KEADAAN UMUM WILAYAH STUDI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. Permasalahan Pajak Lahan

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi

IV. KEADAAN UMUM 4.1. Regulasi Penataan Ruang

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Propinsi Lampung. Kabupaten Lampung Tengah terletak pada

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN SUKABUMI. Administrasi

GAMBARAN UMUM KOTA TANGERANG SELATAN

III. GAMBARAN UMUM. 3.1 Cikarang dalam RTRW Kabupten Bekasi (Perda No 12 Tahun 2011 Tentang RTRW Kabupaten Bekasi Tahun )

PETA SUNGAI PADA DAS BEKASI HULU

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM. Secara astronomi, Kota Depok terletak pada koordinat 6 o sampai

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah

PENDAHULUAN. Lahan merupakan faktor input penting dalam berbagai aktivitas ekonomi

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

KEADAAN UMUM. Gambaran Umum Kota Depok

BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM A. Gambaran Umum Daerah 1. Kondisi Geografis Daerah 2. Kondisi Demografi

KONDISI UMUM. Sumber: Dinas Tata Ruang dan Pemukiman Depok (2010) Gambar 12. Peta Adminstratif Kecamatan Beji, Kota Depok

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN. Secara Geografis Kota Depok terletak di antara Lintang

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH

BAB IV GAMBARAN UMUM

IV. KONDISI UMUM WILAYAH

IV. KONDISI UMUM PENELITIAN

BAB IV KONDISI UMUM WILAYAH

No Kawasan Andalan Sektor Unggulan

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB II KELURAHAN TUGU SEBAGAI SENTRA BELIMBING. Letak geografis Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM. 5.1 Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Karawang. Kabupaten Karawang merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

ANALISIS SITUASI DAN KONDISI KABUPATEN BOGOR

BAB IV KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. KEADAAN UMUM WILAYAH

PENDAHULUAN Latar Belakang

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 -

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 3 TINJAUAN WILAYAH

28 antara 20º C 36,2º C, serta kecepatan angin rata-rata 5,5 knot. Persentase penyinaran matahari berkisar antara 21% - 89%. Berdasarkan data yang tec

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi

BAB III Data Lokasi 3.1. Tinjauan Umum DKI Jakarta Kondisi Geografis

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB V GAMBARAN UMUM. Secara visualisasi wilayah administrasi dapat dilihat dalam peta wilayah Kabupaten Lebak sebagaimana gambar di bawah ini

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB 3 KARAKTERISTIK LOKASI PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Administrasi

KEADAAN UMUM WILAYAH

V GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

PENJELASAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SRAGEN TAHUN

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM. Kota Bogor mempunyai luas wilayah km 2 atau 0.27 persen dari

GAMBARAN UMUM WILAYAH. berada di Kabupaten Bogor. Kecamatan Cibinong adalah salah satu perangkat

BAB III TINJAUAN KOTA BEKASI

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penggunaan lahan di Kabupaten Serang terbagi atas beberapa kawasan :

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banyuasin

IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

Tabel 7. Luas wilayah tiap-tiap kabupaten di Provinsi Jawa Barat. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB V KESIMPULAN. wilayahnya yang sebelumnya berbasis agraris menjadi Industri. Masuknya Industri

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Letak Geografis. 08º00'27" Lintang Selatan dan 110º12'34" - 110º31'08" Bujur Timur. Di

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Menunggu Jalur Lintas Selatan Pulau Jawa Menjadi Kenyataan

BAB IV GAMBARAN UMUM

GAMBARAN UMUM LOKASI

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH KABUPATEN BOGOR

PEMERINTAH KABUPATEN ASAHAN SEKRETARIAT DAERAH Jalan Jenderal Sudirman No.5 Telepon K I S A R A N

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG NOMOR 21 TAHUN 2009 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN JOMBANG

BAB IV GAMBARAN WILAYAH STUDI

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH

BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi

PROFIL KABUPATEN / KOTA

BAB IV GAMBARAN LOKASI

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung.

