BAB II KEADAAN MASYARAKAT DESA SIPOLDAS SEBELUM DIPERKENALKANNYA IRIGASI DAN MEKANISASI PERTANIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II. DESKRIPSI DESA NAMO RAMBE PADA TAHUN Kecamatan Namo Rambe, Kabupaten Deli Serdang. Luas wilayahnya sekitar 389

BAB II GAMBARAN UMUM SUMBUL PEGAGAN. Sumbul Pegagan adalah salah satu dari enam belas kecamatan di Kabupaten

BAB III PENYITAAN BARANG AKIBAT HUTANG PIUTANG YANG TIDAK DITULISKAN DI DESA BERAN KECAMATAN NGAWI KABUPATEN NGAWI

PENGARUH IRIGASI DAN MEKANISASI PERTANIAN TERHADAP PETANI DI

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Seberang Pulau Busuk merupakan salah satu desa dari sebelas desa di

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Sejarah Singkat dan letak geografis Desa Sikijang

BAB III PRAKTIK PENGGARAPAN TANAH SAWAH DENGAN SISTEM SETORAN DI DESA LUNDO KECAMATAN BENJENG KABUPATEN GRESIK

BAB II GAMBARAN UMUM KECAMATAN AJIBATA KABUPATEN TOBA SAMOSIR ( )

BAB III KONDISI MASYRAKAT TERANTANG. dipimpin oleh seorang kepala suku. Suku Domo oleh Datuk Paduko, Suku

BAB II DESA HUTAJULU HINGGA TAHUN 1960

BAB II KONDISI WILAYAH DESA SEMPOR. membuat sungai dari sebelah barat (Sungai Sampan), sedang yang muda

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Daerah tersebut merupakan daerah yang mempunyai iklim tropis dimana terdapat

BAB II DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN

BAB III PRAKTEK PENGUPAHAN SISTEM ROYONGAN DI DESA KLIRIS KECAMATAN BOJA KABUPATEN KENDAL. A. Demografi Desa Kliris Kecamatan Boja Kabupaten Kendal

BAB I PENDAHULUAN. yang merupakan hasil cipta, karsa dan karya manusia. Hal ini di sebabkan oleh beberapa faktor

I.PENDAHULUAN. kebiasaan-kebiasaan tersebut adalah berupa folklor yang hidup dalam masyarakat.

BAB II KONDISI DESA BELIK KECAMATAN BELIK KABUPATEN PEMALANG. melakukan berbagai bidang termasuk bidang sosial.

BAB II KONDISI UMUM KELURAHAN LOMANIS. kelurahan di wilayah Kecamatan Cilacap Tengah Kabupaten Cilacap.Lokasinya

59 cukup luas untuk ukuran sebuah Desa tersebut dibatasi oleh beberapa Desa di sekitarnya, yaitu: a. Sebelah utara Desa Margoagung b. Sebelah timur De

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. dikenal karena keberadaan Desa Gobah berada diantara Sungai Kampar dan

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG LOKASI PENELITIAN. Desa Pagaran Dolok merupakan salah satu desa dari Kecamatan Hutaraja

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB III DESKRIPSI ADAT SAMBATAN BAHAN BANGUNAN DI DESA KEPUDIBENER KECAMATAN TURI KABUPATEN LAMONGAN

I. PENDAHULUAN. peranan penting dalam penyediaan pangan, pangsa pasar, dan hasil produksi.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

LOKASI PENELITIAN. Desa Negera Ratu dan Negeri Ratu merupakan salah dua Desa yang berada

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. jarak dengan ibukota provinsi (pekanbaru)sekitar 200 km. 1) Sebelah utara berbatasan dengan desa sepotong

BAB I PENDAHULUAN. mendukung statusnya sebagai negara agraris, dengan sebagian besar masyarakat

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Pemerintah Daerah Kabupaten Pesawaran dibentuk berdasarkan Undang-undang

4. KARAKTERISTIK DESA. Pertemuan 5

BAB II ONAN RUNGGU. atas permukaan laut. Wilayah Onan Runggu memiliki luas sekitar 60,89 Km 2

BAB II GAMBARAN KELURAHAN TERKUL KECAMATAN RUPAT KABUPATEN BENGKALIS

BAB III PETANI DAN HASIL PERTANIAN DESA BENDOHARJO. A. Monografi dan Demografi Desa Bendoharjo

Batas-batas Desa Pasir Jambu adalah sebagai berikut:

BAB IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Sragi Kabupaten Lampung Selatan.

BAB II KONDISI WILAYAH DESA SOKARAJA TENGAH. RT dengan batas sebelah utara berbatasan dengan Desa Sokaraja Kulon, batas

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB I PENDAHULUAN. Manusia sebagai makhluk hidup dalam melangsungkan kehidupannya

BAB IV KONDISI UMUM 4.1 Letak dan Luas IUPHHK-HA CV. Pangkar Begili 4.2 Tanah dan Geologi

DESA - KOTA : 1. Wilayah meliputi tanah, letak, luas, batas, bentuk, dan topografi.

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Letak Geografis Kabupaten Tapanuli Utara

BAB III PRAKTIK PEMANFAATAN LAHAN STREN KALI BRANTAS DI DESA LENGKONG KECAMATAN MOJOANYAR KABUPATEN MOJOKERTO

BAB V STRUKTUR PENGUASAAN TANAH LOKAL

BAB I PENDAHULUAN. Memasuki era teknologi tinggi, penggunaan alat-alat pertanian dengan mesin-mesin

POLA KERUANGAN DESA A. Potensi Desa dan Perkembangan Desa-Kota Bintarto

BAB I PENDAHULUAN. menghasilkan suatu sistem nilai yang berlaku dalam kehidupan

BAB 11 PROFIL DESA KOTO PERAMBAHAN. Kampar Timur Kabupaten Kampar. Menurut beberapa tokoh masyarakat, Desa

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. satu suku yang dapat ditemui di Sumatera bagian Utara yang ber-ibukota Medan.

