ANALISIS INDEKS DESENTRALISASI FISKAL KABUPATEN SAMPANG DAN SUMENEP (PERIODE 2007 DAN 2008) SKRIPSI

dokumen-dokumen yang mirip
ANALISIS KEMANDIRIAN KEUANGAN DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN PASURUAN PADA ERA OTONOMI DAERAH (PERIODE ) SKRIPSI

ANALISIS KEMANDIRIAN FISKAL DI SATUAN WILAYAH PEMBANGUNAN ( SWP ) IV JAWA TIMUR SKRIPSI

ANALISIS DESENTRALISASI FISKAL DAN KEMANDIRIAN KEUANGAN DAERAH DI KABUPATEN SIDOARJO, KABUPATEN PACITAN, DAN KABUPATEN MADIUN MENUJU OTONOMI DAERAH

PENGARUH DANA ALOKASI UMUM DAN VARIABEL PENDUKUNG LAINNYA PADA PENINGKATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH DI KOTA MADIUN

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENANAMAN MODAL ASING (PMA) PADA SEKTOR INDUSTRI MANUFAKTUR DI KABUPATEN GRESIK SKRIPSI

ANALISIS BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN INDUSTRI KECIL DI KOTA SURABAYA SKRIPSI

ANALISIS BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) DI KABUPATEN GRESIK

ANALISIS TINGKAT KEMANDIRIAN KEUANGAN DI KABUPATEN BANYUWANGI, KABUPATEN BLITAR DAN KABUPATEN MADIUN, SERTA KABUPATEN TUBAN SKRIPSI

ANALISIS SHIFT SHARE 4 DAERAH DI PROVINSI JAWA TIMUR ( KABUPATEN MADIUN, KABUPATEN BANYUWANGI DAN KABUPATEN TUBAN SERTA KABUPATEN BLITAR ) SKRIPSI

ANALISIS SHIFT SHARE 3 DAERAH DI PROVINSI JAWA TIMUR (KABUPATEN GRESIK, KABUPATEN NGAWI, DAN KABUPATEN TRENGGALEK) SKRIPSI

ANALISIS KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH PADA KOTA KEDIRI SEBELUM DAN SESUDAH OTONOMI DAERAH SKRIPSI. Oleh :

ANALISIS PERAN DESENTRALISASI FISKAL TERHADAP KINERJA EKONOMI DI KABUPATEN / KOTA JAWA TIMUR SKRIPSI

KATA PENGANTAR. serta hidayah-nya yang telah dilimpahkan sehinga penulis bisa menyelesaikan

ANALISIS BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN ASLI DAERAH DI KOTA SURABAYA SKRIPSI. Oleh : FX. ERWINDO SETA KURNIAWAN /FE/EP KEPADA

KATA PENGANTAR. skripsi ini. Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu kewajiban mahasiswa

ANALISIS INDEKS DESENTRALISASI FISKAL PADA SATUAN WILAYAH PEMBANGUNAN (SWP) VII PROPINSI JAWA TIMUR SKRIPSI

KATA PENGANTAR. ini. Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu kewajiban mahasiswa untuk

BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYERAPAN TENAGA KERJA PADA INDUSTRI KECIL DI JATIM

ANALISIS BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELANJA DAERAH DI KABUPATEN SUMENEP

ANALISIS PENGARUH PENERIMAAN PEMERINTAH DAN JUMLAH PENDUDUK TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI JAWA TIMUR

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN PETANI TAMBAK BANDENG DI KABUPATEN GRESIK STUDI KASUS DI DESA WADAK KIDUL KECAMATAN DUDUK SAMPEYAN SKRIPSI

USULAN PENELITIAN. Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur. Untuk Menyusun Skripsi S-1

SKRIPSI. Oleh : PURNOMO NIM: B

ANALISIS POTENSI SEKTOR EKONOMI KABUPATEN SUMENEP DAN KABUPATEN PAMEKASAN

KINERJA KEUANGAN BANK DAN STABILITAS MAKRO EKONOMI TERHADAP PROFITABILITAS BANK UMUM DI INDONESIA SKRIPSI

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KEMISKINAN DI KABUPATEN MADIUN SKRIPSI

KATA PENGANTAR. Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu kewajiban mahasiswa untuk memenuhi

Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi PAD (Pendapatan Asli Daerah) di Kabupaten Pasuruan Dalam Rangka Otonomi Daerah SKRIPSI

ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI JUMLAH POLIS ASURANSI JIWASRAYA DI SURABAYA SKRIPSI

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN EKONOMI DI JAWA TIMUR

ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INVESTASI SEKTOR PERDAGANGAN DAN SEKTOR INDUSTRI MANUFAKTUR DI JAWA TIMUR SKRIPSI

Adelyta Marine Putri / FE/ IE

ANALISIS PENGARUH KREDIT TERHADAP JUMLAH INDUSTRI KECIL, JUMLAH TENAGA KERJA DAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) DI SURABAYA USULAN PENELITIAN

ANALISIS PENGARUH JUMLAH TENAGA KERJA, INVESTASI DAN INFLASI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI JAWA TIMUR SKRIPSI

SKRIPSI. Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan. Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi. Jurusan Ekonomi Pembangunan.

