Jl.MH. Thamrin No.2 Jakarta 10110 - Indonesia http://www.bi.go.id
BANK INDONESIA Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Divisi Pengaturan dan Komunikasi Kebijakan Moneter Grup Kebijakan Moneter Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Telp. : +62 21 2981 4402/6836 Fax. : +62 21 345 2489 Email : gkm_komunikasi@bi.go.id Website : http://www.bi.go.id
LAPORAN KEBIJAKAN MONETER Bank Indonesia Laporan Kebijakan Moneter Triwulan III 2013 Laporan Kebijakan Moneter dipublikasikan secara triwulanan oleh Bank Indonesia setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada bulan Desember, April, Juli, dan Oktober. Selain dalam rangka memenuhi ketentuan pasal 58 UU Bank Indonesia No. 23 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004, laporan ini berfungsi untuk dua maksud utama, yaitu: (i) sebagai perwujudan nyata dari kerangka kerja antisipatif yang mendasarkan pada prakiraan ekonomi dan inflasi ke depan dalam perumusan kebijakan moneter, dan (ii) sebagai media bagi Dewan Gubernur untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat luas mengenai berbagai pertimbangan permasalahan kebijakan yang melandasi keputusan kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia. Dewan Gubernur Agus D.W. Martowardojo Mirza Adityaswara Halim Alamsyah Ronald Waas Perry Warjiyo Hendar Gubernur Deputi Gubernur Senior Deputi Gubernur Deputi Gubernur Deputi Gubernur Deputi Gubernur i
LAPORAN KEBIJAKAN MONETER Bank Indonesia ii
LAPORAN KEBIJAKAN MONETER Bank Indonesia Langkah-langkah Penguatan Kebijakan Moneter dengan Sasaran Akhir Kestabilan Harga (Inflation Targeting Framework) Mulai Juli 2005 Bank Indonesia telah mengimplementasikan penguatan kerangka kerja kebijakan moneter konsisten dengan Inflation Targeting Framework (ITF), yang mencakup empat elemen dasar: (1) penggunaan suku bunga BI Rate sebagai policy reference rate, (2) proses perumusan kebijakan moneter yang antisipatif, (3) strategi komunikasi yang lebih transparan, dan (4) penguatan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah. Langkah-langkah dimaksud ditujukan untuk meningkatkan efektivitas dan tata kelola (governance) kebijakan moneter dalam mencapai sasaran akhir kestabilan harga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Prinsip Dasar Sasaran Inflasi Strategi Kebijakan Moneter Kebijakan moneter dengan ITF menempatkan sasaran inflasi sebagai tujuan utama (overriding objective) dan jangkar nominal (nominal anchor) kebijakan moneter. Dalam hubungan ini, Bank Indonesia menerapkan strategi antisipatif (forward looking) dengan mengarahkan respon kebijakan moneter saat ini untuk pencapaian sasaran inflasi jangka menengah ke depan. Penerapan ITF tidak berarti bahwa kebijakan moneter tidak memperhatikan pertumbuhan ekonomi. Paradigma dasar kebijakan moneter untuk menjaga keseimbangan (striking the optimal balance) antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi tetap dipertahankan, baik dalam penetapan sasaran inflasi maupun respon kebijakan moneter, dengan mengarahkan pada pencapaian inflasi yang rendah dan stabil dalam jangka menengah-panjang. Pemerintah setelah berkoordinasi dengan Bank Indonesia telah menetapkan dan mengumumkan sasaran inflasi IHK setiap tahunnya. Berdasarkan PMK No.143/PMK.011/2010 sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk periode 2010 2012, masing-masing sebesar 5,0%, 5,0%, dan 4,5% dengan deviasi ±1%. Untuk tahun 2013, 2014, dan 2015, sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk periode 2013-2015 berdasarkan PMK no.66/pmk.011/2012 masing-masing sebesar 4,5%, 4,5%, dan 4% dengan deviasi +1%. Instrumen dan Operasi Moneter BI Rate adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan diumumkan kepada publik. BI Rate merupakan suku bunga sinyaling dalam rangka mencapai sasaran inflasi jangka menengah panjang, yang diumumkan oleh Bank Indonesia secara periodik untuk jangka waktu tertentu. Dalam rangka implementasi penyempurnaan kerangka operasional kebijakan moneter, terhitung sejak tanggal 9 Juni 2008 Bank Indonesia melakukan perubahan sasaran operasional dari suku bunga SBI 1 bulan menjadi suku bunga Pasar Uang Antar Bank Overnight (PUAB O/N). BI Rate diimplementasikan dalam operasi moneter melalui pengelolaan likuiditas (liquidity management) di pasar uang untuk mencapai sasaran operasional kebijakan moneter yang tercermin pada perkembangan suku bunga Pasar Uang Antar Bank Overnight (PUAB O/N). Untuk meningkatkan efektivitas pengendalian likuiditas di pasar, operasi moneter harian dilakukan dengan menggunakan seperangkat instrumen moneter dan koridor suku bunga (standing facilities). Proses Perumusan Kebijakan Transparansi BI Rate ditetapkan oleh Dewan Gubernur melalui mekanisme Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan. Dalam hal terjadi perkembangan di luar prakiraan semula, penetapan stance kebijakan moneter dapat dilakukan sebelum RDG Bulanan melalui RDG mingguan. Perubahan dalam BI Rate pada dasarnya menunjukkan respons kebijakan moneter Bank Indonesia untuk mengarahkan prakiraan inflasi ke depan agar tetap berada dalam lintasan sasaran inflasi yang telah ditetapkan. Kebijakan moneter dari waktu ke waktu dikomunikasikan melalui media komunikasi yang lazim seperti penjelasan kepada pers dan pelaku pasar, website, maupun penerbitan Laporan Kebijakan Moneter (LKM). Transparansi dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman dan sekaligus pembentukan ekspektasi masyarakat atas prakiraan ekonomi dan inflasi ke depan serta respon kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia. Koordinasi dengan Pemerintah Untuk koordinasi dalam penetapan sasaran, pemantauan dan pengendalian inflasi, Pemerintah dan Bank Indonesia telah membentuk Tim yang melibatkan pejabat-pejabat dari berbagai instansi terkait. Dalam pelaksanaan tugasnya, Tim membahas dan merekomendasikan kebijakan-kebijakan yang diperlukan baik dari sisi Pemerintah maupun Bank Indonesia untuk mengendalikan tekanan inflasi dalam rangka pencapaian sasaran inflasi yang telah ditetapkan. iii
LAPORAN KEBIJAKAN MONETER Bank Indonesia iv
LAPORAN KEBIJAKAN MONETER Bank Indonesia Gubernur Bank Indonesia Kata Pengantar Perekonomian Indonesia pada triwulan III 2013 masih berada pada tren perlambatan yang dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global yang masih belum cukup kuat dan diliputi tingginya ketidakpastian. Perekonomian domestik diprakirakan tumbuh 5,6% pada triwulan III 2013 dan untuk keseluruhan tahun 2013 masih berada pada kisaran 5,5%-5,9%. Perlambatan tersebut dipengaruhi oleh kinerja perekonomian global yang secara keseluruhan masih tumbuh lambat dan harga komoditas yang masih cenderung turun sehingga mendorong terbatasnya kinerja ekspor domestik. Selain itu, konsumsi rumah tangga dan investasi diprakirakan masih tertekan sebagai dampak dari menurunnya daya beli akibat tingginya tekanan harga setelah kenaikan harga BBM bersubsidi. Tren perlambatan pertumbuhan perekonomian domestik tersebut diindikasi mulai berpengaruh pada kondisi transaksi berjalan yang pada triwulan III 2013 telah mencatat defisit lebih rendah dibandingkan dengan triwulan II 2013. Lebih rendahnya defisit transaksi berjalan terutama disebabkan oleh menurunnya impor seiring dengan melemahnya permintaan domestik dan nilai tukar rupiah. Di sisi lain, surplus transaksi modal dan finansial lebih besar, seiring dengan kembali masuknya investor asing pada sertifikat Bank Indonesia dan surat utang negara serta berkurangnya penjualan netto saham domestik oleh asing, sebagai respon kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah, serta penundaan pengurangan stimulus moneter di Amerika Serikat. Sebagai dampak perkembangan tersebut, cadangan devisa pada akhir September 2013 menjadi 95,7 miliar dolar AS, setara dengan 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, atau meningkat dari posisi akhir Agustus 2013 sebesar 93,0 miliar dolar AS. Rupiah pada triwulan III 2013 mengalami depresiasi sejalan dengan nilai fundamentalnya. Rupiah masih mengalami tekanan pelemahan akibat kondisi transaksi berjalan Indonesia yang masih mencatat defisit. Selain itu, seperti halnya pelemahan mata uang negara-negara di kawasan Asia, depresiasi rupiah juga dipengaruhi oleh menurunnya kepemilikan nonresiden di aset keuangan domestik yang dipicu sentimen terkait pengurangan stimulus moneter oleh bank sentral Amerika Serikat. Bank Indonesia memandang bahwa perkembangan nilai tukar pada saat ini masih menggambarkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia. Inflasi selama triwulan III 2013 terdorong tinggi sebagai dampak dari kenaikan harga BBM bersubsidi. Namun, secara bulanan, inflasi pada Agustus dan September 2013 menurun dan sudah kembali pada pola normalnya sesuai dengan prakiraan Bank Indonesia. Inflasi September 2013 bahkan tercatat deflasi akibat deflasi pada kelompok makanan (volatile food). Ke depan, inflasi diperkirakan menurun,dipengaruhi oleh perlambatan permintaan v
LAPORAN KEBIJAKAN MONETER Bank Indonesia domestik serta langkah-langkah penguatan koordinasi pengendalian inflasi Bank Indonesia dan Pemerintah. Dengan perkembangan tersebut, inflasi 2013 diprakirakan dapat berada di bawah level 9,0% dan kemudian menurun pada kisaran sasaran 4,5±1% pada tahun 2014. Di tengah berbagai tekanan pada perekonomian yang masih terjadi, stabilitas keuangan tetap terjaga dengan dukungan ketahanan industri perbankan yang solid. Rasio kecukupan modal tetap tinggi, sedangkan rasio kredit bermasalah tetap terjaga rendah. Pertumbuhan kredit mulai menunjukkan perlambatan sesuai dengan perkembangan ekonomi, meski masih pada level yang cukup tinggi. Selain itu, hasil uji tekanan (stress test) industri perbankan, baik dari sisi likuiditas, kredit maupun permodalan, menunjukkan adanya ketahanan yang kuat terhadap berbagai risiko, seperti perlambatan ekonomi, kenaikan suku bunga dan depresiasi rupiah. Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit akan melambat seiring dengan kenaikan suku bunga, perlambatan permintaan domestik serta kebijakan makroprudensial Bank Indonesia. Menyikapi berbagai perkembangan tersebut serta prospek ke depan, Bank Indonesia pada Rapat Dewan Gubernur tanggal 8 Oktober 2013 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga kebijakan (BI Rate) pada level 7,25%, dengan suku bunga fasilitas pinjaman (Lending Facility) dan suku bunga fasilitas simpanan (Deposit Facility) tetap pada level 7,25% dan 5,50%. Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan perekonomian global dan nasional serta memperkuat koordinasi dengan Pemerintah, khususnya dalam pengendalian inflasi dan defisit transaksi berjalan. Bank Indonesia meyakini bahwa kebijakan-kebijakan yang telah ditempuh sebelumnya akan mengarah pada penyesuaian defisit transaksi berjalan dan pengendalian inflasi menuju ke sasaran 4,5±1% pada 2014. Bank Indonesia berkomitmen untuk terus mengeluarkan dan mengkalibrasi bauran kebijakan moneter dan makroprudensial secara optimal dan tepat waktu, untuk memastikan bahwa inflasi dan ekspektasi inflasi tetap terkendali, nilai tukar rupiah sesuai fundamentalnya, dan defisit transaksi berjalan menurun ke tingkat yang sehat dalam jangka panjang. Demikianlah gambaran singkat mengenai perekonomian Indonesia pada triwulan III 2013 serta prospek ke depannya. Saya berharap dokumen ini dapat menjadi bahan referensi yang bermanfaat bagi kita semua. Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo vi
LAPORAN KEBIJAKAN MONETER Bank Indonesia Daftar Isi Daftar Isi 1. Respons Kebijakan Moneter Triwulan III 2013... 1 2. Perkembangan Ekonomi Makro dan Moneter Terkini... 4 Perkembangan Ekonomi Dunia... 4 Pertumbuhan Ekonomi... 7 Neraca Pembayaran Indonesia (NPI)... 11 Nilai Tukar Rupiah... 12 Inflasi... 13 Perkembangan Pasar Keuangan... 15 3. Prospek Perekonomian dan Faktor Risiko ke Depan... 19 Prospek Perekonomian Global... 19 Prospek Pertumbuhan Ekonomi... 20 Prakiraan Inflasi... 23 Tabel Statistik... 24 vii
LAPORAN KEBIJAKAN MONETER Bank Indonesia Daftar Isi viii
