BAB I PENDAHULUAN. berhasil mencapai target Millenium Development Goal s (MDG s), peningkatan

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. global.tuberkulosis sebagai peringkat kedua yang menyebabkan kematian dari

BAB I PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang awalnya

BAB I PENDAHULUAN. I.1.Latar Belakang. Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah utama. kesehatan global. TB menyebabkan kesakitan pada jutaan

BAB 1 PENDAHULUAN. HIV merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan agen penyebab Acquired

BAB I PENDAHULUAN. virus DEN 1, 2, 3, dan 4 dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegepty dan Aedesal

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian

BAB I PENDAHULUAN. sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise,

BAB 1 PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) masih menjadi penyebab kesakitan dan kematian yang

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. dipengaruhi epidemi ini ditinjau dari jumlah infeksi dan dampak yang

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. Diagnosis tuberkulosis (TB) paru pada anak masih menjadi masalah serius hingga saat ini. Hal

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan dunia,

BAB 1 PENDAHULUAN. Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala

BAB 1 PENDAHULUAN. disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini sering

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular. langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

2. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431);

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit tertua di dunia yang sampai saat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 : PENDAHULUAN. tertinggi di antara negara-negara di Asia. HIV dinyatakan sebagai epidemik

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit infeksi, yang juga dikenal sebagai communicable disease atau transmissible

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tuberkulosis Paru adalah penyakit infeksius yang menular yang

I. PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan

BAB 1 PENDAHULUAN. Immunodeficiency Virus (HIV)/ Accuired Immune Deficiency Syndrome (AIDS)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. tanah lembab dan tidak adanya sinar matahari (Corwin, 2009).

BAB I PENDAHULUAN. perhatian khusus di kalangan masyarakat. Menurut World Health Organization

BAB I PENDAHULUAN. (HIV/AIDS) merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia. World Health

BAB I PENDAHULUAN.

BAB 1 PENDAHULUAN. Millenium Development Goals (MDGs) merupakan agenda serius untuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Penyakit infeksi dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kasus infeksi human immunodeficiency virus (HIV) dan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Human Immunodeficiency Virus(HIV) dan penyakitacquired Immuno

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. masalah kesehatan masyarakat yang utama di dunia. Mycobacterium tuberculosis,

BAB I PENDAHULUAN UKDW. Mycobacterium tuberculosis. Tanggal 24 Maret 1882 Dr. Robert Koch

KO-INFEKSI HIV/AIDS DAN TB

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Penyakit Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit. infeksi yang memberikan dampak morbiditas dan mortalitas

BAB 1 PENDAHULUAN. oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.bakteri ini berbentuk batang dan bersifat

ABSTRAK. Kata kunci: HIV-TB, CD4, Sputum BTA

BAB 1 PENDAHULUAN. kekebalan tubuh manusia. Acquired Immunodeficiency Syndrome atau AIDS. tubuh yang disebabkan infeksi oleh HIV (Kemenkes RI, 2014).

BAB I PENDAHULUAN. Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang. disebabkan oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Terjadinya diabetes melitus ini

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit paling mematikan di

BAB 1 PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah retrovirus yang menginfeksi

1 Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN. menjalankan kebijakan dan program pembangunan kesehatan perlu

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. terinfeksi Mycobacterium tuberculosis (M. tuberculosis). Penyakit ini

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen P2PL) Kementerian Kesehatan RI (4),

BAB I PENDAHULUAN. paru yang disebabkan oleh kuman dari kelompok Mycobacterium

BAB 1 PENDAHULUAN. merusak sel-sel darah putih yang disebut limfosit (sel T CD4+) yang tugasnya

MATERI INTI 1 INFORMASI TENTANG TB, HIV DAN KOINFEKSI TB-HIV

BAB 1 PENDAHULUAN. HIV di Indonesia termasuk yang tercepat di Asia. (2) Meskipun ilmu. namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

BAB I PENDAHULUAN. masih menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia. Angka kejadian

BAB I PENDAHULUAN. tuberculosis. Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri penyebab. yang penting di dunia sehingga pada tahun 1992 World Health

BAB I PENDAHULUAN. Diperkirakan sekitar 2 miliar atau sepertiga dari jumlah penduduk dunia telah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi

BAB 1 PENDAHULUAN. TB sudah dilakukan dengan menggunakan strategi DOTS (Directly Observed

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. bakteri Micobacterium tuberculosis (M. tuberculosis). Tuberkulosis disebarkan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia.

