HUBUNGAN SEJUMLAH KARAKTERISTIK PETANI METE DENGAN PENGETAHUAN MEREKA DALAM USAHATANI METE DI KABUPATEN BOMBANA, SULAWESI TENGGARA

dokumen-dokumen yang mirip
HUBUNGAN SEJUMLAH KARAKTERISTIK PETANI SAYURAN DENGAN PENGETAHUAN MEREKA TENTANG PENGELOLAAN USAHATANI SAYURAN DI KOTA KENDARI, SULAWESI TENGGARA

JURNAL P ENYULUHAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KOMPETENSI PETANI RUMPUT LAUT DI KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGGARA

JURNAL P ENYULUHAN KINERJA PENYULUH PERTANIAN DI BEBERAPA KABUPATEN PROVINSI JAWA BARAT

HUBUNGAN KARAKTERISTIK PETANI DENGAN KOMPETENSI AGRIBISNIS PADA

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Petani rumput laut yang kompeten merupakan petani yang mampu dan menguasai

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG DI DESA LABUAN TOPOSO KECAMATAN LABUAN KABUPATEN DONGGALA

JURNAL P ENYULUHAN KOMPETENSI PENYULUH DALAM PENGEMBANGAN MODAL AGRIBISNIS KECIL, DI KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT

MOTIVASI PETANI UNTUK BERGABUNG DALAM KELOMPOK TANI DI DESA PAGARAN TAPAH KECAMATAN PAGARANTAPAH DARUSSALAM KABUPATEN ROKAN HULU

ANALISIS PENDAPATAN DAN KELAYAKAN USAHATANI BAWANG MERAH DI KECAMATAN ANGGERAJA KABUPATEN ENREKANG

EFEKTIVITAS KOMUNIKASI PEMUKA PENDAPAT KELOMPOK TANI DALAM MENGGUNAKAN TEKNOLOGI USAHATANI PADI

Hubungan Karateristik Sosial Ekonomi Padi Sawah dengan...(welson Marthen Wangke)

DAMPAK PENERAPAN TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT) TERHADAP PENDAPATAN PETANI PADI SAWAH

ANALISIS KELAYAKAN USAHATANI NANAS DI DESA DODA KECAMATAN KINOVARO KABUPATEN SIGI

SEPA : Vol. 8 No.1 September 2011 : 9 13 ISSN : ANALISIS BIAYA DAN PENDAPATAN USAHATANI KEDELAI DI KABUPATEN SUKOHARJO

PEMBERDAYAAN KELOMPOKTANI DALAM PENGEMBANGAN KAWASAN BIOFARMAKA

Oleh: Munirwan Zani 1) ABSTRACT

HUBUNGAN ANTARA IMPLEMENTASI PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN (PUAP) DENGAN PENDAPATAN USAHATANI PADI SAWAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PEMIKIRAN

ANALISIS PENGARUH INPUT PRODUKSI TERHADAP PRODUKSI USAHATANI UBI KAYU DI DESA SUKASARI KECAMATAN PEGAJAHAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI

ANALISIS PENDAPATAN DAN KELAYAKAN USAHATANI PADI SAWAH DI DESA KARAWANA KECAMATAN DOLO KABUPATEN SIGI

PARTISIPASI ANGGOTA KELOMPOKTANI DALAM PENYUSUNAN RENCANA DEFINITIF KELOMPOK/RENCANA DEFINITIF KEBUTUHAN KELOMPOK

HUBUNGAN SOSIAL EKONOMI PETANI DENGAN TINGKAT ADOPSI INOVASI TEKNOLOGI KOMODITAS JAGUNG DI SIDOHARJO WONOGIRI. Oleh : Ir. Sutarto, M.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN PETANI DALAM MEMILIH WAKTU PANEN JAGUNG (Kasus Pada Petani Jagung di Kabupaten Serang Provinsi Banten)

KEMAMPUAN PETANI DALAM MELAKSANAKAN PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU (PTT) PADI SAWAH DI KECAMATAN PAMARICAN KABUPATEN CIAMIS

JIIA, VOLUME 2 No. 4, OKTOBER 2014

PERSEPSI PETANI TENTANG KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH DALAM UPAYA PENGEMBANGAN AGRIBISNIS SAYURAN

