LUAS KAWASAN (ha)

dokumen-dokumen yang mirip
KEMENTERIAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL PLANOLOGI KEHUTANAN

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH PROGRES IMPLEMENTASI SASARAN RENCANA AKSI KORSUP KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

Oleh : Ketua Tim GNPSDA. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pontianak, 9 September 2015

Oleh : Direktur Jenderal Planologi Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

: Ketentuan Umum : Pemberian & Permohonan Hak atau Izin & Pelaksanaan Kemitraan Kehutanan Bab III : Pemanfaatan Areal PS Bab IV : Jangka Waktu dan

PERHUTANAN SOSIAL SEBAGAI SALAH SATU INSTRUMEN PENYELESAIAN KONFLIK KAWASAN HUTAN

HUTAN KEMASYARAKATAN (HKm) Oleh Agus Budhi Prasetyo

Deregulasi Perizinan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

2014, No menetapkan Peraturan Menteri Kehutanan tentang Tata Cara Penetapan Peta Indikatif Arahan Pemanfaatan Kawasan Hutan Produksi Yang Tidak

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P. 7/Menhut-II/2009 TENTANG PEDOMAN PEMENUHAN BAHAN BAKU KAYU UNTUK KEBUTUHAN LOKAL

KRITERIA CALON AREAL IUPHHK-RE DALAM HUTAN PRODUKSI

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Dinas Perkebunan KEGIATAN PEMBANGUNAN PERKEBUNAN DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT

DR. H. AWANG FAROEK ISHAK Gubernur Kalimantan Timur

Gerakan Nasional Penyelamatan Sumberdaya Alam Indonesia Sektor Kehutanan dan Perkebunan

BUPATI BULUNGAN PERATURAN BUPATI BULUNGAN NOMOR 08 TAHUN 2006 TENTANG

PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.83/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2016 TENTANG PERHUTANAN SOSIAL

peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya disekitar hutan dan juga penciptaan model pelestarian hutan yang efektif.

MATERI 1. TANTANGAN SAAT INI 2. MENJALANKAN VISI KEADILAN 3. PERATURAN-PERUNDANGAN 4. MASALAH IMPLEMENTASI 5. PILIHAN STRATEGIS DAN TAKTIS

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jambi Sedang Membuka Rapat Koordinasi Perencanaan Pembangunan Kehutanan Daerah Provinsi Jambi Tahun /10/2014 2

Penggunaan Kawasan Hutan untuk Pembangunan Sektor Non Kehutanan Oleh : Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan Kementerian LHK

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN KEHUTANAN. Hutan Produksi. Izin. Usaha. Perpanjangan. Tatacara. Pencabutan.

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

Oleh Kepala Dinas Kehutanan dan Konservasi Provinsi Papua

REFLEKSI PEMBANGUNAN BIDANG KEHUTANAN DIKEPEMIMPINAN GUBERNUR JAMBI BAPAK Drs. H. HASAN BASRI AGUS, MM

Disampaikan oleh: DIREKTUR PERENCANAAN KAWASAN HUTAN DALAM SEMINAR PEMBANGUNAN KEHUTANAN BERKELANJUTAN DALAM PERSPEKTIF TATA RUANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. 58/Menhut-II/2009. Tentang

SISTEMATIKA PENYAJIAN :

Oleh : Ketua Tim GNPSDA. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Disampaikan pada acara :

SUMATERA BARAT, SEBAGAI JANTUNG SUMATERA UNTUK PERLINDUNGAN HUTAN MELALUI SKEMA HUTAN NAGARI DAN HKM, DAN KAITANNYA DENGAN SKEMA PENDANAAN KARBON

disampaikan oleh: Direktur Perencanaan Kawasan Kehutanan Kementerian Kehutanan Jakarta, 29 Juli 2011

PROYEKSI PERKEMBANGAN PERHUTANAN SOSIAL DI SUMATERA SELATAN

SERBA SERBI HUTAN DESA (HD)

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.59/Menhut-II/2011 TENTANG HUTAN TANAMAN HASIL REHABILITASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG

ANALISIS MODEL TENURIAL DALAM UNIT MANAJEMEN KPH

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KEHUTANAN. Izin Pemanfaatan Kayu. Prosedur.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2008 TENTANG

