BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
KERANGKA ACUAN PROGRAM PEMBERANTASAN PENYAKIT DIARE

POJOK ORALIT. LAPORAN MANAJEMEN Februari, 2018 : A.FEBY EKA PUTRI STAMBUK : N PEMBIMBING : dr. INDAH P.KIAY DEMAK.M.Med.

RUK PROGRAM DIARE TAHUN 2018

BAB I PENDAHULUAN. penyakit menular mengutamakan aspek promotif dan preventif dengan membatasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan beban global. terutama di negara berkembang seperti Indonesia adalah diare.

Buku Saku Petugas Kesehatan

PENDATAAN DAN PELAPORAN P2 DIARE

Grafik 1.1 Frekuensi Incidence Rate (IR) berdasarkan survei morbiditas per1000 penduduk

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit diare adalah salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada

BAB I PENDAHULUAN. dan Angka Kematian Balita (AKABA/AKBAL). Angka kematian bayi dan balita

BAB I PENDAHULUAN. negara berkembang termasuk Indonesia (Depkes RI, 2007). dan balita. Di negara berkembang termasuk Indonesia anak-anak menderita

Evaluasi Program Pengendalian Penyakit Diare di Puskesmas Batu Jaya Periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012

A. Gambaran Berdasarkan Survei dan Penelitian

PENCEGAHAN INFEKSI SALURAN CERNA BAGIAN BAWAH

BAB 1 PENDAHULUAN. buang air besar (Dewi, 2011). Penatalaksaan diare sebenarnya dapat. dilakukan di rumah tangga bertujuan untuk mencegah dehidrasi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lebih sering dari biasanya (biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari) 9) terjadinya komplikasi pada mukosa.

BAB I PENDAHULUAN. Derajat kesehatan masyarakat yang optimal sangat ditentukan oleh tingkat

RENCANA TERAPI A PENANGANAN DIARE DI RUMAH (DIARE TANPA DEHIDRASI)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

INOVASI KEPERAWATAN DIARE PADA ANAK. Pencegahan penyakit adalah upaya mengarahkan sejumlah kegiatan untuk

HUBUNGAN KONDISI FASILITAS SANITASI DASAR DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN DIARE DI KECAMATAN SEMARANG UTARA KOTA SEMARANG.

SOP PENCATATAN & PELAPORAN P2 DIARE

SOP PENCATATAN & PELAPORAN P2 DIARE

Pola buang air besar pada anak

BAB I PENDAHULUAN. seluruh daerah geografis di dunia. Menurut data World Health Organization

BAB 1 PENDAHULUAN. anak di negara sedang berkembang. Menurut WHO (2009) diare adalah suatu keadaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya (Permenkes. dan analisis kebutuhan pelayana yang diperlukan

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat yang setinggi-tingginya sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya

BAB 1 PENDAHULUAN. Usia anak dibawah lima tahun (balita) merupakan usia dalam masa emas

BAB I PENDAHULUAN. yaitu program pemberantasan penyakit menular, salah satunya adalah program

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PENANGANAN DIARE. B. Tujuan Mencegah dan mengobati dehidrasi, memperpendek lamanya sakit dan mencegah diare menjadi berat

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Anak adalah anugrah yang diberikan Tuhan kepada keluarga, yang

Promosi dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular

BAB I PENDAHULUAN. tahunnya lebih dari satu milyar kasus gastroenteritis atau diare. Angka

III. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS Setelah diberikan penyuluhan ibu ibu atau warga desa mampu : Menjelaskan pengertian diare

BAB I PENDAHULUAN. Diare merupakan masalah pada anak-anak di seluruh dunia. Dehidrasi dan

BAB I PENDAHULUAN. dari sepuluh kali sehari, ada yang sehari 2-3 kali sehari atau ada yang hanya 2

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. tinggi. Diare adalah penyebab kematian yang kedua pada anak balita setelah

M ENULAR DAN GIZI BU RU K

BAB 1 PENDAHULUAN. utama kematian balita di Indonesia dan merupakan penyebab. diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. 1

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Penyakit diare masih merupakan masalah global dengan morbiditas dan

2. ( ) Tidak lulus SD 3. ( ) Lulus SD 4. ( ) Lulus SLTP 5. ( ) Lulus SLTA 6. ( ) Lulus D3/S1

BAB I PENDAHULUAN. sebesar 3,5% (kisaran menurut provinsi 1,6%-6,3%) dan insiden diare pada anak balita

HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DIDUGA AKIBAT INFEKSI DI DESA GONDOSULI KECAMATAN BULU KABUPATEN TEMANGGUNG

BAB 1 PENDAHULUAN. World Health Organization (WHO) tahun 2013 diare. merupakan penyebab mortalitas kedua pada anak usia

BAB I PENDAHULUAN. Diare adalah sebagai perubahan konsistensi feses dan perubahan frekuensi

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat di Indonesia, hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya angka


BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN juta kematian/tahun. Besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya angka

BAB 1 PENDAHULUAN. hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah (Ngastiyah, 1997). Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. atau lendir(suraatmaja, 2007). Penyakit diare menjadi penyebab kematian

BAB I LATAR BELAKANG. bayi dan balita. Seorang bayi baru lahir umumnya akan buang air besar sampai

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

PENANGANAN DIARE No Dokumen : No. Revisi : Tanggal Terbit : Halaman :

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. ini manifestasi dari infeksi system gastrointestinal yang dapat disebabkan berbagai

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Anak merupakan individu yang berada dalam suatu rentang

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 36 TAHUN 2014 TENTANG

DIARE AKUT. Berdasarkan Riskesdas 2007 : diare merupakan penyebab kematian pada 42% bayi dan 25,2% pada anak usia 1-4 tahun.

ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN KONDISI SANITASI DASAR RUMAH DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS REMBANG 2

I. PENDAHULUAN. bersifat endemis juga sering muncul sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) dan

2017, No Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Neg

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Diare pada anak masih merupakan masalah kesehatan dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. Anak merupakan titipan illahi dan merupakan suatu investasi bangsa

BAB I PENDAHULUAN. agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pembangunan

BAB 1 : PENDAHULUAN. Dalam hal ini sarana pelayanan kesehatan harus pula memperhatikan keterkaitan

LAPORAN TAHUNAN PROGRAM KESLING LAPORAN TAHUNAN PROGRAM KESEHATAN LINGKUNGAN BAB I UMUM 1.1. PENDAHULUAN

BAB 1 : PENDAHULUAN. sendiri. Karena masalah perubahan perilaku sangat terkait dengan promosi

BAB I PENDAHULUAN. prasarana kesehatan saja, namun juga dipengaruhi faktor ekonomi,

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 6

PANDUAN MANAJEMEN RESIKO PUSKESMAS CADASARI PEMERINTAH KABUPATEN PANDEGLANG DINAS KESEHATAN UPT PUSKESMAS CADASARI


KERANGKA ACUAN PROGRAM P2 DBD

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Oleh: Aulia Ihsani

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 2 PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. terjadi karena adanya hubungan interaktif antara manusia, perilaku serta

BAB I PENDAHULUAN. Berwawasan Kesehatan, yang dilandasi paradigma sehat. Paradigma sehat adalah

PENGARUH KOMPETENSI BIDAN DI DESA DALAM MANAJEMEN KASUS GIZI BURUK ANAK BALITA TERHADAP PEMULIHAN KASUS DI KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2008 ARTIKEL

BAB 1 PENDAHULUAN. masa depan yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, mampu

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 3 MENENTUKAN TINDAKAN DAN MEMBERI PENGOBATAN

I. PENDAHULUAN. Diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan. Saku Petugas Kesehatan Lintas Diare Depkes RI 2011).

BAB 1 PENDAHULUAN. hidup bersih dan sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, adil

BAB I PENDAHULUAN. negara berkembang. Di Indonesia penyakit diare menjadi beban ekonomi yang

PERILAKU IBU DALAM MENGASUH BALITA DENGAN KEJADIAN DIARE

CURRICULUM VITAE. : Jalan Abdul Hakim Komplek Classic III Setiabudi Residence No. 56B Tanjungsari Medan

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO

BAB I PENDAHULUAN. 1

BAB I PENDAHULUAN. kematian bayi (AKB) masih cukup tinggi, yaitu 25 kematian per 1000

BAB I PENDAHULUAN. hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah atau lendir saja

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. kematian bayi, angka kesakitan bayi, status gizi dan angka harapan hidup (Depkes RI,

UPAYA PENCEGAHAN DIARE PADA ANAK USIA TODDLER PREVENTION EFFORT OF DIARRHEA TO TODDLER

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116,

DIARE Oleh: Astrie Rezky Defri Yulianti Intan Farah Diba Angela Juliana Nur Aira Juwita Risna Sri Mayani Syarifa Andiana Tri wardhana Yuvi Zulfiatni

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Puskesmas 2.1.1 Pengertian Puskesmas Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya (Permenkes 75, 2014). 2.1.2 Tujuan Puskesmas Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang : a. Memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat b. Mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu c. Hidup dalam lingkungan sehat dan d. Memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. 2.1.3 Fungsi Puskesmas Fungsi puskesmas ada tiga yaitu a. Sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya melalui upaya menggerakkan lintas sektor dan dunia usaha diwilayah kerjanya agar menyelenggarakan pembangunan yang 7

8 berwawasan kesehatan, keaktifan memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap program pembangunan dan mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan dan pemulihan. b. Pusat pemberdayaan masyarakat yang berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga, dan masyarakat memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat serta ikut menetapkan, menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan dan memberikan bantuan yang bersifat bimbingan teknis materi dan rujukan medis maupun rujukan kesehatan kepada masyarakat dengan ketentuan bantuan tersebut tidak menimbulkan ketergantungan. c. Pusat pelayanan kesehatan pertama yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan melalui pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat. Pelayanan kesehatan yang diberikan puskemas adalah pelayanan kesehatan menyeluruh yang meliputi pelayanan promotif (peningkatan kesehatan), preventif (pencegahan), kuratif (pengobatan), rehabilitatif (pemulihan kesehatan ). Upaya kesehatan masyarakat esensial berdasarkan Permenkes 75 tahun 2014 ialah pelayanan promosi kesehatan, pelayanan kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan ibu, anak dan keluarga berencana, pelayanan gizi dan pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit. Setiap puskesmas

9 harus menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat esensial tersebut untuk mendukung pencapaian standar pelayanan minimal kabupaten atau kota bidang kesehatan. 2.2 Diare 2.2.1 Pengertian Diare Diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja dengan frekuensi lebih sering dari biasanya (tiga kali atau lebih) dalam satu hari (Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2011). 2.2.2 Penyebab Diare Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam 6 golongan besar yaitu infeksi (disebabkan oleh bakteri, virus atau infestasi parasit), malabsorpsi, alergi, keracunan, imunodefisiensi dan sebab-sebab lainnya. Penyebab yang sering ditemukan di lapangan ataupun secara klinis adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan (Kemenkes RI, 2011). 2.2.3 Jenis-Jenis Diare Pembagian diare ada dua yaitu Diare akut, Diare persisten atau Diare kronik. Diare akut adalah diare yang berlangsung kurang dari 14 hari, sementara Diare persisten atau diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari 14 hari. (Kemenkes RI, 2011). 2.2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Diare a. Penyebaran kuman yang menyebabkan diare Kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui fecal oral antara lain melalui

10 makanan/minuman yang tercemar tinja atau kontak langsung dengan tinja penderita. b. Faktor penjamu yang meningkatkan kerentanan terhadap diare Faktor penjamu dapat meningkatkan insiden. Faktor-faktor tersebut ialah tidak memberikan ASI esklusif, kurang gizi, campak dan imunodefesiensi. c. Faktor lingkungan dan perilaku Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan. Dua faktor yang dominan yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat yaitu melalui makanan dan minuman, maka dapat menimbulkan kejadian penyakit diare ( Kemenkes RI, 2011). 2.2.5 Derajat dehidrasi dalam Diare a) Diare tanpa dehidrasi Kehilangan cairan <5% berat badan penderita diare.tanda-tandanya balita tetap aktif, memiliki keinginan minum seperti biasa, mata tidak cekung dan turgor kembali segera. b) Diare dengan dehidrasi ringan/ sedang Kehilangan cairan 5-10% berat badan penderita diare. Tanda-tandanya gelisah atau rewel, mata cekung, inginan minum terus/rasa haus meningkat, dan turgor kembali lambat. c) Diare dengan dehidrasi berat

