BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Kepariwisataan merupakan salah satu dari sekian banyak gejala atau

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang. Dewasa ini, manusia seakan berpacu dalam waktu di dalam kehidupan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

EVALUASI PEMANFAATAN RUANG DI KECAMATAN UMBULHARJO KOTA YOGYAKARTA TUGAS AKHIR

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Tabel 1.1 Tabel Jumlah Penduduk Kecamatan Banguntapan Tahun 2010 dan Tahun 2016

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pendapatan yang merata. Namun, dalam

I. PENDAHULUAN. Usaha Mikro dan Kecil (UMK), yang merupakan bagian integral. dunia usaha nasional mempunyai kedudukan, potensi dan peranan yang

Identifikasi Kawasan Rawan Kebakaran di Martapura Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan dengan Sistem Informasi Geografis

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Peranan Aplikasi GIS Dalam Perencanaan Pengembangan Pertanian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI JUMLAH TABUNGAN MASYARAKAT PADA PT. BANK PERKREDITAN RAKYAT BADAN KREDIT DELANGGU RAYA KABUPATEN KLATEN

BAB I PENDAHULUAN. terjangkau oleh daya beli masyarakat (Pasal 3, Undang-undang No. 14 Tahun 1992

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. sektor perbankan, maka kondisi persaingan bank semakin ketat. Selain kebijakan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. belakangan ini memang berlangsung sangat cepat. Semua negara di dunia ini

BAB I PENDAHULUAN. informasi yang cepat dan akurat. Tanpa informasi yang cepat dan akurat ini

BAB 11: GEOGRAFI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI

BAB I PENDAHULUAN. kondisi penggunaan lahan dinamis, sehingga perlu terus dipantau. dilestarikan agar tidak terjadi kerusakan dan salah pemanfaatan.

ANALISIS KESESUAIAN LAHAN UNTUK PERMUKIMAN DENGAN MEMANFAATKAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH DAN SIG (Studi Kasus: Kecamatan Umbulharjo, Yogyakarta)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB I PENDAHULUAN. itu, setiap perusahaan harus berusaha meningkatkan pelayanan ( services)

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu jasa mesin pembayaran yang disebut dengan ATM (Automatic teller

Sejalan dengan berkembangnya suatu kota atau wilayah dan meningkatnya kebutuhan manusia, infrastruktur jalan sangat diperlukan untuk menunjang proses

BAB I PENDAHULUAN. Penggunaan Transaksi Non-Tunai di Indonesia dalam beberapa tahun

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. hasil kerja pemerintah dalam mensejahterakan rakyatnya. Pertumbuhan ekonomi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pembangunan ekonomi membutuhkan modal dasar sebagai alat untuk

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang


BAB I PENDAHULUAN. Sebagaimana tercantum dalam Peraturan Pemerintah No 47 Tahun 1997

melestarikan alam, lingkungan dan sumber daya yang ada.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. investasi, akan mempengaruhi perekonomian Indonesia dimana akan semakin terbuka

PROSPEK PENGEMBANGAN INDUSTRI CINDERAMATA DAN MAKANAN OLEH-OLEH DI KABUPATEN MAGELANG TUGAS AKHIR TKP Oleh: RINAWATI NUZULA L2D

ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN KECAMATAN SEWON KABUPATEN BANTUL TAHUN 2006 DAN 2014 BERDASARKAN CITRA QUICKBIRD

BAB I PENDAHULUAN. Pertambahan penduduk daerah perkotaan di negara-negara berkembang,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Laju pertumbuhan penduduk yang semakin cepat dan aktifitas penduduk di suatu daerah membawa perubahan yang

Politeknik Negeri Sriwijaya BAB I PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN. Pembangunan merupakan serangkaian kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan dan

BAB I PENDAHULUAN. I. Latar Belakang Masalah. Dengan bertambah pesatnya industri perbankan membuat persaingan

berbagai macam sumberdaya yang ada di wilayah pesisir tersebut. Dengan melakukan pengelompokan (zonasi) tipologi pesisir dari aspek fisik lahan

BAB I PENDAHULUAN. atau merevisi peraturan daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

INTERPRETASI CITRA IKONOS KAWASAN PESISIR PANTAI SELATAN MATA KULIAH PENGINDERAAN JAUH OLEH : BHIAN RANGGA J.R NIM : K

BAB I PENDAHULUAN. listrik harus bisa men-supplay kebutuhan listrik rumah tangga maupun