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Secara administratif Desa Restu Rahayu berada dalam wilayah Kecamatan

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. A. Keadaan Umum Kecamatan Teluk Betung Timur. Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 04 Tahun 2012, tentang

BAB II GAMBARAN UMUM MASYARAKAT MELAYU BATANG KUIS. merupakan sebuah kecamatan yang termasuk ke dalam bagian Kabupaten Deli

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kecamatan Sragi merupakan salah satu kecamatan dari 17 Kecamatan yang

BAB I PENDAHULUAN. peran pertanian bukan hanya menghasilkan produk-produk domestik. Sebagian

Alang-alang dan Manusia

BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Sidikalang merupakan salah satu kecamatan yang ada di kabupaten Dairi,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KONDISI OBJEKTIF DESA CIPETE KEC. PINANG KOTA TANGERANG BANTEN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II GAMBARAN UMUM

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Lokasi Geografis

BAB V KESIMPULAN. pemahaman bahwa perempuan berada dalam posisi yang kuat. Perempuan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Letak wilayah yang strategis dari suatu daerah dan relatif mudah

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. RT dengan jumlah penduduk jiwa yang terdiri dari kepala

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN Keadaan Umum Kabupaten Lampung Selatan. Wilayah Kabupaten Lampung Selatan terletak antara 105.

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. wilayah dari Desa Kasikan Kecamatan Tapung Hulu Kabupaten Kampar yaitu:

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Setiap manusia harus memenuhi kebutuhannya, guna kelangsungan hidup.

BAB II GAMBARAN UMUM DESA TELUK BATIL KECAMATAN SUNGAI APIT KABUPATEN SIAK. Sungai Apit Kabupaten Siak yang memiliki luas daerah 300 Ha.

V. GAMBARAN UMUM. administratif terletak di Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Provinsi Jawa Timur.

BAB I PENDAHULUAN. mengandalkan titik perekonomiannya pada bidang pertanian. Pada umumnya mata

BAB IV KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Desa Naga Beralih adalah salah satu Desa yang ada di Kecamatan Kampar Utara.

GAMBARAN UMUM WILAYAH. tenggara dari pusat pemerintahan kabupaten. Kecamatan Berbah berjarak 22 km

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN. wilayah kilometerpersegi. Wilayah ini berbatasan langsung dengan

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV GAMBARAN UMUM DESA DEWA JARA

BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK SEWA SAWAH DI DESA TAMANREJO KECAMATAN TUNJUNGAN KABUPATEN BLORA

AGRIBISNIS TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

VII. PERSEPSI MASYARAKAT KASEPUHAN SINAR RESMI TERHADAP PERLUASAN KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK (TNGHS)

SOAL CPNS PANCASILA. Petunjuk! Pilihlah jawaban yang paling tepat!

BAB V POLA PENGUASAAN LAHAN DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGUASAAN LAHAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. (1968) disebut sebagai tragedi barang milik bersama. Menurutnya, barang

BAB I PENDAHULUAN. Kekayaan budaya itu tersimpan dalam kebudayaan daerah dari suku-suku bangsa yang

BAB III PELAKSANAAN PENARIKAN PERSENAN TANAH PERSILAN OLEH POLISI HUTAN DI DESA TENGGIRING KECAMATAN SAMBENG KABUPATEN LAMONGAN

BAB III PRAKTIK KERJASAMA BUDIDAYA LELE ANTARA PETANI DENGAN PEMASOK BIBIT DI DESA TAWANGREJO KECAMATAN TURI KABUPATEN LAMONGAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. merupakan salah satu keunggulan bangsa Indonesia. Pada hakikatnya

IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Desa Sendayan, Desa Naga Beralih, dan Desa Muara Jalai.

POLA PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT PADA LAHAN KRITIS (Studi Kasus di Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan) Oleh : Nur Hayati

BAB III PRAKTIK SEWA TANAH PERTANIAN DENGAN PEMBAYARAN UANG DAN BARANG DI DESA KLOTOK PLUMPANG TUBAN

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Humbang Hasundutan, Kabupaten Toba Samosir, dan Kabupaten Samosir.

BAB I PENDAHULUAN. menjadi modal dasar pembangunan nasional disektor pertanian sebagai prioritas

BAB I PENDAHULUAN. data sosial ekonomi September 2013 sektor pertanian mampu menyerap tenaga kerja

PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI PURWAKARTA NOMOR 70.A TAHUN 2015 TENTANG DESA BERBUDAYA

Transkripsi:

BAB II KEADAAN MASYARAKAT DESA SIPOLDAS SEBELUM DIPERKENALKANNYA IRIGASI DAN MEKANISASI PERTANIAN 2.1 Letak Geografis Desa Sipoldas adalah salah satu desa dari 367 desa yang ada dalam wilayah kecamatan panei kabupaten simalungun. Desa Sipoldas terdiri dari 7 dusun Sipoldas Adapun Desa Sipoldas berbatasan dengan : - Sebelah Utara dengan Kecamatan Pamabean Panai - Sebelah Selatan dengan PTPN IV - Sebelah Barat dengan Nagori Bangun Rakyat - Sebelah Timur dengan PTPN IV Secara keseluruhan Desa Sipoldas merupakan wilayah yang sangat subur karena Desa Sipoldas adalah desa yang terletak di daerah dataran tinggi sehingga desa ini sangat cocok digunakan sebagai lahan pertanian. Keadaan jalan dan sarana transportasi menuju Desa Sipoldas juga sudah cukup baik. Jalan-jalan desa sudah lebar, begitu juga jalan penghubung antara dusun-dusun di Desa Sipoldas. Sebagian besar jalan-jalan desa telah beraspal namun ada juga jalan yang desa ini masih berupa tanah biasa, tetapi sudah ada batu-batauan yang menopang jalan. 2.2 Sistem Mata Pencaharian Desa Sipoldas adalah desa yang terletak di daerah dataran tinggi dan berbukit-bukit dengan tanahnya yang subur sehingga cocok dijadikan sebagai lahan pertanian. Pada awalnya penduduk yang datang ke Desa Sipoldas berusaha menebang hutan untuk dijadikan areal perladangan. Melihat tanahnya yang subur, maka mereka menetap dan kemudian memanggil sanak saudaranya. 10

Bertambahnya penduduk dan semakin hilangnya hutan yang akan ditebang, sehingga lahan pertanian yang akan digarap juga semakin kecil. Sehingga para masyarakat petani ini mulai berpikir bagaimana cara meningkatkan hasil pertanian tanpa meluaskan areal pertanian yang digarap (intensifikasi). Realisasi dari usaha meningkatkan hasil pertanian tanpa meluaskan areal pertanian, maka dibuatlah oleh masyarakat petani saluran irigasi yang sangat sederhana yaitu dengan membuat saluran-saluran dengan mengorek tanah (paret). Masyarakat Desa Sipoldas sering menyebut saluran irigasi seperti ini dengan sebutan Bondar. Dengan adanya irigasi ini maka hasil yang di dapatkan oleh petani semakin meningkat. Secara umum sistem mata pencaharian penduduk Desa Sipoldas dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel I Keadaan Penduduk Menurut Mata Pencaharian No Jenis Mata Pencaharian Jumlah 1 Petani 987 2 Pedagang Kecil 92 3 Pegawai Negri 18 4 Pegawai Swasta 81 5 Lain-lain 279 Jumlah 1457 Sumber data : Kantor Kepala Desa Sipoldas 1997 Jika dilihat dari tabel diatas dapat dikatakan bahwa masyarakat Desa Sipoldas umumnya bekerja dalam sektor pertanian. Petani ini terdiri dari petani pemilik tanah, petani penggarap, dan buruh tani. Petani pemilik tanah adalah petani yang memiliki areal pertanian sendiri dan sistem garapannya dilakukan oleh kelompok keluarganya. Petani penggarap adalah petani yang melakukan penggarapan di tanah milik orang lain dengan sistem sewa 11

tanah. Mereka ini ada yang menyewa dengan membayar uang dan ada juga yang membayar dengan hasil panen. Selain ada juga yang hanya mengerjakan lahan pertanian tetapi hasilnya bukan untuk mereka tetapi untuk pemilik tanah. Mereka ini yang lazim disebut sebagai buruh tani. Buruh tani mendapatkan upah dari pemilik tanah dari hasil jerih payah mereka mengerjakan lahan pertanian sawah maupun lahan pertanian ladang. Upah yang didapat mereka adalah berupa uang, tergantung dari luasnya lahan pertanian yang dikerjakan. Buruh tani dipakai jika seorang petani memiliki tanah yang cukup luas, sehingga petani tersebut memerlukan jasa mereka. Secara umum sistem pertanian yang berlaku di Desa Sipoldas adalah pertanian lahan kering(berladang) dan pertanian lahan basah (sawah). Pertanian lahan kering (berladang) dikerjakan secara sambilan di dalamnya ditanami tanaman palawija misalnya jagung, kacangkacangan, buah-buahan, dan tanaman keras seperti kopi, durian, rambutan, mangga dan lainlain. Tanah yang dijadikan lahan perladangan berada jauh dari lokasi pemukiman penduduk. Sementara itu bertani di lahan basah atau dikenal dengan bersawah ditanami padi yang menjadi mata pencaharian pokok dari sinilah kebutuhan sehari-hari dipenuhi. Selain sebagai petani masyarakat Desa Sipoldas ada juga yang bekerja sebagai pegawai negri, pedagang kecil, dan lain-lain. Mereka ini bekerja paruh waktu dan selesai bekerja mereka ada juga yang melakukan pekerjaan sampingan seperti bertani dan beternak. Mengingat ada dua tipe kegiatan pertanian di ladang dan di sawah maka dalam membicarakan tehnologi pertanianpun perlu dipisahkan antara pertanian di ladang dan pertanian di sawah. 12

a. Ladang. Penduduk Desa Sipoldas yang sebahagian besar masih hidup dalam taraf tradisional tidak terlepas dari tradisi yang dianutnya dalam mengerjakan kebun atau ladang. Pembersihan ladang dilakukan pada bulan Agustus sampai dengan September. Alat-alat yang dipakai adalah parang, sabit dan cangkul. Yang dimaksud dengan tanah ladang ialah tanahtanah yang ditumbuhi semak belukar. Pada umumnya mereka para petani bekerja sendiri bersama keluarganya. Apabila tanah ladang banyak ditumbuhi semak-semak dan rumput serta lahannya yang luas maka pemilik ladang tersebut biasanya akan memperkerjakan orang untuk membersihkan ladangnya sehinnga dapat ditanami dengan tanaman palawija. Pada bulan Oktober lahan yang telah ditebas tadi dibakar, sesudah memilih emilih kayu-kayu yang akan dijadikan pagar maupun kayu bakar. Kebun mulai ditanam pada bulan November sesudah beberapa kali hujan turun. Penanaman jagung dilakukan kaum ibu sedangkan bapak mengerjakan pagarnya. Alat yang dipakai untuk membagi tanah sebagai tempat bibit jagung dan kacang adalah sepotong kayu yang diruncingkan ujungnya. Caranya seorang membuat lubang ditanah dengan menancapkan kayu tadi dan seorang atau lebih memasukkan benih kedalamnya. Kacang buncis dan jagung ditanam bersama dalam satu lubang, agar kacang tersebut menjalar pada batang jagung. Semua tanaman yang ditanam diladang tidak pernah dipupuk, sehingga kesuburan tanaman dan hasil yang akan diperoleh tergantung kepada kemurahan alam semata-mata. Termasuk curah hujan sangat mempengaruhi hasil yang akan diperoleh. 13