11 Kehilangan cairan >10% berat badan penderita diare. Tanda-tandanya lesu, tidak sadar, mata cekung, malas minum, dan turgor kembali sangat lambat ( Kemenkes RI, 2011). 2.2.6 Tanda-Tanda Diare Tanda-Tanda diare adalah buang air besar cair lebih sering dari biasanya (tiga kali atau lebih) dalam satu hari, yang kadang disertai dengan muntah berulang-ulang, rasa haus yang nyata, makan atau minum sedikit, demam dan tinja berdarah (Kemenkes RI, 2011). 2.3 Program Pengendalian Penyakit Diare Program merupakan rangkaian kegiatan yang disusun dan dilaksanakan oleh perorangan,lembaga,organisasi,dan institusi. Program dapat berjalan baik harus diatur dan dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan dan pengawasan yang artinya mengintegrasikansumber-sumber yang tidak berhubungan menjadi system total untuk menyelesaikan suatu tujuan (Setyoko, 2014). 2.3.1 Tujuan Pengendalian Penyakit Diare Tujuan Umum Menurunkan angka kesakitan dan kematian karena diare bersama lintas program dan sektor terkait. Tujuan Khusus 1. Tercapainya penurunan angka kesakitan 2. Terlaksananya tatalaksana diare sesuai standar 3. Diketahuinya situasi epidemologi dan besarnya masalah penyakit diare di masyarkat, sehingga dapat dibuat perencanaan dalam pencegahan,

12 penanggulangan maupun pemberantasannya pada semua jenjang pelayanan. 4. Terwujudnya masyarakat yang mengerti, menghayati dan melaksanakan hidup sehat melalui promosi kesehatan kegiatan pencegahan sehingga kesakitan dan kematian karena diare dapat dicegah. 5. Tersusunnya rencana kegiatan pengendalian penyakit diare di suatu wilayah kerja yang meliputi target, kebutuhan logistic dan pengelolaannya (Kemenkes RI, 2011). 2.3.2 Kebijakan Pengendalian Penyakit Diare 1. Melaksanakan tatalaksana diare sesuai standar, baik disarana kesehatan maupun dirumah tangga/ masyarakat 2. Melaksanakan SKD (Sistem Kewaspadaan Dini) diare 3. Melaksanakan Surveilans epidemologi dan penanggulangan kejadian luar biasa 4. Mengembangkan pedoman pengendalian penyakit diare 5. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas dalam pengelolaan program aspek managerial dan teknis medis 6. Mengembangkan jejaring lintas program dan sektor 7. Pembinaan teknis dan monitoring pelaksanaan pengendalian penyakit diare 8. Melaksanakan evaluasi sebagai dasar perencanaan selanjutnya (Kemenkes RI, 2011).

13 2.3.3 Strategi Pengendalian Penyakit Diare 1. Meningkatkan tatalaksana diare di tingkat rumah tangga 2. Melaksanakan tatalaksana diare yang standar di sarana kesehatan melalui LINTAS DIARE (Lima Langkah Tuntaskan Diare) 3. Penguatan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) diare dan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) 4. Meningkatkan upaya kegiatan pencegahan yang efektif 5. Peningkatan SDM (Sumber Daya Manusia) 6. Melaksanakan monitoring dan evaluasi (Kemenkes RI, 2011). 2.3.4 Kegiatan Program Pengendalian Penyakit Diare 1. Tatalaksana penderita diare 2. Pengelolaan logistik 3. Promosi kesehatan 4. Pencegahan Diare 5. Surveilans epidemologi 6. Melaksanakan monitoring dan evaluasi (Kemenkes RI, 2011). 2.3.5 Melaksanakan Tatalaksana Penderita Diare Prinsip dasar dalam tatalaksana penderita diare yaitu Lima Langkah Tuntaskan Diare (LINTAS DIARE) terdiri atas 1. Berikan Oralit Oralit merupakan campuran garam elektrolit, seperti natrium klorida, kalium klorida, dan trisodium sitrat hidrat serta glukosa anhidrat.oralit diberikan untuk mengganti cairan dan elektolit dalam tubuh yang terbuang saat diare.

14 Campuran glukosa dan garam yang terkandung dalam oralit dapat diserap dengan baik oleh usus penderita diare.bila diare segera beri oralit sampai diare berhenti. Cara pemberian oralit dengan satu bungkus oralit dimasukkan ke dalam satu gelas air matang (200 cc), anak kurang dari 1 tahun diberi 50-100 cc cairan oralit setiap kali buang air besar dan anak lebih dari 1 tahun diberi 100-200 cc cairan oralit setiap kali buang air besar. 2. Berikan zinc selama 10 hari berturut-turut Zinc merupakan salah satu gizi mikro yang penting untuk kesehatan dan pertumbuhan anak. Zinc yang ada dalam tubuh akan menurun dalam jumlah besar ketika anak mengalami diare, untuk menggantikan zinc yang hilang selama diare, anak dapat diberikan zinc yang akan membantu penyembuhan diare serta menjaga agar anak tetap sehat. Penelitian menunjukkan bahwa pengobatan diare dengan pemberian oralit disertai zinc lebih efektif dan terbukti menurunkan angka kematian akibat diare pada anak-anak sampai 40%. Manfaat pemberian zinc yaitu mampu menggantikan kandungan zinc alami tubuh yang hilang tersebut dan mempercepat penyembuhan diare. Zinc juga meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga dapat mencegah resiko terulangnya diare selama 2-3 hari bulan setelah anak sembuh dari diare. Zinc sebagai pengobatan diare dapat mengurangi insidens pneumonia sebesar 26%, durasi diare akut sebesar 20 %, durasi diare persisten sebesar 24% dan kegagalan terapi atau kematian akibat diare persisten sebesar 42%. Zinc merupakan mineral penting bagi tubuh dan diperlukan oleh berbagai organ tubuh seperti kulit dan mukosa saluran cerna. Pemberian zinc selama 10 hari terbukti

