HIBAH UNGGULAN PROGRAM STUDI MODIFIKASI LEMPUNG ALAM MENJADI ADSORBEN DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI PENYERAP LIMBAH DETERJEN

dokumen-dokumen yang mirip
Modifikasi Lempung Menjadi Adsorben dan Pemanfaatannya sebagai Penyerap Limbah Deterjen

BAB I PENDAHULUAN. mengandung bahan anorganik yang berisi kumpulan mineral-mineral berdiameter

HASIL DAN PEMBAHASAN. nm. Setelah itu, dihitung nilai efisiensi adsorpsi dan kapasitas adsorpsinya.

Disusun Oleh : Shellyta Ratnafuri M BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

KARAKTERISASI ADSORBEN KOMPOSIT ALUMINIUM OKSIDA PADA LEMPUNG TERAKTIVASI ASAM. P. Suarya. Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana, Bukit Jimbaran

Kata kunci: surfaktan HDTMA, zeolit terdealuminasi, adsorpsi fenol

HASIL DAN PEMBAHASAN. Skema interaksi proton dengan struktur kaolin (Dudkin et al. 2004).

BAB III METODE PENELITIAN. Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana. Untuk sampel

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Modifikasi Ca-Bentonit menjadi kitosan-bentonit bertujuan untuk

Emmy Sahara. Laboratorium Kimia Analitik Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana, Bukit Jimbaran ABSTRAK ABSTRACT

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sebelum melakukan uji kapasitas adsorben kitosan-bentonit terhadap

HASIL DAN PEMBAHASAN. Preparasi Adsorben

BAB 3 KIMIA TANAH. Kompetensi Dasar: Menjelaskan komponen penyusun, sifat fisika dan sifat kimia di tanah

HASIL DAN PEMBAHASAN. kedua, dan 14 jam untuk Erlenmeyer ketiga. Setelah itu larutan disaring kembali, dan filtrat dianalisis kadar kromium(vi)-nya.

HASIL DAN PEMBAHASAN. Lanjutan Nilai parameter. Baku mutu. sebelum perlakuan

MODIFIKASI LEMPUNG BENTONIT TERAKTIVASI ASAM DENGAN BENZALKONIUM KLORIDA SEBAGAI ADSORBEN ZAT WARNA RHODAMINE B.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis tanah lokasi penelitian disajikan pada Lampiran 1. Berbagai sifat kimia tanah yang dijumpai di lokasi

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis proses preparasi, aktivasi dan modifikasi terhadap zeolit

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan

besarnya polaritas zeolit alam agar dapat (CO) dan hidrokarbon (HC)?

HASIL DAN PEMBAHASAN. Adsorpsi Zat Warna

PENINGKATAN KUALITAS MINYAK DAUN CENGKEH DENGAN METODE ADSORBSI

BAB 3 METODE PENELITIAN. Neraca Digital AS 220/C/2 Radwag Furnace Control Indicator Universal

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 11 sampai 28 November 2013

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2015 di Laboratorium

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan Ca-Bentonit. Na-bentonit memiliki kandungan Na +

4 Hasil dan Pembahasan

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga BAB III METODE PENELITIAN. penelitian Departemen Kimia Fakultas Sains dan Teknologi Universitas

BAB I PENDAHULUAN. Dalam bab ini diuraikan mengenai latar belakang masalah, tujuan dari penelitian dan manfaat yang diharapkan. I.

Ind. J. Chem. Res, 2015, 3, INTERCALATION OF CLAY BY SURFACTANT AND ITS APPLICATION AS ADSORBENT OF LEAD ION (Pb 2+ )

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Aktivasi Batu Padas dengan Asam dan Pemanfaatannya sebagai Penyerap Limbah Deterjen

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Universitas Sumatera Utara

BAB III METODE PENELITIAN. Pada bab ini akan diuraikan mengenai metode penelitian yang telah

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. (Pandanus amaryllifolius Roxb.) 500 gram yang diperoleh dari padukuhan

LAMPIRAN 1 DATA HASIL PERCOBAAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DASAR-DASAR ILMU TANAH

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Penelitian Penelitian yang telah dilakukan bertujuan untuk menentukan waktu aging

PENINGKATAN POTENSI BATU PADAS LADGESTONE SEBAGAI ADSORBEN ION LOGAM BERAT Cr(III) DALAM AIR MELALUI AKTIVASI ASAM DAN BASA

PASI NA R SI NO L SI IK LI A KA

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian Secara Keseluruhan

BAB 4 HASIL DAN ANALISIS

HASIL DAN PEMBAHASAN Preparasi Contoh

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Dalam penelitian ini digunakan TiO2 yang berderajat teknis sebagai katalis.

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada penelitian ini akan dibahas tentang sintesis katalis Pt/Zr-MMT dan

IV. SIFAT - SIFAT KIMIA TANAH

Lampiran 1. Kriteria penilaian beberapa sifat kimia tanah

BAB III METODE PENELITIAN

ION EXCHANGE DASAR TEORI

Metodologi Penelitian

LOGO. Stoikiometri. Tim Dosen Pengampu MK. Kimia Dasar

Bab IV Hasil dan Pembahasan

III. BAHAN DAN METODA 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di laboratorium Kimia Analitik Fakultas matematika dan Ilmu

BABrV HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan bulan Oktober

FOTODEGRADASI METILEN BIRU MENGGUNAKAN KATALIS TiO 2 -MONTMORILONIT DAN SINAR UV

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian kali ini adalah penetapan kadar air dan protein dengan bahan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. furnace, desikator, timbangan analitik, oven, spektronik UV, cawan, alat

Uji Kinerja Adsorben Amino-Bentonit Terhadap Polutan Pestisida Dalam Air Minum ABSTRAK

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

HASIL DAN PEMBAHASAN y = x R 2 = Absorban

HASIL DAN PEMBAHASAN. dicatat volume pemakaian larutan baku feroamonium sulfat. Pembuatan reagen dan perhitungan dapat dilihat pada lampiran 17.

PRISMA FISIKA, Vol. I, No. 1 (2013), Hal ISSN :

LAMPIRAN 1 Pola Difraksi Sinar-X Pasir Vulkanik Merapi Sebelum Aktivasi

dapat ditemukan dalam tanah bentonit. Montmorillonit kualitas komersial sering juga dinamakan

BAB III METODE PENELITIAN

DASAR-DASAR ILMU TANAH

3. Metodologi Penelitian

Universitas Gadjah Mada 43

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan Penelitian

METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan April sampai September 2015 dengan

Bab III Metodologi III.1 Waktu dan Tempat Penelitian III.2. Alat dan Bahan III.2.1. Alat III.2.2 Bahan

PENGEMBANGAN METODE SINTESIS UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS ZEOLIT ALAMI DI INDONESIA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekperimental.

BAB I PENDAHULUAN. limbah organik dengan proses anaerobic digestion. Proses anaerobic digestion

3 Metodologi Penelitian

SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA KOMPLEKS NIKEL(II) DENGAN LIGAN ETILENDIAMINTETRAASETAT (EDTA)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari - Juni 2015 di Balai Besar

BAB IV PEMBAHASAN. 4.1 Karakterisasi Lumpur Sidoarjo

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

Hubungan koefisien dalam persamaan reaksi dengan hitungan

Emisi gas buang Sumber tidak bergerak Bagian 8: Cara uji kadar hidrogen klorida (HCl) dengan metoda merkuri tiosianat menggunakan spektrofotometer

Bab III Metodologi Penelitian

MODIFIKASI ZEOLIT ALAM SEBAGAI KATALIS MELALUI PENGEMBANAN LOGAM TEMBAGA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PEMURNIAN MINYAK NILAM MENGGUNAKAN BENTONIT TERAKTIVASI ASAM NITRAT

LAMPIRAN C CCT pada Materi Ikatan Ion

MODIFIKASI LEMPUNG BENTONIT TERAKTIVASI ASAM SULFAT DENGAN BENZALKONIUM KLORIDA DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI ADSORBEN ZAT WARNA RHODAMINE B SKRIPSI

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

4 Hasil dan Pembahasan

adsorpsi dan katalisator. Zeolit memiliki bentuk kristal yang sangat teratur dengan rongga yang saling berhubungan ke segala arah yang menyebabkan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Transkripsi:

Bidang Unggulan : Bahan Alam dan Lingkungan Kode/Bidang Ilmu :112/ MIPA-Kimia LAPORAN AKHIR PENELITIAN HIBAH UNGGULAN PROGRAM STUDI MODIFIKASI LEMPUNG ALAM MENJADI ADSORBEN DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI PENYERAP LIMBAH DETERJEN KETUA PENELITI : PUTU SUARYA, S.SI., M.SI.(NIDN: 0031127202) ANGGOTA PENELITI : DRS. I WAYAN SUIRTA, M.SI.(NIDN:0019076502) JURUSAN KIMIA FAKULTAS MIPA UNIVERSITAS UDAYANA OKTOBER 2015

RINGKASAN Dalam penelitian ini akan dipelajari mekanisme proses interkalasi surfaktan ke dalam antarlapis lempung. Adsorben yang dihasilkan akan dipelajari sifat kimia dan fisikanya, kemudian adsorben ini akan digunakan untuk mengadsorpsi limbah deterjen dan selanjutnya juga akan dipelajari kemampuan sifat desorpsinya. Modifikasi lempung akan diawali dengan proses aktivasi lempung menggunakan asam sulfat, yang bertujuan untuk menghomogenkan kation antarlapis dari lempung (Diaz dan Santos, 2001). Proses interkalasi surfaktan akan menjadi lebih mudah terjadi apabila kation antar lapis telah homogen. Hasil karakterisasi terhadap lempung menunjukkan bahwa lempung yang telah dimodifikasi memiliki karakter yang lebih baik dilihat dari peningkatan luas permukaan spesifik dan keasaman permukaannya. Hasil peneltiannya menunjukkan terjadi peningkatan jumlah situs aktif dari lempung alam (A0) sebesar 3,9823 x 10 20 atom/gram menjadi 10,947 x 10 20 atom/gram pada lempung teraktivasi asam sulfat 2 M (AA) dan pada lempung teraktivasi asam sulfat 2 M dan terinterkalasi BKC 3% (AAB) sebesar 11,320 x 10 20 atom/gram. Hasil uji kemampuan adsorpsinya terhadap limbah deterjen menunjukkan bahwa pada kajian variasi waktu adsorpsi, adsorben A0 mempunyai waktu kontak optimum 15 menit sedangkan AA dan AAB sampai dengan waktu 60 menit masih menunjukkan peningkatan daya adsorpsi terhadap limbah deterjen. Kata Kunci: Lempung, Montmorillonit, adsorpsi, limbah deterjen

PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat Beliaulah penulis berhasil melaksanakan penelitian ini sampai pada tahap akhir dan sekaligus dapat menyusun laporan akhir ini tepat pada waktunya. Penelitian dapat terlaksana karena adanya bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dikti sebagai pemberi dana untuk pelaksanaan peneleitian ini. 2. LPPM Universitas Udayana yang telah memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melaksanakan kegiatan ini. 3. Jurusan Kimia F.MIPA Universitas Udayana yang telah memberikan sarana dan prasarana dalam pelaksanaan penelitian ini. 4. Prof. Dr. Ida Bagus Putra Manuaba, M.Phil. atas bimbingannya dan saran-sarannya dalam pelaksanaan penelitian ini. 5. Rekan-rekan team peneliti yang telah meluangkan waktu dalam pelaksanaan penelitian ini. 6. Rekan mahasiswa yang telah membantu penelitian ini. Penulis menyadari bahwa laporan ini jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak demi kesempurnaan laporan ini. Penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembacanya. Akhir kata, atas segala saran dan masukan yang bersifat membangun dari segala pihak, penulis mengucapkan terima kasih. Penulis