PDF Compressor Pro BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam perkembangannya, perbankan Indonesia telah mengalami pasang surut.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.10/Menhut-II/2010 TENTANG MEKANISME DAN TATA CARA AUDIT KAWASAN HUTAN

Kegiatan- kegiatan tersebut dapat dijelaskan pada gambar berikut:

BAB I PENDAHULUAN. serta menyediakan jasa jasa dalam lalu lintas pembayaran. masyarakat. Fungsi perbankan yang demikian disebut sebagai perantara

FAKULTAS GEOGRAFI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2012

BAB I PENDAHULUAN. sumber daya nasional yang berkeadilan, serta perimbangan keuangan pusat dan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

PENGARUH KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN NASABAH (Studi Kasus pada PT. BPR Sukadana Surakarta) SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. Dunia bisnis senantiasa berjalan secara dinamis untuk mendukung

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. yang dikonsumsinya atau mengkonsumsi semua apa yang diproduksinya.

BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

III. METODOLOGI. Gambar 2. Peta Orientasi Wilayah Penelitian. Kota Yogyakarta. Kota Medan. Kota Banjarmasin

I. PENDAHULUAN. Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi tahun 1998, menyatakan bahwa. bersama akan maksimal, dengan demikian kemakmuran sebuah bangsa dapat

Interpretasi dan Uji Ketelitian Interpretasi. Penggunaan Lahan vii

BAB 1 PENDAHULUAN. Peran industri perbankan di Indonesia sangat penting dalam menjalankan roda

Bank Umum dan Bank Sentral

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada waktu sekarang dalam perekonomian manapun di permukaan bumi ini tumbuh dan berkembang berbagai macam lembaga keuangan. Semua lembaga keuangan tersebut mempunyai fungsi pokok menyalurkan dana pinjaman yang berasal dari para penabung kepada pihak-pihak yang telah melakukan atau merencanakan pendefisitan atas anggaran belanjanya. Salah satu diantara lembaga-lembaga keuangan tersebut yang nampaknya paling besar peranannya dalam perekonomian ialah lembaga keuangan bank (Reksoprayitno, 1997). Salah satu fungsi utama bank adalah menjadi lembaga perantara bagi penyaluran dana antara para penabung dan para peminjam. Dengan demikian bagi banyak kalangan keberadaan bank akan sangat bermanfaat karena dimungkinkan untuk membentuk anggaran belanja defisit. Dengan demikian maka tidak dapat dipungkiri lagi bahwa bank mempunyai peran yang besar dalam mendorong perekonomian mulai dari tingkat rumah tangga sampai dengan tingkat negara. Dalam perkembangannya tingkat kemajuan dari suatu bank akan banyak pula ditentukan oleh kemampuannya dalam melayani nasabah baik nasabah pemakai dana maupun pemasok dana. Nasabah pemasok dana memiliki peranan dalam hal masukan dana yang digunakan dalam operasional bank dan juga sebagai sumber dana dari yang nantinya akan dipinjamkan. Sementara itu nasabah pemakai dana adalah nasabah yang memakai jasa perbankan dalam bentuk pinjaman. Dari golongan inilah bank memperoleh keuntungan dari bunga yang dibayarkan. Untuk itu golongan nasabah pemakai dana adalah golongan yang berkedudukan sangat penting bagi kemajuan bank. Sebagaimana dengan keadaan di negara-negara lain, industri keuangan di Indonesia kini tengah mengalami perubahan yang mendasar. Perubahan yang mendasar tersebut terjadi karena adanya perubahan struktural dalam sistem perdagangan dan moneter internasional, kemajuan teknologi komunikasi dan pengolahan data, maupun karena adanya deregulasi yang meliputi seluruh aspek perekonomian nasional, termasuk industri keuangan. Deregulasi ekonomi nasional 1

