Analisis metaforis..., Widya, FIB, UI, 2010.

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Seperti yang diamanatkan oleh. masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian merupakan suatu tempat atau wilayah penelitian tersebut akan

BAB I PENDAHULUAN. ucap yang bersifat arbiter dan konvensional, yang dipakai sebagai alat komunikasi

DAFTAR ISI. BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah dan Ruang Lingkup Penelitian Tujuan Penelitian...

BAB I PENDAHULUAN. Metafora berperan penting dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Untuk

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. komunikasi, sebab bahasa adalah alat komunikasi yang sangat penting,

BAB 1 PENDAHULUAN. atau persamaan; misal kaki gunung, kaki meja, berdasarkan kias pada kaki manusia (Harimurti, 2008: 152).

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dita Marisa, 2013

BAB I PENDAHULUAN. kepentingan bersama (Suwito dalam Aslinda dkk, 2010: 06). Bahasa sebagai

BAB I PENDAHULUAN. satu masalah diantaranya: pertama; pandangan dari objek yang utama, kedua;

BAB II LANGKAH PERTAMA KE NIAS

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa adalah sistem lambang bunyi bersifat arbitrer yang dipergunakan

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN. penggunaan gaya bahasa kiasan metafora yang disampaikan melalui ungkapanungkapan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Anak usia dini adalah anak yang berumur nol tahun atau sejak lahir

I. PENDAHULUAN. komunikasi, melalui bahasa manusia dapat saling berhubungan (berkomunikasi)

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan hasil penelitian sebagai

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Astri Rahmayanti, 2013

ANALISIS PESAN BAHASA KELUHAN WARGA DESA PILANG KECAMATAN RANDUBLATUNG KABUPATEN BLORA SKRIPSI. Untuk memenuhi sebagian persyaratan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Bagian pendahuluan dalam tesis ini terdiri dari, latar belakang yang berisi hal-hal

Karakter Kepemimpinan Menurut Kearifan Lokal Minangkabau

ANALISIS TINDAK TUTUR DALAM TUTURAN PERANGKAT DESA PECUK KECAMATAN MIJEN KABUPATEN DEMAK

LANGUAGE IS POWERFUL 1. Pendahuluan

BAB III STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL

BAB I PENDAHULUAN. Setiap manusia pasti menggunakan bahasa, baik bahasa lisan maupun

22, Vol. 06 No. 1 Januari Juni 2015 dapat diungkapkan dengan makna sebagai representasi maksud emosional manusia yang tidak terbatas. Penggunaan bahas

BAB I PENDAHULUAN. tidur sampai tidur lagi, bahkan bermimpi pun manusia berbahasa pula.

Pembahasan Video : 2/SMP/Kelas 7/BIOLOGI/BAB 11/BIO smil/manifest.

PEMAKAIAN DEIKSIS SOSIAL DALAM NOVEL SKRIPSI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan. Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1

Alam Minangkabau. Alam Minangkabau terbagi atas dua bagian, yaitu daerah. Luhak Nan Tigo dan daerah Rantau. Luhak Nan Tigo merupakan tiga daerah

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. kesehariannya manusia saling membutuhkan interaksi dengan sesama untuk

BAB V PENUTUP. pembahasan dalam tesis ini. Adapun, saran akan berisi masukan-masukan dari. penulis untuk pengembangan penelitian selanjutnya.

BAB I PENDAHULUAN. Pada bagian pendahuluan ini berisi latar belakang masalah penelitian,

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Istilah metafora sudah muncul dari hasil interpretasi terhadap Kejadian di

TEORI-TEORI SEMIOTIK DALAM KOMUNIKASI

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

Jurnal SAP Vol. 1 No. 1 Agustus 2016 ISSN: X PENGARUH MINAT MEMBACA DAN PENGUASAAN KOSAKATA TERHADAP KETERAMPILAN BERPIDATO

SMP kelas 9 - BAHASA INDONESIA BAB 5. MEMBACA NONSASTRALatihan Soal 5.1 (3) (2) (1)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari buku-buku pendukung yang

