UNIVERSITAS INDONESIA ANALISIS GANGGUAN PENYULANG AKIBAT LAYANG- LAYANG DI PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI JAWA BARAT DAN BANTEN AREA GARUT RAYON GARUT KOTA SKRIPSI ISTI NURUL SHOFYAH 1206314762 DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK Desember 2014
UNIVERSITAS INDONESIA ANALISIS GANGGUAN PENYULANG AKIBAT LAYANG- LAYANG DI PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI JAWA BARAT DAN BANTEN AREA GARUT RAYON GARUT KOTA SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik ISTI NURUL SHOFYAH 1206314762 DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK Desember 2014
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri dan semua sumber baik yang dikutip maupun yang dirujuk telah saya nyatakan benar Nama : Isti Nurul Shofyah NPM: 1206314762 Tanda tangan :... Tanggal :... ii
HALAMAN PENGESAHAN Skripsi ini diajukan oleh: Nama : Isti Nurul Shofyah NPM : 1206314762 Program Studi : Teknik Elektro Judul Skripsi : Analisis Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik pada Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik,. DEWAN PENGUJI Pembimbing : Ir. Amien Rahardjo, M.T. (...) Penguji : Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa, M.K. M.T. (...) Penguji : Ir. I Made Ardita Y, M.T. (...) Ditetapkan di : Depok Tanggal : iii
KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah, Tuhan Penguasa Alam, Yang menciptakan manusia dengan bentuk yang paling sempurna, Yang melengkapinya dengan segala fasilitas hidup sebagai jaminan secara adil dan bijaksana. Rahmat tadzim dan salam sejahtera teruntuk Nabi Muhammad SAW, dan teruntuk pula kaum kerabatnya, seluruh sahabat setianya, dan seluruh umatnya. Atas selesainya skripsi ini, dengan penuh rasa syukur saya megucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Ir. Amien Rahardjo, MT. selaku pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini. 2. Bapak H. Dion, Bapak Apipudin, Bapak Solihin, Bapak Zuansyah, dan rekan-rekan sebagai mentor di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut dan Rayon Garut Kota yang selalu meluangkan waktu dalam memberikan arahan selama proses pengambilan data dalam pembuatan skripsi ini. 3. Kedua Orang Tua yang tiada hentinya membimbing dan mendukung dengan penuh kasih sayang sampai saat ini. 4. Kepada teman-teman dan semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan dalam proses pembuatan skripsi ini. Menjadi sempurna adalah tidak mungkin, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Yang bisa kita lakukan sebagai mahluk-nya hanya berupaya untuk menyempurnakan kemungkinan itu. Kebenaran pasti berasal dari Allah SWT dan segala kesalahan semata-mata datang dari diri kita sendiri. Maka, saya sebagai penulis memohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat saya harapkan demi kemajuan dan perbaikan penulis di masa yang akan datang. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Depok, Desember 2014 iv Penulis
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI SKRIPSI UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Sebagai sivitas akademik, saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Isti Nurul Shofyah NPM : 1206314762 Program Studi : Teknik Elektro Departemen : Teknik Elektro Fakultas : Teknik Jenis Karya : Skripsi demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Hak Bebas Royalti Non-Eksklusif (Non Exclusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul : Analisis Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota dengan Hak Bebas Royalti Non-Ekslusif ini, berhak menyimpan, mengalihmedia/format-kan, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan memublikasikan skripsi saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di : Depok Pada tanggal : Desember 2014 Yang Menyatakan (Isti Nurul Shofyah) v
ABSTRAK Nama : Isti Nurul Shofyah Program Studi : Teknik Elektro Judul : Analisis Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota Suatu sistem tenaga listrik tidak bisa lepas dari berbagai macam gangguan listrik yang dapat mengganggu kualitas dan kontinuitas pelayanan pasokan listrik. Salah satu gangguan penyulang yang paling banyak menyebabkan terjadinya pemadaman listrik tak terencana di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota adalah gangguan layang-layang. Pada tahun 2012 sebesar 36% pemadaman yang disebabkan gangguan penyulang terjadi karena layang-layang, dan meningkat menjadi 52% pada tahun 2013. Gangguan layang-layang ini dapat menyebabkan terjadinya gangguan hubung singkat 3 fasa, 2 fasa, 2 fasa ke tanah, ataupun 1 fasa ke tanah. Bahkan, dapat merusak dan membuat penghantar SUTM putus. Dampak dari gangguan penyulang oleh layang-layang ini berbahaya bagi manusia, baik pemain layang-layang itu sendiri maupun masyarakat yang berada di sekitar jaringan PLN yang mengalami gangguan karena dapat terkena sengatan listrik. Selain itu, terhentinya pasokan listrik membuat pihak PLN merasakan kerugian yang cukup besar dan membuat keandalan sistem (SAIFI dan SAIDI) menurun. Oleh karena itu, pada skripsi ini akan dilakukan analisis terhadap gangguan penyulang oleh layang-layang di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota agar dapat ditentukan strategi untuk menekan frekuensi terjadinya gangguan tersebut. Kata kunci: sistem tenaga listrik, gangguan, penyulang, layang-layang, hubung singkat, penghantar putus, keandalan sistem, SAIDI, SAIFI vi
ABSTRACT Name : Isti Nurul Shofyah Study Program: Electrical Engineering Title : Feeder Fault Analysis Due To Kites in PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota An electric power system can not be separated from a variety of electric fault that can interfere the quality and continuity of electricity supply services. One of the most feeders fault that causing unplanned power outages in PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota is the kites disruption. In 2012, 36% outage caused by feeder faults occured because the kites disruption, and increased to 52% in 2013. Kite disruption can lead to 3 phase, 2- phase, 2-phase to ground, or 1 phase to ground short circuit. In fact, it can destroy and create SUTM broken conductor. The impact of feeders faults due to kites is harmful to humans, both the kites players itself and the people who are around the grid which is harmed can get an electrical shock. In addition, the interruption of electricity supply makes PLN get some substantial losses and make the system reliability (SAIFI and SAIDI) decreases. Therefore, in this thesis will carried out an analysis of the feeders fault due to kites in PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota to determined some strategies to suppress the occurrence frequency of that fault. Key words: electric power system, fault, feeder, kites, sort circuit, broken conductor, sistem reability, SAIDI, SAIFI vii
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL...i HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS... ii HALAMAN PENGESAHAN... iii KATA PENGANTAR... iv HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI SKRIPSI UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS... v ABSTRAK... vi ABSTRACT... vii DAFTAR ISI... viii DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR TABEL... xiv DAFTAR LAMPIRAN... xv BAB 1 PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang Masalah... 1 1.2 Tujuan Penulisan... 2 1.3 Batasan Masalah... 2 1.4 Metodologi Penelitian... 2 1.5 Sistematika Penulisan... 3 BAB 2 SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK... 4 2.1 Sistem Tenaga Listrik... 4 2.2 Sistem Distribusi... 5 2.3 Klasifikasi Sistem Distribusi... 7 2.3.1 Klasifikasi Berdasarkan Ukuran Tegangan... 7 2.3.1.1 Sistem Distribusi Primer... 7 viii
2.3.1.2 Sistem Distribusi Sekunder... 8 2.3.2 Klasifikasi Berdasarkan Sistem Penyaluran... 8 2.3.2.1 Saluran Udara (Overhead Lines)... 8 2.3.2.2 Saluran Bawah Tanah (Underground Lines)... 9 2.3.3 Klasifikasi Berdasarkan Bentuk Jaringan... 11 2.3.3.1 Sistem Radial... 11 2.3.3.2 Sistem Rangkaian Tertutup (Loop Circuit)... 12 2.3.3.3 Sistem Mesh... 13 2.3.3.4 Sistem Spindel... 15 2.4 Gangguan Pada Sistem Distribusi... 16 2.4.1 Gangguan Beban Lebih... 17 2.4.2 Gangguan Tegangan Lebih... 17 2.4.3 Gangguan Ketakstabilan (Instability)... 18 2.4.4 Gangguan Hubung Singkat... 18 2.4.4.1 Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa ke Tanah... 19 2.4.4.2 Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa... 20 2.4.4.3 Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa ke Tanah... 21 2.4.4.4 Gangguan Hubung Singkat Tiga Fasa... 21 2.4.5 Upaya Mengatasi Gangguan... 22 2.5 Pemadaman Listrik... 23 2.6 Sistem Pengaman Pada Sistem Distribusi... 24 2.6.1 Peralatan Pemisah atau Penghubung... 25 2.6.1.1 Pemutus Tenaga (Circuit Breaker)... 25 2.6.1.2 Saklar Pemisah (Disconnecting Switch)... 26 2.6.1.3 Saklar Pemisah Beban (Load Break Switch)... 26 2.6.1.4 Saklar Seksi Otomatis (Automatic Line Sectionalizer)... 27 ix
2.6.2 Peralatan Pengaman Arus Lebih... 27 2.6.2.1 Pelebur (Fuse Cut Out)... 28 2.6.2.2 Pemutus Balik Otomatis (Automatic Recloser)... 29 2.6.2.3 Relai... 30 2.6.3 Peralatan Pengaman Tegangan Lebih... 31 2.6.3.1 Kawat Tanah (Overhead Groundwire)... 32 2.6.3.2 Penangkap Petir (Lightning Arrester)... 32 2.7 Keandalan Sistem Distribusi... 33 2.7.1 SAIFI (System Average Interruption Frequency Index)... 34 2.7.2 SAIDI (System Average Interruption Duration Index)... 34 BAB 3 SISTEM DISTRIBUSI RAYON GARUT KOTA... 35 3.1 Target Kerja Distribusi Rayon Garut Kota... 36 3.2 Data Aset Rayon Garut Kota... 36 3.2.1 Penyulang Desa Kolot (DSKT)... 37 3.2.2 Penyulang Cilawu (CLWU)... 37 3.2.3 Penyulang Margawati (MGWT)... 37 3.2.4 Penyulang Cigasong (CGSO)... 38 3.2.5 Penyulang Intan Tiga (INTI)... 38 3.2.6 Penyulang Intan Satu (INTU)... 38 3.2.7 Penyulang Talaga Bodas (TLBS)... 39 3.2.8 Penyulang Suci... 39 BAB 4 ANALISIS GANGGUAN PENYULANG AKIBAT LAYANG-LAYANG... 40 4.1 Padam Akibat Gangguan Penyulang Oleh Layang-Layang... 42 4.2 Pengaruh Faktor Konstruksi Sistem... 45 4.3 Pengaruh Faktor Cuaca dan Iklim... 54 x
4.4 Dampak Dari Gangguan Layang-Layang... 55 4.4.1 Kerusakan Peralatan... 56 4.4.2 Ancaman Keselamatan Bagi Manusia... 57 4.4.3 Kerugian PLN... 59 4.4.4 Keandalan Sistem Distribusi PLN... 60 4.4.4.1 Indeks Rata-Rata Frekuensi Pemadaman (SAIFI) Rayon Garut Kota...60 4.4.4.2 Indeks Rata-Rata Lama Pemadaman (SAIDI) Rayon Garut Kota...62 4.5 Upaya Penekanan Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang... 63 4.6 Evaluasi Hasil Penekanan Gangguan Layang-Layang... 65 4.7 Perencanaan Optimasi Penyulang Dari Gangguan Layang-Layang... 66 BAB 5 KESIMPULAN... 69 DAFTAR ACUAN... 70 DAFTAR PUSTAKA... 72 xi
DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1. Sistem Tenaga Listrik... 6 Gambar 2.2. Skema Penyaluran Daya Hingga Ke Konsumen... 7 Gambar 2.3. Saluran Udara (Overhead Lines)... 9 Gambar 2.4. Saluran Bawah Tanah (Underground Lines)... 10 Gambar 2.5. Sistem Radial... 11 Gambar 2.6. Sistem Rangkaian Tertutup (Loop Circuit)... 13 Gambar 2.7. Sistem Mesh... 14 Gambar 2.8. Sistem Spindel... 15 Gambar 2.9. Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa ke Tanah... 20 Gambar 2.10. Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa... 20 Gambar 2.11. Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa ke Tanah... 21 Gambar 2.12. Gangguan Hubung Singkat Tiga Fasa... 22 Gambar 2.13. Pemutus Tenaga (Circuit Breaker)... 25 Gambar 2.14. Saklar Pemisah (Disconnecting Switch)... 26 Gambar 2.15. Saklar Pemisah Beban (Load Break Switch)... 27 Gambar 2.16. Saklar Seksi Otomatis (Automatic Line Sectionalizer)... 28 Gambar 2.17. Pelebur (Fuse Cut Out)... 29 Gambar 2.18. Penutup Balik Otomatis (AutomaticRecloser)... 30 Gambar 2.19. Penangkap Petir (Lightning Arrester)... 32 Gambar 3.1. Wilayah Kerja Area Garut...35 Gambar 4.1. Grafik Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun 2012 dan 2013...40 Gambar 4.2. Grafik Penyebab Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun 2012... 41 Gambar 4.3. Grafik Penyebab Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun 2013... 41 Gambar 4.4. Grafik Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang Rayon Garut Kota Tahun 2012 dan 2013... 42 Gambar 4.5. Kawat Layang-Layang Menghubungkan 2 Kawat SUTM... 43 xii
Gambar 4.6. Kawat SUTM Putus (Broken Conductor) Akibat Layang-Layang.. 44 Gambar 4.7. Grafik Gangguan per Penyulang Tahun 2012... 47 Gambar 4.8. Grafik Gangguan Per Penyulang Tahun 2013... 47 Gambar 4.9. Akibat Layang-Layang Pada Penyulang... 56 Gambar 4.10. Terjadinya Arus Balik Saat Konduktor di Sisi Hilir Menyentuh Tanah... 58 Gambar 4.11. Ilustrasi Pemain Layang-Layang Terkena Tegangan Sentuh... 58 Gambar 4.12. Sosialisasi Bahaya Bermain Layang-Layang Di Dekat Jaringan PLN... 64 Gambar 4.13. Grafik Perbandingan Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang Tahun 2012-2014... 65 xiii
DAFTAR TABEL Tabel 3.1. Target Kerja Distribusi PT. PLN Area Garut Rayon Garut Kota... 36 Tabe 4.1. Data Wilayah Rawan Gangguan Layang-Layang...45 Tabel 4.2. Impedansi Penyulang CGSO Urutan Positif dan Negatif... 50 Tabel 4.3. Impedansi Penyulang CGSO Urutan Nol... 51 Tabel 4.4. Impedansi Ekivalen Jaringan dan... 51 Tabel 4.5. Impedansi Ekivalen Jaringan... 51 Tabel 4.6. Arus Gangguan Hubung Singkat Pada Penyulang Di Rayon Garut Kota... 52 Tabel 4.7. SAIFI Per Penyebab Pemadaman Rayon Garut Kota Tahun 2012... 60 Tabel 4.8. SAIFI Per Penyebab Pemadaman Rayon Garut Kota Tahun 2013... 61 Tabel 4.9. SAIDI Per Penyebab Pemadaman Rayon Garut Kota Tahun 2012... 62 Tabel 4.10. SAIDI Per Penyebab Pemadaman Rayon Garut Kota Tahun 2013... 63 Tabel 4.11. Data Panjang Penggantian Kawat A3C... 66 Tabel 4.12. Estimasi Kerugian PLN Setelah Optimasi Jaringan... 67 xiv
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Data Aset Gardu Rayon Garut Kota... 73 Lampiran 2. Data Aset SUTM Rayon Garut Kota... 74 Lampiran 3. Data Aset Tiang Rayon Garut Kota... 75 Lampiran 4. Impedansi Penghantar... 77 Lampiran 5. Kerugian PLN Rayon Garut Kota Akibat Layang-Layang Th. 201278 Lampiran 6. Kerugian PLN Rayon Garut Kota Akibat Layang-Layang Th. 201379 Lampiran 7. Rincian Nilai SAIFI dan SAIDI Rayon Garut Kota Tahun 2012... 82 Lampiran 8. Rincian Nilai SAIFI dan SAIDI Rayon Garut Kota Tahun 2013... 85 Lampiran 9. Diagram Garis Tunggal Penyulang Desa Kolot (DSKT)... 88 Lampiran 10. Diagram Garis Tunggal Penyulang Cilawu (CLWU)... 89 Lampiran 11. Diagram Garis Tunggal Penyulang Margawati (MGWT)... 90 Lampiran 12. Diagram Garis Tunggal Penyulang Cigasong (CGSO)... 91 Lampiran 13. Diagram Garis Tunggal Penyulang Intan Tiga (INTI)... 92 Lampiran 14. Diagram Garis Tunggal Penyulang Intan Satu (INTU)... 93 Lampiran 15. Diagram Garis Tunggal Penyulang Talaga Bodas (TLBS)... 94 Lampiran 16. Diagram Garis Tunggal Penyulang Talaga Bodas (TLBS)... 95 Lampiran 17. Konstruksi Pemasangan Ground Steel Wire (GSW)... 96 Lampiran 18. Data Padam Akibat Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun 2012... 97 Lampiran 19. Data Padam Akibat Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun 2013... 101 Lampiran 20. Peta Wilayah Rawan Gangguan Layang-Layang di Rayon Garut Kota... 107 xv
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tenaga listrik saat ini telah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat, sehingga pasokan energi listrik harus dijaga kontinuitasnya agar dapat menyediakan pelayanan secara terus menerus dan merata dengan mutu dan keandalan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan suatu sistem tenaga listrik yang handal dan mumpuni. Tetapi, dalam pelaksanaannya suatu sistem tenaga listrik tidak lepas dari berbagai macam gangguan yang dapat menyebabkan menurunnya keandalan sistem. Berbagai permasalahan dalam hal menjaga kontinuitas pasokan listrik juga terjadi di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota. Salah satu faktor yang menyebabkan menurunnya mutu dan ketersediaan pelayanan daya listrik pada sistem distribusi rayon garut kota adalah gangguan pada penyulang, dimana penyebabnya didonimasi oleh layang-layang. Di beberapa wilayah Rayon Garut Kota, permainan layang-layang menjadi hal favorit untuk dilakukan, jenis layangan yang digunakan pun beraneka ragam. Kondisi dimana terdapat suatu daerah yang mayoritas warganya gemar melakukan kegiatan bermain layang-layang maka kemungkinan Jaringan Tegangan Menengah dihinggapi sampah berupa kerangka layangan serta benang pun semakin besar. Untuk layangan dengan dimensi yang besar serta menggunakan bahan berupa benang yang dapat menghantarkan aliran listrik, bila mengenai jaringan PLN 20 KV bukan tidak mungkin akan langsung mengakibatkan gangguan pada penyulang tersebut. Sedangkan untuk layang-layang biasa pun tetap berpotensi menyebabkan terjadinya gangguan penyulang dimana pada saat kondisi hujan maka sampah berupa kerangka layangan atau benang tersebut dapat membuat jalur konduktif antara fasa atau antara fasa dan tanah. Oleh karena dilatarbelakangi permasalahan di atas, pada skripsi ini akan dilakukan analisis mengenai gangguan penyulang yang disebabkan oleh layang- 1
2 layang di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota agar dapat dihasilkan beberapa strategi untuk meminimalkan jumlah gangguan yang disebabkan oleh layang-layang. 1.2 Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk analisis gangguan pada penyulang di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota akibat layang-layang untuk mengetahui karakteristik gangguan tersebut hingga dapat menyebabkan terjadinya pemadaman tak terencana, kerugian yang ditimbulkannya, dan langkah-langkah penekanan gangguan yang dapat dilakukan untuk meminimalkan angka terjadinya pemadaman akibat gangguan layang-layang. 1.3 Batasan Masalah Batasan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut: 1. Analisis dilakukan terhadap gangguan penyulang SUTM (Saluran Udara Tegangan Menengah) yang diakibatkan oleh layang-layang. 2. Data yang diamati adalah data gangguan penyulang tahun 2012 dan 2013. 3. Sistem distribusi yang dijadikan bahan penelitian adalah sistem distribusi di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota. 4. Evaluasi keandalan sistem distribusi menggunakan dua parameter, yaitu SAIDI dan SAIFI. 5. Data yang digunakan sebagai perbandingan untuk evaluasi hasil penekanan gangguan adalah data gangguan penyulang oleh layang-layang pada bulan Juni-September tahun 2014. 1.4 Metodologi Penelitian Penulisan skripsi ini dilakukan dengan menggunakan metode studi skasus yang dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu studi literatur dengan melakukan pencarian materi yang berkaitan dengan topik yang dibahas, pengambilan data
3 yang diperoleh dari hasil data rekap gangguan penyulang dan laporan pemadaman di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota, pengolahan data, analisis dan evaluasi hasil pengolahan data. 1.5 Sistematika Penulisan Skripsi ini terdiri dari lima bab. Bab satu merupakan pendahuluan dimana pada bab ini dijelaskan permasalahan yang melatarbelakangi penulisan skripsi, termasuk juga tujuan, batasan, metodologi, dan sistematika penulisan. Bab dua berisi teori-teori yang mendasari analisis gangguan penyulang, diantaranya mengenai fungsi dan peran jaringan distribusi dalam sistem tenaga listrik, klasifikasi sistem distribusi, gangguan pada sistem distribusi, sistem proteksi, dan parameter keandalan sistem. Bab tiga membahas data aset dan konstruksi sistem distribusi di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota. Bab empat merupakan analisis gangguan penyulang di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota akibat layang-layang yang menyebabkan pemadaman tak terencana, meliputi karakteristik gangguan layang-layang sehingga dapat menyebabkan pemadaman, dampak dari terjadinya gangguan layang-layang, langkah-langkah penekanan gangguan layang-layang, dan evaluasi hasil penekanan gangguan layang-layang. Bab lima merupakan bagian penutup yang berisi kesimpulan dari keseluruhan penulisan skripsi.