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PENGESAHAN... ii RINGKASAN... iii BAB I PENDAHULUAN... 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 3 2.1 Tanah Lempung... 3 2.2 Adsorpsi... 11 2.3 Studi Pustaka dan hasil yang sudah dicapai... 11 2.4 Studi Pendahuluan yang sudah dilaksanakan.... 12 BAB III TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN... 13 BAB IV METODE PENELITIAN... 14 3.1 Preparasi Lempung Teraktivasi Asam Sulfat dan Terinterkalasi Benzalkunium Klorida... 15 3.2 Adsorpsi Lempung Hasil Aktivasi Terhadap Limbah deterjen... 15

BAB V HASIL YANG SUDAH DICAPAI... 20 5.1 Karakterisasi lempung... 20 5.2 Uji daya adsorpsi lempung terhadap limbah deterjen..... 27 BAB VI RENCANA TAHAP BERIKUTNYA...... 30 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN... 31 7.1 Kesimpulan... 31 7.2 Saran... 32 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN Lempung bentonit sangat menarik untuk diteliti karena lempung ini mempunyai struktur berlapis dengan kemampuan mengembang (swelling) dan memiliki kation-kation yang dapat ditukarkan (Hensen dan Smit, 2002). Meskipun lempung bentonit sangat berguna untuk adsorpsi, namun kemampuan adsorpsinya terbatas (Cool dan Vansant, 1998). Dengan memanfaatkan sifat tukar kationnya, lempung dapat dimodifikasi sehingga mempunyai sifat adsorpsi selektif terhadap senyawa organik. Bali sebagai daerah tujuan wisata, tentunya dituntut untuk berperilaku serba instan. Salah satunya adalah banyaknya berdiri loundry. Produk samping dari loundry adalah limbah hasil pencucuian yang banyak mengandung deterjen. Mikroorganisme yang ada di perairan bebas sangat sulit memutuskan rantai karbon (bercabang), akhirnya limbah deterjen terakumulasi menimbulkan buih dan busa berlebih sehingga menghambat proses pembusukan limbah lainnya yang ada pada perairan. Selama ini penangan khusus dari limbah belum dilakukan sehingga akan menimbulkan pencemaran baik pencemaran tanah maupun pencemaran air. Jenis surfaktan yang sering digunakan para peneliti adalah ammonium kuarterner, misalnya benzalkonium klorida. Pada proses nterkalasi, jenis surfaktan ini akan menghasilkan nanoruang dua dimensi pada antarlapis lempung. Nanoruang dua dimensi ini terjadi melalui interaksi antara ion organoammonium dengan ruang antar lapis silikat sehingga menyebabkan terbukanya ruang pada antar lapis sampai ke ukuran nano. Pertukaran antara kation antar lapis dengan ion organoamonim ini akan menghasilakn perubahan sifat permukaan pada kisi-lapis lempung (Ogawa dan Kuroda, 1997). Susianah (2005) melaporkan pemanfaatan lempung yang telah dimodifikasi dengan surfaktan dapat menyerap senyawa senyawa-senyawa organik. Interkalasi surfaktan ke dalam antarlapis lempung menyebabkan terbukanya ruang pada antar lapis sampai ke ukuran nano sehingga dapat digunakan untuk mengadsorpsi molekul dengan ukuran yang lebih besar.surfaktan juga berpengaruh terhadap besarnya jumlah situs aktif yang terjadi pada lempung yang dimodifikasi.

Mengingat hal hal tersebut diatas maka penelitian ini sangat penting untuk diteliti mengenai proses interkalasi surfaktan benzalkonium klorida dan kemampuan adsorpsinya terhadap limbah deterjen. Dengan harapan bahwa penambahan surfaktan ke dalam antarlapis lempung dapat meningkatkan ruang antarlapis dan merubah sifat lempung menjadi selektif terhadap senyawa organik (dalam hal ini deterjen). Penambahan surfaktan juga akan memperbanyak jumlah situs aktif pada lempung, dengan demikian interaksi antara deterjen dengan lempung akan menjadi lebih banyak terjadi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanah Lempung Tanah lempung adalah tanah yang memiliki partikel-partikel mineral yang termasuk bahan anorganik dan bahan koloid yang menghasilkan sifat-sifat plastis pada tanah bila dicampur dengan air (Grim, 1953). Mineral lempung terdiri dari silikon, aluminium, dan oksigen, penyusun lainnya berupa magnesium, besi, alkali, dan alkali tanah yang jumlahnya relatif kecil.sifat-sifat yang dimiliki tanah lempung yaitu; ukuran butir halus (kurang dari 0,002 mm), permeabilitas rendah,kenaikan air kapiler tinggi, bersifat sangat kohesif, kadar kembang susut yang tinggi, proses konsolidasi lambat (Hardiyatmo, 1999). Lempung sangat penting dalam kimia tanah, karena mempunyai kimia permukaan yang berbeda dari butiran mineral yang berukuran lebih besar dan lempung memiliki komposisi yang sangat imbang antara fraksi kasar dan halus, dan juga sering dianggap sebagai tekstur yang optimal untuk pertanian.kebanyakan mineral-mineral dalam lempung tanah berukuran kristalin, struktur tidak teratur atau amorf, yang mana dalam keadaan amorf lempung umumnya tidak mempunyai bentuk yang dapat dikenal ataupun sususnan internal atom secara geometris.ada beberapa dari lempung dapat bersifat amorf, seperti gel-gel silika, alumina, dan besi oksida (Tan, 1992). 2.1.1 Kimia permukaan lempung Permukaan mineral lempung tanah biasanya mengandung muatan elektronegatif yang memungkinkan terjadinya reaksi pertukaran kation, muatan ini merupakan hasil dari satu atau beberapa lebih dari reaksi yang berbeda. Permukaan lempung dibagi menjadi dua kategori diantaranya: Adanya subtitusi isomorfik. Prosesnya disebut sumber utama muatan negatif dalam lempung lapisan 2:1. Sebagian dari silicon dalam lapisan tetrahedral dapat diganti oleh ion yang berukuran sama, yang biasanya Al 3+ begitu juga dengan sebagian dari aluminium dalam octahedral dapat digantikan oleh Mg 2+ tanpa mengganggu struktur Kristal. Muatan negative yang dihasilkan dari proses subtitusi isomorfik tersebut dianggap sebagai muatan permanen karena tidak berubah dengan berubahnya ph. Kemudahan terjadi subt itusi isomorfik

tergantung dari ukuran dan valensi ion-ion yang terlibat. Proses hanya terjadi antara ion-ion berukuran sebanding. Disosiasi gugus hidroksil yang terbuka. Keberadaan gugus OH pada tepi Kristal dapat juga mengakibatkan muatan negative khususnya pada ph tinggi. Hydrogen dari hidroksil (OH-) terurai sedikit dari permuakaan lempung menjadi bermuatan negative dari oksigen. Muatan negative tipe ini disebut muatan berubah-ubah atau muatan tergantung ph. Sebaliknya proton(h + )tidak hanya dapat terdisosiasi dari gugus-oh (hidroksil) yang terbuka tetapi dapat juga menyerap atau memperoleh proton, proses ini akan tejadi pada media yang sangat asam (ph rendah) sehingga dapat menghasilkan muatan positif pada permukaan lempung. Reaksi untuk disosiasi proton: MediumAlkalin : -Al-OH+OH - -Al-O - +H2O Mediumasam : -Al-OH+H + -AI-OH + Pada mineral lempung kering, muatan negative pada permukaanakan dinetralkan oleh kationkation lain yang mengelilingi partikel tersebut secara exchangeable cation akibat adanya perbedaan kekuatan muatan dimungkinkan antar kation yang ada disekeliling partikel lempung bisa saling mendesak posisi atau bertukar. Kemanapuan mendesak dari kation- kation dapat dilihat dari besarnya potensi mendesak sesuai urutan berikut: Al 3+ >Ca 2+ >Mg 2+ >NH 4+ >K + >H + >Na + >Li + Kation Li + tidak dapat mendesak kation lain yang berada dikirinya (Tan,1991). 2.1.2 ph tanah ph tanah yang dimaksud adalah banyaknya konsentrasi ion H pada suatu sampel tanah. Menurut Tan (1991) kebanyakan partikel lempung berinteraksi dengan ion H +.telah tersedia banyak bukti bahwa suatu lempung jenuh hydrogen mengalami dekomposisi spontan. Ion hydrogen menerobos lapisan octahedral dan menggantikan atom Al. Alumunium yang dilepaskan kemudian dijerap oleh kompleks lempung dan suatu kompleks lempung Al- Hterbentuk dengan cepat.ion Al + dapat terhidrolisis dan mengahsilkan ion H + sepertit erlihat

pada reaksi berikut ini: Lempung Al + 3H2O Al(OH)3 + H H + Lempung Reaksi tersebut menyumbang pada peningkatan konsentrasi ion H+ dalam tanah.tanah dipisahkankedalam beberapakelas sepertiditunjukkanpada gambar2.1 biasanyatanahmasam dijumpai pada daerah yang memiliki iklim basah dan tanah tersebut konsentrasi ionh + lebihbesardaripadaionoh -.Tanah-tanah inidapat mengandung Al, Fe, dan Mn terlarut dalam jumlah besar. Tanah tanahalkalin biasanya beriklim agak kering hingga kering. Akibat reaksi alakalinnya, tanah tersebut hanya mengandung sedikit Al, Fe, dan Mn terlarut. Gambar 2.1.Kisaran-kisaran ph tanah atau kelas-kelas reaksi tanah..(darin.c.brady,the Nature and Properties of Soi ledisi ke8 macmillan NewYork) Dari gambar diatas ph dikatakan asam jika nilai dibawah 7 dan dikatakan basa jika nilai ph diatas 7. 2.1.3 Sifat umum mineral lempung Air sangat mempengaruhi sifat tanah lempung, karena butiran dari tanah lempung sangat halus, sehingga luas per mukaan spesifikasinya menjadi lebih besar. Dalam suatu partikel

lempung yang ideal, muatan negative dalam keadaan seimbang, terjadi substitusi isomorf dan kontinuitas perpecahan susunannya, sehingga muatan negative pada permukaan partikel Kristal lempung. Salah satu untuk mengimbangi muatan negatif, partikel tanah lempung menarik muatan positif (kation) dari garam yang ada dalam air porinya. Hal ini disebut pertukaran ionion. Molekul air dan partikel lempung akan menimbulkan lekatan yang sangat kuat,karena air akan tertarik secara elektrik dan air akan berada disekitar partikel lempung yang disebut air lapisan ganda, sedangkan air yang berada pada lapisan dalam disebut air resapan.lapisan air inilah yang menimbulkan gaya tarik menarik antar partikel lempung yang disebut unhindered moisture film. Molekul air merupakan molekul dipolar karena atom hydrogen tidak tersusun simetris disekitar atom oksigen, melainkan membentuk sudut ikatan 105 akibatnya molekul-molekul air berperilaku seperti batang-batang kecil yang mempunyai muatan positif di satu sisi dan muatan negative di sisi lain. Sudut dipolar air terlihat pada Gambar 2.2 berikut. Gambar 2.2. Sifat dipolar molekul air ( Das Braja. M, 1985) Interaksiantaramolekul-molekulair dengan partikel lempung dapat melalui tiga proses. Pertama, kutub positif dipolar air akan saling tarik menarik dengan muatan negatif permukaan partikel lempung. Kedua, molekul air diikat oleh partikel lempung melalui ikatan hydrogen (hydrogen air ditarik oksigen atau hidroksil lain yang ada pada permukaan partikel lempung). Proses ketiga, penarikan molekul air oleh muatan negatif permukaan lempung secara berantai melalui kation yang menampung dalam larutan air.faktor paling dominan adalah proses ikatan hydrogen.

