IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
DAS Citarum. Gambar Batas DAS Citarum, sumber:

BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH STUDI

IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Administrasi

BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI

BAB IV KONDISI UMUM PENELITIAN

Bab III Studi Kasus. Daerah Aliran Sungai Citarum

BAB 3 GEOLOGI SEMARANG

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB III KONDISI EKSISTING DKI JAKARTA

BAB II TINJAUAN UMUM

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN

BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN. Secara Geografis Kota Depok terletak di antara Lintang

BAB II KONDISI WILAYAH STUDI

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 TINJAUAN UMUM SUB-DAS CITARIK

BAB I PENDAHULUAN. Lahan merupakan salah satu sumberdaya alam yang dibutuhkan umat

BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV GAMBARAN WILAYAH STUDI

BAB II DESKRIPSI DAERAH STUDI

BAB II DESKRIPSI WILAYAH PERENCANAAN 2.1. KONDISI GEOGRAFIS DAN ADMINISTRASI

4 KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

2016 ANALISIS NERACA AIR (WATER BALANCE) PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) CIKAPUNDUNG

DAERAH ALIRAN CIMANDIRI

KONDISI UMUM BANJARMASIN

BAB I PENDAHULUAN I-1

penyediaan prasarana dan sarana pengelolaan sampah (pasal 6 huruf d).

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PETA SUNGAI PADA DAS BEKASI HULU

PENYELIDIKAN HIDROGEOLOGI CEKUNGAN AIRTANAH BALIKPAPAN, KALIMANTAN TIMUR

2014 KAJIAN KUALITAS AIR TANAH DI SEKITAR KAWASAN BUDIDAYA IKAN PADA KERAMBA JARING APUNG DI WADUK JATILUHUR KABUPATEN PURWAKARTA

Gambar 9. Peta Batas Administrasi

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi

BAB I PENDAHULUAN. Menurut FAO (dalam Arsyad 1989:206) mengenai pengertian lahan, Adapun pengertian dari FAO (1976) yang dikutip oleh Sitorus (1998)

DAS SUNGAI SIAK PROVINSI RIAU

BAB I PENDAHULUAN. 9 Tubuh Air Jumlah Sumber : Risdiyanto dkk. (2009, hlm.1)

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

Gambar 2. Lokasi Penelitian Bekas TPA Pasir Impun Secara Administratif (

BAB I PENDAHULUAN. Bab I Pendahuluan 1.1. LATAR BELAKANG

BAB 3 GAMBARAN UMUM WILAYAH

BAB III TINJAUAN WILAYAH

MITIGASI BENCANA ALAM II. Tujuan Pembelajaran

BAB II KONDISI UMUM LOKASI

DATA MINIMAL YANG WAJIB DITUANGKAN DALAM DOKUMEN INFORMASI KINERJA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAERAH

RENCANA TINDAK PENGELOLAAN DAS CITARUM

28 antara 20º C 36,2º C, serta kecepatan angin rata-rata 5,5 knot. Persentase penyinaran matahari berkisar antara 21% - 89%. Berdasarkan data yang tec

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN

3. METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI

IV. KEADAAN UMUM WILAYAH

4. PERUBAHAN PENUTUP LAHAN

KONDISI UMUM WILAYAH. Administrasi dan Teknis

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Solehudin, 2015 Kajian Tingkat Bahaya Erosi Permukaandi Sub Daerah Aliran Sungai Cirompang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

HIDROSFER I. Tujuan Pembelajaran

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Kondisi Fisiografi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perencanaan Embung Logung Dusun Slalang, Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus

BAB III GAMBARAN LOKASI STUDI

BAB I PENDAHULUAN. dan binatang), yang berada di atas dan bawah wilayah tersebut. Lahan

4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

Faktor penyebab banjir oleh Sutopo (1999) dalam Ramdan (2004) dibedakan menjadi persoalan banjir yang ditimbulkan oleh kondisi dan peristiwa alam

KONDISI UMUM. Sumber: Dinas Tata Ruang dan Pemukiman Depok (2010) Gambar 12. Peta Adminstratif Kecamatan Beji, Kota Depok

TANAH LONGSOR; merupakan salah satu bentuk gerakan tanah, suatu produk dari proses gangguan keseimbangan lereng yang menyebabkan bergeraknya massa

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Bantul terletak pada Lintang Selatan dan 110

KARAKTERISTIK DAERAH PENELITIAN

GERAKAN TANAH DI KAMPUNG BOJONGSARI, DESA SEDAPAINGAN, KECAMATAN PANAWANGAN, KABUPATEN CIAMIS, JAWA BARAT

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan sumber daya yang sangat penting untuk kehidupan

PENDAHULUAN. Berdasarkan data Bappenas 2007, kota Jakarta dilanda banjir sejak tahun

KONDISI W I L A Y A H

II. TINJAUAN PUSTAKA. 1. Wilayah Administratif Kabupaten Tanggamus

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV KONDISI HIDROGEOLOGI

PENGERTIAN HIDROLOGI

TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1

KEBERADAAN, POTENSI DAN GAGASAN PEMANFAATAN SUNGAI MATI DI SEPANJANG SUNGAI CITARUM DAERAH BANDUNG

Syarat Penentuan Lokasi TPA Sampah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Secara administratif, daerah penelitian termasuk dalam wilayah Jawa Barat. Secara

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB II TINJAUAN UMUM

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Air merupakan sumberdaya alam yang terbarukan dan memiliki peranan