I. PENDAHULUAN. Pembangunan yang dilakukan di negara-negara dunia ketiga masih menitikberatkan

Herman Subagio dan Conny N. Manoppo Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Tengah ABSTRAK

VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN. Penelitian menyimpulkan sebagai berikut:

TINJAUAN PUSTAKA. komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sasarannya

Analisis Risiko Usahatani Kedelai Di Kecamatan Jawai Selatan Kabupaten Sambas. Abstract

PENDAPATAN TENAGA KERJA KELUARGA PADA USAHA TERNAK SAPI POTONG DI KECAMATAN TOROH KABUPATEN GROBOGAN

PENDAHULUAN Latar Belakang

ANALISIS KELAYAKAN USAHA TAMBAK BANDENG DI DESA DOLAGO KECAMATAN PARIGI SELATAN KABUPATEN PARIGI MOUTONG

KAJIAN TINGKAT INTEGRASI PADI-SAPI PERAH DI NGANTANG KABUPATEN MALANG

TINJAUAN PUSTAKA. meramu bahan-bahan kimia (anorganik) berkadar hara tinggi. Misalnya, pupuk urea

TINGKAT ADOPSI PETANI TERHADAP TEKNOLOGI PERTANIAN TERPADU USAHATANI PADI ORGANIK

HUBUNGAN SEJUMLAH KARAKTERISTIK PETANI METE DENGAN KOMPETENSI MEREKA DALAM USAHATANI METE DI KABUPATEN BOMBANA, SULAWESI TENGGARA SYAFRUDDIN

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERAN UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS (UPTD) PENYULUHAN DAN POS KESEHATAN HEWAN WILAYAH CISARUA KABUPATEN BOGOR

KEMANDIRIAN PEMBUDIDAYA IKAN PATIN DI LAHAN GAMBUT DI DESA TANGKIT BARU, KEC. KUMPE ULU, KABUPATEN MUARO JAMBI PROVINSI JAMBI

TINJAUAN PUSTAKA. budidaya ini meluas praktiknya sejak paruh kedua abad ke 20 di dunia serta

Muhammad Ranto 1, Ikhsan Gunawan 2, Rina Febrinova 2. Universitas Pasir Pengaraian,

III. METODE PENELITIAN. Umur responden merupakan usia responden dari awal kelahiran. sampai pada saat penelitian ini dilakukan.

Jurnal Dinamika Pertanian Volume XXVIII Nomor 3 Desember 2013 ( ) ISSN

POTENSI MODAL PETANI DALAM MELAKUKAN PEREMAJAAN KARET DI KABUPATEN MUSI RAWAS SUMATERA SELATAN

ANALISIS FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN PETANI DALAM MENERAPKAN USAHA TANI PADI ORGANIK

PENGARUH PENGGUNAAN TEKNOLOGI MESIN RICE TRANSPLANTER TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN USAHATANI PADI PENDAHULUAN

WACANA Vol. 13 No. 4 Oktober 2010 ISSN HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR SOSIAL EKONOMI DAN PSIKOLOGI DENGAN TINGKAT PENERIMAAN USAHATANI PADI

METODELOGI PENELITIAN. sistematis, faktual dan akuran mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan

Animal Agricultural Journal, Vol. 2. No. 2, 2013, p 1-7 Online at :

PENDAHULUAN Latar Belakang

KOMPETENSI PETANI JAGUNG DALAM BERUSAHATANI DI LAHAN GAMBUT: KASUS PETANI JAGUNG DI LAHAN GAMBUT DI DESA LIMBUNG KABUPATEN PONTIANAK KALIMANTAN BARAT

EFISIENSI USAHATANI PADI BERAS HITAM DI KABUPATEN KARANGANYAR

ANALISIS PENDAPATAN DAN KELAYAKAN USAHATANI PADI SAWAH DI DESA LAANTULA JAYA KECAMATAN WITAPONDA KABUPATEN MOROWALI

Pembimbing Utama : Ir. Richard WE Lumintang MSEA Pembimbing Anggota : Ir. Sudjana Natasamita

V. DAMPAK SUBSIDI PUPUK ORGANIK TERHADAP PRODUKSI DAN PENDAPATAN PADI SERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ADOPSI PUPUK ORGANIK DI PROVINSI LAMPUNG

I. PENDAHULUAN. Pangan merupakan kebutuhan yang mendasar (basic need) bagi setiap

TINJAUAN PUSTAKA. kehidupan rakyat, dan pembangunan dijalankan untuk meningkatkan produksi dan

PENDAHULUAN Latar Belakang

III. METODE PENELITIAN. A. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel. variabel X yang akan diukur untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan

BAB I PENDAHULUAN. sumber pendapatan bagi sekitar ribu RTUT (Rumah Tangga Usahatani Tani) (BPS, 2009).