15 membantu memperbaiki mukosa usus yang rusak dan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh secara keseluruhan. Obat Zinc merupakan tablet dispersible yang larut dalam waktu sekitar 30 detik. Zinc diberikan dengan cara dilarutkan dalam satu sendok air matang atau ASI dan untuk anak yang lebih besar, zinc dapat dikunyah. Zinc diberikan satu kali sehari selama 10 hari berturut-turut dengan dosis balita umur < 6 bulan: 1/2 tablet (10mg)/hari dan balita umur > 6 bulan: 1 tablet (20mg)/hari. 3. Teruskan ASI ( Air Susu Ibu ) dan pemberian Makan Bayi dibawah 6 bulan sebaiknya hanya mendapat ASI untuk mencegah diare dan meningkatkan sistem imunitas tubuh bayi. Anak yang masih mendapatkan ASI harus diteruskan pemberian ASI dan anak harus diberi makan seperti biasa dengan frekuensi lebih sering, dilakukan sampai dua minggu setelah anak berhenti diare karena lebih banyak makanan akan membantu mempercepat penyembuhan, pemulihan dan mencegah malnutrisi. Anak yang berusia kurang dari 2 tahun dianjurkan untuk mulai mengurangi susu formula dan menggantinya dengan ASI. 4. Berikan antibiotik secara selektif Antibiotik hanya diberikan jika ada indikasi seperti diare berdarah atau diare karena kolera atau diare dengan disertai penyakit lain. Pemberian antibiotik yang tidak tepat bisa menimbulkan resistensi kuman terhadap antibiotik bila tidak dihabiskan sesuai dosis dan dapat membunuh flora normal yang justru dibutuhkan tubuh. Anti diare akan menghambat gerakan itu sehingga kotoran yang seharusnya dikeluarkan justru dihambat keluar. Selain itu anti diare dapat

16 menyebabkan komplikasi yang disebut prolapsus pada usus (terlipat/terjepit). Kondisi ini berbahaya karena memerlukan tindakan operasi,oleh karena itu anti diare seharusnya tidak boleh diberikan.resep antibiotik seharusnya hanya boleh dikeluarkan oleh dokter. 5. Berikan Nasihat pada Ibu / Pengasuh Berikan nasihat dan cek pemahaman ibu/pengasuh tentang cara pemberian oralit, zinc, ASI/makanan dan tanda-tanda untuk segera membawa anaknya ke petugas kesehatan jika anak buang air besar cair lebih sering, muntah berulangulang, mengalami rasa haus yang nyata, makan atau minum sedikit, demam, tinjanya berdarah dan tidak membaik dalam 3 hari. 2.3.5.1 Prosedur Tata Laksana Penderita Diare 1. Riwayat Penyakit a. Berapa lama anak diare? b. Berapa kali diare dalam sehari? c. Adakah darah dalam tinjanya? d. Apakah ada muntah? berapa kali? e. Apakah ada demam? f. Makanan apa yang diberikan sebelum diare? g. Jenis makanan dan minuman apa yang diberikan selama sakit? h. Obat apa yang sudah diberikan? i. Imunisasi apa saja yang sudah didapat? j. Apakah ada keluhan lain?

17 2. Menilai Derajat Dehidrasi Tabel 2.2 Tabel Penilaian Derajat Dehidrasi PENILAIAN A B C Bila ada 2 tanda atau lebih Lihat : Baik, sadar Gelisah, rewel Lesu, lunglai / Keadaan umum Normal cekung tidak sadar Mata Minum biasa, Haus, ingin cekung Rasa haus (beri Tidak haus minum banyak Malas minum air minum) atau tidak bisa minum Raba/Periksa : Turgor kulit Kembali cepat Kembali lambat Kembali sangat lambat (lebih dari 2 detik) Tentukan Tanpa Dehidrasi Dehidrasi Dehidrasi Berat Derajat Ringan-Sedang Dehidrasi Rencana Pengobatan Rencana Terapi A Rencana Terapi B Rencana Terapi C 1. Rencana terapi A untuk penderita diare tanpa dehidrasi di rumah 2. Rencana terapi B untuk penderita diare dengan dehidrasi ringan-sedang di Sarana Kesehatan untuk diberikan pengobatan selama 3 jam

18 3. Rencana terapi C untuk penderita diare dengan dehidrasi berat di Sarana Kesehatan dengan pemberian cairan Intra Vena 2.3.5.2 Sarana Rehidrasi Sarana rehidrasi di Puskesmas disebut pojok Upaya Rehidrasi Oral (URO) atau lebih dikenal nama pojok oralit. 1. Pojok Oralit Pojok oralit didirikan sebagai upaya terobosan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat/ibu rumah tangga, kader, petugas kesehatan dalam tatalaksana penderita diare. Pojok oralit juga merupakan sarana untuk observasi penderita diare, baik yang berasal dari kader maupun masyarakat. melalui pojok oralit diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat dan petugas terhadap tatalaksana penderita diare, khususnya dengan upaya rehidrasi oral. a. Fungsi 1) Mempromosikan upaya-upaya rehidrasi oral 2) Memberi pelayanan penderita diare 3) Memberikan pelatihan kader (Posyandu) b. Tempat Pojok oralit adalah bagian dari suatu ruangan di Puskesmas (ruangan tunggu pasien) dengan 1-2 meja kecil. Seorang petugas puskesmas dapat mempromosikan rehidrasi oral pada ibu-ibu yang sedang menunggu giliran untuk suatu pemeriksaan. Bagi penderita diare yang mengalami dehidrasi Ringan-

19 Sedang diobservasi di Pojok Oralit selama 3 jam. Ibu/keluarganya akan dianjurkan bagaimana cara menyiapkan oralit dan berapa banyak oralit yang harus diminum oleh penderita. c. Sarana Pendukung 1) Tenaga pelaksana : dokter dan paramedis terlatih 2) Prasarana : a) Tempat pendaftaran b) Ruangan yang dilengkapi dengan meja, ceret, oralit 200 ml, gelas, sendok, lap bersih, sarana cuci tangan dengan air mengalir dan sabun (wastafel), poster untuk penyuluhan dan tatalaksana penderita diare. 3) Cara membuat pojok oralit a) Pilihan lokasi untuk Pojok Oralit : - Dekat tempat tunggu (ruang tunggu), ruang periksa, serambi muka yang tidak berdesakan - Dekat dengan toilet atau kamar mandi - Nyaman dan baik ventilasinya b) Pengaturan model di Pojok Oralit - Sebuah meja untuk mencampur larutan oralit dan menyiapkan larutan - Kursi atau bangku dengan sandaran, dimana ibu dapat duduk dengan nyaman saat memangku anaknya - Sebuah meja kecil dimana ibu dapat menempatkan gelas yang berisi larutan oralit