MODEL PENANGGULANGAN BANJIR. Oleh: Dede Sugandi*)

BAB II TINJAUAN UMUM

Lampiran 1. Curah Hujan DAS Citarum Hulu Tahun 2003

BAB II TINJAUAN UMUM

2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah

Sungai berdasarkan keberadaan airnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu (Reid, 1961):

RENCANA PENANGANAN TERPADU WILAYAH SUNGAI CITARUM

PENGEMBANGAN KONSERVASI LAHAN TERHADAP EROSI PARIT/JURANG (GULLY EROSION) PADA SUB DAS LESTI DI KABUPATEN MALANG

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN I.1

Transkripsi:

65 IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Kondisi Fisik DAS Citarum Daerah aliran sungai (DAS) Citarum dengan luas sekitar 6.600 km 2.DAS Citarum terletak di bagian Tengah Jawa Barat dan bagian hulu sungai berada di Kabupaten Bandung. Sungai Citarum bersumber dari Situ Cisanti yang terletak di kaki Gunung Wayang pada ketinggian ± 2.198 m di atas permukaan laut, mengalir ke arah utara melewati Kabupaten Bandung Barat, Cianjur, Purwakarta dan akhirnya bermuara di Laut Jawa di daerah Kabupaten Karawang dengan panjang total dari hulu sampai ke muara Laut Jawa sekitar 245 Km. Kondisi topografi DAS Citarum sangat bergelombang, terutama di daerah hulu dan tengah. Gradien sungai terbagi dalam tiga bagian, yaitu bagian hulu sepanjang ± 25 km merupakan bagian yang paling terjal dengan kemiringan sungai rata-rata 1:30. Bagian tengah sepanjang ± 150 km, mulai dari Daerah Cekungan Bandung ke hilir, kemiringan sungai cukup terjal yaitu rata-rata 1: 300. Sedangkan di bagian hilir waduk Jatiluhur, sungai mengalir di dataran endapan alluvial dengan bermeander pada kemiringan sangat landai sepanjang ± 70 km sampai di muara Laut Jawa (Gambar 10). Kondisi geologi regional, sebagian besar dataran Bandung ditutupi oleh aluvium yang terbentuk dari endapan sungai dan situ. Endapan aluvial yang menjadi aquifer utama di DAS Citarum umumnya tertutup oleh produk vulkanik kuarter yang dibentuk dari material pyroclastic dan aliran lava. Permeabilitas produk vulkanik bervariasi pada material yang tidak terkonsolidasi atau aliran lava berongga. Produk vulkanik ini memainkan peranan penting pada aquifer. Produk vulkanik kuarter ditutupi oleh batuan sedimenter dari zaman tersier. Batuan sedimenteryang membentuk rangkaian pegunungan di bagian Selatan dan Barat dataran Bandung ini tersusun atas pasir, lempung, marl (campuran tanah liat dan kapur), breksi, dan batu kapur yang sebagian besar bercampur. Tingkat permeabilitas tanah pada umumnya rendah namun sangat bervariasi pada batuan kapur (Dinas PSDA, 2009).

66 UTARA Gambar 10 DAS Citarum 4.1.1 Kondisi Morfologi Morfologi yang terbentuk di DAS Citarum adalah hasil kegiatan tektonik dan vulkanisme, dilanjutkan proses erosi dan sedimentasi. Kondisi morfologi DAS Citarum adalah sebagai berikut: Morfologi Gunung Api, Daerah hulu anak-anak sungai pada DAS Citarum terbentuk dari morfologi gunung api yang memiliki karaktersitik relief landai - bergunung, elevasi ketinggian 750 2300 m diatas muka laut (m dpl), kemiringan lereng di kaki 5 15%, di tengah 15 30%, dan di puncak 30 90 %. Pola aliran sungai sejajar dan radier, umumnya merupakan daerah resapan utama air tanah dangkal dan dalam serta tempat keluarnya mata air mata air pada lokasi tekuk lereng. Batuan penyusun berupa endapan gunungapi muda dan tua, terdiri dari tufa, breksi, lahar dan lava. Proses geodinamis adalah aktivitas gunung api dan pengangkatan karena magma, serta agradasi karena longsoran tebing, erosi dan aktivitas manusia seperti penggalian, pemotongan lereng dan lain-lain.

