BAB III TINJAUAN TEMA

dokumen-dokumen yang mirip

BAB.IV. KONSEP DESAIN. IV.1 Tema Perancangan Tema Perancangan Proyek medical spa ini adalah, Refreshing, Relaxing and Theurapetic,

mempunyai sirkulasi penghuninya yang berputar-putar dan penghuni bangunan mempunyai arahan secara visual dalam perjalanannya dalam mencapai unit-unit

BAB IV KONSEP PERANCANGAN. Tema Healing Environment tidak hanya diterapkan pada desain bagian luar

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

Pusat Rehabilitasi Diabetes dengan Pendekatan Healing Environment di Surabaya

BAB IV: KONSEP Konsep Dasar WARNA HEALING ENVIRONMENT. lingkungan yang. mampu menyembuhkan. Gambar 4. 1 Konsep Dasar

HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN PERNYATAAN UCAPAN TERIMA KASIH ABSTRAK DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR DIAGRAM DAFTAR LAMPIRAN

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN. merupakan salah satu pendekatan dalam perancangan arsitektur yang

BAB V KAJIAN PUSTAKA. Pekalongan ini adalah arsitektur humanis. Latar belakang penekanan/

03 PEMBAHASAN PERSOALAN DESAIN

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Bab IV. Konsep Perancangan

BAB V KONSEP PERANCANGAN BANGUNAN

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN

MEDICAL SPA (DESTINATION SPA)

5 BAB V KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB II TINJAUAN PROYEK Tinjauan Umum : Pusat Rehabilitasi Medik Tema Arsitektur : Healing Architecture

BAB V KONSEP PERANCANGAN

Bayanaka Canggu. tentang sebuah rumah peristirahatan di Bali, 2007 oleh: Fransiska Prihadi 1

BAB III METODE PERANCANGAN. Metode Perancangan merupakan cara berfikir dengan menyesuaikan rumusan

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Masalah

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH SAKIT JIWA

HASIL PERANCANGAN ... BAB IV. 4.1 Deskripsi Umum Projek

REDESAIN RUMAH SAKIT ISLAM MADINAH TULUNGAGUNG TA-115

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB I PENDAHULUAN. makanannya, dan kawasan perbelanjaannya. Kota Bandung berkembang dengan

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB VI KONSEP RANCANGAN

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB VI HASIL RANCANGAN

Laporan Perancangan Arsitektur Akhir Rumah Sakit Umum Daerah Jakarta Selatan BAB II: STUDI Pemahaman Terhadap Kerangka Acuan Kerja

BAB III DESKRIPSI PROYEK

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1. Jumlah Penduduk dan Angka Beban Tanggungan Menurut Kelompok Usia

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN. tema perancangan dan karakteristik tapak, serta tidak lepas dari nilai-nilai

KONSEP. 4.1 Konsep Dasar. Arsitektur Ramah Lingkungan (Green Architecture) Pendekatan Green Architecture

BAB VI HASIL PERANCANGAN

berfungsi sebagai tempat pertukaran udara dan masuknya cahaya matahari. 2) Cross Ventilation, yang diterapkan pada kedua studi kasus, merupakan sistem


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH JAKARTA SELATAN Arsitektur Tropis

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN. kehidupan modern dengan tuntutan kebutuhan yang lebih tinggi. Seiring

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rancangan

RESORT DENGAN FASAILITAS MEDITASI ARSITEKTUR TROPIS BAB V KONSEP PERANCANGAN. 5.1 Konsep dasar perancanagan. 5.2 Konsep perancangan

BAB VI HASIL PERANCANGAN. terdapat pada konsep perancangan Bab V yaitu, sesuai dengan tema Behaviour

Pengantar Daftar Tabel Daftar Gambar Rancangan Kegiatan Pembelajaran

BAB III KONSEP PERANCANGAN PUSAT ILMU PENGETAHUAN DAN KEBUDAYAAN RUSIA

BAB VI HASIL RANCANGAN. wadah untuk menyimpan serta mendokumentasikan alat-alat permainan, musik,

