BAB IV ANALISA. - Utara : Rumah penduduk. - Selatan : Jalan sekunder dan pasar Slipi. - Barat : Rumah penduduk dan kios

dokumen-dokumen yang mirip
BAB V KONSEP. Gambar 5.1: Kesimpulan Analisa Pencapaian Pejalan Kaki

Dinas Penataan dan Pengawasan Bangunan BANGUNAN NON RUMAH TINGGAL

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan lingkungannya yang baru.

MAL DAN APARTEMEN DI JAKARTA BARAT

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

BAB IV ANALISA PERENCANAAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN. menggunakan dinding yang sifatnya masif.

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Perencanaan dasar pengunaan lahan pada tapak memiliki aturanaturan dan kriteria sebagai berikut :


BAB VI KONSEP RANCANGAN

Kegiatan ini dilakukan penghuni apartemen

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. V.1 Konsep Dasar Perencanaan dan Perancangan

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Main Entrance. Pusat Perbelanjaan. Apartemen 1 Unit Kamar Tidur

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. kendaraan dan manusia akan direncanakan seperti pada gambar dibawah ini.

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. menghasilkan keuntungan bagi pemiliknya. aktivitas sehari-hari. mengurangi kerusakan lingkungan.

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V. KONSEP PERENCANAAN dan PERANCANGAN. Konsep perancangan makro meliputi perancangan skema organisasi ruang

- BAB 4 - ANALISA SELATAN UTARA. Gambar 4.1 Foto kondisi eksisting Candranaya (Sumber : Dinas tata kota DKI)

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. V. 1 Konsep Dasar Perencanaan dan Perancangan. mengenai isu krisis energi dan pemanasan global.

BAB II PEMROGRAMAN. Perkotaan di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat,

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN

BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KESIMPULAN ARSITEKTUR BINUS UNIVERSITY

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Pemikiran yang melandasi perancangan dari proyek Mixed-use Building

BAB VI KLASIFIKASI KONSEP DAN APLIKASI RANCANGAN. dirancang berangkat dari permasalahan kualitas ruang pendidikan yang semakin

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. yang mampu mengakomodasi kebutuhan dari penghuninya secara baik.

Jenis dan besaran ruang dalam bangunan ini sebagai berikut :

BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN SHOPPING CENTER DI YOGYAKARTA

Dimensi Ruang Minimum* 1. R. Duduk dan makan. Pengguna Ruang. Penghuni apartemen

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. disesuaikan dengan tema bangunan yaitu sebuah fasilitas hunian yang

BAB V KONSEP PERANCANGAN. mencari hiburan diluar apartemen karena semua kebutuhan sudah terpenuhi di dalam

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

[STASIUN TELEVISI SWASTA DI JAKARTA]

PROGRAM RUANG BANGUNAN APARTEMEN. Double bed Side table Lemari pakaian Meja rias. Penghuni apartemen (suami-istri)

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN REDESAIN TERMINAL TERBOYO

BAB III : DATA DAN ANALISA

4 BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. V.1. Dasar Perencanaan dan Perancangan. Kostel. yang ada didalam. Pelaku kegiatan dalam Kostel ini adalah :

BAB V KONSEP. a. Memberikan ruang terbuka hijau yang cukup besar untuk dijadikan area publik.

BAB VI HASIL PERANCANGAN. apartemen sewa untuk keluarga baru yang merupakan output dari proses analisis

BAB VI KONSEP PERENCANAAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan sesama mahasiswa. tinggal sementara yang aman dan nyaman. keberlanjutan sumber daya alam.

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

Minggu 5 ANALISA TAPAK CAKUPAN ISI

Jumlah Luasan (m²) Ruang Nama Ruang Kapasitas Standart Kapasitas Sirkulasi. (260m²) 3 Bus. 30 m²/bus. (650 m²)

BAB V. KONSEP PERENCANAAN dan PERANCANGAN. Bina Nusantara adalah sebagai berikut :

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB 6 HASIL RANCANGAN. Perubahan Konsep Tapak pada Hasil Rancangan. bab sebelumnya didasarkan pada sebuah tema arsitektur organik yang menerapkan

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB VI HASIL RANCANGAN. Perancangan Pusat Rekreasi Peragaan IPTEK ini terletak di Batu,karena

BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB IV KONSEP. 4.1 Ide Awal

BAB III: DATA DAN ANALISA

BAB VI HASIL RANCANGAN. Perancangan Kembali Citra Muslim Fashion Center di Kota Malang ini

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. PT. BMW Indonesia ini adalah adanya kebutuhan perusahaan untuk memenuhi

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP. perencanaan Rumah Susun Sederhana di Jakarta Barat ini adalah. Konsep Fungsional Rusun terdiri dari : unit hunian dan unit penunjang.

BAB VI HASIL RANCANGAN. terdapat pada Bab IV dan Bab V yaitu, manusia sebagai pelaku, Stadion Raya

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN

BAB IV ANALISIS PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PERMUKIMAN TUMBUH DIATAS LAHAN BENCANA LUMPUR LAPINDO

BAB V KONSEP. V. 1. Konsep Dasar. Dalam merancang Gelanggang Olahraga di Kemanggisan ini bertitik

5 BAB V KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN. tema perancangan dan karakteristik tapak, serta tidak lepas dari nilai-nilai

Minggu 2 STUDI BANDING

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Adapun pengelompokkan jenis kegiatan berdasarkan sifat, yang ada di dalam asrama

PERANCANGAN TAPAK II DESTI RAHMIATI, ST, MT

BAB V KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEDERHANA BERTINGKAT TINGGI

BAB V KONSEP PERENCANAAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN CENGKARENG OFFICE PARK KONSEP DASAR PERANCANGAN

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN

BAB 4 ANALISA DAN BAHASAN

BAB IV ANALISA. seperti pencapaian lokasi hingga lingkungan yang memadai.


Terminal Antarmoda Monorel Busway di Jakarta PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN TERMINAL ANTARMODA

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Konsep perancangan yang digunakan dalam perancangan kembali pasar

BAB 6 HASIL PERANCANGAN. konsep Hibridisasi arsitektur candi zaman Isana sampai Rajasa, adalah candi jawa

BAB VI LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB IV ANALISA PERENCANAAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB IV ANALISA PERANCANGAN

BAB 4 HASIL DAN BAHASAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

PUSAT PERBELANJAAN, KANTOR SEWA DAN APARTEMENT DI MEGA KUNINGAN JAKARTA

BAB VI HASIL RANCANGAN. perancangan tapak dan bangunan. Dalam penerapannya, terjadi ketidaksesuaian

Asrama Mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta

BAB V KONSEP PERENCANAAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

Pelabuhan Teluk Bayur

Transkripsi:

BAB IV ANALISA Aspek Lingkungan Kondisi Fisik Tapak Bangunan di sekitar tapak: - Utara : Rumah penduduk - Selatan : Jalan sekunder dan pasar Slipi - Barat : Rumah penduduk dan kios - Timur : Jalan utama, Jl. Letjen S. Parman Kondisi Lingkungan Sekitar Tapak Potensi Tapak Gambar 4.1: Potensi Tapak Rumah penduduk kios Jalur khusus angkutan umum Jalan utama Jakarta Barat Perkantoran Pasar Slipi - Letak tapak yang berada tepat di barat jalan raya utama Jakarta Barat menjadi kelebihan tersendiri karena dapat menarik perhatian para pengguna jalan. 55

- Jalan raya di sekitar tapak dilalui berbagai jenis kendaraan umum, sehingga dapat mempermudah pengunjung dalam hal transportasi. - Terdapat bangunan-bangunan kantor dan perumahan di sekitar tapak yang merupakan potensi untuk menarik pengunjung. - Terdapat jalur khusus angkutan umum pada jalan sisi timur tapak. Kekurangan Lingkungan Sekitar Tapak Gambar 4.2: Kekurangan Lingkungan Sekitar Tapak Jalan tol Pedagang kaki lima Daerah macet dan polusi Daerah polusi Jalan layang - Terletak pada daerah bising, pada arah selatan terdapat jalan layang dengan kepadatan cukup tinggi. - Terdapat jalan tol pada arah timur sebagai salah satu penyebab kebisingan. - Kemacetan pada sisi selatan hampir terjadi setiap saat, disebabkan angkutan umum yang sering berhenti untuk mencari penumpang. - Kemacetan dan kendaraan menyebabkan polusi. - Terdapat banyak pedagang kaki lima di sekitar tapak. 56

4.1.3 Analisa Pencapaian Terdapat beberapa pertimbangan dalam menentukan perletakan pencapaian ke dalam tapak, yaitu: - Kondisi sirkulasi sekitar tapak, berdasarkan kepadatan lalu lintas dan kendaraan umum yang menunjang pencapaian. - Kemudahan dan keamanan bagi pengunjung. - Adanya titik tangkap yang jelas. Pencapaian Pejalan Kaki Alternatif 1 Pencapaian pejalan melalui jalan utama. Gambar 4.3: Alternatif 1 Analisa Pencapaian Pejalan Kaki +) 1. Tempat pemberhentian angkutan umum 2. Merupakan jalan utama, sehingga mudah terlihat. A -) 1. Tidak dapat terlihat oleh pejalan dari arah A. 2. Terlalu jauh pencapaian ke tapak jika pejalan dari arah A. 57

Alternatif 2 Pencapaian pejalan melalui jalan sekunder Gambar 4.4: Alternatif 1 Analisa Pencapaian Pejalan +) 1. Mudah diakses dari jalan sekunder 2. Mudah terlihat dari jalan sekunder. B -) 1. Tidak dapat terlihat oleh pejalan dari arah B. 2. Menimbulkan kemacetan karena terlalu dekat dengan tikungan. 3. Terlalu jauh pencapaian ke tapak jika pejalan dari arah B. Kesimpulan Gambar 4.5: Kesimpulan Analisa Pencapaian Pejalan Kaki Sisi timur dan selatan tapak terdapat jalan utama dan sekunder, untuk memudahkan dalam pencapaian penghuni apartemen maupun pengunjung, maka pintu masuk pejalan kaki diletakan pada kedua jalan. +) 1. Dapat diakses dari jalan utama dan sekunder 2. Mudah terlihat dari jalan utama dan sekunder. 3. Mudah diakses pejalan yang menggunakan kendaraan umum Antisipasi kemacetan dengan menjauhkan jalan masuk pejalan dari tikungan. 58

