dokumen-dokumen yang mirip
ejournal Teknik sipil, 2012, 1 (1) ISSN ,ejurnal.untag-smd.ac.id Copyright 2012

ALAT GALI. Backhoe dan Power Shovel disebut juga alat penggali hidrolis karena bucket digerakkan secara hidrolis.

PROSES PENAMBANGAN BATUBARA

BAB III LANDASAN TEORI

LOADER Alat untuk memuat material ke dump truck, atau memindahkan material, penggalian ringan. Produksi per jam (Q)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV PENAMBANGAN 4.1 Metode Penambangan 4.2 Perancangan Tambang

BAB I PENDAHULUAN. PT. ABC adalah perusahaan penyedia jasa pertambangan yang memiliki

KESERASIAN ALAT MUAT DAN ANGKUT UNTUK KECAPAIAN TARGET PRODUKSI PENGUPASAN BATUAN PENUTUP PADA PT. ADARO INDONESIA KALIMANTAN SELATAN

BAB II TINJAUAN UMUM

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN

[TAMBANG TERBUKA ] February 28, Tambang Terbuka

BAB VI POLA EKSTRAKSI AKTUAL DAN ANALISA EKONOMI PENAMBANGAN PASIR BESI

PERHITUNGAN PEMINDAHAN TANAH MEKANIS PADA PEKERJAAN PEMATANAGN LAHAN PERUMAHAN PANORAMA ALAM ASRI II KEC. SUNGAI KUNJANG SAMARINDA

KAJIAN TEKNIS KERJA ALAT GALI MUAT UNTUK PENGUPASAN LAPISAN TANAH PUCUK PADA LOKASI TAMBANG BATUBARA DI PIT

BAB I PENDAHULUAN. penggalian, muat dan pengangkutan material. Semua kegiatan ini selalu berkaitan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

MANAJEMEN ALAT BERAT PADA PEKERJAAN TANAH PROYEK PEMBANGUNAN JALAN AP-10 BATANG WELERI (III) JATENG

Variabel yang mempengaruhi pekerjaan land clearing yaitu :

MENGHITUNG HARGA SATUAN ALAT

BAB VII METODE PELAKSANAAN

STANDART OPERASIONAL PROCEDURE

Proposal Kerja Praktek Teknik Pertambangan Universitas Halu Oleo

ANALISIS KAPASITAS PRODUKSI EXCAVATOR PADA PROYEK PERUMAHAN PERTAMINA CIBUBUR

BAB III METODOLOGI DAN PEMBAHASAN START. Identifikasi masalah. Pengolahan data stockpile hingga menjadi model. Analisa pengadaan alat berat

PERHITUNGAN PRODUKTIVITAS BULLDOZER PADA AKTIVITAS DOZING DI PT. PAMAPERSADA NUSANTARA TABALONG KALIMANTAN SELATAN

II. TUJUAN DAN MANFAAT

Jurnal Kontruksi Sekolah Tinggi Teknologi Garut Jl. Mayor Syamsu No.2, Tarogong Kidul, Garut

Rezky Anisari (1) 1. PENDAHULUAN

PRODUKTIVITAS ALAT BERAT PADA PEKERJAAN GALIAN GEDUNG P1 P2 UK PETRA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DAFTAR ISI. Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii DAFTAR GAMBAR... vi DAFTAR TABEL... vii DAFTAR LAMPIRAN... viii

TINJAUAN PELAKSANAAN PEMADATAN TANAH UNTUK PEKERJAAN JALAN DI KABUPATEN PURBALINGGA

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Metode Penambangan 5.2 Perancangan Tambang Perancangan Batas Awal Penambangan

DAFTAR ISI... RINGKASAN... ABSTRACT... KATA PENGANTAR... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN... BAB

ASSALAMUALAIKUM WR.WB

2 Dosen Jurusan Teknik Pertambangan, Sekolah Tinggi Teknologi Nasional.

HALAMAN PENGESAHAN...