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN USAHATANI PINANG KECAMATAN SAWANG KABUPATEN ACEH UTARA. Mawardati*

POLA PENGAMBILAN KEPUTUSAN WANITA TANI PADA USAHATANI SAYURAN SENTRA SAYURAN DATARAN TINGGI

AGRIPLUS, Volume 22 Nomor : 01Januari 2012, ISSN

ANALISIS PENDAPATAN DAN POLA KELEMBAGAAN PEMASARAN USAHATANI CABAI RAWIT DI DESA SUNJU KECAMATAN MARAWOLA KABUPATEN SIGI

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi yang dominan, baik

PERANAN FAKTOR-FAKTOR SOSIAL KELOMPOK TANI TERHADAP TINGKAT PENERAPAN TEKNOLOGI LEISA

ANALISIS PENDAPATAN RUMAH TANGGA DARI TANAMAN KELAPA DI DESA REBO KECAMATAN SUNGAILIAT KABUPATEN BANGKA

Reza Raditya, Putri Suci Asriani, dan Sriyoto Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu ABSTRACT

VII. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN. 1. Baik pada daerah dataran rendah maupun dataran tinggi, rendahnya

Sosio Ekonomika Bisnis ISSN

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data

Penggunaan Tenaga Kerja Keluarga Petani Peternak Itik pada Pola Usahatani Tanaman Padi Sawah di Kecamatan Air Hangat Kabupaten Kerinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PERANAN KELOMPOK TANI DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI PADI SAWAH DI DESA MARGAMULYA KECAMATAN BUNGKU BARAT KABUPATEN MOROWALI

ANALYSIS OF COST EFFICIENCY AND CONRTIBUTION OF INCOME FROM KASTURI TOBACCO, RICE AND CORN TO THE TOTAL FARM HOUSEHOLD INCOME

I. PENDAHULUAN. Pengembangan sumberdaya manusia merupakan proses untuk. ini juga merupakan proses investasi sumberdaya manusia secara efektif dalam

ANALISIS PEMASARAN CABAI MERAH (Capsicum annum) DI DESA GOMBONG KECAMATAN BELIK KABUPATEN PEMALANG ABSTRAK

HUBUNGAN KARAKTERISTIK INDIVIDU DENGAN SIKAP KARYAWAN DALAM USAHA PETERNAKAN SAPI PERAH

KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar

HUBUNGAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DENGAN PERILAKU PETANI DALAM BERCOCOK TANAM PADI SAWAH DI DESA WAIMITAL KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT

PERBEDAAN POLA TANAM TERHADAP BIAYA DAN PENDAPATAN USAHATANI KAKAO

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian, khususnya tanaman pangan bertujuan untuk meningkatkan

ABSTRACT. Keywords: Perceptions, Agricultural Extension Field, Farmers, The Importance of Role Extension

ABSTRAK. Diarsi Eka Yani Pepi Rospina Pertiwi Argadatta Sigit Program Studi Agribisnis, Jurusan Biologi FMIPA-UT ABSTRACT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

PENDAHULUAN Latar Belakang

KELAYAKAN DAN ANALISIS USAHATANI JERUK SIAM (Citrus Nobilis Lour Var. Microcarpa Hassk) BARU MENGHASILKAN DAN SUDAH LAMA MENGHASILKAN ABSTRAK

I. PENDAHULUAN. rumahtangga yang mengusahakan komoditas pertanian. Pendapatan rumahtangga

PENDAHULUAN Latar Belakang

VII. FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT PENGEMBANGAN PERKEBUNAN KARET

EFISIENSI FAKTOR PRODUKSI DAN PENDAPATAN PADI SAWAH DI DESA MASANI KECAMATAN POSO PESISIR KABUPATEN POSO

OPTIMASI USAHATANI SAYURAN DENGAN SISTEM DIVERSIFIKASI SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI

Faktor yang Berhubungan dengan Adopsi Peternak Sapi Perah tentang Teknologi Biogas di Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan

Analisis Kompetensi Petani Pepaya California (Studi Kasus Kelompok Tani Merta Giri Kusuma Desa Abang, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem)

I. PENDAHULUAN. Komoditas tanaman pangan yang sangat penting dan strategis kedudukannya

ABSTRACT. Keywords : Sago, Farmers Group Dynamics

Transkripsi:

JURNAL P ENYULUHAN ISSN: 1858-2664 Juni 2006, Vol. 2, No. 2 HUBUNGAN SEJUMLAH KARAKTERISTIK PETANI METE DENGAN PENGETAHUAN MEREKA DALAM USAHATANI METE DI KABUPATEN BOMBANA, SULAWESI TENGGARA (THE RELATIONSHIP OF CASHEW S FARMER CHARACTERISTICS AND THEIR KNOWLEDGE IN CASHEW FARMING AT DISTRICT OF BOMBANA, SOUTH-EAST SULAWESI) Syafruddin, Amri Jahi dan Richard W.E. Lumintang Abstract The objectives of this study were: (1) To determine the distribution of cashew farmer in a number characteristics, (2) To assess the farmer s knowledge in cashew farming and, (3) To determine the relationship of the cashew s farmer characteristics and their knowledge in cashew farming. Ninetyone cashew farmers were interviewed in this study. Data were collected in July to September 2005. Data were analyzed by Kendall W Concordance procedure. The results of the study were as follows: The mean of the farmer s age was 41, the farmer s formal education was secondary school, the farmer s experience in cashew farming was 14 years, their motivations were high, their income was Rp. 5.4 million rupiahs per year, their farm size was 3.3 ha, their cashew trees was 467, their family size was 4 persons, their media consumtion was high, their cashew production was 2.9 ton per year, their contact with extension agent was good, and they did not have any prior training. The mean score of the farmers knowledge was 75.58. Knowledge that the farmers need were: (1) Agriculture technology, (2) Labour aspect, (3) Integrating cashew farm and livestock, and (4) Capital formation. There were high correlations between the farmer s characteristics and the farmer s knowledge in cashew s farming. Keywords: Knowledge, farmer s characteristics, cashew farming. Pendahuluan Pengetahuan usahatani yang dimaksud dalam penelitian ini mencakup aspek budidaya dan teknologi pertanian, kombinasi cabang-cabang usahatani ternak, aspek permodalan, tenaga kerja, dan pemasaran produk usahatani. Pengetahuan dalam hal ini lebih menekankan pada aspek kognitif, di mana berdasarkan taksonomi Bloom, adalah didasarkan pada kegiatan-kegiatan untuk mengingat berbagai informasi yang pernah diketahui, tentang fakta, metode atau tehnik maupun mengingat hal-hal yang bersifat aturan, prinsip-prinsip atau generalisasi, proses memusatkan perhatian kepada hal-hal yang akan dipelajari, belajar mengingat-ingat dan berfikir untuk memecahkan masalah baru.