Setelah panen jagung dijemur bersama kulitnya kemudian diikat dan digantung. Selesai seluruh panen termasuk kacang-kacangan maka dibawa pulang untuk disimpan di lumbung atau tempat-tempat yang sudah disediakan untuk menyimpan bahan makanan. b. Sawah Sitem bersawah yang berlaku di Desa Sipoldas dilaksanakan pada bulan Agustus atau awal bulan September, karena pengolahan sawah pada umumnya tergantung sepenuhnya pada curah hujan. Pada bulan-bulan tersebut curah hujan cukup bayak dan sumber-sumber air seperti sungai sudah sangat melimpah. Tanah-tanah sawah yang dikerjakan harus digenangi air agar tanahnya menjadi becek/lembek. Selanjutnya sistem pembajakan dengan menggunakan tenaga kerbau masih sangat efisien dilaksanakan. Di Desa Sipoldas terdapat dua cara dalam mengerjakan sawah yaitu : Pertama, dengan menggunakan hewan. Tenaga hewan sangat berperan dalan dunia pertanian tradisional. Jenis hewan yang berperan terutama kerbau. Pada umumnya kerbau dipergunakan untuk mengolah tanah pertanian hingga siap ditanami. Kerbau dipergunakan untuk menarik bajak. Dalam hubungan ini kerbau jantan lebih banyak dipergunakan daripada kerbau betina. Untuk menarik bajak dipergunkan dua ekor kerbau. Kerbau selalu dipasangkan dengan kerbau dari kelamin yang sejenis. Kerbau pada umumnya dipergunakan di tanah-tanah pertanian yang bertanah liat sehingga tidak memungkinkan untuk mempergunakan bajak. Kedua, dengan menggunakan cangkul saja, jadi tenaga manusia sangat berperan aktif. Cara yang kedua ini sudah jarang dilakukan masyarakat, mengingat setiap penduduk umumnya memilki kerbau. Kalaupun tidak memiliki hewan peliharaan seperti kerbau, penduduk tersebut akan menyewa milik petani lain. Sewa setiap ekor kerbau 14

diperhitungkan dengan padi. Bila panen gagal sewa kerbau masih dapat ditunda. Bila berhasil sedikit maka sewa kerbau tersebut akan mendapat prioritas. Jenis pengairan yang digunakan sebelum masuknya irigasi dapat dikatakan masih menggunakan sistem pengairan yang sangat sederhana yaitu membuat saluran-saluran sejenis paret yang berkedalaman setengah hingga satu meter. Untuk melaksanakan proses produksi diperlukan tenaga-tenaga pelaksana. Ada beberapa jenis tenaga pelaksana yang terlibat di dalam proses produksi ekonomi pertanian tradisional antara lain : Tenaga Upahan, Tenaga Tanpa Upah dan Tenaga Pemilik. Keterlibatan mereka merupakan suatu perwujudan tanggapan aktif masyarakat dalam menanggapi lingkungannya yang bersumber kepada dorongan sosial dan dorongan unutuk mempertahankan hidup. Dorongan sosial berarti keterlibatan mereka terutama disebabkan oleh harkat diri mereka sebagai mahluk sosial. Dorongan untuk mempertahankan hidup melahirkan tingkah laku yang dalam hubungan ini bersifat ekonimis. Di Desa Sipoldas dalam melaksanakan proses produksi di lahan pertanian dibagi atas tiga sistem pengolahan yaitu : 1. Tenaga Upahan Untuk penggarapan sawah yang luas, seorang petani pemilik lahan banyak menggunakan tenaga upahan. Diperlukan atau tidaknya tenaga upahan itu tergantung dari tenaga yang tersedia dikeluarga inti. Pada tahap permulaan proses produksi, yaitu pada tahap pengolahan tanah seorang petani sering kali memerlukan tenaga upahan untuk mengendalikan bajak. Begitu pula pada tahapan selanjutnya hingga panen tiba. Mengenai upah tergantung pada kesepakatan. 2. Tenaga Tanpa Upah 15

