BAB I PENDAHULUAN. kepemilikan yang berbeda dengan perusahaan-perusahaan di Eropa atau

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. perusahaan. Perusahaan yang pada awalnya dikelola langsung oleh pemiliknya,

1 Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia dikenal dengan negara yang kaya akan sumber daya tambangnya dan sektor

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perusahaan bertujuan untuk memaksimalkan kesejahteraan pemilik

BAB 1 PENDAHULUAN. yang bekerja untuk mencapai tujuan. Tujuan utama perusahaan adalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Masalah keuangan merupakan salah satu masalah yang sangat vital bagi

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN UKDW. Dalam mengelola suatu perusahaan telah lama dikenal suatu istilah yang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Indikator penting dalam menilai kemajuan perekonomian suatu negara adalah

BAB I PENDAHULUAN UKDW. kinerja perusahaan dalam mencapai tujuan (Indrayani, 2009). Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. dimana satu atau lebih orang (prinsipal) memerintah orang lain (agen) untuk. agen membuat keputusan yang terbaik bagi prinsipal.

BAB I PENDAHULUAN. return atas investasinya dengan benar. Corporate governance dapat

BAB I PENDAHULUAN. Menghadapi persaingan bisnis yang kompetitif, perusahaan berusaha memperbaiki kinerja

I. PENDAHULUAN. Dalam perkembangan perusahaan yang semakin meningkat, pemilik

BAB I PENDAHULUAN. Kinerja keuangan merupakan hal penting yang harus dicapai. setiap perusahaan, dalam menghadapi persaingan untuk

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Tujuan perusahaan dalam jangka panjang adalah memaksimalkan nilai

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Standar Akuntansi Keuangan (SAK) No.1 (2012) laporan keuangan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Saham adalah suatu nilai dalam berbagai instrumen finansial yang mengacu

BAB I PENDAHULUAN. dapat mempengaruhi persepsi investor terhadap perusahaan. berdampak terhadap nilai perusahaan (Fama dan French, 1998).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. diterapkannya good corporate governance di Indonesia merupakan salah satu

PENDAHULUAN. perusahaan yang ditransaksikan di bursa untuk perusahaan yang sudah go public. Dalam

BAB I PENDAHULUAN. mampu untuk mengelola sumber daya seperti man, machine, money dan material

BAB I PENDAHULUAN. manajer (agen). Manajemen ditunjuk sebagai pengelola perusahaan oleh pihak

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan melalui implementasi keputusan keuangan yang terdiri dari

BAB I PENDAHULUAN. eksternal, yang berisi seluruh kegiatan bisnis dari satu kesatuan usaha sebagai

BAB I PENDAHULUAN. ini dikarenakan dengan Gross Domestic Product (GDP) Indonesia yang terus

Bab 1 PENDAHULUAN. sebuah perusahaan. Manajer dapat dikatakan sebagai agent dan pemegang

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan dari suatu perusahaan adalah mensejahterahkan kepentingan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

SKRIPSI. Disusun Oleh : THORIQ AHMAD B B

BAB I PENDAHULUAN. kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) dalam perusahaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pertalian keluarga, baik yang tergolong keluarga inti atau perluasannya (baik yang

BAB I PENDAHULUAN. melimpahkan kepada pihak lain yaitu manajer sehingga menyebabkan

PENGARUH MEKANISME CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP AGENCY COST PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA SKRIPSI

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. karena bagi para investor dividen merupakan return (tingkat pengembalian) atas

BAB I PENDAHULUAN. dibandingkan dengan negara-negara lain, baik di dunia, dikawasan Asia,

BAB I PENDAHULUAN. memahami corporate governance. Jensen dan Meckling (1976) dalam Muh.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Tujuan utama sebuah perusahaan adalah untuk mendapatkan laba yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang memberi wewenang (principle) yaitu pemilik atau pemegang saham dengan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. Di dalam suatu perusahaan masalah yang sering muncul berkaitan dengan