BAB 2 SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK 2.1 Sistem Tenaga Listrik Sistem tenaga listrik adalah sekumpulan Pusat-Pusat Tenaga Listrik yang di interkoneksi satu dengan yang lainnya, melalui transmisi atau distribusi untuk memasok ke beban atau satu Pusat Listrik dimana mempunyai beberapa unit generator yang diparalel [1]. Pada umumnya suatu sistem tenaga listrik yang lengkap memiliki empat unsur [2]. Pertama, adanya suatu unsur pembangkit tenaga listrik. Tegangan yang dihasilkan oleh pusat tenaga listrik itu biasanya merupakan tegangan menengah (TM). Kedua, suatu sistem transmisi lengkap dengan gardu induk. Karena Pusat- Pusat Listrik berada jauh di di luar pusat beban, maka dibutuhkan tegangan tinggi (TT) atau tegangan extra tinggi (TET) agar pasokan tenaga listrik, terutama tegangan dan frekuensi, tetap stabil. Ketiga, adanya saluran distribusi, yang biasanya terdiri atas saluran distribusi primer dengan tegangan menengah (TM) dan saluran distribusi sekunder dengan tegangan rendah (TR). Keempat, adanya unsur pemakaian atas utilisasi yang terdiri atas instalasi pemakaian tenaga listrik. Instalasi rumah tangga biasanya memakai tegangan rendah, sedangkan pemakai besar seperti industri mempergunakan tegangan menengah atau tegangan tinggi. Gambar 2.1 memperlihatkan skema suatu sistem tenaga listrik. Dari penjelasan di atas juga dapat diketahui bahwa sistem tenaga listrik terdiri dari tiga komponen utama, yaitu pusat pembangkit tenaga listrik atau sistem pembangkitan, saluran transmisi tenaga listrik atau sistem transmisi, dan sistem distribusi. Fungsi dan peran ketiga komponen tersebut di dalam sistem tenaga listrik adalah sebagai berikut. 1. Sistem Pembangkitan Pusat pembangkit listrik adalah tempat energi listrik pertama kali dibangkitkan, dimana pada pembangkit tenaga listrik ini sumber-sumber energi alam diubah oleh turbin sebagai penggerak mula (prime mover) 4
5 menjadi energi mekanis yang berupa kecepatan atau putaran dan selanjutnya energi mekanis tersebut akan diubah menjadi energi listrik oleh generator. Jenis pusat pembangkit yang umum antara lain PLTA (pembangkit Listrik Tenaga Air), PLTU (Pusat Listrik Tenaga Uap), PLTG (Pusat Listrik Tenaga Gas), dan PLTN (Pusat Listrik Tenaga Nuklir). 2. Sistem Transmisi Merupakan proses penyaluran tenaga listrik dari tempat pembangkit tenaga listrik (power plant) sampai ke saluran distribusi listrik (substation distribution), sehingga dapat disalurkan sampai pada pelanggan pengguna listrik. 3. Sistem Distribusi Sistem distribusi berfungsi mendistribusikan tenaga listrik ke konsumen yang berupa pabrik, industri, perumahan, dan sebagainya. Transmisi tenaga dengan tegangan tinggi maupun tegangan ekstra tinggi pada saluran transmisi dirubah pada gardu induk menjadi tegangan menengah atau tegangan distribusi primer, yang selanjutnya tegangannya diturunkan lagi menjadi tegangan untuk konsumen yang menghasilkan tegangan kerja/tegangan jala-jala untuk konsumen [3]. 2.2 Sistem Distribusi Sistem distribusi merupakan bagian dari sistem tenaga listrik yang berguna untuk menyalurkan tenaga listrik dari sumber daya besar (bulk power source) sampai ke konsumen [4]. Pada umumnya sistem distribusi tenaga listrik di Indonesia terdiri atas beberapa bagian, sebagai berikut : 1. Gardu Induk (GI) 2. Saluran Tegangan Menengah (TM)/ Distribusi Primer 3. Gardu Distribusi (GD) 4. Saluran Tegangan Rendah (TR)/ Distribusi Sekunder Gardu induk akan menerima daya dari saluran transmisi kemudian menyalurkannya melalui saluran distribusi primer menuju gardu distribusi. Sistem
6 jaringan distribusi terdiri dari dua buah bagian yaitu jaringan distribusi primer dan jaringan distribusi sekunder. Jaringan distribusi primer umumnya bertegangan tinggi (20 kv atau 6 kv). Tegangan tersebut kemudian diturunkan oleh transformator distribusi pada gardu distribusi menjadi tegangan rendah (220 atau 380 Volt) untuk selanjutnya disalurkan ke konsumen melalui saluran distribusi sekunder [2]. Pada Gambar 2.2 ditunjukkan bagaimana skema penyaluran daya hingga ke konsumen melalui jaringan distribusi. Dari penjelasan di atas dapat diketahui fungsi sistem distribusi tenaga listrik, yaitu sebagai berikut [4]: 1. Untuk pembagian atau penyaluran tenaga listrik ke pelanggan. 2. Merupakan subsistem tenaga listrik yang yang langsung berhubungan dengan pelanggan karena catu daya pada pusat-pusat beban (pelanggan) dilayani langsung melalui jaringan distribusi. Gambar 2.1. Sistem Tenaga Listrik [5]
7 Gambar 2.2. Skema Penyaluran Daya Hingga Ke Konsumen [1] 2.3 Klasifikasi Sistem Distribusi Sistem atau saluran distribusi dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kategori, diantaranya sebagai berikut: 1. Berdasarkan ukuran tegangan 2. Berdasarkan sistem penyaluran 3. Berdasarkan bentuk jaringan 2.3.1 Klasifikasi Berdasarkan Ukuran Tegangan Berdasarkan ukuran tegangan, sistem distribusi diklasifikasikan menjadi dua sistem, yaitu sistem distribusi primer dan sistem distribusi sekunder. 2.3.1.1 Sistem Distribusi Primer Sistem distribusi primer atau sering disebut juga jaringan distribusi tegangan tinggi (JDTT) merupakan bagian dari sistem distribusi yang berfungsi untuk menyalurkan dan mendistribusikan tenaga listrik dari pusat suplai daya besar (bulk power source) atau disebut gardu induk ke pusat-pusat beban. Terletak pada sisi primer trafo distribusi, antara gardu induk dengan gardu pembagi, yang memiliki tegangan sistem lebih tinggi dari tegangan terpakai untuk konsumen. Sistem distribusi primer atau sistem distribusi tegangan menengah tersusun oleh penyulang utama (main feeder) dan penyulang percabangan (lateral). Standar tegangan distribusi primer ini adalah 6 kv, 10 kv, dan 20 kv (sesuai standar PLN).
8 2.3.1.2 Sistem Distribusi Sekunder Sistem distribusi sekunder atau sering disebut jaringan distribusi tegangan rendah (JDTR) merupakan bagian dari sistem distribusi yang bertugas mendistribusikan tenaga listrik secara langsung dari gardu-gardu pembagi (gardu distribusi) ke konsumen tenaga listrik. Terletak pada sisi sekunder trafo distribusi, yaitu antara titik sekunder dengan titik cabang menuju beban. Standar tegangan untuk sistem distribusi sekunder ini adalah 127/220 V untuk sistem lama, dan 220/380 V untuk sistem baru, serta 440/550 V untuk keperluan industri. 2.3.2 Klasifikasi Berdasarkan Sistem Penyaluran Menurut sistem penyalurannya, sistem distribusi dapat dilakukan dengan saluran udara (overhead lines) maupun saluran bawah tanah (underground lines). 2.3.2.1 Saluran Udara (Overhead Lines) Saluran udara, disebut juga saluran udara tegangan menengah (SUTM) adalah saluran distribusi yang menyalurkan energi listrik melalui kawat-kawat yang digantung pada isolator antar menara atau tiang distribusi seperti terlihat pada Gambar 2.3. Beberapa pertimbangan untuk saluran udara diantaranya sebagai berikut. Keuntungan saluran udara: 1. Tiang-tiang jaringan distribusi primer dapat pula digunakan untuk jaringan distribusi sekunder dan keperluan pemasangan trafo atau gardu distribusi tiang, sehingga secara keseluruhan harga instalasi menjadi lebih murah. 2. Lebih mudah dalam pemasangannya. 3. Lebih fleksibel dan leluasa dalam upaya untuk perluasan beban. 4. Pemeliharaan lebih mudah. 5. Apabila terjadi gangguan mudah diatasi dan dideteksi. Adapun kerugian atau kekurangan pada saluran udara berupa: 1. Lebih mudah terganggu dan terpengaruh oleh cuaca buruk, angin ribut, petir, badai, tertimpa pohon, layang-layang, dsb.
9 2. Untuk wilayah yang penuh dengan bangunan yang tinggi, sukar untuk menempatkan saluran. 3. Masalah efek kulit, induktansi, dan kapasitansi yang terjadi, akan mengakibatkan tegangan drop lebih tinggi. 4. Menganggu pemandangan dikarenakan oleh banyaknya tiang-tiang dan kabel-kabel hantaran udara yang digunakan sehubungan dengan banyaknya konsumen yang harus dilayani. 5. Ongkos pemeliharaan lebih mahal, karena perlu jadwal pengecatan dan penggantian material listrik bila terjadi kerusakan. Gambar 2.3. Saluran Udara (Overhead Lines) [6] 2.3.2.2 Saluran Bawah Tanah (Underground Lines) Saluran bawah tanah atau disebut juga saluran kabel tegangan menengah (SKTM) adalah saluran distribusi yang menyalurkan energi listrik melalui kabel yang ditanam didalam tanah, seperti ditunjukkan pada Gambar 2.4. Terdapat keuntungan dan kerugian dalam penggunaan saluran bawah tanah, antara lain adalah sebagai berikut. Keuntungan saluran bawah tanah: 1. Tidak terpengaruh oleh cuaca buruk, bahaya petir, badai, tertimpa pohon, layang-layang, dsb.
10 2. Tidak mengganggu pandangan, bila adanya bangunan yang tinggi. 3. Saluran bawah tanah lebih sempurna dan lebih indah dipandang. 4. Mempunyai batas umur pakai dua kali lipat dari saluran udara. 5. Ongkos pemeliharaan lebih murah, karena tidak perlu adanya pengecatan. 6. Jatuh tegangan lebih rendah karena masalah induktansi bisa diabaikan. 7. Keandalan lebih baik. 8. Tidak ada korona. 9. Rugi-rugi daya lebih kecil. Gambar 2.4. Saluran Bawah Tanah (Underground Lines) [7] Sedangkan kerugian dari saluran bawah tanah adalah: 1. Biaya investasi pembangunan lebih mahal dibandingkan dengan saluran udara. 2. Saat terjadi gangguan hubung singkat, usaha pencarian titik gangguan sulit dilakukan. 3. Perlu pertimbangan-pertimbangan teknis yang lebih mendalam didalam perencanaan, khususnya untuk kondisi tanah yang dilalui.
11 4. Tidak dapat menghindari bila terjadi bencana banjir, desakan akar pohon, dan ketidakstabilan tanah. 5. Gangguan yang terjadi bersifat permanen. 6. Tidak fleksibel terhadap perubahan jaringan. 7. Waktu dan biaya untuk menanggulangi bila terjadi gangguan lebih lama dan lebih mahal. 2.3.3 Klasifikasi Berdasarkan Bentuk Jaringan Konfigurasi jaringan distribusi primer pada suatu sistem jaringan distribusi sangat menentukan mutu pelayanan yang akan diperoleh khususnya mengenai kontinuitas pelayanan. Berdasarkan bentuk jaringannya, sistem distribusi dapat diklasifikasikan menjadi 4 jenis dasar, yaitu sistem radial, sistem rangkaian tertutup (loop circuit), sistem mesh dan sistem spindel. 2.3.3.1 Sistem Radial Sistem radial pada jaringan distribusi merupakan sistem terbuka, dimana tenaga listrik yang disalurkan secara radial melalui gardu induk ke konsumenkonsumen dilakukan secara terpisah satu sama lainnya. Bentuk jaringan dengan sistem radial diperlihatkan pada Gambar 2.5. Sistem ini merupakan sistem yang paling sederhana diantara sistem yang lain dan paling murah, sebab sesuai konstruksinya sistem ini menghendaki sedikit sekali penggunaan material listrik, apalagi jika jarak penyaluran antara gardu induk ke konsumen tidak terlalu jauh. Gambar 2.5. Sistem Radial [9]
12 Sistem radial terbuka ini paling tidak dapat diandalkan dibandingkan dengan bentuk sistem lain, karena penyaluran tenaga listrik hanya dilakukan dengan menggunakan satu saluran saja. Jaringan model ini sewaktu mendapat gangguan akan menghentikan penyaluran tenaga listrik cukup lama sebelum gangguan tersebut diperbaiki kembali. Keuntungan dari sistem radial terbuka diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Konstruksinya lebih sederhana. 2. Material yang digunakan lebih sedikit, sehingga lebih murah. 3. Sistem pemeliharaannya lebih murah. 4. Untuk penyaluran jarak pendek akan lebih murah. Sedangkan kelemahannya adalah sebagai berikut: 1. Keandalan sistem ini lebih rendah. 2. Makin panjang jaringan (dari Gardu Induk atau Gardu Hubung), kondisi tegangan tidak dapat diandalkan. 3. Rugi-rugi tegangan lebih besar. 4. Kapasitas pelayanan terbatas. 5. Bila terjadi gangguan penyaluran daya terhenti. 2.3.3.2 Sistem Rangkaian Tertutup (Loop Circuit) Sistem rangkaian tertutup pada jaringan distribusi merupakan suatu sistem penyaluran melalui dua atau lebih penyulang yang saling berhubungan membentuk rangkaian berbentuk cincin. Gambar 2.6 menunjukkan bentuk jaringan dengan sistem rangkaian tertutup (loop circuit). Keuntungan sistem dengan konfigurasi rangkaian tertutup (loop), diantaranya adalah sebagai berikut. 1. Dapat menyalurkan daya listrik melalui satu atau dua penyulang yang saling berhubungan. 2. Menguntungkan dari segi ekonomis. 3. Bila terjadi gangguan pada penyulang, maka penyulang lain dapat menggantikan untuk menyalurkan daya listrik. 4. Kontinuitas penyaluran daya listrik lebih terjamin.
13 5. Bila digunakan dua sumber pembangkit, kapasitas tegangan lebih baik dan regulasi tegangan cenderung kecil. 6. Dalam kondisi beroperasi normal, pemutus beban dalam keadaan terbuka. 7. Biaya konstruksi lebih murah. 8. Faktor penggunaan konduktor lebih rendah, yaitu 50%. Gambar 2.6. Sistem Rangkaian Tertutup (Loop Circuit) [9] Pada konfigurasi loop ini juga terdapat beberapa kelemahan, yaitu sebagai berikut. 1. Drop tegangan makin besar. 2. Bila beban yang dilayani bertambah, maka kapasitas pelayanan akan lebih jelek. 2.3.3.3 Sistem Mesh Sistem mesh ini merupakan sistem penyaluran tenaga listrik yang dilakukan secara terus-menerus oleh dua atau lebih penyulang pada gardu-gardu induk dari beberapa pusat pembangkit tenaga listrik yang bekerja secara paralel. Pola jaringan ini terlihat pada Gambar 2.7, memiliki beberapa rel daya dan antara rel tersebut dihubungkan oleh saluran penghubung yang disebut tie feeder. Dengan demikian setiap gardu distribusi dapat menerima atau mengirim daya dari atau ke rel lain.
14 Gambar 2.7. Sistem Mesh Sistem ini merupakan pengembangan dari sistem-sistem yang terdahulu dan merupakan sistem yang dapat diandalkan, mengingat sistem ini dilayani oleh dua atau lebih sumber tenaga listrik. Selain itu, jumlah cabang lebih banyak dari jumlah titik penyulang. Sistem ini dapat digunakan pada daerah-daerah yang memiliki kepadatan tinggi dan membutuhkan kapasitas dan kontinuitas pelayanan yang sangat baik. Gangguan yang terjadi pada salah satu saluran tidakakan mengganggu kontinuitas pelayanan. Sebab semua titik beban terhubung paralel dengan beberapa sumber tenaga listrik. Keuntungan yang diperoleh dari sistem mesh diantaranya sebagai berikut: 1. Penyaluran tenaga listrik dapat dilakukan secara terus-menerus (selama 24 jam) dengan menggunakan dua atau lebih penyulang. 2. Memiliki kapasitas dan kontinuitas pelayanan sangat baik, sehingga tingkat keandalannya tinggi. 3. Dapat digunakan pada daerah-daerah yang memiliki tingkat kepadatan yang tinggi. 4. Gangguan yang terjadi pada salah satu saluran tidak akan mengganggu kontinuitas pelayanan.
15 Adapun kerugian dari sistem mesh ini adalah sebagai berikut. 1. Biaya konstruksi dan pembangunan lebih tinggi. 2. Pengaturan alat proteksi lebih sulit. 2.3.3.4 Sistem Spindel Jaringan ini merupakan gabungan dari struktur radial dan rangkaian tertutup (loop circuit). Pada sebuah sistem spindel biasanya terdiri dari beberapa penyulang aktif dan sebuah penyulang cadangan (penyulang express) yang akan dihubungkan melalui gardu hubung. Pola spindel biasanya digunakan pada jaringan tegangan menengah yang menggunakan saluran kabel tanah tegangan menengah (SKTM). Dalam keadaan normal, tipe ini beroperasi secara radial dan dalam keadaan darurat bekerja secara rangkaian tertutup (loop circuit) melalui penyulang cadangan dan gardu hubung. Gardu distribusi pada sistem mesh ini terdapat disepanjang saluran kerja dan terhubung secara seri. Saluran kerja yang masuk ke gardu dihubungkan oleh saklar pemisah, sedangkan saluran yang keluar dari gardu dihubungkan oleh sebuah saklar beban. Untuk lebih jelas, bentuk jaringan dengan sistem spindel ditunjukkan pada Gambar 2.8. Gambar 2.8. Sistem Spindel
16 Keuntungan dari sistem spindel ini diantaranya adalah sebagai berikut. 1. Sederhana dalam hal teknis pengoperasiannya, seperti pola radial. 2. Kontinuitas pelayanan lebih baik dari pada pola radial maupun loop. 3. Pengecekan beban masing-masing saluran lebih mudah dibandingkan dengan pola mesh. 4. Penentuan bagian jaringan yang teganggu akan lebih mudah dibandingkan dengan pola mesh. 5. Baik untuk dipakai di daerah perkotaan dengan kerapatan beban yang tinggi. Tetapi, terdapat juga kelemahan dari sistem ini, yaitu sistem ini relatif mahal karena sudah memperhitungkan perkembangan beban atau penambahan jumlah konsumen sampai beberapa tahun ke depan, sehingga dapat digunakan dalam waktu yang cukup lama. 2.4 Gangguan Pada Sistem Distribusi Gangguan pada sistem distribusi adalah terganggunya sistem tenaga listrik yang menyebabkan bekerjanya relai pengaman penyulang untuk membuka pemutus tenaga (circuit breaker) di gardu induk yang menyebabkan terputusnya suplai tenaga listrik. Gangguan pada jaringan distribusi lebih banyak terjadi pada saluran udara (SUTM) yang umumnya tidak memakai isolasi dibanding dengan saluran distribusi yang ditanam dalam tanah (SKTM) dengan menggunakan isolasi pembungkus. Sumber gangguan pada jaringan distribusi dapat berasal dari dalam sistem (internal) maupun dari luar sistem distribusi (eksternal). 1. Gangguan dari dalam sistem antara lain: a. Tegangan lebih atau arus lebih b. Beban lebih c. Kegagalan kerja peralatan pengaman d. Pemasangan yang kurang tepat e. Usia pemakaian 2. Gangguan dari luar sistem antara lain: a. Dahan/ranting pepohonan yang mengenai SUTM
17 b. Sambaran petir c. Hujan atau cuaca d. Kerusakan pada peralatan e. Binatang ataupun layang-layang f. Penggalian tanah g. Gagalnya isolasi karena kenaikan temperatur h. Kerusakan sambungan Adapun jenis-jenis gangguan yang sering terjadi pada sistem distribusi diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Gangguan Beban Lebih 2. Gangguan Tegangan Lebih 3. Gangguan Ketakstabilan 4. Gangguan Hubung Singkat 2.4.1 Gangguan Beban Lebih Gangguan ini sebenarnya bukan gangguan murni, tetapi bila dibiarkan terus-menerus berlangsung dapat merusak peralatan listrik yang dialiri oleh arus tersebut. Karena arus yang mengalir melebihi kapasitas peralatan listrik dan kapasitas pengaman yang terpasang melebihi kapasitas peralatan, sehingga saat beban lebih, pengaman tidak trip [1]. Misalnya, kapasitas penghantar 350 A dan pengaman di setting 400 A tetapi beban mencapai 380 A, sehingga pengaman tidak trip dan penghantar akan terbakar. 2.4.2 Gangguan Tegangan Lebih Gangguan tegangan lebih yang diakibatkan adanya kelainan pada sistem, dimana tegangan lebih dibedakan atas: 1. Tegangan Lebih Dengan Frekuensi Kerja (Power Frequency) Tegangan lebih dengan frekuensi kerja (power frequency) adalah tegangan lebih yang terjadi, misalnya dikarenakan pembangkit kehilangan beban yang diakibatkan adanya gangguan pada sisi jaringan, sehingga terjadi putaran lebih (over speed) pada generator. Tegangan lebih ini juga dapat
18 terjadi karena adanya gangguan pada pengatur tegangan secara otomatis (Automatic Voltage Regulator) [1]. 2. Tegangan Lebih Transien Tegangan lebih transien merupakan tegangan lebih karena adanya surja petir yang mengenai peralatan listrik atau saat pemutus tenaga yang menimbulkan kenaikan tegangan yang disebut surja hubung [1]. 2.4.3 Gangguan Ketakstabilan (Instability) Lepasnya pembangkit dapat menimbulkan ayunan daya (power swing) atau menyebabkan unit-unit pembangkit lepas sinkron. Ayunan juga dapat menyebabkan salah kerja relai. Lepas sinkron dapat menyebabkan berkurangnya pembangkit, karena pembangkit yang besar jatuh (trip) dari cadangan putar (spinning reserve), maka frekuensi akan terus turun atau bisa terjadi terpisahnya sistem yang dapat menyebabkan gangguan yang lebih luas, bahkan terjadi keruntuhan sistem (collapse) [1]. 2.4.4 Gangguan Hubung Singkat Gangguan yang sering terjadi dan berbahaya bagi sistem tenaga listrik adalah gangguan hubung singkat. Adanya hubung singkat menimbulkan arus lebih yang pada umumnya jauh lebih besar daripada arus pengenal peralatan dan terjadi penurunan tegangan pada sistem tenaga listrik. Dimana besarnya arus hubung singkat tergantung dari sumber yang memasok, luas penampang jaringan, dan lokasi dimana gangguan hubung singkat tersebut terjadi. Akibat dari adanya arus gangguan ini adalah dapat merusak peralatan-peralatan listrik dan terganggunya penyaluran listrik pada konsumen. Berdasarkan lama terjadinya gangguan hubung singkat pada sistem distribusi dibagi menjadi dua jenis, yaitu: 1. Gangguan Temporer Gangguan yang bersifat sementara karena dapat hilang dengan sendirinya dengan cara memutuskan bagian yang terganggu sesaat, kemudian menutup balik kembali, baik secara otomatis (autorecloser) maupun secara
19 manual oleh operator. Bila gangguan sementara terjadi berulang-ulang maka dapat menyebabkan gangguan permanen dan merusak peralatan. 2. Gangguan Permanen Gangguan bersifat tetap, sehingga untuk membebaskannya perlu tindakan perbaikan atau penghilangan penyebab gangguan. Hal ini ditandai dengan jatuhnya (trip) kembali pemutus tenaga setelah operator memasukkan sistem kembali setelah terjadi gangguan. Berdasarkan kesimetrisannya, gangguan hubung singkat yang mungkin terjadi pada jaringan distribusi dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu sebagai berikut: 1. Gangguan Asimetris Gangguan asimetris merupakan gangguan yang mengakibatkan tegangan dan arus yang mengalir pada setiap fasanya menjadi tidak seimbang. Gangguan ini terdiri dari: a. Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa ke Tanah b. Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa c. Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa ke Tanah 2. Gangguan Simetris Gangguan simetris merupakan gangguan yang terjadi pada semua fasanya (3 fasa) sehingga arus maupun tegangan setiap fasanya tetap seimbang setelah gangguan terjadi. 2.4.4.1 Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa ke Tanah Munculnya arus gangguan disebabkan karena adanya gangguan pada salah satu fasa, dalam hal ini dimisalkan gangguan pada fasa A (sebagai referensi). Pada Gambar 2.9 gangguan terjadi karena salah satu kawat terhubung ke tanah akibat pohon atau penyebab lainnya. Nilai arus gangguan hubung singkat satu fasa ke tanah dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut [1]. (2.1)
20 Dimana: - Gambar 2.9. Gangguan Hubung Singkat Satu Fasa ke Tanah 2.4.4.2 Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa Gangguan hubung singkat terjadi antara fasa B dan fasa C, seperti ditunjukkan pada Gambar 2.10. Gangguan fasa-fasa yang terjadi pada sistem tenaga listrik ini biasanya karena pohon atau kawat layang-layang. Gambar 2.10. Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa Nilai arus gangguan hubung singkat dua fasa dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut [1]. (2.2) Dimana: -
21 2.4.4.3 Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa ke Tanah Gangguan hubung singkat ini terjadi antara fasa B dan fasa C yang terhubung ke tanah, seperti ditunjukkan pada Gambar 2.11. Biasanya hubungan ini terjadi karena ranting pohon terkena dua fasa. Gambar 2.11. Gangguan Hubung Singkat Dua Fasa ke Tanah Nilai arus gangguan hubung singkat dua fasa ke tanah dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut [1]. (2.3) Dimana: - 2.4.4.4 Gangguan Hubung Singkat Tiga Fasa Gangguan tiga fasa pada Gambar 2.12 dapat terjadi pada jaringan tenaga listrik karena ketiga fasanya terhubung oleh pohon atau kawat dari benang layanglayang.
