BAB I PENDAHULUAN. Akibat pesatnya pembangunan fisik dan pertambahan penduduk di suatu kota

dokumen-dokumen yang mirip
HIV/AIDS. Intan Silviana Mustikawati, SKM, MPH

Virus tersebut bernama HIV (Human Immunodeficiency Virus).

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang mengakibatkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Data kasus HIV/AIDS mengalami peningkatan dari tahun Menurut

BAB I PENDAHULUAN. kekebalan tubuh yang disebabkan oleh virus HIV (Human. Immunodeficiency Virus) (WHO, 2007) yang ditemukan dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. sosial yang utuh bukan hanya bebas penyakit atau kelemahan dalam segala aspek

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. yang diakibatkan oleh HIV (Human Immunodeficiency Virus). Jalur transmisi

BAB 1 PENDAHULUAN. HIV merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human

BAB I PENDAHULUAN. Immuno Deficiency Syndrom) merupakan masalah kesehatan terbesar di dunia

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) berarti kumpulan gejala dan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. menjalankan kebijakan dan program pembangunan kesehatan perlu

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Angka morbiditas dan angka mortalitas yang disebabkan oleh infeksi Human

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. masalah berkembangnya Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Masalah HIV/AIDS yang

LEMBAR PERSETUJUAN PENGISIAN KUESIONER. kesukarelaan dan bersedia mengisi kuesioner ini dengan sebaik-baiknya.

BAB 1 PENDAHULUAN. Sasaran pembangunan milenium (Millennium Development Goals/MDGs)

KUESIONER PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Sebaliknya dengan yang negatif remaja dengan mudah terbawa ke hal yang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. kekebalan tubuh manusia, sedangkan Acquired Immunodeficiency Syndrom. penularan terjadi melalui hubungan seksual (Noviana, 2013).

Menggunakan alat-alat tradisional yang tidak steril seperti alat tumpul. Makan nanas dan minum sprite secara berlebihan

BAB I PENDAHULUAN. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan

BAB 1 PENDAHULUAN. HIV di Indonesia termasuk yang tercepat di Asia. (2) Meskipun ilmu. namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

A. Landasan Teori. 1. Pengetahuan. a. Definisi BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

SKRIPSI. Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan Masyarakat. Disusun Oleh :

BAB 1 PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah retrovirus yang menginfeksi

2016 GAMBARAN MOTIVASI HIDUP PADA ORANG DENGAN HIV/AIDS DI RUMAH CEMARA GEGER KALONG BANDUNG

I. Identitas Informan No. Responden : Umur : tahun

BAB I PENDAHULUAN. gejala penyakit yang disebabkan oleh virus HIV ( Human Immunodeficiency

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Immunodeficiency Virus (HIV) semakin mengkhawatirkan secara kuantitatif dan

BAB I PENDAHULUAN. macam pekerjaan rumah tangga. Sedangkan HIV (Human Immuno Virus)

BAB I PENDAHULUAN. Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune. rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV 1.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus golongan

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan, seseorang paling tepat dan murah apabila tidak menunggu

2013 GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG HIV/AIDS DI KELAS XI SMA YADIKA CICALENGKA

BAB I PENDAHULUAN. yang mengakomodasi kesehatan seksual, setiap negara diharuskan untuk

BAB I PENDAHULUAN. dan diduga akan berkepanjangan karena masih terdapat faktor-faktor yang

BAB 1 PENDAHULUAN. dan menjadi salah satu masalah nasional maupun internasional. Hal ini

BAB 1 PENDAHULUAN. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala

BAB I PENDAHULUAN. Acquired Immune Deficiency Syndrome,

BAB 1 PENDAHULUAN. seksual. Kondisi yang paling sering ditemukan adalah infeksi gonorrhea,

BAB 1 PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV), merupakan suatu virus yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Pandemi Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), saat ini merupakan

BAB I PENDAHULUAN sebanyak 1,1 juta orang (WHO, 2015). menurut golongan umur terbanyak adalah umur tahun dengan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan pembangunan milenium atau sering disebut dengan millennium development goals (MDGs) adalah