ARAHAN PENGEMBANGAN PUSAT PERTUMBUHAN WILAYAH PENGEMBANGAN IV KABUPATEN BEKASI ABSTRAK

3.2 Alat. 3.3 Batasan Studi

BAB IV TINJAUAN TERMINAL TIPE B DI KAWASAN STASIUN DEPOK BARU

Sistematika Rancangan Peraturan Presiden tentang RencanaTata Ruang Pulau/Kepulauan dan RencanaTata Ruang Kawasan Strategis Nasional

III. METODE PENELITIAN. kota Bandar Lampung. Kecamatan kemiling merupakan kecamatan hasil

IV. KONDISI UMUM KAWASAN INDUSTRI CILEGON

Click to edit Master title style

GAMBARAN UMUM PROPINSI KALIMANTAN TIMUR. 119º00 Bujur Timur serta diantara 4º24 Lintang Utara dan 2º25 Lintang

V. GAMBARAN UMUM. Desa Lulut secara administratif terletak di Kecamatan Klapanunggal,

GAMBARAN UMUM SWP DAS ARAU

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PROFIL SANITASI SAAT INI

Transkripsi:

44 KEADAAN UMUM WILAYAH STUDI Kabupaten Bogor merupakan wilayah dari Provinsi Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Provinsi Banten dan bagian dari wilayah Jabodetabek. Secara geografis, Kabupaten Bogor terletak pada koordinat 6 19 LS ~ 6 47 LS dan 106 21 BT ~ 107 13 BT. Ibukota kabupaten terletak di Cibinong. Menurut analisis data spasial yang dikeluarkan oleh Bappeda Kabupaten Bogor (1997), luas wilayah Kabupaten Bogor adalah 299.197 Ha. Kabupaten Bogor terdiri dari 40 kecamatan dengan 426 desa/kelurahan, 3 287 RW, dan 12 672 RT serta 674 320 rumah tangga yang terdaftar dalam registrasi. Dari jumlah desa tersebut dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu desa kota dan desa perdesaan yang masing-masing berjumlah 192 dan 234 desa. Kabupaten Bogor terletak pada ketinggian berkisar antara 50 m ~ 3000 m diatas permukaan laut dengan topografi yang beragam, mulai dari yang landai sampai dengan yang bertopografi berat. Wilayah Kabupaten Bogor dilalui oleh sungaisungai besar dan kecil yang semuanya berjumlah 339 buah, terdapat 122 buah situ dan 63 buah mata air (BPS, Kabupaten Bogor 2005). Jumlah penduduk di Kabupaten Bogor hingga akhir 2005 tercatat 3 438 055 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebanyak 1 742 653 jiwa dan perempuan sebanyak 1 695 402 jiwa, dengan kepadatan penduduk rata-rata sebanyak 1 427 jiwa per km². Tingkat kepadatan penduduk per kecamatan di Kabupaten Bogor sangat bervariasi dari yang relatif rendah yaitu di Kecamatan Sukamakmur (457 jiwa per km²) dan kepadatan tertinggi di Kecamatan Bojong Gede (4 767 jiwa per km²). Dalam konteks regional Bodetabek-Puncur, Kabupaten Bogor memiliki fungsi dan peranan sebagai daerah konservasi air dan tanah sehingga dikategorikan sebagai sebagai kawasan yang mepunyai nilai strategis yaitu sebagai kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya bagi wilayah Daerah Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

45 Kabupaten Bogor sebagai salah satu hinterland Jakarta, telah berkembang menjadi daerah limpahan Jakarta pada sektor permukiman dan industri. Perkembangan tersebut telah pula mengancam keberadaan fungsi Kabupaten Bogor sebagai daerah konservasi air dan tanah (Kepres 114 tahun 1999, tentang Penataan Ruang Kawasan BOPUNCUR, secara tegas menyatakan bahwa kawasan Bopuncur sebagai kawasan konservasi air dan tanah). Hal tersebut diatas menjadi kendala bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor dalam pengelolaan maupun pengendaliannya, khususnya dalam pengelolaan kawasan yang berfungsi lindung (kawasan hutan lindung). Dalam upaya mempertahankan fungsi utama kawasan dan eksistensi dari satu kawasan, pemanfaatan sumberdaya alam di wilayah Kabupaten Bogor yang dituangkan dalam Perda No 17 tahun 2000, tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bogor, merupakan derifative dari Kepres 114/1999. Dengan memperhatikan aspek perlindungan lingkungan, kebijakan perwilayah di Kabupaten Bogor dapat dilihat pada Tabel 8 berikut. Tabel 8 Kebijakan perwilayahan di Kabupaten Bogor WILAYAH BARAT WILAYAH TIMUR WILAYAH TENGAH STRATEGI PEMBANGUNAN Percepatan pembangunan dalam rangka keseimbangan pembangunan antar wilayah, melalui Investasi Pemerintah Pemberian Insentif dan Kemudahan Perijinan. ARAH PEMBANGUNAN Agroindustri & Agribisnis Intensifikasi & Ekstensifikasi pertanian Agrowisata & Ekowisata Sarpras Perhubungan ke sentra produksi & daerah tertinggal / terisolir Perkebunan Inti Rakyat Pelestarian daerah resapan air STRATEGI PEMBANGUNAN Pemantapan Pembangunan dalam rangka keseimbangan pembangunan antar wilayah, melalui Keseimbangan investasi Pemerintah, dan Masyarakat Optimalisasi Pertanian lahan basah & lahan kering ARAH PEMBANGUNAN Permukiman Industri Manufaktur dan Jasa Perdagangan Diversifikasi Pertanian. Pariwisata - Ekowisata Sarpras Produksi, Koleksi & Distribusi. Sarpras perhubungan kesentra produksi, daerah tertinggal / terisolir STRATEGI PEMBANGUNAN Pengendalian Pembangunan dalam rangka keseimbangan pembangunan antar wilayah, melalui : Pemanfaatan SDA & Lingkungan yg berkelanjutan Pengendalian alih fungsi lahan Optimalisasi peran serta Masyarakat dalam pembiayaan pembangunan ARAH PEMBANGUNAN Permukiman, Industri, Pariwisata. Kegiatan Jasa & Perdagangan (retail & regional) Peran serta masyarakat dalam pengelolaan Sarpraswil Sarana & prasarana produksi, koleksi & distribusi Pelestarian daerah resapan air