22 Gambar 2.12. Gangguan Hubung Singkat Tiga Fasa Nilai arus gangguan hubung singkat dua fasa dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut [1]. (2.4) Dimana: - 2.4.5 Upaya Mengatasi Gangguan Upaya mengatasi gangguan pada sistem distribusi tenaga listrik bertujuan untuk mengurangi terjadinya gangguan dan akibat gangguan. Berikut adalah beberapa upaya mengatasi gangguan yang dapat dilakukan [10]. 1. Mengurangi terjadinya gangguan a. Memakai peralatan yang dapat diandalkan (memenuhi persyaratan standar). b. Penentuan spesifikasi yang tepat dan desain yang baik (tahan terhadap kondisi kerja normal ataupun gangguan). c. Pemasangan yang benar sesuai dengan desain. d. Penggunaan kawat tanah pada saluran udara tegangan menengah. e. Penebangan/pemangkasan pohon-pohon yang dekat dengan saluran udara tegangan menengah. f. Penggunaan kawat udara/kabel secara selektif. 2. Mengurangi akibat gangguan a. Mengurangi besarnya arus gangguan. b. Menghindari konsentrasi pembangkit di satu lokasi.
23 c. Menggunakan tahanan pentanahan netral. d. Penggunaan penangkap petir (lightning arrester) dan koordinasi isolasi. e. Melepas bagian terganggu dengan mempergunakan relai dan pemutus tenaga. f. Pola pemutusan arus (load shedding/splitting), untuk sistem di distribusi pemasangan peralatannya di penyulang keluar (outgoing feeder). g. Pelepasan bagian sistem yang terganggu, antara lain penggunaan jenis dan kordinasi relai yang tepat, penggunaan saluran ganda (double), penggunaan sistem rangkaian tertutup (loop), penggunaan pemutus balik otomatis (recloser) atau saklar seksi otomatis (automatic line sectionalizer), penggunaan sistem spindel pada JTM. h. Penggunaan peralatan cadangan. 2.5 Pemadaman Listrik Definisi pemadaman listrik adalah saat terhentinya pasokan aliran listrik ke pelanggan.secara umum listrik padam dapat disebabkan karena hal-hal sebagai berikut : 1. Pemadaman Terencana Pemadaman terencana adalah pemadaman yang diakibatkan adanya kegiatan yang telah direncanakan oleh PLN yang mengharuskan terhentinya aliran listrik PLN ke pelanggan [11], seperti penambahan peralatan jaringan, pemeliharaan preventif (preventive maintenance) pembangkit, penggantian kabel konduktor (reconductoring) transmisi 150 kv, pemeliharaan jaringan dan gardu yang sudah dijadwalkan sebelumnya dengan tujuan untuk menjaga keandalan agar tidak terjadi kerusakan yang lebih fatal. 2. Pemadaman Tidak Terencana (Gangguan) Adalah pemadaman akibat terjadinya gangguan yang tidak direncanakan. Contohnya sebagai berikut:
24 a. Terganggunya suatu unit pembangkit: gangguan pada sistem pelumasan, sistem pendingin, generator, ketel (boiler) pemanas air menjadi uap. b. Terganggunya jaringan/transmisi listrik: Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kv tersambar petir, terkena pohon roboh, tanah longsor, trafo meledak, dan lain-lain. c. Terganggunya instalasi pelanggan karena hubung singkat, kerusakan alat-alat listrik yang dipakai atau beban lebih besar dari daya tersambung. 2.6 Sistem Pengaman Pada Sistem Distribusi Agar suatu sistem distribusi dapat berfungsi dengan baik,gangguangangguan yang terjadi pada tiap bagian harus dapat dideteksi dan dipisahkan dari sistem lainnya dalam waktu secepat mungkin. Beberapa fungsi sistem pengaman adalah sebagai berikut: 1. Melokalisir gangguan untuk membebaskan perlatan dari gangguan. 2. Membebaskan bagian yang tidak bekerja normal, untuk mencegah kerusakan. 3. Memberi petunjuk atau indikasi atas lokasi serta jenis kegagalan yang terjadi. 4. Untuk dapat memberikan pelayanan listrik dengan keandalan yang tinggi kepada konsumen. 5. Untuk mengamankan keselamatan manusia terutama terhadap bahaya yang ditimbulkan listrik. Adapun peralatan proteksi yang digunakan pada jaringan tegangan menengah terbagi menjadi tiga kelompok [2]: 1. Peralatan pemisah atau penghubung 2. Peralatan pengaman arus lebih 3. Peralatan pengaman tegangan lebih
25 2.6.1 Peralatan Pemisah atau Penghubung Fungsi dari pemutus beban atau pemutus tenaga (PMT) adalah untuk mempermudah dalam membuka dan menutup suatu saluran yang menghubungkan sumber dengan beban, baik dalam keadaan normal maupun dalam keadaan gangguan. Jenis pemutus yang digunakan pada gardu adalah: 1. Pemutus Tenaga(Circuit Breaker) 2. Saklar Pemisah (Disconnecting Switch) Sedangkan pemutus pada jaringan adalah: 1. Saklar Pemisah Beban (Load Break Switch) 2. Saklar Seksi Otomatis (Automatic Line Sectionalizer) 2.6.1.1 Pemutus Tenaga (Circuit Breaker) Dalam keadaan tidak normal (terjadi gangguan) pemutus tenaga (PMT) berperan sebagai saklar otomatis yang dapat memutuskan arus gangguan hubung singkat, menghilangkan gangguan permanen dengan cara memisahkan dari bagian yang terganggu secara otomatis, dimana pada umumnya untuk mengoperasikan PMT tersebut digunakan suatu rangkaian trip yang mendapat sinyal dari suatu rangkaian relai pengaman. Contoh bentuk pemutus tenaga (circuit breaker) diberikan pada Gambar 2.13. Gambar 2.13. Pemutus Tenaga (Circuit Breaker) [12]
26 2.6.1.2 Saklar Pemisah (Disconnecting Switch) Saklar pemisah, seperti terlihat pada Gambar 2.14, merupakan alat pemutus rangkaian listrik pada kondisi tanpa beban yang dioperasikan secara manual karena waktu pemutusan yang terjadi bersifat sangat subjektif, yaitu tergantung pada subjek operatornya. Tugas utama saklar pemisah adalah memisahkan suatu bagian beban dari sumbernya pada keadaan tidak berarus (saat pemeliharaan atau perbaikan), sehingga dapat dilihat atau dipisahkan antara bagian yang aktif dan bagian yang tidak aktif. Gambar 2.14. Saklar Pemisah (Disconnecting Switch) [13] 2.6.1.3 Saklar Pemisah Beban (Load Break Switch) Saklar pemisah beban (load break switch) yang ditunjukkan pada Gambar 2.15 merupakan saklar yang didesain untuk memutus rangkaian listrik dengan kondisi beban nominal dan bekerja secara manual. Saklar ini tidak dapat bekerja secara otomatis pada waktu terjadi gangguan, dibuka atau ditutup hanya untuk memanipulasi beban.
27 Gambar 2.15. Saklar Pemisah Beban (Load Break Switch) [14] 2.6.1.4 Saklar Seksi Otomatis (Automatic Line Sectionalizer) Saklar seksi otomatis (SSO) merupakan pengaman cadangan dari PMT, dimana peralatan ini dipasang pada jaringan udara tegangan menengah. SSO adalah suatu peralatan pemutus yang bekerja secara otomatis untuk membebaskan seksi-seksi yang terganggu dari suatu sistem distribusi, atau dengan kata lain, membebaskan/melokalisir daerah yang teganggu agar tetap mendapatkan suplai tenaga listrik. Pemasangannya pada jaringan distribusi tenaga listrik 20 kv dilengkapi dengan pemasangan pemutus balik otomatis (recloser) dan indikator seksi gangguan (fault section indicator) penyulang. Hal ini dimaksudkan untuk mengoptimalkan kerja dari SSO. Gambar 2.16 menunjukkan contoh bentuk saklar seksi otomatis (SSO). 2.6.2 Peralatan Pengaman Arus Lebih Fungsi dari peralatan pengaman arus lebih adalah untuk mengatasi gangguan arus lebih pada sistem distribusi sebelum gangguan tersebut meluas keseluruh sistem yang ada. Peralatan yang banyak digunakan pada jaringan distribusi diantaranya adalah: 1. Pelebur (Fuse Cut Out)
28 2. Pemutus Balik Otomatis (Automatic Recloser) 3. Relai Gambar 2.16. Saklar Seksi Otomatis (Automatic Line Sectionalizer)[15] 2.6.2.1 Pelebur (Fuse Cut Out) Pelebur (fuse) yang ditunjukkan pada Gambar 2.17 merupakan kombinasi alat pelindung dan pemutus rangkaian yang mempunyai prinsip melebur (expulsion). Pengaman lebur ini ditempatkan pada sisi tegangan menengah (TM) untuk mengamankan jaringan TM dan peralatan ke arah GI terhadap gangguan hubung singkat di trafo, atau sisi TM sebelum trafo, dan gangguan permanen antara fasa ke tanah. Karakteristik waktu/arus dari sebuah pelebur (fuse) adalah sekitar. Untuk semua jenis pelebur, batas arus pelebur biasanya lebih tinggi daripada arus normalnya. Pelebur yang melewatkan arus melampaui batas arus untuk waktu yang lebih lama daripada waktu untuk melewatkan arus pemutus minimum, dapat mengalami kerusakan yang dapat mempengaruhi karakteristiknya, terutama kemampuannya untuk memutus.
29 Gambar 2.17. Pelebur (Fuse Cut Out) [16] 2.6.2.2 Pemutus Balik Otomatis (Automatic Recloser) Penutup balik adalah alat pengaman arus lebih dimana waktu untuk memutus dan menutup kembali dapat diatur dan bekerja secara otomatis. Pemutus balik otomatis dilengkapi dengan sarana indikasi arus lebih, pengatur waktu operasi, serta penutupan kembali secara otomatis. Desain dari penutup balik otomatis memungkinkan untuk dapat membuka kontak-kontaknya secara tetap dan terkunci (lock out), sesuai pemrogramannya setelah melalui beberapa kali operasi buka-tutup. Contoh bentuk dari pemutus balik otomatis diberikan pada Gambar 2.18. Pada gangguan yang bersifat sementara, penutup balik otomatis akan membuka dan menutup kembali bila gangguan telah hilang. Jika gangguannya bersifat tetap/permanen, maka penutup balik otomatis akan membuka kontakkontaknya secara tetap dan terkunci. Apabila gangguan telah dihilangkan, maka kontak dapat ditutup kembali.
30 Gambar 2.18. Penutup Balik Otomatis (AutomaticRecloser)[17] 2.6.2.3 Relai Relaia dalah peralatan pengaman yang dipasang pada perangkat yang berfungsi untuk melindungi peralatan listrik dari gangguan yang mungkin terjadi. Relai bersifat peka terhadap perubahan pada rangkaian yang dapat mempengaruhi kinerja alat lain. Tujuan dipasang relai pengaman adalah: 1. Menghindari atau mengurangi kerusakan yang terjadi akibat gangguan pada alat yang dilalui arus gangguan. 2. Menyelamatkan sistem atau bagian sistem lainnya yang tidak terganggu supaya tetap dapat bekerja terus, dengan cara melepaskan bagian sistem yang terganggu sedemikian rupa sehingga penyimpangan atau kesalahan akibat gangguan tersebut tidak memberikan akibat negatif yang lebih luas terhadap keseluruhan sistem yang ada. Adapun relai yang terpasang terdiri dari: 1. Relai Arus Lebih (Over Current Relay) Relai arus lebih (OCR) merupakan pengaman sistem distribusi dari gangguan antar fasa, baik hubung singkat 2 fasa maupun 3 fasa. Pemasangannya dapat dilakukan di penyulang masuk (incoming feeder), penyulang keluar (outgoing feeder), atau di gardu hubung. Relai ini
31 memberikan reaksi terhadap besarnya arus masukan,dan bekerja untuk memutuskan rangkaian listrik (trip) apabila besarnya arus melebihi nilai tertentu yang dapat diatur. 2. Relai Gangguan Tanah (Ground Fault Relay) Relai ini merupakan pengaman sistem distribusi dari gangguan fasa ke tanah. Pada dasarnya, relai ini memiliki prinsip kerja yang sama dengan relai arus lebih. Pemasangannya dapat dilakukan di penyulang masuk (incoming feeder), penyulang keluar (outgoing feeder), atau di gardu hubung. 3. Relai Momen (Instant) Relai momen (instant) berperan sebagai pengaman untuk arus yang besar dengan pengaturan kerja cepat. Waktu minimm yang dibutuhkan adalah 40 milidetik. Biasanya pengaturan relai momen di atur dengan arus gangguan 2 fasa atau 3 fasa dekat dengan sumber (30-50%) panjang jaringan. 4. Relai Penghantar Putus (Broken Conductor) Relai penghantar putus (broken conductor) sebagai kelengkapan pengaman yang terpasang di relai. Dipergunakan untuk pengaturan bila beban tidak seimbang yang disebabkan adanya penghantar yang putus arah beban, sehingga beban tidak seimbang tiap fasanya. 2.6.3 Peralatan Pengaman Tegangan Lebih Pada sistem distribusi, gangguan dapat terjadi akibat adanya tegangan lebih. Gangguan ini bisa terjadi akibat proses switching pada saluran dan akibat sambaran petir. Bila gangguan ini dibiarkan maka dapat merusak peralatan listrik. Oleh karena itu, peralatan listrik itu harus dilindungi dari gangguan tegangan lebih dengan memasang peralatan pengaman tegangan lebih, seperti : 1. Kawat Tanah (Overhead Groundwire) 2. Penangkap Petir (Lightning Arrester)
32 2.6.3.1 Kawat Tanah (Overhead Groundwire) Dalam hal melindungi saluran tenaga listrik, ada beberapa cara yang dapat diterapkan. Salah satu cara yang paling mudah adalah dengan menggunakan kawat tanah (overhead groundwire) pada saluran. Prinsip dari pemakaian kawat tanah ini adalah bahwa kawat tanah akan menjadi sasaran sambaran petir sehingga melindungi kawat fasa dengan daerah/zona tertentu. 2.6.3.2 Penangkap Petir (Lightning Arrester) Penangkap petir berfungsi untuk melindungi peralatan sistem tenaga listrik terhadap tegangan surja dengan membatasi surja tegangan lebih yang datang dan mengalirkan ke tanah. Alat ini berlaku sebagai jalan pintas (bypass) sekitar isolasi. Penangkap petir membentuk jalan yang mudah dilalui oleh arus petir, sehingga tidak timbul tegangan lebih yang tinggi pada peralatan. Pada keadaan normal penangkap petir berlaku sebagai isolator dan bila timbul surja berlaku sebagai konduktor yang melewatkan aliran arus yang tinggi. Setelah surja hilang, penangkap petir harus dengan cepat kembali menjadi isolator, sehingga pemutus daya tidak sempat membuka. Gambar 2.19 memperlihatkan dimensi dari ligthning arrester. Gambar 2.19. Penangkap Petir (Lightning Arrester) [18]
33 2.7 Keandalan Sistem Distribusi Keandalan tenaga listrik adalah kontinuitas penyaluran tenaga listrik kepada pelanggan, terutama pelanggan daya besar yang membutuhkan kontinuitas penyaluran tenaga listrik secara mutlak. Struktur jaringan tegangan menengah memegang peranan penting dalam menentukan keandalan penyaluran tenaga listrik karena jaringan yang baik memungkinkan dapat melakukan manuver tegangan dengan mengalokasikan tempat gangguan dan beban dapat dipindahkan melalui jaringan lainnya. Kontinuitas pelayanan yang merupakan salah satu unsur dari kualitas pelayanan tergantung kepada jenis penghantar dan peralatan pengaman. Jaringan distribusi sebagai sarana penghantar tenaga listrik mempunyai tingkat kontinuitas tergantung kepada susunan saluran dan cara pengaturan operasinya. Parameter-parameter keandalan yang biasa digunakan untuk mengevaluasi sistem distribusi adalah frekuensi kegagalan tahunan rata-rata ( ), lama terputusnya pasokan listrik rata-rata ( ) lama/durasi terputusnya pasokan listrik tahunan rata-rata ( ). Parameter-parameter tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut: (2.5) (2.6) (2.7) Dimana: - - - Berdasarkan parameter-parameter keandalan dasar ini, didapat sejumlah indeks keandalan untuk sistem secara keseluruhan yang dapat dievaluasi, yaitu SAIFI (System Average Interruption Frequency Index) dan SAIDI (System Average Interruption Duration Index).