20 - Oralit paling sedikit 1 kotak (100 bungkus) - Botol susu/gelas ukur - Gelas - Sendok - Lembar balik yang menerangkan pada ibu, bagaimana mengobati atau merawat anak diare - Leaflet untuk dibawa pulang ke rumah Media penyuluhan tentang pengobatan dan pencegahan diare perlu disampaikan pada ibu selama berada di Pojok Oralit. Selain itu pojok oralit sangat bermanfaat bagi ibu untuk belajar mengenai upaya rehidrasi oral serta hal-hal penting lainnya, seperti pemberian ASI, pemberian makanan tambahan, penggunaan air bersih, mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun, penggunaan jamban, serta poster tentang imunisasi. d. Kegiatan Pojok Oralit 1) Penyuluhan upaya rehidrasi oral a) Memberikan demonstrasi tentang bagaimana mencampur larutan oralit dan bagaimana cara memberikannya b) Menjelaskan cara mengatasi kesulitan dalam memberikan larutan oralit bila ada muntah c) Memberikan dorongan pada ibu untuk memulai memberikan makanan pada anak atau ASI pada bayi (Puskesmas perlu memberikan makanan pada anak yang tinggal sementara di fasilitas pelayanan).

21 d) Mengajari ibu mengenai bagaimana meneruskan pengobatan selama anaknya di rumah dan menentukan indikasi kapan anaknya dibawa kembali ke Puskesmas. e) Petugas kesehatan perlu memberikan penyuluhan pada pengunjung Puskesmas dengan menjelaskan tatalaksana penderita diare di rumah serta cara pencegahan diare. 2) Pelayanan Penderita Setelah penderita diperiksa, tentukan diagnosis dan derajat rehidrasi di ruang pengobatan, tentukan jumlah cairan yang diberikan dalam 3 jam selanjutnya dan bawalah ibu ke Pojok URO untuk menunggu selama diobservasi serta : a) Jelaskan manfaat oralit dan ajari ibu membuat larutan oralit b) Perhatikan ibu waktu memberikan oralit c) Perhatikan penderita secara periodic dan catat keadaanya setiap 1-2 jam sampai penderita teratasi rehidrasinya (3-6 jam) d) Catat/hitung jumlah oralit yang diberikan e) Berikan pengobatan terhadap gejala lainnya seperti penurunan panas dan antibiotika untuk mengobati disentri dan kolera. 2.3.6 Pengelolaan Logistik Perhitungan kebutuhan logistik diare ditentukan berdasarkan perkiraan jumlah penderita diare yang datang ke sarana pelayanan kesehatan (Puskesmas atau kader). Perkiraan jumlah penderita diare dihitung berdasarkan perkiraan penemuan penderita, angka kesakitan, jumlah penduduk di suatu wilayah. Target

22 yang dilayani suatu puskesmas adalah: Perkiraan penderita diare yang datang x angka kesakitan x jumlah penduduk a. Perhitungan kebutuhan Oralit & Zinc Oralit = target penderita diare x6 bungkus + cadangan stok Zinc = jumlah penderita diare balita x 10 tablet b. Cadangan adalah perkiraan obat yang rusak biasanya 10% dari jumlah kebutuhan. Cadangan = Jumlah balita x episode (10% x jumlah penduduk x 2 kali). Ket: angka 10% adalah proporsi jumlah balita 2.3.7 Melakukan Promosi Kesehatan Promosi kesehatan adalah suatu proses/upaya agar masyarakat mampu untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan atau upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu kelompok atau masyarakat sehingga berprilaku yang kondusif untuk kesehatan yaitu perubahan perilaku, pembinaan perilaku dan pengembangan perilaku dari yang baik menjadi lebih baik. Promosi kesehatan adalah kombinasi berbagai dukungan yang menyangkut pendidikan, organisasi, kebijakan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan (Notoadmojo, 2010). Tujuan promosi kesehatan adalah tersosialisasinya program-program kesehatan, terwujudnya masyarakat yang berbudaya hidup bersih dan sehat,serta terwujudnya gerakan hidup sehat dimasyarakat untuk menuju terwujudnya kabupaten/kota sehat, provinsi sehat dan Indonesia sehat. Ruang lingkup promosi kesehatan adalah

23 1. Promosi kesehatan pada aspek promotif. Sasaran: kelompok orang sehat Tujuan: agar tetap sehat dan meningkatkan kesehatannya 2. Promosi kesehatan pada aspek preventif. Sasaran: kelompok beresiko tinggi. Tujuan: tidak jatuh sakit 3. Promosi kesehatan pada aspek kuratif Sasaran: kelompok penderita penyakit. Tujuan : sembuh dan tidak menjadi parah 4. Promosi kesehatan pada aspek rehabilitative. Sasaran:kelompok orang yang baru sembuh. Tujuan : agar segera pulih kesehatannya (Syafrudin, 2009). Mewujudkan visi dan misi promosi atau pendidikan kesehatan diperlukan cara pendekatan yang strategis agar tercapai secara efektif dan efisien. Strategi adalah bagaimana cara untuk mencapai atau mewujudkan visi dan misi pendidikan kesehatan secara efektif dan efisien. Strategi promosi kesehatan adalah cara atau langkah yang diperlukan untuk mencapai,memperlancar atau mempercepat pencapaian tujuan promosi kesehatan. Strategi promosi kesehatan ada 3 yaitu : 1. Advokasi Advokasi adalah kegiatan yang ditujukan kepada pembuatan keputusan atau penentu kebijakan baik dibidang kesehatan maupun sektor lain diluar kesehatan yang mempunyai pengaruh terhadap kesehatan publik. Strategi advokasi kesehatan yaitu usaha mempengaruhi kebijakan public /pengambilan keputusan dengan melalui berbagai macam bentuk komunikasi persuasif atau suatu upaya agar pembuat keputusan secara aktif mendukung suatu masalah atau