Tenaga tanpa upahan berarti tenaga-tenaga yang terlibat di dalam suatu pekerjaan tidak didasarkan atas upah. Mereka terlibat dalam kegiatan gotong-royong yang merupakan suatu sistem yang dianut masyarakat sejak lama. Menurut Koentjaraningrat, gotong-royong adalah suatu sistem pengerahan tenaga tambahan dari luar kalangan keluarga yang tentunya untuk mengisi kekurangan tenaga dalam lingkaran aktivitas bercocok tanam (tolong-menolong). 5 Lebih jauh Koentjaraningrat membagi gotong-royong menjadi dua bagian yaitu : gotong-royong tolong-menolong dan gotong-royong kerja bakti. 6 Di kalangan Desa Sipoldas gotong-royong sebagai suatu sistem masih dijalankan dalam berbagai aspek kehidupan. Jika ditinjau dari segi penggeraknya gotong-royong pada masyarakat Sipoldas terbagi atas tiga corak yaitu yang digerakkan oleh religi dan adat, yang digerakkan oleh adanya permintaan dari pemilik kerja dan yang di gerakkan oleh suatu badan di luar religi dan adat. 3. Tenaga Pemilik Dikatakan dengan tenaga pemilik adalah tenaga petani yang menggarap tanahmiliknya sendiri. Biasanya petani yang mampu mengarap tanah miliknya sendiri dan seluruh tahapan proses produksi adalah petani-petani yang tidak memiliki tanah yang luas. Dengan begitu dari sistem pengolahan tanah seperti membajak hingga panen tiba dilakukan sepenuhnya oleh keluarga petani sendiri. Masyarakat Desa Sipoldas mempunyai pekerjaan sambilan untuk mengisi waktu luang setelah panen. Pekerjaan sambilannya antara lain : a. Marmahan (mangembalakan kerbau) 5 Koentjaraningrat. Kebudayaan Mentalis dan Pembangunan, Jakarta : PT. Gramedia, 1993, hal.57. 6 Ibid. Hal. 60. 16

Marmahan adalah istilah yang berlaku di Desa Sipoldas untuk memberi makan hewan peliharaan seprti kerbau. Hewan peliharaan tersebut di giring ke tengah-tengah padang rumput, yang letaknya lumayan jauh dari perkampungan. Tugas marmahan yang paling penting adalah menjaga agar hewan ternak tersebut tidak memasuki lahan pertanian penduduk, karena bisa saja hewan tersebut masuk lahan pertanian dan merusaknya. Di Desa Sipoldas berlaku apa yang dinamakan denda apabila hewan peliharaan memasuki serta merusak pertanian milik warga, denda tersebut berupa uang. Ketika musim sawah tiba barulah hewan-hewan tersebut digiring untuk merancah sawah. Hewan yang digembalakan dalam marmahan ini bukan miliknya sendiri, melainkan milik orang lain yang sepenuhnya diupahkan kepada orang yang sepenuhnya diberi tugas mengembalakan ternak tersebut. Upah yang diberikan dapat berupa uang tetapi ada juga yang berupa ternak dengan ketentuan setiap kelahiran lima ekor ternak barulah sipengembala mendapat seekor kerbau. b. Berdagang Pekerjaan sambilan yang lain yang ada di Desa Sipoldas adalah berdagang, seperti menjual hasil-hasil kebun dan tambak. Hasil-hasil kebun ini berupa cabai, terong, pisang, kelapa, dan lain-lain. Sementara itu hasil tambak seperti ikan mas, lele, dan lain-lain. Setiap penduduk yang mengerjakan pekerjaan sambilan ini akan menjual dagangannya setiap hari Selasa, rabu, dan Sabtu karena pada hari inilah pasar yang ada di Kecamatan Panei 2.3 Sistem Pemilikan Tanah Negara Indonesia adalah salah satu yang berkembang di Asia yang masih menerapkan sistem pertanian sebagai andalan sektor non migas. Dengan kata lain bahwa pertanian 17

memegang peranan penting dari keseluruhan perekonomian nasional. Ini dapat dibuktikan dari besarnya penduduk yang mengandalkan hidupnya dengan bekerja pada sektor pertanain atau dari produk nasional yang berasal dari pertanian. Besarnya peranan pertanian di Indonesia tentunya akan memberikan dorongan bagi masyarakat Indonesia terutama masyarakat petani untuk memilki lahan pertanian yang dapat dijadikan sumber produksi. Oleh karena itu mereka berupaya dengan berbagai cara untuk dapat memiliki lahan pertanian baik yang ada di wilayah tempat tinggalnya atau di luar dari desanya. Ada suatu anggapan jika seorang petani itu telah memilki lahan pertanian, maka mereka akan dapat mengatasi kebutuhan hidup bagi keluarganya. Mereka hanya bekerja di sektor pertanian karena disesuaikan dengan latar belakang pendidikan yang dimilikinya. Desa Sipoldas adalah desa yang pada umumnya dapat dikatakan bahwa penduduk desa tersebut rata-rata bergerak di sektor pertanian yang otomatis memerlukan lahan pertanian yang luas untuk pemenuhan hidup mereka. Mengenai sistem pemilikan lahan/tanah yang berlaku di Desa Sipoldas terdiri dari dua jenis yang sampai saat ini masih berlaku. Ada warga yang memiliki tanah dari warisan orang tua, ada juga yang diperoleh dengan membeli dari warga lain. Luas pemilikan tanah yang diperoleh dari warisan orang tua pada tiap-tiap penduduk juga berlainan tergantung dari luas tanah dan jumlah keluarganya. Jika orang tuanya dahulu memiliki tanah yang luas tentu anaknya akan mendapatkan tanah yang luas juga setelah dibagi dengan anggota keluarga yang lain. Sebaliknya bila orang tuanya tidak memiliki tanah yang luas tentunya anak-anak mereka juga akan memperoleh warisan tanah yang tidak begitu luas. Selanjutnya bila dilihat pada kondisi perekonomian masyarakat yang cukup mampu dan memiliki harta yang banyak akan mudah memperoleh ataupun menambah lahannya 18