Skema Gambaran Umum Pengembangan Hutan Kemasyarakatan dan Hutan Desa Menurut Peraturan Menteri Beserta Perbandingan Terhadap Perubahan-Perubahannya

MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA. KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : 397/Kpts-II/2005

EXSPOSE PENGELOLAAN PERTAMBANGAN, KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN DI PROVINSI LAMPUNG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2004 TENTANG PERENCANAAN KEHUTANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA. KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : SK.382/Menhut-II/2004 TENTANG IZIN PEMANFAATAN KAYU (IPK) MENTERI KEHUTANAN,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KRITERIA DAN STANDAR IJIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU HUTAN TANAMAN PADA HUTAN PRODUKSI

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P. 63/Menhut-II/2008

PROSES PENGAJUAN PERHUTANAN SOSIAL

this file is downloaded from

KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : SK.293 / MENHUT-II / 2007 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN,

Policy Brief. Skema Pendanaan Perhutanan Sosial FORUM INDONESIA UNTUK TRANSPARANSI ANGGARAN PROVINSI RIAU. Fitra Riau

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P. 13/Menhut-II/2009 TENTANG HUTAN TANAMAN HASIL REHABILITASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

I. INVESTOR SWASTA. BISNIS: Adalah Semua Aktifitas Dan Usaha Untuk Mencari Keuntungan Dengan

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P.64/Menhut-II/2006 TENTANG

2 Pemberantasan Korupsi Tahun 2013, maka perlu pengaturan kembali mengenai Tata Cara Pemberian dan Peluasan Areal Kerja Izin Usaha Pemanfaatan Hasil H

GUBERNUR PAPUA. 4. Undang-Undang.../2

BAB I PENDAHULUAN. (Firdaus, 2012). Pembentukan wilayah pengelolaan hutan dilakukan pada

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.19/Menhut-II/2012 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P. 61/Menhut-II/2008 TENTANG

PERSIAPAN DUKUNGAN BAHAN BAKU INDUSTRI BERBASIS KEHUTANAN. Oleh : Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan Kementerian Kehutanan

TENTANG HUTAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN,

MENTEIU KRIIUTANAN REPUJJLIK INDONESIA

KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI OLEH DIREKTUR JENDERAL BUK SEMINAR RESTORASI EKOSISTEM DIPTEROKARPA DL RANGKA PENINGKATAN PRODUKTIFITAS HUTAN

KATA PENGANTAR KEPALA DINAS KEHUTANAN PROVINSI PAPUA, Ir. MARTHEN KAYOI, MM NIP STATISTIK DINAS KEHUTANAN PROVINSI PAPUA i Tahun 2007

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN. Oleh : Direktur Jenderal Planologi Kehutanan

- 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG

R E P U B L I K I N D O N E S I A D E P A R T E M E N K E H U T A N A N J A K A R T A. KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : SK.246/VI-BPHA/2008 TENTANG

A. PERKEMBANGAN IUPHHK-HA. 1. Jumlah HPH/IUPHHK-HA per Bulan Desember 2008 sebanyak 312 unit dengan luas ha.

Lampiran 1. Daftar Amanat UU yang dijadikan acuan penilaian tingkat respon pemerintah daerah terhadap UU

KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : SK.169/MENHUT-II/2005 TENTANG

KATA PENGANTAR. Kepada pihak-pihak yang telah membantu penyusunan buku ini kami ucapkan terima kasih.

BAB I PENDAHULUAN. Sejak akhir tahun 1970-an, Indonesia mengandalkan hutan sebagai penopang

KEBIJAKAN PELEPASAN KAWASAN HUTAN PRODUKSI YANG DAPAT DIKONVERSI UNTUK PEMBANGUNAN DILUAR KEGIATAN KEHUTANAN

PEMBANGUNAN DAN PENGELOLAAN KPH

KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : SK.94/MENHUT-II/2005 TENTANG

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KEHUTANAN. Hutan Produksi. Pelepasan.