54 Syafruddin, Amri Jahi dan Richard W.E. Lumintang/ Petani yang diamati dalam penelitian ini adalah petani mete di Kabupaten Bombana, khususnya di Kecamatan Kabaena dan Kabaena Timur. Tanaman mete merupakan salah satu komoditas pertanian andalan di daerah tersebut. Menurut survei Bank Indonesia, kecamatan Kabaena dan Kabaena Timur termasuk kategori sangat potensial untuk daerah pengembangan tanaman mete. Namun demikian, potensi pengembangan mete di daerah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Hal ini ditunjukkan oleh produksi yang dihasilkan petani yang masih tergolong rendah yaitu ratarata 3 ribu ton per tahun dengan luas areal 8134 ha atau rata-rata produksi 0,3 ton per hektar per tahun (Kabaena dalam angka, 2004). Rendahnya produksi tersebut disebabkan oleh banyak faktor, namun secara spesifik tinjauan terhadap faktor petani perlu mendapat perhatian. Berdasarkan uraian di atas, secara khusus dapat dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana distribusi para petani mete di Kabupaten Bombana Sulawesi Tenggara pada sejumlah karakteristik yang diamati? 2. Bagaimana pengetahuan petani dalam usahatani mete di Kabupaten Bombana Sulawesi Tenggara? 3. Seberapa jauh terdapat hubungan antara karakteristik para petani mete itu dengan pengatahuan mereka dalam usahatani mete? Petani sebagai bagian dari masyarakat umumnya memiliki kebebasan berinteraksi dengan lingkungan sekitar, mempelajari halhal baru dan mengikuti perkembangan yang ada. Hal tersebut akan membentuk karakteristik petani yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan mereka dalam berusahatani. Berdasarkan uraian masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk menentukan: 1. Distribusi para petani mete di Kabupaten Bombana Sulawesi Tenggara pada sejumlah karakteristik yang diamati. 2. Pengetahuan yang perlu dikuasai para petani mete di Kabupaten Bombana Sulawesi Tenggara. 3. Hubungan antara karakteristik para petani mete itu dengan pengetahuan mereka dalam usahatani mete. Setiap individu memiliki kemampuan berbeda untuk mengembangkan pengetahuan. Hal tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan karakteristik individu tersebut. Tiap karakter yang melekat pada petani akan membentuk kepribadian dan orientasi perilaku tersendiri. Petani mete dengan karakteristik yang berbeda dapat mengembangkan pengetahuan usahataninya dengan cara yang berbeda pula. Beberapa karakteristik yang diduga berhubungan dengan pengetahuan petani dalam usahatani mete adalah: umur, pendidikan formal, pengalaman berusahatani, pendapatan, jumlah tanggungan keluarga, luas lahan, jumlah pohon mete, motivasi, kontak dengan penyuluh, konsumsi media, produksi mete, dan pelatihan. Hubungan karakteristik petani dengan pengetahuan mereka dalam berusahatani dapat digambarkan dalam bagan berikut:

Syafruddin, Amri Jahi dan Richard W.E. Lumintang/ 55 Gambar Hubungan Karakteristik Petani Mete dengan Pengetahuan Usahatani Mete Karakteristik Petani Mete: 1. Umur 2. Pendidikan 3. Pengalaman usahatani 4. Motivasi 5. Pelatihan 6. Jumlah tanggungan keluarga 7. Pendapatan 8. Luas lahan 9. Jumlah pohon mete yang ditanam 10. Konsumsi media 11. Produksi mete per tahun 12. Kontak dengan penyuluh Pengetahuan petani: 1. Penanaman dan pemeliharaan 2. Pemupukan dan pengendalian hama penyakit 3. Panen dan pascapanen 4. Teknologi pertanian 5. Kombinasi cabang usahatani ternak 6. Aspek tenaga kerja 7. Aspek Modal 8. Pemasaran hasil Keterangan: = Garis Hubungan Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional. Data primer dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan responden berpedoman pada kuesioner yang telah disiapkan, data sekunder yang mendukung penelitian diperoleh dari instansi terkait dan studi pustaka. Pengumpulan data secara acak dilakukan pada bulan Juli sampai September 2005. Sampel penelitian ditentukan dengan cluster sampling. Unit wilayah pemerintahan seperti: Kecamatan, Desa, Lingkungan, RW, dan RT digunakan sebagai cluster. Jumlah desa ditentukan secara sengaja yaitu sebanyak sepuluh desa. Dengan demikian, sebanyak sepuluh RT sebagai unit cluster terkecil terpilih menjadi lokasi penelitian. Sebanyak 91 orang petani mete menjadi responden dalam penelitian ini. Analisis hubungan antara variabel penelitian menggunakan uji konkordansi Kendall W, untuk memudahkan pengolahan data digunakan bantuan komputer program SPSS versi 11. Hasil dan Pembahasan Karakteristik Petani Karakteristik petani yang diamati dalam penelitian ini adalah: (1) Umur, (2) Pendidikan formal, (3) Pengalaman berusahatani, (4) Motivasi, (5) Pendapatan, (6) Luas lahan usahatani, (7) Jumlah pohon mete, (8) Konsumsi media, (9) Kontak dengan penyuluh, (10) Produksi mete, (11) Pelatihan, dan (12) Jumlah tanggungan keluarga. Hasil penelitian tentang distribusi petani pada sejumlah karakteristik tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

