LAMPIRAN I PROSEDUR ANALISA TSS

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 3 METODE PERCOBAAN Penentuan Kadar Kebutuhan Oksigen Kimiawi (KOK) a. Gelas ukur pyrex. b. Pipet volume pyrex. c.

Lampiran 1. Prosedur kerja analisa bahan organik total (TOM) (SNI )

LAMPIRAN. 200 mg / L Minyak dan lemak 25 mg/l. Amoniak (N-NH.-,) 0,5 nig/l

BAB 3 ALAT DAN BAHAN. 1. Gelas ukur 25mL Pyrex. 2. Gelas ukur 100mL Pyrex. 3. Pipet volume 10mL Pyrex. 4. Pipet volume 5mL Pyrex. 5.

BAB III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari Bulan Januari sampai dengan bulan Juni 2015

Lampiran 1. Prosedur Analisis

A = berat cawan dan sampel awal (g) B = berat cawan dan sampel yang telah dikeringkan (g) C = berat sampel (g)

BAB III METODE PENELITIAN. A. Waktu Dan Tempat Penelitian. B. Alat dan Bahan

Metodologi Penelitian

PENGUJIAN AMDK. Disampaikan dalam Pelatihan AIR MINUM

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan bulan Oktober

BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI PELAPISAN LOGAM

BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Tanah dan di Laboratorium Limbah

Lampiran A. Prosedur Analisa Logam Berat Pb dan Cd Dalam Kerang Bulu (Anadara inflata) Diambil daging. Ditambah 25 ml aquades. Ditambah 10 ml HNO 3

Desikator Neraca analitik 4 desimal

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Kimia Analisis.

Air dan air limbah - Bagian 22: Cara uji nilai permanganat secara titrimetri

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan pada bulan Desember sampai dengan Mei tahun 2014/2015.

Lampiran 1. Bagan Kerja Metode Winkler untuk Mengukur Kelarutan Oksigen (DO) (Suin, 2002) Sampel Air. Sampel Dengan Endapan Putih/Coklat 1 ml H 2

BAB III METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN. Sokaraja dengan kondisi lingkungan dominan pemukiman penduduk

Air dan air limbah Bagian 19: Cara uji klorida (Cl - ) dengan metode argentometri (mohr)

BAB III METODE PENELITIAN. Ubi jalar ± 5 Kg Dikupas dan dicuci bersih Diparut dan disaring Dikeringkan dan dihaluskan Tepung Ubi Jalar ± 500 g

DAFTAR PEREAKSI DAN LARUTAN

BAB V METODELOGI. 5.1 Pengujian Kinerja Alat. Produk yang dihasilkan dari alat pres hidrolik, dilakukan analisa kualitas hasil meliputi:

Lampiran 1. Alat dan Satuan yang Dipergunakan dalam Pengukuran Faktor Fisik dan Kimia Perairan.

PENGAMBILAN SAMPEL AIR

BAB III METODE PENELITIAN. Pada penelitian ini digunakan berbagai jenis alat antara lain berbagai

BAB V METODOLOGI. 5.1 Alat yang digunakan: Tabel 3. Alat yang digunakan pada penelitian


GUNAKAN KOP SURAT PERUSAHAAN FORMULIR PERMOHONAN IZIN PEMBUANGAN AIR LIMBAH KE SUMBER AIR

Pupuk dolomit SNI

Lampiran 1. Prosedur analisis karakteristik kompos

Lampiran 1. Prosedur Karakterisasi Komposisi Kimia 1. Analisa Kadar Air (SNI ) Kadar Air (%) = A B x 100% C

SNI Standar Nasional Indonesia

METODE PENGUJIAN. 1. Kadar Oksalat (SNI, 1992)

BAB III METODE PENELITIAN

TARIF LAYANAN JASA TEKNIS BADAN PENGKAJIAN KEBIJAKAN, IKLIM DAN MUTU INDUSTRI BALAI RISET DAN STANDARDISASI INDUSTRI SAMARINDA

BAB III METODE PENELITIAN

Metodologi Penelitian

LAMPIRAN A PROSEDUR ANALISIS

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di lima pasar tradisonal yang terdapat di Bandar

ANALISIS BOD dan COD DI SUNGAI SROYO SEBAGAI DAMPAK INDUSTRI DI KECAMATAN JATEN

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK 2 PENENTUAN KADAR KLORIDA. Senin, 21 April Disusun Oleh: MA WAH SHOFWAH KELOMPOK 1