2 itu telah mempercepat integrasi ekonomi nasional dengan ekonomi dunia. Selain melalui jalur keuangan, ekonomi nasional berintegrasi dengan ekonomi dunia melalui jalur perdagangan, investasi dan teknologi (Nasution, 1990). Rangkaian deregulasi dalam industri keuangan selama pemerintahan Orde Baru, yaitu bentuk deregulasi yang ketiga, perubahan mendasar dilakukan lebih mendasar pada tanggal 27 Oktober 1988 (Pakto), dan paket deregulasi 1991 yang merupakan ketentuan lanjutan Pakto 88 tentang penyempurnaan, pengawasan dan pembinaan bank. Pakto membuka ijin pendirian lembaga keuangan baru beserta kantor-kantor cabangnya serta meningkatkan partisipasi lembaga keuangan asing dalam industri keuangan nasional. Kondisi ini memacu perkembangan perbankan di Indonesia, dengan semakin bertambahnya jumlah bank. Sejak Pakto 88 hingga januari 2010, jumlah bank di Indonesia mencapai 121 bank diantaranya terdapat 5 bank pemerintah, 11 bank asing, 26 bank daerah dan 97 bank umum swasta nasional, jumlah BPR (Bank Perkredi tan Rakyat) sebanyak 1.767 bank (Bank Indonesia, 2010) Bentuk deregulasi yang berikutnya adalah mendorong industri keuangan untuk menciptakan instrumen keuangan yang baru. Produk-produk baru itu tercipta karena adanya persaingan antar sesama bank maupun antara bank dengan Lembaga Keuangan Non Bank. Persaingan yang semakin sehat akan merangsang lembaga-lembaga keuangan nasional untuk mengintrodusir produk-produk baru, melakukan modernisasi dan inovasi untuk meningkatkan efisiensinya. Pada gilirannya, peningkatan efisiensi industri keuangan dalam negeri akan menyumbang pada peningkatan ekonomi nasional secara keseluruhan. Dalam rangka meningkatkan efisiensi dan kualitas pelayanan bank bagi konsumen, sekaligus meningkatkan citra perusahaan maka mengikuti teknologi informasi menjadi tuntutan yang tak bisa dihindarkan. Penggunaan teknologi komputer telah menyebabkan perubahan besar dalam usaha pelayanan jasa perbankan. Salah satunya yaitu dengan mengoperasionalkan jaringan Automated

3 Teller Machine (ATM) atau d alam istilah Indonesia diterjemahkan menjadi Anjungan Tunai Mandiri (ATM). ATM adalah sebuah mesin yang bisa mengeluarkan uang sendiri, sebagai mesin pengganti teller dan siap bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Dengan alat otomatis ini pihak bank maupun nasabah dapat melakukan penghematan lebih banyak. Dari pihak nasabah lebih ditekankan ke efisiensi dan efektivitas proses (Kasali, detikcom.life, 26 juli 2000). Perkembangan bank yang memanfaatkan teknologi ini sangat pesat dalam persaingan antar bank. Kesiapan teknologi informasi termasuk salah satu kunci dalam mengelola dana nasabah dan ragam layanan. Hal ini dikarenakan perkembangan ekonomi terutama sektor bisnis sangat menuntut kecepatan dan fleksibilitas dan inilah yang ditawarkan. Perkembangan perbankan di Daerah Istimewa Yogyakarta sangat pesat, khususnya di wilayah Perkotaan Yogyakarta. Perekonomian di Yogyakarta tergolong maju sehingga perputaran uang di Yogyakarta cukup tinggi, terlebih Yogyakarta merupakan tujuan utama pendidikan di negeri ini sehingga banyak pelajar dan mahasiswa dari luar kota yang tinggal di kota ini untuk menuntut ilmu. Yogyakarta yang tumbuh sebagai kota yang kaya akan budaya dan kesenian Jawa, telah pula menjadi daerah tujuan wisata utama di Indonesia. Sebagai sebuah industri, pariwisata memang memiliki keterkaitan dengan banyak sektor ekonomi lainnya, seperti sektor industri jasa hotel dan restoran, pengangkutan, dan komunikasi, keuangan, sewa dan jasa perusahaan serta kerajinan dan perdagangan. Sehingga banyak bank yang membuka cabangnya di kota ini. Di Daerah Istimewa Yogyakarta ini terdapat total 186 bank berikut kantor cabang dan kantor cabang pembantu. Diantaranya 72 bank persero, 19 bank pemerintah, 92 bank swata nasional, dan 3 bank asing. (Bank Indonesia, 2010) Dengan perkembangan perbankan seperti tersebut maka diperlukan suatu cara atau teknik penyajian, penyampaian dan perolehan data yang mutakhir sebagai bagian dari proses perencanaan, pengembangan dan pembangunan perekonomian, khususnya sektor perbankan. Salah satu teknik perolehan, penyajian dan penyampian data adalah menggunakan Sistem Informasi Geografis