Pencapaian Kendaraan Alternatif 1 Gambar 4.6: Alternatif 1 Analisa Pencapaian Kendaraan A +) 1. Mudah diakses dari jalan utama 2. Kondisi jalan yang lebar mendukung sirkulasi kendaraan keluar/masuk. 3. Mudah terlihat dari jalan utama. -) 1. Tidak dapat terlihat oleh pejalan dari arah A. Alternatif 2 Gambar 4.7: Alternatif 2 Analisa Pencapaian Kendaraan B +) 1. Mudah diakses dari jalan sekunder. 2. Mudah terlihat dari jalan sekunder. Kesimpulan -) 1. Tidak dapat terlihat oleh pejalan dari arah B. 2. Kondisi jalan sempit, sirkulasi kendaraan keluar/masuk dapat terganggu. 3. Dapat terjadi kemacetan. Kendaraan akan masuk/keluar hampir setiap saat. Kepadatan tinggi kendaraan masuk/keluar akan terjadi pada pagi dan sore hari, karena penghuni apartemen bekerja/pergi pada pagi hari dan pulang pada malam hari, sedangkan kepadatan pengunjung mal jika dilihat dari lingkungan sekitar yaitu terdapat 59

bangunan perkantoran maka mal akan lebih padat pengunjung pada siang hari sedangkan pagi hari, sore dan malam tidak dapat diprediksi. Gambar 4.8: Kesimpulan Analisa Pencapaian Kendaraan +) 1. Mudah diakses dari jalan utama 2. Kondisi jalan yang lebar mendukung sirkulasi kendaraan keluar/masuk. 4. Mudah terlihat dari jalan utama. Untuk menghindari kemacetan pada jalan sekunder, maka pada jalan sekunder hanya diletakan pintu masuk motor. Survey yang telah dilakukan menunjukan bahwa jalan di sisi selatan merupakan jalan dengan kadar kemacetan lebih tinggi dibanding jalan utama. Kemacetan tersebut diakibatkan oleh kendaraan umum yang berhenti dan jalan yang hanya dapat dilalui dua mobil, maka sebaiknya di daerah selatan tidak diletakkan pencapaian untuk mobil. Kesimpulan dari pertimbangan kepadatan lalu lintas kendaraan dan titik tangkap pengunjung yaitu pencapaian diletakkan pada sisi jalan utama. 60

4.1.4 Analisa Sirkulasi dalam Tapak Tabel 2.3: Pola-pola Konfigurasi Jalur No. Jenis Keuntungan Kerugian 1. Linier Memiliki banyak pilihan jalur;. Mudah ditangkap pengunjung. 2. Radial Tepat tujuan. Membingungkan pejalan. kaki/pengunjung dengan kendaraan pribadi. 3. Spiral Dapat merasakan perjalanan arsitektur Tidak efisien bagi pengendara kendaraan. 4. Grid Teratur. Lebik cocok digunakan bila memiliki tapak yang besar. 5. Jaringan Fleksibel; terhubung ke semua tempat. 6. Komposit Dapat menggabungkan beberapa pola sirkulasi. Sumber: Arsitektur Bentuk, dan Tatanan, Francis D.K. Ching 61

Kesimpulan: Dalam perancangan ini akan menggunakan sirkulasi komposit, pada kenyataannya, bangunan pada umumnya membuat kombinasi dari pola-pola sirkulasi di atas. Hal terpenting dalam sebuah pola adalah pusat kegiatan, jalan masuk ke ruangan (sirkulasi horizontal), dan sirkulasi vertikal. Kegiatan dalam tapak yang dilakukan oleh pengunjung yaitu berjalan kaki menuju gedung mal, berjalan ke tempat parkir, duduk-duduk dan kegiatan lain di dalam tapak, sedangkan sirkulasi kendaraan hanya sebatas drop off dan menuju parkiran. Sirkulasi khusus ditujukan kepada kendaraan servis seperti mobil barang dan mobil pengangkut sampah. 4.1.5 Tata Luar Penataan ruang luar dimaksudkan untuk: - Mendukung daya tarik bangunan. - Mendukung penampilan bangunan. - Sebagai ruang transisi antara kegiatan pada lingkungan sekitar dengan kegiatan di dalam tapak. - Memberikan penekanan terhadap batas-batas tapak. Tata ruang luar dapat diartikan pula sebagai lingkungan luar buatan manusia. Elemen-elemen yang terdapat pada ruang luar antara lain: 62

1. Elemen Lunak Elemen lunak merupakan elemen ruang luar yang terdiri dari beberapa jenis tanaman. Unsur-unsur tanaman digunakan sebagai: - Kontrol iklim a. Pengendalian radiasi matahari dan suhu: Tanaman menyerap panas sinar matahari dan memantulkan kembali sehingga menimbulkan pengaruh terhadap perbedaan suhu. Gambar 4.9: Pohon sebagai Pengendali Radiasi Matahari dan Suhu b. Pengendalian angin: tanaman berguna sebagai penahan, penyerap dan mengalirkan angin sehingga menimbulkan iklim mikro. Jenis tanaman yang digunakan harus diperhatikan tinggi, bentuk, jenis dan kepadatan. Gambar 4.10: Pohon sebagai Pengendali Angin 63

- Penyaring debu dan kebisingan Tanaman dapat menyerap suara bising bagi daerah yang membutuhkan ketenangan. Pemilihan jenis tanaman berdasarkan tinggi, lebar dan komposisi tanaman. Tanaman juga merupakan penyaring debu/polusi. Gambar 4.11: Pohon sebagai Penyaring Debu dan Kebisingan - Kontrol visual Tanaman dapat menahan silau yang ditimbulkan oleh matahari, lampu dan pantulan sinar. Perletakan pepohonan dapan menahan jatuhnya sinar ke daerah yang memerlukan keteduhan. Gambar 4.12: Pohon sebagai Pengontrol Visual 64

- Pembatas fisik Tanaman berguna untuk mengendalikan dan mengarahkan pergerakan manusia dan juga kendaraan. Foto 4.1: Pohon sebagai Pembatas Fisik 2. Elemen Keras Kelompok elemen keras antara lain pengerasan di dalam suatu perencanaan. Elemen keras dapat dibedakan menjadi: - Street furniture: bangku taman, tong sampah, lampu, dll. - Penghubung antara kegiatatan yang satu dan yang lain dalam bentuk sirkulasi seperti pendestrian, plaza, lapangan, dll. - Sebagai pembeda area aktifitas, dapat dilakukan dengan pemakaian ragam elemen, misalnya pola lantai. Bahan pengerasan sebaiknya tidak menggunakan bahan yang dapat menyilaukan dan mudah menjadi panas. Alternatif pemilihan bahan sebagai berikut: 65

Tabel 2.4: Bahan Perkerasan Bahan Plat beton Rumput Kerawang/conblock Sifat Menyilaukan, memancarkan/memantulkan panas ke dalam bangunan. Menyerap efek silau matahari Dalam lubang dapat tumbuh rumput sehingga suhu tanah tetap sejuk. Tidak memantulkan panas. 4.1.6 Analisa Matahari dan Angin Orientasi bangunan di pengaruhi oleh arah matahari. Matahari menyebabkan panas di bagian timur pada pagi hari dan yang terpanas di bagian barat pada sore hari, sedangkan bagian utara terkena matahari musim kemarau selama ± 8 bulan, dan bagian selatan terkena matahari musim hujan selama ± 4 bulan. Angin berhembus dari utara ke selatan. Kondisi angin tersebut mempengaruhi perancangan bangunan. Gambar 4.13: Letak Jakarta dan Gerak Matahari dalam Setahun 66

Kesimpulan dari survey yang dilakukan sekitar tapak yaitu bagian barat pada tapak akan terkena panas matahari dengan intensitas tinggi pada sore hari karena tidak terdapat bangunan tinggi di sekitar tapak bagian barat dan bagian utara pada tapak juga akan mendapat dampak dari panas matahari ketika musim kemarau. Daerah panas pada musim kemarau Daerah panas terpanas pada sore hari. Gambar 4.14: Analisa Matahari dan Angin Daerah panas pada pagi hari. Arah pergerakan matahari Daerah panas pada musim hujan Arah pergerakan angin Zoning tapak berdasarkan analisa matahari yaitu servis diletakan pada bagian barat dan utara, publik di bagian timur karena pengunjung akan datang saat matahari telah meninggi, dan privat diletakan pada bagian tengah tapak agar terlindung dari panas matahari. 67

Gambar 4.15: Zoning Berdasarkan Analisa Matahari dan Angin Parkir terbuka publik Mal dan apartemen 4.1.7 Analisa Kebisingan dan Polusi Sumber bising dan polusi terbesar adalah kendaraan bermotor di sekitar tapak, dimana di sisi timur dan selatan tapak adalah jalan raya dengan kepadatan relatif sedang hingga tinggi. Bagian barat dan utara relatif tenang karena berbatasan dengan rumah penduduk dengan intensitas polusi dan bising yang relatif rendah. Gambar 4.16: Analisa Kebisingan dan Polusi Jalan utama Pemberhentian bus Daerah paling bising dan polusi Jalan layang 68

Zoning tapak berdasarkan analisa kebisingan dan polusi yaitu area parkir diletakkan di daerah dengan intensitas bising yang tinggi, area publik diletakan di daerah dengan intensitas bising dan polusi yang lebih rendah, sedangkan area privat diletakkan di daerah privat yaitu mal dapat diletakan di daerah bising maupun tidak bising karena bersifat tertutup pada massa bangunan dan berorientasi ke dalam bangunan. Gambar 4.17: Zoning Berdasarkan Analisa Kebisingan dan Polusi terbuka publik Mal dan apartemen Parkir 4.1.8 Zoning Alternalif zoning berdasarkan analisa pencapaian, matahari dan angin, kebisingan dan polusi, maka dibuat perbandingan, dipadukan dan diputuskan zoning yang akan diterapkan pada tapak. 69

Gambar 4.18: Zoning Berdasarkan Analisa Tapak Mal Apartemen terbuka publik Area privat yaitu mal terletak pada tengah tapak, mal tidak memerlukan bukaan untuk udara sebab mal menggunakan pengudaraan buatan untuk menjaga kualitas barang yang dijual. Penurunan barang dan pengambilan sampah dilakukan di basement untuk menghemat lahan pada tapak. 4.1.9 Orientasi Massa Bangunan Tapak yang berada di persimpangan jalan memerlukan perancangan khusus pada bagian massa bangunan agar tidak mengganggu pandangan pengguna jalan. Tapak di persimpangan memiliki kelebihan tersendiri yaitu memiliki dua bagian muka dan dapat menjadi titik tangkap pengguna jalan. 70

Foto 4.2: Pemukiman Penduduk 1 Foto 4.3: Pemukiman Penduduk 2 Foto 4.4: Bank BCA Pemukiman penduduk Foto 4.5: Jalan Layang Foto 4.6: Pasar Slipi 71

Gambar 4.19: Orientasi Massa Bangunan Tampak muka bangunan Tampak muka bangunan Orientasi massa bangunan mal berorientasi pada jalan utama dan persimpangan jalan, sedangkan apartemen dapat berorientasi ke utara dan selatan. Arah utara, selatan dan barat tidak terdapat bangunan tinggi sehingga fasad bangunan dapat terlihat. Arah selatan merupakan jalan utama sehingga pengguna jalan dapat melihat langsung fasad bangunan. 72