BAB I PENDAHULUAN UKDW. tubuh manusia dan akan menyerang sel-sel yang bekerja sebagai sistem kekebalan

mengenai seksualitas membuat para remaja mencari tahu sendiri dari teman atau

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan di dunia, baik negara maju maupun negara berkembang. Upaya

2015 GAMBARAN PENGETAHUAN SISWA SISWI KELAS XI TENTANG PENYAKIT MENULAR SEKSUAL DI SMA NEGERI 24 BANDUNG

BAB I PENDAHULUAN. tubuh manusia tersebut menjadi melemah. Pertahanan tubuh yang menurun

Makalah Biologi. Oleh : Ifa Amalina Esa Rosidah Muhammad Rizal

BAB I PENDAHULUAN. dibandingkan dengan remaja di perkotaan. Dimana wanita dengan pendidikan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Human Immunodeficiency Virus (HIV) (Depkes RI, 2006). Seseorang yang telah

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh menurunnya daya tubuh akibat infeksi oleh virus HIV

BAB I PENDAHULUAN. AIDS (Aquired Immuno Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan

BAB 1 PENDAHULUAN. bisa sembuh, menimbulkan kecacatan dan juga bisa mengakibatkan kematian.

HIV/AIDS (Human Immunodeficiency/Acquired Immune Deficiency. Syndrome) merupakan isu sensitive dibidang kesehatan. HIV juga menjadi isu

BAB I PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang awalnya

BAB I PENDAHULUAN. menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia (terutama sel T CD-4

PENGETAHUAN DAN SIKAP SISWA SMA TENTANG HIV/AIDS DI SMU NEGERI 1 WEDI KLATEN. Sri Handayani* ABSTRAK

GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP, PERILAKU, DAN LINGKUNGAN SISWI SMU SANTA ANGELA TERHADAP KESEHATAN REPRODUKSI

PENGETAHUAN DASAR TENTANG HIV/ AIDS. HIV yang merupakan singkatan dari HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS adalah Virus

BAB II Tinjauan Pustaka

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia dan masih sering timbul sebagai KLB yang menyebabkan kematian

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB V HASIL Gambaran Pengetahuan Siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, Tentang HIV/AIDS Tahun 2008

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan menurunnya kekebalan tubuh manusia. 1 HIV yang tidak. terkendali akan menyebabkan AIDS atau Acquired Immune Deficiency

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. pada sejarah, United National HIV/AIDS (UNAIDS) & Word Health. diperkirakan sebanyak 1.6 juta orang diseluruh dunia.

Penyakit Endemis di Kalbar

BAB I PENDAHULUAN. HIV dan AIDS merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui

BAB I PENDAHULUAN. dan kreatif sesuai dengan tahap perkembangannya. (Depkes, 2010)

BAB I PENDAHULUAN. mencanangkan TB sebagai kegawatan dunia (Global Emergency), terutama

BAB 1 PENDAHULUAN. sistem kekebalan tubuh yang terjadi karena seseorang terinfeksi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Human Immunodefficiency Virus (HIV) adalah virus penyebab Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) yang

PENYAKIT MENULAR SEKSUAL DAN HIV / AIDS

BAB 1 PENDAHULUAN. Menurut Profil Kesehatan Sumatera Utara Tahun 2013, salah satu penyakit

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. kekebalan tubuh manusia. Acquired Immunodeficiency Syndrome atau AIDS. tubuh yang disebabkan infeksi oleh HIV (Kemenkes RI, 2014).