Pada Gambar2.3 Hadiyatmo (1992) menunjukkan bahwa molekul air bersifat dipolar, yang berarti memiliki muatan positifd an negative pada ujung yang berlawanan sehingga dapat tertarik oleh permukaan lempung secara elektrik dalam beberapa kasus diantaranya: a. Tarikan antar permukaan negatif dan partikel lempung dengan ujungpositifdipolar. b. Tarikan antar kation-kation dalam lapisan ganda dengan muatan negatif dari ujung dipolar. Kation-kation ini tertarik oleh permukaan partikel lempung yang bermuatan negatif. a. Atom-atom hidrogen dalam molekul air, yaitu ikatan hidrogen antara atom oksigen dalam molekul-molekul air. Gambar 2.3. Molekul air dipolar dalam lapisan ganda (Hardiyanto, 1992) Semakin luas permukaan spesifikt anah lempung, air yang tertarik secara elektrik disekitar partikel lempung yang disebut air lapisan ganda jumlahnya akan semakin besar. Air lapisan ganda inilah yang mengakibatkan sifat plastis tanah lempung. Konsentrasi air resapan dalam mineral lempung memberi bentuk dasar dari susunan tanahnya, tiap partikelnya terikat satu sama lain lewat lapisan air serapannya. Selain itu, jarak antar partikel juga akan mempengaruhi hubungan tarik menarik atau tolak menolak antar partikel tanah lempung yang diakibatkan oleh pengaruh ikatan hidrogen,gaya Van Der Walls serta semacam ikatan kimia organiknya. Bertambahnya jarak akan mengurangi gaya antar partikel. Gaya elektrostatik (gaya tarik menarik antara partikel bermuatan)yangterjadipada permukaan lempung (bermuatan negatif) dengan kation-kation yang berada diantaranya, berpengaruh terhadap penyusutan ketebalan lapisan ganda karena jumlah air yang terhidrasi menjadi berkurang (Tan,1991). Lempung akan bersifat labil bila kation-kation yang berada diantara partikel lempung

yaitu kation-kationyang lemah atau dapat dengan mudah digantikan oleh kation-kation yang lain atau molekul-molekul air yang konsentrasinya tinggi. Kation yang lemah adalah kation-kation yang berasal dari garam-garam mineral yang terdapat dialam misalnya Na +.Sehingga akan dihasilkan gaya elektrostatis yang lemah serta jari-jari antar partikel besar, sehingga akan didapatkan lempung yang mengembang disaat banyak air dan menyusut pada saat air keluar dari lempung dengan perbedaan kembang susut yang besar dapat dilihat pada Garnbar 2.4, sedang kan lempung yang bersifat stabil dapat dilihat pada Gambar 2.5. (Tan,1991). 2.1.4 Mineral lempung Mineral lempung dapat terbentuk dari hasil dekomposisi silikat primer berupa Si-O tetrahedral yang mana satu atom Si 4+ dapat berikatan dengan 4 atom oksigen dan Al-O oktahedral, yaitu satu atom Al 3+ berikatan dengan enam atom oksigen. Pada penggantian Si dengan satu atom Al dalam molekul tetrahedral atau penggantian Al dengan kation yang bervalensi dua, contohnya Fe 2+ dan Mg 2+ dalam molekul oktahedral sering terjadi. Seiring banyak terjadinya penggatian dalam struktrur tetrahedral dan oktahedral serta perbandingan antara jumlah struktur oktahedral dengan tetrahedral merupakan faktor pembeda utama antara mineral-mineral lempung (Evangelou, 1998). Mineral lempung memiliki struktrur yang berlapis, yaitu tersusun oleh lapisan aluminat dan lapisan silikat. Berdasarkan susunan lapisannya mineral lempung dapat dibedakan menjadi dua kelpompok utama, yaitu kelompok kaolinit dapat dilihat pada Gambar 2.1 yang mempunyai lapisan 1:1, dan kelompok smektit dapat dilihat pada Gambar 2.4 memiliki lapisan 2:1. Gambar.2.4 Diagram struktur lapisan kaolinit (Lapendes, 1978)

Gambar.2.5 Diagram struktur lapisan montmorillolit (Lapendes, 1978) Komposisi kimia dari kaolinit yaitu SiO 2 46%, Al 2 O 3 39,5% dan air 14,0%. Warna kaolinit murni umumnya putih, putih kelabu, kekuning-kuningan atau kecoklat-coklatan (Sanchez, 1976). Ukuran partikel bervariasi dengan diameter antara 0,1-1 µm. Nilai kapasitas tukar kation (KTK) berada pada 1-10 meq/100g (Evangelou, 1998). Kaolinit mempunyai muatan negatif yang berubah-ubah, atau tergantung pada ph. Dilihat dari strukturnya, posisi dari gugus-gugus OH membuka kemungkinan untuk disosiasi H +, yang merupakan faktor penyebab terbentunya muatan berubah-ubah, terutama pada gugus hidroksil pada permukaan terbuka dari situs oktahedral. Partikel kaolinit tidak mudah dihancurkan dikarenakan dari kekokohan ikatan stukturnya, hal tersebut yang menjadi penyebab sifat-sifat plastisitas dan daya mengerut dan mengembang yang rendah.luas permukaannya yang sempat membatasi kapasitas jerapan kation.luas permukaan spesifiknya yaitu 7-30 m 2 /g (Tan, 1992). Smektit merupakan nama untuk mineral golongan Na, Ca, Mg, Fe dan litium alumina silikat. Jenis mineral golongan ini adalah natrium montmorillonit, kalsium montmorillonit, saponit, nontronit, dan hektorit.keistimewaan mineral lempung smektit yaitu kemampunnya yang menyerap dan/atau mengganti bukan hanya kation tapi juga molekul organik polar seperti etilen glikol, amina, dan polialkohol. Smektit memiliki ukuran partikel yang sangat kecil yaitu

0,01-0,1µm yang menyebabkan besarnya luas permukaan bahan, hal tersebut yang menyebabkan smektit memiliki kemampuan yang tinggi sebagai adsorben dan jika dicampur dengan air akan menghasilkan daya ikat yang kuat. Kapasitas tukar kation (KTK) yaitu 60-100 meq/100 g lempung dan warnanya pada umumnya putih, kecoklatan, hijau kecoklatan atau hijau kebiruan (Evangelou, 1998).Batuan golongan smektit paling banyak ditemukan yaitu bentonit (Murray, 1991). Mineral ini memiliki susunan kimia dengan rumus Al 2 O 3.4SiO 2.xH 2 O yang terdiri dari 85% mineral montmorillonit dengan kation Na +, Ca 2+, dan K + yang mudah dipertukarkan. Diliahat dari penampakan luar, dalam keadaan basah bentonit berwarna abu-abu kehijauan dan putih kekuningan dalam keadaan kering. 2.1.5 Aktivasi asam pada lempung Kapasitas adsorpsi dapat ditingkatkan dengan dua cara yaitu pemanasan dan kontak asam. Pada proses pemanasan lempung dipanaskan pada temperatur 300-350 0 C untuk memperluas permukaan butiran (Zulkarnaen,Wardoyo, S., dan Marmer, D. H 1990). Sedangkan dengan cara kontak asam mempunyai tujuan untuk menukar ion-ion K +, Na +, Ca 2+ pada lempung dengan ion H + dalam ruang antar lapis dan melepas ion Al 3+, Fe 3+, Mg 2+ dan pengotor lainnya dari kisi-kisi struktur sehingga secara fisik lempung lebih aktif. Secara umum jenis asam yang digunakan adalah asam sulfat (Suhala, S. dan Arifin, M.,1997). Melalui aktivasi kapasitas adsorpsi lempung mengalami peningkatan.lempung mempunyai struktur bertingkat dan kapsitas pertukaran ion yang aktif pada bagian dasar. Oleh karena itu strukturnya dapat diganti seperti struktur bagian dasar dengan cara penambahan asam yaitu asam sulfat. Pengaruh valensi kation sangat dominan terhadap memudahkan pertukaran ion dari permukaan yang bermuatan.semakin tinggi valensi kation, maka semakin tinggi pula kapasitas penggantian kationnya. Untuk ion-ion yang memiliki valensi yang sama, maka yang memiliki kapsitas penggantian ion lebih tinggi adalah ion yang mempunyai ukuran yang lebih besar. Ion yang monovalen seperti H + dapat menggantikan ion yang memiliki valensi yang lebih tinggi. Konsentrasi ion H + yang tinggi pada lempung mengakibatkan pecahnya situs lempung dan menembus lapisan oktahedral, sehingga melepaskan spesies Al 3+, Fe 3+, dan Mg 2+ (Kumar,1995). Proses pelepasan aluminium dari lempung dapat ditulis dengan reaksi sebagai berikut ini :

(Al 4 )(Si 8 )O 20 (OH) 4 + 3 H + (Al 4 )(Si 8 )O 20 (OH) 4 + 6 H + (Al 3 )(Si 8 )O 20 (OH) 2 + Al 3+ +2 H 2 O (Al 2 )(Si 8 )O 20 + 2 Al 3+ + 4 H 2 O Aktivasi dengan asam sulfat telah dilakukan pada penelitian Kumar dkk.(1995), yang menyatakan bahwa lempung dengan diaktivasi H 2 SO 4 4 N dapat meningkatkan porositas, keasaman permukaan terjadi karena lempung dapat mengalami perubahan struktur montmorillonit sehingga memiliki sifat yang lebih efektif sebagai pendukung katalis. Perubahan struktur terjadi pada luas permukaan dan mempunyai keasaman permukaan yang maksimal. Asam sulfat (H 2 SO 4 ) adalah asam yang mempunyai valensi dua, hal tersebut dikarenakan dapat melepas dua ion H + untuk ditukarkan.asam sulfat dikenal sebagai oksidator pada suhu tinggi yang dapat melarutkan senyawa-senyawa organik.kemampuan asam sulfat dalam melarutkan senyawa yang ada di dalam tanah dapat dilihat dari nilai hilang berat tanah selama perlakuan, seperti pada Tabel 2.1. Tabel 2.1. Persentase berat tanah yang hilang akibat perlakuan dengan H 2 SO 4 (Alim, 2001) H 2 SO 4 M % Berat yang hilang 3 37,7 6 43,1 12 39,8 15 42,3 18 41,7 Tabel 2.1 di atas menunjukkan bahwa asam sulfat pada luas 3-18 M dapat memberikan kencenderungan yang kosntan terhadap berat tanah yang hilang. Artinya, pada konsentrasi tersebut kemampuan asam untuk melarutkan komponen tanah telah maksimal.