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan di seluruh dunia. Sampai tahun 2011 tercatat 9 juta kasus baru

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1,2,3. 4 United Nations Programme on HIV/AIDS melaporkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. KHS terjadi di negara berkembang. Karsinoma hepatoseluler merupakan

HIV dengan anemia (Volberding, dkk., 2002; Volberding, dkk 2004). Anemia juga

BAB I PENDAHULUAN. yang dapat menimbulkan komplikasi kesakitan (morbiditas) dan kematian

BAB 1 PENDAHULUAN. Acquaired Immunodefeciency Syndrome (AIDS) adalah penyakit yang

TUBERKULOSIS PADA PASIEN DENGAN HIV AIDS. dr. Bambang Satoto,Sp.Rad(K),M.Kes Departemen Radiology F.K Undip /RSUP Dr Kariadi Semarang

BAB I PENDAHULUAN. dunia. Berdasarkan data yang diterbitkan oleh Joint United National Program on

BAB I PENDAHULUAN. menjadi prioritas dan menjadi isu global yaitu Infeksi HIV/AIDS.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 2 PENGENALAN HIV/AIDS. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala

BAB I PENDAHULUAN UKDW. tubuh manusia dan akan menyerang sel-sel yang bekerja sebagai sistem kekebalan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) memperkirakan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. membuat kadar kolesterol darah sangat sulit dikendalikan dan dapat menimbulkan

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

PEMERIKSAAN LABORATORIUM INFEKSI HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS PADA BAYI DAN ANAK

BAB I PENDAHULUAN. oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (Alsagaff,H, 2006). Penyakit ini juga

TINJAUAN TENTANG HIV/AIDS

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi tantangan global. Meskipun program pengendalian TB di Indonesia telah berhasil mencapai target Millenium Development Goal s (MDG s), peningkatan epidemi Human Immunodeficiency Virus (HIV) akan meningkatkan kasus TB di masyarakat. Oleh karena itu diperlukan suatu kolaborasi antara program pengendalian TB dan pengendalian HIV/AIDS (Aquired Immunodeficiency Syndrome). (1) Tuberkulosis (TB) sampai dengan saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat didunia walaupun upaya pengendalian dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) telah diterapkan dibanyak negara. (1) Jumlah kasus AIDS yang baru terdeteksi tahun 2012 adalah sebanyak 5.686 kasus, angka ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 7.004 kasus. 10 provinsi dengan kasus baru tertinggi tahun 2012 yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Papua, Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Banten, Jawa Barat, dan Sulawesi Utara. Persentase kasus baru AIDS pada IDU (Intravena Drug Use) sebesar 9,2%. Sedangkan kasus infeksi HIV sebanyak 21.511. Angka kematian (Case Fatality 1

Rate/CFR) akibat AIDS sejak 2004 cenderung menurun. Pada tahun 2013 CFR AIDS di Indonesia sebesar 1,67%. (2) Epidemi HIV akan mempengaruhi peningkatan epidemi TB di seluruh dunia yang berakibat meningkatkan jumlah kasus TB di masyarakat. Pandemi HIV merupakan tantangan terbesar dalam pengendalian TB. Di Indonesia diperkirakan sekitar 3% pasien TB dengan status HIV positif. Sebaliknya TB juga merupakan tantangan bagi pengendalian AIDS karena merupakan infeksi oportunistik terbanyak (49%) pada Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). (1) Papua termasuk epidemi HIV yang tinggi. Sebagian besar infeksi diperkirakan terjadi pada beberapa sub-populasi berisiko tinggi yaitu penyalahgunaan narkotika suntik (penasun), hetero dan homoseksual (wanita penjaja sex, waria). Menurut data Kementerian Kesehatan RI hingga akhir Desember 2010 secara kumulatif jumlah kasus AIDS yang dilaporkan berjumlah 24.131 kasus dengan infeksi penyerta terbanyak adalah TB yaitu sebesar 11.835 kasus (49%). (1) Pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. Ko-infeksi dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan. Di samping itu TB merupakan penyebab utama kematian pada ODHA (sekitar 40-50%). Kematian yang tinggi ini terutama pada TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru yang kemungkinan besar disebabkan keterlambatan diagnosis dan terapi TB. (2) Sebagian besar orang yang terinfeksi kuman MTB (Mycobacterium tuberculosis) tidak menjadi sakit TB karena mereka mempunyai sistem imunitas yang baik. Infeksi ini tersebut dikenal sebagai infeksi TB laten. Namun, pada 2