I. PENDAHULUAN. Bahasa memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Dengan bahasa

BAB I PENDAHULUAN. interaksi antarpesona dan memelihara hubungan sosial. Tujuan percakapan bukan

PERBEDAAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH ANTARA JAMA AH HALAQOH SHALAT KHUSYUK DAN BUKAN JAMA AH HALAQOH SHALAT KHUSYUK DI SURAKARTA SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. diawasi agar terlaksana secara efektif dan efisien. Rusman (2012:4) mengemukakan proses

GAYA BAHASA PERSONIFIKASI PADA KARANGAN SISWA KELAS VIII SMP MUHAMMADIYAH 9 GEMOLONG SRAGEN

Perkebunan produktif di lereng pegunungan

diperoleh mempunyai dialek masing-masing yang dapat membedakannya

Business Communication. Communication Science Study Program Tine A. Wulandari, M. I. Kom.

B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi KI Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Persoalan tindak tutur (speech act) dalam wacana pertuturan telah banyak

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa daerah (Minangkabau) dan bahasa nasional (Indonesia) dapat

BAB I PENDAHULUAN. hubungan antara tanda - tanda linguistik atau tanda-tanda lingual dengan hal yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa secara sederhana merupakan produk budaya yang dihasilkan dan

HOTEL RESORT DI KAWASAN WISATA ISTANO BASA PAGARUYUNG

BAB I PENDAHULUAN. Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia menggunakan bahasa sebagai sarana

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2013

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah salah satu negara yang luas di dunia, karena Indonesia tidak

BAB I PENDAHULUAN. peristiwa berkomunikasi. Di dalam berkomunikasi dan berinteraksi, manusia

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Keterampilan menulis merupakan salah satu kompetensi harus dikuasai

PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DPRD KABUPATEN PANGANDARAN NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG LAMBANG DPRD KABUPATEN PANGANDARAN

ku yakin, ada makna di balik terjadinya segala sesuatu. Ada makna di balik air mengalir. Ada makna di balik panasnya api.

BAB I PENDAHULUAN. untuk menunjukkan eksistensi sebuah masyarakat. Untuk membangun

BAB I PENDAHULUAN. manusia Indonesia seutuhnya, pembangunan di bidang pendidikan. pendidikan banyak menghadapi berbagai hambatan dan tantangan.

BAB I PENDAHULUAN. untuk melakukan sastra. Pada intinya kegiatan bersastra sesungguhnya adalah media

TINDAK TUTUR DALAM BERCERITA SISWA KELAS X SMA NEGERI 2 CIAMIS

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT NOMOR 2 TAHUN 2002 TENTANG LAMBANG DAERAH

BAB I PENDAHULUAN. tindakan dalam tuturannya (Chaer dan Leoni. 1995:65).

BAB I PENDAHULUAN. Karya sastra diciptakan berdasarkan gagasan dan pandangan seorang

BUPATI TANJUNG JABUNG TIMUR,

ILMU PERTANDA Oleh Nurcholish Madjid

BAB I PENDAHULUAN. Seiring berjalannya waktu, dunia perfilman telah mengalami perkembangan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Komunikasi berfungsi sebagai hubungan antara seseorang dengan orang lain untuk mengetahui hal yang terjadi.

WALIKOTA PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 3 TAHUN 2017 TENTANG LAMBANG DAERAH KOTA PEKALONGAN

BAB I PENDAHULUAN. khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian pemakai bahasa tersebut.

