BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. terhadap pelayanan kesehatan yang bermutu adil dan merata baik di pusat daerah,

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Masalah

A. Guntur H. Subbagian Alergi-Imunologi Tropik Infeksi Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fak. Kedokteran UNS Solo

TINJAUAN PUSTAKA. obat tradisional, yaitu spesies tumbuhan yang diketahui atau dipercayai

BAB I PENDAHULUAN. baik dan lancar. Oleh karena itu semua orang setuju untuk menjaga tubuhnya

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan kebutuhan terpenting bagi manusia sehingga

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. pilihan alternatif solusi kesehatan masyarakat. Oleh karena harga obat tradisional

PENYULUHAN CPOTB DAN PERSIAPAN PENDIRIAN IKOT DI KABUPATEN GARUT

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. Indonesia memiliki sumber daya hayati dan merupakan salah satu negara

BAB I PENDAHULUAN. untuk menunjang penampilan seseorang, bahkan bagi masyarakat dengan gaya

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan modal awal manusia untuk dapat melakukan

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 007 TAHUN 2012 TENTANG REGISTRASI OBAT TRADISIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. gizi dan mempunyai bentuk yang menarik, akan tetapi juga harus aman dalam arti

BAB I PENDAHULUAN. digunakan dalam makanan. Kurangnya perhatian terhadap hal ini telah sering

BERITA NEGARA. KEMENTERIAN KESEHATAN. Industri. Usaha Obat. Tradisional. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. berpengaruh terhadap keberadaan dan ketahanan hidup manusia. Mengingat kadar

BAB I PENDAHULUAN. salah satu komponen pokok yang harus selalu tersedia dan tidak tergantikan

Lampiran 1. Indikator dan Parameter Faktor Internal. No Indikator Parameter Skor 1. Ketersediaan bahan baku obat tradisional

Resep Alam, Warisan Nenek Moyang. (Jamu untuk Remaja, Dewasa, dan Anak-anak)

BAB I PENDAHULUAN. Pengaruh globalisasi perdagangan pangan sudah mulai meluas ke berbagai

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 006 TAHUN 2012 TENTANG INDUSTRI DAN USAHA OBAT TRADISIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PENGAWASAN DAN PERIJINAN SARANA PRODUKSI OBAT TRADISIONAL, KOSMETIKA, DAN PRODUK KOMPLEMEN DI JAWA TIMUR BALAI BESAR POM DI SURABAYA

II. TINJAUAN PUSTAKA Keamanan Pangan

BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia mempunyai banyak potensi alam yang dapat dikembangkan untuk

I. PENDAHULUAN. Penampilan menarik dan cantik selalu diidam-idamkan oleh semua kalangan

Biodiversitas adalah berbagai variasi yang ada di antara makhluk hidup dan lingkungannya Sekitar 59% daratan Indonesia merupakan hutan hujan tropis

PEDAGANG BESAR FARMASI. OLEH REZQI HANDAYANI, M.P.H., Apt

Disampaikan oleh : Direktur Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian. Makassar, 24 April 2014

Obat tradisional 11/1/2011

CPOB. (Cara Pembuatan Obat yang Baik)

Evaluasi penerapan cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB) di industri obat tradisional di Jawa Tengah

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : HK TENTANG

I. PENDAHULUAN. kesehatannya banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat mulai dari melakukan

BAB I PENDAHULUAN. Ketersediaan obat bagi masyarakat merupakan salah satu komitmen pemerintah

I. PENDAHULUAN. dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukan sebagai

BAB I PENDAHULUAN. melakukan berbagai upaya sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. harus aman dalam arti tidak mengandung mikroorganisme dan bahan-bahan kimia

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Sekretaris Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan

IOT adalah industri yang memproduksi obat traditional dengan total asset diatas Rp ,- (enam ratus juta rupiah), tidak termasuk harga tanah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PELABELAN DAN IKLAN PANGAN

I. PENDAHULUAN. Pembangunan kesehatan ditujukan untuk rnewujudkan kesehatan

TUGAS POKOK DAN FUNGSI

PENINGKATAN PENGAWASAN IKLAN DAN PENANDAAN OBAT

PELAYANAN PUBLIK DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN

BAB I PENDAHULUAN. penelitian, perumusan masalah, tujuan serta manfaat dari penelitian yang

BAB I PENDAHULUAN I.1.

