BAB VII OPTIMASI PEMBESIAN BORED PILE 7.1. Material Konstruksi Material merupakan komponen yang penting dalam menentukan besarnya biaya suatu proyek, lebih dari separuh biaya proyek diserap oleh material yang digunakan (Nugraha, 1985). Pada tahap pelaksanaan konstruksi penggunaan material di lapangan sering terjadi sisa material yang cukup besar, sehingga upaya untuk meminimalisasi sisa material penting untuk diterapkan. Material yang digunakan dalam konstruksi dapat digolongkan dalam dua bagian besar (Gavilan, 1994), yaitu : 1. Consumable material, merupakan material konstruksi yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari struktur fisik bangunan, misalnya: semen, pasir, batu pecah, batu bata, baja tulangan, keramik, cat dan lain-lain. 2. Non-consumable material, merupakan material penunjang dalam proses konstruksi, dan bukan merupakan bagian dari fisik bangunan, biasanya material ini bisa dipakai ulang dan pada akhir proyek akan menjadi sisa material juga, misalnya: perancah, bekisting, dan dinding penahan sementara. 7.2. Sisa material konstruksi Sisa material adalah kelebihan kuantitas material yang digunakan/ didatangkan, tetapi tidak menambah nilai pekerjaan. (Asiyanto,2005). Construction waste dapat digolongkan kedalam dua kategori berdasarkan tipenya (Skoyles, 1987) yaitu : 1. Direct waste adalah sisa material yang timbul di proyek karena rusak, hilang dan tidak dapat digunakan lagi. 2. Indirect waste adalah sisa material yang terjadi di proyek karena volume pemakaian volume melebihi volume yang direncanakan, sehingga tidak terjadi sisa material secara fisik di lapangan dan mempengaruhi biaya secara tersembunyi (hidden cost). Chairil Anwar 41111110007 V I I - 1
7.3. Material besi Besi tulangan merupakan material yang berfungsi struktural dan material yang bersama-sama dengan beton menjadi beton bertulang yang berfungsi struktural untuk menopang beban bangunan. Sehingga Material besi beton merupakan material yang memiliki prosentase terhadap biaya tertinggi yaitu berkisar 20% - 30% (Farmoso, C.T.). Besi tulangan diproduksi dalam bentuk batangan dengan panjang standart 12 m. Dalam pelaksanaannya, besi tulangan dipotong-potong sesuai design gambar struktur. Besi tulangan utuh yang dipotong-potong menjadi potongan besi lebih kecil berdasarkan design gambar dan umumnya akan menghasilkan sisa hasil potongan /waste karena sisa potongan tersebut. Berdasarkan teori ini, maka dapat disimpulkan bahwa umumnya sisa besi tulangan merupakan indirect waste. a) Faktor penyebab terjadinya sisa mateial besi 1. Pembelian besi tidak sesuai spesifikasi karena besi sudah mempunayi ukuran pabarikan yakni 12 m, jadi bila bentuk panjang yang di butuhkan hanya sekian meter besi beton di potongan sesuai yang diinginkan. 2. Ketidak profesionalan pekerja dalam mengolah material besi karena mereka mendasarkan pengetahuan mereka pada pengalaman dan apa yang telah mereka lihat, padahal apa yang mereka lihat belum tentu benar. 3. Perubahan desain, terkadang desain harus disesuaikan dengan kondisi lapangan yang sebenarnya ataupun terkadang pihak konsultan perencanaan mengirimkan perubahan desain. 4. Kesalahan manajemen pada pabrikasi pembesian meliputi pemotongan, pembengkokan, dan perakitan. 5. Memilih besi berkualitas rendah karena kontraktor menginginkan keuntungan yang berlebih sehingga besi yang dipesan hanya berdasarkan pembicaraan suplier saja. Ketika besi yang dipesan datang tidak sesuai sepesifikasi pabrik. Chairil Anwar 41111110007 V I I - 2
