III. KERANGKA PEMIKIRAN

dokumen-dokumen yang mirip
VI. PELAKSANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KOMODITI KARET

III. KERANGKA PEMIKIRAN

I. PENDAHULUAN. Otonomi Daerah dengan sistem desentralisasi diimplementasikan di

ACARA 3. KELEMBAGAAN !! Instruksi Kerja : A. Aspek Kelembagaan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

IV. METODE PENELITIAN

5Kebijakan Terpadu. Perkembangan perekonomian Indonesia secara sektoral menunjukkan. Pengembangan Agribisnis. Pengertian Agribisnis

AGRIBISNIS. Sessi 3 MK PIP. Prof. Rudi Febriamansyah

PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar

III KERANGKA PEMIKIRAN

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Hermanto (1993 ; 4), menyebutkan bahwa pembangunan pertanian termasuk didalamnya tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, perikanan, peternakan,

BUPATI TANAH BUMBU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN BUPATI TANAH BUMBU NOMOR 23 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI CIAMIS PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI CIAMIS NOMOR 32 TAHUN 2015 TENTANG SENTRA PRODUKSI PERIKANAN UNGGULAN DI KABUPATEN CIAMIS

PENDAHULUAN Latar Belakang

Konsep, Sistem, dan Mata Rantai Agribisnis

ARAHAN PENGEMBANGAN PERWILAYAHAN KEGIATAN AGRIBISNIS DI KABUPATEN GROBOGAN TUGAS AKHIR. Oleh : NURUL KAMILIA L2D

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang beriklim tropis dan mempunyai

BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN. roses pembangunan pada dasarnya merupakan proses yang berkesinambungan,

3 KERANGKA PEMIKIRAN

PENGANTAR AGRIBISNIS

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Jumlah Tenaga Kerja Pertanian di Indonesia Tahun Pertanian ** Pertanian. Tenaga Kerja (Orang)

PERATURAN MENTERI PERTANIAN. NOMOR : 49/Permentan/OT.140/10/2009 TENTANG KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENYULUHAN PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

I. PENDAHULUAN. Komoditas hortikultura yang terdiri dari tanaman buah-buahan dan sayuran,

I. PENDAHULUAN Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) merupakan daerah agraris dan

POLA PENGEMBANGAN KOMODITI JAGUNG HIBRIDA. di KAB. SUMBA TIMUR

BAB I PENDAHULUAN. Investasi adalah merupakan langkah awal kegiatan produksi sehingga

PENGENALAN KONSEP AGRIBISNIS MAHASISWA DAPAT MENJELASKAN KONSEP AGRIBISNIS

VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

X. REKOMENDASI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN BERKELANJUTAN BERBASIS PETERNAKAN SAPI POTONG TERPADU DI KABUPATEN SITUBONDO

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 03/Permentan/OT.140/1/2011 TENTANG

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PETERNAKAN

.000 WALIKOTA BANJARBARU

GAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH,

VII. FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT PENGEMBANGAN PERKEBUNAN KARET

Skim Pembiayaan Mikro Agro (SPMA)

Rencana Strategis (RENSTRA)

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian di Indonesia masih memegang peranan penting dari

BAB. I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

TINJAUAN PUSTAKA,LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN PEREKONOMIAN

VII. Pola Hubungan dalam Lembaga APKI di Kecamatan Kahayan Kuala Kabupaten Pulang Pisau Kalimantan Tengah

BAB I PENDAHULUAN. Agribisnis kelapa sawit mempunyai peranan yang sangat besar dalam

I. PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Peran terpenting sektor agribisnis saat ini adalah

AGRIBISNIS DAN PARADIGMA PEMBANGUNAN PERTANIAN INDONESIA. I Komang Suarsana

SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 46 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 25/Permentan/PL.130/5/2008 TENTANG PEDOMAN PENUMBUHAN DAN PENGEMBANGAN USAHA PELAYANAN JASA ALAT DAN MESIN PERTANIAN