PANDUAN. Pengajuan Perhutanan Sosial

PERANAN BALAI PEMANTAPAN KAWASAN HUTAN DALAM PEMBANGUNAN PLANOLOGI KEHUTANAN KATA PENGANTAR

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

Oleh : Direktur Jenderal Planologi Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL BINA USAHA KEHUTANAN

Hutan Desa Oleh: Arief Tajalli dan Dwi P. Lestari. Serial: BADAN USAHA MILIK DESA (BUM Desa)

WG-Tenure. Laporan Evaluasi dan Pendalaman Hasil Assesment Land Tenure KPHP Seruyan Unit XXI Kalimantan Tengah Seruyan Februari 2014

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P.19/Menhut-II/2007 TENTANG

OPTIMALISASI PEMANFAATAN HUTAN

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

Penetapan Lokasi IUPHHK-RE di Tengah Arus Perubahan Kebijakan Perizinan. Hariadi Kartodihardjo 27 Maret 2014

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI KALIMANTAN BARAT

BAB IV GAMBARAN UMUM DAN OBYEK PENELITIAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. 62/Menhut-II/2014 TENTANG IZIN PEMANFAATAN KAYU

KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : SK.398/MENHUT-II/2005 TENTANG

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.65, 2010 KEMENTERIAN KEHUTANAN. Koridor. Penggunaan. Pembuatan.

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.23/Menhut-II/2007 TENTANG

Transkripsi:

1

2

3 Berdasarkan Revisi Pola Ruang Substansi Kehutanan sesuai amanat UU No 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang mengalami perubahan yang telah disetujui Menteri Kehutanan melalui Keputusan No. 936/Kpts-II/2013 Jo. SK Menhut No. 733/Kpts-II/2014 adalah : Luas Wilayah : + 14.680.700 Ha LUAS KAWASAN (ha) 6.186.345 1.595.647 2.270.298 KSA/KPA HL HPT HP 2.116.885 HPK DPCLS 2.097.484 PERAIRAN APL 138.739 69.203 206.099

16.000.000 14.000.000 12.000.000 10.000.000 8.000.000 6.000.000 4.000.000 2.000.000-14.959.265 Sudah Tata Batas REKALKULASI TATA BATAS KAWASAN HUTAN (M) 191.363 Pemancangan 4.106.794 Belum Tata Batas Total : 25.367.609 meter 1.810.675 Desain Penetapan 4.299.493 Penghapusan Batas No Tata Batas Panjang Batas (M) Batas Fungsi Batas Luar Keterangan 1. Sudah tata batas (umumnya diakomodir dalam SK. 733) 5.615.974 9.343.291 Tata batas berdasarkan TGHK, RTRWP, SK. 259 dan SK. 936 2. Pemancangan Batas Sementara - 191.363 Pelaksanaan Definitif tidak dapat dilaksanakan 3. Belum tata batas 865.613 3.241.181 4. Belum tata batas (Desain Penetapan) 505.632 1.305.062 Berada dalam desain penetapan tahun 2014 5. Tata batas tidak dipakai - 4.299.493 Adanya penghapusan dan tidak sesuai dengan SK. 733 Jumlah 6.987.219 18.380.390

Unit Manajemen 1 3 4 6 17 25 IUPHHK-HA 1.184.940 Ha IUPHHK-HT 2.017.321 Ha HTR 826 Ha Restorasi 14.080 Ha HPHD 7.040 Ha 43 IUPHKm 7.525 Ha Pinjam Pakai 40.055 Ha

TERDAPAT 26 IUPHHK-HA (LUAS : 1.235.940 HA) Pada tahun 2014 telah dicabut IUPHHK-HA izin sebanyak 1 Unit yaitu PT. BENUA INDAH, seluas : 51.300 Ha. IUPHHK-HA aktif sebanyak 17 Unit dan sudah mendapat Self Approval sebanyak 4 Unit serta aktif dalam proses pengesahan RKT. Tidak aktif sebanyak 1 IUPHHK-HA PERINGATAN I sebanyak 1 IUPHHK IHMB sebanyak 1 IUPHHK-HA 1 Unit IUPHHK- RE

0,96 11.881,50 6.411,20 27.761,00 Unit Operasi Produksi 9 Eksplorasi 6 Air Bersih 1 Lapangan Tembak 1

Aktif (Menyusun RKT) Jumlah IUPHHK-HTI 29 Unit ( 1.531.374 Ha ) Jumlah IUPHHK-HTI 49 Unit ( 2.099.581 Ha ) Tidak Aktif (Tidak Menyusun RKT) Jumlah IUPHHK-HTI 14 Unit ( 485.947 Ha ) Dicabut Jumlah IUPHHK-HTI 6 Unit ( 82.260 Ha )