34 2.7.1 SAIFI (System Average Interruption Frequency Index) SAIFI (system average interruption frequency index) adalah indeks frekuensi pemadaman rata-rata tiap tahun yang merupakan jumlah dari perkalian frekuensi padam dan pelanggan padam dibagi dengan jumlah pelanggan yang dilayani. Menginformasikan tentang frekuensi pemadaman rata-rata tiap konsumen dalam suatu area yang dievaluasi. Satuannya adalah pemadaman per pelanggan per tahun. Didefinisikan sebagai berikut: (2.8) (2.9) dengan: adalah frekuensi padam adalah jumlah pelanggan pada titik beban i 2.7.2 SAIDI (System Average Interruption Duration Index) SAIDI (system average interruption durasi index) adalah indeks durasi atau lama pemadaman rata-rata tiap tahun yang merupakan jumlah dari perkalian lama padam dan pelanggan padam dibagi dengan jumlah pelanggan yang dilayani. Menginformasikan tentang lama pemadaman rata-rata tiap konsumen dalam suatu area yang dievaluasi. Dituliskan dalam bentuk persamaan sebagai berikut: (2.10) (2.11) dengan: adalah durasi pemadaman/gangguan tahanan untuk beban i adalah jumlah pelanggan pada titik beban i
BAB 3 SISTEM DISTRIBUSI RAYON GARUT KOTA Wilayah kerja PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut dengan luas wilayah 3.065 km 2 yang ditunjukkan pada Gambar 3.1, dibagi kedalam lima rayon, yaitu Rayon Garut Kota, Rayon Leles, Rayon Cibatu, Rayon Cikajang, dan Rayon Pameungpeuk. Sistem distribusi yang diamati pada skripsi ini adalah sistem distribusi Area Garut Rayon Garut Kota. Gambar 3.1. Wilayah Kerja Area Garut 35
36 3.1 Target Kerja Distribusi Rayon Garut Kota Visi dan misi dari PT. PLN (Persero) Area Garut adalah sebagai berikut: 1. Visi Diakui sebagai perusahaan kelas dunia yang bertumbuh kembang. Unggul dan terpercaya dengan bertumpu pada potensi insani. 2. Misi a. Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan dan pemegang saham. b. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. c. Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi. d. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan. Dalam rangka memenuhi visi dan misi tersebut, PT. PLN (Persero) Area Garut, khususnya dalam hal ini Rayon Garut Kota, selalu berusaha menjaga kualitas dan kontinuitas pasokan listrik terhadap pelanggan. Oleh karena itu, dibuat suatu target kerja sebagai acuan dan bahan evaluasi keberhasilan kinerja PLN dalam meningkatkan keandalan sistem. Berikut pada Tabel 3.1 diberikan target kerja distribusi Rayon Garut Kota. Tabel 3.1. Target Kerja Distribusi PT. PLN Area Garut Rayon Garut Kota Parameter Satuan Tahun 2012 Tahun 2013 Gangguan Penyulang kali/tahun 30 25 SAIFI kali/pelanggan/tahun 4,2 5,2 SAIDI jam/pelanggan/tahun 0,98 2,34 3.2 Data Aset Rayon Garut Kota Area Garut Rayon Garut Kota memiliki jumlah pelanggan sebanyak 102.080 pada tahun 2012. Jumlah ini meningkat pada tahun 2013 menjadi 136.107 pelanggan. Terdapat1 Gardu Induk, yaitu GI Garut, 2 buah trafo 150 kv dengan daya masing-masing 60 MVA, dan 8 buah penyulang dengan panjang
37 total 288,070 kms menggunakan material utama A3C (All Alloy Alumunium Conductor) yang merupakan saluran penghantar terbuka (tanpa isolasi). Adapun data lengkap aset Rayon Garut Kota diberikan pada Lampiran 1 (Data Aset Gardu), Lampiran 2 (Data Aset SUTM), dan Lampiran 3 (Data Aset Tiang). Pada tahun pengamatan, yaitu tahun 2012 dan 2013, terdapat delapan penyulang yang berada di Area Garut Rayon Garut Kota. Penyulang tersebut terdiri dari Penyulang Desa Kolot (DSKT), Penyulang Cilawu (CLWU), Penyulang Margawati (MGWT), Penyulang Cigasong (CGSO), Penyulang Intan Tiga (INTI), Penyulang Intan Satu (INTU), Penyulang Talaga Bodas (TLBS), dan Penyulang Suci. Semua penyulang tersebut memiliki konstruksi horizontal. 3.2.1 Penyulang Desa Kolot (DSKT) Berdasarkan bentuk jaringannya, Penyulang Desa Kolot (DSKT) ini termasuk ke dalam sistem rangkaian tertutup (loop circuit). Terdapat 17 gardu dengan jumlah kva terpasang 1555 kva. Penyulang ini memiliki panjang total 14,309 kms. Material utama penyulang SUTM yang digunakan adalah A3C 150 mm 2 dengan panjang 5,846 kms. Diagram garis tunggal (single-line diagram) penyulang DSKT ditunjukkan pada Lampiran 9. 3.2.2 Penyulang Cilawu (CLWU) Bentuk jaringan pada Penyulang Cilawu (CLWU) merupakan sistem rangkaian tertutup (loop circuit). Data aset yang dimiliki Penyulang CLWU diantaranya adalah terdapat 39 gardu dengan total daya trafo 5.465 kva, panjang penyulang total adalah 24,120 kms dengan material utama yang digunakan, yaitu A3C 150 mm 2 sepanjang 10,865 kms. Diagram garis tunggal (single line diagram) penyulang CLWU dilampirkan pada Lampiran 10. 3.2.3 Penyulang Margawati (MGWT) Sama halnya dengan Penyulang DSKT dan CLWU, Penyulang Margawati (MGWT) memiliki sistem rangkaian tertutup (loop circuit). Penyulang MGWT ini memiliki panjang 93,711 kms, dengan material yang paling banyak digunakan
38 adalah A3C 70 mm 2 sepanjang 27,647 kms. Selain itu, terdapat 108 gardu dengan jumlah kva terpasang sebesar 11.270 kva. Diagram garis tunggal (single-line diagram) penyulang MGWT ditunjukkan pada Lampiran 11. 3.2.4 Penyulang Cigasong (CGSO) Berbeda dengan penyulang lainnya, dilihat dari bentuk jaringan, Penyulang Cigasong (CGSO) ini menggunakan sistem radial. Penyulang CGSO memiliki aset 44 gardu dengan jumlah daya trafo terpasang sebesar 4.300 kva. Total panjang penyulang adalah 31,753 kms. Material penghantar yang paling banyak digunakan adalah material A3C 70 mm 2 dengan panjang 22,469 kms. Diagram garis tunggal (single line diagram) penyulang CGSO diberikan pada Lampiran 12. 3.2.5 Penyulang Intan Tiga (INTI) Jaringan pada Penyulang Intan Tiga (INTI) membentuk sistem rangkaian tertutup (loop circuit). Berbeda dengan penyulang lain, material utama yang digunakan pada penyulang INTI adalah A3CS 150 mm 2 yang merupakan saluran penghantar berisolasi sepanjang 22,453 dari total panjang penyulang 39,988 kms. Pada Penyulang INTI terdapat 74 gardu dengan total daya trafo terpasang sebesar 10.895 kva. Diagram garis tunggal (single-line diagram) penyulang MGWT ditunjukkan pada Lampiran 13. 3.2.6 Penyulang Intan Satu (INTU) Dilihat dari bentuk jaringannya, sistem ini merupakan sistem rangkaian tertutup (loop circuit). Data aset yang dimiliki diantaranya adalah 26 gardu dengan jumlah kva terpasang sebesar 8.695 kva. Material utama yang digunakan adalah kabel tanah XLPE 240 mm 2 sepanjang 28,280 kms dari total penyulang terpasang 31,282 kms. Diagram garis tunggal (single line diagram) penyulang CGSO diberikan pada Lampiran 14.
39 3.2.7 Penyulang Talaga Bodas (TLBS) Penyulang Talaga Bodas (TLBS) ini memiliki panjang 14,482 kms dengan material utamanya adalah XLPE 240 mm 2 sepanjang 13,858 kms. Terdapat juga 20 gardu dengan daya trafo terpasang sebesar 6.720 kva. Bentuk jaringan pada Penyulang TLBS membentuk suatu rangkaian tertutup (loop circuit). Diagram garis tunggal (single-line diagram) penyulang MGWT ditunjukkan pada Lampiran 15. 3.2.8 Penyulang Suci Penyulang Suci membentuk jaringan dengan sistem rangkaian tertutup (loop circuit). Aset yang dimiliki Penyulang Suci diantaranya adalah 80 gardu, daya trafo terpasang sebesar 13.450 kva, panjang penyulang terpasang adalah 38,365 kms dengan material utama A3C 150 mm 2 sepanjang 19,563 kms. Diagram garis tunggal (single line diagram) penyulang CLWU dilampirkan pada Lampiran 16.
BAB 4 ANALISIS GANGGUAN PENYULANG AKIBAT LAYANG-LAYANG Dari hasil rekap data gangguan penyulang di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Area Garut Rayon Garut Kota tahun 2012 dan 2013 diketahui bahwa terjadi 72 gangguan penyulang di tahun 2012 dan 128 gangguan penyulang di tahun 2013 yang mengakibatkan terjadinya pemadaman. Berikut diberikan grafik gangguan penyulang tahun 2012 dan 2013 pada Gambar 4.1. 25 20 Jumlah Gangguan 15 10 5 Tahun 2012 Tahun 2013 0 Bulan Gambar 4.1. Grafik Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun 2012 dan 2013 Jumlah gangguan tersebut jauh melebihi target kerja Rayon Garut Kota yang diberikan pada Tabel 3.1. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor penyebab gangguan pada penyulang, diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Komponen Jaringan Tegangan Menengah (JTM) 2. Alam 3. Pohon 4. Layang-layang 5. Binatang 40
41 Pada Gambar 4.2 ditunjukkan grafik persentase penyebab gangguan penyulang pada tahun 2012 dan pada Gambar 4.3 ditunjukkan grafik persentase gangguan penyulang tahun 2013. Dari kelima faktor penyebab yang terlihat di dalam tersebut diketahui bahwa penyebab gangguan pada penyulang yang paling dominan adalah layang-layang. Oleh karena itu, pada pembahasan kali ini akan dibahas mengenai gangguan penyulang yang disebabkan oleh layang-layang. POHON 3% ALAM 19% LAYANG-LAYANG 36% BINATANG 3% KOMP. JTM 39% Gambar 4.2. Grafik Penyebab Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun 2012 POHON 7% ALAM 13% BINATANG 2% LAYANG-LAYANG 52% KOMPONEN JTM 26% Gambar 4.3. Grafik Penyebab Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun 2013
42 4.1 Padam Akibat Gangguan Penyulang Oleh Layang-Layang Pemadaman akibat gangguan penyulang oleh layang-layang sering terjadi dan mengalami peningkatan pada tahun 2013 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada tahun 2012 memiliki persentase sebesar 36% dan meningkat menjadi 52% pada tahun 2013. Pada Gambar 4.4 ditunjukkan grafik gangguan penyulang yang diakibatkan oleh layang-layang pada tahun 2012 dan 2013. 16 14 Jumlah Gangguan 12 10 8 6 4 Tahun 2012 Tahun 2013 2 0 Bulan Gambar 4.4. Grafik Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang Rayon Garut Kota Tahun 2012 dan 2013 Permainan layang-layang yang menggunakan kawat bermaterial logam dapat menyebabkan gangguan hubung singkat 1 fasa ke tanah, 2 fasa atau 3 fasa. Saat warga setempat bermain layang-layang di sekitar SUTM, kawat layanglayang bermaterial logam menempel atau tersangkut di 2 fasa atau 3 fasa kawat penghantar terbuka (tanpa isolasi), seperti terlihat pada Gambar 4.5. Kawat layang-layang tersebut dapat menjadi penghantar dan bersifat sebagai impedansi gangguan yang memiliki nilai sangat kecil, sehingga akan menghasilkan arus gangguan hubung singkat yang sangat besar melebihi kapasitas saluran penghantar. Arus gangguan yang besar dan melebihi kapasitas penghantar tersebut akan membuat sistem pengaman relai arus lebih momen (over current moment) bekerja dan penyulang jatuh (trip) yang mengakibatkan terjadinya pemadaman tak terencana.
43 Pada saat terjadi hubung-singkat antar fasa, akan timbul lompatan api (flash over) yang mengakibatkan isolasi udara tembus (breakdown). Karena yang tembus (breakdown) adalah isolasi udaranya, maka tidak ada kerusakan yang permanen. Setelah arus gangguan terputus karena pemutus tenaga (circuit breaker) atau pemutus balik (recloser) terbuka oleh relai pengamannya, peralatan atau saluran tersebut dapat beroperasi kembali. Selain gangguan antar fasa, apabila kawat atau benang dan rangka layanglayang melilit isolator dan mengenai tiang atau traves maka dapat menyebabkan gangguan hubung singkat 1 fasa ke tanah dan menimbulkan arus gangguan hubung singkat yang besar. Sehingga sistem pengaman relai arus lebih gangguan tanah (over current ground fault) akan bekerja dan membuat penyulang jatuh (trip) sehingga listrik padam. Gambar 4.5. Kawat Layang-Layang Menghubungkan 2 Kawat SUTM Gangguan penyulang oleh layang-layang juga dapat menyebabkan gangguan yang bersifat permanen dimana sistem baru bisa dioperasikan kembali apabila bagian yang terkena layang-layang dibersihkan dan bagian yang rusak diperbaiki atau diganti. Gangguan layang-layang sampai mengakibatkan
44 gangguan permanen ini memang jarang terjadi, tetapi perlu diwaspadai karena dampak yang ditimbulkannya sangat berbahaya, yaitu dapat mengakibatkan kawat SUTM putus yang berpotensi mengenai pemain layang-layang atau masyarakat sekitar. Hubung singkat yang terjadi karena kawat dan rangka layang-layang melilit di SUTM akan menimbulkan lompatan-lompatan api yang membuat saluran penghantar rapuh dan mempercepat penuaan penghantar. Ditambah lagi panas yang timbul akibat arus gangguan yang besar juga dapat merusak isolasi dan mengikis lapisan penghantar. Akibatnya, lama-kelamaan luas penampang penghantar semakin kecil dan kemampuan hantar arus yang dimilikinya menurun. Sehingga, ketika dalam kondisi tersebut penghantar tetap dialiri arus normal, penghantar atau kawat SUTM akan putus (broken conductor), seperti ditunjukkan pada Gambar 4.6. Adanya penghantar yang putus arah beban akan mengakibatkan beban tidak seimbang pada setiap fasanya. Hal ini membuat sistem pengaman relai broken conductor bekerja dan penyulang jatuh (trip). Gambar 4.6. Kawat SUTM Putus (Broken Conductor) Akibat Layang-Layang
45 4.2 Pengaruh Faktor Konstruksi Sistem Konstruksi sistem distribusi juga mempengaruhi kualitas dan kontinuitas pelayanan listrik terhadap pelanggan. Melihat jenis sistem penyalurannya, gangguan layang-layang hanya terjadi pada saluran udara (SUTM), sehingga pada jaringan distribusi yang banyak menggunakan saluran bawah tanah (SKTM) seperti, Penyulang Intan Satu (INTU) dan Talaga Bodas (TLBS) tidak sering terjadi gangguan penyulang oleh layang-layang. Sedangkan pada penyulang lainnya yang didominasi SUTM, seperti Penyulang Desa Kolot (DSKT), Cilawu (CLWU), Margawati (MGWT), Intan Tiga (INTI), Cogasong (CGSO), dan Suci, sering terjadi gangguan layang-layang. Hal ini juga didukung oleh peta wilayah rawan gangguan layang-layang pada Lampiran 20 yang menunjukkan bahwa wilayah-wilayah yang termasuk ke dalam daftar wilayah rawan gangguan layanglayang merupakan wilayah yang dicakup oleh penyulang dengan saluran udara (SUTM) saja. Data wilayah tersebut diberikan pada Tabel 4.1. Tabe 4.1. Data Wilayah Rawan Gangguan Layang-Layang No. Kecamatan Desa/Kelurahan Kampung Penyulang 1 Cilawu Kersamaju Cihideung, Cigasong Cikoneng, Cigasong 2 Cilawu Dayeuhmanggung Dayeuhmanggung Cigasong 3 Cilawu Karya Mekar Karya Mekar Cigasong 4 Cilawu Sukamukti Sukamukti Cigasong 5 Bayongbong Ciburuy Ciburuy DSKT 6 Bayongbong Sukarame Cibuntu, Cilimus DSKT 7 Bayongbong Sukasenang Radug DSKT 8 Bayongbong Cinisti Cinisti DSKT 9 Bayongbong Pamalayan Bebedahan, Cicayur, DSKT Caringin 10 Bayongbong Pangauban Situsari, Cipaganti, DSKT Pangauban 11 Bayongbong Cikedokan Cikedokan, DSKT Bunisakit 12 Sukaresmi Sukaresmi Sukaresmi DSKT
46 (Sambungan) Tabel 4.1. No. Kecamatan Desa/Kelurahan Kampung Penyulang 13 Tarogong Kidul Sukakarya Patrol INTI 14 Tarogong Kidul Cibunar Cibunar INTI 15 Tarogong Kidul Kersamenak Kersamenak INTI 16 Tarogong Kaler Cintakarya Pasir INTI 17 Tarogong Kaler Jayawaras Panawuan INTI 18 Tarogong Kaler Pananjung Pasawahan INTI 19 Tarogong Kaler Tanjungkemuning Tanjungkemuning INTI 20 Tarogong kaler Cintarasa Genteng, Cintarasa Suci 21 Cilawu Ngamplang Cimaragas Suci 22 Garut kota Kotakulon Galumpit, Wanasari, Suci 23 Garut kota Kotawetan Sukaregangkidul, Suci Bentar 24 Garut kota Sucikaler Sucipermai Suci 25 Garut kota Haurpanggung Ciawitali Suci 26 Garut kota Jayaraga Jayaragakaler Suci 27 Garutkota Sukagalih Cirengit Suci 28 Garut kota Sirnajaya Malayu Suci 29 Banyuresmi Sukasenang Bojongsalam Suci 30 Sucinaraja Lengkongjaya Lengkongjaya Cilawu 31 Karangpawitan Karangsari Cibolerang Cilawu 32 Karangpawitan Karangpawitan Timang Ayu Cilawu 33 Wanaraja Cikole Panyawenyan Cilawu 34 Wanaraja Tegalpanjang Tegalpanjang Cilawu 35 Sukawening Sukawening Sukawening Margawati 36 Sukawening Cihuni Cihuni Margawati 37 Sukawening Maripari Mariuk Margawati Dari hasil pengolahan data pemadaman listrik akibat gangguan penyulang diketahui bahwa jika diakumulasikan, penyulang dengan tingkat pemadaman akibat gangguan layang-layang paling tinggi tahun 2012-2013 adalah Penyulang Cigasong (CGSO). Berikut pada Gambar 4.7 dan Gambar 4.8 diberikan grafik gangguan per penyulang tahun 2012 dan 2013.