Gambar 8 Peta perwilayahan Kabupaten Bogor 46

47 Kecamatan Cibinong Secara geografis Kecamatan Cibinong merupakan bagian wilayah dari Kabupaten Bogor yang terletak antara 106 52 34-106 52 34 Bujur Timur dan 6 26 2-6 31 52 Lintang Selatan. Terdiri dari 3 kelurahan dan 9 desa, sebelah Utara berbatasan dengan 3 kecamatan Kota Depok yaitu Kecamatan Pancoran Mas, Kecamatan Sukmajaya dan Kecamatan Cimanggis. Sedangkan di sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Bojong Gede, sebelah Selatan berbatasan dengan 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Semplak dan Kedung Halang dan sebelah Timur berbatasan dengan 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Gunung Putri dan Kecamatan Citeureup. Berdasarkan batas wilayah dan perkembangannya, Kota Cibinong diapit oleh 2 (dua) buah Kota yang lebih dahulu berkembang, yaitu Kota Bogor (Selatan Cibinong) dan Kota Depok (Utara Cibinong). Kondisi tersebut, Kota Cibinong seolah terjepit antara dua pusat kegiatan yang mempunyai daya tarik (pelayanan wilayah) yang tinggi terhadap wilayah sekitarnya termasuk perkotaan Cibinong, yang pada akhirnya Kota Cibinong dapat mengembangkan fungsi-fungsi perkotaan yang seharusnya terdapat di kota ini. Gambar 9 Gapura selamat datang dan Sungai Ciliwung di Kota Cibinong Dari peta topografi, daerah Cibinong berada pada ketinggian 100 200 meter di atas permukaan laut. Sedangkan jenis tanah di Kecamatan Cibinong adalah Latosol dan jenis batuannya adalah batuan Sedimen Plistosen. Pada tahun 2005,

48 jumlah penduduk di kecamatan Cibinong 247 135 jiwa, dengan kepadatan rata-rata 5.816 jiwa/km² (lihat Gambar 8). Berdasarkan data statistik dalam kurun waktu 2000 2005, secara umum laju pertambahan penduduk di Kecamatan Cibinong 4,6 % per tahun. Tabel 9 Jumlah penduduk di Kecamatan Cibinong tahun 2005 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Kelurahan /Desa Keradenan Nanggewer Ngw. Mekar Cibinong Pakansari Sukahati Tengah Pondok Rajeg Harapan Jaya Pabuaran Cirimekar Ciriung Jumlah Penduduk (Jiwa) 23.163 20.355 11.529 28.348 21.597 17.211 17.279 9.733 13.725 50.442 11.591 22.162 Luas (km²) Kepadatan (Jiwa/km²) 4.04 3.66 2.53 4.71 5.22 4.69 3.26 2.04 2.65 4.25 1.72 3.72 5.733 5.561 4.556 6.018 4.137 3.669 5.300 4.771 5.179 11.86 6.738 5.957 247.135 42.49 5.816 Sumber: BPS Kabupaten Bogor, Tahun 2006 Mata pencaharian penduduk di Kecamatan Cibinong yang paling dominan adalah pada sektor industri yang mencapai 36 % sedangkan sektor pertanian hanya 9,75 %, dengan demikian kegiatan ekonomi masyarakat berbasis industri. Lihat Tabel 10 dan Gambar 9. Pokok atau ketetapan PBB adalah jumlah pajak terhutang yang dikenakan pada wajib pajak. Pokok PBB ini ditetapkan setiap awal tahun ketiga oleh Kantor Pelayanan PBB Bogor sesuai dengan nilai jual obyek pajak yang dimilikinya. Berdasarkan pokok atau ketetapan PBB ini dikeluarkan Surat Pemberitaan Pajak Terhutang (SPPT) kepada wajib pajak. Pokok PBB bukan merupakan realisasi penerimaan PBB di Kabupaten Bogor, melainkan hanya merupakan status ketetapan dikeluarkannya oleh Kantor Pelayanan Pajak setempat kepada seluruh wajib pajak yang ada di Kotamadya Bandung. Pada Tabel 11 dapat dilihat penerimaan PBB di Kecamatan Cibinong yang dikaitkan dengan jumlah wajib pajak