9 1. Hutan Tanaman Rakyat (HTR) Sudah mendapat Ijin dari Bupati Kubu Raya sebanyak 1 unit seluas 700 Ha (dikelola oleh koperasi masyarakat setempat). Masih dalam proses perijinan di Kabupaten Sanggau sebanyak 2 unit dan Kabupaten Kubu Raya sebanyak 2 unit. 2. Hutan Desa (HD) Sudah mendapat Ijin dari Gubernur Kalimantan Barat sebanyak 4 unit di Kabupaten Kapuas Hulu Masih dalam proses perijinan di Kabupaten Ketapang sebanyak 6 unit, Kabupaten Kapuas Hulu sebanyak 4 unit, Kabupaten Kayong Utara sebanyak 5 unit dan Kabupaten Sintang sebanyak 3 unit. 3. Hutan Kemasyarakatan (HKm) Sudah mendapat Ijin dari Bupati Sanggau sebanyak 5 unit dan Bupati Sekadau sebanyak 1 unit. Masih dalam proses perijinan di Kabupaten Sambas sebanyak 2 unit, Kabupaten Kubu Raya sebanyak 2 unit.

PRODUKSI KAYU BULAT 900.000 800.000 700.000 600.000 500.000 400.000 300.000 200.000 100.000-719.124 615.161 817.371 205.113 219.562 338.667 117.950 241.696 249.896 793.758 11.538 8.164 207.655 - - 237.353 Produksi HPH Produksi IPK Hutan Hak Produksi HTI dan Bakau PRODUKSI KAYU OLAHAN Tahun 2011 2012 2013 2014 Thn 2011 (m3) Thn 2012 (m3) Thn 2013 (m3) Thn 2014 (m3) 473.582,9480 348.828,1446 98.358,0283 10.065.159,9151 EKSPORT KAYU OLAHAN NILAI Thn 2011 Thn 2012 Thn 2013 Thn 2014 m3 34.088.899,2617 213.257,4372 301.064,9758 190.250,0236 US$ 84.775.559,47 410.187.464,02 586.214.690,52 763.595.084,99

PENERIMAAN TAHUN 2011 2012 2013 2014 s/d Juli 2015 PSDH Rp. 25,697,481,815.16 38,579,705,148.30 26,219,679,142.61 28.569.170.543,71 5.265.296.623,34 DR $ 7,689,750.85 7,471,320.26 12,107,836.65 6.065.344,75 905.673,42 Rp. 66,826,684,723.79 70,731,645,470.93 129,274,786,946.29 - - IIUPH Rp. 4,810,972,000.00 14,904,675,000.00-8.631.762.500 - JUMLAH Rp. 92.456.752.534,95 120.240.275.619,23 155.494.466.088,93 37.200.933.043,71 5.265.296.623,34 $ 7.689.480,85 7.471.320,26 12.107.836,65 6.065.344,75 905.673,42

Sampai dengan akhir tahun 2014 di Provinsi Kalimantan Barat ijin usaha industri primer hasil hutan sebanyak 33 unit dengan kapasitas terpasang sebanyak ± 1.119.903 m3/tahun terdiri dari : Unit Manajemen 25 23 20 15 10 8 5 2 0 Kapasitas 6.000 m3/th Kapasitas 2.000 s/d 6.000 m3/th Kapasitas dibawah 2.000 m3/th

13 Telah dilaksanakan operasi pengawasan peredaran hasil hutan di Kabupaten Kubu Raya dan Landak dan telah ditemukan Barang Bukti temuan berupa kayu olahan sebanyak 210 batang, terhadap barang bukti tersebut telah dilakukan pengangkutan dari tempat kejadian perkara ke Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Landak. Selanjutnya penanganan barang bukti lebih lanjut telah di serahkan ke Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Landak, digunakan untuk kepentingan publik atau kepentingan sosial. Telah mengamankan 1 (satu) ekor orang hutan yang dipelihara oleh masyarakat dan selanjutnya telah diserahkan kepada instansi berwenang (BKSDA Kalbar)