BAB I PENDAHULUAN. sahamnya yang di-publish dalam situs resmi baik itu laporan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS. perusahaan. Kinerja keuangan merupakan suatu hasil pelaporan yang menunjukkan kondisi serta

BAB 1 PENDAHULUAN. masih bersifat private atau belum go public, nilai perusahaan ditetapkan oleh lembaga

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian (Hedi Sasrawan, 2015) Kurniawan & Indriantoro (2000) Dini Nuraeni (2010)

BAB I PENDAHULUAN. dan kepentingan antara pemilik (principal) dan manajemen (agent) tersebut akan. menimbulkan permasalahan keagenan (agency problem).

BAB 1 PENDAHULUAN. keputusan oleh para investor dan kreditor (Haruman, 2008). Brigham dan Borolla (2011) dalam Bernandhi (2013).

BAB I PENDAHULUAN UKDW. seringkali membuat adanya konflik kepentingan antara kedua belah pihak.

kepentingan pemegang saham mungkin bertentangan. Hal tersebut disebabkan

BAB I PENDAHULUAN. memaksimalkan kesejahteraan shareholder (pemegang saham). Banyak pemegang

BAB I PENDAHULUAN. Pada umumnya tujuan utama didirikannya suatu perusahaan adalah untuk

BAB I PENDAHULUAN. Corporate governance merupakan suatu sistem yang mengatur dan

BAB I PENDAHULUAN. Djemat, dan Soembodo (2003) juga menemukan bahwa rata-rata sebanyak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pada umumnya, suatu perusahaan didirikan dengan tujuan

I. PENDAHULUAN. menilai kinerja perusahaan dalam proses pengambilan keputusan. Laporan keuangan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. pemegang saham. Manajer mempunyai kewajiban untuk memaksimumkan. kepentingan untuk memaksimumkan kesejahteraan mereka.

BAB 1 dikarenakan tidak adanya pengawasan (monitoring) yang ketat terhadap

PENGARUH PRAKTEK CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP AGENCY COST PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI INDONESIA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. kredibilitas yang dijunjung tinggi, mempunyai kualitas bagus dan harus bisa

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Kondisi perusahaan dicerminkan dari Laporan Keuangan yang telah

BAB I PENDAHULUAN. Laba merupakan salah satu informasi potensial yang terkandung di

BAB I PENDAHULUAN. semakin maju membuat para pelaku ekonomi semakin mudah dalam mendapatkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. berhubungan dengan permasalahan yang ada pada penelitian ini. Berikut adalah

I. PENDAHULUAN. corporate governance. Bukti menunjukkan lemahnya praktik corporate

BAB I PENDAHULUAN. Perhatian dunia terhadap Good Corporate Governance (GCG) mulai. yang dilakukan oleh Asian Development Bank (ADB) menyimpulkan

BAB I PENDAHULUAN. Di Negara Indonesia, isu mengenai good corporate governance

BAB I PENDAHULUAN. yang diterima oleh shareholder meningkat. Oleh karena itu kegiatan yang

BAB I PENDAHULUAN UKDW. melalui Foreign Direct Investment (FDI). Investor menganggap bahwa

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. modal sangatlah penting didapatkan dari sumber-sumber keuangan, baik dari

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian Tujuan utama perusahaan yang telah go public adalah meningkatkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. manajemen perusahaan dalam rangka mendanai operasional perusahaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Beberapa penelitian dalam menentukan kebijakan hutang telah banyak

BAB 1 PENDAHULUAN. Masalah keuangan perusahaan dapat terjadi dengan berbagai penyebab,

BAB I PENDAHULUAN. struktur kepemilikannya memiliki hak untuk memilih dewan komisaris UKDW

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkembangan dunia usaha yang semakin meningkat dalam dasawarsa ini