Gambar 8 Peta kepadatan penduduk per desa/kelurahan di Kecamatan Cibinong tahun 2006 49

50 dan jumlah kepala keluarga. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa pokok pajak yang ditetapkan di Kecamatan Cibinong cenderung mengalami peningkatan antara tahun 2003-2004. Peningkatan tersebut disebabkan oleh adanya peningkatan NJOP, yang diakomodasikan setiap tiga tahun sekali dalam klasifikasi NJOP berdasarkan SK Kepala Kantor Wilayah IV Dirjen Pajak Jawa Barat. Tabel 10 Jumlah rumah tangga menurut jenis pekerjaan utama tahun 2005 Di Kecamatan Cibinong No. Bidang Pekerjaan Jumlah Rumah tangga Persentase 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Pertanian Pertambangan, Penggalian Industri Listrik, Gas, Air Konstruksi Perdagangan, Hotel, Restoran Angkutan Lembaga Keuangan Jasa-jasa Lain-lain 8 400 538 31 209 815 3 776 12 833 5 265 738 14 072 8 486 9,75 0,62 36,0 0,94 4,38 14,89 6,11 0,85 16,33 10,13 86 132 100.00 Sumber : BPS Kabupaten Bogor, 2005 Lain-lain (9,8%) Pertanian( 9,7%) Jasa-jasa (16,3%) Pertambangan ( 0,6%) Lemb. Keuangan (0,8%) Industri (36,2%) Angkutan (6,1%) Perdagangan (14,8%) Listrik, Gas, Air (0,9%) Konstruksi (4,3%) Gambar 9 Komposisi jenis pekerjaan utama di Kecamatan Cibinong tahun 2005

51 Tabel 11 Perkembangan penerimaan pajak bumi dan bangunan di Kecamatan Cibinong tahun 2000 2005 Tahun JumlahWajib Pajak (orang) Penerimaan PBB (Rp) Jumlah KK 2 000 28 988 597 356 565 38 847 2 001 34 565 545 708 849 40 349 2 002 36 779 663 788 242 41 144 2 003 37 716 671 941 820 43 470 2 004 39 970 782 866 912 43 817 2 005 41 515 794 504 947 49 399 Sumber: Kantor Dinas Pajak Bogor, 2006 Secara diagram perkembangan dari jumlah penerimaan PBB dan penerimaan pajak selama 5 tahun terakhir cenderung mengalami peningkatan. Ilustrasi dapat dilihat pada Gambar 10. 100,000 80,000 60,000 40,000 20,000 Penerimaan Pajak (Rp) Jumlah wajib pajak (KK) - 2 000 2 001 2 002 2 003 2 004 2 005 tahun Gambar 10 Perkembangan jumlah wajib pajak dan penerimaan pajak di Kecamatan Cibinong tahun 2000-2005