4.2 Analisa Manusia 4.2.1 Analisa Pelaku dan Jenis Kegiatan Skema 4.1: Pelaku dan Jenis Kegiatan Apartemen 73

Skema 4.2: Pelaku dan Jenis Kegiatan Mal 74

4.2.2 Analisa Kebutuhan Tabel 4.1: Analisa Kebutuhan Apartemen Pelaku Kegiatan Kebutuhan Penghuni - Makan - Tidur - makan - tidur Orang tua - Kerja - Nonton TV - keluarga - Mandi - Kamar mandi - Buang air - Toilet - Berbincang - tamu/balkon - Menerima tamu - Jalan ke mal - Lobby mal - Olah raga - Jogging track, fitness center - Sholat - ibadah Anak Pembantu Pengelola Apartemen Menejer Marketing - Makan - Tidur - Belajar - Nonton TV - Mandi - Buang air - Berbincang - Menerima tamu - Jalan ke mal - Olah raga - Sholat - Makan - Tidur - Mandi - Buang air - Sholat - Menbersihkan rumah - Mencuci piring - Memasak - Bekerja - Buang air - Makan - Sholat - Memasarkan unit - Menerima pembeli - Melakukan transaksi - Buang air - Makan - makan - tidur - belajar - Kamar mandi - Toilet - tamu - Lobby mal - Jogging track, fitness center - ibadah - makan - tidur - Kamar mandi - Toilet - ibadah - Dapur, pantry - kerja - Toilet pegawai - Food court/kantin - Mushollah - pameran - Toilet pegawai - Kantin 75

Staf-staf lain Penunjang Apartemen Petugas kebersihan Petugas keamanan Petugas parkir Petugas loket parkir - Sholat - Mushollah - Menerima keluhan penghuni - Buang air - Makan - Sholat - Membersihkan gedung - Mengangkut sampah - Menyimpan alat kebersihan - Ganti pakaian - Buang air - Makan - Sholat - Menjaga keamanan gedung - Ganti pakaian - Buang air - Makan - Sholat - Membantu pengunjung - Ganti pakaian - Buang air - Makan - Sholat - Menerima pembayaran - Ganti pakaian - Buang air - Makan - Sholat - kerja/ruang tunggu - Toilet pegawai - Kantin - Mushollah - Penampungan sampah - Gudang - Toilet pegawai - Kantin - Mushollah - Pos jaga - Toilet pegawai - Kantin - Mushollah - Toilet - Kantin - Mushollah - Loket - Toilet - Kantin - Mushollah 76

Tabel 4.2: Analisa Kebutuhan Mal Pelaku Kegiatan Kebutuhan Pengunjung Penyewa retail Supplier Pengelola Mal Menejer Staf-staf lain Penunjang Mal Petugas kebersihan Petugas keamanan - Melihat produk, belanja - Makan - Jalan - Berbincang - Buang air - Sholat - Menyimpan barang - Membuka toko - Melayani kustomer - Membuang sampah - Makan - Buang air - Ganti pakaian - Sholat - Mengantar barang - Melakukan transaksi - Bekerja - Rapat - Buang air - Makan - Sholat - Menerima keluhan penyewa retail - Rapat - Menerima tamu - Menerima calon penyewa - Melakukan transaksi - Buang air - Makan - Sholat - Membersihkan gedung - Mengangkut sampah - Menyimpan alat kebersihan - Ganti pakaian - Buang air - Makan - Sholat - Menjaga keamanan gedung - Ganti pakaian - Buang air - Makan - display - Food court/restoran - Kafe - Toilet - Mushollah - Gudang - Kasir - Tempat sampah - Kantin - Toilet - Mushollah - Loading dock/lift barang - kerja - Toilet pegawai - Food court/kantin - Mushollah - kerja - tunggu - Toilet pegawai - Kantin - Mushollah - Penampungan sampah - Gudang - Toilet - Kantin - Mushollah - Pos jaga - Toilet - Kantin 77

- Sholat - Mushollah Petugas parkir Petugas loket parkir Customer service - Membantu pengunjung - Ganti pakaian - Buang air - Makan - Sholat - Menerima pembayaran - Ganti pakaian - Buang air - Makan - Sholat - Melayani pengunjung - Ganti pakaian - Buang air - Makan - Sholat - Toilet - Kantin - Mushollah - Loket - Toilet - Kantin - Mushollah - Meja informasi - Toilet - Kantin - Mushollah 4.3 Analisa Bangunan 4.3.1 Program Analisa Besaran Apartemen Apartemen dalam proyek ini akan dibatasi jumlah kamar dalam unit, yaitu 1-3 kamar tidur. Besaran rata-rata unit apartemen menurut Endy Marlina dalam buku Panduan Perancangan Bangunan Komersial adalah: Tabel 4.3: Besaran Unit Apartemen No. Jenis Unit Penghuni Besaran (m2) 1. Tipe 1 kamar tidur 2-3 orang 36-54 2. Tipe 2 kamar tidur 3-4 orang 45-90 3. Tipe 3 kamar tidur 4-5 orang 90-108 78

Rata-rata besaran unit apartemen berdasarkan survey (m 2 ) Tabel 4.4: Rata-rata Besaran Unit t Gandaria Lavande Poins Central Apartemen Star Apart Rata-rata Kamar Tower A Square Park Thamrin City 1 59 31,9 76 49,66 41,7 48 51,043 2 93 35,8 86,5 90,2 61,4 63 71,65 3 130 84,75 124 127,2 94,84 109 111,6 *rata-rata dari besaran beberapa unit apartemen yang memiliki jumlah kamar sama. Analisa kebutuhan ruang unit apartemen 1 kamar tidur Tabel 4.5: Kebutuhan Unit 1 Kamar No. Kebutuhan Jmlh Pengguna 1. tidur 1-2 2. duduk, ruang makan dan pantry 1-2 Elemen ruang Tempat tidur Meja sudut Meja rias Kursi rias Lemari Zona sirkulasi Sofa Meja Meja TV TV Tempat cuci Kompor Kulkas Dimensi Standar 2x1,5 0,5x0,5 0,4x1 0,5x0,5 0,5x1 2,17 0,7x0,8 0,6x0,6 0,4x1,5 0,6x3 Sumber Besaran (m 2 ) NDA 6,57 NDA 7,02 Zona sirkulasi 3,7 DM &RI Kloset 3. Kamar mandi 1 Wastafel 2,2x1,45 NDA 3,19 Shower 4. Sirkulasi 20% luas unit 3,35 Jumlah 20,13 79

Analisa kebutuhan ruang unit apartemen 2 kamar tidur Tabel 4.6: Kebutuhan Unit 2 Kamar No. 1. 2. Kebutuhan tidur utama tidur anak Jmlh Pengguna 1-2 1-2 3. duduk 2-4 4. makan 2-4 5. Pantry 1 6. Kamar mandi 1 Elemen ruang Tempat tidur Meja sudut Meja rias Kursi rias Lemari Tempat tidur Meja sudut Meja belajar Kursi Lemari Sofa (4) Meja Meja TV TV Meja makan Kursi Zona sirkulasi Tempat cuci Kompor Kulkas Zona sirkulasi Kloset Wastafel Dimensi Standar 2x1,5 0,5x0,5 0,4x1 0,5x0,5 0,5x1 2x1,5 0,5x0,5 0,7x1,2 0,5x0,5 0,5x1 0,7x0,8 0,6x0,6 0,4x1 2x1,3 0,6x6,6 0,6x3 0,762 Sumber Besaran (m 2 ) NDA 4,4 NDA 4,84 NDA DM &RI 3 NDA 6,56 NDA DM &RI 6,372 2,2x1,45 NDA 3,19 Shower 7. Balkon 1-2 1x3 3 8. Sirkulasi 20% luas unit 6,272 Jumlah 37,63 80

Analisa kebutuhan ruang unit apartemen 3 kamar tidur Tabel 4.7: Kebutuhan Unit 3 Kamar No. 1. 2. 3. Kebutuhan tidur utama tidur anak 1 tidur anak 2 Jmlh Pengguna 1-2 1-2 1-2 4. duduk 4-5 5. makan 4-5 6. Dapur 1 7. Kamar mandi (2) 1 Elemen ruang Tempat tidur Meja sudut Meja rias Kursi rias Lemari Meja kerja Kursi kerja Tempat tidur Meja sudut Meja belajar Kursi Lemari Tempat tidur Meja sudut Meja belajar Kursi Lemari Sofa (5) Meja Meja TV Zona sirkulasi Meja makan Kursi Zona sirkulasi Tempat cuci Kompor Kulkas Zona sirkulasi Kloset Wastafel Shower Dimensi Standar 2x1,5 0,5x0,5 0,4x1 0,5x0,5 0,5x1 0,7x1,2 0,6x0,6 2x1,5 0,5x0,5 0,7x1,2 0,5x0,5 0,5x1 2x1,5 0,5x0,5 0,7x1,2 0,5x0,5 0,5x1 0,7x0,8 0,6x0,8 0,4x1,5 4,4x0,5 2x2 1x8 0,6x3 0,762 Sumber Besaran (m 2 ) NDA 5,85 NDA 4,84 NDA 4,84 NDA DM &RI 7,58 NDA 12 NDA DM &RI 6,372 2,2x1,45 NDA 6,38 8. Kamar pembantu 1 Tempat tidur 0,9x2 NDA 1,8 9. Kamar mandi 1 Kloset pembantu kran 0,9x1,45 NDA 1,3 11. Balkon 1-2 1x3 3 12. Sirkulasi 20% luas unit 10,79 Jumlah 64,75 81

Tabel 4.8: Kebutuhan Pengelola Apartemen No. Kebutuhan 1. Resepsionis 3 2. tunggu 4 3. 4. 5. 6. menejer sekretaris marketing administrasi 7. rapat 1 1 5-8 4-6 Jmlh Pengguna 10-12 Elemen ruang Meja resepsionis Kursi Loker pos Zona sirkulasi Sofa (4) Meja tamu Zona sirkulasi Meja Kursi Lemari Zona sirkulasi Meja Kursi Lemari Zona sirkulasi Sofa (8) Meja tamu (2) Zona sirkulasi Meja Kursi Lemari Zona sirkulasi Meja Kursi (12) Layar LCD Zona sirkulasi Rak (2) Dimensi Standar 0,6x3 0,5x0,5 1x0,3 0,762x3 0,8x0,7 0,6x0,6 0,762x2 0,7x1,5 0,6x0,6 0,5x1 0,85x2,1 0,5x1,2 0,5x0,5 0,5x1 0,762x2,1 0,8x0,7 0,6x0,6 0,45x1,2 0,5x1,2 0,5x0,5 0,5x1 0,762x2,1 2,6x1,5 0,5x0,5 Sumber Besaran (m 2 ) DM&RI 4,63 DM&RI 7,58 DM &RI 4,86 DM&RI 2,95 DM&RI 13 DM&RI 2,95 DM&RI 15,72 0,762x11,6 8. Gudang 1 0,7x1,25 NDA Zona sirkulasi 0,762 DM &RI 1,637 9. Sirkulasi 15% luas kantor 10,66 Jumlah 63,99 82