1. TAHURA a. Sudah ada kajian teknis pada HL. Pandan Puloh di Kabupaten Landak dan Bengkayang seluas ± 16.300 Ha, lokasi tersebut secara administratif pemerintahan berada di : 1) Kabupaten Bengkayang : - Kecamatan Samalantan : 580 Ha - Kecamatan Sungai Betung : 3.967 Ha - Kecamatan Bengkayang : 1.983 Ha - Kecamatan Teriak : 49 Ha 2) Kabupaten Landak - Kecamatan Mempawah Hulu : 9.620 Ha b. Telah dilakukan sosialisasi lokasi pembangunan TAHURA oleh Dinas Kehutanan Provinsi kepada Pemerintahan Kabupaten Landak dan Bengkayang serta masyarakat setempat. c. Saat ini sedang dimintakan rekomendasi dari Bupati Landak dan Bengkayang dalam rangka proses perubahan fungsi kawasan yang akan dijadikan lokasi TAHURA skala Provinsi. 2. JASLING Telah dilakukan identifikasi potensi Jasa Lingkungan terhadap beberapa lokasi kawasan yang mempunyai potensi sumberdaya alam berupa air terjun, eko wisata, sumber air panas, sumber air bersih dan situs yang dikeramatkan. 14

Kawasan hutan yang telah ditetapkan di Provinsi Kalimantan Barat sampai dengan bulan Desember 2013 sebanyak 63 kelompok hutan seluas 1.301.552 Ha. Usulan desain penetapan kawasan hutan tahun 2014 adalah sebanyak 125 kelompok hutan seluas 5.371.803,73 Ha dengan progres sebagai berikut : Desain Penetapan s/d Desember 2013 Rencana (Kelompok Hutan) Luas (Ha) Tahun 2014 125 5.371.803, 73 Realisasi (Kelompok Hutan) Luas (Ha) - - 63 1.301.552,00 50 3.745.544,49 Catatan : Realisasi penetapan kawasan hutan tahun 2014 berdasarkan dokumen Surat Keputusan yang ada di BPKH

1. Kebutuhan penggunaan lahan untuk pembangunan diluar sektor kehutanan yang terus meningkat, sementara disisi lain ketersediaan lahan yang berstatus areal penggunaan lain (APL) sangat terbatas; 2. Belum adanya kebijakan yang jelas dan tegas untuk dapat mengakomodir hak adat/ulayat, kearifan lokal serta hak - hak masyarakat lokal dalam pemanfaatan sumber daya hutan. 3. Regulasi di Bidang Kehutanan a. Pemberian izin usaha dibidang kehutanan kurang memberikan peluang usaha kepada ekonomi kecil dan masyarakat setempat sebagai basis pemberdayaan masyarakat. b. Kewenangan pengaturan pengelolaan hutan dan pemberian pelayanan perijinan usaha dibidang kehutanan masih terfokus di Pusat (sentralistik). c. Kurang memberikan jaminan kepastian hukum dan kepastian usaha bagi keberlangsungan investasi jangka panjang. d. Pemenuhan persyaratan dan birokrasi perijinan usaha dibidang kehutanan yang cukup rumit dan berbelit - belit. e. Kurang konsisten dalam penerapan dan pemberlakuan suatu produk hukum dibidang kehutanan. f. Belum sinergisnya regulasi dibidang kehutanan oleh Pemerintah Pusat (lintas kementerian).

4. Dukungan manajemen Dukungan penganggaran dibidang kehutanan untuk Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota oleh Kementerian Kehutanan sangat minim dan tidak sebanding dengan luas kawasan yang ada. 5. Pemanfaatan Hutan Adat a. Regulasi yang mengatur tentang pemanfaatan dan tata kelola hutan adat masih terikat dalam undang-undang Kehutanan b. Kelembagaan hutan adat secara normatif selama ini tidak didukung dengan regulasi khusus yang mengatur tentang pemanfaatan dan tata kelola hutan adat