BAB V Konsep. 5.1 Konsep Ide dasar

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB III ELABORASI TEMA

KONSEP PERANCANGAN RUMAH SAKIT KHUSUS PARU

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Perancangan Interior Gedung Singapore International School dengan Konsep Learning by Playing

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

ASPEK-ASPEK ARSITEKTUR BENTUK DAN RUANG.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Kesehatan Di Rumah Sakit

[STASIUN TELEVISI SWASTA DI JAKARTA]

BAB VI HASIL PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. kendaraan dan manusia akan direncanakan seperti pada gambar dibawah ini.

Teknik sampel yang dipakai adalah teknik pengambilan contoh atau sampel kasus

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB III TINJAUAN KHUSUS

DENAH LT. 2 DENAH TOP FLOOR DENAH LT. 1

BAB VI KONSEP PERENCANAAN dan PERANCANGAN RUMAH RETRET di KALIURANG, SLEMAN

BAB VI HASIL RANCANGAN. tema Sustainable Architecture yang menerapkan tiga prinsip yaitu Environmental,

HOTEL RESORT DI DAGO GIRI, BANDUNG

BAB IV TINJAUAN KHUSUS

BAB VI HASIL RANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN INTERIOR DAN PENERAPAN DESAIN

BAB V KONSEP PERANCANGAN RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK Penerapan Healing Environment pada Ruang Dalam

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PENGESAHAN... ii KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... iv DAFTAR GAMBAR... x DAFTAR TABEL...

REDESAIN RUMAH SAKIT SLAMET RIYADI DI SURAKARTA

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB VI HASIL RANCANGAN. Hasil Rancangan menggunakan konsep Serenity in Fluidity yang dijelaskan

Pengembangan RS Harum

ABSTRAK. umumnya, mereka mengalami penolakan dari masyarakat. Selain penolakan, diseuaikan dengan kemampuan fisik mereka.

BAB IV Konsep dan Tema Perancangan

BAB V : KONSEP. 5.1 Konsep Dasar Perancangan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN. Terakota di Trawas Mojokerto ini adalah lokalitas dan sinergi. Konsep tersebut

BAB V KAJIAN TEORI. Tema desain menjadi sebuah konsep untuk merancang dan membuat

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. A. Kesimpulan

DAFTAR ISI... HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR DIAGRAM...

BAB 6 HASIL RANCANGAN. Perubahan Konsep Tapak pada Hasil Rancangan. bab sebelumnya didasarkan pada sebuah tema arsitektur organik yang menerapkan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Konsep BAB V KONSEP. 5.1 Kerangka Konsep. 5.2 Konsep Young Dynamic

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Penjelasan Skema : Konsep Citra yang diangkat merupakan representasi dari filosofi kehidupan suku Asmat yang berpusat pada 3 hal yaitu : Asmat sebagai

TUGAS AKHIR PERANCANGAN RUMAH SAKIT PENDIDIKAN JATISAMPURNA - BEKASI

BAB IV ANALISIS PERANCANGAN

BAB IV : KONSEP. 4.1 Konsep Dasar. Permasalahan & Kebutuhan. Laporan Perancangan Arsitektur Akhir

Transkripsi:

BAB III TINJAUAN 3.1. Interpretasi Tema Rehabilitasi berasal dari dua kata, yaitu re yang berarti kembali dan habilitasi yang berarti kemampuan. Menurut arti katanya, rehabilitasi berarti mengembalikan kemampuan 4. Rehabilitasi merupakan proses menuju kesembuhan bagi pasien yang berhubungan dengan kesehatan fisik dan psikis yang dipengaruhi oleh ruang, warna, cahaya, aroma, akustik, artwork. Dengan memberikan hal tersebut maka akan dihasilkan desain bangunan rehabilitasi yang dapat mempercepat proses penyembuhan. Jadi bisa dikatakan bahwa arsitektur dapat membantu proses penyembuhan yang intinya dibentuk dari alam (tumbuhan hijau), cahaya alami dan udara alami 5. Penerapan hal tersebut dikenal dengan healing architecture. Selain dibutuhkan oleh orang yang sakit, healing environment juga dibutuhkan oleh orang yang sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Inti dari healing adalah tumbuh menuju suatu kesatuan yang terpadu yang berarti suatu integrasi yang seimbang antara empat faktor yang mempengaruhi keberadaan manusia, yaitu tubuh, semangat hidup, jiwa dan individuality 6. Secara psikologis, stress dapat memicu penyakit. Lingkungan sekitar memberikan pengaruh yang besar terhadap keadaan pasien. Jadi secara umum, healing architecture berupaya mengurangi tingkat stress pasien agar pasien lebih rileks sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan. 4 Modul Rehabilitasi Psiko Fisikal oleh Dra. Mimin Casmini, M.Pd. 5 Nancy.sigh@expressiindia.com 6 Day, Christopher. 2002. Spirit and place, Planta Tree. 13

Pada teorinya terdapat tujuh prinsip dasar mengenai healing architecture 7, yaitu : 1. Unity of Form and Function (kesatuan bentuk dan fungsi). Prinsip ini dapat disebut sebagai fungsi spiritual dengan cara merasakan kegiatan yang berlangsung dilingkungan bangunan, interaksi dengan pasien dan lahan, mendesain dengan maket, merasakan bentuk pada kehidupan yang alami. Dalam hal ini suatu bentuk bangunan diintegrasikan dengan fungsinya. Desain menggabungkan dimensi teknologi, psikologi, sosial, ekologi, manusia dan spiritual pada suatu fungsi dalam arsitektur yang mencerminkan keberadaan manusia secara keseluruhan. Prinsip ini dapat dicontohkan seperti pada gambar 3.1 dimana bentuk dan perletakan ruang disesuaikan dengan anatomi manusia. Gambar 3.1 Penerapan prinsip kesatuan bentuk dan fungsi. Sumber : Gary J.Coates, dan Susanne Siepl- Coates. 2. Polarity (polaritas). Polaritas mengimplementasikan bahwa suatu perbedaan tidak hanya merupakan suatu pertentangan, tetapi perbedaan adalah dua bagian yang berbeda dari suatu kesatuan yang lebih besar. Penerapannya seperti contoh pada Gambar 3.2 dimana terdapat satu ruang yang mempunyai dua fungsi sekaligus, yaitu fungsi pasif dan aktif. Gambar 3.2 Penerapan prinsip polaritas 7 Gary J. Coates, B.E.D., M.Arch and Susanne Siepl-Coates, M.Arch., Dipl.Ing 14

3. Metamorphosis. BAB III Konsep ini merupakan konsep yang paling penting, tetapi paling sulit untuk diterapkan. Johan Wolfgang von Goethe, seorang ahli warna dan bahan organik, pertama kali menemukan prinsip metamorphosis dalam studinya mengenai bunga dan diimplementasikan pertama kali kedalam arsitektur oleh Steiner. Metamorphosis memberikan suatu kesatuan dalam level tertentu pada bangunan yang terlihat berbeda, sehingga memberi kesan adanya hubungan antara bangunan yang berbeda tersebut. Secara mendasar prinsip metamorphosis digambarkan seperti pada Gambar 3.3, yaitu pemakaian prinsip metamorphosis dalam perluasan bangunan. Gambar 3.3 Contoh prinsip metamorphosis Sumber : Gary J.Coates, dan Susanne Siepl-Coates 4. Harmoni with Nature and Site. Prinsip ini menekankan pada keselarasan desain bangunan dengan alam dan lingkungan pada lahan dan sekitarnya. Dalam hal ini bukan alam yang diubah untuk pembangunan suatu bangunan, tetapi bangunanlah yang dirancang untuk menyesuaikan dengan alam disekitar lahan. Seperti ditunjukan pada Gambar 3.4 dimana bangunan dibuat untuk menyesuaikan dengan alam dan sedikit mungkin mengubah alam sekitar dengan harapan agar kualitas desain bangunan akan menjadi lebih baik. 15