BAB V METODOLOGI. Pada tahap ini, dilakukan pengupasan kulit biji dibersihkan, penghancuran biji karet kemudian

Analisa BOD dan COD ANALISA BOD DAN COD (BOD AND COD ANALYSIST) COD (Chemical Oxygen Demand) BOD (Biochemical Oxygen Demand)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian kali ini adalah penetapan kadar air dan protein dengan bahan

TARIF LINGKUP AKREDITASI

Lampiran 1. Penentuan kadar ADF (Acid Detergent Fiber) (Apriyantono et al., 1989)

Peraturan Pemerintah RI No. 20 tahun 1990, tanggal 5 Juni 1990 Tentang Pengendalian Pencemaran Air

Lampiran III Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 06 Tahun 2007 Tanggal : 8 Mei 2007

L A M P I R A N DAFTAR BAKU MUTU AIR LIMBAH

Blanching. Pembuangan sisa kulit ari

III. REAKSI KIMIA. Jenis kelima adalah reaksi penetralan, merupakan reaksi asam dengan basa membentuk garam dan air.

PENENTUAN KADAR KLORIDA DALAM MgCl 2 DENGAN ANALISIS GRAVIMETRI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. waterbath, set alat sentrifugase, set alat Kjedalh, AAS, oven dan autoklap, ph

Air dan air limbah Bagian 21: Cara uji kadar fenol secara Spektrofotometri

III. METODE PENELITIAN

FORMULIR ISIAN IZIN PEMBUANGAN LIMBAH CAIR KE LAUT. 1. Nama Pemohon : Jabatan : Alamat : Nomor Telepon/Fax. :...

Lampiran A. Bagan Kerja Metode Winkler untuk Mengukur Kelarutan Oksigen (DO) 1 ml MnSO 4 1 ml KOH KI dikocok didiamkan

BAB V METODOLOGI. digester, kertas ph secukupnya, cawan porselin 3 buah, kurs porselen 3 buah,

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Mei sampai dengan Agustus 2014, yang

Air dan air limbah Bagian 14: Cara uji oksigen terlarut secara yodometri (modifikasi azida)

Laporan Tugas Akhir Pembuatan Pupuk Organik dari Limbah Cair Etanol BAB III METODOLOGI

PEMBUATAN REAGEN KIMIA

Lampiran 1. Kebutuhan air di kampus IPB Dramaga saat libur

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Bahan dan Alat

BAB V METODOLOGI. Dalam percobaan yang akan dilakukan dalam 3 tahap, yaitu:

LAMPIARAN : LAMPIRAN 1 ANALISA AIR DRAIN BIOFILTER

METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan April sampai September 2015 dengan

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah Minyak goreng bekas

PENYISIHAN KESADAHAN dengan METODE PENUKAR ION

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

SNI butir A Air Minum Dalam Kemasan Bau, rasa SNI butir dari 12

dimana a = bobot sampel awal (g); dan b = bobot abu (g)

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan bagan alir yang ditunjukkan pada gambar 3.1

LAMPIRAN. Lampiran 1. Kriteria mutu air berdasarkan kelas (PP Nomor 82 Tahun 2001) PARAMETER SATUAN KELAS I II III IV FISIKA

BAB I PENDAHULUAN. Kimia: Meliputi Kimia Organik, Seperti : Minyak, lemak, protein. Besaran yang biasa di

LAMPIRAN A PROSEDUR PENELITIAN

Seminar Nasional Pendidikan Biologi FKIP UNS 2010

Bab III Metodologi. III. 2 Rancangan Eksperimen

I. Tujuan Setelah praktikum, mahasiswa dapat : 1. Menentukan waktu pengendapan optimum dalam bak sedimentasi 2. Menentukan efisiensi pengendapan

BAB 3 BAHAN DAN METODE. - Buret 25 ml pyrex. - Pipet ukur 10 ml pyrex. - Gelas ukur 100 ml pyrex. - Labu Erlenmeyer 250 ml pyex

BAB V METODOLOGI. Dalam percobaan yang akan dilakukan dalam 2 tahap, yaitu :

BAB V METODOLOGI. Gambar 6. Pembuatan Minyak wijen

Penelitian ini akan dilakukan dengan dua tahap, yaitu : Tahap I: Tahap perlakuan awal (pretreatment step)