4 (SIG). Teknik ini dilakukan dengan mengintegrasikan antara data yang diperoleh dari interpretasi citra penginderaan jauh dan pemrosesan serta analisa dengan menggunakan SIG. Pada dasarnya SIG merupakan suatu sistem pengelolaan, penyusunan, pemrosesan, hingga pada tahapan analisa dan penayangan data, dimana data tersebut secara spasial terkait dengan permukaan bumi (Linden,1987 dalam Suharyadi, 1991). Keuntungan dengan memanfaatkan SIG adalah dapat dilakukan integrasi data grafis yang berupa peta dengan data atribut yang berupa data statistik dengan mudah. Pemanfaatan SIG dapat pula membantu dalam analisa data melalui proses tumpangsusun peta dan data sehingga dapat menghasilkan peta baru untuk keperluan perencanaan. Hadirnya teknologi penginderaan jauh saat ini, dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pemecahan masalah yang efektif dan efisien. Seperti penggunaan citra IKONOS yang memiliki keunggulan dalam resolusi spasial yang lebih halus (reso lusi spasial 1 m pada band pankromatik) dibandingkan citra PJ keluaran sebelumnya. Resolusi spasial itu sendiri mempengaruhi tingkat kedetailan objek yang disajikan. Semakin halus resolusi spasial suatu citra maka semakin detail objek yang ditampilkan. Sehingga dengan penggunaan teknologi penginderaan jauh seperti citra IKONOS ini diharapkan mampu untuk mempermudah pelaku ekonomi, dalam hal ini perbankan dalam meningkatkan kualitas pelayanannya khususnya penempatan mesin ATM. Sistem penginderaan jauh sistem satelit dewasa ini telah masuk pada era penginderaan jauh dengan resolusi tinggi atau dengan kata lain sama dengan sistem fotografik. Sistem penginderaan jauh yang dimaksud disini adalah citra IKONOS dengan resolusi spasialnya 4 meter untuk multispektral dan 1 meter untuk pankromatik. Kualitas piktorial citra ini sangat baik terutama pada citra IKONOS tipe Precision Plus, yaitu setara dengan foto udara skala 1: 10.000 dan beberapa memiliki keuntungan dibanding foto udara diantaranya a) wahana yang lebih stabil, b) kemampuan untuk melakukan perekaman ulang dan c) harga relatif lebih murah (www.euroimage.com/index.html). Kaitannya dengan kegiatan pemilihan letak, pemanfaatan sistem penginderaan jauh resolusi tinggi sangat

5 esensial untuk dijadikan sumber data pemetaan yang temanya cepat berubah. Ketersediaan citra IKONOS di daerah penelitian, kiranya dapat dipergunakan sebagai kerangka dasar langkah kerja penelitian. 1.2. Perumusan Masalah Mengacu pada latar belakang di atas maka masalah yang hendak diangkat adalah dalam hal pemilihan letak ATM perbankan. Secara spasial terdapat kecenderungan pengelompokan ataupun konsentrasi ATM dengan persebaran di lokasi-lokasi pelayanan perbankan yang terpusat pada pusat-pusat perkotaan dan pusat-pusat kegiatan tertentu saja. Hal ini tidak sejalan dengan upaya melayani masyarakat kecil di daerah pinggiran kota yang mulai mengenal jasa-jasa perbankan maupun bentuk pelayanannya, termasuk ATM. Sehingga diperlukan kajian untuk menentukan letak ATM yang lebih merata. Distribusi pelayanan perbankan nasional yang terpusat pada pusat-pusat perkotaan saja distimulasi ketidakberanian bank-bank untuk membuka pelayanannya di daerah pinggiran kota. Terlebih apabila keamanan pada suatu lokasi tidak terjamin. Jawaban atas permasalahan ini diharapkan dapat diketahui dari studi tentang ATM ini. Sesungguhnya banyaknya jumlah bank, kantor cabang dengan teknologi pelayanannya dalam hal ini ATM akan menjadi stimulus pembangunan jika terdistribusi secara proporsional, dengan mempertimbangkan permintaan akan jumlah dan lokasi ATM tertentu yang disesuaikan dengan kemampuan pihak bank dalam penyediaan fasilitas ATM maupun optimalisasi penggunaan ATM oleh nasabah. Sehingga kondisi kelebihan ataupun kekurangan fasilitas pelayanan ATM dapat dikurangi. Yang terjadi, terdapat kecenderungan bahwa disuatu lokasi tertentu jumlah ATM sangat banyak, tetapi di lokasi lain jumlahnya relatif kurang. Sehingga dapat mempengaruhi optimalisasi penggunaan ATM, dalam arti adanya keseimbangan antara supply yang disediakan pihak bank, dan permintaan oleh nasabah. Berdasarkan uraian tersebut pertanyaan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut :

6 1. Sejauh mana citra IKONOS dapat menyediakan parameter lahan perkotaan dalam penentuan lokasi ATM? 2. Bagaimana hasil interpretasi citra penginderaan jauh dengan bantuan Sistem Informasi Geografis mengolah parameter penentu lokasi ATM? 3. Dimana lokasi ATM alternatif di Daerah Perkotaan Yogyakarta? Berdasarkan hal tersebut maka penulis melakukan penelitian dengan judul : Pemilihan Letak Anjungan Tunai Mandiri Perbankan dengan Citra IKONOS dan Sistem Informasi Geografis di Daerah Perkotaan Yogyakarta. 1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1.3.1. Tujuan Penelitian Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah : 1. Menguji kemampuan Citra Penginderaan Jauh Ikonos untuk memperoleh parameter lahan perkotaan sebagi penentu letak ATM. 2. Penentuan letak ATM berdasarkan parameter lahan perkotaan hasil interpretasi citra penginderaan jauh dengan bantuan SIG 3. Memberikan alternatif rekomendasi pemilihan lokasi ATM di Daerah Perkotaan Yogyakarta. 1.3.2. Kegunaan Penelitian 1. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah perbendaharaan dan pengembangan aplikasi bagi penerapan metode penginderaan jauh khususnya tentang pemanfaatan citra IKONOS dan Sistem Informasi Geografis dalam bidang ekonomi khususnya sektor perbankan. 2. Sumbangan informasi bagi pengambil kebijakan pengembangan wilayah khususnya sektor perbankan. 3. Memenuhi syarat dalam mencapai gelar sarjana S2 di Universitas Gadjah Mada. 1.4. Keaslian penelitian Penggunaan teknologi penginderaan jauh untuk penelitian dalam sektor perbankan khususnya Anjungan Tunai Mandiri (ATM) antara lain : Pada tahun

7 2002 Lina Wahyuni melakukan penelitian dengan judul Pola Distribusi Keruangan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) Perbankan di Perkotaan Yogyakarta. Dengan tujuan diantaranya adalah (1). Mengidentifikasi karakteristik dengan pola distribusi keruangan ATM. (2). Membuat tipologi lokasi ATM. (3). Mengidentifikasi pola pemanfaat ATM. (4). Menyajikan arahan bagi pengembangan lokasi ATM. Dalam penelitian ini metode yang digunakan yaitu (1). Statistik deskriptif (2). Pemetaan dan overlay (3). Analisa Tetangga Terdekat (4). Kai kuadrat (chi square). Dengan hasil penelitian yang diperoleh adalah : (1). Terdapat 4 tipologi lokasi ATM (perdagangan dan jasa, pendidikan, pariwisata, dan tipe lainnya). (2). Tidak terdapat perbedaan penempatan lokasi ATM antar bank. (3). Persentase jumlah pengguna ATM didominasi pada tipe lokasi perdagangan dan jasa dan tipe lokasi pendidikan. (4). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan diantara pengguna ATM dalam hal gender, usia, waktu penggunaan ATM, pada tipe lokasi ATM bank tertentu. (5). Peta persebaran ATM perbankan berdasarkan tipologi tertentu. Kemudian pada tahun 2003 Nugroho melakukan penelitian mengenai ATM, dengan tujuan untuk menguji kemampuan foto udara sebagai sumber data dalam mengkaji kondisi pemanfaatan lahan untuk penempatan ATM dan untuk menentukan lokasi potensial untuk penempatan lokasi ATM di Kota Yogyakarta. Dengan metode yang digunakan adalah interpretasi foto udara, dan hasil penelitian yang diperoleh adalah prioritas penempatan ATM. Dalam penelitian ini terdapat persamaan atas kedua penelitian sebelumnya, yaitu mengenai ATM dan terdapat persamaan lokasi, dimana daerah penelitian dilakukan di perkotaan Yogyakarta. Dengan batas daerah penelitian yang dilakukan oleh Ardiyanto Nugroho dibatasi oleh batas administrasi Kota Yogyakarta, sedangkan penelitian yang dilakukan saat ini dilakukan di daerah perkotaan Yogyakarta yang dibatasi oleh Jalan Lingkar (Ring Road). Untuk data yang digunakan pada penelitian sebelumnya adalah menggunakan foto udara, sedangkan pada penelitian ini digunakan data citra penginderaan jauh IKONOS. Dengan adanya beberapa kesamaan parameter yang digunakan yaitu aksesibilitas, pemanfaatan lahan, eksisting ATM, pengguna ATM