CARA PRODUKSI PANGAN YANG BAIK UNTUK INDUSTRI RUMAH TANGGA (IRT)

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK N0M0R 382/MENKES/PER/VI/ 1989 TENTANG PENDAFTARAN MAKANAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI FARMASI INDUSTRI PT. KIMIA FARMA PLANT MEDAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik

Mengenal Perbedaan Logo Jamu, Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka Serta Obat Untuk Diabetes

KEBIJAKAN DAN PROGRAM PENGEMBANGAN PUSAT PENGOLAHAN PASCA PANEN TANAMAN OBAT DAN PUSAT EKSTRAK DAERAH UNTUK MENDUKUNG KEMANDIRIAN BAHAN BAKU OBAT

KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN PRODUK HERBAL BERBASIS RISET

BAB I PENDAHULUAN. yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana

M E M U T U S K A N : Menetapkan : PERATURAN MENTERI KESEHATAN TENTANG PEREDARAN OBAT TRADISIONAL IMPOR BAB I KETENTUAN UMUM.

DALAM PENGAWASAN DAN PENINGKATAN DAYA SAING

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DAFTAR PERTANYAAN UNTUK DEPTH INTERVIEW WAWANCARA MENDALAM. 1. Daftar wawancara Kepala Lembaga Pembinaan dan Perlindungan

Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan

Evaluasi Permohonan Persetujuan Denah/RIP Sarana Produksi Kosmetik dan Obat Tradisional

BAB I PENDAHULUAN. asasi setiap rakyat Indonesia dalam mewujudkan sumber daya manusia yang

GUBERNUR SUMATERA BARAT

Undang-undang Pangan No. 7/1996

BAB III WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB BBPOM DALAM PENGAWASAN TERHADAP DISTRIBUSI OBAT TRADISIONAL DI KOTA BANDUNG

WAWANCARA KEPADA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN (BPOM) maka kosmetik tersebut dapat dikategorikan sebagai kosmetik impor ilegal.

Kebijakan Peningkatan Pembinaan Produksi dan Distribusi Kefarmasian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KEBIJAKAN NASIONAL PENGATURAN IRTP DAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG KEAMANAN PANGAN

2016, No Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Ne

ANALISIS DAYA SAING, STRATEGI DAN PROSPEK INDUSTRI JAMU DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Obat dan Makanan Terjamin Aman, Bermutu dan Bermanfaat

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK

MATRIK 2.3 RENCANA TINDAK PEMBANGUNAN KEMENTERIAN/ LEMBAGA TAHUN 2011

Riati Anggriani, SH, MARS., M.Hum Kepala Biro Hukum dan Humas Badan Pengawas Obat dan Makanan 6 Februari 2017

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. khasiat sebagai obat. Bahkan, sekitar 300 spesies dimanfaatkan sebagai bahan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pangan merupakan kebutuhan dasar utama bagi manusia yang harus dipenuhi

BAB 1 PENDAHULUAN. dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit (Tranggono

BAB I PENDAHULUAN. yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi

BAB I PENDAHULUAN. Dalam Undang-undang Kesehatan No. 36 tahun 2009 pasal 48 telah. kesehatan keluarga, perbaikan gizi, pengawasan makanan dan minuman,

I. PENDAHULUAN. Kecenderungan masyarakat dunia untuk kembali ke alam (back to nature)

BAB I PENDAHULUAN. apoteker Indonesia, masih belum dapat menerima jamu dan obat herbal terstandar

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

INOVASI JAMU DALAM KEMASAN SIAP MINUM SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN POLA KONSUMSI JAMU DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI KECAMATAN JATEN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. seperti tumbuhan yang sudah dibudidayakan maupun tumbuhan liar. Obat herbal