52 Dalam kebijaksanaan pengembangan Jabodetabek, Kota Cibinong terletak pada zona IV. Dimana zona IV di arahkan pada pengembangan terbatas dan pertanian lahan kering. Sehubungan dengan konteks kebijaksanaan Jabotabek tersebut, terdapat tiga fungsi utama Kota Cibinong, yaitu : 1. Penyangga bagi DKI Jakarta, berupa pengembangan pemukiman perkotaan sebagai bagian dalam sistem Metropolitan Jabotabek. 2. Konservasi, berkenaan kondisi geografisnya di bagian hulu dan sebagai kawasan resapan dalam tata air untuk Metropolitan Jabotabek. 3. Pengembangan pertanian khususnya hortikultura, sehubungan dengan perkembangan dan keunggulan yang telah ada, yang selanjutnya makin dipacu. Berdasarkan Keputusan Presiden No. 114 Tahun 1999 tentang Penataan Ruang Kawasan Bogor - Puncak - Cianjur, Kota Cibinong (Kecamatan Cibinong, Citeureup dan Kecamatan Bojonggede) bersama 16 kecamatan lainnya yang berada dalam wilayah penataan kawasan Bopunjur dijadikan kawasan konservasi air dan tanah. Berdasarkan revisi RDTRK tahun 2005 diketahui arahan pengembangan struktur Kota Cibinong dilakukan dengan menggunakan konsep kota taman (Garden City) dengan dasar-dasar sebagai berikut : 1. Pusat kota dikembangkan di wilayah pusat kota dengan kegiatan utama adalah pusat pemerintahan Kabupaten Bogor, pusat perkantoran serta perdagangan dan jasa sebagai pelengkap. 2. Akses ke pusat kota ditingkatkan (dibangun) untuk membentuk sirkulasi yang efisien dari pusat kota menuju seluruh penjuru wilayah kota dan hinterlandnya, serta sebaliknya. 3. Kegiatan industri polutan rendah diletakkan di bagian timur wilayah kota dan memperoleh akses regional yang cukup tinggi (dekat dengan arteri primer dan jalan Tol Jagorawi). Perkembangan industri dibatasi dengan mempertahankan industri yang telah ada.

53 4. Antara kawasan lokasi industri dengan kawasan di sekitarnya ditetapkan buffer zone untuk menjaga kualitas lingkungan di sekitarnya. 5. Kegiatan permukiman kota diarahkan untuk menyebar di semua wilayah kota. 6. 20% wilayah kota dimanfaatkan untuk ruang-ruang terbuka hijau kota yang berupa: badan air, ruang terbuka, taman kota, jalur hijau, lapangan olah raga, sempadan sungai dan situ, dan areal pemakaman. 7. Membentuk green belt kota di batas-batas alam (sungai pembatas kota) yang masih dimungkinkan dibangun hutan kota atau dengan taman produksi. Lebih jelasnya mengenai arahan pemanfataan ruang di Kecamatan Cibinong dapat dilihat pada Tabel 12 dan Gambar 11. Tabel 12 Alokasi rencana pemanfaatan lahan di Kec. Cibinong 2015 Kelurahan/ Desa Luas (Ha) Sawah Perkantoran dan Perdagangan Arahan Penggunaan Lahan (Ha) Badan Air Industri Kebun Campuran Perumahan Taman Pemekaman umum Karadenan 409 129 2 24-37 211 2 6 Nangewer 366 65 1 9-217 58 2 15 Nangewer Mekar 253 42 1.5 4 110 12 71 1 13 Cibinong 475 71 25.9 109.4 95 121 46.7 2 3 Pakansari 522 234-47 82 61 75 5 18 Sukahati 499 85-23 60 116 200 2 13 Tengah 326 4 3.5 22.6 86.9 70 83-56 Pondok Rajeg 231 64-12 - 13 106 3 33 Harapan Jaya 265 8-10 - 55 134 3 56 Pabuaran 425 20-22 - 115 220 12 58 Cirimekar 182 20 - - - 113 4 45 Ciriung 382 31 2.5 107.3 150 49 27.2 10 6 Jumlah 4335 773 36.4 390.3 583.9 817 1344.9 46 322 Sumber: RDTRK Cibinong, 1998-2008 Lainnya

Gambar 11 Peta arahan pemanfaatan ruang di Kecamatan Cibinong 12005-2015 54

55 Kecamatan Cileungsi Kecamatan Cileungsi berada di bagian timur Kabupaten Bogor dengan jarak kurang lebih 10 km dari ibukota kabupaten yang terdiri dari 12 desa/kelurahan, 128 RW dan 431 RT dengan luas lahan terakhir sebesar + 7.327 ha. Kecamatan Cileungsi terletak pada jalur lintasan yang menghubungkan dua kota besar, yaitu Kota Jakarta dan Bandung melalui Jonggol dan Cianjur. Selain itu Kecamatan Cileungsi juga berada pada lintasan jalan yang menghubungkan Kota Bogor dengan Kota Bekasi. Dengan demikian Kecamatan Cileungsi merupakan lintasan kendaraan angkutan regional yang menghubungkan kota-kota tersebut dengan frekuensi yang cukup tinggi, terutama setiap akhir pekan dan hari libur. Pada kedua jalur juga sangat potensial untuk berkembangnya berbagai kegiatan terutama kegiatan perdagangan dan jasa. Demikian juga keberadaan obyek wisata agro Taman Buah Mekar Sari yang terletak pada jalur Jalan Raya Jonggol akan mampu memberikan kontribusi terhadap tumbuh dan berkembangnya kegiatan jasa dan perdagangan di wilayah ini. Sebagian besar wilayah perencanaan mempunyai kelas kemiringan lahan yang berkisar antara 0% - 8%, dengan ketinggian hingga 400 m dari permukaan laut. Dari kelas lereng tersebut sebagian besar (80,05%) termasuk dalam kelas lereng datar, yaitu 0% - 3% yang menyebar di seluruh wilayah perencanaan. Lahan dengan kemiringan antara 3% 8% sebesar 12,80% menyebar di sebelah barat wilayah perencanaan ke arah Sungai Cileungsi. Sedangkan lahan dengan kemiringan > 8% terletak di sepanjang bantaran Sungai Cileungsi dengan luasan sebesar 7,15 %. Dengan kondisi kelas lereng tersebut, berarti wilayah perencanaan sebagian besar wilayahnya berpotensi untuk pengembangan kegiatan perkotaan, baik untuk permukiman, perdagangan dan jasa, serta industri.

