MEDIA DAN CULTURAL STUDIES

dokumen-dokumen yang mirip
MEDIA & CULTURAL STUDIES

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Dewasa ini penyimpangan sosial di Indonesia marak terjadi dengan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV ANALISIS DATA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Tipe penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah jenis penelitian deskriptif.

MEDIA & CULTURAL STUDIES

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini bersifat Interpretatif dengan menggunakan pendekatan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian pada film animasi Barbie The Princess And The Popstar ini

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

13Ilmu. semiotika. Sri Wahyuning Astuti, S.Psi. M,Ikom. Analisis semiotik, pisau analis semiotik, metode semiotika, semiotika dan komunikasi

BAB I PENDAHULUAN. Iklan pada hakikatnya adalah aktivitas menjual pesan (selling message) dengan

BAB III METODE PENELITIAN. The Great queen Seondeok dan kemudian melihat relasi antara teks tersebut

BAB I PENDAHULUAN. Seiring berjalannya waktu, dunia perfilman telah mengalami perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. saat itu dalam berbagai bentuk film-film ini akhirnya memiliki bekas nyata di benak

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini bersifat interpretatif dengan menggunakan pendekatan kualitatif.

BAB I PENDAHULUAN. Film adalah suatu media komunikasi massa yang sangat penting untuk

BAB III METODE PENELITIAN. Barthes. Sebagai sebuah penelitian deskriptif, penelitian ini hanya memaparkan situasi atau

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. yang mendasar dari suatu kelompok saintis (Ilmuan) yang menganut suatu pandangan

BAB III METODE PENELITIAN. dikarenakan peneliti berusaha menguraikan makna teks dan gambar dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. lagi pendekatan yang mencoba berebut nafas yaitu pendekatan Post

NIM : D2C S1 Ilmu Komunikasi Fisip Undip. Semiotika

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan

BAB 1 PENDAHULUAN. film memiliki realitas yang kuat salah satunya menceritakan tentang realitas

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Imaji Vol. 4 - No. 2/ Februari 2009 RESENSI BUKU

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal

BAB I PENDAHULUAN. selalu berinovasi dan memenuhi perkembangan kebutuhan konsumen tersebut. Bukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek kajian dalam penelitian ini adalah topeng dari grup band Slipknot.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Paradigma didefinisikan bermacam-macam, tergantung pada sudut

BAB I PENDAHULUAN. Media cetak dan elekronik merupakan hasil perkembangan teknologi

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Pandangan konstruktivis memelihat realitas sebagai hasil konstruksi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN\ sejelas mungkin tanpa ada perlakuan terhadap objek yang diteliti. 1. Penelitian deskriptif yang ditujukan untuk: 2

BAB I PENDAHULUAN. (komunikator) mampu membuat pemakna pesan berpola tingkah dan berpikir seperti

BAB III METODE PENELITIAN. dalam bukunya metode penelitian menyatakan bahwa penelitian. menerus untuk memecahkan suatu masalah. 1 Penelitian merupakan

BAB V. Refleksi Hasil Penelitian

KONSEP DIRI DALAM IKLAN ROKOK A MILD (Analisis Semiotika Tentang Konsep Diri dalam Iklan Rokok A Mild Versi Cowok Blur Go Ahead 2011) Fachrial Daniel

BAB III METODE PENELITIAN. Muchammad Nazir dalam bukunya Metode Penelitian menyatakan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Setelah melakukan analisis terhadap film Air Terjun Pengantin

BAB III METODE PENELITIAN. Sesuai dengan tema yang diangkat oleh peneliti yaitu berbicara. mengenai makna apa yang mengandung pesan dakwah anak dalam

Komunikasi dan Politik 1 Oleh : Adiyana Slamet, S.Ip., M.Si

BAB IV ANALISIS DATA. Dalam tahap ini, peneliti mulai menerapkan proses representasi yaitu

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan paradigma konstruktivis.