orang-orang yang sistem imunitasnya menurun misalnya ODHA maka infeksi TB laten tersebut dengan mudah berkembang menjadi TB aktif. Hanya sekitar 10% orang yang tidak terinfeksi HIV bila terinfeksi kuman TB maka akan menjadi sakit TB sepanjang hidupnya. Pada ODHA, sekitar 60% ODHA yang terinfeksi kuman TB akan menjadi TB aktif. Dengan demikian, mudah dimengerti bahwa epidemi HIV tentunya akan menyulut peningkatan jumlah kasus TB dalam masyarakat. (3) Pasien tuberkulosis dengan HIV positif dan ODHA dengan TB disebut sebagai pasien ko-infeksi TB-HIV. Berdasarkan perkiraan WHO, jumlah pasien ko-infeksi TB-HIV di dunia diperkirakan ada sebanyak 14 juta orang. Sekitar 80% pasien ko-infeksi TB-HIV tersebut dijumpai di Sub-Sahara Afrika, namun ada sekitar 3 juta pasien ko-infeksi TB-HIV tersebut terdapat di Asia Tenggara. Dari uraian tersebut di atas, jelas bahwa epidemi HIV sangatlah berpengaruh pada meningkatnya kasus TB. Sebagai contoh, beberapa bagian dari Sub Sahara Afrika telah memperlihatkan 3-5 kali lipat angka perkembangan kasus notifikasi TB pada dekade terakhir. Jadi, pengendalian TB tidak akan berhasil dengan baik tanpa keberhasilan pengendalian HIV. Hal ini berarti bahwa upaya-upaya pencegahan HIV dan perawatan HIV haruslah juga merupakan kegiatan prioritas bagi pengelola program TB. (4) Tuberkulosis (TB) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas global. Pengendalian TB pada epidemi HIV di sub-sahara Afrika banyak terganggu sehingga kasus TB sangat meningkat. Selain itu, ko-infeksi TB-HIV dikaitkan dengan penurunan sensitivitas tes rutin untuk diagnostik TB seperti 3

BTA dan radiografi, sehingga tingkat deteksi kasus yang lebih rendah. Oleh karena itu, ada kebutuhan mendesak untuk diagnostik yang cepat, biaya tes diagnostik yang rendah, terutama pada pasien ko-infeksi TB-HIV. (5) Standar emas diagnostik untuk TB aktif adalah deteksi Mycobacterium tuberculosis (MTB) dengan kultur atau metode molekuler. Namun, meskipun sensitivitas terbatas, pemeriksaan BTA (Basil Tahan Asam) mikroskopis masih menjadi andalan diagnosis TB pada tempat yang terbatas sumber daya. Akibatnya, diagnosis TB paru dan ekstra paru dengan BTA-negatif tetap menantang. Sejumlah teknik baru bisa memberikan hasil diagnostik tambahan pada konteks yang sulit untuk mendiagnosis TB. Ini mungkin sangat berguna dalam kelompok pasien tertentu seperti pasien HIV dan anak-anak. (6) Tuberkulosis paru BTA-negatif dan TB ekstraparu lebih tinggi pada pasien yang terinfeksi HIV. Oleh karena itu, tingkat deteksi kasus TB bisa serendah 20% -35% dari semua kasus TB pada prevalensi HIV yang tinggi karena keterbatasan infrastruktur laboratorium. Tingkat kematian yang meningkat pada yang terinfeksi HIV dibandingkan dengan orang yang tidak terinfeksi sangat tinggi bagi mereka dengan BTA negatif. (6) Deteksi antigen LAM dalam sampel klinis dapat membantu menegakkan diagnosis TB, dan tes antigen secara ELISA untuk deteksi lipoarabinomannan dalam sampel klinis memberikan harapan. Jika akurasi tes ini dikonfirmasi, ia memiliki potensi untuk pengembangan menjadi pemeriksaaan yang diperhitungkan yang dapat digunakan bahkan dalam perawatan primer. (7) 4