2.2 Adsorpsi Adsopsi merupakan suatu proses terjadinya peristiwa penyerapan suatu zat pada permukaan atau antar fasa, dimana molekul dari suatu materi terkumpul pada bahan pengadsorpsi.materi atau partikel yang diadsorpsi disebut adsorbat, sedangkan bahan yang berfungsi sebagai pengadsorpsi disebut adsorben. Adsorpsi terjadi karena adanya interaksi gaya permukaan padatan dengan molekul - molekul adsorbat. Energi adsorpsi yang dihasilkan bergantung pada tipe adsorpsi yang terjadi (Gregg S.J, 1982). Adsorpsi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu adsorpsi fisika disebabkan oleh gaya Van Der Waals (penyebab terjadinya kondensasi gas untuk membentuk cairan yang ada pada permukaan adsorbens) dan adsorpsi kimia terjadi reaksi antara zat yang diserap dengan adsorben, banyaknya zat yang teradsorbsi tergantung pada sifat khas zat padatnya yang merupakan fungsi tekanan dan suhu(atkins, 1997). 2.3 Studi Pustaka dan Hasil yang Sudah Dicapai Keberhasilan penggunaan lempung sebagai bahan penyerap logam dan senyawa organik mendorong perkembangan penelitian penggunaan lempung untuk menyerap limbah organik. Dalam hal ini termasuk pengembangan modifikasi lempung sehingga selektif sebagai penyerap senyawa organik. Beberapa jenis surfaktan yang sering digunakan oleh para peneliti adalah ammonium kwartener seperti cetylpyridinium chloride, dodecylpyridium chlorideride, tetramethylammmonium tribomide dan benzalconium cloride(lemke dkk., 1998). Surfaktan jenis ammonium klorida sering dipakai untuk interkalsi karena menghasilkan nano ruang dua dimensi pada antar lapis lempung. Nanoruang dua dimensi ini terjadi melalui interaksi antara ion organoammonium dengan ruang antar lapis lempungdalam lapis silikat sehingga menyebabkan terbukanya ruang pada antar lapis lempung sampai pada ukuran nano (Gambar 2.6). Pertukaran antara kation antar lapis dengan ion organoammonium ini menghasilkan perubahan sifat permukaan pada kisi-lapis lempung Ogawa dan Kuroda, 1997).

Interkalan Interkalat Material terinterkalasi Gambar 2.6 Mekanisme interkalasi Interkalasi merupakan suatu proses penyisipan spesies kimia secara reversibel ke dalam antarlapis suatu struktur yang mudah mengembang (antarlapis silikat montmorillonit) tanpa merusak strukturnya. Spesies kimia yang disisipkan disebut dengan interkalat, sedangkan material tempat interkalat disisipkan disebut interkalan. Spesies kimia yang umumnya digunakan adalah ion alkilamonium, kation amina bisiklis dan beberapa logam kompleks (Bruce, 1992). Pada penelitian ini yang dipilih sebagai interkalat adalah surfaktan kationik yaitu benzalkonium klorida (BKC), dengan rumus molekul C 9 H 13 ClNR, dimana R berupa alkil C 8 H 17 sampai C 18 H 37. Surfaktan BKC termasuk golongan amonium klorida. Surfaktan jenis amonium klorida sering dipakai untuk interkalasi karena menghasilkan nanoruang dua dimensi pada antarlapis lempung. Nanoruang dua dimensi ini terjadi melalui interaksi antara ion organoamonium dengan ruang antarlapis lempung dalam lapis silikat sehingga menyebabkan terbukanya ruang antarlapis yang menghasilkan perubahan pada kisi lapis lempung (Susianah, 2005). 2.4 Studi Pendahuluan yang Sudah Dilaksanakan Studi pendahuluan yang sudah dilakukan adalah (1) Preparasi lempung terpilar besi oksida yang berpotensi untuk menyerap senyawa pengotor pada minyak cengkeh (Suarya, 2005), (2)Aktivasi lempung oleh asam sulfat yang berpotensi sebagai penyerap senyawa pengotor pada minyak cengkeh (Suarya, 2007), Sintesis lempung teraktivasi asam terpilar aluminium oksida

dan pemanfaatannya sebagai penjernih minyak cengkeh (Suarya, 2008). Preparasi lempung teraktivasi asam dan terpilar besi oksida untuk meningkatkan kadar etanol melalui proses destilasi adsorpsi (Suarya, 2014)

BAB III TUJUAN MANFAAT PENELITIAN 3.1 Tujuan Penelitian 1. Mengetahui sifat fisiko-kimia (luas permukaan, dan keasaman permukaan) dari lempung montmorillonit teraktivasi asam sulfat 2 M terinterkalasi BKC 3 %. 2. Mengetahui pengaruh interkalasi BKC ke dalam lempung montmorillonit teraktivasi asam sulfat 2 M terhadap kapasitas adsorpsinya pada limbah deterjen 3.2 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah mengenai pengaruh interkalasi BKC 3 % ke dalam lempung montmorillonit teraktivasi asam sulfat 2 M terhadap sifat fisiko-kimia dari lempung tersebut dan memanfaatkannya sebagai adsorben untuk menurunkan kadar limbah deterjen.

BAB IV METODE PENELITIAN 3.1 Bahan dan Alat Bahan yang digunakan Benzalkonium klorida (BKC) 50 % produksi PT Brataco, AgNO 3 (p.a), NaOH (p.a), H 2 SO 4 (p.a), HNO 3 (p.a), Lempung bentonit dari PT. Brataco, Deterjen, Metilen biru kolrida (p.a). Peralatan yang digunakan Peralatan yang digunakan adalah peralatan gelas yang biasa digunakan di laboratorium. Sedangkan untuk karakterisasi digunakan spektrofotometer infra merah (IR), Difraksi Sinar X (XRD), Spektrofotometer Ultraviolet (UV Vis), Gas Sorption Analyzer, Penggerus Porselin, Ayakan 80 dan 200 mesh, Seperangkat alat gelas, Hot plate dan magnetic stirrer, Termometer, Piala Teflon, ph meter, Oven, Furnace / tungku kalsinasi dan Desikator. Cara kerja Preparasi lempung teraktivasi asam sulfat dan terinterkalasi surfaktan benzalkonium klorida dilakukan dengan dua tahap yakni ; (1) lempung diaktivasi dengan asam sulfat konsentrasi 1,2 M selanjutnya dicuci sampai bebas ion sulfat, (2) interkalasi surfaktan BKC kedalam antarlapis lempung dengan perlakuan kajian variasi konsentrasi BKC (1; 3 dan 5 %). Hasil preparasi ini selanjutnya dikarakterisasi luas permukaan, keasamaman permukaan, basal spacing dan gugus fungsi berturut-turut menggunakan Gas Sorption Analyzer, titrasi, Difraksi Sinar X dan spektrofotometer inframerah.

3.2 Uji Kapasitas Adsorpsi Lempung Hasil Preparasi Terhadap Limbah Deterjen Uji kapasitas adsorpsi lempung hasil preparasi terhadap limbah deterjen dilakukan dengan mengukur kajian variasi waktu adsorpsi, kajian variasi volume limbah terhadap adsorben dan kajian pengaruh perlakuan lempung hasil preparasi terhadap kemampuan adsorsinya. Kajian variasi waktu adsorpsi dilakukan dengan memvariasi waktu kontak adasorpsi yakni; 5; 15; 30; 45 dan 1 jam.waktu kontak optimum digunakan untuk langkah penelitian berikutnya.kajian variasi volume dilakukan dilakukan dengan memvariasi volume limbah deterjen terhadap berat adsorben (10, 20, 30, 40 dan 50 ml limbah terhadap 1 gram lempung).sedangkan kajian pengaruh perlakuan lempung hasil preparasi terhadap kemampuan adsorpsinya dilakukan dengan menginteraksikan limbah deterjen pada masing-masing adsorben hasil preparasi. Luaran Penelitian Luaran dari peneltian ini adalah 1. Penerapan IPTEK dalam penanganan masalah pencemaran lingkungan khususnya limbah deterjen melalui proses adsorpsi dengan lempung hasil modifikasi 2. Publikasi hasil penelitian pada jurnal nasional 3. Pengkajian hasil modifikasi material dalam penerapan masalah lingkungan sehingga dapat terus dipelajari pengananan masalah lingkungan dengan menerapkan metode yang dipelajari.

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Karakterisasi lempung 5.1.1 Luas permukaan adsorben Luas permukaan adsorben merupakan karakter fisik yang sangat penting dalam proses adsorpsi, karena luas permukaan mempengaruhi banyaknya adsorbat yang teradsorpsi dan juga tergantung pada situs aktif. Menurut Perrich, (1981) menyatakan bahwa semakin luas permukaan adsorben, semakin banyak adsorbat yang dapat terserap, sehingga proses adsorpsi dapat berjalan semakin efektif dan semakin kecil ukuran partikel maka semakin luas permukaan adsorben. Pada penelitian ini, luas permukaan ditentukan dengan metode metilen biru. Panjang gelombang maksimum metilen biru yang digunakan yaitu 684 nm. Banyaknya molekul metilen biru yang dapat diadsorpsi sebanding dengan luas permukaan adsorben Hasil pengukuran luas permukaan adsorben lempung montmorillonit tanpa dimodifikasi (A0), lempung teraktivasi H 2 SO 4 2 m M (AA), dan lempung teraktivasi H 2 SO 4 2 M terinterkalasi BKC 3 %(AAB) disajikan dalam Lampiran 3 dan dirangkum dalam Tabel 5.1 Tabel 5.1. Nilai Luas Permukaan Adsorben Adsorben S (m 2 /g) A0 18,3677 AA 18,4878 AAB 18,4881 keterangan : S = luas permukaan adsorben

Penentuan luas permukaan adsorben menggunakan metode metilen biru berdasarkan penentuan kapasitas adsorben yang menunjukkan banyaknya molekul metilen biru yang dapat diadsorpsi pada permukaan adsorben. Berdasarkan data pada Tabel 5.1, menunjukkan bahwa adsorben AA dan AAB memiliki luas permukaan relatif lebih tinggi dibandingkan lempung tanpa dimodifikasi A0. Hal ini disebabkan oleh adanya aktivasi lempung dengan asam dan menginterkalasinya dengan surfaktan BKC menjadikan pori pada lempung lebih terbuka, sehingga dapat menyerap molekul metilen biru lebih banyak dibandingkan A0. Peningkatan luas permukaan pada lempung teraktivasi asam dikarenakan adanya protonasi gugus OH menjadi OH2 + yang disertai terikatnya kation H +. Adanya jumlah H + yang semakin banyak dengan penambahan asam sulfat dapat mendesak (Ca, Mg, Fe, K, dan Na) yang menempati ronggarongga pada lapisan alumina silikat. Daisamping itu fungsi penambahan asam sulfat dapat melepaskan ion Al, Fe, dan Mg dan pengotor-pengotor lainnya dari kisi-kisi struktur. 5.1.2 Keasaman permukaan adsorben Penentuan jumlah keasaman total adsorben bertujuan untuk mengetahui jumlah mmol situs asam yang terikat pada adsorben tiap gramnya. Adsorben lempung A0, AA dan AAB ditentukan keasamaannya dengan metode titrasi asam basa. Berikut ini hasil pengukuran keasaman permukaan adsorben disajikan dalam Lampiran 4 dan dirangkum dalam Tabel 5.2. Tabel 5.2. Nilai Keasaman Permukaan Adsorben Adsorben K al rata-rata (mmol/g) Situs Aktif (10 20 atom/g) A0 0,6613 ± 0,0074 3,9823 AA 1,8179 ± 0,0227 10,947 AAB 1,8798± 0,0197 11,320 (keterangan : Kal, keasaman permukaan adsorben