56 Gambar 12 Kondisi lalu lintas di jalan layang Cileungsi serta kebun bambu yang banyak terdapat di Kecamatan Cileungsi Seiring dengan perkembangan kegiatan penduduk di Kecamatan Cileungsi yang mengarah ke sektor non-pertanian, penggunaan lahan untuk pertanian mulai berkurang. Hal ini dapat dilihat di sepanjang koridor jalan-jalan utama yang mengarah ke Kota Cileungsi, dimana penggunaan lahan untuk pertanian telah berubah fungsi menjadi perumahan ataupun perdagangan. Perubahan seperti ini terjadi akibat perkembangan kegiatan yang terjadi di Kawasan Perkotaan Cileungsi seperti perkantoran, kegiatan pemerintahan, dan perdagangan yang sangat pesat. Jumlah penduduk Kecamatan Cileungsi pada tahun 2003 tercatat 141.096 jiwa. Jumlah penduduk tertinggi terdapat di Desa Cileungsi Kidul dan Desa Limus Nunggal. Jumlah penduduk terendah ditemui di Desa Jatisari dan Cipenjo, masing masing sebesar 4,2% dan 4% dari jumlah penduduk kecamatan. Kepadatan penduduk kecamatan Cileungsi rata-rata sebesar 1.970 jiwa/km². Kepadatan penduduk tertinggi ditemui di Desa Cileungsi (3.748 jiwa/km2) dan Cileungsi Kidul (3.106 jiwa/km²). Kepadatan penduduk terendah ditemui di Desa Cipenjo (1.135 jiwa/km²) dan Mekarsari (1.174 jiwa/km²), lihat Gambar 13.

57 Tabel 13 Jumlah penduduk di Kecamatan Cileungsi tahun 2005 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Desa Jumlah Penduduk (jiwa) Luas (km²) Kepadatan (jiwa/km²) Dayeuh 18.985 11.84 1.603 Mampir 9.897 6.01 1.646 Setu Sari 8.548 6.28 1.361 Cipeucang 9.417 4.4 2.140 Jati Sari 6.871 4.68 1.468 Gandoang 10.877 6.4 1.699 Mekar Sari 12.794 5.73 2.232 Cileungsi Kidul 21.322 6.22 3.427 Cileungsi 18.305 4.35 4.208 Limus Nunggal 25.425 7.15 3.555 Pasir Angin 16.147 5.78 2.793 Cipenjo 8.575 4.91 1.746 TOTAL 167.163 73.75 2.266 Sumber: BPS Kabupaten Bogor, Tahun 2006 Jenis pekerjaan utama yang menyerap tenaga kerja di Kecamatan Cileungsi adalah perdagangan, hotel dan jasa terutama yang berada di Desa Cileungsi dan Desa Mampir menyerap tenaga kerja masing-masing sebanyak 3.143 jiwa dan 2.405 jiwa. Fenomena perkembangan sektor perdagangan dan jasa berlaku bagi kota berkembang seperti pada Cileungsi ini. Sedangkan sektor industri terutama tersebar pada Desa Cileungsi dan Desa Mekarsari yang menyerap tenaga kerja sekitar 5.714 jiwa dan 1.425 jiwa, hal ini dapat dipahami karena di Kecamatan Cileungsi banyak berdiri pabrik-pabrik dengan jumlah kurang lebih sekitar 105 buah.

