainer potensial yang spesifik yaitu bak mandi dan pot kembang berdasarkan hasil Survey Entomologi. Pengkomunikasian pesan dilakukan dengan memperhatikan sosial budaya masyarakat. Kegiatan ini dilakukan melalui tahapan-tahapan manajerial yang spesifik dengan keterlibatan penuh masyarakat dan didukung kerja sama lintas program dan lintas sektor. 2. Masukan (input) dalam kegiatan PSN dengan metode COMBI di Kelurahan Sidomulyo Timur antara lain berupa tenaga, dana, sarana, metode, sasaran masyarakat dan jangka waktu kegiatan. Komponen masukan tersebut telah tersedia dalam mendukung manajemen PSN COMBI di Kelurahan Sidomulyo Timur. Namun masih terdapat hambatan-hambatan, diantaranya keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang terlibat dalam kegiatan manajemen PSN COMBI, keterbatasan ketersediaan dana dan sarana untuk pengembangan kegiatan khususnya untuk media promosi dan komunikasi serta belum adanya

158 kebijakan langsung dari daerah untuk kegiatan PSN DBD. Selain itu, belum seluruh masyarakat mau dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan PSN COMBI di Kelurahan Sidomulyo Timur. 3. Proses manajemen PSN COMBI di Kelurahan Sidomulyo Timur terdiri atas tiga tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan dan monitoring serta evaluasi. Perencanaan kegiatan dan anggaran PSN COMBI dilakukan dengan menyusun dokumen RAK-SKPD dan Rencana Aksi COMBI yang terintegrasi dengan penjadwalan kegiatan. Dalam pelaksanaannya kegiatan PSN COMBI di Kelurahan Sidomulyo Timur terdapat kerja sama lintas program dan lintas sektor yaitu dengan dibentuknya Tim PSN COMBI Kelurahan Sidomulyo Timur yang terdiri dari petugas kesehatan dinas dan Puskesmas, melibatkan Petugas Promosi Kesehatan dan 49 Kader Posyandu sebagai Juru Pemantau Jentik yang berasal dari 12 RW di Kelurahan Sidomulyo Timur. Namun Tim PSN COMBI ini belum bersifat multidisiplin ilmu dan belum melibatkan kerjasama dengan pihak swasta dan LSM untuk bersama-sama melakukan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit DBD. Pemantauan (monitoring) dilakukan secara berkala melalui kunjungan langsung petugas kesehatan di lapangan serta melalui pertemuan petugas kesehatan dengan kader Jumantik setiap bulan. Pemantauan terhadap kemajuan hasil kegiatan yaitu secara tertulis melalui laporan

159 hasil pemeriksaan jentik yang dilaporkan oleh kader Jumantik kepada petugas pengelola DBD di Puskesmas setiap 2 minggu sekali. Evaluasi dilakukan pada saat proses kegiatan berlangsung yaitu evaluasi proses (process evaluation) dan pada keseluruhan akhir kegiatan yaitu evaluasi tahap akhir kegiatan (summative evaluation). Evaluasi proses berupa evaluasi kegiatan Pelatihan kader Jumantik dan Pelatihan tenaga Survey Perilaku dan Sosial Masyarakat dalam Rangka PSN DBD di Kelurahan Sidomulyo Timur tahun 2008, untuk menilai perubahan pengetahuan dan ketrampilan peserta setelah mendapatkan pelatihan. Evaluasi akhir dilakukan untuk menilai keberhasilan kegiatan PSN dengan membandingkan pada target keberhasilan yang ingin dicapai dan menyusun saran-saran untuk pengembangan kegiatan PSN COMBI selanjutnya. 4. Kegiatan PSN COMBI berhasil menurunkan Angka Bebas Jentik di Kelurahan Sidomulyo Timur menjadi > 95% berdasarkan laporan hasil pemeriksaan Jentik sampai dengan minggu ke 10 dilaksanakannya kegiatan. Hal ini menunjukkan adanya perubahan perilaku masyarakat yang mulai rutin melaksanakan kegiatan PSN dan adanya dukungan proses manajemen yang baik. Namun perlu adanya upaya pemeliharaan perilaku dan pengembangan manajemen kegiatan kedepannya sehingga upaya pencegahan dan pengendalian DBD di wilayahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien.