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perkembangan dunia bisnis sekarang ini sangatlah pesat. Hal ini dapat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. hutang. Hutang adalah kewajiban suatu perusahaan yang timbul dari transaksi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Adanya penelitian yang telah dilakukan sebelum penelitian ini dibahas,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. merupakan dampak dari adanya asimetri informasi. Teori Sinyal adalah

BAB I PENDAHULUAN. yaitu mengenai struktur kepemilikan, struktur modal, corporate

BAB I PENDAHULUAN. hanya mendapatkan profit tetapi untuk untuk memaksimalkan nilai

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang Undang Republik Indonesia Nomor 8 tahun 1995 mengenai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Kehidupan ekonomi masyarakat pada era saat ini tidak terlepas dari dunia

BAB I PENDAHULUAN. saham akan semakin meningkat (Wahyudi dan Pawestri, 2006).

BAB I PENDAHULUAN. informasi yang memadai diberikan oleh perusahaan karena mempunyai

BAB I PENDAHULUAN. saham, dengan pembagian dividen atau perolehan capital gain (Mahfoedz. dan Naim, 1996 dalam Purbandari, 2008).

BAB II TEORI AGENSI, PERATURAN BAPEPAM VIII G.7, KEPEMILIKAN MANAJERIAL, KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, NILAI PERUSAHAAN DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

BAB I PENDAHULUAN. menerima simpanan giro, tabungan dan deposito. Selain itu, bank juga dikenal

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Pengertian LQ Kriteria Indeks LQ Daftar Perusahaan Objek Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. sehingga memaksimalkan keuntungan pemegang sahamnya dan menjaga. kelangsungan hidup jangka panjang. Dalam upaya mencapai tujuannya,

BAB I PENDAHULUAN. keuangan dan hal ini sangat penting, baik bagi investor maupun bagi

BAB 1 PENDAHULUAN. Didirikannya sebuah perusahaan memiliki tujuan yang jelas yang terdiri dari:

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perusahaan publik di Indonesia memiliki komposisi struktur kepemilikan yang berbeda dengan perusahaanperusahaan di Eropa atau Amerika yang struktur kepemilikannya menyebar (dispersed ownership) sementara struktur kepemilikan di Indonesia sangat terkonsentrasi (Santoso, 2008) dalam Prasetyo (2009). Menurut Dallas (2004) kepemilikan saham dikatakan terkonsentrasi jika sebagian besar saham dimiliki oleh sebagian kecil individu atau kelompok, sehingga pemegang saham tersebut memiliki jumlah saham yang relatif dominan dibandingkan dengan yang lainnya. Kepemilikan saham dikatakan menyebar, jika kepemilikan saham menyebar secara relatif merata ke publik, tidak ada yang memiliki saham dalam jumlah sangat besar dibandingkan dengan yang lainnya (Shinta dan Ahmar, 2011). Hasil penelitian Saputra (2010) menunjukkan bahwa persentase jumlah struktur kepemilikan yang dimiliki oleh masingmasing dari 150 perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia tahun 2002 sampai tahun 2005, kepemilikan terbesar dipegang oleh keluarga yaitu sebesar 73,57%. Kajian ini menemukan bahwa keluarga sangat mayoritas di dalam kepemilikan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Pemegang saham mayoritas tidak bisa dijamin memanfaatkan kekuatannya pada perusahaan publik untuk kepentingannya yang sebenarnya merugikan pemegang saham minoritas. 1