Dari Tabel 5.2 menunjukkan terjadinya peningkatan keasaman permukaan pada adsorben lempung termodifikasi (AA dan AAB), jika dibandingkan dengan adsorben lempung tanpa dimodifikasi (A0). Keasaman permukaan adsorben terus meningkat sampai pada lempung teraktivasi H 2 SO 4 2 M terinterkalasi 3% BKC (AAB> AA> A0. Terlihat pada tabel bahwa lempung yang diaktivasi H 2 SO 4 2 M terinterkalasi BKC 3% (AAB) mempunyai keasaman permukaan yang tertinggi, 1,8798 ± 0,0197 mmol/g, sedangkan keasaman permukaan yang terendah dimiliki oleh lempung tanpa dimodifikasi (A0) sebesar 0,6613 ± 0,0074 mmol/g. Peningkatan keasaman permukaan yang terjadi pada adsorben tersebut disebabkan oleh pengaktifan lempung dengan asam sulfat. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Leonard dalam Simpen (2001), bahwa pengolahan lempung montmorillonit dengan asam-asam mineral (asam sulfat) dapat meningkatkan keasaman lempung, karena telah terjadi substitusi tetrahedral dan oktahedral akibat protonasi pada ikatan Si-O-Si dan Al-O-Al (ditunjukkan pada Gambar 5.1 dan 5.2). Selain itu, diduga lempung juga mendapatkan sumbangan situs aktif dari surfaktan kationik yang telah diinterkalasikan ke dalam antarlapis lempung, sehingga keasaman lempung menjadi bertambah. Anderson dan Boudart dalam Simpen (2001), menyatakan lempung montmorillonit dapat menunjukkan karakter keasaman baik asam BrØnsted maupun asam Lewis. Situs asam BrØnsted terbentuk karena adanya kation H + (dari aktivasi dengan asam sulfat) yang berfungsi menyeimbangkan muatan negatif pada lempung montmorillonit. Sedangkan adanya N + yang berasal dari BKC yang diinterkalasikan akan membentuk situs asam Lewis yang berfungsi sebagai akseptor elektron.

Gambar 5.1. Substitusi Tetrahedral (Leonard dalam Simpen, 2001) Gambar 5.2. Substitusi Oktahedral (Leonard dalam Simpen, 2001) 5.2 Uji Daya Serap Lempung Terhadap Limbah Deterjen 5.2.1 Penetuan waktu kontak optimum Salah satu variabel yang mempengaruhi proses penyerapan adalah waktu kontak antara adsorben dengan adsorbat. Penentuan waktu kontak optimum dilakukan pada konsentrasi 50 ppm dengan memvariasikan waktu kontak yaitu 0, 15, 30, 45 dan 60 menit.

Gambar 5.3. Kurva pengaruh waktu kontak terhadap adsorpsi deterjen dengan jumlah deterjen yang terserap. Berdasarkan Gambar 5.3 dapat dijelaskan, pada awal adsorpsi (yakni t = 15 menit) lempung alam (A0) mempunyai kemampuan mengadsorpsi limbah deterjen paling tinggi bila dibanding dengan lempung teraktivasi asam (AA) dan lempung teraktivasi asam terinterkalasi BKC yakn sebesar 4,8817 mg/g. Dengan pertambahan waktu yakni 30, 45 dan 60 menit, dapat diamati bahwa lempung alam mengalami penurunan dalam mengikat limbah deterjen. Hal ini mengindikasikan bahwa lempung alam pada t = 15 menit sudah mengalami kejenuhan untuk mengikat limbah deterjen, sehingga dengan pertambahan waktu adsorspsi akan berakibat terjadinya pelepasan ikatan antara deterjen dengan lempung. Hal yang berbeda ditunjukkan oleh lempung yang sudah dimodifikasi yakni dengan bertambahnya waktu adsorpsi menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah deterjen yang terikat oleh lempung. Pada lempung AA, pertambahan waktu adsorpsi hingga 60 menit mengakibatkan jumlah deterjen yang teradsorpsi melebihi dari adsorpsi oleh lempung A0 yakni sebesar 4,9181 mg/g. Fenomena yang sama ditunjukkan oleh lempung AAB, yang mana lempung ini

mempunyai kemampuan mengikat deterjen paling tinggi yakni sebesar 4,9977 mg/g pada t= 60 menit. Hubungan antara jumlah situs aktif yang dimiliki oleh masing-masing adsorben sangat berkaitan dengan kemampuan daya adsorpsinya. Lempung AAB mempunyai situs aktif paling besar yakni 11,320 10 20 atom/g mempunyai kemampuan menyerap deterjen paling tinggi, selanjutnya diikuti oleh lempung AA dan A0. Satu hal penting yang bisa dipelajari dari penentuan waktu optimum ini adalah semakin besar situs aktif maka waktu kontak optimum yang terjadi akan semakin lama. Hasil ini cukup relevan dengan hasil penelitian (Auliah A, 2009) menyatakan bahwa adsorpsi fosfat dengan lempung diaktivasi secara fisika menghasilkan waktu kontak optimum yaitu 8 jam. 5.2.2 Penentuan kapasitas Adsorpsi Penentuan kapasitas adsorpsi dilakukan dengan cara mengontakkan lempung aktif dengan larutan deterjen dengan memvariasi konsentrasi yaitu 10, 25, 50, 75 dan 100 ppm. Hasil absorbansi filtrat fosfat dimasukkan kedalam persamaan regresi kurva standar larutan deterjen sehingga diperoleh konsentrasi akhir dari deterjen setelah berinteraksi dengan lempung aktif. Data pengaruh konsentrasi deterjen terhadap banyaknya deterjen yang teradsorpsi tiap gram lempung aktif (x/m) ditunjukkan Gambar 5.4.

Jumlah deterjen yang terserap( mg/g lempung) 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 AAB10 AAB25 AAB50 AAB75 AAB100 Jumlah deterjen yang terserap( mg/g lemppung) Gambar 5.4 kurva variasi konsentrasi deterjen terhadap kapasitas adsorpsi Dari Gambar 5.4 dapat dilihat bahwa pada konsentrasi 10 ppm sampai 50 ppm terjadi kenaikan adsorpsi. Hal ini dikarenakan semakin besar konsentrasi larutan deterjen maka semakin banyak partikel-partikel lempung yang bertumbukan dan berinteraksi dengan deterjen, sehingga kemampuan adsorpsinya meningkat. Konsentrasi deterjen optimum terjadi pada konsentrasi 50 ppm dengan kapasitas adsorpsi sebesar 5,284 mg/g. sedangkan pada konsentrasi diatas 75 ppm terjadi penurunan kemampuan adsorpsi. Hal ini dikarenakan lapisan lempung aktif telah jenuh/penuh dengan deterjen, sehingga ada deterjen yang tidak terserap oleh lempung aktif. Hal ini berbeda yang hasilkan pada penelitian (Auliah Amry, 2009) menyatakan bahwa konsentrasi optimum deterjen sebesar 20 ppm, konsentrasi deterjen yang teradsorpsi pada lempung yang diaktivasi secara fisika pada suhu 350 0 C ditentukan dengan metode asam askorbat. Prinsip pada metode ini adalah senyawa deterjen direaksikan dengan ammonium molibdat dengan kalium antimol tartat dalam suasana asam. asam fosfomolibdat yang dihasilkan kemudian direduksi dengan asam askorbat menjadi kompleks molibdenium yang berwarna biru. Intensitas warna biru dari senyawa molibdenium ini sebanding dengan konsentrasi deterjen yang tidak teradorpsi.

.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Kesimpulan sementara yang bisa ditarik dari penelitian yang telah dilakukan adalah: 1. Karakter lempung terbaik bila dilihat dari luas permukaan dan keasaman permukaannya adalah lempung yang diaktivasi dengan asam sulfat 2 M dan diinterkalasi dengan BKC 3%. 2. Kondisi optimum daya adsorpsi lempung alam (A0) dalam mengadsorpsi limbah deterjen didapatkan pada waktu kontak 15 menit, sedangkan lempung yang sudah dimodifikasi (AA dan AAB) sampai dengan penambahn waktu 60 menit masih terjadi peningkatan penyerapan limbah deterjen. 3. Kapasitas adsorpsi lempung terhadap larutan deterjen sebesar 5,284 mg/g 7.2 Saran Pada penelitian ini perlu dipelajari pengaruh waktu adsorpsi yang lebih lama, karena interaksi antara adsorben dan adsorben sangat ditentukan oleh waktu.

DAFTAR PUSTAKA 1. Bruce, D.W., and O Hare, D., 1992, Inorganics Materials, John Wiley & Sons Ltd, New York 2. Harlim Tjodi, 2003, Kajian Umum Limbah cair Rumah Tangga dan Industri, Jurusan Kimia F.MIPA dan Lembaga Penelitian Universitas Hasanudin, Makasar 3. Lemke, S.L, 1998, Adsorption of Zearolenone by organophilic montmorillonite Clay, J. Agric Food Chem., 46, 3789-3796 4. Masel, R.I., 1996, Principle of Adsorption and Reaction on Solid Surface, edisi ke-1, John Wiley & Sons, Inc., Canada, 118 113, 235 230 5. McCabe, R., 1996, Clay Chemistry, edisi kedua, John Wiley& Sons, Inc., Oxford, 314-325. 6. Ogawa,M and Koruda, K., 1998, Preparation of inorganic nanocomposites Through Intercalation of Organoammonium Ion Into Layered silicates,bull. Chem. Soc. Jpn.., 70, 2593-2618 7. Susianah, T., 2005, Interkalasi Surfaktan Kationik ke dalam Struktur Antarlapis Lempung Bentonit dan Pemanfaatannya sebagai Adsorben Pengotor Minyak Daun Cengkeh, Tesis S-2, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. 8. Suarya, P. 2005.Preparasi Lempung Terpilar Besi Oksida dan Pemanfaatnnya sebagai Penyerap Pengotor Minyak Daun Cengkeh, Tesis, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta 9. Suarya, P. 2007. Adsorpsi Pengotor Minyak Daun Cengkeh oleh Lempung Teraktivasi Asam, Hasil Penelitian, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana, Jimbaran 10. Suarya, P. 2008.Preparasi Lempung Teraktivasi Asam Sulfat Terpilar Aluminium Oksida dan Pemanfaatnnya sebagai Penyerap Pengotor Minyak Daun Cengkeh, Hasil Penelitian, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana, Jimbaran 11. Wijaya, K., Mudasir, Tahir, I., dan Asean, F., 2003, Inklusi Senyawa p-nitroanilin ke dalam Pori-pori Montmorillonit Terpilar TiO 2, Review Kimia, 6(2), hal. 84-94. 12. Zainudin, M., 1999, Metode penelitian, Universitas Airlangga, Surabaya

Lampiran 1. Pembuatan Larutan 1. Pembuatan Larutan H 2 SO 4 2 M Untuk membuat 1000 ml H 2 SO 4 2 M, diambil sebanyak 111,04 ml H 2 SO 4 pekat dan diencerkan dengan akuades pada labu ukur 1000 ml sampai tanda batas. Cara perhitungannya adalah sebagai berikut : H 2 SO 4 yang tersedia adalah 96 % (v/v); 1L = 1,84 kg; BM = 98,08 g/mol [H 2 SO 4 ] = = 18,0098 M V 1.M 1 = V 2.M 2 V 1.18,0098 = 1000 ml. 2M V 1 = 111,04 ml 2. Pembuatan Larutan HCl 0,1 M Untuk membuat 1000 ml HCl0,1 M, diambil sebanyak 8,3 ml HClpekat dan diencerkan dengan akuades pada labu ukur 1000 ml sampai tanda batas. Cara perhitungannya adalah sebagai berikut : HClyang tersedia adalah 37 % (v/v); 1L = 1 = 36,5 g/mol [HCl] = = 11,96 M V 1.M 1 = V 2.M 2 V 1.11,96 = 1000 ml. 0,1M V 1 = 8,36 ml 3. Pembuatan Larutan BaCl 2.2H 2 O 0,25 M Untuk membuat 100 ml BaCl 2.2H 2 O 0,25 M, ditimbang dengan teliti 6,0750 g BaCl 2.2H 2 O, kemudian dilarutkan dengan 20 ml akuades dan diencerkan dalam labu ukur 100 ml sampai tanda batas. Cara perhitungannya adalah sebagai berikut : M BaCl 2.2H 2 O = Berat BaCl 2.2H 2 O = 0,25 M x 243 g/mol x Berat BaCl 2.2H 2 O = 6,0750 g 4. Pembuatan Larutan H 2 C 2 O 4