67 DAS Citarum berada pada morfologi gunung api, di daerah Bandung Utara antara lain berderet G. Tangkubanparahu (2.075m), G. Burangrang (2.064m), G. Bukit Tunggul (2.209m), dan G. Manglayang (1800m), dengan anak-anak Sungai Citarum antara lain: S. Cikapundung, S. Cikeruh, S. Cimahi, S. Cipamokolan, S. Cibeureum, dan S. Cipalasari yang mengalir ke arah Selatan. Sedangkan deretan di sebelah selatan adalah G. Malabar (2.343 m), G Tilu (2.040 m), G Wayang (2.182m), G. Patuha, dan G. Guntur (2.040m) dengan anak-anak Sungai Citarum antara lain: S. Citarum Hulu, S. Citarik, S. Cisangkuy, S. Ciasiah, dan S. Ciwidey, mengalir ke Utara. Di daerah Cianjur antara lain G. Gede dengan anak-anak sungainya yang mengarah ke Timur menuju Waduk Cirata. (Atlas SDA Dinas PSDA, 2005). Morfologi Perbukitan, morfologi ini dibagi menjadi perbukitan batuan beku dan bergelombang, mempunyai karaktersitik yaitu relief berbukit, terpisah, elevasi ketinggian 700 1500 m diatas muka laut (m dpl), kemiringan lereng 15-70%, berpola aliran sungai sejajar dan dendritik, umumnya bukan daerah resapan utama air tanah. Batuan penyusun berupa batuan beku intrusi dan lava serta breksi gunung dan batuan sedimen tersier. Proses geodinamis adalah patahan aktif, serta agradasi karena longsoran tebing, erosi dan aktivitas manusia. DAS Citarum mempunyai morfologi perbukitan intrusi antara lain G. Parang (975m), G Haur (522m) di sekitar waduk Jatiluhur, G Lagadar (800 m), G. Lalakon di Cimahi Bandung, dan gugusan G.Geulis di sekitar Banjaran- Ciparay Bandung. Perbukitan bergelombang memanjang, terjal terdapat di sekitar Rajamandala dekat Waduk Saguling. Morfologi Pedataran, Morfologi pedataran dapat dibagi menjadi dataran tinggi, dataran kipas aluvium, dataran aluvium sungai, dataran rawa dan pantai. Mempunyai karaktersitik yaitu relief rendah, elevasi ketinggian 0 700 m diatas muka laut (m dpl) kemiringan lereng 0-15%, Sungai-sungai meandering, berpola sejajar dan dendritik, umumnya merupakan daerah banjir dan lepasan air tanah. Batuan penyusun berupa kipas gunung api, endapan sedimen sungai, pantai dan rawa. Proses geodinamis adalah longsoran tebing sungai, erosi dan aktivitas manusia seperti penggalian, penimbunan dan lain-lain. Datarantinggi terdapat di Cekungan Bandung dan sekitarnya, sedangkan sisanya berada pada dataran kipas

68 aluvium ditempati Kota Karawang, Purwakarta dan Subang. Dataran limpah banjir menghampar meluas di dataran pantai utara berbentuk meandering, Dataran aluvium sungai terdapat pada alur-alur dibentuk oleh endapan sungai-sungai. Dataran rawa dan pantai yang berbatasan langsung dengan garis pantai terdapat muara beserta cabang-cabangnya membentuk delta. 4.1.2 Kondisi Tataguna Lahan Sebagaimana tercantum dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) Jawa Barat Tahun 2003 (Perda Nomor 2 Tahun 2003 Tentang RTRW Provinsi Jawa Barat), perubahan tataguna lahan DAS Citarum dari tahun ke tahun dapat dilihat pada Gambar 11 dan Tabel 8 dibawah ini. UTARA Keterangan: Batas Provinsi Batas Kabupaten/Kota I bukot akabupaten/kota Gunung Danau/Waduk Sungai Batas DAS Hutan Primer Hutan Sekunder Perkebunan Kebun Campuran Ladang/Tegalan Permukiman Kota Sawah Permukiman Perdesaan Pertambangan/Galian Padang Rumput Semak/Belukar Tanah Kosong/Terbuka Tambak Bakau/Mangroove Gambar 11Tataguna Lahan DAS Citarum (Tahun 2005)

69 Tabel 8 Tataguna Lahan (%) DAS Citarum Tahun 1994-2010 No. Penggunaan Lahan Tahun 1994 2001 2005 2010 1. Hutan Primer 11,4 8,8 8,2 1,2 2. Hutan Sekunder 21 3,3 3,1 8,1 3. Lahan Pertambangan 0 0 0 0 4. Lahan Industri 0,2 0,3 0,3 0,3 5. Tanaman Campuran 4,6 6,5 10,3 16,3 6. Lahan yang tidak beririgasi 2,7 3,7 3,4 3,5 7. Semak/Belukar 1,2 1,4 1,7 11,6 8. Kebun/Perkebunan 9,2 19,6 25,4 7,3 9. Lahan Permukiman 1,9 2,4 2,7 26,1 10. Sawah 45,6 51,5 42,5 25,3 11. Sungai/Danau/Waduk/Situ 1,1 1,3 1,2 0,1 12. Tambak/Empang 1 1,1 1,1 0,1 13. Tanah terbuka 0,1 0,1 0,1 0,1 Sumber: Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Barat (Bapeda, 2003). Perubahan tata guna lahan yang paling sensitif terutama dampaknya terhadap ketersediaan air adalah kebutuhan lahan untuk permukiman dan kerusakan kawasan lindung/daerah kehutanan akibat aktivitas pertanian lahan kering oleh masyarakat. Perubahan tersebut akan mendorong meningkatnya runoff dan menurunnya resapan air untuk mengisi air tanah yang dampaknya banjir dimusim hujan dan kekeringan di musim kemarau.kawasan yang rawan terhadap alih fungsi lahan terutama di daerah Bandung dan Bekasi akibat tekanan urbanisasi yang tinggi. Gambar 12 menunjukan tingkat kepadatan penduduk di kawasan Cekungan Bandung (DAS Citarum Hulu). UTARA Gambar 12 Peta kepadatan penduduk penduduk padacitarum Hulu