Analisa kebutuhan ruang fasilitas apartemen Tabel 4.9: Kebutuhan Fitness Center No. Kebutuhan Jmlh Pengguna Elemen ruang Dimensi Standar Sumber Besaran (m 2 ) 1. Lobby 10 Sofa (10) 0,7x0,8 Meja (3) 0,6x0,6 DM&RI 6,68 2. Resepsionis 2 Meja resepsionis Kursi 0,6x2 0,5x0,5 DM&RI 4,63 Zona sirkulasi 0,762x2 3. fitness 60 Alat fitness 200m 2 NDA 5,784 4. Aerobic 12 Alat aerobic 1,5x1,5/or Kaca g 27 5. Sauna 3-5 Kursi Tungku 2x2 NDA 4 Loker 0,4x0,3 6. Meja 1,8x0,6 6 karyawan Kursi (6) 0,5x0,5 DM&RI 5,784 Zona sirkulasi 0,762x2 7. Toilet pria 3 Kloset Wastafel 0,9x1,45 NDA 3,9 8. Toilet wanita 3 Kloset Wastafel 0,9x1,45 NDA 3,9 9 Gudang 1-2 3 10. Sirkulasi 20% luas fitness center 12,93 Jumlah 77,6 Tabel 4.10: Kebutuhan Kolam Renang No. 1. Kebutuhan Retail kafetaria Jmlh Pengguna 2. makan 25 3. Wastafel 8 3 Elemen ruang Tempat cuci Kompor Tempat perabot Zona sirkulasi Meja Kursi Zona sirkulasi Wastafel Zona sirkulasi Dimensi Standar 0,6x3 0,762 0,6x1,8 2,52 0,5x0,3 0,762x2 Sumber NDA DM &RI NDA DM &RI Besaran (m 2 ) 6,372 45 NDA 3,64 83

4. 6. Toilet pria dan ruang ganti Toilet wanita dan ruang 4 3 Kloset Wastafel ganti Kloset Wastafel 3x6 NDA 18 3x6 NDA 18 ganti ganti 8. Gudang 1-2 3 9. Sirkulasi 20% luas 18,8 Jumlah 112,81 Keterangan: NDA DM&RI : Neufert Data Arsitek : Dimensi Manusia dan Interior Analisa Besaran Mal Berdasarkan survey di beberapa mal, maka diperoleh besaran rata-rata retail berluasan kurang dari 200m 2 adalah sebagai berikut: Tabel 4.11: Rata-rata Besaran Retail Berdasarkan Survey Besaran Mal Ciputra (m 2 ) Rata-rata <50m 2 24 32 40 48 36 50-100m 2 60 64 72 80 84 96 76 100-200m 2 120 128 160 192 150 Besaran Mal Puri Indah (m 2 ) Rata-rata <50m 2 18 24 30 32 36 40 48 32,5 50-100m 2 60 64 72 80 84 100 76,6 100-200m 2 108 120 144 124 Besaran Mal Pondok Indah (m 2 ) Rata-rata <50m 2 24 48 36 50-100m 2 60 64 72 80 100 75,2 100-200m 2 112 128 144 160 176 192 123,1 Besaran Mal Ciputra Mal Puri Indah Mal Pondok Indah 2 Rata-rata <50m 2 36 32,5 36 34,8 50-100m 2 76 76,6 75,2 75,9 100-200m 2 150 124 123,1 132,3 Rata-rata besaran retail berdasarkan survey menjadi acuan besaran retail pada perancangan proyek mal dan apartemen. 84

Tabel 4.12: Kebutuhan Retail Ukuran Kecil No. Kebutuhan Jmlh Pengguna Elemen ruang Dimensi Standar Sumber Besaran (m 2 ) Rak display 0,7x1,25 NDA 1. display 10 (2) 1,3x1,25 8,81 Zona sirkulasi 0,762x2 DM &RI 2. Kasir 1 Meja kasir 1,2x3,2 NDA 3,84 3. Gudang 1 Rak (2) 0,7x1,25 NDA Zona sirkulasi 0,762 DM &RI 3,65 4. Sirkulasi 20% luas retail 3,26 Jumlah 19,56 Tabel 4.13: Kebutuhan Retail Ukuran Menengah No. Kebutuhan Jmlh Pengguna Elemen ruang Dimensi Standar Sumber Besaran (m 2 ) Rak display 0,7x1,25 NDA 1. display 15 (4) 1,3x1,25 17,87 Zona sirkulasi 0,762x2 DM &RI 2. Kasir 1 Meja kasir 1,2x3,2 NDA 3,84 3. Gudang 1 Rak (4) 0,7x1,25 NDA Zona sirkulasi 0,762 DM &RI 7,31 4. Sirkulasi 20% luas retail 5,8 Jumlah 34,82 Tabel 4.14: Kebutuhan Retail Ukuran Besar No Kebutuhan Jmlh Dimensi Pengguna Elemen ruang. Standar Rak display 0,7x1,25 1. display 20 (8) 1,3x1,25 Zona sirkulasi 0,762x2 Sumber Besaran (m 2 ) NDA 35,24 DM &RI 2. Kasir 2 Meja kasir 1,2x3,2 NDA 7,68 3. Gudang 1 Rak (8) 0,7x1,25 NDA Zona sirkulasi 0,762 DM &RI 13,09 4. Sirkulasi 20% luas retail 11,2 Jumlah 67,2 85

Tabel 4.15: Kebutuhan Swalayan 400-500m 2 (NDA) No Kebutuhan Jmlh Besaran Dimensi Pengguna Elemen ruang Sumber. Standar (m 2 ) 1. Rak display 0,7x1,25 NDA display 75 (30) 1,3x1,25 produk kering Zona sirkulasi 0,762x2 DM &RI 176,2 2. Rak display 7x1m NDA display 15 Zona sirkulasi 0,762x2 produk basah Timbangan 1,3x2,2 DM &RI 20,528 3. Rak display 0,6x8m NDA display 15 Zona sirkulasi 0,762x2 buah Timbangan 1,3x2,2 DM &RI 19,852 4. Rak display 1x5m NDA display 15 Zona sirkulasi 0,762x2 masakan Timbangan 1,3x2,2 DM &RI 15,48 Rak display 1,46x6m 5. display produk dingin 15 Rak dinding Lemari es 1,17x6m 0,9x2,5m NDA 30,984 Zona sirkulasi 0,762x2 DM &RI 6. Kasir 3 Meja kasir 1,4x3,2 Zona sirkulasi 0,914 NDA 22,21 7. Pintu masuk 100bh Kereta dorong 0,6x0,84 NDA 6,5 5 Rak (6) 0,7x1,25 NDA 8. Gudang Lemari pendingin 0,9x2,5m Lemari pemanas 0,9x2,5m 33,3 Zona sirkulasi 0,762 DM &RI 9. R. Karyawan 10. 11. menejer Toilet karyawan 16 Loker Meja Kursi (6) Zona sirkulasi 2 Meja (2) Kursi (4) Lemari arsip (2) Zona sirkulasi 2 Kloset (2) Wastafel (2) Zona sirkulasi 0,4x0,3 1,8x0,6 0,5x0,5 0,762x2 1,5x0,7 0,6x0,6 1x0,5 0,762x2 0,7x0,4 0,75x0,3 0,9x0,75 DM&RI 5,784 DM&RI 6,826 NDA 3,15 12. Sirkulasi 20% luas swalayan 76,97 Jumlah 408,976 86

Tabel 4.16: Kebutuhan Salon (Termasuk ke Dalam Retail Besar) No. Kebutuhan Jmlh Pengguna 1. tunggu 4 2. tata rambut 6 Elemen ruang Sofa (4) Meja tamu Zona sirkulasi Meja rias (3) Kursi (3) Rak Zona sirkulasi Dimensi Standar 0,8x0,7 0,6x0,6 0,4 0,762x2 0,4x0,8 0,6x0,8 1,5x0,5 0,762x2 Sumber Besaran (m 2 ) DM&RI 7,98 NDA DM &RI 21,13 3. cuci 6 Kursi cuci (3) 2,25x1,3 rambut Zona sirkulasi 0,762x2 DM&RI 16,983 4. Toilet 1 Kloset Wastafel 0,7x0,4 0,75x0,3 NDA 1,575 Zona sirkulasi 0,9x0,75 5. Kasir 1 Meja kasir 1,2x3,2 NDA 7,68 6. Gudang 1 Rak (1) 0,7x1,25 NDA Zona sirkulasi 0,762 DM &RI 2,78 7. Sirkulasi 20% luas salon 11,62 Jumlah 69,75 Tabel 4.17: Kebutuhan Retail Food Court No. Kebutuhan Jmlh Pengguna 1. Dapur 3 Elemen ruang Tempat cuci Kompor Tempat perabot Zona sirkulasi Meja kasir Meja saji Dimensi Standar 0,6x3 Sumber NDA Besaran (m 2 ) 6,372 0,762 DM &RI 2. 0,7x1 saji + 2 0,7x1 kasir Zona sirkulasi 0,762 DM &RI 4,448 4. Sirkulasi 20% luas retail food court 2,164 Jumlah 12,98 87

Tabel 4.18: Kebutuhan Makan Food Court No. Kebutuhan Jmlh Pengguna 1. makan 200 Elemen ruang Meja Kursi Zona sirkulasi Wastafel Dimensi Standar 0,6x1,8 2,52 Sumber NDA DM &RI Besaran (m 2 ) 2. Wastafel 8 0,5x0,3 Zona sirkulasi 0,762x2 NDA 3,64 4. Sirkulasi 20% luas retail food court 72,728 Jumlah 436,368 Tabel 4.19: Kebutuhan Pengelola Mal No. Kebutuhan 1. tunggu 4 2. 3. 4. 5. menejer sekretaris marketing administrasi 6. rapat 1 1 5-8 4-6 Jmlh Pengguna 10-12 Elemen ruang Sofa (4) Meja tamu Zona sirkulasi Meja Kursi Lemari Zona sirkulasi Meja Kursi Lemari Zona sirkulasi Sofa (8) Meja tamu (2) Zona sirkulasi Meja Kursi Lemari Zona sirkulasi Meja Kursi (12) Layar LCD Zona sirkulasi Rak (2) Dimensi Standar 0,8x0,7 0,6x0,6 0,762x2 0,7x1,5 0,6x0,6 0,5x1 0,85x2,1 0,5x1,2 0,5x0,5 0,5x1 0,762x2,1 0,8x0,7 0,6x0,6 0,45x1,2 0,5x1,2 0,5x0,5 0,5x1 0,762x2,1 2,6x1,5 0,5x0,5 Sumber 360 Besaran (m 2 ) DM&RI 7,58 DM &RI 4,86 DM&RI 2,95 DM&RI 13 DM&RI 2,95 DM&RI 15,72 0,762x11,6 8. Gudang 1 0,7x1,25 NDA Zona sirkulasi 0,762 DM &RI 1,637 9. Sirkulasi 15% luas kantor 9 Jumlah 59,62 88