BAB I PENDAHULUAN. bentuk atau gambar. Bentuk logo bisa berupa nama, angka, gambar ataupun

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. menggunakan pendekatan deskriptif interpretatif.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Sampai saat ini tidak banyak penelitian yang memperhatikan tentang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian deskriptif, dimana

Mata Kuliah Persepsi Bentuk

BAB III METODE PENELITIAN. atau nonlapangan yang menggunakan pendekatan paradigma kritis dan jenis

Mata Kuliah Persepsi Bentuk

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain (Alwi, dkk 2003: 588).

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. dibandingkan komunikasi dalam bentuk tulisan. bahasa Indonesia ragam lisan atau omong.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan sehari-hari seseorang melakukan komunikasi, baik

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dewasa ini, kodrat manusia menjadi tua seolah bisa dihindari

SYMBOL AND MEANING. Modul ke: 13FIKOM PENGERTIAN, KOSTRUKSI DAN APLIKASI. Fakultas. Dr. Edison Hutapea, M.Si. Program Studi Public Relations

BAB I PENDAHULUAN. melalui media massa. Negara Indonesia di masa yang lampau sebelum. masa kemerdekaan media massa belum bisa dinikmati oleh semua

BAB I PENDAHULUAN. juga sebagai alat komunikator yang efektif. Film dengan kemampuan daya

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB II KAJIAN TEORI Film

REPRESENTASI PEREMPUAN DEWASA YANG TERBELENGGU DALAM TAYANGAN IKLAN TELEVISI

BAB I PENDAHULUAN. berbeda-beda. Penggolongan manusia tersebut disebut dengan ras

Resume Buku SEMIOTIK DAN DINAMIKA SOSIAL BUDAYA Bab 8 Mendekonstruksi Mitos-mitos Masa Kini Karya: Prof. Dr. Benny H. Hoed

Semiotika, Tanda dan Makna

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. terstruktur/rekonstruksi pada iklan Wardah Kosmetik versi Exclusive Series,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Khalayak pada zaman modern ini mendapat informasi dan hiburan di

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif adalah karena penelitian ini

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. manusia dapat saling berinteraksi. Manusia sebagai animal symbolicium,


BAB I PENDAHULUAN. Bahasa adalah alat komunikasi antaranggota masyarakat yang berupa sistem

BAB 1 PENDAHULUAN. Bahasa sebagai media komunikasi telah dijadikan instrumen untuk

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini bertipe deskriptif dengan menggunakan pendekatan

BAB I PENDAHULUAN. Televisi merupakan salah satu media massa yangcukup populer di tengah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi dan khidupan manusia.

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kebutuhan dalam

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan manusia. Sejak manusia mulai mengenal sistem perdagangan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. penelitian baik yang mencakup objek penelitian, metode penelitian, dan hasil

BAB I PENDAHULUAN. ditegaskan oleh Astrid (1982:120) bahwa, Semenjak peluncuran satelit

BAB III METODE PENELITIAN. Tipe penelitian ini adalah deskriptif. Penelitian deskriptif

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

REPRESENTASI DISFUNGSI KELUARGA DALAM FILM REALITA CINTA DAN ROCK N ROLL

I. PENDAHULUAN. lain, sehingga orang lain mengetahui informasi untuk memenuhi kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Masalah

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam

Transkripsi:

MODUL PERKULIAHAN MEDIA DAN CULTURAL STUDIES Kajian Budaya dan Media: Representasi dalam Film dan Televisi Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Ilmu Komunikasi Broadcasting Abstract Kompetensi Mata kuliah ini memperkenalkan pemahaman dan kompetensi tentang media and cultural studies sebagai suatu Body Of Knownledge yang bersifat multidisipliner, yang menjelaskan representasi dalam film dan televisi. Dengan memperoleh materi ini, mahasiswa diharapkan mengerti dan memahami tentang representasi dalam film dan televisi.