56 Syafruddin, Amri Jahi dan Richard W.E. Lumintang/ Tabel 1. Distribusi Petani Mete pada Sejumlah Karakteristik yang Diamati. Karakteristik Petani Mete Kategori Jumlah n % Muda 29 31,9 Umur Sedang 30 33,0 Tua 32 35,1 Rendah 14 15,4 Pendidikan Formal Sedang 46 50,5 Tinggi 31 34,1 Pengalaman Berusahatani Sedikit 25 27,5 Cukup 26 28,5 Banyak 40 44,0 Rendah 23 25,3 Motivasi Berusahatani Sedang 30 33,0 Tinggi 38 41,7 Rendah 28 30,8 Pendapatan Sedang 27 29,7 Tinggi 36 39,5 Sempit 26 28,6 Luas Lahan Usahatani Sedang 27 29,7 Luas 38 41,7 Sedikit 30 33,0 Jumlah Pohon Mete Sedang 37 40,6 Banyak 24 26,4 Sedikit 23 25,3 Jumlah Tanggungan Keluarga Cukup 34 37,4 Banyak 34 37,4 Rendah 32 35,2 Konsumsi Media Sedang 25 27,5 Tinggi 34 37,3 Rendah 39 42,8 Produksi Mete Sedang 21 23,1 Tinggi 31 34,1 Kurang 30 33,0 Kontak dengan Penyuluh Cukup 33 36,3 Sering 28 30,7 Pelatihan Tidak Pernah 87 95,6 Pernah 4 4,4

Syafruddin, Amri Jahi dan Richard W.E. Lumintang/ 57 Rata-rata petani 41 tahun, berpendidikan formal SLTP atau yang sederajat, memiliki pengalaman 14 tahun, motivasi tinggi, berpendapatan Rp. 5.450.000 per tahun, luas lahan 3,3 ha, memiliki 467 pohon mete, memiliki 4 orang tanggungan keluarga, konsumsi media cukup tinggi, produksi mete 2,9 ton per tahun, cukup melakukan kontak dengan penyuluh, dan tidak pernah mengikuti pelatihan. Pengetahuan Petani dalam Usahatani Mete Pengetahuan petani tentang usahatani mete yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pemahaman petani tentang aspek budidaya hingga proses pemasaran hasil mete. Hasil penelitian tentang pengetahuan petani terhadap usahatani mete dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 2. Pengetahuan Petani dalam Berusahatani Mete No. Bidang Pengetahuan Usahatani Mete Skor tertimbang Jenjang 1 Penanaman dan Pemeliharaan 89,87 1 2 Pemupukan dan pengendalian hama penyakit 88,75 2,5 3 Panen dan pascapanen 88,75 2,5 4 Pemasaran hasil 78,12 4 5 Teknologi pertanian 67,8 5 6 Aspek tenaga kerja 65,5 6 7 Kombinasi cabang usahatani ternak 63,36 7 8 Aspek modal 62,48 8 Rata-rata 75,58 Tabel 2 memberikan gambaran, bahwa empat bidang pengetahuan yang dianggap penting oleh petani adalah: (1) penanaman dan pemeliharaan, (2) pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit, (3) panen dan pascapanen, dan (4) pemasaran hasil. Sementara keempat bidang yang menempati jenjang yang lebih rendah adalah: (1) teknologi pertanian, (2) aspek tenaga kerja, (3) kombinasi cabang usahatani Ternak, dan (4) aspek modal. Selanjutnya, tabel di atas juga memberikan gambaran, bahwa secara keseluruhan pengetahuan petani tentang usahatani mete relatif baik. Hal ini ditunjukkan oleh rata-rata skor tertimbang yang diperoleh dari delapan bidang pengetahuan usahatani mete mencapai 75,58. Hubungan Karakteristik dengan Pengetahuan Petani Hubungan karakteristik dengan pengetahuan petani dalam usahatani mete dapat dilihat dalam Tabel 3. Tabel 3 menunjukkan hubungan karakteristik dengan pengetahuan petani dalam usahatani mete cukup erat. Hal ini dinyatakan oleh nilai W dari hasil uji koefisien konkordansi Kendall yang cukup tinggi terhadap masing-masing karakteristik petani, kecuali pelatihan dengan nilai W = 0,73 dan tidak nyata. Pembahasan Beberapa karakteristik seperti disebutkan di atas memberikan sumbangan yang cukup penting terhadap perkembangan pengetahuan petani dalam usahatani mete. Hampir seluruh karakteristik menunjukkan hubungan nyata dengan pengetahuan petani