70 Berdasarkan data studi Institutional Strengthening For Integrated Water Resouces Management in 6 Ci s River Basin Territory, telah terjadi penurunan luas lahan pertanian di DAS Citarum dari 415.025 ha pada tahun 1989, menjadi 355.544 ha pada tahun 2010, yang terdiri dari irigasi teknis dari 366.856 ha menjadi 324.923 ha, dan irigasi semi-teknis dari 48.169 ha menjadi 30.621 ha. 4.2 Kondisi Sosio-Ekonomi Sungai Citarum beserta tiga waduk besar yaitu Saguling, Cirata, dan Juanda, merupakan sumber air tawar terbesar dan memiliki potensi ekonomi yang sangat penting di Jawa Barat. Di dalam kawasan DAS Citarum, saat ini diperkirakan 12,5 juta penduduk bermukimdan lebih kurang 1.000 buah industri beroperasi.selain itu pemanfaat air S.Citarum ini ada juga penduduk yang bermukim di Jakarta yaitu sekitar 8,8 juta jiwa melalui Saluran Tarum Barat. Sumber air Citarum dimanfaatkan untuk berbagai keperluan kehidupan dan proses pembangunan, antara lain: sumber baku air minum (±25 m 3 /detik) termasuk untuk Jawa Barat dan DKI Jakarta, pembangkit listrik (3.960 MW), air irigasi, perikanan dan peternakan, sumber baku air industri, pariwisata, dan sarana olah raga. Sebagai penyedia air bagi Daerah Irigasi Jatiluhur seluas ±240.000 ha, DAS Citarum memberikan kontribusi besar terhadap produksi beras Jawa Barat dan malahan Nasional. Selama ini kontribusi Jawa Barat terhadap produksi padi Nasional mencapai 17% per tahun termasuk produksi dari Irigasi Jatiluhur. DASCitarum menanggung beban sangat besar dan jutaan penduduk sangat tergantung dari sumber air Citarum. Beban ini tentu akan terus bertambah sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonominya.jumlah penduduk yang tinggal pada Kabupaten/Kota yang seluruhnya masuk pada DAS Citarum yaitu Kabupaten Bandung dan Kota Bandung sekitar 7.297.900 jiwa dengan laju pertumbuhan per tahun 0,50-2,12% dan kepadatan penduduk sekitar 4.215/km 2, dan lainnya yang hanya sebagian dari wilayah administratifnya diantaranya Kabupaten Bekasi dan Karawang sekitar 3.522.126 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk 0,58-0,98% per tahun dan kepadatan penduduk sekitar 1.488/km 2, dan Kabupaten Subang, Kabupaten Cianjur, dan Kabupaten Purwakarta sekitar 3.725.100 jiwa, dengan laju pertumbuhan 0,48-0,76% per tahun dan kepadatan 410/km 2. Sementara itu dari catatan dari Institutional Strengthening For

71 Integrated Water Resouces Management in 6 Ci s River Basin Territory,penduduk di Sungai Citarum terdiri atas 7.040.337 jiwa pria, dan 6.974.515 jiwa wanita. Selain dari beban penduduk DAS Citarum juga ditempati oleh lebih dari 1000 industri, namun hanya 542 industri saja yang berpotensi membuang limbah cair dengan didominasi oleh industri tekstil mencapai 396 industri. 4.3 Kondisi Sumber Daya Air Sumber air yang ditinjau dalam studi ini pada dasarnya terdiri dari dua jenis yaitu sumber air permukaan dan sumber air tanah. 4.3.2 Air Permukaan Dengan tinggi curah hujan tahunan berkisar antara 1.500-4.000 mm, potensi sumberdaya air permukaan pada daerah pengaliran Sungai Citarum ratarata mencapai 11 milyar m 3 per tahun dalam kondisi normal. Dari potensi tersebut, sampai dengan saat ini baru sekitar 5,2 Milyar m 3 per tahun yang sudah terkendali dan dimanfatkan untuk berbagai kebutuhan,sedangkan sisanya sebagian besar terbuang kelaut. Rata-rata curah hujan tahunan DAS Citarum mencapai sekitar 2.400 mm. Rata-rata terendah terjadi di daerah pantai Utara dengan curah hujan sekitar 1.500 mm per tahun,sedangkan rata-rata tertinggi terjadi di daerah hulu sungai Ciherang, Cilamaya, dan hulu sungai Cipunagara dengan curah hujan mencapai 4.000 mm per tahun. Suhu rata-rata di dataran rendah sekitar 27ºC, sedangkan di bagian hulu sungai di daerah dataran tinggi/pegunungan suhu udara minimum rata-rata 15,3ºC yang tercatat di daerah Ciwidey, Pangalengan, dan Lembang. Kelembaban udara relatif rata-rata tahunan antara 80% - 92%, dengan tingkat penguapan rata-rata tahunan sekitar 1.640 mm. Keadaan iklim di DAS Citarum, sebagaimana umumnya wilayah Jawa Barat, adalah memiliki iklim tropis monsun dengan suhu dan kelembaban udara relatif konstan sepanjang tahun. Iklim tropis monsun dicirikan dengan terjadinya dua musim, yaitu hujan dan kemarau.musim hujan terjadi pada bulan-bulan Oktober - Maret dan musim kering atau kemarau terjadi pada bulan-bulan Juni September. Bulan-bulan lainnya merupakan masa transisi atau pancaroba.