Untuk membuat 100 ml H 2 C 2 O 4 0,025 M, ditimbang dengan teliti 0,225 g H 2 C 2 O 4, kemudian diencerkan dalam labu ukur 100 ml sampai tanda batas. Cara perhitungannya adalah sebagai berikut : M H 2 C 2 O 4 = Berat H 2 C 2 O 4 = 0,025 M x 90 g/mol x Berat H 2 C 2 O 4 = 0,225 g 5. Pembuatan Larutan Metilen Biru 100 ppm Untuk membuat 1000 ml larutan stok metilen biru 100 ppm, ditimbang dengan teliti 0,1 g metilen biru kemudian diencerkan dengan akuades dalam labu ukur 1000 ml sampai tanda batas. Cara perhitungan sebagai berikut: Metilen biru 100 ppm = x 1000 ml = 100 mg = 0,1 g Larutan metilen biru 50 ppm ppm. V 1. M 1 = V 2. M 2 V 1. 100 ppm = 500 ml. 50 ppm V 1 = 250 ml Dengan cara yang sama dibuat larutan metilen biru 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm, 4 ppm, 50 M 1 V 1 M 2 V 2 100 ppm 1 ml 1 ppm 100 ml 100 ppm 2 ml 2 ppm 100 ml 100 ppm 3 ml 3 ppm 100 ml 100 ppm 4 ml 4 ppm 100 ml

6. Pembuatan Larutan NaOH 0,1 M Untuk membuat 500 ml NaOH 0,1 M, ditimbang dengan teliti 2,0000 g NaOH dan dilarutkan dengan akuades dalam labu ukur 500 ml sampai tanda batas. Cara perhitungannya adalah sebagai berikut: M = x Berat NaOH = 0,1 M x 40 g/mol x Berat NaOH = 2,0000 g Pembuatan larutan NaOH 0, 01 M V 1. M 1 = V 2. M 2 V 1. 0,1 M = 100 ml. 0,01 M V 1 = 10 ml

Lampiran 2. Perhitungan Keasaman Permukaan 2.1 Data Pengamatan a. Standarisasi larutan NaOH [H 2 C 2 O 4 ] = 0,025 mol/l Indikator yang digunakan adalah pp Perubahan yang terjadi adalah dari tidak berwarna menjadi merah muda. Tabel 2.1 Data Standarisasi Larutan NaOH Percobaan Volume H 2 C 2 O 4 (ml) Volume NaOH (ml) 1 25 9,15 2 25 9,20 3 25 9,00 Untuk titrasi I : Volume NaOH = 9,15 ml BM H 2 C 2 O 4 = 126,07 g/mol [H 2 C 2 O 4. 2H 2 O] = 0,025 M Dalam 25 ml = L x 0,0250 mol/l = 6,25 x10-4 mol Reaksi : H 2 C 2 O 4 + 2NaOH Na 2 C 2 O 4 + H 2 O Jumlah mol NaOH = 2 x mol H 2 C 2 O 4 = 2 x 6,25 x10-4 mol = 0,00125 mol = 1,25 mmol [NaOH] = = 0,1366 M

Dengan cara yang sama diperoleh data sebagai berikut : Vol H 2 C 2 O 4 Vol NaOH [NaOH] [NaOH] rata-rata Titrasi (ml) (ml) (M) (M) 1 25 9,15 0,1366 2 25 9,20 0,1359 0,1371 3 25 9,00 0,1388 b. Standarisasi larutan HCl Indikator yang digunakan adalah pp Perubahan warna yang terjadi adalah dari tidak berwarna menjadi merah muda Tabel 2.2 data standarisasi HCl Percobaan Volume HCl (ml) Volume NaOH (ml) 1 25 27,10 2 25 26,90 3 25 27,00 Untuk titrasi I : Vol NaOH = 27,10 ml Vol HCl = 25 ml [NaOH] = 0,1371 M [HCl] Vol NaOH x [NaOH] = Vol HCl x [HCl] 27,10 ml x 0,1371 M = 25 ml x [HCl]

[HCl] = 0,1486 M Dengan cara yang sama maka didapatkan data sebagai berikut: Vol HCl Vol NaOH [HCl] [HCl] rata-rata Titrasi (ml) (ml) (M) (M) 1 25 27,10 0,1486 2 25 26,90 0,1475 0,1481 3 25 27,00 0,1481 c. Penentuan keasaman adsorben Data Pengamatan Blanko : Volume NaOH 0,1 M = 25 ml Indikator yang digunakan adalah pp Volume HCl 0,1 M yang digunakan = 26,70 ml 1. Lempung Ao Indikator yang digunakan adalah pp Perubahan warna yang terjadi adalah dari merah muda menjadi warna larutan lempung coklat kekuningan Tabel 2.3 Lempung Ao Perbobaan Massa sampel (g) Volume HCl (ml) 1 1 22,30 2 1 22,20

3 1 22,25 2. Lempung AA Indikator yang digunakan adalah pp Perubahan warna yang terjadi adalah dari merah muda menjadi warna larutan lempung coklat kekuningan Tabel 2.4 Lempung AA Perbobaan Massa sampel (g) Volume HCl (ml) 1 1 14,30 2 1 14,50 3 1 14,60 3. Lempung AAB Indikator yang digunakan adalah pp Perubahan warna yang terjadi adalah dari merah muda menjadi warna larutan lempung coklat kekuningan Tabel 2.5 Lempung AAB Perbobaan Massa sampel (g) Volume HCl (ml) 1 1 14,10 2 1 14,15 3 1 13,90 2.2 Perhitungan

KaL ( ) = Keterangan: V1 = volume HCl titrasi blanko (ml) V2 = volume HCl titrasi Adsorben (ml) B = Berat Adsorben (g) Lempung Ao 1. KaL ( ) = = 0,6538 2. KaL ( ) = = 0,5687 3. KaL ( ) = = 0,6513 Rata-rata : Rata-rata KaL ( ) = = =0,6246 mmol/gram Kode Dengan cara yang sama diperoleh data sebagai berikut: Pengulangan V 1 V 2 KaL (ml) (ml) ( ) KaL Rata-rata ( ) 1 22,30 0,6538 Ao 2 26,70 22,20 0,6687 3 22,25 0,6613 0,6613 1 14,30 1,8426 AA 2 26,70 14,50 1,8129 3 14,60 1,7981 1,8179 AAB 1 26,70 14,10 1,8724 1,8798

2 14,15 1,8649 3 13,90 1,9021 Standar deviasi untuk keasaman permukaan padas BA KaL rata-rata Titrasi KaL (x) (x- ) (x- ) 2 SD ( ) 1 0,6538-0,0075 0,00005625 2 0,6687 0,6613 0,0074 0,00005476 0,0297 3 0,6613 0 0 =0,000111 SD = = = = = 0,0074 Jadi nilai keasaman permukaan total adsorben padas BA adalah 0,6613±0,0074 mmol/gram. Jumlah situs aktif = KaL x bilangan avogadro = 0,6613 mmol/gram x 10-3 mol/ gram x 6,022.10 23 mol -1 = 3,9823 x 10 20 atom/gram Dengan cara yang sama diperoleh data sebagai berikut: KaL KaL Nilai Keasaman Kode Ulangan Rata-rata SD ( ) (mmol/gram) ( ) Jumlah situs aktif (atom/gram) Ao 1 0,6538 0,6613 0,0074 0,6613±0,0074 3,9823 x 10 20

2 0,6687 3 0,6613 AA 1 1,8426 2 1,8129 3 1,7981 1,8179 0,0227 1,8179±0,0227 10,947 x 10 20 AAB 1 1,8724 2 1,8649 3 1,9021 1,8798 0,0197 1,8798±0,0197 11,320 x 10 20

Lampiran 3. Perhitungan Luas Permukaan 3.1 Data hasil pengukuran absorbansi larutan standar metilen biru 3 ppm Grafik panjang gelombang maksimum diperoleh dari pengukuran larutan metilen biru 3 ppm. Panjang gelombang maksimum adalah 664,25 nm dimana panjang gelombang ini digunakan sebagai acuan pengukuran absorbansi larutan standar dan absorbansi filtrat metilen biru pada sampel. (Grafik terlampir) 3.2 Data hasil pengukuran absorbansi larutan standar metilen biru No Konsentrasi (ppm) Absorbansi 1 1 0,1593 2 2 0,3249 3 3 0,5772 4 4 0,7512 5 5 0,9056 Perhitungan koefisien korelasi linier dari larutan standar. Dengan menggunakan persamaan regresi y = bx + a, denga y adalah absorbansi, x adalah konsentrasi larutan yang diukur, b adalah slope, a adalah intersep, dan r adalah koefesien korelasi, dimana:

No X Y X 2 Y 2 XY 1 1 0,1593 1 0,025376 0,1593 2 2 0,3249 4 0,10556 0,6498 3 3 0,5772 9 0,33316 1,7316 4 4 0,7512 16 0,564301 3,0048 5 5 0,9056 25 0,820111 4,528 n=5 15 2,7182 55 1,848509 10,0735 = 0,1919 = -0,0320 = 0,9931 Jadi, persamaan garis regresi metilen biru : y = 0,1919x 0,0320 dengan harga koefisien korelasi 0,9931 Kurva kalibrasi Metilen Biru

3.3 Data hasil absorbansi filtrat metilen biru pada penentuan waktu kontak optimum Lempung tanpa aktivasi (Ao) T (menit) Berat sampel (g) Absorbansi 5 1 0,0013 15 1-0,0125 30 1-0,0092 45 1-0,0194 60 1-0,0171 Lempung teraktivasi H 2 SO 4 2M (AA) T (menit) Berat sampel (g) Absorbansi 5 1-0,0206 15 1-0,0165 30 1-0,0204 45 1-0,0255 60 1-0,0259 Lempung teraktivasi H 2 SO 4 2M dan BKC 3% (AAB) T (menit) Berat sampel (g) Absorbansi 5 1-0,0241 15 1-0,0207 30 1-0,0215

45 1-0,0205 60 1-0,0227 3.4 Penentuan waktu kontak optimum terhadap metilen biru Nilai absorbasni yang diperoleh pada tabel diatas dimasukkan pada persamaan garis regresi y = 0,1919x 0,0320 dalam menghitung konsentrasi metilen biru yang tersisa dalam filtrat. Dimana y = absorbansi, x = konsentrasi filtrat setelah penyerapan. Untuk lempung tanpa aktivasi pada waktu 5 menit dengan y = 0,0013 y = 0,1919x 0,0320 0,0013 = 0,1919x 0,0320 X = 0,1737 ppm Csisa = 0,1737 ppm Dengan cara yang sama didapat data sebagai berikut: Lempung tanpa aktivasi (Ao) T (menit) Absorbansi Csisa (ppm) (x) 5 0,0013 0,1737 15-0,0125 0,1018 30-0,0092 0,1190 45-0,0194 0,0658 60-0,0171 0,0778 Lempung teraktivasi H 2 SO 4 2M (AA) T (menit) Absorbansi Csisa (ppm) (x) 5-0,0206 0,0596