dengan cara membeli tanah orang lain yang kebutuhan akan dijual oleh warga. Itulah sebabnya masyarakat yang seperti ini banyak memiliki lahan persawahan. Sebaliknya bagi warga yang kekurangan modal, kadang kala menjual tanahnya kepada warga yang memiliki modal tadi. Akibatnya mereka kehilangan lahan pertaniannya. Apabila mereka tidak sanggup untuk membeli lahan lagi, berarti akan mempersulit diri sendiri karena tanah sebagai sumber produksi sudah tidak dimiliki lagi. Akhirnya mereka mengalami kesulitan dalam membiayai hidup sehari-hari. 2.4 Sistem Kepemimpinan Kepeminpinan muncul bersamaan dengan lahirnya suatu peradaban manusia, yaitu sejak nenek moyang kita mengenal hidup berkumpul dan mengadakan interaksi sosial antar individu. Bekerjasama adalah faktor mendasar di dalam mempertahankan eksistensi hidup mereka yang setiap saat terancam oleh kebuasan binatang atau keganasan alam lingkungannya. Kecenderungan untuk berkumpul dan bekerjasama melahirkan kelompokkelompok masyarakat. Di dalam kelompok itulah terjalinnya kerjasama antar warga dan melahirkan unsur-unsur kepemimpinan. Bila kita telusuri sejarah suatu bangsa tersebut untuk menaikkan taraf hidup masyarakatnya banyak ditentukan oleh kebijaksanaan yang diterapkan oleh pemimpin bangsa tersebut. Peranan pemimpin sangat vital karena dapat menentukan nasib orang banyak melalui kepemimpinannya. Begitu juga apabila satu masyarakat hidup tanpa pemimpin, maka hanya kekacauanlah yang selalu didapatkan dalam hidup sehari-hari, tanpa dapat meningkatkan taraf hidupnya. Begitu pentingnya fungsi pemimpin dalam satu masyarakat, sehingga setiap masyarakat selalu mempunyai pemimpin, walaupun masyarakat tersebut 19

dalam satu kelompok kecil. Kehidupan bersama yang dilandasi oleh tujuan yang sama akan melahirkan suatu organisasi yang di dalamnya terdapat kecenderungan saling bergantung antara yang di pimpin dengan yang memimpin. Namun karena banyaknya pengertian kepemimpinan ini, maka sebelum melangkah lebih jauh tentang sistem kepemimpinan pada masyarakat Sipoldas, maka perlu kiranya suatu batasan penertian tentang kepemimpinan. Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang ataupun kumpulan orang secara kolektif untuk mengajak atau membawa orang dalam berbuat dan melakukan sesuatu yang dianggap penting. Sementara tinggi rendahnya mutu kepememimpinan dilihat pertama-tama dari efektivitas perbuatannya sehingga akan menghasilkan pencapaian tujuan yang maksimal. Untuk dapat mewujudkan kepemimpinan pihak pengajak sendiri harus mempunyai keunggulan tertentu terhadap pihak yang diajak dalam menjalani sesuatu. 7 Masyarakat Desa Sipoldas yang umumnya terdiri dari petani, pedagang, pegawai negri membentuk kelompok atas dasar persamaan usaha/mata pencaharian, sudah barang tentu akan melahirkan kelompok petani yang berkumpul dalam lokasi persawahan jika musim tanam telah tiba. Dari sistem perkumpulan inilah baru muncul sistem kepemimpinan. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa kepemimpinan itu dapatlah diartikan sebagai seni untuk menciptakan kesesuaian paham atau kesetiaan untuk mendapatkan kesepakatan bersama. Secara umum pola kepemimpinan ada dua macam yaitu: 1. Kepemimpinan Formal Kepemimpinan formal yaitu pemimpin yang diangkat berdasarkan keputusan bersama, kemudian dilakukan suatu pengangkatan secara resmi untuk memangku suatu jabatan dalam 7 Sayidiman Suryohadiprojo, Membangun Peradaban Indonesia, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1995, hal. 191-193 20

struktur organisasi. Hak dan kewajiban untuk mencapai sasaran organisasi telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan musyawarah untuk mufakat. Pengangkatan secara resmi oleh pemerintah atas dasar diri seorang pemimpin formal di desa bukanlah merupakan suatu jaminan akan penerimaan secara baik oleh anggota-anggota organisasi kemasyarakatan yang akan dipimpinnya. Karena bisa saja pemimpin formal ini diangkat pemerintah tanpa ada persetujuan dari masyarakat. Dengan demikian akan adanya kontra antar sesama warga. Untuk itu seorang pemimpin formal itu harus berusaha keras untuk menyesuaikan dirinya dengan segenap warga masyarakat terutama kepada orang-orang yang terhormat. Pemimpin formal ini pendekatannya lebih banyak berorientasi ke atas atau kepada pemimpin yang lebih tinggi. Sementara kegiatan/organisasi sosial yang nampak di Desa Sipoldas adalah kegiatan organisasi PKK. Inipun sudah termasuk dalam stuktur organisasi LKMD, dengan kata lain organisasi PKK di desa ini bukan tumbuh sebagai kegiatan yang spontan dari masyarakat, melainkan tumbuh karena persyaratan organisasi pemerintahan masyarakat desa. Kegiatankegiatan PKK di Desa Sipoldas masih belum dilaksanakan sebagaiman mestinya. Kesadaran warga masyarakat belum tumbuh sesuai dengan yang diharapkan sehingga usaha yang diharapkan pemerintah tidak akan pernah tercapai jika kondisinya tidak diubah. Tingkat pengetahuan tentang kesejahteraan keluargapun belum sesuai dengan yang diharapkan, di mana warga desa menganggap bahwa kesejahteraan itu bukanlah kekayaan. Oleh sebab itu dalam rangka usaha mencapai kesejahteraan keluarga, mereka bekerja untuk dapat memenuhi kebutuhannnya sehari-hari. 21