Tabel 4.20: Kebutuhan ATM Center No. Kebutuhan Jmlh Pengguna Elemen ruang Dimensi Standar Sumber Besaran (m 2 ) 1. ATM 3 Mesin ATM 1x1 3 2. antri 3 r: 0,533m DM&RI 2,67 3. Sirkulasi 20% luas ATM center 1,134 Jumlah 6,804 Tabel 4.21: Kebutuhan Ibu dan Anak No. 1. Kebutuhan menyusui Jmlh Pengguna 2. duduk 4 4 Elemen ruang Tempat tidur Meja Zona sirkulasi Sofa (4) Dimensi Standar 0,9x2 0,5x0,5 0,762x2 0,6x0,7 Sumber Besaran (m 2 ) NDA 3,9 DM&RI 2,4 Meja (2) 0,6x0,6 3. Sirkulasi 20% luas ruang ibu dan anak 1,26 Jumlah 7,56 Tabel 4.22: Kebutuhan Penitipan Anak No. 1. Kebutuhan bermain Jmlh Pengguna Elemen ruang Dimensi Standar Sumber Besaran (m 2 ) 4 9 NDA 9 2. duduk 4 Sofa (4) 0,6x0,7 Meja (2) 0,6x0,6 DM&RI 2,4 3. Sirkulasi 20% luas penitipan anak 2,28 Jumlah 7,5 Tabel 4.23: Kebutuhan Arena Bermain k No. 1. 2. Kebutuhan bermain Loket koin dan Jmlh Pengguna 20 4 Elemen ruang Alat permainan (8) Meja display hadiah Dimensi Standar Sumber Besaran (m 2 ) 15m 2 NDA 120 5x2 10 89

penukaran hadiah Meja hadiah Kasir 3. Gudang 3x5 15 3. Sirkulasi 20% luas ruang bermain anak 29 Jumlah 174 Analisa kebutuhan ruang pelayanan umum mal dan apartemen Tabel 4.24: Kebutuhan Pelayanan Umum No. Kebutuhan Elemen ruang Dimensi Standar Sumber Besaran (m 2 ) 1. Musholla 10 r: 0,533m DM&RI 5 4. Toilet umum 4 Kloset 1,45x0,9 NDA 5,22 Jumlah 16,8 4.3.2 Analisa Luas Mal dan Apartemen KLB: 4, luas lahan: 6.500 m 2 Luas lahan yang boleh dibangun: 60% x 6.500 = 3.900m 2 Bangunan yang boleh dibangun: 4 x 6.500 = 26.000m 2 Apartemen Rata-rata persentase jumlah unit kamar (unit) berdasarkan survey Tabel 4.25: Persentase Jumlah Unit Kamar Apart Kamar Gandaria Tower A Poins Square Central Park Thamrin Alamanda Star City Jmlh Pengguna Lavande Ratarata Ratarata (%) 1 38 110 23 94 168 289 120,33 30,4% 2 76 374 114 164 112 95 155,83 39,5% 3 114 232 195 70 56 48 119,16 30,1% Total 228 716 332 328 336 432 395,33 100% Jumlah kamar yang dibutuhkan adalah ±250 kamar. Mall membutuhkan tiga lantai, maka apartemen memiliki sembilan lantai. Presentasi jumlah unit kamar perlantai menurut analia yaitu unit satu kamar sebesar 30,4%, unit dua kamar sebesar 39,5% 90

dan unit tiga kamar sebesar 30,1%, maka setiap lantai apartemen terdiri dari delapan unit tipe satu kamar, dua belas unit tipe dua kamar, dan delapan unit tipe tiga kamar. Perhitungan prediksi luas seluruh unit apartemen berdasarkan survey Tabel 4.26: Luas Seluruh Unit Berdasarkan Survey Tipe Unit Perhitungan Jumlah (m 2 ) 1 kamar 68 unit x 51,043 m 2 3.724,09 2 kamar 104 unit x 71,65 m 2 6.792,42 3 kamar 68 unit x 111,6m 2 8.061,984 Total luas 18.578,494 Karena lahan tidak sebanding dengan lahan pada survey maka ruang yang dirancang harus lebih kecil dari hasil survey (Tabel). Perhitungan prediksi luas seluruh unit apartemen berdasarkan program ruang Tabel 4.27: Luas Seluruh Unit Berdasarkan Program Tipe Unit Perhitungan Jumlah (m 2 ) 1 kamar 68 unit x 20,13 m 2 1.368,84 2 kamar 104 unit x 37,63 m 2 3.913,52 3 kamar 68 unit x 64,75 m 2 4.403 Total luas 9.685,36 Tabel 4.28: Luas Seluruh Apartemen Berdasarkan Program No. Jenis Luas (m 2 ) 1. Luas seluruh unit apartemen 9.685,36 2. pengelola 63,99 3. Fitness center 77,6 4. Kolam renang 112,81 5. Luas servis 4% 397,59 Luas apartemen seluruhnya 10.337,35 Luas bangunan apartemen seluruhnya adalah 10.337,35m 2, pada satu tower apartemen memiliki sembilan lantai untuk memaksimalkan jumlah lantai, dan setiap lantai memiliki luas 574,29m 2. 91

Mall Rata-rata persentase jumlah retail (unit) berdasarkan survey Tabel 4.29: Persentase Jumlah Retail Berdasarkan Survey Mall Besaran retail Mal Ciputra Mal Puri Indah Mal Pondok Indah 2 Ratarata Rata-rata (%) <50m 2 60% 62,2% 7,8% 87.8 43,5% 50-100m 2 32,7% 23,3% 50% 215 35,5% 100-200m 2 7,3% 12,5% 42,2% 121.8 21% Jumlah retail 360 188 380 309,33 Tabel 4.30: Jumlah Retail Melalui Perbandingan Luas Bangunan Berdasarkan Survey Luas Bangunan Jumlah Retail Mal Ciputra 80 000 m2 360 222,22 Mal Puri 57.000 m2 180 316,66 PIM 75.000 m2 380 197,36 Rata-rata 245,41 Jumlah retail disesuaikan dengan rata-rata pada survey menjadi: 26.000m2 - luas apartemen = 26.000 m 2-10.337,35 m 2 = 10.311,35m2 Luas Bangunan/ Jumlah retail 10.311,35 245,41 = 42 retail Tabel 4.31: Jumlah Retail Tipe Retail Perhitungan Jumlah Kecil 43,5% x 42 18 Menengah 35,5% x 42 15 Besar 21% x 42 9 Perhitungan prediksi luas seluruh unit apartemen berdasarkan program ruang Dan presentasi jumlah retail adalah: Tabel 4.32: Luas Retail Seluruhnya Tipe Retail Perhitungan Jumlah (m 2 ) Kecil 18 x 19,56 m 2 352,08 92

Menengah 15 x 34,82 m 2 522,3 Besar 9 x 67,2 m 2 604,8 Total luas 1.479,18 Tabel 4.33: Jumlah Rata-rata Retail Food Court Menurut Survey Mal Ciputra Mal Puri Indah Mal Pondok Indah 2 Rata-rata 14 16 22 17,33 Tabel 4.34: Analisa Besaran Anchor Tenant Menurut Survey Nama Mal Luas Anchor Tenant/lantai (m 2 ) Luas Mal (m 2 ) Perbandingan Luas Anchor Tenant dengan Luas Mal Mal Ciputra 2.688 80.000 1: 3,3 Mal Puri Indah 2.914 57.000 1:14.29 Mal Pondok Indah 2 2.550 75.000 1:5,88 Rata-rata 1:7,8 Rata-rata perbandingan tersebut jika disesuaikan dengan proyek Mal dan Apartemen di Jakarta Barat, maka besaran anchor tenant: Luas yang dapat dibangun pada tapak adalah 3.900m 2, maka luas anchor tenant adalah 3.900 : 7,8 = 500m 2 Tabel 4.35: Luas Mal Seluruhnya No. Jenis Luas (m 2 ) 1. Luas seluruh retail 1.479,18 2. pameran 419,68 3. Swalayan 408,976 4. Anchor tenant 500 5. Food court (18 retail): 18 x 12,984m 2 233,712 6. makan food court 436,368 7. pengelola mal 59,62 8. ATM center 6,8 93

9. ibu dan anak 7,56 10. penitipan anak 7,5 11. bermain 174 12. Sirkulasi 20% 746,6792 13. Luas servis 10% 373,3396 Luas seluruh mal 4.853,4148 Keterangan: NDA : Neufert Data Arsitek DM&RI : Dimensi Manusia dan Interior Jadi luas bangunan seluruhnya: Apartemen : 10.337,35m 2 Mal : 4.853,4148m 2 + Jumlah : 15.190,7648m 2 94

4.3.3 Analisa Skema Hubungan Makro Skema 4.3: Hubungan Makro 95

4.3.4 Analisa Skema Hubungan Mikro Skema 4.4: Hubungan Mikro Apartemen Skema 4.5: Hubungan Mikro Mal 96

4.3.5 Analisa Organisasi Jenis organisasi ruang dalam buku Arsitektur Bentuk, dan Tatanan, dikarang oleh Francis D.K. Ching: Tabel 4.36: Organisasi D. K. Ching Jenis Organisasi Kelebihan Organisasi Terpusat - Stabil - Teratur - Dapat berfungsi sebagai suatu objek di dalam daerah atau volum ruang yang tetap Organisasi Linier Organisasi Radial - Menunjukan suatu arah - Fleksibel, dapat menanggapai macam-macam kondisi tapak. - Dapat mengelilingi dan melingkupi bentuk-bentuk ke dalam sebuah daerah ruang. - Dapat meluas dan menggabungkan diri pada unsureunsur pada tapak. Organisasi Cluster Organisasi Grid - Fleksibel - Dapat menerima pertumbuhan dan perubahan langsung tanpa mempengaruhi karakternya. - Dapat memadukan ruang-ruang yang berlainan fungsi, ukuran dan jenisnya. - Teratur - Dapat dibuat dalam satu atau dua arah Kesimpulan: Karena proyek ini adalah mal dan apartemen yang memiliki fungsi, ukuran dan jenis ruang yang berbeda-beda dan memerlukan suatu pengelompokan dan penyesuaian terhadap fungsi ruang, maka organisasi yang akan digunakan adalah organisasi cluster. 97

4.3.6 Analisa Jenis Massa Bangunan Massa bangunan ditentukan berdasarkan beberapa pertimbangan, yaitu: - Aktifitas kegiatan di dalam bangunan dan kebutuhan ruang yang direncanakan - Penerapan prinsip-prinsip arsitektur tropis - Kemudahan dalam pembagian pola grid pada sistem struktur. - Bentuk massa merupakan suatu kesatuan terhadap lingkungan - Dipengaruhi oleh kondisi iklim - Penyesuaian terhadap bentuk tapak. Bentuk dasar massa bangunan berdasarkan pertimbangan di atas, bentuk massa yang dapat digunakan sebagai alternatif adalah: Tabel 4.37: Bentuk Dasar Bangunan No. Bentuk Dasar Keterangan 1. Bujur sangkar Orientasi ke empat arah Memiliki orientasi dan sirkulasi dalam bangunan yang memusat Memiliki orientasi dan sirkulasi dalam bangunan yang memusat Kurang optimal dalam upaya pemanfaatan potensi iklim tropis 2. Persegi panjang Orientasi terkuat pada dua arah memanjang Memiliki sirkulasi dalam bangunan linier Dapat optimal dalam pemanfaatan potensi iklim tropis 3. Lingkaran Orientasi bangunan ke segala penjuru Memiliki orientasi dalam bangunan terpusat Boros ruang jika diterapkan pada bangunan fungsional 4. Segitiga Orientasi bangunan ke tiga arah Memiliki orientasi dalam bangunan terpusat Sulit dalam penataan ruang 98