72 Gambar 13 Rata-rata Debit Masuk dan Keluar Waduk Jatiluhur Berdasarkan catatan dari Institutional Strengthening for Integrated Water Resouces Management in 6 Ci s River Basin Territory, didapatkan gambaran neraca air di DAS Citarum, seperti disajikan pada Gambar 14. Gambar 14 Neraca air DAS Citarum (Institutional Strengthening For Integrated Water Resouces Management in 6 Ci s River Basin Territory, Ditjen Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum) Potensi, pemanfaatan, dan beban Sungai Citarum yang besar tersebut harus dikelola melalui sebuah sistem yang dapat mendatangkan manfaat yang sebesarbesarnya bagi masyarakat luas, baik langsung maupun tidak langsung tanpa

73 menimbulkan dampak negatif yang merugikan. Jika potensi sungai yang ada tidak dikelola dengan baik, dikhawatirkan Sungai Citarum akan menjadi sumber bencana yang dampak negatifnya semakin meningkat di masa mendatang. 4.3.3 Potensi Air Tanah DAS Citarum secara geografis melalui 2 Cekungan Air Tanah (CAT) yaitu CAT Bandung-Soreang pada DAS Citarum Hulu dan CAT Karawang-Bekasi pada DAS Citarum Tengah-Hilir. Untuk di CAT Bandung-Soreang yang secara geografis mempunyai batas-batas berhimpit dengan DAS Citarum secara umum mempunyai potensi air tanahnya sebagai berikut: Kelompok Akuifer Dangkal (< 40 m). Sistem akuifer dangkal dapat terlihat pada singkapan batuan dan sumur gali penduduk kedalaman 1,2 22,5 m dan kedalaman sumur bor 30 m. Tebal akuifer 1,2 30 m, muka air tanah 0,5 20,8 m dibawah muka tanah setempat, semakin dangkal di dataran sekitar S. Citarum, dan semakin dalam di lereng Utara, Timur, dan Selatan. Fluktuasi muka air tanah di daerah dataran rendah dan kemiringan tinggi relatif tinggi. Arah aliran mengarah ke dataran mengitari S. Citarum. Kelompok Akuifer Tengah (40-150 m). Kedudukan kelompok akuifer ini di 35 100 m dibawah muka tanah setempat (mbmt), posisi saringan 34,5 dan 69,5 mbmt, MAT 1,1 30 mbmt dan 34,5 69,5 mbmt di daerah pengambilan intensif dengan debit sumur 10 L/detik. Kelompok Akuifer Dalam (> 150 m). Kelompok akufer dalam mempunyai kedalaman 100 200 mbmt, bersifat tertekan, dengan posisi saringan 57 192 mbmt. UTARA Gambar 15 CAT Bandung-Soreang (DAS Citarum Hulu)

74 Sedangkan untuk wilayah DAS Citarum Tengah-Hilir termasuk pada CAT Karawang-Bekasi yang mempunyai potensi air tanahnya sebagai berikut: Kelompok Akuifer Dangkal (<40 m). Kelompok akuifer ini tersusun oleh konglomerat, breksi, dan batupasir yang merupakan Formasi Citalang. Kedudukan satuan ini hampir sulit dipisahkan dengan lapisan-lapisan yang berada di permukaan, Ketebalan minimum ketiga satuan ini secara keseluruhan mencapai 50 meter. Lapisan-lapisan batupasir dan konglomerat pada ketiga satuan ini merupakan penyusun akuifer tidak tertekan (bebas) dan akuifer semi tertekan (semi confined aquifer). Kelompok Akuifer Tengah (40 140 m). Kelompok akuifer tengah tersusun oleh batupasir dan batulempung dengan ketebalan bervariasi yang meruapakan Formasi Kaliwungu antara 40 100 m. Lapisan batupasir diperkirakan berfungsi sebagai akuifer yang produktif dengan jenis media pori. Lapisan-lapisan batupasir ini merupakan penyusun utama lapisan akuifer tertekan. Bentuk akuifer tertekan (confined aquifer) ini menjemari dengan lapisan batulempung yang berfungsi sebagai lapisan penekannya. Kedalaman bagian atas lapisan akuifer semakin dalam ke arah utara dan mencapai kedalaman 80 m di bawah muka tanah setempat. Kelompok Akuifer Dalam ( > 140 m). Kelompok akuifer initersusun oleh batulempung, batupasir, dan batupasir gampingan, diendapkan pada laut dangkal. Formasi yang secara regional berpotensi sebagai akuifer dengan produktifitas rendah sedang. 4.4 Kondisi Lingkungan Kondisi lingkungan di sekitar DAS Citarum sangat berpengaruh terhadap keadaan di Sungai Citarum. Lingkungan DAS yang baik akan membawa dampak positif terhadap Sungai Citarum. Sebaliknya, semakin rusak kondisi lingkungan akan membawa dampak pada potensi bencana di sekitar Sungai Citarum. Beberapa hal yang akan ditinjau dalam bahasan ini antara lain: kondisi lingkungan hidrologi di DAS Citarum, kondisi infrastruktur di sepanjang Sungai Citarum, kejadian banjir, degradasi lingkungan air tanah dan land subsidence, dan pencemaran sungai.