15-0,0165 0,0809 30-0,0204 0,0606 45-0,0255 0,0340 60-0,0259 0,0319 Lempung teraktivasi H 2 SO 4 2M dan BKC 3% (AAB) T (menit) Absorbansi Csisa (ppm) (x) 5-0,0241 0,0413 15-0,0207 0,0590 30-0,0215 0,0549 45-0,0205 0,0601 60-0,0227 0,0486 Dari data tersebut kemudian ditentukan jumlah metilen biru yang diserap dengan menggunakan persamaan Xm = Keterangan : Xm = berat metilen biru yang terserap oleh satu gram sampel (mg/g) B C1 C2 V = berat sampel yang digunakan (g) = konsentrasi larutan metilen biru awal (ppm) = konsentrasi larutan metilen biru akhir (ppm) = volume larutan metilen biru yang digunakan (ml) Untuk lempung tanpa aktivasi pada waktu 5 menit. Diketahui : C1 = 50 ppm ; C2 = 0,1737 ; V = 20 ml ; B = 0,2 gr

Xm = Xm = = 4,9826 Dengan cara yang sama didapat data sebagai berikut: Lempung tanpa aktivasi (Ao) T (menit) Csisa (ppm) (x) Xm (mg/g) 5 0,1737 4,98263 15 0,1018 4,98982 30 0,1190 4,9881 45 0,0658 4,99342 60 0,0778 4,99222 Lempung teraktivasi H 2 SO 4 2M (AA) T (menit) Csisa (ppm) (x) Xm (mg/g) 5 0,0596 4,99404 15 0,0809 4,99191 30 0,0606 4,99394 45 0,0340 4,9966 60 0,0319 4,99681 Lempung teraktivasi H 2 SO 4 2M dan BKC 3% (AAB)

T (menit) Csisa (ppm) (x) Xm (mg/g) 5 0,0413 4,99587 15 0,0590 4,9941 30 0,0549 4,99451 45 0,0601 4,99399 60 0,0486 4,99514 3.5 Data hasil absorbansi filtrat metilen biru pada penentuan luas permukaan spesifik Waktu kontak Kode sampel Berat (g) Absorbansi Xm (mg/g) (menit) Ao 0,2 45 0,0761 4,94367 AA 0,2 60 0,0958 4,93341 AAB 0,2 5 0,0180 4,97395 3.6 Penentuan luas permukaan spesifik lempung Dalam penentuan luas permukaan menggunakan persamaan: Keterangan : S = luas permukaan adsorben ( m 2 /g ) N = bilangan avogadro ( 6, 022.10-2 mol -1 ) Xm = berat adsorbat teradsorpsi ( g/g ) a = luas penutupan oleh 1 molekul metilen biru (197.10-20 m 2 ) Mr = massa molekul relatif metilen biru ( 320,5 g/mol )

Perhitungan untuk sampel tanpa aktivasi (Ao) dengan Xm = 4,94367 Xm = 4,94367 mg/g Xm = 4,94367.10-3 g/g = 18,23827 Dengan cara yang sama didapatkan data luas permukaan spesifik lempung sebagai berikut: Kode Sampel Absorbansi Csisa (ppm) Xm (mg/g) S ( ) Ao 0,0761 0,563314 4,94367 18,23827 AA 0,0958 0,665972 4,93341 18,20042 AAB 0,0180 0,260552 4,97395 18,34998

Lampiran 4. Penentuan waktu optimum adsorbansi detergen 4.1 Pengukuran absorbansi larutan standar detergen Data absorbansi larutan standar detergen. Konsentrasi (ppm) Absorbansi 1 0,114 2 0,251 4 0,528 8 0,813 4.2 Perhitungan koefisien korelasi linier dari larutan standar detergen Berdasarkan data absorbansi larutan standar detergen diatas maka dapat ditentukan persamaan regresi linier larutan standar detergen yaitu: y = bx + a, dimana y = absorbansi, x = konsentrasi, b = slope dan a = intersep serta r = koefisien korelasi linier. No X Y X 2 Y 2 XY 1 1 0,114 1 0,012996 0,114 2 2 0,251 4 0,063001 0,502 3 4 0,528 16 0,278784 2,112 4 8 0,813 64 0,660969 6,504 n=4 15 1,706 85 1,01575 9,232

= 0,09762 = 0,03458 = 0,9971 Jadi, persamaan garis regresi detergen : y = 0,0762x + 0,03458 dengan harga koefisien korelasi 0,9971. Kurva kalibrasi Detergen 4.3 Data hasil absorbansi filtrat detergen pada penentuan waktu kontak optimum Lempung tanpa aktivasi (Ao) T (menit) Berat sampel C sisa Absorbansi (g) (ppm) 15 0,2 0,173 1,183 30 0,2 0,361 0,361 45 0,2 0,180 1,250 60 0,2 0,222 1,917 Lempung teraktivasi H 2 SO 4 2M (AA) Berat sampel T (menit) (g) Absorbansi C sisa (ppm)

15 0,2 0,307 2,792 30 0,2 0,319 2,915 45 0,2 0,572 5,504 60 0,2 0,310 2,819 Lempung teraktivasi H 2 SO 4 2M dan BKC 3% (AAB) Berat sampel T (menit) Absorbansi (g) C sisa (ppm) 15 0,2 0,400 3,746 30 0,2 0,380 3,537 45 0,2 0,339 3,116 60 0,2 0,059 0,023 Dari data tersebut kemudian ditentukan jumlah detergen yang diserap dengan menggunakan persamaan W ads = Keterangan : W ads = berat detergen yang terserap oleh satu gram sampel (mg/g) B C1 C2 V = berat sampel yang digunakan (g) = konsentrasi larutan detergen awal (ppm) = konsentrasi larutan detergen akhir (ppm) = volume larutan detergen yang digunakan (ml) Untuk lempung tanpa aktivasi pada waktu 5 menit. Diketahui : C1 = 50 ppm ; C2 = 1,183 ; V = 20 ml ; B = 0,2 gr

W ads = W ads = = 4,8817(mg/g) Dengan cara yang sama maka didapatkan data sebagai berikut: Lempung tanpa aktivasi (A0) C 1 (ppm) Absorbansi V (ml) B (g) C 2 (ppm) T (menit) W ads (mg/g) 50 0,173 20 0,2 1,183 15 4,8817 50 0,361 20 0,2 0,361 30 4,9639 50 0,180 20 0,2 1,250 45 4,875 50 0,222 20 0,2 1,917 60 4,8083 Lempung teraktivasi H 2 SO 4 2M (AA) C 1 (ppm) Absorbansi V (ml) B (g) C 2 (ppm) T (menit) W ads (mg/g) 50 0,307 20 0,2 2,792 15 4,7208 50 0,319 20 0,2 2,915 30 4,7085 50 0,572 20 0,2 5,504 45 4,4496 50 0,310 20 0,2 2,819 60 4,9181 Lempung teraktivasi H 2 SO 4 2M dan BKC 3% (AAB)

C 1 (ppm) Absorbansi V (ml) B (g) C 2 (ppm) T (menit) W ads (mg/g) 50 0,400 20 0,2 3,746 15 4,6254 50 0,380 20 0,2 3,537 30 4,6463 50 0,339 20 0,2 3,116 45 4,6884 50 0,059 20 0,2 0,023 60 4,9977

LAMPIRAN 5 DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENELITI 1. Ketua Peneliti A. Identitas Diri 1. Nama Lengkap (dengan gelar) Putu Suarya, S.Si., M.Si L/P 2. Jabatan Fungsional Lektor 3. Jabatan Struktural - 4. NIP 19721231199802 1 001 5. NIDN 0031127202 6. Tempat dan Tanggal Lahir Gesing, 31 Desember 1972 7. Alamat Rumah Desa Sibetan kec. Bebandem kab. Karangasem Bali 8. Nomor Telepon/Faks/ HP -/ - / 081337958766 9. Alamat Kantor Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana, Kampus Bukit jimbaran, Kuta, Badung Bali 10. Nomor Telepon/Faks 0361-703137 / 703137 11. Alamat e-mail suaryadala@yahoo.com 12. Lulusan yang Telah Dihasilkan S1 = 10 orang Kimia Anoganik I (di S-1 Kimia) Kimia Anoganik II (di S-1 Kimia

Kimia Anoganik III(di S-1 Kimia) Korosi (di S-1 Kimia) 13. Mata Kuliah yang Diampu Kapita Selekta Kimia Anoraganik (di S-1 Kimia) Kimia Katalis (di S-1 Kimia) Kimia Organologam (di S-1 Kimia) Bioanoraganik (di S-1 Kimia) B. Riwayat Pendidikan S-1 S-2 Nama Perguruan Tinggi Universitas Udayana Universitas Gadjah Mada Bidang Ilmu Kimia Kimia Tahun Masuk Lulus 1990-1995 1998-2001 Judul Skripsi / Thesis / Disertasi Nama Pembimbing/Promotor Pengaruh CaCl2 dan Suhu aktivasi Pada Arang Sekam Padi dan Kemampuan Adsorpsinya pada Metilen Biru Klorida Drs. Made Sweda, M.Sc. Drs I Wayan Wyadnya Preparasi Lempung Terpilar Besi Oksida dan Pemanfaatannya untuk Menjernihkan Minyak daun Cengkeh Dr. Yateman Aryanto Prof. Dr. Sri Juari C. Pengalaman Penelitian Dalam 5 Tahun Terakhir (Bukan Skripsi, Tesis, maupun Disertasi)

No. Tahun Judul Penelitian Pendanaan Sumber* Jml (Juta Rp) 1 2012/2013 Produksi bioetanol berbahan sekam padi dan peningkatan kadar etanol dengan lempung terpilar besi oksida DIKTI Hibah bersaing 50 2. 20010/2011 Modifikasi Silika gel dari Sekam Padi dengan Ligan Difenil Karbason dan Aplikasinya untuk Mengadsorpsi Cr III dan Cr VI DIKTI Hibah Bersaing 50 3. 2009/2010 Sintesis Silika Gel dari Sekam Padi Dosen Muda- Dikti 10 4 2007 Adsorpsi Pengotor Minyak daun Cengkeh Menggunakan Lempung Teraktivasi asam Dosen Muda- Dikti 10 D. Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat Dalam 5 Tahun Terakhir

No. Tahun Judul Pengabdian Kepada Masyarakat Pendanaan Sumber* Jml (Juta Rp) 1 2012/2013 Pembuatan sabun mandi anti bakteri dari daun mimba 4 1. 2009/2010 Bakti Ilmiah Mahasiswa Jurusan Kimia Tahun 2010 di Desa Baha, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung - - 2. 2010/2011 Bakti Ilmiah Mahasiswa Jurusan Kimia Tahun 2011 di Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar - - E. Pengalaman Penulisan Artikel Ilmiah Dalam Jurnal Dalam 5 Tahun Terakhir No. Judul tulisan Tahun Diterbitkan sebagai: *) 01 Optimasi Jenis Pelarut dalam Ekstraksi Zat Warna Alam dari Batang Pisang Kepok (Mussa paradisiacal L. cv kepok) dan Pisang Susu (Mussa paradisiacal L. cv susu) 2011 Artikel pada Jurnal Kimia Vol.5, No.1, Januari 2011 02 Interkalasi Tetra Etil Orto Silikat (TEOS) Pada Lempung Teraktivasi Asam Sulfat dan Pemanfaatannya Sebagai 2010 Artikel pada Jurnal Kimia Vol.4, No.1, Januari 2010