Respons Kebijakan Moneter Triwulan III 2013 1. Respons Kebijakan Moneter Triwulan III 2013 Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 8 Oktober 2013 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 7,25%, dengan suku bunga Lending Facility dan suku bunga Deposit Facility tetap pada level 7,25% dan 5,50%. Bank Indonesia akan mencermati perkembangan perekonomian global dan nasional serta akan mengoptimalkan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial untuk memastikan bahwa tekanan inflasi tetap terkendali, stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga kondisi fundamentalnya, serta defisit transaksi berjalan menurun ke tingkat yang sustainable. Bank Indonesia juga akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah khususnya dalam pengendalian inflasi dan defisit transaksi berjalan. Bank Indonesia meyakini bahwa kebijakan-kebijakan tersebut serta berbagai kebijakan yang telah ditempuh sebelumnya akan mempercepat penyesuaian defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat dan mengendalikan inflasi menuju ke sasaran 4,5±1% pada 2014. Bank Indonesia mencermati perekonomian global cenderung melambat dan diliputi oleh ketidakpastian yang tinggi. Kinerja perekonomian di negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS), Eropa dan Jepang belum kuat meski mulai menunjukkan perbaikan.sementara itu, perekonomian negara berkembang dibayangi risiko penurunan pertumbuhan ekonomi serta menurunnya kinerja transaksi berjalan dan pelemahan nilai tukar. Pada saat yang sama, penurunan harga komoditas masih terus terjadi, kecuali harga minyak. Di pasar keuangan, sejumlah risiko terkait dengan penundaan kebijakan pengurangan stimulus The Fed (tapering), perdebatan debt ceiling dan penghentian sementara layanan pemerintah AS (government shutdown). Secara keseluruhan, melalui jalur perdagangan perkembangan perekonomian global tersebut memberikan tekanan pada kinerja ekspor negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Sementara itu, melalui jalur keuangan perkembangan tersebut dalam jangka sangat pendek mendorong masuknya aliran dana nonresiden ke bursa saham dan obligasi kawasan serta menguatnya mata uang Asia. Sejalan dengan pelemahan ekonomi global yang masih berlanjut, kinerja perekonomian domestik menunjukkan kecenderungan yang melambat. Perekonomian domestik diprakirakan tumbuh 5,6% di Triwulan III-2013 dan untuk 2013 masih berada pada kisaran 5,5%-5,9%. Kinerja ekonomi global yang masih melambat dan pergerakan harga komoditas yang masih cenderung menurun, mendorong masih terbatasnya kinerja ekspor. Konsumsi rumah tangga dan investasi diprakirakan masih tertekan sebagai dampak dari menurunnya daya beli akibat tingginya tekanan harga pasca kenaikan harga BBM bersubsidi. Kinerja perekonomian nasional diprakirakan akan membaik pada tahun 2014, sejalan dengan perekonomian global dan harga komoditas yang diprakirakan membaik. Secara keseluruhan, perekonomian Indonesia diprakirakan tumbuh lebih tinggi mencapai 5,8%-6,2%. 1
Respons Kebijakan Moneter Triwulan III 2013 Dari sisi eksternal, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia pada triwulan III- 2013 diprakirakan akan membaik. Defisit transaksi berjalan akan menyempit terutama dengan menurunnya impor seiring dengan melemahnya permintaan domestik dan dampak pelemahan nilai tukar Rupiah. Di sisi lain, surplus Transaksi Modal dan Finansial (TMF) akan lebih besar, seiring kembali masuknya investor asing pada SBI dan SUN serta berkurangnya net jual asing atas saham domestik sebagai respon kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah serta penundaan tapering off di AS. Dengan perkembangan tersebut, cadangan devisa pada akhir September 2013 diprakirakan menjadi 95,7 miliar dolar AS, meningkat dari posisi akhir Agustus 2013 sebesar 93,0 miliar dolar AS. Cadangan devisa pada akhir September tersebut setara dengan 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Nilai tukar rupiah pada triwulan III2013 mengalami depresiasi sejalan dengan nilai fundamentalnya. Secara rata-rata, rupiah melemah 8,18% (qtq) ke level Rp 10.652 per dolar AS atau secara point to point rupiah terdepresiasi 14,29% (qtq) ke level Rp 11.580 per dolar AS. Seperti halnya pelemahan mata uang negara-negara di kawasan Asia, depresiasi nilai tukar rupiah terutama dipengaruhi penyesuaian kepemilikan nonresiden di aset keuangan domestik dipicu sentimen terkait pengurangan (tapering off) stimulus moneter oleh the Fed. Dari sisi fundamental, tekanan depresiasi rupiah lebih besar dengan relatif tingginya defisit transaksi berjalan di Indonesia. Pada akhir triwulan III 2013, tekanan rupiah berkurang sejalan dengan membaiknya kinerja inflasi dan neraca perdagangan serta sentimen positif penundaan tapering off oleh The Fed. Keyakinan pasar valas semakin pulih dengan permintaan dan penawaran yang semakin aktif dan berimbang dalam membentuk nilai tukar rupiah di pasar. Bank Indonesia memandang bahwa perkembangan nilai tukar pada saat ini menggambarkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia. Tekanan inflasi mereda dan mencatat deflasi 0,35% (mtm) atau 8,40% (yoy) pada September 2013. Pasokan beberapa komoditas hortikultura yang melimpah, terutama bawang merah dan cabai, menyebabkan koreksi harga pangan tercatat cukup dalam. Selain itu, mulai turunnya harga daging sapi juga mendorong deflasi lebih lanjut sehingga kelompok volatile food mencatat deflasi 3,38% (mtm) atau inflasi 13,94% (yoy). Meredanya tekanan inflasi bulanan juga terjadi pada kelompok inti dan administered prices, masing-masing mencapai 0,57% (mtm) atau 4,72% (yoy) dan 0,34% (mtm) atau 15,47% (yoy), seiring meredanya dampak kenaikan harga BBM dan koreksi harga paska Lebaran. Terkendalinya harga-harga tersebut sejalan dengan perkiraan Bank Indonesia bahwa inflasi akan sangat rendah dan kembali ke pola normal mulai September dan bulan-bulan ke depan. Prospek tekanan inflasi yang menurun juga dipengaruhi dampak perlambatan permintaan domestik serta langkahlangkah penguatan koordinasi kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah dalam pengendalian inflasi. Dengan perkembangan tersebut, inflasi 2013 diprakirakan berada pada kisaran 9,0%-9,8%, dan kemudian menurun pada kisaran sasaran 4,5±1% pada tahun 2014. 2
Respons Kebijakan Moneter Triwulan III 2013 Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga dengan dukungan ketahanan industri perbankan yang tetap solid di tengah berbagai tekanan. Rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) tetap tinggi mencapai 17,89%, jauh di atas ketentuan minimum 8%, sedangkan rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) tetap terjaga rendah sebesar 1,99% pada bulan Agustus 2013. Hasil stress testing baik dari sisi likuiditas, kredit maupun permodalan juga menunjukkan ketahanan industri perbankan yang kuat terhadap berbagai risiko seperti perlambatan ekonomi, kenaikan suku bunga dan depresiasi nilai tukar rupiah. Sementara itu, pertumbuhan kredit mulai menunjukkan perlambatan, meski pada Agustus 2013 masih cukup tinggi sebesar 22,2% (yoy). Pertumbuhan kredit terutama karena penarikan kredit dari komitmen sebelumnya, disamping pengaruh perhitungan nilai tukar, sementara komitmen kredit baru terus menurun. Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit akan melambat seiring dengan kenaikan suku bunga, perlambatan permintaan domestik dan kebijakan makroprudensial yang ditempuh oleh Bank Indonesia. 3
Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini 2. Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini Perkembangan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2013 mengindikasikan berlangsungnya berbagai penyesuaian di ekonomi domestik. Penyesuaian tersebut merupakan respon terhadap perkembangan ekonomi global yang masih belum cukup kuat dan diliputi tingginya ketidakpastian. Selain itu, proses penyesuaian ekonomi domestik juga terjadi sebagai respon terhadap berbagai kebijakan yang telah ditempuh Bank Indonesia dan Pemerintah dalam memitigasi risiko yang mengemuka baik dari global maupun domestik. Dalam proses penyesuaian tersebut, tren perlambatan ekonomi diperkirakan berlanjut pada triwulan III 2013. Perlambatan ekonomi terutama dipengaruhi melemahnya permintaan domestik terutama konsumsi rumah tangga dan investasi non-bangunan. Tren perlambatan ekonomi domestik terindikasi mulai berpengaruh pada transaksi berjalan yang pada triwulan III 2013 diperkirakan mencatat defisit lebih rendah dibandingkan dengan triwulan II 2013. Data terakhir pada Agustus 2013 menunjukkan neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus akibat menurunnya impor. Tekanan inflasi setelah sempat meningkat tinggi pada Juli 2013, dalam perkembangan bulanan pada Agustus dan September 2013 terlihat juga menurun dan sudah kembali pada pola normalnya. Pada September 2013 bahkan tercatat deflasi. Sementara itu, stabilitas sistem keuangan tetap terjaga dengan dukungan ketahanan industri perbankan yang tetap solid seperti ditunjukkan rasio kecukupan modal yang jauh di atas ketentuan minimum dan rasio kredit bermasalah yang tetap rendah. PERKEMBANGAN EKONOMI DUNIA Perekonomian dunia pada triwulan III 2013 secara umum masih belum kuat dan tetap diliputi ketidakpastian. Indikasi pertumbuhan ekonomi dunia yang belum kuat tersebut terutama dipengaruhi oleh masih terkontraksinya ekonomi Eropa dan menurunnya kinerja ekonomi negara berkembang, meskipun pada sisi lain ekonomi negara maju khususnya AS dan Jepang cenderung membaik. Ekonomi AS dan Jepang diperkirakan membaik setelah pada triwulan II 2013 masing-masing diperkirakan tumbuh 1,6% (yoy) dan 1,2% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan I 2013 sebesar 1,3% (yoy) dan 0,9% (yoy). Berbeda dengan kondisi tersebut, kontraksi pertumbuhan ekonomi Eropa diperkirakan masih berlanjut, meskipun dengan tren menyempit setelah pada triwulan II 2013 mengalami kontraksi 0,5% (yoy). Ekonomi China dan India diperkirakan juga masih melambat, setelah pada triwulan II 2013 masingmasing tumbuh 7,5% (yoy) dan 4,4% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan I 2013 sebesar 7,7% dan 4,8%. Berdasarkan perkembangan tersebut, perekonomian dunia tahun 2013 diprakirakan tumbuh 2,9%, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,0%. 4
Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini Grafik 2.1 Survey ISM - PMI Manufaktur dan Jasa AS Grafik 2.2 Survei Keyakinan Konsumen AS Grafik 2.3 Kinerja Industri dan Manufaktur Jepang Grafik 2.4 PMI Manufaktur Negara Eropa Perekonomian AS yang diprakirakan membaik pada triwulan III 2013 terindikasi pada sisi produksi dan sisi permintaan. Dari sisi produksi, perkembangan positif tercermin pada peningkatan PMI manufaktur AS yang meningkat pada bulan September 2013 menjadi 56,2, dari 55,7 pada Agustus 2013 (Grafik 2.1). Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi tercermin pada penjualan ritel yang tumbuh positif dan konsumsi rumah tangga yang meningkat. Sektor perumahan juga menunjukkan perbaikan tercermin pada peningkatan harga, meskipun penjualan untuk rumah baru mengalami penurunan. Tingkat keyakinan konsumen juga masih dalam tren meningkat, meskipun perkembangan bulanan pada September 2013 menurun sejalan dengan rencana tapering off oleh The Fed (Grafik 2.2). Perekonomian yang tumbuh positif mendorong penurunan tingkat pengangguran menjadi 7,3% pada bulan Agustus 2013 disertai tren penurunan jobless claim. Pertumbuhan ekonomi Jepang pada triwulan III 2013 diprakirakan juga membaik. Indikasi tersebut ditopang oleh kinerja sektor manufaktur yang menguat seperti terindikasi pada PMI Manufaktur yang meningkat (Grafik 2.3). Selain itu, ekspor juga meningkat sejalan dengan indikasi pemulihan ekonomi AS dan menurunnya kontraksi di Eropa. Perkembangan positif itu antara lain dipengaruhi oleh optimisme kebijakan Abenomics. Berbeda dengan kondisi AS dan Jepang, ekonomi Eropa pada triwulan III 2013 diprakirakan masih mengalami kontraksi, meskipun dengan tren kontraksi yang menyempit. Penurunan kontraksi Eropa terutama ditopang oleh ekspansi sektor industri di Jerman. Dari perkembangan itu, PMI komposit Euro pada September 2013 tercatat berada pada angka tertinggi selama 27 bulan yaitu mencapai 52,1 dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 51,5 (Grafik 2.4). Dari sisi konsumsi, tingkat penjualan ritel di Eropa semakin membaik, meskipun masih pada teritori negatif. Indikasi pemulihan perekonomian Jerman dan tren penurunan pengangguran di Jerman terlihat mulai mendorong perbaikan persepsi pelaku bisnis sebagaimana hasil survei ZEW Jerman. Ekonomi China diperkirakan tidak sekuat proyeksi sebelumnya. Perkiraan ini terutama dipengaruhi oleh penurunan keyakinan konsumen menyusul realisasi data PDB triwulan II 2013 yang melambat menjadi 7,5% (yoy), dari 7,7% (yoy) pada triwulan I 2013. Kendati diperkirakan dalam tren melambat, secara umum ekonomi China masih solid baik dari sisi produksi maupun permintaan. Dari sisi produksi, PMI Manufaktur Markit/HSBC China pada bulan September 2013 meningkat menjadi 51,2, tertinggi dalam 6 bulan terakhir (Grafik 2.5). Peningkatan sektor produksi tersebut ditopang oleh sektor heavy industry sejalan dengan reformasi struktural Pemerintah China. Sektor produksi China yang ekspansif juga didukung oleh semakin tingginya permintaan domestik sebagaimana tercermin pada peningkatan new orders dan new export orders sejalan dengan pemulihan ekonomi di AS dan Eropa. 5
Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini Grafik 2.5 PMI China Grafik 2.6 Sektor Industri dan Manufaktur India Grafik 2.7 Perkembangan Bursa Saham Global Sejalan dengan kondisi China, ekonomi India pada triwulan III 2013 diprakirakan juga melambat. Kondisi ini terutama dipengaruhi penurunan kinerja sektor manufaktur tercermin pada PMI manufaktur bulan Agustus 2013 yang turun menjadi 48,5, dari bulan Juli 2013 sebesar 50,1 (Grafik 2.6). Sementara itu, sisi konsumsi terindikasi masih cukup kuat sebagaimana tercermin pada ekspansi kredit perbankan yang naik menjadi 16,1% (yoy) dan penjualan mobil yang meningkat. Perkembangan ekonomi global yang belum cukup kuat masih mendorong harga komoditas mencatat kontraksi. Pertumbuhan tahunan Indeks Harga Komoditas Ekspor Indonesia (IHEx) masih mencatat kontraksi 7,7% (yoy), meskipun level harga pada triwulan III 2013 sedikit meningkat. Kenaikan harga komoditas terutama terjadi pada harga minyak. Setelah sempat menurun pasca penundaan penyerangan Suriah oleh AS, harga minyak dunia kembali meningkat setelah pengumuman penundaan tapering oleh The Fed. Ekonomi global yang belum kuat juga berpengaruh pada inflasi global pada triwulan III 2013 yang cenderung turun. Tingkat inflasi dunia pada bulan Agustus 2013 menurun menjadi 3,0% (yoy) dibandingkan bulan sebelumnya (3,2%, yoy). Penurunan tekanan inflasi global pada Agustus 2013 didorong oleh penurunan inflasi di beberapa negara maju dan negara berkembang sejalan dengan penurunan harga minyak dan kenaikan harga makanan yang mulai mereda. Ditengah kondisi ekonomi global tersebut, ketidakpastian di pasar keuangan masih tinggi. Sejumlah risiko mengemuka terkait dengan penundaan kebijakan pengurangan stimulus The Fed (tapering), perdebatan debt ceiling dan penghentian sementara layanan pemerintah AS (government shutdown). Perkembangan tersebut menurunkan kinerja pasar keuangan global pada triwulan III 2013 (Grafik 2.7). Namun demikian, penundaan kebijakan pengurangan stimulus The Fed (tapering) di akhir triwulan III 2013 telah mendorong masuknya aliran dana nonresiden ke bursa saham dan obligasi kawasan dan mendorong menguatnya mata uang Asia. Perkembangan ekonomi global yang belum kuat tersebut secara umum mendorong respon kebijakan moneter bank sentral global masih akomodatif. Namun demikian, beberapa bank sentral mulai melakukan pengetatan (tightening) guna merespons tekanan inflasi dan ketidakseimbangan kondisi eksternal. Bank sentral India menaikkan benchmark repo rate pada September 2013 sebesar 25 bps menjadi 7,5% untuk menahan laju inflasi. Suku bunga standing facility juga diturunkan menjadi 9,5% dari 10,25% untuk melonggarkan likuiditas perbankan. Bank sentral Brazil kembali menaikkan selic rate di akhir Agustus 2013 sebesar 50 bps menjadi 9,0%, setelah bulan sebelumnya melakukan intervensi nilai tukar melalui currency swaps dalam jumlah besar dan credit line. Bank sentral Brazil telah menaikkan selic rate sebanyak 175 bps sejak akhir tahun 2012. 6
Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini Tabel 2.1 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sisi Pengeluaran Komponen 2012 2013 I II III Konsumsi Rumah Tangga 5,3 5,2 5,1 4,8 Konsumsi Pemerintah 1,2 0,4 2,1 8,6 Pembentukan Modal Tetap %Y-o-Y, Tahun Dasar 2000 Domestik Bruto 9,8 5,8 4,7 2,6 Ekspor Barang dan Jasa 2,0 3,6 4,8 4,8 Impor Barang dan Jasa 6,6-0,1 0,6 0,3 PDB 6,2 6,0 5,8 5,6 Sumber : BPS Grafik 2.8 Indeks Ekspektasi Pendapatan 6 Bulan Ke Depan Grafik 2.9 Indeks Keyakinan Konsumen PERTUMBUHAN EKONOMI Sisi Pengeluaran Ekonomi global yang melambat serta daya beli domestik yang belum meningkat pasca kenaikan harga BBM bersubsidi mendorong ekonomi Indonesia bergerak dalam tren melambat. Pada triwulan III 2013. Pertumbuhan ekonomi diprakirakan sebesar 5,6% (yoy), lebih lambat dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan pada triwulan II 2013 sebesar 5,8% (yoy) (Tabel 2.1). Perlambatan ini terutama disebabkan oleh konsumsi rumah tangga dan investasi, khususnya investasi nonbangunan. Konsumsi rumah tangga diprakirakan melambat seiring dengan pelemahan daya beli masyarakat akibat kenaikan harga BBM dan depresiasi nilai tukar rupiah, yang pada gilirannya mendorong kontraksi pada investasi nonbangunan. Pada sisi eksternal, kinerja ekspor riil pada triwulan III 2013 diprakirakan tumbuh stabil seiring pemulihan ekonomi global yang belum kuat. Sejalan dengan itu, impor diperkirakan sedikit menurun dipengaruhi permintaan domestik yang melambat dan nilai tukar yang berada dalam tren melemah. Konsumsi rumah tangga diprakirakan tumbuh melambat pada triwulan III 2013 sejalan dengan penurunan daya beli masyarakat. Upaya untuk menjaga daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah melalui Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) belum mampu mengimbangi tekanan kenaikan harga. Daya beli yang belum meningkat ini terindikasi pada hasil survei konsumen BI bulan Agustus 2013 yang menunjukkan keyakinan atas pendapatan saat ini dan ekspektasi pendapatan ke depan masih dalam tren menurun (Grafik 2.8). Selain itu, kondisi penurunan daya beli masyarakat juga tercermin pada Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) BI bulan September 2013 yang turun (Grafik 2.9). IKK Danareksa pada bulan Juli 2013 juga turun disebabkan oleh kekhawatiran konsumen yang meningkat terhadap kenaikan harga barang (Grafik 2.9). Perlambatan indikator penjualan juga menjelaskan lebih rendahnya kinerja konsumsi rumah tangga. Penjualan eceran pada bulan Agustus 2013 mengalami kontraksi, bersumber dari hampir seluruh kelompok barang, kecuali barang rekreasi dan bahan bakar. Indikator penjualan eceran selama triwulan III 2013 yang melambat ditengah perayaan hari raya keagamaan, juga mengindikasikan daya beli masyarakat yang terbatas. Perlambatan juga terindikasi dari tren perkembangan pembelian barang tahan lama (durable goods) yang turun sejak awal tahun 2013. Penjualan mobil tumbuh rendah sebesar 1,9% (yoy) pada bulan Agustus 2013 (Grafik 2.10). 7
Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini Tren perlambatan investasi diprakirakan masih berlanjut pada triwulan III 2013 seiring dengan permintaan domestik yang melemah dan pemulihan ekspor yang terbatas. Kinerja konsumsi rumah tangga dan ekspor yang belum kondusif mengurangi insentif pelaku usaha untuk melakukan investasi. Perilaku pelaku usaha yang belum melakukan penambahan investasi baru juga disebabkan oleh utilisasi kapasitas industri pada semester I 2013 yang berada di bawah kondisi minimum historis (Grafik 2.11). Grafik 2.10 Indikator Penjualan Grafik 2.11 Kapasitas Utilisasi Grafik 2.12 Pembiayaan Investasi dan Suku Bunga Kredit Investasi Grafik 2.13 Nilai Riil Ekspor Nonmigas Perlambatan pertumbuhan investasi terutama dipengaruhi oleh kontraksi investasi nonbangunan. Perkiraan ini dipengaruhi investasi mesin yang diprakirakan turun lebih dalam, sejalan dengan indikator impor mesin pada Juli 2013 yang menurun. Investasi alat angkutan juga masih lemah yang terindikasi dari impor mobil penumpang dan alat angkut industri yang tumbuh negatif. Di sisi lain, pertumbuhan investasi bangunan juga diprakirakan sedikit melambat. Prakiraan tersebut didukung oleh data penjualan semen dan impor bahan bangunan yang melambat pada bulan Juli 2013. Secara keseluruhan, perkiraan perlambatan investasi juga sejalan dengan sumber pembiayaan usaha yang terbatas antara lain tercermin pada kredit investasi yang menurun (Grafik 2.12). Konsumsi pemerintah pada triwulan III 2013 diprakirakan meningkat sejalan dengan pola serapan anggaran yang meningkat di akhir tahun. Secara keseluruhan, realisasi belanja pemerintah sampai dengan bulan September 2013 mencapai 63,3%, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi di periode yang sama pada tahun 2012. Belanja pegawai tercatat lebih tinggi didorong realisasi pembayaran gaji ke-13 PNS/TNI/Polri. Realisasi belanja modal menunjukkan sedikit perbaikan, sedangkan realisasi belanja barang tercatat lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan kontribusi konsumsi pemerintah pada triwulan III 2013 maka realisasi APBN-P selama Januari-September 2013 mencatat defisit sebesar 1,1% dari PDB, lebih tinggi dibandingkan dengan defisit pada periode yang sama tahun 2012 sebesar 0,9% dari PDB. Hal itu terutama disebabkan oleh peningkatan belanja negara di tengah penurunan penerimaan negara. Penerimaan negara di sektor perpajakan menurun sebagai dampak dari perlambatan ekonomi domestik, kebijakan insentif perpajakan dan penurunan ekspor. Sementara itu, realisasi belanja negara meningkat antara lain karena akselerasi belanja modal dan penyaluran BLSM yang telah memasuki tahap kedua. Di sisi lain, realisasi pemenuhan pembiayaan mencapai 79,8% dari kebutuhan APBN-P. Terkait pembiayaan APBN tersebut, penerbitan SBN baru mencapai 70,5% dari target APBN-P, lebih rendah dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya. 8
Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini Grafik 2.14 Indikator Penuntun Ekspor Grafik 2.15 Nilai Riil Impor Nonmigas Dari sisi eksternal, kinerja ekspor riil pada triwulan III 2013 diprakirakan tumbuh stabil (Grafik 2.13). Prakiraan tersebut didukung oleh pergerakan indikator penuntun (leading indicator) ekspor yang berada dalam fase akselerasi hingga akhir tahun 2013 (Grafik 2.14). Berdasarkan komoditas, ekspor pertanian dan manufaktur diperkirakan dalam tren menurun, sedangkan ekspor pertambangan diperkirakan meningkat. Penurunan ekspor pertanian disebabkan oleh perlambatan ekspor komoditas unggulan seperti udang, kopi dan ikan. Sejalan dengan itu, ekspor CPO, produk logam dasar dan kayu olahan tumbuh moderat sehingga menyebabkan perlambatan kinerja ekspor manufaktur. Di sisi lain, ekspor pertambangan menguat didorong oleh kenaikan permintaan batubara, tembaga dan nikel. Kinerja ekspor pertambangan tersebut dipengaruhi kebijakan relaksasi impor mineral yang akan segera diberlakukan dan berpotensi meningkatkan ekspor pertambangan hingga awal tahun 2014. Impor diprakirakan tumbuh sedikit melambat pada triwulan III 2013, dipengaruhi perlambatan permintaan domestik dan tren pelemahan nilai tukar rupiah (Grafik 2.15). Berdasarkan kelompok, perlambatan impor dipengaruhi oleh perlambatan impor bahan baku dan barang konsumsi, serta juga kontraksi pada impor barang modal. Perlambatan impor bahan baku terutama terjadi pada bahan baku produksi untuk industri berorientasi ekspor dan komponen barang modal. Impor barang konsumsi juga melambat seiring penurunan permintaan kendaraan penumpang serta komoditi makanan dan minuman untuk rumah tangga. Sementara itu, impor pada kelompok barang modal diperkirakan mengalami kontraksi sejalan dengan penurunan investasi nonbangunan. %Y-o-Y, Tahun Dasar 2000 Tabel 2.2 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sisi Lapangan Usaha 2013 Komponen Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan 2012 4,0 I 3,6 II 3,2 III 3,2 Pertambangan & Penggalian 1,5-0,2-1,2-1,3 Industri Pengolahan 5,7 5,9 5,8 5,4 Listrik, Gas & Air Bersih 6,4 6,6 6,6 6,6 Konstruksi 7,5 7,0 6,9 6,6 Perdagangan, Hotel & Restoran 8,1 6,5 6,5 6,0 Pengangkutan & Komunikasi 10,0 10,0 11,5 10,7 Keuangan, Real Estate & Jasa Perusahaan 7,1 8,4 8,1 7,5 Jasa-jasa 5,2 6,5 4,5 5,7 PDB 6,2 6,0 5,8 5,6 Sumber : BPS Sisi Lapangan Usaha Tren perlambatan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2013 tergambar pada kinerja beberapa sektor utama. Pertumbuhan yang melambat terjadi pada sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan dan sektor konstruksi (Tabel 2.2). Kinerja sektor pertambangan diprakirakan tumbuh melambat pada triwulan III 2013. Perlambatan sektor pertambangan disebabkan oleh pertumbuhan produksi minyak yang lebih rendah sampai dengan Juli 2013 akibat gangguan produksi beberapa lapangan migas. Sementara itu, kinerja pertambangan nonmigas terindikasi meningkat sebagaimana tercermin dari meningkatnya ekspor pertambangan khususnya batubara. Sebagaimana disebutkan bahwa kinerja sektor industri pengolahan dan sektor bangunan diprakirakan tumbuh melambat pada triwulan III 2013. Perlambatan pertumbuhan merupakan dampak dari kenaikan harga BBM yang menurunkan daya beli masyarakat. Purchasing Manager Index (PMI) HSBC pada September 2013 menunjukkan aktivitas manufaktur yang masih terbatas. Kinerja subsektor alat angkut juga melemah, tercermin dari perlambatan penjualan mobil dan penjualan alat berat. Selain itu, kinerja subsektor makanan 9
Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini dan minuman juga diprakirakan melambat. Hal yang sama juga terlihat pada kinerja sektor bangunan yang diprakirakan tumbuh melambat. Perlambatan sektor bangunan sejalan dengan kinerja investasi bangunan yang diperkirakan dalam tren melambat juga. Pada Agustus 2013, penjualan semen dan alat berat konstruksi terpantau tumbuh lebih lambat. Berdasarkan keterangan konsultan properti Jones Lang LaSalle, beberapa developer properti mulai menunda ekspansi terutama untuk ruang perkantoran dan pusat perbelanjaan. Perlambatan kinerja juga terjadi pada sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR), sektor pengangkutan dan komunikasi, serta sektor keuangan. Kinerja sektor PHR diprakirakan tumbuh melambat pada triwulan III 2013. Tingkat hunian hotel menunjukkan penurunan pada Agustus 2013 seiring penurunan jumlah wisatawan domestik di saat Lebaran. Sementara itu, indeks penjualan eceran pada pertengahan triwulan III 2013 tumbuh lebih lambat (Tabel 2.2). Kinerja sektor pengangkutan dan komunikasi diprakirakan melambat, terutama akibat perlambatan pada subsektor angkutan. Kinerja subsektor komunikasi masih cukup kuat ditopang penjualan data dan dorongan aktivitas komunikasi pemilu. Sementara itu, kinerja subsektor angkutan udara terindikasi tumbuh lebih rendah, tercermin dari pertumbuhan penumpang angkutan udara hingga pertengahan triwulan III 2013. Kinerja sektor keuangan, persewaan, dan jasa diprakirakan tumbuh melambat pada triwulan III 2013. Perlambatan tersebut disebabkan oleh aktivitas ekonomi yang termoderasi dan kenaikan suku bunga kredit. Selain itu, perlambatan juga terindikasi oleh pertumbuhan kredit bank dan pembiayaan LKBB yang melambat hingga pertengahan triwulan III 2013. Gambar 2.1 Peta Pertumbuhan Ekonomi Daerah Triwulan III 2013 10
Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini Secara keseluruhan, tren perlambatan ekonomi Indonesia triwulan III 2013 antara lain tergambar di sebagian besar wilayah Sumatera dan Jakarta. Hal ini terindikasi pada berbagai indikator terkait konsumsi rumah tangga yang cenderung melemah seperti nilai tukar petani, impor barang konsumsi dan kredit konsumsi di wilayah tersebut (Gambar 2.1). Kinerja ekspor di Sumatera juga mulai tertahan seiring perbaikan harga komoditas global yang terbatas. Di samping itu, produksi hasil perkebunan juga terindikasi tumbuh lebih rendah karena pengaruh iklim dan minimalnya insentif harga jual. Sementara itu, perekonomian Jakarta menghadapi tekanan dari melemahnya kinerja investasi terkait mulai meningkatnya suku bunga pinjaman dan depresiasi nilai tukar rupiah. Pertumbuhan ekonomi di Jawa dan Kawasan Timur Indonesia (KTI) terindikasi meningkat. Peningkatan tersebut didukung oleh perbaikan kinerja ekspor dan konsumsi domestik yang relatif stabil. Perbaikan kinerja ekspor di Jawa terutama bersumber dari ekspor manufaktur. Sementara itu, peningkatan ekspor di KTI bersumber dari ekspor barang tambang seperti nikel, batu bara, dan tembaga, di tengah masih terbatasnya perbaikan harga di pasar global. Grafik 2.16 Perkembangan Neraca Perdagangan Grafik 2.17 Aliran Dana Non Residen pada Portofolio Rupiah NERACA PEMBAYARAN INDONESIA Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan III 2013 diprakirakan lebih baik. Prakiraan ini dipengaruhi oleh defisit neraca transaksi berjalan yang diproyeksikan menyempit, didorong dampak melemahnya permintaan domestik dan pelemahan nilai tukar rupiah. Di sisi lain, surplus transaksi modal finansial (TMF) diprakirakan akan lebih besar seiring kembali masuknya investor asing pada SBI dan SUN, serta berkurangnya net jual asing atas saham domestik sebagai respon kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah dan penundaan tapering off di AS. Prospek penurunan defisit transaksi berjalan pada triwulan III 2013 tersebut terindikasi pada neraca perdagangan di Agustus 2013 yang mencatat surplus. Surplus terutama dipengaruhi oleh impor yang menurun. Impor menurun sebesar 3,7% (yoy) yang bersumber dari turunnya impor migas dan impor nonmigas. Impor nonmigas turun sebesar 8,8% (yoy). Penurunan impor nonmigas terjadi pada semua jenis barang dengan penurunan tertinggi terjadi pada impor barang modal sebesar 18,6% (yoy). Dengan perkembangan tersebut, neraca perdagangan bulan Agustus 2013 mencatat surplus sebesar 366 juta dolar AS, lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya yang mencatat defisit sebesar 2,2 miliar dolar AS (Grafik 2.16). Perkiraan surplus TMF triwulan III 2013 dipengaruhi oleh perkiraan masih kuatnya Foreign Direct Investment (FDI) serta aliran dana nonresiden yang kembali meningkat di akhir triwulan III 2013. Secara keseluruhan triwulan, investor nonresiden membukukan net beli sebesar 11
Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini 188,67 juta dolar AS setelah mengalami net jual 2,55 miliar dolar AS pada triwulan sebelumnya. Akumulasi kepemilikan nonresiden terjadi di SUN dan SBI masing-masing sebesar 762,15 juta dolar AS dan 241,98 juta dolar AS, sementara di saham terjadi net jual sebesar 815,46 juta dolar AS. Aksi beli di SUN terutama terjadi di bulan September 2013 sebagai respon dari bauran kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia serta ditundanya tapering off QE oleh The Fed pada 19 September 2013 (Grafik 2.17). Sementara itu, aksi lepas saham nonresiden terjadi di sepanjang triwulan III 2013 dengan tekanan terbesar terjadi di bulan Agustus 2013. Sejalan dengan kondisi NPI tersebut serta respons Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai rupiah, cadangan devisa pada akhir September 2013 mencapai 95,7 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa tersebut meningkat bila dibandingkan posisi akhir Agustus 2014 sebesar 93,0 miliar AS. Posisi cadangan devisa di September 2013 tersebut setara dengan 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah sehingga masih cukup aman mendukung ketahanan sektor eksternal dan berada di atas standar kecukupan internasional. Grafik 2.18 Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Grafik 2.19 Apre/Depre Triwulanan Mata Uang Regional & Euro NILAI TUKAR RUPIAH Kinerja transaksi berjalan yang diperkirakan masih defisit mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah yang berada dalam tren melemah di triwulan III 2013. Secara rata-rata, nilai tukar rupiah melemah 8,18% (qtq) ke level Rp10.652/dolar AS dari level Rp9.781/dolar AS pada triwulan sebelumnya (Grafik 2.18). Sementara secara point-to-point, rupiah terdepresiasi sebesar 14,29% (qtq) dan ditutup di level Rp11.580/dolar AS di akhir triwulan (Grafik 2.18). Selain pengaruh defisit transaksi berjalan, pelemahan rupiah juga dipicu ketidakpastian di pasar keuangan global terkait isu tapering off oleh The Fed. Pengaruh isu global ini mengakibatkan pergerakan rupiah selama triwulan III 2013 sejalan dengan pergerakan mayoritas nilai tukar negara kawasan Asia lainnya (Grafik 2.19). Dari perkembangan harian, tekanan pelemahan rupiah terutama terlihat cukup kuat pada Agustus 2013 dan kemudian berkurang pada akhir triwulan III 2013. Berkurangnya tekanan depresiasi rupiah dipengaruhi oleh bauran kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia sejak Juni 2013 dan Pemerintah serta respon positif pelaku pasar terhadap penundaan tapering off oleh The Fed. Tren berkurangnya tekanan terhadap rupiah tersebut diiringi dengan menurunnya NDF poin serta membaiknya persepsi investor offshore terhadap rupiah. Kondisi ini tercermin dari kuotasi NDF yang lebih apresiatif dibandingkan kuotasi pada pasar spot rupiah. 12
Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini Grafik 2.20 Perkembangan Inflasi Grafik 2.21 Inflasi Inti Tradable, Nilai Tukar dan Indeks Harga Impor Grafik 2.22 Kapasitas Utilisasi dan Penjualan Riil Grafik 2.23 Ekspektasi Inflasi Pedagang Eceran INFLASI Tekanan inflasi pada triwulan III 2013 secara umum meningkat bila dibandingkan dengan triwulan II 2013. Perkembangan tersebut terutama disebabkan dampak kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi oleh Pemerintah pada akhir Juni 2013. Kenaikan harga BBM bersubsidi mendorong inflasi administered prices meningkat tinggi dari 6,7% (yoy) pada Juni 2013 menjadi 15,5% (yoy) pada September 2013 (Grafik 2.20). Kondisi ini pada gilirannya mengakibatkan inflasi IHK secara tahunan tercatat 8,4% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi Juni 2013 sebesar 5,9% (yoy). Namun demikian, dalam perkembangan bulanan, tekanan inflasi pasca kenaikan harga BBM bersubsidi dalam tren menurun. Setelah Juli 2013 tercatat tinggi 3,3% (mtm), inflasi IHK secara bertahap menurun menjadi 1,1% (mtm) pada Agustus 2013 dan mencatat deflasi 0,35% (mtm) pada September 2013. Penurunan tekanan inflasi secara bulanan dipengaruhi oleh hilangnya pengaruh kenaikan harga BBM bersubsidi tersebut serta menurunnya dampak lanjutan kenaikan harga BBM bersubsidi tersebut kepada barang lain (second round effect). Perlambatan inflasi juga dipengaruhi oleh menurunnya tekanan pada inflasi volatile food. Inflasi September 2013 yang tercatat deflasi 0,35% (mtm), memperkuat kondisi bahwa tekanan harga telah mereda pasca kenaikan harga BBM bersubsidi. Deflasi tersebut terutama didorong oleh koreksi harga pangan yang cukup tajam seiring berlalunya pola musiman lebaran dan dampak lanjutan kenaikan harga BBM yang berakhir di bulan September 2013. Berdasarkan kelompoknya, deflasi IHK dipengaruhi oleh deflasi pada kelompok volatile food sebesar 3,38% (mtm) atau inflasi 13,94% (yoy). Sementara itu, inflasi inti tercatat meningkat menjadi 0,57% (mtm) atau 4,72% (yoy), sedangkan inflasi administered prices tercatat kembali ke pola normal mencapai 0,34% (mtm) atau 15,47% (yoy). Deflasi pada kelompok volatile food di September 2013 merupakan inflasi terendah selama 10 tahun terakhir. Perkembangan ini dipengaruhi bawang merah dan cabai yang menyumbang deflasi hingga 0,69%. Jadwal panen yang mundur akibat anomali cuaca menyebabkan koreksi harga bawang dan cabai baru terjadi di bulan ini. Melimpahnya pasokan bawang merah dan cabai didorong oleh panen yang sedang berlangsung di beberapa sentra produksi. Penurunan harga kedua komoditas tersebut menyebabkan sisa alokasi impor yang belum terealisasi ditangguhkan dan dijadikan sebagai cadangan impor bila harga mengalami kenaikan sampai mencapai harga referensi. Komoditas pangan lainnya juga mengalami koreksi harga pasca hari raya sejalan dengan permintaan yang kembali normal. Untuk komoditas daging sapi, koreksi harga telah terjadi meskipun masih terbatas akibat realisasi pemotongan sapi yang baru mencapai 52%. Namun demikian, gangguan pasokan dari impor dan kenaikan harga kedelai dan CPO internasional mendorong tekanan harga pada komoditas turunannya seperti tempe, tahu, dan 13
Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini Grafik 2.24 Ekspektasi Inflasi Consensus Forecast Grafik 2.25 Suku Bunga PUAB O/N Grafik 2.26 Suku Bunga PUAB O/N & Vol DF O/N Grafik 2.27 Suku Bunga Perbankan minyak goreng. Tekanan pada harga daging ayam masih berlanjut disebabkan oleh kenaikan harga pakan Days Old Chicken (DOC) yang sebagian besar diimpor dan gangguan pasokan karena penyakit tetelo. Untuk beras, kenaikan harga didorong oleh penurunan produktivitas padi di sejumlah sentra produksi. Tekanan inflasi kelompok administered prices pada September 2013 cukup moderat akibat tidak adanya kebijakan harga strategis dari Pemerintah. Setelah mencapai puncaknya di bulan Juli 2013 sebagai dampak kenaikan harga BBM bersubsidi, secara bulanan tekanan inflasi administered prices kembali moderat. Inflasi di bulan September 2013 terutama bersumber dari tarif air minum PAM, kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) triwulan III 2013, dan rokok kretek filter. Inflasi inti pada September 2013 meningkat antara lain didorong dampak depresiasi rupiah, sedangkan pengaruh harga komoditas global masih rendah. Meningkatnya tekanan eksternal tersebut tercermin dari kenaikan inflasi inti traded (Grafik 2.21). Dampak pass-through nilai tukar ini tercermin pada inflasi barang-barang dengan kandungan impor tinggi seperti bahan bangunan, elektronik dan otomotif. Tekanan terhadap inflasi inti dapat berkurang karena permintaan domestik dalam tren menurun tercermin dari kapasitas utilisasi pada Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang masih sekitar 69% (Grafik 2.22). Kenaikan inflasi inti pada September 2013 dipengaruhi juga oleh ekspektasi inflasi yang masih tinggi. Hasil Survei Pedagang Eceran (SPE) Bank Indonesia (Grafik 2.23) menunjukkan ekspektasi inflasi pedagang masih dalam tren meningkat didorong oleh kenaikan harga bahan baku yang berasal dari impor. Ekspektasi inflasi konsumen untuk 3 bulan dan 6 bulan mendatang juga meningkat sehubungan dengan adanya perayaan hari raya Natal dan Tahun baru dan dimulainya persiapan pelaksanaan PEMILU 2014. Sementara itu, di pasar keuangan, kenaikan ekspektasi inflasi tercermin dari survei Consensus Forecast (CF) yang meningkat selama triwulan III 2013 didorong oleh ekspektasi depresiasi. Ekspektasi inflasi tahun 2013 hasil survei CF triwulanan meningkat signifikan dari 6,4% pada Juni 2013 menjadi 9,0% (Grafik 2.24). Tekanan inflasi yang mereda di akhir triwulan III 2013 tergambar pada beberapa daerah di Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara (Gambar 2.2). Inflasi di daerah tersebut pada akhir triwulan bahkan lebih rendah karena disertai koreksi harga yang dalam pada komoditas ikan segar. Namun demikian, beberapa daerah masih mencatat inflasi hingga kisaran 10%, antara lain Sumatera Barat, Papua Barat, Maluku Utara, Kalimantan Timur, dan Banten. 14
Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini Gambar 2.2 Peta Inflasi Daerah Triwulan III 2013 Grafik 2.28 Suku Bunga KMK, KI dan KK Grafik 2.29 Pertumbuhan DPK (%,yoy) PERKEMBANGAN PASAR KEUANGAN Suku Bunga Suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) O/N pada triwulan III 2013 meningkat sejalan dengan kenaikan BI Rate dan suku bunga Deposit Facility (DF). Rata-rata tertimbang suku bunga PUAB O/N pada triwulan III 2013 meningkat menjadi 5,05% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 4,23% (Grafik2.25). Sejalan dengan kenaikan suku bunga PUAB O/N tersebut, rata-rata tertimbang volume PUAB total turun menjadi Rp10,1 triliun dari Rp12,7 triliun, sedangkan rata-rata volume DF O/N meningkat menjadi Rp114,2 triliun dari Rp59,7 triliun (Grafik2.26). Kenaikan BI Rate juga tertransmisi kepada suku bunga perbankan, khususnya suku bunga deposito. Pada triwulan III 2013 (sampai dengan Agustus 2013), suku bunga deposito tercatat naik 29 bps sementara suku bunga kredit cenderung stabil. Akibatnya, spread antara suku bunga kredit dan deposito menurun menjadi 586 bps dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 615 bps (Grafik 2.27). Meskipun cenderung stabil, pergerakan suku bunga kredit bervariasi tergantung jenis penggunaannya. Suku bunga Kredit Modal Kerja (KMK) turun 3 bps menjadi 11,63%, suku bunga Kredit Investasi (KI) naik 8 bps menjadi 11,37% dan suku bunga Kredit Konsumsi (KK) turun 1 bps menjadi 13,05% (Grafik 2.28). 15
Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini Grafik 2.30 Kontribusi Pertumbuhan DPK (%) Dana, Kredit dan Uang Beredar Kenaikan suku bunga simpanan perbankan kemudian berpengaruh kepada Dana Pihak Ketiga Perbankan. Pertumbuhan DPK pada triwulan III 2013 meningkat dimana pada Agustus 2013 tercatat tumbuh 15,3% (yoy), lebih tinggi daripada triwulan sebelumnya yang sebesar 14,2% (yoy) (Grafik 2.29). Peningkatan pertumbuhan DPK tersebut terutama disumbang oleh peningkatan pertumbuhan deposito seiring dengan kenaikan suku bunga deposito. Pangsa deposito dalam DPK masih cukup tinggi sebesar 44%, sedangkan pangsa tabungan dan giro masing-masing sebesar 32% dan 24% (Grafik 2.30). Grafik 2.31 Pertumbuhan Kredit Penggunaan Grafik 2.32 Pertumbuhan Kredit Sektoral Pertumbuhan kredit selama triwulan III 2013 sudah menunjukkan tren perlambatan, meskipun lebih tinggi bila dibandingkan dengan pertumbuhan kredit pada akhir Juni 2013. Pertumbuhan kredit pada Agustus 2013 tercatat sebesar 22,2% (yoy), dalam tren menurun bila dibandingkan dengan bulan Juli 2013 sebesar 22,3%. Tren perlambatan ini antara lain dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi dan kenaikan suku bunga perbankan. Data lebih rinci pada bulan Agustus 2013 menunjukkan bahwa perlambatan pertumbuhan kredit terutama terjadi pada pertumbuhan kredit KK dan KI yang tumbuh melambat menjadi masingmasing 16,9% (yoy) dan 32,5% (yoy) dari 20,0% dan 33,5% pada Juli 2013 (Grafik 2.31). Secara sektoral, perlambatan pertumbuhan kredit terjadi pada sektor jasa dunia usaha dan sektor listrik, gas, dan air bersih, sedangkan pertumbuhan kredit pada sektor pengangkutan dan sektor perdagangan masih tinggi (Grafik 2.32). Sejalan dengan perlambatan ekonomi domestik, pertumbuhan likuiditas perekonomian, khususnya M1, turut melambat. Pertumbuhan M1 pada Agustus 2013 tercatat melambat menjadi 9,3% (yoy) dibandingkan dengan akhir triwulan sebelumnya yang sebesar 10,2% (yoy). Kondisi ini dipengaruhi perlambatan pertumbuhan uang kartal. Likuiditas perekonomian dalam arti luas (M2) juga dalam tren melambat. Pada Agustus 2013 tercatat 12,9% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Juli 2013 sebesar 14,7% (yoy) (Grafik 2.33). Berdasarkan faktor penyebabnya, pertumbuhan M2 terutama didorong oleh melambatnya pertumbuhan Net Domestic Asset (NDA) dari 25,3% pada Juli 2013 menjadi 22,2% pada Agustus 2013, di tengah masih terkontraksinya Net Foreign Asset (NFA). Grafik 2.33 Pertumbuhan Likuiditas Perekonomian Pasar Saham dan Pasar Surat Berharga Kinerja pasar saham domestik pada triwulan III 2013 mengalami tekanan seiring aksi portfolio adjustment oleh investor di emerging market. Pada triwulan III 2013, IHSG ditutup di level 4.316,18 (30 September 2013), turun sebesar 10,4% dibandingkan triwulan II 2013 di level 4.818,90 (28 Juni 2013) (Grafik 2.34). Koreksi yang dialami IHSG relatif tinggi 16
Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini Grafik 2.34 IHSG dan BI Rate Grafik 2.35 IHSG dan Perkembangan Bursa Global Grafik 2.36 IHSG dan Net Beli/Jual Asing dibandingkan bursa saham negara lain di kawasan seperti Thailand dan Filipina (Grafik 2.35). Pelemahan bursa domestik selama triwulan III 2013 dipicu oleh berbagai sentimen negatif domestik dan global. Dari faktor domestik, sentimen terkait dengan kekhawatiran meningkatnya inflasi ke depan, pelemahan nilai tukar rupiah dan defisit transaksi berjalan. Dari faktor global, sentimen dipengaruhi oleh kekhawatiran rencana tapering QE oleh The Fed dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Namun demikian, pelemahan indeks lebih lanjut tertahan oleh sejumlah sentimen positif di domestik dan global seperti penundaan tapering-off oleh The Fed. Secara keseluruhan, sentimen tersebut mendorong investor nonresiden mengurangi kepemilikannya di pasar saham. Selama triwulan III 2013, investor nonresiden mencatat net jual sebesar Rp8,54 triliun, dibandingkan triwulan II 2013 yang membukukan net jual sebesar Rp19,77 triliun (Grafik 2.36). Menurut sektoral, pelemahan bursa terdalam dialami oleh sektor properti yang terkoreksi sebesar 20,5%, diikuti sektor industri dasar sebesar 19,8%. Kenaikan suku bunga perbankan membuat saham-saham yang sensitif seperti sektor keuangan dan konstruksi, properti, real estate menjadi tertekan. Sektor pertambangan adalah satu-satunya yang mengalami penguatan (Grafik 2.37). Positifnya kinerja emiten pertambangan disebabkan oleh pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang justru menguntungkan karena perusahaan tambang umumnya berorientasi ekspor dan naiknya harga saham sektor energi sebagai imbas meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pada pasar Surat Berharga Negara, kinerja yang terjadi cenderung menurun seiring dengan dampak pelemahan nilai tukar dan peningkatan ekspektasi inflasi. Yield SBN selama triwulan III 2013 tercatat naik 117,89 bps menjadi 8,17% dibandingkan triwulan II 2013 yang sebesar 6,99% (Grafik 2.38). Imbal hasil SBN untuk jangka pendek, menengah, dan panjang meningkat masing-masing sebesar 92,98 bps, 136,18 bps dan 114,53 bps menjadi sebesar 7,39%, 8,31% dan 8,93%. Tekanan di pasar SBN juga diwarnai oleh tingginya kekhawatiran akan terjadinya tapering oleh The Fed, meningkatnya ketegangan politik di Timur Tengah, dan ketidakpastian pembahasan anggaran AS yang menimbulkan kekhawatiran atas US government shutdown. Grafik 2.37 IHSG dan Perkembangan Sektoral 17
Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini Grafik 2.38 Perubahan Yield SBN Triwulanan Kondisi Perbankan Di tengah tekanan sentimen global dan tren perlambatan ekonomi domestik, stabilitas sistem keuangan secara umum tetap terkendali, didukung oleh ketahanan industri perbankan yang tetap terjaga baik. Rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) tetap tinggi mencapai 17,89%, jauh di atas ketentuan minimum 8%, sedangkan rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) tetap terjaga rendah sebesar 1,99% pada bulan Agustus 2013 (Tabel 2.3). Hasil stress testing baik dari sisi likuiditas, kredit maupun permodalan juga menunjukkan ketahanan industri perbankan yang kuat terhadap berbagai risiko seperti perlambatan ekonomi, kenaikan suku bunga dan depresiasi nilai tukar rupiah. Tabel 2.3 Kondisi Umum Perbankan 2012 2013 Indikator Utama Sep Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Total Aset (T Rp) 4.009,4 4.262,6 4.211,0 4.237,1 4.313,8 4.367,8 4.418,7 4.461,8 4.510,3 4.581,1 DPK (T RP) 3.050,0 3.225,2 3.204,5 3.207,3 3.243,1 3.299,4 3.349,7 3.374,4 3.392,9 3.440,2 Kredit* (T Rp) 2.555,9 2.707,9 2.688,1 2.718,7 2.768,4 2.824,2 2.887,5 2.959,1 3.021,1 3.067,4 LDR* (%) 83,8 84,0 83,9 84,0 85,4 85,6 86,2 87,7 89,0 89,2 NPLs Gross* (%) 2,1 1,9 2,0 2,0 2,0 2,0 2,0 1,9 1,9 2,0 CAR (%) 17,4 17,4 19,2 19,2 18,9 18,6 18,4 18,0 18,0 17,9 NIM (%) 5,5 5,5 5,5 5,3 5,4 5,4 5,4 5,4 5,5 5,5 ROA (%) 3,1 3,1 3,1 2,9 3,0 2,9 3,0 3,0 3,0 3,0 * tanpa channeling 18
Prospek Perekonomian dan Faktor Risiko ke Depan 3. Prospek Perekonomian dan Faktor Risiko ke Depan Berbagai ketidakpastian ekonomi global yang diperkirakan masih akan berlanjut tidak dapat dihindari akan mempengaruhi prospek perekonomian Indonesia sampai akhir 2013. Sejalan dengan proyeksi ekonomi global yang belum cukup kuat, proses penyesuaian ekonomi domestik diperkirakan masih berlanjut. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada sisa tahun 2013 diprakirakan masih berada pada tren menurun sehingga keseluruhan tahun 2013 berada pada kisaran 5,5%-5,9%. Sementara itu, tekanan inflasi pada sisa 2013 diperkirakan sudah kembali pada pola normal sehingga diperkirakan berada pada kisaran 9,0%-9,8% untuk keseluruhan tahun 2013. Pada tahun 2014, pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan akan kembali meningkat pada kisaran 5,8-6,2%. Perkiraan ini dipengaruhi prospek ekonomi global yang semakin kondusif yang diperkirakan akan kembali meningkatkan ekspor. Selain itu, kinerja perekonomian domestik diprakirakan juga meningkat antara lain juga didorong oleh inflasi yang sudah menurun pada kisaran target 4,5±1%. Berdasarkan lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi tahun 2014 banyak ditopang oleh sektor-sektor utama seperti industri pengolahan, perdagangan-hotel-restoran, serta pengangkutan dan komunikasi yang diprakirakan membaik sejalan dengan pemulihan ekonomi global dan peningkatan kembali ekonomi domestik. Tabel 3.1 Proyeksi PDB Dunia (% yoy) Proyeksi 2012 2013 2014 PDB Dunia 3,2 2,9 3,5 Jepang 2,0 2,0 1,2 Amerika Serikat 2,8 1,6 2,5 Kawasan Eropa -0,6-0,6 0,8 Perancis 0,1-0,2 0,7 Jerman 0,9 0,4 1,2 Italia -2,4-1,7 0,3 Spanyol -1,7-1,7 0,4 Negara Kawasan Eropa Lainnya -1,0-1,0 0,8 China 7,8 7,5 7,5 India 5,1 4,3 5,2 Negara Lainnya 2,9 2,9 3,3 PROSPEK PEREKONOMIAN GLOBAL Sejalan dengan kinerja ekonomi dunia yang belum kuat sampai dengan triwulan III 2013, pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2013 diperkirakan akan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2013 tumbuh 2,9%, lebih rendah dibandingkan dengan prakiraan sebelumnya sebesar 3,0% (Tabel 3.1). Revisi ke bawah tersebut disebabkan oleh lebih rendahnya proyeksi pertumbuhan ekonomi AS dari semula 1,7% menjadi 1,6% sebagai dampak dari permasalahan fiskal yang dialami. Selain itu, revisi proyeksi juga dipengaruhi oleh data realisasi PDB beberapa negara emerging markets (BRICS + Thailand dan Malaysia) yang cukup rendah. Namun demikian, Bank Indonesia memperkirakan ekonomi dunia pada tahun 2014 akan kembali membaik dengan pertumbuhan ekonomi masih sama dengan proyeksi sebelumnya sebesar 3,5%. Sejalan dengan revisi ke bawah prakiraan pertumbuhan ekonomi dunia, volume perdagangan dunia tahun 2013 direvisi ke bawah menjadi 2,0% dari semula 2,1%. Selain itu, indeks harga komoditas nonmigas diprakirakan 19
Prospek Perekonomian dan Faktor Risiko ke Depan masih terkontraksi sebesar 8,2%. Berbeda dengan harga komoditas nonmigas, prospek harga minyak tahun 2013 diprakirakan masih tetap berada pada level yang tinggi sebesar USD109 per barel. Pada tahun 2014, volume perdagangan dunia diprakirakan kembali meningkat mencapai 3,2% pada tahun 2014 seiring dengan prospek perbaikan pertumbuhan perekonomian global. Sejalan dengan itu, indeks harga komoditas nonmigas juga diharapkan kembali tumbuh positif mencapai 1,6%. Sementara itu, harga minyak diprakirakan sedikit menurun pada 2014 mencapai USD104 per barel seiring dengan adanya peningkatan produksi minyak, terutama di negara-negara non-opec. PROSPEK PERTUMBUHAN EKONOMI Dengan berbagai proses penyesuaian ekonomi domestik di tengah prospek ekonomi global yang belum kuat, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2013 diprakirakan tumbuh pada kisaran 5,5%- 5,9%. Prakiraan tersebut dipengaruhi oleh mulai membaiknya kinerja ekspor, meskipun masih terbatas sehingga belum cukup untuk menopang perekonomian Indonesia. Permintaan domestik diprakirakan juga melemah baik pada konsumsi rumah tangga dan investasi terutama investasi nonbangunan, akibat daya beli masyarakat yang menurun karena tekanan harga yang cukup tinggi. Dari komponen konsumsi, konsumsi rumah tangga pada tahun 2013 diprakirakan tumbuh pada kisaran 4,7%-5,1%. Perlambatan konsumsi rumah tangga yang terjadi pada tahun 2013 terutama dipengaruhi oleh melemahnya daya beli masyarakat akibat kenaikan harga yang cukup tinggi pasca kenaikan harga BBM bersubsidi. Sementara itu, konsumsi pemerintah diprakirakan membaik pada semester II 2013 sehingga tumbuh pada kisaran 5,0%-5,4% (yoy) untuk keseluruhan tahun 2013. Konsumsi pemerintah diprakirakan meningkat pada triwulan III dan IV 2013 sejalan dengan pola serapan anggaran yang meningkat di akhir tahun. Keyakinan akan adanya perbaikan pada konsumsi pemerintah dipengaruhi oleh realisasi belanja pemerintah yang lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sampai dengan bulan September 2013, realisasi belanja pemerintah mencapai 63,3%, sedikit lebih baik dibandingkan dengan tahun 2012 sebesar 62,6% dari target APBN-P. Dari sisi investasi, perlambatan investasi diperkirakan masih berlangsung yang diprakirakan hanya tumbuh 3,6%-4,0% pada tahun 2013. Melambatnya pertumbuhan investasi pada tahun 2013 dipengaruhi oleh konsumsi rumah tangga yang menurun dan pemulihan ekspor yang masih terbatas. Kondisi permintaan baik dari domestik maupun eksternal yang belum kondusif tersebut menyebabkan insentif untuk melakukan investasi baru belum kuat. Selain itu, biaya untuk melakukan investasi juga mengalami peningkatan sejalan dengan kenaikan suku bunga dan pelemahan nilai tukar rupiah sehingga mendorong pelaku usaha untuk menunda rencana investasi baru. Berdasarkan 20
