KONSEP ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III TATA NAMA (NOMENKLATUR)

D I K T A T TAKSONOMI TUMBUHAN NON VASKULER DISUSUN OLEH

Resume. Kode Internasional Tatanama Tumbuhan 2012 (Kode Melbourne)

TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI. Billyardi Ramdhan UMMI 2009

KODE INTERNASIONAL TATA NAMA TUMBUHAN. Siti Muslichah

A. JUDUL Keanekaragaman dan Klasifikasi Makhluk Hidup

LEMBAR KERJA SISWA TIPE A

MODUL VI. KLASIFIKASI DAN TATANAMA POHON

TOPIK II KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BINOMINAL NOMENCLATURE

Sistem Penamaan Serangga NOMENKLATUR

KEANEKARAGAMAN HAYATI (Biodiversitas)

Pemodelan dan Pengelolaan Data Klasifikasi Tanaman Menggunakan Pohon

Modul satu Aspek Ekonomi dan Botani Tanaman Serealia Modul dua Lingkungan Tumbuh Tanaman Serealia

Prinsip Dasar Klasifikasi

UJIAN AKHIR SEMESTER 1 SEKOLAH MENENGAH TAHUN AJARAN 2014/2015 Mata Pelajaran : Biologi

BAB II KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ARTIKEL PARASITOLOGI. Editor: Fircha Silvia Nugraheni G1C PROGRAM DIPLOMA IV ANALIS KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG 2016

PREDIKSI UJIAN NASIONAL

SISTEMATIKA/ TAKSONOMI IKAN

TINJAUAN PUSTAKA. Sawi hijau sebagai bahan makanan sayuran mengandung zat-zat gizi yang

3. PENGENDALIAN OPT TANAMAN JAGUNG

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

PENJABARAN KKNI JENJANG KUALIFIKASI V KE DALAM LEARNING OUTCOMES DAN KURIKULUM PROGRAM KEAHLIAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT PROGRAM DIPLOMA IPB 2012

PENTINGNYA PLASMA NUTFAH DAN UPAYA PELESTARIANNYA Oleh : DIAN INDRA SARI, S.P. (Pengawas Benih Tanaman Ahli Pertama BBPPTP Surabaya)

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kentang

Memahami Konsep Perkembangan OPT

SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 12. KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUPLATIHAN SOAL BAB 12

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40/Permentan/SR.230/7/2015 TENTANG FASILITASI ASURANSI PERTANIAN

DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PELEPASAN UDANG GALAH GI MACRO II

SOAL DAN PEMBAHASAN Jawaban: C Jawaban: A Jawaban: E

UKBM BIO

Mengapa menggunakan sistem PHT? Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Mengapa menggunakan sistem PHT? Mengapa menggunakan sistem PHT?

Penggolongan Organisme dan Taksonomi Mikrobia. 5Maret 2015

BAB I PENDAHULUAN. hama karena mereka menganggu tumbuhan dengan memakannya. Belalang, kumbang, ulat,

Pengertian dan Arti Penting Perlindungan Tanaman

Taksonomi & Mengapa Nama. Teguh Triono

tanam, tanamlah apa saja maumu aku akan tetap datang mengganggu karena kau telah merusak habitatku maka aku akan selalu menjadi pesaingmu

PERTELAAN NAMA ILMIAH. (2 spasi) Nama ilmiah pribadi lengkap beserta author

1.2 Tujuan Untuk mengetahui etika dalam pengendalian OPT atau hama dan penyakit pada tanaman.

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28/KEPMEN-KP/2013 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PELEPASAN BENIH SEBAR IKAN LELE MANDALIKA

BAB III LANDASAN TEORI. Kutipan yang berkaitan dengan pengertian sistem, antara lain :

BAB I PENDAHULUAN. yang tersebar di wilayah tropis dan subtropis. Dalam skala internasional, pisang

FILUM ARTHROPODA NAMA KELOMPOK 13 : APRILIA WIDIATAMA ERNI ASLINDA RINA SUSANTI

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kebanyakan orang sudah mengenal tanaman jarak karena tanaman ini

Status Ulat Grayak (Spodoptera litura F.) Sebagai Hama

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor

BAB I PENDAHULUAN. Dunia teknologi terus melakukan kemajuan yang begitu pesat di seluruh dunia,

