KONSELING KELUARGA DENGAN MENGGUNAKAN TERAPI GESTALT

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KONSEP DASAR. Manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan.

BAB II TEKNIK KONSELING DALAM TEORI GESTALT

Fenomenologi Intuitif Carl Rogers: Psikolog (Aliran Humanisme) D. Tiala (pengampu kuliah Psikoterapi dan Konseling Lintas Budaya)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Devi Eryanti, 2013

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan

BAB I PENDAHULUAN. Stres senantiasa ada dalam kehidupan manusia yang terkadang menjadi

MODUL PERKULIAHAN. Kesehatan Mental. Kesehatan Mental yang Berkaitan dengan Kesejahketaan Psikologis (Penyesuaian Diri)

BAB II KAJIAN TEORITIS

DIPLOMA PSIKOLOGI ISLAM DAN KAUNSELING. WPK1313 Psikolgi Pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN. Seorang Guru merupakan bagian terpenting dalam proses belajar

APLIKASI KONSEP-KONSEP PSIKOANALAISIS DALAM KONSELING KELUARGA

BAB V PENUTUP. Dalam pembahasan tentang pelaksanaan Bimbingan dan Konseling. Siswa Pelaku Bullying di Sekolah Al-Asyhar Sungonlegowo Bungah Gresik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Departemen Kesehatan (1988, dalam Effendy 1998)

BAB I PENDAHULUAN. awal yaitu berkisar antara tahun. Santrock (2005) (dalam

BAB I PENDAHULUAN. Setiap orang cenderung pernah merasakan kecemasan pada saat-saat

BAB I PENDAHULUAN. anak-anak terus bekerja, dan daya serap anak-anak tentang dunia makin meningkat.

A. Identitas : Nissa (Nama Samaran)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Wangi Citrawargi, 2014

Reality Therapy. William Glasser

BAB I PENDAHULUAN. lainnya khususnya di lingkungannya sendiri. Manusia dalam beraktivitas selalu

Rita Eka Izzaty Staf Pengajar FIP-BK-UNY

Dalam bab ini diuraikan tentang latar belakang masalah, identifikasi dan

BK KELOMPOK Diana Septi Purnama HUBUNGAN INTERPERSONAL

BAB I PENDAHULUAN. Ridwan, Penanganan Efektif Bimbingan Dan Konseling di Sekolah, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998, hlm.9.

`BAB I PENDAHULUAN. mengalami kebingungan atau kekacauan (confusion). Suasana kebingunan ini

MODEL PEMBELAJARAN PBL ( PROBLEM BASED LEARNING)

Psikologi Konseling Psychoanalysis Therapy and Person Center Therapy

PRIBADI CARL ROGERS. Setelah mendapat gelar doktor dalam psikologi Rogers menjadi staf pada Rochester Guidance Center dan kemudian menjadi

BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan keadaan yang nyaman dalam perut ibunya. Dalam kondisi ini,

BAB I PENDAHULUAN. yakni tingginya angka korupsi, semakin bertambahnya jumlah pemakai narkoba,

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

BAB I PENDAHULUAN. manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. tersebut dikaitkan dengan kedudukannya sebagai makhluk individu dan

BAB I PENDAHULUAN. individu dengan individu yang lain merupakan usaha manusia dalam

Siti Zahara Nasution, S.Kp, MNS 22/04/09

PROFIL PENYESUAIAN DIRI REMAJA YANG PUTUS SEKOLAH DENGAN TEMAN SEBAYA DI KAMPUNG KAYU GADANG KECAMATAN SUTERA KABUPATEN PESISIR SELATAN JURNAL

BAB II KAJIAN TEORI Pengertian Kecemasan Komunikasi Interpersonal. individu maupun kelompok. (Diah, 2010).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kemudian dilanjutkan ke tahapan selanjutnya. Salah satu tahapan individu

BAB I PENDAHULUAN. Keperawatan sebagai bagian intergral dari pelayanan kesehatan, ikut menentukan mutu dari pelayanan kesehatan.

BAB II LANDASAN TEORI. dalam mengekspresikan perasaan, sikap, keinginan, hak, pendapat secara langsung,

BABI PENDAHULUAN. Di negara maju, penyakit stroke pada umumnya merupakan penyebab

BAB I PENDAHULUAN. hlm Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Kontemporer, Alfabeta, Bandung : 2005, hlm.