KONSEP DAN KOMPONEN. Oleh: Pujaningsih

BAB. Keseimbangan Lingkungan

2015 METAFORA DALAM TUTURAN KOMENTATOR INDONESIA SUPER LEAGUE MUSIM : KAJIAN SEMANTIK KOGNITIF

BAB IV TEKNIS PERANCANGAN

BAB I PENDAHULUAN. pertimbangan akal budi, tidak berdasarkan insting. dan sopan-santun non verbal. Sopan-santun verbal adalah sopan santun

Penggolongan Tahapan Perkembangan Normal Bicara dan Bahasa Pada Anak. Oleh: Ubaii Achmad

DASAR-DASAR FENG SHUI

etnis- Galundi Nan Baselo. Taratak Dusun Koto Nagari. Mangumpua nan taserak manjapuik nan tatingga. benang merah

BAB I PENDAHULUAN. arbitrer yang digunakan oleh suatu anggota masyarakat untuk bekerja sama,

Geografi LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN II. K e l a s. xxxxxxxxxx Kurikulum 2006/2013

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini penggunakan majas pada percakapan sehari-hari merupakan hal

Pengertian lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak

SEJARAH DESAIN. POLA Modul 10. Udhi Marsudi, S.Sn. M.Sn. Modul ke: Fakultas Desain dan Seni Kreatif. Program Studi Desain Produk.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan pada saat ini telah menjadi kebutuhan yang sangat penting dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam keseluruhan proses di sekolah, kegiatan pembelajaran merupakan. materi pelajaran dan tingkat perkembangan siswa.

Sutjipto Ridwan: Galeri dengan lukisan yang memikat hati

Transkripsi:

119 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Penggunaan bahasa adalah cerminan dinamika masyarakat penuturnya. Keunikan dan keapikan kemasan sebuah ujaran adalah cerminan keunikan sebuah budaya. Setiap budaya memiliki keunikan tersebut, termasuk budaya Minangkabau yang terkenal dengan pepatah-petitihnya. Pepatah-petitih merupakan bentuk wacana karena mengungkapkan nilai-nilai kearifan, kepercayaan, pemikiran, dan perasaan masyarakat Minangkabau dalam wujud bahasa. Pepatah -petitih Minangkabau mencakupi segala bidang kehidupan termasuk konsep kepemimpinan. Di dalamnya banyak mengandung ajaran-ajaran normatif tentang kearifan, bagaimana bertindak dan berbuat, suruhan, anjuran, dan larangan. Konsep kepemimpinan ideal, salah satunya konsep mengenai sifat-sifat kepemimpinan ideal menurut budaya Minangkabau, diungkapkan secara metaforis dalam pepatah-petitih tersebut. Teori metafora konseptual dari Lakoff dan Johnson serta teori metafora ancangan pragmatis dari Searle saling melengkapi untuk menganalisis makna sebuah metafora. Dari segi pragmatis, sebuah metafora tidak hanya dilihat dari makna kalimatnya, tetapi dari maksud penuturnya. Jadi, metafora mengandung pesan yang mesti diinterpretasikan terlebih dahulu. Teori metafora konseptual Lakoff dan Johnson membantu memahami pesan tersebut dengan terlebih dahulu menentukan unsur-unsur metaforis dari metafora yaitu ranah sumber dan ranah target. Konsep tentang sifat kepemimpinan ideal di Minangkabau dimetaforakan dengan mengambil perumpamaan dari gejala-gejala alam. Salah satunya adalah sifat-sifat kepemimpinan ideal yang diumpamakan dengan bagian-bagian pohon beringin. Dari hasil analisis, penulis menemukan alur pikir metaforis mengapa beringin yang dijadikan sebagai perlambang sifat kepemimpinan ideal sehingga melahirkan metafora pamimpin adalah baringin gadang di tangah koto pemimpin adalah beringin besar di tengah koto. Kecermatan dan kecerdasan para pencipta pepatah dalam memperhatikan dan memilih sifat-sifat positif dari