Lokasi penelitian bertempat di Laboratorium Teknofisikokimia Puslitbang. Indonesia Batang Jawa Tengah, yaitu limbah cair tekstil

Udara ambien Bagian 8: Cara uji kadar oksidan dengan metoda neutral buffer kalium iodida (NBKI) menggunakan spektrofotometer

Lampiran 1 Prosedur Analisis ph H2O dengan ph Meter Lampiran 2. Prosedur Penetapan NH + 4 dengan Metode Destilasi-Titrasi (ppm)=

PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK II

BAB V METODOLOGI. No. Alat Ukuran Jumlah. 1. Digester - 1 Buah. 2. Pengaduk - 1 Buah. 3. Kertas PH - Secukupnya. 4.

GUBERNUR JAWA TIMUR, 4. Peraturan Pemerintah Nomor 93 Tahun 1999 tentang Perusahaan Umum Jasa Tirta I ;

Lampiran 1. Prosedur Analisis Karakteristik Pati Sagu. Kadar Abu (%) = (C A) x 100 % B

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. stasiun pengambilan terlampir pada Lampiran 1. Proses identifikasi pada sampel

Transkripsi:

165 LAMPIRAN I PROSEDUR ANALISA TSS 1. Alat a. Cawan penguapan, diameter 90 mm, kapasitas 100 ml, terbuat dari porselin b. Oven untuk pemanasan 105 o C c. Desikator d. Kertas Saring e. Timbangan analitis, kapasitas 200 gram, ketelitian 0,1 mg 2. Prosedur Percobaan a. Cawan penguap kosong yang telah dibersihkan, dipanaskan pada 105 o C dalam oven selama 1 jam. Apabila akandilanjutkan untuk analisa Zat padat Tersuspensi Organis, cawan dipanaskan pada 550 o C selama 1 jam. b. Dinginkan selama 15 menit dalam desikator, kemudian ditimbang; cawan yang dikeluarkan dari furnace pada 550 o C diturunkan dahulu panasnya dalam oven pada 105 o C sebelum didinginkan dalam desikator. c. Sampel dikocok merata, kemudian dituangkan dalam cawan Volum sampel diatur sehingga berat residu adalah antara 25 sampai 250 mg. d. Masukkan cawan berisi sampel ke dalam oven, suhu oven diatur 98 o C untuk mencegah percikan akibat didihan air dalam cawan. Namun bila volum sampel kecil dan dinding cawan cukup tinggi maka langkah ini tidak perlu. e. Teruskan pengeringan dalam oven dengan suhu 105 o C selama 1 jam. f. Dinginkan cawan yang berisi residu zat padat tersebut dalam desikator, sebelum ditimbang. g. Ulangi langkah e dan f, sampai diperoleh berat yang konstan atau berat berkurang < 4% berat semulaatau 0,5 mg. Biasanya pemanasan 1 sampai 2 jam sudah cukup. Awas!!!

166 Garam yang telah mengendap sangat higroskopis, sehingga penimbangan harus dilakukan dengan cepat. h. Agar hasil analisa teliti, seharusnya dibuat duplikat. i. Perhitungan: Zat Padat Total (mg/l) ( a b) 1000 = Volume _ sampel Dimana: a = berat cawan dan residu sesudah pemanasan 105 o C b = berat cawan (kosong) sesudah pemanasan 105 o C

167 LAMPIRAN II PROSEDUR ANALISA PV (PERMANGANAT VALUE) 1. Alat dan bahan a. Larutan asam sulfat (H 2 SO 4 ) 4 N yang bebas organik b. Larutan asam oksalat 0,1 N c. Larutan Kalsium Permanganat (KmnO 4 ) d. Pemanas listrik e. Buret 25 ml atau 50 ml f. Erlenmeyer 250 ml 1 buah g. Gelas ukur 100 ml h. Pipet 10 ml, 1ml 2. Prosedur Percobaan a. Tuangkan sampel air sebanyak 100 ml dengan gelas ukur b. Tambahkan 2,5 ml asam Sulfat 4 N bebas organik c. Tambahkan beberapa tetes larutan Kalium Permanganat (KMnO 4 ) 0,01N hingga terjadi warna merah muda. d. Panaskan hingga mendidih selama 1 menit. e. Tambahkan 10 ml larutan Kalium Permanganat (KMnO 4 ) 0,01 N. f. Panaskan hingga mendidih selama 10 menit. g. Tambahkan 1ml larutan asam Oksalat 0,1 N dan tunggu sampai air menjadi jernih. h. Titrasi dengan Kalium Permanganat (KMnO 4 ) 0,01 N sampai timbul warna merah muda. i. Hitung nilai Permanganat dengan rumus berikut: ([{ (10 + a) N} (1 0,1) ]) x31, P 1000 KMnO 4 ( mg / l) = 6 volume _ sampel Dimana: a = volume titrasi larutan Kalium Permanganat (KMnO 4 ) N = normalitas larutan Kalium Permanganat P = pengenceran