MODEL TERAPI KONSELING. Teori dan Praktek

BAB II TAHAP PERTENGAHAN KONSELING

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Narkoba adalah zat kimia yang dapat mengubah keadaan psikologi seperti

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Perubahan zaman yang semakin pesat ini membawa dampak ke berbagai

Intervensi Kelompok (pengantar II) Danang Setyo Budi Baskoro, M.Psi

BAB I PENDAHULUAN. masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa yang terdiri dari dewasa awal,

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai mahluk sosial, manusia senantiasa hidup bersama dalam sebuah

Konseling merupakan inti kegiatan bimbingan secara keseluruhan yang berkenaan dengan pengentasan masalah dan fasilitasi perkembangan individu

Disusun Oleh : SARI INDAH ASTUTI F

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dasar perilaku perkembangan sikap dan nilai kehidupan dari keluarga. Salah

PENGANIAYAAN TERHADAP ANAK DALAM KELUARGA

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan dipandang mampu menjadi jembatan menuju kemajuan, dan

PENERAPAN MODEL KONSELING BEHAVIORISTIK UNTUK MENGATASI SISWA SERING TIDAK MASUK SEKOLAH KELAS X SMK NU LASEM REMBANG TAHUN PELAJARAN 2011/2012

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terutama karena berada dibawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru.

BAB I PENDAHULUAN. pembeda. Berguna untuk mengatur, mengurus dan memakmurkan bumi. sebagai pribadi yang lebih dewasa dan lebih baik lagi.

Psikologi Konseling MODUL PERKULIAHAN. Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh 10

BAB I PENDAHULUAN. langsung, baik secara face to face maupun melalui media (telepon atau

BAB I PENDAHULUAN. Konflik terjadi acap kali dimulai dari persoalan kejiwaan. Persoalan

BAB I PENDAHULUAN. Ketrampilan sosial merupakan kemampuan individu untuk bergaul dan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Beberapa teori akan dipaparkan dalam bab ini sebagai pendukung dari dasar

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pendidikan merupakan dasar bagi kemajuan dan kelangsungan hidup

1. Bab II Landasan Teori

5. KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mencapai kedewasaan sesuai dengan norma-norma yang ada dalam

BAB I PENDAHULUAN. semakin menyadari pentingnya mendapatkan pendidikan setinggi mungkin. Salah

2.1.2 Tipe-Tipe Kepemimpinan Menurut Hasibuan (2009: ) ada tiga tipe kepemimpinan masing-masing dengan ciri-cirinya, yaitu:

BAB I PENDAHULUAN. tentang orang lain. Begitu pula dalam membagikan masalah yang terdapat pada

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pada prinsipnya sebagai makhluk sosial, antara individu yang satu dengan

PENDAHULUAN (MATERI) Pengertian Psikologi Pendakatan dalam Psikologi: Sub disiplin Psikologi Bidang terapan Psikologi

Teori dan Teknik Konseling. Nanang Erma Gunawan

BAB I PENDAHULUAN. Keterlibatan Belajar Siswa, (Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2011), 2

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa ingin berinteraksi dengan

BAB I PENDAHULUAN. meninggal karena melahirkan bayinya (Nolan, 2010, hal. 135).

I. PENDAHULUAN. luput dari pengamatan dan dibiarkan terus berkembang.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Dalam era globalisasi ini, kita sedang memasuki suatu abad baru yang banyak

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dan

BAB II TINJAUAN TEORITIS. A. Karyawan PT. INALUM. capital, yang artinya karyawan adalah modal terpenting untuk menghasilkan nilai

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Di era sekarang perceraian seolah-olah menjadi. langsung oleh Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB IX DEFINISI, LANDASAN, DAN PRINSIP BIMBINGAN DAN KONSELING. bimbingan dan konseling, landasan-landasan bimbingan dan konseling, serta

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Organisasi merupakan sebuah wadah berkumpulnya orang-orang yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah individu yang selalu belajar. Individu belajar berjalan, berlari,

Pengertian Bimbingan dan Konseling? Bimbingan dan Konseling adalah bantuan yang diberikan oleh guru pembimbing kepada semua siswa baik secara perorang

PERSPEKTIF DAN MAKNA PENDEKATAN KONSELING

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan potensi yang dimiliki oleh masing-masing anak didik. Untuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan dapat bertahan hidup sendiri.