120 bagian-bagian pohon beringin mengawali pembentukan metafora dalam kognisi. Sifat-sifat positif tersebut kemudian ditransfer pada sifat-sifat kepemimpinan ideal. Setiap bagian tubuh beringin melambangkan satu atau lebih sifat pemimpin sehingga menghasilkan metafora konseptual sebagai berikut a. Pamimpin adalah urek baringin tampek baselo pemimpin adalah akar beringin tempat bersila. Proses metaforis dalam kognisi untuk membentuk metafor ini dimulai dari pemilihan akar beringin sebagai ranah sumber yang konsepnya ditransfer pada sifat pemimpin. Kekuatan dan kekokohan akar beringin untuk menopang batangnya melambangkan ketangguhan pemimpin dalam memimpin organisasinya. Kemudian kemampuan akar beringin untuk membuat beringin bertahan hidup dengan berusaha menembus benda-benda keras melambangkan sifat pantang menyerah seorang pemimpin untuk mempertahankan organisasinya. Kemampuannya untuk menelusup batu tersebut dan kecenderungan akar untuk memengaruhi daerah sekitarnya melambangkan kemampuan pemimpin untuk memengaruhi orang lain. b. Pamimpin adalah batang baringin tampek basanda pemimpin adalah batang beringin tempat bersandar. Proses pembentukan metafora ini dimulai dengan memilih sifat positif batang beringin yang biasanya dijadikan tempat bersandar. Di sini terjadi pemetaan sifat batang yang kokoh dan kuat pada keteguhan pendirian pemimpin. Kemudian sifat batang yang tinggi, tumbuh di lahan yang luas, dan memengaruhi makhluk hidup lain dipetakan pada sifat berkuasa. Akhirnya, fungsi batang sebagai tempat bersandar dipetakan pada kegiatan membantu yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin. c. Pamimpin adalah buah dan bungo baringin pemimpin adalah buah dan bunga beringin. Bunga beringin yang sangat banyak jumlahnya dan buah beringin yang menjadi bahan makanan yang sangat bermanfaat bagi makhluk hidup lain adalah konsep yang dipetakan pada ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Dari sinilah proses metaforis dimulai dalam kognisi. Pemimpin adalah seorang yang cerdas yaitu orang yang berilmu pengetahuan yang tidak pernah kehabisan ide dan gagasan,

121 serta yang mampu memanfaatkan ilmunya untuk kepentingan orang banyak. d. Pamimpin adalah daun baringin tampek balinduang pemimpin adalah daun beringin tempat berlindung. Pemilihan daun beringin yang yang sangat rindang, sehingga memungkinkan untuk dijadikan tempat berlindung ketika panas dan hujan, memulai proses pembentukan metafora ini. Perlindungan yang mungkin diberikan oleh daun beringin dijadikan perlambang kegiatan pemimpin yang melindungi, menjaga, dan mengayomi pengikutnya. Selain menemukan konsep sifat kepemimpinan dengan membandingkannya dengan ciri-ciri pohon beringin, diperoleh pula beberapa sifat lain yang juga diungkapkan dalam pepatah-petitih. Beberapa sifat tersebut antara lain a. Sifat adil yang diungkapkan lewat metafora pamimpin itu timbangan nan manimbang samo barek, tibo dimato indak dipiciangkan, tibo diparuik indak dikampihkan pemimpin itu timbangan yang menimbang sama berat, tiba di mata tidak dipejamkan, tiba di perut tidak dikempiskan. Konsep timbangan, yaitu memiliki ukuran tertentu sehingga dapat menentukan ukuran dengan tepat, dipetakan pada sifat adil seorang pemimpin yaitu mampu memutuskan dan menilai dengan tepat, tidak berat sebelah atau mampu menilai secara objektif. Kecerdasan dan kecermatan dalam memerhatikan ciri-ciri ini yang menjadi awal pembentukan metafora ini dalam kognisi. b. Sifat sabar yang diungkapkan lewat metafora pamimpin baalam leba badado lapang pemimpin beralam lebar, berdada lapang. Pemilihan ciri-ciri alam sebagai ranah sumber, mengawali proses pembentukan metafora ini. Ciri-ciri alam yaitu luas, lapang sehingga seakan tidak pernah penuh, dipetakan pada sifat sabar. Seorang pemimpin tidak boleh berhati sempit, tidak mudah terpancing emosinya, dan harus tabah menghadapi cobaan. c. Sifat tenang yang diungkapkan lewat metafora pamimpin itu lauik nan ditampuah tak barombak, padang ditampuah tak barangin pemimpin