75 4.4.1 Kondisi Lingkungan Hidrologi DAS Secara umum sistem lingkungan hidrologi di DAS Citarum dibagi menjadi dua bagian, yaitu sistem hidrologi bagian hulu (dari Gunung Wayang sampai Bendungan Saguling) dan sistem hidrologi bagian hilir (dari Bendungan Saguling sampai muara). Sebagai sistem hidrologi, DAS bagian hulu pada umumnya memiliki fungsi perlindungan, dan DAS bagian hilir memiliki fungsi pemanfaatan. Selain sebagai sistem hidrologi, DAS yang terdiri dari komponenkomponen vegetasi, tanah, air dan sumber air, topografi, dan manusia, adalah merupakan suatu sistem ekologi yang sifatnya sangat kompleks. Kerusakan lingkungan hidrologi DAS bagian hulu akan menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem secara keseluruhan. Berdasarkan hasil studi 6 Ci menyatakan bahwa 38,7% dari Wilayah Sungai Citarum adalah dalam kondisi kritis, terutamalingkungan hidrologi DAS Citarum hulu. Hal ini pada umumnya disebabkan oleh rusaknya kawasan hutan akibat penebangan liar dan adanya kegiatan pertanian rakyat yang tidak sesuai dengan kaidah konservasi, serta berkembangnya daerah-daerah permukiman tanpa perencanaan yang baik. Kondisi ini mengakibatkan tingginya runoff, tingginya tingkat erosi lahan, dan rawan tanah longsor. Indikasi kerusakan DAS Citarum, terutama di bagian hulu, juga terlihat dari kecenderungan perubahan perubahan perilaku aliran air yang masuk ke Bendungan Saguling. Tingkat fluktuasi debit yang masuk Bendungan Saguling berdasarkan hasil observasi telah mengalami peningkatan dari 3,4 pada tahun 1992 meningkat menjadi 7,4 pada tahun 2003 (ICWRMP, 2006). Sedangkan laju erosi berdasarkan survey batimetri yang dilakukan Indonesia Power di waduk Saguling, telah mencapai 8 Juta m 3 per tahun atau sekitar 60 ton/ha/tahun. Sedimentasi yang tinggi di waduk dapat memperpendek umur ekonomi waduk. 4.4.2 Kejadian Banjir Banjir dan kekeringan adalah salah satu konsekuensi dari rusaknya lingkungan hidrologi DAS. Bencana banjir Bandung Selatan terjadi hampir setiap tahun, pada dasarnya adalah karena meluapnya sungai Citarum pada saat banjir ke daerah permukiman dan atau tertahannya air banjir lokal yang tidak dapat masuk ke Sungai Citarum. Secara teknis hidrolis, meluapnya banjir Sungai Citarum

76 adalah akibat kapasitas sungai yang tidak mampu menampung debit banjir yang terjadi. Hal ini pada dasarnya berkaitan dengan kerusakan lingkungan hidrologi DAS hulu yang mengakibatkan tingginya debit puncak banjir, dan bersamaan dengan itu tingginya erosi di hulu dan sedimentasi di hilir mengakibatkan kapasitas Sungai Citarum di daerah Bandung Selatan cepat menurun. Dampak banjir Bandung Selatan sebagaimana Tabel 9. Tabel 9 Kejadian banjir di DAS Citarum Hulu (Atlas SDA Jabar, 2005) Kejadian Banjir Lama Genangan Tinggi Genangan Luas Maret 2010 6 20 hari 2 4 m 10.000 ha Kec Baleendah, Rancaekek, Dayeuh Kolot 16 Mei, 2005* 6 10 hari 2 3 m Genangan Permukiman Jiwa KK Rumah Kec.Dayeuhkolot - - - - - - 19 20 Februari, 2005** 2 hari 0,5-2 m Kec. Rancasari - - 1.004 ha - - - Kec.Rancaekek - - 440 ha - - - Kec.Dayeuhkolot&Bale Endah - - 475 ha - - - 16-21 Februari,2003*** 6 hari 0,5 1,5 m Kec.Baleendah,Kel Andir - - - 8.345 1.936 - Kec.D.kolot Kel. Pasawahan - - - 1.025 224-25-27 Des,2002** 3 hari 1 5 m Kec.Baleendah 1.Kel Andir - - - 7.345 1.936 1.250 2. Ds.Rancamanyar - - - 420 140 40 3.Ds.Bojongmalaka - - - 826 160 180 Kec.Dayeuhkolot 1.Kel Pesawahan - - - 1.695 569 361 2.Ds.Cangkuang wetan - - - 3.410 793 621 3.Ds. Dayeuhkolot - - - 1.750 675 384 Maret, 1986 Sekitar Kec.Dayeuhkolot - - 7.450 ha - - - Sumber: *Trijono, Pengendalian Banjir S.Citarum Hulu, 2005; **Satlak Penanggulangan Bencana dan Pengungsian Kab.Bandung; ***Satlak Penanggulangan Bencana dan Pengungsian Kab.Bandung Genangan banjir menyebabkan terendamnya permukiman termasuk sumur penduduk, hal ini menyebabkan kesulitan mendapatkan air bersih dengan dampak timbul penyakit paska banjir. Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, penduduk pada paska banjir terjangkit penyakit (diare, kulit dan mata ) yang diantaranya terjadi di kecamatan Rancaekek dan Bale Endah.