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN INDUSTRSI KECIL DI KABUPATEN GRESIK DAN KABUPATEN JOMBANG SKRIPSI

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI JUMLAH INDUSTRI DI SURABAYA SKRIPSI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IMPOR BERAS DI JAWA TIMUR SKRIPSI

PENGARUH PEMAHAMAN PROSEDUR DAN SANKSI PAJAK TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI DALAM MEMENUHI KEWAJIBAN PAJAK PENGHASILAN DI KPP PRATAMA

BAB I PENDAHULUAN. sentralisasi menjadi sistem desentralisasi merupakan konsekuensi logis dari

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGHIMPUNAN DANA PIHAK KETIGA PADA BANK UMUM DI KABUPATEN GRESIK SKRIPSI. Oleh :

BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI JUMLAH TABUNGAN MASYARAKAT PADA BANK-BANK UMUM DI KOTA SURABAYA SKRIPSI

BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU INFLASI DI INDONESIA

SKRIPSI. ANALISIS FAKTOR EKONOMI YANG MEMPENGARUHI TINGKAT INFLASI DI JAWA TIMUR Disusun oleh : M. Rizki Johansyah

ANALISIS INDEKS DESENTRALISASI FISKAL PADA SATUAN WILAYAH PEMBANGUNAN (SWP) I PROPINSI JAWA TIMUR SKRIPSI

ANALISIS INVESTASI TERHADAP TINGKAT KESEJAHTERAAN DAN PERTUMBUHAN EKONOMI DI KABUPATEN GRESIK, SIDOARJO, DAN PASURUAN SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. dampak diberlakukannya kebijakan otonomi daerah. Sistem otonomi daerah

PENGARUH KEJELASAN SASARAN ANGGARAN DAN SISTEM PENGENDALIAN AKUNTANSI TERHADAP KINERJA MANAJERIAL PADA PT. GOLD COIN INDONESIA SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan pada hakekatnya merupakan suatu proses kemajuan dan

BAB I PENDAHULUAN. penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah pusat kepada daerah otonom untuk

ANALISIS INDEKS WILLIAMSON PADA SATUAN WILAYAH PEMBANGUNAN II ( SWP ) JAWA TIMUR SKRIPSI. Oleh : Dhino Taufan / FE / EP.

BAB I PENDAHULUAN. seluruh aspek kehidupan. Salah satu aspek reformasi yang dominan adalah

ANALISIS BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI JUMLAH UANG BEREDAR DI INDONESIA SKRIPSI. Diajukan Oleh : Marta Kristiani / FE/ IE

MODEL PENDEKATAN TEORI KONSUMSI DALAM MEMBUAT PROYEKSI POTENSI DANA PIHAK KETIGA (DPK) PADA BANK UMUM DI KOTA SURABAYA

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

PENGESAHAN. Yang bertanda tangan di bawah ini telah membaca skripsi dengan judul :

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Indonesia sedang berada di tengah masa transformasi dalam hubungan antara

ANALISIS BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYALURAN KREDIT INVESTASI PADA BANK UMUM DI INDONESIA SKRIPSI

ANALISIS RASIO KEUANGAN SEBAGAI ALAT EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PT. SURYAINTI PERMATA Tbk SKRIPSI. Oleh : Lilian Widi S /FE/EA

PENGARUH PERSEPSI DAN PENGGUNAAN INFORMASI AKUNTANSI TERHADAP KEBERHASILAN PENGUSAHA KECIL. (Studi Kasus pada Pengusaha Tanaman Hias Di Surabaya)

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENERIMAAN PAJAK HIBURAN SEBELUM DAN SESUDAH KRISIS MONETER DI KOTA SURABAYA SKRIPSI

KATA PENGANTAR. serta hidayah-nya yang telah dilimpahkan sehinga penulis bisa menyelesaikan

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR KATAK DAN UDANG DI JAWA TIMUR USULAN PENELITIAN

FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENERIMAAN PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) DI PEMERINTAH KABUPATEN GRESIK SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. kapasitas fiskal yaitu pendapatan asli daerah (PAD) (Sidik, 2002)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELAKU UMKM (USAHA MIKRO KECIL MENENGAH) DALAM MENGAMBIL KEPUTUSAN INVESTASI DI SURABAYA

ANALISIS IMPOR KENDARAAN BERMOTOR DARI JEPANG KE INDONESIA SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. berubah menjadi sistem desentralisasi atau yang sering dikenal sebagai era

BAB I PENDAHULUAN. undang-undang di bidang otonomi daerah tersebut telah menetapkan