24 isu dan mencoba mendapatkan dukungan dari pihak lain. Tujuan advokasi kesehatan ialah mendapatkan dukungan, baik dalam bentuk kebijakan lisan atau tertulis dalam bentuk surat keputusan, surat edaran, himbauan, pembentukan kelembagaan, ketersediaan dan sarana, tenaga, mendorong para pengambil keputusan untuk suatu perubahan dalam kebijakan, program atau peraturan dan mendorong para pengambil keputusan untuk aktif mendukung kegiatan/tindakan dalam pemecahan masalah. Sasaran advokasi ada 3 yaitu a) Pengambil keputusan tingkat pusat seperti DPR, Menteri, Dirjen departemen terkait, bappenas, lembaga donor, Lsm, internasioanal, partai politik b) Pengambil kebijakan tingkat provinsi seperti DPRD, Bappeda, Gubernur dan kesejahteraan rakyat, lembaga donor, institusi kesehatan, lembaga swasta/industri, partai politik c) Pengambil kebijakan tingkat kabupaten/kota seperti DPRD kabupaten/kota, komisi E, Bapedda, Bupati/walikota, Kepala Dinas Kesehatan, lembaga donor, institusi kesehatan, lembaga swasta/industri, partai politik. 2. Dukungan Sosial/Bina Suasana Dukungan sosial adalah menjalin kemitraan untuk pembentukan opini publik dengan berbagai kelompok opini yang ada dimasyarakat sehingga dapat menciptakan opini publik yang jujur, terbuka sesuai dengan norma, situasi dan kondisi masyarakat yang mendukung tercapainya perilaku hidup bersih dan sehat

25 di semua tatanan. Dukungan sosial dilakukan agar kegiatan atau promosi kesehatan tersebut memperoleh dukungan dari para tokoh masyarakat dan tokoh agama. Tujuan dukungan sosial /bina suasana dilakukan yaitu a) Adanya ajuran atau contoh positif dan petugas kesehatan atau pemuka masyarakat b) Adanya dukungan lembaga-lembaga masyarakat c) Adanya dukungan media massa / pembuat opini umum d) Adanya kesiapan penyelenggara kesehatan dan sektor terkait e) Tersedianya sasaran dan sumber daya lainnya f) Sasaran penyelenggaran dukungan sosial /bina suasana g) Tenaga professional kesehatan, institusi pelayanan kesehatan, organisasi masa, organisasi promosi kesehatan h) Lembaga Swadaya Masyarakat ( LSM ) i) Para pemuka dan orang orang yang berpengaruh di masyarakat, kelompok media massa j) Kelompok pengusaha yang terkait kesehatan,kelompok peduli kesehatan. 3. Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan ditujukan langsung kepada masyarakat sebagai sasaran primer atau utama promosi kesehatan. Tujuannya adalah agar masyarakat memiliki kemampuan dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya mereka sendiri. Pemberdayaan masyarakat ini dapat diwujudkan dengan berbagai kegiatan antara lain: penyuluhan kesehatan, pengorganisasian dan pengembangan

26 masyarakat dalam bentuk misalnya koperasi, pelatihan-pelatihan keterampilan dalam rangka meningkat pendapatan keluarga. Gerakan masyarakat yaitu memberi kemampuan pada individu/kelompok untuk memberdayakan sasaran primer adan sekunder agar berperan aktif dalam kegiatan kesehatan. Tujuan gerakan masyarakat ialah untuk meningkatkan perilaku sehat di masyarakat dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam upaya kesehatan masyarakat. Sasaran pemberdayaan masyarakat yaitu masyarakat secara perorangan/kelompok, masyarakat pengguna, tokoh masyarakat yang menjadi panutan dan karyawan. 2.3.8 Pencegahan Diare Kegiatan pencegahan penyakit diare bertujuan untuk mencegah penyakit (mengurangi morbiditas) dan mencegah komplikasi (mengurangi mortalitas). Kegiatan pencegahan penyakit diare yang benar dan efektif yang dapat dilakukan adalah 1. Perilaku Sehat a) Pemberian ASI ASI adalah makanan paling baik untuk bayi. Komponen zat makanan dalam bentuk yang ideal dan seimbang untuk dicerna dan diserap secara optimal oleh bayi. ASI saja sudah cukup umtuk menjaga pertumbuhan samapai umur 6 bulan. ASI bersifat steril dan mengandung nutrient dengan kualitas yang tinggi dan perbandingan yang optimal, ASI juga mengandung enzim, zat anti mikrobial dll. Bayi harus disusui secara penuh sampai 6 bulan, setelah 6 bulan pemberian ASI harus diteruskan sambil ditambahkan dengan makanan lain. ASI mempunyai

27 khasiat preventif secara imunologik dengan adanya antibodi dan zat-zat lain.asi turut memberikan perlindungan terhadap diare. Berdasarkan penelitian Winda (2010) bahwa adanya hubungan antara pemberian ASI Eklusif dengan angka kejadian diare. Pada bayi yang diberi ASI Ekslusif presentase bayi yang tidak diare lebih tinggi dibandingkan dengan bayi yang mengalami diare. b) Makanan Pendamping ASI Pemberian makanan pendamping ASI adalah saat bayi secara bertahap mulai dibiasakan dengan makanan orang dewasa. Beberapa saran untuk meningkat pemberian makanan pendamping ASI yaitu perkenalkan makanan lunak, ketika anak berumur 6 bulan dan dapat teruskan pemberian ASI tambahkan macam makanan setelah anak berumur 9 bulanatau lebih, tambahkan minyak, lemak, dan gula kedalam nasi/bubur dan biji-bijian untuk energy, tambahkan hasil olahan susu, telur, ikan, daging, kacang-kacangan, buah-buahan dan sayuran berwarna hijau dan cuci tangan sebelum menyiapkan makanan dan menyuapi anak, suapi anak dengan sendok yang bersih dan masak makanan dengan benar, simpan sisanya dengan tempat yang dingin dan panaskan dengan benar sebelum diberikan ke anak. Berdasarkan penelitian Zulfikar (2014) usia pemberian makanan pendamping ASI mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian diare dan merupakan faktor risiko kejadian diare dengan nilai p=0,000 dan didapatkan OIR= 14,875 berarti bayi yang diberikan makanan pendamping ASI pada usia 0-6 bulan beresiko 14,875 kali lipat terkena diare dibanding bayi yang tidak diberi makanan pendamping ASI.