Pendahuluan Perkembangan zaman yang semakin pesat membuat semakin mudahnya mendapatkan sumber informasi baik melalui media cetak maupun elektronik. Media memiliki andil yang besar dalam membentuk dan membangun stereotip dalam pikiran masyarakat melalui tayangan-tayangan yang merepresentasikan kehidupan sekitar masyarakat. Penyampaian yang dikemas sedemikian apik sehingga terkadang tidak menyadari bahwa sebenarnya itulah fakta yang terjadi di lingkungan sekitar. Penggambaran kejahatan dan tindak kriminal sudah menjadi teman makan siang setiap hari yang tanpa sadari meracuni pikiran kita kalau dunia kita bukanlah lagi tempat yang aman. Menyimak lebih jauh tentang penggambaran atau representasi. Banyak hal yang sebenarnya dikiaskan dengan tanda atau simbol lain dengan maksud tertentu. Maksud dan tujuan digunakannya tanda pun bermacam ada yang dengan sengaja untuk mengalihkan atau memberikan isyarat atau memberikan semacam sinyal yang hanya diketahui oleh individu, kelompok ataupun masyarakat dimana mereka memiliki pengetahuan yang sama. Oleh karena itu kelompok kami akan mengulas lebih dalam tentang makna representasi dan apa sebenarnya yang dimaksud dengan representasi itu. Serta memberikan gambaran serta contoh tentang representasi yang beredar sekarang ini dalam masyarakat. Representasi Chris Barker menyebutkan bahwa representasi merupakan kajian utama dalam cultural studies. Representasi sendiri dimaknai sebagai bagaimana dunia dikonstruksikan secara sosialn dan disajikan kepada kita dan oleh kita di dalam pemaknaan tertentu. Cultural Study memfokuskan diri kepada bagaimana proses pemaknaan representasi itu sendiri. 2

Representasi berarti menggunakan bahasa untuk menyatakan sesuatu secara bermakna, atau mempresentasikan apada orang lain. Representasi dapat berwujud kata, gambar, sekuen, cerita, dsb yang mewakili ide, emosi, fakta, dan sebagainya. Representasi bergantung pada tanda dan citra yang sudah ada dan dipahami secara kultural, dalam pembelajaran bahasa dan penandaan yang bermacam-macam atau sistem tekstual secara timbale balik. Hal ini melalui fungsi tanda mewakili yang kita tahu dan mempelajari realitas (Hartley,20:265) Representasi merupakan kegunaan dari tanda. Marcel Danesi mendefinisikannya sebagai berikut: proses merekam ide, pengetahuan, atau pesan dalam Beberapa cara fisik disebut representasi. Ini dapat didefinisikan lebih tepat sebagai kegunaan dari tanda yaitu untuk menyambungkan, melukiskan, meniru sesuatu yang dirasa, dimnegerti, diimajinasikan, atau dirasakan dalam Beberapa bentuk fisik..dapat dikarakterisasikan sebagai proses konstruksii bentuk X untuk menimbulkan perhatian kepada sesuatu yang secara material atau konseptual yaitu Y, atau dalam bentuk spesifik Y,X=Y Pemikiran Danesi mengenai konsep representasi dicontohkan dengan sebuah konstruksi X yang dapat mewakilkan atau memberikan suatu bentuk kepada suatu materiil atau konsep tentang Y. Sebagai contoh misalnya konsep kecantikan seorang wanita diwakili atau ditandai melalui gambar seorang wanita yang memperlihatkan bagian tubuhnya dengan kulit yang putih menawan. Konsep representasi digunakan untuk menggambarkan ekspresi hubuungan antara teks iklan (media) dengan realitas. Representasi merupakan proses di mana para anggota sebuah budaya menggunakan bahasa untuk memproduksi makna. Bahasa dalam hal ini didefinisikan secara lebih luas, yaitu sebagai sistem apapun yang menggunakan tanda-tanda. Tanda disini dapat berbentuk verbal maupun nonverbal (Winarni,2009:). Representasi sendiri merupakan proses sosial dan produk dari representing. Representasi menunjuk baik pada proses maupun produk dari pemaknaan suatu tanda representasi juga berarti proses perubahan konsep ideologi yang abstrak dalam bentuk konkrit. 3