Gambar 3.4 Bangunan selaras dengan alam untuk mendapatkan spirit Sumber : Day, Christopher. 2002. Spirit and Place, Planta Tree 5. The Living Wall. Pada umumnya, dinding hanya berupa suatu elemen tambahan untuk mengisi elemen-elemen struktural seperti kolom. Dinding tidak mempunyai identitas, karakter atau tidak mempunyai hal apapun yang menarik. Pada prinsip ini, dinding dapat didesain menjadi suatu hal yang organik dan hidup, begitu pula dengan bukaan-bukaan pada dinding, seperti pada Gambar 3.5. Bukaan pada dinding didesain sehingga pasien dapat berinteraksi dengan ruang luar ketika beraktifitas di dalam ruangan. Gambar 3.5 Contoh dinding dengan bentuk yang organik Sumber : Gary J.Coates, dan Susanne Siepl-Coates 6. The Dynamic Equilibrium of Spatial Experience (keseimbangan dinamis dari pengalaman spasial). Prinsip keseimbangan dinamis dalam suatu pengalaman ruang. Contoh pada suatu desain terdapat dua ruang utama, ruang untuk bergerak dan ruang untuk istirahat. Pada ruang untuk bergerak terdapat tempat untuk beristirahat dan pada ruang untuk istirahat mendapatkan perasaan bergerak. 7. Colour luminosity and Colour Perspective (perspektif warna). Pada prinsip ini, warna-warna digunakan untuk membantu proses penyembuhan. Salah satunya dapat diterapkan 16

dengan penggunaan warna-warna terang dan ceria pada dinding bangunan untuk meningkatkan semangat pengguna bangunan atau dengan penerapan warna-warna lain untuk menciptakan suatu suasana yang dapat mempengaruhi psikologis pengguna bangunan. Contoh penerapan prinsip ini seperti pada Gambar 3.6. Perspektif akan warna digunakan pada dinding selasar untuk menciptakan suatu pengalaman ruang yang lebih positif bagi pengguna selasar tersebut. Gambar 3.6 Contoh prinsip colour iluminosity and colour perspective Sumber : Gary J.Coates, dan Susanne Siepl- Coates 3.2. Elaborasi Tema Aspek yang ditekankan dalam perancangan ini adalah segi kenyamanan dan aspek psikologis pengguna yang secara langsung maupun tidak langsung dapat membantu pasien dalam penyembuhannya, juga dapat memberikan lingkungan yang nyaman bagi pengguna lainnya, seperti staf medis dan keluarga pasien. Aspek-aspek tersebut diterapkan baik kedalam bangunan maupun kelingkungan sekitar bangunan. Hal tersebutlah yang diharapkan dapat mewujudkan tema healing architecture dalam perancangan bangunan pusat rehabilitasi medik ini. Secara umum, penerapan healing architecture dapat dilakukan dengan mengubah desain fasilitas kesehatan yang selama ini terkesan kaku menjadi lebih fleksibel dan menyenangkan, sehingga dapat mempercepat proses kesembuhan. Hal tersebut antara lain dapat dilakukan dengan cara 8 : 8 Day, Christopher. 2002. Spirit and Place, Planta Tree 17