BAB I PENDAHULUAN. Konseling merupakan salah satu aktivitas layanan yang penting dalam

BAB IV ANALISIS DATA

Transkripsi:

KONSELING KELUARGA DENGAN MENGGUNAKAN TERAPI GESTALT MAKALAH Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Mata Kuliah Bimbingan Konseling Keluarga Andri Arif (055034) Rika Mardiana (0704377) Lingga Wanhar (0705191) Sandy Swardi (0705260) Oleh Taofiq Septiawan (0703752) Riris Pertiwi (0704356) Rai Pamungkas (0704286) JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2010

KATA PENGANTAR Alhamdulillahi rabbil alamin, kami panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Konseling Keluarga Dengan Menggunakan Terapi Gestalt. Selama penyusunan makalah ini diperlukan kesabaran dan usaha yang keras dengan harapan dapat memberikan sesuatu yang terbaik. Kami menyadari bahwa isi dari makalah Konseling Keluarga Dengan Menggunakan Terapi Gestalt ini masih jauh dari sempurna dan masih banyak terdapat kekurangan. Hal ini disebabkan karena keterbatasan kemampuan, pengetahuan serta pengalaman yang dimiliki oleh kami. Oleh karena itu kami mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah yang kami buat. Pada kesempatan ini dengan rasa syukur dan kerendahan hati, kami ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah mendukung baik itu secara moril maupun materil hingga makalah Konseling Keluarga Dengan Menggunakan Terapi Gestalt ini bisa selesai tepat pada waktunya. Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih dan do a semoga budi baik dari semua pihak yang telah membantu kami mendapat imbalan yang setimpal dari Allah SWT. Kami mengharapkan semoga makalah Konseling Keluarga Dengan Menggunakan Terapi Gestalt.ini dapat memberikan manfaat untuk semua pihak yang membutuhkannya. Bandung, April 2008 Penulis

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1. Latar belakang... 2. Tujuan... 3. Manfaat... 4. Sistematika Penulisan... BAB II TINJAUAN KONSEPTUAL... 1. Tujuan konseling terapi Gestalt... 2. Proses konseling... 3. Proses perubahan perilaku konseli... 4. Proses dan fase konseling... BAB III INTERVENSI BIMBINGAN DAN KONSELING... BAB IV KESIMPULAN... DAFTAR ISI...

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Kemajuan di segala bidang, terutama ilmu dan teknologi terasa dampaknya terhadap keluarga di Indonesia, khususnya dikota-kota. Kehidupan kota yang penuh persaingan terutama dalam memenuhi kebutuhan dan tuntutan kemajuan jaman, membawa perubahan pada kehidupan keluarga. Kehidupan keluarga yang akrab dan damai mulai berubah menjadi kurang perhatian, renggang, tegang dan cemas. Selain itu interaksi antara ibu, ayah dan anak yang tadinya akrab dengan penuh kesih sayang sekarang menjadi bertolak belakang hal ini disebabkan karena orang tua terlalu sibuk di luar rumah untuk mencari nafkah demi tuntutan ekonomi yang terus meningkat. Keadaan orang tua yang demikian menyebabkan hilangnya perhatian dan kasih sayang terhadap anak-anaknya. Hal ini dapat berpengaruh negatif terhadap perilaku anak. Keadaaan psikis anak semaikn parah karena orang tua mengalami gangguan emosional karena persaingan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Akibat lainnya pada anak dapat mengalami gangguan emosional atau neurotic. Keadaan anak-anak yang seperti itu akan berakibat terhadap perilaku yang menyimpang seperti kenakalan, kejahatan, menghisap ganja, dan kecanduan narkotika. Sedangkan pengembangan potensi anak kurang mendapat perhatian dari orang tua. Berdasarkan fenomena tersebut maka dibutuhkan suatu upaya untuk mengurangi masalah yang terkait dengan keluarga. Adapun upaya untuk mengurangi hal tersebut dilakukan dengan konseling keluarga. Konseling keluarga adalah upaya bantuan yang diberikan kepada individu anggota keluarga melalui sistem keluarga agar potensinya berkembang seoptimal mungkin dan masalahnya dapat diatasi atas dasar kemauan membantu dari semua anggota keluarga berdasarkan kerelaan dan kecintaan terhadap keluarga. Tujuan konseling keuarga diantaranya yaitu untuk memberi bekal filsafat tentang manusia dan keluarganya, pengetahuan tentan keluarga, dan keterampilan dalam menggunakan