BAB I PENDAHULUAN. sistem imun dan menghancurkannya (Kurniawati, 2007). Acquired

Faktor-faktor resiko yang Mempengaruhi Penyakit Menular Seksual

BAB 1 PENDAHULUAN. AIDS (Aquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan kumpulan gejala

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat di negara berkembang, dimana penyakit IMS membuat

BAB 1 : PENDAHULUAN. remaja tertinggi berada pada kawasan Asia Pasifik dengan 432 juta (12-17 tahun)

TINGKAT PENGETAHUAN SISWA SMA TENTANG HIV/AIDS DAN PENCEGAHANNYA

LAPORAN PENGABDIAN MASYARAKAT

BAB 1 PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus penyebab Acquired

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Akibat pesatnya pembangunan fisik dan pertambahan penduduk di suatu kota dan perubahan sosial budaya yang tidak sesuai dan selaras, menimbulkan berbagai masalah antara lain masalah kesehatan. Salah satunya adalah masalah AIDS (Hasyimi, dkk, 2000). Masalah AIDS yang semakin merebak akhir-akhir ini sudah tidak dapat dianggap enteng lagi. AIDS ternyata mengancam seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali generasi muda (Hutapea, 1995). AIDS merupakan persoalan kesehatan masyarakat yang sangat penting di beberapa negara dan bahkan mempunyai implikasi yang bersifat internasional dengan angka mortalitas yang persentasenya di atas 80 pada penderita, 3 tahun setelah timbulnya manifestasi klinik AIDS (Sardjito, 1994). Menurut Stover, infeksi HIV/AIDS merupakan masalah kesehatan yang sangat erat terkait dengan berbagai isu sosial budaya. Epidemi HIV dapat menimbulkan kematian disegala usia di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Dan menurut Sujudi, HIV/AIDS bukanlah hanya masalah kesehatan semata, tetapi merupakan masalah politis, ekonomi, sosial, etika, agama dan hukum, yang dampaknya cepat atau lambat akan menyentuh segala aspek kehidupan nasional (Iskandar, dkk, 1996). Pada akhir Desember 2003, diseluruh dunia, 40 juta orang hidup dengan HIV/AIDS. Prevalensi HIV/AIDS di wilayah Asia Pasifik adalah 7,4 juta pada tahun 1

2 2003. Prevalensi HIV/AIDS di Indonesia tahun 2003 sebesar 0,09 dari jumlah penduduk (118.163.000) yaitu 111.000 (WHO, 2004). Prevalensi kasus HIV/AIDS per 100.000 penduduk tahun 2003 di Jakarta sebesar 4,17 yaitu 417.000. Jakarta menduduki peringkat kedua setelah Papua dan sebelum Bali. Prevalensi kasus HIV/AIDS per 100.000 penduduk tahun 2003 di Papua sebesar 22,88 (yaitu 2.288.000), sedangkan di Bali sebesar 2,42 (yaitu 242.000) (Ditjen PPM dan PL Depkes RI, 2006). Penelitian mengenai pengetahuan tentang HIV/AIDS telah dilakukan baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Hasil penelitian Merakou, dkk (2002) di Athena, Yunani, menunjukkan pengetahuan HIV/AIDS pada siswa laki-laki 51,7 % dan pada siswa perempuan 34,6%. Hasil penelitian Li, dkk (2004) di Cina menunjukkan pengetahuan pencegahan HIV/AIDS dengan kondom pada siswa laki-laki 52 % dan pada siswa perempuan 35 %; diskusi tentang HIV/AIDS dilakukan dengan orang tua ataupun saudara pada siswa laki-laki 14 % dan pada siswa perempuan 28 %; diskusi tentang HIV/AIDS dilakukan dengan teman sekelas pada siswa laki-laki 67 % dan pada siswa perempuan 47 %. Pada tahun 2002 tingkat pengetahuan remaja/pelajar SMA di Indonesia tentang penularan HIV/AIDS hanya 38,5 % dan pada tahun 2004 meningkat menjadi 63 % (Departemen Kesehatan RI, 2005). Pada tahun 2002 sampai 2003, sebesar 65,8% wanita dan 79,4 % pria usia 15-24 tahun telah mendengar tentang HIV/AIDS. Pada wanita usia subur usia 15-49 tahun, sebagian besar (62,4 %) telah mendengar HIV/AIDS, tapi hanya 20,7 % yang mengetahui bahwa menggunakan kondom setiap berhubungan seksual dapat mencegah penularan HIV/AIDS, dan 28,5 % mengetahui bahwa orang sehat dapat terinfeksi HIV/AIDS (UNDP, 2004).

