Model Mazmanian dan Sabatier

dokumen-dokumen yang mirip
Model van Horn & van Metter dan Marlee S. Grindle

CONTOH-CONTOH TEORI. Gambar 1 Model Implementasi Kebijakan Menurut Grindle

Sri Yuliani FISIP UNS

TINJAUAN PUSTAKA. keputusan atau usulan-usulan dari para pembuat kebijakan. Para ahli administrasi

Keinginan Aburizal Bakri untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa terpandang, terhormat & bermartabat

BAB II KAJIAN TEORI. A. Deskripsi Teori. 1. Implementasi Kebijakan Publik. a. Konsep Implementasi:

ADVOKASI KESEHATAN Waktu : 45 Menit Jumlah soal : 30 buah

BAB VII SIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan uraian pada Bab I sampai dengan Bab VI, disusun

Pendekatan Kebijakan Publik

MEWUJUDKAN TATAKELOLA PEMERINTAHAN DESA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kebijakan Publik dan Implementasi Kebijakan Publik. kegiatan tertentu. Istilah kebijakan dalam bahasa Inggris policy yang

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PROGRAM RASKIN ( Beras Rakyat. karena kemiskinan menyebabkan terjadinya kerentanan, ketidakberdayaan,

Sri Yuliani Fisip Uns

Proses manajemen. Suhada, ST., MBA

Model-model Kebijakan Publik

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat karena ternyata tidak sesuai dengan apa yang

KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN OTONOMI DAERAH D. MACHDUM FUADY, S.H., M.H. EKONOMI AKUNTANSI. Modul ke: Fakultas. Program Studi

BAB I PENDAHULUAN. keuangan tahunan pemerintah daerah yang memuat program program yang

IKHTISAR EKSEKUTIF. Ikhtisar Eksekutif

Kuliah Ke-10. Formulasi Kebijakan : Perumusan Alternatif dan Penetapan/Adopsi Kebijakan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Thomas Dye dalam Subarsono (2013: 2), kebijakan publik adalah

POKOK PIKIRAN TANWIR MUHAMMADIYAH 2012

BULETIN ORGANISASI DAN APARATUR

BAB I PENDAHULUAN. Sumarto, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2009, hal. 1-2

Perubahan Sosial Mutia Rahmi Pratiwi Pengantar Sosiologi UDINUS Semarang

BAB I PENDAHULUAN. sangat mendasar terhadap hubungan Pemerintah Daerah (eksekutif) dengan

Tabel 5.1 Keterkaitan Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Kab. Minahasa Selatan MISI TUJUAN SASARAN

PENDAHULUAN. pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi, serta untuk meningkatkan

PADA MUSRENBANG RKPD PROVINSI KALIMANTAN TIMUR TAHUN Drs. REYDONNYZAR MOENEK, M. Devt.M

LAMPIRAN C. Sebuah Alternatif dalam Pelayanan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (termasuk daerah abu-abu )

DAFTAR ISI. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang...1 B. Rumusan Masalah C. Tujuan Penelitian D. Manfaat Penelitian... 12

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. Alat utama kebijakan fiskal adalah anggaran. Deddi et al. (2007)

BAB 6 PENUTUP. A. Simpulan

Pentingnya implementasi What is implementation? Proses Implementasi

pengantar : Pelayanan Publik dan Standar Pelayanan Publik (SPP)

BAB 6 STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

Oleh : Erick E Abednego 11/315703/EK/18501

Weakness, Opportunity and Threath). Dengan hasil pada masing-masing

Mekanisme Kerjasama Pusat dan Daerah dalam Pengembangan Industri

Implementasi Kebijakan Pengembangan Kawasan Agropolitan Sendang Kabupaten Tulungagung

Kuliah 2. Kerangka Analisis Kebijakan

MASALAH PARTISIPASI. Masalah pembentukan partisipasi menurut Jochen Ropke adalah : 1. Konflik kepentingan / Perbedaan keinginan (Conflict of interest)