2. Kepemimpinan Informal Kepemimpinan Informal adalah kepemimpinan karena pengakuan masyarakat akan kemampuan seseorang untuk menjalankan kepemimpinan di mana dalam pelaksanaannya tanpa dilandasi peraturan. Telah disinggung sebelumnya bahwa sejak adanya manusia yang berkumpul dan bekerja sama maka saat itu pulalah lahir pemimpin-pemimpin masyarakat. Dalam adat masyarakat Desa Sipoldas pola kepemimpinan informal lahir bersamaan dengan kebutuhan yang berlaku ketika itu. Dengan kata lain munculnya pemimpin itu dianggap perlu untuk mengharapkan masyarakat kearah tujuan yang diinginkan dan biasanya muncul secara spontan. Pemimpin informal ini dapat dikatakan seperti ketua adat, pemimpin agama, guru mengaji, guru silat dan lain-lain dimana pengangkatannya tidak diperlukan surat keputusan (SK) dari pemerintah yang berwenang. Kebutuhan akan pemimpin informal ini karena kebutuhan masyarakat akan hal itu belum terpenuhi dan secara alami mendapatkan dukungan dari anggota kelompok masyarakat. Syarat-syarat dipilihnya seorang pemimpin informal ini tidak diatur dalam peraturanperaturan atau ketentuan-ketentuan seperti yang ada dalam pemilihan pemimpin formal dalam masyrakat, tetapi dipilih berdasarkan pengakuan dari masyarakat karena: a. Mempunyai kualitas keterampilan seperti menguasai sistem adat yang berlaku. b. Memiliki kemampuan dalam mempengaruhi orang lain di dalam usaha pencapaian suatu tujuan tertentu. c. Selain bersifat jujur, arif dan bijaksana juga harus mau berkorban untuk kalangan masyarakat. d. Memiliki suatu hubungan yang baik dengan seluruh anggota masyarakat, pemerintah desa dan segala unsur-unsur pimpinan masyarakat lain. 22

Seorang ketua adat diangkat karena seorang itu memang mampu untuk mengemban tugas itu, dimana masyarakat menilai bahwa pengetahuannya tentang adat cukup banyak sehingga ia disegani oleh masyarakat tersebut. Penduduk desa selalu meminta petunjuk dan nasehat kepadanya tentang suatu persoalan yang menyangkut adat istiadat dimana semua nasehat dan anjurannya dipatuhi oleh masyarakat itu. Ketua adat istiadat di Desa Sipoldas disebut dengan Natuatuani Huta. Dalam perkembangan selanjutnya Natuatuani Huta sangat berpengaruh dan berperan dalam masyarakat yang diistilahkan oleh masyarakat setempat sebagai orang yang mempunyai keistimewaan, dimana warga masyarakat desa pada umumnya masih berpegang teguh dengan adat istiadat bahkan begitu fanatiknya hingga adat itu disanjung oleh banyak orang. 2.5 Sistem Kepercayaan Sebelum kedatangan bangsa Eropa di tanah Batak agama Kristen Protestan belum di kenal masyarakat Desa Sipoldas begitu juga dengan agama Islam yang datang dari daerah Barus. 8 Masyarakat desa itu masih menganut kepercayaan kepada roh-roh nenek moyang dan benda-benda yang keramat. Kepercayaan ini memang merupakan kepercayaan masyarakat Batak Toba. Sejak zaman dahulu masyarakat Batak Toba mempunyai suatu keyakinan bahwa 8 http://okahutabarat.wordpress.com/2009/02/27/sejarah-agama-di-tanah-batak/. Diakses tanggal 14 agustus 2013. Kedatangan bangsa Eropa ke dunia Timur memiliki 2 (dua) tugas yaitu berdagang dan sekaligus menyebarkan agama. Sebelum masuknya pengaruh agama Hindu, Islam, dan Kristen ke tanah Batak, orang Batak pada mulanya belum mengenal nama dan istilah dewa-dewa. Kepercayaan orang Batak dahulu (kuno) adalah kepercayaan kepada arwah leluhur serta kepercayaan kepada benda-benda mati. Benda-benda mati dipercayai memiliki tondi (roh) misalnya: gunung, pohon, batu, dll yang kalau dianggap keramat dijadikan tempat yang sakral (tempat sembahan) 23

batu-batu besar, gunung dan pohon-pohon besar bisa mendatangkan rejeki dan kebahagiaan bagi mereka. Kepercayaan seperti ini disebut dengan Sipelebegu. 9 Setelah masuknya Misionaris dan masuknya penyebaran agama Islam di Tanah Batak, maka pada zaman sekarang ini masyarakat Desa Sipoldas telah menganut agama Kristen dan Islam, hanya sebagian kecil saja yang menganut kepercayaan lama. Masyarakat Desa Sipoldas mempunyai agama yang berbeda dan penganut agama yang paling banyak adalah Kristen Protestan akan tetapi walaupun agama mereka berbedabeda, masyarakat desa ini tetap saling menghormati. Salah satu bentuk saling menghormati antar umat beragama itu adalah apabila agama Kristen merayakan hari Natal maka umat Islam akan datang berkunjung, demikian juga apabila umat Islam merayakan lebaran maka orang Kristen datang untuk bersilaturahmi. Rasa toleransi umat beragama di Desa Sipoldas juga cukup tinggi, karena masyarakat sudah mempunyai kesadaran bahwa semua agama itu mengajarkan hal yang baik. Hal ini dapat di lihat bahwa di Desa Sipoldas dari dulu sampai sekarang belum pernah terjadi kerusuhan atau keributan karena agama. Kesemuannya itu tidak terlepas dari adanya tali persaudaraan yang masih dekat, karena di desa ini antara yang satu dengan yang lainnya masih merupakan kerabat dekat. Untuk mendukung peribadatan masyarakat Desa Sipoldas mempunyai sarana peribadatan masing-masing dan untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada tabel di bawah ini : 9 http://sciencedanar.blogspot.com/2012/11/ulasan-tentang-sejarah-suku-batak.html. Diakses tanggal 14 agustus 2013. Pada umumnya orang Batak menganut agama Islam Sunni dan Kristen Protestan. Tetapi ada pula yang menganut kepercayaan tadisional yakni: tradisi Malim dan juga menganut kepercayaan animisme (disebut Sipelebegu atau Parbegu), walaupun kini jumlah penganut kedua ajaran ini sudah semakin berkurang. 24