Halhal seperti inilah yang menjadi penyebab konflik antara pemegang saham mayoritas dengan pemegang saham minoritas. Fabio, Lang dan Youngt (2002) dalam Saputra (2010), yang menemukan bahwa anggota keluarga yang mempunyai pengaruh politik yang kuat dalam mengendalikan perusahaan berkecenderungan untuk mengeksploitasi pemegang saham minoritas. Hal ini terjadi dalam keadaan yang transparansi laporan keuangan tidak memuaskan contohnya di Asia Tenggara dan Amerika latin. Belajar dari perilaku usaha di Indonesia selama kurun waktu yang sangat panjang telah tercemar dengan berbagai tindakan, kegiatan, dan modus usaha yang tidak sehat, karena pola dan kepemilikan usaha yang hanya terkonsentrasi pada segelintir kelompok dan menyebabkan terjadinya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Di sisi lain, penegakkan hukum untuk berbagai kasus yang menyangkut praktik bad corporate governance juga belum tampak. Krisis yang melanda Indonesia tidak terlepas dari pengaruh lemahnya penerapan good corporate governance. Hal ini ditandai dengan kurang transparannya pengelolaan perusahaan sehingga kontrol publik menjadi sangat lemah dan konsentrasi kepemilikan saham pada beberapa keluarga. Minimnya perlindungan pada pemegang saham minoritas menyebabkan hilangnya kepercayaan investor, terutama investor asing untuk tetap memegang sahamsaham perusahaan publik di Indonesia (Heriyana, 2014). 2

Perusahaanperusahaan yang Listing di Bursa Efek Indonesia (BEI), pada umumnya merupakan perusahaan yang telah memiliki struktur organisasi terpisah antara pihak pemilik dan pengelolanya (Nur aeni, 2010). Pengelolaan perusahaan di Indonesia yang listing di BEI dinilai belum efektif, hal tersebut dinyatakan oleh Kurniawan & Indriantoro (200) dalam Nur aeni (2010) bahwa penyebabnya adalah struktur kepemilikan perusahaan yang didominasi oleh keluarga, sehingga tidak ada pemisahan yang jelas antara kepemilikan dan pengaturan perusahaan, menyebabkan manajemen perusahaan cenderung hanya berpihak pada salah satu pemilik saja. Struktur kepemilikan perusahaan termasuk didalamnya adalah, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan kepemilikan asing. Kepemilikan manajerial adalah investasi ke perusahaan oleh pihak manajemen perusahaan, direksi perusahaan, atau pihak yang mendapatkan kewenangan untuk menjalankan operasional perusahaan (Pratama, 2013). Sebagian besar perusahaan itu memiliki ratusan atau ribuan pemegang saham dan tidak mungkin jika semuanya harus terlibat dalam manajemen perusahaan, sehingga perlu otoritas untuk mendelegasikan usahanya kepada manajemen. Perusahaan akan menyewa manajer profesional untuk menjalankan usahanya. Manajer sebagai pihak yang diberi kepercayaan untuk menjalankan tanggung jawab pengelolaan perusahaan, seharusnya dalam mengambil keputusan permasalahan keuangan didasarkan pada tujuan utama untuk meningkatkan kemakmuran pemilik atau para pemegang 3

saham (peningkatan nilai saham). Namun tidak ada jaminan bahwa manajer pasti akan bertindak untuk kepentingan pemilik. Manajer dapat saja mempunyai tujuan lain yang bertentangan dengan tujuan utama dan bersikap opportunistic untuk memenuhi kepentingannya sendiri. Kondisi ini menimbulkan konflik kepentingan antara pemegang saham dengan para manajernya (agency problem). Menurut teori agensi yang dikemukakan oleh Jensen dan Meckling (1976), perusahaan yang memisahkan fungsi pengelolaan dan fungsi kepemilikan akan rentan terhadap konflik keagenan (agency problem) antara manajer dengan pemegang saham. Konflik tersebut timbul karena adanya perbedaan kepentingan dalam pembuatan keputusan yang berkaitan dengan aktivitas pencarian dana (financing decision), dan bagaimana dana yang diperoleh tersebut diinvestasikan. Beberapa penelitian telah memberikan bukti bahwa kepemilikan manajerial dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja perusahaan. Karim (2013) menemukan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Ardianingsih dan Ardiyani (2010) juga membuktikan bahwa kepemilikan manajerial memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan. Penemuanpenemuan tersebut mengindikasikan bahwa dengan adanya kepemilikan manajerial, manajer sebagai pihak yang mengoperasionalkan perusahaan sekaligus sebagai pemegang saham, akan terdorong untuk bertindak sejalan dengan keinginan pemegang saham dengan meningkatkan kinerja dan tanggung jawab dalam 4