77 Sedangkan dampak sosial dari banjir tahun 2010, bencana banjir juga terjadi di Kota Bekasi terutama di hilir pertemuan dua anak sungai Cikeas dan sungai Cileungsi yang bermuara di Kali Bekasi., diantaranya yang teridentifikasi adalah: a) 3.882 dan 6.000 rumah terendam di Kel. Baleendah dan kel. Andir, Kecamatan Baleendah. b) 248 rumah, 10 masjid, dan 5 Sekolah Dasar terendam 1 3 m di Kecamatan Dayeuhkolot. c) Ratusan rumah di Desa Bojongsoang dan Tegaluar. d) Banjir setinggi 1,5 m merendam ratusan rumah di Kecamatan Rancaekek akibat bobolnya tanggul S. Cikeruh di beberapa tempat. e) Kabupaten Bekasi 16.077 buah rumah dan 666 ha sawah. f) Kabupaten Karawang 1.097 buah rumah dan 1.069 ha sawah. g) Kabupaten Purwakarta, Cikao 450 buah rumah. 4.4.3 Penurunan Muka Air Tanah dan Land Subsidence Ekploitasi air tanah yang tidak terkontrol di terutama kawasan CAT Bandung-Soreang atau DAS Citarum Hulu terutama untuk kebutuhan air baku industri, telah menyebabkan penurunan air tanah dan degradasi lingkungan berupa penurunan muka tanah (land subsidence). Sebagai pusat industri tekstil di Indonesia, penurunan muka airtanah (MAT) yang cukup signifikan sebagai akibat dari pengambilan airtanah dilaporkan telah terjadi di daerah Bandung dan sekitarnya.eksploitasi airtanah selama 40 tahun terakhir yang dimulai tahun 1970- an telah menyebabkan terjadinya penurunan MAT dengan laju penurunan bervariasi di beberapa tempat. Dampak lingkungan akibat penurunan MAT di wilayah Bandung dan sekitarnya, berdasarkan hasil studi oleh Abidin dkk (2009) menggunakan teknologi satelit dan GPS, terbukti telah mengalami land subsidence (amblesan tanah) dengan besar bervariasi 5-75 cm dari tahun 2000 sampai tahun 2008. Daerah-daerah yang terbesar mengalami amblesan tanah tersebut adalah Dayeuhkolot, Rancaekek, dan Cimahi.Penelitian lapangan di daerah-daerah yang mengalami fenomena amblesan tanah, menunjukkan bahwa daerah-daerah

78 inimerupakan daerah kompleks industri (Wirakusumah dkk., 2006 dalam Abidin dkk., 2009). Untuk daerah DAS Citarum Tengah-Hilir yang termasuk CAT Karawang_Bekasi juga telah terjadi penurunan MAT pada zona rusak. Zona rusak yaitu daerah yang saat ini mempunyai kedudukan lebih dari 40 m bmt, antaralin di daerah di Desa Telagaasih, Sukadanau, Gandasari, dan Gandamekar di Kec. Cikarang Barat, Desa Tambun, dan Jatimulya di kec. Tambun Selatang (Dinas Bina Marga dan Pengairan, Kab Bekasi, 2009) seperti pada Gambar 16. Sedangkan landsubsidence di daerah ini belum diketemukan laporan/tulisannya. UTARA Gambar 16 Zonasi Penurunan Tanah di DAS Citarum Hulu (Abidin dkk., 2009) 4.4.4 Pencemaran Air Beban Pencemar Industri, Industri yang terdapat di DAS Citarum sampai tahun 2005 yang berpotensi pencemaran sumber air adalah sekitar 542 unit, tersebar mulai DAS Citarum hulu, tengah dan hilir. Industri tersebut terletak pada beberapa kabupaten dan kota dengan sebaran sebagaimana pada Table 10 di bawah.

79 Tabel 10 Industri di DAS Citarum No Jenis Jumlah Persentase 1 Tekstil 396 73,1% 2 Kimia 26 4.8% 3 Kertas 7 1.3% 4 Kulit 7 1.3% 5 Cat 6 1.1% 6 Logam/Elektroplating 12 2.2% 7 Farmasi 13 2.4% 8 Makanan dan Minuman 21 3.9% 9 Pupuk/Pestisida 1 0.2% 10 Detergent 2 0.4% 11 Cold Storage 7 1.3% 12 Percetakan Uang 1 0.2% 13 Minyak Goreng 1 0.2% 14 Karpet 3 0.6% 15 Keramik 4 0.7% 16 Karet 2 0.4% 17 Kawasan Industri 33 6.1% Jumlah 542 100% Sumber: Strategi Pengelolaan Lingkungan Propinsi Jabar, 2005, h.21 Kewajiban mengolah limbah bagi industri diatur dalam PP Nomor 82 Tahun 2001, tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Sedangkan beban pencemaran industri diatur dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51/MENLH/10/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri. Berdasarkan potensi pencemaran Kabupaten Bandung Tahun 2008, diidentifikasi 114 industri (93,4%) dari 122 industri di DAS Citarum Hulu (didominasi industri tekstil), telah dilengkapi IPAL dan IPAL Gabungan Cisirung yang melayani sekitar 24 industri atau 7,5 tonbod/hari. Walaupun sebagian besar industri telah dilengkapi IPAL, S.Citarum masih jelek kualitasnya karena industri tersebut tidak memenuhi ketentuan Baku Mutu Limbah Cair (BMLC) yang ditunjukan pada Gambar17. 30 25 20 15 10 5 0 Tidak Ada F F,K F,K,B Gambar 17 Industri dengan Kadar COD tidak Sesuai BMLC di DAS Citarum Hulu