Sumber : BPS * Proyeksi Bank Indonesia Tabel 3.2 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sisi Pengeluaran Prospek Perekonomian dan Faktor Risiko ke Depan %Y-o-Y, Tahun Dasar 2000 2013 K o m p o n e n 2012 I II* III* 2013* 2014* Konsumsi Rumah Tangga 5,3 5,2 5,1 4,8 4,7-5,1 5,1-5,5 Konsumsi Pemerintah 1,2 0,4 2,1 8,6 5,0-5,4 1,2-1,6 Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto 9,8 5,8 4,7 2,6 3,6-4,0 5,7-6,1 Ekspor Barang dan Jasa 2,0 3,6 4,8 4,8 4,3-4,7 7,2-7,6 Impor Barang dan Jasa 6,6-0,1 0,6 0,3 0,4-0,8 5,8-6,2 PDB 6,2 6,0 5,8 5,6 5,5-5,9 5,8-6,2 jenisnya, investasi nonbangunan diprakirakan mengalami kontraksi lebih dalam dari prakiraan semula, sedangkan investasi bangunan meski melambat, diprakirakan tumbuh pada kisaran historisnya 6%-7%. Dari sisi eksternal, ekspor riil diprakirakan masih tumbuh terbatas pada kisaran 4,3%-4,7% pada tahun 2013. Pemulihan ekonomi global yang belum terlalu kuat di tengah masih menurunnya harga komoditas mendorong pertumbuhan ekspor pada tahun 2013 belum seoptimal yang diprakirakan sebelumnya. Belum optimalnya kinerja ekspor terutama terjadi pada ekspor untuk komoditas pertanian dan manufaktur, sedangkan ekspor komoditas pertambangan diprakirakan mengalami peningkatan didukung oleh kebijakan relaksasi impor mineral yang akan segera diberlakukan oleh Pemerintah. Sementara itu, pertumbuhan impor riil mulai termoderasi dan pada tahun 2013 diprakirakan berada pada kisaran 0,4%-0,8%. Prakiraan permintaan domestik yang melemah serta kinerja ekspor yang belum optimal mendorong prakiraan impor pada tahun 2013 hanya tumbuh moderat. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah serta implementasi beberapa kebijakan pemerintah untuk mengendalikan impor sebagai upaya untuk memperbaiki neraca transaksi berjalan juga berpengaruh pada pertumbuhan impor cukup rendah. Berdasarkan lapangan usaha, perlambatan ekonomi pada tahun 2013 dipengaruhi oleh kinerja sektor-sektor utama seperti industri pengolahan, perdagangan-hotel-restoran, serta pengangkutan dan komunikasi yang berada pada tren perlambatan. Sektor industri pengolahan diprakirakan tumbuh melambat sejalan dengan perlambatan ekonomi, khususnya konsumsi rumah tangga dan ekspor. Sektor perdagangan-hotel-restoran (PHR) diprakirakan turut turun akibat melemahnya daya beli konsumen yang tertekan kenaikan harga, terutama pasca kenaikan harga BBM bersubsidi. Sementara itu, subsektor pengangkutan dalam tren melambat, sedangkan subsektor komunikasi diprakirakan masih tinggi yang ditopang oleh kinerja sub sektor komunikasi terkait penjualan layanan komunikasi data. 21
Prospek Perekonomian dan Faktor Risiko ke Depan %Y-o-Y, Tahun Dasar 2000 Tabel 3.3 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sisi Pengeluaran 2013 K o m p o n e n 2012 I II III* 2013* 2014* Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan 4,0 3,6 3,2 3,2 2,6-3,0 2,7-3,1 Pertambangan & Penggalian 1,5-0,2-1,2-1,3-1,1 - -0,7-0,2-0,2 Industri Pengolahan 5,7 5,9 5,8 5,4 5,5-5,9 5,7-6,1 Listrik, Gas & Air Bersih 6,4 6,6 6,6 6,6 6,4-6,8 6,4-6,8 Konstruksi 7,5 7,0 6,9 6,6 6,5-6,9 6,2-6,6 Perdagangan, Hotel & Restoran 8,1 6,5 6,5 6,0 6,1-6,5 7,4-7,8 Pengangkutan & Komunikasi 10,0 10,0 11,5 10,7 10,5-10,9 9,6-10,0 Keuangan, Real Estate & Jasa Perusahaan 7,1 8,4 8,1 7,5 7,5-7,9 6,9-7,3 Jasa-jasa 5,2 6,5 4,5 5,7 5,4-5,8 5,5-5,9 PDB 6,2 6,0 5,8 5,6 5,5-5,9 5,8-6,2 Sumber : BPS * Proyeksi Bank Indonesia Sektor industri pengolahan diprakirakan tumbuh pada kisaran 5,5% - 5,9% pada tahun 2013. Kinerja sektor industri pengolahan selama tahun 2013 dipengaruhi oleh melemahnya permintaan eksternal dan domestik. Namun, dimulainya kegiatan persiapan Pemilu serta berlanjutnya pemulihan ekspor pada triwulan IV 2013 memberikan dukungan bagi kinerja sektor industri pengolahan sehingga dapat tumbuh relatif stabil. Sementara itu, pertumbuhan sektor bangunan diprakirakan berada pada tren melambat pada kisaran 6,5%-6,9% pada tahun 2013. Melambatnya pertumbuhan sektor bangunan terutama disebabkan oleh kinerja investasi yang masih menurun. Hal tersebut turut dikonfirmasi oleh adanya penundaan investasi oleh kontraktor (developer) khususnya untuk bangunan perkantoran dan pusat perbelanjaan. Kinerja sektor perdagangan-hotel-restoran (PHR) diprakirakan mencapai kisaran 6,1%-6,5% pada tahun 2013. Perlambatan yang terjadi pada sektor PHR pada tahun 2013 dibandingkan dengan tahun sebelumnya dikontribusi oleh melemahnya daya beli masyarakat sebagai dampak dari kenaikan harga BBM bersubsidi. Namun, perlambatan tersebut diprakirakan tidak terlalu dalam seiring dengan adanya dorongan permintaan belanja terkait pemilu. Pada tahun 2014, kondisi ekonomi global yang diprakirakan kembali kondusif berpengaruh positif terhadap ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2014 diprakirakan tumbuh lebih tinggi mencapai kisaran 5,8%-6,2% (Tabel 3.3). Prakiraan tersebut dipengaruhi oleh konsumsi rumah tangga yang diprakirakan akan mendapat tambahan dorongan dari kegiatan penyelenggaraan Pemilu 2014. Sementara itu, ekspor diharapkan dapat tumbuh lebih tinggi seiring dengan pemulihan ekonomi global. Dari sisi lapangan usaha, sektor-sektor utama, yakni sektor industri pengolahan, sektor perdaganganhotel-restoran (PHR), serta sektor pengangkutan dan komunikasi diprakirakan masih akan mendominasi pertumbuhan ekonomi nasional. 22
Prospek Perekonomian dan Faktor Risiko ke Depan PRAKIRAAN INFLASI Tekanan inflasi pada sisa tahun 2013 diperkirakan sudah mereda dan kembali kepada pola normal. Sebagaimana tergambar pada perkembangan inflasi sebelumnya, tekanan inflasi pada Agustus 2013 dan September 2013 sudah menurun dibandingkan dengan inflasi pada Juli 2013. Perkembangan ini diharapkan dapat terus berlanjut pada triwulan IV 2013 sehingga inflasi pada tahun 2013 secara keseluruhan tahun diprakirakan masih sesuai dengan perkiraan sebelumnya pada kisaran 9,0% - 9,8%. Namun demikian, beberapa tantangan perlu mendapat perhatian karena dapat mempengaruhi prospek inflasi. Tantangan tersebut terkait dengan depresiasi nilai tukar rupiah yang bergerak sejalan dengan proses penyesuaian di sisi eksternal. Pelemahan rupiah selain dapat meningkatkan tekanan inflasi inti, juga dapat memberikan pengaruh ke inflasi volatile food melalui kenaikan harga bahan pangan yang berasal dari impor (antara lain gandum, kedelai, jagung, dan sebagainya). Kenaikan harga pangan juga dipengaruhi oleh kembali masuknya masa paceklik untuk beberapa komoditas pangan seperti beras. Sementara itu, inflasi administered prices juga diperkirakan meningkat meskipun dengan besaran yang moderat, akibat kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) tahap ke-iv di tahun 2013. Pada tahun 2014, tekanan inflasi diprakirakan menurun dan akan bergerak di lintasan kisaran sasarannya sebesar 4,5±1%. Tekanan pada inflasi inti yang bersumber dari pelemahan nilai tukar rupiah diprakirakan berangsur-angsur menurun sejalan dengan membaiknya kondisi fundamental perekonomian yang dipengaruhi oleh membaiknya kondisi neraca transaksi berjalan. Perkiraan ini didukung asumsi bahwa Pemerintah tidak akan menaikkan harga barang dan jasa yang bersifat strategis (strategic administered prices). Selain itu, produksi dan distribusi bahan makanan juga diperkirakan tidak mengalami gangguan sebagaimana terjadi pada tahun 2013. Namun, beberapa risiko yang dapat menyebabkan lebih tingginya tekanan inflasi ke depan perlu tetap diwaspadai, khususnya terkait risiko dampak lanjutan kenaikan harga Tarif Tenaga Listrik serta gangguan produksi dan distribusi bahan makanan. 23
Tabel Statistik Tabel Statistik Tabel 1 Suku Bunga Pasar Uang, Deposito Berjangka, dan Kredit (Persen per Tahun) Periode Suku Bunga Pasar Uang Antarbank* Tingkat Diskonto SBI 1 bulan Suku Bunga Deposito Berjangka * 3 bulan 6 bulan 12 bulan 24 bulan Suku Bunga Kredit* Modal Kerja Investasi 2008 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2009 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2010 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2011 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2012 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2013 Trw. I Trw. II Trw. III* 7,52 9,00 8,13 8,52 9,29 10,17 11,73 14,49 14,53 5,58 8,75 7,46 7,87 8,40 9,54 11,73 13,88 13,99 6,83 8,25 7,13 7,44 7,80 8,91 11,24 13,31 13,45 4,33 8,00 7,19 7,42 7,65 8,24 10,83 13,00 13,01 8,01 7,96 6,88 7,26 7,57 7,79 10,06 12,88 12,59 8,43 8,73 7,19 7,49 7,79 7,78 9,91 12,99 12,51 9,37 9,71 9,26 9,45 9,14 9,34 9,83 13,93 13,32 9,40 10,83 10,75 11,16 10,34 10,43 8,62 15,22 14,40 8,04 8,21 9,42 10,65 10,45 11,31 8,33 14,99 14,05 6,96 6,95 8,52 9,25 9,75 11,37 9,03 14,52 13,78 6,30 6,48 7,43 8,35 8,71 10,80 9,14 14,17 13,20 6,28 6,46 6,87 7,48 7,87 9,55 9,10 13,69 12,96 6,20 6,72 6,83 6,91 7,10 7,15 7,95 12,32 12,18 6,03 7,36 6,82 6,95 7,15 7,08 7,27 12,24 12,13 5,40 6,28 6,83 7,05 7,39 7,04 6,61 12,39 12,06 4,55 5,04 6,35 6,81 7,19 7,06 6,33 12,18 12,04 3,76 3,83 5,66 6,31 6,69 6,71 6,31 12,01 11,62 3,95 4,32 5,39 5,76 6,14 6,42 6,00 11,79 11,46 4,07 4,67 5,40 5,69 5,91 6,16 5,97 11,71 11,36 4,17 4,80 5,58 5,76 6,05 6,09 5,47 11,50 11,28 4,18 4,87 5,51 5,64 6,00 5,86 5,45 11,45 11, 2 5 4,35 5,28 5,60 5,72 5,93 5,91 5,68 11,41 11, 1 4 4,95 5,86 6,19 6,16 6,20 6,17 5,86 11,63 11, 3 7 * Data s.d. Agt-13 24
Tabel Statistik Tabel 2 Perkembangan Transaksi di Pasar Uang (Miliar Rupiah) Periode Transaksi Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 2) antarbank 1) Penerbitan Pelunasan Posisi 2008 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 37.482 871.303 906.767 212.463 23.510 496.338 543.656 165.145 27.115 389.140 437.315 116.969 14.029 404.072 340.913 180.128 2009 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 22.897 448.505 394.904 232.700 30.656 324.806 324.776 232.731 29.038 375.134 387.188 220.676 24.566 631.235 592.048 259.864 2010 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 26.907 648.324 607.933 300.255 30.615 322.322 351.475 271.103 28.553 199.589 218.152 252.540 23.142 153.809 203.835 203.110 2011 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 30.401 86.480 56.066 233.524 36.788 51.790 96.325 188.988 30.061 19.822 57.593 151.217 30.262 51.641 79.605 123.253 2012 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 16.541 26.600 51.790 98.064 34.559 14.607 19.822 92.849 32.241 29.475 51.641 70.682 28.769 38.246 26.601 82.328 2013 Trw. I Trw. II Trw. III* 29.128 29.134 14.607 96.855 38.055 19.164 29.475 86.543 19.970 7.901 24.755 69.927 * Data s.d. Agt-13 1) Transaksi pagi & sore hari seluruh tenor 2) Termasuk SBIS (SBI Syariah) 25
Tabel Statistik ``` Tabel 3 Posisi Kredit Perbankan dalam Rupiah dan Valuta Asing menurut Kelompok Bank dan Sektor Ekonomi 1) (Miliar Rupiah) 2010 2011 2012 2013 III IV I II III IV I II III IV I II III* 1 Bank Pemerintah - Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan - Pertambangan dan Penggalian - Industri Pengolahan - Listrik, Gas dan Air Bersih - Konstruksi - Perdagangan, Hotel dan Restoran - Pengangkutan dan Komunikasi - Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan - Jasa-jasa - Lain-lain 2 Bank Umum Swasta Nasional - Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan - Pertambangan dan Penggalian - Industri Pengolahan - Listrik, Gas dan Air Bersih - Konstruksi - Perdagangan, Hotel dan Restoran - Pengangkutan dan Komunikasi - Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan - Jasa-jasa - Lain-lain 3 Bank Pemerintah Daerah - Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan - Pertambangan dan Penggalian - Industri Pengolahan - Listrik, Gas dan Air Bersih - Konstruksi - Perdagangan, Hotel dan Restoran - Pengangkutan dan Komunikasi - Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan - Jasa-jasa - Lain-lain 4 Bank Asing & Campuran - Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan - Pertambangan dan Penggalian - Industri Pengolahan - Listrik, Gas dan Air Bersih - Konstruksi - Perdagangan, Hotel dan Restoran - Pengangkutan dan Komunikasi - Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan - Jasa-jasa - Lain-lain 5 Bank Perkreditan Rakyat - Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan - Pertambangan dan Penggalian - Industri Pengolahan - Listrik, Gas dan Air Bersih - Konstruksi - Perdagangan, Hotel dan Restoran - Pengangkutan dan Komunikasi - Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan - Jasa-jasa - Lain-lain 6 Sub jumlah (1 s,d, 5) - Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan - Pertambangan dan Penggalian - Industri Pengolahan - Listrik, Gas dan Air Bersih - Konstruksi - Perdagangan, Hotel dan Restoran - Pengangkutan dan Komunikasi - Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan - Jasa-jasa - Lain-lain 595.131 630.148 644.289 698.315 732.981 761.373 776.340 837.231 871.892 942.253 959.124 1.049.288 1.068.698 49.215 48.438 47.383 50.807 54.201 64.679 65.447 75.401 78.497 88.397 89.966 95.830 96.215 20.736 25.560 25.067 29.661 29.793 32.732 29.174 31.581 30.448 38.155 39.738 43.802 37.667 93.060 93.695 93.217 97.836 102.021 107.849 107.349 