RINTA ANGGRAINI

BAB III LANDASAN TEORI

Jurnal Teknologi Pertambangan Volume. 1 Nomor. 1 Periode: Maret-Agustus 2015

METODE PELAKSANAAN BENDUNGAN

TAHAP PELAKSANAAN PEKERJAAN TANAH

Metode Tambang Batubara

PRODUKTIVITAS ALAT MUAT DAN ANGKUT PADA PENGUPASAN LAPISAN TANAH PENUTUP DI PIT 8 FLEET D PT. JHONLIN BARATAMA JOBSITE SATUI KALIMANTAN SELATAN

Penambangan Bijih Nikel di Pomalaa

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 62 TAHUN 2010 TENTANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II EARTHMOVING DAN HAULING

ANALISA PERHITUNGAN PRODUKTIVITAS ALAT BERAT PADA PELAKSANAAN PEMATANGAN LAHAN UNTUK PEMBUATAN WORK SHOP DI KAB

Artikel Pendidikan 23

Aplikasi Website Pendataan dan PelaporanPenggunaan Lahan Pertambangan

ANALISA PERHITUNGAN PRODUKTIVITAS ALAT BERAT PADA PELAKSANAAN PEMATANGAN LAHAN UNTUK PEMBUATAN WORK SHOP DI KAB

Analisa Keputusan Pemilihan Investasi Alat Berat di Pertambangan Batu Bara PT. IR

BAB I PENDAHULUAN. sangat signifikan khususnya terhadap batubara. Batubara merupakan

DAFTAR ISI. Halaman RINGKASAN... iv KATA PENGANTAR... v DAFTAR ISI... vi DAFTAR GAMBAR... ix DAFTAR TABEL... xi DAFTAR LAMPIRAN...

BAB I PENDAHULUAN. diperhatikan oleh produsen batubara untuk dapat memenuhi permintaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KAJIAN PENGGUNAAN ALAT-ALAT BERAT PADA PROYEK PEMBANGUNAN JALAN RAYA DITINJAU DARI ASPEK TEKNIS DAN EKONOMI

BAB I PENDAHULUAN. bahan galian (mineral, batubara, panas bumi, dan migas). Rangkaian

BAB III. KONDISI UMUM PT. INCO SOROWAKO

BAB I PENDAHULUAN. mengakibatkan semakin banyak berdirinya perusahaan perusahaan. pertambangan Batubara di Indonesia termasuk di Propinsi Jambi, salah

KAJIAN TEKNIS PRODUKTIVITAS ALAT GALI MUAT LIEBHERR 9400 DALAM KEGIATAN PEMINDAHAN OVERBURDEN DI PT RAHMAN ABDIJAYA JOB SITE PT ADARO INDONESIA

ANALISA BIAYA PENGGUNAAN ALAT BERAT

BAB 1 PENDAHULUAN. alat-alat tersebut untuk mendapatkan harga besaran estimasi kapasitas alat yang paling

PERENCANAAN PEMAKAIAN ALAT BERAT PADA PEKERJAAN TANAH PROYEK PEMBANGUNAN JALAN BANDA ACEH CALANG STA SUMATRA

ANALISIS PRODUKTIVITAS ALAT BERAT PEKERJAAN LAND CLEARING (Study Kasus Pada Proyek Bundaran Nol Kilometer Kabupaten Nagan Raya)

KAJIAN TEKNIS ALAT GALI MUAT DAN ALAT ANGKUT DALAM UPAYA MEMENUHI SASARAN PRODUKSI PENGUPASAN LAPISAN TANAH PENUTUP PADA PENAMBANGAN BATUBARA DI PT

EVALUASI KINERJA EXCAVATOR BACKHOE

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

STANDAR LATIHAN KERJA DAFTAR MODUL

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SAMARINDA

Jurnal Teknologi Pertambangan Volume. 1 Nomor. 2 Periode: Sept Feb. 2016

BAB II TINJAUAN UMUM

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG (PKL) PT. SINAR KUMALA NAGA DESA KUTAI LAMA, KECAMATAN ANGGANA KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

EVALUASI PENCAPAIAN TARGET PRODUKSI ALAT MEKANIS UNTUK PEMBONGKARAN OVERBURDEN DI PIT 4 PT DARMA HENWA SITE ASAM-ASAM

ANALISIS PRODUKTIVITAS ALAT-ALAT BERAT STUDI KASUS PROYEK PEMBANGUNAN JALAN ANTARTIKA II DI KAWASAN INDUSTRI KRAKATAU STEEL, CILEGON

Manajemen Pelaksanaan Pembangunan Konsolidasi Dam di Hilir Syphon Lemurung Kabupaten Kediri

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG (PKL) DI CV. ARJUNA DESA MAKROMAN KECAMATAN SAMARINDA ILIR, KOTA SAMARINDA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR.