122 itu laut yang ditempuh tidak berombak, padang ditempuh tidak berangin. Bila laut sedang tidak berombak dan padang tidak berangin suasana akan hening, tidak ada suara ribut. Ciri ini kemudian dipetakan pada konsep sifat tenang. Seorang pemimpin tidak boleh mudah gelisah dan kacau pikirannya. d. Sifat bijaksana yang diungkapkan dalam metafora karajo pamimpin itu bak maelo rambuik dalam tapuang, rambuik indak putuih, tapuang indak taserak pekerjaan pemimpin itu seperti menarik rambut dalam tepung, rambut tidak putus, tepung tidak tumpah. Untuk menarik rambut dari dalam tepung dibutuhkan kehati-hatian dan kecermatan agar rambut tidak putus dan tepung tidak tumpah. Kecerdasan dan kecermatan dalam memperhatikan konsep ini lah yang menjadi awal proses pembentukan metafora ini dalam kognisi. Konsep ini dipetakan pada tugas pemimpin yang juga butuh kehati-hatian dan kecermatan. Seorang pemimpin harus bijaksana, dan orang yang bijaksana adalah orang yang pandai, cermat, dan penuh kehati-hatian dalam bertindak. e. Pemimpin sebagai tempat mengadu dan berkeluh kesah diungkapkan dalam metafora pamimpin itu muaro sagalo sungai pemimpin itu muara segala sungai. Proses metaforis pada metafora ini dimulai dengan memperhatikan ciri-ciri sebuah muara sungai yang merupakan tempat berkumpul dan berakhirnya aliran sungai. Ciri inilah yang kemudian dipetakan pada sifat seorang pemimpin yang merupakan muara dari segala persoalan. Dilambangkan dengan sebuah muara, berarti pemimpin menjadi tempat mengadu dan berkeluh kesah bagi pengikutnya. Pemimpin merupakan muara dari segala persoalan. Dari uraian di atas terlihat nilai-nilai kearifan budaya Minangkabau. Pepatah-petitih tersebut mencerminkan kecerdasan para penciptanya dalam memilih sisi-sisi positif dari ciri-ciri pohon beringin yang kemudian dijadikan perlambang sifat-sifat kepemimpinan ideal, bahwa seorang pemimpin yang arif adalah pemimpin yang mempunyai sifat-sifat yang disebutkan di atas. Orang yang mengikuti butir-butir kearifan budaya tentang konsep kepemimpinan tersebut

123 diharapkan akan menjadi seorang yang arif. Kearifan tersebut tidak hanya berkenaan dengan kecerdasan kognisi, tetapi juga emosi. Butir-butir kearifan yang dikandungi setiap pepatah selayaknya dihidupkan guna mewujudkan masyarakat yang harmonis. Harmoni sosial yang diharapkan dan dicita-citakan para pencipta pepatah-petitih tersebut tentu sulit untuk tewujud bila pepatah hanya tinggal sebagai sebuah karya budaya yang kaku dan mati yang hanya dianggap sebagai kekayaan budaya tetapi tidak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. 5.2 Saran Penelitian pepatah-petitih berbahasa Minangkabau yang ditinjau dari sudut pandang linguistik belum banyak dilakukan. Linguistik merupakan pisau bedah yang sangat efektif untuk menganalisis pepatah-petitih karena pepatah-petitih merupakan salah satu kekayaan budaya dalam wujud bahasa yang tidak hanya kaya makna tetapi juga struktur, sehingga tidak hanya dapat dianalisis dengan pendekatan pragmatik dan semantik, yang berhubungan dengan makna bahasa, tetapi juga dengan ancangan linguistik yang lain. Pepatah-petitih juga mencakupi semua aspek kehidupan, tidak hanya aspek kepemimpinan. Jadi, analisis semacam ini juga dapat dilakukan pada pepatah-petitih tentang aspek kehidupan yang lain seperti ekonomi, agama, sosial budaya, hukum, dan sebagainya. Diharapkan penelitian ini bisa menjadi acuan dan bahan perbandingan untuk penelitianpenelitian selanjutnya.