28 c) Menggunakan Air Bersih yang Cukup Penularan kuman infeksius penyebab diare dilakukan melalu face-oral melalui makanan, minuman atau benda yang tercemar dengan tinja. Masyarakat yang terjangkau penyediaan air bersih mempuyai resiko menderita diare lebih kecil dibanding dengan masyarakat yang tidak mendapatkan air bersih. Masyarakat dapat mengurangi risiko terhadap serangan diare yaitu dengan menggunakan air yang bersih dan melindungi air tersebut dan kontaminasi mulai dari sumbernya sampai penyimpanan dirumah. Berdasarkan penelitian Candra (2013) menyatakan bahwa terdapat hubungan antara keadaan sanitasi sarana air bersih dengan kejadian diare, dengan tingkat kekuatan hubungan termasuk dalam kategori sedang. d) Mencuci Tangan Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan. Mencuci tangan dengan sabun terutama sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak, sebelum menyiapkan makanan dan sebelum makan. Berdasarkan penelitian Ali (2014) menyatakan bahwa adanya hubungan antara variabel perilaku mencuci tangan dengan variabel kejadian diare p= 0.015 dimana perilaku mencuci tangan yang baik kemungkinan terkena diare kecil, sedangkan perilaku mencuci tangan yang kurang baik semakin besar kemungkinan untuk terkena diare. e) Menggunakan Jamban Penggunaan jamban mempunyai dampak yang besar dalam penurunan risiko terhadap penyaki diare.keluarga yang tidak mempunyai jamban harus

29 membuat jamban dan keluarga harus buang air besar di jamban.hal yang perlu diperhatikan yaitu keluarga harus mempunyai jamban,bersihkan jamban secara teratur dan gunakan alas kaki bila akan buang air besar. f) Membuang Tinja Bayi yang Benar Tinja bayi dapat menularkan penyakit pada anak-anak dan orang tuanya, tinja bayi harus dibuang dengan benar. Keluarga harus memperhatikan beberapa hal yaitu kumpulkan segera tinja bayi dan buang di jamban,bantu anak buang air besar di tempat yang bersih dan mudah dijangkau olehnya, bila tidak ada jamban pilih tempat untuk membuang tinja seperti didalam lubang atau kebun kemudian ditimbun. g) Sarana Pembuangan Air Limbah Air limbah baik pabrik atau limbah rumah tangga harus dikelola Sedemikian rupa agar tidak menjadi sumber penularan penyakit. Sarana pembuangan air limbah yang tidak memenuhi syarat akan menimbulkan bau, mengganggu estetika dan dapat menjadi perindukan nyamuk dan bersarangnya tikus kondisi ini dapat berpotensi menularkan penyakit seperti leptospirosis. Bila ada saluran pembuangan air limbah di halaman secara rutin harus dibersihakan agar air limbah dapat mengalir sehingga tidak menimbulkan bau yang tidak sedap dan tidak menjadi tempat perindukan nyamuk. h) Pemberian Imunisasi Campak Pemberian imunisasi campak pada bayi sangat penting untuk mencegah agar bayi tidak terkena penyakit campak. Anak yang sakit campak sering disertai dengan diare sehingga pemberian imunisasi campak juga dapat mencegah diare.

30 Berdasarkan penelitian Wisna (2014) menyatakan bahwa adannya hubungan antara kelengkapan imunisasi terhadap kejadian diare p=0,003. 2. Penyehatan Lingkungan a) Penyediaan Air Bersih Penyedian air bersih baik secara kualitas dan kuantitas mutlak diperlukan dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari termasuk untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Setiap rumah tangga harus tersedia sehingga perilaku hidup bersih harus terlaksana. b) Pengelolaan Sampah Sampah merupakan sumber penyakit dan tempat berkembang biaknya vektor penyakit seperti lalat, nyamuk, tikus, kecoa dsb. Tempat sampah harus disediakan, sampah harus dikumpulkan setiap hari dan dibuang ketempat penampungan sementara. Bila tidak terjangkau oleh pelayanan pembuangan sampah ke tempat pembuangan akhir dapat dilakukan pemusnahan sampah dengan cara ditimbun dan dibakar. Berdasarkan penelitian Kotrun (2014) menyatakan bahwa terdapat hubungan antara pemisahan sampah dan penyimpanan sampah dengan risiko diare pada baduta di Kelurahan Ciputat Tahun 2014. 2.3.9 Surveilans epidemologi Surveilans epidemologi penyakit diare adalah kewaspadaan dalam mengamati timbulnya dan penyebaran penyakit diare serta faktor-faktor yang mempengaruhi pada masyarakat yang kegiatannya dilakukan secara terusmenerus, cepat dan tepat ( Kemenkes RI, 2011 ).

31 Tujuan meningkatkan sistem kewaspadaan dini dan penanggulangan KLB yaitu a) Menumbuhkan sikap tanggap terhadap adanya perubahan dalam masyrakat yang berkaitan dengan kesakitan dan kematian b) Mengarahkan sikap tanggap tersebut terhadap tindakan penanggulangan secara cepat dan tepat untuk mengurangi/mencegah kesakitan/kematian c) Memperoleh informasi secara cepat, tepat dan akurat. 2.3.9 Prosedur Surveilans Pengumpulan data diare ada tiga cara yaitu ; 1. Laporan rutin Dilakukan oleh puskesmas dan rumah sakit melalui SP2TP,SPRS,STP dan rekapitulasi diare. Diare termasuk dalam penyakit yang dapat menimbulkan wabah maka perlu dibuat laporan mingguan(w2). Membuat laporan rutin perlu pencatatan setap hari (register) penderita diare yang datang ke sarana kesehatan agar dapat dideteksi tanda-tanda akan terjadinya KLB/Wabah sehingga dapat segera dilakukan tindakan penanggulangan secepatnya.laporan rutin ini dikompilasi oleh petugas RR/diare di puskesmas kemudian dilaporkan ke tingkat kabupaten/kota melalui laporan bulanan dan STP setiap bulan. Petugas /pengelola diare kabupaten/kota membuat rekapitulasi dari masing-masing puskesmas dan secara rutin (bulanan) dikirim ke tingkat propinsi ke tingkat propinsi dengan menggunakan formulir rekapitulasi diare, dari tingkat propinsi di rekap berdasarkan kabupaten/kota secara rutin dan dikirim ke pusat.