47 16 14 Jumlah Gangguan 12 10 8 6 4 2 Komponen JTM Alam Layang-layang Pohon Binatang 0 CGSO CLWU DSKT INTI INTU MGWT SUCI TLBS Penyulang Gambar 4.7. Grafik Gangguan Per Penyulang Tahun 2012 Jumlah Gangguan 20 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 CGSO CLWU DSKT INTI INTU MGWT SUCI TLBS Penyulang Komponen JTM Alam Layang-Layang Pohon Binatang Gambar 4.8. Grafik Gangguan Per Penyulang Tahun 2013 Jika dilihat dari bentuk jaringannya, Penyulang Cigasong (CGSO) memang memiliki kekurangan dibanding penyulang lainnya yang berbentuk rangkaian tertutup (loop), dimana jaringan Penyulang CGSO berbentuk radial. Hal ini membuat keandalan sistem rendah dan kondisi penyulang kurang dapat diandalkan apabila terdapat gangguan karena penyaluran tenaga listrik hanya dilakukan dengan menggunakan satusaluran saja. Jaringan dengan bentuk radial ketika mendapat gangguan, dalam hal ini yang disebabkan oleh layang-layang, akan menghentikan penyaluran tenaga listrik cukup lama sebelum gangguan tersebut diperbaiki kembali. Berbeda halnya dengan sistem rangkaian tertutup
48 (loop) yang apabila terjadi gangguan pada penyulang, maka penyulang yang lain dapat menggantikan untuk menyalurkan daya listrik. Material penyulang yang digunakan juga berperan besar dalam terjadinya pemadaman listrik akibat layang-layang. Secara keseluruhan, jenis material yang banyak digunakan pada penyulang saluran udara (SUTM) di Rayon Garut Kota adalah A3C yang merupakan kawat penghantar terbuka (tanpa isolasi). Kawat penghantar terbuka (tanpa isolasi) sangat rawan terhadap gangguan layang-layang. Hal ini karena kawat layang-layang yang menempel di penyulang akan bersifat sebagai konduktor/penghantar dan membuat hubung singkat pada sistem. Selain itu, kawat penghantar terbuka akan lebih cepat rapuh dibandingkan dengan kawat berisolasi. Terbukti dengan hasil pengamatan yang menunjukkan bahwa pada beberapa penyulang SUTM dengan material utama A3C, seperti Penyulang CGSO, SUCI, dan MGWT, sering terjadi padam akibat gangguan penyulang oleh layang-layang. Berbeda dengan penyulang SUTM yang menggunakan A3CS (kawat berisolasi) sebagai material utamanya, seperti Penyulang INTI, dimana frekuensi padam akibat gangguan penyulang oleh layang-layang lebih sedikit dibandingkan dengan penyulang lainnya. Jenis dan luas penampang material penghantar yang digunakan pada penyulang juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi besarnya arus gangguan hubung singkat. Untuk mengetahui besarnya arus gangguan hubung singkat yang dapat terjadi ketika layang-layang menempel atau membelit penyulang di Rayon Garut Kota, dilakukan perhitungan besarnya arus gangguan hubung singkat berdasarkan panjang penyulang, yaitu diasumsikan terjadi di 25%, 50%, 75%, dan 100% panjang penyulang. Berikut adalah langkah-langkah perhitungan arus gangguan hubung singkat pada penyulang Cigasong (CGSO): a. Menghitung Impedansi Sumber Data Hubung Singkat di bus sisi primer (150 kv) Gardu Induk Garut adalah sebesar 2.468 MVA. Maka impedansi sumber (Xs) adalah:
49 maka: Untuk mengetahui impedansi di ssi sekunder, yaitu di bus sisi 20 kv b. Menghitung Reaktansi Trafo Besarnya nilai Ohm pada 100 %, yaitu: Nilai reaktansi trafo tenaga: Reaktansi urutan positif dan negatif Reaktansi urutan nol Trafo mempunyai belitan delta, maka: c. Menghitung Impedansi Penyulang Berdasarkan data aset Rayon Garut Kota, total panjang penyulang CGSO adalah 31,753 kms. Jenis penghantar yang digunakan pada penyulang CGSO terdiri dari 4,718 kms tipe A3C 150 mm 2, 22,469 kms tipe A3C 70 mm 2, 0,860 kms tipe A3C 35 mm 2, 3,582 kms tipe A3CS 150 mm 2, dan 0,124 kms XLPE 240 mm 2. Impedansi A3C 150 mm 2 Impedansi A3C 70 mm 2
50 Impedansi A3C 35 mm 2 Impedansi A3CS 150 mm 2 Impedansi XLPE 240 mm 2 Impedansi Penyulang Total Hasil perhitungan impedansi penyulang dengan jarak 0%, 25%, 50%, 75%, dan 100% panjang penyulang diberikan pada Tabel 4.2 untuk urutan positif dan negatif, sedangkan Tabel 4.3 untuk urutan nol. Tabel 4.2. Impedansi Penyulang CGSO Urutan Positif dan Negatif % Panjang Penyulang Impedansi Penyulang ( 0 0 25 50 75 100 d. Menghitung Impedansi Ekivalen Jaringan Perhitungan dan
51 Hasil perhitungan dan diberikan pada Tabel 4.4. Tabel 4.3. Impedansi Penyulang CGSO Urutan Nol % Panjang Penyulang Impedansi Penyulang ( 0 0 25 50 75 100 Tabel 4.4. Impedansi Ekivalen Jaringan dan % Panjang Penyulang Impedansi Ekivalen ( dan 0 25 50 75 100 Perhitungan Hasil perhitungan diberikan pada Tabel 4.5. Tabel 4.5. Impedansi Ekivalen Jaringan % Panjang Penyulang Impedansi Ekivalen ( 0 25 50 75 100
52 e. Menghitung Arus Gangguan Hubung Singkat Jenis gangguan hubung singkat yang dapat terjadi karena menempelnya layang-layang pada SUTM adalah gangguan 1 fasa ke tanah, 2 fasa, 2 fasa ke tanah, dan 3 fasa. Dengan memasukkan nilai-nilai yang telah didapat sebelumnya ke dalam persamaan 2.1, 2.2, 2.3, dan 2.4, diperoleh besarnya arus gangguan hubung singkat yang dapat terjadi pada penyulang CGSO di titik 0%, 25%, 50%, 75%, dan 100% panjang penyulang. Dengan menggunakan langkah perhitungan yang sama, maka dapat diketahui pula berapa besar arus gangguan hubung singkat yang terjadi pada penyulang lainnya. Adapun hasil perhitungan diberikan pada Tabel 4.6. Dari hasil perhitungan terlihat bahwa selain jenis material penghantar yang digunakan, jarak atau lokasi terjadinya gangguan, dalam hal ini titik menempelnya layang-layang pada SUTM, juga mempengaruhi besarnya arus gangguan yang terjadi. Semakin dekat dengan sumber, arus gangguan hubung singkat yang dihasilkan semakin besar. Tabel 4.6. Arus Gangguan Hubung Singkat Pada Penyulang Di Rayon Garut Kota Panjang Penyulang Jarak Arus Hubung Singkat 2 fasa ke 3 fasa (A) 2 fasa (A) tanah (A) 1 fasa ke tanah (A) CGSO 0% 0 3849 5000 5787,212053 163,3805539 25% 7,93825 1693,800263 1719,035754 1211,77836 154,0554829 50% 15,8765 1057,634189 1008,291834 660,1952054 144,7806473 75% 23,8148 767,9068507 712,4039473 455,1385545 136,072867 100% 31,753 602,6169072 550,6175196 348,210541 127,9956694 DSKT 0% 0 3849 5000 5787,212053 163,3805539 25% 3,57725 2467,180629 2717,213336 2167,608598 159,1408297 50% 7,1545 1757,503702 1795,295333 1276,611055 154,65381 75% 10,7318 1360,235405 1335,296788 902,8106402 150,2232225 100% 14,309 1108,475029 1061,907724 698,7727021 145,8940504
53 (Sambungan) Tabel 4.6. Panjang Penyulang CLWU Jarak 3 fasa (A) 2 fasa (A) Arus Hubung Singkat 2 fasa ke tanah (A) 1 fasa ke tanah (A) 0% 0 3849 5000 5787,212053 163,3805539 25% 6,03 2208,707621 2365,215749 1802,034503 157,6643474 50% 12,06 1498,237407 1490,967065 1024,782191 151,7641007 75% 18,09 1130,622995 1085,428258 715,813148 146,056944 100% 24,12 907,2922575 852,74171 550,7612442 140,5855327 INTI 0% 0 3849 5000 5787,212053 163,3805539 25% 9,997 1797,839723 1844,097002 1318,703234 154,6561096 50% 19,994 1135,174309 1090,274023 719,3331183 146,068728 75% 29,991 828,0859975 772,5465446 495,7652754 138,0917755 100% 39,988 651,5325916 597,9849851 379,1630089 130,7256023 SUCI 0% 0 3849 5000 5787,212053 163,3805539 25% 9,59125 1863,645394 1924,58654 1389,303486 155,3784235 50% 19,1825 1202,053857 1161,972078 771,9670438 147,3027908 75% 28,7738 885,9446575 831,010279 535,7297731 139,570824 100% 38,365 701,260873 646,5773008 411,1245384 132,265355 MGWT 0% 0 3849 5000 5787,212053 163,3805539 25% 23,4428 852,1284863 796,7636499 512,2906631 139,0539544 50% 46,8855 472,0416373 426,2242998 268,2193094 118,7045728 75% 70,3283 326,3549041 290,8521759 182,988364 102,5621187 100% 93,771 249,3740569 220,7313803 139,3558391 89,79397013 INTU 0% 0 8074,825175 8474,576271 6251,439661 509,8156382 25% 7,8205 4643,362089 4470,720962 2947,497259 477,9002651 50% 15,641 3106,040217 2883,843012 1834,088372 447,1253024 75% 23,4615 2318,081385 2113,595336 1326,398146 419,3060874 100% 31,282 1845,68521 1664,942589 1039,445455 394,326063
54 (Sambungan) Tabel 4.6. Panjang Arus Hubung Singkat Penyulang Jarak 3 fasa (A) 2 fasa (A) 2 fasa ke tanah (A) 1 fasa ke tanah (A) TLBS 0% 0 8074,825175 8474,576271 6251,439661 509,8156382 25% 3,6205 6185,932979 6185,613334 4267,086079 495,4710017 50% 7,241 4840,185787 4682,410308 3103,494931 480,6421444 75% 10,8615 3934,381218 3724,538945 2412,002209 466,1507181 100% 14,482 3301,211045 3079,000434 1965,942967 452,2216124 4.3 Pengaruh Faktor Cuaca dan Iklim Secara umum iklim di wilayah Kabupaten Garut dapat dikatagorikan sebagai daerah beriklim tropis basah (humid tropical climate) karena termasuk tipe Af sampai Am dari klasifikasi iklim Koppen. Berdasarkan studi data sekunder, iklim dan cuaca di daerah Kabupaten Garut dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu pola sirkulasi angin musiman (monsoonal circulation pattern), topografi regional yang bergunung-gunung di bagian tengah Jawa Barat; dan elevasi topografi di Bandung. Curah hujan rata-rata tahunan di sekitar Garut berkisar antara 2.589 mm dengan bulan basah 9 bulan dan bulan kering 3 bulan, sedangkan di sekeliling daerah pegunungan mencapai 3500-4000 mm. Variasi temperatur bulanan berkisar antara 24 C - 27 C. Besaran angka penguap keringatan (evapotranspirasi) menurut Iwaco-Waseco (1991) adalah 1572 mm/tahun. Selama musim hujan, secara tetap bertiup angin dari Barat Laut yang membawa udara basah dari Laut Cina Selatan dan bagian barat Laut Jawa. Pada musim kemarau, bertiup angin kering bertemperatur relatif tinggi dari arah Australia yang terletak di tenggara. [20] Pada Gambar 4.4, grafik gangguan penyulang akibat layang-layang rayon garut kota tahun 2012 dan 2013, menunjukkan bahwa selama bulan Januari hingga April jarang terjadi padam akibat gangguan layang-layang. Pada bulan Mei-Desember, padam akibat gangguan layang-layang mengalami peningkatan. Pemadaman akibat gangguan layang-layang paling sering terjadi selama bulan
55 Agustus sampai dengan Oktober. Hal ini berarti selama 4 bulan, dari Januari sampai April merupakan bulan kering (musim kemarau) dan selama 8 bulan, dari Mei sampai Desember termasuk bulan basah (musim hujan). Bagaimana faktor cuaca dan iklim dapat mempengaruhi pemadaman yang terjadi akibat layang-layang? Permainan layang-layang banyak dilakukan di musim kemarau. Jumlah layang-layang di udara semakin bertambah dan semakin besar pula ukurannya. Hal ini menjadi sangat merugikan, karena banyak layanglayang yang tersangkut di SUTM dan menyebabkan listrik padam. Pada musim ini, padam yang terjadi hanya disebabkan oleh kawat layang-layang yang menempel di SUTM saja. Benang dan rangka layang-layang yang ikut menempel atau melilit di SUTM tidak turut menjadi penyebab pemadaman. Sedangkan pada musim hujan permainan layang-layang berkurang. Tetapi, tidak sama halnya dengan gangguan penyulang yang diakibatkan oleh layanglayang. Hal ini dikarenakan kawat, bahkan benang dan rangka layang-layang yang bukan terbuat dari bahan logam, jika dalam keadaan basah (akibat hujan atau embun) dapat berubah sifat sebagai konduktor yang mengalirkan arus listrik dan dapat membuat terjadinya hubung singkat fasa ke tanah ataupun antar fasa yang mengakibatkan terjadinya pemadaman. Oleh karena itu, padam akibat gangguan layang-layang lebih banyak terjadi di musim hujan dibandingkan dengan musim kemarau. Sehingga, untuk mencegah hal ini perlu dilakukan operasi rutin pembersihan SUTM dari sampah layang-layang selama musim kemarau berlangsung, agar saat menghadapi musim hujan tidak ada lagi kawat, rangka, dan benang layang-layang yang menempel di SUTM yang berpotensi menyebakan gangguan pada penyulang dan mengakibatkan pemadaman. 4.4 Dampak Dari Gangguan Layang-Layang Pemadaman yang terjadi akibat adanya gangguan penyulang oleh layanglayang dapat menimbulkan beberapa kerugian, seperti kerugian pihak PLN, terhentinya pasokan listrik, kerusakan pada peralatan sistem, dan dapat mengancam keselamatan manusia, baik pemain layang-layang maupun masyarakat di sekitar SUTM.
56 4.4.1 Kerusakan Peralatan Kawat layang-layang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada peralatan. Kerusakan akibat arus gangguan ini tergantung pada besar dan lamanya arus gangguan. Contoh kerusakan tersebut diberikan pada Gambar 4.9. Gambar 4.9. Akibat Layang-Layang Pada Penyulang Gangguan hubung singkat yang diakibatkan oleh layang-layang dapat menimbulkan panas pada penghantar. Saat penghantar dialiri arus, ada dua titik dengan media udara yang bersifat sebagai penghantar yang mempunyai tahanan besar, sehingga penghantar tersebut panas sesuai dengan persamaan 4.1 dan 4.2. (4.1) (4.2) dimana: I = arus gangguan (Amp) R = tahanan penghantar/konduktor (Ohm) t = waktu lamanya arus ganggan (detik)
57 Pemanasan berlebih akan menaikkan suhu penghantar yang dialiri arus gangguan. Jika terlalu lama, suhu penghantar akan terlalu tinggi sehingga dapat merusak isolasi juga penghantar tersebut atau mempercepat penuaannya. Tidak hanya merusak penghantar, tetapi gangguan layang-layang ini juga dapat membuat penghantar putus. Hubung singkat yang terjadi karena kawat dan rangka layang-layang melilit di SUTM akan menimbulkan lompatan-lompatan api dan panas atau termal akibat arus gangguan yang besar. Hal ini akan merusak isolasi dan mengikis lapisan penghantar. Semakin lama luas penampang penghantar menjadi semakin kecil dan kemampuan hantar arus yang dimilikinya menurun. Apabila dalam kondisi tersebut penghantar tetap dialiri arus normal yang melebihi kapasitas hantar arusnya sekarang, maka kawat SUTM akan putus, seperti ditunjukkan pada Gambar 4.7. 4.4.2 Ancaman Keselamatan Bagi Manusia Akibat dari layang-layang ini tidak hanya merusak peralatan, tetapi juga sangat berbahaya bagi manusia. Panasnya penghantar yang diakibatkan oleh terjadinya gangguan hubung singkat dapat melepas uliran dari penghantar dan membuatnya terurai. Uraian dari penghantar (bundle conductor) ini akan menggantung, dan akan sangat berbahaya apabila terjangkau oleh manusia atau pohon karena bisa menyebabkan terkena sengatan listrik. Apabila kawat SUTM putus, pada sisi hilir (downstream), ketika kawat menyentuh tanah akan mengalir arus balik (feedback) dari fasa lain yang bernilai sangat besar dan berbahaya bagi manusia. Ilustrasi peristiwa ini diberikan pada Gambar 4.10. Selain itu, saat layang-layang tersangkut ke SUTM, para pemainnya berusaha untuk menarik kembali layang-layang tersebut supaya terlepas dari SUTM. Hal ini sangat berbahaya, karena orang yang menarik layang-layang tersebut dapat terkena tegangan sentuh sebesar 20 kv, seperti ilustrasi yang diberikan pada Gambar 4.11. Padahal tubuh manusia dengan tahanan 2000-3000 Ω hanya mampu menerima tegangan maksimum AC sebesar 50 V, arus terasa sebesar 0,9 ma, dan arus yang dapat menyebabkan kematian > 50-100 ma.
58 Gambar 4.10. Terjadinya Arus Balik Saat Konduktor di Sisi Hilir Menyentuh Tanah [19] Gambar 4.11. Ilustrasi Pemain Layang-Layang Terkena Tegangan Sentuh
59 4.4.3 Kerugian PLN Akibat dari sering terjadinya pemadaman yang disebabkan gangguan penyulang oleh layang-layang di Rayon Garut Kota, jumlah kwh listrik yang tidak terjual pun semakin tinggi dan merugikan pihak PLN. Besar kwh tidak terjual dan kerugian yang dirasakan PLN dapat dihitung dengan cara berikut. dimana: I = Arus (Ampere) t = Lama terjadinya gangguan (jam) = Faktor daya (0,85) Sebagai contoh perhitungan, pada tanggal 1 Januari 2012 terjadi gangguan penyulang akibat layang-layang yang mengakibatkan pemadaman listrik pada pukul 14:02-14:05 dengan nilai arus 32 A. Besar kerugian PLN adalah sebagai berikut: ( ) Setelah dilakukan perhitungan, diketahui bahwa akibat dari gangguan layang-layang di Rayon Garut Kota pada tahun 2012, 10.776,3 kwh tidak tersalurkan dengan nilai jual per kwh adalah Rp 685,00 yang mengakibatkan PLN merugi sebesar Rp 7.381.775,00. Sedangkan pada tahun 2013, seiring dengan bertambahnya frekuensi gangguan layang-layang yang terjadi, bertambah besar pula kerugian yang dialami PLN. Sebesar 46.771,7 kwh tidak tersalurkan dengan nilai jual per kwh adalah Rp 715,00. Akibatnya, PLN merugi sebesar Rp 33.441.768,00. Rincian perhitungan kerugian PLN tahun 2012 dan 2013 diberikan pada Lampiran 5 dan Lampiran 6.
60 4.4.4 Keandalan Sistem Distribusi PLN Tingginya persentase pemadaman yang terjadi akibat gangguan penyulang oleh layang-layang mempengaruhi keandalan sistem distribusi yang diukur dengan menggunakan indeks keandalan SAIFI dan SAIDI. SAIFI menunjukkan rata-rata frekuensi padam pada setiap pelanggan, sedangkan SAIDI menunjukkan rata-rata lama pemadaman pada sistem. Oleh karena itu, semakin kecil nilai SAIFI dan SAIDI maka akan semakin bagus keandalan suatu sistem distribusi. 4.4.4.1 Indeks Rata-Rata Frekuensi Pemadaman (SAIFI) Rayon Garut Kota Berdasarkan data pemadaman di Area Garut Rayon Garut Kota tahun 2012, dapat dihitung nilai SAIFI per penyebab pemadaman dengan menggunakan persamaan 2.8. Berikut pada Tabel 4.7 diberikan rincian nilai SAIFI per penyebab pemadaman tahun 2012. Tabel 4.7. SAIFI Per Penyebab Pemadaman Rayon Garut Kota Tahun 2012 No. Penyebab Pemadaman Total SAIFI Rata-rata 1 Kelompok Sambungan Tenaga Listrik &APP 2,9703076019 0,2475256335 2 Kelompok Jaringan Tegangan Rendah 0,1254408307 0,0104534026 3 Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) 2,1868730408 0,1822394201 4 Saluran Kabel Tegangan Menengah (SKTM) 0,0000097962 0,0000008164 Jumlah Total 5,2826312696 0,4402192725 Nilai SAIFI tahun 2012 menunjukkan bahwa setiap pelanggan mengalami 5,2826312696 kali pemadaman/tahun, dimana nilai ini melebihi target kinerja Rayon Garut Kota, yaitu sebesar 4,2 pemadaman/pelanggan/tahun. Dari hasil rekap data pemadaman di Area Garut Rayon Garut Kota tahun 2012 diketahui pula bahwa telah terjadi 121 kali pemadaman yang disebabkan SUTM dengan jumlah pelanggan padam sebanyak 16.367 pelanggan. Dan dari 121 kali pemadaman tersebut, 26 pemadaman (21%) diantaranya disebabkan oleh gangguan penyulang akibat layang-layang. Maka, nilai SAIFI akibat gangguan penyulang oleh layang-layang adalah sebagai berikut:
61 pemadaman/pelanggan /tahun. Adapun nilai SAIFI per penyebab pemadaman tahun 2013 diberikan pada Tabel 4.8. Hasilnya menunjukkan bahwa pada tahun 2013 setiap pelanggan mengalami 6,2565408098 kali pemadaman/tahun. Nilai ini lebih besar dari tahun sebelumnya dan melebihi target kerja yang ditetapkan, yaitu sebesar 5,2 pemadaman/pelanggan/tahun. Hal ini berarti tingkat keandalan SAIFI tahun 2013 lebih buruk daripada tahun 2012. Tabel 4.8. SAIFI Per Penyebab Pemadaman Rayon Garut Kota Tahun 2013 No. Penyebab Pemadaman Total SAIFI Rata-rata 1 Kelompok Sambungan Tenaga Listrik &APP 3,7461041680 0,3121753473 2 Kelompok Jaringan Tegangan Rendah 1,4877412624 0,1239784385 3 Kelompok Transformator Gardu Distribusi 0,0084933178 0,0007077765 4 Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) 1,0142020616 0,0845168385 Jumlah Total 6,2565408098 0,5213784008 Dari total 150 pemadaman yang terjadi oleh karena disebabkan masalah pada SUTM, 66 gangguan (44%) diantaranya disebabkan oleh gangguan penyulang akibat layang-layang. Total jumlah pelanggan padam akibat masalah SUTM adalah sebanyak 11.524 pelanggan. Maka, nilai SAIFI gangguan penyulang akibat layang-layang pada tahun 2013 dapat dihitung dengan cara berikut. pemadaman/pelanggan /tahun. Walaupun angka gangguan penyulang akibat layang-layang pada tahun 2013 lebih banyak dari tahun 2012, tetapi nilai SAIFI per penyebab layang-layang tahun 2013 lebih kecil dari tahun 2012. Hal ini karena dipengaruhi oleh jumlah pelanggan padam pada tahun 2012 yang lebih besar dari tahun 2013.
62 4.4.4.2 Indeks Rata-Rata Lama Pemadaman (SAIDI) Rayon Garut Kota Pada Tabel 4.9 diberikan nilai SAIDI per penyebab pemadaman di Rayon Garut Kota tahun 2012 yang dihitung menggunakan persamaan 2.10. Jumlah total keseluruhan data menunjukkan nilai SAIDI Rayon Garut Kota pada tahun 2012 adalah 1,7105067594 jam padam/pelanggan/tahun, dimana nilai tersebut melebihi target yang ditetapkan yaitu 0,98 jam padam/pelanggan/tahun. Dari semua penyebab pemadaman nilai SAIDI pemadaman akibat SUTM merupakan yang paling besar. Lama pemadaman total akibat masalah SUTM pada tahun 2012 adalah 57,27 jam dengan jumlah pelanggan padam sebanyak 16.367 pelanggan. Dari total lama padam tersebut, 182 menit (5,3%) pemadaman tersebut diakibatkan gangguan penyulang oleh layang-layang. Sehingga nilai SAIDI gangguan penyulang oleh layang-layang tahun 2012 dapat dihitung sebagai berikut. jam padam/pelanggan /tahun. Tabel 4.9. SAIDI Per Penyebab Pemadaman Rayon Garut Kota Tahun 2012 No. Penyebab Pemadaman Total SAIDI Rata-rata 1 Kelompok Sambungan Tenaga Listrik &APP 0,619566321 0,051630527 2 Kelompok Jaringan Tegangan Rendah 0,022721787 0,001893482 3 Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) 1,068210815 0,089017568 4 Saluran Kabel Tegangan Menengah (SKTM) 0,000007837 0,000000653 Jumlah Total 1,7105067594 0,1425422300 Sedangkan, pada tahun 2013 diperoleh hasil perhitungan nilai SAIDI sebesar 3,4081729816 jam padam/pelanggan/tahun. Nilai ini melebihi target kerja SAIDI tahun 2013 yang ditetapkan sebesar 2,34 jam padam/pelanggan/tahun. Nilai SAIDI per penyebab pemadaman tahun 2013 diberikan pada Tabel 4.10. Lama pemadaman total akibat masalah SUTM sepanjang tahun 2013 adalah 49,18 jam dengan jumlah pelanggan padam sebanyak 11.524 pelanggan. Dari total lama padam tersebut, 1336 menit (45,3%) diakibatkan gangguan
63 penyulang oleh layang-layang. Maka nilai SAIDI gangguan penyulang oleh layang-layang adalah sebagai berikut: jam padam/pelanggan /tahun. Tabel 4.10. SAIDI Per Penyebab Pemadaman Rayon Garut Kota Tahun 2013 No. Penyebab Pemadaman Total SAIDI Rata-rata 1 Kelompok Sambungan Tenaga Listrik &APP 2,786708839 0,232225737 2 Kelompok Jaringan Tegangan Rendah 0,306759094 0,025563258 3 Kelompok Transformator Gardu Distribusi 0,001453856 0,000121155 4 Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) 0,313251192 0,026104266 Jumlah Total 3,4081729816 0,2840144151 4.5 Upaya Penekanan Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang Melihat frekuensi gangguan layang-layang yang semakin meningkat dan besarnya kerugian yang dihasilkan, maka perlu dilakukan upaya penekanan gangguan seoptimal mungkin agar keandalan sistem dan kualitas serta kontinuitas pelayanan pasokan listrik terhadap pelanggan dapat ditingkatkan. Dengan mempertimbangkan hasil analisis terhadap karakteristik penyebab pemadaman akibat gangguan layang-layang, faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan dampak yang ditimbulkan, upaya untuk menekan gangguan penyulang akibat layang-layang dapat dilakukan secara teknis maupun non-teknis. Upaya teknis untuk menekan gangguan layang-layang adalah sebagai berikut: 1. Mengganti kawat penghantar terbuka (tak berisolasi) A3C dengan kawat penghantar berisolasi A3CS. Dengan demikian dapat mengurangi resiko terhubungnya antar fasa penghantar yang disebabkan karena menempelnya layang-layang pada penyulang.