BUPATI TULUNGAGUNG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI TULUNGAGUNG NOMOR 62 TAHUN 2014 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP.47/MEN/2012 TENTANG PELEPASAN IKAN NILA MERAH NILASA

I. TINJAUAN PUSTAKA. Ikan patin siam adalah jenis ikan yang secara taksonomi termasuk spesies

Peran Varietas Tahan dalam PHT. Stabilitas Agroekosistem

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. berbeda terdapat 6 familiy dan 9 spesies yakni Family Pyralidae spesies


KISI-KISI SOAL ULANGAN HARIAN BAB II

Cultural Control. Dr. Akhmad Rizali. Pengendalian OPT melalui Teknik Budidaya. Mengubah paradigma pengendalian OPT:

2014, No Republik Indonesia Nomor 4433), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia T

PENDAHULUAN. Budidaya perikanan merupakan satu diantara beberapa kegiatan yang. daerah termasuk Sumatera Utara. Sehingga dengan peningkatan kegiatan

SILABUS SMA Kelas X. [Tahun]

I. PENDAHULUAN. Bawang merah (Allium cepa L. Aggregatum group) salah satu komoditas sayuran penting di Asia Tenggara karena seringkali

I. PENDAHULUAN. tanaman jagung di Indonesia mencapai lebih dari 3,8 juta hektar, sementara produksi

BAB I PENDAHULUAN. sampai pada saat makanan tersebut siap untuk dikonsumsi oleh konsumen. adalah pengangkutan dan cara pengolahan makanan.

AGROEKOSISTEM PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Tembakau merupakan komoditas perkebunan yang mempunyai

Gambar 1 Diagram alir kegiatan penelitian.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Ikan mas tergolong dalam jenis ikan air tawar. Ikan mas terkadang juga

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1995 TENTANG PERLINDUNGAN TANAMAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PEDOMAN BAGI PENULIS JURNAL EKOLOGIA. Naskah merupakan hasil penelitian sendiri yang mengangkat topik yang up-todate.

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PELEPASAN IKAN NILA SALINA

Lecture 1 Tatap Muka 2

I. PENDAHULUAN. Besarnya permintaan terhadap produk perikanan ini disebabkan oleh pergeseran

Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 1995 Tentang : Perlindungan Tanaman

- 1 - BUPATI BANYUWANGI PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 44 TAHUN 2011 TENTANG

MENGIDENTIFIKASI dan MENGENDALIAN HAMA WERENG PADA PADI. Oleh : M Mundir BP3KK Nglegok

BAB I PENDAHULUAN. dimanfaatkan. Tumbuhan yang digunakan meliputi untuk bahan pangan,

CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2)

BAB I PENDAHULUAN. faktor struktur tanah, pencemaran, keadaan udara, cuaca dan iklim, kesalahan cara

AGROEKOSISTEM PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

A. Pendahuluan. Sumber: Dokumen Pribadi Penulis (2015). Buku Pendidikan Skabies dan Upaya Pencegahannya

I. PENDAHULUAN. Kehidupan serangga sudah dimulai sejak 400 juta tahun (zaman devonian). Kirakira

SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 12. KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUPLatihan Soal 12.1

WALIKOTA DEPOK PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN WALIKOTA DEPOK NOMOR 62 TAHUN 2016 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /KEPMEN-KP/2017 TENTANG PELEPASAN IKAN GURAMI (OSPHRONEMUS GORAMY) GALUNGGUNG SUPER

BAB I PENDAHULUAN. Ikan bawal air tawar (Colossoma macopomum) merupakan ikan yang

HAMA BELALANG KAYU (Valanga nigricornnis)

Ilmu Tanah dan Tanaman

Materi. Memahami keanekaragaman makhluk hidup

Persyaratan untuk Cakupan Sertifikat Menurut APS

BAB I PENDAHULUAN. Teknologi pertanian, khususnya dalam pengendalian penyakit tanaman di

Hama Patogen Gulma (tumbuhan pengganggu)

II. TINJAUAN PUSTAKA. Sorgum merupakan tanaman yang termasuk di dalam famili Graminae bersama

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki iklim tropis sehingga

Dasar-dasar Perlindungan Tanaman (PA 1082)