119.518 131.156 140.696 139.898 150.490 161.804 13.483 17.326 17.127 22.057 33.700 20.433 33.357 28.496 37.445 27.322 30.638 36.064 33.028 21.096 20.384 22.125 24.441 26.864 27.536 29.098 33.887 36.559 37.482 37.177 43.469 44.701 114.918 110.981 107.948 110.903 121.305 131.263 128.238 166.246 162.221 179.095 199.575 252.482 256.686 24.856 26.826 27.732 29.955 28.579 33.166 32.427 35.743 37.211 40.316 41.368 52.980 54.903 13.413 18.598 18.459 20.566 27.092 29.788 33.208 37.991 37.978 40.673 41.851 43.428 42.521 57.597 73.129 77.552 91.101 85.628 79.941 79.043 66.331 54.480 64.733 53.256 30.442 31.038 186.758 195.211 207.678 220.989 223.797 233.987 238.998 242.037 265.898 285.385 285.657 300.301 310.136 715.217 775.323 801.246 864.006 926.563 1.001.042 1.032.022 1.115.711 1.155.306 1.217.835 1.244.462 1.306.001 1.351.111 26.403 30.199 31.246 32.635 32.589 36.114 37.417 41.093 41.266 41.241 42.914 44.132 46.102 19.827 21.247 24.580 25.692 28.560 32.877 32.140 30.430 30.191 29.893 31.267 32.922 34.882 103.688 114.203 118.350 131.180 141.472 154.543 160.581 170.221 179.911 194.244 194.694 204.139 212.556 9.984 10.646 11.459 12.017 13.356 17.470 18.462 19.497 21.494 22.139 22.553 23.442 24.088 29.701 29.811 30.969 31.502 32.781 34.552 38.072 40.751 43.513 40.861 41.241 45.612 50.929 164.959 185.508 182.418 199.463 211.302 228.294 233.391 261.329 270.478 294.462 302.327 317.037 321.920 36.756 35.841 38.252 41.482 44.124 48.506 50.792 56.639 57.758 61.050 62.785 64.312 67.198 63.336 71.266 74.634 84.593 89.819 95.767 100.916 107.475 112.204 117.867 123.351 132.822 139.391 62.127 62.394 62.318 65.667 69.748 73.021 72.978 76.577 79.032 84.561 84.872 89.361 91.643 198.437 214.209 227.020 239.774 262.813 279.899 287.274 311.700 319.460 331.516 338.459 352.223 362.401 138.961 143.067 149.005 161.201 169.764 175.489 181.837 198.114 207.693 218.435 226.867 244.339 251.279 4.359 4.488 4.910 5.389 5.633 6.113 9.005 10.498 8.458 8.942 9.208 9.723 9.940 755 992 947 1.076 1.247 1.279 1.571 2.168 2.173 1.931 1.951 1.559 1.549 2.751 2.890 2.869 3.326 3.493 3.687 3.634 4.267 4.417 5.436 5.296 5.657 5.846 1.243 1.408 1.548 1.689 1.810 2.204 2.740 2.837 2.611 2.599 2.891 2.851 2.928 9.983 9.145 8.264 9.561 11.679 10.258 8.360 10.734 13.555 11.827 9.636 13.384 15.317 16.263 17.337 17.962 19.732 20.618 21.077 20.707 22.260 22.341 23.171 24.374 26.863 27.100 1.686 1.832 1.934 2.311 2.571 2.832 2.840 3.120 3.256 3.422 3.442 3.499 3.397 2.049 2.088 2.179 2.151 1.965 2.516 2.653 3.315 3.235 3.315 3.845 4.422 4.694 6.546 6.476 6.519 6.199 6.231 6.254 5.934 5.893 9.027 9.718 10.876 11.791 11.920 93.326 96.411 101.873 109.766 114.516 119.268 124.393 133.022 138.620 148.074 155.350 164.589 168.590 195.410 201.368 204.704 211.713 231.851 244.699 257.789 282.402 300.980 309.969 318.028 339.153 374.114 6.803 6.797 7.062 6.764 7.478 6.173 6.381 8.294 7.545 8.075 8.384 9.458 10.844 11.567 12.660 13.503 12.616 16.945 18.579 23.202 26.267 28.536 31.591 29.226 29.042 36.128 58.905 63.065 62.023 64.710 75.612 76.340 85.688 92.253 102.704 103.099 111.719 122.313 137.068 3.930 4.230 3.513 4.437 4.953 5.404 5.513 6.194 6.552 6.749 6.963 7.124 7.803 3.183 3.828 3.306 3.229 3.164 2.547 3.187 4.745 4.492 4.909 4.484 5.868 6.435 20.176 21.848 20.166 24.469 22.659 21.450 27.829 33.051 38.093 43.392 45.004 46.628 48.971 11.184 10.415 9.566 10.004 11.108 10.081 11.432 13.407 13.613 14.214 15.787 16.554 18.697 42.591 44.534 49.916 48.834 52.370 52.096 57.078 60.208 61.907 60.203 59.264 64.304 68.759 5.475 3.982 5.136 4.530 4.732 19.064 4.291 4.348 4.162 4.685 4.936 4.673 5.294 31.596 30.010 30.513 32.120 32.829 32.965 33.188 33.635 33.376 33.052 32.260 33.190 34.116 32.832 33.695 35.566 38.018 39.650 41.082 43.552 46.571 48.408 49.562 52.561 56.054 57.346 2.390 2.602 2.714 2.967 2.985 3.132 3.453 3.635 3.739 3.745 3.875 4.148 4.179 0 36 39 48 46 65 70 66 96 99 97 96 104 589 476 517 561 575 584 621 635 670 674 708 733 734 0 14 18 20 23 26 27 38 31 29 30 34 38 0 257 344 416 478 617 708 840 950 1.010 992 1.199 1.296 11.233 10.553 11.193 11.815 12.085 12.426 13.238 14.052 14.480 14.683 15.310 15.490 15.651 0 575 680 705 897 901 983 995 1.094 1.139 1.144 1.168 1.148 0 96 161 166 211 250 275 283 302 335 344 451 540 3.823 4.011 4.020 4.205 3.981 3.911 4.139 3.994 4.221 4.265 4.615 5.554 5.940 14.795 15.072 15.879 17.115 18.369 19.169 20.039 22.033 22.826 23.583 25.446 27.181 27.715 1.677.551 1.783.601 1.834.810 1.973.253 2.100.808 2.223.685 2.291.541 2.480.029 2.584.278 2.738.054 2.801.041 2.994.835 3.102.549 89.170 92.525 93.315 98.562 102.886 116.210 121.704 138.922 139.505 150.399 154.347 163.291 167.280 52.885 60.495 64.136 69.093 76.592 85.532 86.157 90.512 91.443 101.669 102.280 107.421 110.330 258.993 28.640 274.330 33.625 276.975 33.667 297.613 40.221 323.174 53.842 343.002 45.538 357.873 60.099 386.893 57.062 418.857 68.133 444.149 58.838 452.314 63.075 483.332 69.514 518.009 67.884 63.962 63.426 65.009 69.150 74.966 75.510 79.427 90.956 99.069 96.089 93.529 109.531 118.677 327.549 346.226 339.688 366.382 387.969 414.509 423.402 496.937 507.613 554.802 586.590 658.499 670.328 74.482 75.488 78.163 84.457 87.279 95.486 98.474 109.906 112.932 120.142 124.526 138.514 145.343 121.389 136.582 145.349 156.310 171.456 180.418 194.129 209.272 215.626 222.393 228.655 245.427 255.905 135.568 149.992 155.546 171.702 170.320 182.191 166.385 157.143 150.922 167.963 158.554 141.820 145.834 524.913 550.913 582.963 619.763 652.325 685.288 703.891 742.428 780.180 821.611 837.172 877.484 902.959 * Data s.d. Agustus-13 1) Tidak termasuk pemerintah pusat, bukan penduduk, nilai lawan valas, RDI dan kredit kelolaan 26
Tabel Statistik Tabel 4 Uang Beredar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi (Miliar Rupiah) M2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Uang Beredar Akhir Periode Jumlah 1) Jumlah 2) M1 Uang Kartal Uang Giral Uang Kuasi Aktiva Luar Negeri Bersih Tagihan Bersih Pemerintah Pusat 3) Tagihan Pada Lembaga Pemerintah BUMN Tagihan Pada Perusahaan Swasta dan Perorangan Lainnya Bersih 4) 2009 Trw. II Trw. III Trw. IV 1.977.533 482.621 203.406 279.215 1.491.950 655.440 399.395 48.996 1.319.240-102.181 2.018.031 490.022 210.343 279.679 1.525.204 658.645 390.288 55.139 1.347.876-107.445 2.141.384 515.824 226.006 289.818 1.622.055 679.448 429.406 66.589 1.403.686-119.293 2010 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2.112.083 494.461 205.083 289.378 1.611.373 726.192 370.121 79.813 1.397.656-153.773 2.231.144 545.405 222.828 322.577 1.680.374 756.588 304.728 97.067 1.511.482-116.738 2.274.955 549.941 229.825 320.117 1.720.039 824.481 283.694 97.679 1.583.468-139.665 2.471.206 605.411 260.227 345.184 1.856.720 865.121 368.717 99.369 1.684.207-121.460 2011 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2.451.357 580.601 241.618 338.984 1.862.788 911.389 318.001 91.980 1.727.537-149.448 2.522.784 636.206 261.504 374.702 1.876.446 970.573 216.791 96.052 1.864.834-129.049 2.643.331 656.096 279.224 376.872 1.973.573 918.902 237.643 105.744 1.989.000-81.378 2.877.220 722.991 307.760 415.231 2.139.840 912.174 351.177 102.594 2.118.376-29.895 2012 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. Iv 2.911.920 714.258 287.046 427.212 2.182.891 926.120 297.113 108.407 2.189.236 1.779 3.050.355 779.416 314.670 464.746 2.254.329 925.568 284.336 116.927 2.361.812 15.087 3.125.533 795.518 325.566 469.952 2.318.559 975.633 298.898 116.428 2.471.071 15.597 3.304.645 841.722 361.967 479.755 2.452.503 965.442 389.833 158.382 2.584.819 10.716 2013 Trw. I Trw. II Trw. III* 3.322.529 810.055 331.169 478.886 2.500.342 947.362 366.902 167.033 2.619.784 21.937 3.413.379 858.499 347.146 511.353 2.543.285 833.821 330.871 181.353 2.797.999 36.822 3.501.298 855.778 359.412 496.365 2.624.829 879.470 340.162 184.271 2.893.893 37.788 * Data s.d. Agustus-13 1) M1 + uang kuasi + surat berharga selain saham dgn sisa jk.waktu s.d 1 thn 2) Uang Kartal ditambah uang giral 3) Termasuk rekening khusus pemerintah 4) Termasuk derivatif keuangan 27
Tabel Statistik Tabel 5 Uang Primer dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya (Miliar Rupiah) 2010 2011 2012 2013 III IV I II III IV I II III IV I II III* I. Uang Primer a. Statutory Reserve Shortfall b. Uang yang diedarkan - Uang kartal di masyarakat - Kas bank umum c. Saldo Giro Positif Bank d. Giro Sektor Swasta 423.809 518.447 506.785 541.624 565.149 613.488 586.034 627.359 638.869 704.843 664.935 691.678 713.448 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 288.846 318.575 290.466 315.539 336.521 372.972 340.602 374.431 384.840 439.720 394.822 413.492 437.097 229.871 260.715 242.118 265.196 279.224 307.735 287.046 314.670 325.566 361.966 331.226 347.204 347.507 58.975 57.860 48.349 50.343 57.297 65.237 53.556 59.761 59.274 77.754 63.596 66.288 89.589 93.665 159.106 174.569 183.427 189.546 207.538 209.747 215.349 219.865 239.957 230.860 236.417 236.711 497 484 460 530 473 116 359 330 912 133 77 611 390 II. Faktor-faktor yang mempengaruhi Uang Primer a. Net Domestic Assets - Tagihan Bersih pada Pemerintah - Bantuan Likuiditas - Kredit Likuiditas - Tagihan Lainnya - Operasi Pasar Terbuka - SBI (net) 2) - FASBI - Lain-Lain 3) -314.736-310.837-380.067-453.626-411.166-352.386-395.860-341.092-384.146-351.241-320.455-248.654-265.109 72.816 160.777 105.983 23.206 38.676 166.928 94.654 64.873 78.161 200.520 148.605 158.098 142.755 8.659 8.466 8.465 7.965 8.470 8.199 8.199 2.877 2.877 2.088 2.088 2.088 2.088 7.838 7.682 7.739 7.638 7.609 7.364 7.328 7.298 7.286 6.976 6.967 6.959 6.935-74.968-64.702-62.992-84.989-96.336-120.391-143.629-159.388-200.354-212.554-211.228-184.953-245.268-319.912-417.012-433.933-402.578-362.498-403.347-353.429-254.567-269.416-344.565-272.082-233.716-174.054-211.739-162.828-192.235-146.860-112.608-90.391-62.738-55.600-37.430-57.294-57.679-45.386-35.656-23.110-101.256-49.218-58.451-87.835-169.916-211.103-120.703-69.536-84.622-64.534-123.955-147.401-76.124-145.863-172.167-168.812-126.802-73.974 10.184-6.638-69.754-102.496-50.059 16.931 77.386 - SBPU Repo - Net Other Items -9.170-6.049-5.329-4.868-7.086-11.139-8.983-2.184-2.701-3.705 5.194 2.871 2.435 * Data s.d. Agustus-13 1) sebelum Juni 1997 menggunakan NFA, setelah Juni 1997 menggunakan NIR dengan kurs tetap Rp. 7.000,- per US $ sejak juni 1998 s.d. Maret 1999 menggunakan kurs tetap Rp. 10.000,- per US $ sejak April 1999 menggunakan kurs tetap Rp. 7.500,- per US $ sejak 21 November 1999 menggunakan kurs Rp. 7.000,- per US $ sejak 25 Mei 2000 untuk perhitungan NIR menggunakan konsep IRFCL(Int l Reserve and Foreign Currency Liquidity) 2) sejak Maret 2000 termasuk SBI Syariah 3) termasuk di dalamnya adalah SUN dan FTO (Fine Tune Operation 28
Tabel Statistik Tabel 6 Neraca Pembayaran Indonesia 1) (Juta US$) 2010 2011 2012* 2013** III IV Total I II III IV Total I II III IV Total I II I. Transaksi Berjalan A. Barang bersih (Neraca Perdagangan) 1. Ekspor f.o.b 2. Impor f.o.b B. Jasa-jasa (bersih) C. Pendapatan (bersih) D. Transfer Berjalan II. Transaksi Modal dan Finansial A. Transaksi Modal B. Transaksi Finansial 1. Investasi Langsung a. Ke Luar Negeri (bersih) b. Di Indonesia/FDI (bersih) 2. Investasi Portofolio a. Aset (bersih) b. Kewajiban (bersih) 3. Investasi Lainnya a. Aset (bersih) b. Kewajiban (bersih) 2) III. Jumlah (I + II) IV. Selisih Perhitungan V. Neraca Keseluruhan (III + IV) VI. Lalu Lintas Moneter 3) a. Perubahan Cadangan Devisa b. IMF: Penarikan Pembayaran 1.043 870 5.144 2.947 273 766-2.301 1.685-3.164-8.176-5.264-7.827-24.431-5.819-9.848 7.593 9.232 30.627 9.264 9.223 9.700 6.596 34.783 3.810 818 3.190 801 8.618 1.602-601 39.712 45.830 158.074 45.901 51.810 52.376 50.701 200.788 48.353 47.538 45.549 47.056 188.496 45.231 45.670-32.119-36.598-127.447-36.637-42.587-42.676-44.105-166.005-44.543-46.720-42.360-46.255-179.878-43.629-46.272-2.155-2.787-9.324-1.822-3.133-2.562-3.115-10.632-1.983-2.790-2.359-3.198-10.331-2.480-3.070-5.547-6.876-20.790-5.525-6.776-7.416-6.959-26.676-6.048-7.101-6.955-6.643-26.748-6.044-7.140 1.151 1.301 4.630 1.029 960 1.045 1.176 4.211 1.058 898 861 1.213 4.029 1.102 962 7.464 9.728 26.620 4.835 11.626-3.110 216 13.567 2.096 5.087 5.885 12.080 25.148-328 8.199 4 26 50 1 4 5 23 33 6 3 8 22 37 1 3 7.460 9.702 26.571 4.834 11.622-3.115 193 13.534 2.091 5.085 5.878 12.058 25.111-329 8.196 1.764 4.419 11.106 3.782 2.507 2.119 3.120 11.528 1.550 3.747 4.539 4.146 13.982 3.876 3.324-1.191-64 -2.664-1.529-2.526-1.350-2.307-7.713-2.932 452-1.391-1.551-5.422-206 -902 2.955 4.483 13.771 5.311 5.034 3.469 5.428 19.241 4.482 3.295 5.930 5.697 19.404 4.083 4.226 4.517 1.437 13.202 2.920 5.213-4.571 245 3.806 2.628 3.873 2.516 190 9.206 2.760 2.529-1.597-353 -2.511-829 -508 91 57-1.189-457 -185 31-4.855-5.467-965 -658 6.114 1.789 15.713 3.749 5.721-4.662 188 4.996 3.085 4.058 2.485 5.045 14.673 3.726 3.187 1.179 3.846 2.262-1.868 3.902-663 -3.172-1.801-2.087-2.535-1.177 7.722 1.922-6.966 2.343-1.960 2.447-1.725-1.002 2.303-3.255-4.800-6.754-3.487-2.724-698 1.556-5.353-6.779 3.619 3.139 1.400 3.987-865 1.599 2.592 1.628 4.954 1.400 189-479 6.166 7.275-187 -1.276 8.507 10.597 31.765 7.781 11.899-2.344-2.085 15.252-1.068-3.088 621 4.252 717-6.147-1.650-1.552 692-1.480-115 -23-1.616-1.641-3.395 34 277 213-1.027-503 -468-827 6.955 11.289 30.285 7.666 11.876-3.960-3.726 11.857-1.034-2.811 834 3.225 215-6.615-2.477-6.955-11.289-30.285-7.666-11.876 3.960 3.726-11.857 1.034 2.811-834 -3.225-215 6.615 2.477-6.955-11.289-30.285-7.666-11.876 3.960 3.726-11.857 1.034 2.811-834 -3.225-215 6.615 2.477 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Memorandum: Posisi Cadangan Devisa 4) (dalam bulan impor dan pembayaran utang luar negeri) Transaksi Berjalan (% PDB) Rasio Pembayaran Utang (%) 5) a.l. Sektor Terkait Pemerintah dan Otoritas Moneter 6) 86.551 96.207 96.207 105.709 119.655 114.503 110.123 110.123 110.493 106.502 110.172 112.781 112.781 104.800 98.095 6.9 7.2 7.2 7.5 7.9 7.1 6.5 6.5 6.2 5.8 6.1 6.1 6.1 5.7 5.4 0.6 0.5 0.7 1.49 0.13 0.3 (1.1) 0.2 (1.5) (3.7) (2.4) (3.6) (2.8) (2.6) (4.4) 20.3 23.7 21.7 18.4 21.9 19.8 24.8 21.3 30.3 35.0 35.2 39.4 34.9 34.8 41.4 4.8 6.2 5.8 2.1 4.0 2.0 4.0 3.0 2.1 4.2 2.1 4.3 3.2 2.1 4.0 *) Angka sementara **) Angka sangat sementara R) Revisi 1) Format baru sejak publikasi Januari 2004 2) Tidak termasuk pinjaman IMF 3) Negatif berarti surplus dan positif berarti defisit. Sejak kuartal pertama 2004, perubahan cadangan devisa untuk data realisasi hanya mencakup data transaksi. 4) Sejak 1988, posisi cadangan devisa berdasarkan aktiva luar negeri menggantikan cadangan devisa resmi. Sejak 2000, posisi cadangan devisa memakai konsep Internasional Reserve and Foreign Currency Liquidity (IRFCL). 5) Perbandingan antara pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri terhadap ekspor barang dan jasa. 6) Terdiri dari Pemerintah, BUMN di luar bank, dan Bank Indonesia. 29