Gambar 13 Peta kepadatan penduduk per desa/kelurahan di Kecamatan Cileungsi tahun 2006 58

59 Tabel 14 Jumlah rumah tangga menurut jenis pekerjaan utama Kecamatan Cileungsi tahun 2005 No. Bidang Pekerjaan Jumlah Rumah tangga 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Pertanian Pertambangan, Penggalian Industri Listrik, Gas, Air Konstruksi Perdagangan, Hotel, Restoran Angkutan Lembaga Keuangan Jasa-jasa Lain-lain Sumber : BPS Kabupaten Bogor, 2005 Persentase 5 319 15.04 719 2.03 13 188 37.29 79 0.22 716 2.02 12 749 36.05 590 1.66 73 0.20 1 920 5.42 8 0.07 35 361 100.00 Keuangan (0,2%) Jasa 5,5%) Lain-lain Pertanian (15%) Angkutan (1,7%) Pertambangan (2%) Perdagangan (36%) Industri (37,2%) Konstruksi (2%) Listrik, Gas, Air (0,2%) Gambar 14 Komposisi jenis pekerjaan utama di Kec. Cileungsi tahun 2005 Pada Tabel 15 berikut ini dapat dilihat perkembangan dari jumlah wajib pajak, jumlah kepala keluarga. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa jumlah wajib pajak mengalami penurunan pada tahun 2000 ke 2001, hal ini disebabkan pada tahun 2000 adanya pemekaran wilayah dari Kecamatan Cileungsi menjadi 2 kecamatan

60 yaitu Kecamatan Cileungsi dan Klapanunggal. Sedangkan realisasi dari penerimaan PBB tidak mengalami penurunan, melainkan mengalami peningkatan karena pada tahun 2001 adanya kenaikan besarnya pokok PBB. Tabel 15 Perkembangan pokok pajak bumi dan bangunan di Kecamatan Ciluengsi tahun 2000 2005 Tahun JumlahWajib Pajak Terbayar (orang) Realisasi Penerimaan PBB (Rp) Jumlah KK 2 000 40 412 598 667 450 45 111 2 001 21 986 609 494 418 33 352 2 002 25 656 621 223 460 34 505 2 003 29 112 699 543 776 41 044 2 004 31 423 769 456 800 41 709 2 005 34 610 853 612 137 42 640 Sumber: Kantor Dinas Pajak Bogor 1, 2006 Secara diagram perkembangan dari jumlah penerimaan pajak dan jumlah wajib pajak selama 5 tahun terakhir dilihat pada Gambar 15. 100.0000 80.0000 60.0000 40.0000 Penerimaan pajak (Rp) Jumlah w ajib pajak (org) 20.0000 0.0000 2 000 2 001 2 002 2 003 2 004 2 005 Tahun Gambar 15 Perkembangan jumlah penerimaan pajak dan wajib pajak di Kecamatan Cileungsi thun 2000 2005

61 Pemanfaatan ruang budidaya Kecamatan Cileungsi diarahkan pada kawasan pengembangan perkotaan, kawasan permukiman perkotaan dan kawasan peruntukan indsutri. Dalam perwilayahan pengembangan Kawasan Bogor Timur, Kecamatan Cileungsi berperan sebagai Kawasan Strategis Industri Non-Polutif dan Kawasan Fungsional sebagai permukiman. Sedangkan sektor strategis yang diunggulkan adalah pertanian, perkebunan, industri dan pertambangan. Arahan pengembangan wilayah Kecamatan Cileungsi dapat dibagi menjadi 3 (tiga) Bagian Wilayah Kecamatan (BWK) untuk mengefektifkan struktur ruang yang akan terbentuk. 1. Bagian Wilayah Kecamatan (BWK) A sebagai Pusat Wilayah Kecamatan Pusat Hirarki I, terdiri dari Desa Cileungsi, Cileungsi Kidul, Mekar Sari, Mampir dan Dayeuh. Fungsi dari BWK A adalah sebagai: Berperan sebagai pusat kegiatan perdagangan dan jasa skala regional dan kecamatan Pusat pemerintahan kecamatan Pusat pengembangan agrowisata 2. Bagian Wilayah Kecamatan (BWK) B Pusat BWK memiliki fungsi sebagai Pusat Hirarki II, meliputi Desa Limus Nunggal, Pasir Angin dan Cipenjo. Fungsi dari BWK B adalah sebagai: Peran BWK B ini adalah sebagai pusat perdagangan skala BWK Pusat permukiman skala regional BWK ini memiliki peran sebagai gerbang kecamatan ke wilayah Bekasi dengan meningkatkan akses ke Bekasi Utara Selatan 3. Bagian Wilayah Kecamatan (BWK) C memiliki fungsi sebagai Pusat Hirarki III, meliputi Desa Seu Sari, Cipayung, Jatisari dan Gandoang. Fungsi lain dari BWK C adalah sebagai: sebagai pusat perdagangan skala BWK