Penataan bangunan apartemen dalam buku Panduan Perancangan Bangunan Komersial dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu: Tabel 4.38: Penataan Bangunan Apartemen Jenis Penataan Bangunan Center Corridor Plan Open Corridor Plan Tower Plan Kelebihan - Cocok jika diterapkan di tapak berbentuk persegi panjang. - Cocok untuk menyiasati panas matahari - Koridor mendapat pencahayaan alami maksimal. - Lebih stabil - Core berada di pusat memudahkan pencapaian bagi penghuni Kekurangan - Cahaya alami kurang maksimal - Unit hanya sedikit yang dapat ditampung. - Harus sangat memperhatikan beban angin. - Koridor tidak mendapat pencahayaan dan pengudaraan alami. Cross Plan - Dapat menampung banyak unit. - Stabil - Core berada di pusat memudahkan pencapaian bagi penghuni - Membutuhkan lahan yang besar. - Jauh mencapai core bagi unit yang berada di ujung gedung. Kesimpulan: Bentuk massa bangunan yang sesuai dengan pertimbangan dan pemanfaatan iklim tropis adalah massa bangunan bentuk persegi panjang untuk apartemen dan persegi untuk mal agar dapat mengoptimalkan penggunaan lahan pada tapak yang berbentuk persegi. 99

4.3.7 Analisa Sirkulasi dalam Bangunan Sirkulasi horizontal Sirkulasi horizontal digunakan untuk menghubungkan ruang-ruang pada di lantai yang sama, dalam bangunan apartemen, sirkulasi horizontal merupakan sarana penghubung antara unit dengan core. Jenis pola sirkulasi yang dapat digunakan adalah linier dan radial. Linier merupakan sirkulasi berupa jalan lurus, dapat memotong, melengkung dan bercabang, sedangkan radial berupa jalan yang mengembang, dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu radial memusat dan menyebar. Bentuk massa bangunan yang telah ditetapkan pada analisa jenis masa bangunan menjadi acuan bagi sirkulasi di dalam bangunan, dalam hal ini sirkulasi horizontal yang digunakan dalam gedung mal dan apartemen adalah sirkulasi linier. Pengunjung mal memerlukan arahan untuk menelusuri seluruh bagian mal untuk keperluan komersial. Arahan tersebut dapat diaplikasikan melalui sirkulasi berbentuk linier, dimana pengunjung akan terbawa mengelilingi keseluruhan retail. Sirkulasi vertikal Sirkulasi vertikal digunakan untuk menghubungkan ruang satu dan ruang lain pada di lantai yang berbeda. Sirkulasi vertikal sangat penting untuk gedung mal dan apartemen untuk sirkulasi ke lantai-lantai atas. Pada apartemen akan menggunakan koridor dengan sistem double loaded interior corridor untuk memudahkan sirkulasi penghuni mengakses dari dua arah. Jenis-jenis sirkulasi vertikal antara lain: 100

1. Tangga Tangga dibagi menjadi dua fungsi, yaitu tangga untuk umum dan tangga darurat. Tangga umum digunakan untuk menunjang aktifitas penghuni dan pengunjung mal. Tangga memiliki beberapa jenis, yaitu tangga L, U, I, dan tangga putar. Jenis-jenis tangga tersebut digunakan dengan pertimbangan fungsi ruang, ruang yang tersedia, pencitraan ruang dan pengguna ruang. Peraturan tentang tangga darurat berbeda antara negara satu dan yang lain, namun sistem pintu keluar pada dasarnya sama, yaitu memberi kemudahan bagi penghuni/pengguna gedung untuk dapat selamat keluar dari gedung bila terjadi musibah. Pintu tangga darurat hanya terbuka ke arah dalam tangga, kecuali pintu di lantai dasar, yang terbuka hanya kea rah luar. Tangga turun dari lantai 1 dan tangga naik dari basement harus disekat, agar orang yang ingin ke lantai dasar tidak tersesat. Lebar pintu keluar minimum 80 cm, lebar tangga kebakaran dan koridor minimum adalah 120 cm. 2. Eskalator dan ramp berjalan Eskalator dapat menggantikan fungsi tangga, yaitu sebagai penganggut manusia dalam jumlah banyak secara berkesinambungan dari lantai bawah ke lantai atas dan sebaliknya. Eskalator akan efektif bila: - Ada keseragaman kecepatan lalu lintas orang 101

- Terdapat kesinambungan arus manusia - Mesin penggerak dapat diubah arah pergerakannya Ada tiga macam tata letak eskalator yang sering digunakan: - Bersilangan Gambar 4.20: Tata Letak Eskalator Bersilangan Sumber: Panduan Sistem Bangunan Tinggi, Ir. Jimmy S. Juwana - Sejajar dengan arus manusia yang berputar Gambar 4.21: Tata Letak Eskalator Sejajar (Alur Berputar) Sumber: Panduan Sistem Bangunan Tinggi, Ir. Jimmy S. Juwana - Sejajar dengan arus manusia yang menerus. Gambar 4.22: Tata Letak Eskalator Sejajar (Alur Menerus) 102

Sumber: Panduan Sistem Bangunan Tinggi, Ir. Jimmy S. Juwana Letak escalator yang sering digunakan adalah escalator dengan tata letak bersilangan, karena menggunakan luasan lantai yang paling sedikit, efisien dalam penggunaan struktur, sehingga mempermurah biaya. Kelebihan eskalator dan ramp berjalan dibandingkan dengan tangga: - Mempunyai kapasitas untuk memindahkan orang dalam jumlah banyak. - Tidak membutuhkan waktu tunggu, kecuali pada kondisi lalu lintas manusia sangat padat. - Sangat bermanfaat untuk kebutuhan lalu lintas yang dapat meningkat dalam waktu-waktu tertentu. - Dapat mengarahkan arus manusia ke jalur tertentu. - Memudahkan orang untuk melihat-lihat sekelilingnya. - Perpindahan dari lantai ke lantai berlangsung secara lancer. - Dapt digunakan di ruang terbuka, jika digunakan tahan air (waterproofed escalator/moving ramp). - Menjamin mengalirnya arus lalu lintas pada kecepatan tertentu. - Sangat baik untuk jarak vertikan yang tidak terlalu panjang. 103

Kelebihan ramp berjalan dibandingkan dengan escalator: - Lebih landai sekitar 50% - Dapat digunakan untuk kereta barang belanjaan (trolleys). - Jika berhenti bergerak, gangguan pada arus pergerakan orang tidak begitu besar. - Memudahkan penyandang tuna daksa. Kekurangan ramp berjalan dibandingkan dengan escalator: - Membutuhkan luasan ruang yang lebih besar untuk pemasangannya - Membutuhkan rangka struktur penopang yang lebih besar. Pada mal, perlu disediakan satu eskalator alur tunggal untuk setiap 3.000 m2 atau satu eskalator alur ganda untuk setiap 5.000 m2 luas lantai, maka dalam proyek mal ini memerlukan 2 unit eskalator. 3. Lift Lift merupakan salah satu alternatif sirkulasi vertikal denganjumlah maksimum empat buah dalam satu deretan. Tata letak lift yang baik dan alternative lain yang masih dapat dilakukan: 104

Tabel 4.39: Tata Letak Lift yang Baik dan Alternative Lain Baik Alternatif Lain Sumber: Panduan Sistem Bangunan Tinggi, Ir. Jimmy S. Juwana 105

Pada umumnya, lift hanya melayani sekitar 12-15 lantai, agar tidak melampaui batas tunggu dan jumlah waktu perjalanan. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk gedung apartemen: - Bagi setiap 300 unit perlu disediakan satu lift barang. - Lift barang diperlukan jika pintu blok hunian berada pada ketinggian dua lantai dari lantai dasar. - Kapasitas lift yang digunakan minimal untuk 12 orang. - Unit hunian tidak boleh berdekatan dengan ruang mesin lift. Jumlah lift yang diperlukan: PB : 3 P : 0,03 Kecepatan lift : 1 Kapasitas lift (m) : 17 L Netto : 9.939,76 m 2 T (waktu perjalanan) apartemen : 50-70 N = L Netto. P. T = 9939,76. 0,03. 60 = 17891,568 = 1,16 = 2 lift 300. PB. m 300. 3. 17 15300 Jadi gedung apartemen memerlukan 2 buah lift ukuran menengah dan 1 lift barang. 4. Ramp Ramp merupakan sarana sirkulasi vertikal yang berguna bagi penyandang tuna daksa, balita dan orang tua. Ramp cocok digunakan di mal 106

untuk mempermudah pengunjung yang membawa kereta dorong belanjaan (trolleys) maupun kereta bayi. 4.3.8 Pemanfaatan dan Pengendalian Iklim Tropis Wilayah negara Indonesia berada pada daerah tropis, memiliki sumber daya yang melimpah, khususnya matahari dan angin. Manfaat sinar matahari dan angin sangat berguna bagi manusia untuk penerangan dan pengudaraan alami yang berujung pada penghematan energi, namun perlu pengendalian terhadap matahari dan angin yang berlebihan. 4.3.9 Analisa Pencahayaan dalam Bangunan Pencahayaan dalam bangunan mal dan apartemen dapat menggunakan pencahayaan alami dan buatan, tergantung pada kondisi dan fungsi ruang. Potensi iklim tropis harus dapat dimanfaatkan, salah satunya adalah cahaya matahari. Berdasarkan pemilihan jenis massa bangunan, maka perlu penyiasatan agar dapat memanfaatkan potensi iklim tropis, misalnya dengan membuat jendela di setiap ruangan yang memerlukan cahaya. Renderasi warna (Ra) adalah kesan warna yang diterima oleh mata manusia dari obyek pencahayaan akibat sumber cahaya. Besaran penerangan, warna cahaya dan Ra yang diajurkan sesuai dengan proyek adalah: 107

Tabel 4.40: Besaran Penerangan, Warna Cahaya dan Ra Jenis Bangunan Perumahan Biro Kantor Penjualan Pameran Besarnya Penerangan Warna Cahaya Nama yang Dianjurkan Putih sejuk Putih Netral Putih Hangat LX Colour Rendering Tangga 60 1 1 Teras depan 60 1atau2 1 makan 120-250 1atau2 1 tamu 120-250 1 kerja 120-250 1 1 Kamar tidur anak 120 1 Kamar tidur orang tua 250 1atau2 1 Kamar mandi 250 1 Dapur 250 1 1 Gudang makanan 60 1atau2 1 samping 60 1atau2 1 cuci 250 1atau2 1 Kantor dengan pekerjaan ringan 250 1atau2 1 rapat 250 1atau2 1 Bagian pembukuan 250 1atau2 1 Stenografi 250 1atau2 1 Komputer 500 1atau2 1 Bagian gambar 1.000 1atau2 biro besar 1.000 1atau2 Pameran, museum, pameran lukisan 250 1 1 Fair hall 500 1atau2 1atau2 Gudang 120 3 3 penjualan 250 1atau2 1atau2 Supermarket 750 1atau2 1atau2 Shopping center 500 1atau2 1atau2 Etalase toko 1.000 Kombinasi Sumber: Teknik Pencahayaan dan Tata Letak Lampu, Christian Darmasetiawan 108

Kesimpulan: Pencahayaan pada bangunan apartemen menggunakan pencahayaan alami dengan bukaan pada pagi hingga sore hari, pada malam hari menggunakan pencahayaan buatan. Pencahayaan pada mal menggunakan pencahayaan buatan agar lebih menarik perhatian pengunjung dan mendapatkan efek yang sesuai dengan kebutuhan setiap retail. Gambar 4.23: Pencahayaan Alami dalam Apartemen Cahaya masuk Cahaya masuk 4.3.10 Analisa Pengudaraan dalam Bangunan Pemanfaatan angin untuk pengudaraan alami dapat dilakukan dengan membuat bukaan di sisi ruangan yang merupakan arah datang angin, namun perlu pengaturan agar angin dapat terkendali. Gambar 4.24: Pengudaraan Alami dalam Apartemen Udara masuk Udara masuk Pada bangunan mal menggunakan pengudaraan buatan agar produk tidak rusak dan berdebu. 109