Transkripsi:

KONSEP ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN

CARA ORGANISME MERUSAK TANAMAN (1) Memakan bagian tanaman Mengganggu proses fisiologis Persaingan sumberdaya Perantara penularan

CARA ORGANISME MERUSAK TANAMAN (2) Tempat bertahan Sumber inokulum Menghasilkan racun Kontaminan

CARA ORGANISME MERUSAK TANAMAN (2) 1. Tumbuhan yang mengalami gangguan dan/atau menderita kerusakan tidak akan merugikan bila tumbuhan tersebut adalah gulma 2. Tumbuhan yang mengalami gangguan dan/atau menderita kerusakan tertentu justru dapat bernilai ekonomis lebih tinggi, misal kelapa kopyor, tulip yang terinfeksi virus, dsb. 3. Status sebagai OPT ditentukan bukan hanya berdasarkan gangguan dan/atau kerusakan, melainkan berdasarkan kerugian yang ditimbulkan oleh gangguan dan/atau kerusakan yang terjadi

KEMAMPUAN MERUSAK OPT Kemampuan individu Padat populasi Nilai Ekonomi

KEMAMPUAN MERUSAK OPT (2) 1. Kemampuan suatu organisme untuk menimbulkan kerugian ditentukan oleh kemampuan setiap individu menimbulkan kerusakan dan/atau mengganggu tanaman, padat populasi organisme tersebut, dan nilai ekonomi dan sosial tanaman yang dirusak. 2. Jika terdapat tiga organisme pemakan tanaman, katakan A, B, dan C yang masing-masing memakan tanaman 1 dan tanaman 2 maka organisme mana yang merupakan hama pada kedua jenis tanaman ditentukan dengan mengalikan kemampuan merusak setiap jenis organisme, padat populasi setiap jenis organisme, dan nilai ekonomi (dan/atau sosial) jenis tanaman yang dirusak

FOOD CHAIN DI AGROEKOSISTEM

MENGENAL ORGANISME YANG BERAGAM (1) 1. Untuk berbagai berbagai organisme yang hidup bersama tumbuhan perlu dikenali dengan menggunakan sejumlah ciri pembeda tingkat spesies yang bersifat tetap secara tersistematisasi. 2. Penggunaan ciri pembeda yang bersifat tetap secara tersistematisasi tersebut sehingga memungkinkan untuk membedakan suatu organisme dengan organisme lainnya disebut determinasi (determination). 3. Untuk memudahkan penggunaannya maka ciri pembeda perlu disusun dalam pola dan aturan tertentu dalam bentuk kunci determinasi (determination key).

MENGENAL ORGANISME YANG BERAGAM (2) 4. Pendeskripsian organisme dengan menggunakan ciri-ciri yang diperoleh melalui proses determinasi tersebut disebut identifikasi (identification). 5. Identifikasi berbeda dengan proses pengenalan biasa (recognition) karena dalam pengenalan biasa dipergunakan ciri-ciri berdasarkan pengalaman personal pihak yang melakukan pengenalan. 6. Hasil identifikasi digunakan untuk mengklasifikasikan organisme yang bersangkutan. Klasifikasi (classification) merupakan proses pemberian nama ilmiah kepada dan penggolongan organisme yang telah diidentifikasi. Klasifikasi dilakukan berdasarkan aturan penamaan (nomenclature) tertentu, tergantung pada golongan organisme yang diidentifikasi

ATURAN PENAMAAN UNTUK BERBAGAI ORGANISME 1. Organisme golongan binatang: International Code of Zoological Nomenclature (tatanama hewan Edisi IV sejak 1 Januari 2000) (http://www.biosis.org.uk/zrdocs/iczn/code.htm) 2. Organisme golongan tumbuhan dan jamur: International Code of Botanical Nomenclature (tatanama tumbuhan St. Louis Code) (http://www.biosis.org.uk/zrdocs/codes/icbn.htm) 3. Organisme golongan tumbuhan budidaya (tanaman): International Code of Nomenclature for Cultivated Plants (tatanama tanaman edisi 1995) (http://www.biosis.org.uk/zrdocs/codes/icncp.htm) 4. Organisme golongan bakteria: International Code of Nomenclature of Bacteria (tatanama bakteria Edisi Revisis 1980) (http://www.biosis.org.uk/zrdocs/codes/icnb.htm) 5. Organisme golongan virus: International Code of Virus Classification and Nomenclature (klasifikasi dan tatanama virus Edisi 1995) (http://www.biosis.org.uk/zrdocs/codes/icvcn.htm)