teknik konsleing terhadap setiap pengembangan potensi anggota keluarga, dan untuk membantu mengantisipasi masalah yang dihadapi oleh individu. Adapun salah satu pendekatan yang digunakan dalam konseling keluarga yaitu pendekatan Gestalt, pendekatan ini memberikan perhatian kepada apa yang dikatakan anggota keluarga, bagaimana mereka mengatakannya, apa yang terjadi ketika mereka berkata itu, bagaimana ucapan-ucapannya jika dihubungakan dengan perbuatannya, dan apakah mereka berusaha untuk melesaikan perbuatannya. B. Tujuan Adapun tujuan dalam penulisan ini yaitu: 1. dapat mengetahui tentang konseling keluarga, 2. dapat mengetahui tentang terapi Gestalt, 3. dapat mengetahui intervensi terapi Gestal terhadap konseling keluarga. C. Manfaat 1. Sebagai bahan informasi bagi kita untuk memahami lebih luas mengenai konseling keluarga, 2. Sebagai bahan informasi bagi kita untuk memahami lebih luas mengenai terapi Gestalt, dan 3. Sebagai bahan informasi bagi calon-calon konselor untuk dapat lebih memahami intervensi terapi Gestalt terhadap konseling keluarga. D. Sistematika Penulisan BAB I, berisi latar belakang, tujuan, manfaat dan sistematika penulisan. BAB II, berisi konseptual mengenai terapi Gestalt. BAB III, berisi intervensi bimbimbingan dan konseling. BAB IV, berisi kesimpulan.

BAB II TINJAUAN KONSEPTUAL Terapi ini dikembangkan oleh Frederick S. Pearl (1894-1970) yang didasari oleh empat aliran yaitu psikoanalisis, fenomenologis, dan eksistensialisme serta psikologi Gestalt. Menurut Pearls individu itu selalu aktif sebagai keseluruhan. Individu bukanlah jumlah dari bagian-bagian atau organ semata. Individu yang sehat adalah yang seimbang antara ikatan organisme dengan lingkungan. Karena itu pertentangan antara keberadaan sosial dengan biologis merupakan konsep dasar terapi Gestalt. Menurut Pearls banyak sekali manusia yang mencoba menyatakan apa yang seharusnya daripada menyatakan apa yang sebenarnya. Perbedaan aktualisasi gambaran diri dan aktualisasi diri benar-benar merupakan kritis pada manusia itu sendiri. Perls menyatakan bahwa individu, dalam hal ini manusia, selalu aktif sebagai keseluruhan. Setiap individu bukan semata-mata penjumlahan bagianbagian atau organ-organ seperti hati, jantung, otak dan sebagainya, melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut. Kesehatan merupakan keseimbangan yang layak dari dunia yang mengandung kepentingan bersama. saya dan engkau berubah menjadi kami dalam satu ikatan yang baru terbentuk. Pertemuan ini akan menghasilkan perubahan-perubahan baru bila timbul ketikpuasan diantara mereka. Perls mengatakan bahwa konsep kepribadian yang disusun oleh Freud tidak sempurna, sebab Freud tidak merumuskan lawan superego atau kata hati dengan jelas dan nyata. Perls menyebut superego itu top dog sebagai lawan dari under dog. Superego menyangkut kekuasaan, kebenaran dan kesempurnaan top dog menghukum individu dengan keharusan, keinginan dan ketakutan akan ancaman (bahaya). Sedangkan under dog menguasai individu dengan penekanan yang baik dan keadaan mempertahankan diri. Menurut Perls, individu tersiksa oleh kedua kekuatan dari dalam tersebut, yaitu top dog dan under dog yang selalu berlomba ingin mengontrolnya. Konflik ini tidak pernah sempurna dan merupakan suatu bentuk penyikasaan diri (self-torture). Pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis

merupakan konsep dasar terapi Gestalt.banyak sekali manusia yang mencoba menyatakan apa yang seharusnya darupada menyatakan apa yang sebenarnya. Perbedaan aktualisasi gambaran diri merupakan penghukum terhadap ide-ide, mengarahkan manusia utnuk berpandangan bahwa seseorang tidak usah seperti apa adanya.perls menyatakan bahwa setiap individu berada pada dua tingkatan, yaitu tingkatan umum (berbuat), yang dapat diamati atau diditeksi. Tingkat kedua bersifat pribadi (berpikir), pada saat individu mempersiapkan diri untuk melaksanakan peranannya simasa mendatang. Kegiatan individu harus dikontrol oleh situasi. Individu yang kehilangan kepercayaan terhadap dirinya atau yang tidak berhubungan dengan dirinya atau dunianya, akan memberikan reaksi terhadap suatu keseluruhan dilakukan tidak dengan spontan melainkan dengan keinginan mengawasi keseluruhan. Dalam hubungan ini Perls memberikan penjelasan bahwa end-gain ditentukan oleh organisme sedangkan means-whereby menyangkut masalah pilihan. Pada suatu saat organisme diintegrasikan, akan merupakan kontrol means-whereby yang menghasilkan kepuasan bagi dirinya. Karena perkembangan individu dihadapkan pada dua pilihan yaitu belajar mengatasi frustrasi atau diruksakan oleh orang tuanya. Bila terdapat pertentangan yang sangat kuat antara keberadaan sosial dan biologis yang tidak dapat diatasi maka diatasi maka individu mengalami frustrasi. Perls menganggap frsustrasi sebagai elemen positif, sebab mendorong individu mengembangkan perlindungannya, menemukan potensinya dan menguasai lingkungannya. Perls menyatakan bahwa anak yang tidak cukup mengalami frustrasi akan mempergunakan potensinya untuk mengontrol orang dewasa dan menciptakan kebebasan. Menurut perls karakter menunjukan kepada aturan-aturan atau larangan-larangan yang dapat menghambat individu dalam pencapaian potensinya. Menururt perls, perkembangan karakter mengarahkan indivdidu pada kekakuan merespon, hilangnya kecakapan mengatasi sesuatu kesulitan secara spontan, bebas dan menghasilkan peilaku tertentu. Karakter menuntut bantuan pengarahan dari orang tua, guru, dan orang dewasa. Juga mendorong individu untuk bertindak bodoh serta membentuk ketergantungan. Sebenarnya individu

lebih banyak membuang-buang energinya untuk memanipulasi dunia dibandingkan dengan penggunaan energi untuk mengembangkan dirinya sendiri. Menurut perls sebagai akibatnya ialah makin banyak seseorang memilki karakter, makin kurang potensi yang ia miliki. Patologi terjadi apabila seseorang tidak dapat menerima perasaaanperasaan dan pikiran-pikirannya sendiri. Dinilai dari usaha meninggalkan kesempurnaan, melalui meningakaran terhadap bagian-bagian seseorang, pengalaman-penalamannya, ciri-cirinya, menjadi tinggi apabila kemampuan, energi. Dan abilitas menguasai dunia atau lingkungan makin lemah. Individu yang bersangkutan menjadi lebih terpecah, kaku dan terikat. Perls mengemukakan bahwa aturan diri dicapai sebagai akibat menjadi sadarnya seseorang bahwa ia dapat mempercayai dirinya. Pengawasan lingkungan dan manupulasi diri yang merintangi diri atau mengganggu organisme-selfcontrol mengarah kepada patologi. Menurut perls, kecemasan merupakan kesenjangan antara sekarang dan kemudian. Kecemasan timbul karena individu meninggalkan jaminan masa sekarang dan disibukan oleh pemikiran-pemikiran tentang masa datang dan peranannya. Kesibukan ditimbulkan oleh gambaran tingkat ketakutan, bukan hanya gambaran kecemasan eksistensial. Tingkat ketakutan timbul akibat adanya banyangan akan terjadinya hal-hal yang buruk dalam peranan dan tingkah laku tertentu. Kesadaran bahwa kecemasan hanya merupakan suatu ketidak senangan dan bukan suatu bencana merupakan awal dari penyadaran akan dirinya. 1. Tujuan konseling terapi Gestalt Menurut teori ini tujuan konseling yaitu untuk membantu klien menjadi individu yang merdeka, berdiri sendiri. Untuk mencapai tujuan itu diperlukan: a. Usaha membantu penyadaran klien-klien tentang apa yang dilakukan b. Membantu penyadaran tentang siapa-hambatan dirinya c. Membantu klien untuk menghilangkan hambatan dalam pengembangan peyadaran