BAB IV PERALATAN YANG DIGUNAKAN. Pada setiap pelaksanaan proyek konstruksi, alat-alat menjadi faktor yang sangat

EVALUASI PRODUKSI ALAT MEKANIS UNTUK PEMINDAHAN OVERBURDEN DI PT RIUNG MITRA LESTARI SITE RANTAU

BAB V PEMBAHASAN. perkecil ukurannya sebesar ton per bulan. Sedangkan kemampuan

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan sumberdaya alam,

KAJIAN TEKNIS BELT CONVEYOR DAN BULLDOZER DALAM UPAYA MEMENUHI TARGET PRODUKSI BARGING PADA PT ARUTMIN INDONESIA SITE ASAM-ASAM

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

Rencana Penataan Lahan Bekas Kolam Pengendapan Timah Di Pit Tb 1.42 Pemali PT.Timah (Persero) Tbk, Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

BAB III LANDASAN TEORI

OPTIMALISASI PRODUKSI PERALATAN MEKANIS SEBAGAI UPAYA PENCAPAIAN SASARAN PRODUKSI PENGUPASAN LAPISAN TANAH PENUTUP DI PT

OPTIMALISASI PENGGUNAAN ALAT BERAT PADA PEKERJAAN GALIAN TANAH DI PROYEK TOL NGANJUK - KERTOSONO NASKAH PUBLIKASI TEKNIK SIPIL

Metode Pelaksanaan dan Alat Berat

BAB VII METODE PELAKSANAAN

BAB III LANDASAN TEORI

Pertanyaan Peserta. harga. siantar, rantau prapat mohon pencerahannya? Penjelasan Panitia/Pokja ULP. Dokumen Bab Uraian

TUGAS AKHIR NOMOR : 933/WM/FT.S/SKR/2016

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

LEMBAR PENGESAHAN MOTTO SARI...

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

Transkripsi:

4.1. Pengolahan Data BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Pengumpulan data merupakan kegiatan mencari data-data yang diperlukan sebagai bahan penulis untuk melakukan analisa untuk melakukan analisa sesuai dengan tinjauan pustaka. Data yang di ambil adalah data jumlah dan kapasitas efisien alat produksi yang digunakan untuk memproduksi batubara, data produk yang diproduksi, dan project yang diterima oleh PT SBR dan kemudian akan di analisa metode dengan supply chain yang digunakan di PT SBR. 4.2. Tahapan Penambangan Batubara Kegiatan penambangan batubara PT SBR yang merupakan penambangan terbuka, meliputi tahapan-tahapan sebagi berikut : 1. Persiapan Kegiatan ini merupakan kegiatan tambahan dalam tahap penambangan. Kegiatan ini bertujuan mendukung kelancara kegiatan penambangan. Pada tahapan ini pembangunan jalan tambang ( acces road dll ). 2. Pembersihan Lahan ( Land Clearing ) Kegiatan ini dilakukan untuk membersihkan daerah yang akan ditambang, mulai dari semak belukar hingga pepohonan yang berukuran besar. 3. Pengupasan Tanah Pucuk ( Top Soil ) Tahapan pucuk yang dikupas akan dipindahkan ke tempat penyimpanan sementara atau langsung dipindahkan ke timbunan. Maksud pemindahan tanah pucuk ini adalah untuk menyelamatkan tanah tersebut agar tidak rusak sehingga masih mempunyai unsur yang masih asli. Tanah pucuk ini nantinya digunakan kembali untuk kegiatan reklamasi. 4. Pengupasan Tanah Penutup ( Stripping Overbuder ) Laporan Kerja Praktek Universitas Mercu Buana 27

Material tanah penutup merupakan material lunak sehingga dilakukan penggalian bebas, kemudian akan ditimbun ke penimbunan sementara pada saat tambang baru buka. 5. Penambangan Batubara ( Coal Getting ) Setelah pengupasan tanah, berulah dilakukan penambangan batubara. 6. Pengangkutan Batubara ( Coal Hauling ) Setelah dilakukan kegiatan penambangan batubara, kegiatan selanjutnya adalah pengangkutan batubara ke stockpile yang masih terletak dalam satu area tambang. 7. Penutupan Kembali ( Backfilling ) Tanah penutup maupun tanah pucuk yang sebelunya disimpan di temapat penyimpanan sementara, diangkut kembali ke daerah yang telah ditambang ( mined out ). Kegiatan ini dimaksudkan agar lahan bekas tambang tidak meninggalkan lubang yang besar dan rehabilitasi lahan pasca penambangan. 8. Peralatan dan Reahabilitasi Tanah ( Spreading ) Terdiri dari pekerjaan penimbunan, perataan, dan pembentukan agar daerah bekas tambang dapat ditanami kembali untuk pemulihan lingkungan hidup ( reclamation). 9. Penghijauan Meruapan proses untuk penanaman kembali lahan bekas tambang, dengan tanaman yang sesuai atau hamper sama seperti pada saat tamabang belum dibuka. Laporan Kerja Praktek Universitas Mercu Buana 28