Lipoarabinomannan (LAM), merupakan komponen lipopolisakarida utama dari dinding sel dari genus Mycobacterium, pertama ditandai di tahun 1980-an. LAM berada di permukaan sel di mana ia dapat dengan mudah berinteraksi dengan reseptor inang dan bertindak sebagai imunomodulator. LAM juga sangat imunogenik dan anti-lam antibodi diproduksi selama infeksi mikobakteri. (8) Antigen LAM berukuran 19.000 (± 8.500) dalton polisakarida lipoprotein yang merupakan produk yang dominan dari Mycobacterium tuberculosis (MTB), terdeteksi dalam serum, sputum dan urin. Tes urin LAM telah menunjukkan secara nyata akurasi diagnostik untuk TB dengan sensitivitas umumnya rendah. Namun, sensitivitas uji telah dilaporkan meningkat pada pasien ko-infeksi TB- HIV. (9) Lipoarabinomannan (LAM) urin baru-baru ini telah dievaluasi untuk diagnosis TB pada pasien terinfeksi HIV, pemeriksaan LAM urin ELISA (Alere, Determine, USA) memiliki sensitivitas secara keseluruhan 59-67%, meningkat sampai setinggi 85% pada pasien dengan CD4 50 sel/ml 3, dan spesifisitas keseluruhan 80-94%. Pemeriksaan LAM urin sekarang dapat digunakan, murah dan sederhana (US $3,5), mampu memberikan hasil dalam 25 menit dari 60 ml urin. (10) Akurasi diagnostik mikroskopik BTA dan radiologi torak rutin untuk TB terkait HIV sangat kecil, dan diagnosis berbasis kultur yang lama, mahal, dan tidak tersedia di sebagian besar sumber daya. Akurasi diagnostik tes antigen urin TB-LAM Ag (TB-LAM, Alere, Waltham, USA) untuk skrining TB paru terkait HIV sebelum terapi antiretroviral (ART) bisa diperhitungkan dalam diagnosis tuberkulosis pada pasien HIV. (11) 5

Berdasarkan latar belakang diatas dilakukan suatu penelitian untuk mendeteksi Lipoarabinomannan (LAM) urin pada pasien terduga tuberkulosis paru pasien HIV/AIDS. 1.2 Identifikasi Masalah Apakah dengan mendeteksi adanya Lipoarabinomannan (LAM) di urin dapat dipakai sebagai diagnostik tuberkulosis paru pada pasien HIV/AIDS? 1.3 Tujuan Penelitian Umum Mengetahui nilai diagnostik Lipoarabinomannan (LAM) urin pada pasien terduga tuberkulosis paru pasien HIV/AIDS. Khusus 1. Mengetahui nilai sensitifitas LAM urin pada pasien terduga tuberkulosis paru pasien HIV/AIDS. 2. Mengetahui nilai spesifisitas LAM urin pada pasien terduga tuberkulosis paru pasien HIV/AIDS. 3. Mengetahui nilai duga positif LAM urin pada pasien terduga tuberkulosis paru pasien HIV/AIDS. 4. Mengetahui nilai duga negatif LAM urin pada pasien terduga tuberkulosis paru pasien HIV/AIDS. 5. Mengetahui akurasi LAM urin pada pasien terduga tuberkulosis paru pasien HIV/AIDS. 6

1.4 Hipotesis Penelitian Pemeriksaan LAM urin dapat digunakan untuk mendiagnosis tuberkulosis paru pada pasien HIV/AIDS. 1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Akademis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi baru tentang nilai uji diagnostik pemeriksaan LAM urin pada pasien terduga tuberkulosis paru pasien HIV/AIDS. 1.5.2 Manfaat Klinis Penelitian LAM urin dapat digunakan sebagai metode diagnostik untuk tuberkulosis paru secara cepat, murah, sensitif, dan spesifik, teknik sederhana dan efisien agar penatalaksanaan tuberkulosis pada pasien HIV/AIDS dapat dimulai lebih awal sehingga progresifitas HIV menjadi AIDS dan progresifitas tuberkulosis pada pasien AIDS dapat ditekan. 7