mencapai kemakmuran bagi pemegang saham. Ini dikarenakan manajer akan merasakan secara langsung manfaat dari keputusan yang ia ambil serta kerugian yang akan diterimanya ketika membuat keputusan yang salah. Kepemilikan institusional merupakan proporsi kepemilikan saham oleh institusi seperti LSM, Perusahaan swasta, perusahaan efek, dana pensiun, perusahaan asuransi, bank dan perusahaanperusahaan investasi (Wiranata dan Nugrahanti, 2013). Bathala et al. (1994), menguji Managerial ownership, debt policy, and the impact of institutional holdings: An agency perspective. Ditemukan bahwa kepemilikan oleh investor institusional merupakan agen monitoring yang efektif dan membantu dalam mengurangi agency cost. Jensen dan Meckling (1976) mendefinisikan agency cost atau biaya keagenan sebagai jumlah dari biaya yang dikeluarkan prinsipal untuk melakukan pengawasan terhadap agen. Nur aeni (2010) menunjukkan hasil bahwa kepemilikan institusional memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja perusahaan. Temuan ini sejalan dengan yang dilakukan oleh Dhanis (2012) bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Hasil kedua penelitian tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi kepemilikan institusional, maka semakin kuat kontrol internal perusahaan guna mengurangi biaya keagenan. Struktur kepemilikan lain yaitu kepemilikan asing, yang merupakan porsi outstanding share yang dimiliki oleh investor atau pemodal asing (foreign investors) yakni perusahaan yang dimiliki oleh perorangan, badan 5

hukum, pemerintah serta bagianbagiannya yang berstatus luar negeri terhadap jumlah seluruh modal saham yang beredar (Farooque et al., 2007) dalam (Wiranata, 2013). Kepemilikan saham asing berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan, Hal ini disebabkan karena adanya pengawasan secara aktif yang dilakukan oleh pemodal asing yang dapat membantu penerapan good corporate governance, tingkat keuntungan perusahaan dan menolong perusahaan yang dalam kondisi sulit dan mengantisipasi adanya tindakan manajemen perusahaan yang merugikan pemodal (Nur aeni, 2010). Struktur kepemilikan akan memiliki motivasi yang berbeda dalam memonitor perusahaan serta manajemen dan dewan direksinya. Struktur kepemilikan dipercaya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi jalannya perusahaan yang nantinya dapat mempengaruhi kinerja perusahaan (Sabrina, 2010). Return On Asset (ROA) digunakan sebagai salah satu alat untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan, karena Return On Asset (ROA) menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan. Dengan mengetahui rasio ini, akan dapat diketahui apakah perusahaan efisien dalam memanfaatkan aktivanya dalam kegiatan operasional perusahaan. Semakin besar ROA yang dimiliki oleh sebuah perusahaan maka semakin efisien penggunaan aktiva sehingga akan memperbesar laba. Dengan pencapaian laba yang tinggi itulah investor dapat mengharapkan keuntungan yang berasal dari deviden. Berikut ini merupakan perkembangan kepemilikan keluarga, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, 6