4.3. Produksi Batubara Gambar 2. Produksi Batubara Pada dasarnya, produksi batubara adalah memindahkan material batubara dari suatu tempatke tempat penampung batubara ( stockpile ) dengan menggunakan 2 peralatan utama, yaitu excavator ( SL 340 ) dan dump truck ( kapasitas 20 ton ). Dalam produksinya batubara harus diperhatikan : 1) Valume pekerjaan yang harus diselesaikan dalam batas waktu tertentu 2) Dengan volume pekerjaan tersebut dan waktu yang telah ditentukan, harus ditetapkan jenis dan jumlah alat berat yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. 3) Dengan jenis jumlah alat berat yang tersedia, dapat ditentukan berapa volume yang dapat diselesaikan, serta waktu yang diperlukan. 4.3.1. Excavator Penggalian telah diawali dengan excavator bucket dijulurkan ke depan ke tempat galian, bila bucket sudah pada posisi yang diinginkan, bucket diayunkan ke bawah seperti dicangkulkan, Laporan Kerja Praktek Universitas Mercu Buana 29

kemudian lengan bucket diputar kearah alatnya. Setelah bucket terisi penuh lalu diangkut dari tempat penggalian dan dilakukan swing, dan pembuangan material hasil galian dapat dilakukan ke truk atau tempat yang lain. Gerakan excavator dalam beroperasi terdiri dari : Mengisi bucket ( land bucket ) Mengayun ( swing loaded ) Membongkar beban ( dump bucket ) Mengayun balik ( swing empty ) Produksi loader dapat dihitung dengan persamaan dibawah ini ( Rochmamnhadi 1987 ) Q = Q = Produksi per jam ( m3/jam ) q = Produksi per siklus ( m3 ) E = Efisiensi kerja Cm = Waktu siklus ( detik ) Sedangkan kapasitas bucket excavator dapat dihitung dengan menggunakan persamaan: q = q x K q spesifikasi alat = Kapasitas munjung ( penuh ) yang tercantum dalam K tanah = Faktor bucket yang besarnya tergantung type dan keadaan Laporan Kerja Praktek Universitas Mercu Buana 30

KONDISI PEMUATAN FAKTOR RINGAN Menggali & memuat material yang telah dikeruk oleh exvator lain, yang tidak membutuhkan gaya gali 1,0-0,8 SEDANG Menggali & memuat material tanah yang sulit digali & dikeruk 0,8-0,6 Menggali & memuat material batu - batu pecah, tanah liat AGAK yang keras, pasir campur kerikil, tanah berpasir, tanah koloidal SULIT liat, 0,6-0,5 tanah liat, tanah liat dengan kadar air tinggi SULIT Bongkahan batu besar, batu bundar, tanah berpasir 0,5-0,4 Tabel 1. Perhitungan efesiensi optimum alat muat NO Alat Muat MA (%) UA (%) Eut(%) 1 Excavator SL 340 0,93 0,69 0,66 Tabel 2. Jumlah Muatan 4.3.2. Dump Truck Dump Truck termasuk alat berat berupa kendaraan yang dibuat khusus untuk alat angkut karena kelebihanya dalam kecepatan, kapasitas, dan fleksibel. Sebagai alat angkut, dump truck mudah dikoordinasikan dengan alat-alat ( alat gali dan alat pemuat ). Operator atau sopir sangant berperan dalam mempercepatkan dump truck pada waktu muat, karena produksi dari organisasi alat angkut dan alat gali ditentukan pada saat muat ini. Menempatkan dump truck dengan cepat pada posisi untuk dimuati diusahakan agar swing dari alat gali sekecil-kecilnya. Operator alat gali biasanya akan mengatur penerapan dump truck yang akan dimuati. NO Alat angkut MA (%) UA (%) Eut(%) 1 DT. Mitsubishi (23) 1 0,46 0,46 2 DT. Mitsubishi (24) 1 0,62 0,61 3 DT. Mitsubishi (25) 1 0,43 0,41 Total 3 1,51 1,48 Rata-Rata 1 0,50 0,49 Tabel 3. Perhitungan efesiensi optimum alat angkut Laporan Kerja Praktek Universitas Mercu Buana 31