64 2. Menggunakan Grounding Steel Wire (GSW) untuk mencegah kawat layang-layang langsung menempel ke saluran penghantar. Konstruksi pemasangan GSW diberikan pada Lampiran 17. 3. Operasi pembersihan layang-layang yang menempel di penyulang secara rutin di daerah-daerah yang berpotensi gangguan. Upaya non-teknis untuk mengatasi gangguan layang-layang, diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Sosialisasi di daerah potensi bermain layangan yang tinggi untuk menghindari bermain layangan di dekat jaringan PLN. 2. Pemasangan/penyebaran spanduk mengenai bahaya bermain layangan di dekat jaringan PLN. 3. Mensosialisasikan langsung kepada pengguna dan produsen layangan mengenai kerugian yang akan timbul bila bermain layangan tidak pada tempatnya serta penggunaan bahan layangan yang tidak seharusnya. 4. Berkordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk menjadikan perhatian khusus terhadap penggunaan layangan yang tidak sewajarnya (dari segi dimensi dan bahan benang yang digunakan). Beberapa contoh sosialisasi bahaya bermain layangan di dekat jaringan PLN ditunjukkan pada Gambar 4.12. Gambar 4.12. Sosialisasi Bahaya Bermain Layang-Layang Di Dekat Jaringan PLN
65 4.6 Evaluasi Hasil Penekanan Gangguan Layang-Layang Hasil dari upaya penekanan gangguan penyulang akibat layang-layang dapat dilihat dari angka gangguan layang-layang yang terjadi pada tahun 2014, apakah jumlah gangguan tersebut mengalami penurunan atau tidak. Berikut pada Gambar 4.13 diberikan perbandingan gangguan penyulang akibat layang-layang dari tahun 2012 sampai bulan September tahun 2014 di Rayon Garut Kota. Jumlah Gangguan 16 14 12 10 8 6 4 2 0 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 Bulan Gambar 4.13. Grafik Perbandingan Gangguan Penyulang Akibat Layang-Layang Tahun 2012-2014 Total gangguan penyulang akibat layang-layang pada tahun 2012 adalah 26 gangguan, meningkat pada tahun 2013 menjadi sebanyak 66 gangguan, dan pada tahun 2014 terhitung ada 34 gangguan penyulang akibat layang-layang yang terjadi sampai bulan September 2014. Angka tersebut menunjukkan telah terjadi penurunan tingkat gangguan yang terjadi dibandingkan dengan tahun 2013. Beberapa gangguan penyulang akibat layang-layang yang masih terjadi dapat disebabkan beberapa faktor, seperti penggantian kawat terbuka A3C ke kawat berisolasi A3CS dan pemasangan grounding steel wire (GSW) yang belum menyeluruh, masih terdapatnya layang-layang di beberapa titik SUTM yang menyebabkan gangguan penyulang, serta sosialisasi mengenai bahaya bermain layang-layang di sekitar SUTM terhadap masyarakat yang masih kurang efektif, sehingga masih banyak permainan layang-layang yang dilakukan di sekitar jaringan PLN.
66 4.7 Perencanaan Optimasi Penyulang Dari Gangguan Layang-Layang Untuk meningkatkan hasil penekanan gangguan layang-layang, pada subbab ini akan dibuat perencanaan optimasi penyulang dengan mengganti kawat terbuka (tanpa isolasi) A3C menjadi kawat berisolasi A3CS. Solusi ini merupakan solusi terbaik untuk mencegah agar layang-layang yang menempel atau melilit di SUTM tidak akan langsung menyebabkan gangguan pada penyulang, sehingga angka pemadaman dapat menurun. Rencana penggantian kawat A3C ke A3CS dilakukan pada penyulang dengan angka gangguan layang-layang tinggi, yaitu penyulang CGSO, MGWT, dan SUCI. Berikut pada Tabel 4.11 diberikan data panjang kawat A3C pada ketiga penyulang tersebut. Tabel 4.11. Data Panjang Penggantian Kawat A3C No. Penyulang Panjang Kawat A3C 1 CGSO 28,047 kms 2 MGWT 63,574 kms 3 SUCI 23,585 kms Dengan melakukan penggantian kawat A3C, seluruh jenis material yang menyusun ketiga penyulang tersebut akan berubah menjadi kawat berisolasi A3CS. Sehingga, angka kerugian pihak PLN dapat diturunkan. Kerugian pihak PLN setelah dilakukan penggantian kawat A3C menjadi A3CS diberikan pada Tabel 4.12. Dengan optimasi jaringan pada penyulang CGSO, MGWT, dan SUCI, kerugian yang dialami PLN akibat gangguan layang-layang adalah sebesar Rp 10.936.741,00 dengan 15.296,1 kwh tak terjual. Ini berarti kerugian PLN telah berkurang sebanyak Rp 22.505.027,00 dari kerugian akibat gangguan layanglayang pada tahun 2013. Selain itu, dampak positif lain dari penggantian kawat A3C menjadi A3CS ini juga dapat meningkatkan keandalan sistem distribusi, dimana pada tahun 2013 nilai SAIFI dan SAIDI belum memenuhi target kerja yang telah ditetapkan Rayon Garut Kota.
67 Tabel 4.12. Estimasi Kerugian PLN Setelah Optimasi Jaringan No. Penyulang Amp Durasi (mnt) kwh tak tersalurkan Rupiah 1 INTI 195 20 1.911,7 1.366.830 2 INTU 80 30 1.176,4 841.126 3 INTU 85 15 625,0 446.848 4 INTI 175 23 1.972,9 1.410.638 5 INTI 216 11 1.164,6 832.715 6 DSKT 124 6 364,7 260.749 7 DSKT 185 14 1.269,5 907.715 8 INTI 121 4 237,2 169.627 9 TLBS 145 50 3.553,7 2.540.901 10 DSKT 212 26 2.701,8 1.931.786 11 INTI 130 5 318,6 227.805 TOTAL 1336 15.296,1 10.936.741 Dengan melihat grafik gangguan per penyulang tahun 2013 pada Gambar 4.8 diketahui jumlah padam akibat gangguan layang-layang pada ketiga penyulang yang dioptimasi adalah sebanyak 55 kali padam. Ini berarti, dari total 150 kali pemadaman yang terjadi oleh karena disebabkan masalah pada SUTM, 55 kali padam atau sebesar 37% telah berkurang. Sehingga SAIFI sistem setelah optimasi dapat dihitung dengan cara sebagai berikut. pemadaman/pelanggan/tahun Nilai SAIFI setelah dioptimasi tersebut menunjukkan peningkatan dari nilai sebelumnya di tahun 2013. Walaupun masih belum memenuhi target kerja yang ditetapkan sebesar 5,2 kali pemadaman/pelanggan/tahun, nilai SAIFI setelah optimasi ini sudah mendekati target kerja. Sedangkan untuk melihat dampak optimasi jaringan pada parameter SAIDI, dilihat dari durasi pemadaman pada penyulang yang diakibatkan layanglayang pada tahun 2013. Lama pemadaman total akibat layang-layang pada ketiga
68 penyulang yang dioptimasi adalah sebesar 1132 menit, yang berarti mengurangi 38% dari SAIDI SUTM. Nilai SAIDI sistem setelah dioptimasi dapat dihitung dengan menggunakan cara berikut. jam padam/pelanggan/tahun Dari hasil perhitungan di atas, terlihat bahwa nilai SAIDI setelah dioptimasi lebih kecil dari sebelum optimasi. Hal tersebut menunjukkan peningkatan pada parameter SAIDI yang semakin mendekati target kerja Rayon Garut Kota. Secara keseluruhan, perencanaan hasil optimasi jaringan dengan mengganti kawat terbuka A3C menjadi kawat berisolasi A3CS menunjukkan penurunan kerugian pada pihak PLN dan peningkatan keandalan sistem distribusi. Tetapi kendala di dalam optimasi ini adalah dari segi biaya penggantian yang mahal. Sebagai solusi alternatif yang lebih ekonomis, optimasi jaringan dapat dilakukan dengan memasang GSW (Grounding Steel Wire) pada jaringan.
BAB 5 KESIMPULAN Dari hasil analisis yang dilakukan, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Jenis gangguan yang disebabkan oleh menempel atau membelitnya layang-layang pada SUTM dapat berupa gangguan hubung singkat 3 fasa, 2 fasa, 2 fasa ke tanah, 1 fasa ke tanah, dan putusnya kawat penghantar. 2. Dampak dari gangguan penyulang akibat layang-layang dapat merugikan pihak PLN dan konsumen dikarenakan terhentinya pasokan listrik, menurunnya keandalan sistem distribusi, kerusakan pada peralatan sistem, dan berbahaya bagi manusia karena bisa terkena sengatan listrik apabila mengenai bagian peralatan (kawat penghantar) yang rusak atau putus. 3. Solusi secara teknis yang dapat dilakukan untuk menekan gangguan penyulang oleh layang-layang adalah penggantian kawat terbuka dengan penghantar berisolasi, penggunaan GSW (Grounding Steel Wire), dan operasi rutin pembersihan SUTM dari sampah layang-layang. 4. Solusi non-teknis dalam upaya menekan terjadinya pemadaman akibat gangguan layang-layang adalah dengan sosialisasi kepada masyarakat akan bahaya bermain layang-layang di dekat jaringan PLN melalui berbagai media, baik cetak maupun elektronik. 69
70 DAFTAR ACUAN [1] Sarimun, Wahyudi. (2011). Buku Saku Pelayanan Teknik. Kota Depok: Garamond. [2] Rendra, Prambudhi Setyo. (2010). Analisa Penentuan Lokasi Dan Jumlah Sectionalizer Untuk Peningkatan Keandalan Sistem Distribusi. Tesis. 11 November 2014. Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. http://digilib.its.ac.id/its-undergraduate-3100009036635/8336 [3] Buku AST (Yusreni Warmi). (t.d.). 30 September 2014. http://www.academia.edu/6383668/buku_ast_yusreni_warmi_ [4] (t.p.). (2008). Sistem Distribusi Tenaga Listrik. 14 Oktober 2014. [5] Kadir, Abdul. (2000). Distribusi dan Utilisasi Tenaga Listrik. Jakarta: (UI-Press). [6] Courtney, Martin. (15 Oktober 2013). Whatever Happened To Broadband Over Power Line?. Engineering and Technology Magazine. 4 November 2014. http://eandt.theiet.org/magazine/2013/10/broadband-over-powerline.cfm [7] Edvard. (22 Oktober 2010). Types of Underground Lines. Electrical Engineering Portal. 4 November 2014. http://electrical-engineeringportal.com/types-of-underground-lines [8] Suswanto, Daman. (25 November 2010). Bab 2 Klasifikasi Jaringan Distribusi.Sistem Distribusi Tenaga Listrik. [9] Hammer, Cutler. (1999). Learning Module 3: Fundamentals Of Electrical Distribution. Fundamentals Of Electrical Distribution. 15 November 2014. http://electrical-engineering-portal.com/download-center/books-andguides/electrical-engineering/fundamentals-of-electrical-distribution [10] Sarimun, Wahyudi. (2012). Proteksi Sistem Distribusi Tenaga Listrik. Kota Depok: Garamond. [11] (t.p.). (2011). Memahami Pemadaman Listrik. PT PLN (Persero) Distribusi Lampung. 11 November 2014. http://www.pln.co.id/lampung/?p=3408
71 [12] (t.d.). Vacuum Circuit Breaker/Outdoor. Direct Industry: The Online Industrial Exhibition. 25 November 2014. http://www.directindustry.com/prod/cg-power-systems/vacuum-circuitbreakers-outdoor-13988-693221.html [13] Newton, Gerald. (2008). 2008 NEC Change Test 7. 25 November 2014. http://www.electrician2.com/2008nec_pract_tests/nec803/nec807.htm [14] (t.d.). Outdoor Indoor Load Break Switch. Power Protection. 25 November 2014. http://www.powerprotection.co.in/outdoor-indoor-load-breakswitch.htm [15] (t.p.). (11 November 2013). Energy Management: Disconnect Switch For Line Sectionalizing, Isolation Of Distribution Circuits. Utility Products. 25 November 2014. http://www.utilityproducts.com/articles/2013/11/energymanagement-disconnect-switch-for-line-sectionalizing-isolation-ofdistribution-circuits.html [16] (t.p.) (2010). Buku 5: Standar Konstruksi Jaringan Tegangan Menengah Tenaga Listrik. PT. PLN (Persero). [17] Edvard. (15 Juli 2012). Autoreclosing in Transmission and Distribution Systems. Electrical Engineering Portal. 25 November 2014. http://electrical-engineering-portal.com/autoreclosing-in-transmission-anddistribution-systems [18] (t.d.). Distribution Systems: Protective Equipment. United States Department Of Labor. 25 November 2014. https://www.osha.gov/sltc/etools/electric_power/illustrated_glossary/dis tribution_system/protective_equipment.html [19] (t.p.). (29 Juni 2009). Kesalahan Setting Relay Pembatas Beban F49. 25 November 2014. https://bincanglistrik.wordpress.com/category/proteksi/ [20] (t.p.). (2014). Profil Daerah Kabupaten Garut. 11 Januari 2015. http://jabarprov.go.id/index.php/pages/id/1045
72 DAFTAR PUSTAKA Coffer, Walter. Faulkenberry, Luces M. 1996. Electrical Power Distribution and Transmission. New Jersey: Prentice-Hall, Inc. Sarimun, Wahyudi. 2012. Proteksi Sistem Distribusi Tenaga Listrik. Depok: Garamond. Sarimun, Wahyudi. 2011. Buku Saku Pelayanan Teknik. Depok: Garamond. SPLN41-10: 1991. Penghantar Aluminium Paduan Berselubung Polietilen Ikat Silang (AAAC-S). Affandi, Irfan. 2009. Analisa Setting Relai Arus Lebih Dan Relai Gangguan Tanah Pada Penyulang Sadewa Di GI Cawang. Depok: Universitas Indonesia. Kelompok Kerja Standar Kontruksi Jaringan Disribusi Tenaga Listrik dan Pusat Penelitian Sains dan Teknologi. 2010. Buku 1 Kriteria Desain Enjinering Kontruksi Jaringan Disribusi Tenaga Listrik. Jakarta: PT. PLN (Persero). Kelompok Kerja Standar Kontruksi Disribusi Jaringan Tenaga Listrik dan Pusat Penelitian Sains dan Teknologi. 2010. Buku 5 Standar Kontruksi Jaringan Tegangan Menengah Tenaga Listrik. Jakarta: PT. PLN (Persero).
73 Lampiran 1. Data Aset Gardu Rayon Garut Kota URAIAN TIPE CGSO CLWU DSKT INTI INTU SUCI MGWT TLBS JUMLAH TIPE GARDU CANTOL 32 18 12 22-19 76 1 180 PORTAL 11 21 5 50 11 59 31 5 193 TEMBOK LAMA - - - 2 1 1 1 1 6 7R2 1 - - - 14 1-12 28 ST16 - - - - - - - 1 1 JUMLAH GARDU 44 39 17 74 26 80 108 20 408 KVA TRAFO 25 4-1 - - - 5-10 50 15 6 5 5-6 34 1 72 100 16 16 8 33-28 46-147 160 5 7 3 20 1 19 13 1 69 200 1 3-4 3 2 2-15 250 2 4-8 6 21 5 5 51 315-3 - 3 5 2 1 2 16 400 1 - - 1 9 1 2 10 24 630 - - - - 2 1-1 4 JUMLAH KVA TERPASANG 4.300 5.465 1.555 10.895 8.695 13.450 11.270 6.720 62.350
74 Lampiran 2. Data Aset SUTM Rayon Garut Kota URAIAN UKURAN CGSO CLWU DSKT INTI INTU SUCI MGWT TLBS JUMLAH Panjang SUTM A3C 150 4,718 10,865 5,846 - - 19,563 25,227 0,0480 66,267 A3C 70 22,469-5,566 0,488-2,648 27,647-58,818 A3C 35 0,860 4,144 2,283 - - 1,374 10,700-19,361 A3CS 150 3,582 8,968 0,533 22,453 1,050 12,947 27,161 0,576 77,270 A3CS 70 - - - 16,501-0,778 2,922-20,201 XLPE 150 - - - 0,452 1,952 0,022 - - 2,426 TOTAL (Kms) 31,753 24,120 14,309 39,988 31,282 38,365 93,771 14,482 288,070
75 Lampiran 3. Data Aset Tiang Rayon Garut Kota URAIAN UKURAN CGSO CLWU DSKT INTI INTU SUCI MGWT TLBS JUMLAH JENIS TIANG BETON - 4 - - - - - - 4 BETON BULAT 460 487 120 530 2 505 1.055 27 3.186 BETON PERSEGI 149 300 130 46-219 - 7 851 BESI 23 21 18 319 30 156 474 3 1.044 BETON 2-1 1 2 - - 287-291 JUMLAH TIANG 11/350 DAN - - - - - 2 - - 2 11/200 DAN 532 428 249 296 31 553 1.472 32 3.593 9/200 DAN 96 77 19 298 1 163 258-912 13/350 DAN 4 45 1 303-162 86 5 606 TOTAL 632 550 269 897 32 880 1.816 37 5.113 ACC SUTM TRVERS TUMPU 1.8 443 346 183 678 26 590 1.373 19 3.658 TRVERS D. TUMPU 2.0 33 11 9 39-37 112 1 242 TRVERS AFSPAN 1.8 73 79 48 169 7 171 202 16 765 TRVERS AFSPAN 2.5 31 16 11 12-20 47 1 138 TRVERS AFSPAN 3.0 48 5 4 8-6 40-111 TRAVERS V - - 1 - - - - - 1 ISOLATOR AFSPAN 732 426 246 747 21 747 1.281 57 4.257 ISOLATOR TUMPU 1.587 1.161 634 2.384 79 2.106 4.946 64 12.961
76 (Sambungan) Lampiran 3 URAIAN UKURAN CGSO CLWU DSKT INTI INTU SUCI MGWT TLBS JUMLAH ACC SUTM CUT OUT 42 39 21 102 3 153 42-402 ARRESTER 75 9 27 6 12 30 54 42 255 PENTANAHAN TM 13 11 8 9 4 25 30 15 115 KABEL NAIK/TURUN 1 3 1 2 4 10 6 14 41 LBS/PTS - 4 3 4-4 5 1 21 RECLOSER 1 1 1 1 - - 1-5