168 LAMPIRAN III PROSEDUR ANALISA BOD 1. Alat dan bahan Alat-alat: a. Botol-botol inkubasi winkler dari kaca 250-320 ml dimana volumenya diketahui dengan tepat, karena tercantum pada botolnya. Botol tersebut dapat memakai tutup khusus lingkar air (water seal), tetapi biasanya dasar tutupnya membentuk kerucut supaya kelebihan air dan gelembung udara dapat dihilangkan dengan mudah. b. Inkubator: Suhu terjamin 20± 1 o C; gelap. c. 4 labu takar 1 liter; 3 labu takar 2 liter; bermacam-macam pipet; kalau tersedia, dispenser otomatis. d. Peralatan bagi analisa oksigen terlarut Reagen a. Air suling: tidak boleh mengandung zat beracun, seperti Cr, Cl 2, dsb. b. Larutan bufer fosfat Larutkan ke dalam labu takar 1 liter yang berisi 500 ml air suling, 8,5 g KH 2 PO 4, 21,75 g K2HPO4, 33,4 g Na 2 HPO 4. 7 H 2 0 dan 1,7 g NH 4 Cl. Kemudian encerkan dengan air suling sampai menjadi 1liter. Sesuaikan ph nya sampai 7,2 dengan asam HCl atau basa NaOH 0,1 atau 1N. c. Larutan magnesium sulfat: Larutkan ke dalam labu takar 1 liter yang berisi 500 ml air suling, 22,5g MgSO4.7H2O dan encerkan dengan air suling sampai 1 liter. d. Larutan kalsium klorida Larutkan ke dalam labu takar 1 liter yang berisi 500 ml air suling, 27,5g CaCl 2 dan encerkan dengan air suling sampai 1 liter.

169 e. Larutan feriklorida Larutkan ke dalam labu takar 1 liter yang berisi 500 ml air suling, 0,25 g FeCl 3.6H20 dan encerkan dengan air suling sampai 1 liter. (larutan b sampai e harus diganti kalau endapan atau lumut telah muncul) f. Larutan basa NaOH atau KOH dan asam HCl atau H 2 SO 4 1N untuk menetralkan sampel air yang bersifat asam atau basa sampai ph nya berkisar antara 7,0-7,6. g. Bubuk inhibitor nitrifikasi: N-Serve (Dow chemicals, allytio ureum (ATU) (Merck) atau nitrification inhibitor 2533 (Hach Chem. Co). h. Benih (inoculum, seed): Ambil 10 g tanah subur, yang dapat ditanami, tidak mengandung pestisida, ph antara 6-7,5. Campur tanah tersebut dengan 100 ml air sampel yang akan diperiksa. Simpan suspensi tersebut selama 1 hari pada temperatur 20 o C dalam inkubator gelap. 2. Prosedur percobaan A. Pembuatan air pengencer Air pengencer ini tergantung banyaknya sample yang akan dianalisa dan pengencerannya, prosedurnya: 1. Tambahkan 1 ml larutan buffer fosfat per liter air. 2. Tambahkan 1 ml larutan magnesium sulfat per liter air. 3. Tambahkan 1 ml larutan larutan kalium klorida per liter air. 4. Tambahkan 1 ml larutan feri klorida per liter air. 5. Tambahkan 10 mg bubuk inhibitor. 6. Aerasi minimal 2 jam. 7. Tambahkan 1 ml larutan benih per liter air. B. Prosedur BOD 1. Menentukan pengenceran Untuk menganalisa BOD harus diketahui besarnya pengenceran melalui KMnO4 sebagai berikut:

170 angka _ KMnO4 P = 3atau5 2. Prosedur BOD dengan Winkler a. Siapkan 1 buah labu takar 500 ml dan tuangkan sampel sesuai dengan perhitungan pengenceran, tambahkan air pengencer sampai batas labu. b. Siapkan 2 buah botol Winkler 300 ml dan 2 buah botol Winkler 150 ml. c. Tuangkan air dalam labu takar tadi kedalam botol Winkler 300 ml dan 150 ml sampai tumpah. d. Tangkan air pengencer ke botol Winkler 300 ml dan 150 ml sebagai blanko sampai tumpah. e. Masukkan kedua botol Winkler 300 ml ke dalam inkubator 20 o C selama 5 hari f. Kedua botol Winkler 150 ml yang berisi air dianalisa oksigen terlarutnya dengan prosedur sebagai berikut: - Tambahkan 1 ml larutan mangan sulfat - Tambahkan pereaksi oksigen - Botol ditutup dengan hati-hati agar tidak ada gelembung udaranya lalu balik-balikkan beberapa kali. - Biarkan gumpalan mengendap selama 5-10 menit - Tambahkan 1 ml asam sulfat pekat, tutup dan balikbalikkan. - Tuangkan 100 ml larutan ke dalam erlenmeyer 250 ml. - Titrasi dengan larutan Natrium Tiosulfat 0,0125 N sampai warna menjadi coklat muda. - Tambahkan 3-4 tetes indikator amilum dan titrasi dengan Natrium Tiosulfat hingga warna biru hilang. g. Setelah 5 hari, analisa kedua larutan dalam botol Winkler 300 ml dengan analisa oksigen terlarut. h. Hitung oksigen terlarut dan BOD dengan rumus berikut: a n 8000 OT ( mgo2 / l = 100ml

171 BOD 20 5 ( mg / l) = {( Xo X ) ( Bo B } ml _ sampel P = volume _ hasil _ pengenceran Dimana: Xo = Oksigen terlarut sampel pada t = 0 X 5 = Oksigen terlarut sampel pada t = 5 Bo = Oksigen terlarut blanko pada t = 0 B 5 = Oksigen terlarut blanko pada t = 5 P = Derajat pengenceran 5 P 5 (1 P)

172 LAMPIRAN IV PROSEDUR ANALISA COD 1. Alat dan bahan a. larutan K 2 Cr 2 O 7 b. Kristal Perak Sulfat (Ag 2 SO 4 ) dicampur dengan Asam Sulfat (H 2 SO 4 ) c. Larutan standard Fero Amonium Sulfat 0,05 N d. Kristal Merkuri Sulfat (Hg 2 SO 4 ) e. Larutan indikator Fenantrolin fero Sulfat (Feroin) f. Buret 50 ml 1 buah g. Erlrnmeyer COD 2 buah h. Alat refluks dan pemanasnya i. Pipet 10 ml, 5 ml j. Beker glass 50 ml 1 buah 2. Prosedur Percobaan a. Masukkan 0,4 gr kristal Hg 2 SO 4 ke dalam masing-masing erlenmeyer COD. b. Tuangkan 20 ml air sampel dan 20 ml air aquadest (sebagai blanko) ke dalam masing-masing erlenmeyer COD. c. Tambahkan 10 ml larutan Kalium Dikromat (K 2 Cr 2 O 7 ) 0,1 N d. Tambahkan 30 ml larutan campuran Ag 2 SO 4 dan H 2 SO 4. e. Alirkan air pendingin pada kondensor dan pasang erlenmeyer COD. f. Nyalakan alat pemanas dan refluís larutan tersebut selama 2 jam. g. Biarkan erlenmeyer dingin dan tambahkan air aquadest melalui kondensor sampai volume 150 ml. h. Lepaskan erlenmeyer dari kondensor dan tunggu sampai dingin. i. Tambahkan 3-4 tetes indikator feroin.