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia Nomor 245/Menkes/SK/V/1990 terdiri dari industri obat jadi dan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penggunaan bahan alam sebagai obat tradisional di Indonesia telah dilakukan oleh nenek moyang kita sejak berabad-abad yang lalu terbukti dari adanya naskah lama pada daun lontar Husodo (Jawa), Usada (Bali), Lontarak pabbura (Sulawesi Selatan), dokumen Serat Primbon Jampi, Serat Racikan Boreh Wulang ndalem dan relief candi Borobudur yang menggambarkan orang sedang meracik obat (jamu) dengan tumbuhan sebagai bahan bakunya (Sukandar, 2006). Obat tradisional telah diterapkan secara luas di negara berkembang dan negara maju. Menurut WHO, negara yang menggunakan obat herbal sebagai pelengkap pengobatan primer yaitu Afrika, Asia dan Amerika Latin. Bahkan di Afrika, sebanyak 80% dari populasi di Afrika menggunakan obat tradisional untuk pengobatan primer (WHO, 2003). RISKESDAS (2010) melaporkan sebanyak 95,60% penduduk Indonesia yang mengkonsumsi obat tradisional (jamu) menyatakan bahwa konsumsi jamu bermanfaat bagi tubuh. Persentase penduduk yang merasakan manfaat dari mengkonsumsi jamu berkisar 83,23% hingga 96,66%. Faktor peningkatan penggunaan obat herbal diantaranya adalah usia harapan hidup yang terus meningkat, adanya kegagalan dalam penggunaan obat sintetik atau modern untuk penyakit tertentu seperti kanker serta semakin meluasnya akses informasi. Badan Kesehatan Internasional (WHO) telah merekomendasikan penggunaan obat tradisional termasuk obat herbal dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit. Hal ini menunjukkan dukungan WHO untuk pengobatan kembali ke alam atau yang lebih dikenal dengan back to nature (Santoso, 1993). Meningkatnya penggunaan obat herbal oleh masyarakat, meningkat pula jumlah industri yang memproduksi obat tradisional. Secara keseluruhan jumlah industri yang memproduksi obat tradisonal baik industri khusus obat tradisional maupun industri farmasi yang memproduksi obat tradisional sampai akhir 2002 di 1

Indonesia didapatkan 1012, yang terdiri atas 105 industri skala besar dan 907 industri skala kecil (Moeloek, 2006). Badan POM (2007) dalam Dewoto (2007); Kemenkes ( 2011) melaporkan bahwa jumlah industri khusus obat tradisional baik skala besar yang dikelompokkan dalam IOT (Industri Obat Tradisional) di tahun 2002 sebesar 10 industri dan pada tahun 2006 mencapai 40 industri, sedangkan pada skala kecil yang dikelompokkan dalam IKOT (Industri Kecil Obat Tradisional) di tahun 2002 sebesar 29 industri dan padaa tahun 2009 mncapai 1.293 (Gambar 1). 1400 1200 1000 Jumlah industri 800 600 400 200 0 2002 IOT 10 IKOT 29 2003 2004 2005 58 54 47 164 217 197 2006 2008 2009 40 0 0 172 951 1293 Tahun Gambar 1. Jumlah Industri Obat Tradisional (IOT) dan Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) Konsumen dalam mengkonsumsi obat tradisional yang diproduksi suatu industri harus memperhatikan aspek keamanannya. Tiga kategori obat tradisional industri berbahaya untuk dikonsumsi, yaitu: melebihi masa kedaluwarsa/tidak mencantumkan masa kadaluwarsa pada bungkus kemasannya, mengandung bahan kimia obat, dan tidak terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanann Republik Indonesia (BPOM RI) atau Dinas Kesehatan Propinsi setempat dimana jamu tersebut diproduksi dan didistribusikan/dipasarkan (Sulaksana, 2009). Peraturan Menteri Kesehatan No. 007 (2012) a tentang Registrasi Obat Tradisional pada Bab 2