PENDAHULUAN. Dinas Perkebunan Provinsi Riau Laporan Kinerja A. Tugas Pokok dan Fungsi

FAKTOR FAKTOR KELEMBAGAAN DALAM EKONOMI PERTANIAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN WALIKOTA TASIKMALAYA Nomor : 3C Tahun 2008 Lampiran : 1 (satu) berkas TENTANG

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

BUPATI TULUNGAGUNG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI TULUNGAGUNG NOMOR 62 TAHUN 2014 TENTANG

III KERANGKA PEMIKIRAN

STRATEGI DAN KEBIJAKAN INOVASI PENGEMBANAGAN AGROINDUSTRI ROTAN DI KALIMANTAN TENGAH

BAB I PENDAHULUAN. untuk kegiatan pertanian. Sebagian besar penduduk Indonesia bekerja di sektor

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 17/Permentan/OT.140/3/2011 TENTANG

VI. DAYA DUKUNG WILAYAH UNTUK PERKEBUNAN KARET

REKOMENDASI SEMINAR STRATEGI DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN EKONOMI JANGKA MENENGAH PROVINSI JAMBI 22 DESEMBER 2005

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Potensi daerah yang berpeluang pengembangan tanaman hortikultura; tanaman perkebunan; usaha perikanan; usaha peternakan; usaha pertambangan; sektor in

BAB IV RUJUKAN RENCANA STRATEGIS HORTIKULTURA

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP.09/MEN/2002 TENTANG INTENSIFIKASI PEMBUDIDAYAAN IKAN

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Agribisnis merupakan serangkaian kegiatan yang terkait dengan upaya

PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA DEFINITIF KELOMPOKTANI (RDK) DAN RENCANA DEFINITIF KEBUTUHAN KELOMPOKTANI (RDKK)

I. PENDAHULUAN. Karet di Indonesia merupakan salah satu komoditas penting perkebunan. selain kelapa sawit, kopi dan kakao. Karet ikut berperan dalam

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Semakin tinggi tingkat pendidikan petani akan semakin mudah bagi petani tersebut menyerap suatu inovasi atau teknologi, yang mana para anggotanya terd

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pembangunan termasuk didalamnya berbagai upaya penanggulangan

9.b PENGUKURAN PENCAPAIAN PERJANJIAN KINERJA KABUPATEN SIAK TAHUN 2016 (CAPAIAN KINERJA SKPD BERDASARKAN TARGET RPJMD)

8 BANGUNAN TEORI INTEGRASI AGROINDUSTRI

BAB I PENDAHULUAN. sumber pendapatan bagi sekitar ribu RTUT (Rumah Tangga Usahatani Tani) (BPS, 2009).

RENCANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKATIF

CUPLIKAN PROGRAM PEMBANGUNAN PERTANIAN : VISI, MISI DAN STRATEGI PEMBANGUNAN PERTANIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang benar tentang konsep agribisnis itu sendiri. Sering ditemukan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. penerimaan negara, penyedia lapangan kerja, dan juga sebagai sumber

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Renstra BKP5K Tahun

Peranan Subak Dalam Pengembangan Agribisnis Padi

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 6 TAHUN 2010

LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2012 STUDI KONSOLIDASI USAHATANI SEBAGAI BASIS PENGEMBANGAN KAWASAN PERTANIAN

HAMDAN SYUKRAN LILLAH, SHALATAN WA SALAMAN ALA RASULILLAH. Yang terhormat :

PEDOMAN PEMBINAAN TENAGA HARIAN LEPAS TENAGA BANTU PENYULUH PERTANIAN BAB I PENDAHULUAN

PENGANTAR. Ir. Suprapti

IX. KESIMPULAN DAN SARAN

Transkripsi:

III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran untuk menguraikan nalar dan pola pikir dalam upaya menjawab tujuan penelitian. Uraian pemaparan mengenai hal yang berkaitan dan relevan dengan penelitian. Kerangka pemikiran teoritis dalam penelitian ini membahas konsep sumberdaya ekonomi lokal, sistem agribisnis,kelembagaan dalam agribisnis, pendapatan usahatani dan program pengembangan agribisnis komoditi karet. Alat hitung yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendapatan usahatani. 3.1.1 Sumberdaya Ekonomi Lokal Sumberdaya ekonomi lokal yang dimiliki oleh suatu daerah pada dasarnya merupakan potensi yang dihasilkan dari suatu daerah. Pengembangan potensi lokal ini menjadi sebuah peluang ketika diterapkannya kebijakan tentang otonomi daerah. Pengembangan wilayah dalam ruang lingkup otonomi daerah juga harus didasarkan atas keunggulan komparatif suatu wilayah sesuai dengan potensi dan kendala bio-fisik (tanah, agroklimat) dan sosial ekonominya. Kecamatan Jasinga sebagai salah satu daerah penanaman karet memiliki keunggulan tersendiri untuk terus mengembangkan karet sebagai potensi lokal yang ada di kecamatan tersebut. Sebagai produk unggulan yang menjadi salah satu pendukung pembangunan kecamatan, sumberdaya ini menjadi penting untuk terus dikembangkan baik dari segi produksi maupun kegiatan pemasarannya. 3.1.2 Sistem Agribisnis Istilah sistem (system) berasal dari bahasa Yunani, systema yang berarti, yaitu :(1) suatu keseluruhan yang tersusun dari sekian banyak bagian dan (2) hubungan yang berlangsung diantara satuan-satuan atau komponen secara teratur. Jadi istilah systema mengandung arti sebagai bagian keseluruhan atau komponen atau himpunan yang saling berhubungan satu sama lain secara teratur menjadi satu kesatuan menjadi satu kesatuan yang terpadu sesuai dengan mekanismenya (Rahim dan Diah, 2008). 23

Agribisnis adalah sebagai bentuk modern dari pertanian primer, paling sedikit mencakup empat subsistem, yakni: susbsistem agribisnis hulu (upstreamagribusiness), yaitu kegiatan ekonomi yang menghasilkan dan perdagangan sarana produksi pertanian primer (seperti industri pupuk, obatobatan, bibit/benih, alat dan mesin pertanian, dan lain-lain); subsistem usahatani (on-farm agribusiness); subsistem agribisnis hilir (downstream agribusiness) (Saragih,2010). Agribisnis ini membentuk suatu sistem yang simultan dan memiliki keterkaitan yang erat antara keempat subsistem tersebut. Sektor agribisnsis menurut Saragih (2010) adalah sebagai bentuk modern dari pertanian primer, paling sedikit mencakup empat subsistem, yakni: subsistem agribisnis hulu (upstream agribusiness), yaitu kegiatan ekonomi yang menghasilkan dan perdagangan sarana produksi pertanian primer (seperti industry pupuk, obat-obatan,bibit/benih, alat dan mesin pertanian, dan lain-lain) ; subsistem usahatani (on-farm agribusiness) atau disebut sebagai sector pertanian primer; subsistem agribisnis hilir (downstream agribusiness), yaitu kegiatan ekonomi yang mengolah hasil pertanian primer menjadi produk olahan, baik yang siap untuk dimasak atau siap untuk disaji atau siap untuk dikonsumsi beserta kegiatan perdagangannya di pasar domestic dan internasional; dan subsistem jasa layanan pendukung seperti lembaga keuangan dan pembiayaan, transportasi, penyuluhan dan layan informasi agribisnis, penelitian dan pengembangan, kebijakan pemerintah, asuransi agribisnis dan lain-lain. Secara sederhana sistem agribisnis dapat dilihat pada Gambar 2. Subsistem Agribisnis Hulu Subsistem Usahatani Subsistem Pengolahan Subsistem Pemasaran Subsistem Jasa dan penunjang Gambar 2. Sistem Agribisnis Sumber : Saragih (2010) 24