kepemilikan asing dan Return On Asset (ROA) pada beberapa perusahaan manufaktur industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011 sampai dengan 2013. Tabel 1: Perkembangan Kepemilikan Keluarga, Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Asing dan Return On Asset (ROA) pada beberapa Perusahaan Manufaktur Industri Barang Konsumsi yang terdaftar di BEI periode 20112013. Nama Perusahaan (Tahun) PT. ADES Tbk. 2011 2012 2013 PT. GUDANG GARAM Tbk. 2011 2012 2013 PT BENTOEL INTERNATIONAL Tbk. 2011 2012 2013 PT. MANDOM INDONESIA Tbk. 2011 2012 2013 KK (%) 0.85% 0.92% 0.92% KM (%) 0.14% 0.14% 0.14% KI (%) 75.55% 75.55% 75.55% 12.94% 12.94% 12.94% KA (%) 93.85% 91.94% 91.94% 98.96% 98.96% 98.96% 60.83% 60.83% 60.83% PT. ULTRAJAYA MILK INDUSTRY Tbk. 2011 17.97% 37.12% 9.50% 2012 17.97% 37.12% 9.50% 2013 17.80% 37.10% 9.50% Sumber: Annual Report dan Laporan Keuangan Perusahaan Di BEI (idx.co.id) ROA (%) 8.18% 21.42% 12.61% 12.68% 9.80% 8.63% 4.83% 4.66% 11.28% 12.38% 11.91% 10.92% 4.64% 14.59% 11.56% 7

Pada tabel 1 di atas dapat dijelaskan bahwa PT. Ades Tbk merupakan perusahaan yang kepemilikannya dikuasai oleh pihak asing selama tahun 20112013 mengalami penurunan sebesar 1.91%, namun untuk Return On Asset (ROA) mengalami fluktuasi sebesar 4.43%. PT Gudang Garam Tbk kepemilikannya dikuasai oleh pihak institusional selama tahun 20112013 yang tidak mengalami perubahan yakni sebesar 75.55% disamping itu juga terdapat kepemilikan keluarga yang mengalami peningkatan sebesar 0.07% hal tersebut berbeda terjadi pada Return On Asset (ROA) yang mengalami penurunan sebesar 4.05%. PT. Bentoel International Tbk selama tahun 20112013 kepemilikan sahamnya dikuasai oleh pihak asing yang tidak mengalami perubahan sebesar 98.96%. Besarnya presentase kepemilikan yang dikuasai oleh pihak asing, tidak menjamin bahwa Return On Asset (ROA) perusahaan bagus, buktinya mengalami penurunan sebesar 16.11%. PT. Mandom Indonesia Tbk selama tahun 20112013 kepemilikan sahamnya dominan dikuasai oleh pihak asing sebesar 60.83%, disamping itu juga terdapat kepemilikan institusional sebesar 12.94% dan kepemilikan manajerial sebesar 0.14%. Ketiga kepemilikan tersebut tidak mengalami perubahan. Sementara untuk Return On Asset (ROA) pada perusahaan tersebut mengalami penurunan sebesar 1.46%. Dan PT. Ultrajaya Milk Industry Tbk kepemilikan sahamnya dominan dikuasai oleh pihak institusional selama tahun 20112013 yang mengalami penurunan sebesar 0.02% sementara untuk Return On Asset (ROA) mengalami fluktuasi sebesar 8

6.92%. Adapun faktorfaktor yang mempengaruhi kenaikan dan penurunan Return On Asset (ROA) yaitu adanya penurunan dan kenaikan total aktiva dan adanya kenaikan dan penurunan laba bersih yang diperoleh perusahaan. Return On Asset (ROA) yang positif menunjukkan bahwa dari total aktiva yang dipergunakan untuk beroperasi, perusahaan mampu memberikan laba bagi perusahaan. Sebaliknya apabila Return On Asset (ROA) yang negatif menunjukkan kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva belum mampu untuk menghasilkan laba, dalam artian perusahaan mengalami kerugian. Jadi jika suatu perusahaan mempunyai ROA yang tinggi maka perusahaan tersebut berpeluang besar dalam meningkatkan pertumbuhan. Tetapi jika total aktiva yang digunakan perusahaan tidak memberikan laba maka perusahaan akan mengalami kerugian dan akan menghambat pertumbuhan. ROA dinilai sangat penting karena untuk melangsungkan hidupnya suatu perusahaan haruslah berada dalam keadaan yang menguntungkan, tanpa keuntungan akan sulit bagi perusahaan untuk menarik modal dari luar. Para direktur, pemilik perusahaan dan yang paling utama pihak manajemen perusahaan akan berusaha meningkatkan keuntungan ini, karena disadari betul pentingnya arti keuntungan bagi masa depan perusahaan. Berdasarkan pada uraian tersebut, terkait dengan diterapkannya mekanisme good corporate governance di dalam perusahaanperusahaan di Indonesia, dimensi struktur kepemilikan merupakan salah satu elemen 9