II Izin Edar, pasal 2 menyatakan bahwa obat tradisional yang diedarkan di wilayah Indonesia wajib memiliki izin edar, pemberian izin edar dilaksanakan melalui mekanisme registrasi sesuai dengan tatalaksana yang ditetapkan. Sedangkan pasal 7 ayat (1)b tercantum bahwa obat tradisional dilarang mengandung bahan kimia obat. Pembuatan produk kesehatan khususnya obat memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Obat yang dikonsumsi oleh masyarakat harus dibuat atau diproduksi sesuai dengan standar yang ditetapkan untuk menjamin kualitas dari obat yang dihasilkan. Begitu juga dengan pembuatan obat tradisional dimana proses produksinya harus memenuhi standar Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB). Persyaratan di dalam pedoman CPOTB harus dipenuhi guna memenuhi tujuan untuk melindungi masyarakat terhadap hal-hal yang merugikan dari penggunaan obat tradisional yang tidak memenuhi persyaratan mutu. Keamanan dan mutu obat tradisional tergantung pada bahan baku, bangunan, prosedur dan pelaksanaan proses pembuatan, peralatan yang digunakan, pengemas termasuk bahannya serta personalia yang terlibat dalam pembuatan obat tradisional. Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik merupakan cara pembuatan obat tradisional yang senantiasa memenuhi persyaratan yang berlaku. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (2011) menyatakan bahwa CPOTB adalah bagian dari pemastian mutu yang memastikan bahwa obat tradisional dibuat dan dikendalikan secara konsisten untuk mencapai standar mutu yang sesuai dengan tujuan penggunaan dan dipersyaratkan dalam izin edar dan spesifikasi produk. Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik digunakan sebagai pedoman bagi semua pihak yang terlibat dalam pembuatan obat tradisional, baik Industri Obat Tradisional (IOT) maupun Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) (Kemenkes, 1991). Kabupaten Sukoharjo khususnya desa Nguter dipilih menjadi daerah penelitian karena selain menjadi sentra obat tradisional, Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT) di Desa Nguter Kabupaten Sukoharjo sejauh ini belum diketahui apakah telah menerapkan CPOTB pada saat produksinya. Untuk itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui gambaran penerapan CPOTB pada UKOT di Desa Nguter Kabupaten Sukoharjo. Pemilihan Desa Nguter sebagai 3

subyek penelitian mengingat bahwa desa tersebut telah dicanangkan sebagai Kampung Jamu pada tahun 2012 oleh Dirjen Kementrian Kesehatan. B. Perumusan Masalah Desa Nguter Kabupaten Sukoharjo telah dicanangkan sebagai kampung jamu. Hal ini berarti sebuah kepercayaan terhadap Desa Nguter Kabupaten Sukoharjo sebagai produsen jamu yang memiliki kualitas mutu yang baik. Menjadi sebuah keharusan pada produsen jamu untuk menerapkan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik. Akan tetapi sebagian besar produsen jamu di Desa Nguter Kabupaten Sukoharjo merupakan usaha kecil obat tradisional. Sehingga perlu dikaji secara mendalam, Apakah Usaha Kecil Obat Tradisional di Desa Nguter Kabupaten Sukoharjo telah menerapkan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Untuk mengetahui upaya penerapan CPOTB pada UKOT di Desa Nguter Kabupaten Sukoharjo. 2. Tujuan khusus a. Untuk mengevaluasi penerapan CPOTB pada UKOT di Desa Nguter Kabupaten Sukoharjo dengan beberapa aspek, yaitu: personil, bangunan, peralatan, sanitasi dan higiene, bahan baku, dan pengolahan. b. Untuk mengidentifikasi adanya hambatan dalam penerapan CPOTB pada UKOT di Desa Nguter Kabupaten Sukoharjo. c. Untuk mengidentifikasi upaya dalam mengatasi hambatan penerapan CPOTB pada UKOT di Desa Nguter Kabupaten Sukoharjo. D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan bermanfaat : 1) Teoritis Penelitian ini diharapkan memberikan gambaran upaya penerapan CPOTB pada UKOT di Desa Nguter Kabupaten Sukoharjo karena dengan dicanangkannya 4