I. PENDAHULUAN. Konsep otonomi daerah dan pemerintahan yang bersih, termasuk juga konsep

4.2 Strategi dan Kebijakan Pembangunan Daerah

Prayudi POSISI BIROKRASI DALAM PERSAINGAN POLITIK PEMILUKADA

BAB I PENDAHULUAN. kepada pemberdayaan dan partisipasi. Sebelumnya telah dilalui begitu banyak

ANALISIS KEPUTUSAN & IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENGOBATAN GRATIS DI KAB. SUMBAWA BARAT PROPINSI NTB TAHUN 2008

Pengertian, Batasan dan Ruang Lingkup Administrasi Publik (Negara)

II. TINJAUAN PUSTAKA Kebijakan Penatausahaan Hasil Hutan Kayu yang Berasal dari

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang menitikberatkan pada

Pengarahan KISI-KISI PROGRAM PEMBANGUNAN KABUPATEN TEMANGGUNG TAHUN 2014

Problem Pelaksanaan dan Penanganan

PENANGANAN PEMBIAYAAN PENDIDIKAN DAN PUNGUTAN LIAR. Inspektur III Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG PERATURAN DAERAH KOTA PANGKALPINANG NOMOR 08 TAHUN 2007 TENTANG

Mary Parker Follet : the art of getting things done trough the others.. seni mencapai sesuatu melalui orang lain

BAB I PENDAHULUAN. politik sangat dominan dalam proses pengambilan keputusan penetapan

Kuliah 3. Batasan dan Mengukur Pembangunan

Tahap penyusunan agenda Tahap formulasi kebijakan Tahap adopsi kebijakan Tahap implementasi kebijakan Tahap evaluasi kebijakan

PROVINSI SULAWESI SELATAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PENGENAAN SANKSI ADMINISTRATIF KEPADA PEJABAT PEMERINTAHAN

BABI PENDAHULUAN. Anggaran dalam dunia bisnis merupakan unsur utama dalam perencanan dan

IKHTISAR EKSEKUTIF. Pencapaian kinerja sasaran Pemerintah Kabupaten Rote Ndao Tahun 2015 dapat digambarkan sebagai berikut : iii

REVIEW KEBIJAKAN DALAM PENCAPAIAN TUJUAN PEMBANGUNAN KESEHATAN

Studi Implementasi. Dimaksudkan untuk menjawab : Mengapa suatu kebijakan berhasil di suatu tempat dan gagal di tempat lain.

KEBIJAKAN OBAT NASIONAL (KONAS) Kepmenkes No 189/Menkes/SK/III/2006

PERAN SERTA MASYARAKAT

MAKALAH KAJIAN KEBIJAKAN

Hukum, Negara dan Pemerintahan

TEORI BIROKRASI WEBER Kuliah Minggu ke-5 dan 6

dalam Pengembangan Industri

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dalam literatur-literatur politik. Masing-masing definisi memberi penekanan yang

Persamaan Manajemen Publik dan Privat

BAB I PENDAHULUAN. otonomi daerah yang merupakan hak, wewenang dan kewajiban daerah

BUPATI SUMBA BARAT DAYA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG

Bussiness Ethic and Good Governence Corporate Social Responsibility ( CSR )

Visi & Misi Kepemimpinan Nasional dalam Pembangunan

BAB IV PENUTUP. Berdasarkan gambaran pelaksanaan UU KIP oleh Pemkab Kediri selama

Transkripsi:

Kuliah 11 Model Mazmanian dan Sabatier 1

Model Mazmanian dan Sabatier Tiga variabel yg mempengaruhi implementasi kebijakan : 1.Karakteristik masalah; 2.Struktur manajemen program yang tercermin dalam berbagai macam peraturan yang mengoperasionalkan kebijakan; 3.Faktor-faktor di luar peraturan. 2