PENGARUH SUKU BUNGA INDONESIA (SBI) TERHADAP INFLASI, KURS RUPIAH, DAN PERTUMBUHAN EKONOMI SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN. daerah yang saat ini telah berlangsung di Indonesia. Dulunya, sistem

BAB I PENDAHULUAN. daerah dan desentralisasi fiskal. Dalam perkembangannya, kebijakan ini

BAB I PENDAHULUAN. upaya yang berkesinambungan yang meliputi pembangunan masyarakat, bangsa,

`ANALISIS KINERJA PENGELOLAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (APBD) DITINJAU DARI RASIO KEUANGAN PEMERINTAH

BAB I PENDAHULUAN. landasan hukum bagi yang dikeluarkannya UU No. 22 Tahun 1999 tentang

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan dengan meningkatkan pemerataan dan keadilan. Dengan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sistem otonomi daerah, terdapat 3 (tiga) prinsip yang dijelaskan UU

PENGARUH TINGKAT PEMAHAMAN SELF ASSESSMENT SYSTEM TERHADAP KECENDERUNGAN PENGHINDARAN PAJAK PENGHASILAN PERORANGAN

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

ANALISIS KEMANDIRIAN DAERAH SUBOSUKAWONOSRATEN DALAM PELAKSANAAN SEBELUM DAN SESUDAH OTONOMI DAERAH ( TINJAUAN KEUANGAN DAERAH )*

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SISA HASIL USAHA PADA KOPERASI WARU BUANA PUTRA DI SIDOARJO

PENGARUH PEMAHAMAN DAN KESADARAN WAJIB PAJAK TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK (Studi Kasus pada Komite Pengusaha Alas Kaki Kota Mojokerto) SKRIPSI

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGHIMPUNAN TABUNGAN MASYARAKAT PADA PT. BANK SYARIAH MANDIRI SKRIPSI

SKRIPSI. Diajukan Oleh: Fitrah Insani / FE / AK

ANALISIS PENGARUH TINGKAT SUKU BUNGA KREDIT, TINGKAT INFLASI DAN SIMPANAN NASABAH TERHADAP KREDIT INVESTASI PADA BANK UMUM DI SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN. daerah yang ditetapkan berdasarkan peraturan daerah tentang APBD.

SKRIPSI. Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ilmu Ekonomi. Oleh :

I. PENDAHULUAN. sebagian masyarakat Indonesia mendukung dengan adanya berbagai tuntutan

PERANAN PROSES BELAJAR MENGAJAR BAGI MAHASISWA DALAM MERAIH PRESTASI (Studi Empiris pada Mahasiswa Progdi Akuntansi UPN Veteran Jawa Timur)

ANALISIS PENGARUH MAKRO EKONOMI TERHADAP DANA PIHAK KETIGA (DPK) PADA BANK UMUM DAN BANK SYARIAH SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitan. Berdasarkan UU No 32 Tahun 2004 Pasal 1 angka 5 memberikan definisi

BAB I PENDAHULUAN. Pelaksanaan otonomi yang seluas-luasnya, dalam arti daerah diberikan

ANALISA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (Studi Kasus di Kelurahan Selosari Kecamatan Magetan) SKRIPSI

IMPLEMENTASI PENCATATAN KEUANGAN PADA USAHA MIKRO SALON TAMARA DI SIDOARJO SKRIPSI

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

Transkripsi:

ANALISIS INDEKS DESENTRALISASI FISKAL KABUPATEN SAMPANG DAN SUMENEP (PERIODE 2007 DAN 2008) SKRIPSI Diajukan Untuk memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Memperolah Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ilmu Ekonomi Oleh: AHMAD ZAINURRIDO 0611010054/ FE/ IE Kepada FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR 2010

ANALISIS INDEKS DESENTRALISASI FISKAL KABUPATEN SAMPANG DAN SUMENEP (PERIODE 2007 DAN 2008) Yang Disusun Oleh : AHMAD ZAINURRIDO 0611010054/ FE/ IE Telah dipertahankan Dihadapan Dan diterima Oleh Tim Penguji Skripsi Fakultas Ekonomi jurusan Ilmu Ekonomi Pembangunan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur Pada Tanggal :..2010 Pembimbing Utama Tim Penguji Ketua IR. Hamidah Hendrarini. MSi IR. Hamidah Hendrarini. MSi Sekretaris Drs. Ec. Marseto, MSi Anggota Dra. Ec. Titiek Nur Hidayati Mengetahui, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur Dr. Dhani Ichsanuddin Nur, MM. NIP. 030 202 389

KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat serta hidayahnya yang telah dilimpahkan sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini. Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu kewajiban mahasiswa untuk memenuhi tugas dan syarat akhir akademis di Perguruan Tinggi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur Fakultas Ekonomi khususnya Jurusan Ekonomi Pembangunan. Dalam penulisan skripsi ini penulis mengambil judul Analisis Indeks Desentralisasi Fiskal Kabupaten Sampang dan Sumenep (Periode 2007 dan 2008). Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa didalam penyusunan skripsi ini masih banyak kekurangannya. Hal ini disebabkan karena masih terbatasnya kemampuan dan pengetahuan yang ada.walaupun demikian berkat bantuan dan bimbingan yang diterima dari IR. Hamidah Hendrarini, MSi Selaku Dosen Pembimbing Utama yang dengan penuh kesabaran telah mengarahkan dari awal untuk memberikan bimbingan kepada peneliti, sehingga skripsi ini dapat tersusun dan terselesaikan dengan baik. Atas terselesainya skripsi ini, penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP selaku Rektor Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur. 2. Bapak Dr. Dhani Ichsanuddin Nur, MM, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur. i

3. Bapak Drs. Ec. Marseto D.S, Msi, selaku Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur. 4. Ibu IR. Hamidah Hendrarini, MSi selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan masukan-masukan yang berarti bagi penulis. 5. Segenap staf pengajar dan staf kantor Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur. Yang telah dengan iklas memberikan ilmu dan pelayanan akademik bagi penulis dan semua mahasiswa UPN. 6. Keluarga tercinta yang telah sabar mendidik dan membesarkan dengan penuh kasih sayang baik moral, material, maupun spiritual atas support dan kesabarannya hingga terselesainya skripsi ini. Akhir kata yang dapat terucapkan semoga penyusunan skripsi ini dapat berguna bagi pembaca dan pihak-pihak lain yang membutuhkan, semoga Allah SWT memberikan balasan setimpal. Wassallamualaikum Wr.Wb Surabaya, Juni 2010 Penulis ii

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... ABSTRAKSI... i iii vii xi xii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Perumusan Masalah... 7 1.3 Tujuan Penelitian... 7 1.4 Manfaat Penelitian... 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu... 9 2.2 Landasan Teori... 11 2.2.1 Definisi Desentralisasi... 11 2.2.2 Tujuan Desentralisasi... 13 2.2.3 Keuntungan dan Kerugian Desentralisasi... 14 2.2.4 Pengertian Desentralisasi Fiskal... 15 2.2.5 Implementasi Otonomi Daerah... 17 2.2.5.1 Definisi Otonomi Daerah... 17 iii

2.2.5.2 Prinsip Dasar dan Tujuan Otonomi Daerah... 19 2.2.6 Pengertian Pendapatan Asli Daerah... 21 2.2.7 Dasar dan Sumber Penerimaan daerah... 24 2.3 Model Analisis... 32 2.3.1 Model Indeks Desentralisasi Fiskal... 33 2.3.2 Model Tingkat Kemandirian Daerah... 34 2.4 Kerangka Pikir... 35 2.4.1 Gambar Kerangka Pikir... 36 2.5 Hipotesis... 37 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian... 38 3.2 Definisi Oprasional... 38 3.3 Jenis dan Sumber Data... 40 3.4 Prosedur Pengumpulan Data... 41 3.5 Teknis Analisis... 42 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kabupaten Sampang 46 4.1.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian. 46 4.1.1.1 Pertumbuhan Ekonomi Daerah Kabupaten Sampang 46 iv

4.1.1.2 Kondisi Keuangan Daerah Kabupaten Sampang 53 4.1.2 Deskripsi Hasil Penelitian... 58 4.1.2.1 Peranan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).. 58 4.1.2.2 Indeks Desentralisasi Fiskal... 59 4.1.2.3 Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah. 60 4.1.3 Pembahasan... 63 4.1.3.1 Kontribusi PAD terhadap APBD Kabupaten Sampang. 63 4.1.3.2 Indeks Desentralisasi Fiskal Daerah Kabupaten Sampang. 64 4.1.3.3 Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah Kabupaten Sampang... 65 4.2 Kabupaten Sumenep 66 4.2.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian. 66 4.2.1.1 Pertumbuhan Ekonomi Daerah Kabupaten Sumenep. 66 4.2.1.2 Kondisi Keuangan Daerah Kabupaten Sumenep 74 4.2.2 Deskripsi Hasil Penelitian...... 78 v

4.2.2.1 Peranan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 78 4.2.2.2 Indeks Desentralisasi Fiskal... 79 4.2.2.3 Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah. 81 4.2.3 Pembahasan... 84 4.2.3.1 Kontribusi PAD terhadap APBD Kabupaten Sumenep. 84 4.2.3.2 Indeks Desentralisasi Fiskal Daerah Kabupaten Sumenep. 85 4.2.3.3 Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah Kabupaten Sumenep... 86 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan... 88 5.2 Saran. 91 DAFTAR PUSTAKA vi

DAFTAR GAMBAR 1. Kerangka Pikir. 36 2. Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Sampang Tahun 2007 dan 2008.. 52 3. Pertumbuhan Sektoral PDRB Kabupaten Sumenep Tahun 2007 dan 2008. 73 xi