1. Gubernur Kalimantan Barat melalui surat No. 522/0941/Dishut/III/2014 tanggal 21 Maret 2014 perihal permasalahan penggunaan/pengelolaan kawasan hutan di Kalimantan Barat yang ditujukan kepada para Bupati/Walikota se Kalbar. Meminta kepada Bupati/Walikota untuk melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap perijinan yang ada di Kabupaten/Kota. 2. Melalui surat Gubernur Kalimantan Barat No. 522/2890/Dishut tanggal 7 Oktober 2014 tentang pelajanan investasi penggunaan kawasan hutan meminta kepada Bupati/Walikota se Kalbar untuk melakukan pengawasan terkait pemenuhan kewajiban oleh pemegang IUPHHK-HA/HT/RE. 3. Gubernur Kalimantan Barat melalui surat No. 522/2343/Dishut/2013 tanggal 12 Agustus 2013 perihal penyampaian data pemukiman dalam kawasan hutan, meminta kepada Bupati/Walikota melakukan identifikasi dan inventarisasi. 4. Gubernur Kalimantan Barat melalui surat No. 522/3410/Dishut tanggal 19 Juli 2010 perihal ijin pemanfaatan kayu pada areal APL dan kawasan hutan untuk kegiatan non kehutanan meminta kepada Bupati/Walikota untuk memperhatikan para pemegang ijin penggunaan lahan agar dalam pembukaan lahan memperhatikan aspek fungsi lahan demi menjaga kelestarian lingkungan. 5. Gubernur Kalimantan Barat melalui surat Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat No. 1108.1/Dishut-II/Ppk/2015 tanggal 10 Agustus 2015 perihal Konfirmasi UU No. 23 Tahun 2014 terkait pelayanan publik di bidang kehutanan, ditujukan kepada Dirjen Planologi dan Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Kementerian LHK, untuk pelayanan di bidang kehutanan tidak terjadi stagnan.

Regulasi yang sering berubah-ubah dan mempersulit pelaku usaha untuk mengembangkan usahanya. Pada sisi lain terdapat regulasi yang memberikan keleluasaaan sedemikian besar kepada pemegang ijin dalam bentuk SELF APPROVAL (mengesahkan RKT sendiri serta mencetak blanko DOKUMEN : SKSKB, FA- KO) sehingga Dinas Provinsi tidak dapat melakukan pembinaan, pengawasan dan pengendalian. Pemberian perijinan yang masih menganut pola TOP DWON. Ketersediaan bahan baku yang terbatas. Kurangnya perlindungan terhadap masyarakat lokal dalam pengelolaan hutan haknya. Masih terdapat dualisme di dalampelayanan perijinan hasil hutan kayu dan non kayu. Harga jual kayu dan produk lanjutannya yang tidak memiliki daya saing

Telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terkait dengan penataanusahaan Kehutanan. Mengusulkan untuk melakukan perubahan peraturan menteri terkait dengan pemanfaatan hasil hutan.

21

Peningkatan pemahaman tentang HTI kepada masyarakat Sosialisasi melibatkan instansi/pihak terkait Penyelesaian tata batas Mendorong unit manajemen untuk segera melaksanakan tata batas untuk jaminan kepastian areal kerja/konsesi Penanaman tanaman kehidupan Penerapan sistem tumpang sari tan. semusim Optimalisasi pelaksanaan CSR Peningkatan upaya pemberdayaan masyarakat untuk peningkatan kesejahteraan

Belum adanya petunjuk teknis pelaksanaan UU No. 23 tahun 2014, yang menyebabkan melemahnya motifasi aparat kehutanan kabupaten dalam perlindungan dan pengamanan hutan. Kurangnya sarana dan prasarana serta anggaran, menyebabkan tugas perlindungan dan konservasi alam kurang optimal khususnya untuk kawasan hutan lindung dan hutan produksi yang luasnya ± 7 juta ha (kewenangan provinsi). Tata niaga ikan Arwana masih diurus oleh Pemerintah Pusat, pada hal di Kalbar sudah banyak dibudidayakan oleh pihak swasta dan masyarakat umum.

Melakukan Konsultasi ke Pusat dan koordinasi ke kabupaten berkenaan dengan tugas perlindungan dan pengamanan hutan sesuai UU No. 23 tahun 2014. Telah mengusulkan penambahan anggaran khususnya APBN dalam setiap rapat koordinasi perencanaan, namun setiap tahun hasilnya kurang memuaskan. Telah menyampaikan usulan setiap kesempatan pembahasan urusan hasil hutan non kayu.

25