Agribisnis ini menunjukkan adanya keterkaitan vertical antar-subsistem agribisnis serta keterkaitan horizontal dengan system atau subsistem lain di luar seperti jasa-jasa (financial dan perbankan, transportasi, perdagangan, pendidikan, dan lainnya) (Saragih,2010). Sistem agribisnis ini pada dasarnya merupakan bentuk pertanian, industry dan jasa secara saling terkait (sinergis) dan menyeluruh (utuh/sebagai suatu sistem). 3.1.3 Kelembagaan dalam Agribisnis Kelembagaan agribisnis dapat berupa kelompok tani. Kelompok tani ini yang kemudian menjalin kemitraan dengan pihak luar sebagai badan organisasi perkumpulan petani. Menurut Keputusan Menteri Pertanian nomor 940 tahun 1997, kemitraan usaha pertanian merupakan suatu bentuk kerjasama usaha diantara perusahaan dan kelompok mitra di bidang usaha pertanian. Kemitraan merupakan suatu bentuk kerjasama yang mengacu pada terbentuknya keseimbangan, keselarasan dan keterampilan yang didasari oleh sikap saling percaya antara kedua pihak yang bermitra yaitu perusahaan dan kelompok, dimana adanya hubungan kemitraan ini akan terwujud hubungan saling menguntungkan, saling membutuhkan dan saling memperkuat. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kerjasama dalam bentuk kemitraan ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan, kesinambungan usaha, adanya jaminan jumlah suplai, meningkatkan kualitas produksi, meningkatkan kualitas kelompok mitra, meningkatkan usaha, menciptakan kelompok mitra yang mandiri. Kemitraan yang banyak dilakukan oleh petani adalah dengan adanya bentuk kelembagaan agribisnis. Menurut Baga (2009), pada dasarnya kelembagaan mempunyai dua pengertian, yaitu : kelembagaan sebgai suatu aturan main (rule of the game) dalam interaksi personal dan kelembagaan sebagai suatu organisasi yang memiliki hierarki. Kelembagaan sebagai aturan main diartikan sebagai sekumpulan aturan baik formal maupun informal, tertulis maupun tidak tertulis mengenai tata hubungan manusia dan lingkungannya yang menyangkut hak-hak dan perlindungan hak-hak serta tanggung jawabnya. Menurut Saptana (2006) membagi proses terbentuknya kelembagaan menjadi dua, yaitu kelembagaan yang tumbuh secara alamiah dan kelembagaan yang sengaja dibentuk dalam rangka mencapai tujuan-tujuan tertentu. Ciri 25