8 dan faktor keamanan. Dalam penelitian ini terdapat beberapa parameter yang ditambahkan, diantaranya adalah blok perumahan, pusat pendidikan (perguruan tinggi), pusat perdagangan dan jasa (mall), pasar tradisional, dan halte bus (bus Trans Jogja). Dan dilakukan interpretasi citra secara manual, dengan pendekatan kuantitatif berjenjang tertimbang. Selanjutnya dapat dijelaskan pada tabel berikut dibawah ini :

9 Tabel 1.1. Penelitian terdahulu No Nama Tahun Judul Penelitian Tujuan Metode Hasil Penelitian 1 Lina Wahyuni 2002 Pola Distribusi Keruangan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) Perbankan di Perkotaan Yogyakarta 1. Mengidentifikasi karakteristik dengan pola distribusi keruangan ATM 2. Membuat tipologi lokasi ATM 3. Mengidentifikasi pola pemanfaatan ATM 4. Menyajikan arahan bagi pengembangan lokasi ATM - Statistik deskriptif - Pemetaan dan overlay - Analisa Tetangga Terdekat - Kai kuadrat (chi square) 1. Terdapat 4 tipologi lokasi ATM (perdagangan dan jasa, pendidikan, pariwisata, dan tipe lainnya) 2. Tidak terdapat perbedaan penempatan lokasi ATM antar bank 3. Persentase jumlah pengguna ATM didominasi pada tipe lokasi perdagangan dan jasa dan tipe lokasi pendidikan 4. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan diantara pengguna ATM dalam hal gender, usia, waktu penggunaan ATM, pada tipe lokasi ATM bank tertentu. 5. Peta persebaran ATM perbankan berdasarkan tipologi tertentu. 2 Handoyo, RT 3 Ardiyanto Nugroho 2002 Studi Awal terhadap ketelitian Penggunaan Citra IKONOS untuk Pembuatan Peta Skala Menengah dan Besar ditinjau dari Aspek Geometrisnya 2003 Pemilihan Letak Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dengan foto udara dan Sistem Informasi Geografis Menganalisa proses transformasi dari citra IKONOS yang belum terkoreksi menjadi sebuah citra yang memiliki tingkat akurasi dan toleransi seperti peta 1. Menguji kemampuan foto udara sebagai sumber data dalam mengkaji kondisi penggunaan lahan untuk penempatan ATM. 2. Menentukan lokasi potensial untuk penempatan lokasi ATM di Kota Yogyakarta. Koreksi geometri 2 tahap yaitu: interpolasi spasial dengan transformasi koordinat model polynomial dan interpolasi intensitas (resumpling) Interpretasi foto udara Citra IKONOS terkoreksi dengan transformasi model polynomial, tingkat ketelitian dan akurasi citra untuk membuat peta skala menengah dan skala besar Prioritas penempatan ATM

10 No Nama Tahun Judul Penelitian Tujuan Metode Hasil Penelitian 4 Fauzi Analisis visual citra Peta pemilihan letak industri sekunder Nurrahman 2003 Pemilihan letak Kawasan Industri Sekunder dengan Citra Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografi di Semarang Bagian Timur 1. Pemilihan letak dan penentuan kawasan industri sekunder 2. Meneliti kemampuan data yang disadap dari data penginderaan jauh 3. Membandingkan hasil pemilihan letak dengan Rencana Tata Ruang Kota (RTRK) 5 Lina Wahyuni 2010 Pemilihan Letak Anjungan Tunai Mandiri (ATM) Perbankan dengan Ikonos dan Sistem Informasi Geografis di Daerah Perkotaan Yogyakarta 1. Mengetahui kemampuan Penginderaan Jauh Citra Ikonos dan Sistem Informasi Geografis dalam pemrosesan parameter-parameter penentu letak ATM. 2. Pemodelan spasial penentuan letak ATM 3. Memberikan alternatif rekomendasi lokasi ATM Dengan pendekatan kuantitatf berjenjang tertimbang 1. Mengetahui kemampuan Sistem Informasi Geografis dalam pemrosesan parameter-parameter penentu letak ATM. 2. Pemodelan spasial penentuan letak ATM