b) Syarat-syarat tulangan besi Besi tulangan yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat (PBI 1971) sebagai berikut: 1. Besi tulangan yang dipakai tidak boleh cacat seperti retak, lipatan, gelembung atau bagian yang kurang sempurna. 2. Besi tulangan yang dipakai harus bersih dari kotoran, minyak, karat. 3. Mempunya penampang yang sama rata. 4. Percobaan mekanik meliputi percobaan tarik, percobaan kekerasan dan percobaan pukulan. 5. Pemotongan tulangan tidak boleh menggunakan alat pemanas (las), harus menggunakan alat pemotong besi ( bar cutter ) atau gergaji besi. c) Jenis tulangan besi Jenis tulangan besi dibagi menjadi dua yaitu: 1. Tulangan ulir, biasanya dinotasikan dengan (D) adalah batang baja yang pemukaan sisa luarnya tidak rata, tetapi bersirip atau berukir (SNI 03-2847-2002) dan memiliki batas leleh 400MPa. Tabel 7.1 Dimensi Nominal Tulangan Ulir Diameter Berat Keliling Luas Penampang 10 0,67 3,14 0,785 13 1,04 4,08 1,33 16 1,58 5,02 2,01 19 2,23 5,96 2,84 22 2,98 6,91 3,80 25 3,85 7,85 4,91 32 6,31 10,05 8,04 36 7,99 11,30 10,20 40 9,87 12,56 12,6 Chairil Anwar 41111110007 V I I - 3
2. Tulangan polos, biasanya dinotasikan dengan (O) adalah batang yang permukaan sisa luarnya rata, tidak bersirip dan tidak berukir (SNI 03-2847-2002) dan memiliki batas leleh 240 MPa ( URI,1993) Table 7.2 Dimensi Efektif Tulangan Polos Diameter Berat Keliling Luas penmpang 6 0,222 1,88 0,283 8 0,395 2,51 0,503 10 0,617 3,14 0,785 12 0,888 3,77 1,13 16 1,58 5,02 2,01 Gambar 7.1 jenis tulangan Polos dan Tulangan Ulir d) Pola Pemotongan Tulangan Besi Ekwardo,Odit, 2008 studi dan Implementasi Algoritma Optimasi Pemotongan Bar Steel. Pola adalah bentuk atau model yang bisa dipakai untuk membuat atau untuk menghasilkan suatu atau bagian dari sesuatu, khususnya jika sesuatu yang ditimbulkan cukup mempunyai suatu yang sejenis untuk pola dasar yang dapat ditunjukkan atau terlihat, yang mana sesuatu itu tidak akan memamerkan pola. Secara umum, pola dapat dikatakan sebagai cara untuk mengelola suatu objek. Gambar 7.3 dan gambar 7.4 adalah contoh pola pemotongan satu dimensi, dalam hal ini adalah besi tulangan. Chairil Anwar 41111110007 V I I - 4
Gambar 7.2 Pola Pemotongan menjadi 3 bagian Gambar 7.3 Pola Pemotongan menjadi 2 bagian Dalam pola pemotongan, yang dimaksud pengelolaan objek adalah bagiamana cara memotong-motong sebuah objek yang besar menjadi sebuah objek yang lebih kecil. Objek yang besar tersebut dikelola dengan dipotong-potong menjadi potongan yang lebih kecil dengan tujuan agar objek tersebut menjadi lebih berguna. Biasanya pemotongan terhadap suatu proyek dilakukan karena adanya kebutuhan terhadap objek yang lebih kecil, sedangkan yang objek yang tersedia tidak bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Perbedaan cara yang ditempuh dalam melakukan pemotongan terhadap suatu objek dapat menghasilkan sesuatu yang jauh berbeda satu sama yang lain. Untuk lebih jelasnya, definisi pola pemotongan dapat diperjelas melalui ilustrasi berikut ini : Sesorang pengusaha lembaran baja memproduksi rol b dengan panjang standar L. Order besar sedang dikerjakan sehubungan dengan permintaan pelanggan yang memerlukan lebaran dengan panjang yang bermacammacam. Secara khusus, lembaran bi dengan panjang Li untuk i = 1, 2, 3,....,m akan disorder (lihat gambar 7.4) Pengusaha berkeinginan untuk memotong rol standar sedemikian sehingga memenuhi order dan meminimalkan sisanya. Karena potongan sisa tidak berguna bagi pengusaha, tujuannya adalah untuk meminimalkan jumlah rol yang diperlukan untuk memenuhi order. Diketahui lembaran standar dengan panjang L, ada banyak cara memotongnya. Cara yang demikian disebut dengan pola pemotongan. Chairil Anwar 41111110007 V I I - 5