80 Secara rinci jumlah industri yang berada di DAS Citarum yaitu terdiri dari 471 industri kecil dan 600 industri besar, namun yang berpotensi membuang limbah cair adalah sebanyak 542 industri saja atau sekitar 92,4%-nya adalah industri besar. Potensi untuk membuang limbah cair untuk industri kecil diantaranya seperti: pabrik tahu, tempe, makanan dan sedangkan industri besar umumnya membuang limbah cair tetapi ada juga yang tidak berpotensi membuang limbah cair seperti industri garment dan benang. Selain kegiatan yang langsung oleh industri termasuk juga limbah fasilitas perkotaan dan berbagai kegiatan perdagangan lainnya. Secara keseluruhan beban pencemaran industri yang umumnya disajikan dengan beban pencemaran BOD atau juga COD seperti pada Tabel 11 (Yusuf, 2010). Tabel 11 Potensi Beban Pencemaran Industri DAS Citarum No. Zonasi Beban Pencemaran, BOD(ton/hari) Beban Pencemaran, COD(ton/hari) 1990 2000 2010 2020 1990 2000 2010 2020 1. Zona Hulu 67,789 78,901 92,515 106,128 197,266 237,729 279,765 340,671 2. Zona Tengah 7,541 16,664 24,600 32,536 18,249 43,86 70,75 98,259 3. Zona Hilir 27,696 30,125 32,770 35,412 83,642 95,316 105,323 117,214 Jumlah 103,026 125,690 149,885 174,076 299,157 376,905 455,838 556,144 Selain parameter indikator limbah industri seperti BOD dan COD yaitu logam berat. Berdasarkan KepMen LH Nomor 51 Tahun 1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Industri (beberapa industri), efluen air limbah industri tekstil diantaranya parameter zat pencemar yaitu: BOD, COD, TSS, Fenol, Cr, Amonia Tot (NH 3 -N), Sulfida (S), M&L, ph, warna, suhu;maka untuk potensi pencemaran logam berat dalam hal ini Cr-total seperti pada Tabel 12 (Yusuf, 2010). Tabel 12 Potensi Beban Pencemaran Krom dari Industri di DAS Citarum No. Zonasi Beban Pencemaran, Cr(kg/hari) 1990 2000 2010 2020 1. Zona Hulu 10,54 12,703 14,949 18,203 2. Zona Tengah 0,975 2,344 3,78 5,25 3. Zona Hilir 4,469 5,093 5,628 6,263 Jumlah 15,984 20,14 24,357 29,716

81 Beban Pencemar Penduduk, penduduk merupakan sumber pencemar bagi S.Citarum. Berdasarkan Yusuf (2010), jumlah penduduk yang bermukim di DAS Citarum untuk masing-masing zonasi sungai adalah seperti pada Tabel 13. Tabel 13 Potensi Beban Pencemaran Penduduk di DAS Citarum (2010) No. Zonasi Jumlah Penduduk (jiwa) Sistem Sanitasi IPLT/ IPAL SepticTank (jiwa) Tanpa Pengolahan (jiwa) Beban Pencemaran, BOD (ton/hari) (jiwa) Tahun 2010 2020 1. Zona Hulu 6.343.993 2.403.449 625.000 3.315.544 153,732 188,648 2. Zona Tengah 5.343.452 1.395.261 75.000 3.873.191 160,986 188,277 3. Zona Hilir 680.374 214.975 21.825 465.399 19,052 22,455 Jumlah 12.367.819 4.013.685 721.825 7.654.134 333,770 399,370 Limbah penduduk tersebut dengan berbagai sistemnya dan akhirnya masuk ke S.Citarum baik melalui perpipaan secara langsung ataupun melalui anak-anak sungainya sehingga mengakibatkan memburuknya kualitas air S.Citarum. Jumlah penduduk yang menggunakan sistem pengolahan air limbah yang umumnya menggunakan septic tank yaitu 4.013.685 atau 32,4%; yang menggunakan IPAL terpadu yaitu hanya di anak sungai Cikapundung yang melalui Kota Bandung untuk 500.000 jiwa, selain itu ada juga sistem instalasi pengolahan limbah tinja (IPLT)yang mekanismenya diangkut dengan mobil tinja sebanyak 221.825 jiwa yang tersebar di Kabupaten Bandung. Sebagai kontributor pencemaran yaitu yang membuang limbah secara langsung ke sungai sebanyak 7.654.134 jiwa atau 61,88%, sehingga total potensi beban pencemaran limbah penduduk adalah 333,77 tonbod/hari pada tahun 2010 dan dengan pertumbuhan penduduk sekitar 1,7% maka pada tahun 2020 beban pencemaran diperkirakan akan berkembang dengan keterbatasan ruang namun kemungkinannya akan berkembang ke arah vertikal sehingga menjadi 399,37 tonbod/hari. Ini merupakan jumlah beban pencemaran organik yang sangat tinggi dibanding dengan jumlah beban pencemaran industri tahun 2020 yaitu hanya 174,076 tonbod/hari. Beban Pencemar Gabungan, selain sumber pencemar air dari penduduk dan industriyaitu limbah pertanian dan peternakan. Berdasarkan hasil perhitungan beban pencemar industri, penduduk, pertanian, dan peternakan maka beban pencemar total seperti pada Gambar 18 berikut ini.

82 Industri Gambar 18 Beban Pencemaran Gabungan Konsekuensi rasional dari tingginya beban pencemaran yang tidak dikelola secara baik memicu rendahnya status mutu air Sungai Citarum, yang menurut indeks Storet (BPLHD Jabar, 2009) adalah dalam kondisi tercemar berat (dibawah -31), dengan data selengkapnya seperti terlihat pada Gambar 19. -120-100 -80-60 -40-20 0 Lokasi Wangisagara Majalaya Sapan Cijeruk Dayeuhkolot Burujul/Daraulin Nanjung Bendung Curug Bendung Walahar Tanjungpura -47-69 -111-92 -95-85 -88-77 -57-66 Nilai Storet Gambar 19 Nilai Storet S.Citarum 2009 (BPLHD Jabar, 2009)