Representasi juga berarti konsep yang digunakan dalam proses sosial pemaknaan melalui sistem penandaan yang tersedia: dialog, tulisan, video, film, fotografi, dsb. Secara ringkas, representasi adalah produksi makna melalui bahasa. Menurut Stuart Hall representasi adalah salah satu praktik penting memproduksi budaya. Kebudayaan merupakan konsep yang sangat luas, kebudayaan menyangkut pengalaman berbagi. Seseorang dikatakan berasal dari kebudayaan yang sama jika manusia-manusia yang ada disitu membagi pengalaman yang sama, membagi kode-kode kebudayaan yang sama, berbicara dalam bahasa yang sama dan saling berbagi konsep-konsep yang sama (Hall dalam Newsletter Kunci, 2000). Dalam bab 3 buku Studying Culture: A Practical Introduction, terdapat tiga definisi dari kata to represent, yakni: To stand in for. Hal ini dapat dicontohkan dalam kasus bendera suatu Negara, yang dikibarkan dalam suatu event olahraga, maka bendera tersebut menandakan keberadaan Negara yang bersangkutan dalam event tersebut. To speak or act on behalf of. Contoh kasusnya adalah Paus menjadi orang yang berbicara dan bertindak atas nama umat Katolik To re-present. Dalam arti ini, misalnya tulisan sejarah atau biografi yang menghadirkan kembali kejadian-kejadian di masa lalu. Dalam prakteknya, ketiga makna dari representasi ini dapat saling tumpang tindih. Oleh karena itu, untuk mendapat pemahamanlebih lanjut mengenai apa makna dari representasi dan bagaimana caranya beroperasi dalam masyarakat budaya, teori Hall akan sangat membantu. Menurut Hall sendiri sdalam bukunya melalui representasi, suatu makna diproduksi dan dipertukarkan antaranggota masyarakat. Jadi dapat dikatakan bahwa, representasi secara singkat adalah salah satu cara untuk memproduksi makna. Representasi bekerja melalui sistem representasi. Sistem representasi ini terdiri dari dua komponen penting, yakni konsep dalam pikiran dan bahasa. Kedua komponen ini saling berelasi. Konsep dari suatu hal yang kita miliki dalam pikiran kita, membuat kita mengetahui makna dari hal tersebut. Namun, makna tidak akan 4

dapat dikomunikasikan tanpa bahasa. Sebagai contoh sederhana, kita mengenal konsep gelas dan mengetahui maknanya. Kita tidak akan dapat mengkomunikasikan makna dari gelas (misalnya, benda yang digunakan orang untuk minum) jika kita tidak dapat mengungkapkannya dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh orang lain. Oleh karena itu, yang terpenting dalam sistem representasi ini pun adalah bahwa kelompok yag dapat berproduksi dan bertukar makna dengan baik adalah kelompok tertentu yang memiliki suatu latar belakang pengetahuan yang sama sehingga menciptakan suatu pemahaman yang (hamper) sama. Menurut Hall, berpikir dan merasa juga merupakan sistem representasi. Sebagai sistem representasi berarti berpikir dan merasa juga berfungsi untuk memaknai sesuatu. Oleh karena itu, untuk dapat melakukan hal tersebut, diperlukan latar belakang pemahaman yang sama terhadap konsep, gambar, dan ide (cultural codes). Pemaknaan terhadap sesuatu dapat sangat berbeda dalam budaya atau kelompok masyarakat yang berlainan karena pada masing-masing budaya atau kelompok masyarakat tersebut ada cara-cara tersendiri dalam memaknai sesuatu. Kelompok masyarakat yang memiliki latar belakang pemahaman yang tidak sama terhadap kode-kode budaya tertentu tidak akan dapat memahami makna yang diproduksi oleh kelompok masyarakat lain. Makna tidak lain adalah suatu konstruksi. Manusia mengkonstruksi makna dengan sangat tegas sehingga suatu makna terlihat seolah-olah alamiah dan tidak dapat diubah. Makna dikonstruksi melalui sistem represntasi dan difiksasi melalui kode. Kode inilah yang membuat masyarakat yang berada dalam suatu kelompok budaya yang sama mengerti dan menggunakan nama yang sama, yang telah melewati proses konvensi secara sosial. Misalnya, ketika kita memikirkan rumah, maka kita menggunakan kata RUMAH untuk mengkomunikasikan apa yang ingin kita ungkapkan kepada orang lain. Hal ini karana kata RUMAH merupakan kode yang telah disepakati dalam masyarakat kita untuk memaknai suatu konsep mengenai rumah yang ada di pikiran kita. (tempat berlindung atau berkumpul dengan keluarga). Kode, dengan demikian, membangun korelasi antara sistem konseptual yang ada dalam pikiran kita dengan sistem bahasa yang kita gunakan. 5