Kerangka Berfikir M&S, VH&VM, G Model ini tidak jauh berbeda dengan model Van Horn dan Van Metter, dan Grindle. Kerangka berfikir dimaksud yakni perhatian mereka dititikberatkan pada dua hal mendasar, yaitu kebijakan dan lingkungan kebijakan. 3

Perbedaan dengan Model Sebelumnya Perbedaannya dengan kedua model sebelumnya bahwa model Sabatier dan Mazmanian terkesan menganggap bahwa suatu implementasi akan efektif apabila birokrasi pelaksananya mematuhi apa yang telah digariskan oleh peraturan (juklak dan juknis). Atas dasar itu model ini disebut sebagai model top-down. 4

Langkah yg Harus Dilakukan Asumsi tersebut menyaratkan : 1. Sasaran dan tujuan program harus jelas dan konsisten. 2. Jelas dan konsisten karena keduanya digunakan sebagai standar dlm mengevaluasi implementasi kebijakan yg biasanya dilakukan oleh aparat birokrasi. 5

Contoh : Kebijakan Inovasi Pertanian Jika kebijakan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, mk harus tersedia penjelasan empiris maupun paling tdk teoritis bahwa inovasi pertanian akan dgn sendirinya memperbaiki kondisi ekonomi para petani. Bersambung. 6

Sambungan. Setelah terpenuhi, pada tahap implementasi pejabat pelaksana dan kelompok sasaran hrs mematuhi program. Tanpa kepatuhan mereka, maka tujuan kebijakan tidak akan tercapai. Namun demikian, discretion of power tdk dapat dihindarkan utk dilakukan oleh pejabat utk menyesuaikan diri terhadap faktor lingkungan yg berubah-ubah. Hal di atas mensyaratkan perlunya rekrutmen aparat birokrat yg ahli dalam mengerahkan sumber daya dan berinisiatif mengambil keputusan guna memodifikasi kebijakan. 7

Bagan : Model Sabatier dan Mazmanian 1. 2. 3. 4. karakteristik masalah Ketersediaan teknololgi dan teori teknis Keragaman perilaku kelompok sasaran Sifat populasi Derajat perubahan perilaku yg diharapkan Daya dukung peraturan 1. kejelasan/konsistensi tujuan/ sasaran 2. Teori kausal yg memadai 3. Sumber keuangan yg mencukupi 4. Integrasi organisasi pelaksana 5. Diskresi pelaksana 6. Rekrutmen pejabat pelaksana 7. Akses formal pihak luar Variabel non-peraturan 1. Kondisi sosio-ekonomi dan teknologi 2. Dukungan publik 3. Sikap dan Sumber daya kel. sasaran utama 4. Dukungan kewenangan 5. Komitmen dan kemampuan pejabat pelaksana Proses Implementasi Keluaran Kebijakan dari Organisasi Pelaksana Kesesuaian keluaran kebijakan dgn kelompok sasaran Dampak Aktual keluaran kebijakan Dampak yg diperkirakan Perbaikan Peraturan 8

Karakteristik Masalah Ketersediaan teknologi dan teknis. Ada masalah publik yang secara teknis mudah dipecahkan, tetapi ada pula yang sulit. Masalah ketersediaan air minum atau banjir tentunya relative lebih mudah dipecahkan daripada masalah kemiskinan, korupsi, dan pengangguran. Keragaman perilaku kelompok sasaran. kebijakan atau program yang ditujukan kepada kelompok sasaran yang homogeny lebih mudah diimplementasikan daripada yang heterogen. Sifat populasi. Kebijakan atau program akan lebih mudah diimplementasikan kepada kelompok sasaran yang jumlahnya tidak terlalu besar. 9

Karakteristik Masalah Derajat perubahan perilaku yang diharapkan. Kebijakan atau program yang ditujukan hanya sekedar menambah pengetahuan kelompok sasaran akan lebih mudah diimplementasikan daripada yang tujuannya merubah perilaku. Implementasi konversi penggunaan minyak tanah ke gas, memakan waktu yang lama untuk menunjukkan keberhasilannya. Penduduk yang sudah puluhan tahun menggunakan minyak tanah sangat sulit merubah kebiasaan selama ini yang menggunakan minyak tanah. 10