DAFTAR TABEL 1. Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Sampang (periode 2007 dan 2008). 46 2. Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan Kabupaten Sampang (Periode 2007 dan 2008). 47 3. Kontribusi Sektoral PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Sampang (tahun 2007 dan 2008) 47 4. Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Sampang Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2007 dan 2008... 48 5. Kontribusi Sektoral PDRB Atas Dasar Harga Konstan Kabupaten Sampang tahun 2007 dan 2008.. 49 6. Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Sampang Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2007 dan 2008. 50 7. Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Sampang Tahun 2007 dan 2008 51 8. Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBD) Kabupaten Sampang Tahun 2007 dan 2008 (dalam juta rupiah)... 55 9. Komposisi Total Penerimaan, Belanja Rutin, dan Pengeluaran Total vii

Daerah Kabupaten Sampang Tahun 2007 dan 2008 56 10. Komposisi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sampang Tahun 2007 dan 2008 (dalam juta rupiah).. 57 11. Komposisi Total Penerimaan Daerah Kabupaten Sampang Tahun 2007 dan 2008 (dalam juta rupiah).. 58 12. Rasio PAD terhadap TPD, Rasio BHPBP terhadap TPD dan Indeks Desentralisasi Fiskal Kabupaten Sampang Tahun 2007 dan 2008... 59 13. Rasio Sumbangan/Bantuan (SD) terhadap TPD Kabupaten Sampang Tahun 2007 dan 2008. 60 14. Rasio PAD terhadap PRD dan Rasio PAD terhadap PTD Kabupaten Sampang Tahun 2007 dan 2008 61 15. Rasio PAD+BHPBP terhadap PRD dan Rasio PAD+BHPBP terhadap PTD Kabupaten Sampang Tahun 2007 dan 2008. 62 16. Rasio PAD terhadap PRD, Rasio PAD terhadap PTD, Rasio PAD+BHPBP terhadap PRD, Rasio PAD+BHPBP terhadap PTD dan Tingkat Kemandirian Daerah (TKD) Kabupaten Sampang Tahun 2007 dan 2008 63 viii

17. Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Sumenep Tahun 2007 dan 2008 67 18. Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan Kabupaten Sumenep (Periode 2007 dan 2008)... 68 19. Kontribusi Sektoral PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Sumenep (tahun 2007 dan 2008)... 68 20. Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Sumenep Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2007 dan 2008.. 69 21. Kontribusi Sektoral PDRB Atas Dasar Harga Konstan Kabupaten Sumenep tahun 2007 dan 2008. 70 22. Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Sumenep Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2007 dan 2008... 71 23. Pertumbuhan Sektoral PDRB Kabupaten Sumenep Tahun 2007 dan 2008.. 72 24. Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBD) Kabupaten Sumenep Tahun 2007 dan 2008 (dalam juta rupiah).. 75 ix

25. Komposisi Total Penerimaan, Belanja Rutin, dan Pengeluaran Total Daerah Kabupaten Sumenep Tahun 2007 dan 2008 76 26. Komposisi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sumenep Tahun 2007 dan 2008 (dalam juta rupiah).. 77 27. Komposisi Total Penerimaan Daerah Kabupaten Sumenep Tahun 2007 dan 2008 (dalam juta rupiah).. 78 28. Rasio PAD terhadap TPD, Rasio BHPBP terhadap TPD dan Indeks Desentralisasi Fiskal Kabupaten Sumenep Tahun 2007 dan 2008. 80 29. Rasio Sumbangan/Bantuan (SD) terhadap TPD Kabupaten Sumenep Tahun 2007 dan 2008. 81 30. Rasio PAD terhadap PRD dan Rasio PAD terhadap PTD Kabupaten Sumenep Tahun 2007 dan 2008 82 31. Rasio PAD+BHPBP terhadap PRD dan Rasio PAD+BHPBP terhadap PTD Kabupaten Sumenep Tahun 2007 dan 2008. 83 x

32. Rasio PAD terhadap PRD, Rasio PAD terhadap PTD, Rasio PAD+BHPBP terhadap PRD, Rasio PAD+BHPBP terhadap PTD dan Tingkat Kemandirian Daerah (TKD) Kabupaten Sumenep Tahun 2007 dan 2008. 84 xi