3 Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia, persentase golongan umur 15-19 tahun di kota yang terpapar informasi melalui koran, televisi, dan radio pada wanita sebesar 13,6 %, sedangkan pada pria sebesar 25,5 % (BPS dan ORC Macro, 2003). Sebuah penelitian pada tahun 2002 menunjukkan bahwa 38,4 % dari pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) usia 15 19 tahun di Jakarta secara benar menunjukkan cara mencegah penularan HIV dan menolak konsepsi yang salah tentang penularan HIV (UNDP, 2004). Kurangnya pengetahuan mengenai seksualitas manusia serta buruknya pemberian informasi dan pelayanan reproduksi sehat menyebabkan meningkatnya praktek-praktek dan perilaku seksual yang berisiko tinggi (Katjasungkana, 2003). Perilaku seksual berisiko ini dapat menyebabkan mudahnya seseorang terkena penyakit HIV/AIDS. Seseorang yang terserang/terinfeksi HIV dengan mudah dapat terserang penyakit lain karena tubuhnya tidak dapat lagi melawan serangan penyakit itu dan akhirnya akan meninggal. Penyakit yang timbul ini disebut dengan infeksi oportunistik antara lain: TBC, radang paru-paru, syaraf terganggu, kanker kaposi sarkoma, kanker limfoma, herpes, dan lain-lain (Lentera, p.32, 34). Menurut Hutapea (1995), seseorang yang menderita AIDS sering mengalami masalah psikologis, terutama kecemasan, depresi, rasa bersalah (akan perilaku yang membuatnya terinfeksi), marah, dan timbulnya dorongan untuk bunuh diri, serta merasa diasingkan oleh orang lain. Stress akan semakin melemahkan sistem imun tubuh penderita AIDS. Beberapa pakar meramalkan bahwa AIDS mampu memperlihatkan dampak negatif terhadap pertumbuhan penduduk dan menurunkan angka harapan hidup. Menurut WHO-Safe Motherhood, wanita hamil yang terinfeksi HIV berisiko lebih

4 besar mengalami komplikasi kehamilan seperti keguguran, demam dan infeksi, persalinan prematur, bayi berat lahir rendah, dan infeksi saat persalinan yang tidak sembuh dengan pemberian antibiotik (Iskandar, dkk, 1996). Dampak HIV pada ibu yang terinfeksi HIV dan memiliki anak, yaitu kematian ibu akibat AIDS akan berpengaruh sangat buruk terhadap anak dan seluruh anggota keluarganya. Ibu ini akan terhalang untuk merawat anak-anaknya karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan, hal ini tentunya akan menimbulkan stress dan memperberat penderitaan fisik ibu tersebut, belum lagi adanya rasa takut pada ibu bahwa anak-anaknya nantinya tidak akan ada yang mengurus kalau ibu meninggal dunia (Mantra, 1994). HIV menyebabkan rendahnya produktivitas dan pada akhirnya menurunkan jaminan ketersediaan sumber pangan keluarga dan masyarakat (Iskandar, dkk, 1996). Menurut AIDS Action, sekitar 40 % dari bayi dengan HIV (+) akan meninggal sebelum usia 12 bulan, dan lebih dari 50% akan meninggal saat mencapai 2 tahun. Pada usia sekitar 3 atau 4 bulan, biasanya timbul gejala infeksi bakteri yang parah, seperti pneumonia, infeksi pada kulit (seperti congenital syphilis) dan meningitis, diikuti dengan pembengkakan kelenjar getah bening, pembengkakan hati dan limpa, gangguan pertumbuhan dan sariawan luas di mulut. Bayi dengan HIV (+) biasanya mengalami hambatan pertumbuhan (malnutrisi diikuti dengan gejala infeksi malaria), pernafasan, diare selama 14 hari atau lebih, dan infeksi saluran pendengaran (Iskandar, dkk, 1996). Penyebab utama AIDS adalah suatu virus yang disebut dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus) yaitu virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia (Lentera, p.32). Faktor-faktor penyebab langsung penularan HIV/AIDS