4.3.11 Analisa Jumlah dan Luas Lahan Parkir - Parkir penghuni apartemen Tabel 4.41: Jumlah Mobil Penghuni Apartemen Tipe Unit Perhitungan Jumlah 1 Kamar 1 mobil x 68 unit 68 mobil 2 Kamar 1 mobil x 104 unit 104 mobil 3 Kamar 1 mobil x 68 unit 68 mobil Jumlah mobil 240 mobil - Parkir pengunjung mal adalah 1 mobil setiap 60 m 2 menurut Dinas Penataan dan Pengawasan Bangunan: 4.853,4148 = 80,89 = 81 mobil 60 Transportasi umum sangat beragam di sekitar tapak, maka parkir mobil pada mall dikurangi menjadi 54 mobil dan digantikan dengan menyediakan fasilitas penunjang transportasi umum. - Parkir taxi adalah 2% dari mobil pengunjung mal 81 x 2% = 1,42 = 2 mobil - Mobil servis menggunakan parkir mobil mall dengan ketentuan jam pengangkutan barang. - Parkir motor disediakan 63 motor. - Parkir motor pegawai disediakan 30 motor. Area parkir yang diperlukan: Tabel 4.42: Luas Parkir Basement No. Kendaraan Perhitungan Luas (m 2 ) Mobil 294 x 35m 2 8.400 Motor 93 x 3m 2 279 Sirkulasi 20% 1735,8 Jumlah 10.414,8 110

Luas lahan setelah dikurangi GSB adalah ± 4.200m 2, dengan kebutuhan luas parkir basement sebesar 10.414,8m 2, maka basement 3 lapis. Penambahan semi basement dibutuhkan agar tapak bebas dari kendaraan dan nyaman untuk pejalan kaki. 4.3.12 Analisa Sistem Struktur Peran struktur bangunan yaitu pendukung bangunan agar bangunan dapat tetap berdiri. Struktur berfungsi sebagai penahan dan penyalur segala jenis beban yang dipikulnya dan berat keseluruhan bangunan itu sendiri. Persyaratan struktur yaitu kekakuan, kekuatan dan kestabilan. Pemilihan sistem struktur yang akan diterapkan di dalam proyek mal dan apartemen mempertimbangkan: 1. Fungsi bangunan sebagai sarana hunian dan komersial 2. Segi fleksibilitas (kemudahan dalam penataan ruang 3. Karakteristik bangunan 4. Pengaruh keadaan tapak, yaitu daya dukung tanah, perbedaan suhu, kecepatan angin, dll. 5. Segi estetik sehingga dapat menunjang penampilan gedung. Struktur Bawah Bangunan (Sub Structure) Struktur bawah bangunan atau pondasi merupakan struktur yang terletak di bawah tanah. Pondasi berfungsi meneruskan beban dari bangunan ke dalam tanah. 111

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih dan mendesain tipe sistem pondasi sebuah bangunan antara lain: - Pola dan besarnya beban bangunan - Kondisi air tanah dan air permukaan Gambar 4.25: Pondasi - Topografi tapak - Dampak pada lahan dan sekitarnya - Ketentuan peraturan kode bangunan - Metode konstruksi dan resiko Pondasi dapat diklasifikasi dalam dua kategori besar, yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam. Pondasi dangkal digunakan ketika Sumber: Ilustrasi Konstruksi Bangunan, D. K. Ching, Adams. terdapat tanah yang cukup stabil, dengan kapasitas daya dukung yang cukup dan relative dekat dengan permukaan tanah. Pondasi dalam digunakan ketika tanah tidak stabil atau tidak memiliki kapasitas daya dukung yang mencukupi. Pondasi diperpanjang ke bawah melewati lapisan tanah yang tidak layak untuk menyalurkan beban, menuju lapisan tanah yang lebih cocok untuk menahan beban seperti batu atau pasir padat. Kecamatan Palmerah yang merupakan lahan proyek ini memiliki tanah dengan kondisi tanah berpori dan gembur, maka proyek ini menggunakan pondasi dalam karena beban lantai yang besar dan daya dukung tanah kurang. 112

Pondasi Dalam Pondasi dalam memanjang ke bawah melewati lapisan tanah yang tidak stabil untuk menyalurkan beban bangunan pada lapisan yang lebih cocok seperti batu dan pasir padat atau tanah keras. Pondasi dalam memiliki dua tipe, yaitu pondasi tiang pancang (pile) dan pondasi caisson. Pondasi Tiang Pancang Pondasi tiang pancang adalah sistem penopang ujung atau friksi, kap tiang dan balok untuk menyalurkan beban bangunan ke bawah pada lapisan tanah yang cocok. Pondasi tiang pancang memiliki dua jenis yaitu pracetak dan cor di tempat. Gambar 4.26: Pondasi dan Kap Pondasi - Dinding penopang Sumber: Ilustrasi Konstruksi Bangunan, D. K. Ching, Adams. - Kap tiang pancang berupa beton bertulang menyatukan akumulasi tiangtiang untuk mendistribusikan beban dari kolom atau balok secara merata pada tiang-tiang pancang. - Tiang pancang penopang tergantung pada daya dukung tanah atau batu di bawahnya untuk memberikan topangan Tiang pancang cor ditempat dibuat dengan mengalirkan adukan beton ke dalam lubang dengan mengalirkan adukan beton ke dalam lubang di dalam tanah. Tiang pancang beton bisa diberi selubung atau dibiarkan terbuka. 113

Tiang berselubung dibuat dengan menanam pipa silinder baja atau casing ke dalam tanah sampai menemukan tingkat kekerasan yang dibutuhkan dan kemudian mengisi pipa dengan adukan beton. Sebuah mandrel atau gelondong dari tube baja bisa dimasukkan pada casing tipis untuk mencegah casing menjadi bengkok dalam proses penanaman, kemudian mandrel ditarik sebelum adukan beton di cor. Tiang pancang tidak berselubung dibuat dengan menanam casing berisi beton disetai dengan plug ke dalam tanah sampai menemukan tingkat ketahanan tanah yang diperlukan dan kemudian menumbuk beton pada saat bersamaan, casing kemudian ditarik. Gambar 4.27: Pancang dengan Selubung Gambar 4.28: Pancang dengan Selubung Gambar 4.28: Pancang Tanpa Selubung Sumber: Ilustrasi Konstruksi Bangunan, D. K. Ching, Adams. Pondasi Caisson Pondasi caisson dicor di tempat, terbuat dari beton murni atau beton bertulang yang dibentuk dengan member atau menggali rongga dalam tanah sampai ke lapisan tanah penopang yang tepat dan mengisinya dengan beton. 114

Tabel 4.43: Keuntungan dan Kerugian Pondasi Tiang Pancang Keuntungan Kerugian - Dapat mencapai kedalaman tanah keras yang jauh di bawah permukaan tanah. - Mendapat daya dukung dari tanah - Pelaksanaan lebih cepat - Membutuhkan peralatan khusus dalam pelaksanaan pemancangan - Menimbulkan getaran pada lingkungan sekitarnya ketika memancang. Kesimpulan: Beban dari bangunan cukup besar karena bangunan memiliki ketinggian 12 lantai dan kondisi tanah yang merupakan tanah berpori dan gembur, maka pondasi yang digunakan adalah pondasi tiang pancang. Jenis tiang pancang yang dipilih adalah tiang pancang pracetak untuk memudahkan dan mempersingkat waktu pengerjaan. Struktur Atas Bangunan (Super Structure) Struktur atas bangunan merupakan struktur yang berada di atas tanah. Pembahasan ini membagi tiga bagian, yaitu sistem lantai, sistem dinding dan atap. Sistem struktur ada beberapa jenis, antara lain tube, struktur kabel, struktur portal dan membran. Sistem struktur yang akan digunakan adalah sistem struktur portal dan akan dikombinasi dengan struktur lain sesuai dengan kebutuhan.. Gambar 4.29: Struktur Rangka Beton Gambar 4.30: Struktur Rangka Baja Sumber: Ilustrasi Konstruksi Bangunan, D. K. Ching, Adams. 115

Tabel 4.44: Perbandingan Material Konstruksi Beton Baja Lebih tahan terhadap api Tidak tahan api, harus menggunakan lapisan anti api. Lebih lama proses pengerjaannya Pengerjaannya cepat Lebih sulit di daur ulang Mudah di daur ulang Tidak menggunakan tower crane Menggunakan tower crane Struktur Atap Sistem atap berfungsi sebagai elemen primer untuk melindungi ruang-ruang interior suatu bangunan. Bentuk dan kemiringan atap harus sesuai dengan jenis penutup atap (sirap, genteng, membran, dll) yang digunakan untuk mengucurkan air hujan menuju sistem drainase. Konstruksi atap juga harus mengontrol aliran air, infiltrasi (perembesan) udara, aliran panas dan radiasi matahari. Atap datar - Atap datar memerlukan material penutup atap yang kontinu - Kemiringan atap dapat dibentuk dengan mencondongkan bagian struktur dek atap atau memiringkan lapisan insulasi termal. - Kemiringan mengarahkan pada saluran drainase. - Atap dapat dijadikan ruangan outdoor. - Struktur atap datar dapat berupa slab beton bertulang, truss baju atau kayu datar. 116

Atap miring - Kemiringan atap mempengaruhi pemilihan material penutup atap. - Ketinggian dan area atap miring dipengaruhi oleh bentangan horizontal. 4.3.13 Analisa Material Bangunan Pemilihan bahan bangunan sangat berpengaruh terhadap ketahanan bangunan dan dapat menimbulkan efek bagi penghuni. Beberapa bahan bangunan serta keuntungan dan kerugiannya antara lain: Tabel 4.45: Keuntungan dan Kekurangan Material Kayu Keuntungan Kekurangan Sangat tahan terhadap hujan jika diberi Tidak tahan terhadap rayap. perawatan yang baik. Jika di dalam air mendapat serangan Penyerapan panas kecil. siput. Tahan terhadap angin, bahkan angin Dapat mengalami kerusakan yang rebut jika konstruksinya tepat. disebabkan oleh bintang pengerat. Kemampuan pemantulan rata-rata 50%. Mudah terbakar. Kestabilan mekanis baik. Dapat mengalami pembusukkan akibat Perbaikan dan penggantian mudah. jamur. Tahan terhadap angin dan cuaca. Kemampuan penyerapan tinggi. Bahan berpori memiliki kemampuan pengisolasian panas. Ketahanan tinggi terhadap kerusakan mekanis Batu Alam Batu Bata Bakar Penyerapan panas baik. Kemampuan pemantulan rata-rata 30-40%. Tahan terhadap kerusakan mekanis Beton, Beton Bertulang Dapat mengalami keretakan diakibatkan tegangan antara inti dan permukaan karena panas pada siang hari dan pendinginan pada malam hari. Bahaya korosi karena gesekan dan pencemaran udara. Kerusakan dapat diakibatkan genangan air. Dapat menjadi sarang serangga. Dapat tembus air jika terkena hujan terus menerus. Akan tumbuh jamur dan lumut pada kelembaban tinggi terus menerus. 117