Adsorben Limbah Warna Garmen 03 Interkalasi Benzalkonium Klorida ke dalam Antar Lapis Lempung dan Pemanfaatannya sebagai Penjernih Minyak Daun Cengkeh 2009 Artikel pada Jurnal Kimia Vol.3, No.1, Januari 2009 04 Studi Adsorpsi-desorpsi Logam Timbal dalam Larutan dengan Cangkang Telur 2008 Artikel pada Sigma Jurnal Sain dan Teknologi vol. 11 No 2 Jjuli 2008 05 Biosorption of Cr(III) Ion On Algae Eucheuma spinosum Biomassa 2008 Artikel pada Indonesian Journal of Chemistry Vol. 8, No. 1, March 2008., F. Pengalaman Penyampaian Makalah Secara Oral Pada Pertemuan / Seminar Ilmiah Dalam 5 Tahun Terakhir No. Nama Pertemuan Ilmiah/Seminar Judul Artikel Ilmiah Waktu dan Tempat 1. G. Pengalaman Penulisan Buku dalam 5 Tahun Terakhir No. Judul Buku Tahun Jumlah Halaman Penerbit H. Pengalaman Perolehan HKI Dalam 5 10 Tahun Terakhir

No. Judul / Tema HKI Tahun Jenis Nomor P/ID I. Pengalaman Merumuskan Kebijakan Publik/Rekayasa Sosial Lainnya Dalam 5 Tahun Terakhir No. Judul/Tema/Jenis Rekayasa Sosial Lainnya yang Telah Diterapkan Tahun Tempat Penerapan Respon Masyarakat J. Penghargaan yang Pernah Diraih dalam 10 tahun Terakhir (dari pemerintah, asosiasi atau institusi lainnya) No. Jenis Penghargaan Institusi Pemberi Penghargaan Tahun 1. Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.apabila di kemudian hari ternyata dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima risikonya. Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam pengajuan Hibah Penelitian Fundamental

Denpasar, 10 Febroari 2015 Pengusul, (Putu Suarya, S.Si., M.Si.) NIP 19721231199802 1 001 2.Anggota Peneliti II Nama Pendidikan Golongan / Pangkat : Drs. I Wayan Suirta, M.Si. : S2 Kimia : IVa/Pembina Jabatan Fungsional Akademik: Lektor Kepala

Perguruan Tinggi Alamat : Universitas Udayana : Kampus Bukit Jimbaran Bali Telp/Faks : (0361)701812 ext 255 Fax. (0361) 7895807 Alamat Rumah : Jl Nuansa Hijau Utama XXVI/6 Ubung Denpasar Bali Telp : (0361) 415423 RIWAYAT PENDIDIKAN PERGURUAN TINGGI Tahun lulus Program Pendidikan Perguruan Tinggi Jurusan/Program Studi 1991 S1 Universitas Airlangga Kimia 1998 S2 Universitas Gajah Mada Kimia PELATIHAN PROFESIONAL Tahun Jenis Pelatihan (Dalam/Luar Negeri) Penyelenggara Jangka Waktu 1993 Program Pencangkokan Bidang Kimia di UGM Jurusan Kimia UGM 2 bulan 1995 Program Matrikulasi Ilmu Kimia di UGM Pascasarjana UGM 1 tahun 2004 Program Applied Approach (AA) Universitas Udayana 5 hari 2004 Peserta Workshop Kimia Bahan Alam Universitas Andalas Padang 7 hari PENGALAMAN MENGAJAR Mata Kuliah Program Institusi/Jurusan/Program Sem/Tahun

pendidikan Studi Akademik Kimia Organik I S1 Jurusan Kimia 1993 sekarang Kapita Selekta Kimia Organik Kimia Organik Bahan Alam PraktikumKimia Organik Bahan Alam S1 Jurusan Kimia 1998 sekarang S1 Jurusan Kimia 1998 sekarang S1 Jurusan Kimia 1998 sekarang Praktikum Organik II Kimia S1 Jurusan Kimia 1998 sekarang Sintesis Kimia Organik S1 Jurusan Kimia 1998 sekarang Uji Bioaktifitas S1 Jurusan Kimia 2006 sekarang Kimia Organik I S1 Jurusan Farmasi 2006 sekarang PRODUK BAHAN AJAR Mata Kuliah Program Pendidikan Jenis Bahan Ajar (cetak dan non cetak) Sem/Tahun Akademik Kimia Organik I : Alkana, alkena, alkuna, alcohol, ester, tiol S1 Non cetak Genap/2009/2010 Sintesis Organik Diskoneksi Senyawa Pendekatan S1 Non cetak Ganjil/2009/2010 Penuntun Praktikum Kimia Organik Bahan Alam Penuntun Praktikum Kimia Organik II S1 Non cetak Ganjil/2007/2008 S1 Non cetak Genap/207/2008

PENGALAMAN PENELITIAN Tahun Judul Penelitian Ketua/Anggota Tim Sumber Dana 2001 Isolasi Senyawa Aktif dari Jamur Kayu (Ganoderma applanatum) yang Berpotensi sebagai Agen Antikanker 2004 Isolasi dan Identifikasi Senyawa Antibakteri dari Ekstrak Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L) 2006 Toksisitas Minyak Atsiri (Linalool) dalam Biji Ketumbar (Coriandrum sativum L) 2006 Senyawa Antitumor pada Tanaman Pare (Momordica charantia L.) 2007 Antiradikal Bebas Senyawa Flavonoid pada Ekstrak Metanol Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.) 2007 Senyawa Antibakteri dari Ekstrak Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Val) 2007 Sintesis Biodiesel dari Minyak Jelantah Kelapa Sawit 2009 Studi Reprodusibilitas Pola Puncak kromatogram dan Spektrum UV Puncak-puncak Kromatogram pada Teknik High Performance Thin Layer Chromatography (HPTLC) Spektrofotodensitometri untuk Analisis Karakteristik Kimia Drugs Profiling Narkoba Ketua Ketua Anggota Ketua Anggota Ketua Ketua Anggota DIK DIK DIPA Dosen Muda DIPA DIPA Dosen Muda Penelitian Fundamental KARYA ILMIAH Tahun Judul Penerbit/Jurnal 1998 Sintesis Senyawa Bisiklo [3.2.1] oktana dari Limonen Review Kimia Vol 1.No 1

Hasil Isolasi Minyak Kulit Jeruk Manis, Citrus sinensis 2000 Identifikasi Hasil Destilasi Minyak Pelumas Bekas pada Suhu di Bawah 100 O C Chemical Reviews Vol 3 No2 ISSN : 1410 8321 2001 Reaksi Brominasi Gugus Alil pada Limonen Chemical Reviews Vol 4No 1, ISSN : 1410 8321 2001 Isolasi Senyawa Bioaktif dari Tumbuhan Rumput Mutiara, Hedyotis corymbosa L. Lamk yang Berpotensi sebagai Antitumor 2002 Isolasi, Identifikasi dan Uji Toksisitas Golongan Senyawa aktif pada Kulit Akar Mondokaki, Ervatamiadivaricata L Burk. 2003 Isolasi dan Identifikasi Senyawa Atsiri yang Memiliki Aktifitas Antibakteri pada Daun Tenggulun 2003 Isolasi, Identifikasi dan Uji Toksisitas Golongan Senyawa aktif pada Kulit Batang Mondokaki, Ervatamiadivaricata L Burk. 2004 Isolasi dan Identifikasi Senyawa Golongan Flavonoid dari Daun Mimba, Azadirachta indica A Juss 2007 Isolasi dan Identifikasi Senyawa Aktif Larvasida dari Biji Mimba, Azadirachta indica A.Juss terhadap Larva Nyamuk Demam Berdarah (Aedes aegypti) 2008 Isolasi dan Identifikasi Senyawa yang Berpotensi sebagai Antitumor pada Daging Buah Pare, Momordicacharantia L. Chemical Reviews Vol 4No 3, ISSN : 1410 8321 Chemical Reviews Vol 5No 3, ISSN : 1410 8321 Chemical Reviews Vol 6. No 2, ISSN : 1410-8321 Chemical Reviews Vol 6.No 2, ISSN : 1410 8321 Chemical Reviews Vol 7. No 3, ISSN : 1410 8321 Jurnal Kimia Vol 1 No 2 ISSN 1907 9850 Jurnal Kimia Vol 2 No 1 ISSN 1907 9850 2009 Preparasi Biodiesel dari Minyak Jelantah Kelapa Sawit Jurnal Kimia Vol 3 No 1 ISSN 1907 9850 2010 Sintesis Senyawa orto-fenilazo-2-naftol sebagai Indikator dalam Titrasi Jurnal Kimia Vol 4 No 1 ISSN 1907 9850 PESERTA KONFERENSI/SEMINAR/LOKAKARYA/SIMPOSIUM

Tahun Kegiatan Tempat 2002 Peserta seminar kurikulum kimia FMIPA Unair, Surabaya 2003 Peserta Seminar HAKI Hotel Putri Bali, Nusa Dua 2006 Pembicara Seminar Penyempurnaan Pedoman Akademik 2006 Pembicara Workshop Penyusunan SAP dan GBPP Kurikulum 2005 Jurusan Kimia FMIPA, Unud JurusanKimia FMIPA, Unud 2007 Pemakalah Seminar MIPA Terapan MIPA, Udayana 2007 Peserta Workshop E-Learning Jurusan Kimia FMIPA, Unud 2008 Peserta Seminar Chemical Safety and Security Workshop 2010 Peserta Seminar Quality Chemicals Ensure Equipments Performances Universitas Udayana Hotel Mercure, Surabaya KEGIATAN PROFESIONAL/PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Tahun Kegiatan Tempat 2007 Karakteristik dan Efek Penggunaan Narkoba bagi Generasi Muda untuk Meningkatkan Pengetahuan Ibu-Ibu 2007 Daur Ulang Kaleng Bekas Menjadi Tawas dan Aplikasinya untuk Penjernihan Air 2008 Pelatihan Singkat Cara Membuat Pembasmi Jentik Nyamuk dari Daun Sirih Desa Bongkase, Badung SMA N 1 Abiansemal, Badung Desa Penarukan, Kerambitan, Tabanan 2008 Bakti Sosial Mahasiswa Jurusan Kimia Tahun 2008 Desa Baturiti, Tabanan 2010 Bakti Ilmiah Mahasiswa Desa Tusan, Banjarangakan, Kelungkung 2010 Pembuatan Sabun Mandi Antimikroba Alami dari Desa Tibubiyu, Kerambitan,

Daun dan Minyak Biji Mimba dengan Teknik Formulasi Sederhana Tabanan JABATAN DALAM PENGELOLAAN INSTITUSI Peran/Jabatan Institusi (Univ, Fak, Jurusan, Lab, Studio, Manajemen system Informasi Akademik dll) Tahun s.d. Kepala Laboratorium Kimia Organik Jurusan Kimia Universitas Udayana 2001 2004 ORGANISASI PROFESI/ILMIAH Tahun Jenis/Nama Organisasi Jabatan/jenjang keanggotaan 1998 - sekarang Himpunan Kimia Indonesia (HKI) Anggota