5 antara lain hubungan seksual yang tidak aman dengan orang yang terinfeksi HIV, transfusi darah yang tercemar HIV, menggunakan jarum suntik, tindik, tatto, atau alat lain yang dapat menimbulkan luka yang telah tercemar HIV secara bersamasama dan tidak disterilkan (Lentera, p.33), transplantasi dengan organ atau jaringan yang terinfeksi, secara tidak sengaja tersuntik (tertusuk -red) jarum bekas seseorang yang mengandung HIV (kadang-kadang dapat terjadi pada petugas kesehatan), dari ibu ke anaknya sewaktu kehamilan, persalinan, maupun sewaktu menyusui (Hutapea, 1995). Faktor-faktor penyebab tidak langsungnya antara lain kurangnya pelayanan kesehatan reproduksi bagi wanita, lemahnya status ekonomi rumah tangga, dan fakor non-kesehatan seperti status wanita (menurut kasta, etnik, suku, atau lokasi geografis), selain itu juga usia dan jenis kelamin yaitu remaja wanita lebih rentan terkena PMS atau HIV disebabkan ketidaktahuan mereka tentang faktor biologi dari organ reproduksi dalam hubungannya dengan praktek seksual (Iskandar, dkk, 1996). Pengetahuan pada remaja dapat dipengaruhi oleh bidang ilmu sekolah yang dijalaninya dan banyaknya sumber informasi yang diperoleh. Pada pelajar bidang ilmu IPA lebih banyak terpapar informasi tentang biologi dan organ reproduksi dibandingkan dengan pelajar bidang ilmu IPS, dengan demikian pelajar bidang ilmu IPA memperoleh lebih banyak pengetahuan daripada pelajar bidang ilmu IPS. Seperti pernyataan Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Fasli Jalal, yaitu sosialisasi mengenai HIV/AIDS bisa disisipkan dalam mata pelajaran yang ada seperti Biologi (Rachmawati, 2007). Pelajaran di sekolah termasuk salah satu sumber informasi yang dapat digunakan pelajar untuk memperoleh informasi dan pengetahuan tentang HIV/AIDS.

6 1.2. Rumusan Masalah Pada tahun 2002 tingkat pengetahuan remaja/pelajar SMA di Indonesia tentang penularan HIV/AIDS hanya 38,5 % dan pada tahun 2004 meningkat menjadi 63 % (Departemen Kesehatan RI, 2005), hal ini berpengaruh secara tidak langsung terhadap tingginya prevalensi kasus HIV/AIDS terutama DKI Jakarta yang menduduki peringkat ke-2 terbesar di Indonesia yaitu 4,17 per 100.000 penduduk (Ditjen PPM dan PL Depkes RI, 2006). Belum diketahuinya pengetahuan tentang HIV/AIDS pada siswa di SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, mendorong penulis untuk melakukan penelitian mengenai Pengetahuan Siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, Tentang HIV/AIDS Tahun 2008. Penelitian ini dilakukan dengan subjek penelitian siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, dan dilakukan pada bulan Januari tahun 2008. 1.3. Pertanyaan Penelitian 1. Bagaimana gambaran pengetahuan siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, tentang HIV/AIDS yang mencakup cara-cara penularan, gejala, dan cara-cara pencegahan HIV/AIDS tahun 2008? 2. Bagaimana gambaran distribusi siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, berdasarkan jenis kelamin tahun 2008? 3. Bagaimana gambaran distribusi siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, berdasarkan usia tahun 2008? 4. Bagaimana gambaran distribusi siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, berdasarkan bidang ilmu tahun 2008?