ANALISIS INDEKS DESENTRALISASI FISKAL KABUPATEN SAMPANG DAN SUMENEP (PERIODE 2007 DAN 2008) Oleh : AHMAD ZAINURRIDO Abstraksi Rencana pembangunan daerah merupakan bagian dari kerangka umum pembangunan nasional, oleh karenanya landasan serta tujuan yang terdapat didalam rencana pembangunan nasional dan daerah haruslah saling menunjang. Demikian halnya dengan Kabupaten Sampang dan Sumenep, sebagai daerah otonomi dalam batasan kesatuan masyarakat hukum serta batas wilayah tertentu berhak dan berkewajiban mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka penelitian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang diajukan, yaitu : (1) Bagaimana Kontribusi PAD Kabupaten Sampang dan Sumenep terhadap keuangan daerah, (2) Seberapa besar Indeks Desentralisasi Fiskal Kabupaten Sampang dan Sumenep, (3) Seberapa besar Tingkat Kemandirian Keuangan daerah kabupaten Sampang dan Sumenep. Penelitian ini dikategorikan dalam penelitian kualitatif dan kuantitatif. Teknik Analisis kualitatif digunakan untuk menggambarkan secara umum keadaan Kabupaten Sampang dan Sumenep sebagai obyek penelitian. Sedangkan teknik analisis kuantitatif yang dimaksud adalah menggunakan metode penghitungan untuk memecahkan rumusan masalah. Dengan demikian, metode analisis ini merupakan pengolahan berdasarkan data sekunder dengan metode penghitungan rasio yang hasilnya dideskripsikan dan dianalisis untuk memecahkan rumusan masalah. Alat analisis yang digunakan untuk memecahkan rumusan masalah yaitu indeks desentralisasi fiskal, dan tingkat kemandirian daerah, yang diamati secara kurung waktu tertentu (periode 2007 dan 2008). Berdasarkan hasil penelitian, simpulan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah : (1) Kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sampang hanya mengalami sedikit kenaikan yaitu pada tahun 2007 sebesar 3,41% dan tahun 2008 sebesar 3,62%, dan Kabupaten Sumenep juga hanya mengalami sedikit kenaikan yaitu pada tahun 2007 sebesar 4,78% dan tahun 2008 sebesar 4,93%, sehingga kontribusi PAD bagi Total Penerimaan Daerah masih sangat rendah, yaitu dibawah 25%. (2) Indeks Desentralisasi Fiskal Kabupaten Sampang pada tahun 2007 dan 2008 adalah sebesar 5,39%, dan Kabupaten Sumenep pada tahun 2007 dan 2008 adalah sebesar 9,31%, yang menunjukkan bahwa indeks desentralisasi fiskal kabupaten sampang dan sumenep masih rendah sekali (kurang dari 25%). (3) Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah Kabupaten Sampang pada tahun 2007 dan 2008 termasuk dalam kategori rendah sekali yaitu 9,65%, dan Kabupaten Sumenep pada tahun 2007 dan 2008 juga termasuk dalam kategori rendah sekali yaitu 13,03%. Sehingga berdasarkan hasil diatas maka Daerah Kabupaten Sampang dan Sumenep belum bisa dikatakan mandiri. Kata Kunci : Pendapatan Asli Daerah, Indeks Desentralisasi Fiskal, dan Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah Kabupaten Sampang dan Sumenep. xii

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan nasional erat kaitannya dengan usaha untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Pembangunan nasional pada hakikatnya merupakan suatu proses perubahan yang terencana dari situasi nasional tertentu menuju situasi nasional yang diharapkan. Oleh Karena itu pemerintah dan semua warga Negara dituntut untuk bergerak bersama-sama, saling menunjang, saling melengkapi, dan mengisi dalam pelaksanaan pembangunan nasional. Pemerintah dan masyarakat juga mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama dalam pencapaian pembangunan nasional. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator dalam parameter perkembangan ekonomi. Parameter ini memiliki empat isu strategis, yaitu peningkatan pendapatan masyarakat dan daerah, investasi, kesempatan kerja, serta suprastruktur dan infrastruktur ekonomi. Usaha untuk meningkatkan pendapatan daerah dapat dilihat dari beberapa besar kemampuan dari keuangan daerah masing-masing untuk membiayai kebutuhan pembiayaan pembangunan daerah tersebut pada periode tertentu. Dari keberhasilan pembangunan daerah tersebut nantinya dapat diketahui seberapa besar kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). (Mariman, 2005:54) Praktek internasional desentralisasi fiskal baru dijalankan pada 1 Januari 2001 berdasarkan UU RI No. 25 tahun 1999 yang disempurnakan 1

2 dengan UU RI No. 33 tahun 2000 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Prinsip dasar pelaksanaan desentralisasi fiskal di Indonesia adalah Money Follows Functions, yaitu fungsi pokok pelayanan publik didaerahkan, dengan dukungan pembiayaan pusat melalui penyerahan sumber-sumber penerimaan kepada daerah. Dengan diberlakukannya UU tersebut diatas, maka ada tiga bentuk desentralisasi yang berlaku di Indonesia yaitu: 1) devolusi, yaitu dalam bentuk penyerahan otonomi dan kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah yaitu kabupaten termasuk pengaturan anggaran dalam semua bidang kecuali dalam bidang kebijakan internasional, pertahanan dan keamanan, hukum, fiskal dan moneter, serta keagamaan, 2) dekonsentrasi, yaitu pelimpahan kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah provinsi atau pembantu pemerinta pusat yang lain, 3) tugas pembantu. Dengan demikian, hubungan antara kabupaten dan provinsi pada masa orde baru bersifat vertikal, pada masa desentralisasi bersifat horizontal. Keduanya berada pada posisi yang setara, namun tetap berada pada jalur perundang-undangan yang telah ditetapkan.(waluyo, 2007:2) Di dalam pelaksanaan otonomi daerah akan lebih banyak eksperimen dan inovasi dalam bidang administrasi dan ekonomi yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah. Karena banyak daerah yang ditunjuk sebagai daerah otonom, akan banyak pula sistem maupun mekanisme administrasi daerah yang berbeda-beda. Kinerja dari keuangan daerah yang dikelola oleh pemerintah daerah menjadikannya tolak ukur keberhasilan dalam menjalankan