160 8.2. Saran 1. Meskipun petugas pengelola PSN COMBI telah memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang baik, namun perlu terus ditingkatkan dengan mengadakan pelatihan atau workshop secara berkala sesuai kebutuhan dan sumber daya yang dimiliki. Perekrutan pegawai honorer dapat dilakukan untuk membantu mengatasi keterbatasan sumber daya manusia yang terlibat dalam manajemen PSN COMBI. 2. Pelaksanaan PSN COMBI di Kelurahan Sidomulyo Timur dapat dilakukan oleh Pokjanal DBD yang telah terbentuk. Sehingga dengan demikian dapat mengaktifkan kembali fungsi dan peran Pokjanal DBD sebagai wadah koordinasi dan penggerakan pelaksanaan PSN DBD di wilayahnya 3. Pengembangan kerja sama lintas sektor lainnya dalam kegiatan PSN COMBI di Kelurahan Sidomulyo Timur yaitu kerjasama dengan pihak swasta dalam bentuk sponsorship dapat mengatasi masalah keterbatasan dana dan sarana serta membantu pengembangan media promosi dan komunikasi untuk penyampaian pesan COMBI serta kerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) berupa penyediaan tenaga sukarela untuk membantu pelaksanaan PSN COMBI di Kelurahan Sidomulyo Timur. 4. Peningkatan dukungan pemerintah daerah dalam bentuk kebijakan/perda yang mengatur pelaksanaan upaya pencegahan dan pengendalian Demam Berdarah Dengue dengan menekankan PSN DBD sebagai upaya pencegahan yang paling efektif dan efisien.

161 5. Peningkatan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat baik secara langsung maupun dengan penyampaian pesan COMBI yang spesifik melalui media yang paling disenangi dan disampaikan oleh tokoh yang tepat berdasarkan hasil survey Perilaku dan Sosial Budaya Masyarakat yaitu iklan di televisi oleh petugas kesehatan. 6. Lebih menggerakkan peran tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat dalam mengerahkan warganya agar berpartisipasi aktif dalam kegiatan PSN COMBI di Kelurahan Sidomulyo Timur untuk mencegah penyakit demam berdarah dengue di wilayah mereka. 7. Pengembangan sistem reward baik dalam bentuk penghargaan maupun materi kepada petugas dan masyarakat yang berperan aktif dalam kegiatan PSN dan pemberian punishment berupa sanksi atau denda kepada masyarakat yang tidak mau melaksanakan kegiatan PSN. Sistem reward dan punishment yang diterapkan dengan baik merupakan salah satu bentuk upaya pemeliharaan perilaku PSN DBD rutin yang telah terbentuk di masyarakat. 8. Pengembangan kegiatan PSN COMBI lebih lanjut, tidak hanya pada kelompok rumah tangga saja tetapi juga pada kelompok pengelola tempattempat umum, tempat-tempat aktivitas pendidikan (sekolah), dll di Kelurahan Sidomulyo Timur. 9. Bagi Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Depkes RI : Kebijakan yang ada mengenai upaya pengendalian penyakit Demam Berdarah Dengue harus mengedepankan paradigma sehat dengan

162 mengutamakan upaya pencegahan (preventif) dan yang dilakukan secara dini dan berkesinambungan serta diarahkan pada terdorongnya partisipasi masyarakat secara aktif. Komitmen politik dan penegakan perundang-undangan merupakan peran signifikan dari pemerintah untuk menciptakan serta memelihara lingkungan yang mendukung upaya pencegahan dan pengendalian penyakit DBD dalam hal ini kegiatan PSN di masyarakat Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD (PSN DBD) dijadikan gerakan proaktif yang dilakukan sepanjang tahun dengan intensitas menjelang musim hujan serta adanya upaya sosialisasi sepanjang tahun dalam pemberantasan sarang nyamuk. Hal ini penting dilakukan untuk menjamin kesadaran masyarakat bahwa pemutusan vektor nyamuk demam berdarah harus dilakukan tuntas sepanjang tahun Pelaksanaan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan metode COMBI terbukti efektif dalam meningkatkan ABJ pada beberapa provinsi di Indonesia yang telah menerapkan metode ini. Namun, metode ini perlu dilakukan penyederhanaan lebih lanjut agar dapat diterapkan di provinsi-provinsi lain secara lebih efisien sesuai dengan kondisi dan kemampuan daerah. Proses bottom up dalam kegiatan pencegahan dan pengendalian penyakit, dalam hal ini Demam Berdarah Dengue di daerah masih perlu ditingkatkan secara optimal dan peran pemerintah pusat adalah melaksanakan pemantauan dan pengawasan atas proses bottom up secara efektif.