32 2. Laporan KLB Diare Setiap terjadi KLB /Wabah harus dilaporkan dalam periode 24 jam (W1) dan Dilanjutkan dengan laporan khusus yang meliputi kronologi terjadinya KLB, cara penyebaran serta faktor-faktor yang mempengaruhinya, keadaan epidimiologis penderita, hasil penyelidikan yang telah dilakukan dan hasil penanggulangan KLB dan rencana tindak lanjut. 3. Pengumpulan data melalui studi kasus Pengumpulan data ini dapat dilakukan satu tahun sekali misalnya pada pertengahan atau akhir Tahun tujuannya untuk mengetahui base line data sebelum atau sesudah program dilaksanakan dan hasil penilaian tersebut dapat digunakan untuk perencanaan di tahun yang akan datang. Data data yang telah dikumpulkan diolah dan ditampilkan dalam bentuk tabel-tabel atau grafik kemudian dianalisis dan diinterpretasi. Analisis ini sebaiknya dilakukan berjenjang dari Puskesmas hingga Pusat sehingga kalau terdapat permasalahan segera dapat diketahui dan diambil tindakan pemecahannya. Hasil analisis dan interpretasi terhadap data yang dikumpulkan, diumpanbalikkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan yaitu kepada pimpinan di daerah untuk mendapatkan tanggapan dan dukungan penanganannya. KLB yaitu timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemologi pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. Kriteria KLB Diare

33 a) Timbulnya suatu penyakit menular tertentu yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal pada suatu daerah. b) Peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya dalam kurun waktu jam,hari atau minggu. c) Peningkatan kejadian kesakitan terus menerus selama 3 kurun waktu dalam jam,hari atau minggu berturut-turut. d) Jumlah penderita baru dalam periode waktu satu bulan menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan dalam tahun sebelumnya e) Rata-rata jumalah kejadian kesakitan perbulan salaam satu tahun menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan pada tahun sebelumnya. f) Angka kematian kasus dalam satu kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% atau lebih dibandingkan dengan angka kematian kasus pada suatu periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama. Manajemen KLB/Wabah diare dapat dibagi 3 fase yaitu 1. Pra-KLB/Wabah Persiapan yang perlu diperhatikan pada pra-klb/wabah adalah kab/kota propinsi dan pusat perlu membuat surat edaran atau instruksi kesiapsiagaan disetiap tingkat, meningkatkan kewaspadaan dini di wilayah puskesmas terutama di desa rawan KLB, mempersiapkan tenaga dan logistik yang cukup di puskesmas kab/kota dan propinsi dengan

34 membentuk tim gerak cepat (TGC), meningkatkan uapaya promosi kesehatan dan meningkatkan kegiatan lintas program dan sektor. 2. Saat KLB/Wabah Kegiatan saat KLB/Wabah yaitu penyelidikan KLB.Tujuan nya adalah untuk memutus rantai penularan, menegakkan diagnosa penderita yang dilaporkan, mengidentifikasi etiologi diare, memastikan terjadinya KLB diare, mengetahui distribusi penderita menurut waktu/tempat/orang, Mengidentifikasi sumber dan cara penularan penyakit diare dan mengidentifikasi populasi rentan yaitu a) Pemutusan rantai penularan meliputi peningkatan kualitas kesehatan lingkungan yang mencakup air bersih, jamban, pembuangan sampah, dan air limbah dan promosi kesehatan yang mencakup pemanfaatan jamban, air bersih dan minum air yang sudah dimasak dan pengendalian serangga/lalat b) Penanggulangan KLB dengan mengaktifkan tim gerak cepat yang terdiri dari unsur lintas program dan lintas sektor dan pembentukan pusat rehidrasi untuk menampung penderita diare yang memerlukan perawatan dan pengobatan. Tempat yang dapat dijadikan sebagai pusat rehidrasi adalah tempat yang terdekat dari lok.asi KLB diare dan terpisah dari pemukiman 3. Pra dan saat KLB/Wabah Setelah KLB tenang, beberapa kegiatan yang perlu dilakukan ialah pengamatan intensif masih dilakukan selama 2 minggu berturut-turut untuk

35 melihat kemungkinan timbulnya kasus baru, perbaikan sarana lingkungan yang diduga penyebab penularan dan promosi kesehatan tentang PHBS. 2.4. Fokus penelitian Pelaksanaan program dapat diukur melalui indikator masukan (input), proses (process) dan luaran (output). Input 1.Tenaga 2.Sarana Proses 1. Tatalaksana penderita diare 2. Pengelolaan logistik 3. Promosi kesehatan 4. Pencegahan Diare 5. Surveilans epidemologi 6. Melaksanakan monitoring & evaluasi Output Penurunan kasus Diare Gambar 2.1 Fokus penelitian Berdasarkan gambar diatas, dapat disimpulkan definisi fokus penelitian sebagai berikut: 1.` Masukan (input) adalah segala sesuatu yang dibutuhkan untuk dapat melaksanakan program diare dengan baik a. Tenaga adalah tenaga kesehatan yang terlibat dalam pelaksanaan program diare di Puskesmas Pancur Batu. b. Sarana adalah seluruh bahan, peralatan serta fasilitas yang digunakan dalam pelaksanaan program diare di Puskesmas Pancur Batu.

36 2. Proses adalah langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan yaitu a. Tatalaksana penderita diare ialah kegiatan yang dilakukan dalam tuntaskan diare meliputi riwayat penyakit, menilai derjat dehidrasi, menentukan tindakan dan memberi pengobatan b. Pengelolaan logistik ialah perhitungan kebutuhan logistik diare bagi jumlah penderita diare. c. Promosi kesehatan ialah pemberian informasi tentang diare kepada masyarakat. d. Pencegahan diare ialah proses mencegah diare melalui peningkatan kesehatan lingkungan dan penyuluhan tentang perilaku sehat. e. Surveilans epidemologi ialah pengamatan diare dan kegiatan pengumpulan data melalui laporan rutin, laporan KLB diare dan melalui studi kasus. f. Melaksanakan monitoring&evaluasi ialah melakukan analisis informasi dan proses penilaian pencapaian. 3. Keluaran adalah hasil dari pelaksanan program diare yang menurunnya jumlah kasus diare di Puskesmas Pancur Batu yang dinilai dari kegiatan yang telah dilakukan.