1. Mengatur posisi dinding agar posisi pintu masuk dan posisi duduk tidak langsung menghadap dinding datar. 2. Mengarahkan koridor ke tempat-tempat pemberhentian yang berbeda, seperti tempat dengan elemen air dan tanaman. 3. Mendesain beberapa pintu pada transisi antar ruang sehingga setiap ruang atau kelompok ruang menjadi spesial. 4. Membuat bukaan yang banyak dan berulang. Dan pada jarak tertentu menghadap keluar taman dan balkon. 5. Membuat atau mengatur cahaya matahari sehingga dapat muncul atau masuk dari arah yang berbeda. 6. Penggunaan lampu yang cahayanya lembut dan bervariasi. 7. Penggunaan material yang bervariasi, khususnya pada lantai, langit-langit, pintu dan jendela. Gambar 3.7 Perbandingan ruang koridor dan ruang tunggu yang lebih hidup dengan ruangan yang kaku. Sumber: Day, Christopher. 2002. Spirit and Place, Planta Tree Sedangkan menurut Nancy Singh seorang pakar kesehatan dari India mengatakan bahwa dalam arsitektur penyembuhan membutuhkan pendekatan multi disiplin yang melibatkan arsitek, profesional kesehatan, administrator rumah sakit, desainer interior, arsitek lanscape dan ilmuwan lingkungan hidup untuk membentuk sebuah pusat rehabilitasi medik yang sempurna. Hal tersebut dirangkum dengan istilah mantra penyembuhan, yaitu : 18

Desain lobi harus memberikan rasa nyaman dan kehangatan. Zona kenyamanan suhu, menggunakan ventilasi yang baik agar udara dapat bergerak. Hangat, dingin warna dan tekstur untuk interior. Membuat kamar pasien yang terbuka ke arah kebun. Mengurangi kebisingan menggunakan bahan penyerap suara. Kualitas udara yang lebih baik, kualitas pencahayaan dan layout interior standar untuk meningkatkan keselamatan. Positif yang positif seperti lukisan air-badan dan kebun. Gambar 3.8 Lukisan berdasarkan fengsui yang menyelaraskan elemen-elemen cerah pada ruang sebagai upaya penyembuhan Sumber : Rumah sakit Columbia Asia, Bangalore 3.3. Studi Banding 3.3.1. Schwab Rehab, Chicago Prinsip healing architecture yang diterapkannya melalui : Harmony with nature and site Prinsip keselarasan dengan alam ini diterapkan dengan penggunaan atap taman sebagai respon dari cuaca panas di daerah Cicago. Penggunaan atap taman ini pun dimaksudkan untuk terapi hortikultura, yaitu di mana tanaman dan kegiatan berkebun yang digunakan untuk memperbaiki kondisi tubuh, pikiran dan jiwa. Pengolahan atap taman ini didesain dengan membuat perkebunan dan taman kolam dengan tingkat keamanan yang tinggi bagi pengguna. Gambar 3.9 Penerapan prinsip harmony with nature Sumber: http://www. schwabrehab.org/ 19

Gambar 3.10 Penerapan prinsip harmony with nature site pada Schwab Rehab di Chicago Disamping itu penggunaan atap taman ini diharapkan dapat menimbulkan kesan alami sehingga pengguna dapat tetap merasa berinteraksi langsung dengan alam pada lantai atap. Gambar 3.11 Penggunaan atap taman pada Schwab Rehab di Chicago Penggunaan atap taman ini harus memiliki sistem struktur, sistem drainase dan water proofing yang baik dan tepat untuk mendukung penggunaan atap taman tersebut. Gambar 3.12Sistem struktur atap taman pada Schwab Rehab di Chicago 20

Colour luminosity and colour perspective BAB III Prinsip Colour luminosity and colour perspective diterapkan dengan penggunaan mural pada dinding lobby yang menggambarkan penyandang cacat yang aktif dalam semua aspek kehidupan termasuk bekerja dan bermain. Gambar 3.13 Mural pada dinding lobby, playground dan pool theraphy pada Schwab Rehab di Chicago Pengunaan mural ruang luar dan warna-warna cerah juga diterapkan pada dinding playground dan dinding kolam terapi agar pasien tidak merasa terkurung dan membuat suasana cerah dan menyenangkan. 3.3.2. Instalasi Rehabilitasi Medik Dr. Soejoto RSPAD Gatot Soebroto Instalasi rehabilitasi medik ini berada di lingkungan RSPAD Gatot Soebroto Jakarta Pusat yang dibangun atas prakasa Presiden Soeharto sebagai penghargaan atas pengabdian prajurit ABRI kepada Nusa dan Bangsa. Dan diresmikan tanggal 27 Oktober 1978. Gambar 3.14 Tampak depan. Sumber: Dok. Pribadi 21