Kampung Jamu di Desa Nguter Kabupaten Sukoharjo, diharapkan memiliki perhatian lebih terhadap penerapan CPOTB pada setiap proses produksi sehingga akan meningkatkan kualitas produk obat tradisional (jamu) dan mendapat kepercayaan lebih dari konsumen (masyarakat) 2) Praktis a. Bagi Koperasi Jamu Indonesia di Kabupaten Sukoharjo Memberikan informasi apakah proses produksi Usaha Kecil Obat Tradisional di Desa Nguter Kabupaten Sukoharjo sudah memenuhi CPOTB dan memberikan masukan dalam menentukan kebijakan untuk perbaikan apabila UKOT di Desa Nguter Kabupaten Sukoharjo belum memenuhi persyaratan CPOTB. b. Bagi Usaha Kecil Obat Tradisional di Desa Nguter Kabupaten Sukoharjo Membantu melakukan penilaian penerapan CPOTB terutama pada UKOT yang jarang melakukan evaluasi penilaian penerapan CPOTB, serta memberikan masukan untuk meningkatkan mutu produksi obat tradisional c. Bagi Peneliti Memberikan pengetahuan dan dapat memberikan masukan sebagai bahan pengembangan usaha kecil obat tradisional. 5

E. Keaslian Penelitian Beberapa penelitian yang membahas mengenai pentingnya penerapan CPOTB telah dilakukan oleh Mulyo (2003) membahas mengenai optimalisasi peran dan tanggungjawab Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan BPOM Semarang dalam perlindungan konsumen terhadap produk obat tradisional. Suryadi (2004) membahas evaluasi penerapan Cara Pembuatan Obat Tradisional Yang Baik (CPOTB) pada beberapa industri obat tradisional yang ada di Jawa Tengah. Subyek yang diteliti adalah Industi Obat Tradisional (IOT) dengan sampling pada 14 industri obat tradisional di Jawa Tengah sehingga yang menjadi subyek penilitian 7 industri obat tradisional yang ada di Jawa Tengah. Mahyona (2006) melakukan evaluasi penerapan Cara Pembuatan Obat Tradisional Yang Baik (CPOTB) dan pengendalian kualitas sediaan tablet X di PT. Kimia Farma Tbk, Plant Jakarta. Peneliti ini membahas mengenai tingkat penerapan CPOTB sediaan tablet pada perusahaan PT. Kimia Farma Tbk, Plant Jakarta. Sutrisno (2009) dengan judul tesis Ketentuan Larangan Obat Tradisional Menggunakan Bahan Kimia Sintetik dan Standarisasi Pembuatan Obat Tradisonal, penelitian ini membahas mengenai ketentuan larangan obat tradisional menggunakan bahan kimia sintetik dan standarisasi pembuatan obat tradisonal serta kejelasan secara hukum mengenai hubungan antara ketentuan larangan obat tradisional menggunakan bahan kimia sintetik dengan standarisasi pembuatan obat tradisional yang baik dengan objek penelitiannya adalah Undang-undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan dan Undang-undang Kesehatan 2009 yang baru, Kepmenkes RI No.659/Menkes/SK/X/Tentang CPOTB seta PP No. 51/2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Mulqie dan Arlina (2010) dengan judul Penyuluhan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) dan Persiapan Pendirian Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) di Kabupaten Garut, dengan kegiatan penyuluhan yang terdiri dari dua kegiatan utama yaitu pembekalan materi tentang CPOTB dan persiapan pendirian IKOT dan kunjungan lapangan guna evaluasi langsung cara pembuatan obat tradisional. 6

Maryati (2012) dengan judul Pelaksanaan Pengawasan Perlindungan Konsumen oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan terhadap Peredaran Obat, Makanan dan Minuman, Kosmetika dan Obat Tradisional Ilegal di Sumatera Barat (Studi Kasus Toko AMD Aziz), dengan hasil penelitian bahwa pelaksanaan pengawasan oleh BPOM Padang terhadap peredaran kosmetik ilegal dalam kasus Toko AMD Aziz dilakukan dalam rangka melindungi konsumen yaitu dalam bentuk pengawasan pre-market dan post-market, serta pelaksanaan fungsi dan peranan BBPOM sebagai bentuk pengawasan mutu, keamanan dan kemanfaatan produk, yang mana hambatan-hambatan yang dihadapi oleh BBPOM diatasi dengan cara lebih mengoptimalkan peranannya sebagai lembaga pengawas obat dan makanan di wilayah Sumatera Barat. Berbeda dengan penelitian-penelitian diatas, peneliti lebih khusus meneliti upaya Penerapan Cara Pembuatan Obat yang Baik pada Usaha Kecil Obat Tradisional di Desa Nguter Kabupaten Sukoharjo yang dicanangkan sebagai Kampung Jamu pada November 2012. 7