173 j. Titrasi kedua larutan di erlenmeyer tersebut dengan Indikator Feroin 0,05 N hingga warna menjadi merah coklat. k. Hitung COD sampel dengan rumus: ( a b) N 8000 COD ( mg / lo2 )) = f P volume _ sampel Dimana: a = Volume FAS titrasi blanko (ml) b = Volume FAS titrasi sampel (ml) N = Normalitas larutan FAS f = faktor ( 20: titran blanko kedua) P = pengenceran

174 LAMPIRAN V BAKU MUTU LIMBAH CAIR PROPINSI JAWA TIMUR Tabel V.1 Baku Mutu Limbah Cair Kawasan Industri & Limbah Terpusat, Propinsi Jawa Timur Golongan Baku Mutu Limbah Cair No. Parameter Satuan I II III IV A. Parameter Fisika 1 Temperatur o C 35 38 40 45 2 Zat padat terlarut 3 Zat padat tersuspensi B. Parameter Kimia mg/liter 1500 2000 4000 5000 mg/liter 100 200 200 500 1 ph mg/liter 7-9 7-9 7-9 7-9 2 Besi mg/liter 5 10 15 20 3 Mangan mg/liter 0,5 2 5 10 4 Barium mg/liter 1 2 3 5 5 Tembaga mg/liter 1 2 3 5 6 Seng mg/liter 5 10 15 20 7 Krom heksavalen mg/liter 0,05 0,1 0,5 2 8 Krom total mg/liter 0,1 0,5 1 2 9 Kadmium mg/liter 0,01 0,05 0,1 1 10 Timbal mg/liter 0,001 0,002 0,05 0,01 11 Raksa mg/liter 0,1 0,5 1 3

175 Lanjutan Tabel V.1 Baku Mutu Limbah Cair Kawasan Industri & Limbah Terpusat, Propinsi Jawa Timur Golongan Baku Mutu Limbah Cair No. Parameter Satuan I II III IV 12 Timah putih mg/liter 2 3 4 5 13 Arsen mg/liter 0.05 0,1 0,5 1 14 Selenium mg/liter 0,01 0,05 0,5 1 15 Nikel mg/liter 0,1 0,2 0,5 1 16 Kobalt mg/liter 0,2 0,4 0,6 1 17 Sianida mg/liter 0,05 0,1 0,5 1 18 Sulfida mg/liter 0,01 0,06 0,1 1 19 Florida mg/liter 1,5 15 20 30 20 Klorin bebas 21 Amonia bebas mg/liter 0,02 0,03 0,04 0,05 mg/liter 0,5 1 5 20 22 Nitrat mg/liter 10 20 30 50 23 Nitrit mg/liter 0,06 1 3 5 24 BOD5 mg/liter 30 50 150 300 25 COD mg/liter 80 100 300 600 26 Deterjen ionik mg/liter 0,5 1 10 15 27 Phenol mg/liter 0,01 0,05 1 2 28 Minyak & lemak mg/liter 1 5 15 20 29 PCB mg/liter NIHIL NIHIL NIHIL NIHIL (Sumber: Lampiran I Kep. Gub. Jawa Timur No.45 Tahun 2002)

176 Perhitungan Volume Limbah Cair Maksimum dan beban Pencemaran Maksimum untuk menetukan Mutu Limbah Cair 1. Menghitung Volume Limbah Cair Maksimum a. Penetapan Baku Mutu Limbah Cair pada pembuangan limbah cair melalui penetapan Volume Limbah Cair Maksimum, sebagai mana tercantum dalam lampiran I untuk masing-masing jenbis industri didasarkan pada tingkat produksi bulanan yang sebenarnya. Untuk itu digunakan perhitungan sebagai berikut : DM Vm = Pb Keterangan : Vm = Volume Limbah Cair Maksimum Dm= Debit Limbah Cair Maksimum Pb = Produksi sebenarnya b. Debit Limbah Cair yang sebanarnya dihitung dengan cara sebagai berikut : (DA = Dp x H ) Keterangan : DA = Debit limbah cair yang sebanarnya (m 3 /bulan) Dp = Hasil pengukuran debit limbah cair (m 3 /hari) H = Jumlah hari kerja pada bulan yang bersangkutan c. Penilaian Debit DA Va = Pb Keterangan : Va = Volume limbah cair yang sebanarnya dinyatakan dalam m3/per satuan produk DA = Debit limbah sebanarnya dinyatakan dalam m3/bulan Pb = Produksi sebenarnya dalam sebulan Catatan : Va tidak boleh lebih besar dari Vm

LAMPIRAN VI LAY OUT IPAL MINUMAN PQR 177

178 LAMPIRAN VII PIPING & INSTRUMENT DIAGRAM SISTEM ANAEROBIK