Bangunan ini terdiri dari dua lantai, dimana pembagian ruangnya dapat dilihat pada Gambar 3.15 dan 3.16. Gambar 3.15 Denah lantai 1 Instalasi Rehabilitasi Medik Dr. Soejoto RSPAD Sumber : Instalasi Rehabilitasi Medik Dr. Soejoto RSPAD Gatot Soebroto Gambar 3.16 Denah lantai 2 Instalasi Rehabilitasi Medik Dr. Soejoto RSPAD Sumber : Instalasi Rehabilitasi Medik Dr. Soejoto RSPAD Gatot Soebroto Bangunan ini tidak memiliki lift, sedangkan untuk pasien dengan kursi roda yang ingin menuju menuju lantai 2 dapat mengunakan tangga luncur/ramp pada sisi bangunan. Sedangkan akses ke dalam dapat melalui pintu depan ataupun pintu belakang. 22

Gambar 3.17 Tangga luncur Sumber : Dok. Pribadi Gambar 3.18 Lobby resepsionis Sumber : Dok. Pribadi Pelayanannya terdiri dari Fisioterapi, hidroterapi, terapi wicara, terapi okupasi, ortotis-prostetis, sosial medik & psikologi dengan fasilitas penunjang masing-masing pelayan tersebut. Seperti Pool terapi, gymnasium, bengkel alat-alat penunjang dan lainnya. Gambar 319 R. Pendaftaran Gambar 3.20 R. Tunggu Gambar 3.21 Coridor atas Sumber : Dok. Pribadi Sumber : Dok. Pribadi Sumber : Dok. Pribadi Gambar 3.22 Bengkel Gambar 3.23 Gymnasium Gambar 3.24 Pool terapi Sumber : Dok. Pribadi Sumber : Dok. Pribadi Sumber : Dok. Pribadi Gambar 3.25 R. Terapi Sumber : Dok. Pribadi Gambar 3.26 R. Inap Sumber : Dok. Pribadi Selain itu terdapat fasilitas ruang istirahat bagi pasien yang memerlukan layanan rehabilitasi medik dalam waktu satu hari. 23

3.4. Kesimpulan Studi Banding BAB III Dua contoh diatas, yaitu Scwab Rehab di Chicago dan Instalasi rehabilitasi medik Dr. Soejoto merupakan fasilitas rehabilitasi medik. Pada bangunan Scwab Rehab, bangunannya berdiri sendiri dan tidak merupakan bagian dari sebuah rumah sakit. Sedangkan pada Instalasi rehab medik Dr. Soejoto bangunannya berdiri sendiri, namun merupakan bagian dari rumah sakit RSPAD Gatot Soebroto. Pada Scwab rehab bangunan sudah terkonsep dengan baik dengan fasilitas yang modern. Sedangkan pada Instalasi Rehabilitasi Medik Dr. Soejoto merupakan bangunan lama sehingga sirkulasi yang ada kurang baik. Itu disebabkan karena bertambahnya fasilitas kegiatan tanpa adanya pengembangan bangunan. Sedangkan untuk mengembangkan bangunan tersebut akan memiliki masalah yang lebih kompleks karena bangunan tersebut merupakan bagian dari sebuah rumah sakit yang sudah memiliki konsep dan pola sirkulasi tersendiri. Oleh karena itu penulis akan membuat jenis fasilitas seperti pada Scwab Rehab, dimana bangunan berdiri sendiri tanpa menjadi bagian dari bangunan lain, sehingga penangan masalah akan lebih fokus dan lebih mudah dalam pengembangannya. 24