2. Proses konseling Proses konsleing dalam terapi ini mengikuti lima hal yang penting sebagai berikut: a. Pemolaan (patterning). Pemolaan terjadi pada awal konseling yaitu situasi yang tercipta setelah konselor memperoleh fakta atau penjelasan mengenai sesuatu gejala, atau suatu permohonan bantuan, dan konselor segera memberi jawaban. Situasi wal ini diwarnai dengan emosisonal dan intuitif. Pola bantuan/teknik selalu sisesuaikan dengan keadaan masalah klien. b. Pengawasan (control). Control adalah tindakan konselorsetelah pemolaan. Control merupakan kemampuan konselor untuk meyakinkan atau memaksa konseli untuk mengikuti prosedur konseling yang telah disiapkan konselor yang meungkin mencakup variasi kondisi. Ada dua aspek penting dalam control yaitu: (1). Motivasi, (2) rapport. c. Potensi. Yaitu usaha konselor untuk mempercepat terjadinya peubahan perilaku dan sikap serta kepribadian. Hal ini bias bias terjadi dalam hubungan konseling yang bersifat terapeutik. Salah satu cara adalah mengintegrasikan penyadaran konseli secara keseluruhan. d. Kemanusiaan. Kemanusiaan mencakup hal-hal sebagai berikut: (1) Perhatian dan pengenalan konselor terhadap konseli secara pribadi dan emonisional. (2) Keinginan konselor untuk mendampingi dan mendorong konseli pada respon emosional dan menjelaskan pengalamannya. (3) Kemampuan konselor untuk memikirkan perkiraan ke arah kepercayaan konseli dan membutuhjan dorongan dan pengakuan, (4) Keterbukaan konselor yang kontinu sehingga merupakan modala bagi konseli untuk perubahan perilaku. e. Kepercayaan. Dalam konseling diperlukan kepercayaan, terrmasuk; (1) Perhatian dan pengenalan konselor terhadap diri sendiri dalam hal jabatan; (2) Kepercayaan konselor terhadap diri sendiri untuk menangani konseli secara individual;

(3) Kepercayaan diri untuk mengadakan penelitian dan pengembangan. Dalam hal ini dituntut kreativitas konselor dalam usaha membantu konsli dengan cara pengembangan teori yang ada. 3. Proses perubahan perilaku konseli a. Transisi. Yaitu keadaan konseli dari selalu ingin dibantu oleh lingkungan kepada keadaan berdiri sendiri. Artinya kepribadian tak sempurna, ada bagian yang hilang bagian yang hilang itu disebut pusat. Tanpa pusat berarti terapi berlangsung pada bagian-bagian yang pariferal sehingga tak suatu titik awal yang baik. b. Avoidance dan unfinished business. Yang termasuk kedalam unfinished business ialah emosi-emosi, peristiwa-peristiwa, pemikiran-pemikiran yang terlambat dikemukakan konslei. Avoidance adalah segala sesuatu yang digunakan konseli utnuk lari dari unfinished business. Bentuk unfinished business. Anatara lain phobia, escape, ingion mengganti konselor. c. Impasse.yaitu individu atau konseling yang bingung, kecewa, terlambat. d. Here and now. Yaitu penanganan kasus adalah disini dan masa kini. Konselor tidak menanyakan why karena hal itu akan menyebabkan konseli melakukan rasionalisasi dan tak akan menghasilkan pemahaman diri. 4. Proses dan fase konseling a. Fase I. Membentuk pola pertemuan terapeutik agar terjadi situasi yang memungkinkan perubahan perilaku konsli b. Fase II. Pengawasan, yaitu usaha konselor untuk meyakinkan konseli untuk mengikuti prosedur konsleing. c. Fase III. Mendorong konseli untuk mengungkapkan perasaan-perasaan dan kecemasanya. Di dalam fase ini diusahan untuk menemukan aspek-aspek kepribadian konseli yang hilang. d. Fase IV.(terakhir). Setelah terjadi pemahaman diri maka pada fase ini konseli harus sudah memilki kepribadian yang integral sebagai manusia individu yang unik.