Teori representasi seperti ini memakai pendeketan konstruksionis, yang berargumen bahwa makna dikonstruksi melalui bahasa. Oleh karena itu, konsep (dalam pikiran) dan tanda (bahasa) menjadi bagian penting yang digunakan dalam proses konstruksi atau produksi makna. Jadi dapat disimpulkan bahwa representasi adalah suatu proses untuk memproduksi makna dari konsep yang ada dipikiran kita melalui bahasa. Proses produksi makna tersebut dimungkinkan dengan hadirnya sistem representasi. Namun, proses pemaknaan tersebut tergantung pada latar belakang pengetahuan dan pemahaman suatu kelompok sosial terhadap suatu tanda. Suatu kelompok harus memiliki pengalaman yang sama untuk dapat memaknai sesuatu dengan cara yang nyaris sama. Representasi Sebuah Tanda Tanda adalah segala sesuatu, dapat berupa, warna, isyarat, kedipan mata, objek, rumus matematika, dan lain-lain yang merepresentasikan sesuatu yang lain selain dirinya. Hal yang dirujuk oleh tanda dikenal sebagai referen dan citraan dari tanda tersebut disebut konsep. Tanda merujuk kepada sesuatu dan manusia melihat sebuah tanda, memiliki konsep mengenai rujukan tersebut dalam pikirannya. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa tanda merupakan sesuatu yang merepresentasikan seseorang atau sesuatu yang lain dalam kapasitas dan pandangan tertentu (Danesi, 2004:7-) Pierce (dalam Danesi, 2004) memandang tanda sebagai struktur triadik, terdiri atas tiga dimensi: representamen (tanda), objek (konsep, benda, gagasan, dst), dan interpretan (makna yang diperoleh dari sebuah tanda). Menurut Danesi dan Peron (2004:24-25), sebuah tanda diiterpretasikan dalam tiga tahap: semiosis (kemampuan otak untuk mereproduksi dan memahami tanda), representasi (penggunaan tanda untuk menguhubungkan, menggambarkan, memotret, atau mereproduksi sesuatu yang dilihat, diindera, dibayangkan, atau dirasakan dalam bentuk fisik tertentu), dan signifikansi kultural (tahap produksi dan interpretasi tanda untuk memahami segala sesuatu berdasarkan konteks tertentu). Proses interpretasi tersebut menghubungkan tubuh, pikiran, dan kebudayaan 6

sebagai sarana untuk mereproduksi dan memaknai tanda. Dengan demikian proses pemaknaan suatu tanda meliputi proses semiosis yang terjadi di tubuh, proses representasi di pikiran, dan proses signifikansi kultiral di budaya. Proses interpretasi juga terkait dengan penandaan. Jenis penandaan dapat mengahasilkan makna tertentu. Thwaites (2002) mengungkapkan bahwa tanda budaya dapat berasosiasi atau menggantikan tanda lain dengan cara yang kompleks. Ia membagi jenis-jenis interaksi dalam tanda-tanda budaya menjadi tiga bagian yaitu metafora, metonimi, konotas dan denotasi. Metafora adalah proses interaksi tanda yang berupa perbandingan secara implisit atau eksplisit terhadap sebuah tanda. Metafora membentuk sebuah preposisi: X dan Y memiliki paradigma yang sama sehingga keduanya dapat dikatakan ekuivalen. Contoh: matahari dimetaforakan sebagai raja siang. Metonimi adalah proses interaksi tanda yang berupa asosiasi makna. Sebuah tanda berasosiasi dengan tanda lainnya yang merujuk pada kepada sebagian, keseluruhan, sebuah fungsi, atau sebuah konsep terkait. Contoh: tanda tangan merujuk kepada pemiliknya. Stereotipe juga bersifat metonimi, karakteristik seseorang dinilai sebagai karakteristik sebuah kelompok. Konotasi dan denotasi menurut Barthes (1977) merupakan dua jenis penandaan yang disebut dengan first order (denotasi) dan second order (konotasi). Denotasi yaitu sesuatu yang dapat didefinisikan secara harfiah, nyata, jelas, dan umum. Dalam studi linguistik, makna denotatif dapat diperoleh di dalam kamus dan merupakan represntasi visual yang diterima dan dimaknai sama dalam setiap kebudayaan. Konotasi adalah sesuatu yang merujuk kepada sosiokultural dan asosiasi personal yang terkait dengan ideology, emosi, kelas, usia, gender, dan etnisitas. Representasi Dalam Sebuah Film Karakteristik film sebagai media massa juga mampu membentuk semacam konsensus publik secara visual (visual public consensus), karena film selalu 7