TABEL II SARANA RUMAH IBADAH DI DESA SIPOLDAS No. Sarana Ibadah Jumlah (Unit) 1 Gereja Protestan 8 2 Gereja Katolik 1 3 Mesjid 1 Jumlah 10 Sumber : kantor kepala Desa Sipoldas 1997 Jadi setelah masuknya agama di tengah-tengah kehidupan masyarakat Desa Sipoldas, kepercayaan lama atau tradisional semakin lama semakin menipis. Mereka makin percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang menciptakan langit dan bumi ini. Tuhan ini bukan berasal dari batu-batu besar, kayu-kayu besar dan juga dari gunung-gunung tetapi yang mengetahui asal-usul seluruh alam serta isinya. 2.6 Kehidupan Budaya Manusia sebagai sosok sosial yang prinsipnya hidup bersama ternyata dilatarbelakangi oleh suatu kebiasaan budaya. Ada suatu anggapan bahwa manusia tak dapat hidup tanpa kebudayaan. Kebudayaan dapat menentukan dan mengajarkan bagaimana seharusnya manusia hidup dalam masyarakat agar masyarakat tetap aman, tertib, tenang dan sebagainya. Kebudayaan mengajarkan bagaimana seharusnya seseorang bertingkah laku dalam hubungan dengan alam sekitarnya, baik yang nampak maupun tidak nampak. Kebudayaan pada mulanya diciptakan oleh manusia untuk kebutuhan suatu kelompok masyarakat tertentu. Setelah kebudayaan itu tercipta, kebudayaan kemudian merupakan suatu yang hidup dan pada gilirannya sangat mempengaruhi manusia untuk mengikutinya. 25

Begitulah dalam salah satu aspek kebudayaan yang merupakan gambaran nyata dari suatu masyarakat yang menunjukkan bagaimana pola tingkah laku yang dianggap baik ataupun kurang baik. Sebagaimana suatu wujud nyata, budaya tersebut berada di dalam maupun di luar jiwa manusia itu sendiri, atau diatas manusia sebagai mahluk hidup yang mengontrol dengan ketat daripada tingkah laku anggota masyarakat ataupun pemangku kebudayaan tersebut. Ada pula anggapan yang menyatakan bahwa kuat longgarnya suatu kebudayaan dalam menentukan wujud internal masyarakat ditentukan oleh tingkah laku dari perkembangan suatu masyarakat. Begitulah sebaliknya, cepat lambat suatu masyarakat berkembang juga banyak ditentukan oleh potensi yang terkandung dalam suatu kebudayaan. Selain itu, ketahanan suatu kebudayaan ditentukan oleh kenyataan sampai sejauh mana suatu sistem nilai tertentu dalam kebudayaan tersebut mampu memberikan kepada masyarakat keuntungan yang secara kongkrit dapat dirasakan oleh masyarakat. Aspek kegunaan, kebaikan-kebaikannya harus dapat terasakan oleh pendukung kebudayaan yang bersangkutan. Hanya dengan demikian suatu adat istiadat dapat bertahan dalam proses perkembangan masyarkat. Namun demikian mundurnya suatu kebudayaan tidak pernah berlangsung dengan cepat. Sifat resisten dari suatu kebudayaan adalah salah satu pembawaan dari setiap kebudayaan. Jika dihubungkan dengan uraian di atas dengan kebudayaan di Desa Sipoldas dalam mempengaruhi pola tingkah laku masyarakat dengan datangnya suatu rencana pembangunan seperti proyek irigasi dan masuknya mekanisasi pertanian. Dapat dikatakan bahwa kebudayaan adat tersebut bisa saja menerima suatu rancangan tersebut, selama rarncangan pembangunan tidak merusak nilai-nilai adat. 26

Namun jika ada pembangunan yang mengganggu sistem adat, sudah tentu masyarakat sebagai pembuat dan pelaksana adat tersebut akan melakukan suatu reaksi. Yang jelas kehidupan budaya di Desa Sipoldas masih dominan dengan budaya adat Batak Toba. Budaya etnis Batak Toba sudah dipengaruhi oleh hasil pencapuran melalui proses yang cukup lama antara budaya Batak Toba asli yang relatif masih sederhana dengan keebudayaan yang lebih modern. Ini dapat dilihat pada kehidupan lingkungan sehari-hari, misalnya dalam adat perkawinan akan terlihat jelas penjelmaan tradisi dari pencampuran budaya tersebut sehingga menjadi suatu tradisi bagi kelompok masyarakat yang sama-sama dihargai. Tradisi dan nilai adat asli sebagaimana lazimnya di daerah-daerah lain banyak dipertahankan oleh kalangan generasi tua. Namun kadar nilai dari tradisi tersebut semakin berkurang sebagai akibat besarnya pengaruh masuknya paham-paham yang lebih modern melalui berbagai sarana komunikasi. Pendatang dari luar daerah terutama pemerintah, guruguru ataupun komunikasi antar individu dari warga desa itu sendiri dengan orang luar itu membawa pengaruh secara perlahan-lahan sehingga membawa perubahan di dalam kehidupan sosial 27