Daya Dukung Peraturan Kejelasan tujuan/sasaran. Kebijakan atau program yang memiliki kejelasan tujuan/sasaran akan lebih mudah diimplementasikan. Ketidakjelasan tujuan/sasaran rentan menimbulkan distorsi dalam implementasinya. Teori kausal yang memadai. Kebijakan atau program yang memiliki dasar teori akan lebih meyankinkan untuk berhasil, karena sebelumnya sudah teruji. Akan tetapi, beberapa teori perlu modifikasi sesuai dengan lingkup dan objek studinya. 11

Daya Dukung Peraturan Sumber keuangan yang mencukupi. Anggaran atau dukungan keuangan menjadi faktor krusial dalam mengimplementasikan satu kebijakan/program. Para implementator dan staf pelaksana kebijakan memerlukan dukungan biaya. Integrasi organisasi pelaksana. Koordinasi antar organisasi pelaksana sangat dibutuhkan dalam implementasi kebijakan. Ego sektor biasanya menjadi salah satu penyebab mengapa implementasi kebijakan gagal. 12

Daya Dukung Peraturan Diskresi pelaksana. Pada saat kebijakan atau program diimplementasikan, tidak jarang muncul berbagai masalah. Oleh karena itu, pada derajat tertentu diskresi dari implementator dibutuhkan demi keberhasilan implementasinya. Rekrutmen pejabat pelaksana. Penyimpangan sering sering terjadi karena aparat pelaksana memiliki komitmen yang rendah dalam mengimplementasikan kebijakan atau program. Korupsi dan bentuk penyalahgunaan lainnya menjadi contoh yang mudah dalam melihat rendahnya komitmen pelaksana itu. Masalah di atas terjadi karena adanya kesalahan dalam melakukan rekrutmen aparat pelaksana. 13

Daya Dukung Peraturan Akses formal pihak luar. Hal ini terkait dengan apakah pihak luar dapat berpartisipasi dalam implementasi kebijakan/program. Semakin pihak luar tidak dilibatkan, maka semakin terasing pula mereka dengan kebijakan atau program yang sedang diimplementasikan. 14

Daya Dukung Non-peraturan Kondisi social ekonomi dan teknologi. Masyarakat yang sudah maju tentunya akan lebih mudah menerima dan mendukung satu kebijakan atau program yang diimplementasikan. Demikian halnya dengan teknologi. Penggunaan teknologi yang lebih maju, akan mempermudah implementasi kebijakan atau program. Dukungan publik. Kebijakan atau program yang memberikan manfaat kepada publik biasanya mendapat dukungan dari publik. Hal berbeda terjadi ketika kebijakan atau program itu bersifat disinsentif seperti kenaikan harga BBM. 15

Daya Dukung Non-peraturan Sikap dan sumberdaya kelompok konstituen. Mereka ini dapat mempengaruhi implementasi kebijakan melalui berbagai cara, antara lain : (1) mereka dapat mengintervensi kebijakan yang dibuat oleh badan pelaksana melalui komentar yang bertujuan mengubah keputusan, (2) melakukan kritik yang dipublikasikan terhadap kinerja badan pelaksana, dan membuat pernyataan yang ditujukan kepada badan legislatif. Dukungan kewenangan. Kewenangan penuh yang dimiliki implementator akan memudahkan pelaksanaan satu kebijakan atau program. 16

Daya Dukung Peraturan Komitmen dan kemampuan pejabat pelaksana. Penyimpangan dan ketidakmampuan memecahkan masalahmasalah yang timbul pada saat implementasi, menjadikan kebijakan atau program seringkali mengalami kegagalan. 17

Terimakasih 18