58 Syafruddin, Amri Jahi dan Richard W.E. Lumintang/ dalam berusahatani mete, kecuali pelatihan. Kondisi di lokasi penelitian menunjukkan hampir seluruh petani mete tidak pernah mengikuti pelatihan. Mereka memperoleh pengetahuan usahatani mete dari pengalaman dan pelajaran yang diberikan pendahulu mereka. Petani mete yang berpendidikan lebih mudah menyerap informasi dan menerapkan teknologi yang diperkenalkan. Demikian pula halnya dengan petani yang memiliki motivasi tinggi berusaha untuk memperoleh pengetahuan tentang usahatani mete guna meningkatkan produktivitas dan pendapatan. Sebagaimana dikemukakan van den Ban dan Hawkins (1999: 103) bahwa proses berpikir didorong oleh motivasi belajar untuk memecahkan masalah melalui strukturisasi informasi yang jelas dan berusaha untuk menerapkan informasi tersebut guna menemukan pemecahannya. Selanjutnya, tingginya produksi mete, pendapatan, dan jumlah tanggungan keluarga memungkinkan petani untuk mengembangkan pengetahuan usahatani mete, banyaknya pohon mete dan lahan yang luas mendorong petani untuk mempelajari lebih jauh tentang usahatani mete agar lahan yang tersedia dapat dioptimalkan. Hal ini sejalan dengan pendapat Penny (1990: 14) bahwa rendahnya pendapatan menyebabkan kurang mampunya petani untuk memenuhi kebutuhan akan pangan Di samping itu, pendapatan mencerminkan kehidupan petani. Hernanto (1993: 94) mengemukakan bahwa akibat lanjut dari sempitnya lahan adalah rendahnya tingkat pendapatan. Pendapatan yang sedikit akan berdampak pada rendahnya tingkat konsumsi dan berpengaruh pada produktivitas dan kecerdasan. Konsumsi media dan kontak dengan penyuluh memberi peluang kepada petani untuk menambah pengetahuan usahataninya. Semakin sering petani melakukan kontak dengan penyuluh dan media, semakin banyak pula pengetahuan yang dapat diperoleh. Menurut Kartasapoetra (1987: 12) hubungan yang kontinyu antara penyuluh dengan petani dapat tercipta rasa kekeluargaan yang akan mempermudah dan memperlancar pemberian dan penerimaan informasi dalam rangka peningkatan produksi. Variabel pelatihan secara statistika tidak menunjukkan hubungan nyata dengan pengetahuan petani dalam usahatani mete. Sesuai hasil penelitian, hanya empat dari sembilan puluh satu orang responden yang menyatakan pernah mengikuti pelatihan. Hal tersebut juga berarti bahwa variabel pelatihan tidak memberikan sumbangan yang berarti bagi peningkatan pengetahuan petani mete. Kondisi seperti itu perlu mendapat perhatian serius bagi pihak yang berwenang, dalam hal ini penyuluh pertanian yang merupakan elemen pemerintah yang bersentuhan langsung dengan petani. Petani mete memerlukan pengetahuan teknis untuk diterapkan dalam usahatani mereka. Perbaikan sistem usahatani dan upaya peningkatan produksi dapat diupayakan melalui peningkatan kemampuan petani itu sendiri. Pengetahuan petani dalam usahatani mete menunjukkan bahwa petani memiliki pengetahuan usahatani mete yang cukup tinggi pada penanaman dan pemeliharaan, pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit, panen dan pascapanen, dan pemasaran hasil. Beberapa bidang yang menempati jenjang lebih rendah adalah teknologi pertanian, aspek tenaga kerja, kombinasi cabang usahatani ternak, dan aspek modal. Petani mete di Kecamatan Kabaena dan Kabaena Timur secara umum telah mengetahui dengan baik cara budi daya tanaman mete. Penanaman dan pemeliharaan tanaman mete hingga penen adalah kegiatan budidaya yang telah dikenal petani mete di lokasi penelitian sejak mereka memulai kegiatan usahatani. Namun demikian, kegiatan tersebut masih bersifat tradisional, di mana petani belum menggunakan teknologi. Salah satu hasil panen yang belum dimanfaatkan petani adalah buah semu. Saat panen, buah tersebut sangat melimpah, namun teknologi pengolahan belum dikembangkan.