77 Lampiran 4. Impedansi Penghantar Tahanan (R) dan Reaktansi (X L ) Penghantar AAAC Tegangan 20 kv (Dikutip dari SPLN: 1985) Luas Penampang (mm 2) Jari-jari (mm) U (rat) GMR (mm) Impedansi Urutan Positif (Ohm/km) Impedansi Urutan Nol (Ohm/km) 16 2,2563 7 1,6380 2,0161 + j 0,4036 2,1641 + j 1,6911 25 2,8203 7 2,0475 1,2903+ j 0,3895 1,4384 + j 1,6770 35 3,3371 7 2,4227 0,9217 + j 0,3790 1,0697 + j 1,6665 50 3,9886 7 2,8957 0,6452 + j 0,3678 0,7932 + j 1,6553 70 4,7193 7 3,4262 0,4608 + j 0,3572 0,6088 + j 1,6447 95 5,4979 19 4,1674 0,3096 + j 0,3449 0,4876+ j 1,6324 120 6,1791 19 4,6837 0,2688 + j 0,3376 0,4168 + j 1,6324 150 6,9084 19 5,2365 0,2162 + j 0,3305 0,3631 + j 1,6180 185 7,6722 19 5,8155 0,1744 + j 0,3239 0,3224+ j 1,6114 240 8,7386 19 6,6238 0,1344 + j 0,3158 0,2824 + j 1,6034 Impedansi Kabel Tanah Dengan Penghantar Aluminium Luas Penampang (mm 2) R (Ohm/km) L (mh/km) C (pf/km) Impedansi Urutan Positif (Ohm/km) Impedansi Urutan Nol (Ohm/km) 150 0,206 0,33 0,26 0,206 + j 0,104 0,356 + j 0,312 240 0,125 0,31 0,31 0,125 + j 0,097 0,275 + j 0,290 300 0,100 0,30 0,34 0,100 + j 0,094 0,250 + j 0,282
78 Lampiran 5. Kerugian PLN Rayon Garut Kota Akibat Layang-Layang Th. 2012 No. Tanggal Penyulang Amp Durasi (mnt) kwh Tak tersalurkan Rupiah 1 01/01/2012 CGSO 32 3 47,1 32.233 2 13/04/2012 CGSO 32 3 47,1 32.233 3 18/05/2012 TLBS 152 4 298,0 204.145 4 02/06/2012 CGSO 30 4 58,8 40.292 5 19/06/2012 TLBS 195 48 4.588,0 3.142.753 6 26/06/2012 CGSO 35 5 85,8 58.759 7 27/06/2012 DSKT 185 4 362,7 248.465 8 03/07/2012 INTU 98 41 1.969,5 1.349.100 9 12/07/2012 CGSO 32 4 62,7 42.978 10 08/08/2012 DSKT 212 4 415,7 284.728 11 10/08/2012 DSKT 185 4 362,7 248.465 12 12/08/2012 DSKT 128 4 251,0 171.911 13 21/08/2012 CGSO 61 3 89,7 61.445 14 21/08/2012 CGSO 32 4 62,7 42.978 15 25/08/2012 CGSO 32 4 62,7 42.978 16 25/08/2012 DSKT 201 3 295,6 202.466 17 25/08/2012 CGSO 74 2 72,5 49.693 18 31/08/2012 CGSO 30 4 58,8 40.292 19 31/08/2012 CGSO 32 4 62,7 42.978 20 31/08/2012 CGSO 32 5 78,4 53.722 21 08/09/2012 CGSO 32 4 62,7 42.978 22 24/09/2012 DSKT 201 4 394,1 269.954 23 28/10/2012 CGSO 32 4 62,7 42.978 24 03/11/2012 DSKT 206 5 504,9 345.837 25 09/11/2012 CGSO 32 3 47,1 32.233 26 09/11/2012 TLBS 152 5 372,5 255.181 TOTAL 182 760.681,0 521.066.485
79 Lampiran 6. Kerugian PLN Rayon Garut Kota Akibat Layang-Layang Th. 2013 No. Tanggal Penyulang Amp Durasi (mnt) kwh tak tersalurkan Rupiah 1 19/02/2013 CGSO 32 110 1.725,4 1.233.651 2 26/04/2013 CGSO 32 5 78,4 56.075 3 03/05/2013 INTI 195 20 1.911,7 1.366.830 4 14/05/2013 INTU 80 30 1.176,4 841.126 5 22/05/2013 INTU 85 15 625,0 446.848 6 22/05/2013 SUCI 158 10 774,5 553.741 7 29/05/2013 SUCI 30 18 264,7 189.253 8 01/06/2013 MGWT 20 5 49,0 35.047 9 09/06/2013 SUCI 136 4 266,7 190.655 10 10/06/2013 SUCI 142 5 348,0 248.833 11 15/06/2013 INTI 175 23 1.972,9 1.410.638 12 19/06/2013 SUCI 158 6 464,7 332.245 13 21/06/2013 MGWT 11 6 32,4 23.131 14 21/06/2013 MGWT 13 3 19,1 13.668 15 22/06/2013 MGWT 15 4 29,4 21.028 16 01/07/2013 SUCI 158 5 387,2 276.871 17 07/07/2013 INTI 216 11 1.164,6 832.715 18 08/07/2013 MGWT 22 5 53,9 38.552 19 08/07/2013 DSKT 124 6 364,7 260.749 20 19/07/2013 MGWT 15 5 36,8 26.285 21 20/07/2013 MGWT 16 5 39,2 28.038 22 27/07/2013 MGWT 12 3 17,6 12.617 23 03/08/2013 CGSO 32 5 78,4 56.075 24 04/08/2013 MGWT 11 40 215,7 154.206 25 04/08/2013 SUCI 190 28 2.607,7 1.864.496 26 08/08/2013 MGWT 11 32 172,5 123.365 27 09/08/2013 CGSO 35 34 583,3 417.058 28 11/08/2013 CGSO 32 7 109,8 78.505
80 (Sambungan) Lampiran 6 No. Tanggal Penyulang Amp Durasi kwh tak (mnt) tersalurkan Rupiah 29 11/08/2013 DSKT 185 14 1.269,5 907.715 30 13/08/2013 SUCI 176 22 1.897,9 1.357.017 31 17/08/2013 SUCI 145 3 213,2 152.454 32 26/08/2013 MGWT 11 36 194,1 138.786 33 27/08/2013 MGWT 11 30 161,8 115.655 34 29/08/2013 MGWT 22 52 560,8 400.937 35 30/08/2013 CGSO 32 7 109,8 78.505 36 31/08/2013 INTI 121 4 237,2 169.627 37 01/09/2013 MGWT 10 21 102,9 73.599 38 02/09/2013 MGWT 13 67 426,9 305.259 39 03/09/2013 MGWT 11 35 188,7 134.931 40 06/09/2013 TLBS 145 50 3.553,7 2.540.901 41 06/09/2013 CGSO 75 43 1.580,8 1.130.263 42 08/09/2013 CGSO 32 16 251,0 179.440 43 09/09/2013 CGSO 75 5 183,8 131.426 44 14/09/2013 SUCI 136 67 4.466,4 3.193.475 45 15/09/2013 CGSO 32 26 407,8 291.590 46 20/09/2013 MGWT 20 18 176,5 126.169 47 21/09/2013 CGSO 35 11 188,7 134.931 48 22/09/2013 SUCI 136 26 1.733,2 1.239.259 49 24/09/2013 CGSO 32 3 47,1 33.645 50 25/09/2013 SUCI 136 15 999,9 714.957 51 29/09/2013 CGSO 30 6 88,2 63.084 52 06/10/2013 CGSO 32 4 62,7 44.860 53 13/10/2013 CGSO 34 7 116,7 83.412 54 15/10/2013 CGSO 32 6 94,1 67.290 55 16/10/2013 SUCI 145 15 1.066,1 762.270 56 17/10/2013 SUCI 187 6 550,0 393.226 57 18/10/2013 SUCI 135 10 661,7 473.133
81 (Sambungan) Lampiran 6 No. Tanggal Penyulang Amp Durasi kwh tak (mnt) tersalurkan Rupiah 58 19/10/2013 DSKT 212 26 2.701,8 1.931.786 59 19/10/2013 INTI 130 5 318,6 227.805 60 21/10/2013 CGSO 30 30 441,2 315.422 61 24/10/2013 SUCI 130 18 1.147,0 820.098 62 29/10/2013 MGWT 27 46 608,8 435.283 63 01/11/2013 CGSO 32 12 188,2 134.580 64 10/11/2013 SUCI 198 23 2.232,2 1.596.037 65 10/11/2013 MGWT 25 71 870,0 622.083 66 28/11/2013 CGSO 75 30 1.102,9 788.556 TOTAL 1336 46.771,7 33.441.768
Lampiran 7. Rincian Nilai SAIFI dan SAIDI Rayon Garut Kota Tahun 2012 82 Bulan Penyebab Jumlah Lama Jumlah SAIFI SAIDI Pemadaman Gangguan (Kali) Padam (Jam) Pelanggan Padam Total Rata-rata Total Rata-rata Januari SR & APP 127 28,57 167 0,207768 0,017314 0,046739714 0,003894976 SUTR 2 0,42 6 0,000118 9,8E-06 2,46865E-05 2,05721E-06 SUTM 16 3,5 3095 0,48511 0,040426 0,106117751 0,008843146 Februari SR & APP 115 25,78 153 0,172365 0,014364 0,038639694 0,003219975 SUTR 8 1,9 23 0,001803 0,00015 0,000428096 3,56746E-05 SUTM 3 0,32 266 0,007817 0,000651 0,000833856 6,9488E-05 Maret SR & APP 157 31,9 209 0,321444 0,026787 0,0653125 0,005442708 SUTR 36 6,08 41 0,014459 0,001205 0,002442006 0,000203501 SUTM 4 1,57 798 0,03127 0,002606 0,012273315 0,001022776 April SR & APP 157 31,9 209 0,321444 0,026787 0,0653125 0,005442708 SUTR 36 6,08 41 0,014459 0,001205 0,002442006 0,000203501 SUTM 3 0,6 798 0,023452 0,001954 0,004690439 0,00039087 Mei SR & APP 129 27,05 140 0,17692 0,014743 0,037098354 0,00309153 SUTR 10 2,52 47 0,004604 0,000384 0,001160266 9,66889E-05 SUTM 12 26,67 1934 0,227351 0,018946 0,505287813 0,042107318
83 (Sambungan) Lampiran 7 Bulan Penyebab Jumlah Lama Jumlah SAIFI SAIDI Pemadaman Gangguan Padam Pelanggan (Kali) (Jam) Padam Total Rata-rata Total Rata-rata Juni SR & APP 114 33,95 133 0,148531 0,012378 0,044233444 0,00368612 SUTR 9 2,25 33 0,002909 0,000242 0,000727371 6,06142E-05 SUTM 18 3,87 3114 0,549099 0,045758 0,11805623 0,009838019 SKTM 1 0,8 1 9,8E-06 8,16E-07 7,83699E-06 6,53083E-07 Juli SR & APP 137 24,55 144 0,19326 0,016105 0,034631661 0,002885972 SUTR 13 4,83 45 0,005731 0,000478 0,002129212 0,000177434 SUTM 23 10,3 2372 0,534444 0,044537 0,239337774 0,019944815 Agustus SR & APP 157 31,9 209 0,321444 0,026787 0,0653125 0,005442708 SUTR 36 6,08 41 0,014459 0,001205 0,002442006 0,000203501 SUTM 17 2,2 798 0,132896 0,011075 0,017198276 0,00143319 September SR & APP 157 31,9 209 0,321444 0,026787 0,0653125 0,005442708 SUTR 36 6,08 41 0,014459 0,001205 0,002442006 0,000203501 SUTM 6 1,4 798 0,046904 0,003909 0,010944357 0,00091203 Oktober SR & APP 113 20,85 129 0,1428 0,0119 0,026348452 0,002195704 SUTR 49 7,5 49 0,023521 0,00196 0,003600118 0,00030001 SUTM 8 3,27 798 0,062539 0,005212 0,025562892 0,002130241
84 (Sambungan) Lampiran 7 Bulan Penyebab Jumlah Lama Jumlah SAIFI SAIDI Pemadaman Gangguan Padam Pelanggan (Kali) (Jam) Padam Total Rata-rata Total Rata-rata November SR & APP 157 31,9 209 0,321444 0,026787 0,0653125 0,005442708 SUTR 36 6,08 41 0,014459 0,001205 0,002442006 0,000203501 SUTM 8 2,97 798 0,062539 0,005212 0,023217672 0,001934806 Desember SR & APP 157 31,9 209 0,321444 0,026787 0,0653125 0,005442708 SUTR 36 6,08 41 0,014459 0,001205 0,002442006 0,000203501 SUTM 3 0,6 798 0,023452 0,001954 0,004690439 0,00039087 TOTAL 2106 466,12 18937 5,282631 0,440219 1,710506759 0,14254223
Lampiran 8. Rincian Nilai SAIFI dan SAIDI Rayon Garut Kota Tahun 2013 85 Bulan Penyebab Jumlah Lama Jumlah SAIFI SAIDI Pemadaman Gangguan (Kali) Padam (Jam) Pelanggan Padam Total Rata-rata Total Rata-rata Januari SR & APP 122 34,95 145 0,129971 0,010831 0,037233574 0,003102798 SUTR 14 3,67 50 0,005143 0,000429 0,001348204 0,00011235 SUTM 7 1,73 869 0,044693 0,003724 0,011045501 0,000920458 Februari SR & APP 138 39,2 145 0,147017 0,012251 0,041761261 0,003480105 SUTR 8 2,35 27 0,001587 0,000132 0,000466177 3,88481e-05 SUTM 9 2,17 1455 0,096211 0,008018 0,023197558 0,00193313 Maret SR & APP 155 369,52 258 0,293813 0,024484 0,700450087 0,058370841 SUTR 18 4,78 274 0,036236 0,00302 0,009622723 0,000801894 SUTM 9 2,48 1008 0,066653 0,005554 0,018366726 0,001530561 April SR & APP 159 145,08 395 0,461438 0,038453 0,421040799 0,035086733 SUTR 12 3,17 94 0,008288 0,000691 0,002189307 0,000182442 SUTM 16 4,57 788 0,092633 0,007719 0,026458301 0,002204858 Mei SR & APP 156 47,62 221 0,253301 0,021108 0,077321666 0,006443472 SUTR 10 3,7 158 0,011609 0,000967 0,00429515 0,000357929 SUTM 9 2,58 557 0,036831 0,003069 0,010558311 0,000879859
86 (Sambungan) Lampiran 8 Bulan Penyebab Jumlah Lama Jumlah SAIFI SAIDI Pemadaman Gangguan Padam Pelanggan (Kali) (Jam) Padam Total Rata-rata Total Rata-rata Juni SR & APP 154 47,5 227 0,256842 0,021404 0,07922076 0,00660173 SUTR 10 2,7 217 0,015943 0,001329 0,004304701 0,000358725 SUTM 11 2,58 503 0,040652 0,003388 0,009534704 0,000794559 Juli SR & APP 195 39,07 247 0,353876 0,02949 0,070902231 0,005908519 SUTR 374 74,37 484 1,329954 0,110829 0,264461637 0,02203847 SUTM 9 1,8 2395 0,158368 0,013197 0,03167361 0,002639467 Agustus SR & APP 261 48,26 313 0,600212 0,050018 0,110981654 0,009248471 SUTR 38 6,75 43 0,012005 0,001 0,002132513 0,000177709 TRAFO 34 5,82 34 0,008493 0,000708 0,001453856 0,000121155 SUTM 20 9,8 798 0,117261 0,009772 0,057457735 0,004788145 September SR & APP 157 31,9 209 0,241082 0,02009 0,048984255 0,004082021 SUTR 36 6,08 41 0,010844 0,000904 0,0018315 0,000152625 SUTM 18 7,4 798 0,105535 0,008795 0,043386453 0,003615538 Oktober SR & APP 155 369,52 258 0,293813 0,024484 0,700450087 0,058370841 SUTR 18 4,78 274 0,036236 0,00302 0,009622723 0,000801894 SUTM 17 4,9 1008 0,125901 0,010492 0,036289096 0,003024091
87 (Sambungan) Lampiran 8 Bulan Penyebab Jumlah Lama Jumlah SAIFI SAIDI Pemadaman Gangguan Padam Pelanggan (Kali) (Jam) Padam Total Rata-rata Total Rata-rata November SR & APP 159 145,08 395 0,461438 0,038453 0,421040799 0,035086733 SUTR 12 3,17 94 0,008288 0,000691 0,002189307 0,000182442 SUTM 16 4,57 788 0,092633 0,007719 0,026458301 0,002204858 Desember SR & APP 156 47,62 221 0,253301 0,021108 0,077321666 0,006443472 SUTR 10 3,7 158 0,011609 0,000967 0,00429515 0,000357929 SUTM 9 4,6 557 0,036831 0,003069 0,018824895 0,001568741 TOTAL 2711 1539,54 16506 6,256541 0,521378 3,408172982 0,284014415
Lampiran 9. Diagram Garis Tunggal Penyulang Desa Kolot (DSKT) 88
Lampiran 10. Diagram Garis Tunggal Penyulang Cilawu (CLWU) 89
90 Lampiran 11. Diagram Garis Tunggal Penyulang Margawati (MGWT)
Lampiran 12. Diagram Garis Tunggal Penyulang Cigasong (CGSO) 91
Lampiran 13. Diagram Garis Tunggal Penyulang Intan Tiga (INTI) 92
Lampiran 14. Diagram Garis Tunggal Penyulang Intan Satu (INTU) 93
94 Lampiran 15. Diagram Garis Tunggal Penyulang Talaga Bodas (TLBS)
95 Lampiran 16. Diagram Garis Tunggal Penyulang Talaga Bodas (TLBS)
96 Lampiran 17. Konstruksi Pemasangan Ground Steel Wire (GSW)
Lampiran 18. Data Padam Akibat Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun 2012 No Tanggal Penyulang Beban Jam Waktu Arus Gangguan Indikasi Trip Masuk Trip Masuk (mnt) >5 Total R S T N Ig Gangguan 1 01/01/2012 CGSO 38 22 OCRM 14:02 14:05 3 0 1 1330 1210 309 26,18 1330 LAYANG2/UMBUL2 2 08/01/2012 INTU 118 0 GFTD 4:55 5:00 5 0 1 628,5 155 110 517,4 628,5 ALAM 3 24/01/2012 CGSO 190 0 BC 13:58 14:02 4 0 1 274,1 32,5 288,3 8,97 288,3 ALAM 4 24/01/2012 CGSO 62 0 OCRM 23:44 23:47 3 0 1 1947 1945 67,12 91,93 1947 ALAM 5 25/01/2012 CGSO 40 20 OCRM 9:03 9:07 4 0 1 1411 1389 38,62 0,73 1411 ALAM 6 26/01/2012 CGSO 17 19 OCRM 12:24 12:27 3 0 1 107,6 1308 1249 1,19 1308 ALAM 7 26/01/2012 DSKT 80 0 OCRM 12:32 12:48 16 1 1 4953 4923 83,5 4,51 4953 ALAM 8 26/01/2012 DSKT OCRM 13:14 13:18 4 0 1 5359 5377 8 1,09 5377 ALAM 9 25/02/2012 CGSO 64 30 OCRM 18:20 18:25 5 0 1 85,5 123 813,7 628 813,7 ALAM 10 26/02/2012 DSKT 105 0 OCRM 10:53 11:03 10 1 1 4112 4047 107,5 429 4112 ALAM 11 28/02/2012 CGSO 105 0 OCTD 14:48 14:52 4 0 1 0 PH 3/BINATANG 12 01/03/2012 CGSO 28 0 OCRM 14:50 14:55 5 0 1 24 1872 1847 22,37 1872 ALAM 13 21/03/2012 TLBS GFTD 17:43 18:25 42 1 1 427 339 334 227,5 427 KOMP_JTM 14 23/03/2012 TLBS 72 BC 17:08 17:12 4 0 1 185 120 168 0,85 185 ALAM 15 26/03/2012 TLBS 250 GFTD 20:02 20:45 43 1 1 744,5 249 238 520,7 744,5 KOMP_JTM 16 13/04/2012 CGSO 42 26 OCRM 15:57 16:00 3 0 1 1050 34 77 12,43 1050 LAYANG2/UMBUL2 17 16/04/2012 CGSO 58 0 OCRM 3:00 3:04 4 0 1 1212 1444 1204 29,8 1444 ALAM 18 07/05/2012 TLBS 167 16 OCRM 13:36 13:40 4 0 1 207 4364 4021 0,98 4364 KOMP_JTM 19 18/05/2012 TLBS 170 17 OCRM 16:11 16:15 4 0 1 3096 248 3323 171,6 3323 LAYANG2/UMBUL2 20 20/05/2012 TLBS 250 0 GFTD 18:05 18:50 45 1 1 100 450 453,5 564 564 PH 3/BINATANG 21 02/06/2012 CGSO 36 0 OCRM 12:14 12:18 4 0 1 36 1213 1194 1 1213 LAYANG2/UMBUL2 22 07/06/2012 TLBS 65 27 OCTD 8:10 9:00 50 1 1 2656 2739 2665 6,95 2739 KOMP_JTM 97
(Sambungan) Lampiran 18 No Tanggal Penyulang Beban Jam Waktu Arus Gangguan Indikasi Trip Masuk Trip Masuk (mnt) >5 Total R S T N Ig Gangguan 23 07/06/2012 INTI 170 43 OCRM 8:10 8:13 3 0 1 2218 2667 1804 16,84 2667 KOMP_JTM 24 19/06/2012 TLBS 252 0 GFTD 20:12 21:00 48 1 1 378 320 817 433,5 817 LAYANG2/UMBUL2 25 26/06/2012 CGSO 162 48 BC 16:58 17:03 5 0 1 54,37 159,7 151,5 0,73 159,7 LAYANG2/UMBUL2 26 27/06/2012 DSKT 117 119 OCRM 16:54 16:58 4 0 1 5824 5820 135 37,35 5824 LAYANG2/UMBUL2 27 03/07/2012 INTU 195 0 GFTD 17:34 18:15 41 1 1 227,5 189,5 850 652,4 850 LAYANG2/UMBUL2 28 12/07/2012 CGSO 1592 0 OCRM 10:20 10:24 4 0 1 1592 1560 36,75 5,58 1592 LAYANG2/UMBUL2 29 27/07/2012 CGSO 54 30 OCRM 17:03 17:07 4 0 1 1657 1753 51,75 195,1 1753 POHON 30 29/07/2012 CGSO 54 0 OCRM 16:43 16:48 5 0 1 12,26 11,46 53,25 37,43 53,25 KOMP_JTM 31 08/08/2012 DSKT 137 0 OCRM 16:08 16:12 4 0 1 136 6785 6220 495 6785 LAYANG2/UMBUL2 32 10/08/2012 DSKT 142 11 OCRM 16:53 16:57 4 0 1 135,5 63,8 63,27 59 135,5 LAYANG2/UMBUL2 33 12/08/2012 DSKT 106 93 OCRM 8:56 9:00 4 0 1 0 LAYANG2/UMBUL2 34 14/08/2012 CGSO 33 0 OCRM 12:55 12:59 4 0 1 0 PERALATAN_JTM 35 14/08/2012 CGSO 51 0 OCRM 17:05 17:09 4 0 1 1380 1310 52,5 70,58 1380 PERALATAN_JTM 36 18/08/2012 TLBS 234 0 GFTD 22:04 22:30 26 1 1 500 401 1272 827 1272 KOMP_JTM 37 20/08/2012 TLBS 75 139 BC 10:20 10:24 4 0 1 129,5 119,5 74 0,73 129,5 PERALATAN_JTM 38 21/08/2012 CGSO 67 0 OCRM 6:12 6:15 3 0 1 61 1905 1874 21,97 1905 LAYANG2/UMBUL2 39 21/08/2012 CGSO 30 0 OCRM 10:32 10:36 4 0 1 66 1891 1882 26,26 1891 LAYANG2/UMBUL2 40 24/08/2012 INTU 206 0 GFTD 20:24 21:11 47 1 1 175,5 663,5 224 448,1 663,5 PERALATAN_JTM 41 24/08/2012 TLBS 48 42 BC 21:22 21:28 6 1 1 69 109 105 0,85 109 PERALATAN_JTM 42 25/08/2012 CGSO 38 0 OCRM 13:12 13:16 4 0 1 1293 1272 37,5 0,57 1293 LAYANG2/UMBUL2 43 25/08/2012 DSKT 120 0 OCRM 17:00 17:03 3 0 1 0 LAYANG2/UMBUL2 44 25/08/2012 CGSO 46 0 OCRM 17:45 17:48 2 0 1 1257 1925 1678 25,87 1925 LAYANG2/UMBUL2 98