kelembagaan yang tumbuh secara alamiah adalah terbentuk karena adanya kebutuhan masyarakat, berlangsung dalam kurun waktu yang lama, bersifat in formal dan umumnya tidak tertulis. Kelembagaan yang sengaja dibentuk memiliki ciri adanya inisiasi dalam proses pembentukannya, sifatnya lebih formal adan umumnya bersifat tertulis (rumusan tujuan, tata tertib yang berlaku dan rumusan kerja sama antara pelaku. Pembangunan kelembagaan merupakan suatu proses untuk memperbaiki kemampuan suatu lembaga (institution) dalam menggunakan sumberdaya yang tersedia, berupa manusia (human) maupun dana (financial) secara efektif. Keefektifan suatu lembaga tergantung pada lokasi, aktivitas dan teknologi yang digunakan oleh suatu lembaga. Konsep keefektifan (effectiveness) diartikan sebagai kemampuan suatu lembaga dalam mendefinisikan seperangkat standar dan menyesuaikannya dengan tujuan operasionalnya (Baga, 2009). Keberadaan kelembagaan agribisnis dalam bentuk kelompok tani memberikan peran yang sangat berarti bagi petani. Kelompok tani ini menjadi organisasi kerjasama petani untuk berhubungan dengan pihak luar misalnya perusahaan mitra untuk meningkatkan pendapatan. Selain itu, kelompok tani ini menjadi tempat untuk mengadopsi penerapan teknologi ditingkat petani. Keberadaan kelembagaan harus memberikan manfaat bagi anggotanya yaitu melalui kinerjanya. Kinerja dapat diartikan sebagai sesuatu yang dicapai atau prestasi yang diperlihatkan. Jhon Witmore dalam Coaching for Performance (1997:104), menyatakan kinerja adalah pelaksanaan fungsi-fungsi yang dituntut dari seorang atau suatu perbuatan, suatu prestasi, suatu pameran umum keterampilan. Kinerja merupakan suatu kondisi yang harus diketahui dan dikonfirmasikan kepada pihak tertentu untuk mengetahui tingkat pencapaian hasil suatu instansi dihubungkan dengan visi yang diemban suatu organisasi atau perusahaan serta mengetahui dampak positif dan negatif dari suatu kebijakan operasional. Menurut Cascio (1992 :267), penilaian kinerja adalah sebuah gambaran atau deskripsi yang sistematis tentang kekuatan dan kelemahan yang terkait dari 26

seseorang atau suatu kelompok 1. Kinerja mengenai keberadaan kelembagaan agribisnis ini adalah bentuk manfaat yang diberikan dari kelembagaan tersebut terhadapa anggotanya, dalam hal ini adalah bentuk kelompok tani yang keberadaannya seberapa efektif terhadap produkivitas dan pendapatan anggotannya. 3.1.4 Program Pengembangan Agribisnis Komoditi Karet Program Pengembangan Agribisnis Komoditi Karet merupakan salah satu program yang dilakukan oleh Kementrian Pertanian (Kementan) yang baru dilakukan pada tahun 2009 hingga sekarang. Salah satu tujuan utamanya adalah meningkatkan penanganan pasca panen, dengan mengurangi tingkat kehilangan hasil. Penerapan program tersebut, diharapkan petani dapat meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya dalam penanganan pasca panen karet dengan baik dan benar, yakni sesuai dengan kaidah Good Handling Practise (GHP) melalui pembinaan yang terarah, intensif dan berkelanjutan (Dirjen P2HP,2008). Bentuk bantuan yang diberikan oleh pemerintah kepada petani adalah alat pasca panen karet yang terdiri atas hand mangel, timbangan gantung, mangkok lateks, loyang, dan pisau sadap. Bantuan tersebut didistribusikan pada beberapa kelompok, sesuai dengan proposal dan Rencana Usaha Kelompok (RUK) yang diajukan pada lingkup Dinas Pertanian Kabupaten/Kota. Sasaran dari program Pengembangan Agribisnis Komoditi Karet adalah kelompok tani yang mempunyai usaha pasca panen karet, pengolahan karet dan atau pemasaran hasil karet, dengan ketentuan sebagai berikut : a. Mempunyai pengurus aktif (minimal ketua, sekretaris, bendahara) dan aturan organisasi yang dibuktikan dengan Berita Acara pembentukan kelompok tani, dengan disetujui oleh anggotanya, dan usahanya telah berjalan. b. Tidak termasuk dalam daftar kredit macet atau kredit bermasalah serta tidak termasuk dalam dalam daftar hitam Bank Indonesia 1 Anonim. Penilaian Kinerja. www.google.com//search//penilaian kinerja//wikipedia// html (15 Februari 2010). 27