bertautan dengan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat dan selera publik. Dengan kata lain, film merangkum pluralitas nilai yang ada di dalam masyarakat. (Irawanto, 1999:14) Film mampu menangkap gejala-gejala dan perubahan yang terjadi dalam masyarakat yang kemudian disajikan kembali kepada masyarakat untuk mendapat apresiasi. Sebagai salah satu media komunikasi, film mengandung berbagai pesan yang ingin disampaikan oleh penciptanya. Pesan-pesan tersebut dibangun dari berbagai macam tanda yang terdapat dalam film. Graeme Turner menyebut perspektif yang dominan dalam seluruh studi tentang hubungan film dan masyarakat sebagai pandangan yang refleksionis. Yaitu film dilihat sebagai cermin yang memantulkan kepercayaan-kepercayaan dan nilainilai dominant dalam kebudayaannya. Bagi Graeme, perspektif ini sangat primitif dan mengemukakan metapora yang tidak memuaskan karena menyederhanakan proses seleksi dan kombinasi yang selalu terjadi dalam setiap komposisi ungkapan, baik dalam film, prosa atau percakapan (Irawanto, 1999:15). Antara film dan masyarakat sesungguhnya terdapat kompetisi dan konflik dari berbagai faktor yang menentukan, baik bersifat kultural, sub kultural, industrial, serta institusional.ada dua pendekatan yang digunakan untuk mengkaji adanya hubungan antara film dengan kultur masyarakat, yaitu secara textual dan contextual (Turner, 1995:153). Pendekatan tekstual berfokus pada teks-teks film. Film sebagai sebuah teks dipahami sebagai ekspresi dari aspek-aspek tertentu pada kultur masyarakatnya. Isi film yang ada di masyarakat, cenderung mempertahankan struktur sosial yang sudah ada dengan cara mereproduksi makna-makna yang berasal dari nilai-nilai, ideologi, dan kepentingan kelompok-kelompok dominan dalam masyarakat. Sedangkan pendekatan kontekstual lebih menekankan pada aspek industrial, kultural politik, dan institusional film. Dalam kaitan ini, film lebih dipandang sebagai suatu proses produksi kultural daripada sebagai sebuah representasi dimana sebuah produksi film akan dipengaruhi oleh lingkup sosial dan ideologi di mana film itu dibuat dan berpengaruh kembali pada kondisi masyarakatnya. Antara masyarakat dan film terdapat berbagai dimensi yang menimbulkan makna-makna yang dapat 8

dikaji untuk menghasilkan pemahaman tentang aspek-aspek yang muncul dari suatu realitas. Bagaimana pun hubungan antara film dan ideologi kebudayaannya bersifat problematis. Karena film adalah produk dari struktur sosial, politik, budaya, tetapi sekaligus membentuk dan mempengaruhi struktur tersebut. Turner berpendapat bahwa selain film bekerja pada sistem-sistem makna kebudayaan untuk memperbarui, memproduksi, atau me-reviewnya ia juga diproduksi oleh sistemsistem makna itu. Dengan demikian, posisi film sesungguhnya berada dalam tarik ulur dengan ideologi kebudayaan dimana film itu diproduksi. Hal ini menunjukkan bahwa film tidak pernah otonom dari ideologi yang melatarinya. 9

Daftar Pustaka Danesi, Marcel & Peron. 2004. Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semoitika dan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra. Yunanto, Is. 2009. Garudayana. Jakarta: PT. M&C Gramedia. Barker, Chris. 2004. Cultural Studies: Teori & Praktik. Yogyakarta: Kreasi Wacana. Hall, Stuart. (1997). Representation : Cultural Representation and Signifying Practises. London : Sage