4.3.3. Efisiensi Kerja Produktifitas alat pada kenyataan di lapangan tidak sama jika dibandingkan dengan kondisi ideal. Hal ini dikarenakan hal-hal tertentu seperti topografi. Keahlian operator, pengoperasian dan pemeliharaan alat. Produktifitas per jam alat yang harus diperhitungkan dalam perencanaan adalah produktifitas standart alat pada kondisi ideal dikaliakan suatu factor yang disebut efisiensi kerja. Besarnya nilai efisiensi karja ini sulit ditentukan secara tepat tetapi berdasarkan pengalaman- pengalaman dapat ditentukan efisiensi kerja yang mendekati kenyataan.sebagai pendekatan dapat dipergunakan table berikut ini : Kondisi operasi alat Baik sekali Baik Sedang Buruk Buruk sekali Pemeliharaan mesin Baik sekali 0,83 0,78 0,72 0,63 0,52 Baik Sedang Buruk 0,81 0,75 0,69 0,61 0,50 0,76 0,71 0,65 0,57 0,47 0,70 0,65 0,60 0,52 0,42 Buruk sekali 0,63 0,60 0,54 0,45 0,32 Tabel 4. Perhitungan Faktor efisiensi Factor- factor yang mempengaruhi hasil produksi peralatan adalah sebagai berikut : a. Faktor peralatan Peralatan yang masih baru = 1,00 Peralatan yang baik ( lama ) = 0.90 Peralatan yang rusak ringan = 0,80 b. Factor oprator Operator kelas I =1,00 Operator kelas II = 0,80 Operator kelas III = 0,70 Laporan Kerja Praktek Universitas Mercu Buana 32

c. Factor material Factor kohesif = 0,70 1,00 Factor non kohesif = 0,60 1,00 d. Factor managemen dan sifat manusia Sempurna = 1,00 Baik = 0,92 Sedang =0,82 Buruk = 0,75 e. Factor cuaca Baik = 1,00 Sedang = 0,80 f. Factor kondisi lapangan Berat = 0,70 Sedang = 0,80 Ringan = 1,00 TARGET PRODUKSI BATUBARA PT SBR TH 2014 ( MT ) Site Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Total 1 90,000 90,000 90,000 130,000 150,000 150,000 200,000 200,000 200,000 200,000 200,000 200,000 1,900,000 2 20,000 40,000 40,000 70,000 50,000 50,000 50,000 50,000 75,000 75,000 75,000 75,000 670,000 Total 110,000 130,000 130,000 200,000 200,000 200,000 250,000 250,000 275,000 275,000 275,000 275,000 2,570,000 REKAPITULASI PRODUKSI BATUBARA PT SBR TAHUN 2014 Site Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Total 1 37,963.76 99,631.76 100,470.10 104,013.25 96,475.88 119,715.81 65,700.95 88,173.80 76,780.25 78,470.25 52,774.28 49,214.56 969,384.65 2 - - - 15,309.89 67,348.36 10,879.74 - - - 52,503.11 51,503.11 49,387.75 246,931.96 Total 37,963.76 99,631.76 100,470.10 119,323.14 163,824.24 130,595.55 65,700.95 88,173.80 76,780.25 130,973.36 104,277.39 98,602.31 1,216,316.61 Gambar 3. Target & Produksi Batubara 2014 Laporan Kerja Praktek Universitas Mercu Buana 33

4.4. Stockpile Batubara Gambar 4. Stockpile Batubara PT SBR Batubara yang diproduksi, diangkut menggunakan dump truck menuju stockpile ( tempat penimbunan batubara ). Stockpile PT SBR terletak diarea pertambangan. Batubara yang telah diproduksi, ditimbun di dalam stockpile,menunggu proses pengiriman ke pelabuhan untuk kemudian dikirim ke customer baik itu dalam negri ataupun dalam negri. Pada umumnya, industry batubara memanfaatkan stockpile adalah untuk mengamnankan supply baik sisi jumlah maupun kualitas batubara yang digunakan. Tersedianya buffer stock antara saat delivery dan saat pemanfaatkan dalam proses merupakan hal strategis yang seringkali perlu diplih oleh industry untuk menghindari terjadinya gangguan supply akibat perubahan cuaca, perubahan harga batubara, kondisi sosial poplitik. Laporan Kerja Praktek Universitas Mercu Buana 34