c. Mengusahakan penanganan pasca panen karet, pengolahan dan atau pemasaran komoditas strategis yang telah ditetapkan Departemen Pertanian yang mempunyai potensi dan prospek pasar yang jelas. d. Mempunyai proposal kegiatan dan rencana penggunaan anggaran untuk mengembangkan penanganan pasca panen, pengolahan, dan atau pemasaran karet e. Lolos seleksi dan disetujui oleh tim teknis Dinas lingkup pertanian Kabupaten/Kota f. Bersedia mengikuti petunjuk/pembinaan dari Dinas lingkup pertanian Kabupaten/Kota 3.2 Kerangka Pemikiran Operasional Kecamatan Jasinga merupakan salah satu sentra pengembangan produksi karet di Kabupaten Bogor yang mempunyai jumlah produksi dan lahan budidaya yang lebih banyak dibandingkan beberapa kecamatan lainnya di Kabupaten Bogor (Lampiran 1). Hingga saat ini wilayah Kecamatan Jasinga, sebagai sentra produksi di Kabupaten Bogor belum mampu memberikan kontribusi untuk memenuhi permintaan pasar karena masih rendahnya mutu sheet yang dihasilkan oleh petani. Adanya kemajuan teknologi akan memungkinkan kualitas sheet yang dihasilkan petani akan meningkat. Karet merupakan salah satu komoditas yang dikembangkan di Kab Bogor sebagai potensi lokal pertanian daerah pembudidayaannya masih dinilai sangat sedikit dibandingkan dengan jenis tanaman perkebunan lainnya. Karet memiliki nilai ekonomis tinggi apabila penanganan pasca panen dilakukan dengan baik dan mengolahnya menjadi sheet yang memenuhi standar kualifikasi pasar yang diinginkan. Upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kab Bogor dalam mengembangkan komoditi karet sebagai potensi lokal diharapkan meningkatkan produk unggulan tersebut baik dari segi produksi maupun pemasarannya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemberian bantuan alat pasca panen karet. Pelaksanaan program melalui pemberian bantuan alat pasca panen diharapkan dapat meningkatkan kegiatan pasca panen karet yang merupakan salah satu mata pencaharian utama para petani responden. Secara tidak langsung adanya 28

peningkatan kegiatan produksi ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan para petani karet Dalam pelaksanaannya, pihak pelaksana program juga melakukan kegiatan monitoring dan penyuluhan kepada para petani karet di Kecamatan Jasinga. Dalam kegiatan pasca panen ini dianalisis dari berbagai faktor yang mendukung, terutama penggunaan input seperti peralatan dan tenaga kerja. Analisis pendapatan usahatani dalam penelitian ini sebagai gambaran untuk mengukur seberapa besar tingkat keberhasilan program pengembangan agribisnis komoditi karet di Ketingkat kepuasan penerima bantuan. Dari hasil analisis ini diharapkan bisa dijadikan sebagai gambaran umum pelaksanaan program pengembangan agribisnis komoditi karet di Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor yang bisa dirumuskan menjadi kebijakan yang mungkin dilakukan oleh pelaksana teknis program tersebut, yaitu Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor. Secara sistematis, kerangka berpikir operasional pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3. 29

Kualitas bahan olah karet di Kab Bogor belum optimal Usaha perbaikan kualitas bahan olah karet sebagai potensi ekonomi lokal Kementerian Pertanian bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kab Bogor Program Pengembangan Agribisnis Komoditi Karet Pemberian bantuan alat pasca panen karet Analisis pendapatan usahatani sebagai indikator keberhasilan usahatani Pelaksanaan Program Pengembangan Agribisnis Komoditi Karet Gambaran pelaksanaan program Mekanisme penyaluran bantuan Tanggapan petani Pendapatan Usahatani Variabel : 1. Pupuk 2. Koagulan (asam semut) 3. Pajak lahan 4. Tenaga kerja 5. Ember penampung 6. Cincin mangkuk 7. Talang sadap Rekomendasi Gambar 3. Kerangka Pemikiran Operasional Analisis Keberhasilan Program Pengembangan Agribisnis Komoditi Karet terhadap Kinerja Usahatani di Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor. 30