Syafruddin, Amri Jahi dan Richard W.E. Lumintang/ 59 Hal lain yang cukup menarik adalah rata-rata produk yang dihasilkan petani adalah mete gelondongan. Meskipun diketahui bahwa kacang mete olahan lebih bernilai ekonomis, namun upaya pengembangan teknologi pengolahan kacang mete belum dilakukan, sehingga potensi besar tersebut terabaikan. Potensi lain yang belum dimanfaatkan adalah bentuk kombinasi usahatani. Keuntungan yang dapat diperoleh petani dengan adanya kombinasi usahatani adalah efisiensi lahan, efisiensi tenaga kerja dan sumberdaya seperti peralatan pertanian termasuk modal, dan dapat menambah pendapatan. Di samping itu, kombinasi cabang usahatani dapat bersifat saling melengkapi atau komplementer, misalnya kombinasi usahatani dengan ternak dan kombinasi tanaman pokok dengan tanaman hijau penghasil pupuk (tumbuhan legum). Oleh karena itu, kombinasi cabang usahatani dapat memaksimalkan keuntungan usahatani. Selain itu, akses petani terhadap sumber modal sangat terbatas. Sehingga petani melaksanakan usahatani mete dengan menggunakan modal yang terbatas. Keterbatasan modal tidak memungkinkan petani mengembangkan usahatani dengan skala yang lebih luas. Di samping keterbatasan tersebut, petani mete di daerah penelitian ini dilaksanakan juga dibatasi oleh sarana transportasi, listrik, dan telekomunikasi. Pihak yang paling berwenang untuk memfasilitasi petani mengadopsi teknologi pertanian mete adalah pemerintah daerah setempat. Salah satu hal yang paling penting bagi petani adalah pelatihan tentang penggunaan teknologi. Aspek teknologi yang sebaiknya ditekankan dalam hal ini adalah penggunaan benih unggul, pola tanam yang baik, penggunaan pupuk, dan pengolahan hasil. Pengolahan hasil mencakup pengolahan buah semu, cara mengolah kacang mete, dan diversifikasi olahan kacang mete. Kesimpulan 1. Mayoritas petani dalam penelitian ini berumur tua, berpendidikan formal SLTP atau yang sederajat, memiliki pengalaman cukup banyak, motivasi tinggi, berpendapatan tinggi, lahan yang luas, sedikit pohon mete, memiliki sedikit tanggungan keluarga, konsumsi media cukup tinggi, produksi mete rendah, cukup melakukan kontak dengan penyuluh, dan tidak pernah mengikuti pelatihan. 2. Pengetahuan usahatani yang perlu dikuasai atau dibentuk oleh petani yaitu: (1) Teknologi pertanian, (2) Aspek tenaga kerja, (3) Kombinasi cabang usahatani ternak, dan (4) Aspek modal. 3. Beberapa karakteristik petani mete yang menunjukkan hubungan nyata dengan pengetahuan mereka adalah: (1) Umur, (2) Pendidikan formal, (3) Pengalaman berusahatani, (4) Motivasi, (5) Pendapatan, (6) Luas lahan usahatani, (7) Jumlah pohon mete, (8) Jumlah tanggungan keluarga, (9) Konsumsi media, (10) Produksi mete, dan (11) Kontak dengan penyuluh. Rujukan Bank Indonesia. 2005. Sistem Informasi Pengembangan Usaha Kecil. Jurnal Informasi Usaha Kecil Menengah, Januari 2005 (jurnal on line); diperoleh dari http://www.bi.go.id/sipuk/lm/ind/mete/p roduksi.htm; Internet; diakses 26 April 2005. Badan Pusat Statistik. 2004. Kecamatan Kabaena dalam Angka. Kabupaten Bombana. Hernanto, F. 1993. Ilmu Usahatani. Jakarta: Penebar Swadaya.

60 Syafruddin, Amri Jahi dan Richard W.E. Lumintang/ Penny, D.H. 1990. Kemiskinan. Peranan Sistem Pasar. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Suparno, S. 2000. Membangun Kompetensi Belajar. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Siegel, S. 1994. Statistik Nonparametrik untuk Ilmu-ilmu Sosial. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. van den Ban dan Hawkins. 1999. Penyuluhan Pertanian. Penerjemah: Herdiasti, A.D. Yogyakarta: Kanisius.