3 roda pemerintahan dalam suatu periode waktu tertentu. Kinerja keuangan daerah dilihat dari bagai mana daerah itu dalam mengelola keuangan daerahnya dalam membiayai penyelenggaraan pembangunan daerah. Semakin berkurangnya kontribusi dan intervensi pemerintah pusat kepada pemerintah daerah menjadi tujuan utama dari pelaksanaan otonomi daerah. Sehingga dapat dikatakan bahwa indikator dari otonomi daerah adalah besarnya kontribusi PAD terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Analisis yang digunakan untuk melihat kinerja keuangan daerah dari sisi penerimaan dinamakan indeks desentralisasi fiskal, sedangkan dari sisi pengeluaran dinamakan tingkat kemandirian keuangan daerah. Kemudian kepekaan PAD terhadap PDRB dihitung dengan elastisitas Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Selain itu kinerja keungan daerah dapat dilihat dengan melihat upaya atau posisi fiskal daerah yaitu dengan melihat dari besarnya, Kebutuhan Fiskal Daerah yang dihitung dengan menghitung Indeks Pelayanan Publik per Kapital (IPPP) dan Kapital Fiskal Daerah (FC/Fiscal Capacity).(Djoko, 2004:34) Pemberian hak otonomi ini juga berkaitan dengan hak untuk mengambil dan mengelola dana yang berasal dari pendapatan daerah. Masalah-masalah keuangan yang dihadapi oleh daerah berkisar pada usaha peningkatan pendapatan dan juga berkenaan dengan pengeluaran dana untuk memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat di daerah agar dapat melaksanakan pembangunan daerah. Fungsi utama pelaksanaan otonomi daerah adalah bagai mana suatu daerah dapat mengurangi ketergantungan dan campur tangan

4 pemerintah pusat. Oleh karena itu, setiap daerah berupanya senantiasa dapat membiayai sendiri penyelenggaraan rumah tangga pemerintahannya melalui penggalian sumberdana dari potensi-potensi daerah sebagai sumber pembiayaan pembangunan. Adanya sarana infrastruktur yang baik akan semakin mempercepat pertumbuhan ekonomi suatu daerah. (Riwu, 2005:35) Atas dasar pernyataan tersebut maka dapat dikatakan bahwa pembangunan daerah adalah suatu upaya untuk meningkatkan kualitas hidup keseluruh daerah sebagai suatu kesatuan wilayah kehidupan setiap individu anggota masyarakat karena pelaksanaan pembangunan nasional, berada di daerah-daerah, maka rencana pembangunan daerah merupakan bagian dari kerangka umum pola pembangunan nasional oleh karenanya landasan serta tujuan yang terdapat didalam rencana pembangunan nasional dan daerah haruslah saling menunjang. Kabupaten Sampang dan Sumenep merupakan salah satu daerah tingkat II di Indonesia juga diberi hak otonomi yaitu mengatur dan mengurus rumah tangga intern daerah yang bersangkutan. Dengan demikian kabupaten tersebut merupakan daerah otonomi yaitu kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas wilayah tertentu yang berhak, wewenang dan kewajiban yang mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Persatuan Republik Indonesia, sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Total Penerimaan Daerah yang terdapat dalam APBD Kabupaten Sampang tahun 2007 dan 2008, secara garis besar meliputi : PAD, dana