Tabel Statistik Tabel 7 Perkembangan Perubahan Indeks Harga Konsumen Menurut Kelompok dan Sub Kelompok Barang dan Jasa (Persen) 1) Kelompok/Sub Kelompok 2010 2011 2012 2013 III IV I II III IV I II III IV I II III I. Bahan Makanan A. Padi-padian. umbi-umbian dan hasil-hasilnya B. Daging dan hasil-hasilnya C. Ikan segar D. Ikan diawetkan E. Telur. susu dan hasil-hasilnya F. Sayur-sayuran G. Kacang-kacangan H. Buah-buahan I. Bumbu-bumbuan J. Lemak dan minyak K. Bahan makanan lainnya II. Makanan jadi. Minuman. Rokok dan Tembakau A. Makanan jadi B. Minuman yang tidak beralkohol C. Tembakau dan minuman beralkohol III. Perumahan A. Biaya tempat tinggal B. Bahan bakar. penerangan dan air C. Perlengkapan rumah tangga D. Penyelenggaraan rumah tangga IV. Sandang A. Sandang laki-laki B. Sandang wanita C. Sandang anak-anak D. Barang pribadi dan sandang lainnya V. Kesehatan A. Jasa kesehatan dan obat-obatan B. Obat-obatan C. Jasa perawatan jasmani D. Perawatan jasmani dan kosmetik VI. Pendidikan. Rekreasi dan Olah Raga A. Biaya pendidikan B. Kursus dan pelatihan C. Perlengkapan/peralatan pendidikan D. Rekreasi E. Olah raga VII. Transpor dan Komunikasi A. Transpor B. Komunikasi dan pengiriman C. Sarana dan penunjang transpor D. Jasa Keuangan U M U M 5,65 3,46-0,12-0,94 2,83 1,86 0,77 1,55 2,23 1,03 7,70-0,48 4,21 9,78 6,81-2,42 0,83 7,77 4,27 2,74-0,82 1,26 2,67 0,31 0,11 2,33 12,83-7,24-1,71 2,18 4,66-0,62 0,41 2,03 3,27 2,18 3,05 3,08 10,50 7,47-1,67 3,91 1,31 3,45-1,75 3,24 0,45 3,35 0,30 3,50-0,24 7,36 1,41 0,74 4,05 3,23 2,11-0,92 2,32 2,06 1,80-0,60 5,25 2,34 4,38 2,71 0,55 1,89 0,95 0,74 1,53 1,63-0,02 0,83 1,86 0,77 3,79 1,83 1,08 4,47-2,92 1,67 5,48 0,48-1,62 0,65 7,02-0,79 10,59 2,19 4,99 3,27 0,66 3,83-0,39 2,81-0,63 0,25 1,54 11,01-0,04 0,91-0,12 10,61 3,46 1,41 1,70 1,01 2,21 1,57-0,33 1,39 6,64 0,01 9,89 3,06 4,51-1,06 20,90-4,32-19,05-12,71 12,43-7,83 15,55-9,81 3,95 65,15-15,59-3,10 2,05 6,59 5,85-0,05 1,13-1,34 2,33-0,62 1,23-3,22-0,17 0,02 3,10 2,96 0,62 0,44 1,39 4,77 0,32 1,46 1,98 1,40-0,90 1,31 2,15 1,92 1,86 1,31 1,28 0,83 1,36 0,96 1,46 1,51 2,14 0,88 1,33 1,33 3,04 1,92 1,08 1,19 0,80 0,96 0,71 1,13 0,94 1,94 0,88 1,40 1,32 3,65 1,91 1,72 0,55-0,53 1,13 0,75 1,46 3,03 2,38 0,26 0,76 0,60 1,11 1,48 1,63 2,25 2,23 2,88 1,76 2,33 1,96 2,58 1,34 1,69 1,63 2,83 2,11 0,82 1,18 0,77 0,78 0,71 1,02 0,78 0,77 0,74 1,59 1,38 1,72 0,82 1,12 1,72 0,83 0,96 0,98 1,35 0,95 0,83 1,15 1,65 0,82 1,60 6,03 0,10 0,30 0,47 0,44 0,16 0,55 0,68-0,04 0,11 1,94 2,79 2,26 0,70 0,47 0,69 0,71 0,78 0,32 0,49 0,43 0,79 0,55 0,72 0,26 1,52 0,90 1,05 0,99 1,09 0,79 0,73 0,75 0,83 1,92 0,54 1,25 1,41 1,04 1,05 3,75 0,45 1,97 4,71 0,29 1,29-0,29 2,53 1,08-1,04-2,63 4,76 1,78 0,56 1,11 1,02 1,78 1,46 1,14 0,57 0,96 0,42 0,91 0,64 1,73 1,20 0,35 0,28 0,69 0,88 1,19 0,84 0,47 1,21 0,51 0,65 0,23 1,12 1,64 0,31 0,25 0,99 1,51 1,49 1,06 0,61 1,20 0,36 0,17 0,63 1,20 0,61 9,44 0,31 3,79 11,56-1,30 1,59-1,42 4,83 1,67-3,39-7,54 9,72 0,77 0,49 1,54 1,30 0,75 0,60 0,81 0,62 0,80 0,64 1,09 0,68 1,04 0,51 0,50 1,79 1,07 0,72 0,33 0,89 0,52 0,65 0,51 1,28 0,19 0,70 0,41 0,47 1,56 0,98 0,35 0,65 0,69 0,56 0,59 0,51 0,56 0,59 0,67 2,07 0,75 2,35 1,32 0,80 1,17 1,31 0,91 0,86 0,87 1,23 0,70 2,98 1,01 0,50 1,36 1,72 1,00 0,70 0,69 0,68 1,00 0,76 1,11 1,22 1,16 2,39 0,60 0,72 0,28 3,69 0,41 0,30 0,19 3,36 0,33 0,36 0,25 2,79 4,42 0,64 0,51 0,12 6,74 0,63 0,15 0,08 5,27 0,48 0,25 0,02 3,14 0,69 0,73 0,50 1,13 2,32 0,54 0,56 0,27 0,99 0,23 1,08 0,38 2,35 1,06-0,03 0,39 0,32 1,16 0,13 0,43 0,38 0,72 0,15 0,65 0,30 1,09-0,03 0,56 1,18 0,23 0,29 0,13 0,55 0,41 0,47 0,18 0,34 0,93 2,69 0,53 0,47 1,89 0,63 0,29 0,69 0,37 0,34 0,23 0,56 0,69 0,38 0,92 2,45-0,32 0,55 0,36 1,15-0,14 0,40 0,31 1,00 0,47-0,01 3,95 9,76 1,59-0,51 0,81 0,51 1,81-0,26 0,47 0,41 1,39 0,61-0,07 5,79 13,98-0,10-0,11-0,16-0,37-0,37-0,18-0,10-0,10-0,07-0,09-0,06-0,09-0,01 15,77 0,42 0,64 0,84 0,40 0,62 1,01 0,64 0,49 0,82 0,32 0,39 1,28 0,00 0,00 0,09 0,03 0,01 0,00 0,00 0,01 1,48 0,00 0,86 0,00 0,00 2,79 1,59 0,70 0,36 1,89 0,79 0,88 0,90 1,68 0,77 2,43 0,90 4,08 * Data s.d Nov 2012 Keterangan : 1) Perubahan indeks pada akhir triwulan yang bersangkutan dibandingkan dengan indeks pada akhir triwulan sebelumnya (QTQ) Perhitungan IHK menggunakan tahun dasar 2007 (2007 = 100). Sumber : Badan Pusat Statistik (diolah) 30
Tabel Statistik Tabel 8 Perkembangan Laju Inflasi Menurut Kota (Persen) 1) K o t a 1. Lhokseumawe 2. Banda Aceh 3. Padang Sidempuan 4. Sibolga 5. Pematang Siantar 6. M e d a n 7. Padang 8. Pekanbaru 9. Batam 10. Jambi 11. Palembang 12. Bengkulu 13. Bandar Lampung 14. Pangkal Pinang 15. Dumai 16. Tanjung Pinang 17. Jakarta 18. Tasikmalaya 19. Serang 20. Tangerang 21. Cilegon 22. Bogor 23. Sukabumi 24. Bekasi 25. Depok 26. Bandung 27. Cirebon 28. Purwokerto 29. Surakarta 30. Semarang 31. Tegal 32. Yogyakarta 33. Jember 34. Sumenep 35. Kediri 36. Malang 37. Probolinggo 38. Madiun 39. Surabaya 40. Denpasar 41. Mataram 42. Bima 43. Maumere 44. Kupang 45. Pontianak 46. Singkawang 47. Sampit 48. Palangka Raya 49. Banjarmasin 50. Balikpapan 51. Samarinda 2010 2011 2012 2013 III IV I II III IV I II III IV I II III 0,05 5,99 0,62-0,46 2,61 0,76 1,20 1,23-0,73 1,29 4,03 1,68 1,17 1,47 3,01 0,26-0,15 2,03 1,15 0,16-0,09 0,44-0,45 1,39 1,86 2,25 0,82 3,92 0,87-1,07 3,49 1,35 0,36 1,18 0,96 1,00 1,08 1,22 4,00 2,67 4,89 0,79-0,90 2,02 1,77 0,82 2,33-0,09 0,21 3,71 2,50 1,48 1,08 4,37 1,19-0,39 2,76 0,64 1,60 1,93 0,98 0,14 3,50 1,88 3,65 1,52 2,76 0,32 0,04 3,46-0,28 0,52 1,44 0,78 1,00 2,45 2,37 3,38 0,74 3,47 1,46-0,89 3,17 1,57 0,09 1,25 1,76 1,01 2,33 2,61 3,74 1,83 2,48 1,51-0,30 2,30 1,50 0,66 1,11 0,89 0,66 2,62 1,30 3,02 1,76 2,05 0,70 0,50 2,06 0,45 0,23 0,64 0,65 0,49 1,21 1,20 3,63 2,37 3,02-0,80-0,16 3,22 0,52 0,31 2,62 0,92 0,32 2,08 1,82 3,53 2,50 1,65-0,27 1,15 2,00 0,86-0,23 1,27 0,68 0,98 2,21 0,80 3,05 3,88 1,43 0,20 0,27 3,66-0,18-0,10 1,38 3,01 0,27 2,61 1,80 4,59 4,39 2,57 1,11 0,15 2,30 0,62 0,31 1,36 1,98 0,59 2,73-0,09 4,30 5,18 2,15 1,92 0,45 4,06-1,44 2,06 0,76 4,41-0,75 4,20 1,29 2,48 2,21 3,71-0,25-0,31 2,56 1,08-0,58 1,28 1,66 0,82 1,68 1,97 2,86 1,66 1,45 1,28-0,61 1,99 0,64 0,71 0,00 2,86 0,32 1,84 0,98 6,59 2,63 1,32 0,68 0,65 1,89 0,70 0,83 0,64 1,75 1,24 1,96 0,61 4,36 1,80 1,48 0,77 0,25 1,62 1,46 1,21 0,55 1,77 0,30 2,42 0,41 3,72 1,54 2,33-0,40 0,07 2,07 1,03 0,70 1,38 1,41 0,85 3,76 0,95 4,25 2,46 1,44 0,53 0,66 1,75 0,80 0,73 1,08 1,87 0,69 2,86 1,41 4,70 1,69 1,82 0,30-0,33 0,95 1,42 0,70 0,96 1,69 0,51 3,63 0,80 3,13 2,74 1,15 0,50 0,79 0,78 0,75 0,21 0,41 3,04 0,37 2,67 1,48 4,15 2,96 0,75 0,32 0,54 2,31 1,03 0,74 1,08 1,29 0,81 2,28 1,06 4,01 2,85 1,47 0,94-0,37 1,26 1,58 0,76 0,61 1,95 0,11 2,66 1,93 4,58 2,52 2,25 0,55-0,18 1,74 0,81 0,45 1,44 1,84 0,33 3,09 1,61 5,08 2,21 0,93 0,26 0,27 0,69 1,50 1,25 0,50 1,79 0,43 2,31 1,43 4,02 3,52 1,44-0,31 0,07 2,09 1,34 0,07 0,51 2,32 0,45 2,90 0,59 4,11 2,20 1,37 0,69 0,38 1,43 0,86 1,03 0,85 1,88 0,90 2,48 1,36 3,20 1,91 2,33-0,83 0,03 1,61 1,14 0,59 1,00 0,43 0,82 3,84 0,26 2,97 3,33 1,37 0,37 0,02 1,76 0,70 1,12 1,19 2,00 0,46 2,87 0,25 4,15 2,65 1,83 0,39-0,08 1,95 0,31 0,22 1,23 1,70-0,07 1,12 0,42 4,26 2,91 1,63 1,14 0,10 1,73 0,85 0,71 0,91 1,38 1,25 2,70 0,24 3,24 2,35 2,60 0,80-0,77 1,39 1,00 0,85 0,83 1,65 1,09 2,80-0,24 3,95 3,69 0,97 0,11 0,87 1,58 1,57 0,98 1,22 2,16 0,61 3,25-0,54 3,33 2,23 1,83-0,15 0,52 2,19 1,03 0,53 1,21 2,40 0,43 2,52 0,59 4,07 2,57 1,75 0,73 0,24 1,90 1,14 0,45 0,87 2,06 1,15 2,77 0,34 3,69 3,46 0,54 1,20 0,29 1,63 0,61 0,63 1,73 2,49 0,92 2,83 0,03 4,05 2,39 2,02 0,80 0,02 1,75 0,88 0,67 0,58 1,72 0,49 3,14-0,31 3,77 3,93 1,32 1,25 0,34 2,23 0,83 0,73 0,82 1,85 0,92 2,90 0,11 3,66 3,77 1,44 1,26 0,82 0,82 0,80 2,01 0,63 0,87 1,13 3,73-0,32 3,20 3,34 2,28-0,07 0,33 4,08 1,94 2,52-0,01 1,56-0,01 3,33 0,48 3,77 2,23 1,31 0,63 1,12 1,89 3,39 1,11 0,97 1,57-0,09 3,66 0,40 5,48 3,02 0,60 0,86 1,42 2,04 2,12 0,49 3,56 1,68 0,64 1,33 0,04 3,25 3,08 1,06 2,32 0,07 0,75 1,13 1,13 1,29 1,04 1,55 3,02-0,13 4,21 4,75 1,03 1,42 0,39 3,32-0,28 2,20 1,45 2,34 0,47 2,08 1,91 4,09 4,61-1,24 2,31-0,05 4,55-0,19 1,95 1,30 0,80 0,11 2,15 0,63 2,45 2,65 2,91 0,72 0,20 1,64 1,00 2,60 0,26 0,61 1,16 3,46 0,50 2,57 3,64 2,01 0,06 1,36 3,40 0,39 2,25 0,68 1,54 2,10 1,98 0,59 2,14 2,86 1,54 0,47 0,77 1,74 0,95 2,45 0,28 1,37 1,74 1,76-0,20 3,64 4,14-0,21 2,38 2,15 1,98-0,18 2,11 0,83 2,82 0,52 2,52 1,01 3,70 3,28 0,75 2,77 1,19 2,36-0,21 2,13 0,11 2,31 0,21 2,91 1,08 5,69 31
Tabel Statistik Tabel 8 Perkembangan Laju Inflasi Menurut Kota (lanjutan) (Persen) 1) K o t a 52. Tarakan 53. Manado 54. P a l u 55. Watampone 56. Makassar 57. Parepare 58. Palopo 59. Kendari 60. Gorontalo 61. Mamuju 62. Ambon 63. Ternate 64. Manokwari 65. Sorong 66. Jayapura NASIONAL 2010 2011 2012 2013 III IV I II III IV I II III IV I II III 5,23 1,47 3,16-0,77 0,91 3,03 2,17 0,06 2,62 1,04 3,13 2,69 4,21 3,81 1,44 1,31-1,43-0,05 0,86 1,59 1,28 1,40 1,64 2,34-0,50 4,09 4,93 0,37 2,49-0,69 0,91 1,72 0,56 1,72 2,62 0,85 0,65-0,27 5,98 4,78-0,04 0,69 1,26 1,91 0,03 2,40 0,04 1,43-0,25 1,65 0,42 4,81 4,09 0,97 0,80 0,60 0,97 0,48 2,00 0,42 1,65 0,43 2,19 0,21 4,44 3,35 1,27 0,36-0,19 0,93 0,49 0,75 0,34 2,15 0,21 1,91 0,17 4,99 3,04 0,14 0,72 1,13 1,73-0,26 1,61 0,86 1,89-0,30 1,84-0,40 4,15 3,77-0,40 2,35 1,65 4,11-2,97 2,36 1,21 1,50 0,09 0,18 1,94 4,97 5,63 0,36 0,02 1,01 1,84 1,15 1,78 1,05 1,31 1,07 1,65-0,47 1,12 1,58 2,01 1,60 0,86 1,45 0,91 0,54 0,30 1,91 0,49 1,43 0,41 3,44 4,70 0,76-1,25 5,58-0,78-0,59 4,32 3,26-0,01-0,91 0,27 2,37 8,01 2,58 2,15 0,50 1,38 1,12 1,45 0,52 1,15 0,71 0,88 1,18 0,14 7,28 1,89 1,58-1,06 1,37 2,48 0,82-1,24 3,65 0,55 1,89 0,87 1,90 0,62 5,50-0,69-1,47 1,77 0,17 0,46-0,67 3,74 2,37-0,36 1,83 1,96 7,09 1,36 0,71 0,95 0,86 0,28 1,27-0,46 0,71 1,41 2,82 0,84 0,89 3,81 2,79 1,59 0,70 0,36 1,89 0,79 0,88 0,90 1,68 0,77 2,43 0,90 4,08 * Data s.d Nov 2012 Keterangan : 1) Perubahan indeks pada akhir triwulan yang bersangkutan dibandingkan dengan indeks pada akhir triwulan sebelumnya (QTQ) Perhitungan IHK menggunakan tahun dasar 2007 (2007 = 100). Sumber : Badan Pusat Statistik (diolah) 32
Tabel Statistik Tabel 9 Perubahan Indeks Harga Perdagangan Besar (Persen) 1) Akhir Pertanian Pertambangan Industri Impor* Ekspor* Umum* Periode 2008 Trw.I Trw.II Trw.III Trw.IV 7,05 4,08 7,17 6,64 5,88 6,45 7,75 10,78 12,60 15,56 14,14 12,55 4,68 3,54 1,40-9,23-5,31-1,92 0,00 4,27-4,14-11,86-13,55-6,67 2009 Trw.I Trw.II Trw.III Trw.IV 2,93 7,52-0,26 5,28 2,44 1,80 3,07-0,40 1,23 0,54-0,81 0,99 5,19 1,22 1,13-0,37-2,86 0,79 1,19 1,05 0,53 0,60 1,88 0,91 2010 Trw.I Trw.II Trw.III Trw.IV 2,05 0,60 1,57 0,22 0,27 1,17 2,25 0,80 0,60 0,69 2,70 1,29 3,74 0,52 1,41 0,14-1,00 1,14 1,75 0,92 1,04 5,17 4,30 2,43 2011 Trw.I Trw.II Trw.III Trw.IV 1,16 1,56 1,80 5,13 5,19 2,86 0,22 1,31 0,65-0,61 3,54 0,65 3,14 0,70 1,18 2,10 1,53 1,81 0,42 1,59 0,85 1,56 1,83 0,94 2012 Trw.I Trw.II Trw.III Trw.IV 1,58 1,72 1,40 4,60 4,91 2,65 1,61 0,85 0,58-4,25-3,20-0,81 1,85-0,66 1,04 6,67 2,39 2,35-0,49 0,74 0,22-0,07-1,46-0,27 2013 Trw.I Trw.II Trw.III 5,77 1,40 1,03 1,08 2,29 2,12 0,76 0,26 0,85-1,40-1,70-0,05 4,55 2,94 3,19 n.a n.a n.a Keterangan : 1) Perubahan indeks pada akhir triwulan yang bersangkutan dibandingkan dengan indeks pada akhir triwulan sebelumnya (QTQ) Perhitungan IHPB sejak tahun 2009 menggunakan tahun dasar 2005 (2005 = 100). Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS diolah) 33