7 5. Bagaimana gambaran distribusi siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, berdasarkan jumlah sumber informasi tahun 2008? 6. Apakah ada hubungan antara jenis kelamin dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS pada siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, tahun 2008? 7. Apakah ada hubungan antara usia dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS pada siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, tahun 2008? 8. Apakah ada hubungan antara bidang ilmu dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS pada siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, tahun 2008? 9. Apakah ada hubungan antara jumlah sumber informasi dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS pada siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, tahun 2008? 1.4. Tujuan Penelitian 1.4.1. Tujuan Umum Mengetahui pengetahuan siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, tentang HIV/AIDS tahun 2008. 1.4.2. Tujuan Khusus 1. Mengetahui gambaran pengetahuan siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, tentang HIV/AIDS yang mencakup cara-cara penularan, gejala, dan cara-cara pencegahan HIV/AIDS tahun 2008 2. Mengetahui gambaran distribusi siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, berdasarkan jenis kelamin tahun 2008

8 3. Mengetahui gambaran distribusi siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, berdasarkan usia tahun 2008 4. Mengetahui gambaran distribusi siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, berdasarkan bidang ilmu tahun 2008 5. Mengetahui gambaran distribusi siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, berdasarkan jumlah sumber informasi tahun 2008 6. Mengetahui adanya hubungan antara jenis kelamin dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS pada siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, tahun 2008 7. Mengetahui adanya hubungan antara usia dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS pada siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, tahun 2008 8. Mengetahui adanya hubungan antara bidang ilmu dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS pada siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, tahun 2008 9. Mengetahui adanya hubungan antara jumlah sumber informasi dengan pengetahuan tentang HIV/AIDS pada siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, tahun 2008 1.5. Manfaat Penelitian 1.5.1. Bagi Penulis Penelitian sebagai sarana untuk menambah pengalaman bagi penulis untuk meneliti dan menghasilkan karya tulis ilmiah. Selain itu juga memberikan gambaran bagi penulis mengenai pengetahuan yang dimiliki

9 siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, tentang HIV/AIDS pada tahun 2008. 1.5.2. Bagi Departemen Biostatistik dan Informatika Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi tentang pengetahuan siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, tentang HIV/AIDS pada tahun 2008. Hasil penelitian juga dapat digunakan sebagai pembanding bagi penelitian sejenis dimasa yang akan datang. Selain itu, hasil penelitian dapat disimpan sebagai arsip untuk menambah perbendaharaan penelitian. 1.5.3. Bagi Institusi Pendidikan Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memberikan pengetahuan tambahan mengenai HIV/AIDS pada siswa baik di dalam ataupun di luar kegiatan belajar mengajar. 1.5.4. Bagi Departemen Pendidikan Nasional Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pengetahuan sebagian siswa SMU di Jakarta tentang HIV/AIDS pada tahun 2008. Juga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memasukkan tambahan pengetahuan tentang HIV/AIDS ke dalam kurikulum pelajaran sekolah.

10 1.5.5. Bagi Dinas Kesehatan dan Departemen Kesehatan Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan tambahan informasi mengenai pengetahuan sebagian siswa SMU di Jakarta tentang HIV/AIDS pada tahun 2008. Hasil penelitian juga dapat disimpan sebagai arsip untuk menambah perbendaharaan penelitian sehingga dapat dipergunakan sebagai perbandingan bagi penelitian yang akan datang. Selain itu, hasil penelitian ini kiranya dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengadaan penambahan informasi mengenai HIV/AIDS kepada siswa di sekolah, bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional. 1.6. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian mengenai pengetahuan siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, tentang HIV/AIDS tahun 2008 dilakukan karena belum diketahuinya pengetahuan siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur tetang HIV/AIDS. Tingginya HIV/AIDS di Jakarta dipengaruhi oleh pengetahuan tentang HIV/AIDS terutama dikalangan remaja yang akan menjadi dasar pengetahuan mereka saat dewasa. Penelitian dilakukan dengan subjek penelitian yaitu siswa SMU Negeri 39 Cijantung, Jakarta Timur, pada bulan Januari tahun 2008 dengan menggunakan kuesioner untuk pengambilan data.