5 perimbangan, serta bagian lain-lain penerimaan yang sah ditambah dengan pembiayaan penerimaan. Pendapatan asli daerah (PAD) kabupaten Sampang mengalami peningkatan pada tahun 2007 dan 2008 yaitu sebesar Rp 19.617.722.793,98 juta menjadi Rp 25.280.747.941,59 juta. Dana BHPBP mengalami peningkatan dari tahun 2007 dan 2008 sebesar Rp 41.883.211.871,78 juta menjadi sebesar Rp 50.444.281.611,14 juta. Dana perimbangan yang terdiri dari Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK) mengalami peningkatan pada tahun 2007 dan 2008 yaitu sebesar Rp 361.001.000.000,00 juta menjadi Rp 414.758.000.000,00 juta. Komposisi pembiayaan kabupaten sampang pada tahun 2007 dan 2008 adalah sebesar Rp 54.215.243.006,95 juta dan Rp 30.948.703.245,66 juta. Pengeluaran total daerah dalam APBD Kabupaten Sampang tahun 2007 dan 2008 secara garis besar meliputi : belanja operasi, belanja modal, belanja tidak terduga, dan transfer ditambah pembiayaan pengeluaran. Total Belanja Kabupaten Sampang pada tahun 2007 dan 2008 adalah sebesar Rp 383.665.741.646,81 juta dan Rp 478.640.637.539,07 juta yang akan ditambah dengan pengeluaran pembangunan yang akan menjadi pengeluaran total. Pengeluaran total pada tahun 2007 dan 2008 mengalami penurunan yaitu sebesar Rp 575.189.140.223,67 juta pada tahun 2007 menjadi Rp 484.588.852.517,07 juta pada tahun 2008. Total Penerimaan Daerah yang terdapat dalam APBD Kabupaten Sumenep tahun 2007 dan 2008, secara garis besar meliputi : PAD, dana perimbangan, serta lain-lain pendapatan yang sah ditambah dengan

6 penerimaan pembiayaan. Pendapatan asli daerah (PAD) kabupaten Sumenep mengalami peningkatan pada tahun 2007 dan 2008 sebesar Rp 41.566.027.660 juta menjadi Rp 42.795.564.000 juta. Dana BHPBP mengalami penurunan dari tahun 2007 dan 2008 sebesar Rp 120.635.165.361 juta menjadi sebesar Rp 118.246.572.000 juta. Dana perimbangan yang terdiri dari Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK) mengalami peningkatan pada tahun 2007 dan 2008 yaitu sebesar Rp 502.889.000.000 juta menjadi Rp 562.501.665.000 juta. Komposisi pembiayaan kabupaten Sumenep pada tahun 2007 dan 2008 adalah sebesar Rp 200.785.787.541 juta dan Rp 153.287.240.000 juta. Pos pembiayaan digunakan untuk menutupi defisit anggaran atau untuk memanfaatkan surplus anggaran. Pengeluaran total daerah dalam APBD kabupaten Sumenep tahun 2007 dan 2008 secara garis besar meliputi : belanja tidak langsung, belanja langsung, ditambah pembiayaan pengeluaran. Total Belanja Kabupaten Sumeneppada tahun 2007 dan 2008 adalah sebesar Rp 664.511.568.933 juta dan Rp 913.381.365.000 juta yang akan ditambah dengan pengeluaran pembangunan yang akan menjadi pengeluaran total daerah. Pengeluaran total daerah pada tahun 2007 dan 2008 mengalami peningkatan yaitu sebesar Rp 685.504.389.610 juta pada tahun 2007 menjadi Rp 947.367.350.000 juta pada tahun 2008. Maka selanjutnya akan dipaparkan kondisi dan kemampuan keuangan daerah kabupaten Sampang dan Sumenep dalam melaksanakan otonomi daerah pada tahun 2007 dan 2008, oleh karena itu penulis melakukan penelitian dengan

7 judul Analisis Indeks Desentralisasi Fiskal Kabupaten Sampang dan Sumenep (Periode 2007 dan 2008). 1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas maka dapat dikemukakan perumusan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana kontribusi PAD Kabupaten Sampang dan Sumenep terhadap keuangan daerah? 2. Seberapa besar Indeks desentralisasi fiskal Kabupaten Sampang dan Sumenep? 3. Seberapa besar tingkat kemandirian keuangan daerah Kabupaten Sampang dan Sumenep? 1.3 Tujuan Penelitian Secara garis besar penelitian ini memiliki beberapa tujuan, adapun tujuan-tujuan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui kontribusi PAD Kabupaten Sampang dan Sumenep terhadap keuangan daerah. 2. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan indek desentralisasi fiskal Kabupaten Sampang dan Sumenep. 3. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan tingkat kemandirian keuangan daerah Kabupaten Sampang dan Sumenep.

8 1.4 Manfaat penelitian Adapun manfaat yang diperoleh dan diharapkan dalam penelitian atau penulisan ini adalah : 1. Manfaat ilmiah, sebagai bahan wacana bagi pengembangan khasanah ilmu ekonomi khususnya ilmu ekonomi. Serta dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi penelitian yang akan dilaksanakan selanjutnya. 2. Manfaat kebijakan, sebagai acuan yang dapat menambah dan memantapkan teori-teori ekonomi, diharapkan penelitian ini dapat memberikan gambaran mengenai kemampuan keuangan daerah Kabupaten Sampang dan Sumenep kepada pemerintah Kabupaten setempat dalam melaksanakan otonomi daerah yang lebih baik, dan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah Kabupaten Sampang dan Sumenep dalam mengambil kebijakan yang terkait dengan kinerja keuangan daerah.