KLASIFIKASI DAN TAKSONOMI OPT 1. Aturan penamaan mengatur pemberian nama berdasarkan penggolongan secara berjenjang (hierarchy), yaitu golongan besar terus dibagi-bagi menjadi golongan lebih kecil sebagai bagiannya. 2. Klasifikasi merupakan proses pemberian nama suatu orgaisme yang telah diidentifikasi secara berjenjang, sedangkan penempatan organisme pada setiap jenjang dengan mengikuti aturan pemberian nama yang telah disepakati secara internasional disebit taksonomi (taxonomy). 3. Golongan (-bionta), Sub-golongan, Divisi or Filum (-phyta), Sub-divisi or Sub-filum (-phytina) [Walters and Keil menggunakan -icae, mengikuti Cronquist, Takhtajan and Zimmerman(1966)], Kelas (-opsida) [KUB menggunakan -atae], Sub-kelas (-idae), Super-ordo (-anae), Ordo (-ales), Sub-ordo (-ineae), Super-famili (-ariae), Famili (-aceae, dengan 8 perkecualian), Sub-famili (-oideae), Tribe (-eae), Sub-tribe (-inae), Seksi, Sub-seksi, Genus (jamak genera), Sub-genus, Seri, Sub-seri, Species (singkatan sp. untuk tunggal; spp. untuk jamak), Sub-spesies (singkatan subsp. untuk tunggal, subspp. untuk jamak), varietas (singkatan. var.), `Kultivar singkatan cv., Sub-varietas, forma (singk. f.), dan sub-forma

NAMA ILMIAH ORGANISME 1. Identifikasi organisme untuk tujuan praktis seperti misalnya untuk tujuan perlindungan tanaman pada umumnya dilakukan pada jenjang takson spesies ke bawah 2. Nama ilmiah diberikan kepada organime hidup, bukan kepada organisme mati atau produk yang dihasilkan 3. Nama ilmiah spesies disebut nama binomial karena terdiri atas 2 kata yang dicetak miring: kata pertama yang dimulai dengan huruf kapital merupakan genus dan kata kedua semuanya ditulis dengan huruf kecil merupakan epitet spesies 4. Nama ilmiah di bawah kelompok takson spesies tumbuhan berbeda untuk tumbuhan (liar) dan tanaman (budidaya): varietas untuk tumbuhan hasil perbiakan secara alami dan kultivar (cultivated variety, disingkat cv.) untuk hasil pemuliaan

NAMA UMUM 1. Selain mempunyai nama ilmiah, organisme juga mempunyai nama umum atau nama vernakular, yaitu nama yang diberikan dalam bahasa setempat 2. Nama umum berbeda-beda antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain, bahkan dalam satu bahasa 3. Nama umum ada yang sudah dibakukan dalam bahasa tertentu, misalnya dalam bahasa Inggris, ada yang belum, misal dalam bahasa Indonesia 4. Nama umum bahkan ada yang penggunaannya rancu dalam bahasa tertentu, misalnya dalam bahasa Indonesia hama belalang dan hama wereng berrarti: (1) hama berupa belalang/wereng atau hama yang mengganggu dan/atau merusak belalang/wereng analog dengan istilah hama tanaman padi, penyakit pisang, dst.

KESIMPULAN 1. Berbagai organisme merusak dan/atau mengganggu tanaman dengan cara yang berbeda-beda 2. Organisme yang mengganggu dan atau merusak tanaman dikategorikan sebagai OPT berdasarkan kemampuan individu mengganggu dan/atau menimbulkan kerusakan, padat populasi, dan nilai ekonomi/sosial tanaman yang diganggu dan/atau dirusak 3. Berbagai organisme hidup bersama-sama dengan tanaman sehingga untuk dapat mengenalinya setiap organisme perlu diberi nama dengan aturan yang jelas dan tersistematisasi