penting bagi jalannya perusahaan yang pada akhirnya berpengaruh pada kinerja perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan. Berdasarkan fenomena tersebut, maka penelitian ini berjudul. Pengaruh Kepemilikan Keluarga, Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, dan Kepemilikan Asing Terhadap Return On Asset (ROA) Pada Perusahaan Manufaktur Industri Barang Konsumsi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 20112013. 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan sebelumnya, maka identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Perusahaan publik di Indonesia memiliki komposisi struktur kepemilikan yang berbeda dengan perusahaanperusahaan di Eropa atau Amerika yang struktur kepemilikannya menyebar (dispersed ownership) sementara struktur kepemilikan di Indonesia sangat terkonsentrasi (Santoso, 2008) dalam Prasetyo (2009). 2) Krisis yang melanda Indonesia tidak terlepas dari pengaruh lemahnya penerapan good corporate governance. Masalah corporate governance sangat erat kaitannya dengan agency theory, yang menjelaskan bagaimana pihakpihak yang terlibat dalam perusahaan (manajer, pemilik perusahaan, dan investor) akan berperilaku, karena pada dasarnya mereka memiliki kepentingan yang berbeda. 10

1.3 Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas, dapat ditarik rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: 1) Apakah variabel kepemilikan keluarga berpengaruh terhadap Return On Asset (ROA) pada perusahaan manufaktur industri barang konsumsi? 2) Apakah variabel kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap Return On Asset (ROA) pada perusahaan manufaktur industri barang konsumsi? 3) Apakah variabel kepemilikan institusional berpengaruh terhadap Return On Asset (ROA) pada perusahaan manufaktur industri barang konsumsi? 4) Apakah variabel kepemilikan asing berpengaruh terhadap Return On Asset (ROA) pada perusahaan manufaktur industri barang konsumsi? 5) Apakah variabel kepemilikan keluarga, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan kepemilikan asing secara bersamasama berpengaruh terhadap Return On Asset (ROA) pada perusahaan manufaktur industri barang konsumsi? 1.4 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah, tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui apakah variabel kepemilikan keluarga berpengaruh terhadap Return On Asset (ROA) pada perusahaan manufaktur industri barang konsumsi. 11

2) Untuk mengetahui apakah variabel kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap Return On Asset (ROA) pada perusahaan manufaktur industri barang konsumsi. 3) Untuk mengetahui apakah variabel kepemilikan institusional berpengaruh terhadap Return On Asset (ROA) pada perusahaan manufaktur industri barang konsumsi. 4) Untuk mengetahui apakah variabel kepemilikan asing berpengaruh terhadap Return On Asset (ROA) pada perusahaan manufaktur industri barang konsumsi. 5) Untuk mengetahui apakah variabel kepemilikan keluarga, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan kepemilikan asing secara bersamasama berpengaruh terhadap Return On Asset (ROA) pada perusahaan manufaktur industri barang konsumsi? 1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Teoritis Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu akuntansi, khususnya yang berkaitan dengan pemahaman tentang kepemilikan keluarga, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan kepemilikan asing terhadap Return On Asset (ROA). 12

1.5.2 Manfaat Praktis Berdasarkan segi praktis hasil penelitian ini diharapkan menjadi referensi atau bahan pertimbangan bagi pihak yang berkepentingan yaitu pada perusahaan go public di Bursa Efek Indonesia dalam mempertimbangkan pengambilan kebijakan finansial khususnya yang terkait dengan kepemilikan keluarga, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan kepemilikan asing terhadap Return On Asset (ROA). 13