(Sambungan) Lampiran 18 No Tanggal Penyulang Beban Jam Waktu Arus Gangguan Indikasi Trip Masuk Trip Masuk (mnt) >5 Total R S T N Ig Gangguan 45 31/08/2012 CGSO 38 0 OCRM 13:07 13:11 4 0 1 2643 2526 40,5 158 2643 LAYANG2/UMBUL2 46 31/08/2012 CGSO BC 15:31 15:35 4 0 1 31,2 29,62 1,87 0,91 31,2 LAYANG2/UMBUL2 47 31/08/2012 CGSO BC 15:53 15:58 5 0 1 31,12 30,75 1,87 0,91 31,12 LAYANG2/UMBUL2 48 06/09/2012 CLWU 243 128 GFTD 22:11 22:15 4 0 1 475 13,5 12 436 475 KOMP_JTM 49 06/09/2012 CLWU 128 128 GFTD 22:15 23:24 69 1 1 0 KOMP_JTM 50 06/09/2012 INTI 128 128 GFTD 22:41 22:43 2 0 1 0 KOMP_JTM 51 08/09/2012 CGSO 40 0 OCRM 16:30 16:34 4 0 1 1653 1642 43,87 10,6 1653 LAYANG2/UMBUL2 52 08/09/2012 CGSO 32 0 OCRM 17:23 17:26 3 0 1 1150 921,7 35 66,1 1150 PERALATAN_JTM 53 24/09/2012 DSKT 132 0 OCRM 17:16 17:20 4 0 1 3621 1278 4690 21,48 4690 LAYANG2/UMBUL2 54 07/10/2012 DSKT 0 OCRM 8:18 8:21 3 0 1 6773 1105 123 1 6773 KOMP_JTM 55 08/10/2012 INTU 234 0 GFTD 18:55 20:05 70 1 1 287,2 217,5 509 237,5 509 PERALATAN_JTM 56 13/10/2012 DSKT 118 0 OCRM 10:14 10:55 41 1 1 105 5749 6062 494,1 6062 PERALATAN_JTM 57 15/10/2012 DSKT 123 8 OCRM 9:02 9:23 21 1 1 107,5 5096 5010 5,12 5096 POHON 58 18/10/2012 CLWU 230 0 GFTD 21:50 22:08 18 1 1 219,5 224,5 994 774,2 994 KOMP_JTM 59 18/10/2012 INTU 147 0 GFTD 23:28 23:52 24 1 1 526 159 126,5 403,7 526 PERALATAN_JTM 60 22/10/2012 INTU 195 0 OCRM 17:55 18:10 15 1 1 3029 584 3057 390,3 3057 PERALATAN_JTM 61 28/10/2012 CGSO 42 0 OCRM 14:13 14:17 4 0 1 1288 1273 44,2 1,09 1288 LAYANG2/UMBUL2 62 03/11/2012 DSKT 136 160 OCRM 17:28 17:33 5 0 1 3621 1278 4680 421,4 4680 LAYANG2/UMBUL2 63 07/11/2012 DSKT 0 OCRM 16:13 16:16 3 0 1 773 6710 121 759,2 6710 ALAM 64 09/11/2012 CGSO 43 2 OCRM 10:43 10:46 3 0 1 0 LAYANG2/UMBUL2 65 09/11/2012 TLBS 175 17 OCRM 15:50 15:55 5 0 1 343,2 218,5 3659 163,8 3659 LAYANG2/UMBUL2 66 18/11/2012 DSKT 131 0 OCRM 14:46 14:50 4 0 1 117,5 5749 6062 494,1 6062 KOMP_JTM 99
(Sambungan) Lampiran 18 No Tanggal Penyulang Beban Jam Waktu Arus Gangguan Indikasi Trip Masuk Trip Masuk (mnt) >5 Total R S T N Ig Gangguan 67 19/11/2012 TLBS 104 OCGFM 8:55 9:20 25 1 1 0 PERALATAN_JTM 68 26/11/2012 CGSO 93 68 OCRM 20:23 22:36 133 1 1 2995 2392 90,75 601,2 2995 PERALATAN_JTM 69 30/11/2012 CLWU 246 0 OCRM 16:47 17:04 17 1 1 266 6338 6138 1,58 6338 KOMP_JTM 70 08/12/2012 CGSO 254 0 OCRM 14:20 14:42 22 1 1 2460 2675 264,7 452 2675 KOMP_JTM 71 16/12/2012 CGSO 47 0 OCRM 14:57 15:00 3 0 1 1295 771,3 705,3 900,2 1295 ALAM 72 28/12/2012 TLBS 197 25 OCRM 18:55 19:04 9 2 1 262 4425 4251 0,61 4425 KOMP_JTM 100
Lampiran 19. Data Padam Akibat Gangguan Penyulang Rayon Garut Kota Tahun 2013 101 No Tanggal Penyulang Beban Jam Waktu Arus Gangguan Indikasi Trip Masuk Trip Masuk (mnt) >5 Total R S T N Ig Gangguan 1 07/01/2013 CGSO 43 0 OCRM 14:09 14:18 9 1 1 0 ALAM 2 09/01/2013 TLBS 227 OCRM 19:50 19:56 6 1 1 338 4136 3950 0,73 4136 ALAM 3 09/01/2013 CGSO 61 35 OCRM 23:14 23:19 5 1 1 1983 1978 58,2 0,64 1983 ALAM 4 10/01/2013 DSKT 155 81 GFM 12:35 13:23 48 1 1 0 POHON 5 26/01/2013 INTI 135 0 BC 15:21 16:28 67 1 1 168,5 168,5 6,5 2,31 168,5 KOMP_JTM 6 03/02/2013 DSKT 190 0 OCTD 17:21 17:35 14 1 1 637 0 639 0,12 639 KOMP_JTM 7 03/02/2013 INTI 87 GFTD 17:52 18:20 28 1 1 130 140 255 122,5 255 POHON 8 03/02/2013 MGWT 18 17 GFTD 17:27 18:30 63 1 1 670 19 19 651 670 ALAM 9 09/02/2013 DSKT 119 OCRM 13:31 13:40 9 1 1 0 ALAM 10 10/02/2013 CGSO BC 12:22 12:38 16 1 1 25,5 39 36 0 39 KOMP_JTM 11 19/02/2013 CGSO 38 OCRM 14:05 15:55 110 1 1 0 LAYANG2/UMBUL2 12 08/03/2013 SUCI 180 57 GFTD 15:21 17:32 131 1 1 272,9 30 42,6 213 272,9 ALAM 13 13/03/2013 CGSO 29 0 OCRM 13:29 13:32 3 0 1 0 ALAM 14 14/03/2013 SUCI 232 26 GFTD 18:18 18:25 7 1 1 733 238 240 525,1 733 PH3/BINATANG 15 15/03/2013 SUCI 212 285 GFTD 19:21 20:22 61 1 1 292 260 621 421,6 621 KOMP_JTM 16 21/03/2013 MGWT 10 OCTD 13:57 14:00 3 0 1 0 ALAM 17 26/03/2013 CLWU 159 0 GFTD 12:14 12:36 22 1 1 678,5 223,5 210 510,1 678,5 KOMP_JTM 18 29/03/2013 MGWT 11 9 OCTD 15:40 15:42 2 0 1 14 1753 1743 0,6 1753 PH3/BINATANG 19 29/03/2013 MGWT 11 GFTD 16:40 16:43 3 0 1 0 POHON 20 31/03/2013 SUCI 16 160 OCTD 15:42 15:46 4 0 1 1280 1328 1286 0 1328 ALAM 21 31/03/2013 MGWT 15 OCTD 2:49 2:55 9 1 1 2924 2315 2940 24 2940 ALAM
102 (Sambungan) Lampiran 19 No Tanggal Penyulang Beban Jam Waktu Arus Gangguan Indikasi Trip Masuk Trip Masuk (mnt) >5 Total R S T N Ig Gangguan 22 07/04/2013 CLWU 220 11 OCTD 15:36 16:05 29 1 1 278 2081 1912 0,12 2081 POHON 23 11/04/2013 SUCI 137 158 GFTD 0:43 0:46 3 0 1 0 ALAM 24 11/04/2013 SUCI 147 134 GFTD 3:23 3:31 8 1 1 0 ALAM 25 20/04/2013 MGWT 24 22 GFTD 18:10 18:14 4 0 1 0 POHON 26 23/04/2013 MGWT 21 20 GFTD 19:05 20:30 85 1 1 25 23 606 582,4 606 KOMP_JTM 27 26/04/2013 CGSO 38 OCRM 15:30 15:35 5 0 1 0 LAYANG2/UMBUL2 28 03/05/2013 INTI 142 OCRM 17:31 17:51 20 1 1 0 LAYANG2/UMBUL2 29 14/05/2013 INTU 82 0 GFTD 8:45 9:15 30 1 1 135 102,5 595,5 438,5 595,5 LAYANG2/UMBUL2 30 22/05/2013 INTU 136 11 GFTD 15:15 15:30 15 1 1 152 124 451 332 451 LAYANG2/UMBUL2 31 22/05/2013 SUCI 227 242 GFTD 22:15 22:25 10 1 1 222 482 226 276 482 LAYANG2/UMBUL2 32 22/05/2013 SUCI 227 242 GFTD 22:41 22:45 4 0 1 0 KOMP_JTM 33 23/05/2013 SUCI 184 190 GFTD 6:35 6:44 9 1 1 443 181 180 281 443 KOMP_JTM 34 26/05/2013 MGWT 30 0 OCRM 18:45 18:50 5 0 1 394 29 23 370 394 ALAM 35 29/05/2013 SUCI 181 183 GFTD 12:18 12:36 18 1 1 34,5 3,95 86,5 5,12 86,5 LAYANG2/UMBUL2 36 01/06/2013 MGWT 10 10 OCTD 11:39 11:44 5 0 1 3032 2734 2268 0 3032 LAYANG2/UMBUL2 37 02/06/2013 SUCI 265 245 BC 19:10 20:17 67 1 1 4 240 237 3,17 240 ALAM 38 03/06/2013 SUCI 67 39 OCTD 9:00 9:29 29 1 1 1317 1903 252 0,24 1903 ALAM 39 09/06/2013 SUCI 174 165 OCTD 11:35 11:39 4 0 1 221 1097 1227 121,7 1227 LAYANG2/UMBUL2 40 10/06/2013 SUCI 193 183 OCTD 14:55 15:00 5 0 1 237 1266 1163 0,24 1266 LAYANG2/UMBUL2 41 15/06/2013 INTI 164 0 GFM 17:07 17:30 23 1 1 252 139 2652 0,12 2652 LAYANG2/UMBUL2 42 18/06/2013 MGWT 10 9 GFTD 14:45 14:40 3 0 1 337 11 10 326,3 337 POHON 43 19/06/2013 SUCI 220 238 GFTD 5:49 5:55 6 1 1 228 512 233 299 512 LAYANG2/UMBUL2
103 (Sambungan) Lampiran 19 No Tanggal Penyulang Beban Jam Waktu Arus Gangguan Indikasi Trip Masuk Trip Masuk (mnt) >5 Total R S T N Ig Gangguan 44 21/06/2013 MGWT 9 9 OCTD 15:22 15:28 6 1 1 1790 2022 1850 0 2022 LAYANG2/UMBUL2 45 21/06/2013 MGWT 10 10 OCRM 16:32 16:35 3 0 1 1746 14 1735 0 1746 LAYANG2/UMBUL2 46 22/06/2013 MGWT 12 11 OCTD 16:11 16:15 4 0 1 15 3047 3306 0 3306 LAYANG2/UMBUL2 47 29/06/2013 CGSO 31 30 OCRM 11:26 11:31 5 0 1 1635 37,5 1291 512,9 1635 KOMP_JTM 48 01/07/2013 SUCI OCTD 16:50 16:55 5 0 1 0 LAYANG2/UMBUL2 49 07/07/2013 SUCI 166 OCTD 10:15 10:27 12 1 1 1309 1339 1489 0 1489 KOMP_JTM 50 07/07/2013 INTI 0 OCRM 17:26 17:37 11 1 1 0 LAYANG2/UMBUL2 51 08/07/2013 MGWT 15 12 OCTD 7:15 7:20 5 0 1 0 LAYANG2/UMBUL2 52 08/07/2013 DSKT 126 0 OCRM 10:45 10:51 6 1 1 3464 3888 3308 0,48 3888 LAYANG2/UMBUL2 53 18/07/2013 SUCI 176 175 GFTD 7:03 7:06 3 0 1 173 507 107 352 507 POHON 54 19/07/2013 MGWT 12 12 OCTD 16:16 16:21 5 0 1 0 LAYANG2/UMBUL2 55 20/07/2013 SUCI 169 216 GFTD 13:56 14:46 50 1 1 890 179 182 724 890 KOMP_JTM 56 20/07/2013 MGWT 11 10 OCTD 15:04 15:09 5 0 1 2101 2169 1825 0 2169 LAYANG2/UMBUL2 57 21/07/2013 CGSO 35 2 OCRM 7:31 7:34 3 0 1 33 1379 1457 136,7 1457 KOMP_JTM 58 21/07/2013 SUCI 150 156 GFTD 11:33 11:36 3 0 1 150 160 259 101,5 259 POHON 59 23/07/2013 CGSO OCRM 14:48 14:56 8 1 1 0 KOMP_JTM 60 27/07/2013 MGWT 124 GFTD 16:53 16:56 3 0 1 119,2 526,5 118,5 433,7 526,5 LAYANG2/UMBUL2 61 31/07/2013 SUCI 39 35 OCTD 8:32 8:37 5 0 1 1092 1561,6 941,6 0 1561,6 ALAM 62 03/08/2013 CGSO 31 2 OCRM 14:16 14:21 5 0 1 0 LAYANG2/UMBUL2 63 04/08/2013 MGWT 10 OCTD 14:04 14:44 40 1 1 2001 2206 1895 0 2206 LAYANG2/UMBUL2 64 04/08/2013 SUCI 201 40 OCTD 16:17 16:45 28 1 1 2665 238 3093 352,7 3093 LAYANG2/UMBUL2 65 08/08/2013 MGWT 10 OCTD 16:18 16:50 32 1 1 0 LAYANG2/UMBUL2
104 (Sambungan) Lampiran 19 No Tanggal Penyulang Beban Jam Waktu Arus Gangguan Indikasi Trip Masuk Trip Masuk (mnt) >5 Total R S T N Ig Gangguan 66 09/08/2013 CGSO 33 OCRM 16:55 17:29 34 1 1 38,25 1474 1447 0,54 1474 LAYANG2/UMBUL2 67 11/08/2013 CGSO 36 0 OCRM 16:21 16:28 7 1 1 1187 1447 36,75 1 1447 LAYANG2/UMBUL2 68 11/08/2013 DSKT 129 2 OCRM 16:42 16:56 14 1 1 40,3 4,5 3,56 3,57 40,3 LAYANG2/UMBUL2 69 13/08/2013 SUCI 177 20 OCTD 15:28 15:50 22 1 1 221 1087 1017 0,27 1087 LAYANG2/UMBUL2 70 17/08/2013 SUCI 178 180 GFTD 9:10 9:13 3 0 1 176 562 176 198,6 562 LAYANG2/UMBUL2 71 22/08/2013 CLWU GFTD 10:14 12:59 165 1 1 6162 164,5 164,5 515,5 6162 KOMP_JTM 72 25/08/2013 SUCI 175 42 OCTD 12:40 13:20 40 1 1 184 1301 1308 0,24 1308 KOMP_JTM 73 25/08/2013 SUCI 42 GFTD 13:50 13:58 8 1 1 256 219 559 160,3 559 KOMP_JTM 74 26/08/2013 MGWT 63 0 OCTD 13:40 14:16 36 1 1 1777 1734 83 0 1777 LAYANG2/UMBUL2 75 27/08/2013 MGWT 68 10 GFTD 14:10 14:40 30 1 1 71 70 740 671 740 LAYANG2/UMBUL2 76 29/08/2013 MGWT 207 14 GFTD 16:28 17:20 52 1 1 417 82 82 341,2 417 LAYANG2/UMBUL2 77 29/08/2013 CLWU 217 BC 17:55 18:53 58 1 1 18,5 311,5 304,5 2,53 311,5 KOMP_JTM 78 29/08/2013 CLWU 18:58 19:00 2 0 1 0 KOMP_JTM 79 29/08/2013 CLWU 19:22 19:28 6 1 1 0 KOMP_JTM 80 30/08/2013 CGSO 38 0 OCRM 16:35 16:42 7 1 1 1102 1147 2391 655,4 2391 LAYANG2/UMBUL2 81 31/08/2013 INTI 130 15:35 15:39 4 0 1 129 2982 2908 0,12 2982 LAYANG2/UMBUL2 82 01/09/2013 MGWT 69 11 GFTD 15:10 15:31 21 1 1 75 74 745 675,8 745 LAYANG2/UMBUL2 83 02/09/2013 MGWT 11 14 OCTD 16:45 17:52 67 1 1 971 894 86 75,67 971 LAYANG2/UMBUL2 84 03/09/2013 MGWT 69 12 GFTD 15:09 15:44 35 1 1 80 1029 879 235 1029 LAYANG2/UMBUL2 85 06/09/2013 TLBS 26 8 GFTD 10:09 10:59 50 1 1 560 104 85 480 560 LAYANG2/UMBUL2 86 06/09/2013 CGSO 40 3 OCRM 17:28 18:11 43 1 1 495 1348 188,1 704,2 1348 LAYANG2/UMBUL2 87 08/09/2013 CGSO 38 0 OCRM 9:34 9:50 16 1 1 2083 1318 35,62 452,6 2083 LAYANG2/UMBUL2
105 (Sambungan) Lampiran 19 No Tanggal Penyulang Beban Jam Waktu Arus Gangguan Indikasi Trip Masuk Trip Masuk (mnt) >5 Total R S T N Ig Gangguan 88 09/09/2013 CGSO OCRM 17:29 17:34 5 0 1 1023 1207 41,62 2,38 1207 LAYANG2/UMBUL2 89 14/09/2013 SUCI 76 45 GFTD 2:15 3:22 67 1 1 170 174 702 554 702 LAYANG2/UMBUL2 90 14/09/2013 SUCI 45 36 GFTD 3:35 3:50 15 1 1 95 95 649 569 649 KOMP_JTM 91 15/09/2013 SUCI 35 42 GFTD 5:08 5:18 9 1 1 103 101 642 555,8 642 KOMP_JTM 92 15/09/2013 CGSO 30 0 OCRM 15:25 15:51 26 1 1 38,25 1100 1008 2,47 1100 LAYANG2/UMBUL2 93 19/09/2013 SUCI 170 190 GFTD 12:44 12:55 11 1 1 175 182 482 251 482 KOMP_JTM 94 20/09/2013 MGWT 9 OCTD 15:51 16:09 18 1 1 2105 2215 194 0,24 2215 LAYANG2/UMBUL2 95 21/09/2013 CGSO OCRM 16:56 17:07 11 1 1 1029 1208 41,62 2,38 1208 LAYANG2/UMBUL2 96 22/09/2013 SUCI 171 40 OCTD 14:45 15:11 26 1 1 195 1398 1292 0,24 1398 LAYANG2/UMBUL2 97 24/09/2013 CGSO 37 OCRM 16:32 16:35 3 0 1 2154 549,7 1788 0,09 2154 LAYANG2/UMBUL2 98 25/09/2013 SUCI 188 40 GFTD 0:29 0:44 15 1 1 182 719 181 543,9 719 LAYANG2/UMBUL2 99 29/09/2013 CGSO 27 12 OCRM 12:06 12:12 6 1 1 1781 1105 35,25 998,7 1781 LAYANG2/UMBUL2 100 06/10/2013 CGSO 36 2 OCRM 12:45 12:49 4 0 1 36 142 1387 0,91 1387 KOMP_JTM 101 06/10/2013 CGSO 34 37 OCRM 14:41 14:45 4 0 1 34 1240 1226 0,49 1240 LAYANG2/UMBUL2 102 07/10/2013 SUCI 182 37 GFTD 2:35 3:00 25 1 1 528 176 175 376,1 528 KOMP_JTM 103 08/10/2013 SUCI 202 106 GFTD 14:15 14:29 14 1 1 202 605 209 424,2 605 KOMP_JTM 104 08/10/2013 SUCI 106 47 GFTD 14:30 15:35 65 1 1 682 110 2203 10,98 2203 KOMP_JTM 105 12/10/2013 SUCI 108 186 OCTD 11:24 11:32 8 1 1 1898 1852 1947 0 1947 KOMP_JTM 106 13/10/2013 CGSO 34 19 OCRM 15:00 15:07 7 1 1 32,12 2229 2203 10,98 2229 LAYANG2/UMBUL2 107 15/10/2013 CGSO 35 0 OCRM 14:32 14:38 6 1 1 1402 1306 36,75 30,85 1402 LAYANG2/UMBUL2 108 16/10/2013 SUCI 205 152 OCTD 9:30 9:45 15 1 1 1301 1198 260 0,29 1301 LAYANG2/UMBUL2 109 16/10/2013 SUCI 112 48 OCTD 17:22 17:40 5 0 1 1033 938 244 0 1033 KOMP_JTM
106 (Sambungan) Lampiran 19 No Tanggal Penyulang Beban Jam Waktu Arus Gangguan Indikasi Trip Masuk Trip Masuk (mnt) >5 Total R S T N Ig Gangguan 110 17/10/2013 SUCI 179 OCTD 17:29 17:35 6 1 1 217 954 874 252 954 LAYANG2/UMBUL2 111 18/10/2013 SUCI 207 40 OCTD 14:30 14:40 10 1 1 268 1245 1435 0,24 1435 LAYANG2/UMBUL2 112 19/10/2013 DSKT 139 OCTD 16:29 16:55 26 1 1 6439 6187 133 207,8 6439 LAYANG2/UMBUL2 113 19/10/2013 INTI 163 106 GFTD 5:44 5:49 5 0 1 94,5 101,1 701 80,6 701 LAYANG2/UMBUL2 114 21/10/2013 CGSO 32 18 OCRM 13:53 14:23 30 1 1 213 210 331 0,364 331 LAYANG2/UMBUL2 115 24/10/2013 SUCI 157 41 GFTD 3:07 3:25 18 1 1 147 154 487 352 487 LAYANG2/UMBUL2 116 29/10/2013 MGWT 24 3 GFTD 21:00 21:46 46 1 1 22 20 262 239,9 262 LAYANG2/UMBUL2 117 01/11/2013 CGSO 32 0 OCRM 15:30 15:42 12 1 1 36,75 2100 1875 203,6 2100 LAYANG2/UMBUL2 118 10/11/2013 SUCI 144 185 OCTD 17:01 17:24 23 1 1 1302 1298 1108 0 1302 LAYANG2/UMBUL2 119 10/11/2013 MGWT 22 4 GFTD 18:16 19:27 71 1 1 22 221 250 228,7 250 LAYANG2/UMBUL2 120 16/11/2013 SUCI 224 117 GFTD 6:51 7:20 29 1 1 1107 2210 1319 168,9 2210 PH3/BINATANG 121 21/11/2013 SUCI 212 45 BC 15:34 15:55 21 1 1 246 44 256 2,92 256 KOMP_JTM 122 28/11/2013 CGSO 0 4 OCRM 17:39 18:09 30 1 1 12,78 12,5 6262 0,45 6262 LAYANG2/UMBUL2 123 28/11/2013 CGSO 0 4 OCRM 18:14 18:58 44 1 1 1500 18,03 78,37 581,8 1500 KOMP_JTM 124 02/12/2013 SUCI 176 0 OCGFM 13:44 15:32 108 1 1 0 199 201 451 451 KOMP_JTM 125 11/12/2013 CGSO 45 0 OCRM 16:13 16:39 26 1 1 2107 2007 47,62 4,79 2107 KOMP_JTM 126 14/12/2013 DSKT 134 0 OCRM 8:34 9:30 56 1 1 110,5 5179 5380 64,44 5380 POHON 127 22/12/2013 MGWT 24 0 GFTD 20:30 21:07 37 1 1 333 22 24 308,8 333 ALAM 128 27/12/2013 CGSO 41 3 OCRM 7:36 8:26 50 1 1 414 1399 39 0,45 1399 KOMP_JTM
Lampiran 20. Peta Wilayah Rawan Ganggua