62 Pusat pendidikan dan kesehatan skala kecamatan Pusat pengembangan pertanian lahan kering dan agrowisata Sedangkan arahan pemanfaatan lahan sesuai dengan Revisi RUTRK Cileungsi tahun 2002 2012 adalah sebagai berikut: Kawasan perumahan direncanakan menyebar ke seluruh wilayah perencanaan dan diikat oleh unsur-unsur pusat lingkungan. Perdagangan dan jasa di Jalan Narogong, yaitu antara fly over ke arah selatan sampai simpang jalan ke Gandoang. Untuk pelayanan regional berupa pertokoan dan perdagangan grosir berada di bagian depan dan skala pelayanan lokal dan perdagangan eceran di bagian belakang. Perkantoran swasta diarahkan di sepanjang jalan Camat Ejan, antara ruas jalan altenatif sampai Jalan Narogong dan Bekasi, sedangkan perkantoran pelayanan umum dan pemerintahan diarahkan di sepanjang jalan altenatif, terutama mulai dari simpang jalan ke Wanaherang (Cikarang) sampai batas wilayah perencanaan. Pelayanan sosial lokal diarahkan menyebar pada pusat-pusat permukiman sesuai dengan hirarkhinya, sedangkan fasilitas sosial dengan lingkup pelayanan regional diarahkan menyatu dengan kawasan perkantoran dan bangunan umum yaitu pada ruas jalan altenatif. Industri dan pergudangan diarahkan tetap seperti sekarang, berada dipinggir wilayah perencanaan, sedangkan pengembangan diarahkan ke luar wilayah perencanaan. Pengembangan industri baru diarahkan ke luar wilayah perencanaan seperti di Desa Limusnunggal dan Dayeuh sebagai pendukung pusat kota (wilayah perencanaan). Beberapa kegiatan industri di wilayah perencanaan yang cukup besar diantaranya dilakukan oleh PT. Samic dan PT. Bostinco. Sebagian besar lokasi industri di wilayah perencanaan berada di wilayah Desa Cileungsi Kidul, khususnya di bagian timur dan selatan wilayah desa. Dari segi aksesibilitas lokasi industri ditunjang oleh prasarana transportasi dengan kapasitas sesuai dengan volume kegiatan industri yang bersangkutan.

63 Kawasan khusus berupa Taman Buah Mekar Sari diarahkan dipertahankan sebagai obyek wisata argo dengan lokasi sebagian besar di Desa Mekarsari. Transportasi, pengembangan terminal penumpang dengan tipe C yang mempunyai peluang dikembangkan menjadi terminal tipe B diarahkan di Desa Cileungsi Kidul, yaitu pada Ruas Jalan Raya Jonggol, sedangkan pembangunan stasiun KA diarahkan belakang perumahan Duta Mekar Asri. Tabel 16 Alokasi Pemanfaatan lahan di Kecamatan Cileungsi tahun 2002-2012 Arahan Penggunaan Lahan (Ha) Kelurahan/Desa Luas (Ha) Sawah Perkantoran dan Perdagangan Badan Air Industri Kebun Campuran Perumahan Sarana Umum Kawasan Wisata Kuburan Lainnya Dayeuh 11.04 387.3 48 104 210 51.9 79 20.3 0 5.5 198 Mampir 6.01 230 20 3.7 30 99 186 19.1 0 3.2 10 Setu sari 6.28 174 2.4 103 0 223.6 48-22.7 6.5 38.8 Cipeucang 4.4 170 3 47 3 130 62 18 0 3 4 Jatisari 4.68 126 4 17 6 267.5 29.2 14.8 0 1.2 1.3 Gandoang 6.4 142 43 86.4 117 73.9 95.3 0.4 0 3 79 Mekarsari 5.73 48.8 2 89 37 96.3 81.9 1.8 226 4.5 5.7 Cileungsi Kidul 6.22 4 32 11.4 56 142.5 288.1 1.6 0 3.4 73 Cileungsi 4.35 6 3 0 9.7 0 411 1.8 0 1.5 2 Limus Nunggal 7.15 11.6 27 0 181.7 0 366 4.7 92.8 4.5 26.7 Pasir Angin 5.78 128 4.4 0 75 269.7 60 2.3 0.8 5.8 32 Cipenjo 4.91 156.3 9.7 0 0 255.4 56.8 1.7-4.1 6 Jumlah 7375 1584 198.5 461.5 725.4 1609.8 1763.3 86.5 342.3 46.2 476.5 Sumber: RUTRK Cileungsi 2002-2012

Gambar 16 Peta Arahan pemanfaatan ruang di Kecamatan Cileungsi tahun 2002 2012 64

65