BAB III INTERVENSI BIMBINGAN DAN KONSELING Kompler (1982) mendefinikan konseling keluarga dengan pendekatan Gestalt sebagai suatu model difokuskan pada saat sekarang ini (present moment) dan pada pengalaman keluarga yang dilakukannya didalam sesi-sesi konseling Gestalt memberikan perhatian kepada apa yang dikatakan anggota keluarga, bagaimana mereka mengatakannya, apa yang terjadi ketika mereka berkata itu, bagaimana ucapan-ucapannya jika dihubungkan dengan perbuatannya, dan apakah mereka berusaha untuk menyelesaikan perbuatannya. Melaui kehidupan atau perilaku yang sedang terjadi dalam konseling keluarga dijadikan ajang untuk berpartisipasi oleh anggota keluarga secara aktif ketimbang mereka hanya sebagai penonton dan komentator situasi keluarganya belaka. Maka seharusnya peduli terhadap apa dan bagaimana perilaku yang harus dilakukan terhadap situasi yang ada sekarang yang ada di keluarga mereka. Yang lebih ditekankan lagi ialah keterlibatan konselor dalam keluarga. Kempler bahkan beranggapan bahwa konseling keluarga eksperiensial sebenarnya adalah persoalan pribadi sebagai manusia bagi konselor itu, dan masalah teknik cenderung tak menjadi yang terpenting dalam sesi-sesi itu. Tidak ada alat atau skill, yang ada hanyalah hubungan orang dengan orang, manusia dengan manusia, karena hal itu yang penting bagi konselor adalah mendengarkan suara dan emosi mereka. Koselor melakukan perjumpaan dalam konseling keluarga sebagai partisipan penuh, sebagai sahabat, sebagai orang yang dipercaya dalam perjumpaan antar sesama. Karena itu kadang-kadang Kempler senang dengan style direktif dan konfrontatifnya, sebab hubungan mereka akrab. Konselor membawa kepribadian, reaksi dan pengalaman hidupnya kedalam perjumpaan konseling keluarga. Konselor akrab dengan mereka dan berusaha memahami dan merasakan isi hati mereka. Konseling yang jujur, asli (genuin) akan terjadi jika individu-individu yang terlibat di dalamnya giat berusaha untuk menempatkan diri sebagaimana adanya dan memehami orang lain sebagai mana adanya pula.

BAB IV KESIMPULAN Keluarga merupakan aset yang sangat penting, individu tidak bisa hidup sendirian, tanpa ada ikatan-ikatan dengan keluarga. Begitu menurut fitrahnya, menurut budayanya, dan begitulah perinntah Allah Swt. Keluarga memberikan pengaruh yang besar terhadap seluruh anggotanya, sebab selalu terjadi interaksi yang paling bermakna, paling berkenan dengan nilai yang sangat mendasar dna sangat intim (Djawad Dahlan Dahlan, dalam Jalaludin Rahmat dan Muhtar Gandaatmaja, dalam Syamsu Yusuf). Keluarga memiliki peranan ynag sangat penting dalam upaya mengembangkan kepribadian anak. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang, dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya, merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat. Fungsi dasar keluarga adalah memberikan rasa memiliki,rasa anggota keluarga. Hubungan cinta kasih dalam keluarga tidak sebatas perasaan, akan tetapi juga menyangkut pemeliharaan, rasa tanggung jawab, perhatian, pemahaman, respek dan keinginan untuk menumbuhkembangkan anak yang dicintainya. Adakalanya perjalanan suatu keluarga tidak selalu berjalan dengan mulus, berbagai masalah dan gangguan silih berganti muncul. Maka untuk menciptakan keluarga sebagai lingkungan yang kondusif dan suasana sosiopsikologis keluarga yang bahagia diperlukan suatu upaya untuk membantu dan memfasilitasi keluarga dalam memecahakan berbagai masalah-masalah yang muncul. Bimbingan konseling keluarga merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan dalm membantu dan memfasilitasi keluarga dalam memecahkan masalah keluarga. Salah satu pendekatan yang dilakukan dlam bimbingan konseling keluarga adalah Terapi Gestalt, tujuan dari terapi ini adalah untuk membantu klien menjadi individu yang merdeka, berdiri sendiri.

DAFTAR PUSTAKA Mohamad, Surya. (2003). Teor-Teori Konseling. Bandung: Pustaka Bani Quraisy. Willis, Sofyan. (1994). Konseling Keluarga. Bandung:IKIP. Willis, Sofyan. (2004). Konseling Individual Teori dan Parktek. Bandung :Alfabeta. Yusuf, Syamsu. (2004). Mental Hygiene. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.