1.6 Kerangka Konseptual Infeksi TB - HIV (+) Makrofag alveolar (CD14, CD16) CCL2 TNF Alfa Replikasi HIV Aktivasi makrofag Viremia Sekresi LAM Sistemik LAM-Ag bebas Intervensi ke Sel T LAM Urin Disfungsi makrofag CD 4 êê -Reaktivasi TB Laten - TB Aktif progresif Kultur sputum Gambar 1.1 Kerangka Konseptual 8

Uraian Kerangka Konsep Virus HIV dan MTB secara umum menginfeksi makrofag alveolar dan memicu produksi sejumlah mediator inflamasi yang kemudian mengatur respon kekebalan tubuh dan patogenesis penyakit. Kemokin inflamasi C-C memainkan peran sentral dalam infeksi HIV dan patogenesis MTB, termasuk interferon gamma (IFN-y), TNF-alfa dan CCL2. Fungsi dari CCL2 itu sendiri adalah meningkatkan replikasi HIV. Dalam darah perifer manusia CCL2 terutama dihasilkan oleh monosit khususnya oleh CD14 dan CD16. CCL2 juga akan memediasi perubahan T helper (Th0) menjadi Th2 yang menginduksi pengeluaran inteleukin-4 (IL-4) dan interleukin-10 (IL-10). Kekebalan tubuh terhadap MTB terutama didorong oleh CD4 sel T dan makrofag dan didukung oleh sitokin dan kemokin. Sitokin termasuk IFN-y dan TNF alfa merupakan dua sitokin utama pada imunitas terhadap MTB. TNF alfa berfungsi selain mengaktifkan makrofag juga menginduksi sekresi beberapa kemokin C-C dan C-X-C termasuk CCL2. Pada infeksi MTB di paru-paru, basil memasuki jalur pernafasan yang kemudian akan dihadapi oleh makrofag alveolar. Makrofag akan mensekresikan TNF alfa untuk mengontrol pertumbuhan MTB. MTB telah terbukti menginduksi replikasi HIV pada makrofag alveolar. Efek ini secara kimia ditampilkan sebagai viral load yang tinggi dalam plasma pasien ko-infeksi TB-HIV. Akibat viremia yang tinggi dari HIV akan menyebabkan disfungsi makrofag untuk menghancurkan MTB. Susunan dinding sel seperti Lipoarabinomanan (LAM) pada MTB menyebabkan sekresi sitokin dan kemokin seperti TNF alfa, CCL2, interleukin-6, interleukin-1 alfa, interleukin-1 beta dan IFN-y yang bisa memicu replikasi HIV. Penurunan jumlah CD4 hingga jumlah tertentu membuka peluang 9

terjadinya koinfeksi. Secara umum diasumsikan bahwa pada orang yang terinfeksi HIV dengan TB aktif sering disebabkan oleh reaktivasi infeksi TB laten dengan aktifitas MTB meningkat selama infeksi HIV kronis. Bila sel host ini teraktivasi oleh induktor seperti antigen, sitokin, atau faktor lain maka sel akan memicu nuclear factor κb (NF-κB) sehingga menjadi aktif. NF-κB menginduksi replikasi DNA. Induktor NF-κB sehingga cepat memicu replikasi HIV yang akan memperbesar progresifitas HIV menjadi AIDS. Lipoarabinomannan (LAM) secara aktif disekresikan dari makrofag alveolar yang terinfeksi. Perkembangan konsentrasi LAM yang tinggi di jaringan dapat mendukung masuknya antigen ke dalam sirkulasi sistemik dalam bentuk kompleks antigen dengan berat molekul yang besar sehingga LAM dapat dideteksi dalam sampel serum dari pasien dengan TB paru. Mekanisme dimana LAM memasuki urin dari sirkulasi sistemik tidak jelas. LAM memiliki ukuran molekul yang mirip dengan mioglobin, yang siap masuk ke dalam urin dari aliran darah setelah dilepaskan dari otot yang rusak pada orang normal, atau juga dapat disebabkan oleh karena disfungsi podosit ginjal terkait HIV. 10