Tahan hujan. Kemampuan penghantar panas kecil. Tidak tembus angin. Kemampuan pemantulan rata-rata 40% Tahan api. Tahan gempa yang tinggi apabila konstuksi benar. Tahan terhadap angina rebut. Tahan udara dan air. Tahan hujan dan air. Kedap air. Tidak berpori. Kemampuan pemantulan sangat baik. Tahan api. Tahan gempa. Tahan terhadap asam dan basa. Kedap angin. Kemampuan penghantar panas kecil. Penyerapan baik. Tahan korosi. Tahan api. Tahan resiko rusak pada transportasi. Baja, Besi Tuang Alumunium Kaca Semen Asbes Bahaya jamur di daerah lembab. Korosi pada tulangan baja akibat air campuran yang mengandung garam. Mudah korosi pada daerah lembab. Daya tahan terhadap api kecil. Resiko korosi tanah. Resiko patah lebih besar pada komponen besi tuang. Penyerapan panas tinggi. Dapat menimbulkan kesilauan. Dapat menjadi kasar jika terlambat dibersihkan. Dapat korosi akibat asam tanaman. Penyerapan panas besar. Bahaya pecah. Bahaya gempa, angina topan, kebakaran dan lendutan. Dapat rusak akibat badai angina dan pasir. Bahaya gempa. Ketahanan terhadap rayap diragukan. Bahaya kerusakan mekanis. 4.3.14 Analisa Kebutuhan, Sistem Penyediaan dan Pembuangan Air Sistem Air Bersih Kebutuhan air tergantung pada standar kehidupan, kebiasaan hidup, kondisi setempat, dan juga biaya. Sumber-sumber air antara lain: 118

- Penampungan dan pengumpulan air hujan - Pengambilan air tanah - Pengumpulan air permukaan - Desalinasi air laut atau air payau - Penggunaan kembali Selain cara mendapatkan air, distribusi dan penyimpanannya merupakan factor utama dalam keseluruhan sistem. Beberapa kemungkinan distribusi: - Sumur utama atau air permukaan - Bak pengumpul umum yang disuplay oleh mobil tangki - Sambungan tersendiri dari jaringan suplay setempat (PAM) Di daerah tropis, tangki air harus ditutup dengan kawat nyamuk, karena jika dibiarkan akan menjadi sarang nyamuk dan membawa penyakit. Air yang telah di tampung kemudian dialirkan ke dalam bangunan melalui pipa-pipa. Gambar 4.31: Distribusi Air Bersih Distribusi ke bangunan Reservoir atas Dipompa ke reservoir atas Reservoir bawah Supply air 119

Air Kotor Air kotor berasal dari air kotor manusia dan bekas pencucian. Air kotor dapat diolah agar dapat digunakan kembali dan dapat juga dibuang melalui penyaringan terlebih dahulu, dialirkan ke sumur resapan maupun langsung dialirkan ke roil kota Gambar 4.32: Distribusi Air Kotor Sumber: Panduan Sistem Bangunan Tinggi, Ir. Jimmy S. Juwana, MSAE 120

Kebutuhan Air Bersih Kebutuhan air seluruh unit apartemen /hari : 9.685,36 m 2 x 20 L = 193.707,2 L Kebutuhan air untuk mal per hari : 3.733,396 m 2 x 5 L = 18.666,98 L Kebutuhan air sprinkler untuk apartemen Σ sprinkler unit Σ sprinkler penunjang = 240 unit apartemen x 2 = 480 unit = L bangunan 25 = 651,99= 26,07 = 27 unit 25 Kebutuhan air sprinkler untuk mal : Σ sprinkler = L bangunan 25 = 4853,4148 25 = 194,13 = 195 unit Vol air-sprinkler = Σ sprinkler x 18 x 30 L = 702 x 18 x 30 L = 379.080 L Kebutuhan air hidran untuk mal dan apartemen Σ Hidran = 15190,7648 x 2 unit 800 = 37,97 = 38 unit Vol air-hidran = Σ Hidran x 400 x 30L = 38 x 400 x 30L = 456.000L 121

Kebutuhan air AC Vair sirkulasi = 8-13 liter/menit/tr = 10,5 liter/menit/tr Vair-pendingin = 1,5-2% Vair-sirkulasi = 1,5 0,21 = 1,29 liter/menit/tr Kebutuhan air untuk mal dan apartemen adalah: 193.707,2 + 18.666,98 + 379.080 + 456.000+ 1,29 + 10,5 = 1.047.465,97 L 4.3.15 Analisa Sistem Pembuangan Sampah Sampah di apartemen dalam buku Panduan Sistem Bangunan Tinggi adalah 1kg/orang. Untuk itu perlu penanganan khusus dalam pendistribusian sampah hingga dapat terbawa oleh mobil pengangkut sampah. 122

Gambar 4.33: Distribusi Sampah Sumber: Panduan Sistem Bangunan Tinggi, Ir. Jimmy S. Juwana, MSAE Corong pembuangan sampah dibuat serong ke bawah agar sampah yang dibuang dari atas tidak masuk ke lantai dibawahnya. Sampah akan mengisi bagian bak dan terdesak oleh sampah yang dibuang belakangan. Setelah penuh sampah akan dipadatkan dan selanjutnya bak penampungan yang sudah penuh akan dibuang keluar bangunan dengan kendaraan. 123

4.3.16 Analisa Sumber Daya Listrik Daya listrik umumnya dipasok dari pembangkit tenaga listrik melalui jaringan kabel tegangan tinggi, kemudian diturunkan menjadi tegangan menengah dan tegangan rendah oleh transformator yang ditempatkan pada gardu-gardu listrik. Daya listrik dipasok ke dalam bangunan disalurkan melalui kabel bawah tanah untuk bangunan tinggi atau kabel udara dari tiang listrik untuk bangunan rendah/menengah. 4.3.17 Analisa Sistem Pencegahan Kebakaran Penyebaran kebakaran ke seluruh bangunan dapat terjadi melalui tiga mekanisme, yaitu konduksi, konveksi dan radiasi. Konduksi terjadi jika panas dipindahkan langsung melalui suatu bentuk struktur dari sumber api yang terdekat, sebagaimana yang terjadi pada pengurangan tulangan baja pada struktur beton bertulang jika suhu meningkat di atas 400 o C. Konveksi terjadi jika gas/udara meningkat di dalam gedung, di mana api dengan mudah menjalar dari tanah ke lantai diatasnya melalui lubang tangga atau lubang saluran (shaft). Radiasi merupakan penjalaran api menurut garis lurus dari bahan yang terbakar ke bahan terdekat yang mudah terbakar. Jendela kaca merupakan tempat penjalaran radiasi, juga gedung yang letaknya berdekatan. Sistem pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran pasif antara lain: 124

1. Konstruksi tahan api Setiap komponen bangunan yaitu dinding, lantai, kolom dan balok harus dapat tetap bertahan dan dapat menyelamatkan isi bangunan, meskipun bangunan dalam keadaan terbakar. Baja tidak dapat terbakar, namun dapat meleleh, maka baja harus diberi perlindungan. Gambar 4.34: Perlindungan untuk Baja Sumber: Panduan Sistem Bangunan Tinggi, Ir. Jimmy S. Juwana, MSAE 2. Pintu keluar Beberapa syarat pintu keluar adalah: - Pintu harus tahan terhadap api sekurang-kurangnya dua jam - Pintu harus dilengkapi dengan minimal tiga engsel. - Pintu harus dilengkapi alat penutup pintu otomatis 125

- Pintu dilengkapi dengan tuas/tungkai pembuka pintu yang berada di luar ruang tangga (kecuali tangga yang berada di lantai dasar, tuas berada di dalam ruang tangga). Menggunakan tuas yang memudahkan, terutama dalam keadaan panic. - Pintu dapat dilengkapi dengan kaca tahan api dengan luas maksimal 1m 2 dan diletakkan di setengah bagian atas dari daun pintu. Gambar 4.35: Pintu Darurat Jendela Khusus RUANG LUAR Pintu Tahan Ap i LOBBY TANGGA & LIFT KEBAKARAN minimum 2,50 meter LIFT KEBAKARAN TANGGA KEBAKARAN Lamp u Darurat Dindin g Tahan Ap i KOTAK HIDRAN Sumber: Panduan Sistem Bangunan Tinggi, Ir. Jimmy S. Juwana, MSAE Jarak tempuh keluar bagi apartemen dan mal adalah: Tabel 4.46: Jarak Tempuh ke Tangga Darurat Batas Jarak Tempuh Maksimal (m 2 ) Fungsi Lorong Buntu (m 2 ) Tanpa Springkler Dengan Springkler Apartemen 10 30 30 Komersial Pengunjung>100 15 30 45 Sumber: Sistem Bangunan Tinggi, Ir. Jimmy Juwana 126

3. Koridor dan jalan keluar Koridor dan jalur keluar harus dilengkapi dengan tanda yang menunjukan arah dan lokasi pintu keluar. Tanda EXIT harus dapat dilihat dengan jelas, diberi lampu yang menyala pada kondisi darurat, dengan kuat cahaya tidak kurang dari 50 lux dan luas tanda minimum 155m2 serta ketinggian huruf tidak kurang dari 15 cm, tebal huruf minimal 2 cm. 4. Kompartemen Kompartemen merupakan konsep yang penting dalam usaha penyelamatan manusia dalam menghadapi bahaya kebakaran. Gagasan dasarnya adalah menahan dan membatasi penjalaran api agar dapat melindungi penghuni atau pengguna bangunan agar tidak secara langsung bersentuhan dengan sumber api. Kompartemen dapat menyediakan tempat penampungan sementara bagi penghuni atau pengguna bangunan untuk menunggu sampai api dipadamkan atau jalur keluar sudah aman. Sistem pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran aktif antara lain: 1. Alat peringatan dini/detektor Detektor asap dan panas akan memberikan peringatan dini kepada penghuni atau pengguna gedung. 2. Hidran dan selang kebakaran Hidran harus diletakkan di tempat yang mudah terjangkau dan relative aman, pada umumnya diletakkan di dekat pintu darurat. 127

Gambar 4.36: Jarak Aman Hidran Halaman Sumber: Panduan Sistem Bangunan Tinggi, Ir. Jimmy S. Juwana, MSAE 3. Springkler Sejumlah cadangan air diperlukan untuk hidran dan sistem springkler dan umumnya disimpan dalam tempat penyimpanan air tertentu (reservoir) 4.3.18 Analisa Sistem Penangkal Petir Instalasi penangkal petir aalah instalasi suatu sistem dengan komponenkomponen dan peralatan-peralatan yang secara keseluruhan berfungsi untuk menangkap petir dan menyalurkannya ke tanah. Perinsip dasar penangkal petir adalah menyediakan jalur menerus dari logam yang menyalurkan petir ke tanah pada saat terjadi sambaran petir pada bangunan. Beberapa sistem penangkal petir adalah: 1. Tiang penangkap petir Penangkap petir adalah penghantar-penghantar di atas atap berupa elektroda logam yang dipasang tegak, dan elektroda logam yang dipasang mendatar. 128