Gambar 7.4. Deskripsi pola pemotongan Besi e) Cara Pembengkokkan tulangan besi Cara pembengkokkan tulangan besi yaitu sebagai berikut: 1. Semua tulangan harus dibengkokkan dalam keadaan dingin, 2. Ulangan yang sebagain sudah tertanam di dalam beton tidak dibengkokkan di lapangan, kecuali seperti yang ditentukan pada gambar rencana, atau diizinkan oleh pengawah lapangan (SK SNI 03-2002). f) Detail Pembengkokan tulangan besi Detail Pembengkokan tulangan besi harus memenuhi ketentuan sebagai berikut (SK SNI 03-2002): 1. Bengkokan 180 ditambah perpanjangan 4db, tapi tidak kurang dari 60 mm, pada ujung bebas kait. Chairil Anwar 41111110007 V I I - 6
2. Bengkokan 135 ditambah perpanjangan 6db, tapi tidak kurang dari 75 mm, pada ujung bebas kait. 3. Bengkokan 90 ditambah perpanjangan 12db pada ujung bebas kait. Detail dari kait standar dijelaskan pada Tabel 7.3 berikut Tabel 7.3. Kait Standar untuk Tulangan Utama Keterangan : d = diameter tulangan D = 8d untuk tulangan D10 - D25 D = 10d untuk tulangan D29 - D32 Chairil Anwar 41111110007 V I I - 7
Detail dari pembengkokan tulangan dijelaskan pada Tabel 7.4 berikut Tabel 7.4. Pengurangan panjang baja tulangan jika dilakukan penekukan Sudut Tekuk ( o ) Besarnya Pengurangan 45-90 2.5 diameter 135 2.5 diameter 180 5 diameter. Tabel 7.5 Detail pembengkokan tulangan ujung Diameter Berat per meter Tekukan 90 o Tekukan 180 o A (mm) A (mm) J (mm) D 10 0.617 160 130 80 D 13 1.04 210 165 105 D 16 1.58 260 200 130 D 19 2.23 310 240 155 D 22 2.98 360 276 175 D 25 3.85 410 315 200 D 29 5.19 500 427 290 D 32 6.31 550 470 320 g). Diameter Bengkokan Minimum 1. Diameter bengkokkan yang diukur pada bagian dalam batang tulang tidak boleh kurang dari nilai dalam table berikut ini. Ketentuan ini tidak berlaku untuk sengkang dan sengkang ikat dengan D-10 hingga D-16. 2. Diameter dalam dari bengkokkan untuk sengkang dan sengkang ikat tidak boleh kurang dari 4db untuk batang D-16 dan yang lebih kecil. Untuk batang yang lebih besar dari pada D-16, diameter bengkokkan harus memenuhi table berikut. Chairil Anwar 41111110007 V I I - 8
3. Diameter dalam untuk bengkokkan jaring kawat baja las ( polos atau ulir) yang digunakan untuk sengkang dan sengkang ikat tidak boleh kurang dari 4db untuk kawat ulir yang lebih besar dari D7 dan 2db untuk kawat lainnya. Bengkokkan dengan diameter dalam kurang dari 8db tidak boleh berada kurang dari 4db dari persilangan las yang terdekat. Table 7.6 Diameter bengkokkan minimum Ukuran tulangan Diameter minimum D-10 sampai dengan D-25 6d D-29,D-32, dan D-36 8d D-44 dan D-56 10d 7.4. Optimasi Pembesian Borepile Pada proyek Apartemen Roseville Soho & Suite BSD ini di dalam perkembangan perencanaan desain terdapat beberapa perubahan struktur atas yang dikarenakan masalah perizinan IMB dan bangunan tersebut harus menyesuaikan. Sehingga struktur atas mengalami perubahan yang cukup signifikan. Karena penambahan beberapa lantai pada struktur atas mengakibatkan beban menjadi bertambah. Dengan bertambahnya beban bangunan sehingga otomatis pondasi akan memyesuaikan terhadap beban yang diterima. Penyesuaiannya tersebut dengan menambah titik pondasi. Dalam perencanaan awal terdapat 451 titik pondasi. Dalam penyesuaiannya bertambah menjadi 478 titik pondasi menjadi bertambah 27 titik pondasi baru. Secara estimasi biaya akan mempertambah cost dari bangunan tersebut. Secara teori bahwa beton lebih dapat menahan tekan tidak kuat terhadap tarik sedangkan besi yang digunakan dalam pondasi borpile lebih untuk menahan gaya lateral sehingga masih memungkinkan untuk di optimasi pembesiannya. Chairil Anwar 41111110007 V I I - 9
Chairil Anwar 41111110007 V I I - 10
Dari hasil dalam optimasi pembesian borepile dapat mengoptimalkan saving cost sebesar 20% dari total biaya pondasi. Chairil Anwar 41111110007 V I I - 11